Azizah-Presentasi Kasus Epilepsi

  • View
    41

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

epilepsi

Text of Azizah-Presentasi Kasus Epilepsi

PRESENTASI KASUSEPILEPSI

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat MengikutiUjian Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Penyakit SarafRumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul

Diajukan Kepada :dr. R. Yoseph Budiman, Sp. S

Disusun oleh :Laila Azizah20090310199

SMF ILMU PENYAKIT SARAFRSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTULFAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA2015HALAMAN PENGESAHAN

PRESENTASI KASUSEPILEPSI

Disusun oleh:Laila Azizah20090310199

Bantul, 02 Maret 2015Menyetujui dan mengesahkan,Pembimbing

21

dr. R. Yoseph Budiman, Sp.S

BAB IPENDAHULUANEpilepsi merupakan suatu gangguan neurologik kronis yang sering dijumpai. Definisi epilepsi menurut Pokdi Epilepsi Perdossi 2011 adalah suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan berulang (epileptic seizures) akibat lepas muatan listrik abnormal dan berlebihan di neuron-neuron otak secara paroksismal, dan disebabkan oleh berbagai etiologi, bukan disebabkan oleh penyakit otak akut. Perlu diketahui bahwa epilepsi bukanlah suatu penyakit, melainkan suatu kumpulan gejala. Gejala yang paling umum adalah adanya kejang. Karena itu epilepsi juga sering dikenal sebagai penyakit kejang.Epilepsi merupakan gangguan serius pada otak yang paling sering terjadi dan mengenai hampir lima puluh juta orang di seluruh dunia. Data WHO juga menunjukkan bahwa epilepsi menyerang 1% penduduk dunia, nilai yang sama dengan kanker payudara pada wanita dan kanker paru pada pria. Angka kejadian epilepsi masih tinggi terutama di negara berkembang, yang mencapai 114 per 100.000 penduduk pertahun.3 Bila jumlah penduduk Indonesia berkisar 220 juta, maka diperkirakan jumlah penyandang epilepsi baru di Indonesia adalah sekitar 250.000 pertahun. Berkaitan dengan umur, grafik prevalensi epilepsi menunjukkan pola bimodal. Prevalensi epilepsi pada bayi dan anak-anak cukup tinggi, menurun pada dewasa muda dan pertengahan, kemudian meningkat lagi pada kelompok usia .Bagi penderita epilepsi dan keluarganya, epilepsi dirasakan lebih dari sekedar kejang belaka. Epilepsi berarti suatu rangkaian persoalan medis, psikologis, sosial, dan ekonomi yang saling terkait dan tampil dalam wujud rasa takut, kesalahpahaman, stigmatisasi sosial, dan diskriminasi, yang pada akhirnya mendorong penderita dan keluarganya hidup dalam dunia yang tertutup. Serangan kejang bisa mempengaruhi kedudukan seseorang di lingkungan sosial/ lingkungan kerjanya. Hal lain yang lebih penting, bahwa setiap kali terjadi serangan kejang, apalagi bila berlangsung sampai beberapa menit, akan menimbulkan kerusakan hingga kematian sejumlah sel otak. Apabila terus berulang dan banyak sel otak yang menjadi lemah, bahkan mengalami kematian, akan mengakibatkan menurunnya kemampuan intelegensi, bahkan bisa menyebabkan kemunduran mental/ intelektual yang berat. Jadi upaya untuk mengatasi kejang ini harus dilakukan sedini dan seagresif mungkin. Salah satu terapi pada epilepsi adalah terapi bedah. Terapi bedah merupakan terapi pilihan pada epilepsi yang refrakter atau sudah kebal terhadap obat. Epilepsi parsial kompleks, yang sebagian besar memiliki zona epileptogenik di otak samping atau lobus temporalis, merupakan bagian terbesar dari para penderita yang refrakter ini.Berdasarkan pemaparan definisi epilepsi dan dampaknya terhadap penderitanya yang sangat merugikan, baik dari sisi medis, sosial maupun intelegensia.

BAB IISTATUS PASIEN

A. Identitas PasienNama: An. DKUsia: 15 thAlamat: Kretek BantulPekerjaan: PelajarAgama: IslamStatus perkawinan: Belum Menikah

B. AnamnesisAllo-anamnesa1. Keluhan utama : kejang sejak 4 hari yang lalu sebelum datang ke poli.2. Riwayat penyakit sekarang :Pasien kejang sejak 4 hari yang lalu sebelum datang ke poli klinik, kejang umum seluruh tubuh, serangan kejang dua kali dalam satu hari. Pada siang hari, kejang selama 5 menit, diawali kaku seluruh tubuh 30 detik diikuti dengan kelojotan 1 menit. Saat kejang pasien tidak sadar, mata mendelik, lidah tidak tergigit, mulut tidak berbuih. Saat dan sesudah kejang pasien tidak sadar, setelah kejang pasien terlihat bingung dan kelelahan. Demam tidak ada, mual dan muntah tidak ada. Pada malam hari, kejang selama 3 menit, diawali kaku seluruh tubuh 2 menit diikuti dengan kelojotan 2 menit. Saat kejang pasien tidak sadar, mata mendelik, lidah tidak tergigit, mulut tidak berbuih. Saat dan sesudah kejang pasien tidak sadar, setelah kejang pasien terlihat bingung dan kelelahan. Demam tidak ada, mual dan muntah tidak ada.Pasien rutin minum obat dari dokter selama empat bulan ini. Selama dua bulan ini, pasien mengalami kejang sebanyak empat kali. Keluhan diawali kaku seluruh tubuh diikuti kelojotan, saat kejang pasien tidak sadar, mata mendelik, mulut tidak berbuih. Saat dan sesudah kejang pasien tidak sadar, setelah kejang pasien terlihat bingung dan kelelahan. Demam tidak ada, mual dan muntah tidak ada.

3. Riwayat penyakit dahulu : Riwayat kejang demam saat usia < 5 th disangkal. Riwayat kejang pertama kali 2 bulan yang lalu, ketika pasien sedang bersantai, setelah kejang pasien tidak dirawat, tapi minum obat dan kontrol. Riwayat kejang kedua dua minggu setelah kejang pertama, pasien tidak dirawat, tapi minum obat setelah itu rajin kontrol. Sudah 4 kali kejang selama 2 bulan ini. Riwayat trauma kepala pada usia 2 bulan.

4. Riwayat penyakit keluarga :Tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit yang sama dengan pasien.

5. Riwayat pribadi dan kebiasaan :Pasien sehari-hari sebagai pelajar dan mengaku sering banyak pikiran dan sering kelelahan akibat tugas di sekolah.

C. Pemeriksaan Fisik1. Pemeriksaan umumKeadaan umum: tampak sakit ringanKesadaran: komposmentis kooperatifGCS: E4M6V5Tanda vital TD: 110/80 mmHg N: 64 x/menit RR: 20 x/menit S: -Rambut : warna hitam dan sudah beruban, lebat, sukar dicabutKelenjar getah bening Leher: tidak ada pembesaran Aksila: tidak ada pembesaran Inguinal: tidak ada pembesaran

Kepala Mata: sklera tidak kuning, konjungtiva tidak anemis Telinga: serumen tidak ada Hidung: sekret tidak ada, deviasi septum tidak ada Mulut: mukosa basah, lidah tidak kotor

Thoraksa. Paru-paruInspeksi: simetris kanan dan kiriPalpasi: vokal fremitus kanan = kiriPerkusi: sonor kedua lapang paruAuskultasi: vasikuler, ronki (-), wheezing (-)b. JantungInspeksi: ictus cordis tidak terlihatPalpasi: Ictus cordis teraba. Thrill tidakada.Perkusi: Batas jantung kanan: SIC IV linea para sternalis dekstra Batas jantung kiri: SIC V 1 jari medio linea midclavicula sinistraAuskultasi: bunyi jantung murni, irama regular, bising (-)

AbdomenInspeksi: bentuk abdomen datarAuskultasi: bising usus (+) normalPerkusi: timpani (+)Palpasi: nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

Ekstremitas Superior: Akral hangat, edema tidak ada, sianosis tidak ada, tidak ada kelemahan. Inferior: Akral hangat, edema tidak ada, sianosis tidak ada, tidak ada kelemahan.

2. Status neurologisa. Tanda rangsang selaput otakKaku Kuduk: negativeBrudzinski I: negativeBrudzinski II: negativeKernig Sign: negativeLasegue: negativeb. Tanda peningkatan tekanan intrakranialPupil: isokorRefleks cahaya: +/+c. Pemeriksaan saraf kranialN. I (n. olfactorius)PenciumanKananKiri

SubyektifNormalNormal

Obyektif dengan bahanNormal Normal

N.II (n. opticus)PenglihatanKananKiri

Tajam penglihatanNormalNormal

Lapang pandangNormal Normal

Melihat warnaNormal Normal

FunduskopiTidak dinilaiTidak dinilai

N. III (n. okulomotorius)KananKiri

Bola mataNormal (Ortho)Normal (Ortho)

PtosisTidak adaTidak ada

Gerakan bulbusKe segala arahKe segala arah

StrabismusTidak adaTidak ada

NistagmusTidak adaTidak ada

Ekso/EndophtalmusTidak adaTidak ada

Pupil : Bentuk Refleks cahaya Rrefleks akomodasi Refleks konvergensiIsokorPositifPositifPositifIsokorPositifPositifPositif

N. IV (n. trochlearis)KananKiri

Gerakan mata kebawahNormalNormal

Sikap bulbusNormal (ortho)Normal (ortho)

DiplopiaTidak adaTidak ada

N. V (n. trigeminus)KananKiri

Motorik : Membuka mulut Menggerakkan rahang Menggigit MengunyahNormalNormalBisaBisaNormalNormalBisaBisa

Sensorik : Divisi Optalmika Refleks kornea Sensibilitas Divisi Maksila Refleks masseter Sensibilitas DivisiMandibulaSensibilitas

NormalBaik

Normal Baik

Baik

NormalBaik

Normal Baik

Baik

N. VI (n. abduscen)KananKiri

Gerakan mata lateralNormalNormal

Sikap bulbusNormalNormal

DiplopiaTidak adaTidak ada

N. VII (n. facialis)KananKiri

Raut wajahNormalNormal

Sekresi air mataNormalNormal

Fisura palpebraNormalNormal

Menggerakkan dahiNormal Normal

Menutup mataNormalNormal

Mencibir/bersiulNormalNormal

Memperlihatkan gigiNormalNormal

Sensasi lidah 2/3 depanNormalNormal

HiperakusisTidak adaTidak ada

N. VIII (n. vestibulocochlearis)KananKiri

Suara berbisikNormal Normal

Detik arlojiNormalNormal

Renne testTidak dinilaiTidak dinilai

Webber testTidak dinilaiTidak dinilai

Scwabach test : Memanjang MemendekTidak dinilaiTidak dinilaiTidak dinilaiTidak dinilai

Nistagmus : Pendular Vertikal Siklikal Pengaruh posisi kepalaTidak adaTidak adaTidak adaTidak adaTidak adaTidak adaTidak adaTidak ada

N. IX (n. glossopharingeus)KananKiri

Sensasi lidah 1/3 belakangNormal Normal

Refleks muntah/Gag reflekPositifPositif

N. X (n. vagus)KananKiri

Arkus faringNormalNormal

UvulaNormal ditengahNor