33
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan penyakit yang masih banyak terjadi pada masa kanak dan bahkan menjadi salah satu penyakit yang banyak menjadi penyebab kematian anak yang berusia di bawah lima tahun (balita). Karenanya, kekhawatiran orang tua terhadap penyakit diare adalah hal yang wajar dan harus dimengerti. Justru yang menjadi masalah adalah apabila ada orang tua yang bersikap tidak acuh atau kurang waspada terhadap anak yang mengalami diare. Misalnya, pada sebagian kalangan masyarakat, diare dipercaya atau dianggap sebagai pertanda bahwa anak akan bertumbuh atau berkembang. Kepercayaan seperti itu secara tidak sadar dapat mengurangi kewaspadaan orang tua. sehingga mungkin saja diare akan membahayakan anak. (anaksehat.blogdrive.com). Menurut data United Nations Children's Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) pada 2009, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita di dunia, nomor 3 pada bayi, dan nomor 5 bagi segala umur. Data UNICEF memberitakan bahwa 1,5 juta anak meninggal dunia setiap tahunnya karena diare Angka tersebut bahkan masih lebih besar dari korban AIDS, malaria, dan cacar jika digabung. Sayang, di beberapa negara berkembang, hanya 39 persen penderita mendapatkan penanganan serius.

Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

  • Upload
    wahyu

  • View
    195

  • Download
    44

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan penyakit yang masih

banyak terjadi pada masa kanak dan bahkan menjadi salah satu penyakit yang banyak

menjadi penyebab kematian anak yang berusia di bawah lima tahun (balita). Karenanya,

kekhawatiran orang tua terhadap penyakit diare adalah hal yang wajar dan harus dimengerti.

Justru yang menjadi masalah adalah apabila ada orang tua yang bersikap tidak acuh atau

kurang waspada terhadap anak yang mengalami diare. Misalnya, pada sebagian kalangan

masyarakat, diare dipercaya atau dianggap sebagai pertanda bahwa anak akan bertumbuh atau

berkembang. Kepercayaan seperti itu secara tidak sadar dapat mengurangi kewaspadaan

orang tua.  sehingga mungkin saja diare akan membahayakan anak.

(anaksehat.blogdrive.com).

Menurut data United Nations Children's Fund (UNICEF) dan World Health

Organization (WHO) pada 2009, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita di

dunia, nomor 3 pada bayi, dan nomor 5 bagi segala umur. Data UNICEF memberitakan

bahwa 1,5 juta anak meninggal dunia setiap tahunnya karena diare

Angka tersebut bahkan masih lebih besar dari korban AIDS, malaria, dan cacar jika

digabung. Sayang, di beberapa negara berkembang, hanya 39 persen penderita mendapatkan

penanganan serius.

Di Indonesia sendiri, sekira 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekira 460

balita setiap harinya akibat diare. Daerah Jawa Barat merupakan salah satu yang tertinggi, di

mana kasus kematian akibat diare banyak menimpa anak berusia di bawah 5 tahun.

Umumnya, kematian disebabkan dehidrasi karena keterlambatan orangtua memberikan

perawatan pertama saat anak terkena diare.

Diare disebabkan faktor cuaca, lingkungan, dan makanan. Perubahan iklim, kondisi

lingkungan kotor, dan kurang memerhatikan kebersihan makanan merupakan faktor

utamanya. Penularan diare umumnya melalui 4F, yaitu Food, Fly , Feces, dan Finger.

Oleh karena itu, upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutus rantai

penularan tersebut. Sesuai data UNICEF awal Juni 2010, ditemukan salah satu pemicu diare

baru, yaitu bakteri Clostridium difficile yang dapat menyebabkan infeksi mematikan di

Page 2: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

saluran pencernaan. Bakteri ini hidup di udara dan dapat dibawa oleh lalat yang hinggap di

makanan. (lifestyle.okezone.com).

Angka kejadian diare di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih

tinggi. Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita

setiap harinya. Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia, diare

merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita dan nomor 3 bagi bayi serta nomor 5

bagi semua umur. Setiap anak di Indonesia mengalami episode diare sebanyak 1,6 – 2 kali

per tahun

B. Tujuan Penulisan

Tujuan Umum

Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada anak dengan diare

Tujuan Khusus

1.      Untuk mengetahui tinjauan teoritis diare

2.      Untuk mengetahui Pengkajian pada anak dengan diare

3.      Untuk mengetahui Diagnosa keperawatan pada anak dengan diare

4.      Untuk mengetahui Intervensi keperawatan pada anak dengan diare

5.      Untuk mengetahui Implementasi keperawatan pada anak dengan diare

6.      Untuk mengetahui Evaluasi keperawatan pada anak dengan diare

Page 3: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Penyakit

1.      Pengertian

Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah defekasi encer

lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja.

Sedangkan menurut C.L Betz & L.A Sowden (1996) diare merupakan suatu keadaan

terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus.

Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana

terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi

buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.

Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih

dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah

atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.

2.      Etiologia.       Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare,

meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia,

Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll),

infeksi parasit (E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).

b.      Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan

diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.

c.       Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa),

monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa

merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu dapat pula

terjadi malabsorbsi lemak dan protein.

d.      Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap

jenis makanan tertentu.

e.       Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).

3.      Patofisiologi

Page 4: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus,

hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang

berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang

menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik

yang berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang,

mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta

suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.

Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat

berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga

frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul)

Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan

dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak

terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena

kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.

Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul

oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus

ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.

4.      Pemeriksaan Diagnostik

Page 5: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

- Pemeriksaan tinja.

- Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup, bila memungkinkan

dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup, bila memungkinkan.

- Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.

- Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara

kuantitatif, terutama dilakukan pada klien diare kronik.

5.      Penatalaksanaan

Penanggulangan kekurangan cairan merupakan tindakan pertama dalam mengatasi

pasien diare. Hal sederhana seperti meminumkan banyak air putih atau oral rehidration

solution (ORS) seperti oralit harus cepat dilakukan. Pemberian ini segera apabila gejala diare

sudah mulai timbul dan kita dapat melakukannya sendiri di rumah. Kesalahan yang sering

terjadi adalah pemberian ORS baru dilakukan setelah gejala dehidrasi nampak.

Pada penderita diare yang disertai muntah, pemberian larutan elektrolit secara

intravena merupakan pilihan utama untuk mengganti cairan tubuh, atau dengan kata lain

perlu diinfus. Masalah dapat timbul karena ada sebagian masyarakat yang enggan untuk

merawat-inapkan penderita, dengan berbagai alasan, mulai dari biaya, kesulitam dalam

menjaga, takut bertambah parah setelah masuk rumah sakit, dan lain-lain. Pertimbangan yang

banyak ini menyebabkan respon time untuk mengatasi masalah diare semakin lama, dan

semakin cepat penurunan kondisi pasien kearah yang fatal.

Diare karena virus biasanya tidak memerlukan pengobatan lain selain ORS. Apabila

kondisi stabil, maka pasien dapat sembuh sebab infeksi virus penyebab diare dapat diatasi

sendiri oleh tubuh (self-limited disease).

Diare karena infeksi bakteri dan parasit seperti Salmonella sp, Giardia lamblia,

Entamoeba coli perlu mendapatkan terapi antibiotik yang rasional, artinya antibiotik yang

diberikan dapat membasmi kuman.

Oleh karena penyebab diare terbanyak adalah virus yang tidak memerlukan antibiotik,

maka pengenalan gejala dan pemeriksaan laboratorius perlu dilakukan untuk menentukan

penyebab pasti. Pada kasus diare akut dan parah, pengobatan suportif didahulukan dan

terkadang tidak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut kalau kondisi sudah membaik.

6.      Komplikasi

Page 6: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

Menurut Broyles (1997) komplikasi diare  ialah: dehidrasi, hipokalemia,

hipokalsemia, disritmia jantung (yang disebabkan oleh hipokalemia dan hipokalsemia),

hiponatremia, dan shock hipovolemik.

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1.      PengkajianPengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan penentuan

masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi, pemeriksaan fisik.

Pengkaji data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 adalah :

1. Identitas klien.

2. Riwayat keperawatan.

· Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian

timbul diare.

· Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi

gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor

kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali

dengan konsistensi encer.

3. Riwayat kesehatan masa lalu.

Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.

4. Riwayat psikososial keluarga.

Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga, kecemasan

meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak, setelah menyadari

penyakit anaknya, mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.

5. Kebutuhan dasar.

· Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit

atau jarang.

· Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan

pasien.

· Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan

menimbulkan rasa tidak nyaman.

· Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.

· Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi

abdomen.

6. Pemerikasaan fisik.

Page 7: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

a. Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran composmentis sampai

koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan agak cepat.

b. Pemeriksaan sistematik :

· Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat

badan menurun, anus kemerahan.

· Perkusi : adanya distensi abdomen.

· Palpasi : Turgor kulit kurang elastis

· Auskultasi : terdengarnya bising usus.

c. Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang.

d. Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan

menurun.

e. Pemeriksaan penunjang.

f.Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab

secara kuantitatip dan kualitatif.

2.      Diagnosa yang Mungkin Muncula. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake

terbatas (mual).

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan

peristaltik usus.

c. Nyeri (akut) b.d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.

d. Kecemasan keluarga b.d perubahan status kesehatan anaknya

e. Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b.d pemaparan

informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.

f. Kecemasan anak b.d perpisahan dengan orang tua, lingkungan yang baru

3.      Intervensi dan RasionalDx.1 Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah

serta intake terbatas (mual)

Tujuan : Kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda dehidrasi

Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasi

Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan

Pantau intake dan output. yang keluar bersama feses.

Page 8: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan

pengganti.

Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium Menilai status

hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa

Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif

Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui

Dx.2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien

dan peningkatan peristaltik usus.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria terjadi peningkatan berat badan

Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.

Menurunkan kebutuhan metabolic

Pertahankan status puasa selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai

pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan Pembatasan diet per oral

mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan peristaltik sehingga terjadi

kekurangan nutrisi. Pemberian makanan sesegera mungkin penting setelah keadaan klinis

klien memungkinkan.

Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet Memenuhi kebutuhan

nutrisi klien

Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi Mengistirahatkan kerja

gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanju

Dx.3 : Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.

Tujuan : Nyeri berkurang dengan kriteria tidak terdapat lecet pada perirektal

Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.

Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri

Page 9: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan

kompres hangat abdomen

Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian klien dan meningkatkan kemampuan

koping

Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan perawatan

kulit

Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi

Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi

Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme traktus GI

dapat diberikan sesuai indikasi klinis

Kaji keluhan nyeri dengan Visual Analog Scale (skala 1-5), perubahan karakteristik nyeri,

petunjuk verbal dan non verbal

Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya

Dx.4 : Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya.

Tujuan : Keluarga mengungkapkan kecemasan berkurang.

Dorong keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik tentang

mekanisme koping yang tepat.

Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan alternatif pemecahan masalah

Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua klien yang

anaknya mengalami masalah yang sama

Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien bukan satu-satunya orang yang

mengalami masalah yang demikian

Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam membantu

klien.

Mengurangi rangsang eksternal yang dapat memicu peningkatan kecemasan

Dx.5 : Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi

Page 10: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan

kognitif.

Tujuan : Keluarga akan mengerti tentang penyakit dan pengobatan anaknya, serta mampu

mendemonstrasikan perawatan anak di rumah.

Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan tentang

penyakit dan perawatan anaknya.

Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta latar belakang

pengetahuan sebelumnya.

Jelaskan tentang proses penyakit anaknya, penyebab dan akibatnya terhadap gangguan

pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari.

Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi keluarga klien dan

keluarga dalam proses perawatan klien

Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian serta efek

samping yang mungkin timbul

Meningkatkan pemahaman dan partisipasi keluarga klien dalam pengobatan.

Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi

Meningkatkan kemandirian dan kontrol keluarga klien terhadap kebutuhan perawatan diri

anaknya

Dx. 6 : Kecemasan anak b.d Perpisahan dengan orang tua, lingkugan yang baru

Tujuan : Kecemasan anak berkurang dengan kriteria memperlihatkan tanda-tanda

kenyamanan

Anjurkan pada keluarga untuk selalu mengunjungi klien dan berpartisipasi dalam perawatn

yang dilakukan

Mencegah stres yang berhubungan dengan perpisahan

Berikan sentuhan dan berbicara pada anak sesering mungkin

Memberikan rasa nyaman dan mengurangi stress

Page 11: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

Lakukan stimulasi sensory atau terapi bermain sesuai dengan ingkat perkembangan klien

Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan secara optimum

4.      ImplementasiMelaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan yang telah

direncanakan sebelumnya.

5.      Evaluasi

Evaluasi merupakan pengukuran keberhasilan sejauhmana tujuan tersebut tercapai. Bila

ada yang belum tercapai maka dilakukan pengkajian ulang, kemudian disusun rencana,

kemudian dilaksanakan dalam implementasi keperawatan lalau dievaluasi, bila dalam

evaluasi belum teratasi maka dilakukan langkah awal lagi dan seterusnya sampai tujuan

tercapai.

BAB III

TINJAUAN KASUS

Page 12: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

A.                Pengkajian

1. Identitas Pasien

Nama : An. R

Umur : 4 bulan

Jenis kelamin : laki-laki

Alamat : Padangan 08/2 Padangan

Tanggal Masuk: 25 juli 2013

Diagnosa medis: Gastroenteritis

Nama Ayah : Tn. B

Umur :35 tahun

Pekerjaan : wiraswasta

Pendidikan : SMA

Suku bangsa : jawa

Alamat : Padangan 08/2 Padangan

Nama Ayah : Ny. S

Umur : 31 tahun

Pekerjaan : wiraswasta

Pendidikan : SMA

Suku bangsa : jawa

Alamat : Padangan 08/2 Padangan

1.      Keluhan Utama

Alas an masuk dengan keluhan BAB berlendir dan berdarah sudah 4 hari yang lalu.

BAB yang sedikit tapi sering sekitar 7-8 kali perhari. pasien masuk via IGD Rujukan bidan

desa.

3. Keadaan Umum

Tingkat kesadaran compos mentis, panjang badan 65 cm, BB 6 kg, LILA 35 cm, lingkar

kepala 39 cm, TTV: Suhu: 36,6 C, Nadi 140 x/menit, RR 46 x/menit, keluhan lain BAB

berlendir dan berdarah serta encer.

4. Riwayat kesehatan

Page 13: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

keluhan utama BAB encer, berlendir dan berdarah,sehari bias 7-8 kali. Keluhan sudah

ada 4 hari sebelum pasien masuk RS, factor pencetus adalah alergi susu sapi. Pada riwayat

kesehatan dahulu tidak ada penyakit berat dan tidak ada dioperasi, keluarga tidak ada

penyakit menular atau keturunan.

5. Riwayat Imunisasi

imunisasi belum lengkap, imunisasi yang didapat adalah BCG, DPT, Polio, imunisasi

yang belum didapat adalah Campak, waktu imunisasi adalah sebelum dirawat di RS.

6. Psikososial

hubungan dengan anggota keluarga anak sangat dekat dengan ayah dan ibunya. ps

tidak ada teman sebaya. karakter periang.

7. Riwayat Tumbuh Kembang

motorik halus, motorik kasar, kognitif dan bahasa berkembang dengan baik.

         Pertumbuhan dan Perkembangana)      Motorik  Mengguling, umur            :               4 bulan  Duduk, umur                     :               7 bulan  Merangkak, umur             :               9 bulan  Berdiri, umur                     :               10 bulan  Berjalan, umur                   :               -b)      Sosial Kognitif  Tersenyum, umu                :               3hari  Mengucap kata pertama, umur :               10 bulan  Bermain, umur                          :               9 bulan  Sekolah, umur                           :               -

8. Jenis Kebutuhan

a.    makanan, pada kondisi sehat nakan teratur, makanan air tajin, 3x/ hari. selama sakit ps

tidak diperbolehkan minum susu sapi oleh dokter, intake inadekuat, mengisap putting susu

lemah, ASI diberikan tidak adekuat, ibu jarang menyusui bayinya.

b.   cairan, selama sehat px minum susu teratur, selama sakit masukan oral sebayak 300cc dan

pemasukan parenteral sebanyak 250cc total 550 cc.

c.    eliminasi, selama sehat frekuensi BAK 5-6 kali perhari, warna kuning bening bau khas,

jumlah 350- 400 cc/ hari. selama sakit frekuensi 6-7 kali perhari, warna kuning, bau khas,

tidak terpasang kateter, ada tahana waktu BAK, ps tampak mengedan saat BAK. BAB

Page 14: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

selama sehat 1 x / hari, konsistensi lembek, mengikuti bentuk kolon. warna dan bau tidak

terkaji. waktu sakit BAB 7-8 x / hari dengan konsistensi encer, tidak mengikuti bentuk

kolon, warna kuning kemerahan, bau amis, jumlah tidak terkaji, ada lendir dan darah, ps

tampak mengedan saat BAB dan meringis, tidak ada pemakaian laksatif.

d.   tidur, selama sehat pola tidur teratur, malam 9-10 jam, siang 1,5 jam, jumlah jam tidur

11,5 jam. waktu sakit, pola teratur, malam 9-10 jam, siang 11,5 jam,

e.    kebutuha bermain, waktu sehat, jenis permainan tepuk tangan frekuensi sering jika ps

tidak bisa tidur, 16 menit tiap bermain, teman bermain ibu pasien. waktu sakit permainan

sama.

9. Pemeriksaan Fisik

a.    kepala : lingkar kepala 37 cm, distribusi rambut hanya dibagian atas saja tekstur rambut

halus, warna hitam, tidak ada lesi, wajah agak pucat.

b.    Mata : mata simetris, palpebra tidak ada pembengkakan, konjungtiva agak pucat, sclera

putih,m ukuran pupil 2 cm, reaksi pupil +/+ kiri dan kanan..

c.    Hidung : hidung simetris, warna sama dengan kulit sekitar, bersih, septumdan konka

hidung tidak ada kelainan, tidak ada sekret dan polip.

d.   Telinga: posis sejajar kiri dan kana, tidak ada secret, membrane timpani tidak ada

peradangan, ketajaman penuh. Tidak ada nyri aurikel dan mastoid.

e.    Mulut : simetris, bersih, bibir normal, gigi belum lengkap, tonsil normal.

f.     Thorak / dada paru : bentuk normal chest, simetris, pernafasan dada, gerakan paru

simetris, ekspansi dada simetris, taktil fremitus teraba, sura paru sonor, suara nafas

vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan.

g.    Jantung: iktus kordis tidak terlihat, precordial fraction rub tidak terlihat, iktus kordis

teraba, batas jantung jelas dan tidak ada pembesaran, suara organ jantung pekak, bunyi

jantung S1 dan S2 terdengar, intensitas S1>S2 dan bunyi reguler.Tidak ada bunyi jantung

tambahan.

h.    Abdomen dan anus : abdomen bentuk soepel, simetris, warna sama dengan kulit sekitar,

tidak ada lesi dan asites. Bising usus 38 x / menit, bunyi bruit tidak terdengar. Suara

abdomen tympani, tidak terdapat massa dan pembesaran, titik mc burney tidak ada nyeri,

tanda peritonitis tidak ada. Palpasi dalam pada hepar dan limpa tidak terdapat pembesaran

dan nyeri. Warna anus merah muda / kemerah-merahan. terdapat lesi, tidak ada fistula dan

hemoroid.

i.      Genitalia : simetris, tidak terpasang kateter dan tidak ada kelainan.

Page 15: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

j.      Ektremitas dan punggung : punggung tidak ada lesi, tidak ada nyeri dan kelainan tulang

belakang. Ekstremitas simetris, tidak ada edema dan deformitas tulang. Palpasi tulang dan

sendi normal. Kekuatan otot 5. Tidak ada keterbatasan gerak.

k.    Kulit : lesi tidak ada, kulit lembab, turgor elastisitas, tekstur elastic, tidak ada kemerah

merah.

10. Pemeriksaan Neurologis

Reflek fisiologis: babynski +, rooting +, soaking lemah, bayi malas mengisap putting susu

ibunya, reflek meningeal: kejang + tiap sebentar,sekitar 5 detik.

11. Hasil Pemeriksaan Diagnostic

-  Pemeriksaan Hb = 9,8 gr% ( 01 Agustus 2013)

-  Pemeriksaan Hb = 10,2 gr% ( 02 Agustus 2013)

-  Pemeriksaan Hb = 10,7 gr% ( 03 Agustus 2013)

12. Terapi Yang Diberikan

1-8-2013 :

Luminal 2 x 15 mg

Oralit 50 mg tiap mencret

Diit ML 700 kkal

IVFD Kaen IIIB 28 tts / i

2-8-2013 :

Luminal 2 x 15 mg

Oralit 50 mg tiap mencret

Diit ML 700 kkal

IVFD Kaen IIIB 28 tts / i

03-8-2013 :

Luminal 2 x 15 mg

Oralit 50 mg tiap mencret

Diit ML 700 kkal

IVFD Kaen IIIB 28 tts / i

Page 16: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

B.                 Analisa Data

No. Data Fokus Penyebab Masalah

1. DO:      BAB encer, berlendir serta berdarah      KU ps. Lemah      Bising usus 38x/menit      BAB 7-8 Perhari      TTV: Suhu: 36,6 C, Nadi 140 x/menit, RR 46

x/menitDS:

      Keluaga mengatakan BAB encer sudah 4 hari, jumlah sedikit.

Alergi susu

sapi

Diare

2. DO:      Warna anus kemerahan      Terdapat lesi disekitar anus      Frekuensi diare 7-8 x/ hari      Daerah sekitar anus lembab

DS:      Keluarga mengatakan lesi dibagian anus sudah 2

hari.

ekskresi/BAB

sering

Kerusakan

integritas

kulit

3. Do:Bayi tampak malas menyusu kepada ibunyaReflek menyusu lemahBB turun = 6,5 kg – 6 kg dalam 3 hariKU lemahPs. Hanya minum susu ASIHb: 9,8 gr%Wajah bayi agak pucat

DS:       Ibunya mengataka bahwa jarang menyusui

anaknya       Ibunya mengatakan mrnyusui anaknya tidak

teratur

Kelemahan

reflek

menyusui

Menyusui

tidak efektif

C.                Diagnosa Keperawatan

Diare b.d Alergi susu sapi kerusakan integritas kulit b.d ekskresi/BAB sering

Menyusui tidak efektif b.d Kelemahan reflek menyusui

D.                Intervensi

No

Diagnosa keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil(NOC)

Intervensi(NIC)

1 Diare b.d Alergi susu Setelah dilakukan tidakan Fluid management

Page 17: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

sapiDitandai dengan :

      Keluaga mengatakan BAB encer sudah 4 hari, jumlah sedikit.

      BAB encer, berlendir serta berdarah

      KU ps. Lemah      Bising usus 38x/menit      BAB 7-8 Perhari      TTV: Suhu: 36,6 C,

Nadi 140 x/menit, RR 46 x/menit

keperawatan dalam 5 x 24 jam eliminasi BAB dan status hidrasi efektif.

Kriteria hasil:      Tidak ada diare      Konsistensi tidak cair      Ada ampas      Tidak ada tanda-tanda

dehidrasi      TTV dalam batas normal      Bising usus dalam batas

normal

       Timbang popok/pembalut jika diperlukan

       Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

       Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik), jika diperlukan

       Monitor vital sign       Monitor masukan makanan /

cairan dan hitung intake kalori harian

       Kolaborasikan pemberian cairan intravena IV

       Monitor status nutrisi       Dorong masukan oral       Kontrol bising usus       Dorong keluarga untuk

membantu pasien minum susu

       Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk

       Berikan oralit sesuai indikasi2 kerusakan integritas kulit

b/d ekskresi/BAB seringDO:

      Warna anus kemerahan      Terdapat lesi disekitar

anus      Frekuensi diare 7-8 x/

hari      Daerah sekitar anus

lembabDS:Keluarga mengatakan lesi dibagian anus sudah 2 hari.

Setelah dilakukan tidakan keperawatan dalam 5 x 24 jam membrane mukosa dan kulit kembali efektif

Kriteria Hasil :  Integritas kulit yang baik bisa

dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)

  Tidak ada luka/lesi pada kulit  Perfusi jaringan baik  Menunjukkan pemahaman

dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya sedera berulang

  Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami

Skin care Hindari kerutan padaa tempat

tidur Jaga kebersihan kulit agar tetap

bersih dan kering Mobilisasi pasien (ubah posisi

pasien) setiap dua jam sekali Monitor kulit akan adanya

kemerahan Oleskan lotion atau

minyak/baby oil pada derah yang tertekan

Monitor status nutrisi pasien Memandikan pasien dengan

sabun dan air hangatJaga kulit tetap kering

3 Menyusui tidak efektif b.d Kelemahan reflek menyusui d.d:Do:

Setelah dilakukan tidakan keperawatan dalam 7 x 24 jam status nutrisi dan menyusui efektif.

Nutrition ManagementKaji BB setiap hariKaji adanya kelemahan dan

kelasan bayi dalam menyusui

Page 18: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

        Bayi tampak malas menyusu kepada ibunya

Reflek menyusu lemah        BB turun = 6,5 kg – 6

kg dalam 3 hariKU lemah        Ps. Hanya minum susu

ASIHb: 9,8 gr%Wajah bayi agak pucat

DS:       Ibunya mengatakan

bahwa jarang menyusui anaknya

       Ibunya mengatakan mrnyusui anaknya tidak teratur

Kriteria Hasil :      Adanya peningkatan berat

badan sesuai dengan tujuan      malnutrisi      Tidak terjadi penurunan

berat badan yang berarti      Ibu mau menyusui anaknya

dengan teratur      Reflek menyusui anak baik      Hb dalam batas normal      Bayi tidak lagi malas

mengisap putting susu      Bayi tidak lagi pucat

Kaji kadar Hb Ajarkan ibu pentingnya

memberi susu secara teraturKaji adanya pucat Beritahu ibu pentingnya ASI

bagi bayi

E.                 Implementasi dan Evaluasi

Tanggal/ hari

Jam No. Dx

Implementasi Evaluasi Paraf

1-8-2013

Kamis

09.0009.1010.00

12.0012.3012.4513.00

I    Mengukur TTV   Mengkaji keadaan umum

ps   Memberikan cairan lewat

infus   Mengukur balance cairan   Mengkaji BAB   Menimbang popok   Mengukur bising usus

S: - O:

-      berat popok 500 gr -      TTV: S: 36,6 C N: 140x/menit RR:46 X/menit

-      IVFD=RL 20 tts / menit mikro.-      Balance cairan +150 ml-      KU ps lemah-      BAB encer, berlendir, dan berdarah-      Bisisng usus = 38 x / menit

A: Diare b.d Alergi susu sapi belum teratasiP: Intervensi dilanjutkan

TTD

1-8-2013

Kamis

09.0009.10

19.15

10.0012.00

II    Mengkaji adnya lesi   Mengkaji frekuensi diare

setiap 24 jam   Mengobservasi tanda –

tanda kerusakan integritas kulit

   Memandikan ps   Melakukan verbeden

S:        keluaga mengatakan ada lesi

dibagian anusO:

        frekuensi diare 7-8 x/ hari        terdapat kemerahan disekitar anus        verbeden setiap hari        ps. Tamapk tenag setelah

dimandikan dan diberi lotionA: kerusakan integritas kulit b/d

TTD

Page 19: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

ekskresi/BAB sering belum teratasiP: Intervensi dilanjutkan

1-8-2013

Kamis

10.00

12.0012.1012.1512.30

12.45

III mengkaji kekuatan menusui pada bayi

menimbang BB Mengkaji turgor kulit Mengkaji adanya alergi Mengkaji tingkat kerajinan

ibu dalam menyusui bayinya.

Memberiakn diit sesuai indikasi

Mengukur Hb

S:-O:

-      Ps. Alergi susu sapi-      Diit diberikan sesuai konsultasi ahli

gizi-      BB: 6 kg-      Turgor kulit jelek-      Lingkungan nyaman selama

pemberian diit-      Tidak ada perubahan pigmen kulit-      Hb 9,8 gr%

A: Menyusui tidak efektif b.d Kelemahan reflek menyusui belum teratasiP : intervensi dilanjutkan

TTD

Tanggal/ hari

Jam No. Dx

Implementasi Evaluasi Paraf

2-8-2013

Jum at

09.0009.1010.00

12.0012.3012.4513.00

I    Mengukur TTV   Mengkaji keadaan umum

ps   Memberikan cairan lewat

infus   Mengukur balance cairan   Mengkaji BAB   Menimbang popok   Mengukur bising usus

S: - O:

-      berat popok 400 gr -      TTV: S: 36,8 C N: 148 x /menit RR:50 x /menit

-      IVFD=RL 20 tts / menit mikro.-      Balance cairan +170 ml-      KU ps lemah-      BAB encer, berlendir, dan berdarah-      Bisisng usus = 36 x / menit

A: Diare b.d Alergi susu sapi belum teratasiP=Intervensi dilanjutkan

TTD

2-8-2013

Jum at

09.0009.10

19.15

10.0012.00

II    Mengkaji adnya lesi   Mengkaji frekuensi diare

setiap 24 jam   Mengobservasi tanda –

tanda kerusakan integritas kulit

   Memandikan ps   Melakukan verbeden

S:        keluaga mengatakan masih ada lesi

dibagian anusO:

        frekuensi diare 6-7 x / hari        terdapat kemerahan disekitar anus        verbeden setiap hari        ps. Tampak tenag setelah

dimandikan dan diberi lotionA: kerusakan integritas kulit b/d ekskresi/BAB sering belum teratasiP: Intervensi dilanjutkan

TTD

2-8-2013

Jum at

10.00

12.00

III mengkaji kekuatan menusui pada bayi

menimbang BB

S:-O:

-      Ps. Alergi susu sapi

TTD

Page 20: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

12.1012.1512.30

12.45

13.00

Mengkaji turgor kulit Mengkaji adanya alergi Mengkaji tingkat kerajinan

ibu dalam menyusui bayinya.

Memberiakn diit sesuai indikasi

Mengukur Hb

-      Diit diberikan sesuai konsultasi ahli gizi

-      BB: 6,1 kg-      Turgor kulit jelek-      Lingkungan nyaman selama

pemberian diit-      Tidak ada perubahan pigmen kulit-      Hb 10,2 gr%

A: Menyusui tidak efektif b.d Kelemahan reflek menyusui belum teratasiP : intervensi dilanjutkan

Tanggal/ hari

Jam No. Dx

Implementasi Evaluasi Paraf

3-8-2013

Sabtu

09.0009.1010.00

12.0012.3012.4513.00

I    Mengukur TTV   Mengkaji keadaan umum

ps   Memberikan cairan lewat

infus   Mengukur balance cairan   Mengkaji BAB   Menimbang popok   Mengukur bising usus

S: - O:

berat popok 350 gr -      TTV: S: 36,5 C N: 140 x /menit RR: 46 x /menit

-      IVFD=RL 20 tts / menit mikro.-      Balance cairan +170 ml-      KU ps lemah-      BAB encer, berlendir, dan berdarah-      Bising usus = 32 x / menit

A: Diare b.d Alergi susu sapi belum teratasiP=Intervensi dilanjutkan

TTD

3-8-2013

Sabtu

09.0009.10

19.15

10.0012.00

II    Mengkaji adnya lesi   Mengkaji frekuensi diare

setiap 24 jam   Mengobservasi tanda –

tanda kerusakan integritas kulit

   Memandikan ps   Melakukan verbeden

S:        keluaga mengatakan masih ada lesi

dibagian anusO:

        frekuensi diare 5 x / hari        terdapat kemerahan disekitar anus        verbeden setiap hari        ps. Tampak tenag setelah

dimandikan dan diberi lotionA: kerusakan integritas kulit b/d ekskresi/BAB sering belum teratasiP: Intervensi dilanjutkan

TTD

3-8-2013

Sabtu

10.00

12.0012.1012.1512.30

12.45

III mengkaji kekuatan menusui pada bayi

  menimbang BB  Mengkaji turgor kulit  Mengkaji adanya alergi Mengkaji tingkat kerajinan

ibu dalam menyusui bayinya.

  Memberiakn diit sesuai

S:-O:

-      Ps. Alergi susu sapi-      Diit diberikan sesuai konsultasi ahli

gizi-      BB: 6,3 kg-      Turgor kulit jelek-      Lingkungan nyaman selama

pemberian diit

TTD

Page 21: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

13.00indikasi

  Mengukur Hb-      Tidak ada perubahan pigmen kulit-      Hb 10,7 gr%

A: Menyusui tidak efektif b.d Kelemahan reflek menyusui belum teratasiP : intervensi dilanjutkan

BAB V

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dari hasil penerapan proses keperawatan yang kelompom lakukan pada An. A dengan

Gastroenteritis diruangan Teratai RSUD Dr. Soeprapto Cepu dapat ditemukan 3 diagnosa

keperawatan yang muncul yaitu:

Diare b.d Alergi susu sapi

kerusakan integritas kulit b.d ekskresi/BAB sering

Menyusui tidak efektif b.d Kelemahan reflek menyusui

Setelah Perencanaan keperawatan disusun, dalam pelaksanaan keperawatan,

kelompok dapat melaksanakan semua rencana keperawatan yang telah disusun Dalam

melaksanakan tindakan keperawatan kelompok bekerjasama dengan klien, keluarga, dan

perawat ruangan. Selain itu, implementasi keperawatan tersebut disesuaikan dengan kondisi

dan fasilitas ruangan perawatan klien.

B.     Saran

Bagi Institusi

Diharapkan dapat menambah koleksi bacaan di perpustakaan sehingga mudah dalam

pembuatan tugas.

Bagi Rumah Sakit

Diharapkan data ini dapat menjadi referensi dalam pembuatan asuhan keperawatan yang

mengacu pada standar SNL (Standard Nursing Language) yang dianjurkan oleh NANDA.

Page 22: Askep diare pada anak usia 4bln(prin).doc

DAFTAR PUSTAKA

A.H. Markum, 1991, Buku Ajar Kesehatan Anak, jilid I, Penerbit FKUI

Ngastiyah, 997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta

Price & Wilson 1995, Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Buku 1, Ed.4,

EGC, Jakarta

Soetjiningsih 1998, Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta

Soeparman & Waspadji, 1990, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. Ke-3, BP FKUI, Jakarta.

Suharyono, 1986, Diare Akut, lembaga Penerbit Fakultas Kedokteran UI, Jakarta

Whaley & Wong, 1995, Nursing Care of Infants and Children, fifth edition, Clarinda

company, USA.

NIC (Nursing Intervention Classification)

NOC (Nursing Outcomes Classification)

NANDA