of 21 /21
AUDIOVISUAL SEKSIO CAESARIA Sejarah Seksio Sesarea telah menjadi bagian dari kebudayaan manusia sejak jaman kuno. Dan banyak cerita dari Barat dan non-Barat yang mengisahkan tentang seksio sesarea pada ibu dan bayinya yang dapat lahir dengan selamat. Berdasarkan mitologi dari Yunani, Apollo telah mengeluarkan Asclepius (pendiri dari cara pengobatan religius yang terkenal) dari perut ibunya.Beberapa referensi tentang seksio sesarea telah ada pada kebudayaan kuno Hindu, Mesir, Yunani, Roma, dan beberapa cerita rakyat dari Eropa. Kebudayaan Cina kuno telah menggoreskan gambar prosedur seksio sesarea dengan ibu yang dapat melahirkan dengan selamat. Mischnagoth dan Talmud melarang hak anak sulung yang lahir kembar dari seksio sesarea, dan membuat upacara ritual untuk wanita yang melahirkan secara seksio sesarea. Namun, sejarah seksio sesarea yang bersumber dari mitologi masih mempunyai akurasi yang meragukan. Kata “caesar” masih terdistorsikan sepanjang waktu. Pada umumnya kata itu dipercaya sebagai kelahiran Julius Caesar, tetapi hal ini tampaknya tidaklah benar. Hal ini dikarenakan ibunya, Aurelia tertulis masih hidup sampai anaknya menginvasi Inggris. Padahal saat itu prosedur kelahiran secara bedah hanya dilakukan ketika ibu telah meninggal atau sekarat untuk menyelamatkan bayi dan memperbanyak jumlah populasi penduduk. Hukum Romawi pada masa Caesar mewajibkan ibu hamil yang telah meninggal atau sekarat untuk dilakukan

Audiovisual Seksio Caesaria

Embed Size (px)

DESCRIPTION

jk

Citation preview

AUDIOVISUAL SEKSIO CAESARIA

SejarahSeksio Sesarea telah menjadi bagian dari kebudayaan manusia sejak jaman kuno. Dan banyak cerita dari Barat dan non-Barat yang mengisahkan tentang seksio sesarea pada ibu dan bayinya yang dapat lahir dengan selamat. Berdasarkan mitologi dari Yunani, Apollo telah mengeluarkan Asclepius (pendiri dari cara pengobatan religius yang terkenal) dari perut ibunya.Beberapa referensi tentang seksio sesarea telah ada pada kebudayaan kuno Hindu, Mesir, Yunani, Roma, dan beberapa cerita rakyat dari Eropa. Kebudayaan Cina kuno telah menggoreskan gambar prosedur seksio sesarea dengan ibu yang dapat melahirkan dengan selamat. Mischnagoth dan Talmud melarang hak anak sulung yang lahir kembar dari seksio sesarea, dan membuat upacara ritual untuk wanita yang melahirkan secara seksio sesarea.Namun, sejarah seksio sesarea yang bersumber dari mitologi masih mempunyai akurasi yang meragukan. Kata caesar masih terdistorsikan sepanjang waktu. Pada umumnya kata itu dipercaya sebagai kelahiran Julius Caesar, tetapi hal ini tampaknya tidaklah benar. Hal ini dikarenakan ibunya, Aurelia tertulis masih hidup sampai anaknya menginvasi Inggris. Padahal saat itu prosedur kelahiran secara bedah hanya dilakukan ketika ibu telah meninggal atau sekarat untuk menyelamatkan bayi dan memperbanyak jumlah populasi penduduk. Hukum Romawi pada masa Caesar mewajibkan ibu hamil yang telah meninggal atau sekarat untuk dilakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya. Karena itulah dinamakan caesar. Kemungkinan yang lain adalah caesar berasal dari kata dalam bahasa latin, caedare, yang berarti memotong, dan juga caesones, yang berarti mengeluarkan bayi dari ibu yang telah meninggal.Akhirnya, meskipun tidak dapat dipastikan dari mana kata caesar didapat, sampai abad ke-16 dan 17 prosedur ini telah dikenal dengan nama operasi caesar. Pada tahun 1598, di dalam buku kebidanan yang ditulis oleh Jacques Guilimeau, mulai diperkenalkan istilah seksio yang selanjutnya menggantikan kata operasi. Pernyataan otoritatif oleh para ahli obstetri kenamaan mengenai penggunaan operasi ini belum muncul di dalam literatur sampai pertengahan abad ke-17, saat diterbitkannya karya klasik ahli obstetri Perancis, Francois Mauriceau, pada tahun 1668. Pernyataan-pernyataan ini memperlihatkan tanpa ragu-ragu bahwa operasi ini dilakukan pada orang hidup yaitu pada kasus-kasus yang jarang dan payah, serta biasanya fatal. DefinisiSeksio sesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut.Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram.Jadi operasi Seksio Sesaria ( sectio caesarea ) adalah suatu pembedahan guna melahirkan janin ( persalinan buatan ), melalui insisi pada dinding abdomen dan uterus bagian depan sehingga janin dilahirkan melalui perut dan dinding perut dan dinding rahim agar anak lahir dengan keadaan utuh dan sehat.

IndikasiMelahirkan dengan cara bedah atau seksio sesarea tidak bisa diputuskan begitu saja oleh dokter karena resiko yang mungkin dialami akibat pembedahan harus dipertimbangkan, baik dari segi kesehatan ibu maupun bayinya. Seksio ini seharusnya dilakukan jika keadaaan medis memerlukannya. Artinya janin atau ibu dalam keadaaan gawat darurat dan hanya dapat diselamatkan jika persalinan dilakukan dengan jalan seksio sesarea. Itu sebabnya harus ada alasan yang jelas untuk melakukan tindakan pembedahan. Hal ini karena bentuk operasi apapun selalu mengandung resiko sehingga harus ada indikasi yang jelas.Tindakan operasi diputuskan oleh penolong persalinan, bertujuaan untuk memperkecil terjadinya resiko yang membahayakan jiwa ibu atau bayinya. Namun, dalam kehamilan sehat, persalinan secara alami jauh lebih aman. Meskipun demikian kini banyak pasien yang dengan sengaja meminta persalinan dengan jalan operasi walaupun tanpa alasan medis yang tepat. Pada keadaan ini semuanya memang kembali pada etika profesi kedokteran. Pada umumnya dokter akan menilai dan mengambil keputusan yang terbaik dalam membantu suatu proses persalinan.0. Indikasi untuk ibu Plasenta previa, Distocia serviks, Ruptur uteri mengancam, Disproporsi cepalo pelviks, pre eklampsia, eklampsia, Tumor, Partus lama.0. Indikasi Secsio Sesarea terhadap janin Yaitu : 1. Bayi terlalu besar Berat bayi lahir sekitar 4.000 gram atau lebih (giant baby),menyebabkan bayi sulit keluar dari jalan lahir. Umumnya, pertumbuhan janin yang berlebihan (makrosomia) karena ibu menderita kencing manis Keadaan ini dalam ilmu kedokteran disebut bayi besar objektif. Apabila dibiarkan terlalu lama di jalan lahir dapat membahayakan keselamatan janinnya. 1. Kelainan Letak Ada dua kelainan letak janin dalam rahim, yaitu : 1. Letak Sungsang Sekitar 3-5% atau 3 dari 100 bayi terpaksa lahir dalam posisi sungsang. Resiko bayi lahir sungsang pada persalinan alami diperkirakan 4 kali lebih besar dibandingkan lahir dengan letak kepala yang normal. Oleh karena itu, biasanya langkah terakhir untuk mengantisipasi terburuk karena persalinan yang tertahan akibat janin sungsang adalah operasi. Namun, tindakan operasi untuk melahirkan janin sungsang baru dilakukan dengan beberapa pertimbangan, yaitu posisi janin yang beresiko terjadinya macet di tengah proses persalinan. Apabila posisi bokong di bawah rahim dengan satu atau dua kaki menjuntai maka kelahiran bayinya harus dengan operasi sesar. 1. Letak Lintang Kelainan lain yang paling sering terjadi adalah letak lintang atau miring. Letak yang demikian menyebabkan poros janin tidak sesuai dengan arah jalan lahir. Pada keadaan ini, letak kepala pada posisi yang satu dan bokong pada sisi yang lain. Pada umumnya, bokong akan berada sedikit lebih tinggi dari pada kepala janin, sementara bahu berada pada bagian atas panggul. Konon,punggung dapat berada di depan, belakang, atas, maupun bawah. Kelainan letak lintang ini hanya terjadi sebanyak 1%. Letak lintang ini biasanya ditemukan pada perut ibu yang menggantung atau karena adanya kelainan bentuk rahimnya. Keadaan ini menyebabkan keluarnya bayi terhenti dan macet dengan persentasi tubuh janin di dalam jalan lahir. Apabila dibiarkan terlalu lama, keadaan ini dapat mengakibatkan janin kekurangan oksigen dan menyebabkan kerusakan pada otak janin. Oleh karena itu, harus segera dilakukan operasi untuk mengeluarkannya. 1. Gawat janin Diagnosis gawat janin berdasarkan pada denyut jantung janin yang abnormal. Gangguan pada bayi juga dapat diketahui dari adanya kotoran dalam air ketuban. Normalnya, air ketuban pada bayi cukup bulan berwarna agak putih keruh, seperti air cucian beras yang encer. Akan tetapi, jika janin mengalami gangguan, ia akan membuang kotorannya di dalam air ketuban sehingga warnanya menjadi kehijauan. Apabila proses persalinan sulit dilakukan melalui vagina maka bedah caesar merupakan jalan keluar satu-satunya. 1. Janin Abnormal Janin sakit atau abnormal, misalnya gangguan Rh, kerusakan genetik, dan hidrosephalus. 1. Faktor Plasenta Ada beberapa kelainan plasenta yang menyebabkan keadaan gawat darurat pada ibu atau janin sehingga harus dilakukan persalinan dengan operasi. 1. Plasenta previa 1. Plasenta lepas 1. Plasenta accreta 1. Vasa previa 1. Kelainan Tali Pusat Berikut ini ada dua kelainan tali pusat yang biasa terjadi 1. Prolapsus tali pusat Prolapsus tali pusat adalah keadaan menyembul sebagian atau seluruh tali pusat. Pada keadaan ini tali pusat sudah berada didepan atau disamping bagian terbawah janin atau tali pusat sudah berada di jalan lahir sebelum bayi. 1. Terlilit tali pusat Dalam rahim, tali pusat ikut berenang bersama janin dalam kantung ketuban. Ketika janin bergerak, letak dan posisi tali pusatpun biasanya ikut bergerak dan berubah. Kadang akibat gerak janin dalam rahim, letak dan posisi tali pusat membelit tubuh janin, baik dibagian kaki, paha, perut, lengan, atau lehernya. 1. Gamelli Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini karena kelahiran kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi dari pada kelahiran satu bayi. Oleh karena itu, pada kelahiran kembar dianjurkan dilakukan di rumah sakit karena kemungkinan sewaktu-waktu dapat dilakukan tindakan operasi tanpa direncanakan. Meskipun dalam keadaan tertentu, bisa saja bayi kembar lahir secara alami.

Kontra IndikasiMengenai kontra indikasi, perlu diingat bahwa seksio sesarea dilakukan baik untuk kepentingan ibu maupun untuk kepentingan bayi, oleh sebab itu seksio sesarea tidak dilakukan kecuali dalam keadaaan terpaksa.0. Janin mati atau berada dalam keadaan kritis, kemungkinan janin hidup kecil. Dalam hal ini tidak ada alasan untuk melakukan operasi.0. Janin lahir ibu mengalami infeksi yang luas dan fasilitas untuk seksio sesaria ekstra peritoneal tidak ada.0. Kurangnya pengalaman dokter bedah dan tenaga medis yang kurang memadai.

Teknik1. Insisi AbdominalPada dasarnya insisi ini adalah insisi garis tengah subumbilikal dan insisi abdominal bawah transversa.1. Insisi garis tengah subumbilikalInsisi ini mudah dan cepat. Akses mudah dengan perdarahan minimal. Berguna jika akses ke segmen bawah sulit, contohnya jika ada kifosklerosis berat atau fibroid segmen bawah anterior. Walaupun, bekas luka tidak terlihat, terdapat banyak ketidaknyamanan pascaoperasi dan luka jahitan lebih cenderung muncul dibandingkan dengan insisi transversa. Jika perluasan ke atas menuju abdomen memungkinkan, insisi pramedian kanan dapat dilakukan.1. Insisi transversaInsisi transversa merupakan insisi pilihan saat ini. Secara kosmetik memuaskan, lebih sedikit menimbulkan luka jahitan dan lebih sedkit ketidaknyamanan, memungkinkan mobilitas pascaoperasi yang lebih baik. Insisi secara teknis lebih sulit khususnya pada operasi berulang. Insisi ini lebih vaskular dan memberikan akses yang lebih sedikit.Variasinya meliputi insisi Joel Choen (tempat abdomen paling atas) dan Misvag Ladach (menekankan pada perjuangan struktur anatomis).1. Insisi uterusJalan masuk ke dalam uterus dapat melalui insisi garis tengah atau insisi segmen transversa.0. Seksio Sesaria segmen bawahIni adalah pendekatan yang lazim digunakan. Insisi transversa ditempatkan di segmen bawah uterus gravid di belakang peritoneum utero-vesikel.Keuntungannya meliputi :1. Lokasi tersebut memiliki lebih sedikit pembuluh darah sehingga kehilangan darah yang ditimbulkan hanya sedikit.1. Mencegah penyebaran infeksi ke rongga abdomen1. Merupakan bagian uterus yang sedikit berkontraksi sehingga hanya sedikit kemungkinan terjadinya ruptur pada bekas luka di kehamilan berikutnya.1. Penyembuhan lebih baik dengan komplikasi pascaoperasi yang lebih sedikit seperti pelekatan.1. Implantasi plasenta di atas bekas luka uterus kurang cenderung terjadi pada kehamilan berikutnya.Kerugiannya meliputi :1. Akses mungkin terbatas1. Lokasi uterus yang berdekatan dengan kandung kemih meningkatkan risiko kerusakan khususnya padap prosedur pengulangan.1. Perluasan ke sudut lateral atau dibelakang kandung kemih dapat meningkatkan kehilangan darah.0. Seksio sesaria klasikInsisi ini ditempatkan secara vertikal di garis tengah uterus. Indikasi penggunaanya meliputi :0. Gestasi dini dengan perkembangan buruk pada segmen bawah0. Jika akses ke segmen bawah terlarang oleh pelekatan fibroid uterus.0. Jika janin terimpaksi pada posisi transversa.0. Pada keadaan segmen bawah vaskular karena plasenta previa anterior.0. Jika ada karsinoma serviks0. Jika kecepatan sangat penting, contohnya setelah kematian ibu.Kerugiannya meliputi :1. Homestatis lebih sulit dengan insisi vaskular yang tebal1. Pelekatan ke organ sekitarnya lebih mungkin1. Plasenta anterior dapat ditemukan selama pemasukan1. Penyembhan terhambat karena involusi miomtreial1. Terdapat lebih besar risiko ruptur uterus pada kehamilan berikutnya1. Insisi Kroning-Gellhom-BeckInsisi ini adalah garis tengah pada segemen bawah, yang digunakan pada pelahiran prematur apabila segmen bawah terbentuk dengan buruk atau dalam keadaan terdapatnya perluasan ke segmen uterus bagian atas yang dilakukan untuk memberi lebih banyak akses. Insisi ini menyebabkan lebih sedikit komplikasi seksio sesaria klasik. Insisi ini tidak menutup kemungkianan pelahiran pervginam.Ada pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk melakukan caesarea, maka berdasarkan pertimbangan tersebut dikenal rencana operasi yang dapat dikategorikan pada jenis sectio caesarea yaitu :1. Sectio Caesarea Efektif (direncanakan )Adanya pengalaman kegagalan melahirkan secara tradisional yaitu sppontan pervaginam memiliki dampak negatif ada konsep diri wanita sehingga wanita memutuskan untuk melahirkan melalui sectio caesarea, selain itu jenis ini juga digunakan sebagai unsur estetika bagi wanita untuk menjaga keutuhan jalan lahir. (Bobak, Jensen 2005)Dalam Farrer 2001, Sctio Caesarea efektif dapat juga dilakukan kalau sebelumnya sudah diperkirakan bahwa kelahiran pervaginam yang normal tidak cocok atau tifdak aman yang dapat disebabkan karena :1. Plasenta previa1. Letak janin yang stabil dan tidak bisa dikoreksi1. Riwayat obstetrik yang jelek1. Disproporsi sevalopelvik (CPD)1. Infeksi herpes virus type II (Genital)1. Riwayat Sectio Caesarea klasik1. Diabetes (kadang- kadang)1. Presentasi bokong (kadang- kadang)1. Penyakit atau kelainan yang berat pada janin, seperti eritroblastosis atau retardasi pertumbuhan yang nyata3. Sectio caesarea emergency. Sectio caesarea emergency biasanya dilakukan dengan indikasi :1. Induksi persalinan yang gagal1. Kegagalan dalam kemajuan persalinan 1. Penyakit fetal atau maternal1. Diabetes atau pre eklampsia yang berat1. Persalinan yang macet1. Prolapsus funukuli1. Perdarahan hebat dalam persalinan1. Tipe tertentu malpresentasi janin dalam persalinan

Berdasarkan tipe pembedahan, ada dua pembedahan yang biasanya dilakukan bila terjadi operasi sectio caesarea, yaitu:1. Caesarea klasikAdalah operasi dengan melakuakan insisi vertikal ke dalam bagian tubuh atas uterus. Hal ini jarang dilakukan kecuali bila ada insiden perdarahan, infeksi atau rupture uterus yang lebih tinggi dari pada kelahiran dan pada beberapa kasus presentasi bahu dan plasenta previa.1. Caesarea Segmen Bawah RahimOperasi ini dapat juga dilakukan melalui insisi vertikel (Sell Helm) atau insisi tranversal/memotong (Ker) dan insisi horizontal pada kulit dan uterus. Sectio caesarea dapat dilakukan melalui dua macam cara yaitu melalui abdomen dan vagina. Sectio caesarea melalui abdomen disebut section caesarea abdominalis, dapat dibagi menjadi dua macam yaitu transperitonealis dan ekstraperitonealis.1. Sectio caesarea transperitonealis yaitu pembedahan dengan cara membuka peritonium parietalis dengan sayatan korporal atau klasik yaitu sayatan memanjang pada korpus uteri dan dapat juga dengan sayatan propunda atau ismika, yaitu sayatan pada segmen bawah rahim.1. Sectio caesarea ekstraperitonealis adalah sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis sehingga tidak membuka kavum abdominalis. Menurut sayatannya pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut :1. Sayatan memanjang (Longitudinal) menurut kroning1. Sayatan melintang (transversal)1. Sayatan huruf T (T incision)

Teknik Anastesi Pada Sectio SesariaPenentuan teknik anestesi antara anestesi umum dan regional sangat tergantung keadaan ibu dan janin serta kemampuan anestesiolog, oleh karena itu seorang ahli anestesi diharapkan dapat memilih teknik anestesi yang aman, tepat dan aman bagi ibu.Pada anestesi regional sebaiknya dihindari blok subaraknoid/spinal anestesi karena perubahan tekanan darah akan terjadi dengan cepat dan dapat mengganggu perfusi plasenta, kecuali jika telah dipersiapkan terapi preoperatif dengan baik (cairan dan vasodilator). Secara umum dapat dikatakan bahwa ada gangguan koagulasi merupakan kontra indikasi untuk regional anestesi, karena dapat terjadi hematom epidural yang akan menekan medula spinalis.Anestesi umum memberikan beberapa keuntungan antara lain: induksi anestesi yang cepat, lebih mudah dalam mengontrol jalan nafas dan ventilasi serta memperkecil kejadian hipotensi dan gangguan kardiovaskuler selama persalinan.Teknik anestesi ini diperlukan selama bedah sesar terutama pada beberapa kondisi tertentu seperti terjadinya gangguan hemodinamik pada ibu, koagulopati, gawat janin yang tidak dapat diatasi dengan anestesi regional atau atas permintaan ibunya sendiri. Selain itu selama periode anestesi, faktor tindakan anestesi dan pembedahan dapat menyebabkan gangguan kardiovaskuler antara lain pada periode induksi anestesi dimana fluktuasi tekanan darah dan denyut jantung dapat terjadi berlebihan, mendadak, dan cepat. Keadaan ini juga terjadi pada saat penghentian obat anestesi sehingga perlu perhatian dan pengawasan yang lebih ketat.

Teknik anestesi pada pasie SC da 2 yaitu: anastesi lokal (spinal atau epidural)Pada teknik anestesi ini, memungkinkan sang ibu untuk tetap sadar selama proses pembedahan dan untuk menghindari bayi dari pembiusan. anastesi umum atau General AnestesiTeknik anestesi ini sudah jarang dilaukan, umum dilakukan apabila terjadi kasus-kasus berisiko tinggi atau kasus darurat.Anestesi spinal pada penderita-penderita yang akan dioperasi sectio caesarea dengan pemikiran bahwa : Analgesi epidural lebih banyak membutuhkan waktu dan ketrampilan, juga adanya stimulasi alat-alat dalam yang menimbulkan perasaan tidak enak pada waktu manipulasi (terutama manipulasi segmen bawah uterus) serta adanya kegagalan-kegagalan walaupun dilakukan oleh seorang ahli. Sedangkan anestesi spinal lebih mudah dilakukan, onset lebih cepat, blokade sarafnya meyakinkan, kemungkinan toksisitas tidak ada karena dosis yang rendah, dan karenaadanya blokade saraf sakral yang sempurna, perasaan tidak enak seperti pada anestesi epidural tidak ada. Dengan anestesi regional ibu masih dalam keadaan sadar, refleks protektif masih ada, sehingga kemungkinan terjadinya aspirasi isi lambung kecil sekali. Ibu tidak menerima banyak macam obat dan perdarahannya lebih sedikit. Dari segi janin, anestesi regional ini bebas daripada obat-obat yang mempunyai efek depresi terhadap janin.Teknik apapun yang dipakai, agar keadaan ibu dan anak tetap baik. Usahakan: mempertahankan kestabilan sistim kardiovaskuler oksigenisasi yang cukup mempertahankan perfusi plasenta yang cukup. Pemberian cairan pre-operatif, pencegahan aortacaval compression (tilting, uterine displacement), oksigenisasi dan pemberian efedrin merupakan hal-hal yang penting sekali dilakukan.

Anestesi Spinal (Sub Arachnoid Nerve Block)Anestesi spinal merupakan teknik anestesi regional yang baik untuk tindakan-tindakan bedah, obstetrik, operasi operasi bagian bawah abdomen dan ekstremitas bawah. Teknik ini baik sekali bagi penderita-penderita yang mempunyai kelainan paru-paru, diabetes mellitus, penyakit hati yang difus dan kegagalan fungsi ginjal, sehubungan dengan gangguan metabolisme dan ekskresi dari obat-obatan. Bagian motoris dan proprioseptis paling tahan terhadap blokade ini dan yang paling dulu berfungsi kembali. Sedangkan saraf otonom paling mudah terblokir dan paling belakang berfungsi kembali. Tingginya blokade saraf untuk otonom dua dermatome lebih tinggi daripada sensoris, sedangkan untuk motoris dua-tiga segemen lebih bawah. Secara anatomis dipilih segemen L2 ke bawah pada penusukan oleh karena ujung bawah daripada medula spinalis setinggi L2 dan ruang interegmental lumbal ini relatif lebih lebar dan lebih datar dibandingkan dengan segmen-segmen lainnya. Lokasi interspace ini dicari dengan menghubungkan crista iliaca kiri dan kanan. Maka titik pertemuan dengan segmen lumbal merupakan processus spinosus L4 atau L45 interspace.

Ligamentum yang dilalui pada waktu penusukan yaitu :0. Ligamentum supraspinosus0. Ligamentum interspinosus0. Ligamentum flavum

Teknik Anestesi Spinal :

1. Infus Dextrosa/NaCl/Ringer laktat sebanyak 500 - 1500 ml.1. Oksigen diberikan dengan masker 6 - 8 L/mt.1. Posisi lateral merupakan posisi yang paling enak bagi penderita.1. Kepala memakai bantal dengan dagu menempel ke dada, kedua tangan memegang kaki yang ditekuk sedemikian rupa sehingga lutut dekat ke perut penderita.1. L3 - 4 interspace ditandai, biasanya agak susah oleh karena adanya edema jaringan.1. Skin preparation dengan betadin seluas mungkin.1. Sebelum penusukan betadin yang ada dibersihkan dahulu.1. Jarum 22 - 23 dapat disuntikkan langsung tanpa lokal infiltrasi dahulu, juga tanpa introducer dengan bevel menghadap ke atas.1. Kalau liquor sudah ke luar lancar dan jernih, disuntikan xylocain 5% sebanyak 1,25 - 1,5 cc.1. Penderita diletakan terlentang, dengan bokong kanan diberi bantal sehingga perut penderita agak miring ke kiri, tanpa posisi Trendelenburg.1. Untuk skin preparation, apabila penderita sudah operasi boleh mulai.1. Tensi penderita diukur tiap 2 - 3 menit selama 15 menit pertama, selanjutnya tiap 15 menit.1. Apabila tensi turun dibawah 100 mmHg atau turun lebih dari 20 mmHg dibanding semula, efedrin diberikan 10 15 mgl.V.1. Setelah bayi lahir biasanya kontraksi uterus sangat baik, sehingga tidak perlu diberikan metergin IV oleh karena sering menimbulkan mual dan muntah-muntah yang mengganggu operator. Syntocinon dapat diberikan per drip.1. Setelah penderita melihat bayinya yang akan dibawa ke ruangan, dapat diberikan sedatif atau hipnotika.

Komplikasi0. Infeksi puerperal (nifas)0. Ringan : dengan kenaikan suhu beberapa hari saja.0. Sedang : dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung0. Berat : dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering kita jumpai pada partus terlantar, dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intrapartal karena ketuban yang telah pecah terlalu lama.Penangannya adalah dengan pemberian cairan, elektrolit dan antibiotika yang adekuat dan tepat.0. Perdarahan, disebabkan karena :1. Banyak pembuluha darah yang terputus dan terbuka1. Atonia uteri1. Perdarahan pada placental bed.0. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila reperitonialisasi terlalu tinggi.0. Kemungkinan ruptura uteri spontan pada kehamilan mendatang.

PrognosisAngka morbiditas dan mortalitas ibu dan relatif menurun karena kemajuan yang pesat dalam teknik operasi, anestesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotika. Angka kematian ibu pada rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 100. Nasib janin yang tertolong secara seksio sesaria sangat tergantung dari keadaan sebelum dilakukan operasi. Menurut data dari negara-negara dengan pengawasan antenatal yang baik fasilitas neonatal yang sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4-7%.

DAFTAR PUSAKAMartius, Gerhard, (1997), Bedah Kebidanan Martius, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Muchtar, Rustam,(1998), Sinopsis Obstetri, Edisi 2, Jilid 1, EGC. Jakarta.Ngastiyah.( 1997 ). Perawatan Anak Sakit Jakarta : EGC

Prawirohardjo, S. 2000. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal danneonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

Sarwono Prawiroharjo,(1999)., Ilmu Kebidanan, Edisi 2 Cetakan II Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.

Winkjosastro, Hanifa, 2005, Ilmu Kebidanan, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka