31
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ISPA merupakan penyakit penyebab utama kematian bayi dan sering menempati urutan pertama angka kematian balita. Penanganan dini terhadap penyakit ISPA terbukti dapat menurunkan angka kematian. ISPA juga sangat erat hubungannya dengan sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih, terutama budaya cuci tangan. Oleh sebab itu, upaya intervensi yang berupa kegiatan penyuluhan dan promosi kesehataan harus didorong untuk mencegah penyakit ini. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2002 melaporkan hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia ( SDKI ) yang menyebutkan bahwa prevalensi untuk ISPA adalah 9.8% pada tahun1991 dengan kelompok usia tertinggi adalah kelompok usia 12- 23 bulan. Pada tahun 1994, angkanya meningkat menjadi 10% dengan prevalensi 6- 35 bulan. Untuk prevalensi usia 6- 11 bulan, angaknya menurun menjadi 9% pada tahun 1997. Dan di tahun 1

asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ispa merupakan suatu infeksi penapasan yang banyak dialami oleh anak- anak. banyak orang mengartikan bahwa ispa adalah infeksi saluran pernapasan atas. tapi, arti sebenarnya ispa adalah infeksi saluran pernapasan akut. infeksi ini didapat dari polusi udara.

Citation preview

Page 1: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

ISPA merupakan penyakit penyebab utama kematian bayi dan

sering menempati urutan pertama angka kematian balita. Penanganan dini

terhadap penyakit ISPA terbukti dapat menurunkan angka kematian. ISPA

juga sangat erat hubungannya dengan sanitasi lingkungan dan perilaku

hidup bersih, terutama budaya cuci tangan. Oleh sebab itu, upaya

intervensi yang berupa kegiatan penyuluhan dan promosi kesehataan harus

didorong untuk mencegah penyakit ini.

Profil Kesehatan Indonesia tahun 2002 melaporkan hasil Survei

Demografi Kesehatan Indonesia ( SDKI ) yang menyebutkan bahwa

prevalensi untuk ISPA adalah 9.8% pada tahun1991 dengan kelompok

usia tertinggi adalah kelompok usia 12- 23 bulan. Pada tahun 1994,

angkanya meningkat menjadi 10% dengan prevalensi 6- 35 bulan. Untuk

prevalensi usia 6- 11 bulan, angaknya menurun menjadi 9% pada tahun

1997. Dan di tahun 2002 angkanya menurun lagi menjadi 8% dengan

prevalensi 6- 23 bulan.

Namun, di tahun 2012 ini, prevalensinya meningkat. Ini

dikarenakan musim kemarau yang berkepanjangan di beberapa daerah di

Indonesia. Yang mana saat kemarau debu- debu, asap kendaraan, dan

faktor- faktor penyebab lainnya dalam kapisitas jumlah yang banyak,

terutama di jalan- jalan besar atau perkotaan. Sehingga penderita ISPA

yang terdata, sebagian besar adalah anak- anak atau balita.

1

Page 2: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

1.2. Tujuan Penulisan

1.2.1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu mengetahui, memahami, menjelaskan, dan

mengaplikasikan tentang asuhan keperawatan pada pasien ISPA. Serta

dapat memberikan asuhan keperawatan yang baik dan benar terhadapa

pasien.

1.2.2. Tujuan Khusus

a. Mampu menjelaskan definisi dari ISPA.

b. Mampu menjelaskan klasifikasi dari ISPA.

c. Mampu menjelaskan etiologi dari ISPA.

d. Mampu menjelaskan patofisiologi dari ISPA.

e. Mampu menjelaskan manifestasi klinis dari ISPA.

f. Mampu menjelaskan penatalaksanaan dari ISPA.

g. Mampu menjelaskan pemeriksaan fisik dari ISPA.

h. Mampu menjelaskan asuhan keperawatan dari ISPA.

2

Page 3: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1. Definisi

ISPA adalah penyakit salauran pernapasan akut dengan perhatian

khusus pada radang paru ( pneumonia ), dan bukan penyakit telinga dan

tenggorokan ( Widoyono, 2011 ).

Infeksi saluran pernapasan akut ( ISPA ) adalah penyakit saluran

pernapasan yang bersifat akut dengan berbagai gejala ( sindrom )

(Widoyono, 2011 ).

ISPA sering disalah artikan sebagai infeksi saluran pernapasan

atas. Yang benar, ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran

Pernafasan Akut, yang meliputi saluran pernapasan bagian atas dan

saluran pernapasan bagian bawah. Penyakit infeksi akut yang menyerang

salah satu atau lebih bagian dari saluran napas mulai dari hidung (saluran

bagian atas) hingga jaringan di dalam paru-paru (saluran bagian bawah).

Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni ‘infeksi’, ‘saluran

pernapasan’, dan ‘akut’, dimana pengertiannya adalah sebagai berikut :

1. Infeksi

Adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh

manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.

2. Saluran pernapasan

Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari

hidung sampai gelembung paru (alveoli), beserta organ-organ di

sekitarnya.

3. Infeksi Akut

3

Page 4: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

Adalah Infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari

diambil untuk menunjukkan proses akut.

2.2. Klasifikasi

Klasifikasi penyakit ISPA sebagai berikut:

a) Bukan pneumonia

Mencakup kelompok pasien balita dengan batuk yang tidak

menunjukkan gejala peningkatan frekuensi napas, serta tidak

menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke arah

dalam. Contohnya adalah common cold, faringitis, tonsilitis, dan

otitis.

b) Pneumonia

Didasarkan pada adanya batuk atau kesukaran bernapas. Untuk

diagnosis gejala ini yaitu berdasarkan pada usia. Batas dari frekuensi

napas cepat pada anak berusia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun

yakni 50 x/ m, serta untuk anak yang berusia 1 sampai kurang dari 5

tahun yakni 40x/ m.

c) Pneumonia berat

Berdasarkan pada batuk atau kesukaran bernapas disertai sesak

napas atau tarikan pada dinding dada bagian bawah ke arah dalam (

chest indrawing ) pada anak berusia 2 bulan sampai kurang dari 5

tahun. Untuk anak usia 2 tahun, diagnosis pneumonia berat ditandai

dengan adanya napas cepat, dengan frekuensi pernapasan adalah

60x/ m atau lebih, atau adanya tarikan yang kuat pada dinding dada

bagian bawah ke arah dalam ( severe chest indrawing ).

2.3. Etiologi

a) Bakteri: diplococcus pneumoniae, pneumococcus, streptococcus

pyogenes, staphylococcus aaureus, haemophilus influenzae, dan lain-

lain.

4

Page 5: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

b) Virus: influenza, adenovirus, sitomegalovirus.

c) Jamur: aspergilus sp., candida albicans, histoplasma, dan lain-lain.

d) Aspiarasi: makanan, asap kendaraan bermotor, BBM ( bahan bakar

minyak) biasanya minyak tanah, cairan amnion pada saat lahir, benda

asing (biji-bijian, mainan plastik kecil, daan lain-lain).

Walaupun penyebab ISPA beraneka ragam, tetapi penyebab

terbanyaknya adalah infeksi dari virus dan bakteri. Penyebab infeksi ini

dapat berdiri sendiri ataupun bersama- sama secara simultan. Penyebab

ISPA akibat infeksi virus berkisar 90- 95% terutama ISPA atas. Walaupun

demikian peranan bakteri cukup besar.

2.4. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis dari ISPA ini dapat kita klasifikasikan sebagai

berikut:

a. ISPA ringan ditandai dengan gejala batuk, pilek, serak dan atau

tanpa panas (demam).

b. ISPA sedang ditandai dengan gejala pada ISPA ringan, disertai satu

atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :

a) Pernapasan lebih dari 50 kali per menit pada anak yang berumur

kurang dari satu tahun.

b) Pernapasan lebih dari 40 kali per menit pada anak yang berumur

satu tahun

1) Suhu badan 39ºC.

2) Tenggorokan berwarna merah.

3) Bercak-bercak merah di kulit seperti campak.

4) Sakit ditelinga atau mengeluarkan nanah dari lubang

telinga.

5) Pernapasan berbunyi seperti mengorok ( mendengkur ).

c. ISPA berat, gejala ISPA ringan atau sedang disertai satu atau lebih

gejala-gejala sebagai berikut :

5

Page 6: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

1) Nadi lebih dari 160 kali per menit atau tidak teratur.

2) Retraksi sel iga ke dalam pada waktu bernafas.

3) Sianosis.

4) Nafas cuping hidung.

5) Tidak sadar atau kesadrannya menurun.

6) Rensil atau faring ada membran.

Untuk lebih singkatnya kita juga dapat melihat manifestasi klinis

yang umum pada pasien, diantaranya:

a) Demam.

b) Meningismus

Gejala meningitis disertai penyakit demam akut atau dehidrasi tanpa

infeksi meningens.

c) Anorexia.

d) Abdominal pain.

e) Sumbatan pada jalan napas.

f) Batuk.

g) Suara napas wheezing.

2.5. Patofisiologi

Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 4 tahap yaitu :

a) Tahap prepatogenesis: penyebab telah ada tetapi belum

menunjukkan reaksi apa-apa.

b) Tahap inkubasi: virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa.

Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan

sebelumnya rendah.

c) Tahap dini penyakit: dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul

gejala demam dan batuk.

d) Tahap lanjut penyakit, dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh

sempurna,sembuh dengan atelektasis,menjadi kronos dan meninggal

akibat pneumonia.

6

Page 7: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

2.6. Penatalaksanaan

2.6.1. Penatalaksanaan Keperawatan

Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk

standar pengobatan penyakit ISPA yang nantinya akan berdampak

mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus- kasus batuk atau pilek

biasa. Serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat.

Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang

pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan penunjang

yang penting bagi pederita ISPA.

Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat dari tabel berikut:

USIA <2 BULAN

TANDA Napas cepat: ≥60x per

menit atau

Tarikan dinding dada

bagiian bawah ke arah

dalam yang kuat

Tidak ada napas cepat:

<60x per menit atau

Tidak ada tarikan

dinding dada bagian

bawah ke arah dalam

KLASIFIKAS

I

PNEUMONIA BERAT BUKAN PNEUMONIA

TINDAKAN Kirim segera ke sarana

rujukan

Beri antibiotik satu

dosis

a. Beri nasihat cara perawatan

di rumah

Jaga agar bayi tidak

kedinginan

Teruskan pemberian ASI

dan berikan ASI lebih

sering

Bersihkan hidung bila

tersumbat

b. Anjurkan ibu untuk

kembali kontrol, bila:

7

Page 8: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

Keaadaan bayi memburuk

Napas menjadi cepat

Bayi suliit bernapas

Bayi sulit untuk minum

USIA 2 BULAN SAMPAI <5 TAHUN

TANDA Tarikan dinding

dada bagian bawah

ke arah dalam

Tidak ada tarikan

dinding dada

bagian bawah ke

arah dalam

Napas cepat:

2 bln- <12 bln:

≥50x per menit

1 thn- <5 thn :

≥40x per menit

Tidak ada

tarikan dinding

dada bagian

bawah ke arah

dalam

Tidak ada napas

cepat : 2 bln-

<12 bln: <50x

per menit

1 thn- <5thn:

<40x per menit.

KLASIFIKAS

I

PNEUMONIA

BERATPNEUMONIA

BUKAN

PNEUMONIA

TINDAKAN Rujuk segera ke

sarana kesehatan

Beri antibiotik

satu dosis bila

jarak saarana

kesehatan jauh

Obati bila

Nasihati ibu u/

melakukan

perawatan di

rumah

Beri antibiotik

selama 5hari

Anjurkan ibu u/

Jika batuk

brlangsung

selama 30 hari,

rujuk u/

pemeriksaan

lanjutan

Obati penyakit

8

Page 9: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

demam

Obati bila ada

wheezing

kontrol setelah 2

hari/ lebih cepat

billa keadaan

anak memburuk

Obati bila

demam

Obati bila ada

wheezing

lain bila ada

Nasihati ibu u/

melakukan

perawatan

dirumah

Obati bila

demam

Obati bila ada

wheezing

Selain penatalaksanaan yang dicantumkan dalam tabel,

penatalaksanaan lain yang dapat kita lakukan antara lain:

a) Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari.

b) Meningkatkan makanan bergizi.

c) Bila demam beri kompres dan banyak minum.

d) Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan

sapu tangan yang bersih.

e) Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak

terlalu ketat.

f) Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak

tersebut masih menyusui.

2.6.2. Penatalaksanaan Medis

a. Suportif: meningkatkan daya tahan tubuh, berupa nutrisi yang

adekuat, pemberian multivitamin, dll.

b. Antibiotik: Idealnya berdasarkan jenis kuman penyebab utama,

yang ditujukan pada S. pneumonia, H. Influensa dan S. Aureus.

c. Mengatasi panas ( demam ) dengan memberikan parasetamol

atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam

9

Page 10: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam

untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai

dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan.

Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih,

celupkan pada air ( tidak perlu air es ).

d. Mengatasi batuk. Dianjurkan memberi obat batuk yang aman

yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok

teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok the, diberikan

tiga kali sehari.

2.7. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik di fokuskan pada pengkajian sistem pernapasan :

1) Pengkajian tanda – tanda vital dan kesadaran klien.

2) Inspeksi :

a) Membran mucosa hidung faring tampak kemerahan.

b) Tonsil tampak kemerahan dan edema.

c) Tampak batuk tidak produktif.

d) Tidak ada jaringna parut pada leher.

e) Tidak tampak penggunaan otot- otot pernapasan

tambahan,pernapasan cuping hidung, tachypnea, dan hiperventilasi.

3) Palpasi

a) Adanya demam.

b) Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher/

nyeri tekan pada nodus limfe servikalis.

c) Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid.

4) Perkusi

Mendengar suara paru, yang normalnya itu suara resonance.

10

Page 11: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

5) Auskultasi

Suara napas vesikuler / tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru.

2.8. Asuhan Keperawatan

2.8.1. Dasar Data Pengkajian

a) Aktivitas/ Istirahat

Gejala: kelemahan, kelelahan, insomnia.

Tanda: letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.

b) Sirkulasi

Gejala: riwayat adanya/ GJK kronis

Tanda: takikardi, penampilan kemerahan atau cepat.

c) Integritas ego

Gejala: banyaknya stresor, masalah finansial.

d) Makanan/ Cairan

Gejala: kehilangan napsu makan, mual/ muntah. Riwayat diabetes

melitus

Tanda:

Distensi abdomen

Hiperaktif bunyi usus

Kulit kering dengan turgos buruk

Penampilan kakeksia ( malnutrisi )

e) Neurosensori

Gejala: sakit kepala daerah frontal ( influenza ).

Tanda: perubahan mental ( bingung, somnolen ).

f) Nyeri/ Kenyamanan

Gejala:

Sakit kepala.

Nyeri dada ( pleuritik ), meningkat oleh batuk; nyeri dada

substernal ( influenza ).

Mialgia, artralgia

11

Page 12: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

Tanda: melindungi area yang sakit ( pasien umumnya tidur pada sisi

yang sakit untuk membatasi gerakan ).

g) Pernapasan

Gejala:

Riwayat adanya/ ISK kronis, PPOM, merokok sigaret.

Takipnea, dipsnea progresif, pernapasan dangkal, penggunaan otot

aksesori, pelebaran nasal.

Tanda:

Sputum: merah muda, berkarat, atau purulen.

Perkusi: pekak di atas area yang konsolidasi.

Fremitus: taktil dan vokal bertahap meningkat dengan konsolidasi.

Gesekan friksi pleural.

Bunyi napas: menurun atau tak ada di atas area yang terlibat, atau

napas bronkial.

Warna: pucat atau sianosis bibir/ kuku.

h) Keamanan

Gejala:

Riwayat gangguan sistem imun, mis. SLE, AIDS, penggunaan

steroid atau kemoterapi, institusionalisasi, ketidakmampuan umum.

Demam ( mis. 38,5- 39.60C ).

Tanda:

Berkeringat

Menggihil berulang, gemetar

Kemerahan mungkin ada pada kasus rubela atau varisela.

2.8.2. Masalah Keperawatan

1) Hipertermi

2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan.

3) Nyeri akut.

4) Resiko tinggi penularan infeksi.

12

Page 13: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

13

Page 14: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

2.8.3. Intervensi dan Rasional

DiagnosaTujuan & Kriteria

HasilIntervensi Rasional

Hipertermi

berhubungan

dengan proses

inspeksi

Dalam waktu 3 x 24 jam

setelah diberikan

diharapkan suhu tubuh

klien dapat normal, yakni

berkisar antara 360C-

37,5oC.

Kriteria Hasil:

1. Suhu menjadi normal

360C- 37,5oC.

2. TTV normal.

Mandiri

1. Observasi tanda – tanda vital

2. Anjurkan pada klien/keluarga

umtuk melakukan kompres dingin

(air biasa) pada kepala / axial.

3. Anjurkan klien untuk

menggunakan pakaian yang tipis

dan yang dapat menyerap keringat

seperti terbuat dari katun.

4. Atur sirkulasi udara.

R/: Pemantauan tanda vital yang

teratur dapat menentukan

perkembangan perawatan

selanjutnya.

R/: Dengan menberikan kompres

maka aakan terjadi proses konduksi/

perpindahan panas dengan bahan

perantara.

R/: Proses hilangnya panas akan

terhalangi untuk pakaian yang tebal

dan tidak akan menyerap keringat.

R/: Penyedian udara bersih.

14

Page 15: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

5. Anjurkan klien untuk minum

banyak ± 2000 – 2500 ml/ hr.

6. Anjurkan klien istirahat ditempat

tidur selama fase febris penyakit

Kolaborasi

Dalam pemberian terapi, obat

antimikrobial dan antipiretika.

R/: Kebutuhan cairan meningkat

karena penguapan tubuh meningkat.

R/: Tirah baring untuk mengurangi

metabolism dan panas.

R/: Untuk mengontrol infeksi

pernapasan,menurunkan panas.

Ketidakseimbangan

nutrisi kurang dari

kebutuhan

berhubungan

dengan anoreksia

Dalam waktu 3 x 24 jam

setelah diberikan

diharapkan nutrisi klien

dapat terpenuhi.

Kriteria hasil:

1. Klien dapat mencapai

BB yang direncanakan

mengarah kepada BB

Mandiri

1. Kaji kebiasaan diet, input-output

dan timbang BB setiap hari

2. Berikan makan pporsi kecil tapi

sering dan dalam keadaan hangat

R/: Berguna untuk menentukan

kebutuhan kalori menyusun tujuan

berat badan, dan evaluasi

keadekuatan rencana nutrisi.

R/: Untuk menjamin nutrisi adekuat/

meningkatkan kalori total

15

Page 16: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

normal.

2. Klien dapat

mentoleransi diet yang

dianjurkan.

3. Tidak menunujukan

tanda malnutrisi.

3. Beriakan oral sering, buang sekret

berikan wadah khusus untuk sekali

pakai dan tisu serta ciptakan

lingkungan bersih dan

menyenamgkan.

4. Tingkatkan tirai baring.

Kolaborasi

Konsul ahli gizi untuk memberikan

diet sesuai kebutuhan klien

R/: Nafsu makan dapat dirangsang

pada situasi rileks, bersih dan

menyenangkan.

R/: Untuk mengurangi kebutuhahan

metabolik

R/: Metode makan dan kebutuhan

kalori didasarkan pada situasi atau

kebutuhan individu untuk

memberikan nutrisi maksimal.

Nyeri akut

berhubungan

dengan inflamasi

pada membran

Dalam waktu 3 x 24 jam

setelah diberikan

diharapkan nyeri klien

berkurang dan terkontrol.

Mandiri

1. Teliti keluhan nyeri. Catat

intensitasnya ( dengan skala 0 –

10 ), faktor memperburuk atau

R/: Identifikasi karakteristik nyeri &

factor yang berhubungan merupakan

suatu hal yang amat penting untuk

memilih intervensi yang cocok &

16

Page 17: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

mukosa faring dan

tonsil. Kriteria hasil:

1. Skala nyeri yang

dialami klien turun

menjadi 4 ataupun 3.

meredakan lokasimya, lamanya,

dan karakteristiknya.

2. Anjurkan klien untuk menghindari

alergen / iritan terhadap debu,

bahan kimia, asap,rokok. Dan

mengistirahatkan/meminimalkan

berbicara bila suara serak.

3. Anjurkan untuk melakukan kumur

air garam hangat

Kolaborasi

Berikan obat sesuai indikasi

Steroid oral, IV, & inhalasi

Analgesik

untuk mengevaluasi ke efektifan

dari terapi yang diberikan.

R/: Mengurangi bertambah beratnya

penyakit.

R/: Peningkatan sirkulasi pada

daerah tenggorokan serta

mengurangi nyeri tenggorokan.

R/: Kortikosteroid digunakan untuk

mencegah reaksi alergi /

menghambat pengeluaran histamine

dalam inflamadi

pernapasan.Analgesic untuk

mengurangi rasa nyeri.

Resiko tinggi

penularan infeksi

Dalam waktu 3 x 24 jam

setelah diberikan tindakan

Mandiri

1. Batasi pengunjung sesuai indikasi

R/: Menurunkan potensial terpalan

pada penyakit infeksius.

17

Page 18: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

berhubungan

dengan tidak

kuatnya pertahanan

sekunder ( adanya

infeksi penekanan

imun )

diharapkan klien tidak

mengalami penularan

infeksi dan pertahanan

tubuh meningkat.

Kriteria hasil:

1. Tidak terjadi penularan.

2. Tidak terjadi

komplikasi.

2. Jaga keseimbangan antara istirahat

dan aktifitas.

3. Tutup mulut dan hidung jika

hendak bersin, jika ditutup dengan

tisu buang segera ketempat sampah

4. Tingkatkan daya tahan tubuh,

terutama anak usia dibawah 2

tahun, lansia dan penderita

penyakit kronis. Dan konsumsi

vitamin C, A dan mineral seng atau

anti oksidan jika kondisi tubuh

menurun / asupan makanan

berkurang

R/: Menurunkan konsumsi

/kebutuhan keseimbangan O2 dan

memperbaiki pertahanan klien

terhadap infeksi, meningkatkan

penyembuhan.

R/: Mencegah penyebaran patogen

melalui cairan

R/: Malnutrisi dapat mempengaruhi

kesehatan umum dan menurunkan

tahanan terhadap infeksi

18

Page 19: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

Kolaborasi

Pemberian obat sesuai hasil kultur R/: Dapat diberikan untuk

organiasme khusus yang

teridentifikasi dengan kultur dan

sensitifitas / atau di berikan secara

profilatik karena resiko tinggi

19

Page 20: asuhan keperawatan pasien dengan ISPA

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

ISPA ( Infeksi Saluran Pernapasan Akut ) adalah penyakit atau

infeksi saluran pernapasan yang bersifat akut akibat masuknya

mikroorganisme melalui saluran pernapasan.

Manifestasi klinis dari penyakit ini biasanya pasien akan

menunjukkan demam, sesak napas, menigismus, batuk, anorexia, dan

lain- lain. Mengapa salah satu dari manifestasi klinisnya pasien

menunjukkan anorexia? Karena akibat dari inflamasi pada saluran

pernapasan, menyebabkan nafsu makan pasien menurun sehingga tidak

ada suplai nutrisi yang masuk ke tubuh pasien.

3.2. Saran

a) Saran untuk perawat, agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang

tepat dan benar kepada pasien dengan ISPA.

b) Untuk mahasiswa, dapat menambah wawasan tentang penyakit ISPA dan

meningkatkan keterampilan dalam memberikan tindakan yang tepat

kepada klien.

20