35
1 ©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com BAB I ANATOMI SISTEM PERNAPASAN Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen serta menghembuskan karbondioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Jadi, dalam paru-paru terjadi pertukaran zat antara oksigen yang ditarik dari udara masuk ke dalam darah dan CO2 akan dikeluarkan dari darah secara osmosis. Seterusnya CO2 akan dikeluarkan melalui jalan pernapasan dan masuk ke dalam tubuh melalui kapiler-kapiler vena pulmonalis kemudian masuk ke serambi kiri jantung ke aorta seluruh tubuh, disini terjadi oksidasi (pembakaran). Sebagai sisa dari pembakaran adalah CO2 dan zat ini dikeluarkan melalui peredaran darah vena masuk ke jantung (serambi kanan) ke bilik kanan dan dari sini keluar melalui arteri pulmonalis ke jaringan paru-paru. Akhirnya dikeluarkan menembus lapisan epitel dari alveoli. Proses pengeluaran CO2 ini adalah sebagian dari sisa metabolisme, sedangkan sisa dari metabolisme lainnya akan dikeluarkan melalui traktus urogenitalis dan kulit.

Askep CA Paru-Rosdiana.ns

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Semoga Menginspirasikan

Citation preview

Page 1: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

1

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

BAB I

ANATOMI SISTEM PERNAPASAN

Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen serta

menghembuskan karbondioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Jadi, dalam paru-paru terjadi

pertukaran zat antara oksigen yang ditarik dari udara masuk ke dalam darah dan CO2 akan dikeluarkan

dari darah secara osmosis. Seterusnya CO2 akan dikeluarkan melalui jalan pernapasan dan masuk ke

dalam tubuh melalui kapiler-kapiler vena pulmonalis kemudian masuk ke serambi kiri jantung → ke aorta

→ seluruh tubuh, disini terjadi oksidasi (pembakaran).

Sebagai sisa dari pembakaran adalah CO2 dan zat ini dikeluarkan melalui peredaran darah vena

masuk ke jantung (serambi kanan) → ke bilik kanan dan dari sini keluar melalui arteri pulmonalis ke

jaringan paru-paru. Akhirnya dikeluarkan menembus lapisan epitel dari alveoli. Proses pengeluaran CO2

ini adalah sebagian dari sisa metabolisme, sedangkan sisa dari metabolisme lainnya akan dikeluarkan

melalui traktus urogenitalis dan kulit.

Page 2: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

2

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Setelah udara dari luar diproses, didalam hidung masih terjadi perjalanan panjang menuju paru-

paru (sampai alveoli). Pada laring terdapat epiglotis yang berguna untuk menutup laring sewaktu

menelan, sedangkan waktu bernapas epiglotis terbuka begitu seterusnya. Bulu getar silia digunakan untuk

menyaring debu-debu, kotoran dan benda asing sehingga udara yang masuk kedalam alat pernapasan

benar-benar bersih. Tetapi kalau kita bernapas melalui mulut, udara yang masuk ke dalam paru-paru tidak

dapat disaring, dilembapkan/dihangatkan, ini bisa mengakibatkan gangguan terhadap tubuh.

ORGAN-ORGAN PADA SISTEM PERNAPASAN

A. Rongga Hidung dan Nasal

1. Hidung Eksternal,

berbentuk piramid disertai dengan suatu akar dan dasar. Bagian ini tersusun dari kerangka kerja

tulang, kartilago hialin, dan jaringan fibroareolar.Septum Nasal membagi hidung menjadi sisi kiri

dan sisi kanan rongga nasal. Bagian anterior septum adalah kartilago. Naris(Nostril)Eksternal

dibatasi oleh kartilago Nasal. Kartilago Nasal Lateral terletak dibawah jembatan hidung. Ala Besar

dan Ala kecil kartilago nasal mengelilingi nostril.

Tulang Hidung

Tulang Nasal membentuk jembatan dan bagian superior kedua sisi hidungVomer dan Lempeng

perpendicular tulang etmoid membentuk bagian posterior septum nasal. Langit-langit rongga nasal

pada sisi medial terbentuk dari lempeng kribriform tulang etmoid, pada sisi anterior dari tulang

frontal dan nasal, dan pada sisi posterior dari tulang sfenoid.Konka (Turbinatum) Nasalis Superior,

tengah dan inferior menonjol pada sisi medial lateral rongga nasal. Setiap konkaf dilapisi

membaran mukosa (Epitel kolumnar bertingkat dan bersilia) yang berisi kelenjar pembuat mucus

dan banyak mengandung pembuluh darah. Meatus Superio, Media dan inferior merupakan jalan

udara rongga masaal yang terletak di bawah konkaf.

4 pasang sinus paranasal (Frontal, Etmoid. Maksilar, dan sfenoid) adalah kantong tertutup pada

bagian frontal, etmoid, maksilar, dan sfenoid. Lapisan ini dilapisi membaran mukosa. Sinus

berfungsi untuk meringankan tulang cranial, memberi area permukaan tambahan pada saluran

nasal umtuk menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk, memproduksi mukus dan

memberi efek resonansi dalam produksi wicara. Sinus paranasal mengalirkan cairannya ke meatus

rongga nasal melalui duktus kecil yang terletak da area tubuh yang lebih tinggi dari area lantai

Page 3: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

3

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

sinus. Pada posisi tegak aliran mucus ke dalam rongga nasal mungkin terhambat, terutama dalam

kasus infeksi sinus. Duktus nasolakrimal dari kelenjar air mata membuka ke arah meatus inferior.

2. Membran Mukosa Nasal

a. Struktur

1) Kulit pada bagian eksternal pada permukaan hidung yang mengandung folikel ranbut, keringat

dan kelenjar sebasea, merentang sampai vestibula yang terletak dalam nostril. Kulit di bagian

dalam ini mengandung rambut (vibrissae) yang berfungsi untuk menyaring partikel dari udara

terhisap.

2) Di bagian rongga nasal yang lebih dalam, epithelium respiratoris membentuk glukosa yang

melapisi ruang nasal selebihnya. Lpaisan ini terdiri dari epithelium bersilia dengan sel goblet yang

terletak pada lapisan jaringan ikat tervakularisasi dan terus memanjang untuk melapisi saluran

pernapasa sampai ke bronkus.

b. Fungsi

1) Penyaringan partikel kecil. Silia pada epithelium respiratorik melambai ke depan dan belakang

dalam suatu lapisan mucus. Gerakan dan mucus membentuk uatu perangkap untuk partikel yang

kemudian akan disapu ke atas untuk di telan, di batukan atau di bersihkan keluar.

2) Penghangatan dan pelembaban udara yang masuk. Udara kering akan dilembabkan melalui

evaporasi sekresi serosa dan mucus serta dihangatkan oleh radiasi panas dari pembuluh darah yang

terletak di bawahnya.

3) Resepsi odor. Epithelium olfaktori yang terletak di bagian atas rongga hidung dibawah lempeng

kribiform, mengandung sel- sel olfaktori yang mengalami spesialisasi untuk indra penciuman.

B. Faring

adalah tabung muscular berukuran 12,5 cm yang merentang dari bagian dasar tulang tengkorak

sampai osofagus. Faring terbagi menjadi nasofaring, orofaring, dan laringofaring.

1) Nasofaring adalah bagian posterior rongga nasal yang membuka kearah melalui dua naris

internal atau koana. Dua tuba eustachius (auditorik) menghubungkan naso faring dengan telinga

tengah. Tuba ini berfungsi untuk menyetarakan tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga.

Amandel ( adenoid) faring adalah penumpukan jaringan limfatik yang terletak di dekat naris

internal. Pembesaran adenoid dapat menghambat aliran udara.

Page 4: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

4

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

2) Orofaring dipisahkan dari nasofaring oleh palatum lunak muscular, suatu perpanjangan paltum

keras tulang. Uvula(“anggur kecil”) adalah prosesus kerucut(conical) kecil yang menjulur ke

bawah dari bagian tengah tepi bawah palatum lunak. Amandel Palatinum terletak pada kedua sisi

Orofaring posterior. Laringofaring mengelilingi mulut esophagus dan laring, yang merupakan

gerbang untuk sistem respirstorik selanjutnya.

C. Laring(kotak suara)

Menghubungkan faring dengan trakea. Laring adalah tabung pendek berbentuk seperti kotak

triangular dan di topang oleh Sembilan kartilago; 3 berpasangan dan 3 tidak berpasangan.

1.Kartilago tidak berpasangan

a)Kartilago Tiroid(Jakun) terletak di bagian proksinal kelenjar tiroid. Biasanya berukuran lebih

besar dan lebih menonjol pada laki-laki akibat hormone yang di sekresi saat pubertas.

b) Kartilago Krikoid adalah cincin anterior yang lebih kecil dan lebih tebal, terletak di bawah

kartilago tiroid.

c) Epiglotis adalah katup kartilago elastis yang melekat pada tepian anterior kartilago tiroid. Saat

menelan, epiglottis secara otomatis menutupi mulut laring untuk mencegah masuknya makanan

dan cairan.

2. Kartilago berpasangan

a. Kartilago Aritenoid terletak di atas dan di kedua sisi kartilago krikoid. Kartilago ini melekat

pada pita suara sejati, yaitu lipatan berpasangan dari epithelium skuamosa bertingkat.

b.Kartilago Kornikulata melekat pada bagian ujung kartilagi aritenoid.

c. Kartilago Kuneiform berupa batang=batang kecil yang membantu menopang jaringan lunak.

3. Dua pasang lipatan lateral membagi rongga laring

a. Pasangan bagian atas adalah lipatan ventricular(pita suara semu)yang tidak berfungsi saat

produksi suara.

b. Pasangan bagian bawah adalah pita suara sejati yang melekat pada kartilago tiroid dan pada

kartilago aritenoid serta kartilago krikoid.

Pembuka di antara kedua pita ini adalah glottis.

Saat bernapas, pita suara terabduksi(tertarik membuka)oleh otot laring, dan glotis berbentuk

triangular.

Saat menelan, pita suara teraduksi(tertarik menutup), dan glottis membentuk celah sempit.

Page 5: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

5

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Dengan demikian, kontraksi otot rangka mengatur ukuran pembukaan glottis dan derajat

ketegangan pita suara yang diperlukan untuk produksi suara.

D. Trakea (Pipa Udara)

adalah tuba dengan panjang 10 cm-12 cm dan diameter 2,5 cm serta terletak di atas permukaan

anterior esofagus. Tuba ini merentang dari laring pada area vertebra serviks ke enam sampai area

vertebra toraks kelima tempatnya membelah menjadi dua bronkus utama.

Trakea dapat tetap terbuka karena danya 16-20 cincin kartilago berbentuk-c. Ujung posterior

mulut cincin dihubungkan dengan jaringan ikat dan organ sehingga memungkinkan ekspansi

esofagus.

Trakea dilapisi epitelium respiratorik(kolumnar bertingkat dan bersilia) yang mengandung banyak

sel goblet.

E. PERCABANGAN BRONKUS

1.Bronkus Primer(Utama) kanan berukuran lebih pendek, lebih tebal, dan lebih lurus

dibandingkan bronkus primer kiri karena arkus aorta membelokkan trakea bawah ke kanan. Objek

asing yang masuk ke dalam trakea kemungkina di tempatkan dalam bronkus kanan.

2. Setiap bronkus primer bercabang senbilan ampai dua belas kali untuk membentuk bronki

sekunder dan tertier dengan diameter yang semakin kecil. Saat tuba semakin menyempit, batang

atau lempeng kartilago mengganti cincin kartilago.

3.Bronki disebut ekstrapulmonar sampai memasuki paru-paru, setelah itu disebut intrapulmonar.

4.Struktur mendasar dari kedua paru-paru adalah percabangan brongkial yang selanjutnya: bronki,

bronkiolus, bronkiolus terminal, bronkiolus respiratorik, duktus alveolar, dan alveoli. Tidak ada

kartilago dalam bronkiolus; silia tetap ada sampai bronkiolus respiratorik terkecil.

F. Paru-Paru

1. Paru-paru adalah organ berbentuk pramid seperti spons dan berisi udara, terletak dalam rongga

toraks.

a. Paru Kanan memiliki 3 Lobus; paru kiri memiliki 2 lobus.

Page 6: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

6

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

b. Setiap paru memiliki sebuah apeks yang mencapai bagian atas iga pertama, sebuah permukaan

diafragmatik(bagian dasar)terletak di atas diafragma, sebuah permukaan mediastinal(medial) yang

terpisah dari paru lain oleh mediastinum, dan permukaan kostal teretak diatas kerangka iga.

c. Permukaan mediastinal memiliki Hilus(akar), tempat masuk dan keluarnya pembuluh darah

bronki, pulmonary, dan bronkial dari paru.

2. Pleura adalah membrane penutup yng membungkus setiap paru.

a. Pleura Parietal melapisi rongga toraks(kerangka iga, diafragma, mediastinum).

b. Pleura Viseral melapisi paru dan bersambungan dengan pleura parietal dibagian bawah paru.

c. Rongga Pleura(ruang intrapleural) adalah ruang potensial antara pleura parietal dan visceral

yang mengandung lapisan tipuis cairan pelumas. Cairan ini disekresi oleh sel-sel pleural sehingga

paru-paru dapat mengembang tanpa melakukan friksi. Tekanan cairan(tekanan intrapleural) agak

negative dibandingkan tekanan atmosfer.

d. Resesus pleura adalah area rongga pleura yang tidak berisi jaringan paru. Area ini muncul saat

pleura parietal bersilangan dari satu permukaan ke permukaan lain. Saat bernapas, paru-paru

bergerak keluar, masuk area ini.

Resesus pleural kostomediastinal terletak di tepi anterior kedua sisi pleura, tempat pleura parietal

berbelok dari kerangka iga ke permukaan lateral midiastinum.

Resesus pleura kostodiafrgmatik terletak ditepi posterior kedua sisi pleura diantara diafragma dan

permukaan kostal internal toraks.

PROSES TERJADINYA PERNAPASAN

Terbagi dalam 2 bagian, yaitu:

1. Inspirasi (menarik napas)

2. Ekspirasi (menghembuskan napas)

Bernapas merupakan gerak refleks yang terjadi pada otot-otot pernapasan. Refleks bernapas ini di

atur oleh pusat pernapasan yang terletak didalam sumsum penyambung (medula oblongata). Pusat

pernapasan sangat peka terhadap kelebihan kadar CO2 dalam darah dan kekurangan dalam darah.

Inspirasi terjadi bila muskulus diafragma telah mendapat rangsangan dari nervus frenikus lalu

mengerut datar.

Page 7: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

7

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Ekspirasi, pada suatu saat akan kendur lagi dan dengan demikian rongga dada menjadi kecil

kembali, maka udara didorong ke luar.

VOLUME dan KAPASITAS PARU-PARU

Volume udara dalam paru-paru dan kecepatan pertukaran saat inspirasi dan ekspirasi dapat diukur

melalui spirometer.

1. Volume

Volume tidal (VT), yaitu volume udara yang masuk dan keluar paru-paru selama ventilasi normal

biasa. Nilai VT pada dewasa normal sekitar 500 ml untuk laki-laki dan 380 ml untuk perempuan.

Volume cadangan inspirasi (VCI), yaitu volume udara ekstra yang masuk paru-paru dengan

ispirasi maksimum diatas inspirasi tidal. VCI berkisar 3100 ml pada laki-laki dan 1900 ml pada

perempuan.

Volume cadangan ekspirasi (VCE) yaitu vilume ektra udara yang dapat dengan kuat dikeluarkan

pada akhir respirasi tidak normal. VCE berkisar 1200 ml pada laki-laki dan 800 ml pada

perempuan.

Volume residual (VR), yaitu volume udara sisa dalam paru-paru setelah melakukan ekspirasi kuat.

Rata-rata pada laki-laki sekitar 1200 ml dan pada perempuan sekitar 1000 ml. volume residual

penting untuk kelangsungan aerasi dalam darah saat jeda pernapasan.

2. Kapasitas

Kapasitas residual fungsional (KRF) adalah penambahan volume residual dan volume cadangan

ekspirasi. Kapasitas ini meruakan jumlah udara sisa dalam system respiratorik setelah ekspirasi

normal, nilai rata-ratanya adalah 2200 ml. jadi nilai (KRF = VR + VCE)

Kapasitas inspirasi (KI), adalah penambahan volume tidal dan volume cadangan inspirasi. Nilai

rata-ratanya adalah 3500 ml. jadi nilai (KI =VT + VCI)

Kapasitas vital (KV), yaitu penambahan volume tidal, volume cadangan inspirasi dan volume

cadangan ekspirasi (KT = VT + VCI + VCE) nilai rata-rata nya sekitar 4500 ml.

Kapasitas total paru (KTP), adalah jumlah total udara yang dapat ditampung dalam paru-paru dan

sama dengan kapasitas vital + volume residual (KTP = KV + VR). Nilai rata-ratanya adalah 5700

ml.

6 Responses to 'Anatomi dan Fisiologi Sistem

(http://nursingbegin.com/anatomi-fisiologi-saluran-pernafasan/ )

Page 8: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

8

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

BAB II

KONSEP TEORI

A. DEFENISI

Dalam keadaan normal sel akan tumbuh sesuai kebutuhan tubuh dengan melalui tahapan-tahapan

dalam prosesnya. Mekanisme itu penting sebagai pengganti sel sel tubuh yang rusak dan perlu

peremajaan. Pertumbuhan sel yang berjalan dalam beberapa tahapan dan dikontrol oleh gen (pembawa

informasi) yang sebagian bertindak sebagai pemicu, penghambat pertumbuhan dan gen pengkontrol

proses lain dalam sel agar berjalan baik. Gangguan pada gen atau proses pertumbuhan itu dapat

menyebabkan sel tumbuh tidak terkendali. Pada beberapa kondisi tidak semua gangguan itu berkembang

cepat namun dapat berhenti sebelum berubah menjadi ganas itulah yang kita kenal dengan tumor jinak.

Jika gangguan itu lebih berat dan gangguan pertumbuhan berlangsung terus dan menyebar ke tempat lain

(metastasis) kita sebut dengan tumor ganas atau kanker.

Kesimpulan: Kanker adalah penyakit yang berhubungan dengan proses pertumbuhan dan

perkembangan sel yang tidak terkontrol.

Kanker Paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang

berasal dari paru sendiri (primer) atau penyebaran (metastasis) tumor dari organ lain. Definisi khusus

untuk kanker paru primer yakni tumor ganas yang berasal dari epitel (jaringan sel) saluran napas atau

bronkus.

Kanker paru paling banyak ditemukan pada laki-laki dewasa dan perokok. Lebih dari 80% kanker paru

berhubungan dengan perokok. Bagaimanapun, tidak semua perokok akhirnya menderita kanker paru.

Berhenti dari merokok akan mengurangi dengan sangat berarti risiko seseorang terkena kanker paru.

Risiko pada bekas perokok lebih besar daripada orang-orang yang tidak pernah merokok. Faktor lain yang

dapat menjadi faktor risiko terutama berkaitan dengan udara yang dihirup.

Kanker dapat terjadi pada siapa saja, umur berapa saja dan dimana saja dalam tubuh manusia.

Besar kecilnya kemungkinan seseorang untuk menderita kanker jenis tertentu tergantung faktor risiko

yang dimilikinya. Kanker yang paling banyak dikenal orang pada orang dewasa adalah kanker payudara,

kanker nasofaring, kanker usus, kanker leher rahim, kanker prostat, kanker darah dan kanker paru.

Kanker paru merupakan jenis kanker yang paling sulit diobati, banyak diderita laki-laki dewasa ( usia >

40 tahun) dan perokok.

Page 9: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

9

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

B. ETIOLOGI

Meskipun etiologi sebenarnya dari kanker paru belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang

agaknya bertanggung jawab dalam peningkatan insiden kanker paru:

1. Merokok.

Tak diragukan lagi merupakan faktor utama. Suatu hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan

antara perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma bronkogenik).

Perokok seperti ini mempunyai kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan.

Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke

pola resiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan

dalam ter dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan, menimbulkan tumor.

2. Radiasi.

Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan penambang radium di

Joachimsthal (lebih dari 50 % meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan radioaktif

dalam bentuk radon. Bahan ini diduga merupakan agen etiologi operatif.

3. Kanker paru akibat kerja.

Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenic

(pembasmi rumput). Pekerja pemecah hematite (paru – paru hematite) dan orang – orang yang bekerja

dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami peningkatan insiden.

4. Polusi udara.

Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi dari pada mereka yang

tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap diesel dalam

atmosfer di kota.

( Thomson, Catatan Kuliah Patologi,1997).

5. Genetik.

Terdapat perubahan/ mutasi beberapa gen yang berperan dalam kanker paru, yakni :

a. Proton oncogen.

b. Tumor suppressor gene.

c. Gene encoding enzyme.

Teori Onkogenesis.

Page 10: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

10

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Terjadinya kanker paru didasari oleh tampilnya gen suppresor tumor dalam genom (onkogen).

Adanya inisiator mengubah gen supresor tumor dengan cara menghilangkan (delesi/del) atau penyisipan

(insersi/ inS) sebagian susunan pasangan basanya, tampilnya gen erbB1 dan atau neu/erbB2 berperan

dalam anti apoptosis (mekanisme sel untuk mati secara alamiah- programmed cell death). Perubahan

tampilan gen kasus ini menyebabkan sel sasaran dalam hal ini sel paru berubah menjadi sel kanker dengan

sifat pertumbuhan yang autonom. Dengan demikian kanker merupakan penyakit genetic yang pada

permulaan terbatas pada sel sasaran kemudian menjadi agresif pada jaringan sekitarnya.

6. Diet.

Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten, seleniumdan vitamin A menyebabkan tingginya

resiko terkena kanker paru. (Ilmu Penyakit Dalam, 2001).

C. KLASIFIKASI KANKER

Klasifikasi menurut WHO untuk Neoplasma Pleura dan Paru–paru (1977):

1. Karsinoma Bronkogenik.

a. Karsinoma epidermoid (skuamosa).

Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel termasuk metaplasia, atau displasia

akibat merokok jangka panjang, secara khas mendahului timbulnya tumor. Terletak sentral sekitar hilus,

dan menonjol kedalam bronki besar. Diameter tumor jarang melampaui beberapa centimeter dan

cenderung menyebar langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding dada dan mediastinum.

b. Karsinoma sel kecil (termasuk sel oat).

Biasanya terletak ditengah disekitar percabangan utama bronki.Tumor ini timbul dari sel – sel Kulchitsky,

komponen normal dari epitel bronkus. Terbentuk dari sel – sel kecil dengan inti hiperkromatik pekat dan

sitoplasma sedikit. Metastasis dini ke mediastinum dan kelenjar limfe hilus, demikian pula dengan

penyebaran hematogen ke organ – organ distal.

c. Adenokarsinoma (termasuk karsinoma sel alveolar).

Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat mengandung mukus. Kebanyakan

timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang – kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut local

pada paru – paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi seringkali meluas melalui pembuluh darah dan limfe

pada stadium dini, dan secara klinis tetap tidak menunjukkan gejala – gejala sampai terjadinya metastasis

yang jauh.

Page 11: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

11

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

d. Karsinoma sel besar.

Merupakan sel – sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan

ukuran inti bermacam – macam. Sel – sel ini cenderung untuk timbul pada jaringan paru - paru perifer,

tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat – tempat yang jauh.

e. Gabungan adenokarsinoma dan epidermoid.

f. Lain – lain.

1). Tumor karsinoid (adenoma bronkus).

2). Tumor kelenjar bronchial.

3). Tumor papilaris dari epitel permukaan.

4). Tumor campuran dan Karsinosarkoma

5). Sarkoma

6). Tak terklasifikasi.

7). Mesotelioma.

8). Melanoma.

(Price, Patofisiologi, 1995).

D. Diagnosis Dan Stadium Kanker

Langkah pertama adalah secara radiologis dengan menentukan apakah lesi intralokal tersebut sebagai

tumor jinak atau ganas, dilakukan juga teknik Positron Emission Tomography (PET) dapat dibedakan

antara tumor jinak ganas serta untuk menentukan staging penyakit.

Staging kanker paru :

Staging yang dibuat oleh the international system for staging lung cancer serta diterima oleh the

American joint commite on cancer (AJCC) dan the union international contrele cancer (UICC) membuat

klasifikasi kanker paru pada tahun 1973 kemudian direvisi 1986 dan terakhir pada tahun 1997 stadium

kanker paru dilakukan berdasarkan TNM (T = tumor primer, N = nodus, M = Metastase ), terdapat

beberapa peraturan pengklasifikasikan saat menggunakan sistem tersebut antara lain :

1) Klasifikasi hanya berlaku untuk karsinoma

2) Harus ada bukti histology untuk dapat mengklasifikasikan kasus keddalam tipe histologinya, tiap

keadaan yang belum dikonfirmasikan harus diilaporkan terpisah

3) Hasil yang berasal dari eksplorasi bedah sebelum pengobatan definitive dapat dimasukan untuk

penderajatan klinis (Soemantri, Irman : 2008)

Page 12: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

12

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Pembagian stadium klinik:

T = Tumor

Tis : karsinoma in situ/pre invasive

T0 : tidak ada tumor primer

T1 : diameter terbesar 3cm /kurang, dikelling oleh paru-paru atau pleura visceralis

dan tidak ada bukti-bukti adanya invasi proksimal dari bronchus dalam lobus

pada bronchoscopy

T2 : diameter terbesar > 3cm atau tumor primer pada ukuran apapun dengan tambahan adanay

atelektasis atau pneumonitis obstruktif dan membesar kea rah hilus, pada bronchoscopy, ujung

proksimal tumor yang tampak paling sedikit 2 cm distal dari karina, setiap atelektasis atau

pneumonitis obstruktif yang menyertai harus melibatkan kurang dari sebelah paru-paru dan tidak

ada efusi pleura

T3 : tumor membesar dengan ukuran berapa pun langsung membesar dan menyebar ke struktur di

sekitarnya seperti dinding dada diafragma atau mediastinum : tumor yang pada bronchoscopy

berjarak 2 cm distal dari karina atau terdapat atelektasis local

T4 : Tumor ukuran apapun, invasi ke mediastinum atau terdapat efusi pleura malignant

TX : tiap tumor yang tidak bisa diketahui atau dibuktikan dengan radiografi atau bronchoscopy tapi

didapatkan adanya sel ganas

N = Nodus

N0 : tidak ada tanda-tanda terlibatnya/pembesaran kelenjar limfe regional

N1 : terdapat tanda tertekanya kelenjar peribronchial atau hilus homoateral

termasuk penjalaran /pembesaran langsung tumor primer

N2 : Terkena kelenjar getah bening mediastinum atas subcarina

N3 : metastasis kelnjar getah bening mediastianl kontralateral atau hilus atau

kelenjar getah bening skaleneus atau supraklavikular

N4 : syarat minimal untuk membuktikan terkenanya kelenjar regional tak

terpenuhi

M = Metastasis

M0 : tidak ada bukti adanya metastasis jauh

M1 : terdapat bukti adanya metastasi jauh

Page 13: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

13

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

MX : syarat minimal untuk menentukan adanya metastasis jauh tak bisa dipenuhi

Derajat klinis berdasarkan klasifikasi TNM

TXM0 : suatu carcinoma occult dimana secret bronkopulmonar mengandung

sel sel ganas, tetapi tidak ada bukti atau data adanya tumor primer,

pembesaran metastasis ke kelenjar regional atau metastasis jauh

Stadium I : Tis N0 M0 , karsinoma in situ : T1 N0 M0 : T1 N1M 0 : T2 N0 M0

tumor termasuk klasifikasi

Stadium II : T1 N1 M0 : T2 N1 M0

Tumor termasuk klasifikasi T1 dan T2 dan terdapat bukti metastasis

pada kelenjar limfe peribronchial dan atau hilus ipsilateral

stadium IIIa : T3 N0 M0 : T1-3 N2 M0

stadium IIIb : T4 banyak N M0 : banyak T N3 M0

stadium tumor dengan metastasis pada kelenjar limfe hilus atau mediastional kontralateral,

atau pada kelenjar limfe skaleleus atau supraklavikular, atau setiap tumor yang termasuk

klasifikasi T4 dengan atau tanpa metastasis kelenjar limfe regional tidak ada metastasis

jauh

Stadium IV : banyak T banyak M1 setiap tumor dengan metastasis jauhuntuk staging

kanker paru sedikitnya diperlukan pemeriksaan CT Scan thorak, USG

abdomen, CT Scan otak dan bone scaning.

Sumber: (Price, Patofisiologi, 1995).

E. MANIFESTASI KLINIK

Tanda dan gejala kanker paru membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat diketahui dan

seringkali dikacaukan dengan gejala dari kondisi yang kurang serius. Tanda dan gejala mungkin tidak

kelihatan sampai penyakit telah mencapai tahap lanjut.

1. Batuk pada perokok yang terus menerus atau menjadi hebat

2. Batuk pada bukan perokok yang menetap sampai dengan lebih dari dua minggu

3. Dada, bahu atau nyeri punggung yang tidak berhubungan terhadap nyeri akibat batuk yang terus

menerus

4. Perubahan warna pada dahak

Page 14: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

14

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

5. Meningkatnya jumlah dahak

6. Dahak berdarah

7. Bunyi menciut-ciut saat bernafas pada bukan penderita asma

8. Radang yang kambuh

9. Sulit bernafas

10. Nafas pendek

11. Serak

12. Suara kasar saat bernafas

Selain dari itu juga barangkali tanda-tanda dan gejala-gejala disebabkan oleh penyebaran kanker

paru pada bagian tubuh lainnya. Tergantung pada organ-organ yang dirusak.

1. Kelelahan kronis

2. Kehilangan nafsu makan

3. Sakit kepala, nyeri tulang, sakit yang menyertainya

4. Retak tulang yang tidak berhubungan dengan luka akibat kecelakaan

5. Gejala-gejala pada saraf (seperti: cara berjalan yang goyah dan atau kehilangan ingatan sebagian)

6. Bengkak pada leher dan wajah

7. Kehilangan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya

F. PATOFISIOLOGI

Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan

deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka

menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia,

hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi

langsung pada kosta dan korpus vertebra. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang

bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan

supurasi di bagian distal. Gejala – gejala yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam,

dan dingin.Wheezing unilateral dapat terdengan pada auskultasi. Pada stadium lanjut, penurunan berat

badan biasanya menunjukkan adanya metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke

struktur – struktur terdekat seperti kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.

Page 15: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

15

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

G. PENATALAKSANAAN DIAGNOSTIK

1. Radiologi.

a. Foto thorax posterior–anterior (PA)dan leteral serta Tomografi dada. Merupakan pemeriksaan

awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan

lokasi lesi. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi

tulang rusuk atau vertebra.

b. Bronkhografi (Untuk melihat tumor di percabangan bronkus).

2. Laboratorium.

a. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).

Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.

b. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA

Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi.

c. Tes kulit, jumlah absolute limfosit.

Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada kanker paru).

3. Histopatologi.

a. Bronkoskopi.

Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma

bronkogenik dapat diketahui).

b.Biopsi Trans Torakal (TTB).

Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm,

sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %.

c. Torakoskopi.

Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara torakoskopi.

d.Mediastinosopi.

Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat.

e. Torakotomi.

Totakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam – macam prosedur non invasif

dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor.

4. Pencitraan.

a. CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.

b. MRI, untuk menunjukkan keadaan mediastinum.

Page 16: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

16

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

H. PENGOBATAN

Tujuan pengobatan kanker dapat berupa:

a. Kuratif

Memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup klien.

b. Paliatif.

Mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup.

c. Rawat rumah (Hospice care) pada kasus terminal.

Mengurangi dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun keluarga.

d. Suportif.

Menunjang pengobatan kuratif, paliatif dan terminal sepertia pemberian nutrisi, tranfusi darah dan

komponen darah, obat anti nyeri dan anti infeksi.

(Ilmu Penyakit Dalam, 2001 dan Doenges, rencana Asuhan Keperawatan, 2000)

e. Therapi oksigen

Jika terjadi hipoksemia, perawat dapat memberikan oksigen via masker atau nasal kanul sesuai

dengan permintaan, bahkan jika pasien tidak terlalu jelas hipoksemianya dokter dapat memberikan

oksigen sesuai yang dibutuhan untuk memperbaiki dispnea dan rasa cemasnya

f. Terapi obat

Jika pasien mengalami bronkospasme, dokter dapat memberikan obat bronkodilator seperti pada

pasien dengan ashma dan kortikosteroid untuk mengurangi bronkospasme, inflamasi, dan edema.

g. Pembedahan.

Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain, untuk mengankat semua

jaringan yang sakit sementara mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru – paru yang tidak

terkena kanker.

1. Toraktomi eksplorasi.

Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma, untuk

melakukan biopsy.

2. Pneumonektomi pengangkatan paru).

Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat.

3. Lobektomi (pengangkatan lobus paru).

Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula emfisematosa;

abses paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.

Page 17: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

17

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

4. Resesi segmental.

Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru.

5. Resesi baji.

Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang terlokalisir.

Merupakan pengangkatan dari permukaan paru–paru berbentuk baji (potongan es).

6. Dekortikasi.

Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris)

h. Radiasi

Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai

terapi adjuvant/ paliatif pada tumor dengan komplikasi, seperti mengurangi efek obstruksi/

penekanan terhadap pembuluh darah/ bronkus.

i. Kemoterapi adalah memberikan obat anti-kanker pada pasien dengan cara diinfuskan. Pada

kemoterapi diberikan lebih dari 1 jenis obat antikanker dan biasanya 2 macam, tujuannya agar

lebih banyak sel kanker yang dapat dibunuh dengan jalur yang berbeda. Pemberian kemoterapi

harus dilakukan di rumah sakit karena diberikan dalam prosedur tertentu atau ptotokol yang

berbeda tergantung pada jenis obat anti-kanker yang digunakan.

Kemoterapi dapat diberikan pada semua jenis kanker paru dan tujuannya bukan hanya membunuh

sel kanker pada tumor primer tetapi juga mengejar sel kanker yang menyebar di tempat lain.

Kemoterapi adalah pilihan terapi untuk KPKSK dan KPKBSK stage III/IV. Pemberian kemoterapi

memerlukan beberapa syarat antar lain kondisi umum pasien baik yaitu masih dapat melakukan

aktiviti sendiri, fungsi hati, fungsi ginjal dan fungsi hemostatik (HB, jumlah sel darah putih atau

lekosit dan jumlah trombosit darah) harus baik. Kemoterapi dihitung dengan siklus pemberian

yang dapat dilakukan setiap 21 – 28 hari setiap siklusnya. Efek samping kemoterapi kadang sangat

mengganggu, misalnya rontoknya rambut s/d botak, mual muntah, semutan, mencret dan bahkan

alergi. Efek samping itu tidak sama waktu muncul dan berat ringannya pada setiap orang dan juga

tergantung pada jenis obat yang digunakan. Efek samping lain yang dapat menganggu proses

pemberian adalah gangguan fungsi hemostatik HB < 10 gr%. Leukosit < 3.000/dl atau trombosit <

100.000/dl. Efek samping dinilai sejak mulai kemoterapi I diberikan. Efek samping yang berat

dapat menghentikan jadwal pemberian, dokter akan mengkoreksi efek samping yang muncul

dengan memberikan obat dan tranfusi darah jika perlu. Evaluasi hasil kemoterapi dinilai minimal

setelah 2 siklus pemberian (sebelum kemoterapi III diberikan) yang dapat merupa respons

Page 18: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

18

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

subyektif yaitu apkah BB meningkat atau keluhan berkurang dan foto toraks untuk melihat

kelainan di paru. Evaluasi dengan menggunakan CT-scan toraks dilakukan setelah pemberian 3

siklus ( sebelum pemberian kemoterapi IV). Jika pada penelian tumor hilang (komplit respons)

mengecil sebagian (respons partial) atau tumor menetap tapi respons subyektif baik maka

kemoterapi dapat diterudskan samapi 4 – 6 siklus. Tetapi jika pada evaluasi terjadi perburukan

misalnya tumor membesar atau tumbuh tumor yang baru, kemoterapi harus dihentikan dan diganti

dengan jenis obat anti-kanker yang lain.terafi. Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola

pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi

luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi radiasi.

I. ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN

A. Pengkajian

1. Riwayat Kesehatan

Riwayat kesehatan yang dikaji meliputi data saat ini dan masalah yang lalu. Perawat mengkaji

klien atau keluarga dan berfokus kepada manifestasi klinik dari keluhan utama, kejadian yang

membuat kondisi sekarang ini, riwayat perawatan dahulu, riwayat keluarga dan riwayat

psikososial. Riwayat kesehatan dimulai dari biografi klien, dimana aspek biografi yang sangat erat

hubungannya dengan gangguan oksigenasi mencakup usia, jenis kelamin, pekerjaan (terutama

yang berhubungan dengan kondisi tempat kerja) dan tempat tinggal. Keadaan tempat tinggal

mencakup kondisi tempat tinggal serta apakah klien tinggal sendiri atau dengan orang lain yang

nantinya berguna bagi perencanaan pulang (“Discharge Planning”).

2. Keluhan Utama

Keluhan utama akan menentukan prioritas intervensi dan mengkaji pengetahuan klien tentang

kondisinya saat ini. Keluhan utama yang biasa muncul pada klien gangguan kebutuhan oksigen

dan karbondioksida antara lain : batuk, peningkatan produksi sputum, dyspnea, hemoptysis,

wheezing, Stridor dan chest pain.

1) Batuk (Cough)

Batuk merupakan gejala utama pada klien dengan penyakit sistem pernafasan. Tanyakan

berapa lama klien batuk (misal 1 minggu, 3 bulan). Tanyakan juga bagaimana hal tersebut

timbul dengan waktu yang spesifik (misal : pada malam hari, ketika bangun tidur) atau

Page 19: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

19

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

hubungannya dengan aktifitas fisik. Tentukan batuk tersebut apakah produktif atau non

produktif, kongesti, kering.

2) Peningkatan Produksi Sputum.

Sputum merupakan suatu substansi yang keluar bersama dengan batuk atau bersihan

tenggorok. Trakeobronkial tree secara normal memproduksi sekitar 3 ons mucus sehari sebagai

bagian dari mekanisme pembersihan normal (“Normal Cleansing Mechanism”).Tetapi

produksi sputum akibat batuk adalah tidak normal. Tanyakan dan catat warna, konsistensi, bau

dan jumlah dari sputum karena hal-hal tersebut dapat menunjukkan keadaan dari proses

patologik. Jika infeksi timbul sputum dapat berwarna kuning atau hijau, sputum mungkin

jernih, putih atau kelabu. Pada keadaan edema paru sputum akan berwarna merah mudah,

mengandung darah dan dengan jumlah yang banyak.

3) Dyspnea

Dyspnea merupakan suatu persepsi kesulitan untuk bernafas/nafas pendek dan merupakan

perasaan subjektif klien. Perawat mengkaji tentang kemampuan klien untuk melakukan

aktifitas. Contoh ketika klien berjalan apakah dia mengalami dyspnea ?. kaji juga

kemungkinan timbulnya paroxysmal nocturnal dyspnea dan orthopnea, yang berhubungan

dengan penyakit paru kronik dan gagal jantung kiri.

4) Hemoptysis

Hemoptysis adalah darah yang keluar dari mulut dengan dibatukkan. Perawat mengkaji apakah

darah tersebut berasal dari paru-paru, perdarahan hidung atau perut. Darah yang berasal dari

paru biasanya berwarna merah terang karena darah dalam paru distimulasi segera oleh refleks

batuk. Penyakit yang menyebabkan hemoptysis antara lain : Bronchitis Kronik,

Bronchiectasis, TB Paru, Cystic fibrosis, Upper airway necrotizing granuloma, emboli paru,

pneumonia, kanker paru dan abses paru.

5) Chest Pain

Chest pain (nyeri dada) dapat berhubungan dengan masalah jantung dan paru. Gambaran yang

lengkap dari nyeri dada dapat menolong perawat untuk membedakan nyeri pada pleura,

muskuloskeletal, cardiac dan gastrointestinal. Paru-paru tidak mempunyai saraf yang sensitif

terhadap nyeri, tetapi iga, otot, pleura parietal dan trakeobronkial tree mempunyai hal tersebut.

Dikarenakan perasaan nyeri murni adalah subjektif, perawat harus menganalisis nyeri yang

berhubungan dengan masalah yang menimbulkan nyeri timbul.

Page 20: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

20

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu

Perawat menanyakan tentang riwayat penyakit pernafasan klien. Secara umum perawat

menanyakan tentang, riwayat merokok : merokok sigaret merupakan penyebab penting kanker

paru-paru, emfisema dan bronchitis kronik. Semua keadaan itu sangat jarang menimpa non

perokok. Anamnesis harus mencakup hal-hal:

a) Usia mulainya merokok secara rutin.

b) Rata-rata jumlah rokok yang dihisap perhari

c) Usia melepas kebiasaan merokok.

d) Pengobatan saat ini dan masa lalu

e) Alergi

f) Tempat tinggal

4. Riwayat kesehatan keluarga

Tujuan menanyakan riwayat keluarga dan sosial pasien penyakit paru-paru sekurang-kurangnya

ada tiga, yaitu :

1) Penyakit infeksi tertentu: khususnya tuberkulosa, ditularkan melalui satu orang ke orang

lainnya; jadi dengan menanyakan riwayat kontak dengan orang terinfeksi dapat diketahui sumber

penularannya.

2) Kelainan alergis, seperti asthma bronchial, menunjukkan suatu predisposisi keturunan tertentu;

selain itu serangan asthma mungkin dicetuskan oleh konflik keluarga atau kenalan dekat.

3) Pasien bronchitis kronik mungkin bermukim di daerah yang polusi udaranya tinggi. Tapi polusi

udara tidak menimbulkan bronchitis kronik, hanya memperburuk penyakit tersebut.

5. Review Sistem (Head To Toe)

a. Inspeksi

1) Pemeriksaan dada dimulai dari thorax posterior, klien pada posisi duduk.

2) Dada diobservasi dengan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya.

3) Tindakan dilakukan dari atas (apex) sampai ke bawah.

4) Inspeksi thorax poterior terhadap warna kulit dan kondisinya, skar, lesi,massa, gangguan tulang

belakang seperti : kyphosis, scoliosis dan lordosis.

5) Catat jumlah, irama, kedalaman pernafasan, dan kesimetrisan pergerakan dada.

6) Observasi type pernafasan, seperti : pernafasan hidung atau pernafasan diafragma, dan

penggunaan otot bantu pernafasan.

Page 21: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

21

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

7) Saat mengobservasi respirasi, catat durasi dari fase inspirasi (I) dan fase ekspirasi (E). ratio

pada fase ini normalnya 1 : 2. Fase ekspirasi yang memanjang menunjukkan adanya obstruksi

pada jalan nafas dan sering ditemukan pada klien Chronic Airflow Limitation (CAL)/COPD

Kaji konfigurasi dada dan bandingkan diameter anteroposterior (AP) dengan diameter

lateral/tranversal (T). ratio ini normalnya berkisar 1 : 2 sampai 5 : 7, tergantung dari cairan tubuh

klien.

Kelainan pada bentuk dada:

a) Barrel Chest

Timbul akibat terjadinya overinflation paru. Terjadi peningkatan diameter AP: T (1:1), sering

terjadi pada klien emfisema.

b) Funnel Chest (Pectus Excavatum)

Timbul jika terjadi depresi dari bagian bawah dari sternum. Hal ini akan menekan jantung dan

pembuluh darah besar, yang mengakibatkan murmur. Kondisi ini dapat timbul pada ricketsia,

marfan’s syndrome atau akibat kecelakaan kerja.

c) Pigeon Chest (Pectus Carinatum)

Timbul sebagai akibat dari ketidaktepatan sternum, dimana terjadi peningkatan diameter AP.

Timbul pada klien dengan kyphoscoliosis berat.

d) Kyphoscoliosis

Terlihat dengan adanya elevasi scapula. Deformitas ini akan mengganggu pergerakan paru-paru,

dapat timbul pada klien dengan osteoporosis dan kelainan muskuloskeletal lain yang

mempengaruhi thorax.

Kiposi : meningkatnya kelengkungan normal kolumna vertebrae torakalis menyebabkan klien

tampak bongkok. Skoliosis: melengkungnya vertebrae torakalis ke lateral, disertai rotasi vertebral.

Observasi kesimetrisan pergerakan dada. Gangguan pergerakan atau tidak adekuatnya ekspansi

dada mengindikasikan penyakit pada paru atau pleura. Observasi retraksi abnormal ruang

interkostal selama inspirasi, yang dapat mengindikasikan obstruksi jalan nafas.

b. Palpasi

Dilakukan untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan mengobservasi abnormalitas,

mengidentifikasi keadaan kulit dan mengetahui vocal/tactile premitus (vibrasi).

Palpasi thoraks untuk mengetahui abnormalitas yang terkaji saat inspeksi seperti : massa, lesi,

bengkak.

Page 22: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

22

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Kaji juga kelembutan kulit, terutama jika klien mengeluh nyeri.

Vocal premitus : getaran dinding dada yang dihasilkan ketika berbicara.

c. Perkusi

Perawat melakukan perkusi untuk mengkaji resonansi pulmoner, organ yang ada disekitarnya dan

pengembangan (ekskursi) diafragma.

Jenis suara perkusi:

Suara perkusi normal:

Resonan (Sonor)

Dullness

Tympany

bergaung, nada rendah. Dihasilkan pada jaringan paru

normal.

dihasilkan di atas bagian jantung atau paru.

musikal, dihasilkan di atas perut yang berisi udara.

Suara Perkusi Abnormal:

Hiperresonan

Flatness

bergaung lebih rendah dibandingkan dengan

resonan dan timbul pada bagian paru yang

abnormal berisi udara.

sangat dullness dan oleh karena itu nadanya lebih

tinggi. Dapat didengar pada perkusi daerah paha,

dimana areanya seluruhnya berisi jaringan.

d. Auskultasi

Merupakan pengkajian yang sangat bermakna, mencakup mendengarkan suara nafas normal, suara

tambahan (abnormal), dan suara. Suara nafas normal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui

jalan nafas dari laring ke alveoli, dengan sifat bersih

Suara nafas normal :

a) Bronchial : sering juga disebut dengan “Tubular sound” karena suara ini dihasilkan oleh udara

yang melalui suatu tube (pipa), suaranya terdengar keras, nyaring, dengan hembusan yang lembut.

Fase ekspirasinya lebih panjang daripada inspirasi, dan tidak ada henti diantara kedua fase

tersebut. Normal terdengar di atas trachea atau daerah suprasternal notch.

Page 23: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

23

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

b) Bronchovesikular : merupakan gabungan dari suara nafas bronchial dan vesikular. Suaranya

terdengar nyaring dan dengan intensitas yang sedang. Inspirasi sama panjang dengan ekspirasi.

Suara ini terdengar di daerah thoraks dimana bronchi tertutup oleh dinding dada.

c) Vesikular : terdengar lembut, halus, seperti angin sepoi-sepoi. Inspirasi lebih panjang dari

ekspirasi, ekspirasi terdengar seperti tiupan.

Suara nafas tambahan :

d) Wheezing : terdengar selama inspirasi dan ekspirasi, dengan karakter suara nyaring, musikal,

suara terus menerus yang berhubungan dengan aliran udara melalui jalan nafas yang menyempit.

e) Ronchi : terdengar selama fase inspirasi dan ekspirasi, karakter suara terdengar perlahan,

nyaring, suara mengorok terus-menerus. Berhubungan dengan sekresi kental dan peningkatan

produksi sputum

f) Pleural friction rub : terdengar saat inspirasi dan ekspirasi. Karakter suara : kasar, berciut, suara

seperti gesekan akibat dari inflamasi pada daerah pleura. Sering kali klien juga mengalami nyeri

saat bernafas dalam.

g) Crackles

Fine crackles : setiap fase lebih sering terdengar saat inspirasi. Karakter suara meletup, terpatah-

patah akibat udara melewati daerah yang lembab di alveoli atau bronchiolus. Suara seperti rambut

yang digesekkan.

Coarse crackles : lebih menonjol saat ekspirasi. Karakter suara lemah, kasar, suara gesekan

terpotong akibat terdapatnya cairan atau sekresi pada jalan nafas yang besar. Mungkin akan

berubah ketika klien batuk.

6. Pengkajian Psikososial

Kaji tentang aspek kebiasaan hidup klien yang secara signifikan berpengaruh terhadap fungsi

respirasi. Beberapa kondisi respiratory timbul akibat stress.

Penyakit pernafasan kronik dapat menyebabkan perubahan dalam peran keluarga dan hubungan

dengan orang lain, isolasi sosial, masalah keuangan, pekerjaan atau ketidakmampuan.

Dengan mendiskusikan mekanisme koping, perawat dapat mengkaji reaksi klien terhadap masalah

stres psikososial dan mencari jalan keluarnya.

Page 24: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

24

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan gangguan oksigenasi yang mencakup ventilasi,

difusi dan transportasi, sesuai dengan klasifikasi NANDA (2005) dan pengembangan dari penulis

antara lain :

1. Bersihan Jalan nafas tidak efektif (Kerusakan pada fisiologi Ventilasi)

Adalah suatu kondisi dimana individu tidak mampu untuk batuk secara efektif.

2. Kerusakan pertukaran gas (Kerusakan pada fisiologi Difusi)

Kondisi dimana terjadinya penurunan intake gas antara alveoli dan sistem vaskuler

3. Pola nafas tidak efektif (Kerusakan pada fisiologi Transportasi)

Adalah Suatu kondisi tidak adekuatnya ventilasi berhubungan dengan perubahan pola nafas.

Hiperpnea atau hiperventilasi akan menyebabkan penurunan PCO2

C. Preoperasi (Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan,1999).

1). Aktivitas/ istirahat.

Gejala : Kelemahan, ketidakmampuan mempertahankan kebiasaan rutin, dispnea karena aktivitas.

Tanda : Kelesuan( biasanya tahap lanjut).

2). Sirkulasi.

Gejala : JVD (obstruksi vana kava). Bunyi jantung : gesekan pericardial (menunjukkan efusi).

Takikardi/ disritmia. Jari tabuh.

3). Integritas ego.

Gejala : Perasaan taku. Takut hasil pembedahan, menolak kondisi yang berat/ potensi keganasan.

Tanda : Kegelisahan, insomnia, pertanyaan yang diulang – ulang.

4). Eliminasi.

Gejala : Diare yang hilang timbul (karsinoma sel kecil).

Peningkatan frekuensi/ jumlah urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor epidermoid)

5). Makanan/ cairan.

Gejala : Penurunan berat badan, nafsu makan buruk, penurunan masukan makanan. Kesulitan

menelan. Haus/ peningkatan masukan cairan.

Tanda : Kurus, atau penampilan kurang berbobot (tahap lanjut). Edema wajah/ leher, dada

punggung (obstruksi vena kava), edema wajah/ periorbital (ketidakseimbangan hormonal,

karsinoma sel kecil). Glukosa dalam urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor epidermoid).

Page 25: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

25

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

6). Nyeri/ kenyamanan.

Gejala: Nyeri dada (tidak biasanya ada pada tahap dini dan tidak selalu pada tahap lanjut) dimana

dapat/ tidak dapat dipengaruhi oleh perubahan posisi. Nyeri bahu/ tangan (khususnya pada sel

besar atau adenokarsinoma) Nyeri abdomen hilang timbul.

7). Pernafasan.

Gejala : Batuk ringan atau perubahan pola batuk dari biasanya dan atau produksi sputum. Nafas

pendek. Pekerja yang terpajan polutan, debu industri Serak, paralysis pita suara. Riwayat

merokok.

Tanda : Dispnea, meningkat dengan kerja. Peningkatan fremitus taktil (menunjukkan konsolidasi).

Krekels/mengi pada inspirasi atau ekspirasi (gangguan aliran udara), krekels/ mengi menetap;

pentimpangan trakea ( area yang mengalami lesi). Hemoptisis.

8). Keamanan.

Tanda: Demam mungkin ada (sel besar atau karsinoma). Kemerahan, kulit pucat

(ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)

9). Seksualitas.

Tanda : Ginekomastia (perubahan hormone neoplastik, karsinoma sel

besar). Amenorea/ impotent (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)

10). Penyuluhan.

Gejala : Faktor resiko keluarga, kanker(khususnya paru), tuberculosis

Kegagalan untuk membaik.

D. Pascaoperasi (Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan, 1999).

a. Karakteristik dan kedalaman pernafasan dan warna kulit pasien.

b. Frekuensi dan irama jantung.

c. Pemeriksaan laboratorium yang terkait (GDA. Elektolit serum, Hb dan Ht).

d. Pemantauan tekanan vena sentral.

e. Status nutrisi.

f. Status mobilisasi ekstremitas khususnya ekstremitas atas di sisi yang di operasi.

g. Kondisi dan karakteristik water seal drainase.

Page 26: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

26

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

1). Aktivitas atau istirahat.

Gejala : Perubahan aktivitas, frekuensi tidur berkurang.

2). Sirkulasi.

Tanda : denyut nadi cepat, tekanan darah tinggi.

3). Eliminasi.

Gejala : menurunnya frekuensi eliminasi BAB

Tanda : Kateter urinarius terpasang/ tidak, karakteristik urine

Bisng usus, samara atau jelas.

4). Makanan dan cairan.

Gejala : Mual atau muntah

5). Neurosensori.

Gejala : Gangguan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anastesi.

6). Nyeri dan ketidaknyamanan.

Gejala : Keluhan nyeri, karakteristik nyeri

Nyeri, ketidaknyamanan dari berbagai sumber misalnya insisi Atau efek – efek anastesi.

E. Diagnosa Keperawatan Dan Rencana Keperawatan.

1. Preoperasi (Gale, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi, 2000, dan Doenges, Rencana

Asuhan Keperawatan, 1999).

1). Kerusakan pertukaran gas dapat dihubungkan: Hipoventilasi.

Kriteria hasil:

a. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisi adekuat dengan GDA dalam rentang normal

dan bebas gejala distress pernafasan.

b. Berpartisipasi dalam program pengobatan, dalam kemampuan/ situasi.

Intervensi:

a) Kaji status pernafasan dengan sering, catat peningkatan frekuensi atau upaya pernafasan atau

perubahan pola nafas.

Rasional: Dispnea merupakan mekanisme kompensasi adanya tahanan jalan nafas.

b) Catat ada atau tidak adanya bunyi tambahan dan adanya bunyi tambahan, misalnya krekels,

mengi.

Page 27: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

27

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Rasional: Bunyi nafas dapat menurun, tidak sama atau tak ada pada area yang sakit.Krekels adalah

bukti peningkatan cairan dalam area jaringan sebagai akibat peningkatan permeabilitas membrane

alveolar-kapiler. Mengi adalah bukti adanya tahanan atau penyempitan jalan nafas sehubungan

dengan mukus/ edema serta tumor.

c) Kaji adanmya sianosis

Rasional: Penurunan oksigenasi bermakna terjadi sebelum sianosis. Sianosis sentral dari “organ”

hangat contoh, lidah, bibir dan daun telinga adalah paling indikatif.

d) Kolaborasi pemberian oksigen lembab sesuai indikasi

Rasional: Memaksimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran.

e) Awasi atau gambarkan seri GDA.

Rasional: Menunjukkan ventilasi atau oksigenasi. Digunakan sebagai dasar evaluasi keefktifan

terapi atau indikator kebutuhan perubahan terapi.

2). Bersihan jalan nafas tidak efektif.

Dapat dihubungkan: Kehilangan fungsi silia jalan nafas, Peningkatan jumlah/ viskositas sekret

paru, Meningkatnya tahanan jalan nafas

Kriteria hasil:

a. Menyatakan/ menunjukkan hilangnya dispnea.

b. Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih

c. Mengeluarkan sekret tanpa kesulitan.

d. Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki/ mempertahankan bersiahn jalan nafas.

Intervensi:

a) Catat perubahan upaya dan pola bernafas.

Rasional:

Penggunaan otot interkostal/ abdominal dan pelebaran nasal menunjukkan peningkatan upaya

bernafas.

b) Observasi penurunan ekspensi dinding dada dan adanya.

Rasional:

Ekspansi dad terbatas atau tidak sama sehubungan dengan akumulasi cairan, edema, dan sekret

dalam seksi lobus.

Page 28: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

28

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

c) Catat karakteristik batuk (misalnya, menetap, efektif, tak efektif), juga produksi dan

karakteristik sputum.

Rasional:

Karakteristik batuk dapat berubah tergantung pada penyebab/ etiologi gagal perbafasan. Sputum

bila ada mungkin banyak, kental, berdarah, adan/ atau purulen.

a) Pertahankan posisi tubuh/ kepala tepat dan gunakan alat jalan nafas sesuai kebutuhan.

Rasional:

Memudahkan memelihara jalan nafas atas paten bila jalan nafas pasein dipengaruhi.

e) Kolaborasi pemberian bronkodilator, contoh aminofilin, albuterol dll. Awasi untuk efek

samping merugikan dari obat, contoh takikardi, hipertensi, tremor, insomnia.

Rasional:

Obat diberikan untuk menghilangkan spasme bronkus, menurunkan viskositas sekret,

memperbaiki ventilasi, dan memudahkan pembuangan sekret. Memerlukan perubahan dosis/

pilihan obat.

3). Ketakutan/Anxietas.

Dapat dihubungkan: Krisis situasi, Ancaman untuk/perubahan status kesehatan, takut mati, Faktor

psikologis.

Kriteria hasil :

a. Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat untuk mengatasinya.

b. Mengakui dan mendiskusikan takut.

c. Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatangani.

d. Menunjukkan pemecahan masalah dan pengunaan sumber efektif.

Intervensi:

a) Observasi peningkatan gelisah, emosi labil.

Rasional:

Memburuknya penyakit dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas.

b) Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan.

Rasional:

Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energi.

Page 29: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

29

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

c) Tunjukkan/ Bantu dengan teknik relaksasi, meditasi, bimbingan imajinasi.

Rasional:

Memberikan kesempatan untuk pasien menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol.

d) Identifikasi perspsi klien terhadap ancaman yang ada oleh situasi.

Rasional:

Membantu pengenalan ansietas/ takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk

individu.

e) Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan.

Rasional:

Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. Mendorong

penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi.

4). Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.

Dapat dihubungkan: Kurang informasi, Kesalahan interpretasi informasi, Kurang mengingat.

Kriteria hasil:

a. Menjelaskan hubungan antara proses penyakit dan terapi.

b. Menggambarkan/ menyatakan diet, obat, dan program aktivitas.

c. Mengidentifikasi dengan benar tanda dan gejala yang memerlukan perhatian medik.

d. Membuat perencanaan untuk perawatan lanjut.

Intervensi :

a) Dorong belajar untuk memenuhi kebutuhan pasien. Beriak informasi dalam cara yang jelas/

ringkas.

Rasional:

Sembuh dari gangguan gagal paru dapat sangat menghambat lingkup perhatian pasien, konsentrasi

dan energi untuk penerimaan informasi/ tugas baru.

b) Berikan informasi verbal dan tertulis tentang obat

Rasional:

Pemberian instruksi penggunaan obat yang aman memmampukan pasien untuk mengikuti dengan

tepat program pengobatan.

c) Kaji konseling nutrisi tentang rencana makan; kebutuhan makanan kalori tinggi.

Page 30: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

30

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Rasional:

Pasien dengan masalah pernafasan berat biasanya mengalami penurunan berat badan dan

anoreksia sehingga memerlukan peningkatan nutrisi untuk menyembuhan.

d) Berikan pedoman untuk aktivitas.

Rasional:

Pasien harus menghindari untuk terlalu lelah dan mengimbangi periode istirahatdan aktivitas

untuk meningkatkan regangan/ stamina dan mencegah konsumsi/ kebutuhan oksigen berlebihan.

2. Pascaoperasi (Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan, 1999).

1). Kerusakan pertukaran gas.

Dapat dihubungkan: Pengangkatan jaringan paru, Gangguan suplai oksigen, Penurunan kapasitas

pembawa oksigen darah (kehilangan darah).

Kriteria hasil:

a. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang

normal.

b. Bebas gejala distress pernafasan.

Intervensi :

a) Catat frekuensi, kedalaman dan kemudahan pernafasan. Observasi penggunaan otot bantu,

nafas bibir, perubahan kulit/ membran mukosa.

Rasional:

Pernafasan meningkat sebagai akibat nyeri atau sebagai mekanisme kompensasi awal terhadap

hilangnya jaringan paru.

b) Auskultasi paru untuk gerakamn udara dan bunyi nafas tak normal.

Rasional:

Konsolidasi dan kurangnya gerakan udara pada sisi yang dioperasi normal pada pasien

pneumonoktomi. Namun, pasien lubektomi harus menunjukkan aliran udara normal pada lobus

yang masih ada.

c) Pertahankan kepatenan jalan nafas pasien dengan memberikan posisi, penghisapan, dan

penggunaan alat

Page 31: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

31

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Rasional:

Obstruksi jalan nafas mempengaruhi ventilasi, menggangu pertukaran gas.

d) Ubah posisi dengan sering, letakkan pasien pada posisi duduk juga telentang sampai posisi

miring.

Rasional:

Memaksimalkan ekspansi paru dan drainase sekret.

e) Dorong/ bantu dengan latihan nafas dalam dan nafas bibir dengan tepat.

Rasional:

Meningkatkan ventilasi maksimal dan oksigenasi dan menurunkan/ mencegah atelektasis.

2). Bersihan jalan nafas tidak efektif

Dapat dihubungkan: Peningkatan jumlah/ viskositas sekret, Keterbatasan gerakan dada/ nyeri,

Kelemahan/ kelelahan.

Kriteria hasil :

Menunjukkan patensi jalan nafas, dengan cairan sekret mudah dikeluarkan, bunyi nafas jelas, dan

pernafasan tak bising.

Intervensi :

a) Auskultasi dada untuk karakteristik bunyi nafas dan adanya sekret.

Rasional:

Pernafasan bising, ronki, dan mengi menunjukkan tertahannya sekret dan/ atau obstruiksi jalan

nafas.

b) Bantu pasien dengan/ instruksikan untuk nafas dalam efektif dan batuk dengan posisi duduk

tinggi dan menekan daerah insisi.

Rasional:

Posisi duduk memungkinkan ekspansi paru maksimal dan penekanan menmguatkan upaya batuk

untuk memobilisasi dan membuang sekret. Penekanan dilakukan oleh perawat.

c) Observasi jumlah dan karakter sputum/ aspirasi sekret.

Rasional:

Peningkatan jumlah sekret tak berwarna / berair awalnya normal dan harus menurun sesuai

kemajuan penyembuhan.

d) Dorong masukan cairan per oral (sedikitnya 2500 ml/hari) dalam toleransi jantung.

Page 32: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

32

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Rasional:

Hidrasi adekuat untuk mempertahankan sekret hilang/ peningkatan pengeluaran.

e) Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, dan/ atau analgetik sesuai indikasi.

Rasional:

Menghilangkan spasme bronkus untuk memperbaiki aliran udara, mengencerkan dan menurunkan

viskositas sekret.

3). Nyeri (akut).

Dapat dihubungkan: Insisi bedah, trauma jaringan, dan gangguan saraf internal, Adanya selang

dada, Invasi kanker ke pleura, dinding dada

Kriteria hasil :

a. Melaporkan neyri hilang/ terkontrol.

b. Tampak rileks dan tidur/ istirahat dengan baik.

c. Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/ dibutuhkan.

Intervensi :

a) Tanyakan pasien tentang nyeri. Tentukan karakteristik nyeri. Buat rentang intensitas pada skala

0 – 10.

Rasional:

Membantu dalam evaluasi gejala nyeri karena kanker. Penggunaan skala rentang membantu pasien

dalam mengkaji tingkat nyeri dan memberikan alat untuk evaluasi keefktifan analgesic,

meningkatkan control nyeri.

b) Kaji pernyataan verbal dan non-verbal nyeri pasien.

Rasional:

Ketidaklsesuaian antar petunjuk verbal/ non verbal dapat memberikan petunjuk derajat nyeri,

kebutuhan/ keefketifan intervensi.

c) Catat kemungkinan penyebab nyeri patofisologi dan psikologi.

Rasional:

Insisi posterolateral lebih tidak nyaman untuk pasien dari pada insisi anterolateral. Selain itu takut,

distress, ansietas dan kehilangan sesuai diagnosa kanker dapat mengganggu kemampuan

mengatasinya.

d) Dorong menyatakan perasaan tentangnyeri.

Page 33: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

33

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Rasional:

Takut/ masalah dapat meningkatkan tegangan otot dan menurunkan ambang persepsi nyeri.

e) Berikan tindakan kenyamanan. Dorong dan ajarkan penggunaan teknik relaksasi

Rasional:

Meningkatkan relaksasi dan pengalihan perhatian.

4). Anxietas.

Dapat dihubungkan: Krisis situasi, Ancaman/ perubahan status kesehatan, Adanya ancman

kematian.

Kriteria hasil:

a. Mengakui dan mendiskusikan takut/ masalah

b. Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan wajah tampak rileks/ istirahat

c. Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.

Intervensi:

a) Evaluasi tingkat pemahaman pasien/ orang terdekat tentang diagnosa.

Rasional:

Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi perubahan

ada gambaran diri dan pola hidup. Pemahaman persepsi ini melibatkan susunan tekanan perawatan

individu dan memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat.

b) Akui rasa takut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan

Rasional:

Dukungan memampukan pasien mulai membuka atau menerima kenyataan kanker dan

pengobatannya.

c) Terima penyangkalan pasien tetapi jangan dikuatkan.

Rasional:

Bila penyangkalan ekstrem atau ansiatas mempengaruhi kemajuan penyembuhan, menghadapi isu

pasien perlu dijelaskan dan emebuka cara penyelesaiannya.

d) Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Yakinkan bahwa pasien dan

pemberi perawatan mempunyai pemahaman yang sama.

Rasional:

Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/ salah interpretasi terhadap informasi..

Page 34: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

34

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

e) Libatkan pasien/ orang terdekat dalam perencanaan perawatan. Berikan waktu untuk

menyiapkan peristiwa/ pengobatan.

Rasional:

Dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol/ kemandirian pada pasien yang merasa

tek berdaya dalam menerima pengobatan dan diagnosa.

f) Berikan kenyamanan fiik pasien.

Rasional:

Ini sulit untuk menerima dengan isu emosi bila pengalaman ekstrem/ ketidaknyamanan fisik

menetap.

5). Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.

Dapat dihubungkan: Kurang atau tidak mengenal informasi/ sumber, Salah interperatasi informasi,

Kurang mengingat.

Kriteria hasil:

a. Menyatakan pemahaman seluk beluk diagnosa, program pengobatan.

b. Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alas an tindakan tersebut.

c. Berpartisipasi dalam proses belajar.

d. Melakukan perubahan pola hidup.

Intervensi :

a) Diskusikan diagnosa, rencana/ terapi sasat ini dan hasil yang diharapkan.

Rasional:

Memberikan informasi khusus individu, membuat pengetahuan untuk belajar lanjut tentang

manajemen di rumah. Radiasi dan kemoterapi dapat menyertai intervensi bedah dan informasi

penting untuk memampukan pasien/ orang terdekat untuk membuat keputusan berdasarkan

informasi.

b) Kuatkan penjelasan ahli bedah tentang prosedur pembedahan dengan memberikan diagram

yang tepat. Masukkan informasi ini dalam diskusi tentang harapan jangka pendek/ panjang dari

penyembuhan.

Rasional:

Lamanya rehabilitasi dan prognosis tergantung pada tipe pembedahan, kondisi preoperasi, dan

lamanya/ derajat komplikasi.

Page 35: Askep CA Paru-Rosdiana.ns

35

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIK AN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

c) Diskusikan perlunya perencanaan untuk mengevaluasi perawatan saat pulang.

Rasional:

Pengkajian evaluasi status pernafasan dan kesehatan umum penting sekali untuk meyakinkan

penyembuhan optimal. Juga memberikan kesempatan untuk merujuk masalah/ pertanyaan pada

waktu yang sedikit stres.