26
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Praktek Keperawatan Komunikasi bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakatdengan menekankan pada peningkatan peran serta masyarakat dalam melekukan upaya pencegahan, peningkatkan dan mempertahankan kesehatan. Salah satu sasaran Praktek Keperawatan Komunitas adalah keluarga sehingga dikenal dengan sebutan asuhan Keperawatan Kesehatan Keluarga. Hal ini karena keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat itu sendiri. Namun kenyataan menunjukkan bahwa penerapan konsep asuhan Keperawatan Kesehatan Keluarga sampai dengan saat ini belum dilaksanakan dengan baik oleh perawat Puskesmas. Menurut Salvicion G. Bailon & Arracelis Maglaya, Perawat Kesehatan Keluarga, 1978), selama ini perawat kesehatan diakui dan dihormati sebagai anggota tim Kesehatan karena sifat-sifat pribadi dan kemampuannya sebagai individu bukan karena kemampuan profesionalitasnya sebagai perawat. Hal ini disebabkan karena kurang pengetahuan atau ketidakmampuan perawat untuk menegaskan perannya, tidak ada polahan yang sama dalam keperawatan dan tidak ada kesepakatan perawat tentang peranan sebenarnya dari perawat. Tentu dalam hal ini termasuk juga perawat kesehatan masyarakat dalam kondisi seperti ini, praktek keperawatan kesehatan masyarakat seperti tidak nampak untuk dinikmati oleh masyarakat dari perawat sebagai sebuah profesi, oleh karena itu kehadiran perawat dalam tim

Askep Bronchitis Kronis

Embed Size (px)

DESCRIPTION

askep bronkitis

Citation preview

Page 1: Askep Bronchitis Kronis

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Praktek Keperawatan Komunikasi bertujuan untuk meningkatkan dan

memelihara kesehatan masyarakatdengan menekankan pada peningkatan peran

serta masyarakat dalam melekukan upaya pencegahan, peningkatkan dan

mempertahankan kesehatan. Salah satu sasaran Praktek Keperawatan Komunitas

adalah keluarga sehingga dikenal dengan sebutan asuhan Keperawatan Kesehatan

Keluarga. Hal ini karena keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat itu

sendiri. Namun kenyataan menunjukkan bahwa penerapan konsep asuhan

Keperawatan Kesehatan Keluarga sampai dengan saat ini belum dilaksanakan

dengan baik oleh perawat Puskesmas.

Menurut Salvicion G. Bailon & Arracelis Maglaya, Perawat Kesehatan

Keluarga, 1978), selama ini perawat kesehatan diakui dan dihormati sebagai

anggota tim Kesehatan karena sifat-sifat pribadi dan kemampuannya sebagai

individu bukan karena kemampuan profesionalitasnya sebagai perawat. Hal ini

disebabkan karena kurang pengetahuan atau ketidakmampuan perawat untuk

menegaskan perannya, tidak ada polahan yang sama dalam keperawatan dan

tidak ada kesepakatan perawat tentang peranan sebenarnya dari perawat. Tentu

dalam hal ini termasuk juga perawat kesehatan masyarakat dalam kondisi seperti

ini, praktek keperawatan kesehatan masyarakat seperti tidak nampak untuk

dinikmati oleh masyarakat dari perawat sebagai sebuah profesi, oleh karena itu

kehadiran perawat dalam tim kesehatan hanyalah sebagai pelengkap belaka

terutama sebagai pembantunya dokter.

Jenjang pendidikan keperawatan di Indonesia yang beraneka ragam tanpa

adanya batasan yang jelas akan peran dan fungsi masing-masing semakin

mempersulit praktek Keperawatan Komunitas. Belum adanya standart praktek

Keperawatan Komunitas yang diakui berdasarkan kesepakatan masyarakat

Keperawatan Indonesia mengakibatkan praktek Keperawatan Komunitas menjadi

kabur. Termasuk belum adanya jenjang spesialisasi perawat Komunitas

mengakibatkan persepsi konsep Keperawatan Komunitas ditafsir secara sendiri-

sendiri oleh perawat dan tidak adanya figur narasumber yang bisa didengar dan

dipanuti berdasarkan tingkat kepahaman. Konsep Keperawatn Komunitas yang

ada saat ini masih merupakan adopsi dari konsep-konsep luar negeri yang belum

tentu cocok dengan karakteristik masyarakat Indonesia.

Berdasarkan berbagai uraian yang telah dipaparkan di atas maka tantangan

Page 2: Askep Bronchitis Kronis

perawat kesehatan masyarakat begitu berat untuk dipecahkan. Namun

Keperawatan Nasioanal Indonesia sebagai sebuah profesi yang diakui

berdasarkan hasil Lokakarya Keperawatan Nasional tahun 1985 dituntut mampu

memecahkan berbagai persoalan tersebut sebagai konsekwensi profesi

masyarakat Keperawatan yang tergabung dalam wadah PPNI harus mampu

merumuskan bersama akan peran, fungsi dan standart praktek Keperawatan

Komunitas. Perlu dirujuk kembali berdasarkan ketentuan WHO (Salvicion G.

Bailon & Arracelis Maglaya, 1978) dimana untuk mencapai sasaran kesehatan

masyarakat Perawat Kesehatan harus mendapat tanggungjawab yang lebih luas

dalam hal diagnostik dan penggobatan.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas dan

bagaimana upaya untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat

dengan menekankan pada aspek peran serta masyarakat dalam melakukan upaya

pencegahan, peningkatan dan mempetahankan status kesehatan sebagai tujuan

praktek Keperawatan Komunitas perlu dilakukan berbagai studi dalam Kontes

Keperawatan Komunitas. Namun karena dibatasi oleh waktu dan biaya maka

penulisan ini hanya didasarkan pada studi Kasus Perawatan Kesehatan Keluarga

dengan fokus pengalaman belajar yang ditekankan pada aspek Metode Proses

Keperawatan yang meliputi :

1. Bagaimana melakukan pengkajian keperawatan kesehatan keluarga ?

2. Bagaimana menetapkan diagnose keperawatan kesehatan keluarga ?

3. Bagaimana menetapkan perencanaan keperawatan kesehatan keluarga ?

4. Bagaimana melaksanakan perawatan kesehatan keluarga ?

5. Bagaimana melaksanakan evaluasi perawatan kesehatan keluarga ?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum :

Untuk memepelajari penerapan asuhan Keperawatan Kesehatan

Keluarga secara konprehensip dengan menggunakan Metode Proses

Keperawatan.

2. Tujuan Khusus :

a. Agar mampu menerapkan pengkajian keperawatan kesehatan keluarga.

b. Agar mampu menegakkan diagnose keperawatan kesehatan keluarga.

c. Agar mampu membuat perencanaan keperawatan kesehatan keluarga.

d. Agar mampu menginplementasikan keperawatan kesehatan keluarga.

Page 3: Askep Bronchitis Kronis

e. Agar mampu melakukan evaluasi keperawatan kesehatan keluarga.

Page 4: Askep Bronchitis Kronis

BAB II

TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian Keluarga

I. Data Umum :

1. Nama Kepala Keluarga : Bapak Kamsir (Umur : 66 tahun).

2. Alamat dan Telepon : Gunung Anyar Lor, RT 01, RW 01 Kel.

Gunung Anyar.

3. Pekerjaan Kepala Keluarga : Tukang batu dan kayu.

4. Pendidikan Kepala Keluarga : SD tidak tamat.

5. Komposisi Keluarga :

No Nama Jenis

Kelamin

Hubungan

dengan KK

Umur Pendidikan

1.

2.

3.

4.

5.

Ibu Zuroh

Abdul Anas

Abdul Somat

Habibie

Indahtul. A

P

L

L

L

P

Isteri

Anak

Anak

Anak

Anak

40 th

18 th

17 th

11 th

8 th

SD

STM

SMU

SD

SD

Genogram :

Keterangan :

: Laki-Laki

: Perempuan

: Klien

: Meninggal Laki-laki

: Meninggal Perempuan

6. Tipe Keluarga.

Keluarga inti terdiri dari Pak Kamsir, Ibu Kamsir dan keempat anak kandung.

7. Suku bangsa.

Page 5: Askep Bronchitis Kronis

Jawa – Indonesia. Pak Kamsir berasal dari Blitar dan Ibu Kamsir asli

Rungkut Surabaya.

8. Agama.

Seisi keluarga menganut agama Islam. Tidak ada keyakinan yang berdampak

buruh pada status kesehatan.

9. Status Sosial Ekonomi Keluarga.

Penghasilan keluarga perbulan > Rp. 500.000,- yang diperoleh dari hasil kerja

Pak Kamsir jika kondisinya sehat, usaha Bu Kamsir membutat krupuk dan 4

buah kamar dikostkan. Pak Kamsir dan Ibu mengatakan dari penghasilan

yang ada cukup unuk biaya makan, minum, berobat dan beli pakaian serta

biaya sekolah anak.

10. Aktifitas Rekreasi Keluarga.

Anak-naka kadang memancing, bermain dan berkunjung ke rumah

teman, mendengar radio dan menonton TV bersama Pak Kamsir dan Ibu.

Sesekali keluarga mengunjungi sanak famili Pak Kamsir di Blitar

atau bersendagurau dengan penghuni kost.

II. Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga

1. Tahap perkembangan keluarga saat ini :

Keluarga berada pada tahap perkembangan keluarga dengan anak usia

remaja.

2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi :

Tidak ditemukannya tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi.

Anak I berusia 18 tahun dan sedang sekolah. Bapak dan Ibu Kamsir

mengatakan komunikasi dengan anak-anaknya bersifat terbuka dan masing-

masing anak tahu akan tugas dan kewajibannya.

3. Riwayat keluarga inti :

Bapak dan Ibu Kamsir mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit

keturunan tertentu. Hanya pada usia mudanya pak Kamsir pernah menderita

penyakit batu ginjal yang sedianya akan dioperasi dokter, tetapi akhirnya

hancur sendiri tanpa operasi. Mengenai anak-anak dikatakan tidak pernah

menderita penyakit berat tertentu, kecuali demam, batuk pilek biasa. Saat ini

pak Kamsir sedang menderita penyakit “BRONCHITIS KRONIS”

berdasarkan diagnosa dokter puskesmas Gunung Anyar sejak lebih dari 2

tahun lalu.

4. Riwayat keluarga sebelumnya :

Pak Kamsir mempunyai saudara 5 orang dan Pak Kamsir anak bungsu (ke

Page 6: Askep Bronchitis Kronis

enam). Ke empat saudaranya masih hidup kecuali anak ke lima sudah

meninggal dengan riwayat sakit yang tidak diketahui persis. Ibu Kamsir

mempunyai saudara 4 orang denan Ibu Kamsir sebagai anak bungsu (ke

lima). Anak sulung sudah meninggal dengan riwayat sakit yang juga tidak

diketahui persis.

III. Lingkungan

1. Karakteristik rumah :

Luas rumah 48 m2 dengan panjang 12 m dan lebar 4 m. terdiri dari 2 kamar

tidur, satu kamar mushola, satu WC, satu kamar mandi, tanpa gudang, satu

biuah dapur dan satu ruang tamu. Tipe rumah permanent. Jendela rumah

terdapat diruang tamu dengan posisi menghadap ke timur, satu buah

diruang tengah menghadap ke utara, satu buah dimushola dan di kamar

tidur masing-masing satu buah. Secara umum sistem ventilasi di kamar

tidur dan ruang tengah sangat kurang. Barang-barang diletakkan

dilorong/ruang tengah dan di ruang belakang depan dapur dan mushola.

Tidak mempunayi septi tank. WC permanent dibuat saluran pembuangan

langsung ke kali kecil di belakang rumah. Sumebr air minum dari PAM

yang dibeli secara ecertan (tidak berupa pipa permanent). Sumber air bersih

untuk memcuci digunakan sumur. Kebiasaan memasak menggunakan kayu

bakar sehingga banyak asap dalam rumah keluar rumah. Lantai rumah

terbuat dari tegel dengan kebiasaan keluarga keluar masuk rumah tanpa

melepaskan alas kaki sehingga kesanya banya debu/tanah.

Denah Rumah :

DRT

KK KK KK KK M KT II KT I

Keterangan :

RT = Ruang Tamu

KT = Kamar Tidur

M = Mushola

D = Dapur

KK = Kamar Kost.

2. Karakteristik tetangga dan komunitas RW :

Page 7: Askep Bronchitis Kronis

Keluarga pak Kamsir bertetangga dengan satu keluarga Polisi dan lainnya

wiraswasta. Semua tetangga beragama Islam dari suku jawa asli yang taat

beribadah kebiasaan kerja bakti dilakukan bersama sebulan sekali.

Hubungan dengan tetangga dilakukan sepanjang tegur sapa biasa. Kunjung

mengunjung dilakukan bila hari raya Agama.

3. Mobilitas geografis keluarga :

Keluarga ini tidak pernah berpindah-pindah tempat tinggal. Bapak dan Ibu

Kamsir kebanyakan berada di rumah selama Pak Kamsir masih sakit. Ibu

Kamsir setiap dua hari sekali pergi kewarung-warung di dekat rumah untuk

menitip kerupuk. Anak-anak aktif ke sekolah pada siang hari.

4. Perkumpulan keluaraga dan interaksi dengan masyarakat :

Keluarga Pak Kamsir aktif dalam perkumpulan Tahlilan bagi Bapak dan

Ibu. Sedangkan anak-anak aktif kegiatan ngaji dan remaja masjid dan

sebagai anggota pondok pesantren.

5. Sistem pendukung keluarga :

Ibu Kamsir dan keempat anaknya sehat-sehat saja. u Kamsir dan keempat

anaknya sehat-sehat saja. Selama ini yang aktif merawat Pak Kamsir hanya

ibu kamsir sendiri. Pak Kamsir dan ibu mengatakan tidak punya tabungan

khusus hari tua atau untuk membiayai kesehatan. Jarak rumah degan

fasilitas kesehatan terdekat yaitu Puskesmas ± 500 m. Adanya kegiatan

jimpitan kelompok yang bisa dipakai untuk biaya kesehatan. Selain itu Pak

Kamsir mengatakan untuk biaya pengobatannya kadang-kadang dibantu

oleh saudara-saudara ibu Kamsir termasuk memberikan dorongan agar

mencari pengobatan secara teratur. Saat ini Pak Kamsir lebih memilih pada

Tabib secara alternatif.

IV. Struktur Keluarga

1. Pola Komunikasi Keluarga :

Pak Kamsir dan Ibu mengatakan komunikasi keluarga dilakukan secara

terbuka. Menurut Pak Kamsir, kadang-kadang menegur dengan keras

kepada anak-anaknya yang melalaikan tugas-tugas sekolah atau terlambat

pulang makan kalau bertandang ke rumah teman.

2. Struktur Peran Keluarga :

Pak Kamsir mengatakan dirinya sudah tua dan sakit-sakitan. Oleh karena

itu tidak mempunyai peran khusus untuk merubah perilaku orang lain di

masyarakat. Kecuali terhadap anak-anak yang sering diingatkan untuk

menjaga pergaulan yang baik agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang

Page 8: Askep Bronchitis Kronis

merusak citra keluarga.

3. Struktur Peran (formal dan informal) :

Pak Kamsir hanya sebagai anggota Takmir Masjid sedangkan ibu Kamsir

sebagai anggota organisasi Fatayat.

4. Nilai dan Norma Keluarga :

Keluarga memandang sakit disebabkan oleh penyakit, bukan karena faktor

magis dan lainnya. Menurut pak Kamsir hal magis memang ada tetapi tidak

terlalu diperhitungkannya karena selama ini keluarganya tidak pernah

menyusahkan orang lain.

Menurut pak Kamsir, ... selama ini banyak orang beranggapan bahwa magis

merupakan keadaan yang menakutkan sehingga kalau sakit lebih suka ke

dukun terutama penyakit yang tak kunjung sembuh. Pada hal menurut paka

Kamsir kita harus teguh pada keyakinan agama. Oleh karena itu

keluarganya sering berobat ke sarana kesehatan bila sakit. Namun sakitnya

pak Kamsir karena harus berobat rutin ke dokter dimana harga obat

semakin mahal sehingga akhir-akhir ini lebih cenderung berobat ke Tabib

dengan menggunakan pengobatan alternatif. Di samping itu menurut pak

Kamsir dan ibu sebagaimanapandangan umum masyarakat disekitarnya

bahwa obat yang diperoleh dari puskesmas sangat terbatas/sederhana

sehingga sakit seperti pak Kamsir dianggap sulit sembuh walaupun awalnya

sempat berobat beberapa kali ke puskesmas Gunung Anyar. Terhadap

kebiasaan pak Kamsir yang kadang-kadang masih merokok, ibu Kamsir

mengatakan saya serahkan pada keadaan bapak sendiri yang merasakannya.

Kalau sering ditegur malah marah-marah. Menurut pak Kamsir sendiri

mengatakan merokok hanya sesekali saja bukan setiap saat, itu buu

tergantung pada kondisinya. Kadang-kadang berobat ke dokter praktek

dengan berpindah-pindah.

V. Fungsi Keluarga

1. Fungsi Afektif :

Menurut Pak Kamsir dan ibu serta kedua anak yang sudah remaja Zuroh

dan Abdul Anas, mereka memandang dirinya masing-masing layaknya

manusia normal lainnya. Kecuali pak Kamsir mengatakan dirinya semakin

tua dan sakit-sakitan sementara anak-anaknya masih kecil. Ibu Kamsir

mengatakan keluarganya saling menghormati satu sama lain dan tetap

mempertahankan keharmonisan keluarga.

2. Fungsi Sosial :

Page 9: Askep Bronchitis Kronis

Menurut keluarga, kehidupan mereka tidak lepas dari corak lingkungan

agamis muslim yang taat pada aturan ibadah, organisasi dan aktivitas

keagamaan.

3. Fungsi Perawatan Kesehatan :

Secara Umum keluarga masih belum mampu mengenal karakteristik

penyakit Bronkitis Kronis yang diderita pak Kamsir, Dalam mengambil

keputusan tindakan kesehatan masih lemah, kemampuan memberikan

perawatan pada pak Kamsir masih kurang, kemampuan menciptakan

lingkungan yang meningkatkan status kesehatan masih kurang, demikian

juga dengan pemanfaatan sarana kesehatan sudah cukup baik tetapi tidak

konsisten.

4. Fungsi Reproduksi :

Pak Kamsir mempunyai 4 orang anak dan mengatakan tidak ingin punya

anak lagi. Ibu Kamsir berumur 40 tahun dan mengatakan belum berhenti

haid tetapi pasangan ini tidak mengikuti program KB. Menurut ibu Kamsir,

selain karena takut juga pada pak Kamsir sudah tua dan sakit-sakitan

sehingga hampir tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Menurut

pak Kamsir dan ibu, keduanya bisa menerima keadaan seperti ini selain

karena anak-anaknya semakin besar juga harus bisa menerima kenyataan

hidup.

5. Fungsi Ekonomi :

Pak Kamsir mengatakan kondisi akan keluarga saat ini menurun draktis

sejak kondisinya sakit-sakitan. Oleh karena itu pemanfaatan keuangan

seefisien mungkin.

VI. Stres dan Koping Keluarga

1. Stresor Jangka Pendek dan panjang :

Menurut Pak Kamsir, sejak ± 6 bulan terakhir ini sering memikirkan

keadaannya yang semakin tua dan sakit-sakitan sementara anak-anaknya

semua masih sekolah, belum ada yang bekerja. Tetapi Pak dan ibu Kamsir

mengaakan tidak terlalu cemas karena semuanya sudah diatur oleh yang

Maha Kuasa.

2. Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Stresor :

Selain kepasrahannya, pak Kamsir berharap anaknya Zuroh cepat mendapat

pekerjaan setamat STM nanti.

3. Strategi Koping Yang Digunakan :

Pak Kamsir bersama istri selalu berdiskusi untuk memecahkan problem

Page 10: Askep Bronchitis Kronis

keluarga dengan kadang-kadang melibatkan anaknya Zuroh sebagai anak

sulung. Selain itu pak Kamsir dan ibu mengatakan disamping berusaha juga

berpasrah pada kehendak Yang Maha Kuasa. kalau kebutuhan yang sangat

mendesak, keluarga ibu Kamsir selalu dimintai bantuan.

4. Strategi Adaptasi Disfungsional :

Menurut Bapak dan ibu Kamsir, anak sulung Zuroh mulai belajar merokok.

Tetapi menurut Zuroh sendiri, hal itu dilakukannya hanya sebatas

penampilan sebagai anak muda untuk melepas ketegangan. Selama ini tidak

pernah membeli rokok dari uang pemberian orang tua kecuali diberi teman-

temannya.

VII. Pemeriksaan Fisik.

Pak Kamsir : T : 120/80, N : 72x/m, S : 365c. Retraksi +, suara parau, agak

kurus, mengeluh sesak napas, siamosis -, sering batuk berlendir.

Ibu Kamsir : T : 130/90, N : 68x/m, S : 360c.

VIII. Harapan Keluarga.

Pak Kamsir dan ibu berharap sesekali petugas puskesmas mau berkunjung

seperti ini sehingga keluarganya bisa memahami norma-norma kesehatan.

Selain itu pengobatan di puskesmas kalau bisa lebih lengkap lagi terutama

untuk penyakit-penyakit kronis.

Analisa Data, Perumusan masalah dan Diagnosa Keperawatan

Data Subyektif :

Pak Kamsir mengatakan sedang menderita penyakit Bronchitis Kronis

sejak lebih dari 2 tahun lalu berdasarkan diagnosa dokter puskesmas Gunung

Anyar. Sakitnya sering kumat-kumatan dengan gejala : Batuk-batuk berlendir

terutama malam hari atau terkena udara dingin, sesak napas, suara parau,

kadang-kadang disertai panas badan, badan lemah dan pusing.

Akhir-akhir ini sering menggunakan pengobatan alternatif ke Tabib

karena berobat ke dokter semakin mahal sementara pengobatana di

puskesmas tidak cukup obatnya.

Sering berpindah-pindah dokter.

Pak Kamsir mengatakan masih merokok sesekali.

Data Obyektif :

Ventilasi rumah kurang akurat.

Kebiasaan keluarga memasak menggunakan kayu bakar sehingga

banyak asap dalam rumah.

Page 11: Askep Bronchitis Kronis

Lantai rumah hanya disapu, jarang dipel, kebiasaan keluarga ke luar

masuk rumah tanpa melepas alas kaki sehingga banyak debu/tanah

bertebaran.

Pak Kamsir nampak kurus disertai retraksi + saat bernapas.

Perumusan Masalah.

Resiko tinggi bertambah memburuknya penyakit Bronchitis Kronis yang

diderita pak Kamsir.

Etimologi :

Ketidakmampuan mengenal karakteristik penyakit Bronchitis Kronis dan

perawatannya.

Diagnosa Keperawatan 1

Resiko tinggi bertambah memburuknya penyakit Bronchitis Kronis yang diderita

Pak Kamsir berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal

karakteristik penyakit dan perawatannya.

Data Subyektif :

Ibu Kamsir mengatakan belum berhenti haid.

Tidak menjadi apsetor KB selain karena takut juga ibu Kamsir mengatakan

hampir tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengan pak Kamsir

suaminya selain karena pak kamsir sudah tua juga sakit-sakitan. Meskipun

demikian pak Kamsir maupun ibu Kamsir mengatakan dapat menerima

keadaan tersebut tanpa melakukan hubungan suami istri.

Keduanya mengatakan tidak ingin mempunyai anak lagi.

Data Obyektif :

Mempunyai 4 orang anak dengan usia anak pertama 18 tahun, laki-laki,

dan yang bungsu 8 tahun, perempuan.

Ibu Kamsir nampak sehat dan segar.

Perumusan Masalah.

Resiko tinggi terjadinya kehamilan diluar rencana.

Etiologi :

Ketidak mampuan mengenal program KB.

Diagnosa Keperawatan 2.

Resiko tinggi terjadinya kehamilan ibu Kamsir diluar rencana berhubungan

dengan ketidakmampuan mengenal program KB.

Data Subyektif :

Keluarga mengatakan mempunyai WC tetapi tanpa septi tank. Sistem

penyalurannya langsung ke kali kecil dibelakang rumah.

Page 12: Askep Bronchitis Kronis

Data Obyektif :

Kondisi WC tanpa septi tank.

Sistem penyaluran dibuang langsung ke kali kecil dibelakng rumah.

Air kali mengalir menyusuri perkampungan.

Perumusan Masalah

Resiko tinggi terjadinya penularan penyakit saluran pencernaan bagi keluarga.

Etiologi :

Ketidakmampuan keluarga mempertahankan dan menciptakan lingkungan rumah

sehat.

Diagnosa Keperawatan 3

Resiko tinggi terjadinya penularan penyakit saluran pencernaan bagi keluarga

berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mempertahankan dan

menciptakan lingkungan rumah sehat.

B. Perencanaan

Untuk menentukan skala prioritas pemecahan masalah dalam rencana

perawatan keluarga pak Kamsir terlebih dahulu dibuat sistem skoring masalah

kesehatan sebagai berikut :

1. Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi bertambah

memburuknya penyakit Bronchitis Kronis yang diderita Pak Kamsir

berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal karakteristik

penyakit dan perawatannya.

No Kriteria Perhitungan Skor Pembenahan

1. Sifat masalah 3/3 x 1 1 Masalah adalah keadaan

kurang/tidak sehat dan

memerlukan tindakan

segera.

2. Kemungkinan masalah

dapat diubah

2/2 x 2 2 Sumber-sumber yang ada

dan tindakan untuk me-

mecahkan masalah dapat

dijangkau keluarga.

3. Potensi untuk mence-

gah masalah

3/3 x 1 1 Masalah dapat dicegah

untuk tidak memper-

buruk keadaan dapat

dilakukan pak Kamsir

dan keluarga dengan

Page 13: Askep Bronchitis Kronis

memperbaiki perilaku

hidup sehat.

4. Menonjolnya masalah ½ x 1 1/2 Keluarga menyadari

adanya masalah tetapi

tidak didukung dengan

pemahaman yang ade-

kuat tentang karakteristik

penyakit.

Total Skor 4 1/2

2. Resiko tinggi terjadinya kehamilan ibu Kamsir diluar rencana berhubungan

dengan ketidakmampuan mengenal program KB.

No Kriteria Perhitungan Skor Pembenahan

1. Sifat masalah 2/3 x 1 2/3 Adanya ancaman keseha-

tan tetapi tidak perlu

ditangani segera.

2. Kemungkinan masalah

dapat diubah

2/2 x 2 2 Untuk menjadi aseptor

KB dengan mengguna-

kan kontrasepsi mungkin

sulit bagi pasangan tetapi

menggunakan metode ka-

lender melalui pemaha-

man siklus haid dapat

diajarkan tanpa biaya

mahal.

3. Potensi untuk mence-

gah masalah

3/3 x 1 1 Dengan menggunakan

metode kalender yang

sifatnya mudah dan mu-

rah, pasangan dapat le-

luasa berhubungan seks.

4. Menonjolnya masalah 1/2 x 1 1/2 Bapak dan ibu Kamsir

mengatakan dapat mene-

rima keadaan hidup tanpa

Page 14: Askep Bronchitis Kronis

berhubungan seks lagi.

Total Skor 4 1/6

3. Resiko tinggi terjadinya penularan penyakit saluran pencernaan bagi keluarga

berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mempertahankan dan

menciptakan lingkungan rumah sehat.

No Kriteria Perhitungan Skor Pembenahan

1. Sifat masalah 2/3 x 1 2/3 Adanya ancaman keseha-

tan tetapi tidak perlu

ditangani segera.

2. Kemungkinan masalah

dapat diubah

2/2 x 2 2 Untuk membuat septi

tank permanent tidak

terlalu membutuhkan bia-

ya mahal lagipula keluar-

ga dapat menabung sedi-

kit demi sedikit apalagi

pak Kamsir sendiri se-

orang tukang batu.

3. Potensi untuk mence-

gah masalah

3/3 x 1 1 Resiko terjadinya penula-

ran penyakit saluran pen-

cernaan dapat dicegah

bagi keluarga.

4. Menonjolnya masalah 0/2 x 1 0

Total Skor 4 1/6

Page 15: Askep Bronchitis Kronis

PELAKSANAAN PERAWATAN KELUARGA PAK KAMSIR

No Diagnosa Kp. Keluarga Tujuan Khusus Tgl Implementasi Evaluasi

1. Resti bertambah

memburuknya penyakit

Bronchitis Kronis yang

diderita pak Kamsir b/d

ketidakmampuan

keluarga mengenal

karakteristik penyakit

Bronchitis Kronis dan

perawatannya.

1. Keluarga mengenal

karakteristik penyakit

Bronchitis Kronis.

5-6-01 Menggali pengetahuan keluarga tentang karakteristik

penyakit Bronchitis Kronis.

Menggali pengetahuan keluarga tentang cara-cara

perawatan di rumah.

Mendiskusikan bersama tentang karakteristik penyakit

Bronchitis Kronis dan perawatannya yang meliputi :

- Pengertian Bronchitis Kronis.

- Penyebab.

- Cara memberikan perawatan di rumah.

Menanyakan kembali materi diskusi tentang

karakteristik penyakit Bronchitis Kronis dan

perawatannya.

Keluarga hanya mengenalnya sebagai jenis

penyakit saluran pernapasan.

Keluarga hanya bisa mengandalkan obat

dokter atau pengobatan alternatif dari Tabib.

Keluarga mengerti.

Keluarga (pak Kamsir) mampu menjawab

dengan baik.

2. Keluarga membuat

keputusan yang tepat

tentang upaya

pengobatan pak Kamsir

ke Sarana kesehatan

dan sanggup

memberikan perawatan

yang baik dan benar

serta pak Kamsir

mengatakan bersedia

berhenti merokok.

Membantu menyokong keluarga membuat keputusan yang

tepat tentang upaya pengobatan ke sarana kesehatan dan

kemampuan memberikan perawatan di rumah serta pak

Kamsir sendiri mampu membuat keputusan untuk berhenti

merokok.

Keluarga mampu membuat keputusan dan pak

Kamsir menyatakan bersedia berhenti merokok.

Page 16: Askep Bronchitis Kronis

3. Keluarga sepakat jika

diadakan evaluasi

sewaktu-waktu oleh

perawat.

7-6-01 Meyakinkan keluarga akan manfaat lantai bersih dan

terhindar dari debu/tanah.

Meyakinkan pak Kamsir akan bahaya merokok

terhadap penyakit yang diderita.

Meyakinkan keluarga akan bahaya dapur terutama

bagi pak Kamsir.

- Pak Kamsir sudah dirawat/opname di

RSUD Dr. Soetomo dengan Diagnose :

Gagal jantung kanan. Saat dirawat pak

Kamsir sedang terpasang O2 dan Infus Nacl

0,9%. (di Ruang Cardiologi).

Page 17: Askep Bronchitis Kronis

DAFTAR PUSTAKA

Bailon G. Salvicion & Maglaya Arracelis. Perawatan Kesehatan Keluarga.

Copyriche 1978. UP Coleege of Nursing. Dillman. Quezon City.

Philippines. Jakarta. 1989.

Depkes RI. Tata Laksana Perawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta. 1987.

________ Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Seri C. Jakarta. 1994.

Fakultas Keparawatan Universitas Indonesia. Kumpulan Makalah Pelatihan Asuhan

Keperawatan Keluarga. Jakarta. 2000.

Page 18: Askep Bronchitis Kronis

RENCANA PERAWATAN KELUARGA PAK KAMSIR

TANGGAL 01 JUNI 2001

NoDiagnosis Kep. KeluargaTujuanKriteria EvaluasiRencana IntervensiUmumKhususKriteriaStandartResiko tinggi bertam-bah memburuknya pen-yakit Bronchitis Kronis yang diderita pak Kamsir berhubungan

dengan ketidakmam-puan keluarga menge-nal karakteristik penya-kit dan perawatannya.Setelah dilakukan tindakan keperawatan, keadaan penyakit pak Kamsir berangsur membaik.1. Keluarga dapat mengenal

ka-rakteristik pen-yakit Bronchitis Kronis.

a. VerbalPengertian Bronchitis Kronis.

b. Penyebab :

Merokok

Serangan Bronchitis Kronis berulang.

Radang hidung.

Penyakit saluran Pernapasan lain disertai penumpukan dahak.

1. Menjawab pertanyaan dengan baik dan benar.Galih pengetahuan keluarga tentang karakteristik penyakit Bronchitis Kronis dan perawatannya.

2. Diskusikan bersama tentang karakteristik penyakit Bronchitis Kronis dan perawatannya.

3. Berikan bimbingan dengan ilustrasi menggunakan gambar, brosur dan sebagainya.

4. Dengarkan dengan seksama sanggahan yang diajukan keluarga.

5. Tanggapi pertanyaan dengan sabar.

6. Bimbing keluarga untuk mengulangi penjelasan yang sudah diberikan.

1. Berikan pujian bila keluarga mampu menjawab dengan baik dan benar.2. Keluarga dapat membuat kepu-tusan yang tepat tentang upaya pe-ngobatan pak Kam-sir ke sarana kese-hatan dan bersedia

memberikan pera-watan yang baik dan benar dan pak Kamsir menyata-kan bersedia ber-henti merokok.VerbalKeputusan yang dibuat keluarga dan pak Kamsir sendiriDiskusikan alternatif untuk mengatasi

masalah yaitu :

- Pentingnya berobat teraur ke sarana kesehatan.

- Modifikasi lingkungan agar pak Kamsir terhindar dari asap dapur.

- Resiko jika pak Kamsir tetap merokok.

- Pentingnya kerjasama dengan petugas kesehatan.

Page 19: Askep Bronchitis Kronis

- Manfaat lantai rumah bersih dan terhindar dari debu/tanah.

2. Beri dorongan kepada keluarga dan pak Kamsir untuk membuat keputusan.

3. Beri pujian terhadap keputusan yang baik dan benar sebaliknya beri koreksi atas keputusan keliru.

3. Keluarga sepakat jika diadakan evaluasi sewaktu-waktu.Perilaku- Lantai rumah dipel bersih.

- Pak Kamsir telah berhenti merokok.

1. - Terhindar dari asap dapur.Jelaskan manfaat evaluasi sewaktu-waktu.

2. Jelaskan bahwa diskusi akan dilanjutkan jika hasil evaluasi tidak sesuai dengan keputusan yang telah dibuat keluarga.