of 46 /46
Asuhan Keperawatan Pada Lansia Menjelang Ajal Ns.ersida, skep

ASKEP Lansia Menjelang Ajal

Embed Size (px)

DESCRIPTION

contoh

Text of ASKEP Lansia Menjelang Ajal

Asuhan Keperawatan Pada Lansia Menjelang Ajal

Asuhan Keperawatan Pada Lansia Menjelang AjalNs.ersida, skep Sebagian proses dari kehidupan yang dialami oleh siapa saja termasuk lansia. Meskipun demikian, hal tersebut tetap saja menimbulkan perasaan nyeri dan takut, tidak hanya lansia akan juga keluarganya bahkan pada mereka yang merawat dan mengurusnya Hakikat Kematian = Perawatan Terminal= Hospice= PalliatifPerawatan Menjelang AjalSuatu proses perawatan medis lanjutan yang terencana melalui diskusi yang terstuktur dan didokumentasikan dengan baik, dan proses ini terjalin sejak awal dalam proses perawatan yang umum/biasa.

Dikatakan sebagai perawatan medis lanjutan karena penderita biasanya sudah masuk ke tahap yang tidak dapat disembuhkan (incurable).Perawatan Terminal Suatu Proses Yang Progresif Menuju Kematian Berjalan Melalui Suatu Tahapan Proses Penurunan Fisik, Psikososial Dan Spiritual Bagi Individu (Carpenito, 1995). Kondisi Terminal Perawatan pasien terminal (stadium akhir) dimana pengobatan terhadap penyakitnya tidak diperlukan lagi.

Perawatan ini bertujuan meringankan penderitaan dan rasa tidak nyaman dari pasien, berlandaskan pada aspek bio-psiko-sosial-spiritual.HospiceSemua tindakan aktif untuk meringankan beban penderita, terutama yang tidak mungkin disembuhkan. Yang dimaksud tindakan aktif antara lain mengurangi/menghilangkan rasa nyeri dan keluhan lain serta memperbaiki aspek psikologis, sosial, dan spiritual.

Tujuan perawatan paliatif adalah mencapai kualitas hidup maksimal bagi si sakit (lanjut usia) dan keluarganya. Perawatan paliatif Meningkatkan kualitas hidup dan menganggap kematian sebagai proses yang normal.Tidak mempercepat dan menunda kematian lanjut usia.Menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang mengganggu.Menjaga keseimbangan psikologis dan spiritual.Berusaha agar lanjut usia yang sakit tetap aktif sampai akhir hayatnya.Berusaha membantu mengatasi suasana duka cita keluarga klien lanjut usia.

Pola Dasar Perawatan Palliatif (WHO):Memberi perawatan paripurna kepada klien lanjut usia dengan pengawasan dari tim profesional.

Prinsip Pemberian Perawatan Paliatif Mempertahankan hidup, Menurunkan stress, Meringankan dan Mempertahankan kenyamanan selama mungkin (Weisman).

Tujuan Perawatan Terminal1. Penyakit-penyakit kanker.2. Penyakit-penyakit infeksi.3. Congestif Renal Falure (CRF)4. Stroke Multiple Sklerosis.5. Akibat kecelakaan fatal.6. AIDS.

Jenis-jenis Penyakit Terminal1. Fisik Gerakan pengindaran menghilang secara berangsur-angsur dimulai dari ujung kaki dan ujung jari.Aktivitas dari GI berkurang. Reflek mulai menghilang.Suhu klien biasanya tinggi tapi merasa dingin dan lembab terutama pada kaki dan tangan dan ujung-ujung ekstremitas.Kulit kelihatan kebiruan dan pucat.Denyut nadi tidak teratur dan lemah Nafas berbunyi, keras dan cepat ngorok.Penglihatan mulai kabur.Klien kadang-kadang kelihatan rasa nyeri.Klien dapat tidak sadarkan diri.

Manifestasi Klinik2. PsikososialSesuai dengan fase-fase kehilangan menurut seorang ahli E. Kuber Ross mempelajari respon-respon atas menerima kematian dan maut secara mendalam dari hasil penyelidikan/penelitiannya yaitu:

1. Respon kehilangana) Rasa takut diungkapkan dengan ekspresi wajah (air muka), ketakutan, cara tertentu untuk mengulurkan tangan.b) Cemas diungkapkan dengan cara menggerakkan otot rahang dan kemudian mengendor.c) Rasa sedih diungkapkan dengan mata setengah terbuka atau menanggis.

2. Hubungan dengan orang laina) Kecemasan timbul akibat ketakutan akan ketidak mampuan untukb) berhubungan secara interpersonal serta akibat penolakan.

Perawatan Menjelang AjalSuatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan (Lambert dan Lambert,1985)Loss (Kehilangan)Elizabeth Kubbler Ross menggambarkan 5 tahap yang akan dilalui klien dalam menghadapi bayangan akan kematian/kehilangan yang sangat bermanfaat untuk memahami kondisi klien pada saat ini, yaitu:

1. Tahap peningkatan atau denialAdalah ketidakmampuan menerima, kehilangan untuk membatasi atau mengontrol nyeri dan dystress dalam menghadapinya.

2.Tahap anger atau marahAdalah kekesalan terhadap kehilangan.

3.Tahap tawar menawar atau bergainingAdalah cara coping dengan hasil-hasil yang mungkin dari penyakit dan menciptakan kembali tingkat kontrol.

4. Tahap depresiAdalah ketiada usaha apapun untuk mengungkapkan perasaan atau reaksi kehilangan.

5. Tahap acceptance atau menerimaAdalah akhir klien dapat menerima kenyataan dengan kesiapan.Fase-Fase Kehilangan Reaksi emosional terhadap kehilangan , biasanya akibat perpisahan . Dimanifestasikan dalam perilaku, perasaan dan pemikiran . Berduka juga merupakan proses mengalami reaksi psikologis, fisik, dan sosial terhadap kehilangan yang dipersepsikan. Respon yang ada dalam berduka yaitu keputusasaan, kesepian, ketidakberdayaan, kesedihan, rasa bersalah dan marah . Berduka juga mencakup pikiran, perasaan dan perilaku.Grieving (Berduka)A. Menolak dan IsolasiTidak percaya terhadap hal tersebut.Tidak siap menghadapi masalah.Memperhatikan kegembiraan yang dibuat-buat (menolak berkepanjangan).

B. Marah (Anger)Marah terhadap orang lain untuk hal-hal sepele: iritabel/sensitive.

C. Bargaining/tawar menawarMulai tawar menawar terhadap loss.Mengekspresikan rasa bersalah , takut , putisment terhadap rasa berdosa, baik nyata maupun imajinasi

D. DepresiRasa berduka terhadap apa yang terjadi.Kadang bicara bebas atau menarik diri.

E. Acceptane/penermaanPenurunan interest lingkungan sekitar.Berkeinginan untuk membuat rencana rencana .

Reaksi BerdukaA. Teori Engel ( 1964) Teori ini memiliki ciri-ciri bahwa berduka terdiri dari syok , tidak percaya, mengembalikan kesadaran , mengenali dan restitusi .

B. Teori Kubler Ross ( 1969) Konsep berduka terdiri atqs lima tahap diantara lain mengingkari, marah, fase tawar-menawar, fase sedih yang mendalam dan penerimaan.

C. Teori Rando (1991) Pada teori rando terdiri dari penghindaran, konfrontasi, dan akomodasi.

Konsep Teori BerdukaSekarat adalah bagian dari kehidupan yang merupakan proses menuju kematian.

Dengan makin meningkatnya jumlah populasi usia lanjut, meningkat pula jumlah penderita penyakit kronis, yang pada suatu saat mengalami keadaan dimana tidak ada sesuatu yang dapat dikerjakan untuk memperbaiki kemampuan melakukan aktivitas sehari hari .Dying (Sekarat/Menjelang Ajal)Elizabeth KublerRoss. Teorinya mengatakan bahwa orang yang menjelang ajal mengalami lima tahap:

Tahap l, penyangkalan dan isolasi, biasanya mewakili pertahanan temporer yang digantikan dengan penerimaan parsial.

Tahap II, kemarahan dan penyangkalan digantikan dengan perasaan marah , gusar , iri , kebencian,.

Tahap III, tawar menawar, orang sering berupa negosiasi dengan Tuhan untuk mendapatkan tambahan waktu.

Tahap IV, depresi , meliputi 2 jenis kehilangan : kehilangan yang terjadi di masalalu dan kehilangan hidup yang akan terjadi. Yang disebut sebagai persiapan berduka oleh Kubler Ross.

Tahap V , penerimaan , merupakan fase akhir dari proses menjelang ajal.

Teori Teori Dying (Menjelang Ajal / Sekarat )Kondisi berhentinya fungsi organ tubuh secara menetap atau terhentinya kerja otak secara menetap. Meninggal dunia adalah keadaan insani yang diyakini oleh ahli kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak, pernafasan dan denyut jantung seseorang telah terhenti . Kematian adalah satu fase kehidupan yang terakhir bagi manusia. Persepsi seseorang tentang kematian berbeda-beda. Dalam merawat lansia yang tidak ada harapan untuk sembuh, seorang perawat profesional harus mempunyai ketrampilan yang multikompleks.

Death (Kematian)Asuhan Keperawatan Pada Lansia Menjelang Ajal-Keadaan TerminalPengkajian pada klien dengan penyakit terminal, menggunakan pendekatan holistik.

Salah satu metode untuk membantu perawat dalam mengkaji data psikososial pada klien terminal yaitu dengan menggunakan metode PERSON.1. PengkajianP: Personal StrenghtYaitu: kekuatan seseorang ditunjukkan melalui gaya hidup, kegiatannya atau pekerjaan.

Contoh yang positif:Bekerja ditempat yang menyenangkan bertanggung jawab penuh dan nyaman, Bekerja dengan siapa saja dalam kegiatan sehari-hari.

Contoh yang negatif:Kecewa dalam pengalaman hidup.

E: Emotional ReactionYaitu reaksi emosional yang ditunjukkan dengan klien.

Contoh yang positif:Binggung tetapi mampu memfokuskan keadaan.

Contoh yang negatif:Tidak berespon (menarik diri)

R: Respon to StressYaitu respon klien terhadap situasi saat ini atau dimasa lalu.

Contoh yang positif:1.Memahami masalah secara langsung dan mencari informasi.2.Menggunakan perasaannya dengan sehat misalnya: latihan dan olah raga.

Contoh yang negatif:1. Menyangkal masalah.2. Pemakaian alkohol.

S: Support SystemYaitu: keluarga atau orang lain yang berarti.

Contoh yang positif:1. Keluarga2. Lembaga di masyarakat

Contoh yang negatif:Tidak mempunyai keluarga

O: Optimum Health GoalYaitu: alasan untuk menjadi lebih baik (motivasi)

Contoh yang positif:1. Menjadi orang tua2. Melihat hidup sebagai pengalaman positif

Contoh yang negatif:1. Pandangan hidup sebagai masalah yang terkuat2. Tidak mungkin mendapatkan yang terbaik

N: NexsusYaitu: bagian dari bahasa tubuh mengontrol seseorang mempunyai penyakit atau mempunyai gejala yang serius.

Contoh yang positif:Melibatkan diri dalam perawatan dan pengobatan.

Contoh yang negatif:1. Tidak berusaha melibatkan diri dalam perawatan.2. Menunda keputusan.

Pengkajian yang perlu diperhatikan klien dengan penyakit terminal menggunakan pendekatan meliputi.1. Faktor predisposisiYaitu faktor yang mempengaruhi respon psikologis klien pada penyakit terminal, sistem pendekatan bagi klien.

Klas Kerud telah mengklasifikasikan pengkajian yang dilakukan yaitu:a) Riwayat psikosisial, termasuk hubungan-hubungan interpersonal, penyalahgunaan zat, perawatan psikiatri sebelumnya.b) Banyaknya distress yang dialami dan respon terhadap krisis.c) Kemampuan koping.d) Sosial support sistem termasuk sumber-sumber yang ada dan dibutuhkan support tambahan.e) Tingkat perkembanganf) Fase penyakit cepat terdiagnosa, pengobatan dan post pengobatan.g) Identitas kepercayaan diri, pendekatan nilai-nilai dan filosofi hidup.h) Adanya reaksi sedih dan kehilangani) Pengetahuan klien tentang penyakit j) Pengalaman masa lalu dengan penyakit k) Persepsi dan wawasan hidup respon klien terhadap penyakit terminal, persepsi terhadap dirinya, sikap, keluarga, lingkungan, tersedianya fasilitas kesehatan dan beratnya perjalanan penyakit.l) Kapasitas individu untuk membuat psikosial kembali dalam penderitaan.

2. Fokus SosiokulturalKlien mengekpresikannya sesuai dengan tahap perkembangan, pola kultur atau latar belakang budaya terhadap kesehatan, penyakit, penderitaan dan kematian yang dikomunikasikan baik secara verbal maupun non verbal.

3. Faktor presipitasiFaktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya reaksi klien terminal, yaitu:a) Prognosa akhir penyakit yang menyebabkan kematian.b) Faktor transisi dari arti kehidupan menuju kematian.c) Support dari keluarga dan orang terdekat.d) Hilangnya harga diri, karena kebutuhan tidak terpenuhi sehingga klien menarik diri, cepat tersinggung dan tidak ada semangat hidup.

Selain itu etiologi dari penyakit terminal dapat merupakan faktor presipitasi, diantaranya:1) Penyakit kanker2) Penyakit akibat infeksi yang parah/kronis3) Congestif Renal Failure (CRF)4) Stroke Multiple Sklerosis5) Akibat kecelakaan yang fatal4. Faktor perilakua) Respon terhadap klienBila klien terdiagnosa penyakit terminal maka klien akan mengalami krisis dan keadaan ini mengakibatkan keadaan mental klien tersinggung sehingga secara langsung dapat menganggu fungsi fisik/penurunan daya tahan tubuh.b) Respon terhadap diagnosaBiasanya terjadi pada klien yang terdiagnosa penyakit terminal adalah shock atau tidak percaya perubahan konsep diri klien terancam, ekspresi klien dapat berupa emosi kesedihan dan kemarahan.c) Isolasi sosialPada klien terminal merupakan pengalaman yang sering dialami, klien kehilangan kontak dengan orang lain dan tidak tahu dengan pasti bagaimana pendapat orang terhadap dirinya.5. Mekanisme kopingDenialAdalah mekanisme koping yang berhubungan dengan penyakit fisik yang berfungsi pelindung kien untuk memahami penyakit secara bertahap, tahapan tersebut adalah:1) Tahap awal (initial stage)Yaitu tahap menghadapi ancaman terhadap kehilangan saya harus meninggal karena penyakit ini2) Tahap kronik (kronik stage)Persetujuan dengan proses penyakit aku menyadari dengan sakit akan meninggal tetapi tidak sekarang. Proses ini mendadak dan timbul perlahan-lahan.3) Tahap akhir (finansial stage)Menerima kehilangan saya akan meninggal kedamaian dalam kematiannya sesuai dengan kepercayaan.

Selain dari faktor-faktor yang mempengaruhi diatas, perlu dikaji kesadaran antara lain adalah1) Belum menyadari (closed awereness)Yaitu klien dan keluarga tidak menyadari kemungkinan akan kematian, tidak mengerti mengapa klien sakit, dan mereka yakin klien akan sembuh.2) Berpura-pura (mutual pralensa)Yaitu klien, keluarga, perawat dan tenaga kesehatan lainnya tahu prognosa penyakit terminal. 3) Menyadari (open awereness)Yaitu klien dan keluarga menerima/mengetahui klien akan adanya kematian dan merasa tenang mendiskusikan adanya kematian.

Kehilangan harapan hidup dan terisolasi dari lingkungan sosial berhubungan dengan kondisi sakit terminal.Kehilangan harga diri berhubungan dengan penurunan dan kehilangan fungsiDepresi berhubungan dengan kesedihan tentang dirinya dalam keadaan terminalCemas berhubungan dengan kemungkinan sembuh yang tidak pasti, ditandai dengan klien selalu bertanya tentang penyakitnya, adakah perubahan atau tidak (fisik), raut muka klien yang cemas

2. Diagnosa Keperawatan5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak menerima akan kematian, ditandai dengan klien yang selalu mengeluh tentang keadaan dirinya, menyalahkan Tuhan atas penyakit yang dideritanya, menghindari kontak sosial dengan keluarga/teman, marah terhadap orang lain maupun perawat.

6. Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dalam melaksanakan alternatif ibadah sholat dalam keadaan sakit ditandai dengan klien merasa lemah dan tidak berdaya dalam melakukan ibadah sholat.

7. Inefektif koping keluarga berhubungan dengan kehilangan

1. Kehilangan harapan hidup dan terisolasi dari lingkungan sosial berhubungan dengan kondisi sakit terminal

Tujuan :Klien merasa tenang menghadapi sakaratul maut sehubungan dengan sakit terminalIntervensi :a) Dengarkan dengan penuh empati setiap pertanyaan dan berikan respon jika dIbutuhkan klien dan gali perasaan klien.b)Berikan klien harapan untuk dapat bertahan hidup.c)Bantu klien menerima keadaannya sehubungan dengan ajal yang akan menjelang.d)Usahakan klien untuk dapat berkomunikasi dan selalu ada teman di dekatnya.e)Perhatikan kenyamanan fisik klien.

3. Rencana Keperawatan2.Kehilangan harga diri berhubungan dengan penurunan dan kehilangan fungsiTujuan :Mempertahankan rasa aman, tenteram, percaya diri, harga diri dan martabat klienIntervensi :a)Gali perasaan klien sehubungan dengan kehilangan.b)Perhatikan penampilan klien saat bertemu dengan orang lain.c)Bantu dan penuhi kebutuhan dasar klien antara lain hygiene, eliminasi.d)Anjurkan keluarga dan teman dekat untuk saling berkunjung dan melakukan hal hal yang disenangi klien.e)Beri klien support dan biarkan klien memutuskan sesuatu untuk dirinya, misalnya dalam hal perawatan.

3. Depresi berhubungan dengan kesedihan tentang dirinya dalam keadaan terminalTujuan :Mengurangi rasa takut, depresi dan kesepianIntervensi :a)Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan sedih, marah dan lain lain.b)Perhatikan empati sebagai wujud bahwa perawat turut merasakan apa yang dirasakan klien.c)Bantu klien untuk mengidentifikasi sumber koping, misalnya dari teman dekat, keluarga ataupun keyakinan klien.d)Berikan klien waktu dan kesempatan untuk mencerminkan arti penderitaan, kematian dan sekarat.e)Gunakan sentuhan ketika klien menunjukkan tingkah laku sedih, takut ataupun depresi, yakinkan bahwa perawat selalu siap membantu.f)Lakukan hubungan interpersonal yang baik dan berkomunikasi tentag pengalaman pengalaman klien yang menyenangkan.4. Cemas berhubungan dengan kemungkinan sembuh yang tidak pasti, ditandai dengan klien selalu bertanya tentang penyakitnya, adakah perubahan atau tidak (fisik), raut muka klien yang cemasTujuan :Klien tidak cemas lagi dan klien memiliki suatu harapan serta semangat hidupIntervensi :a)Kaji tingkat kecemasan klien.b)Jelaskan kepada klien tentang penyakitnya.c)Tetap mitivasi (beri dukungan) kepada klien agar tidak kehilangan harapan hidup dengan tetap mengikuti dan mematuhi petunjuk perawatan dan pengobatan.d)Anjurkan kepada klien untuk tetap berserah diri kepada Tuhan.e)Datangkan seorang klien yang lain yang memiliki penyakit yang sama dengan klien.f)Ajarkan kepada klien dalam melakukan teknik distraksi, misal dengan mendengarkan musik kesukaan klien atau dengan teknik relaksasi, misal dengan menarik nafas dalam.g)Beritahukan kepada klien mengenai perkembangan penyakitnya.h)Ikut sertakan klien dalam rencana perawatan dan pengobatan.5.Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak menerima akan kematian, ditandai dengan klien yang selalu mengeluh tentang keadaan dirinya, menyalahkan Tuhan atas penyakit yang dideritanya, menghindari kontak sosial dengan keluarga/teman, marah terhadap orang lain maupun perawatTujuan :Koping individu positif

Intervensi :Gali koping individu yang positif yang pernah dilakukan oleh klienJelaskan kepada klien bahwa setiap manusia itu pasti akan mengalami suatu kematian dan itu telah ditentukan oleh Tuhan.Anjurkan kepada klien untuk tetap berserah diri kepada TuhanPerawat maupun keluarga haruslah tetap mendampingi klien dan mendengarkan segala keluhan dengan rasa empati dan penuh perhatian.Hindari barang barang yang mungkin dapat membahayakan klien.Tetap memotivasi klien agar tidak kehilangan harapan untuk hidupKaji keinginan klien mengenai harapa untuk hidup/keinginan sebelum menjelang ajal.Bantu klien dalam mengekspresikan perasaannya.6.Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dalam melaksanakan alternatif ibadah sholat dalam keadaan sakit ditandai dengan klien merasa lemah dan tidak berdaya dalam melakukan ibadah sholatTujuan :Kebutuhan spiritual dapat terpenuhi yaitu dapat melakukan sholat dalam keadaan sakit

Intervensi :a)Kaji tingkat pengetahuan klien mengenai ibadah sholat.b) Ajarkan pada klien cara sholat dalam keadaan berbaring.c)Ajarkan tata cara tayamum.d)Ajarkan kepada klien untuk berzikir.e)Datangkan seorang ahli agama.

7.Inefektif koping keluarga berhubungan dengan kehilanganTujuan :Membantu individu menangani kesedihan secara efektifIntervensi :a)Motivasi keluarga untuk menverbalisasikan perasaan perasaan antara lain : sedih, marah dan lain lain.b)Beri pengertian dan klarifikasi terhadap perasaan perasaan anggota keluarga.c)Dukung keluarga untuk tetap melakukan aktivitas sehari hari yang dapat dilakukan.d)Bantu keluarga agar mempunyai pengaharapan yang realistis.e)Berikan rasa empati dan rasa aman dan tenteram dengan cara duduk disamping keluarga, mendengarkan keluhan dengan tetap menghormati klien serta keluarga.f)Berikan kesempatan pada keluarga untuk melakukan upacara keagamaan menjelang saat saat kematian.

Selamat belajar