ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA DALAM PERKEMBANGAN SOSIAL BUDAYA MODEREN-DIANALISIS DENGAN MENGGUNAKAN TEORI EVOLUSI

  • View
    1.289

  • Download
    6

Embed Size (px)

Transcript

  • Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

    1J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito

    ARSITEKTUR DAN KEBUDAYAAN(J.F. Hamah Sagrim)

    A. Pengertian BudayaKebudayaan berasal dari bahasa sangsekerta buddhayah bentuk jamak dari budhi dengan arti

    budhi atau akal, karenanya kebudayaan dapat diartikan dengan segala hal yang bersangkutan denganakal. Budaya dapat pula berarti sebagai hasil pengembangan dari kata majemuk budi dan daya, yangberarti daya dari budi yang berupa cipta, rasa dan karsa.

    Selanjutnya kebudayaan bila ditinjau dari ilmu Antropologi, adalah keseluruhan dari sistemgagasan, tindakan pola hidup manusia dan karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yangdijadikan sebagai pemilik dari manusia dengan belajar. hampir keseluruhan tindakan manusia adalahkebudayaan.

    Menurut ilmu Arsitektur, manusia yang memiliki budaya membangun adalah manusia yangberbudaya mencipta, orang yang berjiwa seni, orang yang berjiwa merancang, orang yang berjiwaperencana.

    Hanya sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tidak perlu dibiasakandengan belajar, antara lain yang berupa tindakan naluriah, beberapa refleksi, beberapa tindakan akibatproses psikologi, tindakan dalam kondisi tidak sadar, tindakan dalam membabi buta, bahkan berbagaitindakan manusia yang merupakan kemampuan naluri yang dibawa oleh manusia dalam genetiksemenjak lahirnya juga telah dirombak olehnya menjadi tindakan kebudayaan.

    Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai makhluksosial, yang isinya adalah perangkat model model pengetahuan yang secara efektif dapat digunakanuntuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan yang dihadapi dan untuk mendorong danmenciptakan tindakan tindakannya. Dalam pengertian ini kebudayaan adalah suatu kumpulanpedoman atau pegangan yang kegunaan operasionalnya dalam hal ini adalah manusia mengadaptasidiri dengan menghadapi lingkungan lingkungan tertentu (fisik, alam, sosial dan kebudayaan) untukmereka dapat tetap melangsungkan kehidupannya, yaitu memenuhi kebutuhan kebutuhan dan untukdapat hidup secara lebih baik lagi. Karena itu seringkali kebudayaan juga dinamakan sebagaiblueprint atau desain menyeluruh dalam kehidupan.1. Wujud Arsitektur Tradisional Jawa/nDalem Pangeran dan Kebudayaan

    Pada hakekatnya Arsitektur Tradisional Jawa/Dalem Pangeran, merupakan pencerminankehidupan yang menggambarkan jati diri Jawa, yang mana ditampilkan dalam meramu rumahmereka, termasuk didalamnya adalah: kehidupannya, sosialnya, ekonomi spiritual danbudayanya. Dengan demikian Arsitektur Tradisional Jawa/Dalem Pangeran, merupakan salahsatu artefak dari jejak perjalanan hidup Suku Jawa. Arsitektur Tradisional Suku Jawa, merupakansuatu ciri (idea), konsep, kaidah, prinsip, yang merupakan dasar pengolahan batin pikiran danperasaan mereka dalam mencipta dan berkarya.

    Pada dasarnya arsitektur Tradisional Jawa, sudah mampu memenuhi tuntutan kebutuhanArsitektur, yaitu :

  • Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

    2J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito

    a. Menjaga kelangsungan hidup dan kehidupan Manusia.b. Mengembangkan kehidupan Manusia untuk lebih bermaknac. Membuat kehidupan Penghuni lebih nyamanDapat dikatakan bahwa Suku Jawa, juga memiliki lima jenjang kebutuhan terpenting dalam

    hidup mereka yaitu :a. Physiological needs atau survival needs, adalah kebutuhan yang menduduki peringkat

    atas yang merupaka kebutuhan dasar manusia. Jenjang kebutuhan ini berisi kebutuhan kebutuhan orang Jawa, yang berkaitan dengan alam dan keberadaannya sebagaimanusia, yaitu kebutuhan akan makanan, kebutuhan akan tempat tinggal, dan teks.

    b. Safety needs atau security needs, adalah jenjang kebutuhan yang kedua berisikebutuhan kebutuhan yang berkaitan dengan keamanan, agar dirinya merasa aman danterlindung dari setiap gangguan.

    c. Social needs, atau belonginess needs, adalah jenjang kebutuhan yang ketiga yang berisikebutuhan kebutuhan orang Jawa, berkaitan dengan kedudukannya sebagai anggotamasyarakat, sebagai makhluk sosial yang akan berinteraksi interelasi danberinapendensi dengan anggota masyarakat lainnya.

    d. Esteem needs atau ego needs, adalah jenjang kebutuhan yang keempat yang berisikankebutuhan kebutuhan orang Jawa, akan penghargaan yang didasarkan pada keinginanuntuk mendapat kekuasaan (power needs). Pada dasarnya ingin dihargai dan keinginaninilah yang menghasilkan kebutuhan orang Jawa, akan penghargaan tersebut yangdisebut dengan Ningrat.

    e. Self actualization needs atau self Fulfillment needs, jenjang kebutuhan ini berisikankebutuhan orang Jawa, sehingga mereka dapat mengembangkan bakat dankemampuannya dengan sepenuhnya. Kebutuhan ini merupakan ciri hakiki manusiaumumnya.

    Arsitektur Tradisional Jawa, mempunyai peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan kebutuhan mereka, oleh karena itu arsitektur Tradisional Jawa, bukan hanya menyangkut masalahfungsionalitas saja, bukan hanya diperuntukan sebagai wadah kegiatan mereka belaka, dan tidakhanya sebagai sarana pemenuhan kebutuhan fisiologik. Perwujudan arsitektur Tradisional Jawa,tidak hanya berlandaskan pada asas fungsionalitas atau kegunaan saja, walaupun asas ini cukupdominan, akan tetapi tidak akan menjadi asas satu satunya ataupun penentuan didalamperwujudan hasil hasil karya arsitektur.

    Perwujudan Arsitektur Tradisional Jawa, tidak hanya menyangkut aspek aspek fungionalsaja, melainkan menyangkut seluruh aspek kebutuhan didalam kebutuhan Masyarakat Jawa.Perwujudan arsitektur yang mengandung nilai nilai manusiawi.

    Arsitektur Tradisional Jawa, merupakan manifestasi dari nilai nilai budaya, yang manaditentukan oleh lima masalah didalam kehidupan mereka yaitu : hakekat hidup, hakekat karya,persepsi mereka tentang waktu, pandangan mereka tentang alam dan hakekat mereka dengansesamannya.

    Kelima masalah dasar ini banyak berkaitan dengan lingkungan, baik lingkungan alamimaupun lingkungan fisik mereka yang mana terbangun dengan lingkungan sosial. Dua masalah

  • Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

    3J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito

    yang berkaitan dengan masalah lingkungan mereka yaitu pandangan mereka tentang alam, danhakekat mereka dengan sesamanya. Kedua masalah ini akan menentukan orientasi nilai budayamereka terhadap alam dan sesama mereka, yang kemudian direfleksikan kedalam wujudarsitekturalnya.

    Berkaitan dengan sikap dan orientasi Suku bangsa Jawa, terhadap alamnya, mereka telahmengalami peradaban dalam kebudayaan mereka yaitu :

    Pancosmism, merupakan fase dimana Suku Jawa, tunduk kepada Alam dan Merasamereka adalah bagian dari alam. Hal ini merupakan kecenderungan kehidupan mula mula nenek moyang mereka yang mana tidak mampu dalam mencipta segala sesuatubagi mereka, termasuk membangun suatu tempat tinggal (rumah-omah) bagi mereka.Hal ini cenderung mendorong nenek moyang mereka menjadi bersikap pasrah terhadapkondisi alam.

    Anthropocentries, merupakan fase dimana Orang Jawa, dengan kemampuannyamenguasai alam dan merasa berkuasa atas alam sekitar mereka. Eksploitasi alam inimendorong terjadinya kerusakan kerusakan lingkungan alam disekitar permukimanmereka.

    Holism, merupakan tahapan atau fase dimana Orang Jawa, mampu menyelaraskankehidupan dan aktifitasnya dengan alam sekitar. Dalam mendaya gunakan lingkunganalamnya, Orang Maybrat, Imian, Sawiat, juga mampu memperhatikan daya dukung alamsekitar mereka sehingga kelangsungan aktifitas mereka tetap berlangsung.

    Pandangan pandangan Orang Jawa, terhadap situasi dan alamnya memiliki pengaruh yangsangat besar bagi wujud Arsitektural mereka. Ketergantungan Orang Jawa, terhadap situasi danalam termanifestasi kedalam wujud arsitekturnya yang sangat tergantung pada karakter karakter alam dan situasi lingkungan sekitar. Hasil karya Arsitektur Tradisional Jawa, cenderungmengandung makna ketakutan dari mereka Terhadap alam dan kehidupan mereka yang berkaitandengan masalah masalah mistis ataupun kekuatan kekuatan ghaib dan kekuatan musuh yangberada diluar diri mereka. Keinginan mereka untuk menguasai alam membuat mereka cenderungberupaya untuk mengeksploitasi alam sekitar. Hasil hasil karya Arsitektur Tradisional SukuMaybrat, Imian, Sawiat, menjadi sangat jauh dari lingkungannya lepas dari lingkunganalamiahnya. Keselarasan dengan alam, Masyarakat Jawa, cenderung mencari pertautan denganlingkungan mereka. Kekuatan kekuatan lingkungan dan alam sekitar tidak lagi dikaitkandengan kekuatan kepercayaan moderen atau yang dikenal pada wilayah mereka adalah Muslim.Alam merupakan faktor faktor yang dipertimbangkan bagi usaha usaha mereka.

    2. Aspek Sosial Budaya Jawaa. Mengenal Masyarakat Jawa Tengah

    Persebaran Suku jawa adalah suku yang mendiami pulau jawa daerah tengah dan timur,sebelum adanya pembagian wilayah seperti sekarang ini. Pusat kebudayaan suku jawasemula berpusat di Surakarta, tetapi dengan terjadinya perjanjian giyangti tahun 1755, pusatkebudayaan jawa berpusat di dua tempat, yaitu surakarta dan Yogyakarta.

  • Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen n

    4J.F.Hamah Sagrim & Mei Edi Mujito

    b. Sistem Religi dan Kepercayaan orang JawaAgama yang dianut oleh sebagian besar suku jawa adalah islam, katolik, hindu,Kristen,

    budha. Islam sendiri berkembang dijawa menjadi beberapa golongan, yaitu Islam SantriGolongan yang menjalankan ibadah islam sesuai dengan syariat-syariatnya

    Islam Kejawen Golongan yang percaya pada ajaran islam, tetapi tidak patuhmenjalankan syariat islam, dan masih percay pada kekuatan lain.

    Disamping percaya kepada agama, masyarakat jawa juga masih percaya kepadakekuatan lain, seperti :

    Percaya kepada makhluk halus Percaya kepada hari baik/naas Percaya kepada hari kelahiran/weton Percaya pada benda-ben