askep pada lansia

  • View
    233

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of askep pada lansia

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    1/40

    MAKALAH SISTEM PERSYARAFAN

    PARKINSON

    Disusun Oleh Kelompok II :

    1. Tiara Simarmata (201111107)2. Rosiana Veronika (201111091)3. Khristina Damayanti (201111065)4. Sri Setyani (201111100)5. Regina (201111088)6. Luvy Septiana K (201111070)7. Rangga Sandy S8. Sri Handayani (201111099)

    S1 ILMU KEPERAWATAN

    SEKOLAH TINGGI KESEHATAN SANTA ELISABETH

    SEMARANG

    2012/2013

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    2/40

    KATA PENGANTAR

    Dengan mengucap syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, kami dapat

    menyelesaikan makalah tentang Parkinson.

    Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah SISTEM

    PERSYARAFAN. Dalam menyelesaikan makalah ini kami berusaha menyusun

    dengan baik.Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi

    pembaca dan untuk kesempurnaan makalah ini kami mengharapkan kritikan dan

    saran-saran yang bersifat membangun.

    Semarang,

    Penyusun

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    3/40

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL

    KATA PENGANTAR

    DAFTAR ISI

    BAB I PENDAHULUAN

    1.1Latar Belakang Masalah1.2Tujuan

    BAB II PENYAKIT PARKINSON

    2.1Proses degenerative susunan saraf pusat dan susunan saraf tepi2.2Fisiologi susunan saraf pusat dan tepi2.3Patofisiologi Parkinson2.4Diet untuk Parkinson2.5Farmakologi untuk Parkinson2.6Penatalaksanaan medis Parkinson2.7Askep Parkinson2.8Keterampilan memberikan pendidikan kesehatan tentang Parkinson2.9Keterampilan memberikan terapi modalitas2.10 Keterampilan melakukan pemenuhan ADL2.11 Keterampilan melakukan PF system persyarafan2.12 Keterampilan memberikan penkes ke keluarga tentang perawatan

    pasien persyarafan selama di rumah (cara berjalan dengan tripon dan walker)

    2.13 Askep2.14 Pertanyaan pemicu

    BAB III PENUTUP

    3.1 Kesimpulan

    3.2 Saran

    DAFTAR PUSTAKA

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    4/40

    BAB I

    PENDAHULUAN

    2.1 Latar Belakang Masalah

    Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif yang bersifat

    kronis progresif, merupakan penyakit terbanyak kedua setelah demensia

    Alzheimer.Penyakit ini memiliki dimensi gejala yang sangat luas sehingga baik

    langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas hidup penderita maupun

    keluarga.Pertama kali ditemukan oleh seorang dokter inggris yang bernama James

    Parkinson pada tahun 1887.Penyakit ini merupakan suatu kondisi ketika seseorangmengalami ganguan pergerakan.

    Tanda-tanda khas yang ditemukan pada penderita diantaranya resting tremor,

    rigiditas, bradikinesia, dan instabilitas postural. Tanda-tanda motorik tersebut

    merupakan akibat dari degenerasi neuron dopaminergik pada system

    nigrostriatal.Namun, derajat keparahan defisit motorik tersebut beragam.Tanda-tanda

    motorik pasien sering disertai depresi, disfungsi kognitif, gangguan tidur, dan

    disfungsi autonom.

    Penyakit Parkinson terjadi di seluruh dunia, jumlah penderita antara pria dan

    wanita seimbang. 510 % orang yang terjangkit penyakit parkinson, gejala awalnya

    muncul sebelum usia 40 tahun, tapi rata-rata menyerang penderita pada usia 65 tahun.

    Secara keseluruhan, pengaruh usia pada umumnya mencapai 1 % di seluruh dunia

    dan 1,6 % di Eropa, meningkat dari 0,6 % pada usia 6064 tahun sampai 3,5 % pada

    usia 8589 tahun.

    Penyakit Parkinson dimulai secara samar-samar dan berkembang secara

    perlahan. Pada banyak penderita, pada mulanya Penyakit Parkinson muncul sebagai

    tremor(gemetar) tangan ketika sedang beristirahat, tremorakan berkurang jika tangan

    digerakkan secara sengaja dan menghilang selama tidur. Stres emosional atau

    kelelahan bisa memperberat tremor. Pada awalnya tremor terjadi pada satu tangan,

    akhirnya akan mengenai tangan lainnya, lengan dan tungkai. Tremor juga akan

    mengenai rahang, lidah, kening dan kelopak mata.

    Penderita Penyakit Parkinson mengalami kesulitan dalam memulai suatu

    pergerakan dan terjadi kekakuan otot. Jika lengan bawah ditekuk ke belakang atau

    diluruskan oleh orang lain, maka gerakannya terasa kaku. Kekakuan dan imobilitas

    bisa menyebabkan sakit otot dan kelelahan.Kekakuan dan kesulitan dalam memulai

    suatu pergerakan bisa menyebabkan berbagai kesulitan.Otot-otot kecil di tangan

    seringkali mengalami gangguan, sehingga pekerjaan sehari -hari (misalnya

    mengancingkan baju dan mengikat tali sepatu) semakin sulit dilakukan.Penderita

    Penyakit Parkinson mengalami kesulitan dalam melangkah dan seringkali berjalan

    tertatih-tatih dimana lengannya tidak berayun sesuai dengan langkahnya.Jika

    http://artikel-info-kesehatan.blogspot.com/2009/06/penyakit-parkinson-parkinsons-disease.htmlhttp://artikel-info-kesehatan.blogspot.com/2009/06/penyakit-parkinson-parkinsons-disease.htmlhttp://artikel-info-kesehatan.blogspot.com/2009/06/penyakit-parkinson-parkinsons-disease.htmlhttp://artikel-info-kesehatan.blogspot.com/2009/06/penyakit-parkinson-parkinsons-disease.html
  • 7/30/2019 askep pada lansia

    5/40

    penderita Penyakit Parkinson sudah mulai berjalan, mereka mengalami kesulitan

    untuk berhenti atau berbalik.Langkahnya bertambah cepat sehingga mendorong

    mereka untuk berlari kecil supaya tidak terjatuh. Sikap tubuhnya menjadi bungkuk

    dan sulit mempertahankan keseimbangan sehingga cenderung jatuh ke depan atau ke

    belakang.Wajah penderita Penyakit Parkinson menjadi kurang ekspresifkarena otot-

    otot wajah untuk membentuk ekspresi tidak bergerak. Kadang berkurangnya ekspresi

    wajah ini disalah artikan sebagai depresi, walaupun memang banyak penderita

    Penyakit Parkinson yang akhirnya mengalami depresi.Pandangan tampak kosong

    dengan mulut terbuka dan matanya jarang mengedip.Penderita Penyakit Parkinson

    seringkali ileran atau tersedak karena kekakuan pada otot wajah dan tenggorokan

    menyebabkan kesulitan menelan.Penderita Penyakit Parkinson berbicara sangat pelan

    dan tanpa aksen (monoton) dan menjadi gagap karena mengalami kesulitan dalam

    mengartikulasikan fikirannya.Sebagian besar penderita memiliki intelektual yang

    normal, tetapi ada juga yang menjadi pikun.

    2.2 Tujuan

    1.2.1 Mahasiswa/i mampu berkomunikasi secara lisan dan tulisan.

    1.2.2 Mahasiswa mampu/i mampu menganalisa asuhan keperawatan

    PARKINSON Pneumonia pada lansia dengan mengintegrasikan ilmu

    biologi, biokimia, anatomi, fisiologi, patologi, patofisiologi, farmakologi,

    dan gizi.

    2.3 Manfaat

    1.3.1 Agar mahasiswa/i mampu memahami tentang sistem persyarafan,

    khususnya pada lansia.

    1.3.2 Agar mahasiswa/i mampu memahami tentang PARKINSON.

    1.3.3 Agar mahasiswa/i mampu mengimplementasikan penatalaksanaan dengan

    pasien parkinson.

    http://artikel-info-kesehatan.blogspot.com/2009/06/penyakit-parkinson-parkinsons-disease.htmlhttp://artikel-info-kesehatan.blogspot.com/2009/06/penyakit-parkinson-parkinsons-disease.html
  • 7/30/2019 askep pada lansia

    6/40

    BAB II

    ISI

    2.1Proses degeneratif susunan saraf pusat dan susunan saraf tepiSel-sel saraf baik pada sistem saraf pusat ataupun sistem saraf perifer

    sejak sudah dahulu dianggap tidak dapat membelah diri pada individu yang

    telah selesai perkembangan sistem sarafnya.Hasil-hasil penelitian pada akhir-

    akhir ini menunjukan bahwa kemungkinan besar sel-sel saraf tersebut masih

    dapat membelah diri walaupun sangat lamban.Sedangkan tonjolan-tonjolan

    sel saraf pada sistem saraf pusat apabila mengalami kerusakan sangat sulit

    dapat tumbuh kembali.Sebaliknya pada sistem saraf perifer penggantian

    tonjolan saraf berlangsung mudah selama bagian perikarion tidak mengalami

    kerusakan.

    Apabila sebuah saraf mati bersama tonjolan-tonjolannya, maka sel-sel saraf

    yang berhubungan dengan sel saraf tersebut tidak ikut mati, kecuali untuk sel

    neuron yang hanya berhubungan dengan sel saraf mati tadi.Peristiwa

    semacam ini dinamakan Degenerasi-transneral.

    Keadaan untuk sel-sel glia pada sistem saraf pusat dan sel schwann serta sel

    satelit ganglion pada sistem saraf perifer berlawanan dengan sel-sel saraf, oleh

    karena mereka sangat mudah melangsungkan pembelahan sel. Akibatnya

    kematian sel-sel saraf akan cepat diganti oleh sel-sel glia atau sel schwann

    atau sel satelit.

    Sangatlah perlu untuk membedakan perubahan-perubahan yangberlangsung pada bagian proksimal dan distal dari kerusakan sebuah serabut

    saraf, sebab bagian proksimal dari kerusakan yang dekat dengan badan sel

    lebih mudah mengalami degenerasi total.

    Kerusakan pada axon akan mengakibatkan perubahan-perubahan

    dalam perikarion sebagai berikut :

    - Hilangnya badan Nissl sehingga neroplasma berkurang basofil

    (khromatolisis)

    - Membesarnya volume perikarion

    - Perpindahan inti kedaerah tepi

    Bagian sebelah distal dari kerusakan, degenerasi total dialami oleh

    seluruh axon bersama selubung mielin yang di ikuti oleh pembersihan sisa-

    sisa degenerasi oleh sel makrofag. Sementara proses ini berlangsung, sel-sel

    schwann akan membelah diri secara aktif sehingga membentuk batang solid

    yang mengisi bekas yang dilalui oleh axon. Rangkain sel-sel ini akan

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    7/40

    bertindak segai pengarah untuk pertumbuhan axon yang bertunas dalam fase

    perbaikan. Serabut otot yang di persarafi axon yang rusak tampak mengecil.

    Sekitar 3 minggu setelah kerusakan serabut saraf, ujung serabut saraf sebelah

    proksimal dari kerusakan akan tumbuh dan bercabang-cabang sebagai

    serabut-serabut halus ke arah pertumbuhan sel-sel schwann. Diantara sekian

    banyak percangan axon beberapa akan terus tumbuh, khususnya yang dapat

    menerobos rangkain sel-sel schwann untuk mencapai sel efektor, misalnya

    otot. Apabila celah yang memisahkan bagian proksimal dan bagian distal dari

    axon cukup lebar atau pada keadaan hilangnya sama sekali bagian distal,

    misalnya amputasi, maka saraf-saraf sebagian hasil pertumbuhan baru tersebut

    membentuk gulungan yang menyebabkan rasa sakit. Pembentukan gulungan

    tersebut diberi nama yang sebenarnya kurang benar sebagai neroma amputasi.

    Proses perubahan degeneratif pada bagian distal dari kerusakan dinamakan

    degenerasi sekunder dari Waller.

    1. Faktor-faktor yang mempengaruhi degenerative system sarafFaktor-faktor yang mempengaruhi degeneratif sistem syaraf khususnya pada

    penyakit parkinsson adalah :

    UsiaKarena Penyakit Parkinson umumnya dijumpai pada usia lanjut dan

    jarang timbul pada usia di bawah 30 tahun

    RasDi mana orang kulit putih lebih sering mendapat penyakit Parkinson

    daripada orang Asia dan Afrika.

    Genetik, factor genetik amat penting dengan penemuan pelbagaikecacatan pada gen tertentu yang terdapat pada penderita Penyakit

    Parkinson, khususnya penderita Parkinson pada usia muda.

    Toksin (seperti 1-methyl-4-phenyl-1,2,3,6-trihidroxypyridine (MPTP),CO, Mn, Mg, CS2, methanol, etanol dan sianida), penggunaan

    herbisida dan pestisida, serta jangkitan.

    Cedera kranio serebral, meski peranannya masih belum jelas, dan Tekanan emosional, yang juga dipercayai menjadi faktor risiko.

    Pada Penyakit Parkinson, sel-sel saraf pada ganglia basalis mengalami

    kemunduran sehingga pembentukan dopamin berkurang dan hubungan

    dengan sel saraf dan otot lainnya juga lebih sedikit. Penyebab dari

    kemunduran sel saraf dan berkurangnya dopamin biasanya tidak diketahui.

    http://obatpropolis.com/penyakit-parkinson/http://obatpropolis.com/penyakit-parkinson/
  • 7/30/2019 askep pada lansia

    8/40

    2. Letak dan produksi neurotransmitterSinaps adalah struktur yang terdapat diantara neuron. Impuls ditransmisi

    dari neuron ke neuron lain dan pada organ tubuh yang berhubungan. Sinaps

    adalah titik pertautan antara dua neuron.Neurotransmitter adalah agen kimiawi

    yang berperan dalam mentransmisi impuls melalui sinaps.Neurotransmitter

    yang bersifat eksitasi adalah acetylcholine, norepinephrine, dopamine,

    glutamate dan histamine.Sedangkan neurotransmitter yang pada umummnya

    menginhibisi adalah gamma aminobutyric acid (GABA) pada jaringan otak

    dan glycine pada medula spinalis. Serotonin menghambat dan mengontrol

    tidur, lapar dan mempengaruhi kesadaran

    3. Peran neurotransmitter dan efeknya jika kadarnya berubahAsam amino adalah bahan baku untuk neurotransmiter dan berbagai

    vitamin dan mineral adalah co-faktor yang diperlukan untuk produksi

    mereka. Ada sekitar 28 asam amino yang digunakan dalam tubuh. Hati

    memproduksi sekitar 80 persen dari mereka, sedangkan 20 persen sisanya

    harus diperoleh dari diet kita, maka 'asam amino esensial' nama mereka. Asam

    amino esensial yang berasal dari protein, dan penelitian menunjukkan bahwa

    diet kekurangan protein akan menyebabkan tingkat neurotransmitter yang

    lebih rendah dan akibatnya masalah kesehatan mental.Asam amino esensial

    untuk produksi serotonin triptofan, fenilalanin dan tirosin sementara adalah

    blok bangunan untuk dopamin dan noradrenalin. Gambar di bawah

    menunjukkan beberapa langkah biokimia penting yang dibutuhkan untuk

    produksi neurotransmitter dopamin dan serotonin.Seperti ditunjukkan dalam

    gambar di bawah ini, tirosin dan triptofan pergi melalui sejumlah proses

    metabolisme dalam tubuh sebelum akhirnya diubah menjadi neurotransmitter

    dopamin dan serotonin. Untuk hal ini terjadi secara efektif, tubuh harus

    memiliki toko-toko yang cukup vitamin dan mineral tertentu.Sebagai contoh,

    asam folat, zat besi, vitamin B6, vitamin C, magnesium dan tembaga adalah

    penting co-faktor penting untuk produksi dopamin. Produksi serotonin

    bergantung pada tingkat yang memadai kalsium, asam folat, zat besi,

    magnesium, vitamin B6, vitamin C dan zinc dalam tubuh. Fakta ini sering

    dilupakan ketika datang untuk mengobati masalah suasana hati. Kecuali tubuh

    memiliki pasokan nutrisi yang baik, sejumlah proses fisiologis akan terhenti

    dan akan menghasilkan masalah mood.

    Tingkat neurotransmitter dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Jelas gizi

    dan kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi memainkan peran besar, tetapi

    ada sejumlah pengaruh utama lainnya pada produksi

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    9/40

    neurotransmiter. Beberapa ini adalah rinci dalam tabel di bawah ini. Penyebab

    ini dapat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan kita dan pada

    proses metabolisme dalam tubuh kita.

    Penyebab Ketidakseimbangan Neurotransmitter

    Pola makan yang buruk misalnya,protein rendah, gula tinggi, tinggi

    lemak jenuh, lemak tak jenuh yang

    rendah

    Penggunaan alkohol menggunakan /narkoba Kelebihan

    Gizi kekurangan Obat-obat tertentu Kronis stres fisik dan emosional Bedah / operasi Kondisi medis misalnya, diabetes,

    kondisi tiroid, penyakit

    kardiovaskular.

    Membatasi diet Genetik membuat & biokimia

    individu

    Gangguan metabolic

    Toksisitas logam Masalah pencernaan Alergi Kimia & makanan sensitivitas Tinggi stres dan / atau trauma

    psikologis

    Kurang tidur Virus & infeksi Kurangnya, atau berlebihan, olahraga Hormon ketidakseimbangan Penting kekurangan asam lemak Ketidakseimbangan gula darah Terlalu menetap gaya hidup

    Adapun cara meningkatkan keseimbangan neurotransmitter

    Obat utama memperlakukan kekurangan neurotransmiter dan masalah

    kesehatan konsekuen mental melalui penggunaan obat-obatan farmasi. Lebih

    khusus, antidepresan seperti Prozac, dan Zoloft Cipramil digunakan untuk

    pengobatan depresi, sedangkan benzodiazepin seperti valium dan Serapax

    digunakan untuk pengobatan kecemasan, stres dan insomnia. Studi

    menunjukkan bahwa obat antidepresan efektif untuk manapun antara 30

    hingga 60 persen orang depresi. Sayangnya ini masih menyisakan manapun

    antara 40 sampai 70 persen orang masih tidak sehat. Ditambah dengan hal ini

    adalah efek samping yang sering yang sering dialami oleh orang. Sementara

    antidepresan yang lebih baru telah terbukti lebih baik ditoleransi, efek

    samping yang masih mempengaruhi sebagian besar penderita. Beberapa efek

    samping yang lebih umum meliputi: kecemasan & kegugupan; sembelit atau

    diare, pusing, mengantuk; mulut kering, sakit kepala, insomnia, mual,

    disfungsi seksual, tremor, retensi urin, dan berat badan. Terapi psikologis

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    10/40

    adalah alternatif yang efektif untuk obat untuk mengobati masalah suasana

    hati. Meskipun dampaknya terhadap tingkat neurotransmitter masih tak

    menentu sekarang juga diakui bahwa terapi psikologis memang memiliki

    dampak positif pada suasana hati, mungkin melalui pengaruhnya terhadap

    pemikiran dan sistem keyakinan. Meskipun kepercayaan umum bahwa obat

    adalah cara utama untuk meningkatkan produksi neurotransmitter, ini tidak

    bisa lebih jauh dari kebenaran. Seperti yang dapat Anda lihat dari "penyebab

    ketidakseimbangan neurotransmitter 'tabel di atas ada sejumlah penyebab

    masalah neurotransmitter dan untungnya banyak dari mereka yang

    berubah. Meskipun kita mungkin tidak mampu mengubah gen kita, kita tentu

    dapat memodifikasi gaya hidup dan perilaku kita.Misalnya, olahraga teratur

    dapat secara dramatis meningkatkan produksi neurotransmitter. Makan

    makanan yang sehat, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan santai dan

    menyenangkan dan membatasi asupan alkohol juga semua pengaruh

    positif.Penggunaan suplemen herbal tertentu dan juga penting dan telah

    terbukti dalam sejumlah studi untuk menjadi efektif dalam meningkatkan

    level neurotransmitter dan mengangkat mood seseorang. Meskipun tidak

    lengkap, daftar di bawah ini rincian beberapa nutrisi penting yang diperlukan

    untuk sintesis neurotransmiter:

    St John Wort SAMe Asam amino tirosin, triptofan dan 5-HTP Kalsium Magnesium B-vitamin Asam Folat Vitamin C Seng Besi Tembaga

    Neurotransmitter gangguan / ketidakseimbangan adalah penyebab penting dari

    masalah kesehatan mental. Sebagaimana dibahas, bagi kebanyakan orang, mereka

    untungnya bisa diobati melalui diet, gaya hidup dan suplemen gizi.

    4. Hubungan neurotransmitter dengan proses penghantar sarafNeurotransmiter merupakan zat kimia yang disintesis dalam neuron

    dan disimpan dalam gelembung sinaptik pada ujung akson.Zat kimia ini

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    11/40

    dilepaskan dari akson terminal melalui eksositosis dan direabsorbsi untuk

    daur ulang. Neurotransmiter merupakan cara komunikasi antar neuron. Setiap

    neuron melepaskan satu transmitter. Zat-zat kimia ini menyebabkan

    perubahan permeabilitas sel neuron, sehingga neuron menjadi lebih kurang

    dapat menyalurkan impuls, tergantung dari neuron dan transmitter tersebut.

    Neuron menyalurkan sinyal-sinyal saraf ke seluruh tubuh.Implus

    neuron bersifat listrik disepanjang neuron dan bersifat kimia diantara neuron.

    Secara anatomis, neuron-neuron tersebut tidak bersambungan satu dengan

    yang lain. Tempat-tempat dimana neuron mengadakan kontak dengan neuron

    lain atau dengan organ-organ efektor disebut sinaps. Sinaps merupakan satu-

    satunya tempat dimana suatu impuls dapat lewat dari satu neuron ke neuron

    lainnya atau efektor. Ruang antara satu neuron dan neuron berikutnya (atau

    organ efektor) dikenal dengan nama celah sinaptik. Neuron yang

    menghantarkan impuls saraf menuju ke sinaps disebut neuron

    prasinaptik.Neuron yang membawa impuls dari sinaps disebut neuron

    possinaptik.

    Komponen listrik dari transmisi saraf menangani transmisi impuls

    disepanjang neuron. Permeabilitas membrane sel neuron terhadap ion natrium

    dan kalium bervariasi dan dipengaruhi oleh perubahan kimia serta listrik

    dalam neuron tersebut ( terutama neurontransmiter dan stimulus oragan

    reseptor). Dalam keadaan istirahat, permeabilitas membrane sel menciptakan

    kadar kalium intrasel yang tinggi dan kadar natrium yang rendah, bahkan pada

    kadar natrium ekstrasel yang tinggi. Impuls listrik timbul oleh pemisahan

    muatan akibat perbedaan kadar ion intrasel dan ekstrasel yang dibatasi

    membran sel.

    Bila rangsang yang menimbulkan perubahan listrik dalam membrane

    sel neuron menyebabkan peningkatan permeabilitas terhadap ion kalium,

    maka neuron menjadi hiperpolarisasi dan terhambat.Neuron yang mengalami

    hiperpolarisasi tak sanggup meneruskan impuls saraf.Jika rangasan

    menyebabkan perubahan listrik yang menimbulkan peningkatan permeabilitas

    terhadap ion natrium, neuron itu dikatakan dalam keadaan terangsang atau

    depolarisasi. Bila membrane mengalami depolarisasi sampai suatu tingkatan

    kritis disebut ambang eksitasi, maka terjadi perubahan permeabilitas

    membrane dengan influks natrium secara mendadak, depolarisasi cepat, dan

    pembentukan potensial aksi pada tempat perangsangan. Potensial aksi

    disalurkan melalui akson sebagai suatu fenomena tuntas atau tidak sama

    sekali, dan bukan sebagai respon bertahap. Bila potensial aksi tersebut

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    12/40

    mencapai ujung ( terminal) suatu akson, maka terjadi pelepasan neuron

    transmitter oleh gelembung sipnaptik dengan eksositosis kedalam celah

    sinaptik. Transmitter itu melekatkan diri pada reseptor neuron possinaptik

    atau membran efektor, dan dapat atau tidak dapat menimbulkan potensial aksi

    pada membrane possinaptik.Setiap neuron diliputi oleh banyak sinaps.

    Apakah potensial aksi akan timbul atau tidak ditentukan oleh keseimbangan

    antara impuls eksitasi dan inhibisi yang diterima oleh neuron pada saat itu dari

    semua hubungan sinaptik yang dimilikinya

    2.2Fisiologi susunan saraf pusat dan tepiSistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan

    bersambungan serta terdiriterutama dari jaringan saraf.Sistem persarafan

    merupakan salah satu organ yang berfungsi untuk menyelenggarakan

    kerjasama yang rapi dalam organisasi dan koordinasi kegiatan tubuhFungsi sistem saraf yaitu

    Mendeteksi perubahan dan merasakan sensasi2. Menghantarkan

    informasi dari satu tempat ke tempat yang lain3. Mengolah informasi

    sehingga dapat digunakan segera atau menyimpannya untuk masamendatang

    sehingga menjadi jelas artinya pada pikiran.Sistem saraf dibedakan atas 2 divisi anatomi yaitu:

    1.Sistem saraf pusat (sentral), terbagi atas:a. Otak

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    13/40

    b. Sumsum tulang belakang (medula spinalis)

    Fungsi sumsum tulang belakang

    Menghubungkan sistem saraf tepi ke otak. Informasi melalui neuronsensori ditransmisikan dengan bantuan interneuron (impuls

    sarafdari danke otak).

    Memungkinan jalan terpendek dari gerak refleks. Sehingga sumsumtulang belakang juga biasa disebut saraf refleks.

    Mengurusi persarafan tubuh, anggota badan dan kepala

    2. Sistem saraf perifer (tepi) terdiri atas:Divisi Aferen, membawa informasi ke SSP (memberitahu SSP

    mengenai lingkungan eksternal dan aktivitas-aktivitas internal yg diatur

    oleh SSPB. Divisi Eferen, informasi dari SSP disalurkan melalui divisi

    eferen ke organ efektor (otot ataukelenjar yg melaksanakan perintah untuk

    menimbulkan efek yg diinginkan), terbagi atas:

    -Sistem saraf somatik, yg terdiri dari serat-serat neuron motorik yg

    mempersarafi otot-otot rangka

    -Sistem saraf otonom, yg mempersarafi otot polos, otot jantung dan

    kelenjar, terbagi atas :

    1. Sistem saraf simpatis

    2. Sistem saraf Parasimpatis

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    14/40

    2.3Patofisiologi Parkinson

    A. DefinisiPenyakit parkinson adalah penyakit neurodegeneratif progresif

    yang berkaitan erat dengan usia. Secara patologis penyakit parkinson

    ditandai oleh degenerasi neuron-neuron berpigmen neuromelamin,

    terutama di pars kompakta substansia nigra yang disertai inklusi

    sitoplasmik eosinofilik (Lewy bodies), atau disebut juga

    parkinsonisme idiopatik atau primer.

    Sedangkan Parkinonisme adalah suatu sindrom yang ditandai

    oleh tremor waktu istirahat, rigiditas, bradikinesia, dan hilangnya

    refleks postural akibat penurunan kadar dopamine dengan berbagai

    macam sebab. Sindrom ini sering disebut sebagai Sindrom Parkinson.

    KLASIFIKASI

    Penyakit parkinson dapat dibagi atas 3 kategori, yaitu :

    1. Parkinson primer/idiopatik/paralysis agitans.

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    15/40

    Sering dijumpai dalam praktek sehari-hari dan kronis, tetapi penyebabnya

    belum jelas. Kira-kira 7 dari 8 kasus parkinson termasuk jenis ini.

    2. Parkinson sekunder atau simtomatikDapat disebabkan pasca ensefalitis virus, pasca infeksi lain : tuberkulosis,

    sifilis meningovaskuler.Toksin seperti 1-methyl-4-phenyl-1,2,3,6-

    tetrahydropyridine (MPTP), Mn, CO, sianida. Obat-obatan yang

    menghambat reseptor dopamin dan menurunkan cadangan dopamin

    misalnya golongan fenotiazin, reserpin, tetrabenazin dan lain-lain,

    misalnya perdarahan serebral pasca trauma yang berulang-ulang pada

    petinju, infark lakuner, tumor serebri, hipoparatiroid dan kalsifikasi.

    3. Sindrom Parkinson Plus (Multiple System Degeneration)Pada kelompok ini gejalanya hanya merupakan sebagian dari gambaran

    penyakit keseluruhan. Jenis ini bisa didapat pada Progressive supranuclear

    palsy, Multiple system atrophy (sindrom Shy-drager, degenerasi

    striatonigral, olivo-pontocerebellar degeneration, parkinsonism-

    amyotrophy syndrome), Degenerasi kortikobasal ganglionik, Sindrom

    demensia, Hidrosefalus normotensif, dan Kelainan herediter(Penyakit

    Wilson, penyakit Huntington, Parkinsonisme familial dengan neuropati

    peripheral).

    B. EtiologiEtiologi Parkinson primer masih belum diketahui. Terdapat

    beberapa dugaan, di antaranya ialah : infeksi oleh virus yang non-

    konvensional (belum diketahui), reaksi abnormal terhadap virus yangsudah umum, pemaparan terhadap zat toksik yang belum diketahui,

    terjadinya penuaan yang prematur atau dipercepat.

    Parkinson disebabkan oleh rusaknya sel-sel otak, tepatnya di

    substansi nigra.Suatu kelompok sel yang mengatur gerakan-gerakan yang

    tidak dikehendaki (involuntary).Akibatnya, penderita tidak bisa

    mengatur/menahan gerakan-gerakan yang tidak disadarinya.

    Mekanisme bagaimana kerusakan itu belum jelas benar, akan

    tetapi ada beberapa faktor resiko ( multifaktorial ) yang telah

    diidentifikasikan, yaitu :

    1. Usia : Insiden meningkat dari 10 per 10.000 penduduk pada usia 50sampai 200 dari 10.000 penduduk pada usia 80 tahun. Hal ini

    berkaitan dengan reaksi mikrogilial yang mempengaruhi kerusakan

    neuronal, terutama pada substansia nigra pada penyakit parkinson.

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    16/40

    2. Genetik : Penelitian menunjukkan adanya mutasi genetik yangberperan pada penyakit parkinson. Yaitu mutasi pada gen a-sinuklein

    pada lengan panjang kromosom 4 (PARK1) pada pasien dengan

    Parkinsonism autosomal dominan. Pada pasien dengan autosomal

    resesif parkinson, ditemukan delesi dan mutasi point pada gen parkin

    (PARK2) di kromosom 6. Selain itu juga ditemukan adanya disfungsi

    mitokondria. Adanya riwayat penyakit parkinson pada keluarga

    meningakatkan faktor resiko menderita penyakit parkinson sebesar 8,8

    kali pada usia kurang dari 70 tahun dan 2,8 kali pada usia lebih dari 70

    tahun. Meskipun sangat jarang, jika disebabkan oleh keturunan, gejala

    parkinsonisme tampak pada usia relatif muda. Kasus-kasus genetika di

    USA sangat sedikit, belum ditemukan kasus genetika pada 100

    penderita yang diperiksa. Di Eropa pun demikian. Penelitian di Jerman

    menemukan hasil nol pada 70 penderita. Contoh klasik dari penyebab

    genetika ditemukan pada keluarga-keluarga di Italia karena kasus

    penyakit itu terjadi pada usia 46 tahun.

    3. Faktor Lingkungana) Xenobiotik : Berhubungan erat dengan paparan pestisida yang

    dapat menimbulkan kerusakan mitokondria.

    b) Pekerjaan :Lebih banyak pada orang dengan paparan metal yanglebih tinggi dan lama.

    c) Infeksi :Paparan virus influenza intrautero diduga turut menjadifaktor predesposisi penyakit parkinson melalui kerusakan

    substansia nigra. Penelitian pada hewan menunjukkan adanya

    kerusakan substansia nigra oleh infeksiNocardia astroides.

    d) Diet :Konsumsi lemak dan kalori tinggi meningkatkan stressoksidatif, salah satu mekanisme kerusakan neuronal pada penyakit

    parkinson. Sebaliknya,kopi merupakan neuroprotektif.

    4. Ras : angka kejadian Parkinson lebih tinggi pada orang kulit putihdibandingkan kulit berwarna.

    5. Trauma kepala : Cedera kranio serebral bisa menyebabkan penyakitparkinson, meski peranannya masih belum jelas benar.

    6. Stress dan depresi :Beberapa penelitian menunjukkan depresi dapatmendahului gejala motorik. Depresi dan stress dihubungkan dengan

    penyakit parkinson karena pada stress dan depresi terjadi peningkatan

    turnover katekolamin yang memacu stress oksidatif.

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    17/40

    C. Manifestasi klinis Gejala Motorik

    Gambaran klinis penyakit Parkinson

    a. Tremor

    Gejala penyakit parkinson sering luput dari pandangan awam, dan

    dianggap sebagai suatu hal yang lumrah terjadi pada orang tua. Salah satu ciri

    khas dari penyakit parkinson adalah tangan tremor (bergetar) jika sedang

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    18/40

    beristirahat. Namun, jika orang itu diminta melakukan sesuatu, getaran

    tersebut tidak terlihat lagi.Itu yang disebut resting tremor, yang hilang juga

    sewaktu tidur.

    Tremor terdapat pada jari tangan, tremor kasar pada sendi

    metakarpofalangis, kadang-kadang tremor seperti menghitung uang logam

    atau memulung-mulung (pill rolling).Pada sendi tangan fleksi-ekstensi atau

    pronasi-supinasi pada kaki fleksi-ekstensi, kepala fleksi-ekstensi atau

    menggeleng, mulut membuka menutup, lidah terjulur-tertarik.Tremor ini

    menghilang waktu istirahat dan menghebat waktu emosi terangsang (resting/

    alternating tremor).

    Tremor tidak hanya terjadi pada tangan atau kaki, tetapi bisa juga terjadi

    pada kelopak mata dan bola mata, bibir, lidah dan jari tangan (seperti orang

    menghitung uang).Semua itu terjadi pada saat istirahat/tanpa sadar.Bahkan,

    kepala penderita bisa bergoyang-goyang jika tidak sedang melakukan

    aktivitas (tanpa sadar).Artinya, jika disadari, tremortersebut bisa berhenti.Pada

    awalnya tremor hanya terjadi pada satu sisi, namun semakin berat penyakit,

    tremor bisa terjadi pada kedua belah sisi.

    b.Rigiditas/kekakuanTanda yang lain adalah kekakuan (rigiditas). Jika kepalan tangan yang

    tremortersebut digerakkan (oleh orang lain) secara perlahan ke atas bertumpu

    pada pergelangan tangan, terasa ada tahanan seperti melewati suatu roda yang

    bergigi sehingga gerakannya menjadi terpatah-patah/putus-putus. Selain di

    tangan maupun di kaki, kekakuan itu bisa juga terjadi di leher.Akibat

    kekakuan itu, gerakannya menjadi tidak halus lagi seperti break-dance.

    Gerakan yang kaku membuat penderita akan berjalan dengan postur yang

    membungkuk. Untuk mempertahankan pusat gravitasinya agar tidak jatuh,

    langkahnya menjadi cepat tetapi pendek-pendek.

    Adanya hipertoni pada otot fleksor ekstensor dan hipertoni seluruh

    gerakan, hal ini oleh karena meningkatnya aktifitas motorneuron alfa, adanya

    fenomena roda bergigi (cogwheel phenomenon).

    c. Akinesia/BradikinesiaKedua gejala di atas biasanya masih kurang mendapat perhatian sehingga

    tanda akinesia/bradikinesia muncul. Gerakan penderita menjadi serba

    lambat.Dalam pekerjaan sehari-hari pun bisa terlihat pada tulisan/tanda tangan

    yang semakin mengecil, sulit mengenakan baju, langkah menjadi pendek dan

    diseret.Kesadaran masih tetap baik sehingga penderita bisa menjadi tertekan

    (stres) karena penyakit itu.Wajah menjadi tanpa ekspresi.Kedipan dan lirikan

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    19/40

    mata berkurang, suara menjadi kecil, refleks menelan berkurang, sehingga

    sering keluar air liur.

    Gerakan volunter menjadi lambat sehingga berkurangnya gerak asosiatif,

    misalnya sulit untuk bangun dari kursi, sulit memulai berjalan, lambat

    mengambil suatu obyek, bila berbicara gerak lidah dan bibir menjadi

    lambat.Bradikinesia mengakibatkan berkurangnya ekspresi muka serta mimik

    dan gerakan spontan yang berkurang, misalnya wajah seperti topeng, kedipan

    mata berkurang, berkurangnya gerak menelan ludah sehingga ludah suka

    keluar dari mulut.

    d.Tiba-tiba Berhenti atau Ragu-ragu untuk MelangkahGejala lain adalah freezing, yaitu berhenti di tempat saat mau mulai

    melangkah, sedang berjalan, atau berputar balik; dan start hesitation, yaitu

    ragu-ragu untuk mulai melangkah. Bisa juga terjadi sering kencing, dan

    sembelit.Penderita menjadi lambat berpikir dan depresi.Hilangnya refleks

    postural disebabkan kegagalan integrasi darisaraf propioseptif dan labirin dan

    sebagian kecil impuls dari mata, padalevel talamus dan ganglia basalis yang

    akan mengganggu kewaspadaanposisi tubuh. Keadaan ini mengakibatkan

    penderita mudah jatuh.

    e. MikrografiaTulisan tangan secara gradual menjadi kecil dan rapat, pada beberapa kasus

    hal ini merupakan gejala dini.

    f. Langkah dan gaya jalan (sikap Parkinson)Berjalan dengan langkah kecil menggeser dan makin menjadi cepat

    (marche a petit pas), stadium lanjut kepala difleksikan ke dada, bahu

    membengkok ke depan, punggung melengkung bila berjalan.

    g.Bicara monotonHal ini karena bradikinesia dan rigiditas otot pernapasan, pita suara, otot

    laring, sehingga bila berbicara atau mengucapkan kata-kata yang monoton

    dengan volume suara halus (suara bisikan) yang lambat.

    h.DimensiaAdanya perubahan status mental selama perjalanan penyakitnya dengan

    defisit kognitif.

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    20/40

    i. Gangguan behavioralLambat-laun menjadi dependen (tergantung kepada orang lain), mudah

    takut, sikap kurang tegas, depresi. Cara berpikir dan respon terhadap

    pertanyaan lambat (bradifrenia) biasanya masih dapat memberikan jawaban

    yang betul, asal diberi waktu yang cukup.

    j. Gejala LainKedua mata berkedip-kedip dengan gencar pada pengetukan diatas pangkal

    hidungnya (tandaMyerson positif)

    Gejala non motorika. Disfungsi otonom

    Keringat berlebihan, air ludah berlebihan, gangguan sfingter terutamainkontinensia dan hipotensi ortostatik

    Kulit berminyak dan infeksi kulit seboroikPengeluaran urin yang banyakGangguan seksual yang berubah fungsi, ditandai dengan melemahnya

    hasrat seksual, perilaku, orgasme.

    b.Gangguan suasana hati, penderita sering mengalami depresic. Ganguan kognitif, menanggapi rangsangan lambatd.Gangguan tidur, penderita mengalami kesulitan tidur (insomnia)e. Gangguan sensasi

    kepekaan kontras visuil lemah, pemikiran mengenai ruang, pembedaanwarna

    penderita sering mengalami pingsan, umumnya disebabkan olehhypotension orthostatic, suatu kegagalan sistemsaraf otonom untuk

    melakukan penyesuaian tekanan darah sebagai jawaban atas perubahan

    posisi badan

    berkurangnya atau hilangnya kepekaan indra perasa bau (microsmia atauanosmia).

    D. PatofisiologiSecara umum dapat dikatakan bahwa penyakit Parkinson terjadi

    karena penurunan kadar dopamine akibat kematian neuron di substansia nigra

    pars compacta (SNc) sebesar 40-50% yang disertai dengan inklusi sitoplasmik

    eosinofilik (Lewy bodies) dengan penyebab multifaktor.

    Substansia nigra (sering disebut black substance), adalah suatu region

    kecil di otak (brain stem) yang terletak sedikit di atas medulla spinalis.Bagian

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    21/40

    ini menjadi pusat control/koordinasi dari seluruh pergerakan.Sel-selnya

    menghasilkan neurotransmitter yang disebut dopamine, yang berfungsi untuk

    mengatur seluruh gerakan otot dan keseimbangan tubuh yang dilakukan oleh

    sistem saraf pusat.Dopamine diperlukan untuk komunikasi elektrokimia

    antara sel-sel neuron di otak terutama dalam mengatur pergerakan,

    keseimbangan dan refleks postural, serta kelancaran komunikasi (bicara).

    Pada penyakit Parkinson sel-sel neuron di SNc mengalami degenerasi,

    sehingga produksi dopamine menurun dan akibatnya semua fungsi neuron di

    system saraf pusat (SSP) menurun dan menghasilkan kelambatan gerak

    (bradikinesia), kelambatan bicara dan berpikir (bradifrenia), tremor dan

    kekauan (rigiditas).

    Hipotesis terbaru proses patologi yang mendasari proses degenerasi neuron

    SNc adalah stress oksidatif. Stress oksidatif menyebabkan terbentuknya

    formasi oksiradikal, seperti dopamine quinon yang dapat bereaksi dengan alfa

    sinuklein (disebut protofibrils). Formasi ini menumpuk, tidak dapat di gradasi

    oleh ubiquitin-proteasomal pathway, sehingga menyebabkan kematian sel-sel

    SNc. Mekanisme patogenik lain yang perlu dipertimbangkan antara lain :

    Efek lain dari stres oksidatif adalah terjadinya reaksi antara oksiradikaldengan nitric-oxide (NO) yang menghasilkanperoxynitric-radical.

    Kerusakan mitokondria sebagai akibat penurunan produksi adenosintrifosfat (ATP) dan akumulasi elektron-elektron yang memperburuk stres

    oksidatif, akhirnya menghasilkan peningkatan apoptosis dan kematian

    sel.

    Perubahan akibat proses inflamasi di sel nigra, memproduksi sitokin yangmemicu apoptosis sel-sel SNc.

    E. Pathway

    2.4Diet untuk ParkinsonBeberapa nutrisi telah diuji dalam studi klinik untuk kemudian digunakan

    secara luas untuk mengobati pasien Parkinson. Sebagai contoh, L- Tyrosin yang

    merupakan suatu perkusor L-dopa menunjukkan efektifitas sekitar 70 % dalam

    mengurangi gejala penyakit ini. Zat besi (Fe), suatu kofaktor penting dalam

    biosintesis L-dopa mengurangi 10%- 60% gejala pada penelitian terhadap 110

    pasien.

    THFA, NADH, dan piridoxin yang merupakan koenzim dan perkusor

    koenzim dalam biosintesis dopamine menunjukkan efektifitas yang lebih rendah

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    22/40

    dibanding L-Tyrosin dan zat besi. Vitamin C dan vitamin E dosis tinggi secara

    teori dapat mengurangi kerusakan sel yang terjadi pada pasien Parkinson. Kedua

    vitamin tersebut diperlukan dalam aktifitas enzim superoxide dismutase dan

    katalase untuk menetralkan anion superoxide yang dapat merusak sel.

    Belum lama ini, Koenzim Q10 juga telah digunakan dengan cara kerja yang

    mirip dengan vitamin A dan E. MitoQ adalah suatu zat sintesis baru yang

    memiliki struktur dan fungsi mirip dengan koenzim Q10.

    Pada pasien Parkinson juga sangat baik mendapatkan asupan kalsium dan

    vitamin D untuk menambah kekuatan tulang.

    2.5Farmakologi untuk Parkinson1. Antikolinergik untuk mengurangi transmisi kolinergik yang berlebihan ketika

    kekurangan dopamin.

    2. Levodopa, merupakan prekursor dopamine, dikombinasi dengan karbidopa,inhibitor dekarboksilat, untuk membantu pengurangan L-dopa di dalam darah

    dan memperbaiki otak.

    3. Bromokiptin, agonis dopamine yang mengaktifkan respons dopamine didalam otak.

    4. Amantidin yang dapat meningkatkan pecahan dopamine di dalam otak.5. Menggunakan monoamine oksidase inhibitor seperti deprenil untuk menunda

    serangan ketidakmampuan dan kebutuhan terapi levodopa.

    2.6Penatalaksanaan medis Parkinson EEG (biasanya terjadi perlambatan yang progresif) CT Scan kepala (biasanya terjadi atropi kortikal difus, sulki melebar,

    hidrosefalua eks vakuo).

    2.7Askep Parkinson

    Tn. Beno (66 tahun) dirawat di rumah sakit dengan diagnosa medis Parkinson.

    Dari hasil pengkajian didapatkan data Tn Beno sering kaku otot dan gemetaran

    pada wajah, ekstremitas, sulit menelan, keluar air liur pada mulut, keseimbangan

    tubuh berkurang, biasa bangun tetapi sempoyongan. Tn. Beno mengeluh mual,

    sulit makan, sudah 3 hari belum BAB, mulut tampak kering. TTV : T =37 0 C, TD

    120/80 mmHg, RR 16x/menit. Tn.Beno mendapat terapi levodopa, benztropin,

    dulcolac supp, diit lunak.

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    23/40

    ANALISA DATA

    Data Problem Etiologi

    DS:

    -sering kaku otot ( Rigidity)

    - gemetaran pada wajah

    ekstremitas ( Tremor )

    -keseimbangan tubuh

    berkurang ( Akinisia )

    -bisa bangun tetapi

    sempoyongan

    DO :

    Kerusakan mobilitas fisik Kerusakan neuromuskular,

    penurunan kekuatan otot,

    control dan atau massa

    DS :

    - Tn. Beno mengeluhmual

    - Tn. Beno Mengeluhsulit makan

    - Tn. Beno Mengeluhmulut tampak kering

    DO : - makan sedikit

    Kerusakan menelan Kerusakan neuromuskular

    (penurunan atau tidak ada

    reflek menelan)

    DS :

    DO:

    - Keseimbangan tubuhberkurang, bisa bangun

    tetapi sempoyongan.

    Risiko cedera

    Diagnosa keperawatan

    1. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskular,Penurunan kekuatan otot, control dan atau massa ditandai dengan -sering kaku

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    24/40

    otot ( Rigidity), gemetaran pada wajah ekstremitas ( Tremor, keseimbangan

    tubuh berkurang ( Akinisia ) , bisa bangun tetapi sempoyongan

    2. Kerusakan menelan berhubungan dengan Kerusakan neuromuskular(penurunan atau tidak ada reflek menelan) ditandai dengan keluar air liur pada

    mulut, mual, sulit makan, mulut tampak kering, makan sedikit.

    3. Resiko jatuh berhubungan dengan usia > 65 th, kerusakan mobilitas fisik,kerusakan keseimbangan, hipotensi ortostatik, penurunan kekuatan

    ekstremitas bawah

    Tgl/jam NO

    .

    DP

    Tujuan dan

    kriteria hasil

    Intervensi Rasional

    10/12/1

    2

    12.00

    1 Kerusakan

    mobilitas

    fisik teratasi

    setelah

    dilakukan

    tindakan

    keperawatan

    selama 6x 24

    jam dengan

    kriteria hasil:

    - tidak kaku

    otot (

    Rigidity)

    - tidak

    gemetaran

    pada wajah

    -(ekstremitas

    tidak Tremor

    )

    -

    keseimbanga

    n tubuh tidak

    berkurang

    -bisa bangun

    1. bantupemenuhan

    ADL klien

    2. beri terapimodalitas

    3. bantu danajarkan terapi

    ambulasi

    dengan

    menggunakan

    alat bantu

    4. kolaborasidengan ahli

    fisioterapi

    latihan rom

    aktif / pasif

    1. dgn membantupemenuhan ADL, klien

    dpat terpenuhi keb

    sehari-hari

    2. terapi modalitasmencegah kontraktur

    3. dengan membantu terapiambulasi memperbaiki

    status muskoskeletal

    klien

    4. dengan melatih romaktif / pasif dapat

    mencegah kekakuan

    lanjut dan melatih

    keseimbangan antara

    kontraksi dan relaksasi

    5. dengan pemberian obatlevodopa untuk

    mngurangi regiditas,

    akinesia dan benztropin

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    25/40

    tidak

    sempoyongan

    5. kolaborasipemberian obat

    levodopa dan

    benztropin

    6. kolaborasitindakan

    pembedahan

    stereotaktik

    Digunakan untuk

    menyekat impuls saraf

    yang di stimulasi oleh

    asetilkolin

    6. mengurangi gejala

    parkinson yang

    berkelanjutan

    Kerusakan

    menelan

    teratasi

    setelah

    dilakukan

    tindakankeperawatan

    selama 6x 24

    jam dengan

    kriteria hasil :

    - tidakdrolling

    1. bantu latihanmenelan

    2. anjurkanmakanan hangat

    sedikit tapisering

    3. kolaborasidengan ahli gizi

    tentang

    pemberian

    makan diit

    1. dengan membantu latihan

    menelan dapat melatih

    stimulus menelan klien

    2. dengan menganjurkan

    makan sedikit tapi sering

    dapat memenuhi kebutuhan

    nutrisi

    3. dengan pemberian makan

    diit lunak dapat

    memudahkan proses

    menelan

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    26/40

    - muluttampak

    lembab

    - tidaksulit

    menelan

    - tidakmual

    - porsimakan

    cukup

    lunak

    4. Kolaborasipemasangan

    NGT bila perlu

    5. Kolaborasidokter dalam

    pemberian

    obat anti

    emetik

    4. pemasangan NGTdilakukan untuk

    memenuhi

    kebutuhan nutrisi

    klien melalui

    selang.

    5. Klien mengeluhmual sehingga

    perlu diberikan

    obat anti mual

    sebelum makan

    untuk

    mengurangi

    frekuensi mual

    klien

    Tidak terjadi

    cedera setelah

    dilakukan

    tindakkan

    keperawatan

    selama 3x24

    jam dengan

    criteria hasil:

    Keseimbanga

    n tubuh

    berkurang,

    bisa bangun

    tetapi

    sempoyongan

    dapat

    dipertahanka

    n

    1. Dekatkanbarang-barang

    yang diperlukan

    klien sehingga

    berada pada

    jangkauan klien

    2. Pasang Bedtrain

    3. Tempatkanklien diruangan

    dengan kadar

    cahaya cukup

    dan berikan

    hiburan seperti

    menonton tv

    atau mendengar

    music

    1. Jangkauan klien yangterbatas memerlukan

    perhatian khusus dengan

    mendekatkan barang

    yang klien perlukan

    2. Pemasangan bedtraindifungsikan untuk

    menjaga klien tetap pada

    posisinya di atas tilam

    3. Kadar cahaya yangcukup dan menonton tv

    membuat klien merasa

    lebih terhibur

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    27/40

    4. Bantu semuaADL klien

    4. Klien mengalamikeseimbangan tubuh

    yang kurang

    2.8Keterampilan memberikan pendidikan kesehatan tentang ParkinsonKeluarga diberikan penkes tentang perawatan pasien dengan masalah parkinson,

    diantara yaitu :

    Penjelasan tentang pengertian, penyebab, pengobatan dan terapi penderitaparkinson termasuk gangguan fungsi tubuh dari pasien, oleh karena itu perlu

    control dan berobat secara teratur dan lanjut.

    Mengajarkan bagaimana cara pemenuhan nutrisi dan cairan selama dirawatdan dirumah nantinya

    Mengajarkan pada keluarga dan melibatkan keluarga dalam pemenuhankebutuhan sehari-hari pasien

    Mengajarkan melatih mobilisasi fisik secara bertahap dan terencana agar tidakterjadi cidera pada neuromuskuler

    Mempersiapkan keluarga untuk perawatan pasien dirumah bila saatnyapulang, kapan harus istirahat, aktifitas dan kontrol selama kondisi masih

    belum optimal terhadap dampak dari penyakin parkinson pasien.

    2.9Keterampilan memberikan terapi modalitasMacam-macam Terapi Lansia

    Pengertian

    Terapi modalitas adalah Kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang bagi

    lansia.

    Tujuan

    a. Mengisi waktu luang bagi lansia

    b. Meningkatkan kesehatan lansia

    c. Meningkatkan produktifitas lansia

    d. Meningkatkan interaksi sosial antar lansia

    Jenis Kegiatan :

    - Psikodrama

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    28/40

    Bertujuan untuk mengekspresikan perasaan lansia. Tema dapat dipilih sesuai

    dengan masalah lansia.

    - Terapi MusikBertujuan untuk mengibur para lansia seningga meningkatkan gairah hidup dan

    dapat mengenang masa lalu. Misalnya : lagu-lagu kroncong, musik dengan

    gamelan

    - Terapi OkupasiBertujuan untuk memanfaatkan waktu luang dan meningkatkan produktivitas

    dengan membuat atau menghasilkan karya dari bahan yang telah disediakan.

    Misalnya : membuat kipas, membuat keset, membuat sulak dari tali rafia,

    membuat bunga dari bahan yang mudah di dapat (pelepah pisang, sedotan, botol

    bekas, biji-bijian, dll), menjahit dari kain, merajut dari benang, kerja bakti

    (merapikan kamar, lemari, membersihkan lingkungan sekitar, menjemur kasur,

    dll)

    - Terapi KeluargaTerapi keluarga adalah terapi yang diberikan kepada seluruh anggota keluarga

    sebagai unit penanganan (treatment unit). Tujuan terapi keluarga adalah agar

    keluarga mampu melaksanakan fungsinya. Untuk itu sasaran utama terapi jenis ini

    adalah keluarga yang mengalami disfungsi; tidak bisa melaksanakan fungsi-

    fungsi yang dituntut oleh anggotanya.

    Dalam terapi keluarga semua masalah keluarga yang dirasakan diidentifikasi dan

    kontribusi dari masing-masing anggota keluarga terhadap munculnya masalah

    tersebut digali. Dengan demikian terlebih dahulu masing-masing anggota

    keluarga mawas diri; apa masalah yang terjadi di keluarga, apa kontribusi masing-

    masing terhadap timbulnya masalah, untuk kemudian mencari solusi untuk

    mempertahankan keutuhan keluarga dan meningkatkan atau mengembalikan

    fungsi keluarga seperti yang seharusnya.

    Proses terapi keluarga meliputi tiga tahapan yaitu fase 1 (perjanjian), fase 2

    (kerja), dan fase 3 (terminasi). Di fase pertama perawat dan klien

    mengembangkan hubungan saling percaya, isu-isu keluarga diidentifikasi, dan

    tujuan terapi ditetapkan bersama. Kegiatan di fase kedua atau fase kerja adalah

    keluarga dengan dibantu oleh perawat sebagai terapis berusaha mengubah pola

    interaksi di antara anggota keluarga, meningkatkan kompetensi masing-masing

    individual anggota keluarga, eksplorasi batasan-batasan dalam keluarga,

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    29/40

    peraturan-peraturan yang selama ini ada. Terapi keluarga diakhiri di fase

    terminasi di mana keluarga akan melihat lagi proses yang selama ini dijalani

    untuk mencapai tujuan terapi, dan cara-cara mengatasi isu yang timbul. Keluarga

    juga diharapkan dapat mempertahankan perawatan yang berkesinambungan.

    2.10 Keterampilan melakukan pemenuhan ADLIndeks Katz dalam aktivitas sehari-hari (ADL) merupakan alat yang digunakan

    untuk menentukan hasil tindakan dan prognosis pada lanjut usia. Indeks Kartz

    meliputi keadekuatan pelaksanaan dalam enam fungsi seperti mandi, berpakaian,

    toileting, berpindah, kontinen, dan makan (Kart, 1963).

    Pengukuran pada kondisi ini meliputi Indeks Katz

    1 Mandi Dapat

    mengerjakan

    sendiri

    Sebagaian/pada bagian

    tertentu dibantu

    Sebagian besar/

    seluruhnya dibantu

    2 Berpakaian Seluruhnya tanpa

    bantuan

    Sebagian/ pada bagian

    tertentu dibantu

    Seluruhnya dengan

    bantuan

    3 Pergi ke

    toilet

    Dapat

    mengerjakan

    sendiri

    Memerlukan bantuan Tidak dapat pergi

    ke WC

    4 Berpindah

    (berjalan)

    Tanpa bantuan Dengan bantuan Tidak dapat

    melakukan

    5 BAB dan

    BAK

    Dapat mengontrol Kadang-kadang ngompol /

    defekasi di tempat tidur

    Dibantu seluruhnya

    6 Makan Tanpa bantuan Dapat makan sendiri kecualihal-hal tertentu

    Seluruhnya dibantu

    Klasifikasi:

    A : Mandiri, untuk 6 fungsi

    B : Mandiri, untuk 5 fungsi

    C : Mandiri, kecuali untuk mandi dan 1 fungsi lain.

    D : Mandiri, kecuali untuk mandi, bepakaian dan 1 fungsi lain

    E : Mandiri, kecuali untuk mandi, bepakaian, pergi ke toilet dan 1 fungsi lain

    F : Mandiri, kecuali untuk mandi, bepakaian, pergi ke toilet dan 1 fungsi lain

    G : Tergantung untuk 6 fungsi.

    Keterangan:

    Mandiri: berarti tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan aktif dari orang

    lain. Seseorang yang menolak melakukan suatu fungsi dianggap tidak melakukan

    fungsi, meskipun dianggap mampu.

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    30/40

    2.11 Keterampilan melakukan PF system persyarafanPersiapan Alat Pemeriksaan Fisik Persyarafan

    1. Refleks hammer2. Garputala3. Kapas dan lidi4. Penlight atau senter kecil5. Opthalmoskop6. Jarum steril7. Spatel tongue8. 2 tabung berisi air hangat dan air dingin9. Objek yang dapat disentuh seperti peniti atau uang receh10.Bahan-bahan beraroma tajam seperti kopi, vanilla atau parfum11.Bahan-bahan yang berasa asin, manis atau asam seperti garam, gula,

    atau cuka

    12.Baju periksa13.Sarung tangan

    Untuk Pemeriksa

    Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan, sesuaikan urutan

    pemeriksaan dengan keadaan umum klien, mulailah pemeriksaan fisik

    sejak awal kontak dengan klien dan gunakan general precaution, metode

    yang digunakan cepalo kadral atau distal ke proksimal.

    Prosedur Pemeriksaan Fisik Persyarafan

    Atur posisi klien, mintalah klien untuk duduk disisi tempat tidur.

    Amati cara berpakaian klien, postur tubuh klien, ekspresi wajah dan

    kemampuan bicara, intonasi, keras lembut, pemilihan kata dan

    kemudahan berespon terhadap pertanyaan. Nilai kesadara dengan

    menggunakan patokan Glasgow Coma Scale (GCS).Tanyakan waktu,

    tanggal, tempat dan alasan berkunjung, kaji kemampuan klien dalam

    berhitung dan mulailah dengan perhitungan yang sederhana.Kaji

    kemampuan klien untuk berfikir abstrak.

    Saraf Kranial

    1. Fungsi saraf kranial I (N Olvaktorius)Pastikan rongga hidung tidak tersumbat oleh apapun dan cukup

    bersih.Lakukan pemeriksaan dengan menutup sebelah lubang hidung

    klien dan dekatkan bau-bauan seperti kopi dengan mata tertutup klien

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    31/40

    diminta menebak bau tersebut.Lakukan untuk lubang hidung yang

    satunya.

    2. Fungsi saraf kranial II (N. Optikus)a. Catat kelainan pada mata seperti katarak dan infeksi sebelum

    pemeriksaan. Periksa ketajaman dengan membaca, perhatikan

    jarak baca atau menggunakan snellenchart untuk jarak jauh.

    b. Periksa lapang pandang: Klien berhadapan dengan pemeriksa 60-100 cm, minta untuk menutup sebelah mata dan pemeriksa juga

    menutup sebelah mata dengan mata yang berlawanan dengan

    mata klien. Gunakan benda yang berasal dari arah luar klien dank

    lien diminta , mengucapkan ya bila pertama melihat benda

    tersebut. Ulangi pemeriksaan yang sama dengan mata yang

    sebelahnya. Ukur berapa derajat kemampuan klien saat pertama

    kali melihat objek. Gunakan opthalmoskop untuk melihat fundus

    dan optic disk (warna dan bentuk)

    3. Fungsi saraf kranial III, IV, VI (N. Okulomotoris, Troklear danAbdusen)

    a. Pada mata diobservasi apakah ada odema palpebra, hiperemikonjungtiva, dan ptosis kelopak mata

    b. Pada pupil diperiksa reaksi terhadap cahaya, ukuran pupil, danadanya perdarahan pupil

    c. Pada gerakan bola mata diperiksa enam lapang pandang (enamposisi cardinal) yaitu lateral, lateral ke atas, medial atas, medial

    bawah lateral bawah. Minta klien mengikuti arah telunjuk

    pemeriksa dengan bolamatanya

    4. Fungsi saraf kranial V (N. Trigeminus)a. Fungsi sensorik diperiksa dengan menyentuh kilit wajah daerah

    maxilla, mandibula dan frontal dengan mengguanakan kapas.

    Minta klien mengucapkan ya bila merasakan sentuhan, lakukan

    kanan dan kiri.

    b. Dengan menggunakan sensori nyeri menggunakan ujung jarumatau peniti di ketiga area wajah tadi dan minta membedakan

    benda tajam dan tumpul.

    c. Dengan mengguanakan suhu panas dan dingin juag dapatdilakukan diketiga area wajah tersebut. Minta klien

    menyebabkanutkan area mana yang merasakan sentuhan. Jangan

    lupa mata klien ditutup sebelum pemeriksaan.

    d. Dengan rasa getar dapat pukla dilakukan dengan menggunakangarputala yang digetarkan dan disentuhkan ke ketiga daerah

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    32/40

    wajah tadi dan minta klien mengatakan getaran tersebut terasa

    atau tidak

    e. Pemerikasaan corneal dapat dilakukan dengan meminta klienmelihat lurus ke depan, dekatkan gulungan kapas kecil dari

    samping kea rah mata dan lihat refleks menutup mata.

    f. Pemeriksaan motorik dengan mengatupkan rahang danmerapatkan gigi periksa otot maseter dan temporalis kiri dan

    kanan periksa kekuatan ototnya, minta klien melakukan gerakan

    mengunyah dan lihat kesimetrisan gerakan mandibula.

    5. Fungsi saraf kranial VII (N. Fasialis)a. Fungsi sensorik dengan mencelupkan lidi kapas ke air garam dan

    sentuhkan ke ujung lidah, minta klien mengidentifikasi rasa

    ulangi untuk gula dan asam

    b. Fungsi motorik dengan meminta klien tersenyum, bersiul,mengangkat kedua al;is berbarengan, menggembungkan pipi.

    Lihat kesimetrisan kanan dan kiri. Periksa kekuatan otot bagian

    atas dan bawah, minta klien memejampan mata kuat-kuat dan

    coba untuk membukanya, minta pula klien utnuk

    menggembungkan pipi dan tekan dengan kedua jari.

    6. Fungsi saraf kranial VIII (N. Vestibulokoklear)a. cabang vestibulo dengan menggunakan test pendengaran

    mengguanakan weber test dan rhinne test

    b. Cabang choclear dengan rombreng test dengan cara memintaklien berdiri tegak, kedua kaki rapat, kedua lengan disisi tubuh,

    lalu observasi adanya ayunan tubuh, minta klien menutup mata

    tanpa mengubah posisi, lihat apakah klien dapat mempertahankan

    posisi

    7. Fungsi saraf kranial IX dan X (N. Glosovaringeus dan Vagus)a. Minta klien mengucapkan aa lihat gerakan ovula dan palatum,

    normal bila uvula terletak di tengan dan palatum sedikit terangkat.

    b. Periksa gag refleks dengan menyentuh bagian dinding belakangfaring menggunakan aplikator dan observasi gerakan faring.

    c. Periksa aktifitas motorik faring dengan meminta klien menel;anair sedikit, observasi gerakan meelan dan kesulitan menelan.

    Periksa getaran pita suara saat klien berbicara.

    8. Fungsi saraf kranial XI(N. Asesoris)a. Periksa fungsi trapezius dengan meminta klien menggerakkan

    kedua bahu secara bersamaan dan observasi kesimetrisan

    gerakan.

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    33/40

    b. Periksa fungsi otot sternocleidomastoideus dengan memintaklien menoleh ke kanan dan ke kiri, minta klien mendekatkan

    telinga ke bahu kanan dan kiri bergantian tanpa mengangkat

    bahu lalu observasi rentang pergerakan sendi

    c. Periksa kekuatanotottrapezius dengan menahan kedua bahu kliendengan kedua telapak tangan danminta klien mendorong telapak

    tangan pemeriksa sekuat-kuatnya ke atas, perhatikan kekuatan

    daya dorong.

    d. Periksa kekuatan otot sternocleidomastoideus dengan memintaklien untuk menoleh kesatu sisi melawan tahanan telapak tangan

    pemeriksa, perhatikan kekuatan daya dorong

    9. Fungsi saraf kranial XII (N. Hipoglosus)a. Periksa pergerakan lidah, menggerakkan lidah kekiri dan ke

    kanan, observasi kesimetrisan gerakan lidah

    b. Periksa kekuatan lidah dengan meminta klien mendorong salahsatu pipi dengan ujung lidah, dorong bagian luar pipi dengan

    ujung lidah, dorong kedua pipi dengan kedua jari, observasi

    kekuatan lidah, ulangi pemeriksaan sisi yang lain

    Fungsi Motorik

    Sistem motorik sangat kompleks, berasal dari daerah motorik di

    corteks cerebri, impuls berjalan ke kapsula interna, bersilangan di batang

    traktus pyramidal medulla spinalis dan bersinaps dengan lower motor

    neuron.

    Pemeriksaan motorik dilakukan dengan cara observasi dan

    pemeriksaan kekuatan.

    1. Massa otot : hypertropi, normal dan atropi2. Tonus otot : Dapat dikaji dengan jalan menggerakkan anggota gerak

    pada berbagai persendian secara pasif. Bila tangan / tungkai klien

    ditekuk secara berganti-ganti dan berulang dapat dirasakan oleh

    pemeriksa suatu tenaga yang agak menahan pergerakan pasif

    sehingga tenaga itu mencerminkan tonus otot.

    a. Bila tenaga itu terasa jelas maka tonus otot adalah tinggi.Keadaan otot disebut kaku. Bila kekuatan otot klien tidak dapat

    berubah, melainkan tetap sama. Pada tiap gerakan pasif

    dinamakan kekuatan spastis. Suatu kondisi dimana kekuatan otot

    tidak tetap tapi bergelombang dalam melakukan fleksi dan

    ekstensi extremitas klien.

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    34/40

    b. Sementara penderita dalam keadaan rileks, lakukan test untukmenguji tahanan terhadap fleksi pasif sendi siku, sendi lutut dan

    sendi pergelangan tangan.

    c. Normal, terhadap tahanan pasif yang ringan / minimal dan halus.3. Kekuatan otot :

    Aturlah posisi klien agar tercapai fungsi optimal yang diuji.Klien

    secara aktif menahan tenaga yang ditemukan oleh sipemeriksa.Otot

    yang diuji biasanya dapat dilihat dan diraba. Gunakan penentuan

    singkat kekuatan otot dengan skala Lovetts (memiliki nilai 0 5)

    0 = tidak ada kontraksi sama sekali.

    1 = gerakan kontraksi.

    2 = kemampuan untuk bergerak, tetapi tidak kuat kalau

    melawan tahanan atau gravitasi.

    3 = cukup kuat untuk mengatasi gravitasi.

    4 = cukup kuat tetapi bukan kekuatan penuh.

    5 = kekuatan kontraksi yang penuh.

    Fungsi Sensorik

    Pemeriksaan sensorik adalah pemeriksaan yang paling sulit

    diantara pemeriksaan sistem persarafan yang lain, karena sangat

    subyektif sekali. Oleh sebab itu sebaiknya dilakukan paling akhir dan

    perlu diulang pada kesempatan yang lain (tetapi ada yang menganjurkan

    dilakukan pada permulaan pemeriksaan karena pasien belum lelah dan

    masih bisa konsentrasi dengan baik).

    Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengevaluasi respon klien

    terhadap beberapa stimulus.Pemeriksaan harus selalu menanyakan

    kepada klien jenis stimulus.

    Gejala paresthesia (keluhan sensorik) oleh klien digambarkan

    sebagai perasaan geli (tingling), mati rasa (numbless), rasa terbakar/panas

    (burning), rasa dingin (coldness) atau perasaan-perasaan abnormal yang

    lain. Bahkan tidak jarang keluhan motorik (kelemahan otot, twitching /

    kedutan, miotonia, cramp dan sebagainya) disajikan oleh klien sebagai

    keluhan sensorik. Bahan yang dipakai untuk pemeriksaan sensorik

    meliputi:

    1. Jarum yang ujungnya tajam dan tumpul (jarum bundel atau jarumpada perlengkapan refleks hammer), untuk rasa nyeri superfisial.

    2. Kapas untuk rasa raba.3. Botol berisi air hangat / panas dan air dingin, untuk rasa suhu.4. Garpu tala, untuk rasa getar.

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    35/40

    5. Lain-lain (untuk pemeriksaan fungsi sensorik diskriminatif) seperti:

    a. Jangka, untuk 2 (two) point tactile dyscrimination.b. Benda-benda berbentuk (kunci, uang logam, botol, dan

    sebagainya), untuk pemeriksaan stereognosis

    c. Pen / pensil, untuk graphesthesia.Fungsi Refleks

    Pemeriksaan aktifitas refleks dengan ketukan pada tendon

    menggunakan refleks hammer. Skala untuk peringkat refleks yaitu :

    0 = tidak ada respon

    1 = hypoactive / penurunan respon, kelemahan (+)

    2 = normal (++)

    3 = lebih cepat dari rata-rata, tidak perlu dianggapabnormal (+++)

    4 = hyperaktif, dengan klonus (++++)

    Refleks-refleks yang diperiksa adalah :

    1. Refleks patellaPasien berbaring terlentang, lutut diangkat ke atas sampai fleksi

    kurang lebih 300. Tendon patella (ditengah-tengah patella dan

    tuberositas tibiae) dipukul dengan refleks hammer. Respon berupa

    kontraksi otot quadriceps femoris yaitu ekstensi dari lutut.

    2. Refleks bicepsLengan difleksikan terhadap siku dengan sudut 900 ,supinasi dan

    lengan bawah ditopang pada alas tertentu (meja periksa). Jari

    pemeriksa ditempatkan pada tendon m. biceps (diatas lipatan siku),

    kemudian dipukul dengan refleks hammer.

    Normal jika timbul kontraksi otot biceps, sedikit meningkat bila

    terjadi fleksi sebagian dan gerakan pronasi. Bila hyperaktif maka

    akan terjadi penyebaran gerakan fleksi pada lengan dan jari-jari atau

    sendi bahu.

    3. Refleks tricepsLengan ditopang dan difleksikan pada sudut 900 ,tendon triceps

    diketok dengan refleks hammer (tendon triceps berada pada jarak 1-

    2 cm diatas olekranon).

    Respon yang normal adalah kontraksi otot triceps, sedikit meningkat

    bila ekstensi ringan dan hyperaktif bila ekstensi siku tersebut

    menyebabkanar keatas sampai otot-otot bahu atau mungkin ada

    klonus yang sementara.

    4. Refleks achilles

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    36/40

    Posisi kaki adalah dorsofleksi, untuk memudahkan pemeriksaan

    refleks ini kaki yang diperiksa bisa diletakkan / disilangkan diatas

    tungkai bawah kontralateral.

    Tendon achilles dipukul dengan refleks hammer, respon normal

    berupa gerakan plantar fleksi kaki.

    5. Refleks abdominalDilakukan dengan menggores abdomen diatas dan dibawah

    umbilikus. Kalau digores seperti itu, umbilikus akan bergerak keatas

    dan kearah daerah yang digores.

    6. Refleks BabinskiMerupakan refleks yang paling penting .Ia hanya dijumpai pada

    penyakit traktus kortikospinal. Untuk melakukan test ini, goreslah

    kuat-kuat bagian lateral telapak kaki dari tumit kearah jari

    kelingking dan kemudian melintasi bagian jantung kaki. Respon

    Babinski timbul jika ibu jari kaki melakukan dorsifleksi dan jari-jari

    lainnya tersebar.Respon yang normal adalah fleksi plantar semua jari

    kaki.

    Pemeriksaan khusus sistem persarafan, untuk mengetahui

    rangsangan selaput otak (misalnya pada meningitis) dilakukan

    pemeriksaan :

    1. Kaku kudukBila leher ditekuk secara pasif terdapat tahanan, sehingga dagu tidak

    dapat menempel pada dada, kaku kuduk positif (+).

    2. Tanda Brudzinski ILetakkan satu tangan pemeriksa dibawah kepala klien dan tangan

    lain didada klien untuk mencegah badan tidak terangkat. Kemudian

    kepala klien difleksikan kedada secara pasif. Brudzinski I positif (+)

    bila kedua tungkai bawah akan fleksi pada sendi panggul dan sendi

    lutut.

    3. Tanda Brudzinski IITanda Brudzinski II positif (+) bila fleksi tungkai klien pada sendi

    panggul secara pasif akan diikuti oleh fleksi tungkai lainnya pada

    sendi panggul dan lutut.

    4. Tanda KernigFleksi tungkai atas tegak lurus, lalu dicoba meluruskan tungkai

    bawah pada sendi lutut.Normal, bila tungkai bawah membentuk

    sudut 1350 terhadap tungkai atas.

    Kernig (+) bila ekstensi lutut pasif akanmenyebabkan rasa sakit

    terhadap hambatan.

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    37/40

    5. Test LasequeFleksi sendi paha dengan sendi lutut yang lurus akan menimbulkan

    nyeri sepanjang m. ischiadicus.

    Mengkaji abnormal postur dengan mengobservasi :

    1. Decorticate posturing, terjadi jika ada lesi pada traktuscorticospinal.

    Nampak kedua lengan atas menutup kesamping, kedua siku, kedua

    pergelangan tangan dan jari fleksi, kedua kaki ekstensi dengan

    memutar kedalam dan kaki plantar fleksi.

    2. Decerebrate posturing, terjadi jika ada lesi pada midbrain, pons ataudiencephalon.

    Leher ekstensi, dengan rahang mengepal, kedua lengan pronasi,

    ekstensi dan menutup kesamping, kedua kaki lurus keluar dan kaki

    plantar fleksi.

    2.12 Keterampilan memberikan penkes ke keluarga tentang perawatanpasien persyarafan selama di rumah (cara berjalan dengan tripot dan

    walker)

    Walker

    1. Pengertian.

    Wallker yaitu alat digunakan untuk menyangga membantu pasien berjalan,

    bisaberbentuk kotak, tripod, dll, sesuai dengan permintaan pelanggan

    2. Tujuan

    a. Memperbaiki keseimbangan dengan meningkatkan titik tumpu pasien,

    b. Memperkaya stabilitas lateral, dan

    c. Menopang berat badan pasien.

    3. Indikasi

    a. Pasien dengan kelemahan kaki

    b. Post stroke.

    c. Obesitas

    d. Parkinson

    4. Kontra Indikasi

    a. Penderita dalam keadaan bedrest.

    b. Penderita dengan post op.

    5. Persiapan Pasien

    a. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan

    b. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin

    c. Menyiapkan lingkungan

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    38/40

    6. Persiapan Alat

    a. Alat bantu jalan ( Walker )

    7. Prosedur Kerja

    a. Kaji toleransi aktivitas, kekuatan, nyeri, kemampuan fungsional,

    cedera dan penyakitnya

    b. Memeriksa lingkungan untuk memastikan tidak ada rintangan di jalan

    pasien

    c. Menentukan tempat istirahat klien setelah latihan

    d. Meminta klien berdiri dengan posisi tripod, sebelum walker dijalankan

    e. Atu kesejajaran kaki dan tubuh pasien

    f. Klien memposisikan walker pertama kali lalu memposisikan kaki

    yangberlawanan

    g. Klien mengulangi cara ini dengan kaki yang lainnya

    h. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

    i.

    Catat tindakan dan respons pasienHalhal yang perlu di perhatikan :

    jangan di gunakan pada lantai licin

    jangan digunakan pada karpet lepas

    jangan digunakan pada saat naik dan turun tangga

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    39/40

    BAB III

    PENUTUP

    3.1 Kesimpulan

    Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif yang bersifat kronis

    progresif, merupakan suatu penyakit/sindrom karena gangguan pada ganglia basalis

    akibat penurunan atau tidak adanya pengiriman dopamine dari substansia nigra ke

    globus palidus/ neostriatum (striatal dopamine deficiency).Di Amerika Serikat, ada

    sekitar 500.000 penderita parkinson. Di Indonesia sendiri, dengan jumlah penduduk

    210 juta orang, diperkirakan ada sekitar 200.000-400.000 penderita

    Penyakit Parkinson merupakan penyakit kronis yang membutuhkan

    penanganan secara holistik meliputi berbagai bidang. Pada saat ini tidak ada terapi

    untuk menyembuhkan penyakit ini, tetapi pengobatan dan operasi dapat mengatasi

    gejala yang timbul . Obat-obatan yang ada sekarang hanya menekan gejala-gejala

    parkinson, sedangkan perjalanan penyakit itu belum bisa dihentikan sampai saat ini.

    Sekali terkena parkinson, maka penyakit ini akan menemani sepanjang hidupnya.

    Tanpa perawatan, gangguan yang terjadi mengalami progress hingga terjadi

    total disabilitas, sering disertai dengan ketidakmampuan fungsi otak general, dan

    dapat menyebabkan kematian.Dengan perawatan, gangguan pada setiap pasien

    berbeda-berbeda.Kebanyakan pasien berespon terhadap medikasi.Perluasan gejala

    berkurang, dan lamanya gejala terkontrol sangat bervariasi.Efek samping pengobatan

    terkadang dapat sangat parah.

    3.2 Saran

  • 7/30/2019 askep pada lansia

    40/40

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Sjahrir H, Nasution D, Gofir A. Parkinsons Disease & Other MovementDisorders. Pustaka Cedekia dan Departemen Neurologi FK USU Medan. 2007.

    Hal 4-53.

    2. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I. Penyakit Parkinson. Buku Ajar Ilmu PenyakitDalam Jilid III. FKUI. 2007. Hal 1373-1377.

    3. Price SA, Wilson LM, Hartwig MS. Gangguan Neurologis dengan SimtomatologiGeneralisata. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Vol 2. Penerbit

    Buku Kedokteran EGC. 2006. Hal 1139-1144.

    4. Harsono. Penyakit Parkinson. Buku Ajar Neurologis Klinis. Perhimpunan DokterSpesialis Saraf Indonesia dan UGM. 2008. Hal 233-243.

    5. Duus Peter. Diagnosis Topik Neurologi Anatomi, Fisiologi, Tanda dan GejalaEdisi II. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1996. Hal 231-243.