of 109 /109
POLTEKKES KEMENKES PADANG ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE DI RUANG 2 IBU DAN ANAK RS REKSODIWIRYO PADANG KARYA TULIS ILMIAH Diajukan ke Program Studi D III Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan RI Padang sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan LIDIA PARAMITA NIM: 143110252 JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN PADANG TAHUN 2017

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

  • Upload
    others

  • View
    8

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

POLTEKKES KEMENKES PADANG

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE DI

RUANG 2 IBU DAN ANAK RS REKSODIWIRYO

PADANG

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan ke Program Studi D III Keperawatan Politeknik Kesehatan

Kementrian Kesehatan RI Padang sebagai salah satu syarat untuk

memperoleh

gelar Ahli Madya Keperawatan

LIDIA PARAMITA

NIM: 143110252

JURUSAN KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN PADANG

TAHUN 2017

Page 2: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmad dan

karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan

judul “Asuhan Keperawatan Anak Pada Anak dengan Diare di Ruang 2 Ibu

dan Anak RS Reksodiwiryo Padang pada Tahun 2017”. Shalawat beriring

salam peneliti sampaikan kepada Rasulullah SAW yang telah membawa umat

manusia dari alam kebodohan kealam yang penuh dengan ilmu pengetahuan

seperti sekarang ini.

Peneliti menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari

masa perkuliahan sampai pada penyusunan karya tulis ilmiah, Sangatlah sulit bagi

peneliti untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Oleh karena itu, peneliti

mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Ns. Zolla Amelly Ilda, M. Kep selaku pembimbing I yang telah

mengarahkan membimbing dan memberikan masukan dengan penuh

kesabaran dan perhatian dalam membuat karya tulis ilmiah ini.

2. Ibu Delima, S.Pd, M.Kes selaku pembimbing II yang telah mengarahkan

membimbing dan memberikan masukan dengan penuh kesabaran dan

perhatian dalam membuat karya tulis ilmiah ini.

3. Bapak H. Sunardi, SKM, M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan

Kementerian Kesehatan RI Padang

4. Ibu Hj. Murniati Muchtar, SKM, M.Biomed selaku Ketua Jurusan

Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan RI Padang

5. Ibu Ns. Idrawati Bahar, S.Kep, M. Kep selaku Ketua Program Studi D III

Keperawatan Padang Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan RI

Padang

6. Ibu/Bapak Staf Dosen Program Studi Keperawatan Padang Politeknik

Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Padang yang telah memberikan

bekal ilmu untuk bekal peneliti.

7. Bapak Direktur RS Reksodiwiryo Padang beserta staf yang telah

mengizinkan untuk melakukan penelitian

i

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 3: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

8. Teristimewa kepada papa, mama, sisil, dan adek yang telah memberikan

semangat, serta restu yang tak dapat ternilai dengan apapun. Maaf kalau

selama kuliah Lidia banyak menghabiskan uang papa dan mama baik

untuk keperluan kuliah maupun yang tidak untuk keperluan kuliah.

Semoga Allah SWT membalas semua jasa papa, mama.

9. Spesial kepada para sahabat Nanda Berta Chania Amd.Kep, Shania Nabila

Amd.Kep, Rissa Mona Eriksani Amd.Kep , Thalhah Gazali Amd.Kep,

Nopebrian Bazar Yulias Amd.Kep, Dwi Sarah Rahmaniar Amd.Kep yang

selalu memberikan motivasi, tawa, sedih bersama selama tiga tahun ini

hingga penyusunan karya tulis ilmiah sampai kita wisuda nanti.

10. Terimakasih untuk Kelompok 2 Komunitas, Lady Permata Sari Amd.Kep

yang sudah mau menghabiskan waktu bersama selama praktek.

Terimakasih juga untuk Kelompok 54 PKTL senang bisa bertemu kalian,

senang bisa menghabiskan hari-hari selama PKLT bersama kalian.

11. Kepada nenek ipin, nenek anun, dan nenek sofi yang sudah mau

mendengarkan keluh kesah peneliti selama ini. Semoga kita semua bisa

sukses dibidangnya masing-masing.

12. Rekan- rekan kelas III C yang seperjuangan, terutama zizi yang sudah mau

berjuang dari awal sampai akhirnya ujian karya tulis ilmiah dan teman-

teman Bp 2014 keperawatan yang tidak dapat penulis sebutkan satu

persatu yang telah membantu penulis menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

Akhir kata, penulis berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan

semua pihak yang telah mambantu. Semoga nantinya dapat membawa manfaat

bagi pengembangan ilmu.

Padang, Juni 2017

Penulis

ii

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 4: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

iii

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 5: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

iv

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 6: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

v

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 7: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Lidia Paramita

NIM : 143110252

Tempat/Tanggal Lahir : Padang/ 14 Maret 1996

Agama : Islam

Status Perkawinan : Belum Kawin

Nama Orang Tua

Ayah : Dafril

Ibu : Yusnita

Alamat : Komp. Perum Green Arya 1 No. 01 RT. 05

Kel. Tabing Banda Gadang Kec. Nanggalo,

Padang

Riwayat Pendidikan

No Pendidikan Tahun Ajaran

1 SDN 03 Alai Padang Timur 2002-2008

2 SMP N 22 Padang 2008-2011

3 SMA PGRI 1 Padang 2011-2014

4 Prodi Keperawatan Padang, Jurusan

Keperawatan, Poltekkes Kemenkes RI Padang

2014-2017

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG

vi

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 8: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

JURUSAN KEPERAWATAN

Karya Tulis Ilmiah, Juni 2017

Lidia Paramita

Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Diare di Ruang 2 Ibu dan Anak RS

Reksodiwiryo Padang Tahun 2017

Isi : xii + 86 Halaman + 10 Tabel + 1 Bagan + 7 Lampiran

ABSTRAK

Diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada

anak. Berdasarkan data yang didapatkan dari Rekam Medis RS Reksodiwiryo

Padang didapatkan data jumlah pasien rawat inap dengan Diare pada tahun 2016

sebanyak 337 orang. Tujuan penelitian adalah diketahuinya asuhankeperawatan pada pasien anak dengan Diare di Ruang 2 Ibu dan AnakRS Reksodiwiryo Padang tahun 2017.

Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan desainstudi kasus. Dilakukan tanggal 23 Mei sampai dengan 27 Mei 2017 diRuang 2 Ibu Dan Anak RS Reksodiwiryo Padang. Populasi penelitian iniseluruh pasien anak Diare dengan sampel yang diambil secara purposivesampling. Instrument pengumpulan data yang digunakan formatpengkajian dan alat pemeriksaan fisik. Metode pengumpulan datawawancara, observasi, studi dokumentasi, setelah itu data yang dianalisisuntuk merumuskan diagnosa dan intervensi keperawatan.

Hasil penelitian yang didapatkan pada An.D dan An.R yaitu mengalami

Diare dengan gejala yang berbeda yaitu pada An.D BAB encer, BAB lebih dari 7

kali, demam, malas minum, sedangkan pada An.R BAB encer, BAB > 10 kali,

berlendir, demam, banyak minum, anus dan daerah sekitarnya lembab, berwana

kemerahan. Diagnosa keperawatan utama yang muncul pada kasus An.D dan

An.R yaitu kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

aktif. Rencana keperawatan yaitu manajemen cairan, manjemen hipovolemia,

monitor cairan. Implementasi keperawatan yang dilakukan berdasarkan intervensi

yang telah dirumuskan. Evaluasi yang didapatkan pada An.D yaitu masalah

kekurangan volume cairan teratasi pada hari ke lima, pada An.R teratasi pada hari

ke empat.

Disarankan kepada Direktur RS Reksodiwiryo Padang agar sering

dilaksanakan palatihan secara berkala penyegaran asuhan keperawatan pada

pasien anak dengan Diare kepada pegawai khususnya perawat. Agar lebih

memperhatikan intervensi terhadap monitor kehilangan cairan yang berlebihan

pada pasien diare dehidrasi ringan/sedang.

Kata kunci (Key Word): Diare Dehidrasi ringan/sedang, Asuhan

Keperawatan

Daftar Pustaka: 34 (2008-2017)

vii

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 9: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................... i

LEMBAR PERSETUJUAN........................................................................... iii

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... iv

LEMBAR ORISINALITAS .......................................................................... v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ........................................................................ vi

ABSTRAK..................................................................................................... vii

DAFTAR ISI.................................................................................................. viii

DAFTAR BAGAN......................................................................................... x

DAFTAR TABEL........................................................................................... xi

DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. xii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1

A. Latar Belakang.................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah.............................................................................. 5

C. Tujuan Penelitian................................................................................ 5

D. Manfaat Penelitian.............................................................................. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................. 8

A. Konsep Kasus Diare........................................................................... 8

1. Pengertian Diare........................................................................... 8

2. Klasifikasi Diare........................................................................... 8

3. Etiologi......................................................................................... 10

4. Patofisiologi.................................................................................. 13

5. WOC............................................................................................. 17

6. Manifestasi Klinis......................................................................... 18

7. Respon Tubuh............................................................................... 20

8. Penatalaksanaan............................................................................ 21

9. Komplikasi................................................................................... 29

B. Konsep Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Diare................... 31

1. Pengkajian.................................................................................... 31

2. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan......................................... 37

3. Perencanaan Keperawatan............................................................ 38

BAB III METODE PENELITIAN.............................................................. 49

A. Desain Penelitian................................................................................ 49

B. Tempat dan Waktu Penelitian............................................................. 49

C. Subjek Penelitian................................................................................ 49

D. Alat atau Instrumen Pengumpulan Data............................................. 50

E. Cara Pengumpulan Data..................................................................... 50

viii

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 10: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

F. Jenis-Jenis Data.................................................................................. 52

G. Rencana Analisis................................................................................ 53

BAB IV DESKRIPSI KASUS DAN PEMBAHASAN.............................. 54

A. Deskripsi Kasus.................................................................................. 54

1. Pengkajian.................................................................................... 54

2. Diagnosis Keperawatan................................................................ 56

3. Intervensi Keperawatan................................................................ 59

4. Implementasi Keperawatan.......................................................... 62

5. Evaluasi Keperawatan.................................................................. 64

B. Pembahasan........................................................................................ 67

1. Pengkajian.................................................................................... 67

2. Diagnosis Keperawatan................................................................ 70

3. Intervensi Keperawatan................................................................ 76

4. Implementasi Keperawatan.......................................................... 77

5. Evaluasi Keperawatan.................................................................. 79

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 WOC Diare Pada Anak................................................................. 17

ix

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 11: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penilaian Derajat Dehidrasi............................................................ 19

Tabel 2.2 Pemberian Oralit............................................................................. 23

Tabel 2.3 Pemberian Cairan .......................................................................... 24

Tabel 2.4 Persentase Kehilangan Berat Badan Berdasarkan Tingkat Dehidrasi31

Tabel 2.5 Intervensi Keperawatan.................................................................. 36

Tabel 4.1 Pengkajian Keperawatan................................................................ 54

Tabel 4.2 Diagnosis Keperawatan.................................................................. 56

Tabel 4.3 Intervensi Keperawatan.................................................................. 59

Tabel 4.4 Implementasi Keperawatan............................................................ 62

Tabel 4.5 Evaluasi Keperawatan.................................................................... 65

x

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 12: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Inform Concent

Lampiran 2 : Surat Izin Penelitian

Lampiran 3 : Surat Selesai Melakukan Penelitian

Lampiran 4 : Ganchart

Lampiran 5 : Jadwal Bimbingan Proposal

Lampiran 6 : Jadwal Bimbingan KTI

Lampiran 7 : Dokumentasi Asuhan Keperawatan

xi

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 13: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diare saat ini masih merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi

pada masyarakat. Diare juga merupakan penyebab utama kesakitan dan

kematian pada anak di berbagai negara (Widoyono, 2011). Diare dapat

menyerang semua kelompok usia terutama pada anak. Anak lebih

rentan mengalami diare, karena sistem pertahanan tubuh anak belum

sempurna (Soedjas, 2011).

World Health Organizatin (WHO) (2012), menyatakan bahwa diare

merupakan 10 penyakit penyebab utama kematian. Tahun 2012 terjadi

1,5 juta kematian akibat diare. Sepanjang tahun 2012, terdapat sekitar

5 juta bayi meninggal pada tahun pertama kehidupan. Kematian

tersebut disebabkan karena pneumonia (18%), komplikasi kelahiran

preterm (14%) dan diare (12%).

Hasil Riskesdas (2013), menyatakan bahwa insiden diare pada anak di

Indonesia adalah 6,7 persen. Lima provinsi dengan insiden diare

tertinggi adalah Aceh (10,2%), Papua (9,6%), DKI Jakarta (8,9%),

Sulawesi Selatan (8,1%), dan Banten (8,0%). Karakteristik diare balita

tertinggi terjadi pada kelompok umur 12-23 bulan (7,6%), laki-laki

(5,5%), perempuan (4,9%).

Angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit diare di Indonesia

masih tinggi. Proporsi terbesar penderita diare pada balita adalah

kelompok umur 6 – 11 bulan yaitu sebesar 21,65% lalu kelompok

umur 12-17 bulan sebesar 14,43%, kelompok umur 24-29 bulan

sebesar 12,37%, sedangkan proporsi terkecil pada kelompok umur 54

– 59 bulan yaitu 2,06% (Kemenkes, 2011). Penelitian Marlia (2015),

menyatakan bahwa terdapat 99 anak yang mengalami diare di RS Dr.

1

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 14: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

2

Cipto Mangunkusumo pada bulan Februari 2013 laki-laki (56%),

perempuan (43%), berada pada kelompok umur 12-36 bulan.

Dinas Kesehatan Kota Padang (2014), menyatakan pada tahun 2014

jumlah kasus diare yang datang ke sarana kesehatan sebanyak 12,2%

kasus. Jumlah kasus tahun 2014 sedikit menurun dibandingkan kasus

tahun 2013 sebesar 25,9%. Penyakit Diare sampai saat ini masih

termasuk dalam urutan 10 penyakit terbanyak di Kota Padang.

Kecamatan Pauh merupakan kecamatan dengan angka kejadian diare

tertinggi di kota Padang. Kasus diare yang ditangani di Puskesmas

Pauh adalah 48,4%. Puskesmas diobati sesuai dengan prosedur tetap

penatalaksanaan kasus diare dengan pengobatan yang rasional. Target

penemuan kasus diare pada tahun 2014 adalah 2,13% dari 87,7%

penduduk Kota Padang dengan capaian kasus diare adalah 41,7%

kasus dan semuanya ditangani dan lebih banyak ditemukan pada

perempuan (Dinkes, 2014).

Target penemuan kasus diare pada tahun 2015 adalah 2,14% dari

92,4% penduduk Kota Padang, dengan capaian kasus adalah 49,7%

kasus dan semuanya ditangani. Jumlah kasus ini naik dari tahun

sebelumnya (41,7% kasus) dan lebih banyak ditemukan pada

perempuan (Dinkes, 2016). Cakupan pelayanan diare pada balita kota

Padang tahun 2015 adalah 48,3% dari 100% yang ditargetkan. Laporan

macam penyakit dan jumlah penderita rawat inap di RS Reksodiwiryo

Padang tahun 2016 pasien yang terdiagnosa menderita diare sebanyak

337 kasus dan diare berada di urutan kedua penyakit terbanyak di

kelompok infeksi saluran pencernaan.

Diare pada bayi dan balita ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor

diantaranya: yaitu infeksi, malabsorbsi, makanan, dan psikologis anak.

Infeksi enteral merupakan infeksi saluran percernaan, yang menjadi

penyebab utama diare pada anak. Infeksi enteral disebabkan karena

bakteri, virus dan parasit. Sedangkan infeksi parenteral merupakan

infeksi dari luar pencernaan seperti otitis media akut (OMA),

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 15: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

3

bronkopneumonia, ensefalitis. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi

dan anak berumur di bawah 2 tahun (Ngastiyah, 2014).

Wong (2008), mengatakan pengkajian keperawatan terhadap diare

dimulai dengan mengamati keadaan umum dan perilaku anak.

Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan

gangguan keseimbangan cairan yaitu pengkajian dehidrasi seperti

berkurangnya keluaran urine, turgor kulit yang jelek, ubun-ubun yang

cekung. Nursalam (2008), mengatakan dampak yang dapat

ditimbulkan jika mengalami gangguan keseimbangan cairan yaitu

terjadi hal-hal seperti dehidrasi pada bayi dan balita, hipoglikemia,

mengalami gangguan gizi, gangguan sirkulasi, hingga terjadi

komplikasi pada anak.

Dampak masalah fisik yang akan terjadi bila diare tidak diobati akan

berakibat kehilangan cairan dan eletrolit secara mendadak. Pada balita

akan menyebabkan anoreksia (kurang nafsu makan) sehingga

mengurangi asupan gizi, dan diare dapat mengurangi daya serap usus

terhadap sari makanan. Dalam keadaan infeksi, kebutuhan sari

makanan pada anak yang mengalami diare akan meningkat, sehingga

setiap serangan diare akan menyebabkan kekurangan gizi. Jika hal ini

berlangsung terus menerus akan menghambat proses tumbuh kembang

anak. Sedangkan dampak psikologis terhadap anak-anak antara lain

anak akan menjadi rewel, cengeng, sangat tergantung pada orang

terdekatnya (Widoyono, 2011).

Upaya yang dilakukan untuk mengurangi resiko meningkatnya episode

diare, diantaranya dengan pemberian ASI. Pemberian ASI pada bayi

atau anak yang mengalami diare akan memiliki manfaat antara lain

untuk mengganti cairan yang hilang (rehidrasi). ASI mengandung zat-

zat gizi yang berguna untuk memenuhi kecukupan zat gizi selama

diare yang diperlukan untuk penyembuhan dan pertumbuhan (Puput,

2011). Hasil penelitian Tamimi, dkk (2016), menyatakan bahwa

92.1% bayi yang mendapat ASI eksklusif tidak mengalami diare dan

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 16: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

4

29,5% bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif berpeluang untuk

terjadinya diare.

Diagnosis keperawatan yang sering muncul pada pasien yang

menderita diare adalah kekurangan volume cairan dan

ketidakseimbangan nutrisi. Peran perawat sebagai pemberi pelayanan

keperawatan pada anak yang dirawat dengan diare, diantaranya

memantau asupan dan pengeluaran cairan. Anak yang mendapatkan

terapi cairan melalui intravena perlu pengawasan untuk asupan cairan,

kecepatan tetesan harus diatur untuk memberikan cairan dengan

volume yang dikehendaki dalam waktu tertentu dan lokasi pemberian

infus harus dijaga (Wong, 2008). Tindakan keperawatan yang harus

dilakukan selanjutnya yaitu menimbang berat badan anak secara

akurat, memantau input dan output yang tepat dengan meneruskan

pemberian nutrisi per oral dan melakukan pengambilan spesimen

untuk pemeriksaan laboratorium.

Selain dari tindakan keperawatan, orang tua dan keluarga juga ikut

memberikan perawatan seperti memberikan perhatian, semangat dan

mendampingi anak selama dirawat dirumah sakit (Nursalam, 2008).

Selain dari perawatan anak di rumah sakit, pengetahuan orang tua

tentang terjadinya diare sangatlah penting. Hal ini disebabkan karena

sebagian ibu belum mengetahui tentang perilaku sehat untuk menjaga

kesehatan keluarga seperti selalu menjaga kebersihan diri dan

makanan, menjaga kebersihan lingkungan rumah, memeriksakan

kondisi kesehatan ketika terdapat gejala suatu penyakit ke puskesmas,

menjaga pola istirahat serta menyempatkan untuk berekreasi guna

menghilangkan stres yang dapat memicu suatu penyakit (Subakti,

2015).

Survei awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 11 Januari 2016 di

dapatkan 3 orang anak dengan kasus diare di ruangan 2 anak di RST

Dr. Reksodiwiryo, dengan diagnosa keperawatan utama pada anak

yaitu dengan kekurangan volume cairan. Dari hasil pengamatan,

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 17: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

5

perawat sudah melakukan pengkajian yang meliputi identitas anak dan

orang tua, alamat, riwayat kesehatan, data pemeriksaan fisik dan

diagnostik. Perawat sudah melakukan tindakan pemasangan infus,

NGT untuk memenuhi kebutuhan cairan pada pasien dan perawat

memantau kondisi pasien pada saat overan, pemberian obat, dan saat

mengganti infus pasien.

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti melakukan studi kasus

dengan judul “Asuhan Keperawatan pada Pasien Anak dengan Diare di

Ruang 2 Anak di RS Tentara Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut didapat rumusan masalah dari

kasus tersebut adalah “Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Pasien

Anak dengan Diare di Ruangan 2 Anak di RS Tentara Dr.

Reksodiwiryo Padang Tahun 2017”

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mampu mendeskripsikan asuhan keperawatan pada anak dengan

kasus Diare di Ruang 2 Anak RS Tentara Dr. Reksodiwiryo

Padang Tahun 2017”

2. Tujuan khusus

Berdasarkan tujuan umum tersebut didapatkan tujuan khusus dari

penelitian kasus ini adalah :

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 18: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

6

a. Mampu mendeskripsikan hasil pengkajian pada anak dengan

kasus Diare di Ruang 2 Anak RS Tentara Dr. Reksodiwiryo

Padang Tahun 2017

b. Mampu mendeskripsikan rumusan diagnosa keperawatan pada

anak dengan kasus Diare di Ruang 2 Anak RS Tentara Dr.

Reksodiwiryo Padang Tahun 2017

c. Mampu mendeskripsikan rencana keperawatan pada anak

dengan kasus Diare di Ruang 2 Anak RS Tentara Dr.

Reksodiwiryo Padang Tahun 2017

d. Mampu mendeskripsikan tindakan keperawatan pada anak

dengan kasus Diare di Ruang 2 Anak RS Tentara Dr.

Reksodiwiryo Padang Tahun 2017”

e. Mampu mendeskripsikan evaluasi keperawatan pada anak

dengan kasus Diare di Ruang 2 Anak RS Tentara Dr.

Reksodiwiryo Padang Tahun 2017

f. Mampu melakukan pendokumentasian pada anak dengan kasus

Diare di Ruang 2 Anak RS Tentara Dr. Reksodiwiryo Padang

Tahun 2017.

D. Manfaat

1. Pengembang Keilmuan

a. Penulis

Dapat menambah wawasan dan pengalaman nyata dalam

memberikan asuhan keperawatan anak pada anak dengan diare.

b. Bagi Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang

diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan oleh

mahasiswa prodi D III Keperawatan Padang untuk penelitian

selanjutnya.

2. Institusi Pelayanan

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 19: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

7

a. Institusi Pendidikan Poltekkes Kemenkes RI Padang

Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat memberikan

kontribusi laporan kasus bagi pengembangan praktik

keperawatan. Diharapkan dapat memberikan sumbangan

pikiran untuk pengembangan ilmu dalam penelitian lebih lanjut

dengan metode dan tempat yang berbeda untuk penerapan

asuhan keperawatan pada anak dengan penyakit Diare.

b. Institusi RS Reksodiwiryo Padang

Diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dalam

meningkatkan penerapan asuhan keperawatan anak pada anak

dengan diare.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 20: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Kasus Diare

1. Pengertian

Nursalam (2008), mengatakan diare pada dasarnya adalah frekuensi

buang air besar yang lebih sering dari biasanya dengan konsistensi

yang lebih encer. Diare merupakan gangguan buang air besar atau

BAB ditandai dengan BAB lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi

tinja cair, dapat disertai dengan darah dan atau lender (Riskesdas,

2013).

Diare yaitu penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan konsistensi

feses. Seseorang dikatakan menderita diare bila feses lebih berair dari

biasanya, dan bila buang air besar lebih dari tiga kali, atau buang air

besar yang berair tetapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam (Dinkes,

2016).

WHO (2009), mengatakan diare adalah suatu keadaan buang air besar

(BAB) dengan konsistensi lembek hingga cair dan frekuensi lebih dari

tiga kali sehari. Diare akut berlangsung selama 3-7 hari, sedangkan

diare persisten terjadi selama ≥ 14 hari.

2. Klasifikasi Diare

Pedoman dari Laboratorium/ UPF Ilmu Kesehatan Anak, Uniersitas

Airlangga dalam Nursalam (2008), diare dapat dikelompokkan

menjadi:

a. Diare akut, yaitu diare yang terjadi mendadak dan berlangsung

paling lama 3-5 hari.

b. Diare berkepanjangan bila diare berlangsung lebih dari 7 hari.

8

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 21: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

9

c. Diare kornik bila diare berlangsung lebih dari 14 hari. Diare kronik

bukan suatu kesatuan penyakit, melainkan suatu sindrom yang

penyebab dan patogenesisnya multikompleks. Mengingat

banyaknya kemungkinan penyakit yang dapat mengakibatkan diare

kronik dan banyaknya pemeriksaan yang harus dikerjakan maka

dibuat tinjauan pustaka ini untuk dapat melakukan pemeriksaan

lebih terarah.

Sedangkan menurut Wong (2008), diare dapat diklasifikasikan, sebagai

berikut:

a. Diare akut

Merupakan penyebab utama keadaan sakit pada balita. Diare akut

didefenisikan sebagai peningkatan atau perubahan frekuensi

defekasi yang sering disebabkan oleh agens infeksius dalam traktus

Gastroenteritis Infeksiosa (GI). Keadaan ini dapat menyertai

infeksi saluran napas atau (ISPA) atau infeksi saluran kemih (ISK).

Diare akut biasanya sembuh sendiri (lamanya sakit kurang dari 14

hari) dan akan mereda tanpa terapi yang spesifik jika dehidrasi

tidak terjadi.

b. Diare kronis

Didefenisikan sebagai keadaan meningkatnya frekuensi defekasi

dan kandungan air dalam feses dengan lamanya (durasi) sakit lebih

dari 14 hari. Kerap kali diare kronis terjadi karena keadaan kronis

seperti sindrom malabsorpsi, penyakit inflamasi usus, defisiensi

kekebalan, alergi makanan, intoleransi latosa atau diare nonspesifik

yang kronis, atau sebagai akibat dari penatalaksanaan diare akut

yang tidak memadai.

c. Diare intraktabel

Yaitu diare membandel pada bayi yang merupakan sindrom pada

bayi dalam usia minggu pertama dan lebih lama dari 2 minggu

tanpa ditemukannya mikroorganisme patogen sebagai penyebabnya

dan bersifat resisten atau membandel terhadap terapi. Penyebabnya

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 22: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

10

yang paling sering adalah diare infeksius akut yang tidak ditangani

secara memadai.

d. Diare kronis nonspesifik

Diare ini juga dikenal dengan istilah kolon iritabel pada anak atau

diare todler, merupakan penyebab diare kronis yang sering

dijumpai pada anak-anak yang berusia 6 hingga 54 minggu. Feses

pada anak lembek dan sering disertai dengan partikel makanan

yang tidak tercerna, dan lamanya diare lebih dari 2 minggu. Anak-

anak yang menderita diare kronis nonspesifik ini akan tumbuh

secara normal dan tidak terdapat gejala malnutrisi, tidak ada darah

dalam fesesnya serta tidak tampak infeksi enterik.

3. Etiologi

Ngastiyah (2014), mengatakan diare dapat disebabkan oleh berbagai

infeksi, selain penyebab lain seperti malabsorbsi. Diare sebenarnya

merupakan salah satu gejala dari penyakit pada sistem gastrointestinal

atau penyakit lain di luar saluran pencernaan. Tetapi sekarang lebih

dikenal dengan “penyakit diare”, karena dengan sebutan penyakit diare

akan mempercepat tindakan penanggulangannya. Penyakit diare

terutama pada bayi perlu mendapatkan tindakan secepatnya karena

dapat membawa bencana bisa terlambat.

Faktor penyebab diare, antara lain :

a. Faktor Infeksi

1) Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan makanan yang

merupakan penyebab utama diare pada anak. Meliputi infeksi

enteral sebagai berikut :

a) Infeksi bakteri : Vibrio, E.Coli, Salmonella, Shigella,

Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya.

b) Infeksi virus: Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie,

Poliomyelitis) Adeno-virus, Rotavirus, Astrovirus, dan lain-

lain.

c) Infeksi parasit: cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris,

Strongyloides); protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia

lamblia, Trichomonas hominis); jamur (Candida albicans)

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 23: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

11

2) Infeksi parenteral ialah infeksi di luar alat pencernaan makanan

seperti: otitis media akut (OMA) , tonsilitis/ tonsilofaringitis,

bronkopneumonia, ensefalitis, dan sebagainya. Keadaan ini

terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2

tahun.

b. Faktor malabsorbsi

1) Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa,

maltosa dan sukrosa); monosakarida (intoleransi glukosa,

fruktosa, dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting

dan tersering (intoleransi laktosa).

2) Malabsorbsi lemak.

3) Malabsorbsi protein.

c. Faktor makanan, makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

d. Faktor psikologis, rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi

pada anak yang lebih besar).

Selain kuman, ada beberapa perilaku yang dapat meningkatan resiko

terjadinya diare, yaitu :

a. Tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4-6 bulan pertama dari

kehidupan.

b. Menggunakan botol susu.

c. Menyimpan makanan masak pada suhu kamar.

d. Air minum tercemar dengan bakteri tinja.

e. Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar, sesudah membuang

tinja, atau sebelum menjamaah makanan.

Menurut Wong (2008), penyebab infeksius dari diare akut yaitu :

1. Agens virus

a. Rotavirus, masa inkubasi 1-3 hari. Anak akan mengalami

demam (38ºC atau lebih tinggi), nausea atau vomitus, nyeri

abdomen, disertai infeksi saluran pernapasan atas dan diare

dapat berlangsung lebih dari 1 minggu. Biasanya terjadi pada

bayi usia 6-12 bulan, sedangkan pada anak terjadi di usia lebih

dari 3 tahun.

b. Mikroorganisme, masa inkubasi 1-3 hari. Anak akan demam,

nafsu makan terganggu, malaise. Sumber infeksi bisa didapat

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 24: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

12

dari air minum, air di tempat rekreasi (air kolam renang, dll),

makanan. Dapat menjangkit segala usia dan dapat sembuh

sendiri dalam waktu 2-3 hari.

2. Agens bakteri

a. Escherichia coli, masa inkubasinya bervariasi bergantung pada

strainnya. Biasanya anak akan mengalami distensi abdomen,

demam, vomitus, BAB berupa cairan berwarna hijau dengan

darah atau mukus bersifat menyembur. Dapat ditularkan antar

individu, disebabkan karena daging yang kurang matang,

pemberian ASI tidak eksklusif.

b. Kelompok salmonella (nontifoid), masa inkubasi 6-72 jam

untuk gastroenteritis. Gejalanya bervariasi, anak bisa

mengalami nausea atau vomitus, nyeri abdomen, demam, BAB

kadang berdarah dan ada lendir, peristaltik hiperaktif, nyeri

tekan ringan pada abdomen, sakit kepala, kejang. Dapat

disebabkan oleh makanan dan minuman yang sudah

terkontaminasi oleh binatang seperti kucing, burung, dan

lainnya.

3. Keracunan makanan

a. Staphylococcus, masa inkubasi 4-6 jam. Dapat menyebabkan

kram yang hebat pada abdomen, syok. Disebabkan oleh

makanan yang kurang matang atau makanan yang disimpan di

lemari es seperti puding, mayones, makanan yang berlapis

krim.

b. Clostridium perfringens, masa inkubasi 8-24 jam. Dimana anak

akan mengalami nyeri epigastrium yang bersifat kram dengan

intensitas yang sedang hingga berat. Penularan bisa lewat

produk makanan komersial yang paling sering adalah daging

dan unggas.

c. Clostridium botulinum, masa inkubasi 12-26 jam. Anak akan

mengalami nausea, vomitus, mulut kering, dan disfagia.

Ditularkan lewat makanan yang terkntaminasi. Intensitasnya

bervariasi mulai dari gejala ringan hingga yang dapat

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 25: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

13

menimbulkan kematian dengan cepat dalam waktu beberapa

jam.

4. Patofisiologi

Hidayat (2008), mengatakan proses terjadinya diare dapat disebabkan

oleh berbagai kemungkinan faktor diantaranya :

a. Faktor infeksi

1) Virus

Penyebab tersering diare pada anak adalah disebabkan infeksi

rotavirus. Setelah terpapar dengan agen tertentu, virus akan

masuk ke dalam tubuh bersama dengan makanan dan minuman

yang masuk ke dalam saluran pencernaan yang kemudian

melekat pada sel-sel mukosa usus, akibatnya sel mukosa usus

menjadi rusak yang dapat menurunkan daerah permukaan usus.

Sel-sel mukosa yang rusak akan digantikan oleh sel enterosit

baru yang berbentuk kuboid atau sel epitel gepeng yang belum

matang sehingga fungsi sel-sel ini masih belum bagus. Hal ini

menyebabkan vili-vili usus halus mengalami atrofi dan tidak

dapat menyerap cairan dan makanan dengan baik. Selanjutnya,

terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya mengakibatkan

gangguan fungsi usus dalam absorpsi cairan dan elektrolit.

Atau juga dikatakan adanya toksin bakteri atau virus akan

menyebabkan sistem transpor aktif dalam usus sehingga sel

mukosa mengalami iritasi yang kemudian sekresi cairan dan

elektrolit akan meningkat.

2) Bakteri

Bakteri pada keadaan tertentu menjadi invasif dan menyerbu ke

dalam mukosa, terjadi perbanyakan diri sambil membentuk

toksin. Enterotoksin ini dapat diresorpsi ke dalam darah dan

menimbulkan gejala hebat seperti demam tinggi, nyeri kepala,

dan kejang-kejang. Selain itu, mukosa usus yang telah dirusak

mengakibatkan mencret berdarah berlendir. Penyebab utama

pembentukan enterotoksin ialah bakteri Shigella sp, E.coli.

diare ini bersifat self-limiting dalam waktu kurang lebih lima

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 26: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

14

hari tanpa pengobatan, setelah sel-sel yang rusak diganti

dengan sel-sel mukosa yang baru (Wijoyo, 2013).

b. Faktor malabsorpsi,

1) Gangguan osmotik

Cairan dan makanan yang tidak dapat diserap akan terkumpul

di usus halus dan akan meningkatkan tekanan osmotik usus

Akibatnya akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga

usus meningkat. Gangguan osmotik meningkat menyebabkan

terjadinya pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus.

Hal ini menyebabkan banyak cairan ditarik ke dalam lumen

usus dan akan menyebabkan terjadinya hiperperistaltik usus.

Cairan dan makanan yang tidak diserap tadi akan didorong

keluar melalui anus dan terjadilah diare (Nursalam, 2008).

2) Gangguan sekresi

Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus

akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam

rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat

peningkatan isi rongga usus (Nursalam, 2008).

3) Gangguan motilitas usus

Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan

usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare.

Sebaliknya bisa peristaltik usus menurun akan mengakibatkan

bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya timbul diare pula.

Akibat dari diare yaitu kehilangan air dan elektrolit yang dapat

menyebabkan cairan ekstraseluler secara tiba-tiba cepat hilang,

terjadi ketidakseimbangan elektrolit yang mengakibatkan syok

hipovolemik dan berakhir pada kematian jika tidak segera

diobati (Nursalam, 2008).

c. Faktor makanan, ini dapat terjadi apabila toksin yang ada tidak

mampu diserap dengan baik. Sehingga terjadi peningkatan

peristaltik usus yang mengakibatkan penurunan kesempatan untuk

menyerap makanan yang kemudian menyebabkan diare (Hidayat,

2008). Diare akut berulang dapat menjurus ke malnutrisi energi

protein, yang mengakibatkan usus halus mengalami perubahan

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 27: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

15

yang disebabkan oleh PEM tersebut menjurus ke defisiensi enzim

yang menyebabkan absorpsi yang tidak adekuat dan terjadilah

diare berulang yang kronik. Anak dengan PEM terjadi perubahan

respons imun, menyebabkan reaksi hipersensitivitas kulit

terlambat, berkurangnya jumlah limfosit dan jumlah sel T yang

beredar.

Setelah mengalami gastroenteritis yang berat anak mengalami

malabsorpsi. Malabsorpsi juga terdapat pada anak yang mengalami

malnutrisi, keadaan malnutrisi menyebabkan atrofi mukosa usus,

faktor infeksi silang usus yang berulang menyebabkan

malabsorpsi, enteropati dengan kehilangan protein. Enteropati ini

menyebabkan hilangnya albumin dan imunogobulin yang

mengakibatkan kwashiorkor dan infeksi jalan nafas yang berat

(Suharyono, 2008).

d. Faktor psikologis, faktor ini dapat mempengaruhi terjadinya

peningkatan peristaltik usus yang akhirnya mempengaruhi proses

penyerapan makanan yang dapat menyebabkan diare. Proses

penyerapan terganggu (Hidayat, 2008).

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 28: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

17

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 29: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

18

5. Manifestasi Klinis

Anak yang mengalami diare akibat infeksi bakteri mengalami kram

perut, muntah, demam, mual, dan diare cair akut. Diare karena infeksi

bakteri invasif akan mengalami demam tinggi, nyeri kepala, kejang-

kejang, mencret berdarah dan berlendir (Wijoyo, 2013).

Ngastiyah (2014), mengatakan anak yang mengalami diare mula-mula

akan cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang.

BAB cair, mungkin disertai lendir dan darah. Warna tinja makin lama

berubah kehijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan daerah

sekitarnya akan lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama

makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari

laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare.

Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat

disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan

keseimbangan asam basa dan elektrolit. Jika anak telah banyak

kehilangan cairan dan elektrolit, serta mengalami gangguan asam basa

dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik dan hipokalemia,

hipovolemia. Gejala dari dehidrasi yang tampak yaitu berat badan

turun, turgor kulit kembali sangat lambat, mata dan ubun-ubun besar

menjadi cekung, mukosa bibir kering.

Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya karena dapat

menyebabkan hipovolemia, kolaps kardiovaskuler dan kematian bila

tidak diobati dengan tepat. Dehidrasi yang terjadi menurut tonisitas

plasma dapat berupa dehidrasi isotonik, dehidrasi hipertonik

(hipernatremik) atau dehidrasi hipotonik. Menurut derajat dehidrasinya

bisa tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan, dehidrasi sedang atau dehidrasi

berat (Juffrie, 2010). Untuk mengetahui keadaan dehidrasi dapat

dilakukan penilaian sebagai berikut:

Tabel 2.1

Penilaian Derajat Dehidrasi

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 30: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

19

Penilaian Tanpa

Dehidrasi

Dehidrasi

Ringan/Sedan

g

Dehidrasi

Berat

1. Lihat:

Keadaan Umum

Baik, sadar Gelisah, rewel Lesu, lunglai

atau tidak

sadar

Mata Normal Cekung Sangat cekung

dan kering

Air mata Ada Tidak ada Tidak ada

Mulut dan lidah Basah Kering Sangat kering

Rasa haus Minum biasa

tidak haus

Haus, ingin

minum banyak

Malas minum

atau tidak bisa

minum

2. Periksa:

Turgor kulitKembali cepat Kembali lambat Kembali sangat

lambat

3. Hasil

pemeriksaan

Tanpa

dehidrasi

Dehidrasi

ringan/ sedang,

kriteria

Dehidrasi

berat, kriteria

bila ada 1

tanda*

Bila ada 1 tanda

ditambah 1 atau

lebih tanda lain

Ditambah 1

atau lebih

tanda lain

4. Terapi Rencana terapi

A

Rencana terapi

B

Rencana terapi

C

*Tanda-tanda yang juga dapat diperiksa: timbang berat badan, ubun-ubun

besar, urine, nadi, dan pernapasan atau tekanan darah.

Sumber: Depkes, Buku Ajar Diare dalam Nursalam (2008)

6. Respon Tubuh

a. Sistem Integumen

Anak yang mengalami diare dengan dehidrasi ringan hingga berat

turgor kulit biasanya kembali sangat lambat. Karena tidak

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 31: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

20

adekuatnya kebutuhan cairan dan elektrolit pada jaringan tubuh

anak sehingga kelembapan kulitpun menjadi berkurang.

b. Sistem Respirasi

Kehilangan air dan elektolit pada anak yang diare mengakibatkan

gangguan keseimbangan asam basa yang menyebabkan pH turun

karena akumulasi asam non-volatil. Terjadilah hiperventilasi yang

akan menurunkan pCO2 menyebabkan pernapasan jadi cepat, dan

dalam (pernapasan kusmaul).

c. Sistem Pencernaan

Anak yang diare biasanya mengalami gangguan pada nutrisi, yang

disebabkan oleh kerusakan mukosa usus dimana usus tidak dapat

menyerap makanan. Anak akan tampak lesu, malas makan, dan

letargi. Nutrisi yang tidak dapat diserap mengakibatkan anak bisa

mengalami gangguan gizi yang bisa menyebabkan terjadinya

penurunan berat badan dan menurunnya daya tahan tubuh sehingga

proses penyembuhan akan lama.

d. Sistem Muskoloskletal

Kekurangan kadar natrium dan kalium plasma pada anak yang

diare dapat menyebabkan nyeri otot, kelemahan otot, kram dan

detak jantung sangat lambat.

e. Sistem Sirkulasi

Akibat dari diare dapat terjadi gangguan pada sistem sirkulasi

darah menyebabkan nadi melemah, tekanan darah rendah, kulit

pucat, akral dingin yang mengakibatkan terjadinya syok

hipovolemik.

f. Sistem Otak

Syok hipovolemik dapat menyebabkan aliran darah dan oksigen ke

otak berkurang. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya penurunan

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 32: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

21

kesadaran dan bila tidak segera ditolong dapat mengakibatkan

kematian.

g. Sistem Eliminasi

Warna tinja anak yang mengalami diare makin lama berubah

kehijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan daerah

sekitarnya akan lecet karena sering defekasi dan tinja yang makin

asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat yang berasal

dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi oleh usus selama diare.

7. Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan Medis

1) Dehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan. Empat hal penting

yang perlu diperhatikan

a) Jenis cairan

(1) Oral : pedialyte atau oralit, Ricelyte

(2) Parenteral : NaCl, Isotonic, infus

b) Jumlah cairan

Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan cairan yang

dikeluarkan.

c) Jalan masuk atau cara pemberian

(1) Cairan per oral, pada pasien dengan dehidrasi ringan dan

sedang cairan diberikan per oral berupa cairan yang berisikan

NaCl dan NaHCO3, KCL dan glukosa.

(2) Cairan parenteral, pada umumnya cairan Ringer Laktat (RL)

selalu tersedia di fasilitas kesehatan dimana saja. Mengenai

seberapa banyak cairan yang diberikan tergantung dari berat

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 33: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

22

ringannya dehidrasi, yang diperhitungkan dengan kehilangan

cairan sesuai dengan umur dan berat badannya.

d) Jadwal pemberian cairan

Diberikan 2 jam pertama, selanjutnya dilakukan penilaian kembali

status hidrasi untuk menghitung kebutuhan cairan.

(1) Identifikasi penyebab diare

(2) Terpai sistematik seperti pemberian obat anti diare, obat anti

mortilitas dan sekresi usus, antiemetik

2) Pengobatan dietetik

Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat

badan kurang dari 7 kg jenis makanan :

(a) Susu (ASI atau susu formula yang mengandung laktosa rendah

dan asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM, Almiron atau

sejenis lainnya).

(b) Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi

tim), bila anak tidak mau minum susu karena dirumah tidak

biasa.

(c) Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan

misalnya susu yang tidak mengandung laktosa atau asam lemak

yang berantai sedang atau tidak jenuh (Ngastiyah, 2014).

b. Penatalaksanaan Keperawatan

1) Bila dehidrasi masih ringan

Berikan minum sebanyak-banyaknya, 1 gelas setiap kali setelah

pasien defekasi. Cairan harus mengandung eletrolit, seperti oralit.

Bila tidak ada oralit dapat diberikan larutan gula garamdenan 1

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 34: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

23

gelas air matang yang agak dingindilarutkan dalam 1 sendok teh

gula pasir dan 1 jumput garam dapur.

Jika anak terus muntah atau tidak mau minum sama sekali perlu

diberikan melaluui sonde. Bila pemberian cairan per oral tidak dapat

dilakukan, dipasang infus dengan cairan Ringer Laktat (RL) atau

cairan lain (atas persetujuan dokter). Yang penting diperhatikan

adalah apakah tetesan berjalan lancar terutama pada jam-jam

pertama karena diperlukan untuk segera mengatasi dehidrasi.

2) Pada dehidrasi berat

Selama 4 jam pertama tetesan lebih cepat. Untuk mengetahui

kebutuhan sesuai dengan yang diperhitungkan, jumlah cairan yang

masuk tubuh dapat dihitung dengan cara:

(a) Jumlah tetesan per menit dikalikan 60, dibagi 15/20 (sesuai set

infus yang dipakai). Berikan tanda batas cairan pada botol infus

waktu memantaunya.

(b) Perhatikan tanda vital : denyut nadi, pernapasan, suhu.

(c) Perhatikan frekuensi buang air besar anak apakah masih sering,

encer atau sudah berubah konsistensinya.

(d) Berikan minum teh atau oralit 1-2 sendok jam untuk mencegah

bibir dan selaput lendir mulut kering.

(e) Jika rehidrasi telah terjadi, infus dihentikan, pasien diberi

makan lunak atau secara realimentasi.

Penanganan diare lainnya yaitu dengan rencana terapi A, B dan C sebagai

berikut:

1. Rencana terapi A

Penanganan diare dirumah, dengan menjelaskan pada ibu tentang 4

aturan perawatan di rumah:

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 35: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

24

a. Beri cairan tambahan

1) Jelaskan pada ibu, untuk:

a) Beri ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali

pemberian.

b) Jika anak memperoleh ASI Eksklusif, berikan oralit atau air

matang sebagai tambahan.

c) Jika anak tidak memperoleh ASI Eksklusif, berikan 1 atau

lebih cairan berikut ini: oralit, cairan makanan (kuah sayur,

air tajin) atau air matang.

Anak harus diberi larutan oralit dirumah jika:

a) Anak telah diobati dengan Rencana Terapi B atau C dalam

kunjungan ini.

b) Anak tidak dapat kembali ke klinik jika diarenya bertambah

parah.

2) Ajari ibu cara mencampur dan memberikan oralit. Beri ibu 6

bungkus oralit (200 ml) untuk digunakan dirumah. Tunjukkan

kepada ibu berapa banyak oralit atau cairan lain yang harus

diberikan setiap kali anak berak:

a) Sampai umur 1 tahun: 50 sampai 100 ml setiap kali berak.

b) Umur 1 sampai 5 tahun: 100 sampai 200 ml setiap kali

berak.

Katakan kepada ibu:

a) Agar meminumkan sedikit-sedikit tapi sering dari mangkuk/

cangkir/ gelas.

b) Jika anak muntah, tunggu 10 menit. Kemudian lanjutkan lagi

dengan lebih lambat.

c) Lanjutkan pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 36: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

25

b. Beri tablet Zinc selama 10 hari

c. Lanjutkan pemberian makan

d. Kapan harus kembali untuk konseling bagi ibu.

2. Rencana terapi B

Penanganan dehidrasi ringan/ sedang dengan oralit. Berikan oralit di

klinik sesuai yang dianjurkan selama periode 3 jam.

Tabel 2.2

Pemberian Oralit

Umur ≤ 4 bulan 4 - <12 bulan 1 - <2 tahun 2 - <5 tahun

Berat < 6 kg 6 - <10 kg 10 - <12 kg 12 – 19 kg

Jumlah 200 – 400 400 – 700 700 – 900 900 – 1400

Sumber: MTBS, 2011.

a) Tentukan jumlah oralit untuk 3 jam pertama

(1) Jika anak menginginkan, boleh diberikan lebih banyak dari

pedoman diatas.

(2) Untuk anak berumur kurang dari 6 bulan yang tidak menyusu,

berikan juga 100-200 ml air matang selama periode ini.

b) Tunjukkan cara memberikan larutan oralit

(1) Minumkan sedikit-sedikit tapi sering dari cangkir/gelas

(2) Jika anak muntah, tunggu 10 menit. Kemudian berikan lagi

lebih lambat.

(3) Lanjutkan ASI selama anak mau.

c) Berikan tablet Zinc selama 10 hari berturut-turut

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 37: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

26

(1) Umur <6 bulan : 10 mg/hari

(2) Umur ≥6 bulan : 20 mg/hari

d) Setelah 3 jam

(1) Ulangi penilaian dan klasifikasikan kembali derajat

dehidrasinya.

(2) Pilih rencana terapi yang sesuai untuk melanjutkan pengobatan.

(3) Mulailah memberi makan anak.

e) Jika ibu memaksa pulang sebelum pengobatan selesai

(1) Tunjukkan cara menyiapkan cairan oralit di rumah

(2) Tunjukkan berapa banyak oralit yang harus diberikan dirumah

untuk menyelesaikan 3 jam pengobatan.

(3) Beri oralit yang cukup untuk rehidrasi dengan menambahkan 6

bungkus lagi

(4) Jelaskan 4 aturan perawatan diare dirumah (lihat rencana terapi

A).

3. Rencana terapi C

Penanganan dehidrasi berat dengan cepat, yaiu dengan:

a. Memberikan cairan intravena secepatnya. Jika anak bisa minum,

beri oralit melalui mulut sementara infus dipersiapkan. Beri 100

ml/kg cairan Ringer Laktat (atau jika tak tersedia, gunakan cairan

Nacl yang dibagi sebagai berikut:

Tabel 2.3

Pemberian Cairan

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 38: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

27

Umur Pemberian

Pertama 30 ml/kg

Selama

Pemberian

Berikut 70 ml/kg

Selama

Bayi

(dibawah umur 12 bulan)

1 jam* 5 jam

Anak

(12 bulan sampai 5 tahun)

30 menit* 2 ½ jam

*ulangi sekali lagi jika denyut nadi sangat lemah atau tak teraba

Sumber: MTBS, 2011.

b. Periksa kembali anak setiap 15-30 menit. Jika nadi belum teraba,

beri tetesan lebih cepat.

c. Beri oralit (kira-kira 5 ml/kg/jam) segera setelah anak mau

minum: biasanya sesudah 3-4 jam (bayi) atau 1-2 jam (anak) dan

beri juga tablet Zinc.

d. Periksa kembali bayi sesudah 6 jam atau anak sesudah 3 jam.

Klasifikasikan dehidrasi dan pilih rencana terapi yang sesuai

untuk melanjutkan pengobatan.

e. Rujuk segera untuk pengobatan intravena, jika tidak ada fasilitas

untuk pemberian cairan intravena terdekat (dalam 30 menit).

f. Jika anak bisa minum, bekali ibu larutan oralit dan tunjukkan

cara meminumkan pada anaknya sedikit demi sedikit selama

dalam perjalan menuju klinik.

g. Jika perawat sudah terlatih menggunakan pipa orogastrik untuk

rehidrasi, mulailah melakukan rehidrasi dengan oralit melalui

pipa nasogastrik atau mulut: beri 20 ml/kg/jam selama 6 jam

(total 120 ml/kg).

h. Periksa kembali anak setiap 1-2 jam:

(1) Jika anak muntah terus atau perut makin kembung, beri

cairan lebih lambat.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 39: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

28

(2) Jika setelah 3 jam keadaan hidrasi tidak membaik, rujuk

anak untuk pengobatan intravena.

i. Sesudah 6 jam, periksa kembali anak. Klasifikasikan dehidrasi.

Kemudian tentukan rencana terapi yang sesuai (A, B, atau C)

untuk melanjutkan pengobatan.

4. Pemberian tablet Zinc untuk semua penderita diare

a. Pastikan semua anak yang menderita diare mendapatkan tablet

Zinc sesuai dosis dan waktu yang telah ditentukan.

b. Dosis tablet Zinc (1 tablet = 20 mg). Berikan dosis tunggal selama

10 hari:

1) Umur < 6 bulan : ½ tablet

2) Umur ≥ 6 bulan : 1 tablet

c. Cara pemberian tablet Zinc

1) Larutkan tablet dengan sedikit air atau ASI dalam sendok teh

(tablet akan larut ± 30 detik), segera berikan kepada anak.

2) Apabila anak muntah sekitar setenagh jam setelah pemberian

tablet Zinc, ulangi pemberian dengan cara memberikan

potongan lebih kecil dilarutkan beberapa kali hingga satu

dosis penuh.

3) Ingatkan ibu untuk memberikan tablet Zinc setiap hari selama

10 hari penuh, meskipun diare sudah berhent, karena Zinc

selain memberi pengobatan juga dapat memberikan

perlindungan terhadap diare selama 2-3 bulan ke depan.

4) Bila anak menderita dehidrasi berat dan memerlukan cairan

infus, tetap berikan tablet Zinc segera setelah anak bisa

minum atau makan.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 40: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

29

5. Pemberian Perbiotik Pada Penderita Diare

Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang diberikan sebagai

suplemen makanan yang memberikan pengaruh menguntungkan pada

penderita dengan memperbaiki keseimbangan mikroorganisme usus,

akan terjadi peningkatan kolonisasi bakteri probiotik di dalam lumen

saluran cerna. Probiotik dapat meningkatkan produksi musin mukosa

usus sehingga meningkatkan respons imun alami (innate immunity).

Probiotik menghasilkan ion hidorgen yang akan menurunkan pH usus

dengan memproduksi asam laktat sehingga menghambat pertumbuhan

bakteri patogen.

Probiotik saat ini banyak digunakan sebagai salah satu terapi suportif

diare akut. Hal ini berdasarkan peranannya dalam menjaga

keseimbangan flora usus normal yang mendasari terjadinya diare.

Probiotik aman dan efektif dalam mencegah dan mengobati diare akut

pada anak (Yonata, 2016).

3) Kebutuhan nutrisi

Pasien yang menderita diare biasanya juga menderita anoreksia

sehingga masukan nutrisinya menjadi kurang. Kekurangan

kebutuhan nutrisi akan bertambah jika, pasien juga mengalami

muntah-muntah atau diare lama, keadaan ini menyebabkan makin

menurunnya daya tahan tubuh sehingga penyembuhan tidak lekas

tercapai, bahkan dapat timbul komplikasi.

Pada pasien yang menderita malabsorbsi pemberian jenis makanan

yang menyebabkan malabsorbsi harus dihindarkan. Pemberian

makanan harus mempertimbangkan umur, berat badan dan

kemampuan anak menerimanya. Pada umumnya anak umur 1 tahun

sudah bisa makan makanan biasa, dianjurkan makan bubur tanpa

sayuran pada hari masih diare dan minum teh. Hari esoknya jika

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 41: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

30

defekasinya telah membaik boleh diberi wortel, daging yang tidak

berlemak (Ngastiyah, 2014).

8. Komplikasi

Menurut Suharyono dalam Nursalam (2008), komplikasi yang dapat

terjadi dari diare akut maupun kronis, yaitu:

1. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi)

Kondisi ini dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan asam

basa (asidosis metabolik), karena:

a. Kehilangan narium bicarbonat bersama tinja.

b. Adanya ketosis kelaparan dan metabolisme lemak yang tidak

sempurna, sehingga benda keton tertimbun dalam tubuh.

c. Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksia

jaringan.

d. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena

tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguri dan anuria).

e. Pemindahan ion natrium dan cairan ekstraseluler ke dalam

cairan intraseluler.

Secara klinis, bila pH turun oleh karena akumulasi beberapa asam non-

volatil, maka akan terjadi hiperventilasi yang akan menurunkan pCO2

menyebabkan pernafasan bersifat cepat, teratur, dan dalam (pernapasan

kusmaul) (Suharyono, 2008).

2. Hipoglikemia

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 42: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

31

Hypoglikemia terjadi pada 2-3% dari anak-anak yang menderita

diare dan lebih sering terjadi pada anak yang sebelumnya sudah

menderita kekurangan kalori protein (KKP), karena :

a. Penyimpanan persediaan glycogen dalam hati terganggu.

b. Adanya gangguan absorpsi glukosa (walaupun jarang

terjadi.

Gejala hypoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah

menurun sampai 40% pada bayi dan 50% pada anak-anak. Hal

tersebut dapat berupa lemas, apatis, peka rangsang, tremor,

berkeringat, pucat, syok, kejang sampai koma.

3. Gangguan gizi

Sewaktu anak menderita diare, sering terjadi gangguan gizi

sehingga terjadi penurunan berat badan. Hal ini disebabkan karena:

a. Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare

atau muntahnya akan bertambah hebat, sehingga orang tua

hanya sering memberikan air teh saja.

b. Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan

pengenceran dalam waktu yang terlalu lama.

c. Makanan diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorpsi

dengan baik karena adanya hiperperistaltik.

4. Gangguan sirkulasi

Sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai muntah, maka

dapat terjadi gangguan sirkulasi darah berupa renjatan atau syok

hipovolemik. Akibat perfusi jaringan berkurang dan terjadinya

hipoksia, asidosis bertambah berat sehingga dapat mengakibatkan

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 43: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

32

perdarahan di dalam otak, kesadaran menurun, dan bila tidak

segera ditolong maka penderita dapat meninggal.

5. Hiponatremia

Anak dengan diare yang hanya minum air putih atau cairan yang

hanya mengandung sedikit garam, dapat terjadi hiponatremi (Na<

130 mol/L). Hiponatremi sering terjadi pada anak dengan

Shigellosis dan pada anak malnutrisi berat dengan oedema. Oralit

aman dan efektif untuk terapi dari hampir semua anaka dengan

hiponatremi. Bila tidak berhasil, koreksi Na dilakukan bersamaan

dengan koreksi cairan rehidrasi yaitu: memakai Ringer Laktat atau

Normal Saline (Juffrie, 2010).

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

a. Anamnesis: pengkajian mengenai nama lengkap, jenis kelamin,

tanggal lahir, umur, tempat lahir, asal suku bangsa, nama orang tua,

pekerjaan orang tua, dan penghasilan.

1) Keluhan Utama

Biasanya pasien mengalamin buang air besar (BAB) lebih dari

3 kali sehari, BAB < 4 kali dan cair (diare tanpa dehidrasi),

BAB 4-10 kali dan cair (dehidrasi ringan/ sedang), atau BAB >

10 kali (dehidrasi berat). Apabila diare berlangsung <14 hari

maka diare tersebut adalah diare akut, sementara apabila

berlangsung selama 14 hari atau lebih adalah diare persisten

(Nursalam, 2008)

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 44: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

33

2) Riwayat Kesehatan Sekarang

Biasanya pasien mengalami:

a. Bayi atau anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan

mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada,

dan kemungkinan timbul diare.

b. Tinja makin cair, mungkin disertai lendir atau lendir dan

darah. Warna tinja berubah menjadi kehijauan karena

bercampur empedu.

c. Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering

defekasi dan sifatnya makin lama makin asam.

d. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare.

e. Apabila pasien telah banyak kehilangan cairan dan eletrolit,

maka gejala dehidrasi mulai tampak.

f. Diuresis: terjadi oliguri (kurang 1 ml/kg/BB/jam) bila

terjadi dehidrasi. Urine normal pada diare tanpa dehidrasi.

Urine sedikit gelap pada dehidrasi ringan atau sedang.

Tidak ada urine dalam waktu 6 jam (dehidrasi berat)

(Nursalam, 2008).

3) Riwayat Kesehatan Dahulu

a. Kemungkinan anak tidak dapat imunisasi campak Diare

lebih sering terjadi pada anak-anak dengan campak atau

yang baru menderita campak dalam 4 minggu terakhir,

sebagai akibat dari penuruan kekebalan tubuh pada pasien.

Selain imunisasi campak, anak juga harus mendapat

imunisasi dasar lainnya seperti imunisasi BCG, imunisasi

DPT, serta imunisasi polio.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 45: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

34

b. Adanya riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan

(antibiotik), makan makanan basi, karena faktor ini

merupakan salah satu kemungkinan penyebab diare.

c. Riwayat air minum yang tercemar dengan bakteri tinja,

menggunakan botol susu, tidak mencuci tangan setelah

buang air besar, dan tidak mencuci tangan saat menjamah

makanan.

d. Riwayat penyakit yang sering terjadi pada anak berusia

dibawah 2 tahun biasanya adalah batuk, panas, pilek, dan

kejang yang terjadi sebelumnya, selama, atau setelah diare.

Informasi ini diperlukan untuk melihat tanda dan gejala

infeksi lain yang menyebabkan diare seperti OMA,

tonsilitis, faringitis, bronkopneumonia, dan ensefalitis

(Nursalam, 2008).

4) Riwayat Kesehatan Keluarga

Adanya anggota keluarga yang menderita diare sebelumnya,

yang dapat menular ke anggota keluarga lainnya. Dan juga

makanan yang tidak dijamin kebersihannya yang disajikan

kepada anak. Riwayat keluarga melakukan perjalanan ke

daerah tropis (Nursalam, 2008; Wong, 2008).

5) Riwayat Nutrisi

Riwayat pemberian makanan sebelum mengalami diare,

meliputi:

a. Pemberian ASI penuh pada anak umur 4-6 bulan sangat

mengurangi resiko diare dan infeksi yang serius.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 46: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

35

b. Pemberian susu formula. Apakah dibuat menggunakan air

masak dan diberikan dengan botol atau dot, karena botol

yang tidak bersih akan mudah menimbulkan pencemaran.

c. Perasaan haus. Anak yang diare tanpa dehidrasi tidak

merasa haus (minum biasa). Pada dehidrasi ringan atau

sedang anak merasa haus ingin minum banyak. Sedangkan

pada dehidrasi berat, anak malas minum atau tidak bisa

minum (Nursalam, 2008).

b. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum

a) Diare tanpa dehidrasi: baik, sadar

b) Diare dehidrasi ringan atau sedang: gelisah, rewel

c) Diare dehidrasi berat: lesu, lunglai, atau tidak sadar

2. Berat badan

Menurut S. Partono dalam Nursalam (2008), anak yang

mengalami diare dengan dehidrasi biasanya mengalami

penurunan berat badan, sebagai berikut:

Tabel 2.4

Persentase Kehilangan Berat Badan

Berdasarkan Tingkat Dehidrasi

Tingkat Dehidrasi

% Kehilangan Berat Badan

Bayi Anak

Dehidrasi ringan 5% (50 ml/kg) 3% (30 ml/kg)

Dehidrasi sedang 5-10% (50-100 ml/kg) 6% (60 ml/kg)

Dehidrasi berat 10-15% (100-150 ml/kg) 9% (90 ml/kg) Sumber: Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak, Nursalam, 2008.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 47: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

36

3. Pemeriksaan Fisik

a) Kepala

Anak berusia di bawah 2 tahun yang mengalami dehidrasi,

ubun-ubunnya biasanya cekung

b) Mata

Anak yang mengalami diare tanpa dehidrasi, bentuk

kelopak matanya normal. Apabila mengalami dehidrasi

ringan atau sedang kelopak matanya cekung (cowong).

Sedangkan apabila mengalami dehidrasi berat, kelopak

matanya sangat cekung.

c) Hidung

Biasanya tidak ada kelainan dan gangguan pada hidung,

tidak sianosis, tidak ada pernapasan cuping hidung.

d) Telinga

Biasanya tidak ada kelainan pada telinga.

e) Mulut dan Lidah

(1) Diare tanpa dehidrasi: Mulut dan lidah basah

(2) Diare dehidrasi ringan: Mulut dan lidah kering

(3) Diare dehidrasi berat: Mulut dan lidah sangat kering

f) Leher

Tidak ada pembengkakan pada kelenjar getah bening, tidak

ada kelainan pada kelenjar tyroid.

g) Thorak

(1) Jantung

(a) Inspeksi

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 48: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

37

Pada anak biasanya iktus kordis tampak terlihat.

(b) Auskultasi

Pada diare tanpa dehidrasi denyut jantung normal,

diare dehidrasi ringan atau sedang denyut jantung

pasien normal hingga meningkat, diare dengan

dehidrasi berat biasanya pasien mengalami takikardi

dan bradikardi.

(2) Paru-paru

(a) Inspeksi

Diare tanpa dehidrasi biasanya pernapasan normal,

diare dehidrasi ringan pernapasan normal hingga

melemah, diare dengan dehidrasi berat pernapasannya

dalam.

h) Abdomen

(1) Inspeksi

Anak akan mengalami distensi abdomen, dan kram.

(2) Palpasi

Turgor kulit pada pasien diare tanpa dehidrasi baik,

pada pasien diare dehidrasi ringan kembali < 2 detik,

pada pasien dehidrasi berat kembali > 2 detik.

(3) Auskultasi

Biasanya anak yang mengalami diare bising ususnya

meningkat

i) Ektremitas

Anak dengan diare tanpa dehidrasi Capillary refill (CRT)

normal, akral teraba hangat. Anak dengan diare dehidrasi

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 49: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

38

ringan CRT kembali < 2 detik, akral dingin. Pada anak

dehidrasi berat CRT kembali > 2 detik, akral teraba dingin,

sianosis.

j) Genitalia

Anak dengan diare akan sering BAB maka hal yang perlu

di lakukan pemeriksaan yaitu apakah ada iritasi pada anus.

c. Pemeriksaan diagnostik

1) Pemeriksaan laboratrium

(a) Pemeriksaan AGD, elektrolit, kalium, kadar natrium serum

Biasanya penderita diare natrium plasma > 150 mmol/L,

kalium > 5 mEq/L

(b) Pemeriksaan urin

Diperiksa berat jenis dan albuminurin. Eletrolit urin yang

diperiksa adalah Na+ K+ dan Cl. Asetonuri menunjukkan

adanya ketosis (Suharyono, 2008).

(c) Pemeriksaan tinja

Biasanya tinja pasien diare ini mengandung sejumlah ion

natrium, klorida, dan bikarbonat.

(d) Pemeriksaan pH, leukosit, glukosa

Biasanya pada pemeriksaan ini terjadi peningkatan kadar

protein leukosit dalam feses atau darah makroskopik

(Longo, 2013). pH menurun disebabkan akumulasi asama

atau kehilangan basa (Suharyono, 2008).

(e) Pemeriksaan biakan empedu bila demam tinggi dan

dicurigai infeksi sistemik ( Betz, 2009).

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 50: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

39

2) Pemeriksaan Penunjang

(a) Endoskopi

(1) Endoskopi gastrointestinal bagian atas dan biopsi D2,

jika dicurigai mengalami penyakit seliak atau Giardia.

Dilakukan jika pasien mengalami mual dan muntah.

(2) Sigmoidoskopi lentur, jika diare berhubungan dengan

perdarahan segar melalui rektum.

(3) Kolonoskopi dan ileoskopi dengan biopsi, untuk semua

pasien jika pada pemeriksaan feses dan darah hasilnya

normal, yang bertujuan untuk menyingkirkan kanker.

(b) Radiologi

(1) CT kolonografi, jika pasien tidak bisa atau tidak cocok

menjalani kolonoskopi

(2) Ultrasonografi abdomen atau CT scan, jika di curigai

mengalami penyakit bilier atau prankeas

(c) Pemeriksaan lanjutan

(1) Osmolalitas dan volume feses setelah 48 jam berpuasa

akan mengidentifikasi penyebab sekretorik dan osmotik

dari diare.

(2) Pemeriksaan laksatif pada pasien-pasien yang dicurigai

membutuhkan sampel feses dan serologi (Emmanuel,

2014).

2. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 51: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

40

Masalah keperawatan yang mungkin muncul pada anak dengan diare

menurut NANDA Internasional (2015), adalah sebagai berikut:

a. Diare berhubungan dengan parasit, psikologis, proses infeksi,

inflamasi, iritasi, malabsorbsi.

b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

aktif, kegagalan mekanisme regulasi.

c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan faktor biologis, faktor psikologis,

ketidakmampuan mencerna makanan, ketidakmampuan

mengabsorpsi nutrien.

d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi atau

sering BAB, perubahan status cairan, perubahan pigmentasi,

perubahan turgor, penurunan imunologis.

e. Disfungsi motilitas gastrointestinal berhubungan dengan diare,

intoleransi makanan, malnutrisi.

f. Resiko syok berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit.

g. Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi, peningkatan laju

metabolisme, penyakit.

h. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera (sering BAB).

i. Ganguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit,

kurang kontrol situasi.

j. Anisetas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan,

gejala terkait penyakit.

k. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi,

kurang sumber pengetahuan.

3. Intervensi Keperawatan

Tabel 2.5

Intervensi Keperawatan Untuk Pasien Diare

Intervensi

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 52: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

41

NO Diagnosa

Keperawatan

NOC NIC

1. Diare

berhubungan

dengan parasit,

psikologis,

proses infeksi,

inflamasi,

iritasi,

malabsorbsi.

NOC:

a. Kontinensi usus

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan

pasien dapat mengontrol

pengeluaran feses dari

usus, dengan Kriteria

hasil:

1. Diare(4)

2. Mengeluarkan feses

paling tidak 3 kali per

hari(5)

3. Minum cairan secara

adekuat(5)

4. Mengkonsumsi serat

secara adekuat(5)

Keterangan:

(4): Jarang menunjukkan

(5): Secara konsisten

menunjukkan

b. Fungsi

Gastrointestinal

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan

saluran pencernaan pasien

mampu untuk mencerna,

dan menyerap nutrisi dari

makanan, dengan Kriteria

hasil:

1. Frekuensi BAB(4)

2. Konsistensi feses(5)

3. Distensi perut(5)

4. Peningkatan

peristaltik(4)

5. Diare(4)

Keterangan:

(4): Sedikit terganggu

(5): Tidak terganggu

NIC:

a. Manajemen diare

Tindakan keperawatan:

1. Evaluasi efek

samping pengobatan

terhadap

gastrointestinal

2. Anjurkan pasien

untuk menggunakan

obat antidiare

3. Evaluasi intake

makanan yang

dikonsumsi

sebelumnya

4. Identifikasi faktor

penyebab diare

(misalnya, bakteri)

5. Berikan makanan

dalam porsi kecil dan

lebih sering serta

tingkatkan porsi

secara bertahap

6. Monitor tanda dan

gejala diare

b. Manajemen

Saluran Cerna

Tindakan keperawatan:

1. Monitor buang air

besar termasuk

frekuensi,

konsistensi, bentuk,

volume, dan warna,

dengan cara yang

tepat.

2. Monitor bising usus

3. Instruksikan pasien

mengenai makanan

tinggi serat

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 53: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

42

2. Kekurangan

Volume cairan

berhubungan

dengan

kehilangan

cairan aktif,

kegagalan

mekanisme

regulasi.

NOC:

a. Keseimbangan cairan

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan

keseimbangan cairan

didalam tubuh pasien tidak

terganggu, dengan Kriteria

hasil:

1. Tekanan darah (5)

2. Denyut nadi perifer(5)

3. Keseimbangan intake

dan output dalam 24

jam(4)

4. Berat badan stabil(5)

5. Turgor kulit(5)

6. Kelembaban membran

mukosa(5)

Keterangan:

(4): Sedikit terganggu

(5): Tidak terganggu

b. Hidrasi

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan

ketersediaan air didalam

tubuh pasien tidak

terganggu, dengan Kriteria

hasil:

1. Turgor kulit(5)

2. Membran mukosa

lembab(5)

3. Intake cairan(5)

4. Mata dan ubun-ubun

cekung(5)

5. Nadi cepat dan

lemah(5)

Keterangan:

NIC:

a. Manajemen cairan

Tindakan keperawatan:

1. Monitor status

hidrasi (misalnya,

membran mukosa

lembab, denyut nadi

adekuat)

2. Jaga intake/asupan

yang akurat dan catat

output pasien

3. Monitor

makanan/cairan yang

dikonsumsi dan

hitung asupan kalori

harian

4. Kolaborasi

pemberian cairan IV

5. Monitor status nutrisi

6. Timbang berat badan

setiap hari dan

monitor status pasien

7. Monitor tanda-tanda

vital

8. Dorong keluarga

untuk membantu

pasien makan

b. Manajemen

Hipovolemia

Tindakan Keperawatan:

1. Monitor status cairan

termasuk intake dan

output cairan

2. Pelihara IV line

3. Monitor tingkat Hb

dan hematokrit

4. Monitor tanda-tanda

vital

5. Monitor respon

pasien terhadap

penambahan cairan

6. Dorong pasien untuk

menambah intake

oral

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 54: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

43

(5): Tidak terganggu

c. Status nutrisi:

asupan makanan &

cairan

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan

jumlah makanan dan

cairan yang masuk ke

dalam tubuh pasien

adekuat, dengan Kriteria

hasil:

1. Asupan makanan

secara oral(4)

2. Asupan makan secara

tube feeding

(NGT/OGT) (4)

3. Asupan cairan

intravena(4)

4. Asupan nutrisi

parenteral(4)

Keterangan:

(4): Sebagian besar

adekuat

c. Monitor cairan

Tindakan keperawatan:

1. Monitor berat badan

2. Monitor intake dan

output

3. Monitor nilai serum

dan elektrolit urin

4. Monitor serum

albumin dan total

protein

5. Monitor TD, nadi,

pernafasan

6. Monitor kelembaban

mukosa, turgor kulit

3. Ketidakseimba

ngan nutrisi:

kurang dari

kebutuhan

tubuh

NOC:

a. Status nutrisi

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan

nutrisi pasien dapat

terpenuhi, dengan Kriteria

hasil:

1. Asupan makanan(4)

2. Asupan cairan(5)

3. Rasio berat/tinggi

badan(5)

4. Energi(4)

5. Hidrasi(4)

Keterangan:

(4): Sedikit menyimpang

dari rentang normal

(5): Tidak menyimpang

dari rentang normal

NIC:

a. Manajemen nutrisi

Tindakan keperawatan:

1. Identifikasi adanya

alergi atau

intoleransi makanan

2. Instruksikan pasien

mengenai kebutuhan

nutrisi

3. Atur diet yang

diperlukan (yaitu,

menyediakan

makana protein

tinggi, menambah

atau mengurangi

kalori, menambah

atau menurangi

vitamin, mineral)

4. Tentukan jumlah

kalori dan jenis

nutrisi yang

dibutuhkan untuk

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 55: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

44

b. Status nutrisi:

Asupan Makanan &

Cairan

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan

jumlah makanan dan

cairan yang masuk ke

dalam tubuh pasien

adekuat, dengan Kriteria

hasil:

1. Asupan makanan

secara oral(4)

2. Asupan makan secara

tube feeding

(NGT/OGT) (4)

3. Asupan cairan secara

oral(4)

4. asupan nutrisi

parenteral(4)

Keterangan:

(4): Sebagian besar

adekuat

c. Status nutrisi:

asupan nutrisi

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan

asupan gizi pasien

terpenuhi, dengan Kriteria

hasil:

1. Asupan kalori(5)

2. Asupan protein(5)

3. Asupan karbohidrat(5)

4. Asupan serat(4)

5. Asupan mineral(5)

Keterangan:

(4): Sebagian besar

adekuat

(5): Sepenuhnya adekuat

d. Berat badan: Massa

tubuh

Setelah dilakukan tindakan

memenuhi

persyaratan gizi

b. Monitor nutrisi

Tindakan keperawatan:

1. Monitor

kecendrungan turun

BB

2. Monitor turgor kulit

3. Monitor adanya mual

dan muntah

4. Monitor pucat,

kemerahan, dan

kekeringan jaringan

konjungtiva

5. Monitor diet dan

asupan kalori

c. Monitor nutrisi

Tindakan keperawatan:

1. Timbang berat badan

pasien

2. Monitor adanya

mual muntah

3. Monitor adanya

penurunan berat

badan

4. Monitor turgor kulit

dan mobilitas

d. Bantuan

peningkatan BB

Tindakan keperawatan:

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 56: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

45

keperawatan diharapkan

berat badan pasien normal,

dengan Kriteria hasil:

1. Berat badan(5)

2. Persentil lingkar

kepala (anak)(5)

3. Persentil berat badan

(anak)(5)

Keterangan:

(5): Tidak ada deviasi dari

kisaran normal

1. Timbang pasien pada

jam yang sama

setiap hari

2. Monitor mual dan

muntah

3. Monitor asupan

kalori setiap hari

4. Instruksikan cara

meningkatkan

asupan kalori

4. Kerusakan

integritas kulit

NOC:

Integritas jaringan: Kulit

& membran mukosa

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan

keutuhan dan fungsi kulit

pasien tidak terganggu,

dengan Kriteria hasil:

1. Integritas kulit(5)

2. Suhu kulit(5)

3. Elastisitas(5)

4. Hidrasi(4)

5. Perfusi jaringan(5)

Keterangan:

(4): Sedikit terganggu

(5): Tidak terganggu

NIC:

Manajemen elektrolit/

cairan

Tindakan keperawatan:

1. Monitor kehilangan

cairan (misalnya,

muntah, diare)

2. Tingkatkan intake

asupan cairan per

oral

3. Pastikan bahwa

larutan intravena

yang mengandung

elektrolit diberikan

dengan aliran yang

konstan dan sesuai

5. Disfungsi

motilitas

gastrointestinal

NOC:

a. Eliminasi usus

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan

pengeluaran feses pasien

tidak terganggu, dengan

Kriteria hasil:

1. Pola eliminasi(5)

2. Warna feses(5)

3. Feses lembut dan

berbentuk(5)

4. Kemudahan BAB(5)

5. Suara bising usus(5)

6. Nyeri pada saat

BAB(5)

Keterangan:

(5): Tidak terganggu

NIC:

a. Manajemen

Saluran Cerna

Tindakan keperawatan:

1. Monitor buang air

besar termasuk

frekuensi,

konsistensi, bentuk,

volume, dan warna,

dengan cara yang

tepat.

2. Monitor bising usus

3. Instruksikan pasien

mengenai makanan

tinggi serat

4. Monitor adanya

tanda dan gejala

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 57: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

46

(5): Tidak ada

b. Fungsi

gastrointestinal

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan

saluran pencernaan pasien

mampu untuk mencerna,

dan menyerap nutrisi dari

makanan, dengan Kriteria

hasil:

1. Frekuensi BAB(4)

2. Konsistensi feses(5)

3. Distensi perut(5)

4. Peningkatan

peristaltik(4)

5. Diare(4)

Keterangan:

(4): Sedikit terganggu

(5): Tidak terganggu

diare, konstipasi.

6. Resiko syok

hipovolemik

7. Nyeri akut

8. Hipertermi

9. Gangguan rasa

nyaman

NOC:

a. Status kenyamanan:

fisik

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan

rasa nyaman pasien tidak

terganggu, dengan Kriteria

hasil:

1. Kontrol terhadap

gejala(4)

2. Intake makanan(4)

3. Intake cairan(4)

4. Mual dan muntah(5)

5. Diare(4)

Keterangan:

(4): Sedikit terganggu

(5): Tidak terganggu

NIC:

a. Teknik

menenangkan

Tindakan keperawatan:

1. Yakinkan

keselamatan dan

keamanan klien

2. Peluk dan beri

kenyamanan pada

bayi atau anak

3. Identifikasi orang

terdekat klien yang

bisa membantu klien

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 58: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

47

b. Tingkat kecemasan

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan

merasakan cemas, dengan

Kriteria hasil:

1. Perasaan gelisah(5)

2. Wajah tegang(5)

3. Peningkatan frekuensi

nadi(5)

Keterangan:

(5): Tidak ada

c. Tidur

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan diharapkan

tidur pasien tidak

terganggu, dengan Kriteria

hasil:

1. Pola tidur(4)

2. Kualitas tidur(4)

Keterangan:

(4): Sedikit terganggu

b. Pengurangan

kecemasan

Tindakan keperawatan:

1. Gunakan pendekatan

yang tenang dan

menyenangkan

2. Nyatakan dengan

jelas harapan

terhadap perilaku

klien

3. Dorong keluarga

untuk mendampingi

klien dengan cara

yang tepat

4. Identifikasi tingkat

kecemasan

c. Peningkatan tidur

Tindakan keperawatan:

1. Tentukan pola

tidur/aktivitas klien

2. Monitor pola tidur

klien dan catat

kondisi fisik

(misalnya,

ketidaknyamanan)

atau psikologis

(ketakutan atau

kecemasan) keadaan

yang menggangu

tidur

3. Sesuaikan

lingkungan untuk

meningkatkan tidur

Sumber: NANDA International, 2015, Moorhead, Sue, dkk, 2013, Bulechek,

Gloria M, 2013.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 59: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Metode

penelitian deskriptif merupakan suatu metode penelitian yang dilakukan

dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan

secara objektif dengan pendekatan studi kasus. Metode penelitian

deskriptif digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan

yang sedang dihadapi pada situasi sekarang (Notoatmodjo, 2010). Hasil

yang diharapkan oleh peneliti adalah melihat penerapan asuhan

keperawatan anak pada anak dengan diare di ruang 2 ibu dan anak RS

Reksodiwiryo Padang tahun 2017.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Studi kasus ini akan dilakukan di RS Reksodiwiryo Padang khususnya di

ruang 2 ibu dan anak tahun 2017. Waktu penerapan asuhan keperawatan

ini dimulai dari pembuatan proposal pada bulan Januari 2017 sampai Juni

2017.

C. Subjek Penelitian

Partisipan dalam penelitian ini adalah 2 orang yang memiliki kriteria

sebagai berikut:

1. Kriteria Inklusi

a. Pasien dan orangtua yang bersedia sebagai partisipan

b. Pasien anak yang berumur > 12 bulan

c. Pasien dengan masalah diare tidak disertai dengan penyakit lainnya

d. Pasien yang dirawat diruang 2 ibu dan anak RS Reksodiwiryo

Padang Tahun 2017

e. Pasien anak dengan diare yang dirawat minimal 5 hari rawatan.

49

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 60: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

50

2. Kriteria Eksklusi

a. Pasien anak yang mengalami diare dengan komplikasi penyakit

lainnya seperti HIV, Sindroma Nefrotik, DHF, Bronkopneumonia.

D. Alat atau Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah format pengkajian

keperawatan, diagnosis keperawatan, perencananaan keperawatan,

implementasi keperawatan, evaluasi keperawatan, dan alat pemeriksaan

fisik yang terdiri dari stetoskop, termometer, timbangan, pen light, dan

tongue spatel, meteran. Pengumpulan data dilakukan dengan cara

anamnesis, pemeriksaan fisik, observasi langsung, dan studi dokumentasi.

1. Format pengkajian keperawatan terdiri dari: identitas pasien,

identifikasi penanggung jawab, riwayat kesehatan, kebutuhan dasar,

pemeriksaan fisik, data psikologis, data ekonomi sosial, data spiritual,

lingkungan tempat tinggal, pemeriksaan laboratorium, dan program

pengobatan.

2. Format analisa data terdiri dari: nama pasien, nomor rekam medik,

data, masalah, dan etiologi.

3. Format diagnosis keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor rekam

medik, diagnosis keperawatan, tanggal dan paraf ditemukannya

masalah, serta tanggal dan paraf dipecahkannya masalah.

4. Format rencana asuhan keperwatan terdiri dari: nama pasien, nomor

rekam medik, diagnosa keperawatan, intervensi NIC dan NOC.

5. Format implementasi keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor

rekam medik, hari dan tanggal, diagnosis keperawatan, implementasi

keperawatan, dan paraf yang melakukan implementasi keperawatan.

6. Format evaluasi keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor rekam

medik, hari dan tanggal, diagnosis keperawatan, evaluasi keperawatan,

dan paraf yang mengevaluasi tindakan keperawatan.

E. Cara Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data menggunakan multi sumber bukti (triangulasi)

artinya teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 61: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

51

berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.

Triangulasi teknik berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data

yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama.

Peneliti akan menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam,

dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak

(Sugiyono, 2014).

1. Observasi

Dalam observasi ini, peneliti mengobservasi atau melihat kondisi dari

pasien, seperti keadaan umum pasien dan keadaan pasien, selain itu

juga mengobservasi tanda-tanda terjadinya dehidrasi seperti anak lesu,

rasa haus pada anak, turgor kulit abdomen, mata cekung, bibir, mukosa

mulut, lidah kering dan respon tubuh terhadap tindakan apa yang telah

dilakukan.

2. Pengukuran

Pengukuran yaitu melakukan pemantauan kondisi pasien dengan

metoda mengukur dengan menggunakan alat ukur pemeriksaan, seperti

melakukan pengukuran suhu, mengukur tanda-tanda vital, menimbang

berat badan.

3. Wawancara

Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan

ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam

suatu topik tertentu. Wawancara digunakan untuk mengumpulkan data

pengkajian seperti, identitas, riwayat kesehatan (riwayat kesehatan

sekarang, riwayat kesehatan dahulu, dan riwayat kesehatan keluarga),

dan activity daily living.

Dalam penelitian ini wawancara dilakukan dengan menggunakan

pedoman wawancara bebas terpimpin (format pengkajian yang

disediakan). Wawancara jenis ini merupakan kombinasi dari

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 62: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

52

wawancara tidak terpimpin dan wawancara terpimpin. Meskipun dapat

unsur kebebasan, tapi ada pengarah pembicara secara tegas dan

mengarah sehingga wawancara ini bersifat fleksibelitas dan tegas.

4. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen

bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari

seseorang. Dalam penelitian ini mengunakan dokumen dari rumah

sakit untuk menunjang penelitian yang akan dilakukan yaitu data

laboratorium pemeriksaan pH, pemeriksaan darah lengkap,

pemeriksaan tinja, pemeriksaan elektrolit, pemeriksaan kadar natrium

serum, pemeriksaan urin dan pemeriksaan klinis lainnya.

F. Jenis – jenis Data

1. Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung dari responden

dan keluarga berdasarkan format pengkajian asuhan keperawatan anak.

Data primer dari penelitian tersebut didapatkan dari hasil wawancara

observasi langsung dan pemeriksaan fisik langsung pada responden.

Data primer yang diperoleh masing- masing akan dijelaskan sebagai

berikut:

a. Hasil wawancara sesuai dengan format pengkajian asuhan

keperawatan yang telah disediakan sebelumnya meliputi: identitas

pasien dan orang tua, riwayat kesehatan, riwayat imunisasi dan

perkembangan, kebiasaan sehari- hari

b. Hasil observasi langsung berupa: pasien malas minum, pasien

tampak letargis, pasien tampak mengalami penurunan kesadaran,

pasien tampak cenggeng, rewel dan lain- lain

c. Hasil pemeriksaan fisik berupa: keadaan umum, pemeriksaan

tanda- tanda vital, pemeriksaan fisik head to toe

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 63: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

53

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari laporan status pasien di ruangan 2 ibu

dan anak RS Reksodiwiryo Padang Tahun 2017. Informasi yang

diperoleh berupa data tambahan atau penunjang dalam merumuskan

diagnosa keperawatan. Data yang diperoleh biasanya berupa: data

penunjang dari laboratorium, terapi pengobatan yang diberikan dokter.

G. Rencana Analisis

Rencana analisis yang dilakukan pada penelitian ini adalah menganalisis

semua temuan pada tahapan proses keperawatan dengan menggunakan

konsep dan teori keperawatan pada anak dengan diare. Data yang telah

didapat dari hasil melakukan asuhan keperawatan mulai dari pengkajian,

penegakkan diagnosa, merencanakan tindakan, melakukan tindakan

sampai mengevaluasi hasil tindakan akan dinarasikan dan dibandingkan

dengan teori asuhan keperawatan anak dengan diare. Analisa yang

dilakukan adalah untuk menentukan apakah ada persamaan antara teori

yang ada dengan kondisi pasien di ruangan.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 64: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

BAB IV

DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN KASUS

A. Deskripsi Kasus

1. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian dilakukan pada partisipan 1 An.D umur 13 tahun dengan

diagnosa diare dehidrasi ringan + low intake dan partisipan 2 An.R

umur 18 bulan dengan diare dehidrasi sedang. Pengkajian dilakukan

pada tanggal 23 Mei sampai 27 Mei 2017 di ruang 2 Ibu Dan Anak RS

Reksodiwiryo Padang.

Tabel 4.1

Pengkajian Keperawatan

Partisipan 1 Partisipan 2

An.D dibawa ke RS Reksodiwiryo

Padang pada tanggal 22 Mei 2017

pukul 16.15 WIB dengan keluhan

demam tinggi sejak 2 hari sebelum

masuk rumah sakit dan BAB encer

sudah 7 kali dari tadi pagi sebelum

masuk rumah sakit. Nyeri di ulu hati

(skala nyeri 6), batuk, badan lemah

serta nafsu makan berkurang sejak

An.D demam.

Pada saat pengkajian An.D mengatakan

BAB baru 1 kali dari pagi. Saat ini

BAB masih encer dengan jumlah ± 100

ml setiap diare, warna kuning, tidak

berlendir dan tidak disertai darah. Ny.I

mengatakan anaknya masih demam dan

BAK anaknya agak pekat, frekuensi 2

kali dari pagi dengan jumlah ± 100 ml

setiap BAK. Ny.I juga mengatakan

anaknya masih malas makan dan malas

minum. An.D tampak lesu dan lemah.

Kedua mata pasien tampak merah.

An.R dibawa ke RS Reksodiwiryo

Padang pada tanggal 23 Mei 2017

pukul 13.05 WIB dengan keluhan

muntah 1 kali, demam tinggi sejak 2

hari sebelum masuk rumah sakit dan

BAB encer sudah 2 hari sebelum masuk

rumah sakit. An.R BAB ± 20 kali dari

pagi sebelum masuk rumah sakit, badan

lemah, nafsu makan berkurang.

Pada saat pengkajian Ny.Y mengatakan

dari mulai masuk ruangan anaknya

sudah 6 kali BAB. BAB anaknya encer,

berlendir tidak disertai darah,

jumlahnya ±50 ml setiap diare, BAB

sudah tidak ampas, warna kuning, area

sekitar anus lembab dan tampak sedikit

kemerahan. An.R masih demam anak

tampak lemah dan rewel, setiap kali

anak BAK bercampur dengan BAB,

anak tampak lesu, dan rewel. Ny.Y juga

mengatakan sebelum diare An.R

menderita demam, dan pilek. Ny.Y

mengatakan sebelumnya tidak ada

anggota keluarga yang menderita diare

54

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 65: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

55

Ny.I mengatakan sebelum sakit

anaknya memang suka malas makan.

An.D biasanya makan 2 kali sehari.

Pola makan tidak teratur, An.D suka

makan cemilan, dan membeli minuman

seperti pop ice. An.D mengalami

penurunan berat badan, dari 38 kg

ditimbang pada 1,5 bulan yang lalu di

bidan karena anaknya demam, batuk

dan pilek, saat diruangan An.D

ditimbang lagi BB 31 kg saat sakit, dan

saat ini An.D diit makanan lunak. An.D

masih malas minum air putih dan oralit,

An.D minum air putih ± 2 gelas sehari.

An.D BAB ±4 kali sehari, warna

kuning, encer, BAK ±2 kali sehari,

warna kuning pekat. Pola tidur siang

tidak teratur, dan tidur malam kurang

lebih 6 jam sering terbangun karena

badannya yang masih panas.

Hasil pemeriksaan fisik An.D

ditemukan mata merah dan cekung,

mukosa mulut kering, pucat, bunyi

nafas bronkovesikuler An.D kadang-

kadang masih batuk. Bising usus

normal, turgor kulit kembali lambat,

CRT lebih dari 2 detik, akral teraba

hangat. An.D mengalami penurunan

berat badan. Berat badan sebelumnya

38 kg ditimbang pada 1,5 bulan yang

lalu di bidan karena anaknya demam,

batuk dan pilek, berat badan saat sakit

31 kg, tinggi badan 153 cm. Hasil

pemeriksaan tanda-tanda vital TD:

110/70 mmHg N: 88 x/mnt RR: 18

x/mnt S: 37,9 ºC. Hasil laboratorium

pemeriksaan darah pada tanggal 22 Mei

2017 Hb 12,7 g/dl, leukosit 10.800

mm3, trombosit 313.000 mm3,

hematokrit 38,7%. An.D mendapatkan

terapi IVFD RL 22 tetes per menit,

paracetamol 3x1 tablet, zinc 1x10 mg

dan oralit setiap kali diare.

ataupun mengalami sakit sebelumnya.

Ny.I mengatakan anak ke 2 umur 5

bulan dan ke 3 umur 9 bulan meninggal

dunia karena gastroenteritis akut.

Ny.Y mengatakan anaknya tidak mau

makan. Setiap kali disuapkan makan

An.R memuntahkannya. Ny.Y

mengatakan biasanya An.R makan

makanan yang dilunakkan, seperti nasi,

sayur, lauk yang dilunakkan dan An.R

juga minum susu formula Bebelac ± 4

kali dalam sehari. An.R juga

mengalami penurunan berat badan dari

8,9 kg menjadi 8,6 kg saat sakit. An.R

lebih suka minum oralit (± 8 dot sehari,

± 200cc/dot) dibanding minum air putih

saja. Pola tidur An.R terganggu karena

BAB dan badannya masih panas.

Hasil pemeriksaan fisik An.R

ditemukan mata cekung, mukosa mulut

kering, pucat, ada bintik merah pada

perut, bunyi nafas vesikuler. Bising

usus positif lebih dari 10 kali/menit,

turgor kulit kembali lambat, CRT lebih

dari 2 detik, akral teraba hangat. Kulit

sekitar anus lembab dan berwarna

kemerahan. An.R mengalami

penurunan berat badan, berat badan

sebelum sakit 8,9 kg, berat badan saat

sakit 8,6 kg dan tinggi badan 93 cm.

Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital S:

38,8ºC N: 100 x/mnt RR: 20 x/mnt.

Hasil laboratorium pemeriksaan darah

pada tanggal 23 Mei 2017 Hb : 11,8

gl/dl. Leukosit : 11.620 mm3

Trombosit : 305.000 mm3. Hematokrit :

36,1 %. Hasil laboratorium pemeriksaan

feses pada tanggal 23 Mei 2017

Makroskopis, keadaan : lunak, Lendir :

ada, Darah : tidak ada. Mikoskopis

Leukosit : 10-15 / LPB

Eritrosit : 4-5 / LPB. Terapi IVFD RL

20 tts/mnt, Zink 1x1 sendok teh, Oralit.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 66: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

56

Hasil pengkajian mengenai lingkungan

rumah An.D, ibu pasien mengatakan

sumber air minum dan untuk keperluan

sehari-hari menggunakan air PDAM.

Ny.I mengatakan kebiasaan melakukan

cuci tangan pakai sabun jarang

dilakukan.

Hasil pengkajian mengenai lingkungan

rumah An.R, ibu mengatakan sumber

air minum dari air galon isi ulang dan

untuk keperluan sehari-hari Ny.Y

menggunakan air dari PDAM. Ny.Y

juga mengatakan untuk kebiasaan

mencuci tangan pakai sabun saat

menyiapkan makanan dan menyiapkan

susu untuk anaknya jarang dilakukan.

2. Diagnosis Keperawatan

Dari hasil pengkajian diatas, didapatkan diagnosis keperawatan yang

bisa ditegakkan untuk kedua partisipan tersebut yaitu, untuk An.D 1)

hipertermi berhubungan dengan proses infeksi, 2) kekurangan volume

cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif, 3)

ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan faktor psikologis, 4) diare berhubungan dengan proses infeksi,

5) resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi atau

sering BAB. Diagnosis yang dapat ditegakkan untuk An.R yaitu 1)

kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

aktif, 2) ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsobrsi makanan, 3)

hipertermi berhubungan dengan proses infeksi, 4) resiko kerusakan

integrotas kulit berhubungan dengan ekskresi atau sering BAB, 5)

diare berhubungan dengan proses infeksi, 6) gangguan rasa nyaman

berhubungan dengan gejala terkait penyakit.

Tabel 4.2

Diagnosis Keperawatan

Partisipan 1 Partisipan 2

Kekurangan volume cairan

berhubungan dengan Kehilangan

cairan aktif akibat diare ditandai

dengan Ny.Y mengatakan anaknya

diare baru satu hari yang lalu, Ibu

mengatakan BAB anaknya encer, tidak

berlendir, dan tidak berdarah. Ibu I

mengatakan anaknya ± 7 kali BAB

sebelum masuk rumah sakit, saat

pengkajian An.D mengatakan baru 1

kali BAB, BAB masih encer, tidak

berlendir. Ibu I mengatakan BAK ± 4

Kekurangan volume cairan

berhubungan dengan Kehilangan

cairan aktif akibat diare ditandai

dengan Ny.Y mengatakan anaknya

diare sejak 2 hari sebelum masuk

rumah sakit, BAB encer, berlendir tapi

tidak berdarah, sebelum masuk rumah

sakit anaknya BAB ± 20 kali. Saat

diruangan An.R BAB sudah 6 kali,

warna kuning, anak rewel, infus

terpasang RL 20 tts/mnt dalam 8 jam,

setiap kali BAB ± 50 ml, anak minum

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 67: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

57

kali sehari, bau khas, warna kuning

pekat, anaknya masih malas minum, ±2

(±200 cc) gelas sehari. Anak tampak

lemah, urine ± 70 ml, BAB ± 100 ml,

mukosa bibir kering, turgor kulit

kembali lambat, mata tampak cekung

dan merah.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang

dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan Faktor biologis Ny.I

mengatakan Ibu I mengatakan sebelum

sakit anaknya memang malas makan,

An.D biasa makan 2 kali sehari dan

tidak teratur. Ibu I mengatakan anaknya

suka minum pop ice dan makan

cemilan, pada saat demam anaknya

tidak mau makan. Anak tampak lesu

dan kurus, diit yang diberikan tampak

tidak dihabiskan. Anak mengalami

penurunan berat badan dari 38 kg

ditimbang pada 1,5 bulan yang lalu di

bidan karena anaknya demam, batuk

dan pilek, saat diruangan An.D

ditimbang lagi BB 31 kg saat sakit

hipertermi berhubungan dengan

dehidrasi ditandai dengan Ny.I

mengatakan anaknya demam tinggi

sudah 2 hari sebelum masuk rumah

sakit, BAB encer sudah 7 kali. Saat

diruangan An.D masih demam, BAB

baru 1 kali dari pagi, kosistensi encer,

warna kuning, tidak berlendir, tidak

berdarah, jumlah ± 100. Ibu

mengatakan anaknya tampak lesu sejak

demam. Keadaan umum An.D sedang,

anak mengalami dehidrasi ringan

dengan low intake, anak tampak malas

minum, kedua mata An.D tampak

merah. Tanda-tanda vital S: 37,9ºC,

HR: 88 x/mnt, RR: 18 x/mnt, TD:

110/70 mmHg

diare yang berhubungan dengan

proses infeksi yang ditandai dengan

Ny.I mengatakan BAB anaknya encer

oralit ± 8 dot sehari, ± 200cc/dot, BAK

sedikit, warna kuning, bau khas, anak

menggunakan pempers, jumlah urine

tidak bisa dihitung karena bercampur

dengan BAB, mukosa mulut kering,

mata cekung.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang

dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan ketidakmampuan

mengabsorbsi makanan ditandai

dengan Ny.Y mengatakan selama sakit

nafsu makan anaknya berkurang, setiap

kali disuapkan makan anak selalu

memuntahkannya. NyY mengatakan

mengganti makanan anaknya dengan

roti tapi anaknya tetap tidak mau makan

minum oralit ± 8 dot sehari, ±

200cc/dot.anak tampak lesu, rewel,

makanan yang diberikan tidak dimakan.

An.R mengalami penurunan berat

badan dari 8,9 kg menjadi 8,6 kg saat

sakit. Membran mukosa mulut kering,

turgor kulit kembali lambat, CRT >2

detik.

hipertermi berhubungan dengan

dehidrasi ditandai dengan Ny.Y

mengatakan anaknya demam sudah 2

hari sebelum masuk rumah sakit. Ny.Y

mengatakan anaknya tampak lesu sejak

demam, saat diruangan anaknya masih

demam tinggi S: 38,8ºC. Ny.Y sudah

mengompres anaknya, badan anak

masih terasa panas, An.R mengalami

diare dengan dehidrasi sedang. Anak

mau minum jika dicampur dengan oralit

minum oralit ± 8 dot sehari, ±

200cc/dot.

diare berhubungan dengan proses

infeksi yang ditandai dengan Ny.Y

mengatakan BAB anaknya encer sudah

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 68: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

58

sudah 1 hari, frekuensi BAB ± 7 kali

dari pagi sebelum masuk rumah sakit,

BAB bewarna kuning, tidak berlendir

dan tidak berdarah, demam tinggi sudah

2 hari sebelum masuk rumah sakit. Saat

diruangan An.D masih demam, BAB

baru 1 kali dari pagi, kosistensi encer,

warna kuning, tidak berlendir, tidak

berdarah, jumlah ± 100.Hasil

laboratorium pemeriksaan darah

didapatkan leukosit An.D tinggi yaitu

10.800 mm3.

resiko kerusakan integritas kulit

berhubungan dengan ekskresi atau

sering BAB ditandai dengan ibu pasien

mengatakan anaknya BAB sudah lebih

dari 7 kali sebelum masuk rumah sakit,

saat diruangan anak BAB baru 1 kali

dari pagi, anak tampak lesu setelah

BAB, daerah sekitar anus lembab dan

tidak ada berwarna kemerahan.

Defisiensi pengetahuan berhubungan

dengan kurang informasi ditandai

dengan kebiasaan atau hygiene ibu yang

tidak mencuci tangan saat menyiapkan

makanan dan kebiasaan anak yang suka

membeli pop ice, makan cemilan, dan

sumber air minum dari air PDAM.

2 hari sebelum masuk rumah sakit.

BAB analnya encer, berlendir, sebelum

masuk RS pasien ± 20 kali BAB. Dan

saat baru masuk ruangan An.R sudah 6

kali BAB. Anak tampak lesu, hasil

pemeriksaan laboratorium darah

didapatkan leukosit 11.620 mm3.

kerusakan integritas kulit

berhubungan dengan ekskresi atau

sering BAB ditandai dengan ibu

mengatakan anaknya BAB sudah 2 hari

sebelum masuk RS ± 20 kali. Ibu

mengatakan frekuensi frekuensi BAB

anaknya sangat sering, BAB sedikit-

sedikit, jarak untuk BAB sangat dekat,

BAB sudah tidak ada ampas, ibu juga

mengatakan anaknya tampak lesu

setelah BAB dan setiap kali BAB anak

pasti menangis. Daerah sekitar anus

tampak lembab, sedikit berwarna

kemerahan dan bersih, anak memakai

pempers.

gangguan rasa nyaman berhubungan

dengan gejala terkait penyakit

ditandai dengan Ny.Y mengatakan

anaknya sangat rewel, anak BAB ± 20

kali, BAB encer, anus dan daerah

sekitarnya lembab dan sedikit

kemerahan. Ny.Y mengatakan setiap

kali BAB anaknya selalu menangis.

Pola tidur anak tidak teratur karena

gelisah, dan BAB.

Defisiensi pengetahuan berhubungan

dengan kurang informasi ditandai

dengan hasil observasi peneliti ibu tidak

mencuci tangan setelah membersihkan

BAB anaknya dengan tisu basah,

setelah itu ibu membuatkan oralit untuk

anaknya. Sebelumnya anak ketiga dan

keempat dari Ny.Y meninggal dunia

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 69: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

59

karena gastroenteritis akut. Sumber air

minum dari air galon isi ulang dan air

untuk keperluan sehari-hari

menggunakan air PDAM.

3. Intervensi Keperawatan

Intervensi atau rencana tindakan yang akan dilakukan ke An.D dan

An.R sesuai dengan diagnosis yang sudah ada yaitu 1) manajemen

cairan, 2) manajemen nutrisi, 3) termoregulasi, dan 4) manajemen

diare, 5) manajemen tekanan.

Tabel 4.3

Intervensi Keperawatan

Partisipan 1 Partisipan 2

Rencana tindakan yang akan dilakukan

untuk diagnosa kekurangan volume

cairan berhubungan dengan

kehilangan cairan aktif yaitu 1)

monitor status hidrasi (kelembaban

mukosa mulut, nadi yang adekuat), 2)

mencatat intake dan output pasien, 3)

monitor dan hitung asupan kalori

pasien, 4) kolaborasi pemberian cairan

IV, 5) monitor status nutrisi, 6) monitor

tanda-tanda vital, 7) timbang berat

badan pasien, 8) monitor respon pasien

terhadap penambahan cairan. Kriteria

hasil yang hendak dicapai yaitu, turgor

kulit tidak terganggu, berat badan

stabil, kelembaban membran mukosa

tidak terganggu, keseimbangan intake

dan output dalam 24 jam tidak

terganggu, intake cairan tidak

terganggu, mata tidak cekung.

ketidakseimbangan nutrisi kurang

dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan faktor biologis 1) identifikasi

adanya alergi terhadap makanan, 2)

monitor kecendrungan turun BB, 3)

monitor diit dan asupan kalori, 4)

timbang BB pasien, 5) monitor adanya

Rencana tindakan untuk diagnosa

kekurangan volume cairan

berhubungan dengan kehilangan

cairan aktif yaitu 1) monitor status

hidrasi (kelembaban mukosa mulut,

nadi yang adekuat), 2) mencatat intake

dan output pasien, 3) monitor dan

hitung asupan kalori pasien, 4)

kolaborasi pemberian cairan IV, 5)

monitor status nutrisi, 6) monitor tanda-

tanda vital, 7) timbang berat badan

pasien, 8) monitor respon pasien

terhadap penambahan cairan. Kriteria

hasil yang hendak dicapai yaitu, turgor

kulit tidak terganggu, berat badan

stabil, kelembaban membran mukosa

tidak terganggu, keseimbangan intake

dan output dalam 24 jam tidak

terganggu, intake cairan tidak

terganggu, mata tidak cekung.

ketidakseimbangan nutrisi kurang

dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan faktor biologis 1) identifikasi

adanya alergi terhadap makanan, 2)

monitor kecendrungan turun BB, 3)

monitor diit dan asupan kalori, 4)

timbang BB pasien, 5) monitor adanya

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 70: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

60

mual dan muntah, 6) monitor turgor

kulit, 7) instrusikan cara meningkatkan

asupan nutrisi. Kriteria hasil yang

dicapai asupan makanan dan cairan

tidak menyimpang dari rentang normal,

asupan makanan secara oral adekuat,

berat badan dalam kisaran normal,

asupan makanan secara oral adekuat,

asupan cairan secara oral adekuat.

hipertermi berhubungan dengan

dehidrasi yaitu 1) memantau suhu dan

tanda-tanda vital, 2) monitor intake

output cairan, 3) dorong konsumsi

cairan, 4) montior kelembaban mukosa

mulut, 5) monitor suhu kulit setiap 2

jam, 6) tingkatkan intake cairan, 7)

ajarkan cara kompres. Tindakan

tersebut dilakukan dengan kriteria hasil

suhu tubuh tidak terganggu, dehidrasi

ringan, tanda-tanda vital dalam kisaran

normal. Kriteria hasil yang akan dicapai

yaitu melaporkan suhu tubuh tidak

terganggu, tidak terjadi peningakatan

suhu tubuh, dehidrasi tidak ada, tanda-

tanda vital tidak ada deviasi dari

kisaran normal.

diare berhubungan dengan proses

infeksi intervensinya 1) anjurkan

pasien untuk menggunakan obat diare,

2) evaluasi intak makanan yang pernah

dikonsumsi, 3) identifikasi faktor

penyebab diare, 4) berikan makanan

dalam porsi kecil dan lebih sering, 5)

monitor tanda dan gejala diare, 6)

monitor BAB (frekuensi, konsistensi,

bentuk, volume, warna), 7) monitor

bising usus, 8)instruksikan pasien untuk

makan makanan yang tinggi serat.

Kriteria hasil yang dicapai yaitu

frekuensi BAB tidak terganggu, intake

mual dan muntah, 6) monitor turgor

kulit, 7) instrusikan cara meningkatkan

asupan nutrisi. Kriteria hasil yang

dicapai asupan makanan dan cairan

tidak menyimpang dari rentang normal,

asupan makanan secara oral adekuat,

berat badan dalam kisaran normal.

hipertermi berhubungan dengan

dehidrasi yaitu 1) memantau suhu dan

tanda-tanda vital, 2) monitor intake

output cairan, 3) dorong konsumsi

cairan, 4) montior kelembaban mukosa

mulut, 5) monitor suhu kulit setiap 2

jam, 6) tingkatkan intake cairan, 7)

ajarkan cara kompres. Tindakan

tersebut dilakukan dengan kriteria hasil

suhu tubuh tidak terganggu, dehidrasi

ringan, tanda-tanda vital dalam kisaran

normal. Kriteria hasil yang akan dicapai

yaitu melaporkan suhu tubuh tidak

terganggu, tidak terjadi peningakatan

suhu tubuh, dehidrasi tidak ada, tanda-

tanda vital tidak ada deviasi dari

kisaran normal.

diare berhubungan dengan proses

infeksi intervensinya 1) anjurkan

pasien untuk menggunakan obat diare,

2) evaluasi intak makanan yang pernah

dikonsumsi, 3) identifikasi faktor

penyebab diare, 4) berikan makanan

dalam porsi kecil dan lebih sering, 5)

monitor tanda dan gejala diare, 6)

monitor BAB (frekuensi, konsistensi,

bentuk, volume, warna), 7) monitor

bising usus, 8)instruksikan pasien untuk

makan makanan yang tinggi serat.

Kriteria hasil yang dicapai yaitu

frekuensi BAB tidak terganggu, intake

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 71: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

61

cairan secara adekuat, mengkonsumsi

serat secara adekuat, tidak terjadi

peningkatan hiperperistaltik usus.

resiko kerusakan integritas kulit

berhubungan dengan ekskresi atau

sering BAB 1) menganjurkan kepada

orang tua untuk menggunakan pakaian

yang longgar kepada anak, 2) jaga

kebersihan kulit area anus agar tetap

bersih dan kering, 3) monitor ada

kemerahan pada kulit, 4) oleskan baby

oil atau lotion pada daerah yang

tertekan. Kriteria hasil, integritas kulit

tidak terganggu, suhu kulit tidak

terganggu.

Defisiensi pengetahuan berhubungan

dengan kurang informasi 1) Mengkaji

tingkat pengetahuan keluarga terkait

penyakit yang dialami anak, 2) jelaskan

tanda dan gejala yang umum dari

penyakit, 3) Jelaskan mengenai proses

penyakit, Jelaskan alasan dibalik

manajemen/terapi/penanganan yang

direkomendasikan, 4) Edukasi keluarga

mengenai tindakan untuk

mencegah/meminimalkan gejala, sesuai

kebutuhan.

cairan secara adekuat, mengkonsumsi

serat secara adekuat, tidak terjadi

peningkatan hiperperistaltik usus.

kerusakan integritas kulit

berhubungan dengan ekskresi atau

sering BAB 1) menganjurkan kepada

orang tua untuk menggunakan pakaian

yang longgar kepada anak, 2) jaga

kebersihan kulit area anus agar tetap

bersih dan kering, 3) monitor

kemerahan pada kulit, 4) oleskan baby

oil atau lotion pada daerah yang

tertekan, 5) tingkatkan intake cairan per

oral. Kriteria hasil, integritas kulit tidak

terganggu, suhu kulit tidak terganggu,

kulit menjadi noraml.

gangguan rasa nyaman berhubungan

dengan gejala terkait penyakit 1)

Peluk dan beri kenyamanan pada bayi

atau anak, 2) Identifikasi orang terdekat

klien yang bisa membantu klien,

Gunakan pendekatan yang tenang dan

menyenangkan, 3) Dorong keluarga

untuk mendampingi klien dengan cara

yang tepat, 4) Monitor pola tidur klien

dan catat kondisi fisik (misalnya,

ketidaknyamanan) atau psikologis

(ketakutan atau kecemasan) keadaan

yang menggangu tidur, 5) Sesuaikan

lingkungan untuk meningkatkan tidur.

Kriteria hasil yang hendak dicapai

yaitu, perasaan gelisah tidak ada, intake

makanan dan cairan tidak terganggu,

mual dan muntah tidak terganggu,

kontrol tehadap gejala tidak terganggu.

Defisiensi pengetahuan berhubungan

dengan kurang informasi 1) Mengkaji

tingkat pengetahuan keluarga terkait

penyakit yang dialami anak, 2) jelaskan

tanda dan gejala yang umum dari

penyakit, 3) Jelaskan mengenai proses

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 72: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

62

penyakit, Jelaskan alasan dibalik

manajemen/terapi/penanganan yang

direkomendasikan, 4) Edukasi keluarga

mengenai tindakan untuk

mencegah/meminimalkan gejala, sesuai

kebutuhan.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 73: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

62

4. Implementasi Keperawatan

Tindakan keperawatan yang akan dilakukan sesuai dengan rencana

diatas. Tindakan yang akan dilakukan untuk memenuhi 1) kebutuhan

cairan, 2) kebutuhan nutrisi, 3) manajemen mengatasi diare, 4)

manajemen termoregulasi, 5) manajemen tekanan.

Tabel 4.4

Implementasi Keperawatan

Partisipan 1 Partisipan 2

Tindakan keperawatan yang dilakukan

untuk diagnosa utama Kekurangan

volume cairan berhubungan dengan

kehilangan cairan aktif 1)

Memberikan cairan oralit 700 cc/3

jam, 2) Memberitahu ibu untuk tetap

memberikan anaknya minum sesering

mungkin, 4 gelas dalam 8 jam, 3)

Memberikan cairan IV RL 20 tts/mnt

dalam 8 jam, 4) Memantau respon

pasien setelah 7 jam pemberian oralit ,

5) Memberikan terapi zink 1x10 mg

setelah BAB, 6) Memantau mata

cekung, turgor kulit kembali lambat ,

kelembaban mukos mulut, CRT pada

anak > 2 detik, 7) Memantau pola

minum anak, hasil yang didapatkan

anak hanya minum ± 50 cc, 8)

Memantau warna urine dan frekuensi

urine anak.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang

dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan faktor biologis tindakan

keperawatan sebagai berikut 1)

Mengkaji riwayat alergi makanan pada

anak, 2) Memberikan informasi

kepada ibu tentang kebutuhan nutrisi

yang diperlukan anak, 3) Mencatat

jumlah makanan yang dihabiskan

anak, 4) Memeriksa turgor kulit,

kelembaban mukosa mulut setelah 8

jam, 5) Memberitahu ibu untuk

menyuapi anaknya makan, 6)

Memantau mual dan muntah selama

Tindakan keperawatan yang dilakukan

untuk diagnosa utama Kekurangan

volume cairan berhubungan dengan

kehilangan cairan aktif 1)

Memberikan cairan oralit 200 cc/3 jam

, 2) Memberitahu ibu untuk tetap

memberikan anaknya minum sesering

mungkin, 3) Memberikan cairan IV RL

20 tts/mnt dalam 8 jam, 4) Memantau

respon pasien setelah 7 jam pemberian

oralit, 5) Memberikan terapi zink 1x1

sendok teh setelah BAB, 6) Memantau

mata cekung, turgor kulit, kelembaban

mukosa mulut, CRT pada anak

kembali >2 detik, 7) Memantau pola

minum anak hasil yang didapatkan

anak minum oralit ± 200 cc/dot, 8)

Memantau warna urine dan frekuensi

urine anak, hasil yang didapatkan

warna kuning, frekuensi setiap kali

anak BAB langsung BAK.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang

dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan ketidakmampuan

mengabsorbsi makanan 1) Mengkaji

riwayat alergi makanan pada anak, 2)

Memberikan informasi kepada ibu

tentang kebutuhan nutrisi yang

diperlukan anak, 3) Menjelaskan

kepada ibu makanan untuk

memberikan makanan yang tinggi

serat, 4) Mencatat jumlah makanan

yang dihabiskan anak, hasil yang

didapatkan anak tidak mau makan,

setiap disuapkan sama ibunya An.R

memuntahkan makanannya, 5)

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 74: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

63

makan.

hipertermi berhubungan dengan

dehidrasi yaitu 1) mengukur suhu

tubuh anak saat awal pengkajian, hasil

yang didapatkan S: 37,9ºC, 2)

Memberikan paracetamol 1 tablet 500

mg, 3) Menganjurkan ibu untuk tetap

memberikan minum kepada anaknya,

sesering mungkin, ± 4 gelas dalam 8

jam, 4) Memberitahu ibu untuk tetap

melakukan kompres hangat pada

kening, lipatan paha, dan akxila, 5)

Memantau perubahan suhu anak

setelah diberikan paracetamol, 6)

Mengukur suhu anak setelah 2 jam

setelah diberikan paracetamol dan

kompres hangat.

Diare berhubungan dengan proses

infeksi 1) Mengkaji faktor penyebab

dari diare , 2) Mencatat warna,

frekuensi, konsistensi dan jumlah feses

setiap kali BAB, 3) Memantau jumlah

dan frekuensi dari BAB setiap 7 jam,

4) Memberitahu ibu untuk

memberikan oralit kepada anak setiap

kali setelah BAB, 5) Memberitahu ibu

untuk memberikan oralit ±200 cc

setelah anak BAB, 6) Memberikan

terapi obat zink 1x10 mg sesuai order

dokter, 7) Memantau mukosa mulut

dan turgor kulit anak, 8) Menanyakan

kepada ibu dan anak berapa banyak

minum setelah BAB, hasil yang

didapatkan anak minum ± hanya 50

cc .

Memeriksa turgor kulit, kelembaban

mukosa mulut setelah 8 jam, 6)

Memberitahu ibu untuk tetap

menyuapi anaknya makan, 7)

Memantau mual dan muntah selama

makan

Hipertermi berhubungan dengan

dehidrasi 1) Mengukur suhu tubuh

anak saat awal pengkajian,hasil yang

didapatkan S: 38,8ºC, 2)

Menganjurkan ibu untuk tetap

memberikan minum kepada anaknya,

sesering mungkin, 3) Memberitahu ibu

untuk tetap melakukan kompres hangat

pada kening, lipatan paha, dan akxila,

4) Memantau perubahan suhu anak

setelah dikompres, 5) Mengukur suhu

anak setelah 2 jam setelah di kompres

hangat.

Diare berhubungan dengan proses

infeksi 1) Mengkaji faktor penyebab

dari diare, 2) Mencatat warna,

frekuensi, konsistensi dan jumlah feses

setiap kali BAB hasil yang didapatkan

BAB warna kuning, encer, ± sudah 6

kali, jumlah ±70 cc, 3) Memantau

jumlah dan frekuensi dari BAB setiap

7 jam, 4) Memberitahu ibu untuk

memberikan oralit kepada anak setiap

kali setelah BAB, hasil yang

didapatkan anak minum oralit ± 200

cc/dot, 5) Memberitahu ibu untuk

memberikan oralit ±200 cc setelah

anak BAB, 6) Memberikan terapi obat

zink 1x10 mg sesuai order dokter, 7)

Memantau mukosa mulut dan turgor

kulit anak, 8) Menanyakan kepada ibu

dan anak berapa banyak minum

setelah BAB

kerusakan integritas kulit

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 75: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

64

Resiko kerusakan integritas kulit

berhubungan dengan ekskresi atau

sering BAB 1) Menganjurkan ibu

untuk memberikan pakaian longgar

pada anaknya, 2) Menjelaskan kepada

An.D cara membersihkan daerah

sekitar anus agar tidak lembab, 3)

Menjelaskan kepada An.D untuk

merubah posisi setiap 3 jam sekali, 4)

Menyarankan kepada An.D untuk

memakai baby oil untuk dioleskan

diaerah sekitar anus setiap setelah

BAB atau setelah mandi.

Defisiensi pengetahuan

berhubungan dengan kurang

informasi 1) mengkaji tingkat

pengetahuan keluarga terkait proses

diare yang dialami anak, 2)

menjelaskan tanda dan gejala dari

diare, 3) menjelaskan alasan anak

mendapat terapi oralit, zinc, dan

mendapatkan terapi RL, 4)

memberikan edukasi kepada keluarga

agar tidak terjadi diare berulang pada

anak.

berhubungan dengan ekskresi atau

sering BAB 1) Menganjurkan ibu

untuk memberikan pakaian longgar

pada anaknya, 2) Menjelaskan kepada

An.D cara membersihkan daerah

sekitar anus agar tidak lembab, 3)

Menjelaskan kepada An.D untuk

merubah posisi setiap 3 jam sekali, 4)

Menyarankan kepada An.D untuk

memakai baby oil untuk dioleskan

diaerah sekitar anus setiap setelah

BAB atau setelah mandi, 5)

Menyarankan kepada ibu untuk

langsung mengganti pempers ketika

anak BAB.

Gangguan rasa nyaman

berhubungan dengan gejala terkait

penyakit 1) Menjelaskan kepada ibu

untuk tetap mendampingi anaknya

selama sakit, 2) Menjelaskan kepada

ibu untuk memberikan kenyamanan

kepada anak dengan cara memeluk

atau menggendong anak, 3)

Identifikasi orang terdekat dengan

anak, 4) Monitor pola tidur dan catat

kondisi fisik pasien saat itu.

Defisiensi pengetahuan

berhubungan dengan kurang

informasi 1) mengkaji tingkat

pengetahuan keluarga terkait proses

diare yang dialami anak, 2)

menjelaskan tanda dan gejala dari

diare, 3) menjelaskan alasan anak

mendapat terapi oralit, zinc, dan

mendapatkan terapi RL, 4)

memberikan edukasi kepada keluarga

agar tidak terjadi diare berulang pada

anak.

5. Evaluasi Keperawatan

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 76: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

65

Setelah melakukan implementasi keperawatan kepada An.D dan An.R.

Tindakan keperawatan selanjutnya yaitu membuat evaluasi keperawat

an dengan metode SOAP.

Tabel 4.5

Evaluasi Keperawatan

Partisipan 1 Partisipan 2

Setelah dilakukan evaluasi keperawatan

selama 5 hari berturut-turut untuk

masing-masing diagnosa yang dapat

teratasi dengan baik. Diagnosa

Kekurangan volume cairan

berhubungan dengan kehilangan

cairan aktif dapat teratasi setelah hari

rawatan ke 5 dengan S: Ibu pasien

mengatakan anaknya sudah banyak

minum, pasien mengatakan oralit yang

diberikan sudah dihabiskan dalam 3

jam, ibu pasien mengatakan BAK

anaknya bewarna kuning bening, ± 100

cc, O: mata An.D tampak sudah tidak

cekung lagi, Mukosa mulut lembab,

infus RL diberikan 20 tts/mnt dalam 8

jam sudah kolf ke 8, A: tujuan tercapai,

keseimbangan intake dan output dalam

24 jam tidak terganggu, kelembaban

membran mukosa tidak terganggu,

turgor kulit tidak terganggu, P:

intervensi dihentikan

Ketidakseimbangan nutrisi kurang

dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan faktor biologis dapat teratasi

setelah hari rawatan ke 5 ditandai

dengan S: ibu pasien mengatakan

anaknya sudah mau makan, ibu pasien

mengatakan anaknya menghabiskan

makanannya, O: saat di timbang BB: 32

kg, kulit tampak lembab, turgor kulit

kembali cepat, mukosa bibir lembab,

CRT < 2 detik, A: tujuan tercapai,

asupan makanan dan cairan tidak

Setelah dilakukan evaluasi keperawatan

selama 4 hari berturut-turut di ruangan

dan 1 hari dengan kunjungan rumah

untuk masing-masing diagnosa yang

dapat teratasi dengan baik. Diagnosa

Kekurangan volume cairan

berhubungan dengan kehilangan

cairan aktif dapat teratasi setelah

melengkapi asuhan keperawatan

dengan kunjungan rumah selama 1 hari

S: Ibu mengatakan saat dirumah

anaknya masih diberi oralit, ibu

mengatakan anaknya masih diberi zink,

ibu mengatakan BAB anaknya sudah

normal ± 3 kali, konsistensi lembek,

jumlah ± 50ml, ibu mengatakan sudah

paham dengan apa yang dijelaskan

peneliti, yaitu tentang pentingnya

pemberian oralit dan zink, O: anak

tampak tenang, anak sudah bisa

bermain, mata tidak cekung, turgor

kulit baik, A: tujuan tercapai,

keseimbangan intake dan output dalam

24 jam tidak terganggu, kelembaban

membran mukosa tidak terganggu,

turgor kulit tidak terganggu, P:

intervensi dihentikan

Ketidakseimbangan nutrisi kurang

dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan ketidakmampuan

mengabsorbsi makanan dapat teratasi

setelah melengkapi asuhan keperawatan

dengan kunjungan rumah selama 1 hari

S: Ibu mengatakan anaknya sudah

mulai makan seperti biasa (nasi, sayur

ikan, dilunakkan), ibu mengatakan

anaknya dapat menghabiskan makanan

yang diberikan (dalam mangkuk kecil),

O: turgor kulit anak baik, mukosa bibir

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 77: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

66

menyimpang dari rentang normal,

asupan makanan secara oral sebagian

besar adekuat, P: intervensi dihentikan.

hipertermi berhubungan dengan

dehidrasi dapat teratasi setelah hari

rawatan ke tiga dengan S: Ibu pasien

mengatakan badan anaknya sudah tidak

terasa panas lagi. Ibu mengatakan

anaknya masih tampak lesu. Ibu pasien

mengatakan tidak lagi mengompres

anaknya. O: An.D masih tampak lesu,

badan An.D tidak panas lagi, S: 36,2ºC,

N: 80 x/mnt, RR: 20 x/mnt, A: tujuan

tercapai, melaporkan suhu tubuh tidak

terganggu, P: intervensi dihentikan

Diare berhubungan dengan proses

infeksi dapat teratasi pada hari rawatan

ke 3 dimana S: An.D mengatakan BAB

sudah tidak encer lagi, An.D

mengatakan baru 1 kali BAB, BAB

berwarna kuning kecoklatakan, O:

turgor kulit normal, mukosa mulut

lembab, CRT < 2 detik, A: tujuan

tercapai, diare jarang menunjukkan,

mengeluarkan feses paling tidak 3 kali

per hari secara konsisten menunjukkan,

minum cairan secara adekuat secara

konsisten menunjukkan, frekuensi BAB

sedikit terganggu, konsistensi BAB

tidak terganggu, P: intervensi

dihentikan

Resiko kerusakan integritas kulit

lembab, CRT < 2 detik, mata anak

sudah tidak cekung, anak dapat

menghabiskan makanannya, anak

banyak minum), A: tujuan tercapai,

asupan makanan dan cairan tidak

menyimpang dari rentang normal,

asupan makanan secara oral sebagian

besar adekuat, P: intervensi dihentikan

Hipertermi berhubungan dengan

dehidrasi dapat teratasi pada hari

rawatan ke 2 S: Ibu pasien mengatakan

badan anaknya sudah tidak panas lagi,

anak masih rewel, ibu pasien

mengatakan masih mengompres

anaknya, ibu mengatakan bintik-bintik

merah di daerah sekitar perut

anaknyasudah hilang, ibu mengatakan

anaknya sudah mulai berkeringat, ibu

mengatakan anaknya banyak minum

oralit, O: An.R masih rewel, anak sudah

banyak minum, S: 36,6ºC, N: 72

x/mnt, RR: 18 x/mnt, bintik-bintik di

perut sudah hilang, A: tujuan tercapai,

melaporkan suhu tubuh tidak

terganggu, P: intervensi dihentikan

Diare berhubungan dengan proses

infeksi teratasi pada hari rawatan ke 4

S: ibu mengatakan anaknya masih

BAB, frekuensi BAB ± 4 kali, warna

kuning, BAB sudah ada ampasnya,

jumlah ± 50 ml, ibu mengatakan jarak

anaknya untuk BAB udah tidak terlalu

sering, O: anak tampak sudah lebih

baik, anak sudah bisa bermain, tidak

lagi rewel, jarak anak untuk BAB sudah

tidak terlalu dekat, A: tujuan tercapai,

diare jarang menunjukkan,

mengeluarkan feses paling tidak 3 kali

per hari secara konsisten menunjukkan,

minum cairan secara adekuat secara

konsisten menunjukkan, frekuensi BAB

sedikit terganggu, konsistensi BAB

tidak terganggu, P: intervensi

dihentikan

kerusakan integritas kulit

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 78: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

67

berhubungan dengan ekskresi atau

sering BAB dapat teratasi pada hari

rawatan ke 2 S: An.D mengatakan

sudah membersihkan daerah sekitar

anus setiap kali selesai BAB dengan

bersih, ibu pasien mengatakan anaknya

memakai lotion didaerah sekitar

bokong setelah selesai mandi, O: area

sekitar anus masih lembab, tidak terjadi

iritasi pada daerah sekitar anus, area

sekitar anus tampak bersih, A: tujuan

tercapai, integritas kulit tidak

terganggu, suhu kulit tidak terganggu,

elastisitas tidak terganggu, P: intervensi

dihentikan

Defisiensi pengetahuan berhubungan

dengan kurang informasi dapat

teratasi pada hari ke 2 S: ibu

mengatakan sudah mengerti dengan

proses penyakit diare, ibu juga

mengatakan sudah mengerti dengan

tanda dan gejala dari diare yang dialami

anaknya, ibu mengatakan sudah

mengerti dengan terapi oralit dan anak

yang diharuskan untuk minum banyak,

O: ibu beranggapan bahwa penyakit

diare itu hanya sakit biasa, ibu tidak

tahu alasan diberikannya oralit dan

anak yang diwajibkan banyak minum,

A: tujuan tercapai, ibu mengetahui

karakteristik spesifik dari diare, ibu

mengetahui faktor penyebab, tanda dan

gejala dari diare, ibu mengetahui

strategi untuk meminimalkan agar tidak

terjadi diare berulang pada anak, P:

intervensi dihentikan.

berhubungan dengan ekskresi atau

sering BAB teratasi pada hari rawatan

ke 3 S: Ibu membersihkan BAB

anaknya dengan tisu basah, ibu

mengatakan daerah sekitar anus sudah

tidak berwarna kemerahan lagi, O: area

sekitar anus masih tampak lembab, ibu

tidak mencuci tangan setelah

membersihkan BAB anaknya, area

sekitar anus tampak bersih, dan sedikit

bau, bokong pasien tampak tidak

berwarna kemerahan lagi, A: tujuan

tercapai, integritas kulit tidak

terganggu, suhu kulit tidak terganggu,

elastisitas tidak terganggu, P: intervensi

dihentikan

Gangguan rasa nyaman

berhubungan dengan gejala terkait

penyakit teratasi pada hari rawatan ke

3 S: Ibu mengatakan anaknya sudah

tidak rewel lagi, ibu mengatakan anak

sudah bisa diajak bermain, O: An.R

tampak lebih tenang, BAB sudah tidak

sering lagi, ± 6 kali, sudah tidak encer

lagi, anak tampak sudah mulai bermain,

A: tujuan tercapai, kontrol terhadap

gejala sedikti terganggu, perasaan

gelisah tidak ada, P: intervensi

dihentikan.

Defisiensi pengetahuan berhubungan

dengan kurang informasi dapat

teratasi pada hari ke 2 S: ibu

mengatakan sudah mengerti dengan

proses penyakit diare, ibu juga

mengatakan sudah mengerti dengan

tanda dan gejala dari diare yang dialami

anaknya, ibu mengatakan sudah

mengerti dengan terapi oralit dan anak

yang diharuskan untuk minum banyak,

O: ibu sudah berpengalaman merawat

anak dengan diare karena anak kedua

dan ketiga meninggal karena

gastroenteritis akut, ibu tidak tahu

alasan diberikannya oralit dan anak

yang diwajibkan banyak minum, ibu

tidak mencuci tangan setelah

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 79: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

68

membersihkan BAB anaknya, setelah

itu ibu membuatkan oralit untuk

anaknya, A: tujuan tercapai, ibu

mengetahui karakteristik spesifik dari

diare, ibu mengetahui faktor penyebab,

tanda dan gejala dari diare, ibu

mengetahui strategi untuk

meminimalkan agar tidak terjadi diare

berulang pada anak, P: intervensi

dihentikan

B. Pembahasan

1. Pengkajian

Hasil pengkajian riwayat kesehatan yang peneliti temukan pada An.D

datang ke rumah sakit dengan keluhan BAB encer sudah 7 kali, Nyeri

di ulu hati, batuk, nafsu makan berkurang, demam, anak malas minum.

An.D tampak lesu dan lemah. Riwayat kesehatan yang peneliti

temukan pada An.R datang ke rumah sakit dengan keluhan muntah 1

kali, demam tinggi sejak 2 hari, BAB encer sudah 2 hari, BAB ± 12

kali, BAB berlendir tidak disertai darah, area sekitar anus lembab dan

tampak sedikit kemerahan, anak demam, lemah dan rewel.

Berdasarkan hasil penelitian supriadi (2013), tentang asuhan

keperawatan pada An.F dengan gangguan pemenuhan sistem

pencernaan diare akut dehidrasi sedang diruang metai 2 RSUD Dr.

Moewardi. Dimana pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan BAB

encer sudah 5 kali, konsistensi encer, warna kuning.

Riskesdas (2013), mengatakan diare merupakan gangguan buang air

besar atau BAB ditandai dengan BAB lebih dari 3 kali sehari dengan

konsistensi tinja cair, dapat disertai dengan darah dan atau lender.

Anak yang mengalami diare akibat infeksi bakteri mengalami kram

perut, muntah, demam, mual, dan diare cair akut. Diare karena infeksi

bakteri invasif akan mengalami demam tinggi, mencret berdarah dan

berlendir (Wijoyo, 2013). Menurut Ngastiyah (2014), mengatakan

anak yang mengalami diare mula-mula akan cengeng, gelisah, suhu

tubuh meningkat, nafsu makan berkurang. BAB cair, mungkin disertai

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 80: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

69

lendir dan darah. Anus dan daerah sekitarnya akan lecet karena sering

defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin

banyak asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi

oleh usus selama diare.

Menurut peneliti keluhan yang ditemukan pada kasus An.D dan An.R

sesuai dengan teori dan yang ada dimana pasien dengan diare datang

kerumah sakit karena BAB encer, frekuensi lebih dari 3 kali dalam

sehari, muntah, demam tinggi, dan BAB berlendir, anus dan daerah

sekitar menjadi lecet, nafsu makan berkurang, anak menjadi gelisah,

dan rewel. Hanya saja terdapat perbedaan pada An.D dimana An.D

tidak mengalami muntah, BAB tidak berlendir, anus dan daerah

sekitarnya tidak ada lecet. Hal ini disebabkan karena jenis dari bakteri

yang menginfeksi partisipan 1, tetapi pada partisipan 1 tidak diketahui

pasti bakteri apa yang terdapat didalam feses.

Hasil pemeriksaan fisik pada An.D dan An.R ditemukan perbedaan

yaitu mata An.D merah, anus dan daerah sekitarnya tidak lecet, tidak

berwarna kemerahan. Pada An.R ditemukan kulit sekitar anus lembab

dan berwarna kemerahan. An.D dan An.R mengalami penurunan berat

badan.

Hasil penelitian Sulaiman (2011), tentang profil diare di ruang rawat

inap anak RSUD Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh. Dimana pasien

diare yang disertai gizi buruk 8,6% dan gizi kurang 38,5%. Dan hasil

penelitian Arini (2012), tentang asuhan keperawatan pemenuhan

kebutuhan volume cairan pada An.F dengan gastroenteritis aku (GEA).

Dimana pasien tampak lemas dan dan sering menangis, kulit bersih,

turgor kulit kembali lambat, konjungtiva anemis, mukosa bibir kering,

muntah sampai 4 kali, pada bokong terlihat kemerahan, mata cekung,

pasien tampak pucat.

Menurut S. Partono dalam Nursalam (2008), anak yang mengalami

diare dengan dehidrasi biasanya mengalami penurunan berat badan.

Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorpsi

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 81: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

70

dengan baik karena adanya hiperperistaltik. Secara klinis, pada anak

yang diare mengalami penurunan pH karena akumulasi beberapa asam

non-volatil, maka akan terjadi hiperventilasi yang akan menurunkan

pCO2 menyebabkan pernafasan bersifat cepat, teratur, dan dalam

(pernapasan kusmaul) (Suharyono, 2008). Anak yang mengalami diare

dengan dehidrasi ringan hingga berat turgor kulit biasanya kembali

sangat lambat. Karena tidak adekuatnya kebutuhan cairan dan

elektrolit pada jaringan tubuh anak sehingga kelembapan kulitpun

menjadi berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung,

mukosa bibir kering. Menurut peneliti apa yang ada di teori sama

dengan kasus. Akan tetapi pada partisipan 1 dan 2 tidak dilakukan

pemeriksaan gas darah untuk mengetahui adanya penurunan pH.

Dari hasil pengkajian terhadap kebiasaan ibu dalam menyiapkan

makanan didapatkan pada partisipan 1, Ny.I jarang melakukan cuci

tangan pakai sabun saat menyiapkan makanan dan partisipan 2 Ny.Y

jarang melakukan cuci tangan saat menyiapkan makanan dan

membuatkan susu untuk anaknya. Hasil observasi peneliti Ny.Y jarang

mencuci tangan setelah membersihkan BAB anaknya. Ny.Y

membersihkan BAB anaknya dengan tisu basah, dan setelah itu Ny.Y

tidak mencuci tangan.

Berdasarkan hasil penelitian Astuti (2011), tentang hubungan

pengetahuan ibu tentang sanitasi makanan dengan kejadian diare pada

balita. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan

ibu tentang sanitasi makanan dengan kejadian diare. Dimana

didapatkan responden dengan pengetahuan sanitasi dengan kriteria

baik dan pernah mengalami diare sebanyak 12 orang (17,6%),

sedangkan responden dengan pengetahuan sanitasi dengan kriteria

cukup dan pernah mengalami diare sebanyak 11 orang (16,2%).

Menutu Ngastiyah (2014), selain kuman ada beberapa perilaku yang

dapat meningkatan resiko terjadinya diare seperti menggunakan botol

susu, menyimpan makanan masak pada suhu kamar, air minum

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 82: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

71

tercemar dengan bakteri tinja, tidak mencuci tangan sesudah buang air

besar, sesudah membuang tinja, atau sebelum menjamaah makanan,

dan kondisi lingkungan juga menjadi resiko utama terjadinya diare.

Asumsi dari peneliti berdasarkan pengkajian, hasil penelitian dan teori

diatas sanitasi ibu dalam menyiapkan makanan keluarga An.D perlu

ditingkat lagi, sedangkan pada An.R ibu juga perlu meningkatkan lagi

sanitasinya dalam menyiapkan makanan dan kebiasaan ibu untuk

mencuci tangan setelah membersihkan BAB anaknya. Hal ini

dilakukan agar diare dan penyakit lainnya terjadi pada keluarga lainnya

dan untuk mencegah terjadinya penularan terhadap anggota keluarga

lainnya.

2. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan data yang peneliti dapatkan di rumah sakit, perawat hanya

menegakkan dua diagnosa saja. Diagnosa utama yang diangkat untuk

partisipan 1 dan partisipan 2 sama yaitu, 1) kekurangan volume cairan

berhubungan dengan kehilangan cairan aktif, 2) ketidakseimbangan

nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

ketidakmampuan mengabsorbsi makanan. Diagnosa yang peneliti

temukan pada partisipan 1 yaitu, 1) Kekurangan volume cairan

berhubungan dengan kehilangan cairan aktif, 2) Ketidakseimbangan

nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor

biologis, 3) hipertermi berhubungan dengan proses infeksi, 4) diare

berhubungan dengan proses infeksi, 5) resiko kerusakan integritas kulit

berhubungan dengan ekskresi atau sering BAB. Pada partisipan 2

yaitu, 1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan

cairan aktif, 2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

tubuh berhubungan dengan faktor biologis, 3) hipertermi berhubungan

dengan proses infeksi, 4) diare berhubungan dengan proses infeksi, 5)

resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi atau

sering BAB, 6) Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala

terkait penyakit.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 83: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

72

Berdasarkan beberapa sumber buku peneliti menemukan ada 11

diagnosa keperawatan (Aziz, Nursalam, Wong & Ngastiyah, 2014)

untuk pasien yang mengalami diare, yaitu 1) Diare berhubungan

dengan proses infeksi, 2) Kekurangan volume cairan berhubungan

dengan kehilangan cairan aktif, 3) Ketidakseimbangan nutrisi kurang

dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna

makanan, 4) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi

atau sering BAB, 5) Disfungsi motilitas gastrointestinal berhubungan

dengan diare, 6) Resiko syok berhubungan dengan kehilangan cairan

dan elektrolit, 7) Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi, 8) Nyeri

akut berhubungan dengan agens cedera (sering BAB), 9) Gangguan

rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit, 10) Anisetas

berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan, 11) Defisiensi

pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, kurang sumber

pengetahuan.

Hasil penelitian dari Arini (2012), mengatakan bahwa masalah

keperawatan yang di prioritaskan adalah kekurangan volume cairan

berhubungan dengan kehilangan cairan aktif. Hal ini jika tidak diatasi

secepatnya anak akan mengalami dehidrasi berat yang berakhir pada

syok dan bisa menyebabkan kematian karena tubuh banyak kehilangan

cairan dan elektrolit.

Berdasarkan kasus yang peneliti temukan diagnosa utama yang peneliti

angkat untuk An.D dan An.R sama yaitu, Kekurangan volume cairan

berhubungan dengan kehilangan cairan aktif peneliti angkat menjadi

diagnosa utama untuk partisipan 1 ditandai dengan Ny.I mengatakan

BAB anaknya encer sudah lebih dari 7 kali, BAB encer, tidak berlendir

dan tidak berdarah, mata cekung, turgor kulit kembali lambat, dan

patisipan 2 ditandai dengan Ibu Y mengatakan anaknya diare sejak 2

hari sebelum masuk rumah sakit, BAB anaknya encer, berlendir dan

tidak berdarah, anaknya BAB ± 20 kali sebelum masuk rumah sakit,

BAB berwarna kuning, mata cekung, turgor kulit kembali lambat, CRT

>2 detik, Ibu Y mengatakan anaknya suka minum oralit, anak rewel,

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 84: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

73

infus terpasang RL 22 tts/mnt dalam 8 jam, mukosa bibir kering, mata

tampak cekung dan merah

Menurut Suharyono dalam Nursalam (2008), Kehilangan air dan

elektrolit dapat meyebabkan dehidrasi. Kondisi ini juga dapat

mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa (asidosis

metabolik), dehidrasi, hipokalemia, dan hipovolemia. Gejala dari

dehidrasi yang tampak yaitu berat badan turun, turgor kulit kembali

sangat lambat, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, mukosa

bibir kering.

Analisa peneliti anak yang mengalami dehidrasi cenderung akan

berakhir pada syok hipovolemik dan bisa menyebabkan anak

mengalami penurunan kesadaran dan berakhir pada kematian. Pada

kasus partisipan 1 An.D mengalami dehidrasi ringan BAB encer, BAB

>7 kali, anak malas minum, partisipan 2 An.R mengalami dehidrasi

sedang. An.R BAB sangat sering, BAB encer, jika kedua hal ini

dibiarkan terlalu lama An.R bisa mengalami dehidrasi berat dan bisa

syok hipovolemik karena intake dan output cairan yang tidak adekuat.

Diagnosa ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan faktor psikologis dan ketidakmampuan untuk

mengabsorbsi makanan ditandai dengan An.D suka malas makan.

Makan hanya 2 kali dalam sehari dan tidak teratur, An.D lebih suka

makan cemilan. Hasil observasi peneliti An.D tampak kurus dan

lemah. An.D juga mengalami penurunan berat badan, sebelum BB 38

kg, saat sakit 31 kg, turgor kulit kembali lambat. Pada An.R Ny.Y

mengatakan setiap diberikan makan, An.R selalu memuntahkannya,

Saat ini An.D mendapat diit makanan lunak. Anak tampak lemah dan

nafsu makan berkurang. An.D juga mengalami penurunan berat badan,

berat badan sebelum sakit 8,9 kg, saat sakit 8,6 kg, dan turgor kulit

kembali lambat.

Menurut Ngastiyah (2014), pasien yang menderita diare biasanya juga

menderita anoreksia sehingga masukan nutrisinya menjadi kurang.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 85: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

74

Kekurangan kebutuhan nutrisi akan bertambah jika, pasien juga

mengalami muntah-muntah atau diare lama, keadaan ini menyebabkan

makin menurunnya daya tahan tubuh sehingga penyembuhan tidak

lekas tercapai, bahkan dapat timbul komplikasi.

Berdasarkan analisa peneliti diagnosa ketidakseimbangan nutrisi

kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor psikologis

dan ketidakmampuan mengabsorbsi makanan. Hal ini disebabkan

karena anak yang mengalami diare beresiko untuk terjadinya

ketidakseimbangan nutrisi, karena terjadinya gangguang di saluran

pencernaan yang dapat menyebabkan anak mengalami penurunan

nafsu makan. Oleh sebab itu perlu penanganan cepat agar tidak terjadi

penurunan berat badan yang dapat menyebabkan anak menjadi kurang

gizi. Pada kasus yang peneliti temui, partisipan 1 dan partisipan 2

mengalami penurunan berat badan. Partisipan 1 mengalami penurunan

berat badan yang drastis yaitu dari 38 kg berat badan sebelumnya dan

pada saat sakit turun menjadi 31 kg.

Diagnosa diare berhubungan dengan proses infeksi ditandai ibu dari

An.D mengatakan BAB anaknya encer, warna kuning, sebelum masuk

rumah sakit anaknya BAB ± 7 kali. Pada partisipan 2, ibu An.R

mengatakan anaknya BAB sudah 2 hari, sebelum masuk rumah sakit

anaknya BAB ± 12 kali, BAB encer. Hasil laboratorium pemeriksaan

feses pada An.R didapatkan keadaan feses lunak, lendir positif, darah

negatif. Sedangkan hasil pemeriksaan mikroskopis menunjukkan

leukosit 10-15 LPB, eritrosit 4-5 LPB, amoeba dan telur cacing tidak

ditemukan.

Nursalam (2008), mengatakan diare pada dasarnya adalah frekuensi

buang air besar yang lebih sering dari biasanya dengan konsistensi

yang lebih encer. Diare merupakan gangguan buang air besar atau

BAB ditandai dengan BAB lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi

tinja cair, dapat disertai dengan darah dan atau lender (Riskesdas,

2013).

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 86: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

75

Diagnosa kerusakan integritas kulit berhubungan Kerusakan integritas

kulit berhubungan dengan ekskresi atau sering BAB yang ditandai

dengan ibu dari An.R mengatakan anaknya sering BAB, BAB encer.

Hasil observasi peneliti anus dan daerah sekitarnya tampak lembab,

dan berwarna kemerahan.

Ngastiyah (2014) mengatakan anak yang mengalami diare akan

menyebabkan anus dan daerah sekitarnya akan lecet karena sering

defekasi. Hal ini disebabkan karena tinja yang makin asam sebagai

akibat makin banyaknya asam laktat yang berasal dari laktosa yang

tidak dapat diabsorbsi oleh usus selama diare. Hasil analisa peneliti

diagnosa kerusakan integritas kulit ini ditegakkan karena pada kasus

partisipan 1 dan partisipan 2 sering BAB, BAB encer dan hal ini dapat

menyebabkan daerah sekitar anus berwarna kemerahan, lama

kelamaan bisa menjadi lecet, dan anak menjadi rewel setiap kali BAB.

Pada kasus diatas terdapat perbedaan antara partisipan 1 dan partisipan

2. Dimana partisipan 1 tidak mengalami kerusakan integritas kulit, hal

ini disebabkan karena An.D diare baru 1 hari dengan frekuensi ± 7

kali. Dan setelah itu An.D BAB ± 4 kali, BAB masih encer tetapi

sudah ada ampasnya.

Diagnosa gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait

penyakit ditandai dengan pada An.D ditemukan anak BAB sudah lebih

dari 7 kali, anak gelisah, tidur tidak teratur karena BAB, anak masih

demam, dan sekali-sekali batuk. Pada An.R ditemukan anak BAB

sudah 2 hari ± 20 kali sehari, anak rewel, setiap kali BAB An.R selalu

menangis, anus daerah sekitarnya lecet dan berwarna sedikit

kemerahan.

Menurut Ngastiyah (2014), mengatakan anak yang mengalami diare

mula-mula akan cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan

berkurang. BAB cair, mungkin disertai lendir dan darah. Anus dan

daerah sekitarnya akan lecet karena sering defekasi dan tinja makin

lama makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 87: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

76

berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare.

Menurut analisa peneliti anak yang mengalami diare pasti mengalami

gangguan rasa nyaman karena perubahan status kesehatan dan efek

hospitalisasi.

Diagnosa resiko syok hipovolemik berhubungan dengan kehilangan

cairan dan elektrolit tidak ditegakkan karena tidak ditemukan tanda-

tanda terjadinya syok hipovolemik pada partisipan 1 dan partisipan 2.

Tanda-tanda syok seperti akral teraba dingin, denyut nadi cepat dan

lemah, BAK sedikit, terjadi penurunan kesadaran, tekanan darah

rendah, kulit pucat, dan dapat berakhir pada kematian. Syok

hipovolemik dapat terjadi pada anak yang mengalami dehidrasi berat

(Nursalam, 2008).

Asumsi dari peneliti yaitu jika dehidrasi pada partisipan 1 dan 2 tidak

diatasi dengan cepat maka ditakutkan anak akan mengalami dehidrasi

berat. Anak dengan dehidrasi berat akan mengalami penurunan

kesadaran, Seperti yang dijelaskan Nursalam (2008), syok

hipovolemik dapat terjadi pada anak yang mengalami dehidrasi berat.

3. Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan yang disusun sesuai diagnosa yang muncul

pada kasus berdasarkan NOC dan NIC (2013) yaitu, diagnosa utama

pada partisipan 1 dan partisipan 2 adalah kekurangan volume cairan

berhubungan dengan kehilangan cairan aktif yaitu 1) monitor status

hidrasi, 2) catat intake dan output pasien, 3) monitor makanan yang

dikonsumsi, 4) kolaborasi pemberian cairan IV, 5) mmnitor status

nutrisi, 5) timbang BB pasien, 6) monitor tanda-tanda vital, 7) dorong

pasien untuk menambah intake oral, 8) monitor kelembaban mukosa

dan turgor kulit. Tindakan yang dilakukan pada masalah kekurangan

volume cairan yaitu untuk menggantikan cairan yang hilang,

mencegah terjadinya penurunan berat badan, untuk melihat respon

pasien setelah diberikan cairan. Kriteria hasil yang hendak dicapai

yaitu tanda-tanda vital tidak terganggu, keseimbangan intake dan

output cairan dalam 24 jam tidak terganggu, berat badan stabil, turgor

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 88: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

77

kulit tidak terganggu, kelembaban membran mukosa tidak terganggu,

asupan makanan secara oral sebagian besar adekuat, asupan cairan

intravena sebagian besar adekuat.

Intervensi untuk diagnosa yang sama Ketidakseimbangan nutrisi

kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan

mengabsobrsi makanan dan faktor biologis yaitu 1) Identifikasi adanya

alergi atau intoleransi makanan, 2) monitor kecendrungan turun BB, 3)

monitor turgor kulit, 4) monitor adanya mual dan muntah, 5) monitor

pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva, 6) timbang

berat badan pasien, 7) instruksikan cara meningkatkan asupan kalori.

Kriteria hasil yang hendak dicapai yaitu asupan makanan dan cairan

tidak menyimpang dari rentang normal, asupan makanan dan cairan

secara oral sbagian besar adekuat, berat badan tidak ada deviasi dari

kisaran normal.

A.Aziz & Nursalam (2008), membuat rencana tindakan berdasarkan

masalah yang sudah ditegakkan pada kasus diare, antara lain

manajemen cairan, manajemen resusitasi, monitor cairan, manajemen

nutrisi, monitor status nutrisi, perawatan demam, monitor tanda-tanda

vital. Hasil analisa peneliti intervensi yang disusun pada kasus sama

dengan apa yang ada di teori.

4. Implementasi Keperawatan

Tindakan yang telah peneliti rencanakan untuk diagnosa Tindakan

keperawatan untuk diagnosa kekurangan volume cairan berhubungan

dengan kehilangan cairan aktif yaitu, Memberikan cairan oralit 200

cc/3 jam, memberitahu ibu untuk tetap memberikan anaknya minum

sesering mungkin, memberikan cairan IV RL 20 tts/mnt dalam 8 jam,

memantau respon pasien setelah 7 jam pemberian oralit, memberikan

terapi zink 1x1 sendok teh sesuai dengan order dokter, memantau

mata cekung, turgor kulit, kelembaban mukosa mulut, CRT pada anak,

memantau pola minum anak, memantau warna urine dan frekuensi

urine anak

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 89: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

78

Hasil penelitian Rusdi (2012), tentang evaluasi penggunaan obat diare

terhadap kesesuaian obat dan dosis pada pasien rawat inap di RSUD

Budi Asih Jakarta. Menunjukkan bahwa pengobatan diare anak paling

banyak diberikan terapi cairan pengganti (rehidasi), terdapat 97 kasusu

(32,99%) pasien yang diberikan terapi cairan RL.

Menurut Ngastiyah (2014), dehidrasi sebagai prioritas utama

pengobatan. Salah satu hal yang penting dan perlu diperhatikan yaitu

jenis cairan, jumlah cairan, cara pemberian cairan, dan jadwal

pemberian cairan pada pasien yang mengalami diare.

Analisa peneliti terhadap kasus yang ditemukan dengan penelitian, dan

teori sama. Dimana pada kasus anak mendapat terapi cairan RL 20

tts/mnt per 8 jam. Dan juga anak mendapatkan terapi oralit dan zink

dengan cara pemberian cairan melalui oral. Pemberian oralit pada

An.D berdasarkan umur dan BB dimana umur 2- <5 tahun dengan BB

12-19 Kg diberikan oralit sebanyak 900-1400 cc, sedangkan pada

An.R umur 1- <2 tahun dengan BB 10-12 Kg diberikan sebanyak 700-

900 cc.

Tindakan keperawatan Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsobrsi

makanan dan faktor biologis yaitu Mengkaji riwayat alergi makanan

pada anak, memberikan informasi kepada ibu tentang kebutuhan

nutrisi yang diperlukan anak, mencatat jumlah makanan yang

dihabiskan anak, memeriksa turgor kulit, kelembaban mukosa mulut

setelah 8 jam, memberitahu ibu untuk menyuapi anaknya makan,

memantau mual dan muntah selama makan.

Menurut Ngastiyah (2014), pasien yang menderita diare biasanya juga

menderita anoreksia sehingga masukan nutrisinya menjadi kurang.

Kekurangan kebutuhan nutrisi akan bertambah jika, pasien juga

mengalami muntah-muntah atau diare lama, keadaan ini menyebabkan

makin menurunnya daya tahan tubuh sehingga penyembuhan tidak

lekas tercapai, bahkan dapat timbul komplikasi.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 90: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

79

Berdasarkan analisa peneliti anak diare mengalami anoreksia karena

terjadi gangguan di saluran pencernaan yang menyebabkan tekanan

hiperperistaltik usus yang merangsang anak menjadi mual, muntah dan

nafsu makan mennurun.

Tindakan keperawatan untuk diagnosa resiko syok hipovolemik yaitu

memberikan IVFD RL 20 tts/mnt dalam 8 jam untuk antisipasi

terjadinya dehidrasi berat pada partisipan 1 dan partisipan 2. Menurut

analisa peneliti tindakan ini dilakukan karena partisipan 1 mengalami

diare dehidrasi ringan dan anak malas untuk minum, pada partisipan 2

diare dehidrasi sedang anak banyak minum tetapi BAB sangat sering.

Oleh sebab itu perawat diruangan memasang infus untuk kedua

partisipan dengan tujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan

didalam tubuh.

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan disusun dengan metode SOAP. Evaluasi

keperawatan dilaksanakan selama 5 hari melakasanakan asuhan

keperawatan. Hasil evaluasi dari diagnosa kekurangan volume cairan

berhubungan dengan kehilangan cairan aktif, setelah 5 hari melakukan

asuhan keperawatan didapatkan Ibu mengatakan saat dirumah anaknya

masih diberi oralit, ibu mengatakan anaknya masih diberi zink, ibu

mengatakan BAB anaknya sudah normal ± 3 kali, konsistensi lembek,

jumlah ± 50ml, ibu mengatakan sudah paham dengan apa yang

dijelaskan, anak tampak tenang, anak sudah bisa bermain, mata tidak

cekung, turgor kulit baik.

Depkes (2011), mangatakan oralit diberikan bila anak diare dan sampai

diare berhenti. Untuk anak usia kurang dari satu tahun diberikan 50

sampai 100 cc cairan oralit setiap kali buang air besar sedangkan anak

labih dari 1 tahun diberikan 100 sampai 200 cc cairan oralit setiap klai

buang air besar. Menurut peneliti apa yang ditemukan pada kasus sama

dengan apa yang ada diteori. Anak yang diare banyak kehilangan air

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 91: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

80

dan elektrolit. Oralit berguna untuk membantu menggantikan cairan

yang keluar bersama BAB yang encer.

Hasil evaluasi diagnosa ketidakseimbangan nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsobrsi

makanan dan faktor biologis, setelah 5 hari melakukan asuhan

keperawatan didapatkan Ibu pasien mengatakan anaknya sudah mau

makan, ibu pasien mengatakan anaknya menghabiskan makanannya,

kulit tampak lembab, berat badan bertambah, turgor kulit kembali

cepat, mukosa bibir lembab.

Pada pasien yang menderita malabsorbsi pemberian jenis makanan

yang menyebabkan malabsorbsi harus dihindarkan. Pemberian

makanan harus mempertimbangkan umur, berat badan dan kemampuan

anak menerimanya. Pada umumnya anak umur 1 tahun sudah bisa

makan makanan biasa, dianjurkan makan bubur tanpa sayuran pada

hari masih diare dan minum teh. Hari esoknya jika defekasinya telah

membaik boleh diberi wortel, daging yang tidak berlemak (Ngastiyah,

2014).

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 92: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian asuhan keperawatan pada partisipan 1 An.D

dengan diare dehidrasi ringan+low intake dan partisipan 2 An.R dengan

diare dehidrasi sedang di ruang 2 Ibu Dan Anak RS Reksodiwiryo Padang,

peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil pengkajian pada An.D didapatkan anak BAB ± 7 kali, BAB

encer, tidak berlendir, anak demam, nafsu makan berkurang, anak

malas dan An.R didapatkan data keluhan BAB encer, lebih dari 20 kali

dalam sehari, berlendir, tidak berdarah, demam, anak banyak minum,

dan nafsu makan berkurang.

2. Hasil pengkajian dan analisa data terdapat 5 diagnosa yang muncul

pada An.D yaitu hipertermi berhubungan dengan proses infeksi,

kekurangan volume cairan berhubungan kehilangan cairan aktif,

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan faktor biologis, Diare berhubungan dengan proses infeksi,

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi atau sering

BAB. Pada An.R muncul 6 diagnosa utama Kekurangan volume cairan

berhubungan dengan kehilangan cairan aktif, Ketidakseimbangan

nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

ketidakmampuan mencerna makanan, Diare berhubungan dengan

proses infeksi, Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi

atau sering BAB, Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala

terkait penyakit

3. Intervensi keperawatan yang direncanakan sesuai dengan masalah

yang ditemukan pada An.D yaitu perawatan demam, manajemen

cairan, manajemen nyeri, manajemen nutrisi, monitor nutrisi,

manajemen diare, manajemen tekanan. Rencana keperawatan pada

An.R yaitu manajemen cairan, manajemen nyeri, manajemen nutrisi,

monitor nutrisi, perawatan demam, manajemen diare, manajemen

tekanan, teknik menenangkan.

82

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 93: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

83

4. Implementasi keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan yang

telah disusun. Implementasi keperawatan dilakukan pada tanggal 23 –

27 Mei 2017. Sebagian besar rencana tindakan keperawatan dapat

dilaksanakan pada implementasi keperawatan.

5. Evaluasi tindakkan keperawatan yang dilakukan selama lima hari

dalam bentuk SOAP. Diagnosa keperawatan pada An.D yaitu

hipertermi berhubungan dengan proses infeksi teratasi pada hari ke

tiga, kekurangan volume cairan berhubungan kehilangan cairan aktif

teratasi pada hari ke lima, Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis teratasi pada hari

ke lima, Diare berhubungan dengan proses infeksi teratasi pada hari ke

tiga, Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi atau

sering BAB teratasi pada hari ketiga. Pada An.R diagnosa kekurangan

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

aktif teratasi pada hari ke empat, Ketidakseimbangan nutrisi kurang

dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna

makanan teratasi pada hari ke empat, Hipertermi berhubungan dengan

proses infeksi teratasi pada hari ke dua, Diare berhubungan dengan

proses infeksi teratasi pada hari ke empat, Kerusakan integritas kulit

berhubungan dengan ekskresi atau sering BAB teratasi pada hari ke

tiga, Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait

penyakit teratasi pada hari ke tiga.

B. Saran

1. Bagi Rumah Sakit Reksodiwiryo

Saran peneliti kepada pihak rumah sakit lebih menyediakan fasilitas

dalam melakukan tindakan keperawatan dalam ruangan khususnya

fasilitas yang sangat dibutuhkan oleh pasien diare dehidarasi sedang.

2. Perawat ruangan

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 94: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

84

Saran peneliti bagi perawat ruangan agar lebih memperhatikan dalam

menegakkan diagnosa keperawatan, intervensi yang sudah dilakukan

dan mempertahankan agar intervensi berjalan secara optimal.

3. Peneliti selanjutnya

Saran untuk peneliti selanjutnya agar lebih dapat memperhatikan

masalah yang dialami pasien khususnya dan mampu bekerja sama

dengan baik dengan perawat ruangan agar implementasi keperawatan

yang dijalankan dapat terlaksana dengan baik.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 95: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

DAFTAR PUSTAKA

Adyanastri, Festy. 2012. Etiologi Dan Gambaran Klinis Diare Akut Di RSUP Dr.

Kariadi Semarang. Karya Tulis Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas

Diponegoro. Diakses tanggal 7 Januari 2017 dari

http://eprints.undip.ac.id/37538/1/Festy_G2A008082_Lap_kti.pdf

Arini, Estanti, N. 2012. Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Volume

Cairan Pada An.F Dengan Gastroenteritis Akut (GEA) Di Ruang Melati

RSUD Karanganyar. Studi Kasus Keperawatan STIKES Kusuma Husada

Surakarta. Diakses tanggal 6 Juni 2017 dari

http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/files/disk1/5/01-gdl-estantinur-227-

1-estanti-4.pdf

Astuti, Wiwin, p.; Heriyatun.; Yudha, Hendri, T.; 2011. Hubungan Pengetahuan

Ibu Tentang Sanitasi Makanan Dengan Kejadian Diare Pada Balita. Jurnal

Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 7, No. 3. Diakses tanggal 6 Juni

2017 dari

http://digilib.stikesmuhgombong.ac.id/files/disk1/27/jtstikesmuhgo-gdl-

wiwinpujia-1337-2-hal.151-8.pdf

Betz, C. L. & Sowden, L. A. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatr Edisi 5.

Jakarta: EGC

Bulechek, M.G.; Butcher, H.K.; Dochterman, J.M.; & Wagner, C.M. 2013.

Nursing Interventions Classification (NIC), 6th edition. United State Of

America: Mosby Elsevier, Inc

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Manajemen Terpadu Balita

Sakit (MTBS). Jakarta

Dinas kesehatan. 2014. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. Diakses

tanggal 11 Januari 2017 dari

http://sumbar.antaranews.com/image/2009/09ori/20090908img_1646.jpg

Dinkes Kesehatan Kota Padang. 2016. Profil Kesehatan Kota Padang Tahun

2015. Dari http://dinkes.padang.go.id/index.php/baca/artikel/107 Diakses

tanggal 13 Januari 2017

Emmanuel, anton. & Inns, stephen. 2014. Gastroenterologi dan Hepatologi.

Jakarta: Erlangga

Herdman, T, Heather. NANDA Internasional Inc. Diagnosa Keperawatan:

Defenisi & Klasifikasi 2015-2017 edisi 10. Jakarta: EGC

Hidayat, Aziz Alimul A. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta:

Salemba Medika.

Juffrie, M.; Soenarto, S.S.Y.; Oswari, H.; Arief, S.; Rosalina, I.; & Mulyani, N.S.

2010. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi. Jakarta: Badan Penerbit

IDAI

Kemenkes RI. 2011. Situasi Diare di Indonesia. Diakses tanggal 9 Januari 2017

http://www.depkes.go.id/download.php?

file=download/pusdatin/buletin/buletin-diare.pdf

Marlia, D. L.; Dwipoerwantoro, P. G. & Advani, Najib. 2015. Defisiensi Zinc

sebagai Salah Satu Faktor Risiko Diare Akut menjadi Diare Melanjut.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 96: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

Jurnal Sari Pediatri, Volume 16, No. 5. Dari

https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/download/142/146

diakses tanggal 22 Januari 2017

Moohead, S.; Johnson, M.; Maas, M.L.; & Swanson, E. 2013. Nursing Outcomes

Classification (NOC) 5th edition. United State Of America: Mosby Elsevier,

Inc

Ngastiyah. 2014. Perawatan anak sakit edisi 2. Jakarta : EGC

Notoadmodjo, soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka

Cipta

Nursalam, Susilaningrum, R.; & Utami, R. 2008. Asuhan keperawatan bayi dan

anak. Jakarta : Salemba Medika

Puput, Stefanny R. 2011. Perilaku Pemberian Asi Terhadap Frekuensi Diare Pada

Anak Usia 6-24 Bulan Di Ruang Anak Rumah Sakit Baptis Kediri. Jurnal

STIKES RS. Baptis Kediri Volume 4, No. 2. Diakses tanggal 6 Januari 2017

http://download.portalgaruda.org/article.php?

article=4216&val=360&title=PERILAKU%20PEMBERIAN%20ASI

%20TERHADAP%20FREKUENSI%20DIARE%20PADA%20ANAK

%20USIA%20624%20BULAN%20DI%20RUANG%20ANAK

%20RUMAH%20SAKIT%20BAPTIS%20KEDIRI

Riset Keperawatan Dasar (RISKESDAS). 2013. Diakses tanggal 9 Januari 2017

http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas

%202013.pdf

Rusdi, Numlil, K.; Gultom, Betti. & Wulandari, Apriyanti. 2012. Evaluasi

Penggunaan Obat Diare Terhadap Kesesuaian Obat Dan Dosis Pada Pasien

Rawat Inap Di RSUD Budhi Asih Jakarta. Jurnal Farmasains Volume 1,

No.5. Diakses tanggal 22 Januari 2017 dari

http://farmasains.uhamka.ac.id/wp-content/uploads/2015/02/Numlil-

farmasains.uhamka.ac_.id-volume-1-no-5.pdf

Soedjas, triwibowo. 2011. Bila Anak Sakit. Yogyakarta: Amara Books

Subakti, Fikri, A. 2015. Pengaruh Pengetahuan, Perilaku Sehat dan Sanitasi

Lingkungan terhadap Kejadian Diare Akut di Kelurahan Tlogopojok dan

Kelurahan Sidorukun Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik. Jurnal UNESA

(Universitas Negeri Surabaya) dari

http://ejournal.unesa.ac.id/article/13744/40/article.pdf diakses tanggal 11

Januari 2017

Supriyadi, bayu, H. 2013. Asuhan Keperawatan Pada An.N Dengan Gangguan

Sistem Pencernaan Diare Akut Dehidrasi Sedang Di Ruang Melati 2 Rumah

Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi. Studi Kasus Keperawatan Fakultas

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 97: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Diakses pada

tanggal 6 Juni 2017 dari

http://eprints.ums.ac.id/25518/13/NASKAH_PUBLIKASI_.pdf

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung:

Alfabeta

Suharyono. 2008. Diare Akut: Klinik Dan Laboratorik. Jakarta: Rineka Cipta

Tammi, M. A.; Jurnalis, Y. D. & Sulastri, delmi. 2016. Hubungan Pemberian ASI

Eksklusif dengan Kejadian Diare pada Bayi di Wilayah Puskesmas

Nanggalo Padang. Jurnal Kesehatan Andalas; 5 (1). Diakses tanggal 11

Januari 2011

http://download.portalgaruda.org/article.php?

article=421616&val=7288&title=Hubungan%20Pemberian%20ASI

%20Eksklusif%20dengan%20Kejadian%20Diare%20pada%20Bayi%20di

%20Wilayah%20Puskesmas%20Nanggalo%20Padang

World Health Organization. (2009). Diarrhea: Why Children Are Dying And What

Can Be Done. Switzerland. Diakses tanggal 11 Januari 2017

http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/44174/1/9789241598415_eng.pdf

WHO. 2012. The 10 leading causes of death in the world, 2000 and 2012. Dari

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs310/en/ diakses tanggal 11

Januari 2017

Widoyono. 2011. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan &

Pemberantasannya Edisi 2. Jakarta: Erlangga

Wijoyo, yosef. 2013. Diare Pahami Penyakit dan Obatnya. Yogyakarta: PT Citra

Aji Parama.

Wong, D.L.; Eaton, M.H.; Wilson, D.; Winkelstein, M.L.;& Schwart, P. 2008.

Buku ajar keperawatan pediatrik edisi 6. Jakarta : EGC

Yonata, A & Farid, A.F. 2016. Penggunaan Probiotik Sebagai Terapi Diare. Jurnal

Kedokteran Universitas Lampung Majority Volume 5 Nomor 2. Dari

http://jukeunila.com/wp-content/uploads/2016/04/5.2-Agus-Fathul-Muin-

done.pdf diakses Tanggal 21 Februari 2017

Yusuf, Sulaiman. 2011. Profil Diare Di Ruang Rawat Inap Anak RSUD Dr.

Zainoel Abidin Banda Aceh. Jurnal Sari Pediatri Volume 13, No. 4. Dari

https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/download/424/356

diakses tanggal 18 Januari 2017.

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 98: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

Lampiran 1

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 99: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

Lampiran 1

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 100: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

Lampiran 2

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 101: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

Lampiran 2

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 102: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

Lampiran 3

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 103: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

Lampiran 4

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 104: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

Lampiran 4

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 105: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

Lampiran 5

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 106: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

Lampiran 5

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 107: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

Lampiran 5

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 108: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

Lampiran 6

Poltekkes Kemenkes Padang

Page 109: ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE ...pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/KTI_LIDIA...Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada pasien diare dengan gangguan keseimbangan

Lampiran 7

Poltekkes Kemenkes Padang