49
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA PASIEN DENGAN OTITIS MEDIA KRONIS (OMK) MAKALAH Makalah Ini dibuat untuk Memenuhi Salah Tugas dalam Gerontik DISUSUN OLEH: NUR PURNAMA SARI 2013.03.019 i

Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

Embed Size (px)

DESCRIPTION

askep OMK

Citation preview

Page 1: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

PADA PASIEN DENGAN

OTITIS MEDIA KRONIS (OMK)

MAKALAH

Makalah Ini dibuat untuk Memenuhi Salah Tugas dalam Gerontik

DISUSUN OLEH:

NUR PURNAMA SARI

2013.03.019

AKADEMI KEPERAWATAN WILLIAM BOOTH

SURABAYA

SEPTEMBER, 2015

i

Page 2: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

KATA PENGANTAR

Ucapan syukur kepada Allah yang maha kuasa karena melalui rahmat

dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Selain itu, penulis

diberi kesempatan untuk lebih mengembangkan ilmu pengetahuan yang berwujud

makalah ini.

Ada beberapa pihak yang terkait dengan penyelesaian makalah ini. Oleh

karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada rektor AKPER

William Booth Surabaya, serta pembimbing yang telah memberi banyak

kemudahan sehingga makalah ini terselesaikan.

Tak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih kepada staf karyawan di

AKPER William Booth Surabaya, para staf tata usaha dan staf perpustakaan

tersebut secara tidak langsung telah banyak membantu penulis dalam

memperlancar keadministrasian dan penyediaan sarana yang penulis butuhkan.

Akhirnya, penulis mengharapkan kritik dan saran pada makalah ini. Hal

itu tentunya sangat berguna untuk perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.

Surabaya, 12 September 2015

Penulis

ii

Page 3: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman judul.................................................................................... i

Kata pengantar................................................................................... ii

Daftar isi............................................................................................ iii

Bab 1 Pendahuluan

1.1 Latar belakang............................................................................. 1

1.2 Rumusan masalah........................................................................ 2

1.3 Tujuan.......................................................................................... 3

Bab 2 Landasan Teori

2.1 Pengertian OMK ..........…………………….............................… 4

2.2 Etiologi OMK …………..................................………………… 4

2.3 Patofisiologi dan WOC OMK……………………………...…… 5

2.4 Manifestasi OMK…....................……………………….….…… 7

2.5 Komplikasi OMK…........……………………………....….…… 8

2.6. Pemeriksaan Diagnostik…........…………………..........….…… 9

2.6. Penatalaksanaan…........……………………………....…...…… 9

Bab 3 Auhan Keperawatan Secara Teori

3.1 Pengkajian ………………......................…………………….… 15

3.2 Diagnosa Keperawatan ……….......…………………………… 16

3.3 Rencana Asuhan Keperawatan ………...................................… 16

Bab 4 Tinjauan Kasus

4.1 Pengkajian ………………......................…………………….… 21

4.2 Diagnosa Keperawatan ……….......…………………………… 23

4.3 Intervensi ……….....................................................................…

23

Bab 5 Penutup

5.1 Kesimpulan………………………………………………...…… 28

5.2 Saran……………………………………………………….....… 28

Daftar pustaka

iii

Page 4: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah. Kondisi

yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan

oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. Otitis media adalah

Proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap   > 12 minggu.

Otitis media kronik adalah perforasi pada gendang telinga. (warmasif, 2009)

Otitis media kronis merupakan penyakit THT yang paling banyak di

negara sedang berkembang. Di negara maju seperti Inggris sekitar 0, 9% dan di

Israel hanya 0, 0039%. Di negara berkembang dan negara maju prevalensi OMSK

berkisar antara 1-46%, dengan prevalensi tertinggi terjadi pada populasi di

Eskimo (12-46%), sedangkan prevalensi terendah terdapat pada populasi di

Amerika dan Inggeris kurang dari 1% (Lasminingrum L, 2000).

OMK disebabkan oleh multifaktor antara lain infeksi virus atau bakteri,

gangguan fungsi tuba, alergi, kekebalan tubuh, lingkungan, dan social ekonomi.

Fokus infeksi biasanya terjadi pada nasofaring (adenoiditis, tonsillitis, rhinitis,

sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Kadang-kadang

infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi

membran timpani, maka terjadi inflamasi. Bila terbentuk pus akan terperangkap di

dalam kantung mukosa di telinga tengah. Bila terjadi perforasi membrane timpani

yang permanen, mukosa telinga tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga

memungkinkan terjadinya infeksi berulang.

Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi.

Penatalaksanaan OMSK benigna tenang adalah tidak memerlukan pengobatan,

dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga

sewaktu mandi, dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi

saluran nafas atas. Penatalaksanaan OMSK benigna aktif pembersihan liang

telinga dan kavum timpani, pemberian antibiotik topical. Pengobatan yang tepat

untuk OMK maligna adalah operasi. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik

operasi yang dapat dilakukan pada OMK dengan mastoiditis kronis, baik tipe

benigna atau maligna, antara lain (Soepardi, 2001) mastoidektomi sederhana,

1

Page 5: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

mastoidektomi radikal, mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi

Bondy), miringoplasti, timpanoplasti, timpanoplasti dengan pendekatan ganda

(Combined Approach Tympanoplasty).

1.2. Rumusan Masalah

1.2.1. Apa yang dimaksud dengan Otitis Media Kronik (OMK) ?

1.2.2. Apa saja manifestasi klinis yang terjadi pada pasien dengan Otitis Media

Kronis (OMK) ?

1.2.3. Intervensi apa yang dapat dilakukan pada pasien dengan Otitis Media

Kronis (OMK) ?

1.3. Tujuan

1.3.1. Untuk mengidentifikasi pengertian Otitis Media Kronik (OMK).

1.3.2. Untuk mengidentifikasi manifestasi klinis yang terjadi pada pasien dengan

Otitis Media Kronis (OMK).

1.3.3. Untuk mengidentifikasi intervensi yang dapat dilakukan pada pasien dengan

Otitis Media Kronis (OMK).

2

Page 6: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1. Definisi

Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah. Kondisi

yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan

oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. Otitis media adalah

Proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap   > 12 minggu.

Otitis media kronik adalah perforasi pada gendang telinga. (warmasif, 2009)

Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah yang gigih, secara khas untuk

sedikitnya satu bulan.Orang awam biasanya menyebut congek. (Alfatih, 2007)

2.2. Etiologi

Otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga

(perforasi) (Mediastore,2009). Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh:

otitis media akut penyumbatan tuba eustakius cedera akibat masuknya suatu

benda ke dalam telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara

tiba-tiba luka bakar karena panas atau zat kimia. Bisa juga disebabkan karena

bakteri, antara lain streptococcus, stapilococcus, diplococcus pneumonie,

hemopilus influens, gram positif (S. Pyogenes, S. Albus), gram negatif (proteus

spp, psedomonas spp, E. Coli), kuman anaerob (alergi, diabetes melitus, TBC

paru)

Penyebab OMK antara lain:

2.2.1. Lingkungan

Hubungan penderita OMK dan faktor sosioekonomi belum jelas, tetapi kelompok

sosioekonomi rendah memiliki insiden OMK yang lebih tinggi. Tetapi sudah

hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum, diet, dan

tempat tinggal yang padat.

2.2.2. Genetik

Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden

OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor

3

Page 7: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

genetik. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media, tapi

belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder.

2.2.3. Riwayat otitis media sebelumnya

Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis

media akut dan/ atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa

yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi

keadaan kronis

2.2.4. Infeksi

Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak

bervariasi pada otitis media kronik yang aktif. Keadaan ini menunjukkan bahwa

metode kultur yang digunakan adalah tepat. Organisme yang terutama dijumpai

adalah bakteri Gram (-), flora tipe usus, dan beberapa organisme lainnya.

2.2.5. Infeksi saluran nafas atas

Banyak penderita mengeluh keluarnya sekret telinga sesudah terjadi infeksi

saluran nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah

menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara

normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri.

2.2.6. Autoimun

Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap

OMK.

2.2.7. Alergi

Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi

dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian

penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-

toksinnya, namun hal ini belum terbukti kemungkinannya.

2.2.8. Gangguan fungsi tuba eustachius

Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi

apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui.

Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi

fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin

mengembalikan tekanan negatif menjadi normal.

4

Page 8: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani yang

menetap pada OMK adalah:

a. Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan

produksi sekret telinga purulen berlanjut.

b. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan

pada perforasi.

c. Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui

mekanisme migrasi epitel.

Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang

cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah

penutupan spontan dari perforasi

2.3. Patofisiologi dan WOC

Patofisiologi OMK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam hal ini

merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang

sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Terjadinya

OMK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang. OMK disebabkan oleh

multifaktor antara lain infeksi virus atau bakteri, gangguan fungsi tuba, alergi,

kekebalan tubuh, lingkungan, dan social ekonomi.

              Fokus infeksi biasanya terjadi pada nasofaring (adenoiditis, tonsillitis,

rhinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Kadang-

kadang infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi

membran timpani, maka terjadi inflamasi. Bila terbentuk pus akan terperangkap di

dalam kantung mukosa di telinga tengah. Dengan pengobatan yang cepat dan

adekuat serta perbaikan fungsi telinga tengah, biasanya proses patologis akan

berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal. Walaupun kadang-kadang

terbentuk jaringan granulasi atau polip ataupun terbentuk kantong abses di dalam

lipatan mukosa yang masing-masing harus dibuang, tetapi dengan

penatalaksanaan yang baik perubahan menetap pada mukosa telinga tengah jarang

terjadi. Mukosa telinga tengah mempunyai kemampuan besar untuk kembali

normal. Bila terjadi perforasi membrane timpani yang permanen, mukosa telinga

tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga memungkinkan terjadinya infeksi

berulang. Hanya pada beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap kering dan 5

Page 9: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

pasien tidak sadar akan penyakitnya. Berenang, kemasukan benda yang tidak

steril ke dalam liang telinga atau karena adanya focus infeksi pada saluran napas

bagian atas akan menyebabkan infeksi eksaserbasi akut yang ditandai dengan

secret yang mukoid atau mukopurulen

6

Page 10: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

2.4. Manifestasi Klinik

Gejala berdasarkan tipe Otitis Media Kronis:

2.4.1. OMK tipe benigna:

Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk, ketika

pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan

penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang, discharge mukoid dapat

konstan atau intermitten.

Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan derajat

ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea

selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit.

Perforasi membrane timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu

meninggalkan sisa pada bagian tepinya . Proses peradangan pada daerah timpani

terbatas pada mukosa sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan

tergantung derajat infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau merah dan

tebal, kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah

pada meatus menghalangi pandangan membrane timpani dan telinga tengah

sampai polip tersebut diangkat. Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan

orifisium tuba eustachius yang mukoid da setelah satu atau dua kali pengobatan

local abu busuk berkurang. Cairan mukus yang tidak terlalu bau datang dari

perforasi besar tipe sentral dengan membrane mukosa yang berbentuk garis pada

rongga timpani merupakan diagnosa khas pada omsk tipe benigna.

2.4.2. OMK tipe maligna dengan kolesteatoma:

Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas, sekret yang sangat bau

dan berwarna kuning abu-abu, kotor purulen dapat juga terlihat keeping-keping

kecil, berwarna putih mengkilat.

Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom

bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis media

nekrotikans akut. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan

pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat

osteolitik kolesteatom.

Gejalanya bervariasi, berdasarkan pada lokasi perforasi gendang telinga:

7

Page 11: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga). Otitis media

kronis bisa kambuh setelah infeksi tenggorokan dan hidung (misalnya pilek) atau

karena telinga kemasukan air ketika mandi atau berenang. Penyebabnya biasanya

adalah bakteri. Dari telinga keluar nanah berbau busuk tanpa disertai rasa nyeri.

Bila terus menerus kambuh, akan terbentuk pertumbuhan menonjol yang disebut

polip, yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga

akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. Infeksi yang menetap juga bisa

menyebabkan kerusakan pada tulang-tulang pendengaran (tulang-tulang kecil di

telinga tengah yang mengantarkan suara dari telinga luar ke telinga dalam)

sehingga terjadi tuli konduktif.

Perforasi marginal (lubang terdapat di pinggiran gendang telinga). Bisa terjadi tuli

konduktif dan keluarnya nanah dari telinga.

2.5. Komplikasi

2.5.1. OMK tipe benigna :

Omk tipe benigna tidak menyerang tulang sehingga jarang menimbulkan

komplikasi, tetapi jika tidak mencegah invasi (peristiwa masuknya bakteri ke

dalam tubuh) organisme baru dari nasofaring dapat menjadi superimpose otitis

media supuratif akut eksaserbsi akut dapat menimbulkan komplikasi dengan

terjadinya tromboplebitis vaskuler.

2.5.2. OMK tipe maligna :

Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa :

1. erosi canalis semisirkularis

2. erosi canalis tulang

3. erosi tegmen timpani dan abses ekstradural

4. erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses subperiosteal

5. erosi pada sinus sigmoid

Menurut Shanbough (2003) komplikasi OMK terbagi atas:

a. Komplikasi Intratemporal : perforasi membrane timpani, mastoiditis akut,

parese nervus fasialis, labirinitis, petrositis.

b. Komplikasi Ekstratemporal : abses subperiosteal.

c. Komplikasi Intrakranial : abses otak, tromboflebitis, hidrocephalus otikus,

empiema subdural/ ekstradura8

Page 12: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

2.6. Pemeriksaan Diagnostik

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga

denganotoskop. Untuk mengetahui organisme penyebabnya, dilakukan pembiakan

terhadap cairan yang keluar dari telinga. Rontgen mastoid atau CT scan kepala

dilakukan untuk mengetahui adanya penyebaran infeksi ke struktur di sekeliling

telinga. Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui pendengaran menurun. X

ray terhadap kolesteatoma dan kekaburan mastoid.

2.7. Penatalaksanaan

Penyebab penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada

faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. Dengan demikian pada

waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit

menjadi kronis, perubahan-perubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan

serta menganggu fungsi, dan proses infeksi yang terdapat ditelinga. Bila

didiagnosis kolesteatom, maka mutlak harus dilakukan operasi, tetapi obat -obatan

dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi.

Menurut Nursiah, prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya

infeksi, dimana pengobatan dapat dibagi atas : Konservatif dan Operasi.

2.7.1. OMK Benigna

2.7.1.1. OMSK Benigna Tenang

Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk jangan

mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang berenang

dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Bila fasilitas

memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti,

timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran.

2.7.2.2. OMSK Benigna Aktif

Prinsip pengobatan OMSK adalah :

a. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan (toilet telinga)

Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk

perkembangan mikroorganisme, karena sekret telinga merupakan media yang baik

bagi perkembangan mikroorganisme (Fairbank, 1981).

Cara pembersihan liang telinga (toilet telinga) :9

Page 13: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

1. Toilet telinga secara kering (dry mopping).

Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril, setelah dibersihkan dapat di beri

antibiotik berbentuk serbuk. Cara ini sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat juga

dilakukan oleh anggota keluarga. Pembersihan liang telinga dapat dilakukan

setiap hari sampai telinga kering.

2. Toilet telinga secara basah (syringing).

Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah, kemudian

dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. Meskipun cara ini sangat

efektif untuk membersihkan telinga tengah, tetapi dapat mengakibatkan

penyebaran infeksi ke bagian lain dan kemastoid ( Beasles, 1979). Pemberian

serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi sensitifitas

pada kulit. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik, misalnya asam

boric dengan Iodine.

3. Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet)

Pembersihan dengan suction pada nanah, dengan bantuan mikroskopis operasi

adalah metode yang paling populer saat ini. Kemudian dilakukan pengangkatan

mukosa yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat

dihilangkan. Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa. Pada

orang dewasa yang koperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada

anakanak diperlukan anastesi. Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan mencapai

sasarannya bila dilakukan dengan “displacement methode” seperti yang

dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann.

b. Pemberian antibiotik topikal

Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotik

topikal untuk OMSK. Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret

yang banyak tanpa dibersihkan dulu, adalah tidak efektif. Bila sekret

berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik

dan kortikosteroid.

Rif menganjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam

dan merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman. Selain itu

dikatakannya, bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika

topikal. Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotik topikal sesudah irigasi

10

Page 14: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

sekret profus dengan hasil cukup memuaskan, kecuali kasus dengan jaringan

patologis yang menetap pada telinga tengah dan kavum mastoid. Mengingat

pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah, maka

tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak

lebih dari 1 minggu.Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan

berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni.

Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk atau tetes telinga yang biasanya

dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu.

Bubuk telinga yang digunakan seperti :

1) Acidum boricum dengan atau tanpa iodine

2) Terramycin

3) Asidum borikum 2,5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg

Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMK

aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga, baik pada anak maupun

dewasa. Neomisin dapat melawan kuman Proteus dan Stafilokokus aureus tetapi

tidak aktif melawan gram negatif anaerob dan mempunyai kerja yang terbatas

melawan Pseudomonas karena meningkatnya resistensi. Polimiksin efektif

melawan Pseudomonas aeruginosa dan beberapa gram negatif tetapi tidak efektif

melawan organisme gram positif (Fairbanks, 1984). Seperti aminoglokosida yang

lain, Gentamisin dan Framisetin sulfat aktif melawan basil gram negatif dan

gentamisin kerjanya “sedang” dalam melawan Streptokokus. Tidak ada satu pun

aminoglikosida yang efektif melawan kuman anaerob.

Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin, polimiksin dan

hidrokortison, bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid

tetes mata.

Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier dan telinga akan sakit bila

diteteskan. Kloramfenikol aktif melawan basil gram positif dan gram negative

kecuali Pseudomonas aeruginosa, tetapi juga efektif melawan kuman anaerob,

khususnya B. fragilis (Fairbanks, 1984). Pemakaian jangka panjang lama obat

tetes telinga yang mengandung aminoglikosida akan merusak foramen rotundum,

yang akan menyebabkan ototoksik.

Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik adalah :

11

Page 15: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

1. Polimiksin B atau polimiksin E

2. Neomisin

3. Kloramfenikol

3. Pemberian antibiotik sistemik

Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur

kuman penyebab. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus

disertai pembersihan sekret profus. Bila terjadi kegagalan pengobatan, perlu

diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut.

Dalam pengunaan antimikroba, sedikitnya perlu diketahui daya bunuhnya

terhadap masing-masing jenis kuman penyebab, kadar hambat minimal terhadap

masing-masing kuman penyebab, daya penetrasi antimikroba di masing jaringan

tubuh, toksisitas obat terhadap kondisi tubuhnya. Dengan melihat konsentrasi obat

dan daya bunuhnya terhadap mikroba, antimikroba dapat dibagi menjadi 2

golongan. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya, makin tinggi

kadar obat makin banyak kuman terbunuh misalnya golongan aminoglikosida

dengan kuinolon. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi

tertentu daya bunuhnya paling baik. Peninggian dosis tidak menambah daya

bunuh antimikroba golongan ini, misalnya golongan beta laktam.

Antibiotika golongan kuinolon (siprofloksasin, dan ofloksasin) yaitu dapat derivat

asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan

peroral. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun.

Golongan sefalosforin generasi III (sefotaksim, seftazidinm dan seftriakson) juga

aktif terhadap pseudomonas, tetapi harus diberikan secara parenteral. Terapi ini

sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMK belum pasti cukup, meskipun

dapat mengatasi OMK.

Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob. Menurut

Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik

(sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif, dosis 400 mg per 8 jam selama

2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 2-4 minggu1.

2. OMK MALIGNA

Pengobatan yang tepat untuk OMK maligna adalah operasi. Pengobatan

konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara

12

Page 16: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal, maka insisi

abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi.

Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan

pada OMK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain

(Soepardi, 2001):

a. Mastoidektomi sederhana

Dilakukan pada OMK tipe benigna yang tidak sembuh dengan pengobatan

konservatif. Pada tindakan ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan

patologik, dengan tujuan agar infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi.

b. Mastoidektomi radikal

Dilakukan pada OMK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang

sudah meluas.Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan

dari semua jaringan patologik. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga

tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi

tersebut menjadi satu ruangan. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua

jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intrakranial.

c. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy)

Dilakukan pada OMK dengan kolesteatom di daerah attic, tetapi belum

merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding

posterior liang telinga direndahkan. Tujuan operasi adalah untuk membuang

semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran

yang masih ada.

d. Miringoplasti

Dilakukan pada OMK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian

ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. Operasi ini

merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal juga dengan nama

timpanoplasti tipe 1. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani.

Tujuan operasi adalah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah ada

OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap.

e. Timpanoplasti

Dikerjakan pada OMK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat

atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa diatasi dengan pengobatan

13

Page 17: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

medikamentosa. Tujuan operasi adalah menyembuhkan penyakit serta

memperbaiki pendengaran. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani

seringkali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Berdasarkan

bentuk rekonstruksi tulang yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe

II, III, IV dan V.

f. Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach

Tympanoplasty)

Dikerjakan pada kasus OMK tipe maligna atau OMK tipe benigna dengan

jaringan granulasi yang luas. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta

memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa

meruntuhkan dinding posterior liang telinga). Yang dimaksud dengan combined

approach di sini adalah membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di

kavum timpani melalui dua jalan, yaitu liang telinga dan rongga mastoid dengan

melakukan timpanotomi posterior. Namun teknik operasi ini pada OMK tipe

maligna belum disepakati oleh para ahli karena sering timbul kembali

kolesteatoma

14

Page 18: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORI

3.1. Pengkajian

3.1.1. Pengumpulan Data

a. Identitas Pasien : Nama pasien, umur, suku/bangsa, agama, pendidikan,  

pekerjaan, alamat

b. Riwayat Penyakit Sekarang : Riwayat adanya kelainan nyeri pada telinga,

penggunaan minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan telinga

c. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat infeksi saluran atas yang berulang,

riwayat alergi, riwayat OMA berkurang, riwayat penggunaan

obat( sterptomisin, salisilat, kuirin, gentamisin ), riwayat operasi

d. Riwayat penyakit keluarga : Apakah keluarga klien pernah mengalami

penyakit telinga, sebab dimungkinkan OMK berhubungan dengan luasnya sel

mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik

3.1.2. Pengkajian Persistem

Tanda-tanda vital : Suhu meningkat, keluarnya otore

B2 (Blood) : Nadi meningkat

B3 (Brain) : Nyeri telinga, perasaan penuh dan pendengaran menurun,

vertigo,pusing, refleks kejut

B5 (Bowel) : Nausea vomiting

B6 (Bone) : Malaise, alergi

3.1.3. Pengkajian Psikososial

3.1.3.1. Nyeri otore berpengaruh pada interaksi

3.1.3.2. Aktivitas terbatas

3.1.3.3. Takut menghadapi tindakan pembedahan

3.1.4. Pemeriksaan diagnostik

3.1.4.1. Tes audiometri : pendengaran menurun

3.1.4.2. Xray : terhadap kondisi patologi, misal kolestetoma, kekaburan mastoid

15

Page 19: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

3.1.5. Pemeriksaan pendengaran : tes suara bisikan, tes garputala

3.2. Diagnosa Keperawatan

3.2.1. Nyeri akut berhubungan dengan stimulus nyeri

3.2.2. Gangguan persepsi sensori pendengaran

3.2.3. Ansietas

3.2.5.  Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri , otore berbau busuk

3.2.6. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan

kekambuhan

3.3 Intervensi

No NANDA NOC NIC

1 Nyeri akut b.d

stimulus nyeri

Defenisi :

Sensori yang tidak

menyenangkan dan

pengalaman emosional

yang muncul secara

aktual atau potensial,

kerusakan jarigan atau

menggambarkan adana

kerusakan

KONTROL NYERI

Tindakan yang dilakukan

seseorang untuk mengontrol nyeri

Indikator :

1. mengenali faktor penyebab

2. menggunakan metode

pencegahan

3. menggunakan analgesik sesuai

kebutuhan

4. mengenali gejala-gejala nyeri

5. mencatat pengalaman nyeri

sebelumnya

6. menyatakan nyeri sudah

terkontrol

TINGKAT NYERI

hasil observasi atau laporan

tentang tingkat nyeri

Indikator :

1. melaporkan adanya nyeri

MANAJEMEN NYERI

1. lakukan pengkajian nyeri secara

komprehensif termasuk lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi,

kualitas dan faktor presipitasi

2. observasi reaksi non verbal dari

ketidaknyamanan

3. gunakan teknik komunikasi

terapeutik untuk mengetahui

pengalaman nyeri pasien

4. kontrol lingkungan yang dapat

mempengaruhi nyeri seperti

suhu ruangan, pencahayaan dan

kebisingan

5. kurangi faktor presipitasi

6. kaji tipe dan sumber nyeri untuk

menentukan intervensi

7. ajarkan tentang teknik relaksasi

8. berikan analgetik untuk

16

Page 20: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

2. luas bagian tubuh yang

terpengaruh

3. frekuensi nyeri berkurang

4. pernyataan nyeri tidak ada

5. ekspresi nyeri pada wajah

tidak ada

6. tekanan darah normal

keteganggan otot normal.

TINGKAT KENYAMANAN

Definisi : Tingkatan dari

ketentraman fisik dan psikologis

Indicator :

1. Mampu melaporkan

perkembangan fisik

2. Mampu mengekspresikan

perasaan dengan lingkungan

fisik sekitar

3. Mampu mengekspresikan

perasaan dengan hubungan

social

4. Mampu mengekspresikan

kepuasan dengan kontrol nyeri

mengurangi nyeri

9. evaluasi keefektifan kontrol

nyeri

MANAJEMEN LINGKUNGAN :

KENYAMANAN

Aktifitas :

1. Ciptakan lingkungan yang

tenang dan mendukung.

2. Sediakan lingkungan yang aman

dan bersih

3. Sesuaikan suhu kamar dengan

yang paling nyaman bagi

individu, jika mungkin

4. Posisi pasien untuk

memfasilitasi kenyamanan

(misalnya, dengan

menggunakan prinsip-prinsip

kesejajaran tubuh, dukungan

dengan bantal, sendi dukungan

2 Gangguan persepsi

sensori pendengaran

Batasan karakteristik:

1. Berubahnya pola

prilaku

2. Berubahnya

ketajaman panca

indra

3. Gagal penyesuaian

4. Distorsi

a. Kontrol cemas

Indikator :

1. Pantau intensitas kecemasan

2. Menyingkirkan tanda

kecemasan

3. Mencari informasi untuk

menurunkan cemas

4. Mempertahankan konsentrasi

5. Laporankan durasi dari

episode cemas

a. Peningkatan komunikasi :

deficit pendengaran

Aktivitas:

1. Beritahu pasien bahwa suara

akan terdengar berbeda dengan

memakai alat bantu

2. Mendengar dengan penuh

perhatian

3. Menahan diri dari berteriak

pada pasien yang mengalami

17

Page 21: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

pancaindera

5. Pengintegrasian

panca indera yang

terganggu

6. Panca indera yang

terganggu

b. Kompensasi Tingkah Laku

Pendengaran

Indicator:

1. Pantau gejala kerusakan

pendengaran

2. Posisi tubuh untuk

menguntungkan pendengaran

3. Menghilangkan gangguan

4. Memperoleh alat bantu

pendengaran

5. Menggunakan layananan

pendukung untuk pendegaran

yang lemah

6. Memperoleh intervensi yang

berhubungan dengan

pembedahan

gangguan komunikasi

4. Dapatkan perhatian pasien

melalui sentuhan

b. Dukungan emosi

Aktivitas:

1. Berdiskusi dengan pasien

tentang emosi yang dirasakan

2. Bantu pasien dalam mengenali

perasaan seperti cemas, marah,

atau sedih

3. Dorong pasien untuk

mengunkapkan perasaan cemas,

marah, atau sedih

4. Perhatikan pengungkapan

perasaan dan keyakinan

5. Sediakan identifikasi pasien

terhadap pola tanggapan yang

umum terhadap ketakutan

6. Beri dukungan selama fase

penolakan, marah, tawar

menawar, dan fase penerimaan

terhadap duka cita

7. Sediakan bantuan dalam

membuat keputusan

8. Rujuk ke konselor sebagaimana

mestinya

c. Pencegahan jatuh

Aktivitas:

1. Identifikasi kelemahan kognisi

dan fisik pada pasien yang

18

Page 22: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

barangkali meningkatkan

potensi untuk jatuh pada

lingkungan tertentu

2. Identifikasi karakteristik

lingkungan yang mungkin

meningkatkan potensi untuk

jatuh (misal ,lantai licin dan

jenjang yang terbuka)

3. Sediakan alat bantu (misal,

tongkat dan alat bantu berjalan)

3 Ansietas

Batasan karakteristik:

1. Scaning dan

kewaspadaan

2. Kontak mata yang

buruk

3. Ketidakberdayaan

meningkat

4. Kerusakan

perhatian

a.   Kontrol cemas

Indikator :

1. Pantau intensitas kecemasan

2. Menyingkirkan tanda

kecemasan

3. Mencari informasi untuk

menurunkan cemas

4. Mempertahankan konsentrasi

5. Laporankan durasi dari

episode cemas

b.   Koping

Indikator:

1. Memanajemen masalah

2. Melibatkan anggota keluarga

dalam membuat keputusan

3. Mengekspresikan perasaan

dan kebebasan emosional

4. Menunjukkan strategi

penurunan stress

5. Menggunakan support sosial

a. Penurunan kecemasan

Aktivitas:

1. Tenangkan klien

2. Jelaskan seluruh posedur

tindakan kepada klien

3. Kaji tingkat kecemasan dan

reaksi fisik pada tingkat

kecemasan

4. Gunakan pendekatan dan

sentuhan, untuk meyakinkan

pasien

5. Sediakan aktivitas untuk

menurunkan ketegangan

6. Bantu pasien untuk identifikasi

situasi yang mencipkatakan

cemas

7. Instruksikan pasien untuk

menggunakan teknik relaksasi

b. Peningkatan koping

Aktivitas:

1. Gunakan pendekatan yang

19

Page 23: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

tenang

2. Sediakan pilihan yang realisis

tentang aspek perawatan saat ini

3. Tentukan kemampuan klien

untuk mengambil keputusan

4. Bantu pasien untuk

mengidentifikasi strategi positif

untuk mengatasi keterbatasan

dan mengelola gaya hidup atau

perubahan peran

20

Page 24: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1. Pengkajian

3.1.1. Identitas

Nama : Ny. Z

Umur : 35 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Jl. Hatta No.56, Padang

3.1.2. Riwayat Penyakait Sekarang

3.1.2.1. Keluhan Utama : Sakit pada telinga kanan, disertai demam tinggi

3.1.2.2. Riwayat Penyakit sekarang : Sejak 1 bulan yang lalu klien mengeluhkan

telinga kanan keluar cairan yang berlebih dan  kurang bisa mendengar, telinga

sering berdenging dan kadang diikuti dengan pusing serta padangan yang

berputar-putar. Namun, awalnya klien tidak mempedulikannya dan menganggap

biasa.

3.1.3. Riwayat kesehatan dahulu : Ketika di bangku SD, pasien pernah mengeluh

sakit pada telinga kanannya disertai dengan keluar cairan putih jernih yang terus

menerus namun tidak berbau. Sejak saat itu, keluhan sakit telinga kanan dan

keluar cairan dari telinga sering terjadi dengan rentang waktu yang tidak begitu

lama tiap keluhan timbul.

3.1.4. Riwayat kesehatan keluarga : Tidak ada keluarga yang mengalami penyakit

ini sebelumnya

3.1.5. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : Tampak kelelahan

Kesadaran         : Normal

Tanda vital         : TD  120/90 mmH        N  90x/m    S=380C

21

Page 25: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

Pengkajian Pola fungsional Gordon

a. Pola Persepsi-Manajemen Kesehatan

Klien awalnya tidak menanggapi penyakitnya. Padahal sewaktu SD klien pernah

mengalami gejala yang sama. Klien baru datang ke rumah sakit setelah nyeri di

telinganya bertambah. Klien tidak memiliki riwayat merokok dan konsumsi

alkohol.

b. Pola Nutrisi-Metabolik

Klien mengeluh susah makan karena nyeri yang dirasakannya. Porsi makanan

yang diberikan rumah sakit, dihabiskan klien 1-2 sendok makan. Klien alergi

terhadap ikan laut. Klien seharinya minum 3-4 gelas.

c. Pola Eliminasi

Sejak masuk rumah sakit, klien melakukan BAB dan BAK masih di WC tapi

dipapah oleh keluarga. Klien mengaku lemah dan pusing.

d. Pola Aktivitas dan Latihan

Dalam hal ini aktivitas pasien terganggu karna rasa nyeri hebat yang terjadi pada

telinga kanan dan disertai demam tinggi kadang diikuti dengan pusing serta

padangan yang berputar-putar. Ini menyebabkan klien tergantung pada bantuan

keluarga dan perawat.

e. Pola istirahat dan tidur

Pasien terganggu istirahat dan tidurnya karena rasa nyeri pada telinga dan sering

berdenging-denging. Pada malam hari klien sering terbangun.

f. Pola kognitif-persepsi

Klien mengalami gangguan pada sistem pendengarannya. Klien sering merasa

berdenging pada telinganya dan pusing. Sistem indra klien yang lain tidak

mengalami gangguan. Klien mengeluh nyeri di telinganya dan menganggu

aktifitas klien.

g. Pola peran dan hubungan

Hubungan klien dengan keluarga dan masyarakat atau interaksi sosial klien tidak

mengalami gangguan. Keluarga bergantian untuk menjaga klien di rumah sakit.

22

Page 26: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

h. Pola konsep diri

Pasien mengalami harga diri rendah karena penyakit yang dideritanya dan dalam

hal ini perlunya dukungan dari keluarga terdekat. Klien mengaku malu dan taku

mengalami ketergantungan pada keluarganya.

i. Pola seksual-reproduksi

Klien adalah ibu rumah tangga yang masih produktif dan memiliki 3 orang anak.

Kasih sayang dari keluarga tidak berkurang.

j. Pola koping dan toleransi stress

Penderita mengalami stres dan ketakutan akibat nyeri yang dirasakan. Klien takut

menjadi tuli dan menjadi beban bagi orang tuanya.

k. Pola keyakinan dan kepercayaan

Penderita mengalami gangguan pada saat beribadah, diharapkan hubungan klien

dan sang penciptanya harus lebih dekat dan terjadinya peningkatan ibadah pada

klien.

3.2. Diagnosa Keperawatan

3.2.1. Gangguan persepsi panca indera: au/.mditorius b.d. gangguan penghantaran

bunyi pada organ pendengaran

3.2.2. Nyeri Kronik berhubungan dengan agen cedera (biologis)

3.2.3. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan

pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/tak mengenal sumber, kurang

mengingat, serta salah interpretasi.

23

Page 27: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

3.3. Intervensi

Gangguan persepsi panca

indera: au/.mditorius b.d.

gangguan penghantaran

bunyi pada organ

pendengaran

Defenisi: perubahan dalam

jumlah maupun  pola

rangsangan yang diterima

yang disertai dengan

penyusutan, pelebihan,

penyimpangan, atau

gangguan tanggapan

terhadap rangsangan

tersebut.

Perubahan Sensori-Persepsi ;

Pendengaran

Kriteria Hasil:

1. Pasien akan berpartisipasi

dalam program

pengobatan

2. Pasien akan

mempertahankan

kemampuan pendengaran

3. Tidak adanya sakit kepala

a. Peningkatan Komunikasi : Defisit

Pendengaran

Aktivitas:

1. Memfasilitasi penggunaan alat

bantu sewajarnya

2. Beritahu pasien bahwa suara akan

terdengar berbeda dengan

memakai alat bantu

3. Jaga kebersihan alat bantu

4. Mendengar dengan penuh

perhatian

5. Menahan diri dari berteriak pada

pasien yang mengalami gangguan

komunikasi

6. Memfasilitasi lokasi penggunaan

alat bantu

7. Memfasilitasi letak telepon bagi

gangguan pendengaran

sebagaimana mestinya

b. Pembentukan kognisi

Aktivitas:

1. Bantu pasien untuk menerima

kenyataan bahwa statemen diri

berada di tengah-tengah timbulnya

emosi

2. Bantu pasien memahami akan

ketidakmapuannya untuk

menggapai perilaku yang

diinginkan sering disebabkan oleh

statemen diri yang tidak masuk

24

Page 28: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

Nyeri Kronik berhubungan

dengan agen cedera

(biologis)

Defenisi:

pengalaman emosional dan

berhubungan dengan

perasaan tak enak timbul

dari kerusakan jaringan

nyata atau potensial atau

uraikan dalam kaitan

Tingkat Kenyamanan

Tujuan : Nyeri hilang atau

berkurang

Kriteria hasil :

1. Mampu mengontrol

nyeri (tahu penyebab

nyeri, mampu

menggunakan teknik

nonfarmakologi untuk

mengurangi nyeri,

akal

3. Tunjukkan bentuk-bentuk

kelainan fungsi berpikir (misal,

pikiran yang bertentangan, terlalu

banyak menggeneralisasi,

penguatan, dan personalisasi)

4. Bantu pasien mengenali emosi

yang menyakitkan  yang ia

rasakan

5. Bantu pasien mengenal pemicu

yang diterima (misal, situasi,

kejadian, dan interaksi dengan

orang lain) yang membuat stress

6. Bantu pasien untuk mengenal

interpretasi pribadi yang salah

mengeni faktor pemicu yang

diterima

7. Bantu pasien untuk mengganti

interpretasi yang salah dengan

yang lebih realistis berdasarkan

situasi yang membuat stres,

kejadian, dan interaksi

Manajemen Nyeri :

1. Kontrol lingkungan  yang dapat

mempengaruhi nyeri seperti suhu

ruangan, pencahayaan dan

kebisingan

2. Kurangi faktor presipitasi nyeri

3. Ajarkan tehnik relaksasi

4. Berikan analgetik untuk

mengurangi nyeri

5. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri

25

Page 29: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

dengan seperti kerusakan

Analisa data :

DS : klien mengeluhkan

nyeri pada telinga, yang

telah dirasakan sejak SD

dan hilang timbul.

DO : klien terbatas

aktifitasnya dan mringis

nteri, S=380C

Kurang pengetahuan

(kebutuhan belajar) tentang

kondisi, prognosis, dan

pengobatan berhubungan

dengan kurang terpajan/tak

mengenal sumber, kurang

mengingat, serta salah

interpretasi.

Defenisi:

Tidak adanya atau

kurangnya informasi

kognitif sehubungan

dengan topik spesifik.

Analisa data :

DS : Klien menganggap

biasa penyakitnya dan

membiarkannya.

mencari bantuan)

2. Melaporkan bahwa nyeri

berkurang dengan

menggunakan

manajemen nyeri

3. Mampu mengenali nyeri

(skala, intensitas,

frekuensi dan tanda

nyeri)

4. Menyatakan rasa

nyaman setelah nyeri

berkurang

5. Tanda vital dalam

rentang normal

Knowledge : Health

Behavior

Tujuan : Klien mengetahui

tentang kondisi,prognosis

dan pengobatannya.

Kriteria Hasil:

-      Pasien dan keluarga

menyatakan pemahaman

tentang penyakit, kondisi,

prognosis dan program

pengobatan

-      Pasien dan keluarga

mampu melaksanakan

prosedur yang dijelaskan

secara benar

-      Pasien dan keluarga

mampu menjelaskan kembali

6. Kolaborasikan dengan dokter jika

ada keluhan dan tindakan nyeri

tidak berhasil

Teaching : Health Behavior

1. Berikan penilaian tentang tingkat

pengetahuan pasien tentang proses

penyakit yang spesifik

2. Jelaskan patofisiologi dari

penyakit dan bagaimana hal ini

berhubungan dengan anatomi dan

fisiologi, dengan cara yang tepat.

3. Gambarkan tanda dan gejala yang

biasa muncul pada penyakit,

dengan cara yang tepat

4. Gambarkan proses penyakit,

dengan cara yang tepat

5. Identifikasi kemungkinan

penyebab, dengna cara yang tepat

6. Diskusikan perubahan gaya hidup

yang mungkin diperlukan untuk

26

Page 30: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

DO : Klien tidak

melakukan perawatan yang

tepat pada telinganya

apa yang dijelaskan

perawat/tim kesehatan

lainnya.

mencegah komplikasi di masa

yang akan datang dan atau proses

pengontrolan penyakit

27

Page 31: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

BAB 5

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Otitis media adalah proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang

menetap   > 12 minggu. Otitis media kronik adalah perforasi pada gendang

telinga. (warmasif, 2009). Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah

yang gigih, secara khas untuk sedikitnya satu bulan.Orang awam biasanya

menyebut congek. (Alfatih, 2007)

Manifestasi klinis pada OMK tipe benigna adalah gangguan pendengaran

konduktif, discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk, perforasi membrane

timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu meninggalkan sisa pada

bagian tepinya, membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan tergantung derajat

infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau merah dan tebal, kadang suatu

polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus.

Manifestasi klinis pada OMK tipe maligna dengan kolesteatoma adalah sekret

yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu, kotor purulen dapat juga terlihat

keeping-keping kecil, berwarna putih mengkilat, gangguan pendengaran tipe

konduktif.

Intervensi pada diagnosa nyeri akut b.d stimulus nyeri adalah lakukan

pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,

frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi, observasi reaksi non verbal dari

ketidaknyamanan, gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui

pengalaman nyeri pasien. Intervensi pada diagnosa gangguan persepsi sensori

pendengaran adalah Beritahu pasien bahwa suara akan terdengar berbeda dengan

memakai alat bantu, mendengar dengan penuh perhatian, menahan diri dari

berteriak pada pasien yang mengalami gangguan komunikasi.

5.2. Saran

5.2.1. Dapat dijadikan sebagai saran dalam proses pembelajaran

5.2.2. Mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan dan apabila tidak terjadi

perubahan maka perlu menentukan tindakan selanjutnya yang berbeda.

28

Page 32: Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Dengan

DAFTAR PUSTAKA

http://bangeud.blogspot.co.id/2011/11/asuhan-keperawatan-pada-klien-

otitis_4271.html (Diunduh pada tanggal 12 September pukul 17.30 WIB)

http://cupdate1.blogspot.co.id/2014/10/pathway-otitis-media-kronik-omk.html

(Dinduh pada tanggal 12 September pukul 14.00 WIB)

http://windarisabella.blogspot.co.id/2013/09/askep-otitis-media.html (Diunduh

pada tanggal 12 September pukul 17.50 WIB)

29