22
TUGAS KEPERAWATAN GERONTIK KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN PENYAKIT DEMENSIA DI SUSUN OLEH KELOMPOK VI : POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN MANADO JURUSAN KEPERAWATAN 2B D-IV TAHUN 2015 1. ADELINA AFKE ANGKOUW 2. ANDREINA PRICILLIA POSUMA 3. GIOVANNI LEONTIYNE MONINGKA

Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

Embed Size (px)

DESCRIPTION

to all medical students

Citation preview

Page 1: Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

TUGAS KEPERAWATAN GERONTIK

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN PENYAKIT

DEMENSIA

DI SUSUN OLEH KELOMPOK VI :

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN MANADO

JURUSAN KEPERAWATAN 2B D-IV

TAHUN 2015

1. ADELINA AFKE ANGKOUW

2. ANDREINA PRICILLIA POSUMA

3. GIOVANNI LEONTIYNE MONINGKA

Page 2: Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

A. PENGERTIAN

Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi

kognitif tanpa gangguan kesadaran. Gangguan fungsi kognitif antara lain pada

intelegensi, belajar dan daya ingat, bahasa, pemecahan masalah, orientasi, persepsi,

perhatian dan konsentrasi, penyesuaian dan kemampuan bersosialisasi. (Arif Mansjoer,

1999).

Menurut Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar

penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau

kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.

Demensia adalah sindroma klinis yang meliputi hilangnya fungsi intelektual yang

sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari. Demensia

merupakan keadaan ketika seseorang mengalami penurunan daya ingat dan daya piker

lain secara nyata mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari (Nugroho, 2008).

Jadi demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang

secara perlahan, di mana terjadi gangguan ingatan , fikiran, penilaian dan kemampuan

untuk memusatkan perhatian dan bias terjadi kemunduran kepribadian. Penyakit yang

dapat dialami oleh semua orang dari berbagai latar belakang pendidikan maupun

kebudayaan. Walaupun tidak terdapat perawatan khusus untuk demensia, namun

perawatan untuk menangani gejala boleh dilakukan.

B. ETIOLOGI

1. Penyebab utama dari penyakit ini adalah penyakit Alzheimer, yang penyebabnya

sendiri belum diketahui secara pasti, namun diduga penyakit Alzheimer disebabkan

karena adanya kelainan factor genetic atau adanya kelainan gen tertentu. Pada

penyakit Alzheimer, beberapa bagian otak mengalami kemunduran, sehingga terjadi

kerusakkan sel dan berkurangnya respon terhadap bahan kimia yang menyalurkan

sinyal ke dalam otak. Di dalam otak ditemukan jaringan abnormal (disebut plak

senilis dan serabut saraf yang semrawut) dan protein abnormal, yang bias terlihat

pada otopsi.

2. Penyebab kedua dari demensia yaitu serangan stroke yang berturut-turut. Stroke

tunggal yang ukurannya kecil dan menyebabkan kelemahan yang ringan atau

kelemahan yang timbul secara perlahan. Stroke kecil ini secara bertahap

menyebabkan kerusakkan jaringan otak, daerah otak yang mengalami kerusakan

akibat tersumbatnya aliran darah yang disebut dengan infark. Demensia yang

disebabkan oleh stroke kecil disebut demensia multi-infark. Sebagian penderitanya

Page 3: Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

memiliki tekanan darah tinggi atau kencing manis, yang keduanya menyebabkan

kerusakkan pembuluh darah diotak.

3. Penyebab demensia menurut Nugroho (2008) dapat digolongkan menjadi 3 golongan

besar, yaitu :

a. Sindroma demensia dengan penyakit yang etiologi dasarnya tidak dikenal

kelainan yaitu terdapat pada tingkat subseluler atau secara biokimiawi pada

system enzim atau pada metabolism.

b. Sindroma demensia dengan etiologi yang dikenal tetapi belum dapat diobati,

penyebab utama dalam golongan ini diantaranya :

- Penyakit degenerasi spino-serebelar.

- Subakut leuko-ensefalistis sklerotik van bogaert.

- Khorea Huntington.

c. Sindroma demensia dengan etiologi penyakit yang dapat diobati, dalam golongan

ini diantaranya :

- Penyakit cerebro cardiovascular.

- Penyakit-penyakit metabolic.

- Gangguan nutrisi.

- Akibat intoksikasi menahun.

C. MANIFESTASI KLINIS

Tanda dan gejala dari penyakit demensia antara lain :

a. Rusaknya seluruh jajaran fungsi kognitif.

b. Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek.

c. Gangguan kepribadian dan tingkah laku (mood swings).

d. Deficit neurologi dan fokal.

e. Mudah tersinggung, bermusuhan, agitasi dan kejang.

f. Gangguan psikotik : halusinasi, ilusi, waham, dan paranoid.

g. Keterbatasan dalam activities of daily living.

h. Kesulitan mengatur penggunaan keuangan.

i. Tidak bias pulang ke rumah bila berpergian.

j. Lupa meletakkan barang penting.

k. Sulit mandi, makan, berpakaian dan toileting.

l. Mudah terjatuh dan keseimbangan buruk.

m. Tidak dapat makan dan menelan.

n. Inkontinensia urine.

Page 4: Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

o. Dapat berjalan jauh dari rumah dan tidak bias pulang.

p. Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, “lupa” menjadi

bagian keseharian yang tidak bias lepas.

q. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya : lupa hari, minggu, bulan, tahun,

tenpat penderita demensia berada.

r. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar,

menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mengulang kata atau cerita

yang sama berkali-kali.

s. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah drama

televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain, rasa takut dan

gugup yang tidak beralasan. Penderita demensia kadang tidak mengerti kenapa

perasaan-perasaan tersebut muncul.

t. Adanya perubahan tingkah laku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah.

D. KLASIFIKASI DEMENSIA

1. Menurut Kerusakkan Struktur Otak.

a. Tipe Alzheimer

Alzheimer adalah kondisi di mana sel saraf pada otak mengalami kematian

sehingga membuat signal dari otak tidak dapat ditransmisikan sebagaimana

mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori,

kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses pikir. Sehingga 50-

60% penderita demensia disebabkan karena penyakit Alzheimer.

Demensia tipe ini ditandai dengan gejala

- Penurunan fungsi kognitif dengan onset bertahap dan progresif.

- Daya ingat terganggu, ditemukan adanya : afasia, apraksia, agnosia, gangguan

fungsi eksekutif.

- Tidak mampu mempelajari atau mengingat informasi baru.

- Perubahan kepribadian (depresi, obsesi, kecurigaan).

- Kehilangan inisiatif.

Penyakit Alzheimer dibagi atas 3 stadium berdasarkan beratnya deteorisasi

intelektual :

Stadium I (Amnesia)

- Berlangsung 2-4 tahun.

- Amnesia menonjol.

- Perubahan emosi ringan.

Page 5: Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

- Memori jangka panjang baik.

- Keluarga biasanya tidak terganggu.

Stadium II (Bingung)

- Berlangsung 2-10 tahun.

- Episode psikotik.

- Agresif.

- Salah mengenali keluarga.

Stadium III (Akhir)

- Setelah 6-12 tahun.

- Memori dan intelektual lebih terganggu.

- Membisu dan gangguan berjalan.

- Inkontinensia urin.

b. Demensia Vaskular.

Demensia tipe vascular disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah diotak dan

setiap penyebab atau factor resiko dapat berakibat terjadinya demensia. Depresi

bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah

diotak, sehingga depresi dapat diduga sebagai demensia vascular.

Tanda-tanda neurologis fokal seperti :

- Peningkatan reflek tendon alam.

- Kelainan gaya berjalan.

- Kelemahan anggota gerak.

Menurut umur :

- Demensia senilis yaitu usia > 65 tahun.

- Demensia prasenilis yaitu usia < 65 tahun.

Menurut perjalanan penyakit :

- Reversible (mengalami perbaikan).

- Irreversible (normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma,

vitamin B, defisiensi, hipotiroidisma dan intoksikasi Pb).

Menurut sifat klinis

- Demensia propirus.

- Pseudo-demensia

E. PATOFISIOLOGI

Hal yang menarik dari penderita demensia (usia > 65 tahun) adalah adanya

perubahan kepribadian dengan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari.

Page 6: Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal,

mereka sebagaimana lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degenerative.

Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit untuk mengingat dan

sering lupa jika meletakkan suatu barang. Mereka sering kali menutupi-nutupi hal

tersebut dan meyakinkan bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan

berikutnya mulai diarasakan oleh orang-orang yang tinggal bersama mereka, mereka

merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin menajadi, namun sekali

lagi keluarga merasa bahwa mungkin lansia kelelahan dan perlu banyak istirahat. Mereka

belum mencurigai adanya sebuah masalah besar dibalik penurunan daya ingat yang

dialami oleh orang tua mereka.

Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada lansia,

mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan menjadi lebih sensitive. Kondisi seperti ini

dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi

lansia. Pada saat ini mungkin saja lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai

berhalusinasi. Disinilah keluarga membawa lansia penderita demensia ke rumah sakit di

mana demensia bukanlah menjadi hal utama focus pemeriksaan. Serigkali demensia luput

dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan

memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia.

Faktor Psikososial

Derajat keparahan dan perjalanan penyakit demensia dapat dipengaruhi oleh factor

psikososial. Semakin tinggi intelegensia dan pendidikan pasien sebelum sakit maka

semakin tinggi juga kemampuan untuk mengkompensasi deficit intelektual. Pasien

dengan awitan demensia yang cepat (rapid onset) menggunakan pertahanan diri yang

lebih sedikit daripada pasien yang mengalami awitan yang bertahap. Kecemasan dan

depresi dapat memperkuat dan memperburuk gejala. Pseudodemensia dapat terjadi pad

individu yang mengalami depresi dan mengeluhkangangguan memori, akan tetapi pada

kenyataannya ia mengalami gangguan depresi. Ketika depresinya berhasil ditanggulangi,

maka defek koginitifnya akan menghilang.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan Laboratorium Rutin

Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan begitu diagnosis klinis demensia

ditegakkan untuk membantu pencarian etiologi demensia khususnya demensia

reversible, walaupun 50% penyandang demensia adalah Alzheimer dengan hasil

laboratorium normal, pemeriksaan laboratorium rutin sebaiknya dilakukan.

Page 7: Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

Pemeriksaan laboratorium rutin sebaiknya dikerjakan antara lain : pemeriksaan darah

lengkap, urinalisis, elektrolit serum, kalsium darah, ureum, fungsi hati, hormone

tiroid dan kadar asam folat.

2. Imaging

Computed Tomography (CT) scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging) telah

menjadi pemeriksaan rutin dalam pemeriksaan demensia walauoun hasilnya masih

dipertanyakan.

3. Pemeriksaan EEG

Electroencephalogram (EEG) tidak memberikan gambaran spesifik dan pada

sebagian besar EEG adalah normal. Pada Alzheimer stadium lanjut dapat

memberikan gambaran perlambatan difus dan kompleks periodic.

4. Pemeriksaan Cairan Otak

Fungsi lumbal diindikasikan bila klinis dijumpai awitan demensia akut, penyandang

dengan immunosupresan, dijumpai rangsangan meningen dan panas, demensia

presentasi atipikal, hidrosefalus normosentif, tes sifilis (+), penyengatan meningeal

pada CT scan.

5. Pemeriksaan Genetika

Apolipoprotein E (APOE) adalah salah satu protein pengangkut lipid polimorfik yang

memilki 3 allel yaitu epsilon 2, epsilon 3 dan epsilon 4. Setiap allel mengkode bentuk

APOE yang berbeda. Meningkatnya frekuensi epsilon 4 diantaranya penyanndang

demensia Alzheimer tipe awitan lambat atau tipe sporadic menyebabkan pemakaian

genotif APOE epsilon 4 sebagai penanda semakin meningkat.

6. Pemeriksaan Neuropsikologis

Pemeriksaan ini meliputi status mental, aktivitas sehari-hari atau fungsional dan

aspek kognitif lainnya. (Asosiasi Alzheimer Indonesia, 2003), pemeriksaan

neuropsikologis penting untuk penambahan pemeriksaan pada pasien demensia,

terutama untuk memeriksa fungsi kognitif, minimal mencakup atensi, memori bahasa,

konstruksi visuospatial, kalkulasi dan problem solving

G. PENATALAKSANAAN

1. Farmakoterapi.

Sebagian besar kasus demensia tidak dapat disembuhkan.

a. Untuk mengobati demensia Alzheimer digunakan obat-obatan antikoliesterase

seperti donepezil, rivastigmine, galantamine, memantine.

Page 8: Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

b. Demensia vascular membutuhkan obat-obatan anti platelet seperti aspirin,

ticlopidine, clopidrogel untuk melancarkan aliran darah ke otak sehingga

memperbaiki gangguan koginitif.

c. Demensia karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati, tetapi

perkembangannya bisa diperlambat atau bahkan dihentikan dengan mengobati

tekanan darah tinggi atau kencing manis yang berhubungan dengan stroke.

d. Jika hilangnya ingatan disebabkan oleh depresi, diberikan obat anti-depresi

seperti sertraline dan citalopram.

e. Untuk mengendalikan agitasi dan perilakuk yang mekedak-ledak, yang bisa

meyertai demensia stadium lanjut, sering digunakan obat anti-psikotik. Misalnya

haloperidol, quetiapine, dan risperidone).

2. Dukungan atau Peran Keluarga

a. Mempertahankan lingkungan yang familiar akan membantu penderita tetap

memiliki orientasi. Kalender yang besar, cahaya yang terang, jam dinding dengan

angka-angka yang besar atau radio juga bisa membantu penderita memiliki

orientasi.

b. Menyembunyikan kunci mobil dan memasang detector pada pintu bisa membantu

mencegah terjadinya kecelakaan pada penderita yang senang berjalan-jalan.

c. Menjalani kegiatan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia.

d. Memarahi atau menghukum penderita tidak akan membantu, bahkan

memperburuk keadaan.

e. Menerima bantuan organisasi yang memberikan pelayanan social dan perawatan,

akan sangat membantu.

3. Terapi Simtomatik

Pada penderita penyakit demensia dapat diberikan terapi ini, meliputi :

a. Diet.

b. Latihan fisik yang sesuai.

c. Terapi rekrasional dan aktivitas.

d. Penanganan terhadap masalah-masalah.

Page 9: Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

H. PENCEGAHAN DAN PERAWATAN DEMENSIA

Hal yang dapat kita lakukan untuk menuruknkan resiko terjadinya demensia diantaranya

adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak, seperti

1. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alcohol dan zat-

zat adiktif yang berlebihan.

2. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya melakukan setiap

hari.

3. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental sehat dan aktif.

I. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Identitas pasien.

b. Riwayat kesehatan.

c. Status kesehatan.

d. Status kesehatan mental.

e. Aspek kognitif, pembelajaran dan memori.

f. Perubahan system tubuh.

- Perubahan kardiovaskular.

- Perubahan system pernafasan.

- Perubahan integument.

- Perubahan system reproduksi.

- Perubahan genitourinaria.

- Perubahan gastrointestinal.

- Perubahan kebutuhan nutrisi.

- Perubahan musculoskeletal.

- Perubahan sensorik.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Sindrom stress relokasi berhubungan dengan perubahan dalam aktivitas

kehidupan sehari-hari ditandai dengan kebingungan, keprihatinan, gelisah,

tampak cemas, mudah tersinggung, tingkah laku defensive, kekacauan mental

tingkah laku curiga dan tingkah laku agresif.

b. Perubahan proses piker berhubungan dengan perubahan fisiologis (degenasi

neuron irreversible) ditandai dengan hilang ingatan atau memor, hilang

Page 10: Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

konsentrasi, tidak mamou menginterpretasikan stimulasi dan menilai realitas

dengan akurat.

c. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi, transmisi

atau integrasi sensorik (penyakit neurologis, tidak mampu berkomunikasi,

gangguan tidur, nyeri) ditandai dengan cemas, apatis, gelisah, halusinasi.

d. Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan lingkungan ditandai dengan

keluhan verbal tentang kesulitan tidur, terus-menerus terjaga, tidak mampu

menentukan kebutuhan atau waktu tidur.

e. Kurang perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktivitas menurunnya

daya tahan dan kekuatan ditandai dengan penurunan kemampuan untuk

melakukan aktivitas sehari-hari.

f. Resiko cedera berhubungan dengan mudah lupa, kemunduran hobi, perubahan

sensorik.

3. INTERVENSI KEPERAWATAN

No

Dx.Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1.

Setelah diberikan tindakan

keperawatan diharapkan klien

dapat beradaptasi dengan

perubahan aktivitas sehari-hari

dan lingkungan dengan KH :

(a). mengidentifikasi perubahan

(b). mampu beradaptasi pada

perubahan lingkungan dan

aktivitas kehidupan sehari-hari.

(c). cemas dan takut berkurang.

(d). membuat pernyataan yang

positif tentang lingkungan yang

baru.

(a). jalin hubungan saling

mendukung dengan klien.

(b). orientasikan pada

lingkungan dan rutinitas

yang baru. (c). kaji tingkat

stressor (penyesuaian diri,

perkembangan, peran

keluarga, akibat perubahan

status kesehatan). (d).

tentukan jadwal aktivitas

yang wajjar dan masukkan

dalam kegiatan rutin. (e).

berikan penjelasan dan

informasi yang menyenang

kan mengenai kegiatan

atau peristiwa.

(a). untuk membangun

kepercayaan dan rasa

nyaman. (b).

menurunkan kecemasan

dan perasaan terganggu.

(c). untuk menentukan

persepsi klien tentang

kejadian dan tingkat

serangan. (d). konsitensi

mengurangi kebingungan

,mempertahankan rasa

saling percaya dan

orientasi.

2. Setelah diberikan tindakan

keperawatan diharapkan klien

(a). kembangkan

lingkungan yang

(a). mengurangi

kecemasan dan

Page 11: Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

mampu mengenali perubahan

dalam berpikir dengan KH :

(a). mampu memperlihatkan

kemampuan kognitif untuk

melanjalani konsekuensi

kejadian yang menegangkan

terhadap emosi dan pikiran

tentag diri. (b). mampu

mengembangkan strategi untuk

mengatasi anggapan diri yang

negative. (c). mampu mengenali

tingkah laku dan factor

penyebab.

mendukung dan hubungan

klien-perawat yang

terapeutik. (b).

pertahankan lingkungan

yang menyenangkan dan

tenang. (c). tatap wajah

ketika berbicara dengan

klien. (d). panggil klien

dengan namanya.

(e).gunakan suara yang

agak rendah dan berbicara

dengan perlahan terhadap

klien.

emosional. (b).

kebisingan merupakan

sensorik berlebihan yang

meningkatkan gangguan

neuron. (c).

menimbulkan perhatian

terutama pada klien

dengan gangguan

perceptual. (d). nama

adalah bentuk identitas

diri dan menimbulkan

pengenalan terhadap

realita dan klien. (e).

meningkatkan

pemahaman. Ucapan

tinggi dank eras

meimbulkan stress yang

mencetuskan konfrotasi

dan respon marah.

3. Setelah diberikan tindakan

keperawatan diharapkan

perubahan persepsi sensori

klien dapat berkurang atau

terkontrol dengan KH :

(a). mengalami penurunan

halusinasi. (b).

mengembangkan strategi

psikososial untuk mengurangi

stress. (c). mendemonstrasikan

respons yang sesuai stimulasi.

(a). kembangkan

lingkungan yang supportif

dan hubungan perawat-

klien yang terapeutik. (b).

bantu klien memahami

halusinasi. (c). kaji derajat

sensori atau gangguan

persepsi dan bagaimana

hal tersebut mempengaruhi

klien termasuk penurunan

penglihatan atau

pendengaran. (d). ajarkan

strategi untuk mengurangi

stress. (e). ajak pihak

sederhana, jalan-jalan

keliling rumah sakit.

(a). meningkatkan

kenyamanan dan

menurunkan kecemasan

pada klien. (b).

meningkatkan koping

dan menurunkan

halusinasi. (c).

keterlibatan itak

memperlihatkan masalah

yang bersifat asimetris

menyebakan klien

kehilangan kemampuan

pada salah satu sisi

tubuh. (d). untuk

menurunkan kebutuhan

akan halusinasi. (e).

Page 12: Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

Pantau aktivitas. piknik menunjukkan

realita dan memberikan

stimulasi sensori yang

menurunkan perasaan

curiga dan halusinasi

yang disebabkan persaan

terkekang.

4.

Setelah diberikan tindakan

keperawatan diharapkan tidak

terjadi gangguan pola tidur

pada klien dengan KH :

(a). memahami factor penyebab

gangguan pola tidur. (b).

mampu menentukan penyebab

tidur inadekuat. (c). melaporkan

dapat beristirahat dengan

cukup. (d). mampu

menciptakan pola tidur yang

adekuat.

(a). jangan menganjurkan

pasien tidur siang apabila

berakibat efek negative

terhadap tidur pada malam

hari. (b). evaluasi efek

obat klien yang

mengganggu tidur. (c).

tentukan kebiasaan dan

rutinitas waktu tidur

malam dengan kebiasaan

klien. (d). memberikan

lingkungan yang nyaman

untuk tidur. (e). buat

jadwal tidur secara teratur

katakana pada klien bahwa

saat ini adalah waktunya

untuk istirahat.

(a). irama sikardian yang

tersinkronisasi

disebabkan oleh tidur

siang yang singkat. (b).

derangement psikis

terjadi bila terdapat

penggunaan

kortikosteroid, termasuk

perubahan mood,

insomnia. (c). mengubah

pola yang sudah terbiasa

dengan asupan makan

klien pada malam hari

terbukti mengganggu

tidur. (d). hambatan

kortikal pada formasi

retricular akan berkurang

selama tidur. (e).

penguatan bahwa saatnya

tidur dan

mempertahankan

kestabilan lingkungan.

5. Setelah diberikan tindakan

keperawatan diharapkan klien

dapat merawat dirinya sesuai

dengan kemampuannya dengan

KH :

(a). mampu melakukan aktivitas

(a). identifikasi kesulitan

dalam berpakaian atau

perawatan diri, seperti :

keterbatasan gerak fisik,

apatis atau depresi,

penurunan kognitif,

(a). memahami penyebab

yang mempengaruhi

intervensi. Masalah dapat

diminimalkan dengan

menyesuaikan atau

memerlukan konsultasi

Page 13: Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

perawatan diri sesuai dengan

tingkat kemampuan. (b).

mamou mengidentifikasi dan

menggunakan sumber pribadi

atau komunitas yang dapat

memberikan bantuan.

seperti apraksia. (b).

identifikasi kebutuhan

kebersihan diri dan berikan

bantuan sesuai kebutuhan

dengan perawatan rambut,

kuku, kulit dan gigi. (c).

perlihatkan adanya tanda-

tanda nonverbal yang

fisiologis. (d). beri banyak

waktu untuk melakukan

tugas. (e). bantu

mengenakan pakaian yang

rapid an indah.

dari ahli lain. (b). seiring

perkembangan penyakit,

kebutuhan kebersihan

dasar mungkin

dilupakan. (c).

kehilangan sensori dan

penurunan fungsi bahasa

menyebabkan klien

mengungkapkan

kebutuhan perawatan diri

dengan cara nonverbal,

seperti terengah-engah,

ingin berkemih dan

memegang dirinya. (d).

pekerjaan yang tadinya

mudah sekarang menjadi

terhambat karena

penurunan motorik dan

perubahan kognitif. (e).

meningkatkan

kepercayaan untuk hidup.

6. Setelah diberikan tindakan

keperawatan diharapkan resiko

cedera tidak dapat terjadi

dengan KH :

(a). meningkatkan tingkat

aktivitas. (b). dapat beradaptasi

dengan lingkungan untuk

mengurangi resiko trauma atau

cedera. (c). tidak mengalami

cedera.

(a). kaji derajat gangguan

kemampuan, tingkah laku

impulsive dan penurunan

perepsi visual. Bantu

keluarga mengidentifikasi

resiko terjadinya bahaya

yang akan timbul. (b).

hilangkan sumber bahaya

lingkungan. (c). alihkan

perhatian saat perilaku

berbahaya atau melompat

derajatu tempat tidur. (d).

kaji efek samping obat,

tanda keracunan. (e).

(a). mengidentifikasi

resiko di lingkungan dan

mempertinggi kesadaran

perawat akan bahayanya.

Klien dengan tingkah

laku impuls beresiko

trauma karena kurang

mampu mengendalikan

perilaku penurunan

persepsi visual berseiko

jatuh. (b). klien dengan

gangguan kognitif,

gangguan persepsi awal

terjadi trauma akibat

Page 14: Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Demensia Teori

hindari penggunaan

restrain terus menerus.

Berikan kesempatan

keluarga tinggal bersama

klien selama periode

agitasi akut.

tidak bertanggung jawab

terhadap kebutuhan dasar

manusia. (c).

mempertahankan

keamanan dengan

menghindari konfrotasi

yang meningkatkan

resiko terjadinya trauma.

7.

Setelah diberikan tindakan

keperawatan diharapkan klien

mendapat nutrisi yang

seimbang dengan KH :

(a). mengubah pola asuhan

yang benar. (b). mendapat diet

nutrisi yang seimbang. (c).

mendapat kembali berat badan

yang sesuai

(a). beri dukungan untuk

penurunan berat badan.

(b). awasi berat badan

setiap minggu. (c). kaji

pengetahuan keluarga atau

klien mengenai kebutuhan

makanan. (d). usahakan

atau beri bantuan dalam

memilih menu. (e). beri

privasi saat kebiasaan

makan menjadi masalah.

(a). motivasi terjadi saat

klien mengidentifikasi

kebutuhan sendiri. (b).

memberikan umpan balik

atau penghargaan. (c).

identifikasi kebutuhan

membantu perencanaan

pendidikan. (d). klien

tidak mampu

menentukan kebutuhan

pilihan kebutuhan nutrisi.

(e). ketidakmampuan

menerima dan hambatan

social dari kebiasaan

makan berkembang

seiring perkembangan

penyakit.