of 31 /31
ASKEP PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISITEM INTEGUMEN AKIBAT JAMUR Tinea Kapitis, Tinea Korporis & KandidiasisDISUSUN OLEH : KELOMPOK VI WD. YUYUN ANGGARAINI MUH. ASWIN LA ARE NUR HIDAYAH JAHRATUN

Askep tinea kapitis

Embed Size (px)

Citation preview

ASKEP PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISITEM

INTEGUMEN AKIBAT JAMUR “Tinea Kapitis, Tinea Korporis &

Kandidiasis”

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK VI

WD. YUYUN ANGGARAINI

MUH. ASWIN

LA ARE

NUR HIDAYAH

JAHRATUN

AKDEMI KEPERAWATAN

PEMERINTAH KABUPATEN MUNA2011

KATA PENGATAR

“Syukur Alhamdulillah” ungkapan yang patutu dipanjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, kasih sayang dan pertolongan – Nya sehingga makalah yang berjudul “ASKEP PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN AKIBAT JAMUR Tinea Kapitis, Tinea Korporis & Kandidiasia” ini dapat terselesaikan sebagaimana yang diharapkan. Shalawat dan Taslim kepada Rasulullah SAW, keluarga, dan pengikutnya hingga hari kiamat.

Adalah penting bagi manasiswa memahami serta menginterprestaikan suatu asuhan keperawatan sehingga nanti dilapangan dalam hal mempraktekan segala tindakan yang berhubungan dengna penyakit ini dapat melakukannya dengan baik. Oleh karena itu, penyusun merasa perlu penyajian makalah yang dapat mendukung salah satu indikator pembelajaran Etika Keperawatan itu sendiri.

Dengan segala kerendahan hati, penyusun menyampaikan bahwa makalah ini masih banyak kekurang sehingga diperlukan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna penyempurnaan makalah ini. Namun terlepas dari kekurangan yang ada, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para penggunanya “Mahasiswa AKPER PEMKAB MUNA”.

Raha, 18 September 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata pengantar...................................................................................................................iDaftar isi............................................................................................................................iiBab I Pendahuluan.............................................................................................................1

A. Latar Belakang.......................................................................................................1B. Tujuan.....................................................................................................................2

Bab II Pembahasan..............................................................................................................2A. Pengertian................................................................................................................2B. Etiologi....................................................................................................................2C. Patofisiologi.............................................................................................................D. Tanda dan Gejala.....................................................................................................E. Komplikasi................................................................................................................F. Pemeriksaan Penunjang...........................................................................................G. Penatalaksanaan Medik..............................................................................................H. Konsep Keperawatan..................................................................................................

Bab III Penutup..................................................................................................................A. Kesimpulan...............................................................................................................B. Saran..........................................................................................................................

Daftar Pustaka

BAB I

PENDAHULUANA. LATAR BELAKANG

Tinea merupakan jenis penyakit yang jarang ditemukan pada siapapun tapi pada dasaranya jenis penyakit ini sering ditemukan pada pria. Tinea adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya lapisan teratas pada kulit pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur dermatofita (jamur yang menyerang kulit). Tinea sendiri merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur pada daerah genitokrural (selangkangan), sekitar anus, bokong dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah.

Begitu pula dengan kandidiasis yang merupakan penyakit jamur yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh Candida albicans dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang-kadang dapat menyebabkan septikemia, endokarditis, atau meningitis.

Di dalam makalah ini kami akan bahas lebih jelas lagi dan terperinci mengenai jenie-jenis penyakit “tinea” terutama tinea kapitis dan tinea korporis serta kandidiasis.

B. TUJUANTujuan dari dibuatnya makalah ini adalah :

1. Agar mahasiswa dapat memahami dan mengetahui penyakit tinea kapitis, tinea korporis dan kandidiasis

2. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan menginterprestasikan suatu tindakan untuk menangani penyakit tinea kapitis, tinea korporis dan kandidiasis ini sendiri

C.TINJAUAN PUSTAKA

Teknik penulisan makalah ini adalah tinjauan pustaka dengan mengambil literatur – literatur atau teori – teori melalui buku – buku yang berkaitan dan informasi melalui layanan internet.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Tinea KapitisA. Pengertian

Tinea Kapitis (ringwrom of the scalp) adala kelainan pada kulit dan rambut kepala, alis dan bulu mata.

B. EtiologiTinea kapitis disebabkan oleh beberapa spesies trychopiton dan microsporum di Indonesia terbanyak adalah M. Canis dan tonsurans.

C. PatofisiologiTinea kapitis disebabkan oleh trychopphyt canis T. Tonsurans ditularkan melalui kontak antara anak dengan anak yang dapat menyerang batang rambut yang menyebabkan kerontokkan secara klinis yang akan dijumpai sebuah atau beberapa bercagak yang budar, berwarna kemudian rambut menjadi rapuh dan patah atau didekat sehingga meninggalkan bercak – bercak kebotakan.

D. Tanda Dan GejalaInfeksi jamur yang menular pada tangkai rambut sehingga dijumpai pada anak – anak. Bercak – bercak kemerahan dengan pembentukan skuma. Postula atau popula kecil pada bagian tepi lesi. Rambut menjadi rapuh, mudah patah pada permukaan kulit kepala.

E. KomplikasiLimfangitisSelulitis

F. Pemeriksaan PenunjangPemeriksaan mikroskopis dari kerokan kulit dalam larutan kalium hidroksida

G. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

a. Pengumpulan Data Aktifitas / istirahat

Tanda : klien tampak gelisah Integritas ego

Gejala : klien mengatakan stres terhadap penyakitTanda : tampak murung

HygieneGejala :

Klien mengatakan kurang dalam merawat kebersihan dirinya Kliien mengatakan lukanya memerah dan bau

Tanda : kliien nampak kotor dan bau, lesi nampak berisik Integritas Kulit

Gejala : klien mengatakan gatal pada luanya

Tanda : Tampak adanya pustule eritema, lesi nampak kasar Kenyamanan

Gejala : klien mengatakan malu dengan kondisi badannya Tanda : nampak sering menutup daerah luukaanya

Pengetahuan / pemahaman Gejala : klien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakitnya.

b. Pengelompokkan Data Data Subyektif

Klien mengatakan gatal pada lukannya Klien mengatakan malu dengan kondisi badannya Klien mengatakna lukannya memerah dan bau Klien mengatakan kurang dalam mmerawat kebersihan dirinya Klien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakitnya

Data Obyektif Klien tampak gelisah Tampak murung Klien nampak kotor dan bau Lesi nampak kasar Lesi nampak bersisisk Tampak adanya pustule, erytema, lesi Tampak sering menutup daerah lukannya

c. Analisa Data

No Problem Etiologi Symptom1 Gangguan

Integritas kulit

M. canis & trychophiton

Mentagrohytes

Infeksi

Lesi

Postula

Eritema

Gangguan integritas kulit

DS :Klien mengatakan gatal pada lukanyaDO :Tampak adanyaPostila,eritema,lesi

2 DeficitPerawatan

diri

M.canis & trychophiton

Mentagrohytes

Infeksi

Lesi

Postula

Kemelasan untuk membersihkan

DS :- Klien

mengatakan lukanya memerah dan bau

- Klien mengatakan kurang dalam merawat kebersihan

Deficit perawatan diri dirinyaDO :Nampak kotor

3 Gangguan citra diri

M.canis & trychophiton

Mentagrohytes

Macula eritemaus

Merusak jaringan kulit sekitarnya

Bersisik ditepinya

Gangguan citra tubuh

DS :Klien mengatakan malu dengan kondisi badannyaDO :- Lesi tampak kasar- Lesi nampak bersisik- Tampak sering menutup daerah lukanya

4 Ansietas Perubahan status kesehatan

Kurang pengetahuan

Stres psikologis

Ansietas

DS :Klien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakitnyaDO :

- Nampak gelisah

- Nampak murung

d. Prioritas Masalah Gangguan integritas kulit Devicit perawatan diri Gangguan citra tubuh Ansietas

2. Diagnosa Keperawatan Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya lesi ditandai dengan :

DS : Klien mengatakan gatal pada lukanyaDO : Tampak adanya pustule, erytema, dan lesi

Devicit perawatan diri berhubungan dengan adanya pustule ditandai dengan :DS :

- Klien mengatakan lukanya memerah dan bau- Klien mengatakan kurang dalam merawat kebersihan dirinya

DO : Nampak kotor dan bau Gangguan citra tubuh berhuubungan dengan kerusakkan jaringan kulit

ditandai dengan :DS : Klien mengatakan malu dengan kondisi badannyaDO :

- Lesi tampak kasar- Lesi tampak bersisik- Tampak menutup daerah lukanya

Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahusn ditandai dengan :DS : Klien mengatakn kurang mengetahui tentang penyakitnya

DO : - Nampak gelisah- Nampak murung

3. Rencana Tindakan

No Diagnosa keperawatan Tujuan Intervensi Rasional1 Gangguan integritas

Kulit berhubungan dengan adanya lesi ditandai dengan :DS :Klien mengatakan gatal pada lukanyaDO :Tampak adanya pustule,Eritema, dan lesi

Tupan :Setelah diberikan tindakan keperawatan gangguan integritas kulit teratasiTupen :Setelah diberikan tindakan keperawatan ± 3 hari gangguan integritas kulit berangsur-angsur berkurang dengan kriteria :-Klien mengatakan gatal sudah berkurang pada lukanya-Lesi berkurang

1. Observasi klien2. Kompres air hangat3. Hindari makanan yang mmengandung tinggi protein4. kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotik

1.Untuk menentukan rencana tindakan selanjutnya2.Untuk mengurangi adanya rasa gatal yang berlebihan3.Untuk mengurangi alergi pada kulit4.Untuk mencegah pertumbuhan jamur dan meningkatkan kesehatan

2 Devicit perawatan diriBerhubungan denganAdanya pustule ditandai dengan :DS :-Klien mengatakan lukanya memerah dan bau-klien mengatakan kurang dalam melakukan perawatan diriDO :-Nampak kotor-Nampak bau

-

Tupan :Setelah diberikan tindakan keperawatan, perawatan terpenuhi.Tupen :Setelah diberikan tindakan keperawatan ± 3 hari perawatan diri klien berangsur-angsur baik dengan kriteria :-Klien tidak lagi kotor-Klien tidak lagi bau

1. observasi kondisi kulit2. Dorongan perawatan diri 3. ajarkan klien mandi terapeutik4. Berikan pakian yang bersih pada klien

1. Untuk menentukan rencana tindakan2. Dapat menngkatkan semgngat klien dalam membersihkan diri 3. Untu mencegah perlunya infeksi jamur4. Untuk mencegah infeksi silang.

3 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kerusakkan jaringan kulit ditandai dengan :DS :Klien mengatakkan malu dengan kondisi badannyaDO :-Lesi tampak kasar-Lesi nampak bersisik-Tampak menutup dengan lukanya

Tupen :Setelah diberikan tindakan keperawatan klien dapat menerima situasi dirinya :Tupen :Setelah diberikan tindakan keperawatan ± 3 hari klien mulai menerima keadaannya dengan kriteria:-Klien sudah tidak merasa malu-Lesi tidak lagi kasara-Lesi tidak lagi bersisik

1. Kaji perubahan pada klien2. Berikan keyakinan pada diri individu3. Dorongan interaksi dengan keluarga

1. Untuk mnentukan rencana tindakan selanjutnya2. Meningkatkan kepercaayaan diri pasienDapat mempertahankan komonikasi dengan mendukung secara terus-menerus pada klien

4 Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan berhubungan dengan :DS :Klien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakitnyaDO :-Nampak gelisah-Nampak murung

Tupan :Setelah diberikan tindakan keperawatan tingkat kecemasan hilangTupen :Setelah dibarikan tindakan keperawatan ± 3 hari kecemasan berangsur angsur kembali normal dengan kriteria :-Tidak lagi gelisah-Tidak lagi murung

1. Observasi kaji tingkat pengetahuan klien2. Jelaskan tentang penyakit klien 3. Beri kesempatan kepada kien untuk mendiskusikan tentang penyakitnya

1. Untuk menentukan rencana tindakan selanjutnya 2. untuk menambah pengetahuan klien tentang penyakitnya3. Memberi pemahaman yang lebih tentang penyakitnya.

2. Tinea Korporis

A. PengertianTinea korporis merupakan dermatofitosis pada kulit berrambut halus (glaborus skin).

B. EtiologiTinea korporis disebabkan oleh jamur M. Chan dan Trycopiton mentaggropites yang berasal dari binatang dan jamur, T. Rubrrum berasal dari manusia.

C. PatofisiologiTinea korporis disebabkan oleh infeksi jamur dari binatang dan manusia. Pada bagian yang terinfeksi akan tampak lesi berbentuk cincin muncul eritema dan pustule seperti cincin dengan sisik ditepinya.

D. Tanda Dan GejalaDimulai dengan macula ertematus yang berlanjut menjadi cincin- cincin papula atau vesikel dengan bagian tengah yang bersih. Lesi ditemukan pada kelompok – kelompok yang dapat meluas kekulit kepala, rambut atau kuku. Terasa gatal (pruiritis), hewan peliharaan yang terinfeksi merupakan sumber penularan.

E. KomplikasiLimfangitisSelulitis

F. Pemeriksaan PenunjangPemeriksaan mikroskopis dari kerokan kulit dalam larutan kaliium hidroksida

G. Konsep Asuhan Keperawatan

4. Pengkajian

e. Pengumpulan Data Aktifitas / istirahat

Tanda : klien tampak gelisah Integritas ego

Gejala : klien mengatakan stres terhadap penyakitTanda : tampak murung

HygieneGejala :

Klien mengatakan kurang dalam merawat kebersihan dirinya Kliien mengatakan lukanya memerah dan bau

Tanda : kliien nampak kotor dan bau, lesi nampak berisik Integritas Kulit

Gejala : klien mengatakan gatal pada luanyaTanda : Tampak adanya pustule eritema, lesi nampak kasar

Kenyamanan Gejala : klien mengatakan malu dengan kondisi badannya Tanda : nampak sering menutup daerah luukaanya

Pengetahuan / pemahaman Gejala : klien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakitnya.

f. Pengelompokkan Data Data Subyektif

Klien mengatakan gatal pada lukannya Klien mengatakan malu dengan kondisi badannya Klien mengatakna lukannya memerah dan bau Klien mengatakan kurang dalam mmerawat kebersihan dirinya Klien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakitnya

Data Obyektif Klien tampak gelisah Tampak murung Klien nampak kotor dan bau Lesi nampak kasar Lesi nampak bersisisk Tampak adanya pustule, erytema, lesi Tampak sering menutup daerah lukannya

g. Analisa DataNo Problem Etiologi Symptom1 Gangguan

Integritas kulit

M. canis & trychophiton

Mentagrohytes

Infeksi

Lesi

Postula

Eritema

Gangguan integritas kulit

DS :Klien mengatakan gatal pada lukanyaDO :Tampak adanyaPostila,eritema,lesi

2 DeficitPerawatan

diri

M.canis & trychophiton

Mentagrohytes

Infeksi

Lesi

Postula

Kemelasan untuk membersihkan

Deficit perawatan diri

DS :- Klien

mengatakan lukanya memerah dan bau

- Klien mengatakan kurang dalam merawat kebersihan dirinya

DO :Nampak kotor

3 Gangguan citra diri

M.canis & trychophiton

Mentagrohytes

DS :Klien mengatakan malu dengan kondisi

Macula eritemaus

Merusak jaringan kulit sekitarnya

Bersisik ditepinya

Gangguan citra tubuh

badannyaDO :- Lesi tampak kasar- Lesi nampak bersisik- Tampak sering menutup daerah lukanya

4 Ansietas Perubahan status kesehatan

Kurang pengetahuan

Stres psikologis

Ansietas

DS :Klien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakitnyaDO :

- Nampak gelisah

- Nampak murung

h. Prioritas Masalah Gangguan integritas kulit Devicit perawatan diri Gangguan citra tubuh Ansietas

5. Diagnosa Keperawatan Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya lesi ditandai dengan :

DS : Klien mengatakan gatal pada lukanyaDO : Tampak adanya pustule, erytema, dan lesi

Devicit perawatan diri berhubungan dengan adanya pustule ditandai dengan :DS :

- Klien mengatakan lukanya memerah dan bau- Klien mengatakan kurang dalam merawat kebersihan dirinya

DO : Nampak kotor dan bau Gangguan citra tubuh berhuubungan dengan kerusakkan jaringan kulit

ditandai dengan :DS : Klien mengatakan malu dengan kondisi badannyaDO :

- Lesi tampak kasar- Lesi tampak bersisik- Tampak menutup daerah lukanya

Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahusn ditandai dengan :DS : Klien mengatakn kurang mengetahui tentang penyakitnyaDO :

- Nampak gelisah- Nampak murung

6. Rencana Tindakan

No Diagnosa keperawatan Tujuan Intervensi Rasional1 Gangguan integritas

Kulit berhubungan Tupan :Setelah diberikan

1. Observasi klien2. Kompres air

1.Untuk menentukan rencana tindakan

dengan adanya lesi ditandai dengan :DS :Klien mengatakan gatal pada lukanyaDO :Tampak adanya pustule,Eritema, dan lesi

tindakan keperawatan gangguan integritas kulit teratasiTupen :Setelah diberikan tindakan keperawatan ± 3 hari gangguan integritas kulit berangsur-angsur berkurang dengan kriteria :-Klien mengatakan gatal sudah berkurang pada lukanya-Lesi berkurang

hangat3. Hindari makanan yang mmengandung tinggi protein4. kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotik

selanjutnya2.Untuk mengurangi adanya rasa gatal yang berlebihan3.Untuk mengurangi alergi pada kulit4.Untuk mencegah pertumbuhan jamur dan meningkatkan kesehatan

2 Devicit perawatan diriBerhubungan denganAdanya pustule ditandai dengan :DS :-Klien mengatakan lukanya memerah dan bau-klien mengatakan kurang dalam melakukan perawatan diriDO :-Nampak kotor-Nampak bau

-

Tupan :Setelah diberikan tindakan keperawatan, perawatan terpenuhi.Tupen :Setelah diberikan tindakan keperawatan ± 3 hari perawatan diri klien berangsur-angsur baik dengan kriteria :-Klien tidak lagi kotor-Klien tidak lagi bau

1. observasi kondisi kulit2. Dorongan perawatan diri 3. ajarkan klien mandi terapeutik4. Berikan pakian yang bersih pada klien

1. Untuk menentukan rencana tindakan2. Dapat menngkatkan semgngat klien dalam membersihkan diri 3. Untu mencegah perlunya infeksi jamur4. Untuk mencegah infeksi silang.

3 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kerusakkan jaringan kulit ditandai dengan :DS :Klien mengatakkan malu dengan kondisi badannyaDO :-Lesi tampak kasar-Lesi nampak bersisik-Tampak menutup dengan lukanya

Tupen :Setelah diberikan tindakan keperawatan klien dapat menerima situasi dirinya :Tupen :Setelah diberikan tindakan keperawatan ± 3 hari klien mulai menerima keadaannya dengan kriteria:-Klien sudah tidak merasa malu-Lesi tidak lagi kasara-Lesi tidak lagi bersisik

1. Kaji perubahan pada klien2. Berikan keyakinan pada diri individu3. Dorongan interaksi dengan keluarga

1. Untuk mnentukan rencana tindakan selanjutnya2. Meningkatkan kepercaayaan diri pasienDapat mempertahankan komonikasi dengan mendukung secara terus-menerus pada klien

4 Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan

Tupan :Setelah diberikan tindakan keperawatan

1. Observasi kaji tingkat

1. Untuk menentukan rencana tindakan

berhubungan dengan :DS :Klien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakitnyaDO :-Nampak gelisah-Nampak murung

tingkat kecemasan hilangTupen :Setelah dibarikan tindakan keperawatan ± 3 hari kecemasan berangsur angsur kembali normal dengan kriteria :-Tidak lagi gelisah-Tidak lagi murung

pengetahuan klien2. Jelaskan tentang penyakit klien 3. Beri kesempatan kepada kien untuk mendiskusikan tentang penyakitnya

selanjutnya 2. untuk menambah pengetahuan klien tentang penyakitnya3. Memberi pemahaman yang lebih tentang penyakitnya.

3. Kandidiasis

A. Pengertian

Kandidiasis adalah penyakit jamur yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh Candida albicans dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang-kadang dapat menyebabkan septikemia, endokarditis, atau meningitis.

B. EtiologiYang tersering sebagai penyebab adalah Candida albicans. Spesies patogenik yang lainnya adalah C. tropicalis C. parapsilosis, C. guilliermondii C. krusei, C. pseudotropicalis, C. lusitaneae.Genus Candida adalah grup heterogen yang terdiri dari 200 spesies jamur. Sebagian besar dari spesies candida tersebut patogen oportunistik pada manusia, walaupun mayoritas dari spesies tersebut tidak menginfeksi manusia. C. albicans adalah jamur dimorfik yang memungkinkan untuk terjadinya 70-80% dari semua infeksi candida, sehingga merupakan penyebab tersering dari candidiasis superfisial dan sistemik.

C. PATOFISIOLOGIYang tersering sebagai penyebab adalah Candida albicans. Spesies patogenik yang lainnya adalah C. tropicalis C. parapsilosis, C. guilliermondii C. krusei, C. pseudotropicalis, C. lusitaneae.Genus Candida adalah grup heterogen yang terdiri dari 200 spesies jamur. Sebagian besar dari spesies candida tersebut patogen oportunistik pada manusia, walaupun mayoritas dari spesies tersebut tidak menginfeksi manusia. C. albicans adalah jamur dimorfik yang memungkinkan untuk terjadinya 70-80% dari semua infeksi candida, sehingga merupakan penyebab tersering dari candidiasis superfisial dan sistemik.

D. Tanda dan GejalaGejalanya tergantung kepada bagian tubuh yang terkena infeksi:

Infeksi pada mulut (thrush) merupakan bercak keputihan yang terasa sakit. Bila bercak timbul di kerongkongan akan menimbulkan gangguan mengunyah atau gangguan makan.

Infeksi pada katup jantung menimbulkan demam, murmur dan pembesaran limpa. Infeksi pada retina bisa menyebabkan kebutaan. Kandidemia dan infeksi pada ginjal bisa menyebabkan demam, penurunan tekanan

darah (syok) dan berkurangnya pembentukan air kemih.

E. Pemerikasaan Penunjang

Dalam menegakkan diagnosis kandidiasis, maka dapat dibantu dengan adanya pemeriksaan penunjang, antara lain :

Pemeriksaan langsungKerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10 % atau dengan pewarnaan gram, terlihat sel ragi, blastospora, atau hifa semu

Pemeriksaan biakan Bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa glukosa Sabouraud, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotik (kloramfenikol ) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Perbenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 37 0C, koloni tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like colony. Identifikasi Candida albicans dilakukan dengan membiakkan tumbuhan tersebut pada corn meal agar.

F. Penatalaksanaan MedikPenatalaksanaan untuk kandidiasis antara lain :

1. Menghindari atau menghilangkan faktor predisposisi, 2. Topikal

Obat topical untuk kandidiasis meliputi: a. Larutan ungu gentian ½-1% untuk selaput lendir, 1-2% untuk kulit, dioleskan

sehari 2 kali selama 3 hari, b. Nistatin: berupa krim, salap, emulsi, c. Amfoterisin B, d. Grup azol antara lain: 1) Mikonazol 2% berupa krim atau bedak 2) Klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dan krim 3) Tiokonazol, bufonazol, isokonazol 4) Siklopiroksolamin 1% larutan, krim5) Antimikotik yang lain yang berspektrum luas. 1,10

3. Sistemik a. Tablet nistatin untuk menghilangkan infeksi fokal dalam saluran cerna, obat

ini tidak diserap oleh usus.b. Amfoterisin B diberikan intravena untuk kandidosis sistemikc. Untuk kandidosis vaginalis dapat diberikan kotrimazol 500 mg per vaginam

dosis tunggal, sistemik dapat diberikan ketokonazol 2 x 200 mg selama 5 hari atau dengan itrakonazol 2 x 200 mg dosis tunggal atau dengan flukonazol 150 mg dosis tunggal.

d. Itrakonazol bila dipakai untuk kandidosis vulvovaginalis dosis untuk orang dewasa 2 x 100 mg sehari selama 3 hari.

4. Khusus: a. Kandidiasis intertriginosa : pengobatan ditujukan untuk menjaga kulit tetap

kering dengan penambahan bedak nistatin topikal, klotrimazol atau mikonazol 2 kali sehari. Pasien dengan infeksi yang luas ditambahkan dengan flukonazol oral 100 mg selama 1-2 minggu atau itrokonazol oral 100 mg 1-2 minggu.

b. Diaper disease : Mengurangi waktu area diaper terpapar kondisi panas dan lembab. Pengeringan udara, sering mengganti diaper dan selalu menggunakan

bedak bayi atau pasta zinc oxide merupakan tindakan pencegahan yang adekuat. Terapi topikal yang efektif yaitu dengan nistatin, amfoterisin B, mikonazol atau klotrimazol.

c. Paronikia : pengobatan dengan obat topikal biasanya tidak efektif tetapi dapat dicoba untuk paronikia kandida yang kronis. Solusio kering atau solusio antifungi dapat digunakan.Terapi oral yang dianjurkan dengan itrakonazol atau terbinafin

d. Grup azole adalah obat antimikosis sintetik yang berspektrum luas. Termasuk ketokonazol, mikonazol, flukonazol, itrakonazol dan ekonazol. Mekanisme kerja dari grup azole adalah menghambat sintesis dari ergosterol mengubah cairan membran sel dan mengubah kerja enzim membran. Hasilnya dalam penghambatan replikasi dan penghambatan transformasi bentuk ragi ke bentuk hifa yang merupakan bentuk invasive dan patogenik dari parasit.

e. Nistatin dan amfoterisin adalah polyene yang aktif melawan beberapa fungi tapi hanya bekerja sedikit pada sel mamalia dan tidak bekerja pada bakteri. Obat ini mengikat membrane sel dan menghalangi fungsi permeabilitas dan transport.

f. Terbinafine adalah alinamine yang merupakan fungisida jangkauan yang luas pada kulit pathogen. Obat ini menghambat epoxidase yang terlibat dalam sintesis ergosterol dari bagian dinding sel jamur.

G. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajiana. Pemeriksaan fisik

Keadaan umumKesadaran, status gizi, personal hygine, TB, BB, suhu, TD, nadi, respirasi

b. Pemeriksaan sistemikKepala (mata, hidung, telinga, gigi&mulut), leher (terdapat perbesaran tyroid atau tidak), tengkuk, dada (inspeksi), genitalia, ekstremitas atas dan bawah(inspeksi).

c. Pemeriksaan penunjang- Pemeriksaan laboratorium (dermatologi)

2. Diagnosa Keperawatan & Intervensia. Kerusakan imegritas kulit yang berhubungan dengan lesi dan respon paradangan

Tujuan: Tidak terjadi kerusakan imegritas kulit dan peradangan pada klienKriteria:

Kerusakan imegritas kulit berkurang Tanda-tanda peradangan hilang Keluhan klien berkurang

Intervensi:

Kaji riwayat imegritas kulit

Kaji kebutuhan yang dapat mengurangi kerusakan imegritas kulit dan jelaskan tentang teknik mengurangi respon peradangan

Ciptakan lingkungan yang nyaman (mengganti alat tenun) Kurangi stimulus yang tidak menyenangkan

b. Risiko hambatan interaksi sosial ybd keadaan yang memalukanTujuan : klien bisa berinteraksiKriteria:

Klien terbuka tentang keadaannya Klien tidak mengisolasi diri Klien dapat istirahat dengan tenang

Intervensi: Berikan penjelasan tentang penyakit yang diderita Menciptakan lingkungan yang nyaman Mendorong klien berinteraksi dengan orang lain Anjurkan agar klien tidak perlu merasa malu dengan keadaannya Lakukan personal hyigne pada klien

c. Harga diri rendah ybd penampilan dan respon orang lainTujuan : Klien percaya diri dengan keadaannyaKriteria:

Klien merasa rileks Berinteraksi denga orang-orang disekitarnya Klien dapat menerima dirinya apa adanya

Intervensi: Observasi interaksi klien dengan orang lain Pertahankan lingkungan yang tenang dan aman serta menjauhkan faktor risiko Libatkan klien dan keluarga dalam prosedur pelaksanaan dan perawatan Ajarkan penggunaan relaksasiBeritahu tentang penyakit klien bahwa penyakit klien tidak berbahaya

BAB IIIPENUTUP

A. KesimpulanTinea kapitis (ringworm of the scalp) adala kelainan pada kulit dan rambut

kepala, alis dan bulu mata .Sedangkan tinea korporis adalah dermatofitosis pada kulit berrambut halus (glaborus skin)Yang menjadi masalah perawatan dari penyakit tinea kapitis ini adalah :

Gangguan integritas kulit Devicit perawtan diri Gangguan citra tubuh Ansietas

Kandidiasis adalah penyakit jamur yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh Candida albicans dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang-kadang dapat menyebabkan septikemia, endokarditis, atau meningitis.

B. SaranTinea kapitis,tinea korporis dan kandidiasis merupakan penyakit yang

jarang ditemukan namun penting untuk diketahui oleh seorang perawat. Oleh karena itu, kita sebagai mahasisiwa Akademi Keperawatan harus mengetahui cara menangani dan memberikan asuhan keperawatan pada klien yang menderita penyakit tersebut. Sehungga jika kita menemukan kasus dilapangan, setidaknya kita sudah mengenal penyakit ini.

DAFTAR PUSTAKAwww.google.co.idwww.tineasis-tinea-kapitis-blogspot.co.id www.tineasis-tinea-korporis-blogspot.co.idwww.penyakit-jamur-kandidiasis.www.jamur-kulit.blogspot.co.id