27
STROKE NON HEMORAGIK A. Definisi Gangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dengan CVA ( Cerebro Vaskuar Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak ( dalam beberapa detik) atau secara cepat ( dalam beberapa jam ) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang terganggu.(Harsono,1996, hal 67) Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun. (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131) Penyakit ini merupakan peringkat ketiga penyebab kematian di United State. Akibat stroke pada setiap tingkat umur tapi yang paling sering pada usia antara 75 – 85 tahun. (Long. C, Barbara;1996, hal 176). B. Epidemiologi Stroke Non Hemoragik adalah masalah neurologik primer di AS dan di dunia. Meskipun upaya pencegahan telah menimbulkan penurunan pada insiden beberapa tahun terakhir, stroke adalah peringkat ketiga penyebab kematian, dengan laju mortalitas 18 % sampai 37 % untuk stroke pertama dan sebesr 62 % untuk stroke selanjutnya. Terdapat kira-kira 2 juta orang bertahan hidup dari stroke yang mempunyai beberapa

ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

  • Upload
    ekakunik

  • View
    1.492

  • Download
    12

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

STROKE NON HEMORAGIK

A. Definisi

Gangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dengan CVA ( Cerebro

Vaskuar Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh gangguan aliran

darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak ( dalam beberapa detik) atau secara

cepat ( dalam beberapa jam ) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang

terganggu.(Harsono,1996, hal 67)

Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang

diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi

penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun. (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)

Penyakit ini merupakan peringkat ketiga penyebab kematian di United State.

Akibat stroke pada setiap tingkat umur tapi yang paling sering pada usia antara 75 – 85

tahun. (Long. C, Barbara;1996, hal 176).

B. Epidemiologi

Stroke Non Hemoragik adalah masalah neurologik primer di AS dan di dunia. Meskipun

upaya pencegahan telah menimbulkan penurunan pada insiden beberapa tahun terakhir,

stroke adalah peringkat ketiga penyebab kematian, dengan laju mortalitas 18 % sampai 37

% untuk stroke pertama dan sebesr 62 % untuk stroke selanjutnya. Terdapat kira-kira 2

juta orang bertahan hidup dari stroke yang mempunyai beberapa kecacatan; dari angka

ini, 40% memerlukan bantuan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.( Smeltzer C.

Suzanne, 2002, hal 2131).

Penyakit ini merupakan peringkat ketiga penyebab kematian di United State. Akibat

stroke pada setiap tingkat umur tapi yang paling sering pada usia antara 75 – 85 tahun.

(Long. C, Barbara;1996, hal 176).

C. Etiologi (Faktor Predisposisi)

Penyebab-penyebabnya antara lain:

1. Trombosis ( bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak )

2. Embolisme cerebral ( bekuan darah atau material lain )

3. Iskemia ( Penurunan aliran darah ke area otak)

(Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)

Page 2: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

D. Patofisiologi

Stroke iskemik sebagian besar terjadi karena akibat obstruksi atau bekuan di satu atau

lebih arteri besar pada sirkulasi serebrum. Obstruksi dapat disebabkan oleh bekuan

(trombus) yang terbentuk di dalam suatu pembuluh otak atau pembuluh organ distal. Pada

trombus vaskular distal, bekuan dapat terlepas, atau mungkin terbentuk di dalam suatu

organ jantung dan kemudian dibawa melaui sistem arteri ke otak sebagai suatu embolus.

Terdapat beragam penyebab stroke trombolitik dan embolik primer, termasuk

arterosklerosis, arteritis, keadaan hiperkoagulasi, dan penyakit jantung struktural. Namun,

trombosis yang menjadi penyulit aterosklerosis merupakan penyebab pada sebagian besar

kasus stroke trombolitik, dan embolus dari pembuluh besar atau jantung merupakan

penyebab tersering stroke embolitik.(Smith et al.,2001)

Sumbatan aliran di arteria karotis interna sering merupakan penyebab stroke pada orang

berusia lanjut, yang sering mengalami pembentukan plak aterosklerotik di pembuluh

darah sehingga terjadi penyempitan atau stenosis. Pangkal arteria karotis interna,

merupakan tempat tersering terbentuknya aterosklerosis. Darah terdorong melalui sistem

vaskular oleh gradien tekanan, tetapi pada pembuluh yang menyempit aliran darah yang

lebih cepat melalui lumen yang lebih kecil akan menurunkan gradien tekanan di tempat

konstriksi tersebut. Apabila stenosis mencapai suatu tingkat kritis tertentu, maka

meningkatnya turbulensi di sekitar penyumbatan akan menyebabkan penurunan tajam

kecepatan aliran. Penyebab lai stroke iskemik adalah vasopasme, yang sering merupakan

respon vaskular reaktif terhadap perdarahan ke dalam ruang antara lapisan araknoid dan

pia mater meningen. Sebagian besar stroke iskemik tidak menimbulkan nyeri, karen

jaringan otak tidak peka terhadap nyeri. Namun pembuluh besar di leher dan batang itak

memiliki banyak reseptor nyeri, dan cedera pada pembuluh – pembuluh ini saat serangan

iskemik menimbulkan nyeri kepala.

E. Klasifikasi (Tidak ada)

Karena stroke sudah diklasifikasikan menjadi stroke hemoragik dan non hemoragik.

F. Manifestasi klinis

a. Hemiparesis kontralateral.

b. Hemisensorik.

c. Bicara pelo ( disartri).

Page 3: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

d. Gangguan berbahasa (afasia).

e. Amourosis fugaks ( kebutaan).

f. Gangguan konjugat pergerakan bola mata ( deviasi conjugate).

g. Kelainan fungsi luhur seperti agnosia dan apraksia.

Gejala - gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi yang disebabkan oleh

terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. Gejala itu muncul bervariasi, bergantung

bagian otak yang terganggu. Gejala-gejala itu antara lain bersifat:

Sementara

Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri

dengan atau tanpa pengobatan. Hal ini disebut Transient ischemic attack (TIA).

Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama, memperberat atau malah menetap.

Sementara,namun lebih dari 24 jam

Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini dissebut reversible ischemic neurologic defisit

(RIND)

Gejala makin lama makin berat (progresif)

Hal ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang disebut

progressing stroke atau stroke inevolution

Sudah menetap/permanen (Harsono,1996, hal 67)

G. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan umum

• Kesadaran: umumnya mengelami penurunan kesadaran

• Suara bicara: kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa

bicara

• Tanda-tanda vital: tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi.

b. Pemeriksaan integument

• Kulit: jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan

maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus

terutama pada daerah yang menonjol karena klien stroke non hemoragik harus bed

rest 2-3 minggu

• Kuku: perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis

• Rambut: umumnya tidak ada kelainan.

c.Pemeriksaan kepala dan leher

Page 4: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

• Kepala: bentuk normocephalik

• Muka: umumnya tidak simetris yaitu miring ke salah satu sisi

• Leher: kaku kuduk jarang terjadi.

d. Pemeriksaan dada

• Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing ataupun

suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks batuk dan

menelan.

e.Pemeriksaan abdomen

• Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan kadang

terdapat kembung.

f. Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus

• Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine.

g. Pemeriksaan ekstremitas

• Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.

h. Pemeriksaan neurologi:

• Pemeriksaan nervus cranialis

Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central.

• Pemeriksaan motorik

Hampir selalu terjadi kelumpuhan/kelemahan pada salah satu sisi tubuh.

• Pemeriksaan sensorik

Dapat terjadi hemihipestesi.

• Pemeriksaan reflex

Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari

refleks fisiologis akan muncul kembali didahuli dengan refleks patologis.

H. Pemeriksaan Penunjang

a. CT Scan

Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia dan adanya infark

b. Angiografi serebral

membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan atau

obstruksi arteri

c. Pungsi Lumbal

- menunjukan adanya tekanan normal

Page 5: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

- tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya

perdarahan

d. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik.

e. EEG: Memperlihatkan daerah lesi yang spesifik

f. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena

g. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal

(DoengesE, Marilynn,2000 hal 292)

I. Diagnosis/Kriteria diagnosis

Tiga criteria diagnosis:

Onset akute artinya serangan ini terjadi secara tiba - tiba, artinya dalam beberapa

menit sampai jam sebelum seseorang mengalami kelumpuhan ia masih dalam

keadaan normal dan masih bisa beraktifitas.

Defisit Neurologis dijumpai, yang termasuk dalam defisit neurologis itu adalah:

a) Hemiparesis, yaitu lumpuh ringan sesisi badan, lemah sesisi badan

b) Hemiplegi, yaitu lumpuh total sesisi badan

c) Disartria, yaitu berbicara celat

d) Vertigo, yaitu oyong atau bahasa bataxnya mirdong, atau gampangnya

pasien mengeluhkan ia merasakan segala sesuatu yang dilihatnya berputar -

putar atau ia merasakan seperti gempa

e) Kebas pada tangan dan kaki

Stress Factor (+)

Stress factor ini dapat berupa fisik maupun psikis. Dalam hal fisik seseorang itu

sebelumnya melakukan aktivitas yang berlebihan dari kebiasaan yang

dilakukannya.. Stress psikis ini berupa adanya masalah yang dihadapi orang

tersebut, masalah itu tentunya masalah yang membuat seorang itu terlalu sedih

atau bahkan terlalu senang juga malah bisa menjadi stress factor terjadinya stroke.

J. Penatalaksanaan

Diuretika : untuk menurunkan edema serebral .

Anti koagulan: Mencegah memberatnya trombosis dan embolisasi.

Medikasi antitrombosit dapat diserepkan karena trombosit memainkan peran sangat

penting dalam pembentukan thrombus dan embolisasi.

Page 6: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

Menurunkan kerusakan iskemik cerebral

Infark cerebral terdapat kehilangan secara mantap inti central jaringan otak, sekitar

daerah itu mungkin ada jaringan yang masih bisa diselematkan, tindakan awal

difokuskan untuk menyelematkan sebanyak mungkin area iskemik dengan

memberikan O2, glukosa dan aliran darah yang adekuat dengan mengontrol /

memperbaiki disritmia (irama dan frekuensi) serta tekanan darah.

Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK

Dengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi dan rotasi kepala yang

berlebihan, pemberian dexamethason.

Pengobatan

Anti koagulan : Heparin untuk menurunkan kecederungan perdarahan pada fase

akut.

Obat anti trombotik : Pemberian ini diharapkan mencegah peristiwa trombolitik /

emobolik.

Bloker calsium : Hemipidin digunakan untuk mengobati vaso spasme cerebral.

Fentral : Digunakan untuk meningkatkan aliran darah kapiler mikrosirkulasi

sehingga meningkatkan perfusi dan oksigen otak.

Penatalaksanaan Pembedahan

Indaterektomi dan pembedahan by pass cranial yaitu membuat anastomisis arteri

ekstra cranial yang memperdarahi kulit kepala arteri intrakranial ketempat yang

tersumbat. (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)

K. KOMPLIKASI

Hipoksia Serebral

Penurunan darah serebral

Luasnya area cedera

(Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Aktivitas dan istirahat

Data Subyektif:

Page 7: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

- Klien mengatkan kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi

atau paralysis.

- Klien mengatakan mudah lelah, kesulitan istirahat/nyeri atau kejang otot.

Data obyektif:

- Perubahan tingkat kesadaran

- Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan

umum.

- gangguan penglihatan

Sirkulasi

Data Subyektif:

- Klien mengatkan, mempunyai riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung,

disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial ), polisitemia.

Data obyektif:

- Disritmia, perubahan EKG

- Pulsasi : kemungkinan bervariasi

- Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal

Integritas ego

Data Subyektif:

- Klien mengatakan perasaanya tidak berdaya, hilang harapan

Data obyektif:

- Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan

- kesulitan berekspresi diri

Eliminasi

Data Subyektif:

- Inkontinensia, anuria

- distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus( ileus

paralitik )

Makan/ minum

Data Subyektif:

- Klien mengatakan tidak nafsu makan.

- Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK

- Klien merasakan kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia

- Klien mengatkan mempunyai riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah

Page 8: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

Data obyektif:

- Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring )

- Obesitas ( factor resiko )

Sensori neural

Data Subyektif:

- Klien merasakan pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA )

- Klien mengatakan nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan

sub arachnoid.

- Klien mengatakan lemah, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti

lumpuh/mati

- Klien mengatakan penglihatannya berkurang

- Klien mengatakan ada gangguan rasa pengecapan dan penciuman

Data obyektif:

- Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah

laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif

- Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke,

genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam

( kontralateral )

- Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )

- Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/

kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global /

kombinasi dari keduanya.

- Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil

- Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik

- Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral

Nyeri / kenyamanan

Data Subyektif:

- Klien mengatakan Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya

Data obyektif:

- Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial

Respirasi

Data Subyektif:

- Klien mengatakan kalau dirinya perokok ( factor resiko )

Page 9: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

Data obyektif

- Gusi klien terlihat hitam

Keamanan

Data Subyektif

-Klien mengatakan, merasakan perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk

melihat objek, hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit

Data obyektif:

- Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan

- Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali

- Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh

- Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, berkurang

kesadaran diri

Interaksi social

Data Subyektif

- Klien mengatakan enggan berkomunikasi dengan orang lain.

Data obyektif:

- Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi

(Doenges E, Marilynn,2000 hal 292)

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1) Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah:

gangguan oklusif, hemoragik, perdarahan, spasme pembuluh darah serebral,

edema serebral.

2) Gangguan Pola Eliminasi berhubungan dengan kehilangan kontrol /koordinasi

otot, kerusakan neuro muskuler

3) Gangguan Komunikasi Verbal berhubungan dengan gangguan sirkulasi serebral,

gangguan neuromuskuler, kehilangan tonus otot fasial / mulut, kelemahan

umum / letih.

4) Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan hambatan mobilitas fisik atau

konfusi, penurunan kekuatan dan ketahanan.

5) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual

muntah akibat peningkatan tekanan intracranial

Page 10: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

6) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi akibat kelemahan /

kelumpuhan.

7) PK: penurunan kesadaran berhubungan dengan nekrosis jaringan otak

Page 11: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

3. PERENCANAAN

No Diagnose keperawaratan Tujuan/criteria hasil Intervensi rasional

1. Perubahan perfusi jaringan

serebral b/d interupsi aliran

darah: gangguan oklusif,

hemoragik, perdarahan,

spasme pembuluh darah

serebral, edema serebral.

Setelah diberikan askep

selama…..x24 jam,

diharapkan perfusi jaringan

serebrak kembali efektif

dengan criteria hasil:

terpelihara dan

meningkatnya tingkat

kesadaran, kognisi dan

fungsi sensori / motor

menampakan stabilisasi

tanda vital dan tidak

ada PTIK

peran pasien

menampakan tidak

adanya kemunduran

Mandiri

1) Tentukan faktor yang

berhubungan dengan situasi

individu/ penyebab koma /

penurunan perfusi serebral dan

potensial TIK

2) Pantau dan catat status neurologis

secara teratur

3) Evaluasi pupil 9 ukuran bentuk

kesamaan dan reaksi terhadap

cahaya 0

4) Pantau frekuensi dan irama

jantung ; auskultasi adanya

murmur.

1) Mempengaruhi intervensi.

Memerlukan

pembedahan/dipindahkan ke

ruang kritis (ICU).

2) Mengetahui kecenderung tingkat

kesadaran dan potensial

peningkatan TIK.

3) Gangguan penglihatan yang

spesifik mencerminkan daerah

otak yang terkena.

4) Perubahan terutama adanya

bradikardia dapat terjadi sebagai

akibat adanya kerusakan otak.

Disritmia dan murmur mungkin

mencerminkan adanya penyakit

Page 12: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

5) Kaji rigiditas

nukal,kedutan,kegelisahan yang

meningkat, peka rangsang dan

serangan kejang.

Kolaborasi

6) Berikan suplemen oksigen sesuai

indikasi

7) Berikan medikasi sesuai indikasi

Antifibrolitik, missal

aminocaproic acid ( amicar )

Vasodilator perifer, missal

cyclandelate, isoxsuprine.

Manitol

jantung yang mungkin telah

menjadi pencetus CSV ( seperti

stroke setelah IM / penyakit

katup)

5) Merupakan indikasi adanya

iritasi meningeal. Kejang dapat

mencerminkan adanya

peningkatan TIK/ trauma

serebral yang

memerlukanperhatian dan

intervensi selanjutnya.

6) Menurunkan hipoksia yang

dapat menyebabkan vasodilatasi

serebral dan tekanan meningka/

terbentuknya edema.

7) Digunakan untuk memperbaiki

sirkulasi kolateral/menurunkan

vasospasme.

Page 13: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

2. PK: penurunan kesadaran

berhubungan dengan nekrosis

jaringan otak

Setelah diberikan askep

selama…x24 jam

diharapkan kesadaran kliem

meningkat dengan kriteria

hasil:

GCS=15

Kesadaran

klien,kompos mentis

Pupil tidak melebar

Refleks pupil terhadap

cahaya normal

TTV dalam rentang

normal

Mandiri

1) Kaji GCS klien

2) Kaji tingkat kesadaran klien

3) Kaji status neurologi klien

seperti reflek pupil

Page 14: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

4) Monitor TTV setiap 30 menit

Independent

1) Monitor kejang pada tangan

kaki, mulut, dan otot-otot muka

linnya

2) Persiapkan lingkungan yang

aman seperti batasan ranjang,

papan pengaman, dan alat

suction selalu berada dekat

pasien.

3) Pertahankan bedrest total selama

fase akut.Lakukan modifikasi

lingkungan agar lebih aman

Page 15: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

(memasang pinggiran tempat

tidur, dll) sesuai hasil pengkajian

bahaya jatuh pada poin 1

Kolaborasi

4) Berikan terapi sesuai advis

dokter seperti; diazepam,

phenobarbital, dll

Page 16: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

2.

A. PERENCANAAN

Page 17: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)
Page 18: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

B. EVALUASI

1) PK: pendarahan intracranial berhubungan dengan pecahnya pembuluh darah otak

Hal-hal yang perlu dievaluasi:

Kadar trombosit dalam darah

TTV

2) PK: peningkatan tekanan intracranial berhubungan dengan vasodilatasi pembuluh

darah

Hal-hal yang perlu dievaluasi:

Derajat pelebaran pupil

TTV

Tingkat kesadaran

Refleks pupil terhadap cahaya

3) Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah:

gangguan oklusif, hemoragik, perdarahan, spasme pembuluh darah serebral, edema

serebral.

Hal-hal yang perlu dievaluasi:

Tingkat kesadaran, kognisi dan fungsi sensori / motor

TTV

peran pasien menampakan tidak adanya kemunduran / kekambuhan

4) PK: penurunan kesadaran berhubungan dengan nekrosis jaringan otak

Hal-hal yang perlu dievaluasi:

GCS

Tingkat kesadaran klien

Pelebaran pupil

Refleks pupil terhadap cahaya

TTV

5) Risiko cedera berhubungan dengan kejang akibat peningkatan tekanan intracranial

Hal-hal yang perlu dievaluasi:

Kemampuan klien dalam mengidentifikasi bahaya lingkungan yang dapat

meningkatkan kemungkinan cidera

Kemampuan klien dalam mengidentifikasi tindakan preventif atas bahaya

tertentu,

Page 19: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

Kemampuan dalam melaporkan penggunaan cara yang tepat dalam melindungi

diri dari cidera.

Kejang klien

6) Defisit perawatan diri berhubungan dengan hambatan mobilitas fisik atau konfusi,

penurunan kekuatan dan ketahanan.

Hal-hal yang perlu dievaluasi:

Kemampuan klien dalam mendemonstrasikan teknik/perubahan gaya hidup

untuk memenuhi kebuthan perawatan diri

Kemampuan klien dalam melakukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat

kemampuan sendiri

Kemampuan klien mengidentifikasi sumber pribadi/komunitas memberikan

bantuan sesuai kebutuhan

7) Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan sirkulasi serebral,

gangguan neuromuskuler, kehilangan tonus otot fasial / mulut, kelemahan umum /

letih.

Hal-hal yang perlu dievaluasi:

Pemahaman klien tentang problem komunikasi

Kemampuan klien dalam menentukan metode komunikasi untuk berekspresi

Kemampuan klien dalam menggunakan sumber bantuan dengan tepat

Page 20: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

DAFTAR PUSTAKA

1. Long C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Jilid 2, Bandung, Yayasan Ikatan

Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, 1996

2. Tuti Pahria, dkk, Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ganguan Sistem

Persyarafan, Jakarta, EGC, 1993

4. Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth, Buku Ajar Keperawatan Medikal

Bedah, Jakarta, EGC ,2002

5. Marilynn E, Doengoes, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta,

EGC, 2000

3. Long C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Jilid 2, Bandung, Yayasan Ikatan

Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, 1996

4. Tuti Pahria, dkk, Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ganguan Sistem

Persyarafan, Jakarta, EGC, 1993

5. Pusat pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan, Asuhan Keperawatan

Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan , Jakarta, Depkes, 1996

4. Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth, Buku Ajar Keperawatan Medikal

Bedah, Jakarta, EGC ,2002

5. Marilynn E, Doengoes, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta,

EGC, 2000

6. Harsono, Buku Ajar : Neurologi Klinis,Yogyakarta, Gajah Mada university press,

1996

Page 21: ASKEP STROKE NON HEMORAGIK (NDR)

Stroke Iskemik / Stroke Non Hemoragik yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang

menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti. Gejalanya

biasanya muncul pada pagi hari setelah baru bangun. Penderita SNH biasanya

kesadaran umumnya baik. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang

menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema skunder.