116
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes merupakan global killer yang menyebabkan kematian yang jauh lebih banyak dari pada HIV/AIDS (Apriyanti, 2012). Apabila penyakit diabetes melitus dibiarkan begitu saja atau penderita tidak menyadari telah menderita diabetes, keadaan hiperglikeminya yang berlangsung bertahun-tahun akan menimbulkan berbagai komplikasi dan kematian (Dalimartha, 2012). Penyakit yang di derita dan pengobatan yang di jalani dapat mempengaruhi kapasitas fungsional, psikologis dan kesehatan sosial serta kesejahteraan penderita diabetes yang didefinisikan sebagai kualitas hidup (Quality of Life) (WHO, 2004). Pada penderita diabetes yang cenderung mengalami banyak stresor akibat perkembangan penyakit maupun pengelolaanya akan mengalami perubahan pada kualitas 1

Bab 123 Q

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Bab 123 Q

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diabetes merupakan global killer yang menyebabkan kematian yang

jauh lebih banyak dari pada HIV/AIDS (Apriyanti, 2012). Apabila penyakit

diabetes melitus dibiarkan begitu saja atau penderita tidak menyadari telah

menderita diabetes, keadaan hiperglikeminya yang berlangsung bertahun-

tahun akan menimbulkan berbagai komplikasi dan kematian (Dalimartha,

2012). Penyakit yang di derita dan pengobatan yang di jalani dapat

mempengaruhi kapasitas fungsional, psikologis dan kesehatan sosial serta

kesejahteraan penderita diabetes yang didefinisikan sebagai kualitas hidup

(Quality of Life) (WHO, 2004). Pada penderita diabetes yang cenderung

mengalami banyak stresor akibat perkembangan penyakit maupun

pengelolaanya akan mengalami perubahan pada kualitas hidupnya dan hal

tersebut dapat dipengaruhi oleh dukungan keluarga (Sarafino, 2006). Hal ini

sesuai dengan teori yang menjelaskan bahwa dukungan keluarga dapat

mempengaruhi kondisi fisik dan psikologis penderita diabetes dengan

melindunginya dari efek negatif yang timbul dari stresor yang dialami

penderita diabetes (Rifki, 2009). Oleh karena itu, menurunnya dukungan

keluarga yang dirasakan penderita diabetes dapat melemahkan kemampuan

individu dalam mengatasi permasalahan hidup sehingga menurunkan kualitas

hidupnya (Sarafino, 2006). Berdasarkan studi pendahuluan pada tanggal 20

1

Page 2: Bab 123 Q

Juni 2013 melalui wawancara dengan 16 penderita diabetes di Poli Dalam

RSUD Nganjuk ditemukan bahwa 9 orang khawatir akan kemungkinan

komplikasi yang terjadi pada diri mereka seperti borok atau luka yang tidak

sembuh. Sedangkan 7 penderita yang lain mengatakan keluarganya jarang

mengingatkan untuk kontrol kembali.

Diabetes menyerang semua populasi dan jumlah ini terus bertambah.

Lebih dari 240 juta orang di dunia saat ini mengidap diabetes, angka ini terus

bertambah hingga lebih dari 380 juta pada tahun 2025. Dibeberapa negara di

Asia, Timur Tengah, Oceania dan Karibia, diabetes 12 – 20 % dari polulasi

terkena diabetes (Apriyanti, 2012). Menurut survei yang dilakukan oleh

WHO, jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia pada tahun 2000

terdapat 8,4 juta orang, jumlah tersebut menempati urutan ke-4 terbesar di

dunia, sedangkan urutan diatasnya adalah India (17,7 juta), Cina (20,8 juta),

dan Amerilka Serikat (30,3 juta) dan Indonesia (21,3 juta) (Depkes RI, 2008).

Berdasarkan data dari rekam medik RSUD Nganjuk jumlah kunjungan

diabetes melitus tiap tahun mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2010

sebanyak 7665, pada tahun 2012 meningkat menjadi 7757. Dan kembali

meningkat pada tahun 2012 yaitu sebanyak 8385 kunjungan.

Diabetes melitus merupakan suatu gangguan kronis yang ditandai

dengan metabolisme karbohidrat dan lemak yang relatif kekurangan insulin

(Hasdianah, 2012). Penyebab kematian terbanyak pada penderita diabetes

disebabkan adanya komplikasi, komplikasi yang berbahaya sehingga perlu

2

Page 3: Bab 123 Q

dihindari adalah akibat gangguan pembuluh darah kecil atau mikrovascular

dan neuropati pada saraf otonom yang menyebabkan penyakit gawat,

diantaranya infark jantung dan gagal ginjal (Sutedjo, 2010). Friedman (2003)

menunjukkan bahwa dengan adanya dukungan emosional didalam keluarga,

secara positif akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

anggotanya. Setiadi (2008) juga mengatakan bahwa bentuk dukungan

emosional berupa dukungan simpati dan empati, cinta, kepercayaan dan

penghargaan. Dengan demikian seseorang yang menghadapi persoalan merasa

dirinya tidak menanggung beban sendiri tetapi masih ada orang lain yang

memperhatikan, mau mendengar segala keluhannya, dan berempati terhadap

persoalan yang dihadapinya, bahkan mau membantu memecahkan masalah

yang dihadap (Sarafino, 2006). Hal ini memberikan efek terhadap kualitas

hidup pasien, penurunan kualitas hidup mempunyai hubungan yang

signifikan terhadap angka kesakitan dan kematian serta mempengaruhi

harapan hidup pasien diabetes (WHO, 2006).

Sebagai antisipasi adanya komplikasi, diperlukan tindakan pencegahan

dan pengendalian (Dalimartha, 2012). Karena diabetes melitus merupakan

salah satu penyakit kronik, timbul kejenuhan atau kebosanan pada pasien

mengenai jadwal pengobatan terdahulu, oleh karena itu untuk mengatasi ini

perlu tindakan terhadap faktor psikologis dalam penyelesaian masalah

diabetes melitus. Dukungan keluarga merupakan indikator yang paling kuat

memberikan dampak positif terhadap perawatan pada pasien diabetes

3

Page 4: Bab 123 Q

(Hansarling, 2009). Keikutsertaan anggota keluarga lainya dalam pengobatan,

diet, latihan jasmani dan pengisian waktu luang yang positif bagi kesehatan

merupakan bentuk peran aktif bagi keberhasilan penatalaksanaan diabetes

melitus (Dalimartha, 2012). Pembinaan terhadap anggota keluarga lainnya

untuk bekerja sama meyelesaikan masalah diabetes dalam keluarganya, hanya

dapat dilakukan bila sudah terjalin hubungan yang erat antara pihak pasien

dan keluarganya (Rifki, 2009). Berdasarkan semua uraian diatas, peneliti

tertarik mengambil judul penelitian “Hubungan dukungan keluarga dengan

kualitas hidup pasien diabetes melitus di Poli Dalam RSUD Nganjuk”

B. Rumusan Masalah

“Apakah ada hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup

pasien diabetes melitus di Poli Dalam RSUD Nganjuk?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup

pasien diabetes melitus di Poli Dalam RSUD Nganjuk.

2. Tujuan khusus

a. Mengidentifikasi dukungan keluarga pada penderita diabetes melitus

di Poli Dalam RSUD Nganjuk.

4

Page 5: Bab 123 Q

b. Mengidentifikasi kualitas hidup pada penderita diabetes melitus di

Poli Dalam RSUD Nganjuk.

c. Menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup

pasien diabetes melitus di Poli Dalam RSUD Nganjuk.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Hasil dari penelitian ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan

tentang manfaat dukungan keluarga tentang kualitas hidup penderita

diabetes.

2. Responden.

Memberikan informasi dan wawasan bagi responden tentang pentingnya

dukungan keluarga guna meningkatkan kualitas hidup bagi penderita

diabetes melitus.

3. Instansi Penelitian.

Penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar dalam memberikan pelayan

keperawatan pada pasien secara komprehensif dan berkualitas yang

melibatkan dukungan keluarga dalam pengelolaan penyakit diabetes

melitus.

4. Bagi Masyarakat

Memberikan informasi dan menambah pengetahuan kepada masyarakat

tentang pentingnya dukungan keluarga pada penderita diabetes melitus

guna meningkatkan kualitas hidup.

5

Page 6: Bab 123 Q

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan diuraikan tentang konsep dasar dalam penelitian ini yaitu

konsep diabetes melitus, konsep dukungan keluarga, dan konsep kualitas hidup.

Dalam bab ini disajikan pula kerangka konseptual serta hipotesis dalam penelitian ini.

A. KONSEP DASAR

1. Konsep Diabetes melitus

a. Pengertian Diabetes melitus

Diabetes melitus yang oleh masyarakat umum disebut kencing

manis adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidakmampuan

tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan

yang tidak efektif dari produksi insulin (Susilo, 2011).

Diabetes melitus adalah suatu kondisi dimana kadar gula di dalam

darah lebih tinggi dari biasa/normal (normal: 60 mg/dl sampai dengan

145 mg/dl), karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan

hormon insulin secara cukup (Maulana, 2008).

Penyakit Diabetes melitus merupakan penyakit gangguan

metabolik terutama metabolisme karbohidrat yang disebabkan oleh

berkurangnya atau ketiadaan hormon insulin dari sel beta pankreas,

atau akibat gangguan fungsi insulin, atau keduanya (Sutedjo, 2010)

6

Page 7: Bab 123 Q

b. Penyebab Diabetes melitus

Diabetes melitus disebabkan karena berkurangnya produksi dan

ketersediaan insulin dalam tubuh atau terjadinya gangguan fungsi

insulin yang sebenarnya berjumlah cukup. Kekurangan insulin

disebabkan adanya kerusakan sebagian kecil atau sebagian besar sel-sel

pulau langerhans dalam kelenjar pankreas yang berfungsi menghasilkan

insulin. Beberapa faktor yang menyebabkan diabetes melitus sebagai

berikut :

1) Genetik atau faktor keturunan.

Diabetes melitus cenderung diturunkan atau diwariskan, bukan

ditularkan. Anggota keluarga penderita diabetes melitus memiliki

kemungkinan besar terserang penyakit ini dibandingkan dengan

anggota keluarga yang tidak menderita diabetes melitus. Para ahli

kesehatan juga menyebutkan diabetes melitus merupakan

penyakit yang terpaut kromosom seks atau kelamin. Biasanya

kaum laki-laki menjadi penderita sesungguhnya, sedangkan kaum

perempuan sebagai pihak yang membawa gen untuk diwariskan

kepada anak-anaknya.

2) Virus dan bakteri.

Virus penyebab diabetes melitus adalah rubela, mumps, dan

human coxsackievirus B4. Melalui mekanisme infeksi sitolitik

dalam sel. Bisa juga, virus ini menyerang melalui reaksi

7

Page 8: Bab 123 Q

otoimunitas yang menyebabkan hilangnya otoimun dalam sel

beta. Diabetes melitus akibat bakteri masih belum bisa dideteksi.

Namun, para ahli kesehatan menduga bakteri cukup berperan

menyebabkan diabetes melitus.

3) Bahan toksik atau beracun.

Bahan beracun yang mampu merusak sel beta secara langsung

adalah alloxan, pyrinuron (rodentisida) dan strepzoctin (produk

dari sejenis jamur). Bahan lain adalah sianida yang berasal dari

singkong.

4) Nutrisi.

Nutrisi yang berlebihan (overnutrition) merupakan faktor

resiko pertama yang diketahui menyebabkan diabetes melitus.

Semakin berat badan berlebih atau obesitas akibat nutrisi yang

berlebihan, semakin besar kemungkinan seseorang terjangkit

diabetes melitus.

5) Kadar kortikosteroid yang tinggi.

6) Kehamilan diabetes gestasional, yang akan hilang setelah

melahirkan.

7) Obat-obatan yang dapat merusak pankreas.

8) Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek dari insulin.

(Maulana, 2008).

8

Page 9: Bab 123 Q

c. Tipe-Tipe Diabetes melitus

Menurut Sutanto (2013) penyakit Diabetes terdiri dari tiga tipe

utama, yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2.

1) Diabetes tipe 1

Diabetes tipe 1 dikenal juga sebagai juvenile diabetes, diabetes

anak-anak. Penyebutan ini didasarkan karena pada umumnya

penderita berasal dari kelompok anak-anak dan dewasa muda. Tapi

meskipun begitu, Diabetes tipe ini juga bisa menyerang semua

umur. Nama lain dari diabetes tipe 1 adalah insulin-dependent

diabetes, yaitu diabetes yang bergantung pada insulin.

2) Diabetes tipe 2

Diabetes tipe 2 disebut juga sebagai noninsulin-dependent

diabetes, diabetes yang tidak bergantung pada insulin. Ini

merupakan perbedaan diabetes tipe 1 dengan diabetes tipe 2. Pada

diabetes tipe 1 penderita memiliki ketergantungan pada injeksi

insulin, hal ini dikarenakan organ pankreas penderita tidak mampu

memproduksi insulin dengan jumlah yang cukup bahkan tidak

memproduksi sama sekali. Tapi pada diabetes tipe 2, organ

pankreas penderita mampu memproduksi insulin dengan jumlah

yang cukup namun sel-sel tubuh tidak merespon insulin yang ada

dengan benar.

9

Page 10: Bab 123 Q

d. Gejala Diabetes melitus

Menurut Lanywati (2011) gejala klasik penyakit diabetes melitus,

dikenal dengan istilah trio-P, yaitu meliputi poliuria (banyak kencing),

polidipsi (banyak minum) dan polipagio (banyak makan).

1) Poliuria (banyak kencing), merupakan gejala umum pada penderita

Diabetes melitus, banyaknya kencing ini disebabkan kadar gula

dalam darah berlebihan, sehingga merangsang tubuh untuk

berusaha mengeluarkannya melalui ginjal bersama air dan kencing,

gejala banyak kencing ini terutama menonjol pada waktu malam

hari, yaitu saat kadar gula dalam darah relatif tinggi.

2) Polipagio (banyak makan), merupakan gejala yang tidak menonjol.

Terjadinya banyak makan ini disebabkan oleh berkurangnya

cadangan gula dalam tubuh meskipun kadar gula dalam darah

tinggi. Sehingga dengan demikian, tubuh berusaha untuk

memperoleh cadangan gula dari makanan yang diterima.

Gejala-gejala yang biasa tampak pada penderita diabetes melitus

adalah sebagai berikut :

1) Adanya perasaan haus yang terus-menerus.

2) Sering buang air kecil (kencing) dan jumlah yang banyak.

3) Timbulnya rasa letih yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.

4) Timbulnya rasa gatal dan peradangan kulit yang menahun.

10

Page 11: Bab 123 Q

Adapun pada penderita yang berat, akan timbul beberapa gejala

atau tanda yang lain, yaitu sebagai berikut :

1) Terjadinya penurunan berat badan.

2) Timbulnya rasa kesemutan (mati rasa) atau sakit pada tangan atau

kaki.

3) Timbulnya borok (luka) pada kaki yang tak kunjung sembuh.

4) Hilangnya kesadaran diri

e. Pencegahan penyakit diabetes melitus

Beberapa usaha pencegahan yang dapat dilakukan oleh masyarakat

secara umum adalah sebagai berikut :

1) Diet yang baik dan terukur agar berat badan tidak berlebihan.

Usahakan untuk dapat mencapai dan mempertahankan berat badan

normal, atau bahkan berat badan ideal. Jangan makan dalam porsi

yang berlebihan, dan kurangi makan gula atau makanan yang

manis serta berlemak tinggi.

2) Olahraga secara teratur dan terukur, agar kelebihan gula dan lemak

di dalam tubuh dapat berkurang (diubah menjadi energi gerak). Di

samping itu, dengan olahraga secara teratur, otot-otot tubuh akan

menjadi kencang dan organ-organ tubuh dapat bekerja dengan

lebih lancar, baik dan efisien (Lanywati, 2011)

11

Page 12: Bab 123 Q

Sedangkan menurut (Nabyl, 2012) upaya pencegahan

penyakit diabetes melitus dapat dilakukan dengan cara sebagai

berikut:

1) Primer. Ini adalah cara yang paling sulit karena sasarannya

adalah orang-orang yang sehat. Pencegahan primer dilakukan

untuk mencegah agar diabetes melitus tidak terjadi pada orang

atau populasi yang rentan (risiko tinggi), yang dilakukan

sebelum timbulnya tanda-tanda klinis. Adapun caranya adalah:

a) Makan seimbang artinya yang dimakan dan yang

dikeluarkan seimbang disesuaikan dengan aktifitas fisik

dan kondisi tubuh, dengan menghindari makanan yang

mengandung tinggi lemak karena bisa menyebabkan

penyusutan konsumsi energi. Mengkonsumsi makanan

dengan kandungan karbohidrat yang berserat tinggi dan

bukan olahan.

b) Meningkatkan olahraga yang berpengaruh pada sensitifitas

insulin dan menjaga berat badan agar tetap ideal.

c) Kerjasama dan tanggungjawab antara instansi kesehatan,

masyarakat, swasta dan pemerintah, untuk melakukan

penyuluhan kepada masyarakat.

12

Page 13: Bab 123 Q

2) Pencegahan sekunder. Pencegahan ini ditujukan pada

pendeteksian dini diabetes serta penanganan segera dan efektif

sehingga bisa mencegah komplikasi. Hal ini dapat dilakukan

dengan:

a) Screening untuk menemukan penderita sedini mungkin

terutama individu ataupun populasi.

b) Kalaupun ada komplikasi masih reversible (kembali seperti

semula).

c) Penyuluhan kesehatan secara professional dengan

memberikan materi penyuluhan seperti: apa yang dimaksud

dengan diabetes melitus, bagaimana penatalaksanaan

diabetes, obat-obatan untuk mengontrol glukosa darah,

perencanaan makan, dan olahraga.

3) Pencegahan tersier. Upaya ini dilakukan untuk semua penderita

diabetes dengan maksud:

a) Mencegah komplikasi.

b) Mencegah progresi dari komplikasi supaya tidak terjadi

kegagalan organ.

c) Mencegah kecacatan akibat komplikasi yang ditimbulakan.

Adapun strategi yang bisa dilakukan untuk pencegahan

diabetes melitus adalah:

13

Page 14: Bab 123 Q

1) Mengendalikan berat badan, glukosa darah, lipid, tekanan

darah, asam urat.

2) Menghindari gaya hidup berisiko.

3) Mengelola Individual High Risk seperti umur, obesitas,

hipertensi, riwayat keluarga atau keturunan, dislipidemia

atau timbunan lemak dalam darah yang berlebihan, dan

riwayat melahirkan > 4 kg.

f. Komplikasi Diabetes melitus

Kompliksi diabetes melitus dapat muncul secara akut dan kronis,

yaitu timbul beberapa bulan atau beberapa tahun sesudah mengidap

diabetes melitus. Komplikasi akut yang paling sering adalah

hipoglikemia dan koma diabetik. Hipoglikesmia adalah gejala yang

timbul akibat tubuh kekurangan glukosa, dengan tanda-tanda rasa lapar,

gemetar, keringat dingin, dan pusing. Koma diabetis adalah kondisi

yang berlawanan dengan hipoglikemia. Koma diabetis ini timbul

Karena kadar glukosa dalam darah terlalu tinggi, biasanya lebih dari

600 mg/dL. Gejala yang sering timbul adalah nafsu makan menurun,

haus, minum banyak, kencing banyak, kemudian disusul mual, muntah,

nafas penderita menjadi cepat dan dalam serta berbau aseton.

Komplikasi akut disebabkan oleh hiperglikemia parah dan biasanya

disertai dengan pencetus infeksi. Komplikasi kronis ditandai dengan

14

Page 15: Bab 123 Q

kerusakan, disfungsi, dan akhirnya kegagalan berbagai organ, terutama

mata, ginjal, saraf, jantung, dan otak (Susilo, 2011).

Menurut Wijoyo (2012) kadar gula darah yang tinggi terus

menerus dalam darah mengakibatkan rusaknya pembuluh darah, saraf,

dan srtuktur internal lainnya. Oleh karena itu, Diabetes melitus

merupakan penyakit yang menyebabkan paling banyak terjadinya

penyakit lain (komplikasi), antara lain:

1) Zat kompleks yang terdiri dari gula di dalam dinding pembuluh

darah menyebabkan pembuluh darah menebal dan mengalami

kebocoran. Akibat penebalan ini maka aliran darah akan

berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf.

2) Kadar gula darah yang tidak terkontrol juga cenderung

menyebabkan kadar zat berlemak dalam darah meningkat,

sehingga mempercepat terjadinya aterosklerosis (penimbunan plak

lemak di dalam pembuluh darah). Aterosklerosis ini 2-6 kali lebih

sering terjadi pada penderita Diabetes.

3) Sirkulasi darah yang buruk ini melalui pembuluh darah besar

(makro) bisa melukai otak, jantung, dan pembuluh darah kaki

(makroangiopati), sedangkan pembuluh darah kecil (mikro) bisa

melukai mata, ginjal, saraf dan kulit serta memperlambat

penyembuhan luka.

15

Page 16: Bab 123 Q

4) Penderita Diabetes bisa mengalami berbagai komplikasi jangka

panjang jika Diabetesnya tidak dikelola dengan baik. Komplikasi

yang lebih sering terjadi dan mematikan adalah serangan jantung

dan stroke.

5) Kerusakan pada pembuluh darah mata bisa menyebabkan

gangguan penglihatan akibat kerusakan pada retina mata

(retinopati diabetikum). Kelainan fungsi ginjal bisa menyebabkan

gagal ginjal sehingga penderita harus menjalani cuci darah.

6) Gangguan pada saraf dapat bermanifestasi dalam beberapa bentuk.

Jika satu saraf mengalami kelainan fungsi (mononeuropati), maka

sebuah lengan atau tungkai bisa secara tiba-tiba menjadi lemah.

7) Jika saraf yang menuju ke tangan, tungkai dan kaki mengalami

kerusakan (polineuropati diabetikum), maka pada lengan dan

tungkai bisa dirasakan kesemutan atau nyeri seperti terbakar dan

kelemahan.

Kerusakan pada saraf menyebabkan kulit lebih sering mengalami

cedera karena penderita tidak dapat meredakan perubahan tekanan

maupun suhu. Berkurangnya aliran darah ke kulit juga bisa

menyebabkan ulkus (borok). Ulkus di kaki bisa sangat dalam dan

mengalami infeksi serta masa penyembuhannya lama.

g. Pengobatan diabetes melitus

16

Page 17: Bab 123 Q

Tujuan utama pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan

kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Kadar gula darah yang

benar-benar normal sulit untuk dipertahankan, tetapi semakin

mendekati kisaran yang normal, maka kemungkinan terjadinya

komplikasi sementara maupun jangka panjang adalah semakin

berkurang. Pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan,

olahraga, dan diet.

Seseorang yang obesitas yang menderita diabetes tipe 2 tidak akan

memerlukan pengobatan jika penderita menurunkan berat badannya

dan berolahraga secara teratur. Tetapi kebanyakan penderita merasa

kesulitan menurunkan berat badan dan melakukan olahraga secara

teratur. Karena itu biasanya diberikan terapi sulih insulin atau obat

hipoglikemik per-oral. Pengaturan diet sangat penting. Biasanya

penderita tidak boleh terlalu banyak makan makanan manis dan harus

makan dalam jadwal yang teratur.

Penderita diabetes cenderung memiliki kadar kolesterol yang

tinggi, karena itu dianjurkan untuk membatasi jumlah lemak jenuh

dalam makanannya. Tetapi cara terbaik untuk menurunkan kadar

kolesterol adalah mengontrol kadar gula darah dan berat badan. Semua

penderita hendaknya memahami bagaimana menjalani diet dan

olahraga untuk mengontrol penyakitnya. Penderita harus memahami

bagaimana cara menghindari terjadinya komplikasi.

17

Page 18: Bab 123 Q

h. Pengobatan farmakologi / pengobatan medis

Menurut Sutanto (2013) secara garis besar, penanganan penyakit

diabetes dilakukan dengan dua cara, yaitu pengobatan dengan

penggunaan obat-obatan dan terapi penurunan gula darah melalui

penerapan pola makan yang disesuaikan dengan kondisi diabetes.

Seorang penderita diabetes (khusus Diabetes tipe 2) akan diberi

obat antidiabetes oleh dokter. Obat antidiabetes yang dimaksud adalah

obat glikemik oral (Oral Hypoglicemic Agents/OHA). Sedangkan

pengobatan diabetes tipe 1 dilakukan dengan pemberian injeksi insulin.

Hal ini karena pada diabetes tipe 1, pankreas tidak menyediakan cukup

insulin atau bahkan tidak memproduksinya sama sekali, sehingga perlu

pemberian insulin dari luar agar tubuh bisa mengontrol kadar gula

dalam darah.

OHA adalah obat penurun kadar glukosa dalam darah. OHA

sendiri bukanlah hormon insulin yang diberikan secara oral. OHA

bekerja melalui beberapa cara untuk menurunkan kadar glukosa

darah.berdasarkan cara kerjanya, OHA terdiri dari 2 kelompok, yaitu:

1) Kelompok OHA yang memicu produksi insulin

a) Sulfonilurea

Cara obat ini dalam mengobati diabetes adalah merangsang

sel-sel beta dalam pankreas untuk memproduksi lebih banyak

insulin. Selain itu, obat ini juga membantu sel-sel tubuh

18

Page 19: Bab 123 Q

menjadi lebih baik dalam merespon insulin. Obat ini paling

baik diberikan pada penderita Diabetes tipe 2 yang produksi

insulinnya berkurang. Obat ini biasanya diperuntukkan bagi

penderita yang usia di bawah 40 tahun dengan kadar gula darah

saat puasa kurang dari 300 mg/dL. Beberapa nama dagang dari

sulfonilurea adalah: Diabinese, Daonil/Euglocon, Diamicron,

Glibenese/Minodia.

b) Meglitinida

Sebagaimana sulfonilurea, obat meglitinida juga memiliki cara

kerja yang sama, yaitu bekerja dengan merangsang sel-sel beta

di pankreas untuk memproduksi insulin. Jenis obat-obatan

yang masuk dalam kelompok meglitinida antara lain:

repaglinida (Prandin), nateglinida (Starlix).

2) Kelompok OHA yang memperbaiki atau meningkatkan kerja

insulin

a) Biguanida

Cara kerja obat biguanida adalah dengan mengurangi

penyerapan zat gula dari usus dan mempunyai pengaruh yang

rumit pada hati. Metformin adalah satu-satunya biguanida yang

tersedia saat ini. Metformin berguna untuk penyandang

diabetes gemuk yang mengalami penurunan kerja insulin.

Alasan penggunaan metformin pada penyandang Diabetes

19

Page 20: Bab 123 Q

gemuk adalah karena obat ini menurunkan nafsu makan dan

menyebabkan penurunan berat badan.

b) Thiazolidinedione

Obat thiazolidinedione bekerja dengan mengaktifkan gen-gen

tertentu yang terlibat dalam sintesis lemak dan metabolisme

karbohidrat. Proses ini berguna untuk meningkatkan kerja

insulin (menurunkan resistensi insulin). Obat ini juga meredam

molekul yang berperan penting pada sindrom metabolik.

2. Konsep Dukungan Keluarga

a. Definisi keluarga

Keluarga adalah suatu ikatan hidup atas dasar perkawinan

antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau

seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan

anak atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau adopsi, dan tinggal

dalam sebuah rumah tangga (Suprajitno, 2003). Keluarga juga

didefinisikan sebagai kelompok individu yang tidak bersama dengan

atau tidak adanya hubungan darah, pernikahan, adopsi, dan tidak hanya

terbatas pada keanggotaan dalam suatu rumah tangga (Friedmen,

2010)

20

Page 21: Bab 123 Q

b. Tugas keluarga di bidang kesehatan

Menurut Suprajitno (2003), sesuai dengan fungsi pemeliharaan

kesehatan, keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu

dipahami dan dilakukan, meliputi :

1) Mengenal masalah kesehatan keluarga. Kesehatan merupakan

kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan

segala sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah kadang

seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Apabila

menyadari adanya perubahan keluarga, perlu dicatat kapan terjadinya,

perubahan apa yang terjadi dan seberapa besar perubahannya.

2) Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi anggota keluarga.

Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari

pertolongan yang tepat sesuiai dengan keadaan keluarga, dengan

pertimbangan siapa di antara keluarga yang mempunyai kemampuan

memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga.

3) Merawat keluarga yang mengalami kesehatan. Sering kali keluarga

telah mengambil tindakan yang tepat dan benar, terai keluarga

memiliki keterbatasan yang telah diketahui oleh keluarga sendiri.Jika

demikian, anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan

perlu tindakan lanjutan atau perawatan agar masalah yang lebih parah

tidak terjadi lagi.

21

Page 22: Bab 123 Q

4) Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan

keluarga.

5) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi

keluarga.

c. Definisi dukungan keluarga

Menurut Taylor (2003) dukungan keluarga diartikan sebagai

bantuan yang diberikan oleh anggota keluarga yang lain sehingga akan

memberikan kenyamana fisim dan psikologis pada orang yang diharapkan

pada situasi stres. Dukungan sosial keluarga adalah proses yang terjadi

selama masa hidup dengan sifat dan tipe dukungan sosial bervariasi pada

masing-masing tahap siklus kehidupan keluarga.

d. Jenis dukungan keluarga

Menurut Friedman (2010), menjelaskan bahwa keluarga

mempunyai empat jenis dukungan yaitu :

1) Dukungan informasi

Keluarga berfungsi sebagai kolektor dan disseminator in

bnformasi tentang dunia yang dapt digunakan untuk

mengungkapkan suatu masalah. Mafaat dari dukungan ini adalah

dapat menekankan munculnya suatu stressor karena informasi

yang diberikan dapat menyumbangkan aksi sugesti yang khusus

pada individu. Aspek-aspek dalam dukungan ini adalah nasehat,

usulan, saran, petunjuk damn pemberian informasi.

22

Page 23: Bab 123 Q

2) Dukungan penilaian

Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik,

membimbinga dan menengahi masalah serta sebagai sumber

validator identitas anggota keluarga, diantaranya memberikan

support, pengakuakn, penghargaan dan perhatian.

3) Dukungan instrumental

Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan

konkrit diantaranya adalah bantuan langsung dari orang yang

diandalkan seperti materi, tenaga dan sarana. Manfaat dukungan

ini adalah mendukung pulihnya energi atau stamina dan semangat

yang menurun.Selain itu individu merasa bahea masih asa

perhatian dan kepedulian dari lingkungan terhadap seseorang yang

sedang mengalami kesusahan atau penderitaan.

4) Dukungan emosional

Keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk

istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhasp

emosi. Manfaat dari dukungan ini adalah secara emosional

menjamin niai-nilai individu baik wanita maupun laki-laki akan

selalu terjaga kerahasianya dari keingintahuan orang lain.

Aspek-aspek dari dukungan emosional meliputi dukungan

yang diwujudkan dalam bentuk afeksi, adanya kepercayaan,

perhatian dan mendengarkan serta didengarkan.

23

Page 24: Bab 123 Q

e. Manfaat dukungan keluarga

Menurut Taylor (2003) dukungan keluarga diartikan sebagai

bantuan yang diberikan oleh anggota keluarga yang lain sehingga akan

memberikan kenyamana fisim dan psikologis pada orang yang diharapkan

pada situasi stres. Dukungan sosial keluarga adalah proses yang terjadi

selama masa hidup dengan sifat dan tipe dukungan sosial bervariasi pada

masing-masing tahap siklus kehidupan keluarga.

f. Sumber dukungan keluarga

Menurut Root & Dooley (1995) dalam Kuncoro (2002) ada dua

sumber dukungan keluarga yaitu natural dan artifisial. Dukungan keluarga

yang natural diterima seseorang melalui interaksi sosial dalam

kehidupanya secara spontan dengan orang-orang yang berasa disekitarnya

misalnya anggota keluarga (anak, istri, suami, kerabat) teman dekat atau

relasi. Dukungan ini bersifat non formal sedangkan dukungan artifisial

adalah dukungan yang dirancang ke dalam kubutuhan primer seseorang

misanya dukungan keluarga akibat bencana alam sebagai sumbangan

sehingga sumber dukungan natural mempunyai berbagai perbedaan jika

dibandingan dengan dukungan keluarga artifisial.

24

Page 25: Bab 123 Q

g. Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga

Menurut Purnawan (2008) faktor-faktor yang mempengaruhi

dukungan keluarga adalah :

1) Faktot internal

a) Tahap perkembangan

Yaitu dukungan dapat ditentukan oleh faktor usia dalam

hal ini adalah pertumbuhan dan perkembangan, dengan

demikian setiap rentang usia (bayi-lansia) memiliki

pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan

yang berbeda-beda.

b) Tingkat pendidikan atau pengetahuan

Keyakinan seseorang terhadap adanya dukungan

terbentuk oleh variabel intelektual yang terdiri dari

pengetahuan, latar belakang pendidikan, dan

pengalaman masa lalu. Kemampuan kognitif akan

membentuk cara berfikir seseorang termasuk

kemampuan untuk memahami faktor-faktor yang

berhubungan dengan penyakit dan menggunakan

pengetahuan tentang kesehatan untuk menjada kesehatn

dirinya sendiri dan keluarga.

25

Page 26: Bab 123 Q

c) Faktor emosi

Seseorang yang mengalami responstres dalam setiap

perubahan hidupnya cenderung berespon terhadap

berbagai tanda sakit, mungkin dilakukan dengan cara

mengkhawatirkan bahwa penyakit tersebut dapat

mengancam kehidupanya. Seorang individu yang tidak

mampu melakukan koping secara emosional terhadap

ancaman penyakit mungkin akan meyangkan adanya

gejala penyakit pada dirinya dan akhirnya tidak

menjalani pengaobatan.

d) Faktor spiritual

Aspek spiritual dapat dilihat dari bagaimana seseorang

menjalinia kehidupanya, mencakup nilai dan keyakinan

yang dilaksanakanya, hubungan dengan keluarga atau

teman, dan kemampuan mencari harapan dan arti dalam

kehidupan.

2) Faktor eksternal

a) Cara praktik di keluarga

Cara bagaimana keluarga memberikan dukungan biasanya

mempengaruhi penderitaan dalam melaksanakan

kesehatanya. Misalnya klien juga kemungkinan besar akan

melakukan tindakan pencegahan jika keluarganya

26

Page 27: Bab 123 Q

melakukan hal yang sama, contohnya anak yang selalu

diajak orang tuanya untuk melalukan pemeriksaan

kesehatan rutin, maka ketika punya anak dia akan

melakukan hal yang sama.

b) Faktor sosioekonomi

Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan resiko

terjadinya penyakit dan mempengaruhi cara seseorang

mendefinisikan dan bereaksi terhadap penyakitnya.

Variabel psikososial mencakup: stabilitas perkawinan, gaya

hidup, dan lingkungan kerja.

c) Latar belakang budaya

Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan

kebiasaan individu dalam memberikan dukunngan

termasuk cara pelaksanan kesehatan pribadi.

3. Konsep Kualitas Hidup

a. Definisi kualitas hidup

Menurut Yuwono (2000) mendefinisikan kualitas hidup

sebagai derat kepuasan hati karena terpenuhinya kebutuhan eksternal

maupun persepsinya. Kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi

individu sebagai laki-laki atau perempuan dalam hidup, ditinjau dari

konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka tinggal, dan hubungan

dengan standar hidup, harapan, kesenangan, dan perhatian mereka. Hal

27

Page 28: Bab 123 Q

ini dipadukan secara lengkap mencakup kesehatan fisik psikologis,

tingkat kebebasan, hubungan sosial dan hubungan segi ketenangan

dari lingkungan mereka (Desita, 2010)

b. Domain kualitas hidup

Menurut WHOQoL (The World Health Organization Quality of Life)

group (Yulia, 2010) kualitas hidup terdiri dari 4 bidang atau domain

meliputi :

1) Kesehatan fisik berhubungan dengan kesakitan dan kegelisahan,

ketergantungan pada perawatan medis, energi dan kelelahan,

mobilitas, tidur dan istirahat, aktifitas kehidupan sehari-hari, dan

kapasitas kerja.

2) Kesehatan psikologis berhubungan dengan pengaruh positif dan

negatif spiritual, pemikiran pembelajaran, daya ingat dan

konsentrasi,gambaran tubuh dan penampilan, serta penghargaan

terhadap diri sendiri.

3) Hubungan sosial terdiri dari hubungan personal, aktifitas seksual

dan hubungan sosial.

4) Dimensi lingkungan terdiri dari keamanan dan kenyamanan fisik,

lingkungan fisik, sumber penghasilan, kesempatan memperoleh

informasi, dan keterampilan baru, partisipasi dan kesempatan

untuk rekreasi, atau aktifitas pada waktu luang.

28

Page 29: Bab 123 Q

c. Dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada penderita

diabetes

Menurut Sacco & Yanover (2006), dukungan keluarga yang

memadai akan meningkatkan kesehatan fisik penderita diabetes

dengan menurunkan gejala depresi. Dukungan keluarga dapta

meningkatkan kesehatan fisik terutama terkait dengan kontrol gula

darah yang lebih baik dan meningkatkan kepatuhan dalam perawatan

diri pasien diabetes. Hal ini menurunkan resiko komplikasi pada

penderita dan meningkatkan kualitas hidupnya (Tang et al,2008).

Sesuai dengan sebuah hasil studi oleh Huang et al (2001) yang

menemukan bahwa peningkatan intervensi dukungan keluarga akan

meningkatkan metabolisme glukosa dan mengurangi depresi pada

penderita diabetes. Pengaruh dukungan keluarga pada kesehatan fisik

ini akan memediasi melalui faktor psikologis yaitu penurunan depresi

pada penderita diabetes. Selain itu dukungan keluarga diketahui dapat

meningkatkan kemampuan adaptif dari kognisif termasuk

meningaktkan optimisme penderita diabetes, mengurangi kesepian dan

meningkatkan kemampuan diri yang akhirnya tarjadi peningkatan

kualitas hidup (Soutwick et al, 2005).

29

Page 30: Bab 123 Q

d. Faktor – faktor yang berhubungan dengan kualitas hudup pasien

diabetes melitus

1) Usia

Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabet yang paling banyak

jumlahnya sekitar 90-95% dari seluruh penyandang diabet dan

banyak dialami oleh dewasa diatas 40 tahun. Hal ini

disebabkan resistensi insulin pada diabet tipe 2 cenderung

meningkat pada lansia (40-65 tahun), riwayat obesitas dan

adanya faktor keturunan (Smesltzer & Bare, 2008)

2) Jenis Kelamin

Wanita mempunyai kualitas hidup yang rendah dibandingkan

dengan laki-laki secara bermakna (Gautam et al, 2009).

Sementara Goz et al (2001) menyatakan pasien laki laki yang

sudah pensiun menunjukkan skor kualitas hidup dan dukungan

sosial yang tinggi. Dinyatakan lagi bahwa ketika tingkat

pendidikan meningkat dan adanya dukungan sosial maka

kualitas hidup meningkat.

3) Tingkat pendidikan

Kualitas hidup yang rendah juga signifikan berhubungan

dengan tingkat pendidikan yang rendah dan kebiasaan aktifitas

fisik yang kurang baik. Tingkat pendidikan umumnya akan

30

Page 31: Bab 123 Q

berpengaruh terhadap kemampuan dalam mengolah informasi

(Gautam et al, 2009).

4) Status sosial ekonomi

Menurut Isa (2006) pendapatan yang rendah, tingkat pendidikan

yang kurang berhubungan secara bermakna dengan kualitas hidup

penderita diabetes.

5) Lama menderita diabetes melitus

Pada penelitian Fisher (2005), responden yang baru menderita

diabetes selama 4 bulan sudah menunjukkan perawatan diri yang

baik sehingga mampu memperthankan kualitas hidup yang lebih

baik. Sedangkan Wu et al (2006) menunjukkan bahwa pasien yang

telah menderita DM ≥ 11 tahun memiliki efikasi diri yang baik dari

pada pasien yang menderita DM <10 tahun. Hal ini di sebabkan

karena pasien telah berpengalaman mengelola penyakitnya dan

memiliki koping yang baik.

6) Komplikasi diabetes

Menurut Isa (2006) komplikasi diabetes seperti halnya

hipoglikemia merupakan keadaan gawat darurat yang terjadi pada

perjalanan penyakit. Dalam penelitian Baiyewu (2006)

meyimpulkan bahwa pada umumnya pasien diabetes menunjukkan

kualitas hidup yang cukup baik berdasarkan kuesonier WHO

tentang kualitas hidup. Kualitas hidup yang rendah dihubungakan

31

Page 32: Bab 123 Q

dengan berbagai komplikasi dari diabetes seperti hipertensi,

gangren, katarak, obesitas, penurunan berat badan dan perubahan

fungsi seksual.

32

Page 33: Bab 123 Q

B. KERANGKA KONSEPTUAL

Dari uraian diatas dapat digambatkan secara singkat kerangka konseptual sebagai berikut:

Keterangan :

: Diteliti

: Tidak diteliti

Gambar 2.1. Kerangka konseptual hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien diabetes melitus di Poli Dalam RSUD Nganjuk.

33

Pasien Diabetes melitus

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup :1 Usia 2 Jenis kelamin3 Tingkat pendidikan4 Status sosial ekonomi5 Lama menderita diabetes6 Komplikasi diabetes melitus

Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga:1 Faktor Internal

a. Tahap perkembanganb. Tingkat Pendidikan/pengetahuanc. Faktor emosid. Faktor spiritual

2 Faktor eksternala. Cara praktek di keluargab. Faktor sosioekonomic. Latar belakang budaya

Domain kualitas hidup:1 Kesehatan fisik2 kesehatan psikologis3 kehidupan sosial4 Lingkungan.

Dukungan keluarga:1 Dimensi informasi2 Dimensi penilaian 3 Dimensi instrumental4 Dimensi emosional

Peningakatan kualitas hidup1. Kesehatan fisik meningkat2. Gejala depresi menurun3. perawatan diri meningkat4. terkontrolnya gula darah5. meningkatkan sikap optimisme

Page 34: Bab 123 Q

C. HIPOTESIS PENELITIAN

Hipotesis penelitian adalah kesimpulan sementara penelitian patokan dengan

dugaan atau dalil sementara yang keberadaanya akan dubuktikan dalam penelitian

tersebut (Arikunto, 2010). Dari kajian di atas tersebut maka hipotesis dalam

penelitian ini adalah :

H1 : Ada hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien diabetes melitus

di Poli Dalam RSUD Nganjuk

34

Page 35: Bab 123 Q

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini adalah cara memecahkan masalah menurut metode

keilmuan. Pada bab ini akan dibahas Desain penelitian, waktu dan tempat penelitian,

kerangka kerja, sampling desain, identifikasi variabel, definisi operasional,

pengumpulan data dan etik penelitian.

A. Desain Penelitian

Desain penelitian adalah seluruh dari perencanaan untuk menjawab

pertanyaan penelitian dan mengantisipasi beberapa kesulitan yang mungkin

timbul selama proses penelitian (Nursalam, 2008).

Berdasarkan tujuan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalakh

korelasional (hubungan / asosiasi), sedangkan desain penelitian yang digunakan

adalah cross sectional yaitu jenis desain penelitian yang menekankan waktu

pengukuran / observasi data variabel independent dan dependent hanya satu kali

pada satu saat. Pada jenis ini, variabel independent dan dependent dinilai secara

simultan pada suatu saat, jadi tidak ada tindak lanjut. Tentunya tidak semua

subyek penelitian harus diobservasi pada hari atau pada waktu yang sama, akan

tetapi baik variabel independent maupun variabel dependen dinilai hanya satu

kali saja. Dengan studi ini, akan diperoleh prevalensi atau efek suatu fenomena

(variabel dependent) dihubungkan dengan penyebab (variabel independent),

(Nursalam, 2008).

35

Page 36: Bab 123 Q

B. Waktu Dan Tempat Penelitian

1. Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 8 - 16 Juli 2013

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Poli Dalam RSUD Nganjuk

36

Page 37: Bab 123 Q

C. Kerangka Kerja

Kerangka kerja merupakan langkah – langkah kerja yang akan dilakukan

dalam penelitian yang berbentuk kerangka atau alur penelitian, mulai dari desain

hingga analisis datanya (Hidayat, 2009). Kerangka kerja dari penelitian ini

sebagai berikut :

Gambar 3.1 Kerangka kerja hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien diabetes melitus Di Poli Dalam RSUD Nganjuk.

37

PopulasiJumlah rata-rata kunjungan bulanan penderita diabetes di Poli Dalam RSUD

Nganjuk sebanyak 698 kunjungan

SamplingAccidental sampling

SampelPenderita diabetes melitus sebanyak 186 orang di Poli Dalam RSUD

Pengumpulan DataVariabel independen yaitu dukungan keluarga dengan menggunakan koesioner

dan variabel dependen yaitu kualitas hidup dengan menggunakan koesioner

Analisa DataEditing, Coding, Scoring, dan Tabulating, Analisa data dengan Uji stastistik

Spearman Rank dengan signifikan 0,05 ( = 5%)

Hasil Dan KesimpulanAda hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien Diabetes

melitus Di Poli Dalam RSUD Nganjuk

HasilHasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel, diagram dan narasi.

Page 38: Bab 123 Q

D. Sampling Desain

1. Populasi

Populasi adalah subjek (misalnya manusia: klien) yang memenuhi

kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2008).

Populasi pada penelitian ini adalah jumlah rata-rata kunjungan penderita

diabetes selama 1 bulan yaitu 698 kunjungan di Poli Dalam RSUD Nganjuk.

2. Sampel dan Sampling

a. Sampel

Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan

dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005).

Sampel dalam penelitian ini sejumlah 186 responden penderita

diabetes melitus di Poli Dalam RSUD Nganjuk.

b. Sampling

Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat

mewakili populasi (Nursalam, 2008).

Pada penelitian ini menggunakan teknik accidental samplinng yaitu

teknik pengambilan sample berdasarkan kebetulan siapa saja yang

kebetulan bertemu dengan peneliti, dapat diambil sampel bila dipandang

orang yang kebetualn ditemui cocok denga sumber data (Sugiyono, 2008)

38

Page 39: Bab 123 Q

E. Identifikasi Variabel

Variabel adalah suatu ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota kelompok

(orang, benda, situasi) yang berbeda dengan yang dimiliki oleh sekelompok

tersebut (Nursalam, 2008).

Jenis variabel, Antara Lain:

1. Variabel Independent (bebas)

Variabel Independent (bebas) adalah variabel yang nilainya menentukan

variabel lain yang dimanipulasi, diamati, Dan diukur untuk diketahui

hubungannya atau pengaruhnya terhadap variabel lain (Nursalam, 2008).

Variabel independent dalam penelitian ini adalah dukungan keluarga.

2. Variabel Dependent (Terikat)

Variabel Dependent (terikat) adalah faktor yang diamati dan diukur

untuk menentukan ada tidaknya hubungan atau pengaruh dari variabel

independent (bebas) (Nursalam, 2008). Pada penelitian ini variabel

dependentnya adalah kualitas hidup pasien diabetes melitus.

F. Definisi Operasional

Dalam penelitian ini memerlukan suatu definisi operasional agar dapat

direalisasikan dan dapat berpegang pada batasan-batasan yang nyata. Adapun

definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel

dibawah ini :

39

Page 40: Bab 123 Q

Tabel 3.2 Definisi operasional hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien Diabetes melitus di Poli Dalam RSUD Nganjuk.

Variabel Definisi Indikator Alat ukur Skala Skor

Variabel independent dukungan keluarga

Variabel Dependent kualitas hidup

Persepsi atau pandangan subjektif pasien terhadap perlakuaan keluarga terhadap pasien

Persepsi atau pandangan subjektif pasien tentang kondisi kesehatan dan hidupnya selama ini

Indikatoryang meliputi empat dimensi yaitu:1. Dimensi

informasi2. Dimensi

penilaian3. Dimensi

insrumental4. Dimensi

emosional

Indikator kualitas hidup yang dirasakan responden yang terdiri dari empat domain:1 Kesehatan

fisik2 Kesejahtera

an psikologis

3 Hubungan sosial

4 Lingkungan

Kuesioner

Kuisoner

Ordinal

Ordinal

Bila jawaban Ya :1 Tidak: 0 Kriteria penilaianBaik : 76-100%Cukup :56-76%Kurang :< 56 %(Nursalam, 2008)

Bila jawaban Ya :1 Tidak: 0 Kriteria penilaianBaik : 76-100%Cukup :56-76%Kurang :< 56 %(Nursalam, 2008)

40

Page 41: Bab 123 Q

G. Pengumpulan Dan Analisa Data

Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses

pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian

(Nursalam, 2008).

1. Prosedur Pengumpulan Data

a. Cara pengumpulan data

1) mengurus Surat ijin pada STIKes Satria Bhakti Nganjuk

2) Mengurus perijinan penelitian pada kantor KESBANGPOLLINMAS

Kabupaten Nganjuk.

3) Mengurus surat perijinan penelitian kepada Kepala Rekam Medik

RSUD Nganjuk

4) Mengurus surat perijinan kepada Kepala Poli Dalam RSUD Nganjuk

5) Pelaksanaan penelitian di Poli Dalam RSUD Nganjuk

6) Memberikan penjelasan tentang penelitian kepada calon responden

dengan menggunakan surat permohonan menjadi responden dan bila

bersedia menjadi responden dipersilahkan untuk menanda tangani

lembar informend consent.

7) Responden diteliti melalui lembar kuisonier, kemudian kuesioner

dukungan keluarga dan kualitas hidup diberikan kepada responden dan

dipersilahkan untuk mengisi dalam waktu 30 menit kemudian

diserahkan kepada peneliti. Setelah kegiatan selesai, baru seluruh data

41

Page 42: Bab 123 Q

dapat dukumpulkan dan mulai pengolahan data sampai penerapan uji

hipotesis.

b. Instrumen penelitian

Instrumen penelitian aalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh

peneliti dalam pengumpulan data agar lebih mudah dan hasilnya lenih

baik dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga mudah

diolah (Arikunto, 2002).

Instrumen dukunagn keluarga yang digunakan dalam pengumpulan

data adalah angket atau kuesioner yang dibuat sendiri oleh peneliti yang

mengacu pada teori dan konsep.

2. Pengolahan Data

Terdapat empat langkah alam pengolahan data:

a. Pemeriksaan data (Editing)

Pada tahap ini, peneliti memeriksa kembali apakah terdapat kekeliruan

ada data, sehingga diperoleh data yang valit seperti memeriksa kembali

isian kuisonier.

b. Pemberian kode (Coding)

Masing-masing pertanyan pada masing-masing item mempunyai skor

1 untuk jawaban Ya dan skor 0 untuk jawaban Tidak.

42

Page 43: Bab 123 Q

c. Penetapan nilai (Scoring)

Untuk skor data umun dari pasien diabetes melitus akan

dikelompokkan sesuai jawaban yang di isi pada kuisonier. Pada kuisonier

tersebut akan diperoleh data dari responden yang berisi usia, pendidikan,

pekerjaan, penghasilan, komplikasi dari diabetes, berapa lama menderita

penyakit diabet dan juga siapa yang merawat.

Data tersebut akan dianaliasa berdasarkan rumus berikut :

P = ∑f x 100% n Keterangan :

P : Presentase

∑f : Frekuensi sampel/responden

n : Jumlah populasi

Hasil prosentase dari data di intrepretasikan dengan skor :

Seluruhnya : 100 %

Hampir seluruhnya : 76 – 99 %

Sebagian besar : 50 – 75 %

Setengahnya : 50 %

Hampir setengahnya : 25 – 49 %

Sebagian kecil : 1 – 24 %

Tak ada satupun : 0 % (Sugiono, 2002)

43

Page 44: Bab 123 Q

Untuk penilaian kuisonier dukungan keluarga dan kualitas hidup

penilaian yang digunakan sama yaitu :

Untuk rumusnya menggunakan:

N =

Keterangan :

N = Nilai yang didapat

SP = Skor yang didapat

Sm = Skor maksimal

Adapun hasil pengolahan data diinterpretasikan

sebagai berikut :

1) Baik : 76% - 100%

2) Cukup : 56% - 75%

3) Kurang : ≤ 55% (Nursalam, 2008)

d. Penyusunan data (Tabulating)

Kegiatan meyusun dan meringkas data yang masuk dalam bentuk

tabel-tabel

e. Entry data

Adalah kegiatan memasukkan data yang dikumpulkan.

44

Page 45: Bab 123 Q

3. Analisa Data

Untuk menganalisa hubungan dukungan dukungan keluarga dengan

kualitas hidup pasien diabetus melitus menggunakan uji korelasi

spearman rank. uji hopotesis dalam peneli ini dilakukan menggunakan

komputerisasi SPSS 16,0 for windows dengan tingkat signifikan α = 0,05.

Dalam pengambilan keputusan, jika p value ≤ α (0,05), maka Ho ditolak

dan H1 diterima yang berarti ada hubungan dukungan keluarga dengan

kualitas hidup pasien diabetes melitus di Poli Dalam RSUD Nganjuk.

Jika p value >α (0,05) maka Ho diterima dan H1 ditolak sehingga tidak

ada hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien diabetes

melitus di Poli Dalam RSUD Nganjuk.

H. Etik Penelitian

Beberapa prinsip dalam pertimbangan etik adalah bebas dari eksploitasi,

bebas dari penderitaan, menjaga kerahasiaan, dan responden berhak menolak,

penelitian ini menekankan pada masalah etika yang meliputi:

1. Informed consent (Lembar persetujuan)

Responden yang memenuhi syarat akan diberi penjelasan tentang

maksud dan tujuan penelitian, jika responden bersedia diteliti maka harus

menandatangani lembar persetujuan yang disediakan oleh peneliti.

45

Page 46: Bab 123 Q

2. Anonimity (Tanpa nama)

Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan

nama responden pada lembar pengumpulan data.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Semua informasi maupun masalah-masalah dalam pengumpulan data

yang telah diperoleh dari responden di jamin kerahasiaannya oleh peneliti dan

hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan pada hasil riset.

I. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan adalah kelemahan atau hambatan dalam penelitian. Keterbatasan

atau hambatan penelitian hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup

penderita diabetes di Poli Dalam RSUD Nganjuk adalah sebagai berikut :

1. Terbatasnya referensi tentang kualitas hidup penderita diabetes membuat

peneliti mengalami kesulitan dalam penyusunan skripsi ini.

2. Kurangnya kemampuan peneliti.

3. Kuesioner dalam penelitian ini belum di uji validitas dan reabilitas sehingga

tidak bisa dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya

46

Page 47: Bab 123 Q

47

Page 48: Bab 123 Q

48

Page 49: Bab 123 Q

49

Page 50: Bab 123 Q

50

Page 51: Bab 123 Q

51

Page 52: Bab 123 Q

52

Page 53: Bab 123 Q

53

Page 54: Bab 123 Q

54

Page 55: Bab 123 Q

55

Page 56: Bab 123 Q

56

Page 57: Bab 123 Q

57

Page 58: Bab 123 Q

58

Page 59: Bab 123 Q

59

Page 60: Bab 123 Q

60

Page 61: Bab 123 Q

61

Page 62: Bab 123 Q

62

Page 63: Bab 123 Q

DAFTAR PUSTAKA

Apriyanti, M. 2012. Meracik Sendiri Obat dan Menu Sehat Bagi Penderita

Diabetes Militus. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Arikunto,S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Dahlan, M. Sopiyudin. (2011). Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan.

Jakarta: Salemba Medika.

Delimartha, S dan Felix, A. 2012. Makanan dan Herbal Untuk Penderita

Diabetes Melitus. Jakarta: Penebar Swadaya.

Hidayat, Alimul Aziz. (2007). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan

Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika.

Hidayat, Aziz Alimul. (2009). Metode Penelitian Keperawatan dan

Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika.

Isa B.A., & Baeyewu,O. 2006. Quality of live patient with diabetes

mellitus in a Nigerian Teaching Hospital. Hongkong Journal

Psychiatry,16,27-33

Koentjoro, W.2002. Pendekatan Dukungan Sosial Keluarga. Diakses Dari

www.e-psikologi.com/index.php. Pada tanggal 18 Juni 2013.

Lanywati. (2011). Diebetes Mellitus Penyakit Kencing Manis. Yogyakarta:

Kanisius.

Maulana. (2008). Mengenal Diabetes Mellitus. Yogyakarta: Kata Hati.

Notoatmodjo, Soekidjo. (2003). Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-

prinsip Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.

63

Page 64: Bab 123 Q

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Rifki.N.N.2009. Penatalaksanaan Diabetes dengan pendekatan keluarga,

dalam Sidartawan,S, Pradana,S & Imam,S,Penatalaksanaan Diabetes

Terpadu (hal 217-229),5(7), 523-535.

Sacco,P. & Yanover,T.(2006). Diabetes and Depression: Tha Role of

Social Support and Medical Symtoms. Journal of Behavioral Medicine,

Vol. 29, No. 6.

Sarafino, E.P. (2006). Health Psychology : Biopsyhososial Interaction.

Fifth Edision. New York: John Wiley & Sons Inc

Setiadi. (2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta:

Graha Ilmu.

Sugiyono. (2000). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D.

Bandung: Alfabeta.

Tang. T.S. et al.(2008). Social Support, Quality of Live, and Self-Care

Behavior Among frican Americans With Type 2 Diabetes. Diabetes

Educations, (http:/tde.sagepub.com/content/34/2/226.shot

64

Page 65: Bab 123 Q

Lampiran 1

Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes

Melitus Di Poli Dalam RSUD Nganjuk

Oleh :

Lutfi Anggraini

Peneliti mahasiswa Sarjana Keperawatan STIKES Satria Bhakti Nganjuk,

peneliti bermaksud melaksanakan penelitian dengan judul “Hubungan Dukungan

Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Di Poli Dalam RSUD

Nganjuk”.

Peneliti mengharap informasi yang anda berikan nanti sesuai dengan keadaan

yang sesungguhnya dan tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Peneliti menjamin

kerahasiaan pendapat dan identitas saudara. Informasi yang saudara berikan hanya

akan digunakan untuk pengembangan ilmu kesehatan dan tidak akan dipergunakan

untuk maksud-maksud yang lain.

Partisipasi anda dalam penelitian ini bersifat bebas, anda bebas untuk ikut atau

tidak tanpa adanya sangsi apapun. Jika anda bersedia menjadi responden penelitian

ini, silahkan anda menandatangani kolom yang tersedia.

Peneliti

Lutfi Anggraini

65

Page 66: Bab 123 Q

Lampiran 2

INFORMED CONSENT

Setelah mendapat penjelasan serta mengetahui manfaat penelitian dengan judul

“Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus

Di Poli Dalam Rsud Nganjuk.”, menyatakan setuju / tidak setuju diikut sertakan

dalam survei awal penelitian dengan catatan bila sewaktu-waktu dirugikan dalam

bentuk apaun berhak membatalkan persetujuan, saya percaya apa yang saya buat ini

dijamin kerahasiaanya.

Nganjuk, Juli 2013

Responden

(....................)

66

Page 67: Bab 123 Q

Lampiran 3

KISI-KISI KUESIONER

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN DIABETES

MELITUS DI POLI DALAM RSUD NGANJUK

No

Variabel Parameter Jumlah

Soal

Nomer

Soal

Kunci Jawaban

1 Dukungan keluarga

1. Dukungan informasional2. Dukungan penilaian3. Dukungan instrumental4. Dukungan emosional

5555

1-56-1011-1516-20

Ya, ya, ya,ya, yaYa, ya, ya, ya, yaYa, ya, ya, ya, yaYa, ya, ya, ya, ya

2 Kualitas hidup

1. Kesehatan fisik2. Kesejahteraan psikologis3. Hubungan sosial4. Lingkungan

4444

1-45-89-1213-16

Ya, ya, ya, yaYa, ya, ya, yaYa, ya, ya, yaYa, ya, ya, ya

67

Page 68: Bab 123 Q

Lampiran 4

No Responden

Data Demografi

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN DIABETES MELITUS Di POLI DALAM RSUD NGANJUK

A. PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER

1. Pilihlah jawaban yang sesuai dengan keadaan anda dengan member

tanda (√).

B. DATA DEMOLOGI

1. Berapakah usia anda sekarang?

35 – 39 tahun

40 – 44 tahun

45 – 49 tahun

50 – 54 tahun

55 – 59 tahun

60 – 64 tahun

65 – 69 tahun

70 – 74 tahun

75 – 79 tahun

> 80 tahun

2. Jenis Kelamin

Laki – laki Perempuan

3. Apakah pendidikan terakhir anda?

Tidak sekolah

SD

SMP

SMA

68

Page 69: Bab 123 Q

Perguruan tinggi

69

Page 70: Bab 123 Q

4. Apakah pekerjaan anda sekarang?

PNS

Swasta

Ibu rumah tangga/tidak bekerja

Buruh tani

Pensiunan

5. Berapa penghasilan anda?

< 500.000

500.000 – 1.000.000

1.000.000 – 1.500.000

> 1.500.000

6. Apakah anda mengalami komplikasi diabetes mellitus?

Ya, Sebutkan .......

Tidak

7. Berapa lama anda menderita diabetes mellitus?

Jawaban : .......................... tahun

8. Siapa keluarga yang selama ini merawat ?

Page 71: Bab 123 Q

71

Suami

Istri

Anak

Ayah/Ibu

Keluarga lain,

Sebutkan ................

Page 72: Bab 123 Q

72

Lampiran 5

A. KUESIONER DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUALITAS

HIDUP PENDERITA DIABETES MELITUS.

Jawablah pertanyaan sesuai pilihan anda dengan memberi tanda chek list (√)

pada salah satu jawaban !

Variabel Independen Pertanyaan Ya Tidak

Dukungan

keluarga

1. Apakak keluarga anda memberi tahu pada

anda tentang pantangan atau makanan apa

saja yang tidak boleh atau dihindari untuk

anda?

2. Apakah keluarga anda mencari tahu

informasi dari luar (seperti buku, majalah,

dan lain-lain) tentang penyakit anda?

3. Apakah keluarga anda memberikan bahan

bacaan seperti majalah, buku dan lain-lain

tentang penyakit anda?

4. Apakah keluarga anda ikut mendampingi

anda konsultasi ke petugas kesehatan untuk

memperoleh informasi tentang penyakit

anda?

5. Apakah keluarga anda memberikan saran

kepada anda tentang pengobatan terbaru

tentang diabetes?

6. Apakah keluarga anda mengingatkan anda

tentang waktu minum obat atau pun terapi

untuk penyakit anda?

7. Apakah keluarga anda menanyakan kepada

anda bila ada masalah dengan penyakit

anda?

Page 73: Bab 123 Q

73

8. Apakah keluarga anda menemani ketika

minum obat?

9. Apakah keluarga membimbing anda dalam

penanganan penyakit anda?

10. Apakah keluarga anda mendorong anda

untuk mengikuti diet atau pengobatan yang

anda lakukan?

11. Apakah keluarga anda menyediakan

makanan yang sesuai dengan diet anda?

(tidak makanan yang manis-

manis,berlemak dan instans?)

12. Apakah keluarga anda membantu merawat

anda selama anda sakit selama ini?

13. Apakah keluarga anda saat ini menemani

anda pada saat berobat atau kontrol ke

pelayanan kesehatan?

14. Apakah keluarga anda membantu

membelikan obat jika obat anda habis?

15. Apakah keluarga anda membantu atau

meminjami uang bila anda sedang

kesusahan dalam membeli obat ataupun

untuk pengobatan anda?

16. Apakah keluarga anda mendengarkan

keluhan anda selama ini?

17. Apakah keluarga anda mencoba untuk

menghibur anda di saat anda sedang sedih?

18. Apakah keluarga anda memakan makanan

yang termasuk pantangan buat

anda(makanan manis-manis) didepan anda?

Page 74: Bab 123 Q

74

19. Apakah keluarga anda menyarankan anda

untuk secara teratur kontrol ke dokter?

20. Apakah keluarga anda menjaga agar

suasana rumah anda tidak ribut/berisik

selama anda istirahat?

Page 75: Bab 123 Q

75

Lampiran 6

E. KUESIONER KUALITAS HIDUP PASIEN DIABETES MELITUS Di POLI

DALAM RSUD NGANJUK.

Jawablah pertanyaan sesuai pilihan anda dengan memberi tanda chek list (√)

pada salah satu jawaban !

Variabel

IndependenPertanyaan Ya Tidak

Kualitas

Hidup

1. Apakah rasa sakit anda mempengaruhi

kehidupan sehari-hari anda?

2. Apakah anda merasa cepat merasa lelah jika

beraktifitas?

3. Apakah anda dapat tidur dengan pulas atau

nyenyak?

4. Apakah anda selalu membutuhkan obat untuk

selalu melakukan aktifitas anda?

5. Apakah anda mempunyai masalah dengan daya

ingat anda (sering lupa) ?

6. Apakah anda puas dengan penampilan diri

anda?

7. Apakah anda bisa berkonsentrasi dengan baik?

8. Apakah penyakit anda menggangu anda dalam

beribadah?

9. Apakah anda nyaman dengan tempat tinggal

anda sekarang?

10. Apakah anda merasa sarana dan prasarana

kesehatan yang anda jalani sekarang

memuaskan?

11. Apakah anda pernah berpikiran negatif

(misalnya putus asa, kesepian, depresi)?

Page 76: Bab 123 Q

76

12. Apakah anda jalan-jalan jika ada waktu

luang?

13. Apakah kemampuan bergaul anda dengan

orang lain (misalnya keluarga/tetangga) baik?

14. Apakah jika dirumah anda selalu mengikuti

kegiatan yang di adakan di tempat anda

tinggal?

15. Apakah anda mendapatkan perhatian

tentang penyakit anda dari lingkungan sekitar

(tetangga)?

16. Apakah penyakit anda menggangu anda

untuk berhubungan dengan sahabat atau

dengan orang lain?

Page 77: Bab 123 Q

77

Lampiran 7

Page 78: Bab 123 Q

78

Page 79: Bab 123 Q

79

Page 80: Bab 123 Q

80

Page 81: Bab 123 Q

81

Page 82: Bab 123 Q

82

Page 83: Bab 123 Q

83

Page 84: Bab 123 Q

84