54
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Definisi materialitas mengharuskan seorang auditor dalam mempertimbangkan keadaan baik yang berkaitan dengan entitas dan kebutuhan informasi pihak yang akan meletakkan kepercayaannya. Oleh karena itu pentingnya Materialitas, risiko dan strategi audit awal guna memeperlancar tugas seorang auditor. Selain itu secara umum tujuan utama didirikannya sebuah perusahaan adalah untuk memperoleh laba yang optimal atas investasi yang telah ditanamkan dan dapat mempertahankan kelancaran usaha dalam jangka waktu yang panjang. Salah satu investasi tersebut adalah aktiva yang digunakan dalam kegiatan normal perusahaan yaitu aktiva yang mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun. Untuk mencapainya diperlukan 1

Audit - Materialitas

  • Upload
    ari

  • View
    117

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

asdff

Citation preview

Page 1: Audit - Materialitas

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Definisi materialitas mengharuskan seorang auditor dalam

mempertimbangkan keadaan baik yang berkaitan dengan entitas dan kebutuhan

informasi pihak yang akan meletakkan kepercayaannya. Oleh karena itu

pentingnya Materialitas, risiko dan strategi audit awal guna memeperlancar tugas

seorang auditor.

Selain itu secara umum tujuan utama didirikannya sebuah perusahaan adalah

untuk memperoleh laba yang optimal atas investasi yang telah ditanamkan dan

dapat mempertahankan kelancaran usaha dalam jangka waktu yang panjang.

Salah satu investasi tersebut adalah aktiva yang digunakan dalam kegiatan

normal perusahaan yaitu aktiva yang mempunyai umur ekonomis lebih dari satu

tahun. Untuk mencapainya diperlukan pengelolaan  yang efektif  dalam

penggunaan, pemeliharaan maupun pencatatan akuntansinya.

Aktiva tetap biasanya merupakan bagian investasi yang cukup besar

dalam jumlah keseluruhan asset perusahaan. Besarnya investasi yang ditanamkan

dalam aktiva tetap menjadikan aktiva tetap itu perlu mendapatkan perhatian yang

serius. Tidak hanya pada penggunaan dan operasinya saja tetapi juga dalam

akuntansinya yang biasanya mencakup perolehan aktiva tetap, penghentian atau

pelepasan aktiva tetap, serta penyajian dan pengungkapannya dalam laporan

keuangan.

1

Page 2: Audit - Materialitas

Oleh karena itu, selain membahas tentang materialitas, resiko audit, strategi

awal audit dalam makalah ini kami juga akan membahas tentang Audit terhadap

Siklus Pengeluaran: Pengujian Substantif terhadap Aktiva Tetap.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan dari penulisan makalah ini

sebagai berikut :

1. Apa definisi dari Materialitas dan Bagaimana pertimbangan awal mengenai

materialitas?

2. Apa unsur risiko audit dan bagaimana hubungan risiko audit pada tingkat

laporan keuangan dan tingkat  saldo akun?

3. Apakah yang dimaksud dengan aktiva tetap dan bagaimana penggolongan

aktiva tetap ?

C. TUJUAN PENULISAN

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penulisan makalah ini

adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui definisi dari Materialitas dan Bagaimana

pertimbangan awal mengenai materialitas?

2. Untuk mengetahui unsur risiko audit dan bagaimana hubungan risiko

audit pada tingkat laporan keuangan dan tingkat  saldo akun?

3. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan aktiva tetap dan bagaimana

penggolongan aktiva tetap?

2

Page 3: Audit - Materialitas

BAB II

PEMBAHASAN

A. MATERIALITAS

1. Konsep Materialitas

Mulyadi (2002:158) menyatakan materialitas adalah besarnya nilai yang

dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang

melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap

pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut,

karena adanya penghilangan atau salah saji. Definisi tersebut mengharuskan

auditor untuk mempertimbangkan keadaan-keadaan yang berhubung dengan

satuan usaha (perusahaan klien), dan informasi yang diperlukan oleh mereka yang

akan mengandalkan pada laporan keuangan yang telah diaudit. Karena tanggung

jawab menentukan apakah laporan keuangan salah saji secara material, auditor

harus, berdasarkan temuan salah saji yang material, menyampaikan hal itu kepada

klien sehingga bisa dilakukan tindakan koreksi.

2. Pentingnya Konsep Materialitas Dalam Audit Atas Laporan Keuangan

Dalam audit atas laporan keuangan, auditor tidak dapat memberikan jaminan

bagi klien atau pemakai laporan keuangan yang lain, bahwa laporan keuangan

auditan adalah akurat karena auditor yang bersangkutan tidak memeriksa setiap

transaksi yang terjadi dalam tahun yang diaudit dan tidak dapat menentukan

apakah semua transaksi yang terjadi telah dicatat, diringkas, digolongkan, dan

dikompilasi secara semestinya ke dalam laporan keuangan.

3

Page 4: Audit - Materialitas

Oleh karena itu, dalam audit atas laporan keuangan, auditor memberikan

keyakinan (assurance) sebagai berikut:

a. Auditor dapat memberikan keyakinan bahwa jumlah-jumlah yang

disajikan dalam laporan keuangan beserta pengungkapannya telah dicatat,

diringkas, digolongkan, dan dikompilasi.

b. Auditor dapat memberikan keyakinan bahwa ia telah mengumpulkan bukti

audit kompeten yang cukup sebagai dasar memadai untuk memberikan

pendapat atas laporan keuangan auditan.

c. Auditor dapat memberikan keyakinan, dalam bentuk pendapat (atau

memberikan informasi, dalam hal terdapat perkecualian), bahwa laporan

keuangan sebagai keseluruhan disajikan secara wajar dan tidak terdapat

salah saji material karena kekeliruan dan kecurangan.

3. Pertimbangan Awal tentang Materialitas

Pertimbangan materialitas mencakup pertimbangan kuantitatif dan kualitatif.

Pertimbangan kuantitatif berkaitan dengan hubungan salah saji dengan jumlah

kunci tertentu dalam laporan keuangan. Pertimbangan kualitatif berkaitan dengan

penyebab salah saji. Suatu salah saji yang secara kuantitatif tidak material dapat

secara kualitatif material, karena penyebab yang menimbulkan salah saji.

Berikut ini disajikan contoh pertimbangan kuantitatif dan kualitatif yang

dilakukan oleh auditor dalam mempertimbangkan materialitas.

a. Hubungan salah saji dengan jumlah kunci tertentu dalam laporan seperti

laba bersih sebelum pajak dalam laporan keuangan, total aktiva dalam

4

Page 5: Audit - Materialitas

Neraca, total aktiva lancar dalam neraca, dan total ekuitas pemegang

saham dalam neraca.

b. Faktor kualitatif yang meliputi kemungkinan terjadinya pembayaran yang

melanggar hukum, kemungkinan terjadinya kecurangan, syarat yang

tercantum dalam perjanjian penarikan kredit dari bank yang mengharuskan

klien untuk mempertahankan beberapa rasio keuangan pada tingkat

minimum tertentu, adanya gangguan dalam trend laba dan sikap

manajemen terhadap integritas laporan keuangan.

Dalam perencanaan suatu audit, auditor harus menetapkan materialitas pada

dua tingkat berikut ini :

a. Tingkat laporan keuangan, karena pendapat auditor atas kewajaran

mencakup laporan keuangan sebagai keseluruhan.

b. Tingkat saldo akun, karena auditor memverifikasi saldo akun dalam

mencapai kesimpulan menyeluruh atas kewajaran laporan keuangan.

Faktor yang harus dipertimbangkan dalam melakukan pertimbangan awal

tentang materialitas yaitu :

a. Materialitas pada Tingkat Laporan Keuangan

Auditor menggunakan dua cara dalam menerapkan materialitas. Pertama

auditor menggunakan materialitas dalam perencanaan audit, kedua pada

saat mengevaluasi bukti-bukti audit dalam pelaksanaan audit. Pada saat

merencanakan audit, auditor perlu membuat estimasi materialitas karena

terdapat hubungan yang terbalik antara jumlah dalam laporan keuangan

yang dipandang material oleh auditor dengan jumlah pekerjaan audit yang

5

Page 6: Audit - Materialitas

diperlukan untuk menyatakan kewajaran laporan keuangan. Jadi auditor

harus mempertimbangkan dengan baik penaksiran materialitas pada tahap

perencanaan audit. Jika auditor menentukan jumlah materialitas terlalu

rendah, auditor akan mengkonsumsi waktu dan usaha yang sebenarnya

tidak diperlukan. Sebaliknya jika auditor menentukan jumlah rupiah

materialitas terlalu tinggi auditor akan mengabaikan salah saji yang

signifikan sehingga ia memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian

untuk laporan keuangan yang sebenarnya berisi salah saji material.

Dalam perencanaan audit, auditor harus menyadari bahwa terdapat lebih

dari satu tingkat materialitas yang berkaitan dengan laporan keuangan

tersebut. Kenyataannya setiap laporan keuangan dapat memiliki lebih dari

satu materialitas. Sampai dengan saat ini, tidak terdapat panduan resmi

yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia tentang ukuran kuantitatif

materialitas. Berikut ini diberikan contoh beberapa panduan kuantitatif

yang digunakan dalam praktik yaitu :

1) Laporan keuangan dipandang mengandung salah saji material jika terdapat

salah saji 5% sampai 10% dari laba sebelum pajak.

2) Laporan keuangan dipandang mengandung salah saji material jika terdapat

salah saji 1/2% sampai 1% dari total aktiva.

3) Laporan keuangan dipandang mengandung salah saji material jika terdapat

salah saji 1% dari pasiva.

4) Laporan keuangan dipandang salah saji material jika terdapat salah saji

1/2% sampai 1% dari pendapatan bruto.

6

Page 7: Audit - Materialitas

b. Materialitas pada Tingkat Saldo Akun

Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum yang

mungkin terdapat dalam saldo akun yang dipandang sebagai salah saji

material. Konsep materialitas pada tingkat saldo akun tidak boleh

dicampur adukan dengan saldo akun material. Karena saldo akun material

adalah besarnya saldo akun yang tercatat, sedangkan konsep materialitas

berkaitan dengan jumlah salah saji yang dapat mempengaruhi keputusan

pemakai informasi keungangan.

Dalam mempertimbangakan materialitas pada tingkat saldo akun, auditor

harus mempertimbangkan hubungan antara materialitas tersebut dengan

materialitas laporan keuangan. Pertimbangan ini mengarahkan auditor

untuk merencanakan audit guna mendeteksi salah saji yang kemungkinan

tidak material secara individual namun, jika digabungkan dengan salah saji

dalam saldo akun yang lain, dapat material terhadap laporan keuangan

secara keseluruhan.

c. Alokasi Materialitas Laporan Keuangan ke Akun

Bila pertimbangan awal auditor tentang materialitas laporan keuangan di

klasifikasikan, penaksiran awal tentang materialitas untuk setiap akun

dapat diperoleh dengan mengalokasikan materialitas laporan keuangan ke

akun secara individual. Pengalokasian ini dapat dilakukan baik untuk akun

neraca maupun akun laba-rugi. Namun, karena hampir semua salah saji

laporan laba rugi mempengeruhi neraca dan karena akun neraca lebih

sedikit banyak auditor melakuan alokasi atas dasar akun neraca. Dalam

7

Page 8: Audit - Materialitas

melakukan alokasi, auditor harus mempertimbangkan kemungkinan

terjadinya salah saji dalam akun tertentu dengan biaya yang harus

dikeluarkan untuk memverifikasi akun tersebut.

B. RESIKO AUDIT

1. Definisi Resiko Audit

Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan risiko audit.

Menurut SA Seksi 312 risiko audit adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor,

tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu

laporan keuangan yang mengandung salah saji material. Semakin pasti auditor

dalam menyatakan pendapatnya, semakin rendah risiko audit yang auditor

bersedia untuk menanggungnya.

Auditor merumuskan suatu pendapat atas laporan keuangan sebagai

keseluruhan atas dasar bukti yang diperoleh dari verivikasi asersi yang berkaitan

dengan saldo akun secara individual atau golongan transaksi. Tujuannya adalah

untuk membatasi risiko audit pada tingkat saldo akun sedemikian rupa sehingga

pada akhir proses audit, risiko audit dalam menyatakan pendapat atas laporan

keuangan sebagai keseluruhan akan berada pada tingkat yang rendah.

2. Resiko Audit pada Tingkat Laporan Keuangan dan Tingkat Saldo Akun

Kenyataan bahwa auditor tidak dapat memberikan jaminan tentang ketepatan

informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan mengharuskan

auditor mempertimbangkan baik materialitas maupun risiko audit.

8

Page 9: Audit - Materialitas

Risiko audit, seperti materialitas, dibagi menjadi dua bagian :

a. Resiko Audit Keseluruhan (Overal Audit Risk)

Pada tahap perencanaan auditnya, auditor pertama kali harus menentukan

risiko audit keseluruhan yang direncanakan, yang merupakan besarnya

risiko yang dapat ditanggung oleh auditor dalam menyatakan bahwa

laporan keuangan disajikan secara wajar, padahal kenyataannya, laporan

keuangan tersebut berisi salah saji material.

b. Resiko Audit Individual

Karena audit mencakup pemeriksaan terhadap akun-akun secara

individual, risiko audit keseluruhan harus dialokasikan kepada akun-akun

yang berkaitan. Risiko audit individual perlu ditentukan untuk setiap

akun karena akun tertentu seringkali sangat penting karena besar

saldonya atau frekuensi transaksi perubahan.

3. Unsur Resiko Audit

Menurut Mulyadi (2002:167) ada tiga unsur risiko audit, yaitu :

a. Risiko Bawaan

Adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap

suatu saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan

prosedur pengendalian intern yang terkait.

b. Risiko Pengendalian

Adalah risiko yang terjadinya salah saji material dalam suatu asersi

yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh

pengendalian intern entitas.

9

Page 10: Audit - Materialitas

c. Risiko Deteksi

Adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mendeteksi salah saji

material yang terdapat dalam suatu asersi.

4. Penggunaan Informasi Risiko Audit

Taksiran risiko audit pada tahap perencanaan audit dapat digunakan oleh

auditor untuk menetapkan jumlah bukti audit yang akan diperiksa untuk

membuktikan kewajaran penyajian saldo akun tertentu. Untuk itu, auditor

menentukan risiko deteksi dari formula risiko audit berikut ini :

Dari formula tersebut, risiko deteksi dapat dihitung dengan formula

Dari formula tersebut, risiko deteksi dihitung melalui tahap-tahp berikut ini

yaitu :

a. Menetapkan risiko audit , risiko bawaan, dan risiko pengendalian secara

individual berdasarkan pertimbangan profesional auditor

b. Melakukan perhitungan risiko deteksi sesuai dengan formula tersebut

diatas.

5. Hubungan Antarunsur Risiko

Risiko bawaan dan risiko pengendalian berbeda dengan risiko deteksi. Kedua

risiko yang disebut terdahulu ada, terlepas dari dilakukan atau tidaknya audit atas

10

Risiko Audit Individual=Risiko Bawaan X Risiko Pengendalian X Risiko Deteksi

Risiko Deteksi = Risiko Audit Individual

Risiko Bawaan X RisikoPengendalian

Page 11: Audit - Materialitas

laporan keuangan, sedangkan risiko deteksi berhubungan dengan prosedur audit

dan dapat diubah oleh keputusan auditor itu sendiri. Resiko deteksi mempunyai

hubungan yang terbalik dengan resiko bawaan dan resiko pengendalian. Semakin

kecil resiko bawaan dan resiko pengendalian yang diyakini oleh auditor semakin

besar resiko deteksi yang dapat diterima.

Resiko bawaan merupakan kerentanan asersi individual terhadap salah saji

material. Resiko ini dapat dicegah atau dideteksi oleh pengendalian intern klien.

Namun jika salah saji material tidak dapat dicegah dengan pengendalian intern

klien, timbullah resiko pengendalian. Oleh karena itu, melalui audit atas laporan

keuangan, auditor independen melakukan verifikasi terhadap asersi individual,

dengan harapan salah saji yang ada dalam asersi tersebut dapat terdeteksi dengan

prosedur audit audit yang dilaksanakan auditor. Namun jika salah saji material

tidak dapat dideteksi oleh prosedur audit yang dilaksanakan oleh auditor,

timbullah resiko deteksi. Sebagai akibatnya, jika pengendalian intern klien tidak

dapat mencegah dan mendeteksi salah saji material dalam asersi individual, dan

prosedur audit yang dilaksanakan auditor juga gagal mendeteksi salah saji

tersebut, laporan keuangan yang berisi salah saji material akan diberi pendapat

wajar tanpa pengecualian. Timbullah kemudian resiko audit resiko yang terjadi

dalam hal auditor tanpa disadari tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana

mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material.

6. Hubungan antara Materialitas, Risiko Audit, dan Bukti Audit

Terdapat hubungan berlawanan antara materialitas dan bukti audit. Jika

materialitas rendah jumlah salah saji yang kecil saja dapat mempengaruhi

11

Page 12: Audit - Materialitas

keputusan pemakai informasi keuangan-auditor perlu mengumpulkan bukti audit

kompeten dalam jumlah banyak.Sebaliknya,jika materialitas tinggi jumlah salah

saji besar baru dapat mempengaruhi keputusan pemakai informasi keuangan

auditor hanya perlu mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah sedikit.

Demikian pula hubungan antarresiko audit dengan bukti audit.Semakin

rendah resiko audit-auditor bersedia menanggung resiko audit rendah sehingga

tingkat kepastian yang diinginkan oleh auditor adalah tinggi-auditor perlu

mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah banyak.Sebaliknya,semakin

tinggi tingkat resiko audit-auditor bersedia untuk menanggung resiko audit tinggi

sehingga tingkat kepastian yang yang diinginkan auditor adalah rendah-auditor

perlu mengumpulkan bukti audit yang kompeten dalam jumlah kecil saja.

C. STRATEGI AUDIT AWAL

1. Definisi Strategi Audit Awal

Strategi audit awal dapat diartikan sebagai strategi atau trik yang digunakan

oleh auditor dalam mencapai tujuan akhir dalam perencanaan dan pelaksanaan

proses audit. Karena adanya hubungan antara tingkat materialitas, risiko audit,

dan bukti audit, auditor dapat memilih strategi audit awal dalam perencanaan

audit atas asersi individual atau sekelompok asersi. Strategi audit awal dibagi

menjadi dua macam yaitu :

a. Pendekatan terutama substantif (primarily substantive approach)

b. Pendekatan tingkat risiko pengendalian taksiran rendah (lower assessed

level of control risk approach)

12

Page 13: Audit - Materialitas

2. Unsur Strategi Audit Awal

Dalam mengembangkan strategi audit awal untuk suatu asersi, auditor

menetapkan empat unsur berikut ini yaitu :

a. Tingkat risiko pengendalian taksiran yang direncanakan

b. Luasnya pemahaman atas pengendalian intern yang harus diperoleh

c. Pengujian pengendalian yang harus dilaksanakan untuk menaksir risiko

pengendalian.

d. Tingkat pengujian substantif yang direncanakan untuk mengurangi risiko

audit ke tingkat yang cukup rendah.

3. Pendekatan Terutama Substantif

Dalam strategi audit ini, auditor mengumpulkan semua atau hampir semua

bukti audit dengan menggunakan pengujian substantif dan auditor sedikit

meletakkan kepercayaan atau tidak mempercayai pengenndalian intern. Pada

dasarnya ada tiga alasan mengapa auditor menggunakan pendekatan ini yaitu :

a. Hanya terdapat sedikit (jika ada) kebijakan dan prosedur pengendalian

intern yang relevan dengan perikatan audit atas laporan keuangan.

b. Kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang berkaitan dengan asersi

untuk akun dan golongan transaksi signifikan tidak efektif.

c. Peletakan kepercayaan besar terhadap pengujian substantif lebih efisien

tertentu.

4. Pendekatan Risiko Pengendalian Rendah

13

Page 14: Audit - Materialitas

Dalam pendekatan ini, auditor meletakkan kepercayaan moderat atau tingkat

kepercayaan penuh terhadap pengendalian, dan sebagai akibatnya auditor hanya

melaksanakan sedikit pengujian substantif.

5. Perbandingan Dua Strategi Audit

Perbandingan dua strategi tersebut dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini :

Pendekatan Terutama

Substantif

Pendekatan Risiko Pengendalian

Rendah

Auditor merencanakan taksiran

risiko pengendalian pada tingkat

maksimum atau mendekati

maksimum

Auditor merencanakan taksiran risiko

pengendalian pada tingkat moderat atau

tingkat rendah

Auditor merencanakan prosedur

yang kurang ekstensif untuk

memperoleh pemahaman atas

pengendalian intern

Auditor merencanakan prosedur yang

lebih ekstensif untuk memperoleh

pemahaman atas pengendalian intern

Auditor merencanakan sedikit,

jika ada, pengujian

pengendalian

Auditor merencanakan pengujian

pengendalian secara luas

Auditor merencanakan akan

melakukan pengujian substantif

secara luas

Auditor merencanakan akan membatasi

penggunaan pengujian substantif

14

Page 15: Audit - Materialitas

D. PENGUJIAN SUBSTANTIF AKTIVA TETAP

1. Deskripsi Aktiva Tetap

Aktiva tetap adalah kekayaan perusahaan yang memiliki wujud, mempunyai

manfaat ekonomis lebih dari satu tahun, dan diperoleh perusahaan untuk

melaksanakan kegiatan perusahaan, bukan untuk dijual kembali. Karena

kekayaan ini mempunyai wujud, seringkali aktiva tetap disebut dengan aktiva

tetap berwujud (tangible fixed assets). Aktiva tetap dalam perusahaan manufaktur

umumnya digolongkan menjadi:

a. Tanah dan perbaikan tanah (land and land improvement)

b. Gedung dan perbaikan gedung (building and building improvement)

c. Mesin dan ekupmen pabrik

d. Mebel

e. Kendaraan

Transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap:

Aktiva Tetap

Pemerolehan

Pengeluaran modal

Revaluasi

Pertukaran

Penghentian pemakaian

Penjualan

Pertukaran

Akumulasi Depresiasi Aktiva Tetap

Penghentian pemakaian

Penjualan

Pertukaran

Depresiasi

15

Page 16: Audit - Materialitas

Jurnal-jurnal transaksi yang menyangkut perubahan aktiva tetap dan akun

depresiasi akumulasi yang bersangkutan:

a. Transaksi pemerolehan aktiva tetap

Aktiva Tetap XXXX

Kas XXXX

b. Transaksi pengeluaran modal (capital expenditure)

Aktiva Tetap XXXX

Kas XXXX

c. Transaksi depresiasi aktiva tetap

Biaya Depresiasi XXXX

Akumulasi Depresiasi Aktiva Tetap XXXX

d. Transaksi penghentian pemakaian aktiva tetap

Akumulasi Depresiasi Aktiva Tetap XXXX

Rugi Penghentian Pemakaian Aktiva Tetap XXXX

Aktiva Tetap XXXX

e. Transaksi reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap

Biaya Reparasi dan Pemeliharaan Aktiva Tetap XXXX

Kas XXXX

Sediaan Suku Cadang XXXX

Gaji dan Upah XXXX

2. Perbedaan Karakteristik Aktiva Tetap dengan Aktiva Lancar

Perbedaan karakteristik aktiva tetap dibandingkan dengan dengan aktiva

lancar adalah sebagai berikut:

16

Page 17: Audit - Materialitas

a. Akun aktiva tetap mempunyai saldo yang besar didalam neraca; transaksi

perubahannya relatif sangat sedikit namun umumnya menyangkut jumlah

rupiah yang besar.

b. Kesalahan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap

mempunyai pengaruh kecil terhadap perhitungan rugi-laba, sedangkan

kesalahan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva lancar

berpengaruh langsung terhadap perhitungan rugi-laba tahun yang diaudit.

c. Aktiva tetap disajikan dineraca pada kosnya dikurangi dengan Akumulasi

Depresiasi, sedangkan aktiva lancar disajikan dineraca pada nilai bersih

yang dapat direalisasikan pada tanggal neraca.

3. Perbedaan Pengujian Substantif Aktiva Tetap dengan Aktiva Lancar

Perbedaan pengujian substantif aktiva tetap dibandingkan dengan dengan

aktiva lancar adalah sebagai berikut:

a. Karena frekuensi transaksi yang menyangkut aktiva tetap relatif sedikit,

maka jumlah waktu yang dikonsumsi untuk pengujian substantif terhadap

aktiva tetap relatif lebih sedikit bila dibandingkan dengan waktu yang

digunakan untuk pengujian substantif terhadap aktiva lancar.

b. Karena ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva

tetap sedikit pengaruhnya terhadap perhitungan rugi-laba, maka auditor

tidak mengarahkan perhatiannya terhadap masalah ketelitian pisah batas

transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap pada akhir tahun. Dengan

pengujian substantif terhadap aktiva lancar, auditor memusatkan

perhatiannya terhadap ketepatan pisah batas terhadap transaksi yang

17

Page 18: Audit - Materialitas

bersangkutan dengan aktiva lancar, karena kesalahan atau ketidak telitian

penentuan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva lancar

berdampak langsung terhadap perhitungan rugi-laba tahun yang diaudit.

c. Pengujian substantif terhadap aktiva tetap dititik beratkan pada verifikasi

mutasi aktiva tetap yang terjadi dalam tahun yang diaudit, karena aktiva

tetap disajikan pada kosnya, bukan nilai bersih yang dapat direalisasikan

pada tanggal neraca sepertu halnya dengan aktiva lancar. Dilain pihak,

pengujian substantif terhadap aktiva lancar, dititikberatkan pada saldo

aktiva lancar tersebut pada tanggal neraca, karena aktiva lancar harus

disajikan didalam neraca sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan

pada tanggal tersebut.

4. Prinsip Akuntansi Berterima Umum Dalam Penyajian Aktiva Tetap Di

Neraca

Sebelum membahas pengujian subtantif terhadap aktiva tetap, perlu diketahui

terlebih dahulu prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia dalam penyajian

aktiva tetap di neraca berikut ini :

a. Dasar penilaian aktiva tetap harus dicantumkan didalam neraca

b. Aktiva tetap yang digadaikan harus dijelaskan

c. Jumlah depresiasian akumulasian dan biaya depresiasi untuk tahun kini

harus ditunjukkan didalam laporan keuangan

d. Metode yang digunakan dalam perhitungan depresiasi golongan besar

aktiva tetap harus diungkapkan didalam laporan keuangan

18

Page 19: Audit - Materialitas

e. Aktiva tetap harus dipecah dalam golongan yang terpisah jikajumlahnya

material

f. Aktiva tetap yang telah habis didepresiasi namun masih digunakan untuk

beroperasi, jikan jumlahnya material, harus dijelaskan.

5. Tujuan Pengujian Subtantif Terhadap Aktiva Tetap

Tujuan dari Pengujian Subtantif Terhadap Aktiva Tetap dapat dilihat dari

gambar berikut ini

Dari gambar diatas dapat kita ketahui bahwa tujuan dari pengujian

substantif terhadap aktiva tetap yaitu:

a. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang

bersangkutan dengan aktiva tetap.

b. Membuktikan keberadaan aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang

berkaitan dengan aktiva tetap yang dicantumkan di neraca.

19

Page 20: Audit - Materialitas

c. Membuktikan hak kepemilikan klien atas aktiva tetap yang dicantumkan

di neraca.

d. Membuktikan kewajaran penilaian aktiva tetap yang dicantumkan di

neraca.

e. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tetap di

neraca.

6. Program Pengujian Subtantif Terhadap Aktiva Tetap

Program pengujian subtantif terhadap aktiva tetap berisi prosedur audit yang

dirancang untuk mencapai tujuan audit seperti yang telah diuraiakan di atas.

Tahap-tahap prosedur audit dimulai dari pemeriksaan yang bersifat luas dan

umum sampai ke pemeriksaan yang bersifat rinci.

a. Prosedur audit awal

Sebelum membuktikan apakah saldo aktiva tetap yang dicantumkan oleh

klien di dalam neracanya sesuai dengan aktiva tetap yang benar-benar ada

pada tanggal neraca, auditor melakukan rekonsiliasi antara informasi

aktiva tetap yang dicantumkan di neraca dengan catatan akuntansi yang

mendukungnya. Rekonsiliasi ini perlu dilakukan agar auditor memperoleh

keyakinan bahwa informasi aktiva tetap yang dicantumkan di neraca

didukung dengan catatan akuntansi yang dapat dipercaya. Oleh karena itu,

auditor melakukan enam prosedur audit berikut ini dalam melakukan

rekonsiliasi informasi aktiva tetap di neraca dengan catatan akuntansi yang

bersangkutan:

20

Page 21: Audit - Materialitas

1) Usut saldo aktiva tetap yang tercantum di neraca ke saldo akun aktiva

tetap yang bersangkutan di dalam buku besar. Untuk memperoleh

keyakinan bahwa saldo aktiva tetap yang tercantum di neraca

didukung dengan catatan akuntansi yang dapat dipercaya kebenaran

mekanisme pencatatannya, maka saldo aktiva tetap yang di cantumkan

di neraca diusut ke akun buku besar.

2) Hitung kembali saldo akun aktiva tetap dan akumulasi depresiasi yang

bersangkutan di buku besar. Untuk memperoleh keyakinan mengenai

ketelitian perhitungan saldo akun aktiva tetap, auditor menghitung

kembali saldo akun aktiva tetap dan akumulasi depresiasi yang

bersangkutan dengan menambah saldo awal dengan jumlah

pengkreditan dan menguranginya dengan jumlah pendebitan tiap-tiap

akun tersebut.

3) Usut saldo awal akun aktiva tetap dan Akumulasi Depresiasi yang

bersangkutan ke kertas kerja tahun lalu. Sebelum auditor melakukan

pengujian terhadap transaksi rinci yang menyangkut akun aktiva tetap

dan Akumulasi Depresiasi yang bersangkutan, ia perlu memperoleh

keyakinan atas kebenaran saldo awal akun tersebut.

4) Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber

posting dalam akun aktiva tetap dan Akumulasi Depresiasinya.

Kecurangan dalam transaksi pemerolehan, pertukaran, penghentian

pemakaian, depresiasi aktiva dapat ditemukan melalui review atas

mutasi luar biasa, baik dalam jumlah maupun sumber posting dalam

21

Page 22: Audit - Materialitas

akun aktiva tetap, dan Akumulasi Depresiasi, dan pendapatan dan rugi

luar biasa.

5) Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun aktiva tetap dan

Akumulasi Depresiasi yang bersangkutan ke jurnal yang

bersangkutan. Untuk memperoleh keyakinan bahwa mutasi

penambahan dan pengurangan aktiva tetap berasal dari jurnal-jurnal

yang bersangkutan, pendebitan didalam akun aktiva tetap diusut

keregister bukti kas keluar dan jurnal umum sedangkan pengkreditan

kedalam akun tersebut diusut ke jurnal umum.

6) Lakukan rekonsiliasi buku pembantu aktiva tetap dengan akun control

aktiva tetap dan Akumulasi Depresiasi yang bersangkutan di buku

besar. Saldo akun control aktiva tetap dan Akumulasi Depresiasi yang

bersangkutan di buku besar tersebut kemudian dicocokkan dengan

jumlah saldo akun pembantu aktiva tetap ke dalam arsip bukti kas

keluar yang belum ddibayar untuk memperoleh keyakinan bahwa

catatan akuntansi klien yang bersangkutan dengan aktiva tetap dapat

dipercaya ketelitiannya.

b. Prosedur analitik

Ratio berikut ini seringkali digunakan oleh auditor dalam pengujian

analitik terhadap aktiva tetap. Dan berbagai ratio tersebut jika dihitung

oleh auditor dan kemudian dibandingkan dengan angka harapan akan

dapat memberikan indikasi bagi auditor ke fokus mana perhatian auditor

perlu diarahkan dalam pelaksanaan pengujian transaksi rinci.

22

Page 23: Audit - Materialitas

Berikut ini ratio yang sering digunakan oleh auditor

Ratio Formula

Tingkat perputaran aktiva tetap Hasil Penjualan Bersih : Rerata saldo

aktiva tetap

Ratio laba bersih dengan aktiva tetap Hasil Penjualan Bersih : Rerata saldo

aktiva tetap

Ratio aktiva tetap dengan modal saham Aktiva tetap : Modal Saham

Ratio biaya reparasi dan pemeliharaan

dengan aktiva tetap

Biaya Reparasi dan Pemeliharaan :

Hasil Penjualan Bersih

c. Pengujian terhadap transaksi rinci

Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah:

1) Periksa tambahan aktiva tetap ke dokumen yang mendukung transaksi

pemerolehan aktiva tetap tersebut. Pemeriksaan dokumen yang

mendukung tambahan aktiva tetap yang terjadi dalam tahun yang diaudit

memberikan bukti tentang:

a. Asersi keberadaan aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang

menambah aktiva tetap

b. Asersi kelengkapan unsur yang membentuk kos aktiva tetap

c. Asersi hak kepemilikan klien atas tambahan aktiva tetap

d. Asersi penilaian aktiva tetap.

2) Periksa berkurangnya aktiva tetap ke dokumen yang mendukung transaksi

tersebut. Pemeriksaan terhadap dokumen yang mendukung transaksi

23

Page 24: Audit - Materialitas

berkurangnya aktiva tetap yang terjadi dalam tahun yang diaudit

memberikan bukti tentang:

a. Asersi keberadaan aktiva tetap dan keterjadian transaksi berkurangnya

aktiva tetap

b. Asersi kelengkapan unsur yang mengurangi kos aktiva tetap

c. Asersi hak kepemilikan klien atas aktiva tetap yang dikurangi

d. Asersi penilaian aktiva tetap.

3) Periksa ketepatan pisah batas transaksi aktiva tetap

4) Lakukan review terhadap akun biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva

tetap

d. Pengujian terhadap saldo akun rinci

Hal-hal yang harus dilakukan yaitu :

1) Lakukan inspeksi terhadap tambahan aktiva tetap dalam tahun yang

diaudit

2) Periksa dokumen kontrak dan dokumen hak kepemilikan klien atas aktiva

tetap. Pembuktian hak pemilikan atas aktiva tetap klien dilakukan oleh

auditor dengan:

a. Memeriksa dokumen yang mendukung pemerolehan dan penghentian

pemakaian aktiva tetap

b. Memeriksa dokumen yang mendukung transaksi pembayaran sewa

c. Memeriksa polis asuransi aktiva tetap

d. Meminta informasi mengenai aktiva tetap yang dijaminkan dalam

penarikan utang

24

Page 25: Audit - Materialitas

e. Melakukan inspeksi terhadap perjanjian persewaan.

3) Lakukan review terhadap perhitungan depresiasi dan deplesi aktiva tetap

4) Lakukan rekonsiliasi aktiva tetap tertentu kedalam buku pembantu aktiva

tetap

5) Hitung kembali jumlah rupiah yang dicatat didalam akun-akun yang

terkait dalam transaksi

e. Verifikasi penyajian dan pengungkapan

1) Periksa klasifikasi aktiva tetap di dalam neraca. Aktiva tetap harus

disajikan didalam neraca dalam kelompok aktiva tidak lancar pada kosnya

dikurangi dengan Akumulasi Depresiasi atau deplesi. Auditor melakukan

pemeriksaan terhadap klasifikasi aktiva tetap didalam neraca berdasarkan

prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian aktiva tetap di neraca.

2) Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan aktiva tetap. Menurut

prinsip akuntansi berterima umum dalam dalam penyajian aktiva tetap di

neraca, klien berkewajiban mencantumkan pengungkapan yang memadai

mengenai metode depresiasi atau deplesi yang dipakainya, aktiva tetap

yang dijaminkan atau yang digadaikan dalam penarikan utang, dan aktiva

tetap yang telah habis didepresiasi namun masih digunakan dalam kegiatan

perusahaan.

25

Page 26: Audit - Materialitas

BAB III

KESIMPULAN

Materialitas dibagi menjadi dua golongan yaitu materialitas pada tingkat

laporan keuangan dan materialitas pada tingkat saldo akun. Sedangkan Risiko

audit juga digolongkan menjadi dua yakni risiko audit keseluruhan dan risiko

audit individual. Dalam hal ini risiko audit terdiri dari tiga unsur (1) risiko

bawaan, yakni kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu

salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur

struktur pengendalian intern yang terkait, (2) risiko pengendalian, yakni risiko

terjadinya salah saji material dalam suatu asersi yang tidak dapat dicegah atau

dideteksi secara tepat waktu oleh struktur pengendalian intern entitas dan (3)

risiko deteksia dalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mandeteksi salah

saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Adanya hubungan antara tingkat

materialitas, risiko audit dan bukti audit, auditor dapat memilih strategi audit awal

dalam perencanaan audit atas asersi individual atau kelompok asersi.

Aktiva tetap memiliki karateristik yang berbeda dengan karakteristik aktiva

lancar, yang berdampak terhadap pengujian subtantif terhadap aktiva tetap.

Frekuensi transaksi yang menyangkut aktiva tetap relatif sedikit, maka jumlah

waktu yang dikonsumsi untuk pengujian substantif terhadap aktiva tetaprelatif

lebih sedikit bila dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk pngujian

substantif terhadap aktiva lancar. Karena transaksi yang bersangkutan dengan

aktiva tetap sedikit pengaruhnya terhadap perhitungan rugi-laba, maka auditor

26

Page 27: Audit - Materialitas

tidak mengarahkan perhatiannya terhadap masalah ketelitian pisah batas transaksi

yang bersangkutan dengan aktiva tetap pada akhir tahun.

Pengujian substantif terhadap aktiva tetap dititikberatkan pada verifikasi

mutasi aktiva tetap yang terjadi dalam tahun yang diaudit. Verifikasi saldo aktiva

tetap pada tanggal neraca tidak mendapat perhatian auditor, karena aktiva tetap

disajikan pada kosnya, bukan nilainya pada tanggal neraca seperti halnya dengan

aktiva lancar.

            Pengujian subtantif terhadap aktiva tetap di tujukan untuk memperoleh

keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi bersangkutan dengan aktiva tetap,

membuktikan keberadaan aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang berkaitan

dengan aktiva tetap yang dicantumkan di neraca, membuktikan kewajaran

penilaian aktiva tetap yang dicantumkan di neraca, dan membuktikan kewajaran

penyajian dan pengungkapan aktiva tetap di neraca.

27

Page 28: Audit - Materialitas

DAFTAR PUSTAKA

1. Mulyadi, 2002, Auditing, Edisi VI, Jilid 1, Jakarta, Salemba Empat.

2. Mulyadi, 2002, Auditing, Edisi VI, Jilid 2, Jakarta, Salemba Empat.

3. http://suhediary.blogspot.com/2010/07/pengujian-substantif-terhadap-aktiva.html

4. http://vinakurniadi.blogspot.com/2009/12/studi-kasus-etika-profesional-risiko.html

5. http://zetzu.blogspot.com/2012/12/audit-aktiva-tetap-iv.html

6. http://inedwiy26.blogspot.com/2013/05/auditing-materialitas-dan-risiko-

audit.html

28

Page 29: Audit - Materialitas

Contoh kasus Risiko Audit dan Materialitas

Planning Materiality (PM) ditentukan oleh auditor sebelum proses audit di

lapangan berjalan. PM dapat ditentukan dari Total Revenue ataupun Total Assets.

Biasanya suggested range untuk revenue adalah 0,5% s.d 1%. Sedangkan untuk

aset berkisar antara 1% s.d 5%. Antara Revenue dan Total Assets, cukup

digunakan salah satunya saja. Biasanya Revenue lebih sering dipakai sebagai

acuan dalam PM. Dengan syarat bahwa revenue komparatif antara tahun berjalan

dengan tahun sebelumnya tidak mengalami penurunan atau kenaikan yang

signifikan. Bila revenue bersifat fluktuatif, maka biasanya total asset yang

digunakan. Selanjutnya, setelah menentukan PM, ada yang namanya PAJE Scope,

yaitu jumlah minimum dari salah saji yang akan di adjust. Biasanya sebesar 2%

dari PM.

Sebuah perusahaan yang akan diaudit memiliki Total Revenue komparatif tahun

2007 sebesar 2,4 M. Maka Planing Materiality untuk tahun 2008 adalah 0,5% X

2,4 M = 12jt Artinya : Jumlah minimum akun dalam neraca yang harus

divouching adalah 12jt keatas. Kalau kurang dari itu dianggap tidak material.

Selanjutnya, bila auditor menemukan salah saji dalam laporan keuangan dan harus

disesuaikan, maka jumlah minimum yang harus diadjust adalah 2% x 12jt = 240

rb. Artinya, bila salah saji ditemukan dan adjustment yang perlu dilakukan

berjumlah kurang dari 240rb, maka tidak usah dilakukan adjustment, tapi kalau

jumlahnya diatas 240rb, harus dibuat adjustment nya.

29

Page 30: Audit - Materialitas

CONTOH KASUS

Audit Aktiva Tetap

Dalam suatu perusahaan terdapat kekeliruan-kekeliruan pada akun-akun properti,

pabrik dan peralatan. Berikut kekeliruan-kekeliruan tersebut:

1. Umur aktiva yang digunakan untuk menyusutkan peralatan lebih kecil dari

umur manfaat yang layak dan diharapkan

2. Aktiva yang dapat dikapitalisasi secara rutin dicatat sebagai beban seperti

beban perbaikan dan peralatan, beban peralatan tidak tahan lama atau beban

perlengkapan

3. Peralatan kontruksi yang dibuang (abandoned) atau ditukar dengan peralatan

pengganti tidak dihapuskan dari catatan akuntansi

4. Beban penyusutan untuk operasi manufaktur dibebankan ke beban

administrasi

5. Peralatan kecil yang diperlukan untuk pemeliharaan peralatan dicuri oleh

karyawan untuk penggunaan pribadi.

6. Perolehan properti dicatat dengan jumlah yang tidak tepat.

7. Suatu pinjaman untuk peralatan yang ada tidak dicatat pada catatan akuntansi.

Penerimaan kas dari pinjaman tidak pernah diterima perusahaan karena

penerimaan tersebut digunakan untuk membayar uang muka atas suatu unit

peralatan yang sekarang digunakan sebgai aktiva operasi. Peralatan tersebut

juga tidak dicatat dalam catatan akuntansi.

30

Page 31: Audit - Materialitas

REKOMENDASI PEMBAHASAN

Untuk setiap kekeliruan-kekeliruan berikut dalam akun-akun properti,

pabrik dan peralatan, sebutkan pengendalian intern yang dapat dikembangkan

oleh klien untuk mencegah terjadinya kekeliruan-kekliruan tersebut dan prosedur

audit substantif yang dapat digunakan untuk menemukan kesalahan tersebut.

1. Umur aktiva yang digunakan untuk menyusutkan peralatan lebih kecil dari

umur manfaat yang layak dan diharapkan.

a. Pengendalian intern, manajemen harus menetapkan prosedur yang formal

untuk menentukan merode depresiasi, taksiran umur ekonomis, dan nilai

residu.

b. Prosedur audit, me-review secara periodik kebijaksanaan penetapan

prosedur formal untuk menentukan paakh hal tersebut telah realistis

(mendekati kenyataan).

Misalnya kalau suatu peralatan didepresiasi selama 5 tahun sedangkan secara

normal dapat digunakan 10 tahun aka nilai residu dan beban depresiasi harus

dipertimbangkan kembali

2. Aktiva yang dapat dikapitalisasi secara rutin dicatat sebagai beban seperti

beban perbaikan dan peralatan, beban peralatan tidak tahan lama atau beban

perlengkapan.

a. Pengendalian intern, meningkatkan pemahaman terhadap prinsip akuntansi

yang berlaku umum

b. Prosedur audit, melakukan pemeriksaan atas dokumen terhadap jumlah-

jumlah besar yang di debet ke akun beban

31

Page 32: Audit - Materialitas

3. Peralatan kontruksi yang dibuang (abandoned) atau ditukar dengan peralatan

pengganti tidak dihapuskan dari catatan akuntansi

a. Pengendalian intern yang paling penting untuk pelepasan peralatan pabrik

adalah adanya suatu metode formal untuk memberikan informasi kepada

manajemen mengenai penjualan, pertukaran, pembuangan dan pencurian

peralatan dan mesin yang tercatat. Jika klien gagal mecatat pelepasan,

biaya perolehan (original cost) dari akun peralatan pabrik akan disajikan

lebih dengan tidak terbatas, dan tidak nilai buku neto akan lebih disajikan

sampai aktiva tersebut disusutkan sepenuhnya. Jadi, hendaknya terdapat

verifikasi intern yang memadai atas pelepasan yang dicatat untuk

meyakinkan bahwa aktiva telah dihapuskan dari catatan-catan akuntansi

dengan benar.

b. Prosedur audit untuk melakukan verifikasi terhadap pelepasan:

1) Menelaah apakah terdapat aktiva-aktiva yang baru menggantikan yang

ada,

2) Menganalisa keuntungan akibat pelepasan aktiva dan pendapatan lain-lain

akan adanya penerimaan akibat pelepasan aktiva,

3) Menelaah modifikasi pabrik dan perubahan pada lini produk, pajak-pajak

atau penutupan asuransi atas adanya penghapusan peralatan,

4) Tanya jawab dengan manajemen dan pelaksana produksi mengenai

kemungkinan pelepasan aktiva.

4. Beban penyusutan untuk operasi manufaktur dibebankan ke beban

administrasi

32

Page 33: Audit - Materialitas

a. Pengendalian intern: meningkatkan pemahaman terhadap prinsip akuntansi

yang berlaku umum

b. Prosedur audit:

1) Melakukan pemisahan antara akun beban penyusutan dan akun beban

administrasi

2) Akun beban penyusutan dimasukkan ke dalam beban usaha atau

operasional

5. Peralatan kecil yang diperlukan untuk pemeliharaan peralatan dicuri oleh

karyawan untuk penggunaan pribadi

a. Pengendalian intern:

1) Penggunaan suatu berkas induk utuk masing-masing aktiva tetap

2) Pengendalian fisik yang memadai untuk aktiva yang dapat dengan mudah

dipindah-pindahkan (seperti peralatan kecil dan kendaraan)

3) Penetapan nomor identifikasi untuk setiap aktiva pabrik dan perhitungan

fisik secara periodic terhadap aktiva tetap dan rekonsisliasi oelh pelaksana

akuntansi

b. Prosedur audit:

1) Langkah pertama audit berkenaan dengan tujuan,

2) Kecocokan rincian peralatan pabrik yang tercatat dalam berkas induk

sesuai dengan buku besar,

3) Auditor harus memutuskan apakah diperlukan verifikasi terhadap

keberadaan dari masing-masing unsur dari peralatan pabrik tercakup dalam

33

Page 34: Audit - Materialitas

berkas induk. Prosedur memilih suatu sampel dari berkas induk dan

memeriksa aktiva sesungguhnya,

4) Jika pemeriksaan persediaan fisik dilakukan, auditor melakukan observasi

terhadap perhitungan.

6. Perolehan properti dicatat dengan jumlah yang tidak tepat.

a. Pengendalian intern, bagian penerimaan barang melakukan perhitungan

fisik ulang

b. Prosedur audit:

1) Memeriksa faktur pemasok dan laporan penerimaan barang pemeriksaan

fisik aktiva,

2) Melakukan peninjauan terhadap transaksi-transaksi yang tercatat akan

kelayakan klasifikasi.

Contoh: jumlah yang dicatat sebagai peralatan pabrik seharusnya diklasifikasikan

sebgai peralatan kantor.

7. Suatu pinjaman untuk peralatan yang ada tidak dicatat pada catatan akuntansi.

Penerimaan kas dari pinjaman tidak pernah diterima perusahaan karena

penerimaan tersebut digunakan untuk membayar uang muka atas suatu unit

peralatan yang sekarang digunakan sebgai aktiva operasi. Peralatan tersebut

juga tidak dicatat dalam catatan akuntansi.

a. Pengendalian intern

Manajemen mencatat setiap pinjaman ke dalam pos hutang sehingga

perusahaan dapat mengetahui posisi hutangnya dan mengklasifikasikan ke

dalam hutang jangka pendek atau hutang jangka panjang.

34

Page 35: Audit - Materialitas

b. Prosedur audit

1) Melakukan konfirmasi kepada pihak yang memberikan pinjaman untuk

mengetahui besaran pinjaman yang diterima,

2) Melakukan pemeriksaan fisik terhadap peralatan dan melakukan

pencatatan atas peralatan tersebut.

35