18
14 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu pertama yang dilakukan oleh Andi Fardani jurusan Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2012.Dengan judul Dampak Sosial Keberadaan PT Vale Indonesia Tbk Terhadap Kehidupan Masyarakat (Studi Kasus Sorowako Kecamatan Nuha Kabupaten Luwu Timur )”. Dalam penelitiannya menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling. Hasil temuan dalam penelitiannya adalah menganggap bahwa keberadaan PT Vale menjadi salah satu penyebab mengikisnya kebudayaan masyarakat setempat. Penelitian selanjutnya adalah penelitian yang dilakukan Nurlela, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan SosialFakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) SyarifHidayatullahJakarta tahun 2017. Berjudul “dampak keberadaan tempat pengolahan sampah 3r (reduce, reuse, recycle) Vipa Mas terhadap lingkungan sosial ekonomimasyarakat di kelurahan bambu apus kecamatan pamulang Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif dengan model

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1

  • Upload
    others

  • View
    13

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

14

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA DAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu pertama yang dilakukan oleh Andi Fardani

jurusan Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2012.Dengan judul “Dampak

Sosial Keberadaan PT Vale Indonesia Tbk Terhadap Kehidupan

Masyarakat (Studi Kasus Sorowako Kecamatan Nuha Kabupaten Luwu

Timur )”. Dalam penelitiannya menggunakan metode penelitian

kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik

sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling. Hasil temuan

dalam penelitiannya adalah menganggap bahwa keberadaan PT Vale

menjadi salah satu penyebab mengikisnya kebudayaan masyarakat

setempat.

Penelitian selanjutnya adalah penelitian yang dilakukan Nurlela,

Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan SosialFakultas Ilmu Tarbiyah

Dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN)

SyarifHidayatullahJakarta tahun 2017. Berjudul “dampak keberadaan

tempat pengolahan sampah 3r (reduce, reuse, recycle) Vipa Mas

terhadap lingkungan sosial ekonomimasyarakat di kelurahan bambu

apus kecamatan pamulang Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini

merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif dengan model

15

grounded research. Instrumen penelitian yang digunakan adalah

wawancara. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi,

wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil yang ditemukan

dalam penelitian ini adalah bahwa dampak keberadaan tempat

pengolahan sampah 3R (reduce, reuse, recycle) Vipa Mas ini memiliki

dampak positif dan negatif, yaitu tertatanya lingkungan menjadi bersih

dan nyaman, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap

lingkungan, terbentuknya bank sampah pada setiap RW nya. Dampak

negatifnya adalah adanya masyarakat yang merasa terganggu mengenai

cerobong asap dari mesin pencacah sampah yang kurang tinggi.

Penelitian selanjutnya adalah “Analisis Dampak Sosial Dan

Ekonomi Dalam Pembangunan Flyover Jombor Di Kabupaten

Sleman” oleh Janu Muhammad, Aan Pambudi, dan Khomsun Subarkah

Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.Penelitian

menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data

yaitu data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dari hasil

observasi nonpartisipan, wawancara, dan dokumentasi sedangkan data

sekunder didapatkan dari data yang bersumber dari studi pustaka.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitiannya adalah

analisis data interaktif model Miles dan Huberman. Modelnya terdiri

dari tiga hal utama yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan

kesimpulan atau verifikasi.Hasil penelitiannya adanya dampak sosial

yang terjadi di antaranya terputusnya akses warga di Jombor Lor untuk

16

sisi barat dan timur karena terhalang oleh flyover sehingga interaksi

warga menjadi berkurang.

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Judul Penelitian Temuan Relefansi

1. Dampak Sosial

Keberadaan PT Vale

Indonesia Tbk

Terhadap Kehidupan

Masyarakat (Studi

Kasus Sorowako

Kecamatan Nuha

Kabupaten Luwu Timur

Skripsi

Andi Fardani

Jurusan Sosiologi

Fakultas Ilmu Sosial

dan Politik

Jurusan Sosiologi

Fakultas Ilmu Sosial

Dan Ilmu Politik

Universitas

Hasanuddin

Makassar

2012

Hasil temuan dalam

penelitiannya adalah

keberadaan PT Vale,

menjadi salah satu

penyebab

mengikisnya

kebudayaan

masyarakat setempat

Peneltian

terdahulu sama

dengan

penelitian ini

mengenai

permasalahan

dampak sosial.

Namun yang

membedakan

dalam penelitian

ini adalah

tempat

penelitian dan

juga sebab yang

ditimbulkan

adanya dampak

sosial. Yaitu

penelitian

terdahulu adalah

PT Vale, namun

dalam penelitian

yang akan

dilakukan

adalah TPST

(tempat

pengolahan

sampah

terpadu).

2. Dampak Keberadaan

Tempat Pengolahan

Sampah 3R (reduce,

reuse, dan recycle)

Vipa MasTerhadap

Lingkungan Sosial

Ekonomi Masyarakat

Di Kelurahan Bambu

ApusKecamatan

Hasil yang

ditemukandalam

penelitian ini adalah

terdapat dampak

positif dan

negatif,yaitu

tertatanya

lingkungan menjadi

bersih dan nyaman,

Persamaan

penelitian ini

dengan

penelitian yang

akan dilakukan

adalah sama

dalam

membahas

dampak adanya

17

Pamulang Kota

Tangerang Selatan

Skripsi

Nurlela

Jurusan Pendidikan

Ilmu Pengetahuan

Sosial Fakultas Ilmu

Tarbiyah Dan

Keguruan Universitas

Islam Negeri (Uin)

SyarifHidayatullah

Jakarta

2017

meningkatnya

kesadaranmasyarakat

terhadap lingkungan,

terbentuknya bank

sampah pada setiap

RW nya. Dampak

negatifnya adalah

masyarakat yang

merasa terganggu

mengenai

cerobongasap dari

mesin pencacah

sampah yang kurang

tinggi.

tempat

pengolahan

sampah. Namun

yang

membedakan

penelitian ini

lebih membahas

dampak social

ekonomi, dalam

penelitiaan yang

akan dilakukan

lebih terfokus

pada perubahan

sosial

3. Analisis Dampak

Sosial Dan Ekonomi

Dalam Pembangunan

Flyover Jombor Di

Kabupaten Sleman

Jurnal

Janu Muhammad,

Aan Pambudi, dan

Khomsun Subarkah

Fakultas Ilmu Sosial

Universitas Negeri

Yogyakarta

Hasil temuan dalam

penelitiannya adalah

dampak sosial yang

terjadi di antaranya

terputusnya akses

warga di Jombor Lor

untuk sisi barat dan

timur karena

terhalang oleh

flyover sehingga

interaksi warga

menjadi berkurang.

Persamaan

penelitian

terdahulu

dengan

penelitian ini

adalah

kesamaan dalam

membahas

dampak sosial.

Namun yang

membedakan

adalah tempat

penelitian dan

juga perbedaan

pembangunan,

dampak sosial

penelitian

terdahulu adalah

pembangunan

Flyover, namun

penelitian ini

akibat

pembangunan

TPST.

18

2.2 Kajian Pustaka

2.2.1 Dampak Sosial

Dampak sosial, menurut Homenuck (1988; 1 & 3) dalam

Sudharto P. Hadi (1997: 26-27), juga dapat dikategorikan ke dalam dua

kelompok, yakni “real impact” dan “perceived impact”. “Real Impact”

atau “Standard impact” menurut Homenuck, can be predicted with a

some certainty based on information concerning the construction and

operation of the facility. Jadi dapat dikatakan bahwa “real” atau

“standard impact” adalah dampak yang timbul sebagai akibat dari

aktivitas proyek, pada setiap tahapanproyek, yang meliputi: pra-

konstruksi, konstruksi, dan operasi, misalnya pemindahan penduduk,

bising, atau polusi udara. “Perceived impact” atau “special impact”

adalah suatu dampak yang timbul dari persepsi masyarakat terhadap

resiko dari adanya proyek. Persepsi, sikap, dan kepercayaan masyarakat

membentuk “interpretasi” tentang proyek dan dampaknya. Beberapa

contoh dari “perceived impact” di antaranya stress, rasa takut, maupun

bentuk “concerns” lainnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Arifin dalam bukunya “Ketika

Masyarakat Desa Berubah” mengkaji dampak sosial alih fungsi lahan

pertanian diwilayah Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Hasil temuan

lapang adalah (1) Pandangan kepala keuarga petani tentang latar

belakang dan sebab terjadinya perubahan alih fungsi lahan pertanian

untuk perumahan di desa Tirtomoyo, Asrikaton dan Saktorenggo

Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. (2) Peerubahan status dan peran

19

sosial dalam keluarga petani dalam masyarakat di desa Tirtomoyo,

Asrikaton dan Saptorenggo setelah terjadi alih fungsi lahan pertanian

untuk pembangunan perumahan (3) Perubahan orientasi nilan-norma

sosial dalam keluarga petani pada masyarakat di desa Tirtomoyo,

Asrikaton dan Saptorenggo setelah terjadi alih fungsi lahan pertanian

untuk pembangunan perumahan. (4) Perubahan fungsi pranata sosial

dalam keluarga petani pada masyarakat di desa Tirtomoyo, Asrikaton

dan Saptorenggo setelah terjadi alih fungsi lahan pertanian untuk

pembangunan perumahan. (5) Perubahan mobilitas sosial dalam

keluarga petani dalam masyarakat di desa Tirtomoyo, Asrikaton dan

Saptorenggo setelah terjadi alih fungsi lahan pertanian untuk

membangun perumahan.(6) pandangan kepala keluarga petani di desa

Tirtomoyo, Asrikaton dan Saptorenggo setelah terjadi alih fungsi lahan

pertanian untuk pembangunan perumahan pada aspek : kondisi ekonomi

keuarga, status dan peranan dalam keluarga, orientasi nilai-norma sosial

dalam keluarga, fungsi pranata keluarga, dan aspek mobilitas keluarga

(Arifin, 2012: 11-12).

Dala buku Sosiologi pariwisata yang ditulis oleh I Gde Pitana

dan Putu G. Gayatri secara teoritikal idealistis, antara dampak sosial dan

dampak kebudayaan dapat dibedakan. Namun demikian, Mathieson and

Wall (1982:37) menyebutkan bahwa there is no clear distinction

between social and cultural phenomena, sehingga sebagian besar ahli

menggabungkan dampak sosial dan dampak budaya dalam pariwisata

20

ke dalam judul ‘dampak sosial-budaya’(the social ciltural impact of

tourism in a broad context).

Dalam kaitannya dengan dampak pariwisata terhadap kehidupan

sosial-budaya masyarakat, harus dilihat bahwa ada banyak faktor lain

yang berperan dalam mengubah kondidi sosial budaya tersbut, seperti

pendidikan, media massa, transportasi, komunikasi, maupun sector-

sektorpembangunan lainnya yang jadi wahana dalam perubahan sosial-

budaya, serta dinamika internal masyarakat itu sendiri.

Perlu juga dikemukakan bahwa dalam melihat dampak sosial-

budaya pariwisata terhadap masyarakat setempat, masyarakat tidak

dapat dipandang sebagai sesuatu yang internally totally integrated

entity, melainkan harus juga dilihat segmen-segmen yang ada, atau

melihat berbagai interest group, karena dampak terhadap kelompok

sosial yang satubelum tentu sama - bahkan bisa bertolak belakang -

dengan dampak terhadap kelompok sosial yang lain. Demikian juga

mengenai penilaian tentang positif dan negatif, sangat sulit di

generalisasi untuk suatu masyarakat, karena penilaian positif atau

negatif tersebut sudah merupakan penilaian yang mengandung nilai

(value judgement), sedagkan niali tersebut tidak selelu sama bagi segeap

kelompok masyarakat. Artinya, dampak positif ataupun negatif masih

perlu dipertanyakan,’positif menurut siapa dan negatif menurut siapa?’

(Pitana 1999: 114).

21

2.2.2 Pembangunan Desa

Masalah kerja yang semakin menciut di daerah pedesaan juga

berkembang menjadi masalah yang semakin rumit, karena masih

tingginya angka pertumbuhan penduduk, pada hal perkembangan

kesempatan kerja tidak memadai. Meskipun dengan revolusi hijau, ada

tanda-tanda penyerapan tenaga kerja yang lebih besar per hektar pada

tanah-tanah pertanian yang diintensifkan, namun bagian pendapatan

petani yang berasal dari pertanian padi memang cukup kecil (hanya 20-

25%). Dan inipun cenderung semakin lebih kecil. Pembangunan

pedesaan yang menekankan pada peningkatan peluang kerja di

pedesaan, nampaknya semakin perlu diarahkan tidak pada intensifikasi

pertanian saja, tetapi pada pekerjaan-pekerjaan non pertanian (off-farm-

agriculture), seperti industri pedesaan dan pertukangan (Mubyarto dan

Kartodirdjo, 1988: 4).

Politik juga mempengaruhi pembangunan di pedesaan. Satu

aspek lain yang amat penting yang sering dibicarakan berkaitan dengan

masalah partisipasi adalah demokrasi yang menunjuk pada partisipasi

rakyat dalam putusan-putusan politik, dan yang berhubungan dengan

itu, partisipasi rakyat untuk memilih pemimpin-pemimpinnya. Bahwa

hal ini amat erat kaitanya dengan perubahan di atas kiranya cukup jelas.

Pengikutsertaan wong cilik dalam putusan-putusan politik yang

menyangkut nasib dan kehidupan mereka berarti menemukan cara-cara

yang tepat untuk memberikan kekuasaan kepada mereka. Dan

22

kekuasaan tidak akan dapat diperoleh tanpa pemilikan sesuai faktor

produksi (Mubyarto dan Kartodirdjo, 1988: 46).

Pembangunan tidak berbasis pada pembangunan fisik saja,

pembangunan terhadap lingkungan juga perlu diperhatikan.

Pembangunan berkelanjutan akan kelestarian alam bisa dirasakan oleh

generasi selanjutnya. Kehidupan masyarakat yang heterogen dan

kebutuhan yang tidak terbatas membuat manusia menjadi serakah.

Manusia mengesampingkan hukum alam, karena alam bersifat pasif

dan bergantung pada manusia. seperti dinyatakan sosiolog, Sunyoto

Usman dalam bukunya Rachmad Dwi Susilo, yakni the cornucopia

view of nature, faith in technology, growth ethic, materialism dan

individualism.

Pertama, the cornucopia view of nature, yakni pandangan yang

beranggapan tentang alam yang terbentang luas dan tidak akan pernah

habis. Pandangan ini menyatakan sekalipun lingkungan terus menerus

dieksploitasi ia akan dengan sendirinya membaik kembali.

Kedua, Faith in technology, yakni keyakinan yang mengannggap

bahwa teknologi bisa menyelesaikan segala-galanya. Teknologi telah

menghadirkan pencapaian kebutuhan secara efisien, cepat dan bersifat

massal. Kendaraan bermotor, kereta api, dan kapal terbang terbukti

membuat manusia bisa menghemat waktu dan tanaga. Alat-alat modern

yang berbasiskan perkembangan teknologi tersebut sangat bersifat

23

efisien dibandingkan corak alat transportasi tradisional yang digunakan

sebelumnya seperti kereta yang ditarik dengan kuda.

Bahkan dengan angkuhnya manusia meyakini bahwa teknologi

mampu menyelesaikan dampak-dampak negatif yang dihasilkan

lingkungan ke depan. Mesin-mesin yang bisa mendaur ulang sampah,

teknologi konstruksi bangunan tahan gempa, dan alat untuk mendeteksi

gempa dan tsunami adalah contoh-contoh yang bisa membuktikan

keampuhan teknologi itu(Dwi Susilo, 2012. Hal: 64)

Ketiga, growth ethic, yakni etika ingin terus maju. Perkembangan

modernisasi telah mengubah pemikiran manusia dalam kaitannya

dengan ethos. Selain keberhasilan ethos ini dilihat dari presentasi

kerjanya, kemajuan manusia modern diukur melalui keberhasilan

mengumpulkan kekayaan material atau dalambahasa umum dikenal

sebagai akumulasi materiil (Usman dalam Dwi Susilo, 2012: 65).

Keempat, materialism, yakni, kemodernan yang diukur dengan

tindakan-tindakan konsumsi. Konsumsi bukan lagi sekadar sebagai

sarana untuk bertahan hidup atau menjaga kelangsungan hidup, tetapi

ia telah berubah menjadi hidup itu sendiri. Konsumsi merupakan gaya

hidup baru yang diyakini sebagai salah satu symbol dari modernitas.

Akibatnya, ia menjadi semacam candu yang tidak bisa dikendalikan.

Sebagai konsekuensi menuruti kebutuhan nafsu manusia ini, baik

negara maupun masyarakat berlomba-lomba mencari sumber-sumber

material untuk memanjakan nafsu mereka.

24

Kelima, individualism, yakni sikap dan keyakinan dengan

menekankan dorongan personal tanpa memikirkan kepentingan dan

kerugian di pihak lain. Bentuk-bentuk keserakahan semacam ini akan

lebih mengorientasikan manusia hanya pada kepentingan dan

keberhasilan dirinya, tanpa berfikir panjang akibat yang akan diterima

kelompok masyarakat lain. Menyangkut persoalan distribusi sumber

daya alam, persoalan yang sering terjadi adalah ketidakmerataan.

2.2.3 Sampah

1) Pengertian sampah

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 18 Tahun

2008 tentang Pengelolaan sampah, sampah adalah sisa kegiatan sehari-

hari manusia danatau proses alam yang membentuk padat, sementara

menurut kamus istilah lingkungan (1994), sampah adalah bahan yang

tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau

utama dama pembuatan atau pemakaian barang rusak atau bercacat

dalampembuatan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau

dibuang (Suwerda, 2012: 9)

Sampah dari rumah tangga adalah sampah yang dihasilkan dari

kegiatan rumah tangga antara lain berupa sisa hasil pengelolaan

makanan, barang bekas dari perlengkapaan rumah tangga, kertas,

kardus, gelas, kain, tas bekas, sampah dari kebun dan halaman, batu

baterai dan lain-lain (Suwerda, 2012: 9).

25

2) Jenis Sampah

a. Sampah Anorganik

Sampah anorganik bersifat non biodegradable, yaitu

sampah yang tidak dapat didegredasi atau diuraikan secara

sempurna melalui proses biologi baik secara aerob maupun secara

anaerob. Sampah anorganik ada yang dapat diolah dan digunakan

kembali karena memiliki nilai ekonomi, seperti plastik, kertas

bekas, kain perca, Styrofoam. Namun demikian sampah

anorganik ada juga yang tidak dapat diolah sehingga tidak

memiliki nilai secara ekonomi seperti kertas karbon, pampers,

pembalut dan lain-lain.

b. Sampah Organik

Sampah organik bersifat biodegradable, yaitu sampah yang

dapat didegradasi atau diuraikan secara sempurna malalui proses

biologi baik secara aerob maupun secara anaerob. Beberapa

contoh yang termasuk sampah organik adalah berasal dari

sampah dapur, sisa-sisa hewan, sampah dari pertanian dan

perkebunan (Suwerda, 2012: 11-12)

2.3 Landasan Teori Talcott Parsons Tentang Struktural Fungsional

Menurut Parsons (Lauer, 1982), studi mengenai perubahan sosial harus

dimulai dengan studi mengenai struktur sosial terlebih dahulu. Struktur sosial dapat

didefinisikan sebagai tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-

kelompok sosial dalam masyarakat yang dapat tersusun secara vertikal maupun

26

horizontal atau dapat juga didefinisikan sebagai cara bagaimana suatu masyarakat

terorganisasi dalam hubungan-hubungan yang dapat diprediksikan melalui pola

perilaku berulang antarindividu dan antarkelompok dalam masyarakat tersebut.

Secara lebih spesifik, pandangan Parsons mengacu pada dinamika yang terjadi

dalam sistem sosial sebagai bagian dalam struktur sosial. Sistem sosial menurut

Parsons tediri atas sejumlah aktor individual yang saling berinteraksi dalam situasi

yang sekurang-kurangnya mempunyai aspek lingkungan atau fisik, aktor-aktor

yang memiliki motivasi, dalam ari memiliki kecenderungan untuk mengoptimalkan

kepuasan yang berhubungn dengan situasi yang didefinisikan dan dimediasi dalam

simbol bersama yang terstruktur secara kultural (Martono, 2011: 49).

Agar sistem sosial dapat berjalan dengan baik, maka harus ada empat fungsi

yang harus terintegrasi untuk semua sistem “tindakan”, terkenal dengan skema

AGIL. AGIL suatu fungsi (function) adalah “kumpulan kegiatan yang ditujukan ke

arah pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem” (Rocher, 1975:40).

Dengan menggunakan definisi ini, Parsons yakin bahwa ada empatfungsi penting

diperlukn semua sistem adaptation (A), goal attainment (G), integration (I), dan

latensi (L) atau pemeliharaan pola. Secara bersama-sama, keempat imperatif

fungsional ini dikenal sebagai skema AGIL. Agar tetap bertahan (survive), suatu

sistem harus memiliki fungsi ini:

1. Adaptation (adaptasi): sebuah sistem harus menanggulangi situasi

eksternal yang gawat. Sistem harus menyesuaikan diri dengan

lingkungan dan menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya.

27

2. Goal attainment (Pencapaian tujuan): sebuah sistem harus

mendefinisikan dan mencapai tujuan utama.

3. Integration (Integrasi): sebuah sistem harus mengatur antar

hubungan bagian-bagian yang menjadi komponenya. Sistem juga

harus mengelola antar hubungan ketiga fungsi penting lainnya (A,

G, L).

4. Latency (latensi atau pemeliharaan pola): sebuah sistem harus

memperlengkapi, memelihara dan memperbaiki, baik motivasi

individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan

menopang motivasi

Berdasarkan ide yang diketengahkannya dalam The Social System (1951),

yaitu tiga sistem yang saling tergantung satu sama lain (sistem kebudayaan, sosial

dan kepribadian) Parsons menambahkan sistem yang keempat yaitu sistem

organisme perilaku. Dengan cara itu Parsons mampu memperlakukan masing-

masing sistem itu sebagai sistem yang memenuhi prasyarat fungsional sistem

bertindak (action system), yang seperti sudah diketengahkan diatas, tidak lain

merupakan sub-kelas dari sistem yang hidup. Sistem sosial adalah sumber integrasi;

sistem kepribadian memenuhi kebutuhan pencapaian tujuan atau goal attainment;

sistem kultural mempertahankan pola-pola yang ada dalam sistem; sistem

organisma behavioral memenuhi kebutuhan yang bersifat penyesuaian (adaptive)

(Poloma, 1994: 184).

a. Sistem Sosial

28

Sistem sosial terdiri dari sejumlah aktor-aktor individual yang saling

berinteraksi dalam situasi yang sekurang-kurangnya mempunyai aspek

lingkungan atau fisik, aktor-aktor yang mempunyai motivasi dalam arti

mempunyai kecenderungan untuk “mengoptimalkan kepuasan”, yang

hubungannya dengan situasi mereka didefinisikan dan imeiasi dalam

term sistem simbol bersama yang terstruktur secara kultural (Parsons,

1951: 5-6).

Jackson Toby (1977: 4) membahas prasyarat fungsional Parsons itu

dalam hubungannya dengan sistem-bertindak sebagaimana terlihat

dibawah ini :

Apa yang disebut Parsons dengna tingkat “teori bertindak yang

umum”, ialah bahwa perilaku cenderung memiliki empat tekanan yang

berbeda dan teroganisir secara simbolis : (1) pencarian pemuasan psikis,

(2) kepentingan dalam menguraikan pengertin-pengertin simbolis, (3)

kebutuhan untuk beradaptasi dengan lingkunagn organis-fisis, dan (4)

usaha untuk berhubungan dengan anggota-anggota makhluk manusia

lainnya.

Sebaliknya masing-masing sub-sistem itu, harus memiliki empat

prasyarat fungsional yang mereka adakan sehingga bisa diklasifikasikan

sebagai suatu sistem. Parsons (1970c: 44) menekankan saling

ketergantungan masing-masing sistem itu ketika dia menyatakan :

“Secara konkrit, setiap sistem empiris mencakup keseluruhan, dengan

demikian tidak ada individu konkrit yang tidak merupakan sebuah

29

organisma, kepribadian, anggota dari sistem sosial, dan peserta dalam

sistem kultural” (Poloma, 1994: 184).

b. Sistem Kultural.

Kultur adalah kekuatan utama yang mengikat sistem tindakan.

Kultur menengahi interaksi ataraktor, menginteraksikan kepribadian dan

menyatukan sistem sosial. Kultur mempunyai kapasitas khusus untuk

menjadi komponen sistem yang lain. Jadi, didalam sistem sosial, sistem

diwujudkan dalam norma dan nilai, dan dalam sistem kepribadian ia

diinternalisasikan oleh aktor. Namun, sistem kultural tak semata-mata

menjadi bagian sistem yang lain; ia juga mempunyai eksistensi yang

terpisah dalam bentuk pengetahuan, simbol-simbol dan gagasan. Aspek-

aspek sistem kultural ini tersedi untuk sistem sosial dan sistem personalitas,

tetapi tidak menjadi bagian dari kedua sistem itu (Morse, Parsons dan Shils

dalam buku Ritzer, 2003: 129-130).

c. Sistem kepribadian

Sistem kepribadian (personalitas) tidak hanya dikontrol oleh oleh

sistem kultural, tetapi juga oleh sistem sosial. Menurut Parsons, meskipun

kandungan utama struktur kepribadian berasal dari sistem sosial dan

kultural melalui proses sosialisasi, namun kepribadian menjadi suatu sistem

yang independen melalui hubungannya dengan organisme dirinya sendiri

dan melalui keunikan pengalaman hidupnya sendiri; kepribadian bukanlah

merupakan sebuah epifenomenon semata (Parsons, 1970: 82).

30

Personalitas didefinisikan sebagai sistem orientasi dan motivasi

tindakan aktor individual yang terorganisir. Komponen dasarnya adalah

“disposisi-kebutuhan”. Parsons dan Shils mendefinisikan disposisi-

kebutuhan sebagai “unit-unit motivasi tindakan yang paling penting”

(1951:113). Mereka membedakan disposisi-kebutuhan dari dorongan hati

(drives), yang merupakan kecenderungan batiniah “energi fisiologis yang

memungkinkan terwujudnya aksi” (Parsons dan Shils, 1951: 111). Dengan

kata lain dorongan lebih baik dipandang sebagai bagian dari organisme

biologis. Disposisi-kebutuhan karenanya didefinisikan sebagai

“kecenderungan yang sama ketika kecenderungan itu bukan bawaan, tetapi

diperoleh melalui proses aksi itu sendiri (Parsons dan Shil, 1951: 111).

Dengan kata lain, disposisi-kebutuhan adalah dorongan hati yang dibentuk

oleh lingkungan sosial.

d. Organisme Behavioral

Meskipun Parsons memasukan organisme behavioral (perilaku)

sebagai salah satu di antara empat sistem tindakan, Parsons sangat sedikit

membicarakannya. Walaupun organisme perilaku itu di dasarkan atas

konstitusi genetik, organisasinya di pengaruhi oleh proses pengondisian dan

pembelajaran yang terjadi selama hidup aktor individual. Organisme

biologis jelas merupakan sebuah sistem residual dalam karya Parsons.

31