20
Artikel Kesehatan Psikologis Klinis Psikologis Klinis A. Pengertian Psikologis Klinis Psikologis klinis menurut Witemer tahun 1912 adalah metode yang digunakan untuk mengubah atau mengembangkan jiwa seseorang berdasarkan hasil observasi dan eksperimen dengan menggunakan teknik pedagogis. Ada beberapa ciri yang terdapat dalam psikologis klinis : 1. Memiliki orientasi ilmiah-profesional yaitu adanya ciri berupa penggunaan metode ilmu dan kaidah psikologi, dalam pemberian bantuan terhadap indiovidu yang menderita kecemasan. Psikologi melalui intervensi dan evaluasi psikologis. 2. Menampilkan kompetensi psikologi, karena psikologi klinis terlatih dalam menggunakan petunjuk dan pengetahuan psikologi dalam kerja professional. 3. Menampilkan kompetensi klinisi karena berusaha mengerti orang lain

Artikel Kesehatan Psikologis

Embed Size (px)

DESCRIPTION

psikologi

Citation preview

Page 1: Artikel Kesehatan Psikologis

Artikel Kesehatan Psikologis Klinis

Psikologis Klinis

A. Pengertian Psikologis Klinis

Psikologis klinis menurut Witemer tahun 1912 adalah metode yang digunakan untuk mengubah

atau mengembangkan jiwa seseorang berdasarkan hasil observasi dan eksperimen dengan

menggunakan teknik pedagogis. Ada beberapa ciri yang terdapat dalam psikologis klinis :

1. Memiliki orientasi ilmiah-profesional yaitu adanya ciri berupa penggunaan metode ilmu dan

kaidah psikologi, dalam pemberian bantuan terhadap indiovidu yang menderita kecemasan.

Psikologi melalui intervensi dan evaluasi psikologis.

2. Menampilkan kompetensi psikologi, karena psikologi klinis terlatih dalam menggunakan

petunjuk dan pengetahuan psikologi dalam kerja professional.

3. Menampilkan kompetensi klinisi karena berusaha mengerti orang lain

4. Ilmiah, karena menggunakan metode ilmiah untuk mencapai presisi dan objektivitas dalam

cara kerja profesionalnya dengan tetap melakukan validasi untuk setiap individu yang ditangani

5. Profesional, karena lebih menyumbangkan pelayanan kemanusiaan yang penting bagi

individual, kelompok social dan komunitas untuk memecahkan masalah.

 

Page 2: Artikel Kesehatan Psikologis

B. Orientasi Psikologi Klinis

Terdapat hubungan yang jelas dan dekat antara psikologi klinis dan psikologi abnormal dan

kemudian tentu saja psikiatri. Tugas yang dihadapi psikologi klinis adalah memahami masalah-

masalah yang dihadapi pasien dan cara pasien menyelesaikan aspek kepribadian. Untuk tujuan

orientasi teoritis studi klinis mengenai kepribadian terdapat aspek kepribadian yang perlu

dipahami :

1. Motivasi Adalah kebutuhan psikologi yang telah memiliki corak atau arah yang ada dalam diri

individu yang harus dipenuhi agar kehidupan kejiwaannya terpelihara yaitu senantiasa dalam

keadaan seimbang. Pada awalnya kebutuhan itu hanya berupa kekuatan dasar saja. Namun

selanjutnya berubah menjadi suatu vector yang disebut motivasi karena memiliki kekuatan dan

arah.

2. Kapasitas Kapasitas adalah karakteristik individu yang adjustic, termasuk dalam hal adalah

kapasitas intelektual untuk mencapai tujuannya sendiri dan untuk tuntutan yang dikehendaki

lingkungan. Pentingnya pemahaman mengenai kapasitas ini bagi psikologi klinis adalah untuk

memperkirakan dalam bidang apa saja dan seberapa kuat individu memiliki sumber stress, baik

dalam keadaan frustasi, konflik maupun tertekan.

3. Pengendalian Yang dimaksud dengan pengendalian adalah proses yang dilakuakan individu

saat menggunakan kapasitasnya dan mengekang motivasi impulsive ke dalam saluran yang

berguna bagi penyesuian dirinya, yang secara social diterima.

Page 3: Artikel Kesehatan Psikologis

 

Perkembangan kemampuan mengendalikan diri terjadi sejak masa bayi. Tepatnya saat bayi mulai

belajar menghadapi frustasi. Ada lima wujud pengendalian yaitu pengendalian berlebih (represi),

lemah (under control), tentantif (cemas), terganggu disebut juga sebagai pengendalian yang

inadequate dan pengendalian ideal (pengendalian yang melahirkan penyesuaian yang tepat).

Peranan Psikologi Klinis

Tugas professional seorang psikolog klinis adalah mengimplementasikan prinsip dasar

psikologis klinis sebagai ilmu terapan. Berkaitan dengan tugas ini, ada beberapa peranan yang

dimiliki psikolog klinis sebagai berikut :

 

1. Terapan Istilah khusus untuk psikologi adalah psikoterapi. Pada umunya terapi menampilkan

empat gambaran kegiatan yaitu : Membantu hubungan murni yang bersifat memelihara

hubungan antara terapis dan pasien.

a. membantu klien melakukan eksplorasi (pengalihan diri)

b. terapis dank lien bekerjasama memecahkan masalah

Page 4: Artikel Kesehatan Psikologis

c. terapis membangun sikap dan mengerjakan ketrampilan atau cara kepada pasien untuk

menggulangi stress.

2. Assesment Assessment adalah propses yang digunakan psikolog klinis untuk mengamati dan

mengevaluasi masalah social dan psikologis pasien, baik menyangkut keterbatasan maupun

kelebihannya.

3. Mengajar Mengajar adalah memberikan informasi dan pelatihan mengenai topic-topik yang

termasuk ruang lingkup pengetahuan yang melandasi profesinya, seperti psikologi klinis,

psikologi abnormal, dll.

4. Konsultasi Termasuk memberikan bimbingan bagi perseorangan, kelompok atau badan system

dan organisasi untuk mengembangkan kualitas diri. Disebut konsultasi karena tujuan psikolog

klinis dalam hal ini membantu pasien melalui pekerjaan atau permasalahan mereka.

a. Administrasi Dilaksanakannya oleh psikolog klinis sesuai dengan jabatannya dalam posisi

manajerial seperti di RS, klinik, dll.

b. Penelitian Dikerjakan oleh psikologi klinis dalam berbagai macam bentuk riset investigasi,

mengkaji keefektifan berbagai pendekatan terapi atau konsultasi, penyebab dan akibat dari

disfungsi psikologis.

C. Psikologi Kesehatan

Page 5: Artikel Kesehatan Psikologis

Seperti yang kita lihat pada pembahasan diatas, renovasi-renovasi di dalam pendekatan-

pendekatan memiliki reaksi yang keras terhadap disiplin psikologi sendiri. Karena adanya minat

terhadap bidang baru ini, suatu disiplin ilmu baru muncul. Definisi psikologi kesehatan

mencakup definisi sebagai berikut :

 

1. Psikologi kesehatan menyangkut bagian khusus dari bidang ilmiah psikologi yang

memfokuskan pada studi perilaku yang memiliki kaitan dengan kesehatan dan penerapan dari

kesehatan ini.

2. Penekanan pada peran perilaku yang normal di dalam mempromosikan kesehatan (promosi

kesehatan dan pencegahan dasar) pada level mikro, meso dan makro dan menyembuhkan

penyimpangan kesehatan.

3. Banyak bidang psikologi yang berbeda dapat memberikan sumbangan kepada bidang

psikologi kesehatan.

D. Pola Perilaku

Penelitian-penelitian yang terbaru banyak dilakukan untuk meneliti factor-faktor kepribadian dan

atau pola-pola perilaku sebagai factor resiko untuk penyakit jantung koroner dan penyakit

kardiovaskuler.

Page 6: Artikel Kesehatan Psikologis

 

1. Perilaku tipe A Tipe A pertama kali digambarkan secara jelas dan diukur oleh Friedman dan

Rosenman di tahun 1959. aslinya hal ini digambarkan sebagai gaya perilaku dan emosi.

Sekarang beberapa penulis memandang tipe A sebagai cirri sifat kepribadian yang pasti,

sementara yang lain menggambarkan hal ini sebagai pola penggiatan perilaku yang kuat dan

terus menerus yang biasanya merupakan dimulai dari diri sendiri. Tipe A meliputi disposisi

perilaku, perilaku dan rsepon emosional yang khusus. Kebanyakan para penulis setuju dengan

adanya tiga ciri-ciri utama tipe A :

a. Orientasi persaingan prestasi, ambisius, kritis terhadap diri sendiri.

b. Urgensi waktu, berjuang melawan waktu, tidak sabaran, melakukan pekerjaan berbeda-beda

dalam waktu yang sama.

c. Permusuhan, mudah marah, kadang-kadang agresif. Khususnya selama 20 tahun pertama dan

publikasi dan riset, nampaknya tipe A mempunyai hubungan kuat dengan CHD. Laki-laki tipe A

mempunyai resiko

2 kali lipat untuk mengalami CHD. Sebagai tambahan, orang-orang tipe A memiliki gaya coping

terhadap stress yang berbeda dan lebih cenderung untuk menggunakan control terhadap

lingkungan mereka. Bagaimanapun sejak tahun 1980-an hasil-hasil riset menjadi lebih

membingungkan dan banyak peneliti tidak menemukan hubungan yang signifikan antara

Page 7: Artikel Kesehatan Psikologis

perilaku tipe A dan penyakit jantung koroner sama sekali. Walaupun besarnya kesulitan-

kesulitan dalam pengukuran perilaku tipe A, malahan definisi operasional perlu diperkuat dan

penelitian epidemiologis masa depan harus mengusahakan secara prospektif memvalidasi

komponen-komponen tipe A melawan perkembangan CHD. Tipe A juga telah diteliti pada anak-

anak dan remaja. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak tipe A lebih reaktif terhadap

stress daripada anak-anak yang non tipe A. Pada umunya, anak-anak pria lebih memiliki

kemungkinan meniru perilaku tipe A dan orang tua mereka daripada anak-anak perempuan. Hal

ini menunjukkan bahwa tipe A berkembang sebagai interaksi antara keturunan dan gaya

pengasuhan. Selanjutnya Nay & Wagner mengetahui bahwa anak-anak tipe A memiliki harga

diri lebih rendah, lebih eksternal locus of controlnya dan tingkat kecemasan lebih tinggi daripada

teman-teman yang bukan tipe A. Mekanisme coping terhadap stress dan tipe kognisi juga

mungkin berbeda antara subjek tipe A dan tipe B.

3. Kepribadian ketabahan Hardiness Tipe kepribadian atau pola perilaku lain yang sering

dibicarakan akhir-akhir ini adalah ketabahan (hardiness atau hardy personality) sebuah gagasan

konsep dari kobasa. Konseptualisasinya tentang hardiness sebagai tipe kepribadian yang penting

sekali pada perlawanan terhadap stress, didapat dari teori eksistensial kepribadian. Dia mulai

dengan adanya perbedaan-perbedaan interpersonal dalam control pribadi dan mengkombinasikan

variable ini dengan yang lain, agar dapat dihasilkan tipe kepribadian yang lebih komprehensif.

Hardiness memasukkan tiga sifat dasar :

a. Kontrol pribadi

Page 8: Artikel Kesehatan Psikologis

b. Komitmen; tingkat keterlibatan dalam peristiwa-peristiwa, aktivitas-aktivitas dan orang-orang.

c. Tantangan; kecenderungan memandang adanya perubahan sebagai suatu kesempatan untuk

tumbuh dan bukan suatu ancaman keselamatan.

 

Hardiness dianggap menjaga seseorang tetap sehat walaupun mengalami kejadian-kejadian hidup

yang penuh stress. Meskipun Kobasa sendiri dan ahli lain menekankan bukti penelitian yang kuat

yang mendukung keadaan dan relevansi hardiness, ada juga banyak kritik. Kritikan yang

diberikan pada kepribadian tipe A berlaku pul untuk tipe hardiness; operasionalisasi komponen

tersebut nampak sulit, tidak semua dari komponen membantu prediksi hasil kesehatan (misalnya

tantangan) dan masalah utama tentang perannya penengah dalam kondisi dan perilaku kesehatan

seseorang tidak terjawab dengan tuntas.

3. Lain-lain Optimisme dan perasaan pertalian akhir-akhir ini telah untuk melihat

kemampuannya dalam ramalan penyembuhan pembedaan. Keduanya ditemukan sangat mampu

meramalkan perbaikan dalam aspek-aspek positif dari penyembuhan setelah mengontrol tingkat

pre pembedahan. Perasaan pertalian ditemukan menjadi predictor lebih penting dari pada

optimisme dalam konteks ini. Bagaimanapun kedua factor kepribadian ini tidak memprediksikan

perbaikan dalam penderitaan atau nyeri, dekat dengan factor perasaan pertalian adalah konsep

integrity. Sampai sekarang tipe kepribadian yang lain belum dapat dijelaskan dengan gambling

seperti halnya tipe A dan tipe ketabahan. Jelaskan, ditemukan banyak overlap antara konsep

Page 9: Artikel Kesehatan Psikologis

tersebut dan metode ukuran kurang konsisten. Disamping itu, masih ada kebutuhan untuk

penelitian prospektif yang menyelidiki kualitas interaktif dari factor kepribadian tersebut, dengan

variable kepribadian lainnya dan variable lingkungan. Kami akan memberi satu contoh yang

menggambarkan kompleksitas factor-faktor kepribadian tersebut. Telah dinyatakan bahwa

aspek-aspek hardiness meliputi aspek optimisme. Dalam gilirannya, optimisme telah diteliti dari

perspektif atribusi; beberapa pengarang menyatakan bahwa optimisme dikaitkan dengan gaya

atribusi seseorang. Atribusi-atribusi pada gilirannya, dikaitkan dengan keinginan untuk

mengontrol lingkungan. Dan ini sebenarnya merupakan satu dari konsep dasar hardiness. Jadi,

melangkah dari satu gaya kepribadian ke gaya kepribadian lain, kita tinggal dalam lingkaran

setan. Jelaslah masih perlu banyak penelitian untuk menjelaskan hubungan antara tipe-tipe

kepribadian dengan hasil kesehatan.

F. Terminologi Kesehatan

Kesehatan adalah salah satu konsep yang telah sering digunakan namun sukar dijelaskan artinya.

Factor yang berbeda menyebabkan sukarnya mendefinisikan kesehatan, kesakitan dan penyakit.

Meskipun begitu, kebanyakan sumber ilmiah setuju bahwa definisi kesehatan apapun harus

mengandung paling tidak komponen biomedis, personal dan sosiokultural. Secara harfiah,

konsep ini adalah suatu idealisasi yang tidak menganggap bahwa tidak tercapainya kesejahteraan

yang sementara merupakan kekuatan yang mendorong perilaku manusia dalam kehidupan yang

normal. Konsep ini kurang memandang kesehatan sebagai suatu proses dan tidak memiliki

kesamaan dengan komponen khusus kesehatan. Meskipun demikian, dengan merubah focus

terhadap aspek positif kesehatan dan memperluas lingkup dimensionalnya, definisi WHO

Page 10: Artikel Kesehatan Psikologis

memberikan pengaruh yang besar. Sebagai contohnya, hal ini mendorong yang lain untuk

menjelaskan definisi tersebut.

G. Penyakit – Kesakitan

Penyakit (disease) dan kesakitan (illness), meskipun sangat berkaitan satu dengan yang lainnya,

namun mencerminkan suatu perbedaan yang fundamental dan konsepsional tentang periode

sakit. Jadi penyakit adalah sesuatu yang dimiliki suatu organ, sedang “illness” adalah sesuatu

yang dimiliki seseorang. Kesakitan adalah respon subyektif dari pasien serta rsepon di

sekitarnya, terhadap keadaan tidak sehat. Tidak hanya memasukkan pengalaman tidak sehatnya

saja, tapi juga arti pengalaman tersebut bagi dia. Justru arti inilah menentukan bahwa penyakit

atau gejala yang sama, bisa ditafsirkan secara sangat berbeda oleh dua pasien yang berasal dari

budaya yang berbeda. Hal ini juga akan mempengaruhi perilaku mereka selanjutnya serta jenis

perawatan yang dicari.

H. Perilaku Kesehatan

Definisi tersebut tidak hanya meliputi tindakan yang dapat secara langsung diamati dan jelas

tetapi juga kejadian mental dan keadaan perasaan yang diteliti dan diukur secara tidak langsung.

Sebagai tambahan, definisi komprehensif Gochman merangkum beberapa definisi dan atau

klasifikasi perilaku kesehatan yang lain. Di Indonesia istilah “perilaku kesehatan” sudah lama

dikenal dalam 15 tahun akhir-akhir ini konsep-konsep di bidang perilaku yang berkaitan dengan

kesehatan ini sedang berkembang dengan pesatnya. Khususnya, di bidang antropogi medis dan

kesehatan masyarakat. Haruslah dicatat bahwa istilah perilaku kesehatan dapat menimbulkan

beberapa kesimpangsiuran. Istilah ini dapat memberikan pengertian bahwa kami hanya berbicara

Page 11: Artikel Kesehatan Psikologis

mengenai perilaku yang secara sengaja dilakukan dalam kaitannya dengan kesehatan.

Kenyataannya banyak sekali perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, bahkan seandainya

seseorang tidak mengetahuinya atau melakukannya dengan alas an yang sama sekali berbeda.

Sebagai contoh, seseorang mungkin melakukan olahraga hanya untuk mengadakan hubungan

social, bukan untuk menjaga kesehatan. Atau gosok gigi karena kebiasaan bukan karena alasan

kesehatan.

I. Status Kesehatan

Status kesehatan adalah keadaan kesehatan pada waktu tertentu. Karena itu, status kesehatan

tidak sama dengan perilaku kesehatan. Bagaimanapun, menurut Cochman, persepsi seseorang

terhadap status atau persepsi peningkatan, kesembuhan atau perubahan lain pada status kesehatan

adalah perilaku kesehatan.

Faktor Resiko dan Faktor Protektif

Faktor Resiko Dalam bidang kesehatan, konsep factor resiko (dan perilaku beresiko, kelompok

beresiko) merupakan konsep kunci dalam penelitian, peningkatan teori serta pencegahan dan

promosi kesehatan. Dulu, penggunaan konsep resiko merupakan biomedis yang memantulkan

perhatian akan hasil yang merugikan yang berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas.

Sebagai contoh, hipertensi dan kolesterol berserum tinggi merupakan factor resiko bagi penyakit

kardiovaskuler. Akhir-akhir ini pencarian epidemiologi terhadap factor resiko penyakit dan

kesakitan, khususnya bagi penyakit kronis, telah berkembang menjadi dua bidang baru

lingkungan social dan perilaku. Komponen perilaku dapat dilihat dalam dua aspek

perkembangan penyakit. Pertama, perilaku mempengaruhi factor resiko penyakit tertentu. Factor

Page 12: Artikel Kesehatan Psikologis

resiko adalah cirri-ciri kelompok individu yang menunjuk mereka sebagai at high risk terhadap

penyakit tertentu. Sebagai contohnya, kelompok orang yang makan makanan dengan asam lemak

yang tinggi biasanya meningkatkan derajat kolesterol serum, factor resiko bagi penyakit jantung

koroner. Kedua, perilaku itu sendiri dapat berupa factor resiko utama baik bagi penyakit jantung

koroner maupun kanker paru karena kemungkinan mendapatkan penyakit ini lebih besar pada

perokok daripada orang yang tidak merokok. Tinjauan pustaka menyangkal bahwa ada konsesus

mengenai beberapa perilaku beresiko yang menyolok. Kokeny menyebutkan diet, kegiatan fisik,

merokok dan penyalahgunaan minuman keras dan obat-obatan, resiko lingkungan manusia dan

resiko lingkungan. Psychosomatic medicine mulai memfokuskan diri pada pendekatan-

pendekatan dan teori-teori baru yang menyangkut hubungan antara factor psikologis dan social,

fungsi biologis dan psikologis, dan perkembangan masalah penyakit. Definisi ini secara jelas

memantulkan adanya kesadaran akan pentingnya peran aspek-aspek psikologis dan perilaku di

dalam perawatan kesehatan, sebaik kebutuhan suatu disiplin yang mengintegrasikan riset dan

praktek perilaku di dalam perawatan medis. Walaupun paradigma dasarnya adalah model medis,

keistimewaan relevansi disiplin ini ada karakter interdisiplinernya. Behavioral medicine, yang

menghadapi kesehatan, kesakitan dan disfungsinya yang berkaitan, bersandar pada kontribusi

macam-macam disiplin seperti psikologi, sosiologi, epidemiologi, neuroanatomi, imunologi,

nursing, pekerja social dan banyak lagi yang lain. Topic-topik behavioral medicine adalah

mekanisme penyakit (seperti : peran stress atau tipe A pada penyakit kardiovaskuler, kesabaran

para pengambil keputusan, ketaatan, efektivitas pendidikan kesehatan, efektifitas modifikasi

perilaku yang kurang sehat, efektifitas pengurangan secara langsung illness (asma, hipertensi,

sakit kepala, dll) dan perilaku kesakitan/ illness behavior pada tingkat individu dan kelompok.

Bagaimanapun, Gochan menentang bahwa behavior medicine menghadapi ketegangan, stress

Page 13: Artikel Kesehatan Psikologis

atau kecemasan dan penyimpangan non fisik lain yang mempunyai kaitan sangat penting dengan

keseluruhan kesejahteraan individu, hanya kalau hal tersebut berkaitan dengan gangguan fisik

yang khusus. Penting untuk dicatat adalah bahwa behavioral medicine akhir-akhir ini tidak hanya

menekankan integrasi dari ilmu perilaku (behaviorism dan teori belajar yang murni, contohnya

bio-feedback) dan ilmu biomedis dalam usaha – usaha perawatan kesehatan. Perubahan konsep

kesehatan, evolusi dalam perawatan kesehatan dan evolusi lainnya, mengakibatkan penerapan

psikologi yang baru dalam perawatan kesehatan dan masyarakat yang berikutnya : a. Pertama,

psikologi cenderung menjadi lebih terapan (tidak hanya akademis) b. Kedua, masalah yang

penting dari kesehatan (dan tidak hanya kesehatan mental), mempengaruhi sub disiplin

psikologis, tidak hanya klinis tetapi juga sebagai contoh psikologi organisasi (contohnya, stress

dan kesakitan dalam perusahaan). c. Faktor yang ketiga yaitu adanya keberhasilan yang terbatas

dari psikodiagnostik dan intervensi individual (kuratif), dkebutuihan untuk pencegahan pada

skala yang lebih besar (community approach). Oleh karenanya, lebih banyak pengetahuan,

penelitian dan ketrampilan diperlukan untuk menyelidiki unsure penentu dasar perilaku