of 113 /113
i ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN YANG MENGALAMI DIARE DENGAN GANGGUAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT DI RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN Karya Tulis Ilmiah Disusun Sebagai Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan NAMA SIKHATUN KHASANAH A01401965 STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN TAHUN AKADEMIK 2016/2017

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN YANG MENGALAMI DIARE …elib.stikesmuhgombong.ac.id/620/1/SIKHATUN KHASANAH NIM. A0140… · ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN YANG MENGALAMI DIARE ... x DIII Program

Embed Size (px)

Citation preview

i

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN YANG MENGALAMI DIARE

DENGAN GANGGUAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

DI RSUD Dr. SOEDIRMAN

KEBUMEN

Karya Tulis Ilmiah

Disusun Sebagai Salah Satu Persyaratan

Dalam Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan

NAMA

SIKHATUN KHASANAH

A01401965

STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

TAHUN AKADEMIK

2016/2017

ii

iii

iv

v

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................... i

HALAMAN ORISINALITAS........................................................ ii

HALAMAN PERSETUJUAN........................................................ iii

LEMBAR PENGESAHAN............................................................. iv

DAFTAR ISI.................................................................................... v

KATA PENGANTAR...................................................................... vii

ABSTRAK........................................................................................ ix

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang.......................................................... 1

1.2. Rumusan Masalah.................................................... 3

1.3. Tujuan Studi Kasus.................................................. 3

1.4. Manfaat Studi Kasus................................................ 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Puastaka.................................................. 5

2.1.1. Asuhan keperawatan dalam gangguan cairan dan

Elektrolit.............................................................. 5

2.1.1.1. Pengkajian .......................................... 5

2.1.1.2. Diagnosa keperawatan ........................... 8

2.1.1.3. Perencanaan keperawatan ....................... 8

2.1.1.4. Pelaksanaan keperawatan ....................... 13

2.1.1.5. Evaluasi keperawatan .......................... 20

2.1.2.Penyakit Diare dengan gangguan Cairan dan

elektrolit......................................................... 21

2.1.2.1. Pengertian diare....................................... 21

2.1.2.2. Penyebab diare........................................ 21

2.1.2.3. Tanda dan gejala diare........................... 22

2.1.2.4. Akibat penyakit diare............................. 23

2.1.2.5. Patofisiologis diare.................................. 23

2.1.2.6. Pengertian Cairan dan Elektrolit.............. 23

vi

2.1.2.7. Fungsi cairan........................................... 24

2.1.2.8. Faktor yang mempengaruhi kebutuhan

Cairan dan elektrolit............................................. 24

2.1.2.9. Proporsi cairan tubuh............................... 25

2.1.2.10.Masalah kebutuhan elektrolit.................. 25

2.1.2.11.Kebutuhan cairan dan elektrolit.............. 27

2.1.3. Tumbuh kembang Balita.............................................. 27

2.1.3.1. Pengertian balita....................................... 27

2.1.3.2. Tumbuh kembang balita ......................... 27

2.1.4. Kerangka Teori............................................................ 28

BAB III METODE STUDI KASUS

3.1. Jenis/Desain/Rancangan ................................................ 29

3.2. Subjek studi kasus.......................................................... 29

3.3. Fokus studi kasus........................................................... 29

3.4. Definisi operasional........................................................ 30

3.5. Instrumen studi kasus..................................................... 30

3.6. Metode pengumpulan data............................................. 30

3.7. Lokasi dan waktu stdui kasus........................................ 31

3.8. Etika studi kasus ............................................................ 31

BAB IV HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Studi Kasus............................................................ 32

4.1.1 Fokus Asuhan Keperawatan klien 1...................... 32

4.1.2 Fokus Asuhan Keperawatan klien 2...................... 39

4.2 Pembahasan Studi Kasus................................................. 44

4.3 Keterbatan Studi Kasus................................................... 48

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan..................................................................... 49

5.2 Saran............................................................................... 50

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR LAMPIRAN

vii

KATA PENGANTAR

Assalamungalaikum wr.wb

Dengan mengucapkan sukur alhamdulillah kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang

telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis

dapat menyelesaikan laporan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “ ASUHAN

KEPERAWATAN KLIEN YANG MENGALAMI DIARE DENGAN

GANGGUAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT DIRUMAH SAKIT RSUD Dr.

SOEDIRMAN KEBUMEN” laporan ini disusun sebagai salah satu syarat dalam

menyelesaikan Pendidikan Diploma III Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Muhammadiyah Gombong.

Selesainya laporan ini tidak lain berkat bantuan, bimbingan dan dukungan dari

berbagai pihak. Untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Alloh SWT yang telah memberikan hidayahnya kepada penulis sehingga

penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan lancar.

2. Kepada kedua orang tua ( Bpk Khabib Soleh dan Ibu Ma’fiyah ) yang

telah memberikan kasih sayang, semangat serta do’a dan materi.

3. Ibu Herniyatun, M.Kep.Sp.Mat Selaku ketua Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Muhammadiyah Gombong.

4. Ibu Nurlaila, M.Kep selaku Ketua Prodi Diploma III Keperawatan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong.

5. Ibu Ning Iswati, M.Kep Pembimbing Akademik Karya Tulis Ilmiah yang

telah banyak memberikan support dan bimbingan kepada penulis.

6. Segenap Staf, Dosen dan Karyawan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

Muhammadiyah Gombong yang telah berkenaan memberikan bimbingan

dan arahan materi selama penulis menempuh pendidikan.

7. Teman-teman kelas C seperjuangan yang telah memberikan semangat dan

do’a.

8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah

membantu menyelesaikan laporan ini.

viii

Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ujian akhir program ini masih jauh

dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang

sifatnya membangun demi perbaikan dan penyempurnaan kedepannya.

Gombong, Agustus 2017

Sikhatun Khasanah

(A01401965)

ix

Program Studi DIII Keperawatan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

KTI, Juli 2017

Sikhatun Khasanah1. Ning Iswati

2.

ABSTRAK

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN YANG MENGALAMI DIARE

DENGAN GANGGUAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

DI RUANG MELATI RSUD Dr. SOEDIRMAN

KEBUMEN

Latar belakang : Dehidrasi pada diare dapat menyebabkan kekurangan volume cairan

dan elektrolit pada tubuh. Jika tidak cepat di tangani, ini dapat menyebabkan kematian.

Tujuan penulis : Menggambarkan asuhan keperawatan pasien diare dengan gangguan

cairan dan elektrolit.

Metode Penulisan : Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan

studi kasus (case study approach), data diperoleh dari wawancara, pemeriksaan fisik,

observasi, rekamedik dan studi dokumen. Subjeknya dua orang pasien, yaitu anak 8 bulan

dan 3 tahun.

Hasil : Dalam asuhan keperawatan kedua pasien dengan diare, mengalami kekurangan

volume cairan dan lektrolit. Pengkajian didapatkan kedua pasien mengalami peningkatan

rasa haus, terlihat lemas, rewel, tidak nafsu makan, BAB cair, berlendir serta bercampur

darah dan peningkatan leukosit. Masalah keperawatan yang muncul adalah kekurangan

volume cairan dan elektrolit dan defisit pengetahuan. Rencana keperawatan untuk

mengatasi kekurangan volume cairan dan elektrolit, antara lain: monitoring TTV, intake

dan output cairan, menganjurkan pasien untuk minum banyak, memberikan cairan, obat

sesuai intrusksi dari dokter dan melakukan pankes tentang diare. Implementasi dilakukan

selama pengelolaan 3x7 jam. Evaluasi pada kedua pasien dengan masalah kekurangan

volume cairan dan elektrolit serta defisit pengetahuan teratasi.

Kesimpulan : Memeberikan cairan pada pasien dan pankes kepada kelurganya dapat

mengatasi kekurangan cairan dan elektrolit pada diare.

Kata kunci : Diare, cairan elektrolit, pendidikan kesehatan

1. Mahasiswa

2. Pembimbing

x

DIII Program of Nursing Department

Muhammadiyah Health Science Institute of Gombong

Scientific Paper, July 2017

Sikhatun khasanahˡ. Ning Iswati2.

ABSTRACT

THE NURSING CARE FOR DIARRHEA PATIENTS WITH FLUID AND

ELECTROLYTE DISORDERS IN MELATI WARD OF

Dr. SOEDIRMAN HOSPITAL

KEBUMEN

Background: Diarrheal dehydration can cause fluid volume and electrolyte deficiency in

the body. It may lead to death unless it is handled.

Objective: Describing nursing care for diarrhea patients having fluid and electrolyte

disturbances.

Method: This study is an analytical desccriptive with case study approach. Data were

obtained from interview, physical examination, observation, and documentation. The

subjects were 2 children – 8 months old and 3 years old.

Result: The nursing care showed that both patients with diarrhea had fluid volume and

electrolyte deficiency. The assessment showed that both patients got increasing thirst,

weak-look, fussiness, no appetite, liquid, mucus and blood mixed defecation and

increasing leukosit. The emerging nursing problems were fluid and electrolyte shortage

and knowledge deficit. Nursing plans to address this deficiency include monitoring the

vital signs, fluid intake and output, encouraging to drink more, giving fluid and

medecines in accordance with doctor’s instruction, and conducting health education about

diarrhea. Implementation was conducted in 3x7 hours of the management. The evalution

was that fluid volume and electrolyte shortage and knowledge deficit were resolvable.

Coclusion: Giving patients fluid and conducting health education for their family can

overcome the lack of fluid and electrolyte in diarrheal disease.

Keywords: Diarrhea, fluid, electrolyte, health education

1. Student

2. Lecturer

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Diare dapat menyebabkan kematian nomer dua di dunia (WHO, 2013).

Salah satu target MDGs adalah menurunkan angka kematian pada anak, termasuk

menurunkan angka kematian yang diakibatkan oleh diare. Jika pencegahan diare

tidak dilakukan dengan cepat dan berkelanjutan, maka kemungkinan sebanyak

760.000 anak akan meninggal setiap tahunnya. Tetapi jika penanganan diare

dilakukan dengan cepat dan tepat, maka jumlah kematian akan menurun setiap

tahunnya (WHO, UNICEF, 2013).

Penyakit diare merupakan angka kematian yang tinggi di negara

berkembang. Kurang lebih 10 juta anak usia kurang dari 5 tahun meninggal setiap

tahunnya di dunia dan sekitar 20% meninggal karena infeksi diare (Hardi, 2012).

Diare akut merupakan penyakit di indonesia yang masih sangat tinggi.

Dengan penderita terbanyak adalah bayi dan balita. Dari hasil riset kesehatan

dasar yang dilakukan oleh kementrian kesehatan pada tahun 2007, diare akut

merupakan penyebab kematian bayi (31,4%) balita (25,2%). (Tjitrosantoso,

2013).

Di kabupaten Kebumen sendiri pada tahun 2015 penderita diare telah

mencapai targetSPM Kabupaten Kebumen (100 %) yaitu 102,4 %. Namun untuk

pencapaian penemuan penderita diare per wilayah, beberapa Puskesmas belum

mencapai target.(Sitohang ,Vensya 2011).

Diare sering menyerang balita karena daya tahan tubuhnya yang masih

lemah, sehingga mudah terkena bakteri penyebab diare. Jika diare disertai muntah

berkelanjutan akan menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan). Inilah yang harus

selalu diwaspadai karena sering terjadi keterlambatan dalam pertolongan dan

mengakibatkan kematian. Dehidrasi yang terjadi pada bayi ataupun anak akan

cepat menjadi parah. Hal ini disebabkan karena seorang anak berat badannya lebih

ringan daripada orang dewasa. Maka cairan tubuhnya pun relatif sedikit, sehingga

jika kehilangan sedikit saja cairan dapat mengganggu organ-organ vitalnya.

2

Dehidrasi akan semakin parah jika ditambah dengan keluhan lain seperti mencret

dan panas karena hilangnya cairan tubuh lewat penguapan. Kasus kematian balita

karena dehidrasi masih banyak ditemukan dan biasanya terjadi karena

ketidakmampuan orang tua mendeteksi tanda-tanda bahaya ini (Cahyono, 2010).

Diare yaitu kekurangan cairan pada tubuh dengan jumlah banyak ditandai

dengan BAB lebih dari 3x dalam bentuk cair, berlendir dan terkadang di sertai

darah. (Suriadi, 2010). Penanganan pertama diare akut yaitu menentukan tingakat

derajat dehidrasi. Tujuan utama terapi untuk mencegah dehidrasi, mengoreksi

kekurangan cairan dan elektrolit secara tepat (terapi rehidrasi) dan mencegah

gangguan nutrisi (Gunardi 2008).

Sebagian besar tubuh manusia terdiri atas cairan. Cairan merupakan

komposisi terbesar dalam tubuh manusia. Cairan berperan dalam menjaga proses

metabolisme dalam tubuh. Untuk menjaga kelangsungan proses tersebut adalah

keseimbangan cairan. Cairan dalam tubuh manusia normalnya adalah seimbang

antara asupan (input) dan haluaran (output). Jumlah asupan cairan harus sama

dengan jumlah cairan yang dikeluarkan dari tubuh. Perubahan sedikit pada

keseimbangan cairan dan elektrolit tidak akan memberikan dampak bagi tubuh.

Akan tetapi, jika terjadi ketidak seimbangan antara asupan dan haluaran, tentunya

akan menimbulkan dampak bagi tubuh manusia. Pengaturan keseimbangan cairan

tubuh, proses difusi melalui membran sel, dan tekanan osmotik yang dihasilkan

oleh elektrolit pada kedua kompartemen (Mubarak, 2007) .

Cairan dan elektrolit sangat penting mempertahankan keseimbangan atau

homeostosis tubuh. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat

mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh. Sebab, cairan tubuh kita terdiri atas air

yang mengandung partikel - partikel bahan organik dan anorganik yang vital

untuk hidup. Elektrolit tubuh mengandung komponen - komponen kimiawi

(FKUI, 2008).

Dalam tubuh, fungsi sel bergantung pada keseimbangan cairan dan

elektrolit. Keseimbangan ini diurus oleh banyak mekanisme fisiologik yang

terdapat dalam tubuh sendiri. Pada bayi dan anak sering terjadi gangguan

keseimbangan tersebut yang biasanya disertai perubahan Ph cairan tubuh (Irwan,

3

2013). Gangguan volume cairan dan elektrolit merupakan salah satu kebutuhan

dasar manusia fisiologis yang harus dipenuhi, apabila penderita telah banyak

mengalami kehilangan air dan elktrolit, maka terjadilah gejala dehidrasi. Terutama

diare pada anak perlu mendapatkankan penanganan yang cepat dan tepat sehingga

tidak mempengaruhi tumbuh kembang anak (Sodikin, 2011).

Angka kematian yang tinggi akibat diare akan berdampak negatif pada

kualitas pelayanan kesehatan karena angka kematian anak (AKA) merupakan

salah satu indikator untuk menilai derajat kesehatan yang optimal, kurang

berhasilnya usaha dalam proses pencegahan diare merupakan salah satu faktor

yang harus diperhatikan karena jika upaya pencegahan tidak ditangggulangi

dengan baik, maka peningkatan penyakit diare pada balita akan semakin

meningkat (Depkes, 2010).

Dengan demikian, penulis tertarik untuk melakukan studi kasus dalam

bentuk karya ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan Klien yang mengalami

diare dengan gangguan cairan dan elektrolit di RSUD Dr. Soedirman Kebumen.

Penulis berharap dengan studi kasus ini dapat memberikan asuhan keperawatan,

mengimplementasikan sesuai dengan intervensi yang sudah direncakan dan dapat

memberikan manfaat bagi penyakit diare dan tidak menyebabkan komplikasi yang

serius.

1.2 Rumusan masalah

Bagiaman gambaran asuhan keperawatan pasien diare dengan gangguan cairan

dan elektrolit pada balita di RSUD Dr. Soedirman Kebumen ?

1.3 Tujuan studi kasus

Tujuan umum

Menggambarkan asuhan keperawatan pasien diare dengan gangguan cairan dan

eletrolit.

Tujuan khusus

1.3.1 Mendiskripsikan pengkajian asuhan keperawatan pada pasien diare

dengan gangguan cairan dan elektrolit

1.3.2 Mendiskripsikan diagnosa keperawatan dengan gangguan cairan dan

elektrolit

4

1.3.3 Mendiskripsikan rencana asuhan keperawatan diare dengan gangguan

cairan dan elektrolit

1.3.4 Mendiskripsikan implementasi asuhan keperawatan diare dengan

gangguan cairan dan elektrolit

1.3.5 Mendiskripsikan dalam mengevaluasi asuhan keperawatan diare dengan

cairan dan elektrolit

1.4 Manfaat studi kasus

1. Bagi Masyarakat

Masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan tentang penyakit diare serta

cara penanganan pada pasien diare.

2. Bagi Pengembangan ilmu dan Teknologi Keperawatan

Menambah keluasan ilmu dan teknologi terapan bidang keperawatan dalam

pemenuhan gangguan cairan dan elektrolit pada pasien diare.

3. Bagi penulis

Memperoleh pengalaman dalam mengaplikasikan hasil riset keperawatan,

studi kasus dengan ganggauan cairan dan eletrolit pada pasien diare.

DAFTAR PUSTAKA

Alatas, Husein dan Hasan, Rusepno. Editor. 2010. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan

Anak. Jilid I. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 1985. hal. 283: 312.

Alireza, dkk. 2017. Evaluation of water and electrolytes disorders in severe acute

diarrhea patients treated by WHO protocol in eight large hospitals in

Tehran; a nephrology viewpoint. J Renal Inj Prev. 2017; 6 (2): 109-112.

Anggraini, Dwi Yanti dan Budi Sutomo. Menu Sehat Untuk Batita dan Balita.

2010. Demedia: Jakarta.

Anonim. Tata Laksana Penderita Diare. Retrieved 25 Februari, 2013

Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa medis dan

NANDA NIC-NOC jilid 1 tahun 2013.

Asmadi. (2008). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC

Cahyono, Dwi Anton Budi dan Dyah Andari. 2010. Mudah dan Hemat Hidup

Sehat.Solo : Pustaka Arafah.

Departemen Kesehatan Rebuplik Indonesia. 2008. Manajemen Terpadu Balita

Sakit. Jakarta.

Depkes RI, 2010, Hasil evaluasi program pemberantasan penyakit diare,

Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan

Lingkungan Pemukiman Departemen Kesehatan, Jakarta.

Depkes. 2011. Buku Saku Petugas Kesehatan. edisi 2011. Depkes RI.

Dewi, Vivian Nanny Lia. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta:

Salemba Medika.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2012. Buku Profil Kesehatan Provinsi

Jawa Tengah Tahun 2012. Semarang: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa

Tengah.

FKUI (2008). Gangguan Keseimbangan Air – Elektrolit Dan Asam – Basa.

Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Gunardi, H. 2011. Kumpulan Tips Pediatri.Edisi 2 cetakan pertama. Badan

Penerbir IDAI

Hardi, A. R., Masni, Rahma. 2012. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian

Diare Pada Batita Di Wilayah Kerja Puskesmas Baranglompo

Kecamatan Ujung Tanah Tahun 201. Fakultas Kesehatan Masyarakat,

Universitas Hasanudin, Makassar.

Hidayat, A. A. (2012). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta:

http://nursingbegin.com/askep-diare-anak/ di akses pada 11 Juni 2017

jam 21.00 wib.

IDAI. 2008. Diare pada anak. Retrieved July 27, 2017, from http://idai.go.id.

Juffrie. 2010. Gastroenterologi-hepatologi, jilid 1. Jakarta: Badan penerbit IDAI.

Kementerian Kesehatan RI. 2011. Situasidiare di Indonesia. Retrieved

Desember17, 2013, fromwww. depkes. go.

id/downloads/Buletin%20Diare_Final. Di unduh pada tanggal 02 mei

2017 jam 20.30 wib.

Mazdumer et al. 2010. Effectiveness of zinc supplementation plus oral rehydration

salts for diarrhoea in infants aged less than 6 months in Haryana state,

India. Bull World Health Organ. 88 (10.2471): 754–760.

Mubarak, Wahit Iqbal. 2007. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia: Teori &

Aplikasi Dalam Praktik. Jakarta, EGC.

Mubarak. Irwan, dkk (2008). Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. Cetakan

pertama. Jakarta: EGC.

Muttaqin, Arif & Sari, Kurmala. 2011. Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi

Asuhan Keperawatan Medikal bedah. Jakarta : Salemba medika.

Muttaqin, Arif. 2011. Gangguan Gastrointestina: Aplikasi asuhan keperawatan

Medikal Bedah. Jakata: Salemba Medika.

Nanda Internasional. 2011. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-

2011. Jakarta: EGC. Salemba Medika.

Nanny, Lia Dewi, Vivian. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta:

Salemba Medika.

Rocha, Carminate, Tibirica, Carvalho, Silva, Chebli . 2012. Acute Diarrhea in

Hospitalized Children of the Municipality of Juiz de fora, mg, Brazil:

Prevalence and Risk factors associated with disease severity. Arq.

Gastroenterol. 49 (4): 259-265.

Saputra, Lyndo. 2013. Catatan Ringkas Kebutuhan Dasar Manusia. Tangerang:

Binarupa Aksara.

Sitohang, vensya. 2011. Situasi diare di Indonesai: sekertaris jenderal kemkes RI.

Sitorus, 2008. Pedoman Perawatan Kesehatan Anak, Jakarta, Yrama Widya.

Sodikin. 2011. Asuhan Keperawatan Anak: Gangguan Sistem Gastrointestinal

dan Hepatobilier. Jakarta: Salemba Medika.

Soetjiningsih. 2014. Tumbuh kembang anak jilid II. Jakarta: EGC.

Suraatmaja. (2010). Kapita Selekta Gastroenterologi Anak. Jakarta: Sagung Seto.

Suratmaja, Sudaryat. 2007. Kapita Selekta Gastroenterologi Anak. Denpasar: CV.

Sagung Seto.

Suriadi, Rita Yuliana. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Edisi 2. Jakarta:

Sagung Seto.

Tamsuri, Anas. 2009. Seri Asuhan Keperawata Klien Gangguan Keseimbangan

Cairan & Elektrolit. Jakarta: ECG.

Tjitrosantoso Heedy, Korompis Fras, dkk. (2013). Studi penggunaan obat pada

penderita diare di instasi rawat inap BLU RSUP Prof.Dr.R.D. Kandou

manado priode januari-juni 2012. http://ejurnal . uniset. ac. id diakses

pada tanggal 24 Mei 2017 pukul 20.30 WIB.

Utami, Rahayu Sari. 2015. Studi Kasus : Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan

Gangguan Gastroenteritis Dehidrasi Sedang.Volume 2 No 1- Januari

2015.

Walgito, Bimo. (2010). Bimbingan dan Konseling Studi & Karir. Yogjakarta:

Andi.

Wardani, S. 2016. Asuhan Keperawatan Manajemen Diare Pada Anak Yang Oleh

Perawat Di Rumah Sakit. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 1 (1):

24-31.

Wardani, Septi. 2016. Manajemen Diare Pada Anak Oleh Perawat Di Rumah

Sakit. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1 (1) 2016.

WHO, UNICEF. (2013). Ending Preventable Child Deaths from Pneumonia and

Diarrhoea by 2025 The integrated Global Action Plan for Pneumonia

and Diarrhoea (GAPPD). WHO. France.

WHO. 2010. World Health Statistics 2010: Causes of death.

Widoyono. (2012). Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan &

Pemberantasan. Erlangga Medical Series: Jakarta.

Wilkinson, Judith. M. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan

Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Ed. 9. Jakarta: EGC.

Wong L. D. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Wong, EDG. 6.Vol 2.

Jakarta: EDG.

Wong, Donna L.2009. Buku Ajar Keperawatan pediatrik, alih bahasa Andry

Hartono, Sari Kurnianingsih, Setiawan editor edisi bahasa Indonesia.

Edisi 6. Jakarta: EGC.

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Penjelasan untuk mengikuti penelitian (PSP)

Lampiran 2 : Informasi dan pernyataan persetujuan (Informed consent)

Lampiran 3 : Bukti proses bimbingan

Lampiran 4 : Kuisoner penyakit diare

Lampiran 5 : Satuan acara penyuluhan (SAP) penyakit diare

Lampiran 6 : Lembar balik penyakit diare

Lampiran 7 : Liflet penyakit diare

Lampiran 8 : Intruksi kerja penilaian balance cairan

Lampiran 9 : Asuhan keperawatan penyakit diare

Lampiran 10 : Pengkajian tumbuh kembang menurut KPSP

Lampiran 11 : Jurnal

Lampiran 1 : Penjelasan untuk mengikuti penelitian (PSP)

PENJELASAN UNTUK MENGIKUTI PENELITIAN

(PSP)

1. Kami adalah peneliti berasal dari institusi/jurusan program studi DIII

Keperawatan STIKES Muhammadiyah Gombong. Dengan ini

meminta anda untuk berpartisipasi dengan suka rela dalam penelitian

yang berjudul “Asuhan Keperawatan Klien Yang Mengalami

Gangguan Diare Dengan Masalah Cairan Dan Elektrolit Di RSUD

Dr. Soedirman”.

2. Tujuan dari penelitian studi kasus ini adalah menggambarkan asuhan

keperawatan klien yang mengalami gangguan Diare mulai dari

pengkajian sampai dengan evaluasi keperawatan yang dapat

memberikan manfaat berupa diantaranya dapat meningkatkan

pengetahuan tentang penyaki diare serta cara penanganan diare.

Penelitian ini akan berlangsung selam 3 hari.

3. Prosedur pengambilan bahan dan cara wawancara terpimpin dengan

menggunakan pedoman wawancara yang akan berlangsung kurang

lebih 15-20 menit. Cara ini mungkin menyebabkan ketidaknyamanan

tetapi anda tidak perlu khawatir karena penelitian ini untuk

kepentingan pengambilan asuhan atau pelayanan keperawatan.

4. Keuntungan yang anda peroleh dalam keikutsertaan anda pada

penelitian ini adalah anda turut terlibat aktif mengikuti perkembangan

asuhan atau tindakan yang diberikan

5. Nama dan jati diri anda bersama seluruh informasi yang saudara

sampaikan akan tetap dirahasiakan.

6. Jika saudara membutuhkan informasi sehubungan dengan penelitian

ini, silahkan menghubungi peneliti pada no Hp 083863637448.

Peneliti

Sikhatun Khasanah

Lampiran 2 : Informasi dan pernyataan persetujuan (Informed consent)

INFORMED CONSENT

(Persetujuan Menjadi Partisipan)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa saya

telah mendapat penjelasan secara rinci dan telah mengerti mengenai

penelitian yang akan dilakukan oleh Sikhatun Khasanah dengan judul

“Asuhan Keperawatan Klien yang Mengalami Diare dengan

Gangguan Cairan dan Elekktrolit di Rumah Sakit RSUD Dr.

Soedirman Kebumen”.

Saya memutuskan setuju untuk ikut berpartisipasi pada penelitian

ini secara sukarela tanpa paksaan. Bila selama penelitian ini saya

menginginkan mundur diri, maka saya dapat mengundurkan sewaktu-

waktu tanpa sanksi apapun.

Kebumen, Juli 2017

Saksi Yang memberikan persetujuan

................................ ........................................

Kebumen, Juli 2017

Peneliti

Sikhatun Khasanah

Lampiran 3 : Bukti proses bimbingan

Lampiran 4 : Kuisoner penyakit diare

KUESIONER

HUBUNGAN PENGETAHUAN ORANG TUA TERHADAP PENYAKIT

DIARE DI RUMAH SAKIT

A. Identitas responden (diisi oleh peneliti)

Nama responden :

1. Suatu kondisi dimana seseorang buang air besar sebanyak 3x atau

lebih dalam satu hari dan tinja yang keluar berupa cairan encer berupa

lendir atau bercampur darah disebut ?

a. Muntah

b. Mencret ( diare )

c. Sakit perut

2. Berapa kali buang air besar dalam sehari ? jika disebut sebagai

penderita diare.

a. 1-3x sehari

b. Lebih dari 3x sehari dan tinjanya encer

c. Tidak tahu

3. Apa yang anda tahu tentang penyebab diare ?

a. Bakteri dan makanan yang kotor

b. Kuman penyakit

c. Tidak tahu

4. Darimana sajakah penularan penyakit diare pada anak-anak ?

a. Makanan, kurang menjaga kebersihan

b. Lalat

c. Semuanya benar

5. Bagimanakah penyakit diare ditularkan

a. Air dan udara

b. Makan dan minuman

c. Tidak tahu

6. Bagimana cara pencegahan diare

a. Tidak mencuci tangan setelah buar air besar maupun kecil

b. Selalu mejaga kebersihan makan dan minuman

c. Tidak mengonsumsi makanan pedas-pedas

7. Apa yang anda lakukan pertama kali jika anak anda terkena diare ?

a. Langsung dibawa kerumah sakit

b. Dibiarkan

c. Memberikan oralit dengan cara melarutkan garan dan gula

8. Makanan apa saja yang harus di konsumsi saat anak terkena penyakit

diare?

a. Makanan yang merngandung serat-seratan seperti apel, sayur-

sayuran dll

b. Makanan mie instan, gorengan dan lain-lain

c. Tidak tahu

9. Apa ciri-ciri anak yang terkena diare dengan dehidrasi sedang ?

a. Rewel dan mata cekung

b. Merasa haus terus-menerus

c. Semua benar

10. Kapan anak dengan penyakit diare dibawa kedokter atau rumah sakit

a. Muntah-muntah dan BAB lebih dari 3x serta tinja dalam bentuk

encer

b. Muntah dan panas

c. Rewel dan BAB 2x dalam sehari

11. Bagaimana cara anda dalam membersihkan kotoran anak anda setelah

buang air besar ?

a. Dibersihkan dari depan kebelakang

b. Dibersihkan dari belakang kedepan

c. Tidak tahu

Keterangan

1. benar 1- 4 : pengetahuan orang tua terhadap penyakit diare

sangat kurang

2. benar 4 - 7 : pengetahuan orang tua terhadap penyakit diare

kurang

3. benar 7 – 11 : tidak ada masalah dalam pengetahuan orang tua

terhadap penyakit diare

Lampiran 5 : Satuan acara penyuluhan (SAP) penyakit diare

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN

( S A P )

PENYAKIT DIARE BALITA

1. Topik : Gangguan Sistem Gastrointestinal (Pencernaan)

2. Sub topik : Diare

3. Tujuan

3.1.Tujuan Umum

Setelah dilakukan tindakan pendidikan kesehatan selama 1x30 menit

pasien atau keluarga pasien diharapkan dapat mengetahui penyakit Diare

dan hal-hal apa saja yang dapat mengakibatkan timbulnya penyakit dan

tindakan apa saja yang harus dilakukan saat sakit dan pencegahanya.

3.2.Tujuan Khusus

Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang Diare selama 1x30 menit

peserta mampu

a. Menyebutkan kembali penyebab dari penyakit Diare

b. Menyebutkan kembali tanda dan gejala dari penyakit Diare

c. Menyebutkan kembali hal-hal yang harus dilakukan dalam menangani

penyakit Diare.

4. Sasaran : Keluarga balita yang sedang mengalami Diare

5. Metode : Ceramah, diskusi dan tanya jawab

6. Media : Liflet dan lembar balik

7. Waktu

Hari/tanggal : Kamis, 13 Juli 2017

Jam : 14.30 WIB

Lama waktu : 1x30 menit

8. Tempat : RSUD Dr. Soedirman Kebumen ruang Melati

9. Strategi Pelaksanaan

No Waktu Tahapan

Kegiatan

Kegiatan

Penyuluh Keluarga

1 5 menit

Pembukaan

o Perkenalan

- Mengucapkan salam

- Memperkenalkan diri

- Mengingatkan kontrak

- Menjelaskan tujuan

pembelajaran

- Menyebutkan

materi/pokok bahasan

yang akan disampaikan

- Menjawab salam

- Peserta ingat

dengan kontrak

- Memperhatikan

- Kooperatif

peserta mengerti

tujuan

2

15 menit

Pelaksanaan

o Penyampaian

materi

o

- Menjelaskan materi

penyuluhan secara

berurutan dan teratur :

1. Menjelaskan

pengertian penyakit

Diare

2. Menjelaskan Tanda

dan Gejala penyakit

Diare

3. Menjelaskan

Penyebab penyakit

Diare

4. Menjelaskan

Akibat dari

penyakit Diare

5. Menjelaskan Proses

penyakit Diare

6. Menjelaskan Cara

penanganan pada

penyakit Diare

- Peserta

mendengarkan

penjelasan dari

perawat

- Peserta

memperhatikan

7. Menjelaskan

makanan yang baik

dikonsumsi pada

penyakit diare

3 8 menit

Evaluasi

- Meminta klien untuk

mejelaskan atau

menyebutkan kembali :

1. Penyabab dari

penyakit diare

2. Tanda dan gejala

dari penyakit diare

3. Penanganan dari

penyakit diare

- Memberikan pujian

atas keberhasilan klien

dalam menjawab.

- Persta mampu

menjawab

- Peserta terlihat

senang dan

tersenyum

4 2 menit Penutup

- Mengucapkan

trimakasih, kontrak

waktu kembali di lain

hari jika materi belum

selesai dan

mengucapkan salam

- Peserta

menjawab salam

10. Penyuluh : Sikhatun Khasanah

11. Isi materi : Terlampir

12. Evaluasi

1. Evaluasi persiapan

a. Materi sudah siap dan dipelajari sebelum ke RS

b. Media sudah siap sebelum ke RS

c. SAP sudah siap sebelum ke RS

d. Tempat sudah siap 2 jam sebelum pankes

2. Evaluasi proses

a. 75 % datang tepat waktu

b. Peserta memperhatikan penjelasan perawat

c. Peserta aktif bertanya dan memberikan pendapat

d. Media dapat digunakan secara efektif

3. Evaluasi hasil

a. Dapat menyebutkan kembali tentang penyebab penyakit diare

b. Dapat menyebutkan tanda dan gejala pada penyakit diare

c. Dapat menyebutkan hal-hal yang harus dilakukan dalam mencegah

timbulnya penyakit diare.

MATERI PENYULUHAN

1. Pengertian penyakit Diare

Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal

atau tidak seperti biasanya, ditandai dengan peningkatan volume, keenceran,

serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari dan pada neonatus lebih dari 4 kali

sehari dengan atau tanpa lender darah. Salah satu faktor yang mempengaruhi

kejadian diare yaitu susu formula (Hidayat, 2012)

2. Klasifikasi diare

Diare terbagi 2 , yaitu ;

1. Diare Akut

Diare yang terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari 3 -7 hari

pada bayi dan anak.

2. Diare kronik

Diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.

3. Penyebab penyakit Diare

Menurut Hasan dan Alatas (2010), diare disebabkan oleh beberapa faktor,

yaitu :

A. Faktor Infeksi

1. Bakteri :Vibrio, E.coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter,

Yersinia, Aeromonas.

2. Virus : Enteroovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus.

3. Parasit : Cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris, Strongyloides),

protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Trichomona s

hominis), jamur (Candida albicans).

B. Faktor Malabsopsi

1. Malabsorpsi karbohidrat, yaitu pada bayi kepekaan terhadap

lactoglobulis dalam susu formula menyebabkan diare. Gejalanya

berupa diare berat, tinja berbau sangat asam, sakit di daerah perut.

Jika sering terkena diare ini, pertumbuhan anak akan terganggu.

2. Malabsorpsi lemak, yaitu terdapat lemak dalam makanan yang

disebut triglyserida.Triglyseridadengan bantuan kelenjar lipase,

mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus. Jika

tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat

terjadi karena lemak tidak terserap dengan baik. Gejalanya adalah

tinja mengandung lemak.

3. Malabsorpsi protein, yaitu kesulitan penyerapan nutrisi dari makanan

yang mengandung protein.

C. Faktor makanan seperti makanan yang sudah basi, makanan yang

tercemar, terlalu banyak lemak, beracun, kurang matang, dan alergi

terhadap makanan.

4. Gejala dan Tanda penyakit Diare

Menurut Suraatmaja (2010), tanda dan gejala diare yaitu bab lebih

dari 3 kali, dengan konsistensi lembek, ada/tanpa darah. Gejala awal diare

adalah anak gelisah, menjadi cengeng, suhu tubuh meningkat, nafsu makan

berkurang atau tidak ada. Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan sesudah

diare. Hal tersebut dapat menyebabkan dehidrasi, karena banyak kehilangan

air dan elektrolit. Gejala muntah dapat timbul sebelum dan sesudah diare

dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan

keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila pasien telah banyak kehilangan

cairan dan elektrolit akhirnya tampak dehidrasi yaitu berat badan turun,

turgor kulit menurun, mata dan ubun–ubun cekung, selaput lendir dan mulut

ikut kering. Bila dehirasi berat maka volume darah akan berkurang dengan

demikian nadi akan cepat dan kecil, denyur jantung cepat, tekanan darah

menurun, kasadaran menurun yang akhirnya terjadi syok .

5. Akibat Penyakit penyakit Diare

Menurut Vivian (2010), diare dapat menyebabkan beberapa komplikasi

berikut:

1. Dehidrasi : ringan, sedang, dan berat.

2. Renjatan hipovolemik yaitu kejang akibat volume darah berkurang.

3. Hipokalemia yaitu kadar kalium dalam darah rendah dengan gejala

meteorismus (kembung perut karena pengumpulan gas secara

berlebihan dalam lambung dan usus), hipotonik otot, lemah,

bradikardi, perubahan pada elektrokardiogram.

4. Hipoglikemia yaitu kadar glukosa darah yang rendah.

5. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defesiensi enzim laktase

karena kerusakan vili mukosa usus halus.

6. Kejang terutama pada hidrasi hipotonik.

7. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah, penderita

juga mengalami kelaparan (masukan makanan berkurang,

pengeluaran bertambah).

6. Proses penyakit Diare

Menurut Muttaqin (2011), Peradangan pada gastroenteritis disebabkan

oleh infeksi dengan melakukan invasi pada mukosa, memproduksi

enterotoksin dan atau memproduksi sitotoksin. Mekanisme ini menghasilkan

peningkatan sekresi cairan dan menurunkan absorbsi cairan sehingga akan

terjadi dehidrasi dan hilangnya nutrisi dan elektrolit.

Menurut Diskin (2008) di buku Muttaqin (2011) adapun mekanisme dasar

yang menyebabkan diare, meliputi hal-hal sebagai berikut :

A. Gangguan osmotik, dimana asupan makanan atau zat yang sukar diserap

oleh mukosa intestinal akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga

usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam

rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus

untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

B. Respons inflamasi mukosa, pada seluruh permukaan intestinal akibat

produksi enterotoksin dari agen infeksi memberikan respons peningkatan

aktivitas sekresi air dan elektrolit oleh dinding usus ke dalam rongga

usus, selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga

usus.

C. Gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan

berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga

timbul diare, sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan

mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat

menimbulkan diare pula.

Dari ketiga mekanisme diatas menyebabkan :

1. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi yang mengakibatkan

gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik,

hipokalemia)

2. Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurang, pengeluaran

bertambah)

3. Hipoglekemia, gangguan sirkulasi darah.

7. Penanganan pada penyakit diare

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam penanggulangan diare

adalah masalah kehilangan cairan yang berlebihan (dehidrasi). Dehidrasi ini

bila tidak segera diatasi dapat membawa bahaya terutama bagi balita dan

anak-anak. Bagi penderita diare ringan diberikan oralit, tetapi bila dehidrasi

berat maka perlu dibantu dengan cairan intravena atau infus. Hal yang tidak

kalah penting dalam menanggulangi kehilangan cairan tubuh adalah

pemberian makanan kembali (refeeding) sebab selama diare pemasukan

makanan akan sangat kurang karena akan kehilangan nafsu makan dan

kehilangan makanan secara langsung melalui tinja atau muntah dan

peningkatan metabolisme selama sakit. (sitorus, 2008).

Apabila seseorang sudah mengalami diare, maka perlu dilakukan

treatment agar diare dapat segera berhenti. Berikut ini adalah beberapa

treatment untuk menanggulangi penyakit diare:

1. Rehidrasi yaitu dengan cara mengkonsumsi oralit. Minum cairan oralit

sebanyak mungkin penderita bisa meminumnya. Minum oralit tidak

perlu dalam jumlah banyak sekaligus, tetapi oralit diminum dalam

jumlah yang sedikit dan dengan frekuensi yang sering akan lebih baik

dilakukan. Satu bungkus oralit dilarutkan dalam 200 ml air matang.

Apabila oralit tidak tersedia, maka oralit bisa dibuat dengan cara

membuat larutan gula garam. Caranya yaitu dengan melarutkan dua

sendok teh gula pasir dan seujung sendok garam dapur ke dalam satu

gelas air matang. Rehidrasi juga dapat dilakukan dengan cairan

intravena terutama pada kasus dehidrasi yang berat atau shock.

2. Suplementasi zinc, yang berfungsi untuk mengurangi durasi diare

sampai 25% dan dapat mengurangi volume feses hingga 30%.

3. Mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat gizi, diutamakan bagi

pasien diare yang disebabkan karena malnutrisi.

4. Pemberian terapi farmakologik

1. Antibiotik

Menurut Suraatmaja (2007), pengobatan yang tepat terhadap

penyebab diare diberikan setelah diketahui penyebab diare

dengan memperhatikan umur penderita, perjalanan penyakit, sifat

tinja. Pada penderita diare, antibiotik boleh diberikan bila:

a. Ditemukan bakteri patogen pada pemeriksaan mikroskopik

dan atau biakan.

b. Pada pemeriksaan mikroskopik dan atau mikroskopik

ditemukan darah pada tinja.

c. Secara klinis terdapat tanda- tanda yang menyokong adanya

infeksi anteral.

d. Di daerah endemik kolera.

e. Neonatus yang diduga infeksi nosokomial. Antibiotik oral

yang dapat diberikan untuk disentri yaitu yang dianjurkan

untuk shigella:

2. Obat antipiretik

Menurut Suraatmaja (2007), obat antipiretik seperti preparat

salisilat (asetosal, aspirin) dalam dosis rendah (25mg/tahun/kali)

selain berguna untuk menurunkan panas sebagai akibat dehidrasi

atau panas karena infeksi, juga mengurangi sekresi cairan yang

keluar bersama tinja.

5. Pemberian zinc

Pemberian zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan

tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi Buang Air Besar

(BAB), mengurangi volume tinja, serta menurunkan kekambuhan

diare pada tiga bulan berikutnya (lintas diare, 2011).

6. Pemenuhan nutrisi

ASI dan makanan dengan menu yang sama saat anak sehat sesuai

umur tetap diberikan untuk mencegah kehilangan berat badan dan

sebagai pengganti nutrisi yang hilang. Adanya perbaikan nafsu makan

menandakan kesembuhan. Anak tidak boleh dipuasakan, makanan

diberikan sedikit-sedikit tapi sering (lebih kurang 6 x sehari), rendah

serat, buah-buahan diberikan terutama pisang (Hegar B. Dan

Handryastuti S., 2009).

8. Sebaiknya berikan makanan lunak ke anak agar sistem pencernaan anak

tidak terlalu bekerja keras untuk dapat mencerna makanan. Berikan anak

makanan seperti:

1. Pisang, dan buah-buahan lain

2. Nasi tim atau bubur nasi

3. Roti

4. Daging, ayam, ikan yang direbus atau dipanggang

5. Telur matang

6. Sayuran matang yang tidak mengandung banyak serat, seperti wortel

7. Kentang rebus atau panggang

8. Yogurt.

DAFTAR PUSTAKA

.

Alatas, Husein dan Hasan, Rusepno.Editor.2010. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan

Anak. Jilid I. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 1985.hal.283: 312.

Hidayat, A. A. (2012). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.

Jakarta:http://nursingbegin.com/askep-diare-anak/ di akses pada 11 Juni

2017 jam 21.00 wib.

Muttaqin, Arif. 2011. Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi asuhan keperawatan

Medikal Bedah. Jakata: Salemba Medika.

Nanny, Lia Dewi, Vivian. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta:

Salemba Medika.

Suraatmaja. (2010). Kapita Selekta Gastroenterologi Anak. Jakarta: Sagung Seto.

Suratmaja, Sudaryat. 2007.Kapita Selekta Gastroenterologi Anak.Denpasar: CV.

Sagung Seto.

Lampiran 8 : Intruksi kerja penilaian balance cairan

INTRUKSI KERJA

PENILAIAN BALANCE

CAIRAN

Nomor 21

Revisi ke 02

Tanggal berlaku 09092009

PENGERTIAN Penghitungan keseimbangan cairan masuk dan keluar tubuh

TUJUAN Mengetahui status cairan tubuh :

1. Mengetahui jumlah masukan cairan

2. Mengetahui keluaran cairan

3. Mengetahui balence cairan

4. Menentukan kebutuhan cairan

KEBIJAKAN Pasien dengan kecenderungan gangguan regulasi cairan

PETUGAS Perawat

PERALATAN 1. Alat tulis

2. Gelas ukur urin

PROSEDUR

PELAKSANA

A Tahap Pra Interaksi

1 Melakukan pengecekan program terapi

2 Mencuci tangan

B Tahap Orientasi

1 Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik

2 Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada

keluarga/klien

C Tahap Kerja

1 Membaca tasmiyah dan menghitung intake oral (minum)

2 Menghitung intake oral (makan)

3 Menghitung intake parenteral

4 Menghitung cairan metabolisme

5 Menghitung output urin

6 Menghitung output feses

7 Menghitung output abnormal (muntah, drain, perdarahan

dll)

8 Menghitung output IWL

9 Menghitung balence cairan

D Tahap Terminasi

1 Membaca tahmid dan berpamitan dengan klien dan keluarga

klien

2 Mengbereskan alat-alat

3 Mencuci tangan

4 Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

Daftar Pustaka Departemen Kesehatan RI, Dirjenyanmed, 1991. Prosedur

Perawatan Dasar, Direktorat Rumah Sakit Dan Pendidikan.

Potter, P.A., Perry, A.G., 1996, Fundamentals of Nursing,

St.Louis, Mosby Company.

Rider, j., et.al, 1995, Modules for Basic Nursing Skills,

Philadelphia, Lippincott.

Smeltzer, S.C., Bare,B.G.,2002, Keperawatan Medikal Bedah

Brunner dan Suddarth, Alih Bahasa: Monica Ester, EGC;

Jakarta

Sumber Team departemen basic skill of nursing/kebutuhan dasar

manusia.2009/2010.KETRAMPILAN DASAR KEPERAWATAN/

BASIC SKILL OF NURSING (KDM/BSN). Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Muhammadiyah Gombong

Lampiran 9 : Asuhan keperawatan penyakit diare

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN

GASTROINTESTINAL DI RUANGAN MELATI RUMAH SAKIT Dr.

SOEDIRMAN KEBUMEN

Tanggal masuk : 11-07-2017 jam 20.00 wib

Tanggal pengkajian : 11-07-2017 jam 20.30 wib

Nama pengkajian : Sikhatun khasanah

Ruangan : Melati

A. DATA SUBJEKTIF

a. Identitas klien

Nama : An.Aliya

Tanggal lahir : 06 november 2016

Umur : 8 bulan 4 hari

Jenis kelamin : Perempuan

BB : 7,2 kg

PB/TB : 60 cm

Alamat : Alian

Agama : Islam

Pendidikan :

Suku bangsa : Jawa

No RM : 351041

Diagnosa : GEA dehidrasi sedang

b. Identitas penanggung jawab

Nama : Ny.H

Umur : 24 th

Jenis kelamin : Perempuan

Pendidikan : SMP

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Hubungan : Ibu kandung

c. Keluhan utama : BAB cair dan berlendir.

d. Riwayat kesehatan

1. Riwayat kesehatan sekarang

Ibu klien mengatakan sebelum dibawa kerumah sakit kurang lebih 2

hari mengalami mencret, dalam satu hari lebih dari 6x cair dan

berlendir dan muntah selama dua hari kurang lebih 5x. Pasien datang

kerumah sakit dengan rujukan dari rumah sakit wijaya kusuma dengan

gangguan GEA dehidrasi dan vomitus dan disarankan untuk di

lakukan pemberian cairan serta dilakukan rawat inap. Saat di IGD

pasien di berikan cairan infus KAEN 32tpm, pasien muntah 1x saat

setelah diberikan ASI. BAB pasien saat di IGD sampai di bawa ke

ruangan pasien baru di ganti diapers sebanyak 4x dengan konsistensi

cair dan berlendir, BAB dan BAK di dalam diapers.

2. Riwayat kesehatan dahulu

Ibu klien mengatakan An. AL sebelumnya belum pernah mengalami

atau menderita diare dan baru kali ini dirawat dirumah sakit karena

penyakit diare.

3. Riwayat Kesehatan Keluarga

Saat pengkajian diperoleh data bahwa anggota keluarga klien yaitu

dari ibu pernah mengalami penyakit diare kurang lebih 1 minggu yang

lalu tetapi tidak sampai dirawat dirumah sakit.

4. Riwayat kehamilan dan persalinan

a. Pre natal : saat hamil ibu sering memeriksakan kehamilannya pada

bidan mendapat imunisasi TT 1x, vitamin dan penambahan darah

serta ibu klien mengatakan merupakan anak pertama dan belum

pernah mengalami keguguran sebelumnya.

b. Riwayat persalinan : An. AL lahir dengan BB 2500 gram, panjang

badan 46 cm lahir dengan normal dirumah bersalin di bantu oleh

bidan desa dengan umur kehamilan 9 bulan.

c. Post natal : tidak ada kelainan pada An. AL setelah kelahiran,

anggota tubuh lengkap, anus ada, genitalia ada.

5. Riwayat imunisasi

Keluarga mengatakan anak sudah mendapat imunisasi HB 0,BCG,

DPT I,II,III, polio I,II,III,IV, MMR.

6. Riwayat tumbuh kembang

Pertumbuhan : Berat badan saat ini 7,2 kg, gigi klien sudah

tumbuh depan dan bawah 4 di tambah samping atas 1 buah.

Perkembangan : Anak sudah bisa belajar tengkurap sendiri, dapat

menggeleng-gelengkan kepala, bisa memegang roti serta

memasukanya sendiri, bisa mengungkapkan rasa gembira atau

sedihnya dengan berteriak dan lain-lain sesuai pengkajian KPSP umur

6 bulan.

7. Genogram

8. Kebutuhan cairan

Hasil Penghitungan Balance Cairan An. AL mulai dari tanggal 12-14

Juli 2017

Tanggal Input Output Balance Cairan

12-07-2017 Minum+ ASI

330cc

Infus 224cc

Antibiotik 1.8cc

Total 555.8cc

Diapers 420cc

IWL 63cc

Total 483cc

BC=Input-

Output

BC=555.8-483

BC=72.8cc/7

jam

13-07-2017

Minum+ASI

153.7cc

Infus 224cc

Diapers 320cc

IWL 63cc

Total 383cc

BC=Input-

Output

BC=379.5-383

Antibiotik 1.8cc

Total 379.5cc

BC=-3.5cc/7

jam

14-07-2017 Minum+ASI

135cc

Infus 224cc

Antibiotik 1cc

Total 360cc

Diapers 240cc

IWL 63cc

Total 303cc

BC=Input-

Output

BC=360-303

BC=57cc/7 jam

9. Kebutuhan kalori

Rumus : BB x 100

: 7,2 x 100

: 720 kkal

10. Pola pengkajian gordon

a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan

Keluarga klien mengatakan bahwa kesehatan sangatlah penting

khususnya An. AL karena masih balita. Saat mengetahui anaknya

mengalami mencret, muntah serta demam klien langsung dibawa

ke dokter terdekat, kelurga juga mengatakan saat membersihkan

BAB pada klien yaitu dengan air hangat atau tissu basah serta

gerakan dimulai dari belakang kedepan.

b. Pola Nutrisi dan Metebolik

Sebelum sakit An. AL makan sesuai porsi yang diberikan oleh

ibunya 3x/hari selalu habis dan terkadang lebih, jenisnya nasi yang

dihaluskan, kuah sayuran,lauk dan ASI. Selama sakit An. AL rasa

haus meningkat, An. AL hanya mau minum ASI sehari kurang

lebih 5x, serta air putih 3 botol dot ukuran 60 ml dan tidak nafsu

makan.

c. Pola Eliminasi

Sebelum sakit ibu pasien mengatakan pasien BAB sehari kurang

lebih 3x dengan konsistensi lembek warna kuning bau khas, BAK

sehari kurang lebih 5x dengan warna kuning bau khas. Saat sakit

Ibu klien mengatakan An. AL 2 hari SMRS mengalami diare

kurang lebih 5x BAB cair tidak bercampur darah, muntah pada

hari 2 SMRS kurang lebih 3x. Saat diruangan An. A BAB lebih

dari 5x dengan konsistensi cair dan terdapat lendir dan sudah ganti

diapers selama 4x, dengan berat 500 c. Untuk BAK An. AL tidak

terkaji karena di pasang diapers.

d. Pola Aktivitas dan Latihan

Sebelum sakit klien sangat aktif jarang terlihat rewel, pasien juga

sering bermain di lantai dan selama sakit klien banyak tidur di

dampingi oleh ibunya, klien terlihat lemas, sering rewel klien

jarang keluar dari ruangan, ketika jenuh An. AL minta untuk

digendong oleh ibu atau neneknya di dalam ruangan.

e. Pola Istirahat dan Tidur

Sebelum sakit An. AL tidur sehari kurang lebih 8-9 jam selalu

nyenyak tidak ada gangguan, bangun hanya ketika haus dan lapar,

selama sakit klien mengalami gangguan dalam tidurnya karena

terpasang selang infus dan sakit pada perutnya.

f. Pola Persepsi dan Kognitif

Klien tidak ada keluhan yang berkenaan dengan kemampuan

sensasi yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan

maupun sensasi perubahan. Klien juga tidak menggunakan alat

bantu pendengaran maupun alat bantu penglihatan. Ibu klien

mengatakan tinggal di daerah pegunungan jarak antara rumah

dengan tetangga sangat dekat, air yang digunakan untuk sehari-

hari yaitu dengan air sumur.

g. Pola Hubungan / Peran

Keluarga mengatakan An.AL hanya bisa menangis dan sering

rewel ketika merasa lapar dan sakit. pada saat pengkajian An.AL

terlihat tenang saat di pengang pipinya, dan selalu menangis ketika

di berikan obat lewat selang infus

h. Pola Reproduksi dan Seksual

An. AL berjenis kelamin perempuan dengan umur 8 bulan 4 hari,

tidak ada gangguan diorgan reproduksinya. Keluarga klien juga

mengatakan bahwa anakanya adalah anak pertama keluarga sangat

mencemasakan kondisi An. AL terutama neneknya karena

mencret terut-menerus.

i. Pola Persepsi dan Konsep Diri

Ibu An. AL mengatakan bahwa anaknya mengalami ketakutan saat

melihat orang yang baru dikenal, Setiap dilakukan tindakan

keperawatan pada An. AL selalu menangis terutama ketika

melihat orang yang memakai baju putih-putih.

j. Pola Mekanisme Koping

An. AL ketika merasa takut hanya melihat petugas perawat yang

merawatnya sambil menangis dan minta di gendong oleh ibu atau

neneknya.

k. Pola Nilai Kepercayaan / keyakinannya

Keluarga An.AL beragama islam dan Alhamdullilah dalam

keluarga klien tidak ada keyakinan / kebudayaan yang

bertentangan dengan kesehatan maupun dalam pengobatan yang

dijalani.

B. DATA OBJEKTIF

Pengkajian Fisik

1. Penampilan / keadaan umum : Klien terlihat lemas

2. Tingkat kesadaran : Composmetis

3. Tanda – tanda vital

Suhu : 37 0C

Respirasi rate: 18 x /menit

Nadi : 99 x/menit

4. Pengukuran Autopometri

Berat Badan : 7,2 kg

Tinggi Badan : 60 cm

1. Kepala : Bentuk mesochepal, tidak ada benjolan, ubun-ubun

normal.

Rambut : Hitam, bersih, bau wangi

Mata : Tidak Cekung, konjungtiva anemis, tidak ada

sedikit secret dan air mata tidak kering.

Hidung : Tidak ada sekret, tidak memakai selang oksigen

dan NGT.

Telinga : Kemampuan mendengar normal, simetris tubuh,

tidak ada nyeri, tidak ada sekret / pembengkakan

Mulut : Selaput mukosa lembab, gigi baru keluar 5, 4 di

depan atas bawah dan satu di samping kanan atas.

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan

peningkatan JVP

2. Dada dan Thoraks : pergerakan dada dan thorak seimbang, tidak

nampak penggunaan otot bantu pernafasan

5. Abdomen

Inspeksi : Kembung, tidak ada luka, bentuk simetris

Auskultasi : Bising usus > 30 x /menit

Palpasi : Terdapat nyeri tekan

Perkusi : Hipertimpani

6. Genital : Tidak menggunakan kateter serta tidak mengalami

iritasi pada daerah pantat

7. Anal : Ada kemerahan.

8. Ekstremitas : Kuku bersih, turgor kulit normal, akral hangat,

capilary refill time < 2 detik, untuk mobilitas dan

keamanan (koordinasi otot,pergerakan tubuh) di

semua ekstremitas baik, terpasang infus KAEN di

lengan kanan dengan 32 tpm

9. Data penunjang

1. Laboratorium 11-07-2017 jam 18:54

Pemeriksaan Hasil satuan Normal

Hemoglobin 9,2 gr/dl 10.5 -12.5

Hematokrit 30 % 35.0-43.0

Leukosit 13.3 10^3/ul 6.00-17.50

Trombosit 457 10^3/ul 229-553

Erytrosit 4.9 10^6/ul 3.60-5.20

MCV 62 fL 74.00-106.000

MCH 19 pg 21.00-33.00

MCHC 31 g/dl 28.00-32.00

SERO IMUNOLOGI

Widal

S.TYPHI O Negatif Negatif

S.TYPHI H Negatif Negatif

S. PARATYPHI O – A Negatif Negatif

S. PARATYPHY O - B Negatif Negatif

2. Pemeriksaan fese 12-07-2017 jam 10.37

Pemeriksaan Hasil satuan Nilai rujukan

Makroskopis

Warna hijau

Konsistensi lembek lunak

Eritrosit 0-1 negatif

Leokosit 0-1/1pb negatif

Mikroskopis

Bakteri negatif negatif

Telur cacing negatif negatif

Epitel feses negatif negatif

Amuba negatif negatif

Pencernaan

Serat otot negatif negatif negatif

Lemak negatif negatif

Amilun negatif negatif

3. Diet : rendah serat, nasi lunak

4. Therapy

Infus KAEN 3B 32 tpm

Ceftriaxson 2x180 mg

Antasid 2x1/3 cth

Sanmol 3x1/3 cth

Puyer zink

ANALISA DATA

NO TANGGAL

/ JAM

DATA PROBLEM ETIOLOGI

1 11-07-17

jam 20.30

wib

DO :

- Ibu klien mengatakan An.

AL mencret ± 2 hari dan

dalam satu hari mencret

lebih dari 5 kali cair.

- Saat di kaji pasien BAB

sebanyak kurang lebih 5x

dengan konsistensi cair dan

berlendir.

- Ibu klien mengatakan

anaknya sering meminta

minum ASI maupun air

putih

DO :

- Akral hangat

- Pasien sering rewel

- Pasien terlihat lemas

- TTV: Suhu : 37 0C, RR: 18

x /menit, Nadi :99 x/menit

Defisit volume

cairan

Kehilngan

cairan

sekunder

terhadap

diare.

2 11-07-17

jam 20.30

wib

DS :

- Keluarga mengatakan

pengetahuan tentang

penyakit diare masih

kurang terutama pada

penanganan saat

dirumah, tanda dan gejala

serta penyebab dari

penyakit diare

DO :

- Jawaban dari kuisoner

yang diberikan pada

peneliti keluarga hanya

mendapat scor 5 dari 14

pertanyaan.

- Kriteria kuisoner

keluarga An.AL

pengetahuan tentang

penyakit diare masih

sanagat rendah.

Defisit

pengetahuan

Kurangnya

informasi

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Defisit volume cairan b.d Kehilngan cairan sekunder terhadap diare.

2. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi

INTERVENSI KEPERAWATAN

Tanggal /

Jam

Dx Kriteria Hasil Intervensi TTD

11-07-2017

jam 21.00

1 Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama 3x7 jam

Fluid managemen :

1. monitor TTV

wib diharapkan masalah

keperawatan defisit volume

cairan dapat diatasi dengan

kriteria hasil sebagai berikut :

Elektrolit and acid base

balance

Indikator IR ER

1. keadaan

umum baik

2. klien tidak

merasa

haus

berlebihan

3. rewel

berkurang

4. BAB

dalam

keadaan

normal

2

2

2

2

4

4

4

4

2. Kaji tanda – tanda

Dehidrasi ( seperti

mukosa bibir kering,

penurunan turgor

kulit, bola mata

cekung)

3. monitor intake dan

output cairan untuk

menghitung balance

cairan

4. Anjurkan klien

untuk minum setelah

BAB, minum yang

banyak

5. Kolaborasi dengan

dokter dalam

pemberian atau

pemantauan cairan

infus dan pemberian

obat.

11-07-2017

jam 21.00

wib

2 Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama 2x7 jam

diharapkan masalah

keperawatan defisit

pengetahuan dapat diatasi

dengan kriteria hasil sebagai

berikut :

Disease proses

Indikator IR ER

Teaching proses

1. Memberikan

penilaian berupa

kuisoner tentang

pengetahuan orang

tua terhadap

penyakit diare

2. Memberikan

penyuluhan berupa

pankes tentang

1. Keluarga

klien dapat

memahami

tentang

penyakit

diare

terutama

penanganan,

tanda gejala

terta

penyebab

dari diare

2

5

penyakit diare

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Tgl/jam Dx Implementasi Respon Ttd

12-07-2017

jam 09.30

wib

Jam 10.00

wib

Jam 10.30

1

1

2

Melakukan pemeriksan

tanda-tanda dehidrasi

Memberikan obat

ceftriaxson

Memberikan lembaran

S : ibu pasien mengatakan

anaknya sering rewel dan

terlihat lemas serta sering

meninta ASI terkadang air

putih minum meningkat

O : adanya peningkatan

rasa haus dan pasien

terlihat lemas dan rewel

S :-

O : di berikan obat

ceftriaxson 2x180 mg

melalui injeksi selang

infus, pasien menangis

saat diberikan obat.

S : keluarga pasien

wib

Jam 11.00

wib

Jam 12.30

wib

1

1

kuisoner kepada keluarga

pasien

Melakukan pengukuran

tanda-tanda vital pasien

Mencatat intake dan aoutput

cairan pada pasien

mengatakan sangat senang

jika diadakan penyuluhan

tentang penyakit diare.

O : keluarga pasien sangat

antusias menunggu untuk

diadakan penyuluhan dan

terlihat senang.

S :-

O : nadi 99x/menit, suhu

37 0C, respirasi rate

23x/menit

S : keluarga mengatakan

hari ini BAB dan BAK di

dalam diapers dan baru di

ganti sebanyk 4x, minum

air putih sebanyak 3x

dengan botol ukuran 60ml

dan ASI sebanyak 5x.

O : cairan infus 224cc,

antibiotik 1.8cc,

minum+ASI 330cc,

diapers 420cc, IWL 63cc,

BC 72.8cc/7 jam,

kebutuhan cairan 210cc/7

jam.

13-07-2017

jam 10.00

wib

Jam 11.30

wib

1

1

Memberikan obat

ceftriaxson

Mengukur tanda-tanda vital

S :-

O : obat ceftriaxson 2x180

mg di berikan lewat selang

infus.

S :-

O : nadi 132x/menit, suhu

Jam 13.00

wib

Jam 14.30

wib

1

2

Mengukur intek dan output

cairan pasien

Melakukan penyuluhan

tentang penyakit diare

36,8 0C, respitaroti rate

38x/menit.

S : keluarga pasien

mengatakan, pasien BAB

maupun BAK di dalam

diapers dan baru di ganti

sebanyak 3x, minum air

putih sebanyak 60ml, ASI

sebanyak 8x.

O : ASI+minum 153.7cc,

diapers 320cc, IWL 63cc,

infus 224cc, antibiotik

1.8cc. hasil balance cairan

-3.5cc/7 jam, kebutuhan

cairan 210cc/7 jam.

S : keluarga pasien

mengatakan sangat senang

dengan adanya penyuluhan

tentang penyakit diare

seperti ini.

O : keluarga pasien terlihat

senang, sangat kooperatif

dan terlihat antusias dalam

mengikuti jalannya

kegiatan

14-07-2017

jam 10.00

wib

Jam 11.30

wib

1

1

Memberikan obat

ceftriaxson

Mengukur tanda-tanda vital

S :-

O : obat ceftriaxson 2x180

mg di berikan lewat selang

infus.

S :-

O : nadi 120x/menit, suhu

Jam 13.00

wib

1

Mengukur intek dan output

cairan pasien

36,4 0C, respitaroti rate

39x/menit.

S : keluarga pasien

mengatakan, pasien BAB

maupun BAK di dalam

diapers dan baru diganti

sebanyak 3x, minum air

putih 60ml, ASI sebanyak

kurang lebih 10x.

O : cairan infus 224cc,

diapers 240cc, antibiotik

1cc, IWL 63cc,

minum+ASI 135cc,

balance cairan 57cc/7 jam,

kebutuhan cairan 210cc/7

jam

EVALUASI KEPERAWATAN

Tanggal /

Jam Dx SOAP

TTD

12-07-2017

jam 14.00

wib

1

S :

- ibu klien mengatakan anaknya masih mengalami

diare, diare hari ini kurang lebih dari 5x encer dan

berlendir, tidak mengalami muntah

- Ibu klien mengatakan anaknya sangat lahap untuk

minum terutama minum ASI dan air putih

O :

- Sering rewel, sering minum dan terlihat lemas

- Suhu : 37 0C, RR: 18 x /menit, Nadi :99 x/menit

- BC 72.8cc/7 jam

A : masalah defisit volume cairan belum teratasi

P : lanjutkan intervensi

1. monitor TTV

2. Kaji tanda – tanda Dehidrasi ( seperti mukosa bibir

kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung)

3. monitor intake dan output cairan untuk menghitung

balance cairan

4. Anjurkan klien untuk minum setelah BAB, minum

yang banyak

5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian atau

pemantauan cairan infus dan pemberian obat.

12-07-2017

jam 14.00

wib

2

S : Keluarga mengatakan pengetahuan tentang penyakit

diare masih kurang terutama pada penanganan saat

dirumah, tanda dan gejala serta penyebab dari penyakit

diare

O :

- Keluarga pasien sudah di berikan lembaran kuisoner

tentang penyakit diare

- Jawaban dari kuisoner yang diberikan pada peneliti

keluarga hanya mendapat scor 5 dari 14 pertanyaan.

- Kriteria kuisoner keluarga An.A pengetahuan tentang

penyakit diare masih sanagat rendah.

A : masalah defisit keperawatan belum teratasi

P : lanjutkan intervensi

1. Memberikan penyuluhan tentang penyakit diare

13-07-2017

jam 14.00

wib 1

S :

- ibu klien mengatakan anaknya masih mengalami

diare, diare hari ini 4x encer dan sedikit berampas,

tidak mengalami muntah

- Ibu klien mengatakan anaknya sangat lahap untuk

minum terutama minum ASI dan air putih

O :

- Keadaan sudah tidak lemas

- Sering rewel, sering minum

- BC -3.5cc/7 jam

- Suhu : 36,8 0C, RR: 38 x /menit, Nadi : 132

x/menit

A : masalah defisit volume cairan belum teratasi

P : lanjutkan intervensi

1. monitor TTV

2. Kaji tanda – tanda Dehidrasi ( seperti mukosa bibir

kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung)

3. monitor intake dan output cairan untuk menghitung

balance cairan

4. Anjurkan klien untuk minum setelah BAB, minum

yang banyak

5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian atau

pemantauan cairan infus dan pemberian obat.

13-07-2017

jam 14.00

wib

2

S : Keluarga mengatakan pengetahuan tentang penyakit

diare bertambah seletalh dilakukan penyuluhan tentang

penyakit diare terutama tentang penangan, tanda dan

gejala serta penyebab dari penyakit diare.

O : keluarga klien sudah di berikan penyuluhan tentang

penyakit diare

A : masalah defisit keperawatan teratasi

P : hentikan intervensi

14-07-2017

jam 14.00

wib

1 S :

- ibu klien mengatakan anaknya sudah tidak

mengalami diare, BAB berbentuk ampas dan

lembek

- Ibu klien mengatakan sampai saat ini anaknya

masih sangat lahap untuk minum ASI dan air

putih

O :

- BAB pasien lembek dan berampas

- Keadaan umum baik, dan tidak rewel

- Sering minum

- Suhu : 36,4 0C, RR: 39 x /menit, Nadi : 120

x/menit

- BC 57cc/7 jam

A : masalah defisit volume cairan teratasi

P : hentikan intervensi

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN

GASTROINTESTINAL DI RUANGAN MELATI RUMAH SAKIT Dr.

SOEDIRMAN KEBUMEN

Tanggal masuk : 12-07-2017 jam 17.32 wib

Tanggal pengkajian : 13-07-2017 jam 08.00 wib

Nama pengkajian : Sikhatun khasanah

Ruangan : Melati

A. DATA SUBJEKTIF

a. Identitas klien

Nama : An.Aninda

Tanggal lahir : 05 oktober 2014

Umur : 3 thn 2 bulan 6 hari

Jenis kelamin : Perempuan

BB : 15 kg

PB/TB : 60 cm

Alamat : Kebumen

Agama : Islam

Pendidikan : Paud

Suku bangsa : Jawa

No RM : 351180

Diagnosa : GEA

b. Identitas penanggung jawab

Nama : Ny.M

Umur : 30 th

Jenis kelamin : Perempuan

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Hubungan : Ibu kandung

c. Keluhan utama : BAB cair,berlendir dan bercampur darah lebih dari

4x.

d. Riwayat kesehatan

1. Riwayat kesehatan sekarang

Ibu pasien mengatakan sejak 12 jam SMRS pasien mengalami

mencret bercampur darah kurang lebih 5x, disertai demam dan

kejang-kejang kurang lebih 1 jam. Saat dikaji klien mengalami

menceret lebih dari 4x cair,berlendir serta bercampur darah sedikit,

tidak mengalami muntah.

2. Riwayat kesehatan dahulu

Ibu pasien mengatakan An. AN sebelumnya pernah mengalami diare

pada umur 2 tahun tetapi tidak sampai parah seperti saat ini.

3. Riwayat Kesehatan Keluarga

Saat pengkajian diperoleh data bahwa anggota keluarga pasien yaitu

dari ibu kandungnya pernah mengalami penyakit diare tetapi tidak

bercampur darah, sembuh ketika minum obat dari puskesmas terdekat.

4. Riwayat kehamilan dan persalinan

a. Pre natal : Saat hamil ibu sering memeriksakan kehamilannya pada

bidan mendapat imunisasi TT 1x, vitamin dan penambahan darah

serta ibu pasien mengatakan merupakan anak kedua dan belum

pernah mengalami keguguran sebelumnya.

b. Riwayat persalinan : An. AN lahir dengan BB 3300 gram, panjang

badan saat lahir lupa, persalinan normal dirumah bersalin di bantu

oleh bidan desa dengan umur kehamilan 9 bulan.

c. Post natal : Tidak ada kelainan pada An. AN setelah kelahiran,

anggota tubuh lengkap, anus ada, genitalia ada.

5. Riwayat imunisasi

Keluarga mengatakan anak sudah mendapat imunisasi HB 0,BCG,

DPT I,II,III, polio I,II,III,IV, MMR, campak

6. Riwayat tumbuh kembang

Pertumbuhan : Berat badan saat ini 15 kg, klien tumbuh dengan

normal sesuai usia 3 tahun

Perkembangan : Anak sangat aktif bertanya, rasa ingin tahu sangat

besar, sudah bisa di ajak bicara dengan satu arah, sudah bisa

menggambar, bisa menyebutkan nama-nama buah dan dapat naik

sepeda dengan roda tiga.

7. Genogram

8. Kebutuhan cairan

Hasil Penghitungan Balance Cairan An. AN mulai dari tanggal 13-15

Juli 2017

Tanggal Input Output Balance Cairan

13-07-2017 Minum 300cc

Infus 105cc

Antibiotik 4.4cc

Total 409.4cc

Diapers 470cc

IWL 117,2cc

Total 587.2cc

BC=Input-

Output

BC=409.4-587.2

BC=-177.8cc/7

jam

14-07-2017 Minum 200cc

Infus 105cc

Antibiotik 7.2cc

Total 312.5cc

Diapers 240cc

IWL 117,2cc

Total 357.2cc

BC=Input-

Output

BC=312.5-357.2

BC=-44.7cc/7

jam

15-07-2017 Minum 500cc

Makan 50cc

Total 550cc

Diapers 335cc

IWL 117,2cc

Total 452,2cc

BC=Input-

Output

BC=550-452.2

BC=97.8cc/7

jam

9. Kebutuhan kalori

Rumus : 1000 + 50 (BB-10)

: 1000 + 50 (15-10)

: 1000 + 50.5

: 1250 kkal

10. Pola pengkajian gordon

1. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan

Keluarga pasien mengatakan selama diare dirumah keluarga tidak

memberikan penanganan untuk mencegah diare, keluarga

beranggapan bahwa diare bisa sembuh sendiri dengan obat dari

bidan.

2. Pola Nutrisi dan Metebolik

Sebelum sakit An. AN makan sesuai porsi yang diberikan oleh

ibunya 3x/hari selalu habis dan terkadang lebih, jenisnya nasi yang

dihaluskan, kuah sayuran,lauk dan klien sering minum susu

formula sehari bisa habis 5 botol sedang. Selama sakit An. AN

rasa haus meningkat An. AN hanya mau minum air putih

terkadang teh sehari kurang lebih 3 gelas, pasien tidak suka susu

yang diberikan oleh rumah sakit dan tidak nafsu makan

3. Pola Eliminasi

Ibu pasien mengatakan sebelum di bawa kerumah sakit An. A N

mengalami diare bercampur darah kurang lebih 5x. selama sakit

An. A BAK dan BAB lebih dari 5x dengan konsistensi cair,

terdapat lendir dan bercampur darah sudah di ganti diapers

sebanyak 4x.

4. Pola Aktivitas dan Latihan

Sebelum sakit pasien sangat aktif jarang terlihat rewel dan selama

sakit pasien banyak tiduran di tempat tidur dan selalu minta

didampingi oleh ibunya, pasien terlihat lemas, sering rewel pasien

jarang keluar kamar, ketika jenuh An. AN hanya bemain gime dari

HP ibunya.

5. Pola Istirahat dan Tidur

Sebelum sakit An. AN tidur selalu nyenyak tidak ada gangguan,

hari tidur kurang lebih 8-9 jam. Selama sakit pasien mengalami

gangguan dalam tidurnya rewel merasa perut terasa sakit selalu

menangis, tidur siang kurang lebih 2-3 jam dan tidur malam

kurang lebih 7-9 jam.

6. Pola Persepsi dan Kognitif

Pasien tidak ada keluhan yang berkenaan dengan kemampuan

sensasi yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan

maupun sensasi perubahan. Pasien juga tidak menggunakan alat

bantu pendengaran maupun alat bantu penglihatan. Ibu pasien

mengatakan jika hendak mencuci botol susu anaknya hanya di

cuci dengan air kran mengalir dan dianggapnya sudah bersih.

7. Pola Hubungan / Peran

Keluarga mengatakan An.AN sangat dekat dengan kakaknya pada

saat pengkajian An.AN terlihat lemas pasien hanya ingin selalu

dekat dengan ibunya.

8. Pola Reproduksi dan Seksual

An. AN berjenis kelamin perempuan dengan umur 3 th 2 bulan 4

hari, tidak ada gangguan diorgan reproduksinya. Keluarga pasien

juga mengatakan bahwa anakanya adalah anak kedua keluarga

sangat mencemasakan kondisi An. AN saat ini karena baru kali ini

anak mengalami diare bercampur darah sertai demam dan kejang.

9. Pola Persepsi dan Konsep Diri

Ibu An. AN mengatakan bahwa anaknya mengalami ketakutan

saat melihat orang, karena trauma di pasang infus dan di berikan

obat setiap dilakukan tindakan keperawatan pada An. AN selalu

menangis merasa takut ketika melihat orang yang memakai baju

putih-putih.

10. Pola Mekanisme Koping

An. AN ketika merasa takut klien langsung memeluk ibunya

sambil menangis.

11. Pola Nilai Kepercayaan / keyakinannya

Keluarga An.AN beragama islam dan Alhamdullilah dalam

keluarga klien tidak ada keyakinan / kebudayaan yang

bertentangan dengan kesehatan maupun dalam pengobatan yang

dijalani.

B. DATA OBJEKTIF

Pengkajian Fisik

1. Penampilan / keadaan umum : Klien terlihat lemas

2. Tingkat kesadaran : Composmetis

3. Tanda – tanda vital

Suhu : 37 0C

Respirasi rate: 23 x /menit

Nadi : 100 x/menit

4. Pengukuran Autopometri

Berat Badan : 15 kg

Tinggi Badan : 85 cm

5. Kepala : Bentuk mesochepal, tidak ada benjolan, ubun-ubun

normal

Rambut : Hitam, bersih

Mata : Tidak cekung, konjungtiva anemis, tidak ada

sedikit secret dan air mata tidak kering.

Hidung : Tidak ada sekret, tidak memakai selang oksigen

dan NGT

Telinga : Kemampuan mendengar normal, simetris tubuh,

tidak ada nyeri, tidak ada sekret / pembengkakan

Mulut : Selaput mukosa lembab

Leher :Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan

peningkatan JVP

6. Dada dan Thoraks : Pergerakan dada dan thorak simetris, tidak

nampak penggunaan otot bantu pernafasan

7. Abdomen

Inspeksi : Kembung, tidak ada luka, bentuk simetris

Auskultasi : Bising usus > 20 x /menit

Palpasi : Terdapat nyeri tekan

Perkusi : Hipertimpani

8. Genital : Tidak menggunakan kateter serta tidak mengalami

iritasi pada daerah pantat

9. Anal : Tidak mengalami kemerahan.

10. Ekstremitas : Kuku bersih, turgor kulit normal, akral hangat,

capilary refill time < 2 detik, untuk mobilitas dan keamanan (koordinasi

otot,pergerakan tubuh) di semua ekstremitas baik, terpasang infus asering

di lengan kanan 15tpm.

11. Data penunjang

a. Laboratorium 12-07-2017 jam 14:54 wib

Pemeriksaan Hasil satuan Normal

Hemoglobin 13.0 gr/dl 10.5 -12.5

Hematokrit 39 % 35.0-43.0

Leukosit 21.4 10^3/ul 6.00-17.50

Trombosit 365 10^3/ul 229-553

Erytrosit 5.1 10^6/ul 3.60-5.20

MCV 76 fL 74.00-106.000

MCH 26 pg 21.00-33.00

MCHC 33 g/dl 28.00-32.00

SERO IMUNOLOGI

Gula Darah Sewaktu 146 mg/dl 80-110

Widal

S.TYPHI O Negatif Negatif

S.TYPHI H Negatif Negatif

S. PARATYPHI O – A Negatif Negatif

S. PARATYPHY O - B Negatif Negatif

12. Diet : Rendah serat, nasi lunak

13. Therapy

Infus asering 15 tpm

Paracetamol 4x170 mg

Phenitoin 3x30 mg

Ampicilin 4x375 mg

Diazepam 4 mg

L-Bio 2x1/2 snc

Zink 1x20

Oralit 100cc/BB

ANALISA DATA

NO TANGGAL

/ JAM

DATA PROBLEM ETIOLOGI

1 11-07-17

jam 20.30

wib

DO :

- Ibu pasien mengatakan An.

AN mencret lebih dari 5 kali

cair.

- Ibu pasien mengatakan

anaknya sering meminta

minum

DO :

- Akral hangat

- Pasien sering rewel

- Pasien terlihat lemas

- Leukosit 21.4 10^3/ul

- TTV

Suhu : 370C, RR: 23x

/menit, Nadi :100 x/menit

Defisit volume

cairan

Kehilngan

cairan

sekunder

terhadap

diare.

2 11-07-17

jam 20.30

wib

DS :

- Keluarga mengatakan

pengetahuan tentang

penyakit diare masih

kurang terutama pada

penanganan saat

dirumah, tanda dan gejala

serta penyebab dari

penyakit diare

DO :

- Jawaban dari kuisoner

yang diberikan pada

Defisit

pengetahuan

Kurangnya

informasi

peneliti keluarga hanya

mendapat scor 7 dari 14

pertanyaan.

- Kriteria kuisoner

keluarga An.AN

pengetahuan tentang

penyakit diare masih

sanagat rendah.

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN

3. Defisit volume cairan b.d Kehilngan cairan sekunder terhadap diare.

4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi

INTERVENSI KEPERAWATAN

Tanggal /

Jam

Dx Kriteria Hasil Intervensi

12-07-2017

jam 08.30

wib

1 Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama 3x7 jam

diharapkan masalah keperawatan

defisit volume cairan dapat diatasi

dengan kriteria hasil sebagai

berikut :

Elektrolit and acid base balance

Indikator IR ER

Fluid managemen :

6. monitor TTV

7. Kaji tanda – tanda

Dehidrasi ( seperti

mukosa bibir kering,

penurunan turgor kulit,

bola mata cekung)

8. monitor intake dan

output cairan untuk

menghitung balance

cairan

9. Anjurkan klien untuk

minum setelah BAB,

minum yang banyak

14. keadaan

umum

baik

15. klien

tidak

merasa

haus

berlebiha

n

16. rewel

berkuran

g

17. BAB

dalam

keadaan

normal

2

2

2

2

4

4

4

4

10. Kolaborasi dengan

dokter dalam

pemberian atau

pemantauan cairan

infus dan pemberian

obat.

12-07-2017

jam 08.30

wib

2 Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama 2x7 jam

diharapkan masalah keperawatan

defisit pengetahuan dapat diatasi

dengan kriteria hasil sebagai

berikut :

Disease proses

Indikator IR ER

Teaching proses

18. Memberikan penilaian

berupa kuisoner

tentang pengetahuan

orang tua terhadap

penyakit diare

19. Memberikan

penyuluhan berupa

pankes tentang

penyakit diare

2. Keluarga

klien dapat

memahami

tentang

penyakit

diare

terutama

penanganan,

tanda gejala

terta

penyebab

dari diare

2

5

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Tgl/jam Dx Implementasi Respon

13-07-2017

jam 08.30

wib

Jam 10.00

wib

1

1

Melakukan pemeriksaan tanda-

tanda dehidrasi

Memberikan obat parasetamol,

ampicilin,

S : ibu pasien mengatakan

anaknya sering rewel dan

terlihat lemas serta sering

meninta air putih minum dan

terkadang teh hangat

O : adanya peningkatan rasa

haus dan pasien terlihat lemas

dan rewel, mata tidak cekung,

turgor kulit baik.

S :-

O : di berikan obat

parasetamol 4x170 mg,

ampicilin 4x375 mg, melalui

injeksi selang infus, pasien

menangis saat diberikan obat.

Jam 11.00

wib

Jam 12.30

wib

Jam 14.30

wib

1

1

2

Melakukan pengukuran tanda-

tanda vital pasien

Mencatat intake dan aoutput

cairan pada pasien

Melakukan penyuluhan tentang

penyakit diare

S: -

O : nadi 97x/menit, suhu 36,9

0C, respirasi rate 26x/menit

S : pasien dalam setengah hari

ini baru di ganti diapers

sebanyak 4x, BAB dengan

konsistensi cair, berlendir

disertai darah sedikit, minum

air putih sebanyak 3 gelas.

O : minum 300cc, diapers

470cc, infus 105cc, IWL

117.2cc, antibiotik 4.4cc,

balance cairan -177,8cc/7

jam, kebutuhan cairan

364.5cc/7 jam

S : keluarga pasien sangat

senang dengan diakannya

penyuluhan tentang penyakit

diare karena dapat menambah

pengetahuan tentang penyakit

diare.

O : keluarga terlihat senang,

antusias, kooperatif

14-07-2017

jam 09.00

1

Memeriksa tanda-tanda

dehidrasi

S : -

O : pasien terlihat masih

wib

Jam 10.00

wib

Jam 11.30

wib

Jam 13.00

wib

1

1

1

Memberikan obat parasetamol,

ampicilin, phenitoin

Mengukur tanda-tanda vital

Mengukur intek dan output

cairan pasien

rewel, rasa haus masih

meningkat.

S : pasien mengatakan tidak

mau disuntik

O : di berikan obat

parasetamol 4x170 mg,

ampicilin 4x375 mg, obat

phenitoin 3x30 mg, melalui

injeksi selang infus, pasien

menangis saat diberikan obat

S :-

O : nadi 99x/menit, suhu 36,4

0C, respitaroti rate 24x/menit.

S : keluarga pasien

mengatakan, pasien BAB

maupun BAK di dalam

diapers dan baru di ganti

sebanyak 3x, minum air putih

sebanyak 2 gelas dan

terkadang BAK di dalam WC.

O : minum 200cc, diapers

420cc, IWL 117.2cc, infus

105cc, antibiotik 7.5cc. hasil

balance cairan -44.7cc/7 jam,

kebutuhan cairan 364.5cc/7

jam.

15-07-2017

jam 10.00

wib

Jam 11.30

wib

1

1

STOP memberikan obat

Mengukur tanda-tanda vital

S :-

O :-

S :-

O : nadi 100x/menit, suhu

Jam 13.00

wib

1

Mengukur intek dan output

cairan pasien

360C, respirasi rate 23x/menit

S : keluarga pasien

mengatakan, pasien hari ini

pasien belum BAB, BAK

pasien di dalam diapers

sebanyak 5x, dan baru di

ganti diapers sebanyak 2x,

pasien minum air putih dan

teh hangat sebanyak 5 gelas

serta makan habis seperempat

porsi.

O : diapers 335cc, IWL

117.2cc, minum 500cc,

makan 50cc balance cairan

97cc/7 jam, kebutuhan cairan

364.5cc/7 jam

EVALUASI KEPERAWATAN

Tanggal /

Jam Dx SOAP

TTD

13-07-2017

jam 13.30

wib

1

S :

- ibu pasien mengatakan anaknya masih

mengalami diare, diare hari ini lebih dari 4x

berlendir serta bercampur darah, tidak mengalami

muntah

- Ibu pasien mengatakan anaknya sangat lahap

untuk minum air putih ataupun teh hangat.

O :

- Sering rewel, sering minum

- BAB pasien dengan konsistensi cair, berlendir di

sertai darah sedikit.

- Leukosit 21.4 10^3/ul

- Suhu : 370C, RR: 23 x /menit, Nadi : 100 x/menit

- BC -177,8 cc/jam

A : masalah defisit volume cairan belum teratasi

P : lanjutkan intervensi

1. monitor TTV

2. Kaji tanda – tanda Dehidrasi ( seperti mukosa bibir

kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung)

3. monitor intake dan output cairan untuk

menghitung balance cairan

4. Anjurkan klien untuk minum setelah BAB,

minum yang banyak

5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian atau

pemantauan cairan infus dan pemberian obat.

13-07-2017

jam 13.30

wib

2

S : Keluarga mengatakan pengetahuan tentang penyakit

diare masih kurang terutama pada penanganan saat

dirumah, tanda dan gejala serta penyebab dari penyakit

diare

O :

- Jawaban dari kuisoner yang diberikan pada peneliti

keluarga hanya mendapat scor 7 dari 14 pertanyaan.

- Kriteria kuisoner keluarga An.A pengetahuan tentang

penyakit diare masih sanagat rendah.

A : masalah defisit keperawatan belum teratasi

P : lanjutkan intervensi

Memberikan penyuluhan tentang penyakit diare

14-07-2017

jam 13.30

wib

1 S :

- ibu pasien mengatakan anaknya masih

mengalami diare, diare hari ini 4x sedikit

berampas dan masih bercampur darah tidak

mengalami muntah

- Ibu pasien mengatakan anaknya masih sangat

lahap untuk minum air putih dan terkadang teh

hangat.

O :

- Sering rewel, sering minum

- BAB pasien dengan konsistensi berlendir dan

bercampur darah sedikit dan sedikit berampas.

- BC -44.7 cc/jam

- Suhu : 36,4 0C, RR: 24 x /menit, Nadi : 99x/menit

A : masalah defisit volume cairan belum teratasi

P : lanjutkan intervensi

1. monitor TTV

2. Kaji tanda – tanda Dehidrasi ( seperti mukosa bibir

kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung)

3. monitor intake dan output cairan untuk

menghitung balance cairan

4. Anjurkan klien untuk minum setelah BAB,

minum yang banyak

5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian atau

pemantauan cairan infus dan pemberian obat.

14-07-2017

jam 13.30

wib

2 S : Keluarga mengatakan pengetahuan tentang penyakit

diare bertambah terutama tentang penangan, tanda dan

gejala serta penyebab dari penyakit diare.

O :

- keluarga pasien sudah di berikan penyuluhan

tentang penyakit diare

- keluarga pasien melakuan pengisian kuisoner

tentang penyakit diare

A : masalah defisit keperawatan teratasi

P : hentikan intervensi

15-07-2017

jam 13.30

wib

1 S :

- ibu pasien mengatakan anaknya sudah tidak

mengalami diare, BAB berbentuk lembek

- Ibu pasien mengatakan sampai saat ini anaknya

sangat lahap untuk air putih dan nafsu makan

meningkat

O :

- Sering minum

- Keadaan pasien baik, tidak terlihat lemas

- BAB pasien dengan konsistensi lembek dan

berbentuk ampas

- Suhu : 360C, RR: 23x /menit, Nadi : 99 x/menit

- BC 97,8 cc/jam

A : masalah defisit volume cairan teratasi

P : hentikan intervensi

Lampiran 10 : Pengkajian tumbuh kembang menurut KPSP

FORAT PENGKAJIAN PERKEMBANGAN DENGAN KPSP UNTUK ANAK USIA 6

BULAN

Nama anak :

Tgl lahir (umur) :

Nama Ayah/Ibu :

Pendidikan Ayah/Ibu :

Pekerjaan Ayah/Ibu :

Alamat :

No Aspek Yang Dinilai Y

a

Tida

k

1 Pada waktu bayi telentang, apakah ia dapat mengikuti gerakan anda

dengan menggerakkan kepala sepenuhnya dari satu sisi ke sisi yang

lain?

2

Dapatkah bayi mempertahankan posisi kepala dalam keadaan tegak dan

stabil? Jawab TIDAK bila kepala bayi cenderung jatuh ke kanan/kiri

atau ke dadanya

3 Sentuhkan pensil di punggung tangan atau ujung jari bayi. (jangan

meletakkan di atas telapak tangan bayi). Apakah bayi dapat

menggenggam pensil itu selama beberapa detik?

4

Ketika bayi telungkup di alas datar, apakah ia dapat mengangkat dada

dengan kedua lengannya sebagai penyangga?

5 Pernahkah bayi mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau

memekik tetapi bukan menangis?

6 Pernahkah bayi berbalik paling sedikit dua kali, dari telentang ke

telungkup atau sebaliknya?

7 Pernahkah anda melihat bayi tersenyum ketika melihat mainan yang

lucu, gambar atau binatang peliharaan pada saat ia bermain sendiri?

8 Dapatkah bayi mengarahkan matanya pada benda kecil sebesar kacang,

kismis atau uang logam? Jawab TIDAK jika ia tidak dapat mengarahkan

matanya.

9 Dapatkah bayi meraih mainan yang diletakkan agak jauh namun masih

berada dalam jangkauan tangannya?

10 Pada posisi bayi telentang, pegang kedua tangannya lalu tarik perlahan-

lahan ke posisi duduk. Dapatkah bayi mempertahankan lehernya secara

kaku seperti gambar di sebelah kiri ? Jawab TIDAK bila kepala bayi

jatuh.

Jumlah

Interpretasi dan saran :

FORMAT PENGKAJIAN PERKEMBANGAN DENGAN KPSP UNTUK

ANAK 36 BULAN

Tgl lahir (umur) :

Nama Ayah/Ibu :

Pendidikan Ayah/Ibu :

Pekerjaan Ayah/Ibu :

Alamat :

No

.

Aspek Yang Dinilai Y

a

Tida

k

1.

Bila diberi pensil, apakah anak mencoret-coret kertas tanpa

bantuan/petunjuk?

2

Dapatkah anak meletakkan 4 buah kubus satu persatu di atas kubus

yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu? Kubus yang digunakan ukuran

2.5 – 5 cm.

3

Dapatkah anak menggunakan 2 kata pada saat berbicara seperti “minta

minum”; “mau tidur”? “Terimakasih” dan “Dadag” tidak ikut dinilai.

4

Apakah anak dapat menyebut 2 diantara gambar-gambar ini tanpa

bantuan?

5

Dapatkah anak melempar bola lurus ke arah perut atau dada anda dari

jarak 1,5 meter?

6

Ikuti perintah ini dengan seksama. Jangan memberi isyarat dengan

telunjuk atau mata pada saat memberikan perintah berikut ini:

“Letakkan kertas ini di lantai”.

“Letakkan kertas ini di kursi”.

“Berikan kertas ini kepada ibu”.

Dapatkah anak melaksanakan ketiga perintah tadi?

7

Buat garis lurus ke bawah sepanjang sekurang-kurangnya 2.5 cm. Suruh

anak menggambar garis lain disamping garis tsb.

8

Letakkan selembar kertas seukuran buku di lantai. Apakah anak dapat

melompati bagian lebar kertas dengan mengangkat kedua kakinya

secara bersamaan tanpa didahului lari?

9 Dapatkah anak mengenakan sepatunya sendiri?

10 Dapatkah anak mengayuh sepeda roda tiga sejauh sedikitnya 3 meter?

Jumlah

Interpretasi dan saran :

PENYAKIT DIARE PADA BALITA

APA ITU DIARE?

PENGERTIAN PENYAKIT DIARE

Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau

tidak seperti biasanya, ditandai dengan peningkatan volume, keenceran, serta

frekuensi lebih dari 3 kali sehari dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari

dengan atau tanpa lender darah. Salah satu faktor yang mempengaruhi

kejadian diare yaitu susu formula (Hidayat, 2012)

Klasifikasi diare

Diare terbagi 2 , yaitu ;

1. Diare Akut : Diare yang terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang

dari 3 -7 hari pada bayi dan anak.

2. Diare kronik : Diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.

PENEYAB DARI DIARE

Penyebab dari infeksi kebersihan makan kurang terjaga

Kebersihan dari botol susu

PENYEBAB PENYAKIT DIARE

A. Faktor Infeksi (Hasan dan Alatas (2010))

1. Bakteri :Vibrio, E.coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas.

2. Virus : Enteroovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus.

3. Parasit : Cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris, Strongyloides), protozoa (Entamoeba

B. Faktor Malabsopsi

1. Malabsorpsi karbohidrat, yaitu pada bayi kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula

menyebabkan diare. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat asam, sakit di daerah perut.

Jika sering terkena diare ini, pertumbuhan anak akan terganggu.

2. Malabsorpsi lemak, yaitu terdapat lemak dalam makanan yang disebut triglyserida.Gejalanya

adalah tinja mengandung lemak.

3. Malabsorpsi protein, yaitu kesulitan penyerapan nutrisi dari makanan yang mengandung protein.

C. Faktor makanan seperti makanan yang sudah basi, makanan yang tercemar, terlalu banyak lemak,

beracun, kurang matang, dan alergi terhadap makanan.

TANDA DAN GEJALA DIARE

Mual, muntah, BAB lebih dari 5x cengeng

Demam > 360C Perut terlihat kembung

TANDA GEJALA DIARE

Menurut Suraatmaja (2010), tanda dan gejala diare yaitu

1. BAB lebih dari 3 kali, dengan konsistensi lembek, ada/tanpa darah.

2. anak gelisah, cengeng,

3. suhu tubuh meningkat,

4. nafsu makan berkurang atau tidak ada, muntah maupun muntah.

5. dehidrasi di tandai dengan berat badan turun, turgor kulit menurun, mata

dan ubun–ubun cekung, selaput lendir dan mulut ikut kering. Dehidarsi

berat ditandai dengan, denyur jantung cepat, tekanan darah menurun,

kasadaran menurun yang akhirnya terjadi syok (Sugeng, 2010)

AKIBAT DARI DIARE

Kekuarangan cairan dalam tubuh Malnutrisi

KOMPLIKASI PADA PENYAKIT DIARE

1. Dehidrasi : ringan, sedang, dan berat.

2. Renjatan hipovolemik yaitu kejang akibat volume darah berkurang.

3. Hipokalemia yaitu kadar kalium dalam darah rendah dengan gejala

meteorismus (kembung perut karena pengumpulan gas secara berlebihan

dalam lambung dan usus), hipotonik otot, lemah, bradikardi, perubahan

pada elektrokardiogram.

4. Hipoglikemia yaitu kadar glukosa darah yang rendah.

5. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defesiensi enzim laktase karena

kerusakan vili mukosa usus halus.

6. Kejang terutama pada hidrasi hipotonik.

7. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga

mengalami kelaparan (masukan makanan berkurang, pengeluaran

bertambah).

PROSES PENYAKIT DIARE

Alur terjadinya penyakit Diare

PROSES PENYAKIT DIARE

Bakteri, makanan yang tidak hygenis masuk kedalam usus

berkembang dalam usus hipersekresi air dan elektrolit

mengalami isi usus diare mual,muntah serta pengeluaran

feses berlebihan lebih dari 5x perhari mengalami kekurangan

cairan

PENANGANAN PADA DIARE

Memberikan tablet zinc Memberikan obat antibiotik dari dokter

Mencuci tangan Memberikan ASI/ minum pada anak

PENANGANAN PADA DIARE

1. Rehidrasi yaitu dengan cara mengkonsumsi oralit. Apabila oralit tidak tersedia, maka oralit

bisa dibuat dengan cara membuat larutan gula garam. Caranya yaitu dengan melarutkan dua

sendok teh gula pasir dan seujung sendok garam dapur ke dalam satu gelas air matang.

2. Suplementasi zinc, yang berfungsi untuk mengurangi durasi diare sampai 25% dan dapat

mengurangi volume feses hingga 30%.

3. Pemberian terapi farmakologik memberikan antibiotik

4. Pemenuhan nutrisi

ASI dan makanan dengan menu yang sama saat anak sehat sesuai umur tetap diberikan

untuk mencegah kehilangan berat badan dan sebagai pengganti nutrisi yang hilang diberikan

sedikit-sedikit tetapi sering, serta makan rendah serat, buah-buahan diberikan terutama

pisang (Hegar B. Dan Handryastuti S., 2009).

MAKANAYANG BOLEH DI BERIKAN

Makanan yang dianjurkan bagi penderita diare

MAKANAYANG BOLEH DI BERIKAN

Sebaiknya berikan makanan lunak ke anak agar sistem pencernaan anak tidak

terlalu bekerja keras untuk dapat mencerna makanan. Berikan anak makanan

seperti:

1. Pisang, dan buah-buahan lain

2. Nasi tim atau bubur nasi

3. Roti

4. Daging, ayam, ikan yang direbus atau dipanggang

5. Telur matang

6. Sayuran matang yang tidak mengandung banyak serat, seperti wortel

7. Kentang rebus atau panggang

8. Yogurt

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWA-

TAN

SETIKES MUHAMMADIYAH

GOMBONG

2017

PENYAKIT DIARE

PADA BALITA

TANDA DAN GEJALA

1. BAB lebih dari 5x perhari

2. M u a l ,

muntah

3. P e r u t

kembung

4. Gelisah dan lemas

5. nafsu makan menurun/berkurang

6. Suhu badan meningkat

7. Turgor kulit dan mukosa bibir

kering

PROSES TERJADINYA Bakteri, makanan yang tidak hygenis

masuk kedalam usus

berkembang dalam usus hipersekresi

air dan elektrolit si usus

diare mual,muntah serta

pengeluaran feses berlebihan lebih

dar i 5x perhar i menga lami

kekurangan cairan

PENYEBAB

1. kurang kebersihan dalam botol

susu atau makan

2. Ada bakteri di

u s u s e . c o l i

salmonella,sighela

3. BAB sembarang

tempat

4. M i n u m a i r y a ng b e l u m

matang/masak

PENGERTIAN

DIARE adalah keadaan dimana

pengeluaran tinja tidak normal dengan

frekuensi lebih dari 5x perhari dengan

atau tanpa lender darah.

Diare terbagi 2 , yaitu ;

1. Diare Akut : Diare yang

terjadi secara mendadak

dan berlangsung kurang dari 3 -7 hari

pada bayi dan anak.

2. Diare kronik : Diare yang berlangsung

lebih dari 14 hari.

AKIBAT/KOMPLIKASI

1.dehidrasi : rin-

gan, sedang dan

berat

2.Kejang-kejang

3.Ku r a ng g i z i

karena selain

mengalami diare dan muntah , juga

mengalami kelaparan

4.Kadar gula darah rendah

5. Perut terlihat kembung karena ke-

kurangan kadar kalium dalam da-

rah

PENANGANAN /PENCEGAHAN

1. Mencuci tangan ssebelum dan

s e s u d a h

memberikan

m a k a n a n

pada anak

2. Memberikan

obat antibiotic

yang sudah di re-

sepkan oleh dokter

3. memberikan

amakan/ ASI

sedikit-sedikit tetapi sering

4. Rehidrasi yaitu dengan cara

mengkonsumsi oralit. Apabila oralit

tidak tersedia, maka oralit bisa dibuat

dengan cara membuat larutan gula

garam. Caranya yaitu dengan

melarutkan dua sendok teh gula pasir

dan seujung sendok garam dapur ke

dalam satu gelas air matang.

5. memberikan

tablet zinc selama

10 hari berturut-

turut

MAKANAN YANG BISA DI KOMSUMSI

makan yang bias di komsumsi pada

penderita diare di antaranya:

1. Pisang, dan buah-buahan lain

2. Nasi tim atau bubur nasi

3. Roti

4. Daging, ayam, ikan yang direbus

atau dipanggang

5. Telur matang

6. Sayuran matang yang tidak

mengandung banyak serat, seperti

wortel

7. Kentang rebus atau panggang

Yogurt

Journal of Renal Injury Prevention

J Renal Inj Prev. 2017; 6(2): 109-112.

Evaluation of water and electrolytes disorders in severe acute diarrhea patients treated by WHO protocol in eight large hospitals in Tehran; a nephrology viewpoint

*Corresponding author: Mohammad Reza Tamadon, Email: [email protected]

http://journalrip.com DOI: 10.15171/jrip.2017.21

Alireza Soleimani1, Fatemeh Foroozanfard2, Mohammad Reza Tamadon3*

1Department of Internal Medicine, Kashan University of Medical Sciences, Kashan, Iran 2Department of Gynecology and Obstetrics, Kashan University of Medical Sciences, Kashan, Iran 3Department of Internal Medicine, Semnan University of Medical Sciences, Semnan, Iran

IntroductionAcute diarrhea has a high prevalence rate all across the world and about 5%-20% of the world population are affected by diarrhea each year (1). Acute diarrhea causes more than 5-8 million deaths per year (2). Acute diarrhea is the main cause of protein–calorie malnutrition in

developing countries (3). In developed countries, like the United States, acute diarrhea leads to very significant economic losses, including 250 000 hospitalizations and almost 8 million visits to physicians each year (4-6). Acute diarrheal diseases are a leading cause of morbidity and mortality in Asia, Africa, and Latin America and

Implication for health policy/practice/research/medical education:In a historical cohort study on 121 patients who were hospitalized due to acute diarrhea, we found the high prevalence of hypokalemia in these patients as well as potassium loss during treatment which indicates insufficient level of potassium in the therapeutic solutions. Mild hyponatremia in most patients highlights the need for isotonic solutions to treat dehydration.Please cite this paper as: Soleimani A, Foroozanfard F Tamadon MR. Evaluation of water and electrolytes disorders in severe acute diarrhea patients treated by WHO protocol in eight large hospitals in Tehran; a nephrology viewpoint. J Renal Inj Prev. 2017;6(2):109-112. DOI: 10.15171/jrip.2017.21.

Introduction: The most common cause of death from diarrhea is the shock caused by dehydration, electrolytes and acid-base disorders. Objectives: The aim of this study was to evaluate water and electrolytes disorders in diarrhea patients after treating severe acute diarrhea.Patients and Methods: In this study we used a historical cohort and studied patients who were hospitalized due to acute diarrhea and were similarly treated for dehydration and water and electrolyte disorders as recommended by the World Health Organization (WHO) guideline. Electrolytes, pH, serum creatinine (Cr) level on admission and during treatment were recorded. Patients with underlying diseases were excluded from the study.Results: Of 121 patients who were enrolled in the study, 67.8% had hyponatremia on admission (plasma Na <137 mEq/L) and 5.8% had hypernatremia. Around, 33.88% of patients had hypokalemia and 2.4% had hyperkalemia. All hyperkalemia disorders were treated, but 87.1% of patients had hypokalemia or low potassium levels, or they were affected by uncorrected hypokalemia and were in need of further measures. Of all, 56.75% had acidosis and 21% of patients with acidosis were not treated or the severity of their acidosis increased during treatment. There was a significant relationship between acute renal failure (ARF) and hypokalemia at the time of admission (P < 0.001), potassium loss during treatment (P < 0.001), acidosis (0.005), and cholera-related diarrhea (0.05).Conclusion: The high prevalence of hypokalemia in these patients as well as potassium loss during treatment indicates insufficient level of potassium in the therapeutic solutions. Mild hyponatremia in most patients highlights the need for isotonic solutions to treat dehydration.

A R T I C L E I N F O

Keywords:Acute diarrheaWater and electrolyte disorders Acute renal failureAcute kidney injury

Article History:Received: 30 July 2016 Accepted: 2 November 2016 Published online: 24 November 2016

Article Type:Original

A B S T R A C T

Original

Journal of Renal Injury Prevention, Volume 6, Issue 2, June 2017 http://journalrip.com 110 

Soleimani A et al

are responsible for 4-6 million deaths annually (7,8). The leading causes of mortality from acute diarrhea are dehydration, electrolyte disorders, and their associated complications (9,10). Cholera is an important cause of severe acute diarrhea (11). Untreated severe acute cholera-related diarrhea can lead to up to 50% mortality (12). Approximately 5.5 million cholera-related diarrheas occur annually worldwide and about 100 000 of patients die (12,13). A new subgroup of cholera-related diarrhea epidemic has spread from India to other parts of the Middle East and Asia that can be considered as the main cause of cholera-related diarrhea epidemics in these areas in recent years (14). The leading cause of death in severe acute cholera-related diarrhea, like other types of severe acute diarrhea, is dehydration and water and electrolytes disorders (15).

Patients and MethodsIn this study, 121 patients with severe acute diarrhea who had been hospitalized in eight large hospitals in Tehran including Shahid Labbafinejad, Ayatollah-Taleghani, Hafte-Tir, Firoozgar, Loghman-Hakim, Bu Ali, Imam-Khomeini and Amir-Alam were enrolled in the study. These hospitals are located in different parts of Tehran, including north, east, west, and south of Tehran. The records of these patients were studied via a historical cohort approach. Initially, all patients who were admitted to hospitals with severe acute diarrhea (loss of >10% of body weight due to dehydration or those who were not able to drink water or were affected by vomiting and impaired consciousness) and received a single protocol for the treatment, i.e. the WHO guideline, were enrolled into this study. We recorded all patients’ data including age, sex, cause of diarrhea, residential location, duration of hospitalization, date of hospitalization, and changes in potassium, sodium, calcium, creatinine (Cr), and pH on admission and during treatment. To avoid the effects of confounding factors in the study, patients with underlying diseases such as diabetes, immune suppressive therapy –malignant cancer –, chronic renal failure, and those with heart and brain and liver diseases were excluded from the study. In addition, patients who had been admitted with severe acute diarrhea and received a treatment protocol dissimilar to other patients were excluded from the study at the early stages. In addition, cholera was confirmed by TCBS transport carrier.

Ethical issuesThe research was conducted as retrospective study and followed the tenets of the Declaration of Hel sinki. All information remains confidential.

Statistical analysisAfter entering data into master sheet, they were entered into an Excel database and were analyzed using SAS 2000 software and P value less than 0.05 was considered as statistically significant. The relationships between acute renal failure (ARF) and need for dialysis and the frequency

of hypokalemia, hyponatremia, and hypocalcemia acidosis were analyzed through chi-square, Wilcoxon signed ranks, and fisher’s exact tests. Electrolyte disorders and pH were assessed on admission and after treatment.

ResultsOf 121 patients, 47.1% were female. Of all, 98 persons (81%) were living in Tehran and the rest of patients (19%) were residents of other cities of the country. A total of 28 patients (23.3%) were hospitalized for less than three days, 51 patients (42.5%) were hospitalized for three to seven days, and 41 patients (34.2%) were hospitalized for longer than seven days. Concerning the etiology of the disease, 59 cases (48.8%) were due to cholera, 32 cases (26.4%) due to amebiasis, five cases (4.1%) due to shigellosis; the main cause of diarrhea was not found in and the rest of the 25 patients (20.7%).At the time of admission, 82 patients (67.8%) had hyponatremia (plasma Na < 137 mEq/L) and only 7 patients (5.7%) developed hypernatremia (plasma Na >143 mEq/L). Moreover, 63 patients had mild hyponatremia (120 <plasma Na <137 mEq/L), and there was only one case of severe hyponatremia (plasma Na <120 mEq/L). Of all, 41 patients (33.88%) had hypokalemia on admission. They had plasma potassium less than 3.5 mEq/L, and only three persons (2.4%) were diagnosed with hyperkalemia. Furthermore, 23 (56.1%) of patients with mild hypokalemia were affected by severe form (3 < plasma K <3.5 mEq/L) and 18 persons (43.9%) suffered from its severe form (plasma K <3 mEq/L).The low potassium level was more prevalent than the severe hyponatremia (43.9% vs. 1.4%).Of all, 23 patients had hypocalcemia (plasma Ca <8.5 mg/dL) and only one person had hypercalcemia (plasma Ca> 10.5 mg/dL). Moreover, in 28 patients (23.9%) serum Cr level was higher than 1.5 mg/dL on admission that indicates that they were affected by ARF. Of these patients, 13 persons (46.4%) were affected by the mild form of the increase in the serum Cr (1.5 <plasma Cr <3 mg/dL) and 15 patients (53.6%) had a plasma Cr level above 3 mg/dL. In addition, 63 patients (56.75%) had acidosis (pH <7.34) and 16 patients (14.41%) had alkalosis (pH > 7.43). Of all patients with acidosis, 23 patients had mild acidosis (7.2 <plasma pH <7.34) and 15 patients (31.24%) had severe acidosis (pH <7.2). Of the 28 patients with ARF 23.8% required dialysis during hospitalization.Of patients with hypokalemia who were treated according to the WHO’s protocol, the plasma potassium of 32 patients (78%) was not corrected during hospitalization and they even suffered from increased loss of potassium; as a result, they needed additional measures. Of patients with hyponatremia who were treated according to the WHO’s protocol, all cases of disorders were corrected. In 21% of patients with acidosis, the problem was not corrected, worsened, and further measures were needed during the treatment. Of patients with hypocalcemia who were treated according to the WHO’s protocol, all cases of disorders were corrected. Cholera-related diarrhea had a significant relationship with decreased plasma

Journal of Renal Injury Prevention, Volume 6, Issue 2, June 2017http://journalrip.com 111

Electrolytes disorders in acute diarrhea

potassium on admission (P < 0.001), hyponatremia on admission (P < 0.001), no response to hydration according to WHO’s protocol (P < 0.001) and the need of patients for hemodialysis. Plasma potassium loss during treatment was significantly associated with Acute kidney injury (AKI) (P < 0.001). Cholera-related diarrhea was significantly associated with AKI (P < 0.05). However, there was no significant relationship between AKI and duration of hospitalization, acid-base disorders, and hypocalcemia.

DiscussionThe high prevalence of cholera-related diarrhea, which was observed in 121 of the studied patients who suffered from acute diarrhea, indicated the severity of dehydration in this group of patients (16). The high prevalence of hypokalemia was in line with the results of previous studies (17). Half of the patients had severe hypokalemia and as it was associated with the high prevalence of acidosis, which highlights the severity of hypokalemia in these patients (18,19).Despite treating all patients according to a single WHO’s protocol which includes potassium, 78% of patients were affected by loss of potassium or uncorrected plasma potassium levels and required additional measures. Although the correction of acidosis can cause loss of plasma potassium levels during treatment, the observations were indicative of the inability of these protocols for the correction of plasma potassium levels (20,21).High prevalence of hyponatremia in these patients and low prevalence of hypernatremia indicates the prevalence of watery diarrhea in most patients and indicates the low alertness of patients to drink water (22,23). Most of the patients had mild hyponatremia, which implies the need for the isotonic oral and injectable fluids (24). The high prevalence of hypocalcemia shows the need for precise measurement of symptoms of hypocalcemia in these patients (15). About one-fourth of patients were affected with AKI which indicated the severity of dehydration (18,24). On the other hand, due to the significance of hypokalemia on admission, potassium loss during treatment, and the association between acidosis and cholera-related diarrhea and AKI and the need for hemodialysis, it is necessary to provide early and appropriate treatment for these patients (25).

ConclusionIn conclusion, the results of this study shows the need for further and more precise researches on the type and composition of the liquids administered for the treatment of acute diarrhea and it recommends researches on potassium and alkali levels in these solutions.

Limitations of the studyLow proportion of patients was a limitation of our study.

AcknowledgmentsThis study was extracted from thesis of Alireza Soleimani in Shahid-Baheshti University of Medical Sciences.

Authors’ contributionAll authors participated equally in all stages of the study.

Conflicts of interestThe authors declare no conflict of interest.

Ethical considerationsEthical issues (including plagiarism, data fabrication, double publication) have been completely observed by the authors.

Funding/SupportNone.

References1. Camilleri M, Murray JA. Diarrhea and constipation. In:

Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine. New York: The McGraw-Hill; 2012.

2. Cholera: global surveillance summary, 2008. Wkly Epidemiol Rec. 2009;84:309-24.

3. John E. Morley, MB, BCh. Protein-Energy Undernutrition. In: Mark H, Beers MD, Rober T, Berkow MD, eds. The Merck Manual of Diagnosis and Therapy. Kenilworth, NJ: Merck & Co; 2000:246.

4. Imhoff B, Morse D, Shiferaw B, Hawkins M, Vugia D, Lance-Parker S, et al. Burden of self-reported acute diarrheal illness in FoodNet surveillance areas, 1998-1999. Clin Infect Dis. 2004;38:S219-26. doi: 10.1086/381590.

5. Majowicz SE, Doré K, Flint JA, Edge VL, Read S, Buffett MC, et al. Magnitude and distribution of acute, self-reported gastrointestinal illness in a Canadian community.Epidemiol Infect. 2004;132:607-17. doi: 10.1017/S095026880400235.

6. Mead PS, Slutsker L, Dietz V, McCaig LF, Bresee JS, Shapiro C, et al. Food-related illness and death in the United States. Emerg Infect Dis. 1999;5:607-25. doi: 10.3201/eid0505.990502.

7. Yoder JS, Blackburn BG, Craun GF, Hill V, Levy DA, Chen N, et al. Surveillance for waterborne-disease outbreaks associated with recreational water--United States, 2001-2002. MMWR Surveill Summ. 2004;53:1-22.

8. Barbut F, Leluan P, Antoniotti G, Collignon A, Sédallian A, Petit JC. Value of routine stool cultures in hospitalized patients with diarrhea. Eur J Clin Microbiol Infect Dis. 1995;14:346-9.

9. Mann MD, Bowie MD, Hansen JD. Total body potassium, acid-base status and serum electrolytes in acute diarrhoealdisease. Afr Med J. 1975;49:709-11.

10. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Preliminary FoodNet data on the incidence of foodborne illnesses--selected sites, United States, 2002. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 2003;52:340-3.

11. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Outbreak of Vibrio parahaemolyticus infection associated with eating raw oysters and clams harvested from Long Island Sound--Connecticut, New Jersey, and New York, 1998. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 1999;48:48-51.

12. Morris JG. Non-O group 1 Vibrio cholera: a look at the epidemiology of an occasional pathogen. Epidemiol Rev. 1990;12:179-91.

13. Finkelstein RA. Cholera, vibrio cholerae O1 and O139,

Journal of Renal Injury Prevention, Volume 6, Issue 2, June 2017 http://journalrip.com 112 

Soleimani A et al

and other pathogenic vibrios. In: Baron S, editor. Medical Microbiology. 4th ed. Galveston (TX): University of Texas Medical Branch at Galveston; 1996.

14. Sack DA, Sack RB, Nair GB, Siddique AK. Cholera.Lancet. 2004;363:223-33. doi: 10.1016/S0140-6736(03)15328-7.

15. Seas C, Gotenzzo E. Vibrio cholerae. In: Mandell GL, Bennett JE, Dolin R, Eds. Principles and Practice of Infectious Disease. 6th ed. Philadelphia, PA: Churchill Livingstone; 2005:2536.

16. Lucas ME, Deen JL, von Seidlein L, Wang XY, Ampuero J, Puri M, et al. Effectiveness of mass oral cholerae vaccination in Beira, Mozambique. N Engl J Med. 2005;352:757.doi: 10.1056/NEJMoa043323.

17. Butterton JR, Calderwood SB. Vibrio cholera O-1 and O-139, In: Blaser MJ, Smith PD, Ravidin JT, eds. Infection of Gastrointestinal Tract. 2nd ed. Philadelphia: Lippincott Williams Wilkins; 2002:535.

18. Holmgren J. Action of cholera toxin and prevention and treatment of cholerae. Nature. 1981;292:413-17.

19. Gilman AG. G proteins and dual control of adenylate cyclase.Cell. 1999;36:777. doi: 10.1016/0092-8674(84)90336-2.

20. Molla AM, Ahmed SM, Greenough WB 3rd. Rice-based

oral rehydration solution decreases the stool volume in acute diarrhoea. Bull World Health Organ. 1985;63(4):751-6.

21. Centers for Disease Control (CDC). Update: cholera--Western Hemisphere, 1991. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 1991;40:860.

22. Rabbani GH, Greenough WB 3rd. Pathophisiology and clinical aspects of cholerae. In: Cholerae. Barua D, Greenough WBI, eds. New York: Plenum Press; 1992:209.

23. Alam NH, Majumder RN, Fuchs GJ. Efficacy and safety of oral rehydration solution with reduced osmolarity in adults with cholera: a randomised double-blind clinical trial. CHOICE study group. Lancet. 1999;354:296-9. doi: 10.1016/S0140-6736(98)09332-5.

24. Hahn S, Kim Y, Garner P. Reduced osmolarity oral rehydration solution for treating dehydration due to diarrhoea in children: systematic review. BMJ. 2001;323:81-5. doi: 10.1136/bmj.323.7304.81.

25. Centers for Disease Control and Prevention. Health Information for International Travel 1999–2000, DHHS, Atlanta, GA.

Copyright © 2017 The Author(s); Published by Nickan Research Institute. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License (http://creativecommons.org/licenses/by/4.0), which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

24

MANAJEMEN DIARE PADA ANAK OLEH PERAWAT DI

RUMAH SAKIT

Septi Wardani1

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang 2

Kutipan: Wardani, S. (2016). Asuhan Keperawatan Manajemen Diare Pada Anak Oleh

Perawat Di Rumah Sakit. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 1 (1): 24-31.

INFORMASI A B S T R A C T

Korespodensi:

[email protected]

Objective: the aim of this study is to explore how the nurse’s role in

management of acute diarrhea for children.

Methods: this study used qualitative method with case study

approach. Subject of this study is the nurse whose match with several

inclusion criterias, i.e nurse whose exposed in nursing care

implementation on children with acute diarrhea, had minimum of

diploma degree and minimum one year working time. The data was

collected by interview, documentation, and participatiory

observation, and analyzed using Miles and Huberman model, and

further triangulation is done in the validity.

Results: there are strength and weakness for management of diare

from the nurses. The strength i.e Nurse’s are doing a general

assessment of diarrhea and dehydration, Nurse’s perform

formulation nursing diagnosis, intervention, implementation and

evaluation, Nurse’s colaboration with other health team, such as

doctor, laboratory worker, Nurse’s provide education in the

provision of oral rehydration, zinc, eating and education and Nurses

perform the role as protector: informed concent. The weakness i.e

Nurse documentation contained in separate nursing assessment form,

There was incorrect of examination for severe dehydration, Child

always gets additional parenteral fluid, Nuse still gave antibiotics for

children with acute diarrhea, Child was given a prebiotic, Nurses did

not give an explanation to the parents about the duration of zinc and

Nurses doing informed concent but not yet documented.

Conclusion: The nurses have been working on roles in acute

diarrhea management for children, in which these roles there are

strength and weakness of the implementation of those roles.

Keywords:

Strengthener and weakness ,

management of diarrhea, nurses

PENDAHULUAN________________

Diare merupakan penyebab kematian

nomer dua di dunia (WHO, 2013).

Salah satu target MDGs adalah

menurunkan angka kematian pada anak,

termasuk menurunkan angka kematian

yang diakibatkan diare. Jika upaya

dalam menangani masalah diare tidak

dilakukan dengan cepat dan

berkelanjutan, maka dimungkinkan

sebanyak 760.000 anak akan meninggal

oleh karena diare setiap tahunnya.

Tetapi jika penanganan diare dilakukan

dengan cepat dan tepat, maka jumlah

kematian anak karena diare akan

menurun setiap tahunnya (WHO,

UNICEF, 2013).

Upaya untuk menurunkan angka

kematian anak karena diare dengan

melakukan tatalaksana secara tepat dan

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

25

akurat. WHO mengembangkan

kerangka kerja pelayanan kesehatan

yang salah satunya dalam buku

pelayanan kesehatan anak di rumah

sakit, di dalamnya berisi panduan

tatalaksana anak sakit di rumah sakit

oleh tenaga kesehatan termasuk

perawat, dengan lima langkah tuntaskan

diare (lintas) diare (WHO, 2008).

Dalam tatalaksana diare, perawat dapat

melaksanakan perannya dalam beberapa

hal, salah satunya adalah memberikan

pendidikan kepada orang tua mengenai

rehidrasi oral untuk mengatasi diare.

Seperti penelitian di India yang

dilakukan oleh Mazumder et al (2010),

dikemukakan bahwa pendidikan yang

diberikan kepada orang tua atau

pengasuh mengenai pemberian zink dan

oralit untuk anak diare, efektif dapat

mengurangi diare pada anak. Penelitian

di Indonesia tentang tatalaksana diare

yang sudah dilakukan di 18 rumah

sakit, untuk mengetahui gambaran

perawatan pada anak di rumah sakit,

diperoleh hasil bahwa kelemahan yang

didapatkan dari skor diare adalah

adanya rencana rehidrasi yang tidak

jelas, diberikannya cairan intravena

pada semua kasus diare sedangkan

oralit tidak diberikan, dan masih

diberikannya antibiotik dan antidiare

untuk diare cair (Sidik et al, 2013).

Dari survei pendahuluan terdapat

beberapa permasalahan terkait

tatalaksana diare, diantaranya adalah

belum ada bukti Standar Pelayanan

Medis (SPM) untuk diare, antibiotik

masih diberikan pada anak diare akut

dan perawat belum menjalankan peran

sebagai pelindung, untuk melindungi

pasien dari pemberian terapi. Kemudian

pemberian tablet zink belum sesuai

dengan dosis sesuai umur, perawat

belum memberikan nasehat untuk orang

tua mengenai kapan harus membawa

anak kembali ke petugas, dan orang tua

belum mengetahui dosis pemberian zink

serta cara pemberian jika anak muntah,

hal itu menunjukan bahwa perawat

belum melaksanakan peran pendidik.

Dari hal tersebut dirumuskan masalah

apa peran perawat dalam tatalaksana

diare akut dan bagaimana perawat

melakukan tatalaksana diare akut.

METODE_______________________

Metode yang digunakan adalah

studi kualitatif dengan pendekatan studi

kasus. Subjek penelitian yaitu perawat

yang bekerja di bangsal anak dengan

kriteria responden lama bekerja

minimal satu tahun, berpendidikan

minimal D3 keperawatan dan terpapar

dalam pemberian asuhan keperawatan

pada anak dengan diare akut. Sampel

dipilih dengan menggunakan metode

purposive sampling dengan strategi

homogeneous sampling. Penelitian

dilakukan untuk menggali peran

perawat dalam tatalaksana diare akut

pada anak dengan teknik pengumpulan

data dengan wawancara terhadap lima

respoden, dokumen, dan observasi

partisipatif. Analisa data dilakukan

melalui 3 tahap, yaitu reduksi data,

model data dan verifikasi data. Uji

validitas dilakukan dengan triangulasi

sumber dengan melakukan wawancara

terhadap empat pengasuh atau orang tua

anak, satu kepala ruang dan satu dokter

spesialis anak.

HASIL__________________________

Hasil dari penelian didapatkan kekuatan

dan kelemahan dalam tatalaksana diare

akut pada anak oleh perawat. Kekuatan

dan kelemahan tersebut disajikan dalam

table berikut ini

Tabel 1. Kekuatan dan kelemahan Kekuatan Kelemahan

perawat sudah

melakukan

pengkajian umum

diare dan penilaian

dehidrasi,

Perawat belum

melakukan pengkajian

riwayat penyakit

Perawat melakukan

asuhan

keperawatan

pendokumentasian

perawat belum

dilakukan secara

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

26

(perumusan

diagnose

keperawatan,

intervensi,

implementasi dan

evaluasi)

terintegrasi,

perawat melakukan

kolaborasi dengan

tim kesehatan lain,

Masih diberikan cairan

intravena pada semua

anak dengan diare akut

atas instruksi dokter,

antibiotik dan

prebiotik masih

diberikan

perawat

memberikan

edukasi mengenai

pemberian rehidrasi

oral, zink, makan

dan nasehat

belum melakukan

dokumentasi dalam

pemberian informed

consent

perawat sudah

melakukan inform

concent

Perawat belum

memberikan edukasi

mengenai lama

pemberian dan

manfaat zink dan.

PEMBAHASAN__________________

Dari hasil penelitian dokter tidak

mengetahui secara pasti apakah perawat

melakukan pengkajian atau tidak. Hal

tersebut terjadi karena dokter

berkunjung ke ruang anak hanya pada

waktu pagi hari dan tidak melihat secara

langsung pengkajian yang sudah

dilakukan perawat. Selain itu,

dokumentasi yang dilakukan perawat

terdapat dalam form pengkajian

keperawatan tersendiri, yang tidak

menjadi satu dengan dokumentasi

dokter, sehingga dokter tidak melihat

dan mengetahui apa saja yang sudah

dilakukan oleh perawat. Hal tersebut

tidak sejalan dengan Komisi Akreditasi

Rumah Sakit (KARS) pada standar

pelayanan pasien (PP), yaitu pada

standar PP 2.1 “Asuhan kepada pasien

direncanakan dan tertulis di rekam

medis pasien”. Pada PP 2.1

menyebutkan bahwa dalam

memberikan asuhan kepada pasien,

sebaiknya dituangkan dalam satu

rencana tunggal dan terintegrasi oleh

masing-masing praktisi kesehatan. Hal

yang serupa juga disampaikan oleh

Joint Commission International (JCI,

2013), pada standar Care of Patient

(COP), yang menjelaskan bahwa dalam

pendokumentasian atau pencatatan,

seharusnya terintegrasi atau seragam,

untuk semua profesi, baik perawat

ataupun dokter, mulai data subjektif dan

objektif dari pengkajian, diagnosis,

perecanaan, implementasi dan evaluasi.

Apabila dokumentasi sudah seragam

atau terintegrasi, maka dokumentasi

yang tertulis bisa dibaca dan diketahui

oleh profesi lain.

Hasil penelitian menunjukan

bahwa dari hasil kolaborasi dengan

dokter, anak selalu mendapatkan

tambahan cairan parenteral pada semua

derajad dehidrasi. Hal itu tidak sesuai

dengan diare Depkes (2011), yang

memberikan panduan bahwa dalam

memberikan cairan tambahan

disesuaikan dengan derajad dehidrasi.

Dengan tidak diberikannya cairan

intravena, maka akan mengurangi

resiko infeksi sekunder pada anak dan

memungkinkan biaya perawatan anak

yang lebih rendah (Depkes, 2011).

Perawat dalam memberikan cairan

intravena atas instruksi dokter. Sebagai

perawat yang mempunyai fungsi

dependent, semua tindakan yang

dilakukan perawat berdasarkan instruksi

dokter atau di bawah pengawasan

dokter (Kozier, 2008). Menurut

Pabundu (2008), salah satu faktor

eksternal yang mempengaruhi kinerja

adalah kebijakan. Perawat memberikan

cairan intravena pada semua derajad

dehidrasi karena adanya kebijakan dan

instruksi dari dokter untuk memberikan

cairan intravena.

Pemberian cairan intravena pada

semua pasien diare di atas, tidak sesuai

dengan KARS pada standar Pencegahan

dan Pengendalian Infeksi (PPI 6) dan

JCI (2013), pada standar Prevention and

Control of Infections (PCI 6), tentang

“mengurangi resiko infeksi terkait

dengan pelayanan kesehatan”.

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

27

Dari hasil penelitian, pada anak

yang disertai panas diberikan antibiotik

injeksi dan oral pada diare tanpa panas.

Hal tersebut tidak sesuai dengan lintas

diare depkes (2011), yang seharusnya

antibiotik diberikan secara selektif.

Antibiotik bisa diberikan pada anak

dengan diare dengan indikasi, seperti

diare ada darah, kolera atau diare

dengan disertai penyakit lain.

Penggunaan antibiotik yang tidak

rasional juga akan memberikan efek

samping gangguan fungsi hati dan

ginjal (Depkes, 2011). Rocha et al

(2012), menyampaikan bahwa

penggunaan antibiotik yang tidak

rasional selama pengobatan dapat

meningkatkan resiko keparahan diare

akut pada anak. Diberikannya antibiotik

pada anak diare dikarenakan fasilitas

laboratorium tidak mendukung untuk

pemeriksaan, sehingga pada anak diare

baik yang disertai panas atau tanpa

panas diberikan antibiotik. Menurut

Mangkunegara (2008), faktor yang

mempengaruhi kinerja adalah faktor

kemampuan dan motivasi. Salah satu

faktor motivasi yang mempengaruhi

kinerja adalah fasilitas kerja. Dengan

adanya fasilitas kerja yang memadai,

memungkinkan seseorang atau tenaga

kesehatan dapat berperilaku atau

memberikan penampilan kerja secara

maksimal.

Pada pemberian prebiotik tidak

sejalan dengan depkes (2011), yang

menyebutkan bahwa berdasarkan

WHO, prebiotik mungkin bermanfaat

untuk AAD (Antibiotik Associaed

Diare), tetapi tidak memberikan efek

signifikan pada travellers diare, dan

tidak memberikan signifikan pada

community-based diarrhea. Karena

masih kurangnya bukti ilmiah dari

penelitian yang dilakukan, maka WHO

belum merekomendasikan penggunaan

prebiotik sebagai bagian dari

tatalaksana diare. Selain hal itu, biaya

yang harus dikeluarkan menjadi bahan

pertimbangan jika prebiotik dimasukan

dalam pengobatan tambahan pada diare.

Perawat masih memberikan prebiotik

dalam penanganan diare karena perawat

menjalankan fungsinya sebagai perawat

dependen yang mana melaksanakan

atau melakukan tindakan dan pemberian

terapi atas instruksi dari dokter (Kozier,

2008).

Pada peran perawat sebagai

pendidik, perawat memberikan edukasi

mengenai lama pemberian zink, yaitu

10 hari, tetapi pernyataan tersebut tidak

didukung oleh data dari observasi,

dokumentasi dan triangulasi dengan

orang tua. Dari hal tersebut dapat

diketahui, bahwa pengetahuan perawat

mengenai lama pemberian zink sudah

benar, tetapi belum diikuti dengan

pemberian edukasi kepada orang tua

mengani lama pemberian zink kepada

anak dan belum dilakukan dokumentasi

mengenai edukasi tersebut. Kenyataan

yang terjadi belum sejalan dengan

Depkes (2011), yang menyebutkan

bahwa sebagai tenaga kesehatan,

perawat hendaknya memberikan

edukasi dan penekanan kepada orang

tua mengenai dosis penuh zink yang

harus diberikan kepada anak, yaitu

selama 10 hari. Hal tersebut

menunjukan bahwa perawat sudah

menerapkan perawatan berpusat pada

keluarga dan berprinsip pada atraumatic

care dengan memberikan edukasi atau

pemberian

Perawat sudah melakukan

informed consent, tetapi belum diikuti

dengan pendokumentasian mengenai

tindakan yang sudah dilakukan. Dari hal

tersebut, perawat belum melaksanakan

tanggung jawab dan tanggung gugat

dalam upaya melindungi klien terhadap

pelayanan atau tindakan yang

didapatkan, karena dokumentasi

merupakan bentuk pertanggungjawaban

perawat terhadap tindakan yang sudah

dilakukan (Handayaningsih, 2009).

Tidak adanya dokumentasi membuat

lemah suatu informed concent, karena

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

28

dokumentasi diperlukan sebagai bukti

jika terjadi suatu masalah yang

berhubungan dengan profesi

keperawatan.

KESIMPULAN__________________

Perawat sudah melakukan manajemen

diare akut pada anak, yang di dalamnya

mengandung kekuatan dan kelemahan

dari manajemen diare yang sudah

dilakukan perawat tersebut.

SARAN_________________________

Perawat perlu menambahkan

pengkajian mengenai pengetahuan dan

keyakinan serta efikasi diri sebagai

pengkajian faktor psikososial pada

pasien DFU. Penelitian ini dapat

digunakan sebagai dasar untuk

mengembangkan penelitian selanjutnya

mengenai efikasi diri. Beberapa

masalah yang dapat diteliti antara lain

intervensi keperawatan yang dapat

meningkatkan efikasi diri pasien,

pengaruh pendidikan kesehatan dengan

suatu modul tertentu terhadap efikasi

diri pasien DFU, faktor yang

mempengaruhi efikasi diri pasien.

DAFTAR PUSTAKA_____________

Aldeyab, M. A., KearneY. M. P., Scott.

M. G., Aldiab. M. A., Alahmadi,

Y. M., W. Feras., Elhajji, D.,

A. Fidelma., Magee., McElnay,

J. C. 2012. An evaluation of the

impact of antibiotic stewardship

on reducing the use of high-risk

antibiotics and its effect on the

incidence of Clostridium

difficile infection in hospital

settings. J Antimicrob

Chemother 67: 2988–2996.

Asmadi. 2008. Konsep Dasar

Keperawatan. EGC. Jakarta

Bungin, B. 2012. Analisis Data

Penelitian Kualitatif. Edisi

pertama. Cetakan ke-delapan.

RajaGrafindo Persada. Jakarta.

Delaune dan Ladner. 2011.

Fundamental of Nursing

Standard and Practice. fourth

Edition. Cengage Learning.

Delmar.

Depkes. 2011. Buku Saku petugas

Kesehatan. edisi 2011. Depkes

RI.

Gormley, S. E., Martin, R., Misener,

Downe, B., Wamboldt,

DiCenso, A. 2011. Factors

affecting nurse practitioner role

implementation in Canadian

practice settings: an integrative

review. Journal of Advanced

Nursing 67 (6): 1178–1190.

Hafizurrachman, Trisnantoro, T,.

Bachtiar A. 2011. Beberapa

Faktor yang Memengaruhi

Kinerja Perawat dalam

Menjalankan Kebijakan

Keperawatan di Rumah Sakit

Umum Daerah. J Indon Med

Assoc 61 (10): 387-393.

Handayaningsih. 2009. Dokumentasi

Keperawatan “DAR” Panduan,

Konsep dan Aplikasi. Mitra

Cendekia. Jogjakarta

Hockenberry, M.J., Wilson, D. 2011.

Wong’s Book 2 Nursing Care of

Infants and Children. Edition 9.

Mosby Elseiver. USA.

Hockenberry, M. J., Wilson, D., Wong,

D.L. 2009. Wong’s Essentials of

Pediatric Nursing. Mosby

Elseiver, Inc. St Louis.

Hoque et al. 2012. An assessment of the

quality of care for children in

eighteen randoml selected

district and subdistrict hospitals

in Bangladesh. BMC Pediatrics

12 (197): 1-10.

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

29

Jansen dan Stauffacher. 2010.

Advanced Practice Nursing

Core Concepts for Proffessional

Role Development. Fourth

edition. Springer Publishing

Company. New York.

Joint Commission International (2013).

Joint Commission International

Acredditation Standards for

Hospitals. 5th edition. JCI. USA

Kementrian Kesehatan RI. 2011. Situasi

Diare di Indonesia. Triwulan II.

Kemenkes RI. Jakarta.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia Nomor 1239 Tahun

2001 Registrasi dan Praktik

Perawat. 22 November 2001.

Menteri Kesehatan Republik

Indonesia. Jakarta.

Kozier, B. (2008). Fundamental Of

Nursing ; Concept, Process and

Practice. Addison Wesley

Nursing Cuming Publishing.

New York.

Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan

Praktik Keperawatan

Profesional. EGC. Jakarta.

Kyle, T. (2008). Essentials of Pediatric

Nursing. Lippincott Williams &

Wilkins

L. Duijts, V. W. V. Jaddoe, A. Hofman.

2010. Breastfeeding Duration

and Exclusivity Decrease Infant

Infections. Pediatrics. 126(1):

e18-e25.

L. Duijts, L., V. W. Vincent., Jaddoe,

Hofman A., dan Moll, H. A.

2010. Prolonged and Exclusive

Breastfeeding Reduces the Risk

of Infectious Diseases in

Infancy. Pediatrics. 126 (1):

e18-e25

Luby, S. P., Halder, A. K., Huda, T.,

Unicomb, L., Johnston, R. B.

2011. The Effect of

Handwashing at Recommended

Times with Water Alone and

With Soap on Child Diarrhea in

Rural Bangladesh: An

Observational Study. PLOS

Medicine 8 (6): 1-12.

Mangkunegara. 2008. Perencanaan dan

Pengembangan Sumber Daya

Manusia. Refika Aditama.

Bandung.

Mansyur, F. 2013. Faktor Risiko

Kejadian Diare Akut pada Balita

di Kabupaten Magelang. Tesis.

Universitas Gadjah Mada.

Yogyakarta.

Mazdumer et al. 2010. Effectiveness of

zinc supplementation plus oral

rehydration salts for diarrhoea in

infants aged less than 6 months

in Haryana state, India. Bull

World Health Organ. 88

(10.2471): 754–760.

Mubarak, W. I., dan Chayatin, N. 2009.

Ilmu Keperawatan Komunitas

Pengantar dan Teori (Vol. 1).

Jakarta: Salemba Medika.

NANDA International. 2011. Nursing

Diagnoses: Definitions &

Classification 2012-2014. Alih

bahasa Sumarwati, Subekti.

Diagnosis Keperawatan Definisi

dan Klasifikasi 2012-2014.

Jakarta. EGC.

Nursalam. 2011. Manajemen

Keperawatan Aplikasi Dalam

Praktik Keperawatan

Profesional edisi 3. Jakarta.

Salemba Medika.

Pabundu. 2008. Budaya Organisasi dan

Peningkatan Kinerja

Perusahaan. Bumi Aksara.

Jakarta.

Potter dan Perry. 2005. Fundamental

Keperawatan Konsep Proses dan

Praktik. Edisi 4. EGC. Jakarta.

PPNI. 2005. Standar Praktik

Keperawatan Indonesia.

http://www.inna-

ppni.or.id/index.php/standar-

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

30

praktek. diunduh 03 September

2014.

Priharjo, R. (2008). Konsep dan

Prespektif Praktik Keperawatan

Profesional. Edisi 2. Cetakan

pertama. EGC. Jakarta.

Profil Kesehatan Indonesia 2012. 2013.

Kementrian Kesehatan RI.

Jakarta.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

2012.

http://www.dinkesjatengprov.go

.id. Diunduh 22 Desember 2013

RISKESDAS. 2007.

http://labdata.litbang.depkes.go.i

d. Diunduh 01 Januari 2014.

RISKESDAS Provinsi Jawa Tengah.

(2007).

http://grey.litbang.depkes.go.id.

Diunduh 22 Desember 2013.

Rocha, Carminate, Tibirica, Carvalho,

Silva, Chebli . 2012. Acute

Diarrhea in Hospitalized

Children of the Municipality of

Juiz de fora, mg, Brazil:

Prevalence and Risk factors

associated with disease severity.

Arq. Gastroenterol. 49 (4): 259-

265.

Sidik et al. (2013). Assessment of the

quality of Hospital care for

children in Indonesia. Tropical

Medicine and International

Health. 18 (4): 407–415.

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian

Kuantitatif Kualitatif dan R&D.

Cetakan ke-19. Alfabeta.

Bandung.

Suhaemi. (2005). Etika Keperawatan.

EGC. Jakarta.

Suraatmaja. (2010). Kapita Selekta

Gastroenterologi Anak. cetakan

ketiga. Sagung Seto. Jakarta.

Taylor. (2011). Fundamental of Nursing

The Art and Science of Nursing

Care. Seventh Edition.

Lippincott Williams & Wilkins.

Tomey, Alligood. (2010). Nursing

Theorists and Their Work.

Seventh Edition. Mosby

elseiver. USA

Walker, C. L. F., Fontaine, O., Young,

W., dan Robert E Black, R. E.

(2009). Zinc and low osmolarity

oral rehydration salts for

diarrhoea: a renewed call to

action. Bull World Health

Organ. 87

(10.2471/BLT.08.058990): 780–

786.

Wake, M. M., Tolessa, C. 2011.

Reducing diarrhoeal diseases:

lessons on sanitation from

Ethiopia and Haiti. International

Council of Nurses. 59: 34-39.

WHO (2014). Intregated Management

of Childhood Illness (IMCI).

Distance Learning Course,

Modul 4 Diarrhoea. WHO.

Switzerland

WGO. 2008. World Gastroenterology

Organisation practice guideline:

Acute diarrhea. WGO.

WHO. 2005. The Treatment of

Diarrhoea, A manual for

physicians and other senior

health workers. 4th rev. WHO.

Geneva.

WHO, UNICEF. (2013). Ending

Preventable Child Deaths from

Pneumonia and Diarrhoea by

2025 The integrated Global

Action Plan for Pneumonia and

Diarrhoea (GAPPD). WHO.

France.

Widayanti, E. (2013). Evaluasi

Kerasionalan Pengobatan Diare

(non Spesifik) Di Puskesmas

Kabupaten Sleman Tahun 2011.

Tesis. Fakultas Kedokteran

Universitas Gadjah Mada.

Yogyakarta.

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 1(1) 2016

31

WHO. 2012. Health topics: Diarrhoea.

http://www.who.int/topics/diarrh

oea/en/. Diakses 12 Desember

2013.

Yin, R. K. 1996. Case Study Research:

Design and Methods. Studi

Kasus Desain dan Metode.

Terjemahan Mudzakir. 2013.

Studi Kasus Desain dan Metode.

Cetakan ke-12. RajaGrafindo

Persada. Jakarta.

Zhang, et al. 2013. Care-seeking and

quality of care for outpatient

sick children in rural Hebei,

China: a cross-sectional study.

Croat Med J. 54

ACKNOWLEDGEMENT_________

mengucapkan terimaksih kepada

semua pihak yang telah membantu dan

mendukung dalam proses penelitian ini:

Dekan dan Wakil Dekan Fakultas Ilmu

Kesehatan (FIKES) Universitas

Muhammadiyah Magelang (UMMgl),

Kaprodi S1 Keperawatan dan Ners

FIKES UMMgl, RS dr. Soedjono

Magelang, Dosen dan Staf FIKES

UMMgl.

IJMS – Indonesian Journal On Medical Science – Volume 2 No 1 - Januari 2015

ISSN 2443-1249 (Print) 2355-1313 (On Line) - ijmsbm.org 60

Studi Kasus: Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Gastroenteritis Dehidrasi Sedang (Case Study: Nursing Care In Children With Gastroenteritis Moderate Dehydration)

Rahayu Sari Utami 1)

, Dewi Wulandari 2)

Poltekkes Bhakti Mulia Sukoharjo [email protected]

Abstract: Gastroenteritis or diarrhea is the second leading caused of child deaths in the world with 15 million children died every year. SKRT showed that diarrhea is a major caused of infant mortality in Indonesia. Data Sukoharjo District Health Office showed the number of patients with gastroenteritis in 2012 as many as 31 716 inhabitants (3.7%), whereas in 2013 increased to 35 498 inhabitants (4.11%). The purpose of this study to determine the nursing care in children with gastroenteritis moderate dehydration. This study was a qualitative case study design using the nursing process approach. The population in this study were children who had diarrhea with moderate dehydration. The sample was An. A. The sampling technique used purposive sampling. The study was done at the regional public hospital of Sukoharjo on February 2014. Data was collected through interviews, observation, and documentation. The research instrument was a researcher herself with tools sphygmomanometer, stethoscope, thermometer, penlight, and assessment guidelines. The assesment showed An.A vomited one time, temperature 38,2

0C, 1.2 kg weight loss, poor skin turgor, leukocytes 17,200 uL, fluid balance -

111.7 cc. There are 3 nursing problems, they were fluid volume deficit, hyperthermia, and infection. After two-days nursing care obtained improved development issues. Conclusion, the main nursing problem of An. A with gastroenteritis moderate dehydration was fluid volume deficit. Keywords: nursing care, children, gastroenteritis, moderate dehydration Abstrak: Gastroenteritis atau diare merupakan penyebab kedua kematian anak di dunia dengan 15 juta anak meninggal setiap tahunnya.. Survei Kesehatan Ruma h Tangga menunjukkan bahwa diare masih menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo menunjukkan jumlah penderita gastroenteritis pada tahun 2012 sebanyak 31.716 penduduk (3,7%), sedangkan tahun 2013 mengalami kenaikan menjadi 35.498 penduduk (4,11%). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui asuhan keperawatan pada anak dengan gastroenteritis dehidrasi sedang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus menggunakan pendekatan proses keperawatan. Populasi dalam penelitian ini adalah anak yang mengalami diare dengan dehidrasi sedang. Sampelnya adalah An. A. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Penelitian dilakukan di RSUD Sukoharjo pada bulan Februari 2014. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri dengan alat bantu sphygmomanometer, stetoskop, termometer, penlight, serta pedoman pengkajian. Berdasarkan pengkajian yang dilakukan didapatkan data adanya muntah 1 kali, suhu 38,2

0C, berat badan turun 1,2 kg, turgor kulit jelek, leukosit 17.200 uL,

balance cairan -111,7 cc. Terdapat 3 masalah keperawatan, yaitu defisit volume cairan, hipertermi, dan infeksi. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama dua hari didapatkan perkembangan masalah membaik.Kesimpulannya, masalah keperawatan utama pada An. A dengan gastroenteritis dehidrasi sedang adalah defisit volume cairan. Kata Kunci: asuhan keperawatan, anak, gastroenteritis, dehidrasi sedang I. PENDAHULUAN

Istilah gastroenteritis digunakan secara luas untuk menguraikan pasien yang mengalami perkembangan diare dan atau muntah akut. Istilah ini mengacu pada terdapat proses inflamasi dalam lambung dan usus, walaupun pada beberapa kasus tidak selalu demikian (Sodikin, 2011). Secara global setiap tahun diperkirakan dua juta kasus gastroenteritis yang terjadi di kalangan anak berumur kurang dari lima tahun. Walaupun penyakit ini seharusnya dapat

diturunkan dengan pencegahan, namun penyakit ini tetap menyerang anak terutama yang berumur kurang dari dua tahun. Penyakit ini terutama disebabkan oleh makanan dan minuman yang terkontaminasi akibat akses kebersihan yang buruk (Howidi, 2012).

Gastroenteritis atau diare merupakan penyebab kedua kematian anak di dunia dengan 15 juta anak meninggal setiap tahunnya. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), menunjukkan bahwa diare masih

IJMS – Indonesian Journal On Medical Science – Volume 2 No 1 - Januari 2015

ISSN 2443-1249 (Print) 2355-1313 (On Line) - ijmsbm.org 61

menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia. Penyebab utama kematian karena diare perlu tata laksana yang cepat dan tepat (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo (2012), jumlah penderita gastroenteritis pada tahun 2012 adalah 31.716 penduduk atau 3,7%, sedangkan pada tahun 2013 mengalami kenaikan 1,4% menjadi 4,11% dengan jumlah penderita 35.498 penduduk. Data hasil studi pendahuluan di Rumah Sakit Daerah Sukoharjo pada tahun 2013 menunjukkan penderita gastroenteritis mencapai 845 orang.

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah ini dianggap menarik, perlu dan penting untuk diteliti. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui asuhan keperawatan pada An. A dengan gangguan sistem pencernaan: gastroenteritis dehidrasi sedang, meliputi tahap pengkajian hingga evaluasi keperawatan.

Diare menurut Wijayaningsih (2013) dapat diartikan sebagai suatu kondisi buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung dan usus. Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya, ditandai dengan peningkatan volume, keenceran, serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari dan pada neonatus 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir darah (Hidayat, 2006).

Menurut Sodikin (2011), secara klinik diare dibedakan menjadi tiga macam sindrom, yaitu diare akut (gastroenteritis), disentri, dan disentri persisten. Masing-masing mencerminkan patogenesis berbeda dan memerlukan pendekatan yang berlainan dalam pengobatannya.

Diare akut ialah diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat (Noerasid, Suraatmadja & Asnil, dikutip Suharyono, Boediarso & Halimun, 1998). Menurut Watson, dikutip Jones & Irving (1996); Behrman, Kliegman, & Arvin (1996) diare berlangsung kurang dari 14 hari (bahkan kebanyakan kurang dari tujuh hari) dengan disertai pengeluaran feses lunak atau cair, sering tanpa darah, mungkin disertai muntah dan panas (kemenkes RI, 2011). Diare akut (berlangsung kurang dari tiga minggu), penyebabnya infeksi dan bukti penyebabnya harus dicari (perjalanan ke luar negeri, memakan makanan mentah, diare

serentak dalam anggota keluarga dan kontak dekat).

Diare akut lebih sering terjadi pada bayi daripada anak yang lebih besar. Penyebab terpenting diare cair akut pada anak-anak di negara berkembang adalah rotavirus, Escherichia coli enterotoksigenik, Shigella, Campylobacter jejuni dan Cryptosporidium (Kemenkes RI , 2011). Penyakit diare akut dapat ditularkan dengan cara fekal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Peluang untuk mengalami diare akut antara anak laki-laki dan perempuan hampir sama. Diare cair akut menyebabkan dehidrasi dan bila masukan makanan berkurang, juga mengakibatkan kurang gizi, bahkan kematian yang disebabkan oleh dehidrasi.

Penyebab gastroenteritis antara lain infeksi, malabsorbsi, makanan dan psikologis (Dewi, 2010). Penelitian yang dilakukan Oktania Kusumawati, Heryanto Adi Nugroho, Rodhi Hartono (2010) menunjukkan terdapat hubungan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan kejadian diare dengan p value 0,025

Penanganan pada penderita diare adalah:

1. Penanganan fokus pada penyebab 2. Pemberian cairan (rehidrasi awal dan

rumatan) 3. Dietetik (pemberian makanan) 4. Pada bayi, pemberian ASI diteruskan

jika penyebab bukan dari ASI. (Suriadi dan Yuliani, 2010)

II. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus menggunakan pendekatan proses keperawatan. Populasi dalam penelitian ini adalah anak yang mengalami diare dengan dehidrasi sedang. Sampelnya adalah An. A. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Penelitian dilakukan di RSUD Sukoharjo (bangsal Anggrek) pada bulan Februari 2014. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri dengan alat bantu sphygmomanometer, stetoskop, termometer, penlight, serta pedoman pengkajian.

Pendekatan proses keperawatan yang dilakukan peneliti meliputi tahapan sebagai berikut: 1. Pengkajian

Peneliti melakukan pengumpulan data, baik bersumber dari responden/pasien,

IJMS – Indonesian Journal On Medical Science – Volume 2 No 1 - Januari 2015

ISSN 2443-1249 (Print) 2355-1313 (On Line) - ijmsbm.org 62

keluarga pasien, maupun lembar status pasien.

2. Diagnosis keperawatan Peneliti melakukan analisis terhadap semua data yang diperoleh sehingga didapatkan diagnosa keperawatan.

3. Intervensi keperawatan Peneliti menyusun rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah keperawatan yang terjadi.

4. Implementasi keperawatan Peneliti melaksanakan rencana tindakan yang telah disusun.

5. Evaluasi keperawatan Peneliti melakukan penilaian tindakan keperawatan yang telah dilakukan dalam mengatasi masalah yang terjadi.

III. HASIL PENELITIAN

Peneliti akan menjabarkan hasil penelitian berdasarkan tahapan-tahapan pada proses keperawatan. 1. Pengkajian

Data hasil pengkajian menunjukkan Data subjektif: keluarga mengatakan An. A panas 1 hari yang lalu; keluarga mengatakan An. A muntah 1 kali lebih kurang 300cc; keluarga mengatakan intake cairan An. A kurang, lebih kurang 800cc; keluarga mengatakan nafsu makan An. A menurun; keluarga mengatakan An. A makan kurang dari 4 sendok; keluarga mengatakan BB sebelum sakit 8,5 kg; keluarga mengatakan BB sakit 7,3 kg.

Data objektif: TTV: S= 38,2oC, N=

136 x/menit, R= 28 x/menit; kulit teraba hangat; terlihat merah dan berkeringat; pemeriksaan nutrisi: A: BB turun 1,2 kg, BB ideal 10 kg, B: Hb= 12,7 gr/dl, C: mukosa bibir kering, D: bubur lunak; turgor kulit jelek; muntah berwarna putih susu, cair; leukosit 17.200 uL; MCHC 34 %; balance cairan -111,7 cc. Tabel 1. Perhitungan balance cairan

No Jenis Jumlah (cc)

INTAKE 1 Makan 50

2 Minum 800

3 Infus 1500

TOTAL 2350

OUTPUT

1 BAB 150

2 BAK 1500

3 Muntah 300

4 Keringat 100

5 IWL: 211,7+280 491,7

TOTAL 2541,7

Balance cairan= INTAKE – OUTPUT = 2350 – 2461,7 = -191,7 cc

Sumber: Data primer diolah, 2014 2. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan analisis data pengkajian dapat ditegakkan Diagnosa keperawatan:

Diagnosa keperawatan pertama adalah kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebih ditandai dengan: data subjektif keluarga mengatakan An. A muntah 1 kali lebih kurang 300cc; keluarga mengatakan intake cairan An. A kurang, lebih kurang 800cc. Data objektif: turgor kulit jelek; muntah berwarna putih susu, cair; kulit berkeringat; balance cairan -111,7cc; MCHC 34%, Berat badan turun 1,2 kg.

Diagnosa keperawatan kedua adalah hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme ditandai dengan: data subjektif keluarga mengatakan An. A panas satu hari yang lalu. Data objektif dari pemeriksaan TTV: S= 38,2°C, N= 136 x/menit, R= 28 x/menit; kulit teraba hangat; kulit terlihat merah; kulit berkeringat.

Diagnosa keperawatan ketiga adalah infeksi berhubungan dengan peradangan pada lambung dan usus yang ditandai dengan: data subjektif: keluarga mengatakan An. A panas 1 hari yang lalu. Data objektif: leukosit 17.200 uL; S= 38,2

oC; kulit teraba hangat.

3. Intervensi Keperawatan Tujuan keperawatan untuk masalah

defisit volume cairan adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, masalah teratasi dengan kriteria hasil keluarga mengatakan An. A minum cukup, keluarga mengatakan muntah hilang, turgor kulit baik, kulit lembab, balance cairan seimbang (+) 0-500cc. Intervensi keperawatannya: pantau intake dan output pasien, beri minum 1000-2000cc, timbang berat badan, dorong masukan oral (makan/minum), kolaborasi pemberian cairan intravena 24 tpm mikro.

Tujuan keperawatan untuk masalah hipertermi adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, masalah teratasi dengan kriteria hasil: keluarga mengatakan panas An. A turun; S= 36-37,5

oC; kulit teraba hangat; kulit

teraba lembab. Rencana tindakan keperawatannya adalah kaji peningkatan

IJMS – Indonesian Journal On Medical Science – Volume 2 No 1 - Januari 2015

ISSN 2443-1249 (Print) 2355-1313 (On Line) - ijmsbm.org 63

suhu, beri kompres hangat, lakukan water tepid sponge, berikan pakaian tipis, berikan minum 1000-2000cc/hari, beri penjelasan keluarga tentang fungsi banyak minum, kolaborasi pemberian paracetamol.

Tujuan keperawatan untuk masalah infeksi adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, masalah teratasi dengan kriteria hasil: keluarga mengatakan panas An. A menurun; S= 36-37,5

oC; kulit teraba hangat; leukosit

5000-10000 uL. Intervensi keperawatan masalah infeksi adalah kaji peningkatan suhu, beri kompres hangat, lakukan water tepid sponge, beri pakaian tipis, beri minum 1000-2000cc, kolaborasi pemberian bubur lunak.

4. Implementasi keperawatan Tindakan yang dilakukan pada

tanggal 25-26 Februari 2014 sesuai dengan rencana tindakan yang telah disusun untuk masing-masing masalah keperawatan.

5. Evaluasi Setelah dilakukan asuhan

keperawatan selama dua hari didapatkan tiga masalah keperawatan yang muncul teratasi karena telah tercapai kriteria hasilnya.

IV. PEMBAHASAN Peneliti akan melakukan pembahasan untuk masing-masing tahapan yang telah dilalui. 1. Pengkajian

Tahap pengumpulan data dasar meliputi pengumpulan data subjektif dan objektif. Pengumpulan data subjektif meliputi identitas pasien dan penanggungjawab; riwayat kesehatan sekarang, dahulu, keluarga dan sosial; sebelas pola fungsional menurut Gordon; serta pemeriksaan fisik head to toe.

Dari status pasien didapatkan umur anak 1 tahun. Hal ini sesuai dengan teori menurut Howidi (2012) bahwa secara global setiap tahun diperkirakan dua juta kasus gastroenteritis yang terjadi di kalangan anak berumur kurang dari lima tahun. Walaupun penyakit ini seharusnya dapat diturunkan dengan pencegahan, namun penyakit ini tetap menyerang anak terutama yang berumur kurang dari dua tahun.

Penulis tidak melakukan pengkajian data riwayat penyakit yang pernah dialami An. A. Hal ini penting dilakukan karena sesuai dengan teori bahwa jika

anak memakan makanan atau air kontaminasi, atau mengalami infeksi di tempat lain (misalnya pernafasan, infeksi saluran kemih) dapat mengakibatkan diare (Sodikin, 2011).

Dari data pengkajian pola eliminasi BAB, keluarga mengatakan sebelum dan selama sakit BAB An. A tidak ada perubahan terkadang 1 kali atau 2 kali sehari, dengan karakteristik lembek, warna kuning kecoklatan,tidak diare dan tidak konstipasi, bau khas feses. Sedangkan pada pemeriksaan abdomen bising usus 8 x/menit, tidak ada nyeri tekan, perkusi tympani. Hal ini tidak sesuai dengan teori menurut Wijayaningsih (2013), bahwa tanda gejala diare adalah sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer, kadang disertai darah dan lender.

Data pemeriksaan fisik menunjukkan data keadaan umum pasien sedang, An. A rewel, turgor kulit jelek, dengan mulut/ mukosa bibir kering, nadi 136 x/menit. Menurut Wijayaningsih (2013), berdasarkan Skor Mavrice King: penilaian derajat dehidrasi An. A rewel bernilai 1, turgor kulit jelek/ kekenyalan kulit sedikit kurang bernilai 1, mulut/ mukosa bibir kering bernilai 1, nadi 136 x/menit bernilai 1, nilai derajat dehidrasi pada An. A adalah 4 menunjukkan derajat sedang (3-6). Sehingga antara teori dan kenyataan tidak ada kesenjangan dalam memberikan penilaian derajat dehidrasi.

Berikut tabel penilaian derajat dehidrasi menurut Mavrice King: Tabel 1. Penilaian derajat dehidrasi

Bagian tubuh yang diperiksa

Nilai untuk gejala yang ditemukan

0 1 2

Keadaan umum

Sehat

Gelisah, cengeng, apatis, ngantuk

Mengigau, koma, atau syok

Kekenyalan kulit

Normal

Sedikit kurang

Sangat kurang

Mata Normal

Sedikit cekung

Sangat cekung

Ubun-ubun besar

Normal

Sedikit cekung

Sangat cekung

Mulut Normal

Kering Kering & sianosis

Denyut nadi/ mata

Kuat <120

Sedang (120-140)

Lemas >40

Sumber: Wijayaningsih, 2013

IJMS – Indonesian Journal On Medical Science – Volume 2 No 1 - Januari 2015

ISSN 2443-1249 (Print) 2355-1313 (On Line) - ijmsbm.org 64

Keterangan: (1) Jika mendapat nilai 0-2 dehidrasi

ringan (2) Jika mendapat nilai 3-6 derajat

sedang (3) Jika mendapat nilai 7-12 derajat

berat Pemeriksaan penunjang yang

dilakukan pada An. A untuk menegakkan diagnosa adalah pemeriksaan leukosit 17.200 uL yang menunjukkan peningkatan leukosit, adanya infeksi pada tubuh An. A. Hal ini sesuai dengan teori menurut Dewi (2010), penyebab diare salah satunya adalah infeksi enteral yaitu infeksi yang terjadi dalam saluran pencernaan dan merupakan penyebab utama terjadinya diare.

Terapi yang diberikan pada An. A adalah infus RL 24 tpm mikro dengan cara pemberian melalui IV, hal ini sesuai teori menurut Doenges (2000) bahwa cairan parenteral berfungsi mempertahankan istirahat usus, akan memerlukan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan. Pemberian terapi ondancentron 1 mg melalui IV, hal ini sesuai teori menurut Tjay (2007) ondancentron merupakan obat antiemetik yang bertujuan untuk menghilangkan mual dan muntah yang dialami oleh pasien. Terapi paracetamol ¾ sdt/5 jam cara pemberian per oral, hal ini sesuai teori Carpenito (2009) pemberian antipiretik berfungsi untuk mengembalikan suhu menjadi stabil. Data pemeriksaan fisik menunjukkan data keadaan umum pasien sedang, An. A rewel, turgor kulit jelek, dengan mulut/ mukosa bibir kering, nadi 136 x/menit. Menurut Wijayaningsih (2013), berdasarkan Skor Mavrice King: penilaian derajat dehidrasi An. A rewel bernilai 1, turgor kulit jelek/ kekenyalan kulit sedikit kurang bernilai 1, mulut/ mukosa bibir kering bernilai 1, nadi 136 x/menit bernilai 1, nilai derajat dehidrasi pada An. A adalah 4 menunjukkan derajat sedang (3-6). Sehingga antara teori dan kenyataan tidak ada kesenjangan dalam memberikan penilaian derajat dehidrasi.

2. Diagnosa Keperawatan Data untuk diagnosa defisit volume

cairan adalah data subjektif: keluarga mengatakan An. A muntah 1 kali lebih kurang 300cc; keluarga mengatakan

intake cairan An. A kurang, lebih kurang 800cc. Pada data objektif pemeriksaan fisik turgor kulit jelek; muntah berwarna putih susu cair, kulit berkeringat; perhitungan balance cairan -111,7cc; data penunjang MCHC 34%. Maka penulis menetapkan masalah keperawatan kekurangan volume cairan, hal ini sesuai dengan teori menurut NANDA (2012) bahwa batasan karakteristik diagnosa kekurangan volume cairan meliputi penurunan turgor kulit, kulit kering.

Adapun batasan karakteristik yang ditemukan penulis namun tidak dimasukkan pada masalah keperawatan kedua ini dikarenakan penulis berfokus pada keluaran cairan dan perhitungan balance cairan, meliputi peningkatan suhu tubuh, peningkatan frekuensi nadi, membran mukosa kering, penurunan berat badan tiba-tiba. Sedangkan batasan karakteristik yang tidak dijumpai pada An. A adalah perubahan status mental, penurunan tekanan darah, penurunan tekanan nadi, penurunan volume nadi, penurunan turgor lidah, penurunan haluaran urine, penurunan pengisian vena, peningkatan hematokrit, peningkatan konsentrasi urine, haus, kelemahan.

Penulis menetapkan diagnosa kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebih. Etiologi ini tidak sesuai dengan teori NANDA (2012), pembenaran masalah ini adalah kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif.

Data Diagnosa kedua adalah data subjektif: keluarga mengatakan An. A panas 1 hari yang lalu. Pada data objektif: pemeriksaan tanda vital S= 38,2

oC, N= 136 x/menit, R= 28 x/menit;

sedangkan pemeriksaan fisik ditemukan data kulit teraba hangat, kulit terlihat merah, kulit berkeringat. Penulis menetapkan masalah hipertermi hal ini sesuai dengan teori menurut NANDA (2012), bahwa batasan karakteristik diagnosa hipertermi meliputi kulit kemerahan, peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal, takikardi, kulit terasa hangat. Adapun batasan karakteristik yang tidak dijumpai pada An. A adalah konvulsi, kejang, takipnea.

Penulis menetapkan diagnosa hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme. Etiologi

IJMS – Indonesian Journal On Medical Science – Volume 2 No 1 - Januari 2015

ISSN 2443-1249 (Print) 2355-1313 (On Line) - ijmsbm.org 65

ini tidak sesuai dengan teori NANDA (2012), karena pada anak dengan gastroenteritis tidak mengalami peningkatan laju metabolisme yang signifikan. Hal ini sesuai dengan teori menurut Syaifuddin (2006), bahwa kecepatan metabolisme bergantung pada kegiatan seseorang, ketegangan saraf juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi pernafasan dan kerja jantung. Adapun beberapa penyakit kelainan kelenjar tiroid, kelenjar tiroid yang berlebihan menaikkan kecepatan metabolisme, misalnya penyakit hipertiroidisme. Pembenaran di masalah ini seharusnya etiologi masalah hipertermi pada An. A adalah penyakit dan dehidrasi. Hal ini sesuai dengan pemeriksaan pada An. A dengan hasil laboratorium menunjukkan leukosit meningkat dan hasil penilaian dehidrasi menunjukkan dehidrasi sedang.

Data yang digunakan untuk menegakkan diagnosa infeksi adalah data subjektif keluarga mengatakan An. A panas 1 hari yang lalu. Data objektif pemeriksaan tanda vital S= 38,2

oC;

pemeriksaan fisik kulit teraba hangat; dan data penunjang leukosit 17.200 uL. Penulis menetapkan masalah infeksi hal ini tidak sesuai dengan teori menurut NANDA (2012), bahwa faktor risiko infeksi terdiri dari penyakit kronis, penekanan sistem imun, ketidakadekuatan imunitas dapatan, pertahanan primer tidak adekuat, pertahanan lapis kedua yang tidak memadai, peningkatan pemajanan lingkungan terhadap patogen, pengetahuan yang kurang untuk menghindari pajanan patogen, prosedur invasif, malnutrisi, agens farmasi, pecah ketuban, kerusakan jaringan, trauma.

Penulis menetapkan diagnosa infeksi berhubungan dengan peradangan pada lambung dan usus. Diagnosa dan etiologi ini tidak sesuai dengan NANDA (2012) dan Sodikin (2011). Diagnosa yang tepat menurut Sodikin (2011) adalah risiko tinggi infeksi berhubungan dengan mikroorganisme yang menembus gastrointestinal. Namun data yang dijumpai pada An. A sudah menunjukkan tanda dan gejala infeksi yaitu kalor yang ditunjukkan dengan peningkatan suhu dan kulit teraba hangat, hal ini sesuai dengan teori Mubarak (2007) bahwa tanda infeksi

lokal yaitu rubor atau kemerahan, kalor atau panas, dolor atau nyeri, tumor atau bengkak, fungsio laesa atau perubahan fungsi. Bila inflamasi menjadi sistemik timbul tanda lain selain demam, leukositas, malaise, anoreksia, mual, muntah, pembesaran kelenjar limfe (Perry dan Potter, 2005). Sehingga penulis tetap menegakkan diagnosa infeksi berhubungan dengan mikroorganisme yang menembus gastrointestinal.

Dalam penetapan diagnosa keperawatan menurut NANDA (2012) etiologi yang digunakan penulis tidak tetap, namun untuk batasan karakteristik sudah sesuai.

3. Intervensi Keperawatan Pada tahap intervensi keperawatan,

dilakukan penyusunan prioritas masalah keperawatan. Dengan menentukan diagnosis keperawatan, maka dapat diketahui diagnosis mana yang akan dilakukan atau diatasi pertama kali atau yang segera dilakukan (Hidayat, 2008).

Penulis menetapkan diagnosa utama adalah defisit volume cairan. Hal ini sesuai dengan teori menurut Asmadi (2008), bahwa penentuan prioritas berdasarkan kebutuhan dasar menurut Maslow yaitu pertama kebutuhan fisiologis meliputi oksigen, cairan, nutrisi, eliminasi, istirahat, tidur, terbebas dari nyeri, pengaturan suhu tubuh, seksual, dan lain sebagainya. Apabila kebutuhan fisiologis ini sudah terpenuhi, maka seseorang akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan lain yang lebih tinggi dan begitu seterusnya.

Intervensi yang penulis susun harus sesuai dengan 4 tipe instruksi perawatan atau bisa disebut dengan ONEC: observation/ tipe diagnostik; tipe ini menilai kemungkinan pasien ke arah pencapaian kriteria hasil dengan observasi secara langsung. Nursing Treathment/ tipe terapeutik; menggambarkan tindakan yang dilakukan oleh perawat secara langsung untuk mengurangi, memperbaiki dan mencegah kemungkinan masalah. Education/ tipe penyuluhan; digunakan untuk meningkatkan perawatan diri pasien dengan membantu pasien untuk memperoleh tingkah laku individu yang mempermudah pemecahan masalah. Colaboration/ tipe rujukan; menggambarkan peran perawat sebagai

IJMS – Indonesian Journal On Medical Science – Volume 2 No 1 - Januari 2015

ISSN 2443-1249 (Print) 2355-1313 (On Line) - ijmsbm.org 66

koordinator dan manager dalam perawatan pasien dengan anggota tim kesehatan (Hidayat, 2008).

Tujuan keperawatan untuk diagnosa pertama diharapkan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, masalah teratasi. Hal ini tidak sesuai dengan teori menurut Wilkinson (2012), seharusnya tujuannya adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam tercapai keseimbangan cairan.

Kriteria hasil keluarga mengatakan An. A minum cukup, keluarga mengatakan muntah hilang, turgor kulit baik, kulit lembab, balance cairan seimbang (+) 0-500cc. Hal ini sesuai dengan teori menurut Wilkinson (2012) akan menunjukkan keseimbangan cairan, hidrasi yang adekuat, cairan yang adekuat.

Intervensi yang akan dilakukan adalah pantau intake dan output pasien, beri minum 1000-2000cc, timbang berat badan, dorong masukan oral (makan/minum), kolaborasi pemberian cairan intravena 24 tpm mikro. Hal ini sesuai dengan teori menurut Doenges (2000) dan Sodikin (2011), intervensi yang akan dilakukan adalah a) awasi masukan dan haluaran, karakter, dan jumlah feses; perkiraan kehilangan yang tak terlihat seperti berkeringat. Ukur berat jenis urine; observasi oliguria karena memberikan informasi tentang keseimbangan cairan, fungsi ginjal dan kontrol penyakit usus juga merupakan pedoman untuk pengganti cairan, b) kaji tanda vital (TD, nadi, suhu) karena hipotensi (termasuk postural), takikardi, demam dapat menunjukkan respon terhadap dan/ atau efek kehilangan cairan, c) observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan turgor kulit, pengisian kapiler lambat karena menunjukkan kehilangan cairan berlebih, d) ukur berat badan tiap hari karena indikator cairan dan status nutrisi, e) pertahankan pembatasan per oral, tirah baring; hindari kerja karena kolon diistirahatkan untuk penyembuhan dan untuk menurunkan kehilangan cairan usus, f) catat kelemahan otot umum atau disritmia jantung karena kehilangan usus berlebihan dapat menimbulkan ketidakseimbangan elektrolit, misal kalium, yang perlu untuk fungsi tulang dan jantung. Gangguan minor pada kadar serum dapat

mengakibatkan adanya dan/ atau gejala ancaman hidup, g) berikan cairan parenteral sesuai indikasi karena mempertahankan istrirahat usus akan memerlukan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan. Cairan mengandung natrium dapat dibatasi pada adanya enteritis regional.

Namun dalam pemberian rencana tindakan memberi minum untuk anak dengan BB 7,3 kg adalah 1000-2000cc, tidak sesuai menurut teori Wong (2009), bahwa perhitungan kebutuhan cairan sesuai dengan BB anak yaitu BB kurang dari 10 kg maka kebutuhan cairan yaitu BB dikalikan 100 cc. Sehingga cairan yang dibutuhkan An. A adalah 730 cc.

Tujuan yang diharapkan untuk diagnosa kedua yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, masalah teratasi. Hal ini tidak sesuai dengan teori menurut Wilkinson (2012), yaitu akan menunjukkan termoregulasi.

Kriteria hasil yang diharapkan keluarga mengatakan panas An. A turun, S= 36-37,5

oC, kulit teraba hangat, kulit

teraba lembab. Hal ini sesuai dengan teori menurut Wilkinson (2012) yang menunjukkan kriteria hasil dalam nilai normal dalam rentang normal.

Intervensi yang akan dilakukan adalah: a) kaji suhu/ peningkatan suhu, b) beri kompres hangat, c) lakukan water tepid sponge, d) berikan pakaian tipis, e) berikan minum 1000-2000cc/ hari, f) beri penjelasan keluarga tentang fungsi banyak minum, g) kolaborasi dengan dokter dalam pemberian paracetamol. Hal ini sesuai dengan teori menurut Carpenito (2009), rencana tindakan keperawatan yang dilakukan antara lain: a) kaji suhu tubuh dan lingkungan karena suhu tubuh sangat dipengaruhi oleh tingkat aktivitas dan suhu lingkungan; kelembaban yang tinggi akan meningkatkan efek panas atau dingin terhadap tubuh; b) lepaskan pakaian atau selimut yang berlebihan (lepaskan topi, sarung tangan, atau kaos kaki, sesuai kebutuhan) untuk meningkatkan pengeluaran panas. Dorong untuk memakai pakaian longgar yang terbuat dari bahan katun karena penambahan pakaian atau selimut pada seseorang akan menghambat kemampuan alami tubuh untuk menurunkan suhu tubuh; pelepasan pakaian atau selimut akan meningkatkan kemampuan alami tubuh

IJMS – Indonesian Journal On Medical Science – Volume 2 No 1 - Januari 2015

ISSN 2443-1249 (Print) 2355-1313 (On Line) - ijmsbm.org 67

untuk menurunkan suhu tubuh; c) ajarkan pasien pentingnya meningkatkan asupan cairan selama cuaca panas dan latihan fisik. Hindari melakukan aktivitas dalam cuaca panas karena peningkatan kalori dan cairan diperlukan untuk mempertahankan fungsi membran ketika terjadi demam; d) kolaborasi pemberian antipiretik sesuai indikasi karena antipiretik berfungsi untuk mengembalikan suhu menjadi stabil.

Tujuan yang diharapkan untuk diagnosa ketiga adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, masalah teratasi. Hal ini tidak sesuai dengan teori menurut Wilkinson (2012), yaitu faktor risiko akan hilang.

Kriteria hasil keluarga mengatakan panas An. A menurun, S: 36-37,5

oC, kulit

teraba hangat, leukosit 5000-10000 uL. Hal ini sesuai dengan teori menurut Wilkinson (2012) pasien dan keluarga akan terbebas dari tanda dan gejala infeksi, memperlihatkan higiene personal yang adekuat, mengindikasikan status gastrointestinal, menggambarkan faktor yang menunjang penularan infeksi, melaporkan tanda dan gejala infeksi serta mengikuti prosedur skrining dan pemantauan.

Intervensi yang dilakukan a) kaji peningkatan suhu, b) beri kompres hangat, c) lakukan water tepid sponge, d) beri pakaian tipis, e) beri minum 1000-2000cc, f) kolaborasi ahli gizi pemberian bubur lunak. Hal ini sesuai dengan teori menurut Wilkinson (2012) dan Sodikin (2011) intervensi yang dilakukan adalah a) pantau tanda dan gejala infeksi (misalnya, suhu tubuh, denyut jantung, drainase, penampilan luka, sekresi, penampilan urine, suhu kulit, lesi kulit, keletihan, dan malaise); b) kaji faktor yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi (misalnya, usia lanjut, usia kurang dari 1 tahun, luluh imun, dan malnutrisi); c) pantau hasil laboratorium; d) amati penampilan praktik higiene personal untuk perlindungan terhadap infeksi; e) instruksikan untuk menjaga higiene personal untuk melindungi tubuh terhadap infeksi (misalnya, cuci tangan) f) berikan terapi antibiotik, bila diperlukan.

Rencana asuhan keperawatan yang disusun oleh penulis berdasarkan masalah keperawatan yang muncul sudah sesuai dengan teori menurut

Doenges (2000), Carpenito (2009), dan Sodikin (2011).

4. Implementasi Tindakan yang dilakukan sesuai

rencana asuhan keperawatan. Adapun beberapa tindakan diluar rencana keperawatan yaitu mengukur DDST dengan hasil interprestasi yang diperoleh dari pemeriksaan perkembangan An. A adalah normal. Selanjutnya juga melakukan terapi bermain pada An. A karena rewel. Hal ini sesuai dengan teori Nursalam (2005), bahwa perilaku protes pada konsep hospitalisasi anak adalah menangis.

5. Evaluasi Perkembangan pasien pada hari

pertama belum sesuai dengan kriteria hasil yang diharapkan sehingga intervensi tetap dilanjutkan. Sedangkan perkembangan pada hari kedua sudah sesuai dengan kriteria hasil yang diharapkan sehingga intervensi dipertahankan dan pada hari kedua pasien diperbolehkan pulang sehingga diberikan discharge planning.

V. SIMPULAN

Masalah utama pada An. A dengan gastroenteritis dehidrasi sedang adalah defisit volume cairan. REFERENSI

Asmadi. 2008. Konsep dan Aplikasi

Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika.

Carpenito, Lynda Juall. 2009. Diagnosa Keperawatan: Aplikasi pada Praktik Klinis. Ed. 9. Jakarta: EGC.

Dewi, V. Nanny Lia. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba Medika.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo. 2012. Profil Kesehatan Kabupaten Sukoharjo Tahun 2012. Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo. Tidak dipublikasikan.

Doenges, M.E, Moorhouse, M.S, Geissler, A.C. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian. Ed. 3. Jakarta: EGC.

Hidayat, A Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.

IJMS – Indonesian Journal On Medical Science – Volume 2 No 1 - Januari 2015

ISSN 2443-1249 (Print) 2355-1313 (On Line) - ijmsbm.org 68

Hidayat, A Aziz Alimul. 2008. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Howidi et al. 2012. Burden of acute gastroenteritis among children younger than 5 years of age – a survey among parents in the United Arab Emirates. BMC Pediatrics. Issue 12 : 74. Diakses pada tanggal 17 Juni 2014 pukul 09.10 WIB.

Kementrian Kesehatan. 2014. Perilaku Mencuci Tangan Pakai Sabun di Indonesai. www.depkes.go.id. Diakses pada tanggal 17 Juni 2014 pukul 09.50 WIB.

Mubarak, Wahit Iqbal. 2007. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia: Teori & Aplikasi Dalam Praktik. Jakarta, EGC.

NANDA. 2012. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC.

Nursalam, dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta: Salemba Medika

Perry, Ane Griffin & Patricia Ann Potter. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik. Ed. 4. Jakarta: EGC.

Sodikin. 2011. Asuhan Keperawatan Anak: Gangguan Sistem Gastrointestinal dan Hepatobilier. Jakarta: Salemba Medika.

Suriadi & Rita Yuliani. 2010. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta: Sagung Seto.

Susilaningrum, Rekawati, dkk. 2013. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Ed. 2. Jakarta: Salemba Medika.

Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi. Ed. 3. Jakarta: EGC.

Tjay, T. H. & Kirana Rahardja. 2007. Obat-obat Penting. Ed. 6. Jakarta: Gramedia.

Wijayaningsih, Kartika sari. 2013. Asuhan Keperawatan Anak. Jakarta: CV. Trans Info Media.

Wilkinson, Judith. M. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Ed. 9. Jakarta: EGC.

Wong, Donna L., et al. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Ed. 6. Vol. 1. Jakarta: EGC.