121
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Perkembangan dunia usaha dewasa ini semakin pesat, terlebih dalam menghadapi situasi perekonomian yang semakin terbuka. Sejalan dengan itu, perusahaan semakin terdorong untuk meningkatkan efisiensi dan daya saingnya yang selanjutnya akan mempercepat pembangunan suatu Negara. Pasar modal dipandang sebagai salah satu sarana alternatif untuk mempercepat pembangunan suatu Negara. Pasar modal merupakan wahana yang dapat menggalang pengarahan dana jangka panjang dari masyakat untuk disalurkan ke sektor–sektor produktif. Apabila pengerahan dana masyarakat melalui lembaga–lembaga keuangan maupun pasar modal sudah dapat berjalan dengan baik, maka dana pembangunan yang bersumber dari luar dikurangi. (Anaroga dan Pakarti, 2001:1). Pasar modal mempunyai peranan yang sagat penting bagi para investor maupun perusahaan, karena pasar modal sebagai salah satu tempat yang sangat efesien bagi investor dalam menginvestasikan modalnya 1

Bab I-bab III Print Revisi

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Bab I-bab III Print Revisi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Perkembangan dunia usaha dewasa ini semakin pesat, terlebih dalam

menghadapi situasi perekonomian yang semakin terbuka. Sejalan dengan itu,

perusahaan semakin terdorong untuk meningkatkan efisiensi dan daya

saingnya yang selanjutnya akan mempercepat pembangunan suatu Negara.

Pasar modal dipandang sebagai salah satu sarana alternatif untuk

mempercepat pembangunan suatu Negara. Pasar modal merupakan wahana

yang dapat menggalang pengarahan dana jangka panjang dari masyakat untuk

disalurkan ke sektor–sektor produktif. Apabila pengerahan dana masyarakat

melalui lembaga–lembaga keuangan maupun pasar modal sudah dapat

berjalan dengan baik, maka dana pembangunan yang bersumber dari luar

dikurangi. (Anaroga dan Pakarti, 2001:1).

Pasar modal mempunyai peranan yang sagat penting bagi para investor

maupun perusahaan, karena pasar modal sebagai salah satu tempat yang

sangat efesien bagi investor dalam menginvestasikan modalnya diperusahan-

perusahaan. Tanpa adanya pasar modal sumber dana akan sangat sulit sekali

diperoleh. Akibatnya, perusahaan akan mengurangi semua kegiatan

produktivitasnya yang akan secara langsung dapat menyebabkan tingkat

perekonomian menurun.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan salah satu indeks pasar

modal yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia. Perhitungan indeks

merepresentasikan pergerakan harga di pasar yang terjadi melalui sistem

perdagangan lelang. Nilai dasar akan disesuaikan dengan segera apabila

terjadi perubahan modal emiten atau terdapat faktor lain yang tidak terkait

dengan harga saham (corporate action). Terdapat beberapa indeks saham

1

Page 2: Bab I-bab III Print Revisi

lainnya yang merupakan bagian dari IHSG, salah satunya adalah indeks

Kompas 100.

Tujuan utama Bursa Efek Indonesia dalam penerbitan indeks Kompas 100

adalah untuk penyebarluasan informasi pasar modal serta menggairahkan

masyarakat untuk mengambil manfaat dari keberadaan Bursa Efek Indonesia,

baik untuk investasi maupun mencari sumber pendanaan bagi perusahaan

dalam mengembangkan perekonomian nasional. Manfaat bagi keberadaan

indeks kompas 100 yakni membuat suatu acuan (bench marking) baru bagi

investor untuk melihat ke arah mana pasar bergerak dan kinerja portofolio

investasinya. Manfaat lain yang diperoleh para pelaku industri pasar modal

ialah mereka memiliki suatu acuan baru dalam menciptakan produk-produk

inovasi yang berbasis indeks. Indeks kompas 100 merupakan suatu indeks

saham dari 100 saham perusahaan publik yang diperdagangkan di Bursa Efek

Indonesia.

Indeks kompas 100 secara resmi diterbitkan oleh Bursa Efek

Indonesia (BEI) bekerjasama dengan koran Kompas pada hari Jumat tanggal

10 Agustus 2007. Saham-saham yang terpilih untuk dimasukkan dalam indeks

kompas 100 ini selain memiliki likuiditas yang tinggi, serta nilai kapitalisasi

pasar yang besar, juga merupakan saham-saham yang memiliki fundamental

dan kinerja yang baik. Saham-saham yang termasuk dalam kompas 100

diperkirakan mewakili sekitar 70-80% dari total Rp 1.582 triliun nilai

kapitalisasi pasar seluruh saham yang tercatat di BEI, maka dengan

demikian investor bisa melihat kecenderungan arah pergerakan indeks dengan

mengamati pergerakan indeks Kompas100.

Indeks kompas 100 dipilih sebagai objek penelitian karena 100 perusahaan

yang masuk terdaftar dalam indeks ini adalah perusahaan dengan fundamental

dan peforma kinerja emiten yang dipandang paling baik selain memiliki

2

Page 3: Bab I-bab III Print Revisi

frekuensi dan nilai transaksi yang baik. Emiten Kompas 100 sebagai sampel

penelitian dipilih karena dianggap lebih merepresentasikan emiten BEI secara

keseluruhan. Lain halnya dengan LQ 45 yang hanya terdiri dari 45 emiten

sehingga terlalu sedikit dalam merepresentasikan 45 emiten yang terdaftar di

BEI. Indeks kompas 100 menampilkan 100 emiten dengan jenis industri

berbeda-beda yang paling diminati para investor sehingga lebih

merepresentasikan emiten Bursa Efek Indonesia secara keseluruhan.

1.2 Latar Belakang Penelitian

Perkembangan ekonomi merupakan salah satu bentuk yang sangat

berpengaruh terhadap kesejahteraan suatu negara. Perkembangan ekonomi di

Indonesia mulai mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Walaupun kita

sadari perekonomian di Indonesia sedang dalam keadaan terpuruk yang

ditandai harga barang-barang pokok yang melambung tinggi, bencana di

mana-mana, krisis di segala bidang, misalnya krisis listrik dan ditambah

dengan sumber daya alam yang semakin lama semakin menipis. Menurut

pengamat ekonomi Bachtiar Hassan Miraza menyatakan, bahwa: ”Banyak

pakar berpendapat, perekonomian Indonesia saat ini semakin membaik.

Pendapat ini didukung oleh pendapat para pejabat pemerintah yang

menyatakan, perekonomian tahun 2008 semakin cerah dan memberi harapan”.

Pendapat tersebut tentu saja disambut gembira oleh siapa saja yang

mendambakan kesejahteraan dalam kehidupannya. Kita semua akan menjadi

optimis menghadapi masa-masa seperti itu. Dengan melihat semua itu pasti

akan berdampak terhadap pasar modal. Kita pun tahu bahwa pasar modal

Indonesia pun saat ini sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat

dan secara tidak langsung semua itu akan menarik para investor untuk

3

Page 4: Bab I-bab III Print Revisi

menanamkan modalnya, baik investor asing maupun investor dalam negeri

baik di perusahaan yang sudah lama go public maupun perusahaan yang baru.

Pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana

dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan

sekuritas (Tandelilin, 2010:26). Para investor perlu memiliki sejumlah

informasi yang relevan berkaitan dengan dinamika harga saham dalam

mendukung pengambilan keputusan dan menilai perusahaan yang layak.

Penilaian harga saham tersebut berfungsi untuk meminimalkan resiko

yang kemungkinan terjadi. Investasi pada salah satu instrument di pasar modal

yaitu saham, dimana instrument tersebut merupakan salah satu instrument

keuangan paling popular. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan

perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan. Pada sisi lain

saham merupakan instrument investasi yang baik dipilih para investor karena

saham mampu memberikan return (keuntungan) yang cukup tinggi

dibandingkan dengan instrument investasi lainnya seperti deposito. Sesuai

dengan sifatnya yaitu high return and high risk, artinya Investasi melalui

pasar modal selain memberikan hasil/keuntungan (return) yang tinggi, juga

mengandung resiko yang tinggi, dimana besar kecilnya resiko di pasar modal

sangat dipengaruhi oleh keadaan negara khususnya dibidang ekonomi, politik

dan sosial. Keadaan di dalam perusahaan dapat juga mempengaruhi naik

turunnya harga saham. Menurut literature investasi pasar modal (Indonesian

stock exchange) tingkat return yang ditawarkan instrument saham ini bisa

mencapai 50% dari nilai investasi. Oleh karena itu informasi yang perlu

diperhatikan bagi para investor sekurang-kurangnya ada dua hal, yaitu

keuntungan yang diharapkan dan resiko yang kemungkinan akan timbul.

Didalam artikel yang dimuat Harian Kompas, Menteri Keuangan Sri Mulyani

Indrawati menyatakan kegembiraannya atas keberhasilan Bursa Efek

Indonesia. Harga saham melonjak sangat signifikan, Indeks Harga Saham

4

Page 5: Bab I-bab III Print Revisi

Gabungan (IHSG) meningkat 52%. Sementara Indeks kompas 100 yang baru

diluncurkan 10 Agustus 2007, juga menunjukkan kinerja yang tidak kalah

pentingnya dicatat sebagai salah satu benchmark (patokan) untuk investasi di

pasar saham, yakni mencapai 26,4% pada posisi 700,6. Bahkan, indeks yang

masih seumur jagung itu sempat mencapai rekor tertingginya pada posisi

722,84 dengan peningkatan secara kumulatif sebesar 28,29% per tanggal 11

Desember 2007.

Memang kompas 100 lahir di tengah badai dahsyat yang menimpa pasar

modal global, tak terkecuali pasar saham Jakarta, akibat gejolak pasar

keuangan yang dipicu krisis kredit macet di sektor perumahan (mortage) di

Amerika Serikat. Tak heran jika hanya dalam lima hari kelahirannya, indeks

kompas 100 sempat mencapai titik terendahnya pada posisi 478,52 pada

tanggal 16 Agustus 2007. Bahkan IHSG ketika itu terpangkas sampai di

bawah level 1.900-an. Tetapi, karena 100 saham emiten yang tergabung dalam

indeks ini merupakan saham unggulan (blue chips), maka dalam

perjalanannya pun menunjukkan ketangguhannya.

Pergerakan saham kompas 100 di Bursa Efek Indonesia dapat dilihat pada:

Gambar 1.1

Perkembangan Indeks Kompas 100 Periode 2008-2011

5

Page 6: Bab I-bab III Print Revisi

Sumber : www.duniainvestasi.com

Dari gambar 1.1, dapat ditarik kesimpulan bahwa dampak krisis ekonomi

Global berdampak negatif terhadap perkembangan Indeks Kompas 100. Pada

tahun 2008 sampai 2009, Indeks kompas 100 cenderung mengalami

penurunan yang cukup signifikan, tetapi pada tahun 2009 sampai 2011 indeks

kompas 100 mulai memperlihatkan peningkatannya.

Pergerakan indeks kompas 100 yang positif, dapat dinilai investor sebagai

peluang untuk menginvestasikan dana yang mereka miliki pada perusahaan-

perusahaan yang terdaftar pada indeks kompas 100. Dengan peningkatan

indeks kompas 100 yang cukup signifikan, investor dapat menilai bahwa

perusahaan-perusahaan yang listing di indeks kompas 100 mempunyai

kinerja yang baik, sehingga investor menilai peluang untuk mendapatkan

return atau keuntungan dalam menanamkan modalnya pada perusahaan-

perusahaan yang terdaftar di indeks kompas 100 cukup besar.

Harapan investor dalam melakukan investasi adalah memperoleh return.

Pilihan investor terhadap saham perusahaan yang tergabung dalam kelompok

saham kompas 100 juga tidak lepas dari adanya return yang diharapkan.

6

Page 7: Bab I-bab III Print Revisi

Penilaian investor terhadap suatu saham perusahaan diantaranya adalah

dengan memperhatikan kinerja perusahaan yang menerbitkan saham. Oleh

karena itu return saham sangat penting bagi perusahaan karena digunakan

sebagai salah satu pengukur kinerja dari suatu perusahaan (Jogiyanto,

2003:108), sehingga perusahaan berusaha menjaga dan memperbaiki

kinerjanya yang dapat mempengaruhi return saham agar portofolio saham

yang diinvestasikan meningkat.

Untuk memprediksi return saham banyak faktor yang dapat digunakan

sebagai parameter. Salah satu faktor dari alat ukur ini adalah informasi

keuangan dari perusahaan tersebut. Untuk mengetahui apakah informasi

keuangan yang dihasilkan sudah dapat bermanfaat untuk memprediksi harga

atau return saham di pasar modal, termasuk kondisi keuangan perusahaan di

masa depan adalah dengan cara melakukan analisis rasio keuangan. Untuk

keperluan tersebut investor memerlukan alat ukur yang memadai terhadap

proyeksi keuntungan (return) perusahaan dimasa mendatang dengan tingkat

probabilitas yang berbeda-beda.

Menurut Warsidi dan Bambang (2000), analisis rasio keuangan merupakan

instrumen analisis prestasi perusahaan yang menjelaskan berbagai hubungan

dan indikator keuangan, yang ditujukan untuk menunjukan perubahan dalam

kondisi keuangan atau prestasi operasi dimasa lalu dan membantu

menggambarkan trend pola perubahan tersebut, untuk kemudian menunjukan

resiko dan peluang yang melekat pada perusahaan yang bersangkutan. Bagi

perusahaan-perusahaan yang go public diharuskan menyertakan rasio

keuangan yang relevan sesuai dengan Keputusan Ketua Bapepam Nomor

KEP-51/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996 (BEJ). Investor dalam melakukan

analisis fundamental pada tingkatan perusahaan, laporan keuangan merupakan

salah satu jenis informasi yang paling murah dan mudah didapatkan

dibandingkan dengan informasi lainnya. Informasi laporan keuangan sudah

7

Page 8: Bab I-bab III Print Revisi

cukup menggambarkan perkembangan perusahaan dan berbagai hal yang

telah dicapainya (Tandelilin, 2001:233). Menurut Tandelilin (2001:232),

dalam melakukan analisis fundamental pada tingkatan perusahaan, investor

dalam menganalisis return saham harus mendasarkan kerangka pikirnya pada

dua komponen utama yaitu Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio

(PER).

Earning Per Share (EPS) merupakan rasio yang menunjukan bagian laba

untuk setiap saham. EPS menggambarkan profitabilitas perusahaan yang

tergambar pada setiap lembar saham. Makin tinggi EPS tentu saja

mengembirakan pemegang saham karena makin besar laba yang disediakan

untuk pemegang saham dan kemungkinan peningkatan jumlah deviden yang

diterima pemegang saham.

Price Earning Ratio (PER) menggambarkan apresiasi pasar terhadap

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (Darmaji, 2001:139).

Sedangkan menurut Fahmi dan Hadi (2009:78), “Price Earning Ratio

merupakan perbandingan antara harga pasar suatu saham dengan Earning Per

Share (EPS) dari saham yang bersangkutan. Price Earning Ratio merupakan

hubungan antara pasar saham dengan Earning Per Share saat ini yang

digunakan secara luas oleh investor sebagai panduan umum untuk mengukur

nilai saham (Garrison, 1998:788). Price Earning Ratio yang tinggi

menunjukkan bahwa investor bersedia untuk membayar dengan harga saham

premium untuk perusahaan. Berdasarkan pendapat tersebut pengertian Price

Earning Ratio yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rasio yang

membandingkan antara harga saham per lembar saham biasa yang beredar

dengan laba per lembar saham.

8

Page 9: Bab I-bab III Print Revisi

Penelitian-penelitian di bidang pasar modal telah banyak dilakukan

diantaranya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi return saham. Dari

banyak penelitian yang telah dilakukan terdapat perbedaan tentang variabel-

variabel yang dipilih dan menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Diantara

penelitian terdahulu yang memberikan kesimpulan berbeda antara lain

penelitian yang dilakukan oleh Hadianto (2008) menyimpulkan bahwa

Earning Per Share (EPS) mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan

terhadap return saham sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Estuari

(2010) menyimpulkan bahwa Earning Per Share (EPS) tidak berpengaruh

secara signifikan terhadap return saham. Penelitian yang dilakukan Aprillia

(2010) menyimpulkan bahwa PER secara parsial berpengaruh positif dan

signifikan terhadap return saham sedangkan Penelitian oleh Khodijah (2010)

menyimpulkan bahwa PER tidak berpengaruh signifikan terhadap return

saham.

Berdasarkan permasalahan diatas maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai kinerja saham kompas 100 yang tergabung dalam Bursa

Efek Indonesia (BEI). Karena saham kompas 100 di BEI pada tahun 2008

hingga 2011 ekonomi Indonesia mulai bangkit dari krisis ekonomi global dan

kompas 100 dapat tumbuh kembali secara konsisten hingga mencapai level

pemulihan yang cukup baik, maka penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh

mengenai saham kompas 100 yang tergabung dalam Bursa Efek Indonesia

(BEI) pada periode Januari 2008 hingga Desember 2011. Berdasarkan uraian

di atas, maka penelitian ini menetapkan objek yang akan diteliti dikhususkan

pada saham-saham yang tergabung dalam kompas 100.

Peneliti tertarik untuk menganalisis pengaruh Earning Price Ratio (EPS)

dan Price Earning Ratio (PER) terhadap harga saham pada perusahaan-

perusahaan dalam kompas 100. Oleh karena itu peneliti mengambil judul :

9

Page 10: Bab I-bab III Print Revisi

“PENGARUH EARNING PER SHARE (EPS) DAN PRICE EARNING

RATIO (PER) TERHADAP RETURN SAHAM (Penelitian pada

Perusahaan yang Listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) khususnya

perusahaan di indeks kompas 100 Periode 2008-2011)

1.3 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka untuk pengembangan penelitian

terdahulu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi return saham dapat

dikembangkan untuk saham yang terdaftar pada indeks kompas 100 dan

penelitian ini akan menganalisa tentang pengaruh Earning Per Share (EPS)

dan Price Earning Ratio (PER) terhadap return saham dalam perusahaan

terdaftar di index kompas 100, sehingga dalam penelitian ini muncul

pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER) dan

return saham pada perusahaan yang listing di indeks kompas 100

periode 2008-2011?

2. Bagaimana pengaruh secara simultan Earning Per Share (EPS) dan

Price Earning Ratio (PER) terhadap return saham pada perusahaan

yang listing di indeks kompas 100 periode 2008-2011?

3. Bagaimana pengaruh secara parsial Earning Per Share (EPS) dan

Price Earning Ratio (PER) terhadap return saham yaitu:

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi tujuan penelitian ini adalah

sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio

(PER) dan return saham pada perusahaan yang listing di kompas 100

periode 2008-2011.

10

Page 11: Bab I-bab III Print Revisi

2. Untuk menganalisis pengaruh secara simultan Earning Per Share

(EPS), Price Earning Ratio (PER) terhadap return saham pada

perusahaan yang listing di kompas 100 periode 2008-2011.

3. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial Earning Per Share (EPS)

dan Price Earning Ratio (PER) terhadap return saham pada

perusahaan yang listing di kompas 100 periode 2008-2011.

1.5 Kegunaan Peneltian

1.5.1Aspek Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah Ilmu Pengetahuan dibidang

investasi khususnya tentang investasi saham pada perusahaan-perusahaan

dalam indeks kompas 100 dan dapat memberikan informasi bagi

kemungkinan adanya penelitian lebih lanjut.

1.5.2Aspek Praktis

Kegunaan praktis yang ingin dicapai dari penerapan pengetahuan

sebagai hasil penelitian ini adalah :

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

pengambil keputusan dalam menginvestasikan dananya pada sekuritas.

Dengan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham

diharapkan investor mampu memprediksi harga saham, dan menilai

kinerja saham suatu perusahaan, khususnya pada perusahaan-perusahaan

yang terdaftar di indeks kompas 100.

1.6 Sistematika Penulisan Tugas Akhir

Pembahasan dalam skripsi ini akan dibagi dalam lima bab yang terdiri dari

beberapa sub-bab. Sistematika penulisan skripsi ini secara garis besar adalah

sebagai berikut :

11

Page 12: Bab I-bab III Print Revisi

BAB I : PENDAHULUAN

Merupakan bab pendahuluan yang menjelaskan mengenai beberapa hal

pokok yang berhubungan dengan penulisan, yang terdiri dari latar belakang

yang mendasari penelitian, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan

penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUP PENELITIAN

Bab ini merupakan bagian yang berisi tentang landasan teori yang

digunakan sebagai dasar acuan teori bagi penelitian antara lain tentang pasar

modal, saham, informasi dalam keputusan investasi, analisis saham, laporan

keuangan, analisis rasio keuangan, penjelasan dan masing-masing variabel

EPS, PER yang berpengaruh terhadap return saham, penelitian terdahulu,

kerangka penelitian, serta hipotesis.

BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini berisi uraian mengenai variabel penelitian yaitu return saham

sebagai variabel dependennya dan variabel EPS, PER sebagai variabel

independennya, penggunaan populasi dan sampel, jenis dan sumber data, serta

metode analisis penelitian yang digunakan.

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini mendeskripsikan obyek penelitian yaitu saham-saham tergabung

dalam indeks kompas 100 yang serta membahas masalah dan hasil dari

pengaruh EPS, PER terhadap return saham.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Menyajikan secara singkat apa yang telah diperoleh dari hasil penelitian

yang telah dilaksanakan, terangkum dalam bagian kesimpulan. Bab ini

12

Page 13: Bab I-bab III Print Revisi

diakhiri dengan pengungkapan keterbatasan penelitian diikuti saran yang

berguna untuk penelitian selanjutnya.

13

Page 14: Bab I-bab III Print Revisi

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUP PENELITIAN

2.1 Tinjauan Pustaka Penelitian

2.1.1 Investasi

Istilah investasi bisa berkaitan dengan berbagai macam aktivitas

menginvestasikan sejumlah dana pada asset riil (tanah, mas, mesin, atau

banguan), maupun asset pinansial (deposito, saham, ataupun obligasi)

merupakan aktivitas investasi yang umumnya dilakukan. Bagi investor yang

lebih pintar dan lebih berani menanggung resiko, aktivitas investasi yang

dilakukan juga bisa mencakup investasi pada asset-asset finansial yang lebih

kompleks seperti warrans, option, dan future maupun ekuitas internasional.

Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainya yang

dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan

dimasa yang akan datang. Berinvestasi pada dasarnya adalah membeli suatu

asset yang diharapkan dimasa yang akan datang dapat dijual kembali dengan

nilai yang lebih tinggi.

Sudomo (2001:2) mengemukakan bahwa investasi dapat diartikan sebagai

suatu kegiatan penempatan dana pada satu atau lebih dari suatu asset selama

periode tertentu dengan harapan dapat memperoleh penghasilan dan atau

peningkatan investasi. Dalam kamus lengkap Wall Street R.J. Shook

terjemahan, Roy Simbel (2002:286) mengungkapkan bahwa investasi pada

dasarnya merupakan secara hati-hati menggunakan uang untuk memperoleh

lebih banyak uang dengan resiko yang paling kecil/uang tunai, obligasi,

saham, dan aset atau investasi lainya yang akan menghasilkan

pendapatan/memberikan tambahan nilai bagi investor.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa investasi

merupakan suatu aktivitas ekonomi dimana didalamnya terdapat kegiatan

14

Page 15: Bab I-bab III Print Revisi

untuk mempertahankan/memperbesar kekayaan dengan jalan mengalokasikan

dana pada suatu asset dengan tujuan memperoleh keuntungan dimasa yang

akan datang dengan cara rasional.

Investor yang rasional merupakan investor yang menginvestasikan

dananya pada asset yang memberikan return dari serangkaian asset yang

memiliki resiko yan sama atau menginvestasikan dananya pada asset yang

memiliki resiko yang rendah dari serangkaian asset yang memiliki return

yang sama.

2.1.2 Tujuan Investasi

Dari pengertian investasi yang telah dijabarkan diatas dapat disimpulkan

bahwa investasi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan baik sekarang

maupun dimasa yang akan datang. Menurut Tandelin (2001:4)

mengemukakan bahwa pada dasarnya tujuan orang melakukan investasi

adalah untuk menghasilkan sejumlah uang.

Dari uraian pengertian tersebut terlalu sederhana dan tujuan investasi yang

lebih luas adalah untuk meningkatkan kesejahteraan investor, maksudnya

kesejahteraan moneter yang dapat diukur berdasarkan penjumlahan

pendapatan saat ini ditambah nilai saat ini menjadi pendapatan dimasa yang

akan datang.

2.1.3 Pengertian Pasar Modal

Ketika suatu perusahaan membutuhkan dana tambahan untuk

mengembangkan usahanya, maka perusahaan tersebut dapat mencatatkan

perusahaannya pada pasar modal untuk memperoleh dana tambahan dari para

investor maupun kreditur. Di Indonesia, Bursa Efek Indonesia yang bertempat

di Jakarta menjadi pasar modal dan pusat transaksi.

Menurut Rusdin (2008:1), pasar modal merupakan kegiatan yang

berhubungan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan

15

Page 16: Bab I-bab III Print Revisi

publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan

profesi yang berkaitan dengan efek. Pasar modal bertindak sebagai

penghubung antara investor dengan perusahaan ataupun institusi pemerintah

melalui perdagangan instrumen keuangan jangka panjang seperti obligasi,

saham, dan lainnya.

Sedangkan menurut Fakhruddin (2008:33), pasar modal adalah suatu

pasar dimana dana-dana jangka panjang baik utang maupun modal sendiri

diterbitkan dan diperdagangkan. Dana-dana jangka panjang yang merupakan

utang biasanya berbentuk obligasi. Sedangkan dana jangka panjang yang

merupakan modal sendiri biasanya berbentuk saham.

Berdasarkan teori diatas, penulis berpendapat bahwa pasar modal

layaknya pasar tradisional yang mempertemukan pihak kelebihan dana

(pembeli efek) dengan pihak yang kekurangan dana (penerbit efek) yang

terhimpun dalam wadah jual beli instrumen pasar modal hingga terbentuknya

permintaan dan penawaran atas efek.

Di dalam aktifitas pasar modal umumnya dikenal dua jenis pasar yaitu

pasar perdana (primary market) yaitu tempat dimana instrument keuangan

yang diterbitkan oleh perusahaan atau emiten yang pertama kalinya

(penawaran umum) sebelum saham tersebut dicatatkan dibursa, harga

ditentukan oleh penjamin emisi dan emiten. Dan yang kedua dikenal sebagi

pasar sekunder (secondary market) yaitu dimana pasar instrument atau

sekuritas diperjual-belikan secara luas dan harga ditentukan berdasarkan

permintaan dan penawaran.

2.1.4 Saham index kompas 100

Saham merupakan surat berharga yang mempresentasikan penyertaan

modal kedalam suatu perusahaan (Darmaji dan Fakhruddin, 2011:184)

sedangkan menurut Kusnadi (Aziz, 2010:84) saham adalah suatu sertifikat

16

Page 17: Bab I-bab III Print Revisi

atau tanda otentik yang mempunyai kekuatan hukum bagi pemegangnya

sebagai keikutsertaan didalam perusahaan serta mempunyai nominal (mata

uang) serta dapat diperjual belikan. Sementara Indeks kompas 100 adalah

merupakan suatu indeks saham dari 100 saham perusahaan publik yang

diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Indeks kompas 100 secara resmi

diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) bekerjasama

dengan koran Kompas pada hari Jumat tanggal 10 Agustus 2007. Saham-

saham yang terpilih untuk dimasukkan dalam indeks kompas 100. Selain

memiliki likuiditas yang tinggi, serta nilai kapitalisasi pasar yang besar, juga

merupakan saham-saham yang memiliki fundamental dan kinerja yang baik.

Saham-saham yang termasuk dalam kompas 100 diperkirakan mewakili

sekitar 70-80% dari total Rp 1.582 triliun nilai kapitalisasi pasar seluruh

saham yang tercatat di BEI, maka dengan demikian investor bisa melihat

kecenderungan arah pergerakan indeks dengan mengamati pergerakan indeks

Kompas 100. Akan tetapi, ini bias saja berlawanan arah dengan indeks harga

saham gabungan (IHSG) maupun indeks lainnya

http://id.wikipedia.org/wiki/Indeks_Kompas100. Proses pemilihan 100 saham

yang masuk dalam penghitungan indeks Kompas 100 ini mempertimbangkan

faktor likuiditas, kapitalisasi pasar dan kinerja fundamental dari saham-saham

tersebut.

Kriteria Pemilihan Saham Indeks Kompas 100 adalah dengan

mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut:

1. Telah tercatat di BEI minimal 3 bulan

2. Aktivitas transaksi di pasar reguler yaitu nilai, volume dan frekuensi

transaksi

3. Jumlah hari perdagangan di pasar reguler

4. Kapitalisasi pasar pada periode waktu tertentu

17

Page 18: Bab I-bab III Print Revisi

5. Sebagai saringan terakhir, BEI juga mengevaluasi dan

mempertimbangkan faktor-faktor fundamental dan pola perdagangan

6. BEI memiliki tanggung jawab penuh dalam pelaksanaan pemilihan

saham-saham yang masuk dalam daftar indeks ini, dimana semua

keputusan akan diambil dengan mempertimbangkan kepentingan

investor maupun stakeholders lainnya.

2.1.5 Laporan Keuangan

Laporan keuangan (financial statement) suatu perusahaan merupakan

gambaran yang menjelaskan tentang kondisi keuangan suatu perusahaan.

Bagian inilah yang paling banyak dan paling teliti untuk dilihat oleh investor

dalam rangka mengetahui kondisi suatu perusahaan itu sehat atau tidak.

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) melalui PSAK No. 01 (2004:2)

memberikan pengertian mengenai laporan keuangan adalah sebagai berikut:

“Laporan keuangan adalah neraca dan perhitungan laba, laporan perubahan

posisi keuangan (misalnya laporan arus kas atau laporan arus dana) catatan

dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari

laporan keuangan”.

Fokus utama dalam pelaporan keuangan adalah informasi mengenai

kinerja perusahaan yang tersedia dengan mengukur laba (earning) dan

komponennya. Sebab laporan keuangan yang hanya menunjukkan penerimaan

dan pembayaran kas pada periode yang pendek tidak cukup mampu untuk

menunjukkan kesuksesan kinerja suatu perusahaan.

Sedangkan menurut Tandelilin ( 2001:23 ), pengertian laporan keuangan

adalah sebagai berikut :

“Laporan keuangan merupakan informasi akuntansi yang menggambarkan

seberapa besar kekayaan perusahaan, seberapa besar penghasilan yang

18

Page 19: Bab I-bab III Print Revisi

diperoleh perusahaan serta transaksi–transaksi ekonomi apa saja yang telah

dilakukan perusahaan yang bisa mempengaruhi kekayaan dan penghasilan

perusahaan”.

Laporan keuangan sangat berguna bagi investor untuk menentukan

keputusan investasi yang terbaik dan menguntungkan. Berdasarkan analisis

terhadap informasi laporan keuangan, investor dapat mengetahui

perbandingan anatara nilai intrinsik saham perusahaan dibanding harga pasar

saham perusahaan bersangkutan dan atas dasar perbandingan tersebut investor

dapat membuat keputusan untuk membeli atau menjual saham bersangkutan.

2.1.6 Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan menurut Hanafi dan Halim (2003:30) adalah

sebagai berikut :

1. Memberikan informasi yang bermanfaat untuk investor, kreditur dan

pemakaian lainnya, saat ini maupun potensial (masa yang akan datang)

untuk pembuatan keputusan investasi, kredit dan investasi semacam

lainya.

2. Memberikan informasi yang bermanfaat untuk pemakaian eksternal,

untuk memperkirakan jumlah, waktu dan ketidakpastian (yang berarti

resiko) penerimaan kas yang berkaitan.

3. Untuk memperkirakan aliran kas perusahaan.

Disamping itu, secara spesifik laporan keuangan bertujuan membuat pihak

luar menganalisis :

a. Likuiditas perusahaan

b. Fleksibilitas keuangan

c. Kemampuan operasional perusahaan dan

19

Page 20: Bab I-bab III Print Revisi

d. Kemampuan menghasilkan pendapatan selama periode

tertentu.

Sedangkan menurut IAI yang disampaikan melalui PSAK No. 01 (2004:1)

tujuan umum laporan keuangan adalah:

“Memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas

perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan

keuangan, dalam rangka membuat keputusan ekonomi serta menunjukkan

pertanggung jawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber daya

yang dipercayakan kepada mereka”.

Ditinjau dari sudut pandang manajemen, laporan keuangan merupakan

media bagi mereka untuk mengkomunikasikan performance keuangan

perusahaan yang dikelolanya kepada pihak–pihak yang berkepentingan.

Sedangkan ditinjau dari sudut pandang pemakai informasi akuntansi

diharapkan dapat digunakan untuk mengambil keputusan yang rasional dalam

praktik bisnis sehat. Dengan demikian, seorang investor yang rasional tetap

harus mengandalkan laporan keuangan sebagai dasar kebijakan investasinya.

2.1.7 Komponen-komponen Laporan Keuangan

Laporan keuangan perusahaan merupakan salah satu sumber informasi

yang penting disamping informasi lain seperti informasi industri, kondisi

perekonomian, pangsa pasar perusahaan, kualitas manajemen dan lainnya.

Seringkali manajemen perlu memahami kondisi keuangan suatu perusahaan

sebelum mengambil keputusan–keputusan penting yang akan berpengaruh

terhadap kondisi perusahaan dimasa yang akan datang. Untuk mengambil

keputusan keuangan, maka kita memberikan informasi keuangan. Informasi

keuangan tersebut, diperusahaan disajikan oleh laporan keuangan yang

disusun menurut prinsip–prinsip akuntansi. Oleh karena itu, kita perlu

memahami laporan keuangan tersebut.

20

Page 21: Bab I-bab III Print Revisi

Menurut Hanafi dan Halim (2003 : 49) menyatakan bahwa ada tiga macam

laporan keuangan pokok yang dihasilkan, yaitu :

1. Neraca

2. Laporan laba rugi

3. Laporan arus kas

Disamping ketiga laporan pokok tersebut, dihasilkan juga laporan

pendukung seperti laporan laba rugi yang ditahan, perusahaan modal sendiri

dan diskusi – diskusi oleh pihak manajemen. Dalam hal ini, laporan keuangan

yang lengkap menurut Darmadji dan Fakhuruddin (2011:191) meliputi

komponen – komponen sebagai berikut :

1. Neraca

Neraca merupakan laporan keuangan yang menggambarkan

perkembangan asset (aktiva), kewajiban dan modal (equity)

perusahaan.

2. Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi merupakan laporan yang menggambarkan

pendapatan perusahaan serta biaya yang dikeluarkan sehingga dapat

diketahui apakah perusahaan dalam posisi laba atau rugi.

3. Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan perusahaan ekuitas merupakan yang menunjukan perubahan

ekuitas atau kepemilikan perusahaan yang menggambarkan

peningkatan atau penurunan aktiva bersih atau kekayaan selama

periode pelaporan.

4. Laporan Arus Kas

Laporan arus kas merupakan laporan yang menunjukan penerimaan

dan pengeluaran kas dalam aktivitas perusahaan selama periode

21

Page 22: Bab I-bab III Print Revisi

tertentu dan diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi dan

pendanaan.

5. Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan mengenai

gambaran umum perusahaan, ikhtisar kebijakan akuntansi, penjelasan

pos– pos laporan keuangan dan informasi penting lainnya.

2.1.8 Analisis Rasio Keuangan

Dalam laporan keuangan akan terlihat aktifitas yang sudah dilakukan

perusahaan pada suatu periode tertentu. Aktifitas yang sudah dilakukan

tersebut dituangkan dalam angka-angka, baik dalam bentuk mata uang rupiah

maupun dalam bentuk mata uang asing. Angka-angka yang ada dalam laporan

keuangan menjadi kurang berarti jika hanya dilihat dari satu sisi saja. Angka-

angka ini akan menjadi lebih berati, apabila dapat dibandingkan antara satu

komponen dengan komponen lainya. Caranya dengan membandingkan angka-

angka dalam laporan keuangan atau antar laporan keuangan. Setelah

melakukan perbandingan dapat disimpulkan posisi keuangan suatu

perusahaan pada periode tertentu. Pada akhirnya kita dapat menilai kinerja

manajemen dalam periode tersebut. Perbandingan ini kita kenal dengan nama

analisis rasio keuangan.

Menurut Horne (Kasmir, 2010:93), rasio keuangan merupakan indeks

yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi

satu angka dengan angka lainnya. Rasio keuangan digunakan untuk

mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Dari hasil rasio ini

maka akan kelihatan kondisi kesehatan perusahaan yang bersangkutan.

22

Page 23: Bab I-bab III Print Revisi

Menurut Ang (1997:18.23-18.38) rasio keuangan dapat dikelompokkan

menjadi lima jenis berdasarkan ruang lingkup atau tujuan yang ingin dicapai,

yaitu:

1. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratios)

Rasio ini berfungsi untuk mengukur kemampuan jangka pendek

(kurang dari satu tahun) perusahaan di dalam untuk memenuhi

kewajiban yang jatuh tempo. Rasio likuiditas dapat dibagi atas tiga

jenis yaitu:

a. Current Ratio (Rasio Lancar)

Rasio ini bertujuan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan

untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva

lancarnya (Current Asset).

b. Quick Ratio

Rasio ini bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk

memenuhi kewajiban jangka pendek melalui aktiva lancar yang

benar-benar likuid.

c. Net Working Capital

Rasio ini digunakan untuk menghitung selisih antara aktiva lancar

(current assets) dengan kewajiban lancar / jangka pendek (current

liabilities).

2. Rasio Aktivitas (Activity Ratios)

Rasio ini menunjukkan kemampuan serta efisiensi perusahaan di dalam

memanfaatkan harta-harta yang dimilikinya. Rasio aktivitas dapat

dibagi atas enam jenis, yaitu:

a. Total Asset Turnover

23

Page 24: Bab I-bab III Print Revisi

Rasio ini menunjukkan kemampuan dana yang tertanam dalam

keseluruhan aktiva berputar dalam satu periode tertentu.

b. Fixed Asset Turnover

Rasio ini bertujuan untuk mengukur tingkat efisiensi pemanfaatan

aktiva tetap perusahaan untuk menunjang kegiatan penjualan.

c. Accounts Receivable Turnover

Rasio ini berfungsi untuk mengukur seberapa cepat piutang dagang

dapat ditagih sehingga berubah menjadi kas.

d. Inventory Turnover

Rasio ini berfungsi untuk mengukur kecepatan perputaran

(turnover) persediaan menjadi kas.

e. Average collection Period

Rasio yang berfungsi untuk mengukur efisiensi pengelolaan piutang

dagang, yang menunjukkan umur tagihan rata-rata piutang dagang

selama setahun.

f. Days Sales in Inventory

Rasio ini berfungsi untuk mengukur kinerja dan efisiensi pengelolaan

yang menunjukkan lamanya rata-rata persediaan dalam setahun yang

berubah menjadi uang kas.

3. Rasio Rentabilitas atau Profitabilitas (Profitability Ratios)

Rasio ini menunjukkan keberhasilan perusahaan didalam menghasilkan

keuntungan. Rasio ini dapat dibagi atas 6 (enam) jenis, yaitu:

a. Gross Profit Margin (GPM)

Rasio yang berfungsi untuk mengukur tingkat kembalian keuntungan

kotor terhadap penjualan bersihnya.

b. Net Profit Margin (NPM)

24

Page 25: Bab I-bab III Print Revisi

Rasio ini berfungsi untuk mengukur tingkat kembalian keuntungan

bersih terhadap penjualan bersihnya.

c. Operating Return On Assets (OPROA)

Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat kembalian dari

keuntungan operasional perusahaan terhadap seluruh asset yang

digunakan untuk menghasilkan keuntungan operasional tersebut.

d. Return On Assets (ROA)

Rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan didalam

menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktivitas yang

dimilikinya.

e. Return On Equity (ROE)

Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat kembalian perusahaan

atau efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan

memanfaatkan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan.

f. Operating Ratio (OPR)

Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat kembalian dari

keuntungan operasional perusahaan terhadap nilai bersih penjualan

yang dihasilkan.

4. Rasio Solvabilitas (Solvency Ratios)

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi

jangka panjangnya. Rasio ini disebut juga leverage ratios.

Rasio Solvabilitas dapat dibagi atas 5 (Lima) jenis, yaitu:

a. Debt Ratio

Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat leverage (penggunaan

hutang) terhadap total assets yang dimiliki perusahaan.

b. Debt To Equity Ratio (DER)

25

Page 26: Bab I-bab III Print Revisi

Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat leverage terhadap total

modal sendiri.

c. Long-Term Debt To Equity Ratio

Rasio ini digunakan untuk hutang jangka panjang terhadap modal

sendiri.

d. Times Interest Earned

Rasio ini menunjukkan kemampuan dari hasil keuntungan usaha

(operating profit) untuk memenuhi beban bunga yang harus dibayar.

e. Cash Flow Ratio

Rasio ini berfungsi untuk mengukur kinerja arus kas perusahaan

terhadap komponen lain dalam laporan arus kas.

5. Rasio Pasar (Market ratios)

Rasio ini menunjukkan informasi penting perusahaan yang

diungkapkan dalam basis per saham. Rasio pasar ini dapat dibagi atas 7

(tujuh) jenis yaitu:

a. Dividend yield (DY)

Rasio ini yang digunakan untuk mengukur jumlah dividen per saham

relatif terhadap harga pasar yang dinyatakan dalam bentuk

persentase.

b. Dividend Per Share (DPS)

Rasio yang digunakan untuk mengukur jumlah dividen per lembar

sahamnya.

c. Earning Per Share (EPS)

Rasio yang menunjukkan bagian laba untuk setiap saham.

d. Dividend Payout Per Ratio (DPR)

Rasio yang digunakan untuk mengukur perbandingan dividen

terhadap laba perusahaan.

e. Price Earning Ratio (PER)

26

Page 27: Bab I-bab III Print Revisi

Rasio yang menunjukkan berapa besar keuntungan yang diperoleh

pemegang saham per lembar sahamnya.

f. Book Value Per Share (BVS)

Rasio yang mengukur perbandingan total modal sendiri (ekuitas)

terhadap jumlah saham.

g. Price to Book Value (PBV)

Rasio ini digunakan untuk mengukur kinerja harga pasar saham

terhadap nilai bukunya.

2.1.9 Variabel Penelitian

A) Earning Per Share (EPS)

Earnings per share (EPS) merupakan perbandingan antara pendapatan

yang dihasilkan (laba bersih) dan jumlah saham yang beredar. Earnings per

share (EPS) menggambarkan profitabilitas perusahaan yang tergambar pada

setiap lembar saham. Earnings per share (EPS) dihitung dengan rumus

berikut (Darmadji dan Fakhruddin, 2011:154):

EPS = Laba Bersih

Jumlah Saham Beredar

B) Price Earning Ratio (PER)

Price Earning Ratio (PER) atau juga disebut sebagai earning

multiplier.informasi PER mengindikasikan besarnya rupiah yang harus di

bayarkan investor untung memperoleh satu rupiah earning perusahaan.

Dengan kata lain PER menunjukan besarnya harga setiap satu rupiah earning

27

Page 28: Bab I-bab III Print Revisi

perusahaan. Price Earning Ratio (PER) dihitung dengan rumus berikut

(Tandelilin, 2010:375):

PER = D1/E1

k-g

D1/E1 = tingkat dividend payout ratio yang diharapkan

k = tingkat return yang diisyaratkan

g = tingkat pertumbuhan dividen yang diharapkan

Selain itu, menurut Fahmi dan Hadi (2009:77) perhitungan PER

menggunakan rumus:

C) Return Saham

Return adalah tingkat kembalian yang dinikmati oleh pemodal atas suatu

investasi yang dilakukannya. Tanpa adanya tingkat keuntungan yang

dinikmati dari suatu investasi, tentunya investor (pemodal) tidak akan

melakukan investasi. Jadi setiap investasi baik jangka pendek maupun

jangka panjang mempunyai tujuan utama mendapatkan keuntungan yang

disebut sebagai return baik langsung maupun tidak langsung (Ang,

1997:20.2). Komponen return terdiri dari dua jenis yaitu current income

(pendapatan lancar) dan capital gain (keuntungan selisih harga).

Current income merupakan keuntungan yang diperoleh melalui pembayaran

yang bersifat periodik seperti pembayaran bunga deposito, bunga obligasi,

deviden dan sebagainya. Sedangkan pendapatan lancar adalah keuntungan

yang diterima biasanya dalam bentuk kas atau setara kas, sehingga dapat

28

PER = harga pasar perlembar saham

laba perlembar saham (EPS)

Page 29: Bab I-bab III Print Revisi

diuangkan secara cepat, seperti bunga atau jasa giro dan deviden tunai.

Deviden merupakan nilai pendapatan bersih perusahaan setelah

pajak dikurangi dengan laba ditahan (retained earnings) yang besarnya

diputuskan oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Deviden yang

dibayarkan dapat berupa deviden tunai (cash devidend) dan deviden saham

(stock devidend).

Deviden tunai merupakan deviden yang diayarkan dalam bentuk uang

tunai, sedangkan deviden saham merupakan deviden yang dibayarkan dalam

bentuk saham dengan porsi tertentu. Nilai suatu deviden tunai sesuai dengan

nilai tunai yang dibayarkan, sedangkan nilai dari deviden saham dihitung

dengan rumus sebagai berikut:

Vd = PS

RD

(Ang, 1997:6.11)

dimana,

Vd = Nilai suatu deviden saham per lembar 

Ps = Harga wajar deviden saham

Rd = Rasio deviden saham

Sedangkan besarnya pendapatan deviden (devidend yield-DY) dihitung

dari rasio antara deviden per lembar saham (DPS) terhadap harga per lembar

saham (Ps) yang dapat diformulasikan sebagai berikut:

DY = DPSX 100%

Ps

(Ang, 1997:6.19)

29

Page 30: Bab I-bab III Print Revisi

dimana,

DY = Pendapatan deviden

DPS = Deviden per lembar saham

Ps = Harga saham per lembar 

Komponen kedua dari return adalah capital gain yaitu keuntungan yang

diterima karena adanya selisih antara harga jual dengan harga beli saham dari

suatu instrumen investasi. Capital gain dapat tergantung dari harga pasar 

instrumen investasi, yang berarti bahwa instrumen investasi harus

diperdagangkan di pasar. Dengan adanya perdagangan maka akan

timbul perubahan nilai suatu instrumen investasi yang memberikan capital

gain. Besarnya capital gain dilakukan dengan analisis return historis yang

terjadi pada periode sebelumnya, sehingga dapat ditentukan besarnya tingkat

kembalian yang diinginkan. Return merupakan hasil yang diperoleh dari

investasi yang berupa return realisasi (realized return) dan return ekspektasi

(expected return). Return realisasi merupakan return yang telah terjadi yang

dihitung berdasarkan data historis dan dipergunakan sebagai salah satu

pengukur kinerja perusahaan. Return realisasi ini juga berguna sebagai dasar

penentuan return ekspektasi (expected return) dan risiko di masa datang.

Return ekspektasi merupakan return yang diharapkan akan diperoleh

investor di masa mendatang yang dihitung dengan mengalikan masing-masing

hasil masa depan (outcome) dengan probabilitas kejadiannya dan

menjumlahkannya (Jogiyanto, 2003:109). Return realisasi dihitung dengan

menggunakan return total (total return), relatif return (return relative),

kumulatif return (return cumulative), dan return disesuaikan (adjusted

return). Return total merupakan return keseluruhan dari suatu investasi dalam

suatu periode tertentu yang terdiri dari capital gain (loss) dan yield. Capital

gain (loss) merupakan selisih untung (rugi) dari harga investasi sekarang

30

Page 31: Bab I-bab III Print Revisi

relatif dengan harga periode yang lalu. Yield merupakan presentasi

penerimaan kas periodik terhadap harga investasi periode tertentu dari suatu

investasi. Relatif  return merupakan return total ditambah dengan nilai 1.

Kumulatif  return merupakan akumulasi dari semua total return yang

ditunjukkan dengan indeks kemakmuran kumulatif. Return yang disesuaikan

merupakan return yang diukur berdasarkan nilai uang yangdisesuaikan

dengan tingkat daya beli yang tercermin dalam tingkat inflasi, sehingga return

disesuaikan (adjusted return) juga disebut sebagai return riil (real return).

Dari kedua konsep tersebut (dividend yield dan capital gain) maka

konsep return yang digunakan dalam penelitian ini adalah return realisasi atau

actual return (capital gain) yang merupakan selisih antara harga saham

periode sekarang dengan harga saham periode sebelumnya. Alasan digunakan

capital gain, karena tidak semua perusahaan membagikan deviden. Apabila

data yang digunakan adalah data bulanan maka dividend yield tidak dapat

diketahui setiap bulan, karena lazimnya dividend yield dapat diketahui setiap

setahun sekali.

Dari konsep tersebut maka perhitungan actual return Dapat dirumuskan

dengan formula sebagai berikut:

Actual Return = (Pt - Pt-1)

Pt-1

(Jogiyanto, 2003:110)

Pt = Harga saham individual (dalam hal ini indeks saham individual) pada

periode t, dan

Pt-1 = Harga (indeks) saham individual pada periode sebelumnya (t-1).

Dari kedua konsep tersebut (devidend yield dan capital gain), maka total

return merupakan penjumlahan dari devidend yield ditambah capital gain

yang dapat diformulasikan sebagai berikut:

31

Page 32: Bab I-bab III Print Revisi

Return = Capital Gain + Devidend Yield

(Jogiyanto, 2003:110)

2.2 Penelitian Terdahulu

Berbagai penelitian mengenai beberapa faktor fundamental yang

dihubungkan dengan prediksi return saham telah dilakukan terlebih dahulu,

baik di Indonesia maupun luar Indonesia. Pada umumnya penelitian tersebut

meneliti mengenai karakteristik perusahaan yang diduga memiliki hubungan

dengan return saham dalam laporan keuangan yang merupakan sumber

informasi penting bagi stakeholder dalam menilai kinerja perusahaan.

Penelitian mengenai return saham yang dilakukan masih memiliki

keterbatasan dan inkonsistensi dalam hasil penelitiannya. Penelitian terdahulu

yang digunakan sebagai referensi penulis, adalah sebagai berikut:

A. Penelitian I

Judul : PENGARUH EARNING PER SHARE (EPS) DAN PRICE

EARNING RATIO (PER) TERHADAP HARGA SAHAM

SEKTOR PERDAGANGAN BESAR DAN RITEL PADA

PERIODE 2000-2005 DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

Tahun : 2008

Penyusun : Bram Hadianto

Teknik Analisis Data : Deskripsi Statistik dan Model Regresi

Dalam penelitian ini Bram Hadianto menggunakan sampel perusahaan-

perusahaan sektor perdagangan besar dan ritel periode 2000-2005 yang

terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Sampel emiten yang digunakan adalah PT

Ramayana Santosa Lestari, Tbk. dan PT Matahari Putra Prima, Tbk.

32

Page 33: Bab I-bab III Print Revisi

Peneliti meneliti hubungan antara Harga Saham dengan variabel

Independen yang digunakan adalah Earning Per Share (EPS) dan Price

Earning Ratio (PER). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian

ini deskripsi statistic menggunakan uji asumsi klasik, model regresi,

koefisien determinasi, uji t dan uji F. Variable yang digunakan dalam

penelitian ini, meliputi variable terikat dan variable bebas. Variable bebas

dalam penelitian ini yaitu Earning Per Share (EPS) dan Price Earning

Ratio (PER) dan variabel terikat dalam penelitian ini yaitu harga saham.

Hasil penelitian menunjukan bahwa Earning Per Share (EPS) dan Price

Earning Ratio (PER) masing berpengaruh terhadap harga saham dan

secara simultan juga berpengaruh terhadap harga saham.

B. Penelitian II

Judul : PENGARUH CURRENT RATIO (CR), DEBT TO EQUITY

RATIO (DER), RETURN ON INVESTMENT (ROI),

EARNING PER SHARE (EPS) DAN DIVIDEND PAYOUT

RATIO (DPR) TERHADAP RETURN SAHAM

PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA.

Tahun : 2010

Penyusun : Artik Estuari

Teknik Analisis Data : Statistik deskriptif dan statistik inferensial

Artik Estuari meneliti perusahaan-perusahaan yang membagikan

deviden di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Dalam penelitian ini

pengaruh informasi keuangan dianalisa melalui current ratio (CR), debt to

equity ratio (DER), return on investment (ROI), Earning Per Share (EPS),

dan dividend payout ratio (DPR) secara parsial maupun simultan terhadap

Return Saham perusahaan di Bursa Efek Indonesia. Tipe penelitian yang

digunakan adalah tipe explanatory research. sampel yang digunakan

sebanyak 53 perusahaan dengan jumlah data 159. penentuan sampel

33

Page 34: Bab I-bab III Print Revisi

dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis dengan statistik

deskriptif dan statistik inferensial menggunakan uji asumsi klasik, regresi

sederhana, regresi berganda, koefisien determinasi, uji t dan uji F dengan

bantuan program SPSS. hasil analisis dengan perhitungan SPSS dapat

disimpulkan sebagai berikut: (a) Current ratio (CR) tidak berpengaruh

signifikan terhadap return saham; (b) Debt to equity ratio (DER) tidak

berpengaruh signifikan terhadap return saham; (c) Return on investment

(ROI) berpengaruh signifikan terhadap return saham; (d) Earning Per

Share (EPS) tidak berpengaruh terhadap signifikan terhadap return saham;

(e) Dividend payout ratio (DPR) berpengaruh signifikan terhadap return

saham; (f) Current ratio (CR), Debt to equity ratio (DER), Return on

investment (ROI), Earning Per Share (EPS), dan Dividend payout ratio

(DPR) berpengaruh signifikan terhadap return saham.

C. Penelitian III

Judul : DAMPAK EARNING PER SHARE (EPS) DAN PRICE

EARNING RATIO (PER) TERHADAP HARGA SAHAM

PT. MEDCO ENERGI CORPORATION tbk.

Tahun : 2010

Penyusun : Rissa Aprillia

Teknik Data : Regresi berganda

Untuk mengetahui besarnya pengaruh Earning Per Share dan Price

Earning Ratio terhadap harga saham digunakan metode penelitian Analisis

Regresi Linier Berganda, dan untuk mengetahui seberapa besar konstribusi

variabel digunakan rumus Koefisien Determinasi dan Uji Hipotesis

menggunakan program SPSS 15.0 for Windows. Sumber data penelitian ini

adalah data sekunder yaitu laporan keuangan perusahaan yang menjadi

sampel selama periode penelitian, data harga saham perusahaan pada akhir

34

Page 35: Bab I-bab III Print Revisi

tahun selama periode penelitian, Earning per Share dan Price Earning

Ratio perusahaan selama periode penelitian. Periode penelitian dilakukan

selama lima tahun (2003-2007). Populasi yang digunakan adalah data

laporan keuangan tahunan sejak tahun 1994 hingga 2007 yaitu 13 tahun.

Sampel yang diambil adalah earning per share, price earning ratio dan

harga saham dari tahun 2003-2007 atau selama 5 tahun. Alanlisis data

diawali dengan menghitung besarnya masing-masing variabel terikat dan

bebas dan dilanjutkan dengan meregresikan variabel bebas dengan variabel

terkait dengan model regresi linier berganda. Penggunaan regresi berganda

disebabkan karena memiliki dua variabel bebas yaitu Earning Per Share

dan Price Earning Ratio. Analisis korelasi untuk mengukur kekuatan

hubungan antara kedua variabel, mencari Koefisien Determinasi untuk

mengetahui seberapa besar X terhadap Y dalam bentuk presentase.

Pengujian atas hipotesis dilakukan Uji t dan Uji f. Uji t digunakan untuk

menguji apakah ada pengaruh signifikan secara parsial. Uji f digunakan

untuk menguji apakah ada pengaruh signifikan secara simultan.

Berdasarkan analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang sangat

kuat dan searah (positif) antara Earning Per Share, Price Earning Ratio

dan harga saham. Peningkatan Earning Per Share dan Price Earning Ratio

diikuti peningkatan harga saham di bursa. Kesimpulan dari analisis

statistik tersebut adalah terdapat pengaruh yang signifikan atas Earning

Per Share dan Price Earning Ratio terhadap harga saham.

D. Penelitian IV

Judul : REAKSI SIGNAL RASIO PROFITABILITAS DAN RASIO

SOLVABILITAS TERHADAP RETURN SAHAM

PERUSAHAAN PROFITABILITY AND SOLVABILITY

RATIO REACTION SIGNAL TOWARD STOCK RETURN

35

Page 36: Bab I-bab III Print Revisi

Tahun : 2011

Penyusun : Yeye Susilowati dan Tri Turyanto

Teknik Analisis Data : Regresi berganda

Penelitian ini dilakukan dalam rangka untuk menguji pengaruh faktor

fundamental (EPS, NPM, ROA, ROE dan DER) terhadap return saham

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk

periode 2006-2008. Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan

disektor manufaktur yang terdaftar (listed) di Bursa Efek Indonesia dari

tahun 2006 sampai dengan 2008. Teknik sampling yang digunakan dalam

penelitian ini adalah purposive sampling dengan kriteria sebagai (1)

terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2008. (2) selalu tampak

laporan keuangan tahunan selama periode 2006-2008. (3) selalu memiliki

keuntungan. Data yang diperlukan dalam penelitian ini diambil dari

Direktori Pasar Modal Indonesia (ICMD) 2006-2008 diakuisisi 149

perusahaan sampel. Analisis data regresi berganda dengan dengan metode

Ordinary Least Square (OLS). Hipotesis uji yang digunakan t-statistik dan

f-statistik pada tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan debt

to equity ratio (DER) berpengaruh signifikan terhada return saham dan

Earning Per Share (EPS), Net profit margin (NPM), Return on asset

(ROA) dan Return on equity (ROE) tidak berpengaruh signifikan terhadap

return saham. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah reaksi rasio

profitabilitas dan rasio solvabilitas, dan variabel terikat dalam penelitian

ini adalah return saham. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor

kinerja fundamental utang terhadap ekuitas (DER) yang digunakan oleh

investor untuk memprediksi return saham perusahaan manufaktur yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2006-2008.

36

Page 37: Bab I-bab III Print Revisi

E. Penelitian V

Judul : PENGARUH PBV, DER, EPS, DPR DAN ROA TERHADAP

HARGA SAHAM (STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN

FOOD AND BEVERAGE YANG TERDAFTAR DI BEI)

Tahun : 2009

Penyusun : Gede Priana Dwipratama

Teknik Analisis Data : Regresi berganda

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah

rasio-rasio keuangan utama perusahaan yang meliputi PBV, DER, EPS, DPR

dan ROA mempunyai hubungan yang positif terhadap harga saham. Sampel

yang digunakan adalah 14 perusahaan yang terdaftar dalam sektor makanan

dan minuman di BEI. Ada dua variabel yang diangkat yaitu : harga saham

sebagai dependent variable dan rasio keuangan perusahaan sebagai

independent variable. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini

menggunakan analisis regresi linier berganda. Teknik pengumpulan data pada

penelitian ini menggunakan data sekunder yang diambil dari laporan

keuangan perusahaan. Variabel bebas yang terdapat pada penelitian ini PBV,

DER, EPS, DPR, dan ROA, sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini

harga saham. Hasil penelitian menunjukkan hanya Earning Per Share (EPS)

yang mempengaruhi harga saham secara parsial, sedangkan rasio keuangan

yang lainnya tidak berpengaruh. Sedangkan secara simultan, semua rasio

keuangan (PBV, DER, EPS, DPR dan ROA) berpengaruh terhadap harga

saham.

F. Penelitian VI

37

Page 38: Bab I-bab III Print Revisi

Judul : PENGARUH ECONOMIC VALUE ADDE , ROE, ROA DAN EPS

TERHADAP PERUBAHAN HARGA SAHAM PERUSAHAAN

KATEGORI LQ 45 PADA BURSA EFEK JAKARTA

Tahun : 2008

Penyusun : Wahyu Handoko

Teknik Analisis Data: Regresi Linier Berganda

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Economic Value

Added, ROE, ROA, dan EPS terhadap perubahan harga saham perusahaan

kategori LQ 45 pada Bursa Efek Jakarta, serta untuk mengetahui manakah

diantara Economic Value Added, ROE, ROA, dan EPS yang berpengaruh

paling dominan terhadap perubahan harga saham kategori LQ 45 pada Bursa

Efek Jakarta Pemilihan sampel dengan menggunakan metode purposive

sampling, diperoleh sampel sebanyak 29 perusahaan dalam periode 2003

sampai dengan 2005. Analisis data dengan statistik deskriptif untuk

menggambarkan profil data, normalitas data dengan one sample kolmogorov

smirnov untuk mengatahui distribusi data, pengujian dengan menggunakan

variance inflation factor dan tolerance untuk mengetahui ada tidaknya

korelasi antar variabel independen dalam model regresi yang dipakai,

pengujian dengan nilai durbin watson untuk mendeteksi ada tidaknya

Autokorelasi, pengujian L-M untuk mendeteksi ada tidaknya

Heteroskedastisitas, nilai R square untuk melihat koefisien determinasi, uji F

digunakan untuk mengetahui apakah secara serentak variabel independen

berpengaruh terhadap variabel dependen, uji t untuk mengetahui pengaruh

variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen. Pengujian

hipotesis pertama yang ingin mengetahui apakah secara serentak variable

Economic Value Added, Return on Equity, Return on Assets, dan Earning Per

Share mempunyai pengaruh terhadap perubahan harga saham kategori LQ 45.

Hasilnya dapat disimpulkan bahwa secara serentak variabel EVA, ROE, ROA

38

Page 39: Bab I-bab III Print Revisi

dan EPS berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham pada taraf

10%. Pengujian hipotesis kedua yang ingin mengetahui secara individu

variabel bebas mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat menunjukkan

hasil bahwa hanya variabel EPS yang berpengaruh secara signifikan terhadap

perubahan harga saham sedangkan variabel EVA, ROE, ROA, dan tidak

berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham. Hasil penelitian ini

variabel Economic Value Added, Return on Equity, Return on Assets, dan

Earning per Share secara serentak berpengaruh terhadap perubahan harga

saham kategori LQ 45 pada Bursa Efek Jakarta pada taraf 10%, EPS

berpengaruh signifikan pada taraf 10% terhadap perubahan harga saham,

sedangkan variabel yang laintidak berpengaruhb secara signifikan terhadap

perubahan harga saham perusahaan kategori LQ 45. Tidak signifikannya

variabel EVA, ROE dan ROA terhadap perubahan harga saham dikarenakan

para investor ataupun broker lebih mendasarkan transaksinya pada analisis

teknikal.

G. Penelitian VII

Judul : PENGARUH EVA DAN RASIO-RASIO

PROFITABILITAS TERHADAP HARGA SAHAM

Tahun : 2006

Penyusun : Noer Sasongko dan Nila Wulandari

Teknik Analisis Data: Regresi Linier Berganda

Penelitian ini bertujuan untuk menguji kembali pengaruh EVA (Economic

Value Added) dan rasio-rasio profitabilitas yang diukur dengan ROA (Return

on Asset), ROE (Return on Equity), ROS (Return on Sales), EPS (Earning Per

Share), dan BEP (Basic Earning Power) terhadap harga saham perusahaan

manufaktur di Bursa Efek Jakarta untuk periode 2001-2002. Berdasarkan

uraian di atas, yang menjadi pokok masalah dalam penelitian ini adalah

39

Page 40: Bab I-bab III Print Revisi

Adakah pengaruh ROA (Return on Asset), ROE (Return on Equity), ROS

(Return on Sales), EPS (Earning Per Share), BEP (Basic Earning Power), dan

EVA (Economic Value Added) terhadap harga saham. Sampel penelitian ini

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) untuk

periode 2001 sampai 2002. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji adanya

pengaruh ROA (Return on Asset), ROE (Return on Equity), ROS (Return on

Sales), EPS (Earning Per Share), BEP (Basic Earning Power), dan EVA

(Economic Value Added) terhadap harga saham. Variabel penelitian ini dapat

dikelompokkan sebagai berikut: (1) Variabel terikat (Dependent variable):

harga saham, (2) Variabel bebas (Independent variable), terdiri dari alat

pengukuran kinerja berupa: Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE),

Return on Sales (ROS), Earning Per Share (EPS), Basic Earning Power

(BEP), dan Economic Value Added (EVA). Hasil pengujian hipotesis

penelitian ini hasil uji t parsial menunjukkan bahwa earning per share (EPS)

berpengaruh terhadap harga saham. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji t yang

diterima pada taraf signifikansi 5% (p<0,05). Artinya EPS dapat digunakan

untuk menentukan nilai perusahaan. Hasil uji t parsial menunjukkan bahwa

return on asset, return on equity, return on sale, basic earning power, dan

economic value added tidak berpengaruh terhadap harga saham. Hal ini

dibuktikan dengan hasil uji t yang ditolak pada taraf signifikansi 5% (p>0,05).

Artinya ROA, ROE, ROS, BEP, dan EVA tidak dapat digunakan untuk

menentukan nilai perusahaan.

H. Penelitian VIII

Judul : PERFORMANCE MEASURES TO EXPLAIN STOCK

MARKET RETURNS IN THE ATHENS STOCK EXCHANGE

(ASE)

Tahun : 2009

40

Page 41: Bab I-bab III Print Revisi

Penyusun : Dimitrios I. Maditinos et al.

Teknik Analisis Data : Descriptive statistics

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pengukuran kinerja,

Economic Value Added (EVA) dan shareholder value added (SVA),

dibandingkan dengan tiga ukuran kinerja akuntansi tradisional: earning per

share (EPS), return on investment (ROI), dan return on equity (ROE), dalam

menjelaskan return pasar saham dalam Athena Stock Exchange (ASE) periode

1992-2001. Metodologi penelitian ini menggunakan model Easton and Harris

formal valuation model dan analisis data Descriptive statistics. Hasil

penelitiannya mengungkapkan bahwa return pasar saham lebih erat terkait

dengan EPS dibandingkan dengan EVA atau ukuran kinerja lainnya. Namun,

tambahan informasi tes konten menunjukkan bahwa kombinasi berpasangan

EVA dengan EPS meningkatkan secara signifikan terhadap return pasar

saham. Periode sampel mencakup 10 tahun, dari 1992 sampai 2001. Ada 163

perusahaan dalam sampel dengan jumlah yang berbeda dari tahun-tahun

berpartisipasi untuk masing-masing. Perusahaan-perusahaan ini memberikan

total 984 tahun pengamatan. Setelah tidak termasuk pengamatan ekstrim (3

standar deviasi), sampel akhir berkurang dengan yang 977 tahun pengamatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku pasar saham di Yunani tidak

hanya memperhatikan EVA tetapi mereka juga harus mempertimbangkan

faktor-faktor penentu lain untuk mengembangkan strategi investasi mereka.

I. Penelitian IX

Judul : ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN

TERHADAP RETURN SAHAM DI BURSA EFEK

INDONESIA (Studi pada Perusahaan yang masuk kategori

indeks LQ- 45 di Bursa Efek Indonesia

Tahun : 2010

41

Page 42: Bab I-bab III Print Revisi

Penyusun : Siti Khodijah

Teknik analisis data: Regresi Linier Berganda

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kinerja keuangan

terhadap return saham pada perusahaan LQ45 yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia. Alat uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Regresi Linier Berganda (Multiple Regresion) untuk menguji pengaruh

independen variabel terhadap dependen variabel. Uji F digunakan untuk

menguji apakah semua variabel yang digunakan dalam peneltian ini secara

simultan mempunyai pengaruh yang signifikan, sedangkan uji t digunakan

untuk menguji apakah secara parsial variabel-variabel yang digunakan

mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham perusahaan.

Dalam penelitian ini digunakan tiga variabel sebagai indikator kinerja

keuangan, ketiga rasio tersebut adalah PER, ROE, EPS. Hasil penelitian

ini menunjukkan bahwa variabel EPS secara simultan mempunyai

pengaruh yang signifikan terhadap return saham, secara parsial

menunjukkan bahwa hanya variabel EPS yang mempunyai pengaruh

signifikan ( dengan tingkat derajat signifikan 5 % ) terhadap return saham,

sedangkan variabel PER, ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap

return saham.

J. Penelitian X

Judul : PENGARUH EARNING PER SHARE (EPS) PRICE EARNING

RATIO (PER), DAN DEBT TO EQUITY RATIO (DER)

TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN

PROPERTI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK

JAKARTA

Tahun : 2005

Penyusun : Esti Puji Astutik

42

Page 43: Bab I-bab III Print Revisi

Teknik Analisis Data: Regresi Linier Berganda

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang

signifikan baik secara simultan maupun parsial antara EPS, PER, dan

DER terhadap return saham pada perusahaan properti yang terdaftar di

BEJ, untuk mengetahui seberapa besar pengaruh EPS, PER, dan DER

terhadap return saham pada perusahaan properti yang terdaftar di BEJ.

Populasi penelitian ini adalah perusahaan property dan real estate yang

terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 2004 yang berjumlah 34 perusahaan.

Pengambilan sampel yang berjumlah 19 perusahaan properti yang

terdaftar di BEJ dilakukan dengan purposive sampling. Variabel bebas

yang diteliti dalam penelitian ini, yaitu: (1) Earning Per Share, (2) Price

Earning Ratio, dan (3) Debt to Equity Ratio, sedangkan variabel terikatnya

adalah return saham. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah metode dokumentasi. Data-data dalam penelitian ini

merupakan data yang bersumber dari Laporan Keuangan Tahunan

emiten/perusahaan dalam Indonesian Capital Market Directory (ICMD)

2001 - 2004. Data yang diperoleh dianalisis dengan regresi berganda.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan variabel EPS,

PER, dan DER berpengaruh secara signifikan terhadap return saham, hal

ini dapat dilihat dari nilai Fhitung (7,130) > Ftabel (2,78) dan besarnya

nilai probabilitas adalah 0,039 lebih kecil dari 0,05. Besarnya pengaruh

EPS, PER, dan DER terhadap return saham secara simultan adalah

37,1%. Sedangkan secara parsial, variabel EPS berpengaruh secara

signifikan terhadap return saham pada perusahaan properti yang terdaftar

di BEJ, hal ini dibuktikan dengan nilai t hitung (2,271) > t tabel (2,01) dan

memiliki probabilitas value sebesar 0,009 lebih kecil dari 0,05. Besarnya

pengaruh EPS terhadap return saham adalah 32%. Variabel PER tidak

berpengaruh secara signifikan terhadap return saham, hal ini dapat dilihat

43

Page 44: Bab I-bab III Print Revisi

dari nilai thitung (-0,593) < ttabel (2,01) dan besarnya probabilitas value

adalah 0,556 lebih besar dari 0,05. Variabel DER juga tidak berpengaruh

secara signifikan terhadap return saham, hal ini dapat dilihat dari nilai

thitung (1,368) < ttabel (2,01) dan besarnya probabilitas value adalah

0,177 lebih besar dari 0,05. Berdasarkan hasil penelitian, dapat

disimpulkan bahwa secara simultan variabel EPS, PER, dan DER

berpengaruh secara signifikan terhadap return saham, dan besarnya

pengaruh adalah 37,1%. Namun secara parsial hanya variabel EPS yang

berpengaruh terhadap return saham, dan pengaruhnya sebesar 32%.

Sedangkan variabel PER dan DER tidak berpengaruh terhadap return

saham, besarnya sumbangan PER dan DER untuk memprediksi return

saham adalah 2,1% dan 2,9%. Dengan demikian hanya variabel EPS yang

dominan dan dapat digunakan untuk memprediksi return saham. Hasil

penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para investor dan pihak

lain yang membutuhkan. Para investor dalam menanamkan modalnya

dapat menggunakan variabel EPS untuk memprediksi return sahamnya.

Namun selain EPS, para investor juga perlu mempertimbangkan faktor-

faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini misalnya beta, ukuran

perusahan, maupun kondisi sosial, politik, dan ekonomi.

44

Page 45: Bab I-bab III Print Revisi

45

Page 46: Bab I-bab III Print Revisi

Tabel 2.1

Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian Sebelumnya

No. Penelitian Persamaan Perbedaan

1. Bram

Hadianto

a. Menganalisis

pengaruh

Earning

Per Share

(EPS)

terhadap

Saham

b. Menganalisis

pengaruh

Price

Earning

Ratio

(PER)

terhadap

saham

a. Analisis laporan

keuangan 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya 2000-

2005.

b. Studi kasus pada

perusahaan yang ada

dalam indeks kompas

100 periode 2008-

2011, sedangkan

penelitian sebelumnya

meneliti perusahaan

yang bergerak

disektor perdagangan

besar dan ritel di

Bursa Efek Indonesia

(BEI) periode 2000-

2005.

c. Variabel terikat pada

penelitian ini

menggunakan return

saham sedangkan

penelitian sebelumnya

menggunakan harga

46

Page 47: Bab I-bab III Print Revisi

saham

2. Artik Estuari Pengaruh Earning

Per Share (EPS)

terhadap return

saham

a. Penelitian ini juga

menggunakan Price

Earning Ratio

(PER) sebagai

variabel bebas

sedangkan penelitian

terdahulu

menggunakan current

ratio, debt to equity

ratio, return on

investmen, dividend

payout ratio.

b. Analisis laporan

keuangan 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya 2006-

2008.

c. Studi kasus pada

perusahaan yang ada

dalam kompas 100

periode 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya meneliti

perusahaan yang

membagikan deviden

di Bursa Efek

Indonesia (BEI)

47

Page 48: Bab I-bab III Print Revisi

periode 2006-2008.

3. Rissa Aprillia Pengaruh Earning

Per Share (EPS) dan

Price Earning Ratio

(PER) terhadap

saham

a. Penelitian ini

menggunakan return

saham sebagai

variabel terikat

sedangkan penelitian

terdahulu terhadap

harga saham

b. Analisis laporan

keuangan 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya 2001

2007.

c. Studi kasus pada

perusahaan yang ada

dalam kompas 100

periode 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya meneliti

harga saham pada

medco periode 2001-

2007.

48

Page 49: Bab I-bab III Print Revisi

4. Yeye

Susilowati dan

Tri Turyanto

Pengaruh Earning

Per Share (EPS)

terhadap return

saham

c. Penelitian ini tidak

menggunakan Price

Earning Ratio (PER)

variabel bebas.

d. Analisis laporan

keuangan 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya 2006-2008.

e.Studi kasus pada

perusahaan yang ada

dalam indeks kompas

100 periode 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya meneliti

perusahaan Manufaktur

yang terdaftar Bursa

Efek Indonesia (BEI)

periode 2006-2008.

5. Gede Priana

Dwipratama

Pengaruh Earning

Per Share (EPS)

terhadap saham

a. Analisis laporan

keuangan 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya 2001-2004.

b. Studi kasus pada

perusahaan yang ada

dalam kompas 100

periode 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya meneliti

49

Page 50: Bab I-bab III Print Revisi

perusahaan Food and

Beverages yang

terdaftar Bursa Efek

Indonesia (BEI) 2001-

2004.

6. Wahyu

Handoko

Pengaruh EPS

terhadap saham

a. Analisis laporan

keuangan 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya 2001-

2005.

b. Studi kasus pada

perusahaan yang ada

dalam indeks kompas

100 periode 2008-

2011, sedangkan

penelitian sebelumnya

meneliti perusahaan

yang terdaftar di LQ45

periode 2003-2005

c. Penelitian ini

mengunakan return

saham sebagai variabel

terikat sedangkan

penelitian terdahulu

menggunakan harga

saham sebagai variabel

terikat.

7. Noer Pengaruh Earning a. Analisis laporan

50

Page 51: Bab I-bab III Print Revisi

Sasongko dan

Nila

Wulandari

Per Share (EPS)

terhadap saham

keuangan 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya 2003-2008.

b. Studi kasus pada

perusahaan yang ada

dalam kompas 100

periode 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya meneliti

perusahaan manufaktur

yang terdaftar Bursa

Efek Jakarta (BEI)

periode 2001-2002.

8. Dimitrios I.

Maditinos et

al.

Pengaruh Earning

Per Share (EPS)

terhadap return

saham

a. Penelitian ini

menggunakan

Price Earning Ratio

sebagai variabel bebas

sedangkan penelitian

terdahulu tidak.

b. Analisis laporan

keuangan 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya 1992-2001.

c. Studi kasus pada

perusahaan yang ada

dalam indeks kompas

100 periode 2008-2011,

sedangkan penelitian

51

Page 52: Bab I-bab III Print Revisi

sebelumnya meneliti

perusahaan yang

terdaftar di Athena

Stock Exchange (ASE)

periode 1992-2001.

9. Siti Khodijah Pengaruh EPS dan

PER terhadap return

saham

a. Analisis laporan

keuangan 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya 2005-2007.

b. Studi kasus pada

perusahaan yang ada

dalam indeks kompas

100 periode 2008-

2011, sedangkan

penelitian sebelumnya

meneliti perusahaan

yang terdaftar di LQ45

periode 2005-2007.

10. Esti Puji

Astutik

Pengaruh Earning

Per Share dan Price

Earning Ratio

terhadap return

saham

a. Analisis laporan

keuangan 2008-2011,

sedangkan penelitian

sebelumnya hanya pada

tahun 2004.

b. Studi kasus pada

perusahaan yang ada

dalam indeks kompas

100 periode 2008-

2011, sedangkan

52

Page 53: Bab I-bab III Print Revisi

penelitian sebelumnya

meneliti perusahaan

yang terdaftar di

Bursa Efek Jakarta

(BEJ) tahun 2004

2.3 Kerangka Pemikiran

Earnings per share (EPS) merupakan perbandingan antara pendapatan

yang dihasilkan (laba bersih) dan jumlah saham yang beredar. Earning per

share (EPS) menggambarkan profitabilitas perusahaan yang tergambar pada

setiap lembar saham (Darmadji dan Fakhruddin, 2011:154). Menurut

Mamduh Hanafi (Susilowati dan Turyanto, 2011:24) EPS merupakan salah

satu rasio keuangan yang sering digunakan oleh investor untuk menganalisa

kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan saham yang dimiliki.

EPS merupakan komponen penting yang harus diperhatikan dalam analisa

perusahaan, karena informasi EPS suatu perusahaan menunjukkan besarnya

laba bersih perusahaan yang siap dibagikan kepada semua pemegang saham

dengan kata lain menggambarkan prospek earning perusahaan di masa

mendatang. Besarnya EPS dapat diketahui dari informasi laporan keuangan

perusahaan (Susilowati dan Turyanto, 2011:24). EPS ini akan sangat

membantu investor karena informasi EPS ini bisa menggambarkan prospek

earning suatu perusahaan dimasa yang akan datang karena EPS menunjukkan

laba bersih perusahaan yang siap dibagikan kepada semua pemegang saham

perusahaan, maka semakin besar EPS akan menarik investor untuk melakukan

investasi diperusahaan tersebut. Oleh karena itu, hal tersebut akan

mengakibatkan permintaan akan saham meningkat dan harga saham akan

meningkat, dengan demikian EPS berpengaruh positif terhadap return saham.

Hadianto (2008) dan Priana Dwipratama (2009) juga mendukung teori

53

Page 54: Bab I-bab III Print Revisi

tersebut bahwa Earning Per Share (EPS) mempunyai pengaruh positif dan

signifikan terhadap return saham.

Pengertian Price Earning Ratio (PER) menurut Sulistyastuti (2005)

“Price Earning Ratio (PER) merupakan ukuran kinerja saham yang

didasarkan atas perbandingan antara harga pasar saham terhadap pendapatan

perlembar saham (Earning Per Share, EPS)”. Pertumbuhan laba dan deviden

serta expected rate of return dari suatu saham berubah-ubah nilainya, maka

PER diharapkan juga akan berubah sepanjang waktu berjalan dan pada

akhirnya menuju suatu tingkat nilai PER rata-rata dari saham-saham yang

mempunyai tingkat resiko yang sama. PER adalah mengukur jumlah uang

yang akan dibayar oleh investor untuk setiap rupiah pendapatan perusahaan.

Semakin tinggi PER maka semakin besar kepercayaan investor terhadap masa

depan perusahaan. Oleh karena itu PER berpengaruh secara signifikan

terhadap return saham. Wardani (2010) dan Hadianto (2008) juga mendukung

teori tersebut bahwa Price Earning Ratio (PER) mempunyai pengaruh positif

dan signifikan terhadap return saham.

54

Page 55: Bab I-bab III Print Revisi

Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran

: Pengaruh secara simultan

: Pengaruh secara parsial

2.4 Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Earning Per Share (EPS) mempunyai pengaruh positif dan signifikan

terhadap Return Saham.

2. Price Earning Ratio (PER) mempunyai pengaruh positif dan

signifikan terhadap Return Saham.

55

Earning Per Share (EPS)

Price Earning Ratio (PER)

Return Saham

Page 56: Bab I-bab III Print Revisi

2.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang terdaftar di dalam indeks

kompas 100 periode 2008-2011. Penelitian ini menggunakan return saham

sebagai variabel dependen dan Earning Per Share (EPS) dan Price Earning

Ratio (PER) sebagai variabel independen. Data penelitian ini diambil dari

website resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu www.idx.co.id dan Indonesia

Capital Market Directory (ICMD) tahun 2008-2011 yaitu laporan keuangan

tahunan emiten atau perusahaan, untuk saham-saham pada perusahaan yang

masuk daftar indeks kompas 100. Lokasi penelitian yang dipilih adalah

Bursa Efek Indonesia. Periode objek penelitian adalah 1 Januari 2008 sampai

dengan 31 Desember 2011.

56

Page 57: Bab I-bab III Print Revisi

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

deskriptif verifikatif bersifat kausalitas tujuannya untuk memberi gambaran

dari variabel-variabel yang diteliti dan untuk mengetahui hubungan kausal

antar variabel-variabel melalui pengujian hipotesis. Nasir (2005:54)

mengemukakan bahwa penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam

meneliti status, sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem

pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuannya

adalah membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual

dan akurat, mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena

yang diselidiki, Sedangkan verifikatif menguji kebenaran suatu hipotesis yang

dlakukan melalui pengumpulan data dilapangan. Sekaran (2009:164)

menyatakan bahwa desain kausal merupakan studi dimana peneliti ingin

menemukan penyebab dari satu atau lebih masalah. Dengan kata lain bahwa

desain kausal berarti studi yang menentukan hubungan sebab-akibat definitif.

Tujuan kausalitas ini adalah agar mampu menyatakan bahwa variabel X

menyebabkan variabel Y. Sehingga masalah variabel Y akan terpecahkan

ketika variabel X diketahui sebagai penyebabnya. Seperti pada penelitian ini

menyelidiki pengaruh variabel independen (Earning Per Share, dan Price

Earning Ratio ) terhadap variabel dependen (return saham) pada perusahaan

listing di indeks kompas 100 periode 2008-2011.

3.2 Variabel Operasional

Variabel adalah apa pun yang dapat membedakan atau membawa variasi

pada nilai. Nilai bisa berbeda pada berbagai waktu untuk objek atau orang

57

Page 58: Bab I-bab III Print Revisi

yang sama, atau pada waktu yang sama untuk objek atau orang yang berbeda

(Sekaran, 2009:115). Secara teoritis, variabel dapat didefinisikan sebagai

atribut seseorang, atau objek, yang mempunyai variasi antara satu orang

dengan yang lain atau satu objek dengan objek yang lain (Hatch dan Farhady,

1981 dalam Sugiyono 2012:38).

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang,

objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,

2012:38).

3.2.1 Variabel Independen

Variabel independen (X) atau variabel bebas adalah variabel yang

mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya

variabel dependen (Sugiyono, 2012:39). Variabel independen memiliki

hubungan dengan variabel lain baik hubungan positif maupun hubungan

negatif. Variabel Independen dalam penelitian ini adalah Earning Per

Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER).

3.2.2 Variabel Dependen

Variabel dependen atau variabel terikat adalah variabel yang dijelaskan

atau dipengaruhi oleh variabel lain (yaitu variabel independen). Variabel

dependen juga diartikan sebagai variabel yang dipengaruhi atau menjadi

akibat karena adanya variabel independen (Sugiyono, 2012:39). Variabel

terikat dalam penelitian ini adalah return saham.

Definisi operasional dari variabel yang digunakan dalam penelitian ini

tersaji dalam tabel berikut:

58

Page 59: Bab I-bab III Print Revisi

Tabel 3.1

Definisi Operasional Variabel

Variabel Konsep Variabel Indikator Skal

a

Earnings

per Share

(EPS)

Perbandingan antara

pendapatan yang

dihasilkan (laba

bersih) dan jumlah

saham yang beredar.

Earnings per share

(EPS)

menggambarkan

profitabilitas

perusahaan yang

tergambar pada

setiap lembar saham

(Tjiptono dan

Hendy, 2011:154).

EPS=

Laba Bersih

Jumlah Saham yang Beredar

Rasio

Price

Earning

Ratio

(PER)

Perbandingan antara

harga pasar

perlembar saham

dengan Earning Per

Share (EPS) atau

laba perlembar

saham (Fahmi dan

Hadi, 2009:77).

PER =

harga pasar perlembar saham

laba perlembar saham

Rasio

(bersambung)

59

Page 60: Bab I-bab III Print Revisi

Tabel 3.1 (sambungan)

Return

Saham

Hasil yang diperoleh dari

suatu investasi. Return

dapat berupa return

realisasi yang sudah terjadi

atau return ekspektasi yang

belum terjadi tetapi

diharapkan akan terjadi di

masa yang akan datang

(Jogiyanto, 2003:110).

Rt = Pt - Pt-1

Pt - 1

Rasio

3.3 Tahapan Penelitian

Penelitian merupakan suatu penyelidikan sistematis dan terorganisasi

untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban. Setiap

kegiatan penelitian selalu mengikuti suatu proses yang bertahap. Menurut

Sugiyono (2012:31) langkah sistematis dalam penelitian (khususnya

penelitian kuantitatif) dimulai dari tahap identifikasi masalah. Masalah

merupakan penyimpangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi.

Masalah ini selajutnya ingin dipecahkan oleh peneliti melalui penelitian.

Selanjutnya masalah tersebut dirumuskan untuk membatasi pembahasan

sekaligus membantu peneliti agar pembahasan dapat disampaikan secara

fokus.

Tahap kedua, berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka peneliti

mengkaji teori yang sesuai dengan lingkup permasalahan untuk menjawabnya.

Berdasarkan teori, peneliti dapat membangun kerangka pemikiran sehingga

dapat digunakan untuk menjawab permasalahan yang diajukan. Jawaban dari

60

Page 61: Bab I-bab III Print Revisi

permasalahan yang berdasarkan teori dinamakan hipotesis. Hipotesis

penelitian merupakan jawaban sementara (hanya berdasarkan teori) terhadap

rumusan masalah penelitian.

Tahap ketiga, peneliti melakukan pengujian hipotesis. Untuk

membuktikan kebenaran jawaban yang masih sementara (hipotesis) maka

peneliti melakukan pengumpulan data pada objek tertentu. Karena objek dari

populasi terlalu luas, peneliti menggunakan sampel yang diambil dari populasi

itu. Sampel yang diambil dari populasi haruslah sampel yang mewakili

(representative) populasi tersebut.

Tahap keempat dari proses penelitian ialah melakukan analisis data.

Analisis data dilakukan terutama untuk menjawab rumusan masalah dan

menguji hipotesis yang diajukan. Terdapat dua macam hipotesis, yaitu

hipotesis penelitian dan hipotesis statistik. Hipotesis penelitian merupakan

jawaban sementara terhadap rumusan masalah, sedangkan hipotesis statistik

adalah dugaan keadaan populasi dengan menggunakan data sampel.

Tahap kelima setetah analisis data dilakukan peneliti dapat mengambil

keputusan hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak, maka kegiatan

penelitian selanjutnya adalah pembahasan. Pembahasan merupakan proses

mengidentifikasi terhadap hasil penelitian maupun analisis dengan

menggunakan berbagai referensi, sehingga hasil penelitian maupun analisis

akan lebih dapat meyakinkan pihak-pihak lain.

Langkah akhir dari kegiatan penelitian adalah membuat kesimpulan dan

memberikan saran. Kesimpulan merupakan jawaban terhadap rumusan

masalah penelitian dengan menggunakan data yang diperoleh (bukan hanya

teori). Berdasarkan kesimpulan tersebut, peneliti dapat memberikan saran bagi

penelitian penelitian selanjutnya maupun saran bagi pihak-pihak terkait dalam

penelitian.

Langkah-langkah sistematis dalam penelitian (khususnya penelitian

61

Page 62: Bab I-bab III Print Revisi

kuantitatif) terlihat dari proses penelitian seperti yang ditunjukkan pada

Gambar 3.1.

Gambar 3.1

Proses Penelitian

Sumber : Sugiyono (2012:30)

3.4 Populasi dan Sampel

Menurut Sugiyono, (2012:80) populasi adalah wilayah generalisasi yang

terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik

tertentu yang ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik

kesimpulannya. Sedangkan menurut Nazir (Riduwan, 2010:54), populasi

berkenaan dengan data, bukan orang atau bendanya. Nawawi (Riduwan,

2010:54) menyebutkan bahwa populasi adalah totalitas semua nilai yang

mungkin, baik hasil menghitung ataupun pengukuran kuantitatif maupun

kualitatif pada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang

lengkap. Sedangkan Riduwan (2010:55) mengatakan bahwa populasi

62

Page 63: Bab I-bab III Print Revisi

merupakan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi

syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian.

Arikunto (Riduwan, 2010:56) mengatakan bahwa sampel adalah bagian

dari populasi (sebagian atau wakil sampel yang diteliti). Sugiyono (Riduwan,

2010:56) memberikan pengertian bahwa sampel adalah sebagian dari jumlah

dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi.

Sampel dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: probability sampling dan

nonprobability sampling. Penelitian ini menggunakan nonprobability

sampling, yaitu sampel yang dipilih sedemikian rupa dari populasi sehingga

setiap anggota tidak memiliki probabilitas atau peluang yang sama untuk

dijadikan sampel (Sugiyono, 2012:84).

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang listing

di indeks kompas 100 periode 2008-2011 yaitu berjumlah 100 perusahaan dan

teknik penentuan sampel pada penelitian ini adalah dengan menggunakan

purposive sampling yaitu teknik sampling yang dilakukan oleh peneliti jika

peneliti mempunyai pertimbangan-pertimbangan atau kriteria tertentu didalam

pengambilan sampelnya (Sugiyono, 2012:85). Adapun kriteria sampel yang

digunakan yaitu :

1) Saham-saham perusahaan yang masuk dalam indeks kompas 100

dalam periode penelitian (2008–2011).

2) Perusahaan yang listing di kompas 100 periode 2008-2011 yang

menyajikan laporan keuangan dan rasio secara lengkap sesuai dengan

variabel yang akan diteliti berdasarkan sumber yang digunakan.

Saham-saham perusahaan yang listing di kompas 100 periode 2008-2011

berjumlah 100 emiten, dikurangi perusahaan di kompas 100 periode 2008-

2011 yang tidak menyajikan laporan keuangan dan rasio secara lengkap sesuai

dengan variabel yang akan diteliti sebanyak 79 perusahaan. Sehingga

diperoleh sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut :

63

Page 64: Bab I-bab III Print Revisi

Tabel 3.2

Data Sampel Penelitian

No. Kode Nama Emiten

1 AALI Astra Agro Lestari Tbk

2 AKRA AKR Corporindo Tbk

3 ANTM Aneka Tambang (Persero) Tbk

4 ASII Astra International Tbk

5 CPIN Charoen Pokphand Indonesia Tbk

6 ELTY Bakrieland Development Tbk

7 ENRG Energi Mega Persada Tbk

8 INCO International Nickel IndonesiaTbk

9 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk

10 INTP Indocement Tunggal Prakarsa Tbk

11 KLBF Kalbe Farma Tbk

12 LPKR Lippo Karawaci Tbk

13 LSIP PP London Sumatra Indonesia Tbk

14 PGAS Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk

15 PTBA Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk

16 SMCB Holcim Indonesia Tbk

17 SMGR Semen Gresik (Persero) Tbk

18 TINS Timah (Persero) Tbk

19 TLKM Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk

20 UNTR United TractorsTbk

21 UNVR Unilever Indonesia Tbk

64

Page 65: Bab I-bab III Print Revisi

3.5 Pengumpulan Data

3.5.1 Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif

yang merupakan data sekunder. Menurut Sugiyono (2012:137) data

sekunder adalah sumber data yang diperoleh dengan cara membaca,

mempelajari dan memahami melalui media lain yang bersumber dari

literatur, buku-buku, serta dokumen perusahaan

3.5.2 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan (library

research). Menurut Nazir (2005:93), library research merupakan teknik

pengumpulan data dengan cara mempelajari, mengkaji dan memahami

sumber-sumber data yang ada pada beberapa buku yang terkait dalam

penelitian. Jadi data penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan

informasi mengenai teori-teori dan pendapat-pendapat mengenai

permasalahan yang diteliti dari buku-buku referensi, jurnal-jurnal

ekonomi, majalah dan website internet.

3.5.3 Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data sekunder

(secondary sources) yang diperoleh dari sumber-sumber berikut:

1. Website Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu www.idx.co.id dan

Indonesian Capital Market Directory (ICMD) tahun 2008-2011

untuk saham-saham pada perusahaan dalam yang masuk daftar

indeks kompas 100.

2. Literatur, seperti buku, majalah, artikel dan jurnal.

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini terdiri dari :

65

Page 66: Bab I-bab III Print Revisi

a) Data perusahaan emiten yang tergabung dalam indeks kompas 100

b) Data harga dan return saham dalam indeks kompas 100 periode

tahun 2008–2011.

c) Data rasio-rasio keuangan dari perusahaan emiten dalam indeks

kompas 100 tahun 2008–2011.

3.6 Teknik Analisis Data

3.6.1 Analisis Regresi Berganda

Pada penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik

analisis regresi berganda untuk mengolah dan membahas data dalam

menguji hipotesis yang diajukan. Menurut Sugiyono (2012:277) analisis

regresi berganda adalah analisis yang digunakan peneliti, bila bermaksud

meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variabel dependen

(kriterium), bila dua atau lebih variabel independen sebagai faktor

prediktor dimanipulasi (dinaik turunkan nilainya). Sedangkan menurut

riduwan (2010:152) analisis regresi ganda adalah suatu alat peramalan

nilai pengaruh dua variabel independen (bebas) atau lebih terhadap

variabel dependen (terikat) untuk membuktikan ada atau tidaknya

hubungan fungsi atau hubungan kausal antara dua variabel independen

(bebas) atau lebih dengan satu variabel dependen (terikat). Dalam hal ini

untuk variabel dependennya adalah return saham dan variabel

independennya adalah Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio

(PER). Untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan dari

variabel independen terhadap variabel dependen maka digunakan model

regresi berganda (multiple regression method), yang dirumuskan sebagai

berikut :

66

Page 67: Bab I-bab III Print Revisi

Keterangan :

Y = Return Saham

β0 = Konstanta

β1, β2 = Koefisien Regresi

X1 = Earning Per Share (EPS)

X2 = Price Earning Ratio (PER)

ε = Epsilon (faktor pengganggu)

3.6.2 Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran atau

deskripsi data penelitian. Statistik deskriptif yang digunakan antara lain

minimum, maksimum, rata-rata (mean) dan standar deviasi. Data variabel

penelitian meliputi variabel dependen yaitu return saham dan variabel

independen meliputi Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio

(PER).

3.6.3 Uji Normalitas

Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,

variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti

diketahui bahwa uji t dan uji F mengasumsikan bahwa nilai residual

mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik

menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Ada dua cara untuk

mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan

analisis grafik dan uji statistik (Ghozali, 2011:160). Uji normalitas yang

67

Y = β0 + β1X1 + β2 X2 + ε

Page 68: Bab I-bab III Print Revisi

digunakan dalam penelitian ini adalah uji grafik dan uji Kolmogrof-

Smirnov (K-S).

68

Page 69: Bab I-bab III Print Revisi

1) Analisis Grafik

Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual adalah

dengan melihat grafik histogram yang membandingkan antara data

observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal (Ghozali,

2011:160). Selain itu dapat juga dengan melihat normal probability

plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal.

Pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat

penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan

melihat histogram dari residualnya. Menurut Ghozali (2011:163) dasar

pengambilan keputusannya adalah :

a. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah

garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola

distribusi normal maka model regresi memenuhi asumsi

normalitas.

b. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan/atau tidak mengikuti

arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan

pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi

asumsi normalitas.

2) Analisis Statistik Kolmogorof-Smirnov (K-S)

Uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan kalau tidak hati-

hati secara visual kelihatan normal, padahal secara statistik bisa

sebaliknya. oleh sebab itu di samping uji grafik dianjurkan untuk

menggunakan uji statistik (Ghozali, 2011:163). Pada penelitian ini uji

statistik yang digunakan adalah Kolmogorof-Sminov (K-S). Uji

statistik Kolmogorof-Smirnov untuk menguji normalitas residual

dilakukan dengan cara menguji distribusi dari data residualnya, yaitu

dengan menganalisis nilai Kolmogorof-Smirnov dan signifikansinya.

Jika nilai Kolmogorof-Smirnov (K-S) signifikan atau nilai signifikansi

69

Page 70: Bab I-bab III Print Revisi

dari nilai Kolmogorof-Smirnov dibawah 0,05 (ά = 5%) berarti data

residual terdistribusi tidak normal (Imam Ghozali, 2011:32).

Uji K-S dilakukan dengan membuat hipotesis :

H0 : Data residual berdistribusi normal

HA : Data residual tidak berdistribusi normal

Jika nilai K-S signifikan atau signifikansi dari nilai K-S di bawah

0,05 (ά =5 %) maka H0 ditolak artinya data residual terdistribusi tidak

normal dan sebaliknya jika nilai K-S tidak signifikan atau nilai

signifikansi dari nilai K-S di atas 0,05 (ά = 5 %), maka H0 diterima

artinya data residual terdistribusi normal.

3.6.4 Uji Asumsi Klasik

Suatu model regresi menghasilkan estimator yang tidak bias, linier dan

terbaik (best linear unbiased estimator = BLUE) jika dipenuhi beberapa

asumsi yang disebut dengan asumsi klasik, sebagai berikut (Gujarati,

2003:929) :

1. Tidak terdapat multikolinearitas, yaitu tidak adanya hubungan linear

antar variabel independen.

2. Tidak terdapat heteroskedastisitas, yaitu residual memiliki varians

yang tidak konstan pada setiap variabel.

3. Tidak terjadi autokorelasi antar eror, yaitu residual suatu observasi

tidak saling berhubungan dengan residual obeservasi lainnya.

A. Uji Multikolonieritas

Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

70

Page 71: Bab I-bab III Print Revisi

regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas (variabel

independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi

diantara variabel independen (Ghozali, 2011:105). Menurut Ghozali

(2011:105) Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinieritas

didalam model regresi dilakukan dengan cara :

1) Menganalisis Matrik Korelasi Antar Variabel Independen.

Matrik korelasi antar variabel independen menunjukkan adanya

korelasi antar variabel independen, jika antar variabel independen ada

korelasi yang cukup tinggi (umumnya di atas 0,90), maka hal ini

merupakan indikasi adanya multikolinieritas.

2) Menganalisis Nilai Tolerance dan Variance Inflasion Factor (VIF).

Nilai Tolerance dan Variance Inflasion Factor (VIF) menunjukkan

setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel

independen lainnya.

Nilai VIF dihitung dengan rumus :

1

VIF =

Tolerance

Nilai Tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF yang tinggi,

nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya

multikolonieritas adalah nilai Tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai

VIF ≥ 10 sehingga jika nilai Tolerance ≥ 0,10 atau VIF ≤ 10 maka

dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas.

B. Uji Autokorelasi

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data rutut

waktu (time series), sehingga menggunakan pengujian autokorelasi.

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

71

Page 72: Bab I-bab III Print Revisi

linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan

kesalahan penganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi

korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi (Ghozali,

2011:110).

Salah satu cara untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi pada

model regresi adalah dengan melakukan Uji Durbin Watson (Dw test).

Uji Durbin Watson (Dw test) hanya digunakan untuk autokorelasi

tingkat satu (first order autocorrelation) dan mensyaratkan adanya

intercept (konstanta) dalam model regresi dan tidak ada variabel lag di

antara variabel independen. Hipotesis yang akan diuji adalah (Ghozali,

2011:111) :

H0 : tidak ada autokorelasi ( r = 0 )

HA : ada autokorelasi ( r ≠ 0 )

Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi (Imam Ghozali,

2011,111) :

Tabel 3.3

Pengambilan Keputusan Autokorelasi

Hipotesis nol Keputusan Jika

Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0 < d < dL

Tidak ada autokorelasi positif No decision dL ≤ d ≤ dU

Tidak ada autokorelasi negatif Tolak 4 – dL < d < 4

Tidak ada autokorelasi negatif No decision 4 – dU ≤ d ≤ 4 - dL

Tidak ada autokorelasi positif

dan negatif

Tidak ditolak dU < d < 4 – dU

C. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan

72

Page 73: Bab I-bab III Print Revisi

ke pengamatan yang lain. Jika variance dan residual satu pengamatan

ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedasitisitas dan jika

berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah

yang Homoskesdatisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas

(Ghozali, 2011:139). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya

heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan cara :

1) Uji grafik

Uji grafik dilakukan dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi

variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID.

Adapun dasar analisis dengan melihat grafik plot adalah sebagai

berikut (Imam Ghozali, 2011:139) :

a) Jika terdapat pola tertentu, seperti titik-titik yang ada

membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar

kemudian menyempit) maka menindikasikan telah terjadi

heterokedastisitas.

b) Jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar di atas

dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi

heterokedastisitas.

3.6.5 Pengujian Hipotesis

Menurut Uma Sekaran (2009:135) hipotesis bisa didefinisikan sebagai

hubungan yang diperkirakan secara logis diantara dua tau lebih variabel

yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji. Pada

penelitian ini penulis menggunakan analisis regresi untuk mengevaluasi

hubungan antara suatu variabel dependen dengan beberapa variabel

independen. Menurut Gujarati (Imam Ghozali, 2011:95) analisis regresi

pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variabel dependen

(terikat) dengan satu atau lebih variabel independen (bebas), dengan

73

Page 74: Bab I-bab III Print Revisi

tujuan untuk mengestimasi dan memprediksi rata-rata populasi atau nilai

rata-rata variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen yang

diketahui.

Tabachnick (Ghozali, 2011:95) menyatakan bahwa hasil dari analisis

regresi berupa koefisien untuk masing-masing variabel independen yang

diperoleh dengan memprediksi nilai variabel dependen dengan suatu

persamaan. Koefisien regresi dihitung dengan tujuan meminimumkan

penyimpangan antara nilai aktual dan nilai estimasi variabel dependen

berdasarkan data yang ada.

Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat

diukur dari Goodness of Fitnya. Secara statistik, hal tersebut dapat diukur

dengan nilai koefisien determinasi, statistik F dan nilai statistik t.

Perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji

statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah dimana Ho ditolak).

Sebaliknya disebut tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada dalam

daerah dimana Ho diterima (Ghozali, 2011:97).

1) Analisis Koefisien Determinasi

Menurut Ghozali (2011:97). Koefisien determinasi (R2) adalah

mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan

variasi dari variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah

antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil menunjukkan kemampuan

variabel-variabel independen (EPS, (PER) dalam menjelaskan variabel

dependen (return saham) amat terbatas. Nilai R2 yang mendekati satu

menunjukkan variabel-variabel independen (EPS, (PER) memberikan

hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel

dependen (return saham).

2) Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)

74

Page 75: Bab I-bab III Print Revisi

Uji statistik F (F-test) atau uji simultan digunakan untuk

mengetahui apakah variabel–variabel independen yang dimasukkan

dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama atau simultan

terhadap variabel dependen. Penerapan F-test ini didasarkan pada

hipotesis nol (H0) yang hendak diuji dan hipotesis alternatifnya (HA)

(Ghozali, 2011:98).

H0 yang akan diuji menyatakan semua parameter dalam model

sama dengan nol, atau :

H0 : b1 = b2 = ……. = bk = 0

Artinya semua variabel independen secara simultan bukan

merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen.

HA menyatakan semua parameter dalam model secara simultan

tidak sama dengan nol, atau :

HA : b1 ≠ b2 ≠……. ≠ bk ≠ 0

Artinya semua variabel independen secara simultan merupakan

penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen.

Untuk menguji hipotesis ini digunakan statistik F, uji ini dilakukan

dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel. Kriteria pengambilan

keputusan sebagai berikut :

Jika nilai Fhitung lebih besar dari nilai Ftabel atau signifikansi Fhitung

lebih kecil dari alpha 5% maka H0 ditolak dan Ha diterima. Dapat

disimpulkan bahwa variabel independen dalam model secara bersama-

sama mempengaruhi variabel dependen. Demikian pula sebaliknya

apabila Fhitung lebih kecil dari Ftabel maka H0 diterima dan Ha ditolak.

Artinya bahwa variabel independen dalam model secara bersama-sama

tidak mempengaruhi variabel dependen.

3) Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t / t-test)

Uji t-test atau disebut uji parsial digunakan untuk mengetahui

75

Page 76: Bab I-bab III Print Revisi

pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel

dependen. Uji t-test ini menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu

variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi

variabel dependen. Penerapan Uji t-test ini didasarkan pada hipotesis

nol (H0) yang akan diuji dan hipotesis alternatifnya (HA) (Ghozali,

2011:98-99).

H0 yang akan diuji menyatakan suatu parameter (bi) dalam model

sama dengan nol, atau :

H0 : bi = 0

Artinya suatu variabel independen bukan merupakan penjelas yang

signifikan terhadap variabel dependen.

HA menyatakan parameter suatu variabel dalam model tidak sama

dengan nol, atau :

HA : b1 ≠ 0

Artinya suatu variabel independen tersebut merupakan penjelas

yang signifikan terhadap variabel dependen.

Untuk mengetahui apakah suatu variabel independen secara parsial

berpengaruh atau tidak digunakan uji t (T-test), dengan kriteria

pengambilan keputusan sebagai berikut :

Jika thitung lebih besar dari ttabel atau signifikansi thitung lebih kecil dari

alpha 5% maka H0 ditolak dan Ha diterima. Dapat disimpulkan bahwa

variabel independen dalam model secara parsial mempengaruhi

variabel dependen. Demikian pula sebaliknya apabila thitung lebih kecil

dari ttabel maka H0 diterima dan Ha ditolak. Artinya bahwa secara parsial

variabel Independen dalam model tidak mempengaruhi variabel

dependen.

76

Page 77: Bab I-bab III Print Revisi

DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Aziz Abdullah. (2009). Pengaruh Earning Per Share (EPS) dan

Pertumbuhan Penjualan Terhadap Perubahan Harga Saham Pada

Perusahaan Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek

Jakarta (BEJ). UNES : Semarang

Ang, Robert. (1997). Buku Pintar Pasar Modal Indonesia. Jakarta : Media

Staff Indonesia.

Anoraga, Pandji & Piji Pakarti. (2001). Pengantar Pasar Modal. PT Rineka

Cipta. Jakarta.

Aprilia, Rissa .(2010). Dampak Earning Per Share (EPS) dan Price Earning

Ratio (PER) Terhadap Harga Saham PT. Medco Energi Corporation

tbk.

Darmadji, Tjiptono & Fakhruddin, Hendi. M. (2001). Pasar Modal Di

Indonesia : Pendekatan Tanya Jawab.  Edisi Pertama. Salemba

Empat, Jakarta.

Dwipratama, Gede Priana. (2009). Pengaruh PBV, DER, EPS, DPR dan ROA

Terhadap Harga Saham (Studi Empiris Pada Perusahaan Food and

Beverage yang Terdaftar di BEI)

Estuari, Artik. (2010). Pengaruh Current Ratio (CR), Debt To Equity Ratio

(DER), Return On Investment (ROI), Earning Per Share (EPS) dan

Dividend Payout Ratio (DPR) Terhadap Return Saham Perusahaan di

Bursa Efek Indonesia.

77

Page 78: Bab I-bab III Print Revisi

Fahmi, Irham & Hadi, Yovi Lavianti. (2009). Teori Portofolio dan Analisis

Investasi : Teori dan Soal Jawab. Bandung : Alfabeta

Fakhruddin, Hendy M. (2008). Istilah Pasar Modal A-Z, Elex Media

Komputindo, Jakarta.

Garrison. (1998). Akuntansi Manjemen Jilid Satu. Texas.

Gede Priana Dwipratomo. (2009). Pengaruh PBV, DER, EPS, DPR dan ROA

terhadap Harga Saham (Studi Empiris Pada Perusahaan Food and

Beverage yang Terdaftar di BEJ).

Ghozali, Imam. (2011). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan

Program SPSS. Semarang : BP Universitas Diponegoro

Hadianto, Bram. (2008). Pengaruh Earning Per Share (EPS) dan Price

Earning Ratio (PER) terhadap Harga Saham Sektor Perdagangan Besar

dan Ritel pada Periode 2000-2005 di Bursa Efek Indonesia.

Handoko, Wahyu. (2008). Pengaruh Economic Value Added, ROE, ROA dan

EPS Terhadap Perubahan Harga Saham Perusahaan Kategori LQ45

Pada Bursa Efek Jakarta.

Harianto, Farid & Sudomo, Siswan. (2001). Perangkat dan Teknik Analisis

Investasi di Pasar Modal Indonesia. Jakarta : PT Bursa Efek Jakarta.

Hartono, Jogiyanto. (2003). Teori Portofolio dan Analisis Investasi edisi

kelima. BPFE, Yogyakarta.

Kasmir. (2010). Analisis Laporan Keuangan. Rajawali Pers. Jakarta.

78

Page 79: Bab I-bab III Print Revisi

Khodijah, Siti. (2010). Analisis Kinerja keuangan perusahaan Terhadap

Returm Saham Di Bursa Efek Indonesia (Studi pada Perusahaan yang

Masuk Kategori Indeks LQ 45 do Bursa Efek Idonesia).

Maditinos, Dimitrios I. (2009). Performance Measures to Explain Stock

Market Returns in the Athens Stock Exchange (ASE)

Mamduh M. Hanafi & Abdul Halim. (2003). Analisis Laporan Keuangan.

Yogyakarta: UPP AMP YPKN.

Mohammad Nasir. (2003). Metode Penelitian, Jakarta, Ghalia Indonesia.

Mohammad Nazir. (2005). Metode Penelitian. Bogor : Ghalia Indonesia.

Peraturan Standar Akuntansi Keuangan. (2004). Penyajian Laporan

Keuangan.

Riduwan. (2010). Metode & Teknik Menyusun Tesis. Cetakan ke-7. Bandung:

Alfabeta.

Rusdin. (2008). Pasar Modal: Teori, Masalah, dan Kebijakan dalam Praktik.

Bandung: Alfabeta

Sasongko, Noer & Wulandari, Nila. (2006). Pengaruh EVA dan Rasio-Rasio

Profitabilitas Terhadap Harga Saham.

Sekaran, Uma (2006). Metodologi Penelitian untuk Bisnis. Jakarta : Salemba

Empat.

Sugiyono. (2005). Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta.

Suruji, A. (2008). Tumbuh 30%...?. [Online]. http://indeks-

kompas100.blogspot.com/2008/01/tumbuh-30.html [7 Juli 2012]

79

Page 80: Bab I-bab III Print Revisi

Susilowati, Yeye & Turyanto, Tri. (2011). Perusahaan Profitability and

Solvability Ratio Reaction Signal Toward Stock Return.

Tandelilin, Eduardus. (2010). Portofolio dan Investasi. Kanisius. Edisi

Pertama. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

Warsidi & Pramuka, Bambang Agus. (2000). Evaluasi Kegunaan Rasio

Keuangan Dalam Memprediksi Perubahan Laba Di Masa Yang Akan

Datang. Jurnal Akuntansi, Manajemen dan Ekonomi. Vol.2, No.1.

Wardani, Angrawit K. (2010). Analisis Pengaruh EPS, PER, ROE, FL, DER,

CR, ROA Pada Harga Saham dan Dampaknya Terhadap Kinerja

Perusahaan LQ45 Yang Terdaftar di BEI Periode 2005 -2009

80