23
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Penyakit infeksi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan yang utama. Salah satu penyakit tersebut adalah infeksi susunan saraf pusat. Penyebab infeksi susunan saraf pusat adalah virus, bakteri atau mikroorganisme lain. Meningitis merupakan penyakit infeksi dengan angka kematian berkisar antara 18-40% dan angka kecacatan 30-50%. Bakteri penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia, dengan angka kejadian penyakit yang bervariasi. Di Indonesia, dilaporkan bahwa Haemophilus influenzae tipe B ditemukan pada 33% diantara kasus meningitis. Pada penelitian lanjutan, didapatkan 38% penyebab meningitis pada anak kurang dari 5 tahun. Di Australia pada tahun 1995 meningitis yang disebabkan Neisseria meningitidis 2,1 kasus per 100.000 populasi, dengan puncaknya pada usia 0 – 4 tahun dan 15 – 19 tahun . Sedangkan kasus meningitis yang disebabkan Steptococcus pneumoniae angka kejadian pertahun 10 – 100 per 100.000 populasi pada anak kurang dari 2 tahun dan diperkirakan ada 3000 kasus per tahun untuk seluruh kelompok usia, dengan angka kematian pada anak sebesar 15%, retardasi mental 17%, kejang 14% dan gangguan pendengaran 28%. 1

Askep Meningitis 2013

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Askep Meningitis 2013

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Penyakit infeksi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan

yang utama. Salah satu penyakit tersebut adalah infeksi susunan saraf pusat.

Penyebab infeksi susunan saraf pusat adalah virus, bakteri atau

mikroorganisme lain. Meningitis merupakan penyakit infeksi dengan angka

kematian berkisar antara 18-40% dan angka kecacatan 30-50%.

Bakteri penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia, dengan

angka kejadian penyakit yang bervariasi. Di Indonesia, dilaporkan bahwa

Haemophilus influenzae tipe B ditemukan pada 33% diantara kasus

meningitis. Pada penelitian lanjutan, didapatkan 38% penyebab meningitis

pada anak kurang dari 5 tahun. Di Australia pada tahun 1995 meningitis

yang disebabkan Neisseria meningitidis 2,1 kasus per 100.000 populasi,

dengan puncaknya pada usia 0 – 4 tahun dan 15 – 19 tahun . Sedangkan

kasus meningitis yang disebabkan Steptococcus pneumoniae angka

kejadian pertahun 10 – 100 per 100.000 populasi pada anak kurang dari 2

tahun dan diperkirakan ada 3000 kasus per tahun untuk seluruh kelompok

usia, dengan angka kematian pada anak sebesar 15%, retardasi mental 17%,

kejang 14% dan gangguan pendengaran 28%.

Begitu banyaknya kasus meningitis dan besarnya insidensi

kejadiannya baik di Indonesia maupun di luar negeri patut mendapat

perhatian khusus bagi tenaga medis untuk menanggulangi masalah ini.

Untuk itu wawasan dan pemahaman yang lebih dalam sangat perlu. Karena

hal itulah penyusun membuat makalah ini semoga sedkit banyak bisa

menambah wawasan pembaca sekalian.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan Meningitis?

1.3 TUJUAN

Dengan dibuatnya makalah asuhan keperawatan pada klien dengan

meningitis ini, diharapkan pembaca sekalian dapat memahami dan

membuat asuhan keperawatan pada klien dengan meningitis.

1

Page 2: Askep Meningitis 2013

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Meningitis

Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang

mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri

atau organ-organ jamur (Smeltzer, 2001).

Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya

ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok,

Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus)

(Long, 1996).

Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang

mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri

atau organ-organ jamur. (Suzanne, Brenda.2002:2175).

Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan

cerebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada

sistem saraf.(Wong, 2004:574).

2.2 Etiologi

1) Bakteri; Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae

(pneumokok),

2) Neiserria meningitidis (meningokokus), Streptococcus pneumoniae

(pada dewasa ), Staphylococcus aureus,

3) Haemophilus influenzae (pada anak-anak dan dewasa muda)

Escherichia coli, Listeria monocytogenes dan Peudomonas aeruginosa

4) Virus (gondok, herpes simpleks, dan herpes zooster), Toxoplasma

gondhii dan Ricketsia.

5) Faktor predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandingkan

dengan wanita

6) Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu

terakhir

kehamilan

7) Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi

imunoglobulin.

8) Persyarafan

2

Page 3: Askep Meningitis 2013

Faktor resiko terjadinya meningitis :

a. Infeksi sistemik

Didapat dari infeksi di organ tubuh lain yang akhirnya menyebar

secara hematogen sampai ke selaput otak, misalnya otitis media kronis,

mastoiditis, pneumonia, TBC, perikarditis, dll. Pada meningitis bacterial,

infeksi yang disebabkan olh bakteri terdiri atas faktor pencetus sebagai

berikut diantaranya adalah :

1) Otitis media

2) Pneumonia

3) Sinusitis

4) Sickle cell anemia

5) Fraktur cranial, trauma otak

6) Operasi spinal

7) Meningitis bakteri juga bisa disebabkan oleh adanya penurunan system

kekebalan tubuh seperti AIDS.

b. Trauma kepala

Bisanya terjadi pada trauma kepala terbuka atau pada fraktur basis

cranii yang memungkinkan terpaparnya CSF dengan lingkungan luar

melalui othorrhea dan rhinorhea

c. Kelainan anatomis

Terjadi pada pasien seperti post operasi di daerah mastoid, saluran

telinga tengah, operasi cranium

1. Terjadinya peningkatan TIK pada meningitis, mekanismenya adalah

sebagai berikut:

a) Agen penyebab → reaksi local pada meninges → inflamasi

meninges → pe ↑ permiabilitas kapiler → kebocoran cairan dari

intravaskuler ke interstisial → pe ↑ volume cairan interstisial →

edema → Postulat Kellie Monroe, kompensasi tidak adekuat → pe

↑ TIK

b) Pada meningitis jarang ditemukan kejang, kecuali jika infeksi

sudah menyebar ke jaringan otak, dimana kejang ini terjadi bila ada

kerusakan pada korteks serebri pada bagian premotor.

3

Page 4: Askep Meningitis 2013

2. Hidrosefalus pada meningitis terjadi karena mekanisme sebagai

berikut :Inflamasi local → scar tissue di daerah arahnoid ( vili ) →

gangguan absorbsi CSF → akumulasi CSF di dalam otak →

hodrosefalus.

3. Bila gejala yang muncul campuran kemungkinan mengalami Meningo-

ensefalitis.

2.3 Patofisiologi

Otak dilapisi oleh tiga lapisan, yaitu: duramater, arachnoid, dan

piamater. Cairan otak dihasilkan di dalam pleksus choroid ventrikel

bergerak/mengalir melalui sub arachnoid dalam sistem ventrikuler dan

seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi melalui villi

arachnoid yang berstruktur seperti jari-jari di dalam lapisan subarachnoid.

Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang

di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan

trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami

gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan

hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan

medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel

serebral. Cairan hidung (sekret hidung) atau sekret telinga yang

disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan meningitis

karena hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan (dunia

luar), mikroorganisme yang masuk dapat berjalan ke cairan otak melalui

ruangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang patologis merupakan

penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel.

Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring dan diikuti

dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis

bagian atas. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis

intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah,

daerah pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK.

Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media,

mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah

saraf baru, trauma kepala dan pengaruh imunologis. Saluran vena yang

melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan saluran mastoid

4

Page 5: Askep Meningitis 2013

menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen; semuanya ini

penghubung yang menyokong perkembangan bakteri.

Infeksi langsung dengan adanya penetrasi trauma seperti fraktur

tengkorak dan luka tembak. Fraktur tengkorak dengan kerusakan SSP

merupakan penyebab utama meningitis. Infeksi yang dekat dengan

meningen berpotensial menimblkan meningitis seperti sinusitis,

mastoiditis, otitis media (infeksi telinga tengah) dan osteomielitis pada

tulang tengkorak. Infeksi menyebar secara limfogen (melalui kelenjar

limfa ke medula spinalis berasal dari retrofaringeal atau retroperitoneal).

Cacat bawaan khususnya mielomeningokel (meningomyelocele)

5

Page 6: Askep Meningitis 2013

memungkinkan terjadinya infeksi.

6

Factor-faktor presdisposisi mencangkup : infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala,

dan pengaruh imunologis

Invasi kuman kejaringan serebral via saluran vena nasofaring posterior, telinga bagian tengah, dan saluran mastoid

Reaksi peradangan jaringan serebral

Eksudat meningen Gangguan metabolism serebral hipoperfusi

Thrombus daerah korteks dan aliran darah turun

Kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi, kerusakan endotel, dan nekrosis pembuluh

darah

Infeksi/septikemia jaringanotak

Iritasi meningen

Perubahan fisiologis intrakranial

Sakit kepala dan demam

Edema serebral dan peningkatan TIK Peningkatan permeabilitas darah otak

Penekanan area fokal kortikal

3. Hipertermi7. Nyeri

Adhesi,Kelumpuhan

saraf

Perubahan tingkat kesadaran, perubahan perilaku, Disorientasi,Photofobia,penambahansekresi ADH

8. Resiko injuri

Rigiditas nukal, tanda

kenig +, tanda briunzzinski

Perubahan gastrointestinal

Kejang 11.Takut12.Kecemasan

Kematian

Koma Mual dan muntah

6. Resiko defisit cairan

bradikardiaPerubahan system

pernafasan : chines stoke

1.perubahanperfusi jaringan otak 2.resiko gangguan perfusi peripercairan

4.Ketidakefektifan pola pernafasan

5.Ketidakefektipan bersihan jalan

nafas

Prosedur infasi, lumbal fungsi

Kelemahan fisik

Penambahan permeabilitas kapiler dan

retensi cairan

Page 7: Askep Meningitis 2013

2.4 Klasifikasi

Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang

terjadi pada cairan otak, yaitu :

1. Meningitis serosa

Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan

otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium

tuberculosa. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan

Ricketsia.

2. Meningitis purulenta

Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak

dan medula spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae

(pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus

haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae,

Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.

2.5 Manifestasi Klinik

Pada awal penyakit, kelelahan, perubahan daya mengingat, perubahan

tingkah laku.

Sesuai dengan cepatnya perjalanan penyakit pasien menjadi stupor.

Sakit kepala

Sakit-sakit pada otot-otot

Reaksi pupil terhadap cahaya. Photofobia.

Adanya disfungsi pada saraf III, IV, dan VI

Pergerakan motorik pada masa awal penyakit biasanya normal dan pada

tahap lanjutan bisa terjadi hemiparese, hemiplegia, dan penurunan tonus

otot.

Refleks Brudzinski dan refleks Kernig (+) pada bakterial meningitis dan

tidak terdapat pada virus meningitis.

Nausea

Vomiting

Demam

Takikardia

7

9. Resiko berlebihnya volume cairan

10. Gangguan ADL

Page 8: Askep Meningitis 2013

Kejang yang bisa disebabkan oleh iritasi dari korteks cerebri atau

hiponatremia.

2.6 Komplikasi

1) Dapat dikurangi dikurangi dengan diagnosis yang awal dan pemberian

terapi antimikrobial dengan cepat.

2) Bila infeksi meluas ke ventrikel, pus yang banyak (kental), adanya

penekatan pada bagian yang sempit obstruksi cairan cerebrospinal

hydrocephalus

3) Perubahan yang dekstruktif ada pada kortex serebral dan adanya abses

otak infeksi langsung. Atau melalui penyebaran pembuluh darah.

4) Ketulian, kebutaan, kelemahan/paralysis dari otot-otot wajah atau otot-

otot yang lain pada kepala dan leher penyebaran infeksi pada daerah

syaraf cranial

5) Komplikasi yang serius biasanya diakibatkan oleh infeksi :

meningococcal sepsis atau meningococcemia

6) Syndrom water haouse-Friderichsen

a. Overwhelming septic shock

b. DIC

c. Perdarahan

d. Purpura

7) SIADH, subdural effusion, kejang-kejang, edema serebral, herniasi dan

hydrocephalus.

8) Komplikasi post meningitis pada neonatus:

9) Ventriculitis (yang menghasilkan kista, daerah yang dibatasi oleh

akumulasi cairan dan tekanan pada otak)

10) Gangguan yang menetap dan penglihatan, pendengaran dan kelemahan

nervus yang lain

11) Cerebral palsy, cacat mental, gangguan belajar, penurunan perhatian,

gangguan hiperaktivitas dan adanya kejang.

12) Hemiparesis dan quadriparesis arthritis/thrombosis

8

Page 9: Askep Meningitis 2013

2.7 Pemeriksaan diagnostik

a. Pemeriksaan Laboratorium

1) Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis adalah

analisa cairan otak. Lumbal punksi tidak bisa dikerjakan pada

pasien dengan peningkatan tekanan intra kranial. Analisa cairan

otak diperiksa untuk jumlah sel, protein, dan konsentrasi glukosa.

2) Pemeriksaan darah ini terutama jumlah sel darah merah yang

biasanya meningkat diatas nilai normal.

3) Serum elektrolit dan serum glukosa dinilai untuk mengidentifikasi

adanya ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi.

4) Kadar glukosa darah dibandingkan dengan kadar glukosa cairan

otak. Normalnya kadar glukosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai

serum glukosa dan pada pasien meningitis kadar glukosa cairan

otaknya menurun dari nilai normal.

b. Pemeriksaan Radiografi

CT-Scan dilakukan untuk menentukan adanya edema cerebral atau

penyakit saraf lainnya. Hasilnya biasanya normal, kecuali pada penyakit

yang sudah sangat parah. X-rays pada dada, sinus dan mastoids

dilakukan untuk menentukan adanya infeksi.

2.8 Penatalaksanaan Medis

Pemberian terapi

No

.

Organisme Penyebab Pengobatan

1. Neisseria meningitidis Benzyl penicillin (4 megaunit, setiap 4 jam)

Cloramphenicol (20 mg/kgBB, setiap 6 jam)

bagi yang hipersensitif terhadap penicillin.

2. Streptococcus

pneumoniae

Benzyl penicillin (4 megaunit, setiap 4 jam)

Cloramphenicol (20 mg/kgBB, setiap 6 jam)

bagi yang hipersensitif terhadap penicillin.

3. Haemophilus influenzae Cefuroxamine (3 g setiap 8 jam),

Cloramphenicol (20 mg/kgBB setiap 6 jam),

Ampicilin (2 g setiap 6 jam selama 2 hari,

kemudian 1 g setiap 6 jam),

Contrimoksazol 160 mg (trimetropim dan

9

Page 10: Askep Meningitis 2013

800 mg sulphamethoxazole, setiap 12 jam).

4. Staphylococcus aureus Flucloxacillin (3 g setiap 6 jam),

Vancomycin (500 mg setiap 6 jam ).

5. Staphylococcus

epidermidis

Flucloxacillin (3 g setiap 6 jam),

Vancomycin (500 mg setiap 6 jam ).

6. Pseudomonas

aeuruginosa

Piperacillin (4 g setiap 6 jam) dengan

tobramycin (3-5 mg/kgBB/hari)

Tiracillin (5 g setiap 6 jam) dengan

gentamicin 5 mg/kgBB/hari.

a. Pencegahan

Meningitis dapat dicegah dengan cara mengenali dan mengerti dengan

baik faktor presdis posisi seperti otitis media atau infeksi saluran napas

(seperti TBC) dimana dapat menyebabkan meningitis serosa. Dalam hal

ini yang paling penting adalah pengobatan tuntas (antibiotik) walaupun

gejala-gejala infeksi tersebut telah hilang.

Setelah terjadinya meningitis penanganan yang sesuai harus cepat

diatasi. Untuk mengidentifikasi faktor atau janis organisme penyebab dan

dengan cepat memberikan terapi sesuai dengan organisme penyebab untuk

melindungi komplikasi yang serius.

2.9 Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Pasien dengan meningitis

a. Keluhan utama : panas badan tinggi, kejang, dan penurunan tingkat

kesadaran.

b. Riwayat penyakit saat ini : keluhan gejala awal tersebut biasanya

sakit kepala dan demam. Demam umumnya ada dan tetap tinggi

selama perjalanan penyakit. Adanya penurunan atau perubahan

pada tingkat kesadaran dihubungkan dengan meningitis bakteri.

c. Riwayat penyakit dahulu : pernahkah klien mengalami infeksi jalan

napas bagian atas, otitis media, tindakan bedah syaraf, riwayat

trauma kepala, dan adanya pengaruh imunologis pada masa

sebelumnya.

10

Page 11: Askep Meningitis 2013

d. Pengkajian psikososiospiritual: apakah adadampak yang timbul

pada klien, yaitu timbul seperti ketakutan

e. Pemeriksaan fisik

B1 (breathing) : inspeksi apakah klien batuk, produksi sputum,

sesak napas, penggunaan otot bantu napas, dan peningkatan

frekuensi pernapasan. Auskultasi bunyi napas tambahan seperti

ronkhi pada klien meningitis tuberkulosa dengan penyebaran

primer dari paru.

B2 (blood) : pada klien tahap lanjut biasanya ditemukan renjatan

(syok). Infeksi fulminating terjadi sekitar 10% klien dengan

meningitis meningkokus dengan tanda-tanda septikemia.

B3 (brain) :

(1) Tingkat kesadaran: pada klien lanjut tingkat kesadaran klien

meningitis biasanya berkisar pada tingkat letargi, stupor, dan

semikomatosa.

(2) Fungsi serebri : status mental mengalami perubahan pada

meningitis tahap lanjut.

(3) Pemeriksaan saraf kranial:

Saraf I : tidak ada kelainan pada fungsi penciuman.

Saraf II : tes ketajaman pemeriksaan papiledema mungkin

didapatkan terutama pada meningitis supuratif disertai

abses serebri dan efusi subdural yang menyebabkan

terjadinya peningkatan TIK.

Saraf III, IV, VI : klien ensefalitis mengeluh mengalami

fotofobia atau sensitif yang berlebihan terhadap cahaya.

Saraf V : tidak didapatkan paralisis pada otot dan refleks

kornea tidak ada kelainan.

Saraf VII : pengecapan dalam batas normal, wajah simetris.

Saraf VIII : tidak ditemukan tuli konduktif dan tuli

persepsi.

Saraf IX dan X : kemampuan menelan baik.

Saraf XI : adanya usaha dari klien untuk melakukan fleksi

leher dan kakukuduk.

Saraf XII : lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi

dan tidak ada fassikulasi.

11

Page 12: Askep Meningitis 2013

(4) Sistem motorik : kekuatan otot menurun, kontrol

keseimabangan dan koordinasi pada meningitis tahap lanjut

mengalami perubahan.

(5) Pemeriksaan refleks : refleks patologi akan didapatkan pada

klien meningitis dengan tingkat kesadaran koma.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah :

1) Gangguan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan

peradangan dan edema pada otak dan selaput otak.

2) Nyeri kepala yang berhubungan dengan iritasi selaput dan jaringan

otak.

3) Potensial terjadinya injuri sehubungan dengan adanya kejang,

perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran.

4) Anxietas (cemas) berhubungan dengan ancaman, kondisi sakit,

dan perubahan kesehatan .

5) Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan

akumulasi sekret, penurunan kemampuan batuk, dan perubahan

tingkat kesadaran

3. Intervensi dan Implementasi

1) Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan peningkatan tekanan

intracranial

Tujuan:

Dalam waktu 3x 24jam setelah diberikan intervensi perfusi jaringan

otak meningkat

Kriteria hasil : tingkat kesadaran meningkat menjadi sadar,

disorientasi negatif, konsentrasi negatif, konsentrassi baik, perfusi

jaringan dan oksigenassi baik, TTV normal, dan syok dapat dihindari.

Intervensi Rasional

a. Bedrest dengan posisi kepala

terlentang atau posisi elevasi

15-45 ° sesuai indikasi.

b. Monitor tanda-tanda vital tiap

2 jam

a. Perubahan tekanan CSS

mungkin merupakan resiko

tindaka medis yang

memerlukan tindakan segera

b. Normalnya autoregulasi

mampu mempertahankan

12

Page 13: Askep Meningitis 2013

c. Monitor status neurologik

secara tratur

d. Kaji adanya kaku kuduk,

twicting, iritabilitas dan

kejang.

e. Kolaborasi cairan IV

f. Bantu klien untuk

menghindari batuk,

mengedan, muntah

g. Ciptakan lingkungan yang

nyaman dan tenang

h. Kolaborasi pemberian

Oksigen

Kelola terapi sesuai program

aliran darah serebral dengan

konstan dampak adanya

fluktuasi pada tekanan darah

sistemik

c. Pengkajian adanya perubahan

tingkat kesadaran penting

dalam penentuan lokasi,

penyebaran dan

perkembangan dari kerusakan

serebral

d. Merupakan tanda adanya

iritasi meningeal dan mungkin

dapat terjadi pada periode

akut atau penyembuhan

e. Meminimalkan fluktuasi

dalam aliran vaskuler dan TIK

f. Aktivitas seperti ini akan

meningkatkan tekanan intra

torak dan intra abdomen yang

dapat meningkatkan TIK.

g. Meningkatkan istirahat dan

menurunkan stimulasi yang

berlebihan

h. Membantu oksigenasi ke otak

Dapat menurunkan permeabelitas

kapiler untuk menurunkan edema

serebral, menurunkan

metabolisme seluler

13

Page 14: Askep Meningitis 2013

2) Nyeri kepala yang berhubungan dengan iritasi selaput dan jaringan

otak.

Tujuan : Dalam waktu 3x 24jam setelah diberikan intervensi keluhan

nyeri berkurang/rasa sakit terkendali.

Kriteria hasil : klien dapat tidur dengan tenang, wajah rileks, dan klien

memverbalisasikan penggunaan rasa sakit.

Intervensi Rasionalisasi

a. Ciptakan lingkungan yang

nyaman dan tenang

b. Pertahankan bedrest dulu

c. Bantu ADL

d. Berikan kompres

e. Pertahankan posisi yang

nyaman bagi klien

f. Lakukan masase pada daerah

otot, leher, punggung, bahu

g. Ajarkan teknik distraksi

relaksasi.

h. Kolaborasi pemberian

analgetik

a. Lingkungan yang nyaman

membuat rasa nyaman,

relaksasi otot sehingga

mengurangi rasa nyeri

b. Menurunkan gerakan yang

menambah rasa nyeri

c. ADL tetap terpenuhi tanpa

kelelahan. Kelelahan

menambah rasa nyeri

d. Kompres merupakan salah satu

metode distraksi relaksasi

untuk mengalirkan rsa nyeri

e. Posis yang nyaman membuat

otot rileks

f. Relaksasi otot merupakan

metode pengalihan nyeri

g. Memfokuskan perhatian,

menurunkan ketegangan,

mengalihkan perhatian dari

nyeri

h. Merupakan tindakan kolaborasi

untuk menghilangkan nyeri

yang berat

14

Page 15: Askep Meningitis 2013

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya

ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok,

Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan

aseptis (virus). Peradangan pada selaput meningen dapat mengenai ketiga

lapisan meningen ()

Etiologi dari meningitis beberapa diantaranya adalah bakteri, virus,

faktor predisposisi (jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandingkan

dengan wanita), faktor maternal ( ruptur membran fetal, infeksi maternal

pada minggu terakhir), faktor imunologi (defisiensi mekanisme imun,

defisiensi imunoglobulin), serta persyarafan.

3.2 Saran

Untuk institusi:

Begitu pentingnya perhatian yang harus kita berikan sebagai tenaga medis

mengingat tingginya angka kejadian meningitis, untuk itu perlu

ditekankan pada mahasiswa dan mahasiswinya untuk terus menambah

wawasan tentang patologi suatu penyakit khususnya disini adalah

meningitis.

Untuk pembaca:

Tidak ada ilmu pengetahuan yang sia-sia. Untuk itu kita harus terus

menambah wawasan kita tentang berbagai penyakit agar bisa

memberikan perawatan yang maksimal bagi klien.

15