of 34/34
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Akuntansi 2.1.1 Pengertian Sistem Informasi Akuntansi Menurut Jones dan Rama (2006, p13), “Accounting Information System is a subsystem of a management information system (MIS) that provides accounting and financial information as well as other information obtained in the routine processing of accounting transactions.” Dapat diterjemahkan sebagai berikut : Sistem Informasi Akuntansi adalah sebuah subsistem dari Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang menyediakan informasi akuntansi dan keuangan sebaik informasi lain yang diperoleh dari proses rutin transaksi akuntansi. Romney dan Steinbart berpendapat (2006, p6), “Accounting information system is a system that collects, records, stores, and processes data to produce information for decision makers.” Yang diterjemahkan sebagai : sistem informasi akuntansi adalah sistem yang mengumpulkan, mencatat, menyimpan, dan mengolah data untuk menghasilkan informasi yang berguna untuk pembuat keputusan. Menurut Ulric dan Richard (2009, p14), “The purpose of this separate AIS was to collect, process, and report information related to financial aspects of business events.” Sistem informasi akuntansi dibuat bertujuan untuk mengumpulkan, mengolah, dan melaporkan informasi yang berkaitan dengan aspek keuangan bisnis.

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Akuntansi 2.1.1 ...library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2010-1-00009-AKSi BAB 2.pdf10 Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat

  • View
    213

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Akuntansi 2.1.1...

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Sistem Informasi Akuntansi

2.1.1 Pengertian Sistem Informasi Akuntansi

Menurut Jones dan Rama (2006, p13), Accounting Information System is a

subsystem of a management information system (MIS) that provides accounting and

financial information as well as other information obtained in the routine

processing of accounting transactions. Dapat diterjemahkan sebagai berikut :

Sistem Informasi Akuntansi adalah sebuah subsistem dari Sistem Informasi

Manajemen (SIM) yang menyediakan informasi akuntansi dan keuangan sebaik

informasi lain yang diperoleh dari proses rutin transaksi akuntansi.

Romney dan Steinbart berpendapat (2006, p6), Accounting information

system is a system that collects, records, stores, and processes data to produce

information for decision makers. Yang diterjemahkan sebagai : sistem informasi

akuntansi adalah sistem yang mengumpulkan, mencatat, menyimpan, dan mengolah

data untuk menghasilkan informasi yang berguna untuk pembuat keputusan.

Menurut Ulric dan Richard (2009, p14), The purpose of this separate AIS

was to collect, process, and report information related to financial aspects of

business events. Sistem informasi akuntansi dibuat bertujuan untuk

mengumpulkan, mengolah, dan melaporkan informasi yang berkaitan dengan aspek

keuangan bisnis.

10

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem

informasi akuntansi adalah sistem yang mengumpulkan, mencatat, menyimpan, dan

mengolah data transaksi akuntansi menjadi informasi dalam bentuk laporan yang

akan membantu dalam pembuatan keputusan.

2.1.2 Kerangka Sistem Informasi Akuntansi

Menurut Hall (2008, p7), A framework for information system. Kerangka

sistem informasi dapat digambarkan sebagai berikut

Gambar 2.1 Kerangka sistem informasi akuntansi

11

2.1.3 Subsistem pada Sistem Informasi Akuntansi.

Menurut Hall (2008, p8), The AIS is composed of three major subsystems (1)

the transaction processing system (TPS), which supports daily business operations

with numerous reports, documents, and messages for users throughout the

organization; (2) the general ledger / financial reporting system (GL/FRS), which

produces the traditional financial statements, such as the income statement, balance

sheet, statement of cash flows, tax returns, and other reports required by law; and

(3) the management reporting system (MRS), which provides internal management

with special-purpose financial reports and information needed for decision making

such as budgets, variance reports, and responsibility reports. Sistem Informasi

Akuntansi terdiri dari tiga subsistem utama, yaitu:

1. Transaction Processing System (TPS) yang mendukung operasi bisnis

sehari-hari.

2. General Ledger / Financial Reporting System (GL/FRS) yang

menghasilkan laporan keuangan misalnya laporan arus kas dan laporan lain

yang berhubungan dengan hukum yang berlaku, misalnya pajak.

3. Management Reporting System (MRS) yang menghasilkan laporan

keuangan khusus untuk manajemen internal. Contohnya laporan anggaran dan

varians.

12

2.1.4 Komponen Sistem Informasi Akuntansi

Menurut Romney dan Steinbart (2006, p.2), An AIS consists of five

components:

1. The people who operates the system and perform various functions.

2. The procedures, both manual and automated, involved in collecting,

processing, and storing data about the organizations activities.

3. The data about the organizations business processes.

4. The software used to process the organizations data.

5. The information technology infrastructure, including computers,

peripheral devices, and network communications devices.

Dapat diterjemahkan menjadi Sebuah SIA terdiri dari lima komponen:

1. People, yang mengoperasikan sistem dan melakukan berbagai fungsi.

2. Procedures, baik yang manual maupun yang otomatis termasuk dalam

kegiatan pengumpulan, pemrosesan, dan penyimpanan data tentang kegiatan

organisasi.

3. Data, tentang kegiatan / proses bisnis organisasi.

4. Software, digunakan untuk memroses data organisasi.

5. Information Technology Infrastructure, termasuk di dalamnya komputer

serta peralatan komunikasi jaringan.

13

2.2 Pengendalian Internal

2.2.1 Pengertian Pengendalian Internal

Menurut Ulric dan Richard berdasarkan Committee of Sponsoring

Organization (COSO) Report, Internal control is a process effected by an

entitys board of directors, management, and other personnel designed to provide

reasonable assurance regarding the achievement of objectives in the following

categories :

Effectiveness and efficiency of operations

Reliability of financial reporting

Compliance with applicable laws and regulations.

Diterjemahkan menjadi Pengendalian internal adalah suatu proses yang

diimplementasikan oleh entitas dewan direksi, manajemen perusahaan dan personel

lainnya yang dikhususkan untuk menyediakan jaminan terhadap pencapaian tujuan

pengendalian berikut ini :

Efektivitas dan efisiensi operasional.

Kehandalan dari pelaporan keuangan.

Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

2.2.2 Unsur Pengendalian Internal

Menurut Romney dan Steinbart (2006, p.196) Five Interrelated Components

of COSOs Internal Control Model : control environment, control activities, risk

assessment, information and communication, monitoring. Lima komponen yang

berhubungan pada pengendalian internal menurut COSO: control environment,

control activities, risk assessment, information and communication, dan monitoring.

14

2.3 Penggajian dan Pengupahan

2.3.1 Pengertian Gaji dan Upah

Menurut Warren et al. (2008, p489) In accounting, payroll refers to the

amount paid employees for services they provided during the period. Dapat

diterjemahkan menjadi Dalam akuntansi, istilah gaji diartikan sebagai jumlah

tertentu yang dibayarkan kepada karyawan untuk jasa yang diberikan selama

periode tertentu.

Menurut Niswonger, Waren dan Fess yang diterjemahkan oleh Sirait dan

Gunawan (2000, p.446), Gaji biasanya digunakan untuk pembayaran atas jasa

manajerial, administratif dan jasa-jasa yang sama. Tarif gaji biasanya diekspresikan

dalam periode bulan atau tahunan.

Istilah upah biasanya digunakan untuk pembayaran kepada karyawan

lapangan (pekerja kasar) yang terlibat dalam proses produksi, baik yang terdidik

maupun tidak terdidik. Tarif upah biasanya diekspresikan secara harian atau bahkan

perjam.

2.3.2 Fungsi yang Terkait

Berdasarkan pendapat Romney dan Steinbart (2006, p.516) A second major

function of the AIS in the HRM/payroll cycle is to provide adequate internal

controls to ensure meeting the following objectives :

1. All payroll transactions are properly authorized.

2. All recorded payroll transactions are valid.

3. All valid, authorized payroll transactions are accurately recorded.

4. All payroll transactions are accurately recorded.

15

5. Aplicable government regulations regarding remittance of taxes and filing

of payroll and HRM reports are met.

6. Assests (both cash and data) are safeguarded from loss or theft.

7. HRM/payroll cycle activities are performed efficiently and effectively.

Dapat diterjemahkan menjadi, fungsi utama kedua dari SIA pada siklus HRM

/ penggajian untuk menghasilkan pengendalian internal yang memadai pada tujuan

berikut :

1. Semua transaksi penggajian harus diotorisasi.

2. Semua transaksi penggajian yang disimpan harus benar.

3. Semua transaksi penggajian yang benar dan diotorisasi harus disimpan.

4. Semua transaksi penggajian disimpan secara akurat.

5. Laporan penggajian harus sesuai dengan ketentuan pajak yang berlaku.

6. Aset (kas dan data) harus disimpan secara aman dari kehilangan dan

pencuri.

7. Aktivitas siklus penggajian / HRM harus effisien dan efektif.

2.3.3 Tujuan Evaluasi Performance Karyawan

Menurut John M. Ivanchevich (2002, p.230), tujuan mengevaluasi

performance karyawan yaitu :

Pengembangan (Development)

Sehingga dapat menentukan karyawan yang membutuhkan training atau

tidak.

16

Motivasi (Motivation)

Sehingga dapat menimbulkan inisiatif, mengembangkan rasa tanggung

jawab, dan meningkatkan usaha untuk bekerja lebih baik.

Human resource and employment planning

Evaluasi ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi perencanaan yang

dilakukan oleh bagian personalia.

Komunikasi (Communications)

Dapat menjalin hubungan yang lebih erat antara supervisor dengan

bawahannya.

Keadilan (Fairness)

Sehingga dapat membantu memberi informasi bila akan dilakukan promosi,

mutasi, penghargaan, atau pemberhentian.

Validasi (Validation)

Dapat digunakan dalam validasi pengukuran terhadap alat seleksi untuk calon

karyawan.

2.3.4 Proses Evaluasi / Pengukuran Prestasi Karyawan.

Fred Steingold berpendapat (2009, p49), To keep the evaluation process as

consistent and objective as possible, devise an evaluation form that you can use

with all employees in the same job category. The form should focus on how well the

employee has performed the various duties of the job. Fill in the form before you

meet with the employee. Yang dapat diterjemahkan sebagai Untuk menjaga agar

proses evaluasi sekonsisten dan seobjektif mungkin, rencanakan form penilaian

17

(evaluasi) yang dapat digunakan untuk seluruh pekerja dalam kategori pekerjaan

yang sama. Form tersubut harus diisi sebelum menemui pekerja yang bersangkutan.

Menurut Donald Kirkpatrick (2006, p17), This is the evaluation or

judgement of how well the job has been done. It is always done by supervisor with

or without input from other people. Diterjemahkan sebagai Penilaian ini

digunakan untuk mengevaluasi seberapa baik suatu pekerjaan dilakukan. Hal ini

biasanya dilakukan oleh supervisor dengan atau tanpa masukan dari orang lain.

Menurut George dan Scott (2009, p370), pengukuran prestasi (performance)

dapat dilakukan oleh, manager/supervisor appraisal, peer appraisal, ataupun team

appraisal.

Jadi dapat disimpulkan bahwa formulir evaluasi harus terlebih dahulu dibuat

secara konsisten sehingga dapat digunakan oleh semua karyawan pada kategori

pekerjaan yang sama dan akan diisi oleh supervisor atau oleh masing-masing

karyawan. Namun biasanya penentuan prestasi (performance) karyawan dilakukan

oleh supervisor atau manajer.

2.4 Pajak Penghasilan

2.4.1 Pengertian Pajak Penghasilan

Menurut Muhammad Rusjdi (2006, p.2) Pajak Penghasilan adalah :

1. Pajak sebagai Pajak Subjektif

Pajak Penghasilan (PPh) tergolong sebagai Pajak Subjektif yaitu pajak

yang mempertimbangkan keadaan pribadi Wajib Pajak sebagai faktor

utama dalam pengenaan pajak.

18

2. PPh sebagai Pajak Langsung

Pajak langsung adalah pajak yang dikenakan terhadap orang yang harus

menanggung dan membayarnya.

3. PPh sebagai Pajak Pusat atau Pajak Negara

Menurut Undang-Undang 1945 pasal 23A ditentukan bahwa : Pajak dan

pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan

Undang-Undang.

2.4.2 PPh Pasal 21

Berdasarkan UU RI No. 36 tentang Pajak Penghasilan, Ketentuan Pasal 21

ayat (1) sampai ayat (5), dan ayat (8) diubah, serta di antara ayat (5) dan ayat (6)

disisipkan 1 (satu) ayat, yakni ayat (5a) sehingga Pasal 21 berbunyi sebagai berikut :

(1) Berdasarkan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa,

atau kegiatan dengan nama dan bentuk apa pun yang diterima atau diperoleh

Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri wajib dilakukan oleh :

a. Pemberi kerja yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan

pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang

dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai.

b. Bendaharawan pemerintah yang membayar gaji, upah, honorarium,

tunjangan, dan pembayaran lain, sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau

kegiatan.

c. Dana pensiun atau badan lain yang membayarkan uang pensiun dan

pembayaran lain dengan nama apapun dalam rangka pensiun.

19

d. Badan yang membayar honorarium atau pembayaran lain sebagai

imbalan sehubungan dengan jasa termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan

pekerjaan bebas.

e. Penyelenggara kegiatan yang melakukan pembayaran sehubungan

dengan pelaksanaan suatu kegiatan.

(2) Tidak termasuk sebagai pemberi kerja yang wajib melakukan

pemotongan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah badan

perwakilan negara asing dan organisasi-organisasi internasional.

(3) Penghasilan pegawai tetap atau pensiunan yang dipotong pajak untuk

setiap bulan adalah jumlah penghasilan bruto setelah dikurangi dengan biaya

jabatan atau biaya pensiun yang besarnya ditetapkan dengan Peratutan

Menteri Keuangan, iuran pensiun, dan Penghasilan Tidak Kena Pajak.

(4) Penghasilan pegawai harian, mingguan, serta pegawai tidak tetap lainnya

yang dipotong pajak adalah jumlah penghasilan bruto setelah dikurangi bagian

penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan yang besarnya ditetapkan

dengan Peraturan Menteri Keuangan.

(5) Tarif pemotongan atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

adalah tarif pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) kecuali

ditetapkan lain dengan Peraturan Pemerintah.

(5a) Besarnya tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (5) yang diterapkan

terhadap Wajib Pajak yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak lebih

tinggi 20% (dua puluh persen) daripada tarif yang diterapkan terhadap Wajib

Pajak yang dapat menunjukkan Nomor Pokok Wajib Pajak.

20

(6) Dihapus

(7) Dihapus

(8) Ketentuan mengenai petunjuk pelaksanaan pemotongan pajak atas

penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan diatur dengan

atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

2.4.3 Penerima penghasilan yang tidak dipotong PPh Pasal 21

Penerima penghasilan yang tidak dipotong PPh Pasal 21 adalah sebagai

berikut:

1. Pejabat perwakilan diplomatic dan konsulat atau pejabat lain dari negara

asing, dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja

pada dan bertempat tinggal bersama mereka, dengan syarat:

- Bukan warga begara Indonesia dan

- Tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatannya di

Indonesia.

2. Pejabat pewakilan organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam

Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 611/KMK.04/1994 tanggal 23

Desember 1994 sepanjang bukan warga negara Indonesia dan tidak

menjalankan usaha atau melakukan kegiatan atau pekerjaan lain untuk

memperoleh penghasilan di Indonesia.

2.4.4 Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21

Penghasilan yang dikenakan pemotongan PPh Pasal 21 yaotu sebagai berikut:

1. Penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai atau penerima pension

sevara teratur berupa gaji, uang pension bulanan, upah, honorium

21

(termasuk honorium anggota dewan komisaris atau anggota dewan

pengawas), premi bulanan, uang lembur, uang tunggu, uang ganti rugi,

tunjangan isteri, tunjangan anak, tunjangan pajak, tunjangan iuran pension,

tunjangan pendidikan anak, beasiswa, premi asuransi yang dibayar pemberi

kerja dan penghasilan teratur lainnya dengan nama apapun.

2. Penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai, penerima pension atau

mantan pegawai secara tidak teratur berupa jasa produksi, tantiem

gratifikasi, tunjangan cuti, tunjangan hari raya, tunjangan tahun baru,

bonus, premi tahunan, dan penghasilan sejenis lainnya yang sifatnya tidak

tetap.

3. Upah harian, upah mingguan, upah satuan dan upah borongan yang

diterima atau diperoleh pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, serta

uang saku harian mingguan yang diterima peserta pendidikan, pelatihan

atau pemagangan yang mrupakan calon pegawai.

4. Uang tebusan pensiun, uang Tabungan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua,

uang pesangon dan pembayaran lain sejenis sehubungan dengan pemutusan

hubungan kerja.

5. Honorium uang saku, hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam

bentuk apapun komisi, beasiswa, dan pembayaran lain sebagai imbalan

sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh

Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri.

6. Gaji, gaji kehormatan, tunjangan-tunjangan lain yang terkait dengan gaji

dan honorium atau imbalan lain yang bersifat tidak tetap yang diterima

22

oleh Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil serta uang pension dan

tunjangan-tunjangan lain yang sifatnya terkait dengan uang pensiun yang

diterima oleh pensiunan termasuk janda atau duda atau anak-anaknya.

2.4.5 Penghasilan yang Tidak Dipotong PPh Pasal 21

Yang tidak termasuk penghasilan yang dipotong PPh pasal 21 yaitu:

1. Pembayaran asuransi pada asuransi kecelakaan, asuransi kesehatan,

asuransi jiwa, asuransi beasiswa, dan asuransi dwiguna.

2. Iuran pensiun yang dibayar kepada dana pensiun yang pendiriannya telah

dilakukan oleh Menteri Keuangan dan Iuran Jaminan Hari Tua kepada

badan penyelenggara Jamsostek yang dibayarkan oleh pemberi kerja.

3. Penerima dalam bentuk natura dan kenikmatan kecuali bentuk natura yang

diatur dalam Keputusan Dirjen Pajak.

4. Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lain dengan nama apapun

yang diberikan oleh pemerintah.

5. Pajak yang ditanggung oleh pemberi kerja.

6. Zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari lembaga atau

badan amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah.

2.4.6 Kewajiban Pemotong Pajak PPh Pasal 21

Kewajiban daripada pemotong pajak PPh Pasal 21 yaitu:

1. Pemotong pajak pasal 21 wajib memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal

21 (KP.PPh.2.1/BP-95) baik diminta maupun tidak pada saat dilakukannya

pemotongan pajak kepada orang pribadi bukan sebagai pegawai tetap,

23

penerima uang tebusan pensiun, penerima THT, penerima pesangon, dan

penerima dana pensiun iuran pasti.

2. Pemotong Pajak PPh Pasal 21 wajib memberikan Bukti Pemotongan PPh

Pasal 21 tahunan (form 1721-A1 atau 1721-A2) kepada pegawai tetap,

termasuk penerima pensiun bulanan dalam waktu dua bulan setelah tahun

takwim berakhir.

3. Apabila pegawai tetap berhenti bekerja atau pensiun pada bagian tahun

takwim, maka Bukti Pemotongan (form 1721-A1 atau 1721-A2_ diberikan

oleh pemberi kerja selambat-lambatnya satu bulan setelah pegawai yang

bersangkutan berhenti bekerja atau pensiun.

4. Penerima penghasilan wajib menyerahkan surat pernyataan kepada

Pemotong Pajak Pasal 21 yang menyatakan jumlah tanggungan keluarga

pada permulaan tahun takwim atau pada permulaan menjadi Subyek Pajak

dalam negeri.

5. Untuk melaksanakan kewajiban PPh Pasal 21, Pemotong Pajak PPh Pasal

21/pemberi kerja agar menggunakan Buku Petunjuk Pemotongan PPh

Pasal 21.

2.4.7 Penghasilan Tidak Kena Pajak

Untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak dari Wajib Pajak orang

pribadi dalam negeri, penghasilan netonya dikurangi dengan jumlah Penghasilan

Tidak Kena Pajak. Di samping untuk dirinya, kepada Wajib Pajak yang sudah

kawin diberikan tambahan Penghasilan idak Kena Pajak per tahun sesuai dengan

pasal 7 ayat (1) UU RI No 36 tahun 2008, diberikan paling sedikit sebesar:

24

1. Rp 15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah)

untuk diri Wajib Pajak orang pribadi.

2. Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) tambahan

untuk Wajib Pajak yang kawin.

3. Rp 15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah)

tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan

penghasilan suami.

4. Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) tambahan

untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis

keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya,

paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.

Penetapan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 ditentukan oleh

keadaan pada awal tahun pajak atau awal bagian tahun pajak.

2.4.8 Tarif Pajak Penghasilan

Sesuai dengan pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 36 tentang

Pajak Penghasilan, besarnya tarif pajak yang ditetapkan atas Penghasilan Kena

Pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 2.1 Tarif pajak penghasilan pasal 21

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak

Sampai dengan Rp. 50.000.000,00 (lima puluh

juta rupiah) 5 % (lima persen)

25

Diatas Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta

rupiah) sampai dengan Rp. 250.000.000,00

(dua ratus lima puluh juta rupiah)

15 % (lima belas persen)

Diatas Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima

puluh juta rupiah) sampai dengan Rp.

500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

25 % (dua puluh lima

persen)

Diatas Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta

rupiah) 30 (tiga puluh persen)

2.5 Object Oriented Analysis and Design

2.5.1 Pengertian Objek dan Class

Menurut Mathiassen et al. (2000, p.4), Object : an entity with identity, state,

and behavior. Objek adalah sebuah entitas yang memiliki identitas, status dan

behavior. Sedangkan Class : a description of a collection of objects sharing

structure, behavioral pattern, and attribute, yang diartikan sebagai sebuah

gambaran dari sekelompok objek yang memiliki sturcture, behavioral pattern, dan

attributes.

Menurut Simon Bennett et al. (2006, p71), Objects that are sufficiently similar

to each other are said to belong the same class. Instance is another word for a single

object, but it also carries connotations of the class to which that object belongs. So

like an object, an instance represents a single person, thing or concept in the

application domain. Class adalah sebuah konsep yang menggambarkan sekumpulan

objek yang dispesifikasikan dengan cara yang sama. Sebuah objek dapat disebut

26

sebagai instance. Instance akan merepresentasikan seseorang, benda atau konsep

pada application domain.

Menurut Kathy dan Bert (2005, p35), A class is not an object. (but its used to

construct them). A class is a blueprint for an object. Class bukan sebuah objek

(namun untuk membuatnya). Class adalah rincian detil untuk sebuah objek.

Jadi dapat disimpulkan bahwa sebuah class dapat dijadikan sebagai beberapa

objek, karena sebuah objek dibentuk berdasarkan class. Class perlu dibuat terlebih

dahulu sebelum membuat objek.

Dalam melakukan analisis sistem, objek digunakan untuk membantu

pemahaman akan konteks sistem (systems context). Sedangkan dalam melakukan

perancangan sistem, objek digunakan untuk membantu pemahaman dan

penggambaran sistem itu sendiri.

2.5.2 Aktivitas Orientasi Objek

Berdasarkan pendapat Lars Mathiassen et al. (2000, p.14) OOA&D covers the

four main activities. Analisa dan perancangan berorientasi objek meliputi empat

pandangan melalui empat kegiatan utama yang terdiri dari dua tahap analisa dan dua

tahap perancangan.

27

Gambar 2.2 Aktivitas orientasi objek

Keuntungan aktivitas berorientasi objek yaitu: abstraksi dan reusable. Aktivitas

ini memperhatikan / berorientasi kepada objek, bukan class. Sehingga hanya yang

dianggap penting yang diperhatikan. Yang dianggap tidak penting, untuk sementara

boleh diabaikan. Objek dibentuk dari class, dan objek tersebut dapat digunakan

berulang-ulang, yang disebut reusable.

Dalam analisis dan perancangan berorientasi objek, dikenal istilah

encapsulation, polymorphism, dan inheritance.

Menurut Brett, Gary, dan David (2006, p.28), Encapsulation allows you to

hide the inner workings of your applications part. Enkapsulasi mengijinkan untuk

menyembunyikan pekerjaan dalam dari bagian aplikasi.

28

Menurut Simon Bennett et al. (2006, p.81), Polymorphism literally means, an

ability to appear as many forms. Maka polymorphism adalah kemampuan untuk

memiliki banyak bentuk.

Menurut Matt Weisfeld (2004, p.27), Polymorphism means that similar

objects can respond to the same message in different manners. Diterjemahkan

menjadi polymorphism dapat diartikan beberapa objek merespon pesan yang sama

dengan cara yang berbeda.

Menurut Matt Weisfeld (2004, p.21), Inheritance allows a class to inherit the

attributes and methods of another class. Inheritance digunakan untuk menurunkan

sifat (attributes dan methods) suatu class ke class lain. Class yang menurunkan sifat

disebut superclass, sedangkan class yang menerima sifat disebut subclasses.

2.5.3 System Definition

Menurut Mathiassen et al. (2000, p.24), System definition is a concise

description of a computerized system expressed in natural language. Dapat

diartikan sebagai gambaran atau penjelasan deskripsi singkat dari sistem yang

terkomputerisasi dengan penggunaan bahasa sehari-hari.

2.5.3.1 Rich Picture

Berdasarkan pendapat Lars Mathiassen et al. (2000, p.26), A rich

picture is an informal drawing that presents the illustrators understanding of

a situation. Dapat diterjemahkan sebagai, rich picture adalah gambaran yang

menunjukkan pemahaman tentang sebuah situasi. Biasanya digunakan untuk

menggambarkan proses bisnis suatu perusahaan.

29

2.5.3.2 FACTOR

Lars Mathiassen et al berpendapat (2000, p.39), The FACTOR

criterion consists of six elements:

1. Functionality : the system functions that support the application

demand tasks.

2. Application domain : those parts of an organization that

administrate, monitor, or control a problem domain.

3. Conditions : the conditions under which the system will be

developed and used.

4. Technology : both technology used to develop the system and the

technology on which the system will run.

5. Objects : the main objects in the problem domain.

6. Responsibility : the sytems overall responsibility in relation to its

context.

Kriteria FACTOR terdiri dari enam elemen, yaitu :

7. Functionality : fungsi dari system yang mendukung tugas-tugas

dari application domain.

8. Application domain : bagian dari organisasi yang

mengadministrasi, mengawasi, dan mengontrol problem domain.

9. Conditions : kondisi dimana system dikembangkan dan

digunakan.

30

10. Technology : teknologi yang digunakan untuk mengembangkan

sistem dan teknologi yang digunakan untuk menjalankan sistem.

11. Objects : objek utama dalam problem domain.

12. Responsibility : tanggung jawab sistem secara keseluruhan

terhadap konteks dari sistem tersebut.

2.5.4 Problem Domain Analysis

2.5.4.1 Pengertian Problem Domain

Berdasarkan pendapat Lars Mathiassen et al. (2000,p.6) Problem

domain : that part of a context that is administrated, monitored or controlled

by a system. Yang dapat diterjemahkan sebagai Problem domain adalah

keadaan nyata yang dapat dilakukan, dipantau atau dikendalikan oleh sistem.

Analisa Problem domain dapat membantu dalam mengidentifikasi dan

membuat model atau tiruan dari problem domain yang digambarkan dalam

bentuk event table, class diagram, dan statechart diagram.

2.5.4.2 Pengertian Class, Event, dan Behavior

Menurut Atul Kahate (2004, p.262), A class is a representation of a

real-world object. A class consists of attributes and methods. Yang dapat

diterjemahkan sebagai Class merupakan representasi dari objek. Sebuah class

memiliki atribut dan method.

Menurut Lars Mathiassen et al. (2000, p.53) Class is a description of

a collection of objects sharing structure, behavioural pattern and attributes.

31

Jadi class adalah gambaran dari sekumpulan objek yang memiliki sturcture,

behavioral pattern, dan attributes.

Lars Mathiassen et al. berpendapat (2000, p.74) A cluster is a

collection of classes that helps us achieve and provide a problem-domain

overview. Classes within a cluster are usually connected by either a

generalization structure or an aggregation structure. Jadi cluster merupakan

sekumpulan class untuk menggambarkan garis besar problem domain. Class

pada sebuah cluster biasanya dihubungkan dengan struktur generalisasi atau

agregasi.

Menurut Lars Mathiassen et al. (2000, p.51) Event is an

instantaneous incident involving one or more objects. Yang diterjemahkan

sebagai Event adalah kejadian seketika yang melibatkan satu atau lebih objek.

Menurut Mathiassen et al. (2000, p.90, p.93), Behavioral pattern : A

description of possible event traces for all objects in a class. Sequence : Events

in a set occur one by one. Selection : Exactly one out a set of events occurs.

Iteration : An event oocurs zero or more times. Dalam aktivitas behavior,

class yang digambarkan dalam class diagram, diperluas dengan menambahkan

behavioral pattern dan attribute dari masing-masing class. Terdapat 3 (tiga)

jenis notasi behavioural pattern yaitu: Sequence, Selection, dan Iteration.

32

Gambar 2.3 Contoh statechart diagram

2.5.5 Application Domain Analysis

2.5.5.1 Pengertian Application Domain

Menurut Lars Mathiassen et al. (2000, p.6) Application domain : The

organization that administrates, monitors, or controls a problem domain.

Yang dapat diterjemahkan sebagai Application domain adalah organisasi yang

mengatur, mengawasi atau mengendalikan sebuah problem domain. Hasil dari

analisa application domain dibuat dalam bentuk usecase, sequence diagram,

function list, dan interface.

2.5.5.2 Pengertian Usage, Function dan Interface

Menurut Lars Mathiassen et al. (2000, p.119), Analyzing an existing

application domain can create a huge amount of detailed information that has

little value to the development process. For efficiency, you must maintain a

relevant level of abstraction and focus on the interaction between users and the

system. Menganalisis application domain yang ada dapat menghasilkan

rincian informasi yang sangat banyak, dimana informasi-informasi tersebut

33

hanya memberikan sedikit bantuan terhadap proses pengembangan. Untuk itu,

tingkat abstaksi haruslah ditentukan dan fokus terhadap interkasi antara sistem

dan penggunanya.

Lars Mathiassen et al. berpendapat (2000, p.120), Use case : A

pattern for interaction between the system and actors in the application

domain. Use case merupakan sebuah pola interaksi antara sistem dengan

aktor pada application domain.

Berdasarkan pendapat Deacon John (2009, p.73), A use case scenario

describes an example of the system-to-be in action. Penggunaan use case

dapat membantu mengatasi masalah tersebut. Dimana use case diartikan

sebagai pola interaksi antara sistem dan aktor dalam application domain.

Menurut Simon Bennett (2006, p.145), Use cases are descriptions of

the functionality of the system from the users prespective. Dapat

diterjemahkan menjadi, use case adalah gambaran fungsi sistem dari sudut

pandang pengguna sistem. Use case juga akan menggambarkan pengguna mana

yang akan berkomunikasi dengan sistem untuk menjalankan fungsi yang ada.

Mathiassen et al. (2000, p.138) berpendapat Function is a facility for

making a model useful for actor. Diterjemahkan menjadi : function adalah

fasilitas yang membuat model berguna bagi actor. Tipe-tipe function yaitu :

update, signal, read dan compute.

Mathiassen et al. (2000, p.151) menyatakan, Interface is a facilities

that make a systems model and functions available to actor. Dapat diartikan

sebagai berikut: Interface yaitu suatu fasilitas untuk membuat suatu sistem

34

model dan fungsi-fungsi yang tersedia bagi aktor. Sedangkan menurut Atul

Kahate (2004, p.264), sebuah interface berfungsi untuk merepresentasikan

class pada lingkungan eksternal (user).

2.5.5.3 Sequence Diagram

Menurut Simon Bennet et al. (2006, p252), An interaction sequence

diagram (or simply a sequence diagram) is one of several kinds of UML

interaction diagram which is semantically equivalent to a communication

diagram for simple interactions. Dapat diterjemahkan menjadi sequence

diagram adalah salah satu jenis diagram interaksi pada UML yang juga

merupakan diagram komunikasi untuk interaksi sedarhana. Sequence diagram

menggambarkan interaksi antara objek yang sesuai dengan alur waktu.

2.5.6 Architectural Design

2.5.6.1 Pengertian Architectural Design

Lars Mathiassen et al. menyatakan (2000, p173), Successful system

are distinguished from less successful ones by a powerful architectural design.

The architecture structures a system according to parts and satisfies certain

design criteria. Kesuksesan suatu sistem ditentukan dari kekokohan desain

arsitekturnya. Arsitektur membuat sistem berdasarkan kebutuhan dan kriteria

desain sistem tersebut. Architectural design terdiri dari 3 (tiga) aktivitas yaitu :

Criteria, Components, dan Processes.

35

Gambar 2.4 Aktivitas architectural design

2.5.6.2 Pengertian Criteria

Mathiassen et al. (2000, p.177) menyatakan, Result : A collection of

prioritized criteria. A good design has no major weaknesses. A good design

balances several criteria. A good design is usable, flexible, and

comprehensible. Tujuan dari sebuah criteria adalah untuk mempersiapkan

prioritas dari sebuah perancangan. Sebuah perancangan yang baik harus tidak

memiliki kelemahan yang besar, keseimbangan antar kriteria, dan harus usable,

flexible, dan comprehensible.

2.5.6.3 Pengertian Component Architecture

Lars Mathiassen et al. berpendapat (2000, p.190), Component : A

collection of program parts that constitutes a whole and has well-defined

responsibilities. Sedangkan Component Architecture diartikan sebagai

struktur sistem yang terbentuk dari komponen yang saling berhubungan.

36

Menurut Atul Kahate (2004, p.269), Class represents a logical view.

Component represents a physical view e.g. document, executable file, source

file, data file, table. Location, library file. Jadi class lebih bersifat logis

sedangkan component lebih bersifat fisik (komputerisasi)

Menurut pendapat Mathiassen et al. (2000, p.189), Reduce

complexity by separating concerns. Reflect stable context structures. Reuse

existing components. Suatu component architecture yang baik menunjukkan

beberapa prinsip, yaitu mengurangi kompleksitas dengan membagi menjadi

beberapa tugas, menggambarkan stabilitas dari konteks sistem, dan

memungkinkan suatu komponen dapat digunakan pada bagian lain.

Uraian umum dan solusi yang dapat dilakukan dalam component

architecture yaitu : Layered, Generic, dan Client-Server Architecture Pattern.

Layered Architecture Pattern merupakan bentuk arsitektur yang paling

sederhana. Component hanya bertanggung jawab secara upward atau

downward.

Gambar 2.5 Layered architecture pattern

37

Pada generic architecture pattern, model component terletak pada

lapisan (layer) bawah, kemudian function component terletak di atasnya, dan

interface terletak pada lapisan teratas. Biasanya lapisan paling bawah pada

generic architecture pattern yaitu technical platform component.

Gambar 2.6 Generic architecture pattern

Client server architecture pattern digunakan apabila prosesor terpisah

secara geografis. Pattern ini terdiri dari server dan beberapa client.

Gambar 2.7 Client-server architecture pattern

38

Tabel 2.2 Bentuk distribusi client-server architecture.

Client Server Architecture U U+F+M Distributed presentation U F+M Local presentation U+F F+M Distributed functionality U+F M Centralized data U+F+M M Distributed data Sumber : Lars Mathiassen et al. (2000, p.200) 2.5.6.4 Pengertian Process Architecture

Menurut Lars Mathiassen et al. (2000, p.211) Process architecture is

a system execution structure composed of interdependent processes. Process

architecture lebih dekat dengan perangkat keras (hardware). Hasil dari proses

ini yaitu deployment diagram yang mendeskripsikan distribusi dan kolaborasi

komponen-komponen program dan active objects pada prosesor.

Menurut Simon Bennett (2006, p.558), Deployment diagrams are

used to show the configuration of run-time processing elements and the

software components, artefacts and processes that are located on them.

Terdapat tiga jenis pola distribution pattern, yaitu : the centralized

pattern, the distributed pattern, dan the decentralized pattern. Kelebihan

centralized pattern yaitu biaya yang rendah untuk client, data lebih konsisten,

dan jaringan yang digunakan cukup sederhana. Namun kekurangannya yaitu

rendahnya robustness, waktu akses lebih tinggi karena data digunakan

bersama, serta tidak memiliki backup.

Kelebihan distributed pattern yaitu waktu akses lebih sedikit,

tingginya robustness, dan memiliki backup. Kelemahan decentralized pattern

39

yaitu penggandaan data, lalu lintas pada jaringan menjadi lebih tinggi, biaya

untuk client lebih tinggi, dan arsitektur bersifat lebih rumit.

Kelebihan decentralized pattern yaitu data yang konsisten dan waktu

akses lebih rendah. Sedangkan kelemahannya yaitu biaya untuk prosesor /

perangkat keras lebih besar.

2.5.7 Component Design

Perancangan komponen dilakukan untuk menentukan keperluan-keperluan

yang berhubungan dengan pengimplementasian pada kerangka arsitektur. Terdiri

dari tiga aktivitas, yaitu : model component, function component, dan connecting

component.

2.5.7.1 Pengertian Model Component

Menurut Lars Mathiassen et al. (2000, p.236) Model component is a

part of a system that implements the problem domain model yang diartikan

sebagai Model component adalah bagian dari sistem yang

mengimplementasikan model problem domain. Tujuan dari model component

yaitu menyampaikan data sekarang dan data historis kepada function, interface,

dan kepada para pengguna sistem maupun kepada sistem lain. Hasil dari

aktivitas model component yaitu class diagram yang direvisi. Revisi terdiri

dari penambahan class, attributes, dan structure yang merepresentasikan event.

Event yang hanya terlibat dalam sebuah objek disebut private event.

Sedangkan event yang terlibat dalam beberapa objek disebut common events.

40

Pengubahan (revisi) class dapat dilakukan dengan cara: generalization,

association, dan embedded iterations.

2.5.7.2 Pengertian Function Component

Menurut Lars Mathiassen et al. (2000, p.252) Function component is

a part of a system that implements functional requirements yang diartikan

sebagai Function component yaitu bagian dari sistem yang

mengimplementasikan kebutuhan fungsional. Tujuan dari function component

yaitu menghubungkan pengguna sistem atau sistem lain dengan model.

Function dapat dirancang sebagai operasi, yaitu : update, read, compute, dan

signal.

Function dirancang dan diimplementasikan menggunakan operation

dalam class. Operation dapat diartikan sebagai behavior yang dapat diaktifkan

melalui sebuah objek. Operation juga dapat diartikan sebagai prosedur.

2.5.7.3 Pengertian Connecting Components

Aktivitas ini bertujuan untuk menghubungan komponen-komponen

sistem. Coupling dan cohesion adalah standard kualitas yang diukur dengan

mengevaluasi class diagram komponen yang bersangkutan. Coupling adalah

ukuran seberapa erat hubungan antara dua class atau komponen. Sedangkan

cohesion adalah ukuran seberapa erat hubungan dalam sebuah class atau

komponen.

Menurut Simon Bennett (2006, p.382), Interaction coupling should

be kept to a minimum to reduce the possibility of changes rippling through the

interfaces and to make reuse easier. Good design produces highly cohesive

41

operations, each of which deals with a single functional requirement. Sebuah

sistem yang baik, hendaknya memiliki coupling yang rendah dan cohesion yang

tinggi.

Menurut Lars Mathiassen et al. (2000, p.275), There are three forms

of connection. Aggregating another components classes. Specializing another

components public class. Calling public operations in another components

objects. terdapat tiga bentuk hubungan antar komponen, yaitu :

Mengaggregasikan class component lain.

Mengspesialisasikan class component public lain..

Memanggil public operation dari komponen objek lain..

2.5.8 Pengertian Dokumentasi

Berdasarkan pendapat Lars Mathiassen et al. (2000, p.300), In system

development, documents play central role and serve different needs, acting as : work

tools that collect and structure subresults as they are produced. Control tools to

measure work progress, and tools that retain agreements about system requirements

and design. Dokumentasi dibuat dalam bentuk dokumen analisis dan dokumen

perancangan. Dokumen analisis membentuk dasar dari requirement specification,

yang merupakan kesepakatan / persetujuan antara user dengan pengembang sistem.

Sedangkan dokumen perancangan berperan sebagai kerangka referensi bagi

programer.

Dokumentasi dilakukan dengan tujuan sebagai alat kerja yang mengumpulkan

dan menyusun apa yang telah dihasilkan, sebagai alat untuk mengukur kemajuan

42

kerja, dan sebagai alat untuk menyimpan kesepakatan / persetujuan mengenai system

requirement dan perancangan.