Click here to load reader

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1

jurusan Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2012.Dengan judul “Dampak
Sosial Keberadaan PT Vale Indonesia Tbk Terhadap Kehidupan
Masyarakat (Studi Kasus Sorowako Kecamatan Nuha Kabupaten Luwu
Timur )”. Dalam penelitiannya menggunakan metode penelitian
kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik
sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling. Hasil temuan
dalam penelitiannya adalah menganggap bahwa keberadaan PT Vale
menjadi salah satu penyebab mengikisnya kebudayaan masyarakat
setempat.
Dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN)
SyarifHidayatullahJakarta tahun 2017. Berjudul “dampak keberadaan
tempat pengolahan sampah 3r (reduce, reuse, recycle) Vipa Mas
terhadap lingkungan sosial ekonomimasyarakat di kelurahan bambu
apus kecamatan pamulang Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini
merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif dengan model
15
wawancara. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi,
wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil yang ditemukan
dalam penelitian ini adalah bahwa dampak keberadaan tempat
pengolahan sampah 3R (reduce, reuse, recycle) Vipa Mas ini memiliki
dampak positif dan negatif, yaitu tertatanya lingkungan menjadi bersih
dan nyaman, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap
lingkungan, terbentuknya bank sampah pada setiap RW nya. Dampak
negatifnya adalah adanya masyarakat yang merasa terganggu mengenai
cerobong asap dari mesin pencacah sampah yang kurang tinggi.
Penelitian selanjutnya adalah “Analisis Dampak Sosial Dan
Ekonomi Dalam Pembangunan Flyover Jombor Di Kabupaten
Sleman” oleh Janu Muhammad, Aan Pambudi, dan Khomsun Subarkah
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.Penelitian
menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data
yaitu data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dari hasil
observasi nonpartisipan, wawancara, dan dokumentasi sedangkan data
sekunder didapatkan dari data yang bersumber dari studi pustaka.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitiannya adalah
analisis data interaktif model Miles dan Huberman. Modelnya terdiri
dari tiga hal utama yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan atau verifikasi.Hasil penelitiannya adanya dampak sosial
yang terjadi di antaranya terputusnya akses warga di Jombor Lor untuk
16
sisi barat dan timur karena terhalang oleh flyover sehingga interaksi
warga menjadi berkurang.
1. Dampak Sosial
Keberadaan PT Vale
Dampak sosial, menurut Homenuck (1988; 1 & 3) dalam
Sudharto P. Hadi (1997: 26-27), juga dapat dikategorikan ke dalam dua
kelompok, yakni “real impact” dan “perceived impact”. “Real Impact”
atau “Standard impact” menurut Homenuck, can be predicted with a
some certainty based on information concerning the construction and
operation of the facility. Jadi dapat dikatakan bahwa “real” atau
“standard impact” adalah dampak yang timbul sebagai akibat dari
aktivitas proyek, pada setiap tahapanproyek, yang meliputi: pra-
konstruksi, konstruksi, dan operasi, misalnya pemindahan penduduk,
bising, atau polusi udara. “Perceived impact” atau “special impact”
adalah suatu dampak yang timbul dari persepsi masyarakat terhadap
resiko dari adanya proyek. Persepsi, sikap, dan kepercayaan masyarakat
membentuk “interpretasi” tentang proyek dan dampaknya. Beberapa
contoh dari “perceived impact” di antaranya stress, rasa takut, maupun
bentuk “concerns” lainnya.
Masyarakat Desa Berubah” mengkaji dampak sosial alih fungsi lahan
pertanian diwilayah Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Hasil temuan
lapang adalah (1) Pandangan kepala keuarga petani tentang latar
belakang dan sebab terjadinya perubahan alih fungsi lahan pertanian
untuk perumahan di desa Tirtomoyo, Asrikaton dan Saktorenggo
Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. (2) Peerubahan status dan peran
19
untuk pembangunan perumahan (3) Perubahan orientasi nilan-norma
sosial dalam keluarga petani pada masyarakat di desa Tirtomoyo,
Asrikaton dan Saptorenggo setelah terjadi alih fungsi lahan pertanian
untuk pembangunan perumahan. (4) Perubahan fungsi pranata sosial
dalam keluarga petani pada masyarakat di desa Tirtomoyo, Asrikaton
dan Saptorenggo setelah terjadi alih fungsi lahan pertanian untuk
pembangunan perumahan. (5) Perubahan mobilitas sosial dalam
keluarga petani dalam masyarakat di desa Tirtomoyo, Asrikaton dan
Saptorenggo setelah terjadi alih fungsi lahan pertanian untuk
membangun perumahan.(6) pandangan kepala keluarga petani di desa
Tirtomoyo, Asrikaton dan Saptorenggo setelah terjadi alih fungsi lahan
pertanian untuk pembangunan perumahan pada aspek : kondisi ekonomi
keuarga, status dan peranan dalam keluarga, orientasi nilai-norma sosial
dalam keluarga, fungsi pranata keluarga, dan aspek mobilitas keluarga
(Arifin, 2012: 11-12).
Dala buku Sosiologi pariwisata yang ditulis oleh I Gde Pitana
dan Putu G. Gayatri secara teoritikal idealistis, antara dampak sosial dan
dampak kebudayaan dapat dibedakan. Namun demikian, Mathieson and
Wall (1982:37) menyebutkan bahwa there is no clear distinction
between social and cultural phenomena, sehingga sebagian besar ahli
menggabungkan dampak sosial dan dampak budaya dalam pariwisata
20
ke dalam judul ‘dampak sosial-budaya’(the social ciltural impact of
tourism in a broad context).
Dalam kaitannya dengan dampak pariwisata terhadap kehidupan
sosial-budaya masyarakat, harus dilihat bahwa ada banyak faktor lain
yang berperan dalam mengubah kondidi sosial budaya tersbut, seperti
pendidikan, media massa, transportasi, komunikasi, maupun sector-
sektorpembangunan lainnya yang jadi wahana dalam perubahan sosial-
budaya, serta dinamika internal masyarakat itu sendiri.
Perlu juga dikemukakan bahwa dalam melihat dampak sosial-
budaya pariwisata terhadap masyarakat setempat, masyarakat tidak
dapat dipandang sebagai sesuatu yang internally totally integrated
entity, melainkan harus juga dilihat segmen-segmen yang ada, atau
melihat berbagai interest group, karena dampak terhadap kelompok
sosial yang satubelum tentu sama - bahkan bisa bertolak belakang -
dengan dampak terhadap kelompok sosial yang lain. Demikian juga
mengenai penilaian tentang positif dan negatif, sangat sulit di
generalisasi untuk suatu masyarakat, karena penilaian positif atau
negatif tersebut sudah merupakan penilaian yang mengandung nilai
(value judgement), sedagkan niali tersebut tidak selelu sama bagi segeap
kelompok masyarakat. Artinya, dampak positif ataupun negatif masih
perlu dipertanyakan,’positif menurut siapa dan negatif menurut siapa?’
(Pitana 1999: 114).
berkembang menjadi masalah yang semakin rumit, karena masih
tingginya angka pertumbuhan penduduk, pada hal perkembangan
kesempatan kerja tidak memadai. Meskipun dengan revolusi hijau, ada
tanda-tanda penyerapan tenaga kerja yang lebih besar per hektar pada
tanah-tanah pertanian yang diintensifkan, namun bagian pendapatan
petani yang berasal dari pertanian padi memang cukup kecil (hanya 20-
25%). Dan inipun cenderung semakin lebih kecil. Pembangunan
pedesaan yang menekankan pada peningkatan peluang kerja di
pedesaan, nampaknya semakin perlu diarahkan tidak pada intensifikasi
pertanian saja, tetapi pada pekerjaan-pekerjaan non pertanian (off-farm-
agriculture), seperti industri pedesaan dan pertukangan (Mubyarto dan
Kartodirdjo, 1988: 4).
aspek lain yang amat penting yang sering dibicarakan berkaitan dengan
masalah partisipasi adalah demokrasi yang menunjuk pada partisipasi
rakyat dalam putusan-putusan politik, dan yang berhubungan dengan
itu, partisipasi rakyat untuk memilih pemimpin-pemimpinnya. Bahwa
hal ini amat erat kaitanya dengan perubahan di atas kiranya cukup jelas.
Pengikutsertaan wong cilik dalam putusan-putusan politik yang
menyangkut nasib dan kehidupan mereka berarti menemukan cara-cara
yang tepat untuk memberikan kekuasaan kepada mereka. Dan
22
produksi (Mubyarto dan Kartodirdjo, 1988: 46).
Pembangunan tidak berbasis pada pembangunan fisik saja,
pembangunan terhadap lingkungan juga perlu diperhatikan.
Pembangunan berkelanjutan akan kelestarian alam bisa dirasakan oleh
generasi selanjutnya. Kehidupan masyarakat yang heterogen dan
kebutuhan yang tidak terbatas membuat manusia menjadi serakah.
Manusia mengesampingkan hukum alam, karena alam bersifat pasif
dan bergantung pada manusia. seperti dinyatakan sosiolog, Sunyoto
Usman dalam bukunya Rachmad Dwi Susilo, yakni the cornucopia
view of nature, faith in technology, growth ethic, materialism dan
individualism.
beranggapan tentang alam yang terbentang luas dan tidak akan pernah
habis. Pandangan ini menyatakan sekalipun lingkungan terus menerus
dieksploitasi ia akan dengan sendirinya membaik kembali.
Kedua, Faith in technology, yakni keyakinan yang mengannggap
bahwa teknologi bisa menyelesaikan segala-galanya. Teknologi telah
menghadirkan pencapaian kebutuhan secara efisien, cepat dan bersifat
massal. Kendaraan bermotor, kereta api, dan kapal terbang terbukti
membuat manusia bisa menghemat waktu dan tanaga. Alat-alat modern
yang berbasiskan perkembangan teknologi tersebut sangat bersifat
23
sebelumnya seperti kereta yang ditarik dengan kuda.
Bahkan dengan angkuhnya manusia meyakini bahwa teknologi
mampu menyelesaikan dampak-dampak negatif yang dihasilkan
lingkungan ke depan. Mesin-mesin yang bisa mendaur ulang sampah,
teknologi konstruksi bangunan tahan gempa, dan alat untuk mendeteksi
gempa dan tsunami adalah contoh-contoh yang bisa membuktikan
keampuhan teknologi itu(Dwi Susilo, 2012. Hal: 64)
Ketiga, growth ethic, yakni etika ingin terus maju. Perkembangan
modernisasi telah mengubah pemikiran manusia dalam kaitannya
dengan ethos. Selain keberhasilan ethos ini dilihat dari presentasi
kerjanya, kemajuan manusia modern diukur melalui keberhasilan
mengumpulkan kekayaan material atau dalambahasa umum dikenal
sebagai akumulasi materiil (Usman dalam Dwi Susilo, 2012: 65).
Keempat, materialism, yakni, kemodernan yang diukur dengan
tindakan-tindakan konsumsi. Konsumsi bukan lagi sekadar sebagai
sarana untuk bertahan hidup atau menjaga kelangsungan hidup, tetapi
ia telah berubah menjadi hidup itu sendiri. Konsumsi merupakan gaya
hidup baru yang diyakini sebagai salah satu symbol dari modernitas.
Akibatnya, ia menjadi semacam candu yang tidak bisa dikendalikan.
Sebagai konsekuensi menuruti kebutuhan nafsu manusia ini, baik
negara maupun masyarakat berlomba-lomba mencari sumber-sumber
material untuk memanjakan nafsu mereka.
24
kerugian di pihak lain. Bentuk-bentuk keserakahan semacam ini akan
lebih mengorientasikan manusia hanya pada kepentingan dan
keberhasilan dirinya, tanpa berfikir panjang akibat yang akan diterima
kelompok masyarakat lain. Menyangkut persoalan distribusi sumber
daya alam, persoalan yang sering terjadi adalah ketidakmerataan.
2.2.3 Sampah
2008 tentang Pengelolaan sampah, sampah adalah sisa kegiatan sehari-
hari manusia danatau proses alam yang membentuk padat, sementara
menurut kamus istilah lingkungan (1994), sampah adalah bahan yang
tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau
utama dama pembuatan atau pemakaian barang rusak atau bercacat
dalampembuatan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau
dibuang (Suwerda, 2012: 9)
makanan, barang bekas dari perlengkapaan rumah tangga, kertas,
kardus, gelas, kain, tas bekas, sampah dari kebun dan halaman, batu
baterai dan lain-lain (Suwerda, 2012: 9).
25
sampah yang tidak dapat didegredasi atau diuraikan secara
sempurna melalui proses biologi baik secara aerob maupun secara
anaerob. Sampah anorganik ada yang dapat diolah dan digunakan
kembali karena memiliki nilai ekonomi, seperti plastik, kertas
bekas, kain perca, Styrofoam. Namun demikian sampah
anorganik ada juga yang tidak dapat diolah sehingga tidak
memiliki nilai secara ekonomi seperti kertas karbon, pampers,
pembalut dan lain-lain.
b. Sampah Organik
dapat didegradasi atau diuraikan secara sempurna malalui proses
biologi baik secara aerob maupun secara anaerob. Beberapa
contoh yang termasuk sampah organik adalah berasal dari
sampah dapur, sisa-sisa hewan, sampah dari pertanian dan
perkebunan (Suwerda, 2012: 11-12)
Menurut Parsons (Lauer, 1982), studi mengenai perubahan sosial harus
dimulai dengan studi mengenai struktur sosial terlebih dahulu. Struktur sosial dapat
didefinisikan sebagai tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-
kelompok sosial dalam masyarakat yang dapat tersusun secara vertikal maupun
26
horizontal atau dapat juga didefinisikan sebagai cara bagaimana suatu masyarakat
terorganisasi dalam hubungan-hubungan yang dapat diprediksikan melalui pola
perilaku berulang antarindividu dan antarkelompok dalam masyarakat tersebut.
Secara lebih spesifik, pandangan Parsons mengacu pada dinamika yang terjadi
dalam sistem sosial sebagai bagian dalam struktur sosial. Sistem sosial menurut
Parsons tediri atas sejumlah aktor individual yang saling berinteraksi dalam situasi
yang sekurang-kurangnya mempunyai aspek lingkungan atau fisik, aktor-aktor
yang memiliki motivasi, dalam ari memiliki kecenderungan untuk mengoptimalkan
kepuasan yang berhubungn dengan situasi yang didefinisikan dan dimediasi dalam
simbol bersama yang terstruktur secara kultural (Martono, 2011: 49).
Agar sistem sosial dapat berjalan dengan baik, maka harus ada empat fungsi
yang harus terintegrasi untuk semua sistem “tindakan”, terkenal dengan skema
AGIL. AGIL suatu fungsi (function) adalah “kumpulan kegiatan yang ditujukan ke
arah pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem” (Rocher, 1975:40).
Dengan menggunakan definisi ini, Parsons yakin bahwa ada empatfungsi penting
diperlukn semua sistem adaptation (A), goal attainment (G), integration (I), dan
latensi (L) atau pemeliharaan pola. Secara bersama-sama, keempat imperatif
fungsional ini dikenal sebagai skema AGIL. Agar tetap bertahan (survive), suatu
sistem harus memiliki fungsi ini:
1. Adaptation (adaptasi): sebuah sistem harus menanggulangi situasi
eksternal yang gawat. Sistem harus menyesuaikan diri dengan
lingkungan dan menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya.
27
mendefinisikan dan mencapai tujuan utama.
3. Integration (Integrasi): sebuah sistem harus mengatur antar
hubungan bagian-bagian yang menjadi komponenya. Sistem juga
harus mengelola antar hubungan ketiga fungsi penting lainnya (A,
G, L).
memperlengkapi, memelihara dan memperbaiki, baik motivasi
individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan
menopang motivasi
Berdasarkan ide yang diketengahkannya dalam The Social System (1951),
yaitu tiga sistem yang saling tergantung satu sama lain (sistem kebudayaan, sosial
dan kepribadian) Parsons menambahkan sistem yang keempat yaitu sistem
organisme perilaku. Dengan cara itu Parsons mampu memperlakukan masing-
masing sistem itu sebagai sistem yang memenuhi prasyarat fungsional sistem
bertindak (action system), yang seperti sudah diketengahkan diatas, tidak lain
merupakan sub-kelas dari sistem yang hidup. Sistem sosial adalah sumber integrasi;
sistem kepribadian memenuhi kebutuhan pencapaian tujuan atau goal attainment;
sistem kultural mempertahankan pola-pola yang ada dalam sistem; sistem
organisma behavioral memenuhi kebutuhan yang bersifat penyesuaian (adaptive)
(Poloma, 1994: 184).
a. Sistem Sosial
berinteraksi dalam situasi yang sekurang-kurangnya mempunyai aspek
lingkungan atau fisik, aktor-aktor yang mempunyai motivasi dalam arti
mempunyai kecenderungan untuk “mengoptimalkan kepuasan”, yang
hubungannya dengan situasi mereka didefinisikan dan imeiasi dalam
term sistem simbol bersama yang terstruktur secara kultural (Parsons,
1951: 5-6).
dalam hubungannya dengan sistem-bertindak sebagaimana terlihat
dibawah ini :
(2) kepentingan dalam menguraikan pengertin-pengertin simbolis, (3)
kebutuhan untuk beradaptasi dengan lingkunagn organis-fisis, dan (4)
usaha untuk berhubungan dengan anggota-anggota makhluk manusia
lainnya.
prasyarat fungsional yang mereka adakan sehingga bisa diklasifikasikan
sebagai suatu sistem. Parsons (1970c: 44) menekankan saling
ketergantungan masing-masing sistem itu ketika dia menyatakan :
“Secara konkrit, setiap sistem empiris mencakup keseluruhan, dengan
demikian tidak ada individu konkrit yang tidak merupakan sebuah
29
sistem kultural” (Poloma, 1994: 184).
b. Sistem Kultural.
Kultur menengahi interaksi ataraktor, menginteraksikan kepribadian dan
menyatukan sistem sosial. Kultur mempunyai kapasitas khusus untuk
menjadi komponen sistem yang lain. Jadi, didalam sistem sosial, sistem
diwujudkan dalam norma dan nilai, dan dalam sistem kepribadian ia
diinternalisasikan oleh aktor. Namun, sistem kultural tak semata-mata
menjadi bagian sistem yang lain; ia juga mempunyai eksistensi yang
terpisah dalam bentuk pengetahuan, simbol-simbol dan gagasan. Aspek-
aspek sistem kultural ini tersedi untuk sistem sosial dan sistem personalitas,
tetapi tidak menjadi bagian dari kedua sistem itu (Morse, Parsons dan Shils
dalam buku Ritzer, 2003: 129-130).
c. Sistem kepribadian
sistem kultural, tetapi juga oleh sistem sosial. Menurut Parsons, meskipun
kandungan utama struktur kepribadian berasal dari sistem sosial dan
kultural melalui proses sosialisasi, namun kepribadian menjadi suatu sistem
yang independen melalui hubungannya dengan organisme dirinya sendiri
dan melalui keunikan pengalaman hidupnya sendiri; kepribadian bukanlah
merupakan sebuah epifenomenon semata (Parsons, 1970: 82).
30
tindakan aktor individual yang terorganisir. Komponen dasarnya adalah
“disposisi-kebutuhan”. Parsons dan Shils mendefinisikan disposisi-
kebutuhan sebagai “unit-unit motivasi tindakan yang paling penting”
(1951:113). Mereka membedakan disposisi-kebutuhan dari dorongan hati
(drives), yang merupakan kecenderungan batiniah “energi fisiologis yang
memungkinkan terwujudnya aksi” (Parsons dan Shils, 1951: 111). Dengan
kata lain dorongan lebih baik dipandang sebagai bagian dari organisme
biologis. Disposisi-kebutuhan karenanya didefinisikan sebagai
“kecenderungan yang sama ketika kecenderungan itu bukan bawaan, tetapi
diperoleh melalui proses aksi itu sendiri (Parsons dan Shil, 1951: 111).
Dengan kata lain, disposisi-kebutuhan adalah dorongan hati yang dibentuk
oleh lingkungan sosial.
d. Organisme Behavioral
Meskipun Parsons memasukan organisme behavioral (perilaku)
sebagai salah satu di antara empat sistem tindakan, Parsons sangat sedikit
membicarakannya. Walaupun organisme perilaku itu di dasarkan atas
konstitusi genetik, organisasinya di pengaruhi oleh proses pengondisian dan
pembelajaran yang terjadi selama hidup aktor individual. Organisme
biologis jelas merupakan sebuah sistem residual dalam karya Parsons.
31