58
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DI PANTI WREDA KARITAS Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Community Nursing Program II dengan dosen mata kuliah Bhakti Permana, S.Kep., Ners.M.Kep. M.Si disusun oleh: Adining Ajeng Munigar : 043-315-13- 1-001 Ai Ro’ainingsih : 043-315-13- 1-002 Della Sonya Fadhilah : 043- 315-13-1-009 Dilo Rivanca Farera : 043-315-13- 1-012 Fikri Maidawati : 043-315-13- 1-015 Lia Nurbaeti : 043-315-13- 1-025 Raswan Dian : 043-315-13- 1-031

Askep Gerontik Kel 3

  • Upload
    dilo

  • View
    39

  • Download
    10

Embed Size (px)

DESCRIPTION

askep

Citation preview

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DI PANTI WREDA KARITAS

Makalah

diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Community Nursing Program II

dengan dosen mata kuliah Bhakti Permana, S.Kep., Ners.M.Kep. M.Si

disusun oleh:

Adining Ajeng Munigar:043-315-13-1-001

Ai Roainingsih:043-315-13-1-002

Della Sonya Fadhilah:043-315-13-1-009

Dilo Rivanca Farera: 043-315-13-1-012

Fikri Maidawati:043-315-13-1-015

Lia Nurbaeti:043-315-13-1-025

Raswan Dian:043-315-13-1-031

Siska Widiyanti:043-315-13-1-037

Widia Tamara Dewi:043-315-13-1-041

KELAS S1 2A

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN PERSATUAN PERAWAT NASIONAL INDONESIA JAWA BARAT

BANDUNG

2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat limpah dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah mengenai "Pengkajian Pada Lansia" ini tepat pada waktu yang telah ditentukan. maka dari itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada :

1. Bhakti Permana,S.Kep.,Ners.M.Kep.M.Si selaku koordinator dari mata kuliah Community Nursing Process 2.

2. Dhika Darmansyah,S.Kep,.Ners,.M.Kep selaku pembimbing kelompok 3.

3. Semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah "Pengkajian Pada Lansia".

Penyusun menyadari bahwa makalah mengenai pengkajian lansia ini belum sempurna, maka dari itu penulis menerima setiap kritik dan sarang yang di berikan. Dan semoga makalah mengenai "Pengkajian Pada Lansia" ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi yang membaca pada umumnya.

Bandung, 28 April 2015

Tim Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. i

DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii

BAB 1 Pendahuluan..................................................................................1

1.1 Latar belakang masalah..................................................................... 1

1.2 Rumusan masalah..................................................................... 2

1.3 Tujuan..................................................................... 2

1.4 Manfaat................................................................................. 2

BAB 2 Pembahasan................................................................................. 3

2.1 Fungsi dari sistem pencernaan......................................................... 3

2.2 Anatomi dari sistem pencernaan............................................. 3

2.2.1 Mulut................................................................................. 5

2.2.2 Tenggorokan (Faring)......................................................... 6

2.2.3 Kerongkongan (Esofagus)............................................. 7

2.2.4 Lambung............................................. 8

2.2.5 Usus halus (usus kecil)............................................. 9

2.2.6 Usus Besar (Kolon)........................................... 12

2.2.7 Usus Buntu (sekum)........................................... 13

2.2.8 Umbai Cacing (Appendix)........................................... 13

2.2.9 Rektum dan anus........................................... 14

2.2.10 Pankreas........................................... 15

2.2.11 Hati................................................................... 16

2.2.12 Kandung empedu........................................... 17

2.3 Fisiologis dari sistem pencernaan........................................... 17

BAB 3 Kesimpulan ........................................................................................... 26

Daftar Pustaka........................................................................................... 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Usia lanjut adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bisa dihindari oleh siapapun, namun manusia dapat berupaya untuk menghambat kejadiannya. Ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia, yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (Al- Isawi, 2002).

Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya data fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.

Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang sebagai beban dari pada sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan masa tua tidak lagi memberikan banyak manfaat, bahkan ada yang sampai beranggap anbahwa kehidupan masa tua, sering kali dipersepsikan secara negative sebagai beban keluarga dan masyarakat.

Sekilas tentang panti wreda karitas, didirikan tahun 1980 oleh seorang suster dari belanda yang mengabdikan diri di daerah sekitar panti karitas ini, sekarang penghuni panti ada 34 lansia yang dimana terdiri dari 9 opa dan 25 oma, mereka berasal dari berbagai daerah jawa dan ada yang dari Palembang. Panti ini memang bergerak dibidang sosial, hanya menerima lansia yang kurang mampu . Ada beberapa kegiatan di panti ini, misalnya jam 3 sore doa rosario, ada juga olahraga. Tiap minggu ada romo yang dating atau diantar kegereja. Ada pembinaan iman oleh suster 1 bulan 1 kali. Untuk masalah kesehatan, ada dokter yang tiap bulan dating berkunjung.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah :

1. Apa ituPengertianLansia?

2. Apa itu Proses Menua?

3. Bagaimana Teori Penuaan?

4. Apa saja Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia?

5. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Lansia di panti Wreda Karitas?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui pengertian lansia.

2. Untuk mengetahui proses menua.

3. Untuk mengetahui bagaimana teori penuaan.

4. Untuk mengetahui apa saja perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia.

5. Untuk mengetahui bagaimana Asuhan Keperawatan pada lansia di Panti

Wreda Karitas.

1.4 Manfaat

Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu :

1. Bagi mahasiswa keperawatan Sebagai bahan pembelajaran dan untuk menambah wawasan agar lebih mengetahui tentang proses keperawatan komunitas khususnya dalam keperawatan gerontik di mulai dari pengkajian, diagnosa, intervensi hingga implementasinya.

BAB II

PEMBAHASAN

1

2

2.1 Lansia

2.1.1 Pengertian Lansia

Usia lanjut adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik,yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagaimana di ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyaikemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidupberubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasukiselanjutnya, yaitu usia lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal,siapa orangnya, tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fasehidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya(Darmojo, 2004).

2.1.2 Proses Menua

Menurut Constantindes (1994) dalam Nugroho (2000) mengatakan bahwa proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahanlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaikinya kerusakan yang diderita. Proses menua merupakan proses yang terus-menerus secara alamiah dimulai sejak lahir dan setiap individu tidak sama cepatnya. Menua bukan status penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh. Dengan begitu manusia secara progresif akan kehilangan daya tahan terhadap infeksi dan akan menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan stuktural yang disebut sebagai penyakit degenerative seperti, hipertensi, aterosklerosis, diabetes militus dan kanker yang akan menyebabkan kita menghadapi akhir hidup dengan episode terminal yang dramatik seperti strok, infark miokard, koma asidosis, metastasis kanker dan sebagainya ( Martono & Darmojo,edisi ke-3 2004).

2.1.3 Teori Penuaan

Para perencana dan pengambil keputusan menaruh perhatian pada aspek lanjut usia yang sehat dan sakit-sakitan mengingat usia yang panjang, tetapi sakit-sakitan akan menguras banyak sumber daya dan akan menggangu aktifitas sehari-hari lansia. Dengan indeks aktifitas sehari-hari menurut Katz, dapat diprediksi berapa usia harapan hidup aktif pada suatu masyarakat. Dari berbagai studi disimpulkan bahwa dari status fungsional aktifitas sehari-hari terkait erat bukan hanya dengan usia, tetapi juga dengan penyakit. Keterbatasan gerak merupakan penyebab utama gangguan aktifitas hidup keseharian (activity of daily living ADL) dan IADL (ADL Instrumen) (Guraalnik, dkk dalam Tamher, 2009).

2.1.4 Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia

Menurut Maryam Siti, R. dkk, (2008), perubahan yang terjadi pada lanjut usia adalah :

2.1.4.1 Perubahan fisik

1) Sel

Lebih sedikit jumlahnya, lebih besar ukuranya, berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan tubuhdan berkurangnya cairan intraseluler, menurunnya proporsi protein di otak, otot ginjal darah, dan hati, jumlah sel otak menurun, terganggunya mekanisme perbaikan sel, otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5 10%.

2) System persarafan

Berat otak menurun 10 20% (setiap orang berkurang sel saraf otaknya dalam setiap harinya), cepatnya menurun hubungan persyarafan, lambat dalam responden waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres, mengecilnya syaraf panca indra (berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya saraf pencium dan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin), kurang sensitive terhadap sentuhan.

3) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran)

Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam terutama terhadap bunyi suara atau nadanada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti katakata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun, membrane timpani menjadi atrofimenyebabkan otot seklerosis, terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya keratin, pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa atau stres.

4) System penglihatan

Sfingter pupil timbul sclerosis dan hilangnya respon terhadap sinar kornea lebih terbentuk sferis (bola), lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak menyebabkan gangguan penglihatan, meningkatnya ambang pengamatan sinar,daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, dan susah melihat dalam cahaya gelap, hilangnya daya akomodasi, menurunnya lapang pandang (berkurang luas pandang), menurunya dayamembedakan warna biru atau hijau pada skala.

5) System kardiovaskuler

Elastisitas dinding aorta menurun, katup jatung menebal dan menjadi kaku kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun seudah berumur 20 tahun, hal ini menyebkan merunnya kontraksi dan volumenya, kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg (mengakibatkan pusing mendadak 170 mmHg, diastolis normal 90 mmHg).

6) System pengaturan temperatur tubuh

Pada pengaturan suhu hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu thermostat, yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduran terjadi berbagai faktor yang mempengaruhinya.Sebagai akibat sering ditemui temperatur tubuh menurun(hipotermia) secara fisiologik 35C ini akibat metabolism yang menurun, keterbatasan refleks menggigil dan tidak memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktifitas otot.

7) System respirasi

Otototot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku menurunya aktifitas dari sillia, paruparu kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun, alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang, O pada arteri menurun menjadi 75 mmHg, CO pada arteri tidak terganti, kemampuan pegas dindingdada dan kekuatan otot pernafasan akan menurun seiring dengan pertambahan usia.

8) System gastrointestinal

Kehilangan gigi penyebab utama adanya periodontal diase yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lainmeliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk, inderapengecap menurun adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir,atropi indra pengecap (80%) hilangnya sensitifitas dari sarafpengecap dilidah terutama rasa manis dan asin, hiangnyasensitifitas dari saraf pengecap tentang rasa asin, asam dan pahit, esophagus melebar, rasa lapar menurun (sensitifitas lapar45menurun), asam lambung menurun, waktu mengosongkanmenurun, peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi,fungsi absorpsi melemah (daya absorpsi terganggu), liver (hati)makin mengecil dan merunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.

9) System reproduksi

Menciutnya ovari dan uterus, atrovi payudara, pada lakilaki testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun adanya penurunan secara berangsurangsur, dorongan seksual menetap sampai usia diatas 70 tahun (asal kondisi kesehatan baik) yaitu kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia, hubungan seksual secara teratur membantu mempertahankan kemampuan seksual, tidak perlu cemas karena merupakan perubahan alami, selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya menjadi alkali dan terjadi perubahanperubahan warna.

10) Sisem gastourinaria

Ginjal merupakan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, melalui urine darah ke ginjal, disaring oleh satuan (unit) terkecil dari ginjal yang disebut nefron (tepatnya diglomerulus), kemudian mengecil dan nefron menjadi atrofi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%, fungsi tubulusakibatnya berkurannya kemampuan mengkonsentrasikan urin, berat jenis urin menurun proteinuria (biasanya +1), BUN (BloodUrea Nitrogen) meningkatkan sampai 21 mg%, nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat, vesika urinaria (kandung kemih) ototnya menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi buang air seni meningkat, vesika urinaria sudah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga mengakibatkan meningkatkan retensi urin, pembesaran prostat 75 % dialami oleh pria usia di atas 65 tahun, atrovi vulva dan vagina, orangorang yang makin menua sexual intercoursecenderung secara bertahap tiap tahun tetapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus sampai tua.

11) System endokrin

Produksi dari hampir semua hormon menurun, fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah, pertumbuhan hormone ada tetapi tidak rendah dan hanya ada didalam pembuluh darah, berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH, dan LH, menurunya aktifitas tiroid, menurunnya BMR (basal metabolicrate), dan menurunnya daya pertukaran zat, menurunnya produksi aldosteron, menurunnya sekresi hormon kelamin,misalnya progesteron, estrogen, dan testeron.

12) Sistem kulit (integumentary system)

Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak, permukaan kulit kasar dan bersisik (karena kehilangan proses kratinasi serta perubahan ukuran dan bentukbentuk sel epidermis), menurunya respon terhadap trauma, mekanisme proteksi kulit menurun yaitu produksi serum menurun, gangguan pegmentasi kulit, kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu, rambut dalam hidung dan telingga menebal, bekurangnya elastisitas akibat dari menurunnya cairan dan vaskularisasi, pertumbuha kuku lebih lambat, kuku jari menjadi lebiih keras dan rapuh, kuku kaki bertumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya, kuku menjadi pudar, kurang bercahaya.

13) System muskuluskeletal (musculoskeletal system)

Dewasa lansia yang melakukan aktifitas secara teratur tidak kehilangan massa atau tonus otot dan tulang sebanyak lansia yang tidak aktif. Serat otot berkurang ukuranya. Dan kekuatan otot berkurang sebanding penurunan massa otot. Penurunan massa dan kekuatan otot, demeneralisasi tulang,67pemendekan fosa akibat penyempitan rongga intravertebral, penurunan mobilitas sendi, tonjolan tulang lebih meninggi (terlihat). Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh, kifosis pinggang, pergerakan lutut dan jarijari pergelangan terbatas, discus intervertebralis menipis dan menjadi pendek(tingginya berkurang), persendian membesar dan menjadi rapuh, tendon mengerut dan mengalami sclerosis, atrofin serabut otot sehingga seseorang bergerak menjadi lamban, otototot kram menjadi tremor, otototot polos tidak begitu berpengaruh.

2.1.4.2 Perubahan mental

Faktorfaktor yang mempengaruhi perubahan mental yaitu perubahan fisik khususnya organ perasa kesehatan umum, tingkat pendidikan, keturunan (hereditas), dan lingkungan.Kenangan (memory) terdiri dari kenangan jangka panjang (berjamjam sampai berharihari yang lalu mencakup beberapa perubahan),dan kenangan jangka pendek atau seketika (0-10 menit, kenangan buruk). I.Q. (Intellegentian Quantion )tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal, berkurangnya penampilan, persepsidan ketrampilan psikomotor (terjadinya perubahan pada dayamembayangkan karena tekananteanan dari faktor waktu). Semua organ pada proses menua akan mengalami perubahan struktural dan fisiologis, begitu juga otak. Perubahan ini disebabkan karena fungsi neuron di otak secara progresif.Kehilangan fungsi ini akibat menurunnya aliran darah ke otak, lapisan otak terlihat berkabut dan metabolisme di otak lambat. Selanjutnya sangat sedikit yang di ketahui tentang pengaruhnya terhadap perubahan fungsi kognitif pada lanjut usia. Perubahan kognitif yang di alami lanjut usia adalah demensia, dan delirium.

2.1.4.3 Perubahan psikologis

Lanjut usia akan mengalami perubahanperubahan psikososial seperti :

1) Pensiun, nilai seseorang sering diukur produktifitasnya, identitas dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Lansia yang mengalami pensiun akan mengalami rangkaian kehilangan yaitufinansial (income berkurang), status (dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup tinggi, lengkap dengan segala faselitasnya),teman/kenalan atau relasi, dan pekerjaan atau kegiatan.

a) Merasakan atau sadar akan kematian (sence of awareness of mortality)

b) Perubahan dalam cara hidup yaitu memasuki rumah perawatan,bergerak lebih sempit.

c) Ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan (economic derivation) meningkatkan biaya hidup pada penghasilan yangsulit, bertambahnya biaya pengobatan.

d) Penyakit kronis dan ketidak mampuan.

e) Kesepian akibat pengasingan dari lingkungan social.

f) Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian.

g) Gangguan gizi akibat kehilangan penghasila atau jabatan.

h) Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman teman dan famili serta pasangan.

i) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri.

2.1.5 Kebutuhan Hidup Lanjut Usia

Seseorang memiliki kebutuhan hidup. Orang lanjut usia juga memiliki kebutuhan hidup yang sama agar dapat hidup sejahtera. Kebutuhan hidup orang lanjut usia antara lain kebutuhan akan makanan bergizi seimbang, pemeriksaan kesehatan secara rutin, perumahan yang sehat dan kondisi rumah yang tentram dan aman, kebutuhankebutuhan sosial seperti bersosialisasi dengan semua orang dalam segala usia, sehingga mereka mempunyai banyak teman yang dapat diajak berkomunikasi, membagi pengalaman, memberikan pengarahan untuk kehidupan yang baik. Kebutuhan tersebut diperlukan oleh lanjut usia agar dapat mandiri. Kebutuhan manusia meliputi :

1) kebutuhan fisik (physiological needs) adalah kebutuhan fisik atau biologis seperti pangan, sandang, papan, dan seks.

2) kebutuhan ketentraman (safety needs) adalah kebutuhan akan rasa keamanan dan ketentraman, baik lahiriah maupun batiniah seperti kebutuhan akan jaminan hari tua, kebebasan, dan kemandirian.

3) kebutuhan sosial (social needs) adalah kebutuhan untuk bermasyarakat atau berkomunikasi dengan manusia lain melalui panuyuban, organisasi profesi, kesenian, olah raga, dan kesamaan hobi.

4) kebutuhan harga diri (esteem needs) adalah kebutuhan akan harga diri untuk diakui akan keberadaannya.

5) kebutuhan aktualisasi diri (selfactualization needs) adalah kebutuhan untuk untuk mengungkapkan kemampuan fisik rohani maupun daya pikir berdasar pengalaman masingmasing bersemangat untuk hidup, dan berperan dalam kehidupan.

2.2 Asuhan Keperawatan Gerontik

2.2.1 Pengkajian

2.2.1.1 Identitas Klien

a. Nama : Aciw Setiawan

b. Umur : 75 tahun

c. Agama: Kristen (khatolik)

d. Pendidikan: SMA

e. Pekerjaan: Pengurus panti

f. Suku/bangsa: Indonesia

g. Status marital: Duda

h. Tanggal pengkj: 21 April 2015

i. Ruang: Ruang Opa

j. Alamat: Jln.Ibu sangki , Gg. H. Nur no: 35 Cibeber,

Cimahi

2.2.1.2 Identitas Penanggungjawab

a. Nama : Istiana Riastuti

b. Umur: 34 tahun

c. Agama: Kristen (Katholik)

d. Pendidikan: D1 Keperawatan

e. Pekerjaan: -

f. Hub. Dgn klien: Pengurus Panti

g. Alamat: Jln.Ibu sangki , Gg. H. Nur no: 35 Cibeber, Cimahi

2.2.1.3 Riwayat Kesehatan

a. Keluhan Utama

Imobilitas Fisik

b. Riwayat kesehatan sekarang

Pada saat dilakukan pengkajian tanggal 27 April 2015 klien mengeluh tidak dapat menggerakan kakinya karena penyakit yang di deritanya yaitu stroke, klien hanya terduduk di kursi roda semenjak 6 tahun lalu.

c. Kesehatan dahulu

Menurut klien, klien mempunyai riwayat penyakit Hipertensi dan pernah beberapa kali dirawat di rumah sakit karena penyakit hipertensi dan stroke tersebut. dan klien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit menular seperti : TBC , HIV atau Hepatitis

d. Kesehatan keluarga

Menurut klien ada beberapa keluarganya (kedua orang tua klien) yang mempunyai penyakit yang sama dengan yang diderita klien, yaitu : Hipertensi. tidak ada diantara keluarga klien yang mempunyai penyakit menular seperti : TBC, HIV, atau Hepatitis

2.2.1.4 Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan umum

Tingkat kesadaran: Compos Mentis

Penampilan: klien terlihat rapi dan bersih

Tanda vital

Tekanan Darah: 150/100 mmHg

Nadi: 89x/menit

Respiratory Rate: 23x/menit

Suhu: 36,6C

b. Kepala

Bentuk: Normal

Letak: Simetris

Warna Rambut: Putih

c. Muka

Bentuk : Normal

Letak Simetris: Simetris

Warna : Sawo Matang

Lesi : Tidak ada

d. Mata

Bentuk : Normal

Letak : Simetris

Konjungtiva: merah muda

Pupil : Normal

Sklera: Putih

Fungsi: rabun, klien tidak mampu membaca

papan nama siswa

e. Hidung

Bentuk: Normal

Letak : Simetris

Mukosa: Merah muda

Sekret: Tidak ada

Fungsi: Normal, klien dapat

mencium wangi parfum

f. Mulut

Bentuk : Normal

Letak: Simetris

Lesi: Tidak ada

Lidah: Bersih

Gigi : 17 buah

g. Telinga

Bentuk: Normal

Letak: Simetris

Lesi: Tidak ada

Fungsi: Normal, klien dapat mendengar pertanyaan yang di tanyakan oleh

perawat

h. Leher

Bentuk: Normal

Letak: Simetris

Pembesaran KGB : Tidak ada

Nyeri Tekan: Tidak ada

i. Dada

Bentuk: Normal

Letak: Simetris

j. Perut

Bentuk: Normal

Letak: Simetris

Nyeri tekan: Ada

Lesi: Tidak ada

k. Punggung

Bentuk: Normal

Letak: Simetris

Nyeri tekan: tidak ada

l. Sistem respirasi

Tidak terdengar suara abnormal seperti (ronchi, krekels dan wheezing).

m. Sistem kardiovaskuler

Tekanan darah klien tinggi karena klien memiliki riwayat penyakit hipertensi.

n. Sistem gastrointestinal

Suara bising usus normal yaitu : 12x/menit.

o. Sistem genitourinaria

Klien sering kencing disaat malam hari.

p. Sistem musculoskeletal

Sistem musculoskeletal klien terganggu karena pengaruh penyakit stroke yang mengimobilisasi ekstremitas bawah klien yang menyebabkan klien hanya terduduk di kursi roda dengan nilai skala ROM 1.

q. Sistem integument

Tidak ada keluhan karena lesi, turgor kulit baik.

r. Sistem neurosensori

Sistem syaraf di ekstremitas bawah klien sudah terjadi gangguan karena riwayat penyakit stroke klien.

s. Sistem endokrin

Tidak ada pembengkakan kelenjar KGB atau kelenjar lainnya.

2.1.1.5 Pengkajian Psikososial dan Spiritual

2.2 Psikososial

Klien mengatakan sering berdiam diri dikamar dikarenakan sulit untuk berinteraksi dengan teman seusianya karena klien hanya dapa terduduk di kursi roda, klien tampak gugup ketika sedang bersama dengan teman - teman seusianya, terlihat klien bingung harus bagaimana ketika berkumpul dengan teman seusianya.

2.3 Emosional

Emosi klien stabil, terlihat dari cara klien menerima kedatangan perawat dan dari cara klien menjawab pertanyaan.

Identifikasi masalah emosional :

Pertanyaan tahap I

Apakah klien mengalami sukar tidur ?

Tidak

Apakah klien sering merasa gelisah

Tidak

Apakah klien sering murung atau menangis sendiri?

Tidak

Apakah klien sering was-was atau khawatir ?

Tidak

Lanjutkan ketahap 2 bila minimal ada satu jawaban ya pada tahap I

Pertanyaan tahap II

Keluhan lebih dari 3 bulan/lebih dari 1 kali dalam 1 bulan?

Tidak

Ada masalah atau banyak pikiran ?

Tidak

Ada gangguan/masalah dengan keluarga klien ?

Tidak

Menggunakan obat tidur/penenang atas anjuran dokter ?

Tidak

Cenderung mengurung diri ?

Tidak

Jika ada minimal 1 jawaban ya maka : masalah emosional (+)

3) Spiritual

Karena keterbatasan fisik, klien jarang melakukan ibadah.

1. Pengkajian Fungsional Klien

a. Kartz Indeks

1. Mandiri dalam makan, kontinensia

(BAB/BAK), menggunakan pakaian,

pergi ke toilet, berpindah, dan mandi

1. Mandiri semuanya kecuali salah satu

fungsi diatas

1. Mandiri kecuali mandi dan salah satu

fungsi yang lain

1. Mandiri kecuali mandi, berpakaian,

dan satu fungsi yang lain

1. Mandiri kecuali mandi, berpakaian,

ke toilet, dan salah satu fungsi yang lain

1. Mandiri kecuali mandi, berpakaian, ke toilet,

V

berpindah dan salah satu fungsi yang lain

1. Ketergantungan semua fungsi di atas

b. Bartel Indeks

60

Total Score :

Jadi bartel indeks klien, termasuk kategori :

Mandiri: 130

Ketergantungan sebagian: 65-125

No

Kriteria

Dengan Bantuan

Mandiri

Ket

1.

Makan

-

10

Frekuensi : 3x sehari

Jumlah : 1 porsi

Jenis : Nasi, telur, daging,sayuran

2.

Minum

-

10

Frekuensi : Jika merasa haus

Jumlah : -

Jenis : Air putih

3.

Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur atau sebaliknya

5

-

4.

Personal toilet (cuci muka, menyisir rambut, dan gosok gigi)

0

-

Frekuensi : 2x

5.

Keluar masuk toilet (mencuci pakaian, menyeka tubuh, atau menyiram)

5

-

6.

Mandi

5

-

Frekuensi : 2x

7.

Jalan di permukaan datar

0

-

8.

Naik turun tangga

5

-

9.

Mengenakan pakaian

5

-

10.

Kontrol bowel

5

-

Frekuensi : 1x

11.

Kontrol bladder

Olahraga dan latihan

5

-

Frekuensi : -

Jenis : -

12.

Rekreasi dan pemanfaatan waktu luang

5

-

Ketergantungan total: < 65

3 Pengkajian Status Mental Gerontik

a. Short Portable Mental Status Quisioner

Benar

Salah

No

Pertanyaan

1

Tanggal berapa hari ini ?

2

Hari apa sekarang ?

3

Apa nama tempat ini ?

4

Dimana alamat anda ?

5

Berapa umur anda ?

6

Kapan anda lahir ?

7

Siapa presiden Indonesia sekarang ?

8

Siapa presiden Indonesia sebelumnya ?

9

Sebutkan nama ibu anda ?

10

Kurang 3 dari 20 terus menerus secara menurun

`7

Total score :

Jadi klien mengalami :

Fungsi intelektual utuh: jika jumlah salah 0-3

Fungsi intelektual ringan: jika jumlah salah 4-5

Fungsi intelektual sedang: jika jumlah salah 6-8

Fungsi intelektual berat: jika jumlah salah 9-10

No

Aspek kognitif

Nilai Maks

Nilai Klien

Kriteria

1

Orientasi

5

1

Menyebutkan dengan benar

Tahun

Musim

Tanggal

Hari

Bulan

Orientasi

5

5

Dimana kita berada ?

Negara Indonesia

Provinsi Jawa Barat

Kota Bandung

PSTW.......

Wisma ......

2

Registrasi

3

3

Sebutkan nama 3 objek oleh pemeriksa masing-masing 1 detik kemudian minta klien untuk menyebutkan ulang ketiga objek tersebut ?

Objek 1 : Racket

Objek 2 : Kok

Objek 3 : Net

3

Perhatian dan kalkulasi

5

3

Minta klien untuk memulai angka 100 dikurangi 7 sampai 5 kali/tingkat

93

86

79

72

65

4

Mengingat

3

3

Minta klien untuk mengingat objek pada nomor 2 (registrasi) dan nilai 1 poin untuk jawaban benar untuk masing-masing objek

5

Bahasa

9

5

Tunjukkan pada klien suatu benda dan minta pada klien menyebutkan namanya

Jam tangan

Pulpen

Minta klien untuk mengulang kata-kata berikut tak ada jika atau tetapi

Pernyataan benar 2 buah : tak ada, tetapi

Minta klien untuk mengikuti perintah yang terdiri dari 3 langkah :

ambil kertas ditangan anda, lipat dua dan taruh dilantai

Ambil kertas ditangan anda

Lipat dua

Taruh dilantai

Perintahkan klien untuk mengikuti hal berikut :

Tutup mata anda

Perintahkan klien untuk membuat kalimat dan suatu gambar

Tulis satu kalimat

Manyalin gambar

Total Nilai

30

20

Mini Mental Status Exam

Total Score : 20

Aspek kognitif dan fungsi mental baik: jika total skor > 23

Kerusakan aspek fungsi mental ringan: jika total skor 18-22

Terdapat kerusakan aspek fungsi : jika total skor < 17 mental berat

4 Pengkajian Status Mental Gerontik

Nilai 1: Jika klien menunjukkan kondisi di bawah ini

Nilai 0: Jika klien tidak menunjukkan kondisi di bawah ini

Komponen utama dalam bergerak

Langkah

Kriteria

Nilai

Perubahan posisi/gerakan keseimbangan

Mata dibuka

Bangun dari kursi

Tidak bangun dari tempat duduk dengan satu gerakan, tetapi mendorong tubuhnya keatas dengan tangan atau bergerak ke depan kursi terlebih dahulu, tidak stabil pada saat berdiri pertama kali

1

Duduk ke kursi

Menjatuhkan diri ke kursi, tidak duduk ditengah kursi

1

Menahan dorongan pada sternum

Pemeriksa mendorong sternum (perlahan-lahan sebanyak 3 kali). Klien menggerakkan kaki, memegang objek untuk dukungan, kaki tidak menyentuh sisi-sisinya

1

Mata ditutup

Bangun dari kursi

Kriteria sama dengan kriteria untuk mata terbuka

1

Duduk ke kursi

Kriteria sama dengan kriteria untuk mata terbuka

1

Menahan dorongan pada sternum

Kriteria sama dengan kriteria untuk mata terbuka

1

Perputaran leher

Menggerakkan kaki, memegang obyek untuk dukungan, kaki tidak menyentuh sisi-sisinya, keluhan vertigo, pusing atau keadaan tidak stabil

1

Gerakan menggapai sesuatu

Tidak mampu untuk menggapai sesuatu dengan bahu fleksi max, sementara berdiri pada ujung-ujung jari kaki tidak stabil, memegang sesuatu untuk dukungan

1

Membungkuk

Tidak mampu membungkuk untuk mengambil objek-objek kecil dari lantai, memegang objek untuk bisa berdiri, memerlukan usaha-usaha multiple untuk bangun

1

Gaya berjalan dan gerak

Minta klien untuk berjalan ke tempat yang ditentukan

Ragu-ragu tersandung, memegang objek untuk dukungan

1

Ketinggian langkah kaki

(saat berjalan)

Kaki tidak naik dari lantai secara konsisten (menggeser atau menyeret kaki), mengangkat kaki terlalu tinggi (>50 cm)

1

Kontinuitas langkah kaki (diobservasi dari sampinh klien)

Setelah langkah-langkah awal, langkah-langkah menjadi tidak konsisten, memulai mengangkat satu kaki sementara yang lain menyentuh tanah

1

Kesimetrisan langkah (diobservasi dari samping klien)

Tidak berjalan pada garis lurus, bergelombang dari sisi ke sisi

1

Penyimpangan jalur pada saat berjalan (diobservasi dari belakang klien)

Tidak berjalan pada garis lurus, bergelombang dari sisi ke sisi

1

Berbalik

Berhenti sebelum berbalik, jalan sempoyongan, bergoyang, memegang obyek untuk dukungan

1

Total Score :

15

0-5: Resiko jatuh rendah

6-10: Resiko jatuh sedang

11-15: Resiko jatuh tinggi

INVENTARIS DEPRESI BACK

ANALISA DATA

No

Data

Etiologi

Masalah

1

DS:

klien mengatakan bahwa klien mengalami stroke

DO:

klien memakai kursi roda

ekstremitas bawah klien tidak dapat di gerakan

Riwayat hipertensi

Stroke

Gangguan mobilitas fisik

2

DS:

Menurut klien, di lingkungan panti jarang berinteraksi dengan lansia lain

DO:

Klien terlihat sering berdiam diri dikamar

klien terlihat enggan berinteraksi dengan teman seusianya

klien tampak gusar ketika sedang mengobrol dengan teman seusianya

Riwayat penyakit stroke

Gangguan mobilitas fisik

terduduk di kursi roda

menarik diri

Gangguan psikososial

3

DS:

saaat ditanya usia klien mengatakan usianya 50 tahun namun saat ditanya tahun lahirnya klien menjawab tahun 70

DO:

Pasien sulit menjawab apa yang di tanyakan oleh perawat dengan metode pengkajian Mini mental status exam dan short portable mental status kuesioner

short portable mental status kuesioner dengan score 7 (intelektual sedang)

mini mental status exam dengan score 20 (kerusakan aspek mental ringan)

Penurunan fungsi syaraf motorik

proses degenerative

Penurunan intelektual

4

DS:

klien mengatakan tidak dapat menggunakan kedua kakinya untuk bangkit dari kursi roda dan untuk berjalan

DO:

klien mengggunakan kursi roda

Pada ekstermitas bagian bawah klien saat dikaji menggunakan Rom dari skala 0-5, didapati klien dengan skala 1

kartz indeks dengan tipe F (mandiri kecuali berpakaian, ketoilet, berpindah dan salah satu fungsi diatas)

bartel indeks total >65 (ketergantungan total)

status mental gerontik dengan score 15 (resiko jatuh tinggi)

Riwayat penyakit stroke

Memakai kursi roda

Imobilisasi fisik

Resiko jatuh

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan riwayat penyakit stroke, ditandai dengan : klien menggunakan kursi roda;ROM dengan skala 1.

1. Gangguan psikososial berhubungan dengan menarik diri, ditandai dengan : klien sering berdiam diri dikamar.

1. Penurunan intelektual berhubungan dengan proses degenerative. ditandai dengan: short portable mental status kuesioner dengan score 7;mini mental status exam dengan score 20 (kerusakan aspek mental ringan)

1. Resiko jatuh berhubungan dengan riwayat stroke.ditandai dengan : status mental gerontik dengan score 15

INTERVENSI

No

Diagnosa keperawatan

Tujuan

Intervensi

Rasional

1.

Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan riwayat penyakit stroke, ditandai dengan : klien menggunakan kursi roda;ROM dengan skala 1

Tujuan umum :

Setelah dilakukan intervensi keperawatan Gangguan mobilitas fisik dapat teratasi.

Tujuan khusus :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, gangguan mobilitas fisik dapat teratasi dengan kriteria :

Klien dapat berangsur - angsur beraktivitas dengan mandiri meski dengan kursi roda.

1. Pemberian edukasi kepada klien mengenai aktivitas sehari hari tanpa bantuan orang lain.

2. Diskusikan mengenai cara melakukan kegiatan sehari hari tanpa bantuan orang lain.

3. kolaborasi dengan ahli fisiotherapyst

1. Mengetahui aktivitas apa saja yang harus dilakukan klien secara mandiri.

2. Mengetahui cara cara melakukan aktivitas sehari hari secara mandiri.

3. rehabilitasi untuk klien.

2.

Gangguan psikososial berhubungan dengan menarik diri, ditandai dengan : klien sering berdiam diri dikamar

Tujuan umum :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan gangguan psikososial klien dapat teratasi.

Tujuan khusus :

Stelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam, diharapkan gangguan psikososial klien dapat teratasi dengan kriteria :

klien tidak lagi berdiam diri dikamar dan mau berinteraksi dengan teman seusianya.

1. Memberi edukasi pada klien bahwa berkumpul dengan teman teman seusianya itu perlu

2. Memberi motivasi pada klien

3. Menemani klien makan atau melakukan aktivitas agar klien tidak merasa kaget saat berkumpul dengan teman teman seusianya

1. Klien dapat memahami pentingnya berkumpul dengan teman teman seusianya

2. Klien dapat bergabung dengan teman teman seusianya di waktu senggang

3. Klien merasa ada yang peduli dan memperhatikan klien saat ditemani oleh perawat

4. Klien dapat menceritakan kegelisahannya atau pengyebab klien menarik diri

3.

Penurunan intelektual berhubungan dengan proses degenerative. ditandai dengan: short portable mental status kuesioner dengan score 7;mini mental status exam dengan score 20 (kerusakan aspek mental ringan)

Tujuan umum :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan status intelektual klien dapat di pertahankan.

Tujuan khusus :

Stelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam, diharapkan status intelektual klien dapat dipertahankan dengan kriteria :

short portable mental status kuesioner dengan rentang score 4 - 5

mini mental status exam dengan rentang score 22 - 24

1. Memberikan edukasi kognitif (missal:mengingat suatu kejadian yang baru dilaluinya atau mengingat hal hal kecil seperti: bulan, tanggal, tahun

2. memasang kalender di kamar klien dengan ukuran yang dapat di lihat oleh lansia seperti klien.

1. Klien dapat mempertahankan kemampuan kognitif klien

2.klien dapat melihat hari tanggal dan tahun setiap saat

4.

Resiko jatuh berhubungan dengan riwayat stroke.ditandai dengan : status mental gerontik dengan score 15

Tujuan umum :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan resiko jatuh tidak terjadi.

Tujuan khusus :

Stelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam, diharapkan resiko jatuh klien dapat di minimalisir dengan kriteria :

status mental gerontik dengan rentang score 10 - 13

1. Memberikan klien edukasi mengenai cara menggunakan kursi roda

2. meminimalisir klien jatuh dengan memasang palang di sisi tempat tidur klien, menggunakan lantai yang berbatas jelas dengan tembok, serta memfasilitasi penerangan yang cukup

1. Klien dapat memahami cara cara menggunakan kursi roda yang baik dan benar

2. Resiko klien mengalami jatuh dapat diminimalisir

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Usia lanjut adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan - lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita, oleh karena itu dengan memberikan asuhan keperawatan pada lansia dapat meningkatkan kualitas hidup pada lansia. dalam kasus diatas bahwa lansia memiliki kecenderungan ketergantungan karena proses yang alamiah (degenerative).

3.2 Saran

Sebagai mahasiswa keperawatan, sebaiknya lebih memahami tentang bagaimana pengetahuan mengenai Asuhan Keperawatan Gerontik. Mudah-mudahan dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya pembaca dan penulis. Serta mendapat wawasan tentang konsep asuhan keperawatan gerontik.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L. 2000.Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Edisi ke-6. Jakarta : EGCLeeckenotte, Annete Glesler. 1997.Pengkajian Gerontologi, Edisi ke-2. Jakarta : EGCNugroho, Wahjudi. 2000.Keperawatan Gerontik,Edisi ke-2. Jakarta : EGC

i