31
1 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia hemoroid disebut wasir, sedangkan ambeien berasal dari kata Belanda ‘ambeijen’ (diambil dari kata buah arbij). Hemoroid sangat umum terjadi. Pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe hemorroid berdasarkan luasnya vena yang terkena. Sering terjadi namun kurang diperhatikan kecuali kalau sudah menimbulkan nyeri dan perdarahan. Beberapa literatur lain menyebutkan bahwa hemoroid adalah varices vena eksternal dan/atau internal dari kanal anus yang disebabkan oleh adanya tekanan pada vena-vena anorektal. Jika tidak mendapat penanganan maka hemoroid akan semakin bertambah parah, jarang yang mengalami perbaikan dengan sendirinya karena biasanya kelainan ini berhubungan dengan pembuluh darah, jaringan lunak, dan otot-otot anus. Hemoroid diklasifiksasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal yaitu hemoroid yang terjadi diatas stingfer analsedangkan yang muncul di luar stingfer anal disebut hemorod eksternal (brunner &suddarth, 1996). Kedua jenis hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35% penduduk. Hemoroid bisa

askep hemoroid

Embed Size (px)

DESCRIPTION

askep hemoroid

Citation preview

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia hemoroid disebut wasir, sedangkan ambeien berasal dari kata

Belanda ‘ambeijen’ (diambil dari kata buah arbij). Hemoroid sangat umum terjadi.

Pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe hemorroid berdasarkan

luasnya vena yang terkena. Sering terjadi namun kurang diperhatikan kecuali

kalau sudah menimbulkan nyeri dan perdarahan. Beberapa literatur lain

menyebutkan bahwa hemoroid adalah varices vena eksternal dan/atau internal dari

kanal anus yang disebabkan oleh adanya tekanan pada vena-vena anorektal. Jika

tidak mendapat penanganan maka hemoroid akan semakin bertambah parah,

jarang yang mengalami perbaikan dengan sendirinya karena biasanya kelainan ini

berhubungan dengan pembuluh darah, jaringan lunak, dan otot-otot anus.

Hemoroid diklasifiksasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal yaitu

hemoroid yang terjadi diatas stingfer analsedangkan yang muncul di luar stingfer

anal disebut hemorod eksternal (brunner &suddarth, 1996). Kedua jenis hemoroid

ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35% penduduk. Hemoroid bisa

mengenai siapa saja, baik laki-laki maupun wanita. Insiden penyakit ini akan

meningkat sejalan dengan usia dan mencapai puncak pada usia 45-65 tahun.

Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan perasaan

yang sangat tidak nyaman. Hal itulah yang mendasari kelompok untuk membahas

tentang “Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Hemoroid”.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa definisi hemoroid?

1.2.2 Apa etiologi dari penyakit hemoroid?

1.2.3 Bagaimana klasifikasi dari penyakit hemoroid?

1.2.4 Apa saja tanda dan gejala dari penyakit hemoroid?

1.2.5 Apa saja komplikasi dari penyakit hemoroid?

2

1.2.6 Bagaimana pentalaksanaan dari penyakit hemoroid?

1.2.7 Apa saja pemeriksaan penunjang yang dapat diterapkan dari penyakit

hemoroid?

1.2.8 Apa saja pencegahan yang bisa diterapkan dari penyakit hemoroid?

3

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Hemoroid atau lebih dikenal dengan wasir adalah penyakit yang

disebabkan karena melebarnya pembuluh darah (vena) didaerah dubur. Ada juga

yang menyebutkan hemoroid adalah penyakit yang mengenai rectum dan anus

yang disebabkan rusaknya pleksus hemoroidalis (pembuluh darah disekitar rectum

dan anus). Hemoroid dapat digambarkan sebagai gumpalan-gumpalan jaringan

dalam saluran anal yang berisi pembuluh darah dan jaringan penunjang yang ada

disekelilingnya, yang terdiri atas otot dan serat elastic. Hemoroid muncul pada

orang dewasa baik diperkampungan maupun perkotaan. Penderita hemoroid

stadium lanjut akan membutuhkan pertolongan dokter. Pada keadaan hemoroid ini

terjadi dilatasi pleksus vena yang mengitari area rectal dan anal. Dilatasi ini sangat

sering dan terjadi pada individu yang rentan karena peningkatan tekanan yang

menetap dalam pleksus vena hemoroidal. Wasir ini dapat diderita oleh semua

orang baik laki-laki maupun perempuan. Wasir diderita sama banyaknya pada

laki-laki dan perempuan dan sedikit meningkat pada wanita yang sedang

mengandung dan akan melahirkan. Prevalensinya meningkat antara usia 45 dan 65

tahun (Budiman, 2010).

2.2 Penyebab dan Patofisiologi

Hemoroid timbul karena kongesti Vena yang disebabkan gangguan aliran

balik dari vena hemoroidalis sehingga terjadi dilatasi, pembengkakan atau

inflamasi vena hemoroidalis yang diawali oleh faktor-faktor resiko atau faktor

pencetus.

Faktor resiko hemoroid dalam Haryono (2012) antara lain:

1. mengejan pada saat buang air besar yang sulit;

2. pola buang air besar yang salah (lebih banyak memakai jamban duduk, terlalu

lama duduk dijamban sambil membaca;

4

3. peningkatan tekanan intra abdomen yang disebabkan oleh tumor (tumor usus,

tumor abdomen);

4. kehamilan disebabkan karena tekanan janin pada abdomen dan perubahan

hormonal;

5. usia tua;

6. konstipasi kronik atau diare yang berlebihan;

7. hubungan seks per anal;

8. kurang minum air;

9. kurang makan makanan berserat (sayur dan buah);

10. kurang olahraga atau imobilisasi.

2.3 Klasifikasi

Berdasarkan letak terjadinya hemoroid dibedakan dalam dua klasifikasi

yaitu hemoroid interna dan hemoroid eksterna.

1. Hemoroid interna (wasir dalam)

Wasir dalam ini adalah pleksus hemoroidalis superior yang berada diatas

garis mukokotan (ditutupi mukosa) (Budiman,2010). Hemoroid interna adalah

pelebaran pleksus v.hemoroidalis superior diatas garis mukokutan (linea dentata)

dan ditutupi oleh mukosa. Hemoroid interna ini merupakan bantalan vaskuler

didalam jaringan submukosa pada rektum sebelah bawah. Sering hemoroid

terdapat pada posisi primer, yaitu kanan-depan, kanan-belakang, dan kiri-lateral.

Hemoroid yang lebih kecil terdapat diantara ketiga letak primer tersebut.

Gejala yang dapat ditemukan pada wasir dalam dibagi menjadi 4 derajat

yaitu:

Derajat 1: terjadi pembesaran hemoroid yang tidak prolaps. Adanya darah segar

yang menetes saat buang air besar.

Derajat 2: muncul benjolan dari anus saat buang air besar yang dapat masuk

kembali dengan sendirinya.

Derajat 3: muncul benjolan dari anus saat buang air besar yan perlu dibantu

tangan untuk memasukkannya kembali.

5

Derajat 4: muncul benjolan dari anus saat buang air besar dan benjolan tersebut

keluar lagi walaupun sudah dibantu dimasukkan dengan tangan.

2. Hemoroid ekksterna (wasir luar)

Wasir luar merupakan penonjolan pleksus hemoroid inferior. Terletak

dibawah garis mukokutan pada jaringan dibawah epitel anus. Kedua pleksus

hemoroid yaitu interna dan eksterna berhubungan secara longgar (Budiman,

2010).

Hemoroid eksterna diklasifikasikan sebagai akut dan kronik. Bentuk akut

berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya

merupakan hematoma, bentuk ini sering sangat gatal dan nyeri karena ujung-

ujung saraf pada kulit merupakan reseptor nyeri. Hemoroid eksterna kronik atau

skin tag berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan

penyambung dan sedikit pembuluh darah (Haryono, 2012).

2.4 Tanda dan gejala

Tanda dan gejala hemoroid dalam haryono, 2012 antara lain:

1. terjadi benjolan-benjolan disekitar dubur setiap kali buang air besar;

2. rasa sakir atau perih.

Rasa sakit yang timbul karena prolaps hemoroid (benjolan tidak dapat

kembali), dari anus terjepit karena adanya thrombus;

3. pendarahan segar disekitar anus disebabkan karena adanya ruptur varises;

4. perasaan tidak nyaman ( duduk terlalu lama dan berjalan tidak kuat lama);

5. keluar lender yang menyebabkan perasaan isi rektum belum keluar semua;

6. pada kasus berat timbul benjolan besar disertai rasa nyeri sehingga penderita

sulit duduk;

7. kendati tanda-tanda wasir mudah dikenali namn tidak semua penderita wasir

menunjukkan adanya keluhan.

6

2.5 Komplikasi

Menurut Black M Joyce at al (2000), komplikasi dari hemoroid antara

lain:

1. Terjadinya pendarahan

Pada derajat 1 darah keluar menetes dan memancar

2. Terjadi thrombosis

Karena hemoroid keluar sehingga lama-lama darah akan membeku dan terjadi

thrombosis

3. Peradangan

Kalau terjadi lecet karena tekanan vena hemoroid akan terjadi infeksi dan

meradang karena disana banyak kotoran yan terdapat kuman-kumannya.

Sedangkan menurut Budiman (2010) komplikasi wasir yaitu:

1. Ulserasi

Terjadi luka pada lapisan mukosa (selaput lender)

2. Prolaps dan strangulasi

Terjadinya prolaps dari wasir dalam dan bila terjepit dapat menyebabkan

gangguan peredaran darah sehingga bisa terjadi nekrosis atau matinya jaringan.

3. Anemia dari pendarahan yang berulang

Keluarnya darah yang disebabkan karena sobeknya pembuluh darah

hemoroidalis yang terjadi berulang-ulangakan menyebabkan kekurangan darah

(anemia) pada penderita wasir

4. Thrombosis vena

Thrombosis terjadi karena tekanan yang tinggi pada vena (misalnya pada

saat batu, mengedan, atau ibu baru melahirkan). Vena lebar yang menonjol dapat

terjepit dan terjadi thrombosis

5. Infeksi

Setelah thrombosis dengan udem ata pembengkakan dan radang bisa

mengakibatkan infeksi

6. Portal pyaemia (peradangan supurataif vena porta)

7

2.6 Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan colok dubur

2. Anorektoskopi (untuk melihat kelainan anus dan rectum)

3. Pemeriksaan rectal dan palpasi digital

4. Proctoscopi atau colonoscopy (untuk menunjukkan hemoroid internal)

(haryono, 2012).

2.7 Penatalaksanaan

2.7.1 Farmakologis

a. Obat yang memperbaiki defekasi

Terdapat dua macam obat yang memperbaiki defekasi yaitu supplement

serat (fiber supplement) dan pelican tinja (stool softener). Supplement serat

komersial yang banyak dipakai antara lain psylium atau isphaluga husk (mulax,

Metamucil, mucofalk) yang berasal dari kulit biji plantago ovate yang

dikeringkan dan digiling menjadi bubuk. Obat ini bekerja dengan cara

membesarkan volume tinja dan meningkatkan peristaltic usus. Obat kedua

adalah laxant atau pencahar (laxadine, dulcolax).

b. Obat simptomatik

Bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi keluhan rasa gatal,

nyeri atau kerusakan kulit didaerah anus. Jenis sediaannya misalnya anusol,

boraginol, N/S dan faktu. Sediaan yang mengandung kortikosteroid digunakan

untuk mengurangi radang daerah hemoroid atau anus, contoh obat misalnya

ultraproct, anusol HC, scheriproct.

c. Obat penghenti pendarahan

Pendarahan menandakan adanya luka pada dinding anus atau pecahnya

vena hemoroid yang dindingnya tipis. Psylium, citrus bioflavanoida yang

berasal dari jeruk lemon dan paprika berfungsi memperbaiki permeabilitas

dinding pembuluh darah.

8

d. Obat penyembuh dan pencegah serangan

Menggunakan radium 500 mg 3x2 tablet selama 4 hari lalu 2x2 tablet

selama 3 hari. Pengobatan ini dapat memberikan perbaikan terhadap gejala

inflamasi, kongesti, edema, dan prolaps.

2.7.2 Pembedahan

Terapi bedah dilakukan pada hemoroid derajat III dan IV dengan penyulit

prolaps, thrombosis atau hemoroid yang besar dengan pendarahan berulang.

Pilihan pembedahan adalah hemoroidektomi secara terbuka, secara tertutup, atau

secara submukosa. Bila terjadi komplikasi pendarahan dapat diberikan obat

hemostatik seperti asam traneksamat yang terbukti secara bermakna efektif

menghentikan perdarahan dan mencegah perdarahan ulang

2.7.3 Tindakan minimal invasive

a. Skleroskopi hemoroid dilakukan dengan cara menyuntikkan obat langsung

kepada benjolan/prolaps hemoroidnya

b. Ligasi pita karet dilakukan dengan cara mengikat hemoroid. Prolaps akan

menjadi layu dan putus tanpa rasa sakit.

c. Penyinaran laser

d. Penyinaran infra red

e. Dialiri arus listrik (elektrokoagulasi)

f. Hemoroideolysis

2.7.4 Tindakan mandiri pasien

a. Perbaiki pola hidup (makanan dan minuman): perbanyak konsumsi makanan

yang mengandung serat (buah dan sayur) kurang lebih 30 gram perhari, serat

selulosa yang tidak dapat diserap selama proses pencernaan makanan dapat

merangsang gerak usus agar lebih lancer, selain itu serat selulosa juga

menyimpan air sehingga dapat melunakkan feses. Mengurangi makanan yang

terlalu pedas atau terlalu asam, menghindari makanan yang sulit dicerna oleh

usus, tidak mengkonsumsi alcohol, kopi dan minuman bersoda. Perbanyak

minum air putih 30-40cc/kg BB/hari

b. Penderita hemoroid dianjurkan untuk menjaga kebersihan local daerah anus

dengan cara merendam anus dalam air selama 10-15 menit 3x sehari. Selain itu

9

penderita disarankan untuk tidak terlalu banyak duduk atau tidur, lebih baik

banyak berjalan.

c. Menghindari mengejan yang berlebihan selama defekasi.

d. Menjaga personal hygiene yang baik terutama didaerah anus (Haryono, 2012).

2.8 Pencegahan

Pencegahaan yang dapat dilakukan untuk mencegah wasir atau hemoroid

yaitu sebagai berikut:

a. Mengusahakan pasien berendam air hangat untuk mengurangi nyeri dan

menjaga kebersihan selama sekitar 15 menit. Setidaknya 2-3 kali dalam

sehari.

b. Mengkonsumsi makanan berserat.

c. Menghindari minuman beralkohol.

d. Minum dalam jumlah yang cukup, setidaknya 1,5 liter dalam sehari.

e. menghindindari menggosok-gosok daerah dubur agar tidak terjadi perlukaan.

f. Tidak membiasakan menahan BAB dan janga pula memaksa BAB.

g. Menghindari terlalu lama nongkrong di toilet saat buang air besar misalnya

sambil membaca, karena kebiasaan injoni akan meningkatkan tekanan di

daerah dubur.

h. Olahraga teratur.

i. Gunakan obat antihemoroid sesuai anjuran dokter.

Sedangkan menurut Haryoga (2009), ada beberapa hal yang dapat

dilakukan untuk mencegah berulangnya kekambuhan keluhan hemoroid, yaitu:

1. hindari mengedan terlalu kuat saat buang air besar;

2. cegah konstipasi dengan banyak mengonsumsi makanan kaya serat (sayur dan

buah serta kacang-kacangan) serta banyak minum air putih minimal delapan

gelas sehari untuk melancarkan defekasi;

3. jangan menunda-nunda jika ingin buang air besar sebelum feses menjadi

keras;

4. tidur cukup;

5. jangan duduk terlalu lama dan senam atau olahraga rutin.

10

BAB 3. PATHWAYS

Konstipasi, diare, sering mengejan, kongesti pelvis pada kehamilan, fibrinomauteri, pembesaran prostat, tumor, rektum, tekanan intra abdominal

Kongesti vena plexus

Aliran vena balik terganggu

HEMOROID

Tekanan perifer meningkat dan pelebaran vena hemoroidalis (varices)

interna eksterna

DRJ I DRJ III DRJ IVDRJ II akut kronik

Prolab pembuluh darah

Peningkatan tekanan kapiler darah

Dilatasi pembuluh darah

Rubor+kalor

Diskontinuitas jaringan

Sianosis sel

Pelepasan mediator kimia (bradikinin, histamin,

serotonis, prostaglnadin

Merangsang ujung saraf sel perifer

Resiko perdarahan

11

Peningkatan permeabilitas endotelia/cairan

Kurang informasi tentang pembedahan

nyeri

Menghantarkan rangsang ke substansi gelantinosa

eksudat

inflamasi

cemas

Ambang nyeri menurun

Ketakutan pada prognosis

Ansietas

konstipasi

12

BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN

4.1 Pengkajian

Fokus pengkajian

1. Riwayat kesehatan : seperti rasa gatal, nyeri selama defekasi, nyeri abdomen,

apakah terjadi perdarahan rectum, terdapat mucus atau tidak ketika buang air

besar.

2. Riwayat diet : pola makan klien dan konsumsi makanan klien dalam kehidupan

sehari-hari

3. Riwayat kehamilan

Kehamilan dengan frekuensi sering akan menyebabkan hemorroid berkembang

cepat.

4. Riwayat penyakit Dahulu:

Riwayat penyakit hati: pada hipertensi portal, potensi berkembangnya

hemorroid lebih besar.

5. Riwayat pekerjaan

6. Prolaps (sudah berapa lama pasien mengeluh, faktor-faktor yang

menyebabkannya dan upaya yang dapat menguranginya serta upaya atau obat-

obatan yang sudah digunakan).

7. Pemeriksaan fisik

a. Kaji tingkat kesadaran

b. Ukur tanda-tanda vital

c. Auskultasi bunyi nafas

d. Kaji kulit (bengkak, pucat, dingin)

e. Kaji terhadap nyeri atau mual

f. Abdomen : nyeri tekan pada abdomen

g. Ans : pembesaran pembuluh darah balik (vena) pada anus, terdapat benjolan

pada anus, nyeri pada anus atau bahkan perdarahan.

13

4.2 Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan dan sensitivitas pada area rektal

atau anal sekunder akibat penyakit anorektal.

2. Konstipasi berhubungan dengan mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat

nyeri selama eliminasi.

3. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu.

4. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat.

(Smeltzer, 2002)

14

4.3 Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Rasional

Nyeri berhubungan

dengan iritasi,

tekanan dan

sensitivitas pada

area rectal atau

anal sekunder

akibat penyakit

anorektal.

Tujuan:

Pasien mampu

melaporan nyeri

hilang/terkontrol

Kriteria Hasil:

Pasien mampu

tidur/istirahat dengan

tepat dan tampak

rileks.

1. Kaji skala nyeri, karakteristik

nyeri. Laporkan perubahan nyeri

dengan tepat.

2. Catat respon terhadap obat, dan

laporkan pada dokter bila nyeri

hilang

3. Tingkatkan tirah baring, biarkan

pasien melakukan posisi yang

nyaman

1. Membantu memberikan

informasi tentang

kemajuan/perbaikan penyakit,

terjadinya komplikasi dan

keefektifan intervensi.

2. Nyeri berat yang tidak hilang

dengan tindakan rutin dapat

menunjukkan terjadinya

komplikasi/kebutuhan terhadap

intervensi lebih lanjut.

3. Tirah baring pada posisi fowler

rendah menurunkan tekanan

intrabdomen, namun pasien

akan melakukan posisi yang

menghilangkan nyeri secara

alamiah.

4. Menurunkan iritasi /kulit kering

15

4. Gunakan sprei halus/katun

5. Pada nyeri awal berikan kompres

dingin pada daerah anus 3-4 jam

dilanjutkan dengan rendam duduk

hangat 3-4x/hari.

6. Dorong menggunakan tehnik

relaksasi, misal bimbingan

imajinasi dan visualisasi. Berikan

aktivitas senggang.

7. Berikan diet tinggi serat dan

hidrasi yang cukup

8. Elaborasi dengan tim kesehatan

lain: berikan obat sesuai indikasi.

dan sensai gatal.

5. Mengurangi inflamasi pada

daerah anus atau meringankan

nyeri.

6. Meningkatkan istirahat,

memusatkan kembali perhatian,

dapat meningkatkan koping.

7. Melancarkan defekasi atau

melunakkan feses.

8. Meningkatkan istirahat,

meringankan nyeri dan

merilekskan otot halus.

Konstipasi

berhubungan

dengan

mengabaikan

dorongan untuk

Tujuan:

Setelah dilakukan

tindakan keperawatan

selama 3X24 jam

konstipasi pasien

1. Monitor tanda-tanda ruptur

bowel/peritonitis

2. Jelaskan penyebab dan

rasionalisasi tindakan pada pasien

1. Mengetahui adanya rupture

2. Pasien mengetahui tindakan

yang dilakukan beserta

penyebabnya

16

defekasi akibat

nyeri selama

eliminasi.

teratasi dengan

Kriteria hasil:

pola BAB dalam batas

normal, feses lunak,

cairan dan serat

adekuat, aktivitas

adekuat, hidrasi

adekuat

3. Catat peningkatan dan penurunan

bising usus

4. Jelaskan pada pasien manfaat diet

(cairan dan serat) terhadap

eliminasi

5. Sediakan privacy dan keamanan

selama BAB

6. Kolaburasi dengan ahli gizi diet

tinggi serat dan cairan

3. Mengetahui ada atau tidaknya

peningkatan dan penurunan

bisisng usus

4. Pasien dapat mengetahui

manfaat dari makanan yang

mengandung cairan dan serat

5. Pasien dapat BAB tanpa ada

rasa malu dan takut

6. Kebutuhan makanan yang

mengandung cairan dan serat

dapat terpenuhi

Ansietas

berhubungan

dengan rencana

pembedahan dan

rasa malu.

Tujuan:

Pasien melaporkan

ansietas menurun

sampai tingkat yang

dapat ditangani.

Kriteria Hasil:

1. Evaluasi tingkat ansietas, catat

respons verbal dan non-verbal

pasien

2. Kaji tanda-tanda vital

1. Ketakutan dapat terjadi karena

nyeri hebat, meningkatkan

perasaan sakit, penting pada

prosedur diagnostik.

2. Perubahan pada tanda-tanda

vital mungkin menunjukkan

17

Pasien menyatakan

kesadara terhdap

perasaan dan cara

yang sehat untuk

menghadapi masalah,

tampak rileks.

3. Berikan informasi tentang proses

penyakit dan antisipasi tindakan.

4. Jadwalkan istirahat adekuat dan

periode menghentikan tidur.

5. Evaluasi mekanisme koping

selama digunakan untuk

berhadapan dengan perasaan

ataupun ancaman yang

sesungguhnya.

tingkat ansietas yang dialami

pasien atau merefleksikan

gangguan-gangguan faktor

psikologis .

3. Mengetahui apa yang

diharapkan dapat menurunkan

ansietas.

4. Membatasi kelemahan,

menghemat energi, dan dapat

meningkatkan koping.

5. Mungkin dapat menghadapi

situasi dengan baik pada waktu

itu, misalnya penolakan dan

regresi mungkin dapat

membantu mekanisme koping

untuk suatu waktu tertentu.

Meski demikian, penggunaan

mekanisme ini akan

mengalihkan energi yang

18

diperlukan oleh pasien untuk

kesembuhan.

Resiko terhadap

infeksi

berhubungan

dengan pertahanan

primer tidak

adekuat.

Tujuan: Tujuan:

Setelah dilakukan

tindakan selama 3X24

jam pasien tidak

mengalami infeksi

Kriteria Hasil:

Klien bebas dari tanda

dan gejala infeksi,

Pasien menunjukkan

kemampuan untuk

mencegah timbulnya

infeksi,

Jumlah leukosit dalam

batas normal,

Menunjukkan perilaku

hidup sehat,

Status imun,

1. Pertahankan teknik aseptif

2. Cuci tangan setiap sebelum dan

sesudah tindakan keperawatan

3. Gunakan baju, sarung tangan

sebagai alat pelindung

4. Tingkatkan intake nutrisi

5. Monitor tanda dan gejala infeksi

sistemik dan lokal

6. Inspeksi kulit dan membran

mukosa terhadap kemerahan,

panas, drainase

7. Kaji suhu badan pada pasien

neutropenia setiap 4 jam

Kolaborasi dengan tim kesehatan

lain mengenai terapi antibiotik

1. Mencegah terjadinya infeksi

2. Membersihkan kuma yang

menempel di tangan

3. Mencegah menempelnya kuman

di baju dll

4. Intake nutrisi pasien terpenuhi

5. Mengetahui adanya tanda-tanda

infeksi

6. Mengetahui adanya gangguan

atau tida pada kulit dan

membrane mukosa

7. Mengatahui adanya peningkatan

atau penurunan suhu pada

pasien

8. Meminimalkan terjadinya

infeksi

19

gastrointestinal,

genitpurinaria dalam

batas normal.

20

4.4 Implementasi

Hari/tanggal Waktu No. Dx Implementasi

Kamis, 7 Mei

2013

08.00 1 2. Telah melakukan pengkaji

skala nyeri, karakteristik

nyeri.

3. Telah mencatat respon

terhadap obat

4. Tingkatkan tirah baring,

biarkan pasien melakukan

posisi yang nyaman

5. Telah menggunakan sprei

halus/katun

6. Pada nyeri awal berikan

kompres dingin pada daerah

anus 3-4 jam dilanjutkan

dengan rendam duduk hangat

3-4x/hari.

7. Telah melakukan tehnik

pengurangan nyeri dengan

menggunakan tehnik relaksasi

yaitu dengan bimbingan

imajinasi dan visualisasi.

8. Telah memberikan diet tinggi

serat dan hidrasi yang cukup

9. Telah melakukan elaborasi

dengan tim kesehatan lain

dengan memberikan obat

sesuai indikasi.

21

4.5 Evaluasi Keperawatan

No Hari/tanggal No. Dx Evaluasi

1 Kamis, 7 Mei 2013 1 S:

Pasien masih mengeluh sedikit nyeri

ketika badannya dibuat bergerak

Pasien merasa nyaman ketika

dilakukan tehnik relaksasi

O:

Pasien tampak rileks ketka dilakukan

tehnik pengurangan nyeri

Pasien dapat istirahat cukup

A: Masalah teratasi sebagian

P: Intervensi keperawatan dilanjutkan

22

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Hemoroid adalah penyakit yang disebabkan karena melebarnya pembuluh

darah (vena) didaerah dubur. Hemoroid timbul karena kongesti vena yang

disebabkan gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis sehingga terjadi dilatasi,

pembengkakan atau inflamasi vena hemoroidalis. Penaykit hemoroid ini

dkalsifikasikan menjadi hemoroid internaa yaitu pelebaran pleksus v.hemoroidalis

superior diatas garis mukokutan (linea dentata) dan ditutupi oleh mukosa dan

hemoroid eksterna yaitu penonjolan pleksus hemoroid inferior. Terletak dibawah

garis mukokutan pada jaringan dibawah epitel anus.

5.2 Saran

Untuk mahasiswa keperawatan

Mahasiswa keperawatan mempelajari dengan detail mengenai penyakit hemoroid

sehingga nantinya lebih memahami dan mengerti tentang penyakit hemoroid,

patifisiologi, tanda dan gejala, komplikasi serta dapat menerapkan asuhan

keperawatan pada pasien dengan hemoroid

23

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Doddy & Sutedjo, Kristina. 2010. Mencegah Dan Megobati Wasir.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 2.

Jakarta: EGC. Haryono, Rudi. 2012. Keperawatan Medikal Bedah system

Pencernaan. Yogyakarta: Gosyen Publishing

Doenges. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untk Perencanaan dan

Pendokumentasian Perawatan Pasien (Ed. 3). Jakarta: EGC

Prince, Wilson. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4

Buku 2. Jakarta: EGC.