of 32 /32
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN TUBERKULOSIS PARU I. Konsep Dasar Penyakit A. Pengertian Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru, yang dapat ditularkan ke bagian tubuh lainnya, termasuk meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Smeltzer, 2002;584). Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.Kuman ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit.Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 µm, ukuran ini lebih kecil dari satu sel darah merah. B. Epidemiologi/Insiden Kasus Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang sangat epidemik karena kuman mikrobakterium tuberkulosa telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia.Program penanggulangan secara terpadu baru dilakukan pada tahun 1995 melalui strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse chemoterapy), meskipun sejak tahun 1993 telah dicanangkan kedaruratan global penyakit tuberkulosis.Kegelisahan global ini didasarkan pada fakta bahwa pada sebagian besar negara di dunia, penyakit tuberkulosis tidak terkendali, hal ini

ASKEP TUBERKULOSIS PARU

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN TUBERKULOSIS PARU

I. Konsep Dasar Penyakit

A. Pengertian

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru,

yang dapat ditularkan ke bagian tubuh lainnya, termasuk meninges, ginjal, tulang, dan

nodus limfe (Smeltzer, 2002;584). Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular yang

disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.Kuman ini dapat merupakan organisme

patogen maupun saprofit.Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 µm, ukuran ini lebih

kecil dari satu sel darah merah.

B. Epidemiologi/Insiden Kasus

Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang sangat epidemik karena kuman mikrobakterium

tuberkulosa telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia.Program penanggulangan secara

terpadu baru dilakukan pada tahun 1995 melalui strategi DOTS (directly observed

treatment shortcourse chemoterapy), meskipun sejak tahun 1993 telah dicanangkan

kedaruratan global penyakit tuberkulosis.Kegelisahan global ini didasarkan pada fakta

bahwa pada sebagian besar negara di dunia, penyakit tuberkulosis tidak terkendali, hal ini

disebabkan banyak penderita yang tidak berhasil disembuhkan, terutama penderita menular

(BTA positif).

Pada tahun 1995, diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar sembilan juta penderita dengan

kematian tiga juta orang (WHO, 1997).Di negara-negara berkembang kematian karena

penyakit ini merupakan 25 % dari seluruh kematian, yang sebenarnya dapat dicegah.

Diperkirakan 95 % penyakit tuberkulosis berada di negara berkembang, 75 % adalah

kelompok usia produktif (15-50 tahun). Tuberkulosis juga telah menyebabkan kematian

lebih banyak terhadap wanita dibandingkan dengan kasus kematian karena kehamilan,

persalinan dan nifas.

Di Indonesia pada tahun yang sama, hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT)

menunjukkan bahwa penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga

Page 2: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

setelah penyakit jantung dan penyakit infeksi saluran pernapasan pada semua kelompok

usia, dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. WHO memperkirakan setiap tahun

menjadi 583.000 kasus baru tuberkulosis dengan kematian sekitar 140.000.Secara kasar

diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru tuberkulosis

dengan BTA positif.

C. Penyebab/faktor predisposisi

Penyebabnya adalah kuman microorganisme yaitu basil mycobacterium tuberculosis tipe

humanus dengan ukuran panjang 1 – 4 um dan tebal 1,3 – 0,6 um, termasuk golongan

bakteri aerob gram positif serta tahan asam atau basil tahan asam dan lebih tahan terhadap

gangguan kimia dan fisik karena sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak

(lipid).Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat

tahan bertahun-tahun dalam lemari es).Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat

dormant.Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis

aktif kembali. Sifat lain kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih

menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya.Dalam hal ini tekanan bagian

apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini

merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. Basil

mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet

infection) sampai alveoli, maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar

kekelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). Keduanya

dinamakan tuberkulosis primer, yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami

penyembuhan. Tuberkulosis paru primer, peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai

kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. Tuberkulosis kebanyakan didapatkan

padausia 1-3 tahun. Sedangkan yang disebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah

peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh

terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut.

Individu yang berisiko tinggi untuk tertular tuberculosis adalah :

Mereka yang kontak dengan seseorang yang mempunyai TB aktif

Page 3: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

Individu imunosupresif (termasuk lansia, pasien dengan kanker, mereka yang dalam

terapi kortikosteroid, atau mereka yang terinfeksi dengan HIV)

Pengguna obat-obat IV dan alkoholik

Setiap individu tanpa perawatan kesehatan yang adekuat (anak-anak di bawah usia 15

tahun dan dewasa muda antara yang berusia 15-44 tahun)

Setiap individu dengan gangguan medis yang sudah ada sebelumnya (misalnya,

diabetes, gagal ginjal kronis)

Imigran dari Negara dengan insiden TB yang tinggi (asia tenggara, afrika, dan

amerika latin)

Setiap individu yang tinggal di institusi (misalnya fasilitas perawatan jangka panjang,

institusi psikiatrik, penjara)

Individu yang tinggal di daerah, perumahan subtandar kumuh

Petugas kesehatan

D. Patofisiologi terjadinya tuberculosis paru

Tuberkulosis tergolong airbone disease dimana penularan terjadi karena kuman dibatukkan

atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuklei dalam udara oleh individu yang terinfeksi

dalam fase aktif. Setiapkali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droflet nuclei.

Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1 – 2 jam. Di bawah sinar

matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam suasana yang gelap dan

lembab kuman dapat bertahan sampai berhari – hari bahkan berbulan.

Bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang yang sehat akan menempel pada alveoli

kemudian partikel ini akan berkembang bisa sampai puncak apeks paru sebelah kanan atau

kiri dan dapat pula keduanya dengan melewati pembuluh limfe, basil berpindah kebagian

paru – paru yang lain atau jaringan tubuh yang lain.Masuknya kuman TB ini akan segera

diatasi oleh mekanismeimunologis non spesifik. Makrofag alveolus akan menfagosit

kuman TB dan biasanyasanggup menghancurkan sebagian besar kuman TB. Akan tetapi,

pada sebagiankecil kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan kuman TB dan kuman

akanbereplikasi dalam makrofag. Kuman TB dalam makrofag yang terus berkembangbiak,

akhirnya akan membentuk koloni di tempat tersebut. Lokasi pertama kolonikuman TB di

jaringan paru disebut Fokus Primer GOHN.Dari focus primer, kuman TB menyebar

Page 4: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

melalui saluran limfe menuju kelenjar limferegional, yaitu kelenjar limfe yang mempunyai

saluran limfe ke lokasi focus primer.Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di

saluran limfe (limfangitis) dan dikelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena. Jika focus

primer terletak di lobus parubawah atau tengah, kelenjar limfe yang akan terlibat adalah

kelenjar limfe parahilus,sedangkan jika focus primer terletak di apeks paru, yang akan

terlibat adalahkelenjar paratrakeal. Kompleks primer merupakan gabungan antara focus

primer,kelenjar limfe regional yang membesar (limfadenitis) dan saluran limfe

yangmeradang (limfangitis).Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga

terbentuknya kompleksprimer secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi TB. Hal ini

berbeda denganpengertian masa inkubasi pada proses infeksi lain, yaitu waktu yang

diperlukan sejakmasuknya kuman hingga timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi TB

biasanyaberlangsung dalam waktu 4-8 minggu dengan rentang waktu antara 2-12

minggu.Dalam masa inkubasi tersebut, kuman tumbuh hingga mencapai jumlah 103-

104,yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang respons imunitas seluler.

Selama berminggu-minggu awal proses infeksi, terjadi pertumbuhan logaritmikkuman TB

sehingga jaringan tubuh yang awalnya belum tersensitisasi terhadaptuberculin, mengalami

perkembangan sensitivitas. Pada saat terbentuknya kompleksprimer inilah, infeksi TB

primer dinyatakan telah terjadi. Hal tersebut ditandai olehterbentuknya hipersensitivitas

terhadap tuberkuloprotein, yaitu timbulnya responspositif terhadap uji tuberculin. Selama

masa inkubasi, uji tuberculin masih negatif.Setelah kompleks primer terbentuk, imunitas

seluluer tubuh terhadap TB telahterbentuk. Pada sebagian besar individu dengan system

imun yang berfungsi baik,begitu sistem imun seluler berkembang, proliferasi kuman TB

terhenti. Namun,sejumlah kecil kuman TB dapat tetap hidup dalam granuloma. Bila

imunitas selulertelah terbentuk, kuman TB baru yang masuk ke dalam alveoli akan

segeradimusnahkan.Setelah imunitas seluler terbentuk, focus primer di jaringan paru

biasanyamengalami resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi

setelahmengalami nekrosis perkijuan dan enkapsulasi. Kelenjar limfe regional juga

akanmengalami fibrosis dan enkapsulasi, tetapi penyembuhannya biasanya

tidaksesempurna focus primer di jaringan paru. Kuman TB dapat tetap hidup danmenetap

selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini.Kompleks primer dapat juga mengalami

komplikasi. Komplikasi yang terjadi dapatdisebabkan oleh focus paru atau di kelenjar limfe

Page 5: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

regional. Fokus primer di parudapat membesar dan menyebabkan pneumonitis atau

pleuritis fokal. Jika terjadinekrosis perkijuan yang berat, bagian tengah lesi akan mencair

dan keluar melaluibronkus sehingga meninggalkan rongga di jaringan paru (kavitas).

Kelenjar limfehilus atau paratrakea yang mulanya berukuran normal saat awal infeksi,

akanmembesar karena reaksi inflamasi yang berlanjut. Bronkus dapat terganggu.Obstruksi

parsial pada bronkus akibat tekanan eksternal dapat menyebabkanateletaksis. Kelenjar yang

mengalami inflamasi dan nekrosis perkijuan dapatmerusak dan menimbulkan erosi dinding

bronkus, sehingga menyebabkan TBendobronkial atau membentuk fistula. Massa kiju

dapat menimbulkan obstruksikomplit pada bronkus sehingga menyebabkan gabungan

pneumonitis danateletaksis, yang sering disebut sebagai lesi segmental kolaps-

konsolidasi.Selama masa inkubasi, sebelum terbentuknya imunitas seluler, dapat

terjadipenyebaran limfogen dan hematogen. Pada penyebaran limfogen, kuman

menyebarke kelenjar limfe regional membentuk kompleks primer. Sedangkan

padapenyebaran hematogen, kuman TB masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebarke

seluruh tubuh. Adanya penyebaran hematogen inilah yang menyebabkan TBdisebut

sebagai penyakit sistemik.Penyebaran hamatogen yang paling sering terjadi adalah dalam

bentuk penyebaranhematogenik tersamar (occult hamatogenic spread). Melalui cara ini,

kuman TBmenyebar secara sporadic dan sedikit demi sedikit sehingga tidak

menimbulkangejala klinis. Kuman TB kemudian akan mencapai berbagai organ di seluruh

tubuh.Organ yang biasanya dituju adalah organ yang mempunyai vaskularisasi

baik,misalnya otak, tulang, ginjal, dan paru sendiri, terutama apeks paru atau lobus

atasparu. Di berbagai lokasi tersebut, kuman TB akan bereplikasi dan membentuk

kolonikuman sebelum terbentuk imunitas seluler yang akan membatasi pertumbuhannya.Di

dalam koloni yang sempat terbentuk dan kemudian dibatasi pertumbuhannya olehimunitas

seluler, kuman tetap hidup dalam bentuk dormant.

Bentuk penyebaran hamatogen yang lain adalah penyebaran hematogenikgeneralisata akut

(acute generalized hematogenic spread). Pada bentuk ini,sejumlah besar kuman TB masuk

dan beredar dalam darah menuju ke seluruhtubuh.Hal ini dapat menyebabkan timbulnya

manifestasi klinis penyakit TB secaraakut, yang disebut TB diseminata.TB diseminata ini

timbul dalam waktu 2-6 bulansetelah terjadi infeksi. Timbulnya penyakit bergantung pada

jumlah dan virulensikuman TB yang beredar serta frekuensi berulangnya penyebaran.

Page 6: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

Tuberkulosisdiseminata terjadi karena tidak adekuatnya sistem imun pejamu (host)

dalammengatasi infeksi TB, misalnya pada balita.

E. Klasifikasi

a. Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik, radiologik dan

riwayat pengobatan sebelumnya. Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu

faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi.

Klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut:

1. TB Paru BTA Positif dengan kriteria:

a) Dengan atau tanpa gejala klinik

b) BTA positif: mikroskopik positif 2 kali, mikroskopik positif 1 kali disokong

biakan positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali.

c) Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru.

2. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria:

a) Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif

b) BTA negatif, biakan negatif tetapi radiologik positif.

3. Bekas TB Paru dengan kriteria:

a) Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negative

b) Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru.

c) Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, menunjukkan serial foto

yang tidak berubah.

d) Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung).

b. Klasifikasi diagnostik TB adalah:

1. TB paru

a. BTA mikroskopik langsung (+) ata biakan (+), kelainan foto torax menyokong

TB

b. BTA mikroskopik langsung atau biakan (-)tetapi kelainan rontgen dan klinis

sesuai TB dan memberikan perbaikan pada pengobatan awal anti TB. Pasien

golongan ini memerlukan pengobatan yang adekuat

Page 7: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

2. TB paru tersangka

Diagnosis pada tahap ini bersifat sementara sampai hasil pemeriksaan BTA didapat

(paling lambat 3 bulan). Pasien dengan BTA mikroskopis yang lengkap , tetapi

kelainan rontgen dan klinis sesuai TB paru. Pengobatan dengan anti TB sudah dapat

dimulai.

3. Bekas TB

Ada riwayat TB pada pasien di masa lalu dengan atau tanpa pengobatan atau

gambaran rontgen normal atau abnormal tetapi stabil pada foto serial dan sputum

BTA (-). Kelompok ini tidak perlu diobati

(Smeltzer:2002;585)

F. Gejalaklinis

Tuberkulosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit yang mempunyai

banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah

dan demam. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan

bahkan kadang-kadang asimptomatik.

Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala

sistemik:

1. Gejala respiratorik, meliputi:

a. Batuk

Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering

dikeluhkan.Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur

darah bila sudah ada kerusakan jaringan.

b. Batuk darah

Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau

bercak-bercak darah, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak.

Batuk darah terjadi karena pecahnya pembuluh darah.Berat ringannya batuk darah

tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah.

c. Sesak napas

Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal

yang menyertaiseperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain.

Page 8: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

d. Wheezing

Karena penyempitan lumen endobronkus: oleh karena secret,radang, dan jaringan

granulasi

e. Nyeri dada

Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan.Gejala ini timbul

apabila sistem persarafan di pleura terkena.Nyeri dada sering kali dirasakan pada

daerah axilla, ujung skapula, dan lain-lain

2. Gejala sistemik, meliputi:

a. Demam

Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari

mirip demam influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya,

serta menggigil. Sedangkan masa bebas serangan makin pendek.

b. Gejala sistemik lain

Keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta malaise.Timbulnya gejala

biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan, akan tetapi penampilan akut dengan

batuk, panas, sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala

pneumonia, kelelahan umum dan kelemahan, nafas pendek saat beraktivitas, kesulitan

tidur pada malam, takhikardi, kelelahan otot.

c. Gejala Psikologis

Perasaan tak berdaya, menyangkal. (khususnya selama tahap dini), ancietas,

ketakutan, mudah tersinggung.

G. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik khususnya dada dan paru adalah sebagai berikut :

Inspeksi : Dispnea, retraksi otot-otot interkostal, pengembangan napas tidak simetrs

Palpasi : Penurunan fremitus vokal, deviasi trakeal

Perkusi : redup

Auskultasi : Tanda-tanda infiltrat ( bronkial, ronki basah, krekels, suara napas

amforik(karena adanya kavitas yang berhubungan langsung dengan bronkus ))

(Mansjoer:1999;472)

Page 9: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

H. Pemeriksaan diagnostik/penunjang

1. Uji Tuberculin mantoux (tes kulit)

Tuberculin positif, menunjukkan TBC aktif (area durasi 10 mm) terjadi 48 – 72 jam

setelah injeksi intra dermal. (Antigen menunjukan infeksi masa lalu dan adanya anti

body tetapi tidak secara berarti menunjukan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada

pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau

infeksi disebabkan oleh mycobacterium yang berbeda).

2. BCG

Terjadi reaksi cepat (3-7 hari) berupa kemerahan dan indurasi > 5 mm.

3. Pemeriksaan Radiologi

Ditemukan infiltrat dengan pembesaran kelenjar hilus atau para trakeal. Karakteristik

radiology yang menunjang diagnostik antara lain :

a. Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru.

b. Bayangan yang berawan (patchy) atau berbercak (noduler)

c. Kelainan yang bilateral, terutama bila terdapat di lapangan atas paru

d. Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu

e. Bayangan milier

4. Foto thorax

Dapat menunjukan infiltrasi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi

sembuh primer atau efusi cairan, perubahan menunjukan TB dapat masuk rongga area

fibrosa.

5. Pemeriksaan Bakteriologik (Sputum)

Setelah dilakukan kultur jaringan ditemukan adanya koloni matur akan berwarna krem

atau kekuningan seperti kutil dan bentuknya seperti kembang kol. Ditemukannya

kuman mycobakterium TBC dari dahak penderita memastikan diagnosis tuberculosis

paru. Dilakukan 3 kali pemeriksaan dahak. Kultur sputum, positif untuk

mycobakterium pada tahap akhir penyakit.

6. Pemeriksaan lain-lain

Page 10: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

1. Ziehl Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah)

positif untuk basil asam cepat.

2. Histologi atau kultur jaringan (termasuk pembersihan gaster; urine dan cairan

serebrospinal, biopsi kulit) positif untuk mycobakterium tuberkulosis.

3. Biopsi jarum pada jaringan paru, positif untuk granula TB; adanya sel raksasa

menunjukan nekrosis.

4. Elektrosit dapat tidak normal tergantung lokasi dan bertanya infeksi, misalnya

Hyponaremia, karena retensi air tidak normal, didapat pada TB paru luas. GDA

dapat tidak normal tergantung lokasi, berat dan kerusakan sisa pada paru.

5. Pemeriksaan fungsi pada paru, penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati,

peningkatan rasio udara resido dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi

oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkhim / fibrosis, kehilangan jaringan paru

dan penyakit pleural (TB paru kronis luas).

I. Theraphy/Tindakan penanganan

Dalam pengobatan TB paru dibagi 2 bagian :

1. Jangka pendek.

Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan jangka waktu 1 – 3 bulan.

Streptomisin injeksi 750 mg.

Pas 10 mg.

Ethambutol 1000 mg.

Isoniazid 400 mg.

2. Jangka panjang

Tata cara pengobatan :setiap 2 x seminggu, selama 13 – 18 bulan, tetapi setelah

perkembangan pengobatan ditemukan terapi.

Terapi TB paru dapat dilakukan dengan minum obat saja, obat yang diberikan dengan

jenis :

INH.

Rifampicin.

Ethambutol.

Page 11: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

Dengan fase selama 2 x seminggu, dengan lama pengobatan kesembuhan menjadi 6-9

bulan.

3. Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila ditemukan dalam

pemeriksan sputum BTA ( + ) dengan kombinasi obat :

Rifampicin.

Isoniazid (INH).

Ethambutol.

Pyridoxin (B6).

Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah

kematian, mencegah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata

rantai penularan.Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3

bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan).Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama

dan obat tambahan.Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO

adalah Rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin dan Etambutol.Sedangkan jenis

obat tambahan adalah Kanamisin, Kuinolon, Makrolide dan Amoksisilin + Asam

Klavulanat, derivat Rifampisin/INH.

Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu berdasarkan

lokasi tuberkulosa, berat ringannya penyakit, hasil pemeriksaan bakteriologik, hapusan

dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. Di samping itu perlu pemahaman tentang

strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short

Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen

yaitu:

1. Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam

penanggulangan TB.

2. Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang

pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat

dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut.

3. Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung

oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana

penderita harus minum obat setiap hari.

4. Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup.

Page 12: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

5. Pencatatan dan pelaporan yang baku.

II. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian

Status Kesehatan Saat ini

a. Keluhan Utama : Batuk

b. Keluhan Saat ini

o Pasien mengeluh batuk-batuk berdahak,batuk berdarah

o Pasien mengeluh sesak napas

o Pasien mengeluh nyari pada dada saat batuk berulang

o Pasien mengeluh demam

o Pasien mengeluh berkeringat di malam hari

o Pasien mengeluh lemah dan merasa lelah

o Pasien mengeluh tidak nafsu makan

o Pasien mengeluh mual, muntah

Aktivitas Sehari-hari

a. Aktivitas/istirahat

o Kelelahan umum dan kelemahan.

o Nafas pendek saat beraktivitas

o Kesulitan tidur pada malam atau demam pada malam hari, menggigil dan atau

berkeringat.

o Takhikardi, tachipnoe, / dispnoe pada kerja.

o Kelelahan otot, nyeri dan sesak (pada tahap lanjut).

b. IntegritasEgo.

o Perasaan tak berdaya

o Menyangkal. (khususnya selama tahap dini).

o Ancietas, ketakutan, mudah tersinggung.

c. Makanan/cairan

o Anorexia.

Page 13: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

o Tidak dapat mencerna makanan.

o Penurunan BB.

o Turgor kulit buruk.

o Kehilangan lemak subkutan pada otot.

o mual muntah

d. Nyeri/kenyamanan.

o Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.

o Berhati-hati pada area yang sakit.

o Perilaku distraksi, gelisah.

e. Keamanan.

o Adanya kondisi penekanan imun, contoh ; AIDS, kanker, tes HIV positif (+)

o Demam rendah atau sakit panas akut.

f. Interaksi sosial.

o Perasaan isolasi / penolakan karena penyakit menular.

o Perubahan pola biasa dalam tangguang jaawab / perubahan kapasitas fisik

untuk melaksankan peran.

g. Penyuluhan/pembelajaran.

o Riwayat keluarga TB.

o Ketidakmampuan umum / status kesehatan buruk.

o Gagal untuk membaik / kambuhnya TB.

o Tidak berpartisipasi dalam therapy.

(Doenges: 2000;240)

Pengkajian vital sign

Suhu: peningkatan suhu

Nadi : Takikardi

RR : Takipnea

Pengukuran berat badan: terjadi penurunan berat badan

Pengkajian Per Sistem

Page 14: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

a. Sistem Pernafasan.

o Batuk produktif atau tidak produktif.

o Produksi sputum

o Hemoptisis

o Nyeri dada

o Peningkatan frekuensi nafas.

b. Sistem Gastrointestinal

o Mual Muntah

c. Sistem Endokrin

o Demam

o Malaise

o Anoreksia

Pengkajian fisik

a. Dada dan Paru

Inspeksi : Dispnea, retraksi otot-otot interkostal, pengembangan napas tidak simetrs

Palpasi : Penurunan fremitus vokal, deviasi trakeal

Perkusi :redup

Auskultasi : bronkial, ronki basah, wheezing

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan Laboratorium

a. Darah

Gambaran LED normal atau m,eningkait, limfositosis

b. Sputum

Karakteristik sputum: hijau purulen, mukoid kuning atau bercampur darah.

Ditemukannya kuman mycobakterium TBC dari dahak penderita memastikan

diagnosis tuberculosis paru. Dilakukan 3 kali pemeriksaan dahak. Kultur sputum,

positif untuk mycobakterium pada tahap akhir penyakit.

Pemeriksaan Radiologi

Page 15: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

Ditemukan infiltrat dengan pembesaran kelenjar hilus atau para trakeal. Karakteristik

radiology yang menunjang diagnostik antara lain :

a. Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru.

b. Bayangan yang berawan (patchy) atau berbercak (noduler)

c. Kelainan yang bilateral, terutama bila terdapat di lapangan atas paru

d. Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu

e. Bayangan milier

Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang lainnya

o Uji Tuberculin mantoux (tes kulit)

o BCG

o Foto thorax

o Ziehl Neelsen

o Histologi atau kultur jaringan

o Biopsi jarum pada jaringan paru

o Elektrositdapat tidak normal tergantung lokasi dan bertanya infeksi

o Pemeriksaan fungsi pada paru, penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati,

peningkatan rasio udara resido dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi

oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkhim / fibrosis, kehilangan jaringan paru

dan penyakit pleural (TB paru kronis luas).

(Price:2005;857 )

B. Diagnosa Keperawatan

1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan, mukus

yang banyak, ditandai dengan batuk tidak produkif, suara nafas tambahan (krekels),

produksi sputum, haemoptisis

2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi ditandai dengan sesak

napas, Tachipnea

3. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit ditandai dengan peningkatan suhu

tubuh, menggigil

4. Kelelahan berhubungan dengan kondisi fisik kurang, ditandai dengan kelelahan

umum, malaise

Page 16: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

peningkatan metabolisme ditandai dengan anoreksia, mual muntah, penurunan berat

badan

6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya paparan tentang penyakit dan

pengobatan tentang Tuberkulosis Paru

Page 17: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

C. Rencana Keperawatan

No. Diagnosa Tujuan Tindakan/intervensi Rasional

1. Bersihan jalan

napas tak

efektif

berhubungan

dengan sekret

kental.

Setelah diberikan

askep selama 3x24

jam bersihan jalan

napas pasien kembali

efektif. Dengan

kriteria hasil:

- Dispnea (-)

- bronkial, ronki

basah, wheezing,

suara napas

amforik, krekels

(-s)

- Sekret pasien dpt

dikeluarkan

- Hemoptisis (-)

- Tidak adanya

retraksi otot-

interkostal

Mandiri:

o Kaji fungsi pernapasan (bunyi

napas, kecepatan, irama &

kedalaman serta penggunaan otot

aksesori)

o Catat ketidakmampuan untuk

mengeluarkan mukosa/batuk

efektif (catat karakter, jmlh

sputum, adanya hemoptisis).

o Berikan pasien posisi semi/fowler

tinggi. Bantu pasien utk batuk &

latihan napas dalam.

o Ronchi, wheezing menunjukkan

akumulasi sekret/ketidakmampuan

utk membersihkan jalan napas yg

dpt menimbulkan penggunaan otot

aksesori pernapasan dan

peningkatan kerja pernapasan.

o Pengeluaran sulit bila sekret sangat

kental (mis. Efek infeksi dan/tdk

adekuat hidrasi). Sputum berdarah

kental/darah cerah diakibatkan

kerusakan (kavitas paru)/luka

bronkial dan dapat memerlukan

evaluasi/intervensi lanjut.

o Pengaturan posisi membantu

memaksimalkan ekspansi paru dan

menurunkan upaya pernapasan.

Ventilasi maksimal membuka area

Page 18: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

- o Bersihkan sekret dari mulut &

trakea (penghisapan sesuai

keperluan)

o Pertahankan masukan cairan

sedikitnya 2500 ml/hari kecuali

kontraindikasi.

Kolaborasi:

o Lembabkan udara/oksigen

inspirasi.

atelektasis & meningkatkan gerakan

sekret ke dlm jalan napas besar utk

dikeluarkan.

o Mencegah obstruksi/aspirasi.

Penghisapan dapat diperlukan jika

pasien tak mampu mengeluarkan

sekret

o Pemasukan tinggi cairan membantu

utk mengencerkan sekret,

membuatnya mudah dikeluarkan.

o Mencegah pengeringan membran

mukosa (membantu pengenceran

sekret).

Page 19: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

o Beri obat-obatan sesuai indikasi:

Agen mukolitik, cth. Asetilsistein

(Mucomyst).

Bronkodilator, cth. Okstrifillin

(Choledyl), teofillin (Theo-Dur).

OAT (Obat Anti Tuberkulosis)

seperti: Isoniazid, rifampisin,

pirazinamid, streptomisin, dan

etambultol

o Agen mukolitik menurunkan

kekentalan & perlengketan sekret

paru utk memudahkan pembersihan.

Bronkodilator meningkatkan ukuran

lumen percabangan trakeobronkial

shg menurunkan tahanan thd aliran

udara.

o Membuat konversi sputum BTA

positif menjadi negatif secepat

mungkin melalui kegiatan

bakterisid

2. Hipertermia

berhubungan

dengan proses

penyakit

Setelah dilakukan

asuhan keperawatan

selama 3 x 24 jam

diharapkan suhu

tubuh pasien

menurun dengan

kriteria hasil:

- Pasien

Mandiri:

o Monitor suhu tubuh

o Monitor input dan output cairan

o Peningkatan suhu tubuh sering

terjadi karena daya tahan tubuh

menurun

o Suhu tubuh yang panas dapat

mengurangi cairan tubuh akibat

evaporasi sehingga perlu cairan

Page 20: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

melaporkan

badan tidak

panas

- Tubuh pasien

teraba hangat

- Menggigil (-)

- Suhu tubuh

pasien normal

(36,5-37,5 0C)

- Kulit kemerahan

(-)

o Kompres pasien pada lipat paha

dan aksila

o Inspeksi warna kulit

Kolaborasi

o Berikan Anti piretik jika perlu

o Berikan cairan intravena jika

perlu

yang adekuat

o Dapat menurunkan suhu tubuh

pasien

o Peningkatan suhu tubuh

menimbulkan warna kemerahan

pada kulit

o Antipiretik dapat menurunkan suhu

tubuh

o Suhu tubuh yang panas dapat

mengurangi cairan tubuh akibat

evaporasi

Page 21: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

D. Implementasi

Implementasi keperawatan dilakukan berdasarkan rencana keperawatan yang telah disusun.

E. Evaluasi

Evaluasi dilakukan berdasarkan kriteria hasil yang terdapat dalam rencana keperawatan.

Page 22: ASKEP TUBERKULOSIS PARU

DAFTAR PUSTAKA

Asti, Retno Werdhani. 2007. Patofisiologi, Diagnosis, dan Klasifikasi Tuberkulosis.

www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 1 Mei 2010.

Doenges, Moorhouse, Geissler. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta :

EGC.

Guyton, Arthur C. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11. Jakarta : EGC.

Mansjoer, A., dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran.Jilid pertama. Edisi ketiga.Jakarta :

Media Aesculapius.

Price, S. A. 2000. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Vol. 2. Edisi 6.

Jakarta : EGC

Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006 : Definisi &

Klasifikasi. Jakarta : Prima Medika.

Smeltzer,C.S. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth.

Vol.1. Edisi 8. Jakarta: EGC