36
MAKALAH SEMINAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN DIAGNOSA MEDIS CKD ( CHRONIC KIDNEY DISEASE ) DI RUANG ALAMANDA RSUD TUGUREJO SEMARANG Disusun oleh : 1. KUKUH WIJAYANTO (08.0287.S) 2. IKA JUWITA (08………) PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

Askep Seminar TUGUREJO CKD

  • Upload
    daniar

  • View
    292

  • Download
    9

Embed Size (px)

DESCRIPTION

SCHOOL WORK

Citation preview

Page 1: Askep Seminar TUGUREJO CKD

MAKALAH SEMINAR

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S

DENGAN DIAGNOSA MEDIS CKD ( CHRONIC KIDNEY DISEASE )

DI RUANG ALAMANDA RSUD TUGUREJO SEMARANG

Disusun oleh :

1. KUKUH WIJAYANTO (08.0287.S)

2. IKA JUWITA (08………)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH

PEKAJANGAN PEKALONGAN

2012

Page 2: Askep Seminar TUGUREJO CKD

CKD ( CHRONIC KIDNEY DISEASE )

A. PENGERTIAN

Gagal ginjal kronik (GGK) biasanya akibat akhir dari kehilangan

fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999; 626)

Kegagalan ginjal kronis terjadi bila ginjal sudah tidak mampu

mempertahankan lingkungan internal yang konsisten dengan kehidupan

dan pemulihan fungsi tidak dimulai. Pada kebanyakan individu transisi

dari sehat ke status kronis atau penyakit yang menetap sangat lamban dan

menunggu beberapa tahun. (Barbara C Long, 1996; 368)

Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD)

merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana

kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan

keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan

sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth, 2001; 1448)

Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang

progresif dan lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. (Price, 1992;

812)

B. ETIOLOGI

Penyebab GGK termasuk glomerulonefritis, infeksi kronis,

penyakit vaskuler (nefrosklerosis), proses obstruksi (kalkuli), penyakit

kolagen (luris sutemik), agen nefrotik (amino glikosida), penyakit

endokrin (diabetes). (Doenges, 1999; 626)

Penyebab GGK menurut Price, 1992; 817, dibagi menjadi delapan kelas,

antara lain:

Page 3: Askep Seminar TUGUREJO CKD

Infeksi misalnya pielonefritis kronik

Penyakit peradangan misalnya glomerulonefritis

Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna,

nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis

Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus

sistemik, poliarteritis nodosa,sklerosis sistemik progresif

Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal

polikistik,asidosis tubulus ginjal

Penyakit metabolik misalnya

DM,gout,hiperparatiroidisme,amiloidosis

Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik,nefropati timbal

Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli

neoplasma, fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah:

hipertropi prostat, striktur uretra, anomali kongenital pada leher

kandung kemih dan uretra.

C. PATOFISIOLOGI

Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk

glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa

nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi

volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam

keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan

ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron–nefron rusak. Beban bahan

yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi

berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus. Selanjutnya karena

jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai retensi

produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi

lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira

fungsi ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang

Page 4: Askep Seminar TUGUREJO CKD

demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih

rendah itu. ( Barbara C Long, 1996, 368)

Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang

normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi

uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan

produk sampah maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia

membaik setelah dialisis. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448).

Perjalanan umum gagal ginjal progresif dapat dibagi menjadi tiga

stadium yaitu:

Stadium 1 (penurunan cadangan ginjal)

Ditandai dengan kreatinin serum dan kadar Blood Ureum Nitrogen

(BUN) normal dan penderita asimtomatik.

Stadium 2 (insufisiensi ginjal)

Lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak (Glomerulo

filtration Rate besarnya 25% dari normal). Pada tahap ini Blood

Ureum Nitrogen mulai meningkat diatas normal, kadar kreatinin serum

mulai meningklat melabihi kadar normal, azotemia ringan, timbul

nokturia dan poliuri.

Stadium 3 (Gagal ginjal stadium akhir / uremia)

Timbul apabila 90% massa nefron telah hancur, nilai glomerulo

filtration rate 10% dari normal, kreatinin klirens 5-10 ml permenit atau

kurang. Pada tahap ini kreatinin serum dan kadar blood ureum nitrgen

meningkat sangat mencolok dan timbul oliguri. (Price, 1992: 813-814)

D. MANIFESTASI KLINIS

1. Manifestasi klinik antara lain (Long, 1996 : 369):

a. Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat

badan berkurang, mudah tersinggung, depresi

Page 5: Askep Seminar TUGUREJO CKD

b. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas

dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak, udem

yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin

juga sangat parah.

2. Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain :

hipertensi, (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem

renin - angiotensin – aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem

pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi

pada lapisan perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah,

dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak

mampu berkonsentrasi).

3. Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:

a. Sistem kardiovaskuler

Hipertensi

Pitting edema

Edema periorbital

Pembesaran vena leher

Friction sub pericardial

b. Sistem Pulmoner

Krekel

Nafas dangkal

Kusmaull

Sputum kental dan liat

c. Sistem gastrointestinal

Anoreksia, mual dan muntah

Perdarahan saluran GI

Ulserasi dan pardarahan mulut

Nafas berbau amonia

d. Sistem muskuloskeletal

Kram otot

Kehilangan kekuatan otot

Page 6: Askep Seminar TUGUREJO CKD

Fraktur tulang

e. Sistem Integumen

Warna kulit abu-abu mengkilat

Pruritis

Kulit kering bersisik

Ekimosis

Kuku tipis dan rapuh

Rambut tipis dan kasar

f. Sistem Reproduksi

Amenore

Atrofi testis

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Menurut Suyono (2001), untuk menentukan diagnosa pada CKD

dapat dilakukan cara sebagai berikut:

1. Pemeriksaan laboratorium

Menentukan derajat kegawatan CKD, menentukan gangguan sistem

dan membantu menetapkan etiologi.

2. Pemeriksaan USG

Untuk mencari apakah ada batuan, atau massa tumor, juga untuk

mengetahui beberapa pembesaran ginjal.

3. Pemeriksaan EKG

Untuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri, tanda-tanda

perikarditis, aritmia dan gangguan elektrolit

F. PENCEGAHAN

Obstruksi dan infeksi saluran kemih dan penyakit hipertensi sangat

lumrah dan sering kali tidak menimbulkan gejala yang membawa

Page 7: Askep Seminar TUGUREJO CKD

kerusakan dan kegagalan ginjal. Penurunan kejadian yang sangat

mencolok adalah berkat peningkatan perhatian terhadap peningkatan

kesehatan. Pemeriksaan tahunan termasuk tekanan darah dan pemeriksaan

urinalisis.

Pemeriksaan kesehatan umum dapat menurunkan jumlah individu

yang menjadi insufisiensi sampai menjadi kegagalan ginjal. Perawatan

ditujukan kepada pengobatan masalah medis dengan sempurna dan

mengawasi status kesehatan orang pada waktu mengalami stress (infeksi,

kehamilan). (Barbara C Long, 2001)

G. PENATALAKSANAAN

1. Dialisis (cuci darah)

2. Obat-obatan: antihipertensi, suplemen besi, agen pengikat fosfat,

suplemen kalsium, furosemid (membantu berkemih)

3. Diit rendah protein dan tinggi karbohidrat

4. Transfusi darah

5. Transplantasi ginjal

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Menurut Doenges (1999) dan Lynda Juall (2000), diagnosa keperawatan

yang muncul pada pasien CKD adalah:

1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang

meningkat.

2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan

udem sekunder: volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na

dan H2O.

3. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

anoreksia, mual, muntah.

Page 8: Askep Seminar TUGUREJO CKD

4. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder,

kompensasi melalui alkalosis respiratorik.

5. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan suplai O2 ke jaringan

menurun.

6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang

tidak adekuat, keletihan.

Page 9: Askep Seminar TUGUREJO CKD

J. INTERVENSI

1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang

meningkat

Tujuan:

Penurunan curah jantung tidak terjadi dengan kriteria hasil :

mempertahankan curah jantung dengan bukti tekanan darah dan

frekuensi jantung dalam batas normal, nadi perifer kuat dan sama

dengan waktu pengisian kapiler

Intervensi:

a. Auskultasi bunyi jantung dan paru

R: Adanya takikardia frekuensi jantung tidak teratur

b. Kaji adanya hipertensi

R: Hipertensi dapat terjadi karena gangguan pada sistem

aldosteron-renin-angiotensin (disebabkan oleh disfungsi ginjal)

c. Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikanlokasi, rediasi, beratnya

(skala 0-10)

R: HT dan GGK dapat menyebabkan nyeri

d. Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktivitas

R: Kelelahan dapat menyertai GGK juga anemia

2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan edema

sekunder : volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O)

Tujuan: Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan

cairan dengan kriteria hasil: tidak ada edema, keseimbangan antara

input dan output

Intervensi:

Page 10: Askep Seminar TUGUREJO CKD

a. Kaji status cairan dengan menimbang BB perhari, keseimbangan

masukan dan haluaran, turgor kulit tanda-tanda vital

b. Batasi masukan cairan

R: Pembatasan cairan akn menentukan BB ideal, haluaran urin, dan

respon terhadap terapi

c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan

R: Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga

dalam pembatasan cairan

d. Anjurkan pasien / ajari pasien untuk mencatat penggunaan cairan

terutama pemasukan dan haluaran

R: Untuk mengetahui keseimbangan input dan output

3. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan

anoreksia, mual, muntah

Tujuan: Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat

dengan kriteria hasil: menunjukan BB stabil

Intervensi:

a. Awasi konsumsi makanan / cairan

R: Mengidentifikasi kekurangan nutrisi

b. Perhatikan adanya mual dan muntah

R: Gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen yang dapat

mengubah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan

intervensi

c. Beikan makanan sedikit tapi sering

R: Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan makanan

d. Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan

R: Memberikan pengalihan dan meningkatkan aspek sosial

Page 11: Askep Seminar TUGUREJO CKD

e. Berikan perawatan mulut sering

R: Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak

disukai dalam mulut yang dapat mempengaruhi masukan makanan

4. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder:

kompensasi melalui alkalosis respiratorik

Tujuan: Pola nafas kembali normal / stabil

Intervensi:

a. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya crakles

R: Menyatakan adanya pengumpulan sekret

b. Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam

R: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2

c. Atur posisi senyaman mungkin

R: Mencegah terjadinya sesak nafas

d. Batasi untuk beraktivitas

R: Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau

hipoksia

5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritis

Tujuan: Integritas kulit dapat terjaga dengan kriteria hasil :

- Mempertahankan kulit utuh

- Menunjukan perilaku / teknik untuk mencegah kerusakan kulit

Intervensi:

a. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskuler,

perhatikan kadanya kemerahan

Page 12: Askep Seminar TUGUREJO CKD

R: Menandakan area sirkulasi buruk atau kerusakan yang dapat

menimbulkan pembentukan dekubitus / infeksi.

b. Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa

R: Mendeteksi adanya dehidrasi atau hidrasi berlebihan yang

mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan

c. Inspeksi area tergantung terhadap udem

R: Jaringan udem lebih cenderung rusak / robek

d. Ubah posisi sesering mungkin

R: Menurunkan tekanan pada udem , jaringan dengan perfusi

buruk untuk menurunkan iskemia

e. Berikan perawatan kulit

R: Mengurangi pengeringan , robekan kulit

f. Pertahankan linen kering

R: Menurunkan iritasi dermal dan risiko kerusakan kulit

g. Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk

memberikan tekanan pada area pruritis

R: Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko

cedera

h. Anjurkan memakai pakaian katun longgar

R: Mencegah iritasi dermal langsung dan meningkatkan evaporasi

lembab pada kulit

6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang

tidak adekuat, keletihan

Tujuan: Pasien dapat meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi

Intervensi:

Page 13: Askep Seminar TUGUREJO CKD

a. Pantau pasien untuk melakukan aktivitas

b. Kaji fektor yang menyebabkan keletihan

c. Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat

d. Pertahankan status nutrisi yang adekuat

Page 14: Askep Seminar TUGUREJO CKD

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Biodata Pasien

a. Data Demografi

Tn. S (55 th) berjenis kelamin laki-laki, status menikah, beragama islam,

bersuku jawa, dan beralamat di desa Tegal Sari RT/RW: 04/11 Mijen, Semarang,

dengan nomer rekam medic: 276464.

Sebagai penanggung jawab klien adalah Ny. M (50 th)berjenis kelamin

perempuan, hubungan dengan klien adalah istri dan beralamat di desa Tegal Sari

RT/RW: 04/11 Mijen, Semarang.

b. Faktor sosial ekonomi dan budaya

Tn. S termasuk pada status ekonomi bawah, klien mengatakan dalam

kehidupan sehari-hari di jalani dengan kesederhanaan. Tidak ada factor social dan

budaya yang mempengaruhi persepsi Tn. S dan keluarga terhadap klien.

c. Faktor lingkungan

Klien mengatakan rumah tempat tinggalnya mempunyai ventilasi untuk

pergantian udara, ada tempat untuk MCK, tempat pembuangan limbah,

lingkungan sekitar rumah bersih dan jauh dari jalan raya.

2. Riwayat Kesehatan

a. Riwayat penyakit sekarang

± 1 bulan yang lalu klien operasi prostat dan di rawat di ruang anggrek

RSUD Tugu Rejo, dan pada tanggal 21/03/2012 jam 19:39 masuk di ruang

Alamanda. Pada pengkajian yang di lakukan pada tanggal 22/03/2012 jam 14.00

WIB di temukan data: klien mengeluh nyeri pada pinggang, lemas, mual dan

kadang muntah

b. Keluhan Utama

Klien mengeluh nyeri dengan P: saat bergerak, Q: panas seperti terbakar,

R: pinggang sebelah kiri, S: 6 (sedang), T: hilang timbul (durasi 5 menit)

Page 15: Askep Seminar TUGUREJO CKD

c. Riwayat penyakit dahulu

Sebelumnya klien pernah di lakukan operasi karene pembesaran prostat

dan batu ginjal.

d. Riwayat penyakit keluarga

Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang memiliki penyakit

yang sama seperti dirinya, dank lien kurang tau apakah dalamkeluarganya

mempunyai riwayat penyakit keturunan atau tidak.

3. Pola kesehatan fungsional Gordon

a. Pola penatalaksanaan kesehatan /persepsi sehat

Klien mengaakan tidak begitu tau tentang penyakitnya dan telah melakukan

pegobatan melalui tenaga medis terdekat namun sakitnya belum dembuh juga.

Persepsi sehat klien baik.

b. Pola Nutrisi-Metabolik

Klien mengatakan sebelum sakit makan 3X/hari (menu: nasi, lauk, sayur) dan

minum ±8 gelas ukuran sedang tiap hari. Selama sakit klien mengeluh tidak

nafsu makan, mual, terkadang muntah dan hanya mampu menghabiskan 1/3

porsi dari jatah makanannya.

c. Pola Eliminasi

Klien mengatan sebelum sakit BAB 1X/ hari, BAK ±6X/hari. Selama sakit

klien klien BAK melalui selang kateter.

d. Pola Aktivitas dan latihan

Sebelum sakit klien mengatakan tidur ±8 jam/hari dan jarang tidur siang. Saat

sakit klien tidak mengalami gangguan dalam pola tidur.

e. Pola kognitif-perseptual-keadekuatan alat sensori

Klien mengatakan tidak ada masalah dengan penglihatan, perasa, pembau dan

kemampuan bicara baik/tidak ada masalah.

f. Pola persepsi-konsep diri

Klien menyatakan yakin dan percaya penyakitnya bias sembuh asalkan

berobat dengan teratur dan menjaga pola hidup sehat.

g. Pola peran dan tanggung jawab

Page 16: Askep Seminar TUGUREJO CKD

Klien dalam keluarganya berstatus sebagai ayah dan kepala keluarga, karena

sakit klien tidakbisa menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya.

h. Pola seksual dan reproduksi

Klien sudah menikah dan dikaruniai 3 orang anak yaitu 1 perempuan dan 2

laki-laki.

i. Pola koping dan toleransi stress

Dalam menghadapi penyakitnya klien hanya bisa berdoa dan berusaha.

j. Pola nilai dan keyakinan

klien beragama islam, sebelum sakit beribadah sesuai kewajiban, namun saat

sakit klien tidak bisa melakukan kewajiban ibadahnya.

4. Pemeriksaan Fisik

a. Penampilan umum

Kesadaran klien composmenthis

b. Vital sign

TD : 140/90 mmHg

Suhu : 37 ˚C

Nadi : 90x/menit

Rr : 20x/menit

c. Pemeriksaan fisik

1) Kepala dan Leher

Kepala

Inspeksi : Rambut hitam dan sedikit beruban, tidak ada ketombe, tidak rontok,

distribusi rambut rata, tidak terlihat luka

Palpasi : Tidak teraba benjolan dan luka

Leher

Inspeksi : Tidak terlihat pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran vena

jugularis, tidak ada pembesaran kelenjar limfe.

Palpasi : Tidak teraba pembesaran kelenjar tiroid, pembesaran vena jugularis, dan

pembesaran kelenjar limfe.

2) Mata dan Telinga

Mata

Page 17: Askep Seminar TUGUREJO CKD

Inspeksi : terlihat konjungtiva anemis, alis distribusi rata, tidak ada lingkar gelap

dibawah kelopak mata.

Tes penglihatan Penglihatan normal

DS : Pusing jika berdiri

Telinga

Inspeksi : kedua telinga tampak simetris, lubang telinga terlihat sedikit kotor

Tes pendengaran Pendengaran baik

3) Hidung

Inspeksi : Tidak ada deformitas, kedua lubang tampak simetris, dan tidak ada

pernafasan cuping hidung.

4) Mulut dan Tenggorokan

Inspeksi : mulut terlihat sedikit kotor, gigi kuning dan tidak ada karies, tidak

terlihat pembesaran tonsil

5) Kulit

Inspeksi : tiadak terlihat lesi.

Palpasi : Kulit teraba kenyal dan lembab.

6) Dada/ Jantung/ Paru

Inspeksi paru : dada simetris kanan kiri, baik pada saat diam, inspirasi maupun

ekspirasi

Auskultasi : suara paru vesikuler, tidak terdengar ronchi.

Palpasi : Getaran dinding dada ( taktil fremitus )kiri dan kanan sama

Perkusi : Suara perkusi paru normal ( resonan )

Inspeksi jantung : ictus cordis tidak tampak/terlihat denyutnya.

Auskultasi : terdengar suara jantung 1 dan 2, tidak ada bunyi jantung

tambahan.

Palpasi : teraba ictus cordis pada ICS ke 5 kiri

Perkusi : suara perkusi jantung pekak pada ics 3-5

7) Perut

Inspeksi : perut datar

Auskultasi : Terdengar bising usus/peristaltik: 10X/menit

Palpasi : region kanan bawahtidak teraba appendicitis, kanan atas tidak

teraba pembesaran hepar, kiri atas tidak teraba pembesaran pancreas, kiri bawah tidak

teraba feses keras pada sipoid, nyeri tekan pada abdomen kiri bawah

Perkusi : thympani

Page 18: Askep Seminar TUGUREJO CKD

8) Genitalia

Inspeksi : terpasang kateter

9) Ekstremitas

Pada ekstremitas atas : tangan kanan terpasang infuse.

Pada ekstremitas bawah : tidak ada kelainan. Akral teraba hangat.

10) Persyarafan

Kesadaran klien composmenthis dengan nilai GCS 15

5. Prosedur Diagnostik Dan Laboratorium

Prosedur

diagnostic/laboratorium

Tanggal

pemeriksaan

Indikasi dan

tujuan

Hasil Nilai

normal

Analisa

Darah rutin

Leukosit

Eritrosit

Hemoglobin

Hematokrit

RDW

Eosinofil absolute

Netrofil absolute

Monosil absolute

Eusinofil

Neutrofil

Limfosit

monosit

Kimia Klinik

Ureum

Kreatinin

Radiologi

21/03/2012

19/03/2012

H 12,11

L 3,28

L 9,30

L 29,10

H 14,90

L 0,02

H 10,06

H 1,08

L 0.20

H 83,00

L 7,70

H 8,90

H 53,0

H 2,89

Kesan:

pembesaran

kelenjar

prostat, cys

titis.

3,8-10,6

4,4-5,9

13,2-17,3

40-52

11,5-14,5

0,045-0,44

1,8-8

0,16-1

2-4

50-70

25-40

2-8

10,0-50,0

0,70-1,10

Page 19: Askep Seminar TUGUREJO CKD

B. Analisa Data

Data Masalah Etiologi

DO:

TD: 140/90 MMHG

Lekosit: H 12.11 (N: 3-

8-10,6)

Ureum; H 53,0 mg/dl

(N: 10,0-50,0)

Creatinin: H 2,89 mg/dl

(N: 0,70-1,10)

DS:

P: saat bergerak,

Q: panas seperti

terbakar,

R: pinggang sebelah

kiri,

S: 6 (sedang),

T: hilang timbul

(durasi 5 menit)

Gangguan rasa nyaman nyeri Gangguan visceral ginjal

(iritasi ginjal)

DO:

A: BB/TB² meter=

55/1,6²= 21, 48

(normal)

B: hemoglobin L 9.30

(N: 13,2-13,3)

C: peristaltic:

10X/menit (normal)

D : BTS

DS:

Klien mengeluh tidak

nafsu makan, mual,

Resiko nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh

akibat anoreksia mual,

muntah

Page 20: Askep Seminar TUGUREJO CKD

terkadang muntah

DO:

Klien memerlukan

bantuan minimal,

skala : 2

DS:

Klien mengeluh lemas,

nyeri saat bergerak

Intoleransi aktivitas Kelemahan dan gangguan

nyeri

C. Diagnose Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d gangguan visceral ginjal(iritasi ginjal)

2. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia mual, muntah

3. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan dan gangguan nyeri.

D. Perencanaan

No. dx.

Kep.

Penjelasan

keilmuan

Tujuan Intervensi

keperawatan

Rasional

1 Setelah dilakukan

tindakan keperawatan

keperawatan selama

3X24 jam klien

menunjukan peredaan

nyeri dengan KH

Skala: 0

1. 1.

2 Setelah dilakukan

tindakan keperawatan

selama 3X24 jam

nutrisi klien kembali

adekuat dengan KH:

Makan habis 1 porsi

Mual muntah hilang

1. 1.

3 Setelah dilakukan 1. 1.

Page 21: Askep Seminar TUGUREJO CKD

tindakan keperawatan

selama 3X24 jam

klien kembali toleran

terhadap aktivitas

dengan KH:

E. Implementasi

1. Implementasi keperawatan

Hari/tgl/jam No.

Dx.

Kep.

Tindakan keperawatan Respon klien

2. Medical management

a. Infuse NACl 0,9%

Medical

management

Tanggal terapi Penjelasan

secara umum

Indikasi dan

tujuan

Respon klien

NACl 0,9% 12/10/2011 NACl infuse - Pengganti Klien

Page 22: Askep Seminar TUGUREJO CKD

0,9%

mengandung

sodium chloride

0,9%

cairan

pelumas

isotonic yang

hilang

- Pengganti

cairan pada

kondisi

alkalosis

hipokloremia

kooperatif

b. Obat-obatan

Nama obat Tanggal

terapi

Cara, dosis, frekuensi Cara kerja obat,

fungsi dan

klasifikasi

Respon klien

c. Diet

Jenis diet Tanggal

terapi

Penjelasan

umum

Makanan

spesifik

Respon

klien

F. Evaluasi

1. Evaluasi keperawatan

Tgl/hari/jam No.

dx.

Kep.

Catatan perkembangan klien

Page 23: Askep Seminar TUGUREJO CKD

2. Perkembangan sehari-hari klien

Hari/tanggal

Masalah keperawatan:

1. Gangguan menelan

2. Ketidakefektifan

bersihan jalan nafas

3. Intoleransi aktivitas

Vital sign

Prosedur diagnostic dan

laboratorium

Obat

Medical management

Diet

Aktivitas dan latihan

Page 24: Askep Seminar TUGUREJO CKD

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Analisa kasus

B. Penemuan

Page 25: Askep Seminar TUGUREJO CKD

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

Page 26: Askep Seminar TUGUREJO CKD

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC

Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk

Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC

Long, B C. (1996). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid 3.

Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan

Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses

Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC

Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah

Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC

Suyono, Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jilid I II. Jakarta.: Balai Penerbit

FKUI