19
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anthrax merupakan suatu penyakit bakteri yang ditularkan oleh hewan golongan herbivora, terutama domba, sapi, kambing dan juga binatang lainnya seperti babi, kerbau, gajah. Penularan dari hewan ke manusia disebut zoonosis. Bakteri masuk ke tubuh manusia melalui beberapa cara, antara lain : melalui kulit (cutaneous anthrax), melalui pernapasan (inhalation anthrax), dan melalui membran mukosa (oropharyngeal atau intestinal anthrax). Penyakit ini didapatkan endemik dinegara berkembang seperti Asia, Afrika, Amerika Selatan, dimana kontrol peternakan belum baik dan kondisi lingkungan menunjang terjadinya siklus binatang-tanah-binatang. Sedangkan di Eropa Utara dan Australia telah hilang. Diperkirakan 2.000- 20.000 kasus pada manusia per tahun. Mahasiswa diharapkan dengan mempelajari kasus penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini, dapat mengerti dan membedakan bakteri yang tergolong aerob maupun anaerob. Permasalahan difokuskan pada semua aspek tentang proses masuknya bakteri ke dalam tubuh manusia, semua hal yang ada hubungannya dengan infeksi bakteri dan penyebab infeksi bakteri serta faktor resiko untuk terjadinya infeksi bakteri, dan bagaimana pendekatan diagnostik untuk kasus infeksi bakteri ini sehingga mahasiswa mengerti bagaimana penatalaksanaan yang efektif untuk kasus infeksi bakteri. 1.2 Tujuan Instruksional Umum (TIU) Setelah selesai mempelajari modul ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan tentang penyakit- penyakit tropis yang disebabkan oleh bakteri aerob dan 1

antrax

Embed Size (px)

Citation preview

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Anthrax merupakan suatu penyakit bakteri yang ditularkan oleh hewan golongan herbivora, terutama domba, sapi, kambing dan juga binatang lainnya seperti babi, kerbau, gajah. Penularan dari hewan ke manusia disebut zoonosis. Bakteri masuk ke tubuh manusia melalui beberapa cara, antara lain : melalui kulit (cutaneous anthrax), melalui pernapasan (inhalation anthrax), dan melalui membran mukosa (oropharyngeal atau intestinal anthrax). Penyakit ini didapatkan endemik dinegara berkembang seperti Asia, Afrika, Amerika Selatan, dimana kontrol peternakan belum baik dan kondisi lingkungan menunjang terjadinya siklus binatang-tanah-binatang. Sedangkan di Eropa Utara dan Australia telah hilang. Diperkirakan 2.000-20.000 kasus pada manusia per tahun. Mahasiswa diharapkan dengan mempelajari kasus penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini, dapat mengerti dan membedakan bakteri yang tergolong aerob maupun anaerob. Permasalahan difokuskan pada semua aspek tentang proses masuknya bakteri ke dalam tubuh manusia, semua hal yang ada hubungannya dengan infeksi bakteri dan penyebab infeksi bakteri serta faktor resiko untuk terjadinya infeksi bakteri, dan bagaimana pendekatan diagnostik untuk kasus infeksi bakteri ini sehingga mahasiswa mengerti bagaimana penatalaksanaan yang efektif untuk kasus infeksi bakteri. 1.2 Tujuan Instruksional Umum (TIU) Setelah selesai mempelajari modul ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan tentang penyakit-penyakit tropis yang disebabkan oleh bakteri aerob dan anaerob yang meliputi definisi (pengertian), etiologi, patogenesis dan patomekanisme, manifestasi klinik, cara menegakkan diagnosis, tata laksana, komplikasi, serta epidemiologi penyakit-penyakit tropis tersebut.

1.3 Tujuan Instruksional Khusus (TIK) Setelah selesai mempelajari modul ini, diharapkan mahasiswa dapat : 1. Menyebutkan macam-macam penyakit tropis yang disebabkan oleh bakteri aerob dan anaerob. 2. Memahami dan mampu menjelaskan definisi (pengertian) serta etiologi penyakitpenyakit tropis yang disebabkan oleh bakteri aerob dan anaerob.

1

3. Memahami dan mampu menjelaskan tentang patogenesis dan patomekanisme penyakitpenyakit tropis yang disebabkan oleh bakteri aerob dan anaerob. 4. Memahami dan mampu menjelaskan tentang manifestasi klinik (gejalan dan tanda) yang ditemukan pada penyakit-penyakit tropis yang disebabkan oleh bakteri aerob dan anaerob.5. Memahami

dan mampu menjelaskan tentang cara-cara menegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis serta diferensial penyakit-penyakit tropis tersebut.

6. Memahami dan mampu menjelaskan tata laksana (pengobatan, perawatan, dll), termasuk menentukan rencana penatalaksanaan, indikasi, kontraindikasi, efek samping obat yang digunakan, gizi yang diperlukan, dll. Serta komplikasi yang dapat terjadi pada penyakitpenyakit tropis tersebut. 7. Memahami dan mampu menjelaskan epidemiologi (insidens, prevalensi, morbidity, mortality rate, preventif, promotif, dll) penyakit-penyakit tropis tersebut.

1.4 Skenario Didin, laki-laki, 12 tahun diantar ibunya ke Puskesmas dengan keluhan sejak 1 minggu yang lalu di lengan bawah kirinya terdapat borok kehitaman yang tidak sembuh-sembuh. Sebelum terjadi borok, terdapat bintil berair yang gatal kemudian pecah menjadi borok. Dirumahnya terdapat banyak domba.

1.5 Kalimat/Kata Kunci 1. Laki-laki, 12 tahun 2. Terdapat borok kehitaman di lengan bawah kiri, yang tidak sembuh-sembuh sejak 1 minggu 3. Terdapat bintil berair yang pecah menjadi borok dan gatal 4. Dirumah terdapat banyak domba

1.6 Pertanyaan Pertanyaan 1. Apa saja bakteri aerob dan anaerob pada penyakit tropis dan bagaimana morfologinya ?2. Bagaimana mekanisme terjadinya borok?

2

3. Apa saja gejala dan tanda yang ditemukan pada penyakit tropis yang disebabkan oleh

bakteri?4. Apa langkah-langkah diagnostik dari jenis penyakit ini?

5. Apa diagnosis banding pada skenario ini?6. Apa penatalaksanaan dari penyakit tropis yang disebabkan oleh bakteri?

BAB II ISI DAN PEMBAHASAN

1.1 Bakteri Aerob dan Anaerob Bacillus anthracis a. Ciri khas organisme : sel-sel khas berukuran 1 x 3-4 m , mempunyai ujung yang persegi dan tersusun dalam rantai panjang; spora bisa terletak ditengah, subterminal atau terminal, tergantung spesiesnya.b. Biakan : Koloni B.anthracis berbentuk bulat dan menyerupai kaca yang

diukir bila disinari cahaya. Hemolisis jarang dijumpai pada B.anthracis tetapi sering pada basil saprofit. Gelatin dicerna, dan pertumbuhan pada biakan tusukan (stab) pada agar terlihat gamabaran mirip pohon cemara terbalik c. Sifat pertumbuhan : Basil saprofit menggunakan sumber nitrogen dan karbon sederhana untuk energi dan pertumbuhannya. Sporanya resisten terhadap perubahan lingkungan, tahan terhadap panas kering dan desinfektan kimia tertentu dalam waktu yang cukup lama dan dapat bertahan selama bertahuntahun pada tanah yang kering. Produk hewan yang terkontaminasi dengan spora antraks ( misalnya kulit, bulu, rambut, tulang dan wol ) hanya dapat disterilkan dengan autoklov. [ 2 ] Gambar 1. Yersinia pestis Morfologi dan Identifikasi :3

Y pestis adalah bakteri gram negatif yang terlihat mencolok dengan pewarnaan bipolar dengan menggunakan pewarnaan special. Organisme ini tidak motil dan tumbuh sebagai anaerob fakultatif di beberapa media bakteriologi. Pertumbuhannya lebih cepat pada media yang mengandung darah atau cairan jaringan dan paling cepat bila berada pada suhu 30 C. Pada kultur agar darah dimana suhunya 37 C, koloni-koloninya mungkin akan semakin kecil hanya dalam waktu 24 jam. Inokulum virulen yang diturunkan dari jaringan yang terinfeksi, menghasilkan koloni-koloni yang berwarna abu-abu dan kental, namun setelah dipindahkan ke laboratorium koloni-koloni tersebut berubah menjadi irregular dan kasar. Organisme ini memiliki sedikit aktivitas biokimia dan kadang berubah-ubah. [2] Struktur antigen : Semua Yersinia memiliki polisakarida yang mempunyai aktivitas endotoksik. Organisme ini menghasilkan banyak antigen dan racun yang berperan sebagai faktor virulensi. Amplopnya mengandung protein (fraksi I) yang paling banyak berproduksi pada suhu 37 C dan bersifat antifagositik. Virulensi Y pestis jenis liar membawa antigen V-W yang ditandai gen-gen pada plasmidnya. Beberapa strain yang avirulen telah digunakan sebagai vaksin hidup. 1.2 Mekanisme terjadinya Borok

Hampir pada 95% kasus antraks yang terjadi di AS merupakan antraks kulit. Penderita biasanya memiliki riwayat kontak dengan binatang atau produknya. Beberapa kasus dilaporkan terjangkit antraks kulit akibat gigitan serangga yang diduga terinfeksi akibat memakan bangkai yang mengandung antraks. Daerah yang terkena terutama muka, ekstremitas, atau leher. Endospora masuk melalui kulit yang lecet atau luka. Satu hingga tujuh hari setelah endospora masuk, terbentuk lesi kulit primer yang tidak nyeri dan papula yang gatal. Duapuluh empat sampai 36 jam kemudian lesi4

membentuk vesikel yang berisi cairan jernih atau sero-sanguineus, dan mengandung banyak kuman Gram positif. Vesikel kemudian mengalami nekrosis sentral, mengering dan menimbulkan eskar (ulkus nekrotik) kehitaman yang khas yang dikelilingi edema dan vesikel keunguan. Edema biasanya terjadi lebih hebat pada kepala atau leher dibandingkan badan atau tungkai. Limfangitis dan limfadenopati yang nyeri dapat ditemukan mengikuti gejala sistemik yang terjadi. Walaupun antraks kulit dapat sembuh sendiri, akan tetapi antibiotik tetap perlu diberikan (dapat mengurangi gejala sistemik yang terjadi). Pada 80-90% kasus lesi sembuh secara sempurna tanpa komplikasi atau jaringan parut. Edema maligna jarang terjadi, ditandai dengan edema hebat, indurasi, bula multipel, dan syok. Edema maligna dapat terjadi pada leher dan daerah dada yang menyebabkan kesulitan bernapas, sehingga diperlukan kortikosteroid atau intubasi. 1.3 Gejala dan tanda pada penyakit tropis yang disebabkan oleh bakteri ANTRAKS 1. tipe kulit (cutaneous antraks) Mula-mula terjadi papul, disertai gatal dan sakit 2-3 hari menjadi vesikel yang berisi cairan kemerahan Hemoragic dan menjadi jaringan nekrotik yang berbentuk ulcus dengan kerak berwarna hitam ditengah dan kering diikutin oleh vesikel sisekitarnya Disekitar ulkus sering terdapat edema dan eritema Dapat terjadi perbesaran kelenjargetah bening regional Demam sedang dan sakit kepala 2. tipe pencernaan (gastrointestinal antraks) Rasa sakit perut yang hebat, mual,muntah, tidak nafsu makan, suhu badan meningkat Konstipasi diikuti diare akut berdarah Hematemesis 3. tipe pernapasan (pulmonary antraks) Lemah, lesu, subfebris, bruk non produktif Mendadak dispnea, sianosis, stridor dan gangguan respirasi berat 4. tipe radang otak (meningitis antraks) Demam, sakit kepala hebat, kejang, kesadaran menurun koma 5

Muntah Liquor cerebro spinalis (berwarna keruh kuning kemerahan) (1)

DIFTERIA Peradangan pada tenggorok

Demam tidak tinggi Pembengkakan leher (khas bullneck)

Pembentukan membaran (pseudomembrane) Keputihan pada tenggorok atau tonsil yang mudah berdarah bila dilepas Peradangan kematian (menyumbat saluran pernapasan) Pseudomembrane + toksin aliran darah miokarditis, neuritis, trombositopenia,

proteinuria (2)

LEPTOSPIROSIS 1. fase pertama 4-9 hari Demam tinggi Malaise Nyeri otot Ikterus Sakit kepala Nyeri perut hati, ginjal, meningitis, ensefalitis

2. fase kedua (imun) 4-30 hari Titer Igm terbentuk dan tinggi Leptopiura 3. fase ke tiga (konvalesen) 2-4 minggu Gejala diatas menurun dan dapat timbul kembali (3)

6

YAWS Stadium awal Papilloma yang timbul diwajah dan ekstremitas (biasanya pada kaki) Tidak nyeri kecuali ada infeksi sekunder Proliferasi lambat dan dapat membentuk lesi frambonesia (rasberry)/ lesi dengan ulcus Sekunder pappiloma satelit + periositis pada tulang

Jari (polidaktilitis) Papilloma hyperkeratosis pada telapak tangan dan kaki nyeri hebat

Stadium akhir Lesi obstruktif pada kulit dan tulang (4)

PENYAKIT SAMPAR 1. tipe bubonik Limfadenitis (2-5 cm) disertai edema dan eritema 70% iquinal dan femoral, gigitan pinjal kaki Anak aksila dan servikal Awal febris (41 derajat)+ takikardi, gejala neurologis (konvulsi-koma),

gastrointestinal (konstipasi/diare) 2. tipe septikemik Pucat, lemah, delirium- koma Kenaikan suhu badan 3. tipe pneumonik Kelemahan badan, sakit kepala, vomitus, febris, dan frustasi Batuk, sesak napas + sputum (kental, warna seperti karat) Gangguan kesadaran 4-5 hari

4. tipe meningeal 7-9 hari7

Meningitus Cairan lumbal (+) Y. pestis 5. tipe kutaneal Papula,pustula,karbukel Purpura nekrotik gangren didaerah tungkai dan menimbulkan warna kehtam-

hitaman (black death) (5)

KUSTA (6)

Kelainan kulit dan hasil pemeriksaan bakterilogis 1. Bercak (makula) Jumlah Ukuran Distribusi Konsistensi Batas Kehilagan sensasi pada area bercak Kehilangan kemampuan berkeringat, bulu rontok

pausibasiler

Multibasiler

-

1-5 kecil dan besar unilateral/bilateral (asimetris) kering dan kasar tegas selalu ada dan jelas

-

Banyak kecil-kecil bilateral (simetris) halus, berkilat kurang tegas tidak jelas (stadium lanjut)

-

Bercak tidak berkeringat, bulu rontok pada area bercak

-

berkeringat, bulu tidak rontok

2. Inflitrat Kulit Membran mukosa Tidak ada Tidak ada Ada, kadang tidak Ada, kadang tidak

8

3. ciri-ciri khusus

-

Central healing (penyembuhan ditengah)

-

Lesi (punchead out) madarosis hidung pelana Suara sengau Kadang-kadang

4. Nodulus

+

5. Penebalan saraf perifer

Biasanya asimetris terjadi dini

Terjadi stadium lanjut biasanya lebih dari satu dan simetris

1.4 Langkah Diagnostik-

Anamnesa

1. Biarkan pasien berbicara 2. Pertanyaan spesifik 3. Memfokus pada permasalahan utama

Kapan pertama kali pasien merasakan adanya ruam? Dimana letaknya? Apakah terasa gatal? Adakah pemicunya (misalnya trauma, pengobatan, makanan, sinar matahari, hewan peliharaan)? Apakah hilang timbul? Apakah menetap?

9

Apakah disertai demam? Apakah disertai nyeri? Apakah ada ruam ditempat lain? Apakah ada perubahan warna? Sudah berapa lama perubahan warna tersebut? Bandingkan dengan foto terdahulu? Apakah berdarah? Adakah gejala penyerta (penurunan berat badan, artralgia, malaise)?

4. Riwayat penyakit dahulu

Apakah pasien pernah mengalami keluhan yang sama pada masa lalu? Pernahkah pasien mengalami gannguan kulit, ruam dan lain-lain? Apakah pernah mengalami masalah dengan kulit pada masa kecil?

5. Riwayat pengobatan? Pernahkah pasien menggunakan obat untuk penyakit kulit? Apakah pasien memiliki alergi obat?

6. Riwayat keluarga Apakah dikeluarga ada yang mengalami keluhan yang sama? Adakah riwayat penyakit kulit dikeluarga?

7. Riwayat sosial

Riwayat rutinitas harian pasien? Apakah memilihara hewan peliharaan? Apakah baru-baru ini pasien berpergian keluar negri? Pemeriksaan Fisik Apakah pasien sakit ringan atau berat? Apakah pasien tampak pucat, syok, berpigmen atau demam?

-

Perhatikan seluruh tubuh pasien? Apa kelainan kulit yang ditemukan? Adakah memar? Bila ada bagian kulit mana yang terkena? 10

Adakah perubahan kulit yang memperberat? Bagaimana warna dan bentuknya? Lakukakan palpasi untuk mengetahui suhu, nyeri tekan dan kedalaman?

Periksa apakah ada kelainan ditempat lain? Cutaneous anthrax : Kulit gatal, kemudian kulit akan melepuh yang jika pecah membentuk keropeng hitam di tengahnya di sekitar keropeng akan bengkak. Demam akan tampak, ulkus tidak nyeri dengan eschar hitam. Lesi dikenal sebagai malignant pustule, dapat berkembang menjadi bakterimia dan menyebabkan kematian. Pulmonary (inhalation) anthrax : Disebut juga woolsorters disease. Gejala awal seperti infeksi sal. respirasi biasa, dapat berkembang menjadi hemorrhagic mediastinitis bloody pleural effusion, septic shock dan kematian. Gastrointestinal anthrax : muntah, nyeri perut, dan diare beradarah. Pemeriksaan Laboratorium Spesimen : cairan atau nanah dari lesi lokal, darah dan sputum. Pada sediaan basah dapat dilakukan pewarnaan gram, sediaan kering dengan teknik fluoresensi. Koloni pada agar darah berwarna kelabu hingga putih nonhemolitik dengan permukaan kasar (ground glass appearance). Pada tepi koloni berbentuk tonjolan seperti koma (medusa head). Dengan teknik ELISA dapat dilakukan pengukuran antibodi terhadap toksin. Hasil positif terdapat empat kali peningkatan titer atau titer tunggal > 1:32.

1.5 Diagnosis banding Antraks

Definisi Antraks adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh kuman bacillus anthracis, suatu basil yang dapat membentuk spora dan ditularkan ke manusia melalui kontak dengan binatasng yang terinfeksi atau bahan dari binatang yang terkontaminasi. Nama antraks berasal dari kata yunani buat batubara yaitu anthracis, oleh karena lesi nekrotik ( eschar ) berwarna hitam seperti batubara. Epidemiologi Bacillus anthracis adalah organisme ditanah yang tersebar diseluruh dunia. Kasus pada manusia dapat dibagi secara umum menjadi kasus industri dan agrikultur. Pada agrikultur transmisi terjadi langsung dengan kontak dengan discharges binatang yang terinfeksi seperti tinja, atau tidak langsung melalui gigitan lalat yang telah makan pada bangkai binatang tersebut. Atau bisa pula11

disebabkan makan daging mentah atau kurang dimasak dari binatang terinfeksi. Kasus industri disebabkan kontak dengan spora yang terdapat pada bahan dari binatang terinfeksi seperti rambut, wol, kulit, tulang pada saat proses industri. Oleh karena spora bisa bertahan lama sekali maka transmisi bisa melalui barang yang terbuat dari binatang seperti selimut wol, ikat pinggang dari kulit , drum terbuat dari kulit. Beberapa kasus lainnya terjadi pula di laboraturium yang menggunakan binatang. Transmisi dari manusia ke manusia tidak terjadi, kecuali kontak langsung dengan secret lesi kulit penderita yang menyebabkan lesi kulit sekunder. Penyakit ini didapatkan endemic dinegara berkembang seperti Asia, Afrika dan Amerika selatan, dimana control peternakan belum baik dan kondisi lingkungan menunjang terjadinya siklus binatang-tanah-binatang. Amerika utara dan Australia telah hilang, setelah eradikasi penyakit ini di peternakan yang disebabkan program yang ekstensif termasuk vaksinasi. Insidensi yang pasti belum jelas, tetapi diperkirakan 2.000 sampai 20.000 kasus pada manusia per tahun. Wabah pernah terjadi di Zimbabwe (1978-1980) berupa Antraks kulit dan gastrointestinal, dan juga terjadi di Siberia (1079). Keganasan Antraks dapat dilihat dari kejadian di Sverdlosk, Rusia (1979) dimana terjadi kecelakaan di fasilitas bioweapons yang menyebabkan tersebarnya spora Antraks ke udara sehingga terjadi 77 kasus Antraks dengan kematian 66 kasus. Juga pada tahun 2001 di USA terjadi pengiriman spora lewat pos yang menyebabkan 11 kasus inhalation Antraks dengan 5 diantaranya mati. Antraks terjadi primer pada binatang herbivore terutama sapi, kambing, domba, dan juga binatang lainnya seperti babi, kerbau, dan malah gajah. Sapi sangat rentan terhadap Antraks sistemik dimana kematian akan terjadi 1-2 hari. Binatang karnivora (anjing, harimau) atau omnivore akan terkena penyakit ini bila makan daging binatang yang tertular kuman ini. Kuman akan ditemukan banyak sekali dalam tubuh sapi tersebut, dan akan menyebabkan kontaminasi pada lingkungan. Etiologi Bacillus anthracis, basil gram (+), non-motil dan bisa membentuk spora (sporulasi). Spora hidup di lingkungan yang aerobik dan dapat bertahan bertahun-tahun di tanah yang tahan temperatur tinggi, kekeringan, juga tahan pada bahan dari binatang atau industri bahan dari binatang. Kuman ini tumbuh subur pada suhu 35-37C. Koloni bersifat lengket dan dapat membentuk stalagmite-like form bila disentuh dan diangkat. Di bawah mikroskop kuman tampak membentuk rantai panjang paralel menyerupai gerbong barang (boxar appearance), spora berbentuk oval dan terletak sentral atau parasentral tetapi tidak menjadikan basil membengkak. Dari lesi yang baru, rantai basil akan tampak pendek atau tunggaldan terdiri dari 2-3 basil yang berkapsul dengan ujungnya membulat. Patomekanisme Yang menentukan virulensi B.anthracis adalah 3 exotoxin (plasmid pX01), yaitu protective antigen (PA), edema factor (EF) dan lethal factor (LF), dan yang disebut antiphagocytic polydiglutamic acid capsule (pX02). Strain yang hanya mempunyai salah satu saja dari kedua plasmid pX01 dan pX02 bersifat tidak virulen. PA mempunyai efek mengikat reseptor permukaan sel, sehingga bisa digunakan oleh EF dan LF untuk masuk ke sitoplasma.12

Kombinasi PA dan EF akan menyebabkan edema lokal dan menghambat fungsi PMN, sedangkan kombinasi PA dan LF akan menyebabkan syok dan kematian cepat (bisa dalam waktu 60 menit). Spora masuk ke tubuh manusia melalui tiga cara, yaitu : Cutaneous Anthrax Masuk melalui kulit yang luka atau melebihi luka yang disebabkan serat dari binatang yang terinfeksi. Di jaringan akan berubah menjadi bentuk vegetatif, bermultiplikasi dan mengeluarkan eksotoksin dan material kapsul antifagositik (pX02). Akan terjadi adema dan nekrosis jaringan. Selanjutnya kuman akan difagosit oleh makrofag dan menyebar ke kelenjar getah bening setempat, dimana toksin akan menyebabkan perdarahan, edema, dan nekrosis (limfadenitis), lalu masuk ke peredaran darah akan menyebabkan pneumonia, meningitis dan sepsis. Inhalation Anthrax Jarang, terjadi melalui inhalasi spora dimana spora akan sampai di alveoli, difagosit oleh makrofag dan selanjutnya ke kelenjar getah bening mediastinum, lalu berkembang biak dan pembentukan toksin sehingga terjadi limfadenitis dan mediatinitis yang hemoragis. Kapiler paru bisa terkena dan akan menyebabkan gagal nafas karena thrombosis, bisa juga terjadi efusi pleura. Pneumonia merupakan infeksi sekunder oleh basil anthrax. Meningitis henorrhagis bisa terjadi pada keadaan ini. Penyebab kematian pada tipe ini adalah karena gagal nafas, syok dan edema paru. Oropharyngeal atau Intestinal Anthrax Spora masuk melalui mulut setelah makan daging terkontaminasi yang mentah atau kurang masak. Pada oropharyngeal anthrax bisa terjadi pembengkakan farynx, dan bisa menyebabkan obstruksi trakea atau limfadenopati servikal dengan edema. Sedangkan pada intestinal anthrax terjadi edema, nekrosis dan perdarahan mukosa usus besar dan kecil, limfadenopati mesentrika, asites hemoragis dan sepsis. Manifestasi klinis Ada beberapa jenis manifestasi Antraks dengan insidensi berbeda disetiap Negara, juga antara negara maju dan berkembang. Ada 3 jenis yaitu cutaneus anthrax, inhalation Antraks dan gastrointestinal antraks, dimana semuanya bisa menyebabkan bakteremi, sepsis, dan meningitis. Meningitis terjadi pada 5% semua kasus anthrax. Cutaneous Anthrax : 1. Setelah masa inkubasi 1-7 hari akan timbul lesi berbentuk papula kecil sedikit gatal pada tempat spora masuk.2. Beberapa hari kemudian berubah menjadi vesikel yang tidak sakit berisi cairan

serosanguineous, tidak purulen. Kemudian menjadi ulkus nekrotik dikelilingi vesikelvesikel kecil. Tidak nyeri.13

3. Khas dalam 2-6 hari akan tibul eschar berwarna hitam yang berkembang dalam beberapa minggu menjadi ukuran beberapa sentimeter yang kemudian menjadi parut setelah 1-2 minggu. 4. Gambaran sistemik berupa : a. demam b. mialgia c. sakit kepala d. lemah badan e. limfadenopati local Inhalation anthrax 1. Inkubasi 1-5 hari, tetapi dapat 60 hari, tergantung jumlah spora yang masuk. 2. Setelah inkubasi 10 hari timbul gambaran klinik akut terdiri dari 2 fase : a. Fase 1 : demam, lemah, mialgia, batuk kering, rasa tertekan di dada dan perut pada pemeriksaan fisik mungkin ditemukan ronki. b. Fase 2 : panas tinggi sesak nafas, hipoksia, sianosis, stridor, dan akhirnya syok dengan kematian dalam beberapa hari. Gastrointestinal Anthrax 1. Demam 2. Nyeri perut difus 3. Muntah 4. Diare. Diagnosis Riwayat pekerjaan atau kontak dengan binatang yang terinfeksi atau bahan berasal dari binatang tersebut penting dalam anamnesa. Gambaran klinik dari tipe Antraks yang khas juga akan berguna dalam penegakan diagnosis. Cutaneous antraks dibedakan dari karbunkel oleh stafilokokus dari adanya rasa nyeri dan gambaran khas Antraks kulit di atas. Inhalation Antraks sering tidak terdiagnosa awal, sehingga riwayat paparan dan gambaran radiologi paru di atas sangat penting. Laboratorium memberikan hasil leukosit yang normal atau sedikit meningkat dengan PMN yang dominan. Cairan pleura atau likour serebrospinal memperlihatkan gambaran hemoragis, dengan relatif sedikit sel darah putih. Pemeriksaan gram dan kultur (dengan media

14

standar) dari lesi kulit, apus tenggorok, cairan pleura, asites, likour serebrospinal dan darah akan memperlihatkan kuman gram positif dengan gambaran khas anthrax. Pemeriksaan serologic indirect hemagglutin, ELISA, FA (fluorescent antibody). Kenaikan titer 4 kali akan lebih bernilai. Pemeriksaan lainnya adalah PCR, biopsy jaringan dengan pewarnaan imunohistokemikal. Terapi antraks Antraks akan mudah disembuhkan bila cepat dibuat diagnosa pada awal penyakit dan segera diberikan antibiotik. Pada cutaneous anthrax penisilin G (4x4 juta unit) atau alternatif lainnya seperti tetrasiklin, kloramfenikol dan eritromisin dapat dipakai, tetapi ada strain yang resisiten terhadap obat tersebut. Untuk hal ini maka sampai ada tes sensitivitas, dianjurkan dipakai kombinasi antibiotik. Beberapa alternatif kombinasi yang dianjurkan antara lain adalah : Siprofloksasin (2x400mg) atau doksisiklin (2x100mg) ditambah dengan kllindamisin (3x900mg) dan/atau rifampisin (2x300mg) yang mula-mula diberikan IV dan selanjutnya ke peroral bila stabil (switch therapy). Pemberian golongan penisilin untuk terapi harus memikirkan kemungkinan terjadinya strain antraks yang menghasilkan penicillinase (inducible penicillinase). Obat antibiotik alternatif lainnya yang bisa dipakai adalah Imipenem, vancomycin. Lamanya terapi antibiotik masih belum jelas. Salah satu tandar yang dianjurkan adalah 7-10 hari untuk cutaneous antraks, dan sekurang-kurangnya 2 minggu untuk bentuk diseminasi, inhalasi dan gastrointestinal. Untuk toksin antraksnya, sedang diteliti pembuatan neutralizing monoclonal antibodies. Eksisi dari lesi kulit adalah kontraindikasi, oleh karena tidak ada pus dan dikhawatirkan terjadi penyebaran. Terapi topikal untuk lesi kulit tidak bermanfaat. (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, FKUI, hal 1832)

Prognosis Angka kematian pada inhalation anthrax mencapai 80% bila tidak segera diberikan antibiotik, dengan jangka waktu kematian rata-rata 3 hari. Pada bentuk ini prognosa tergantung dosis spora yang terisap, status host dan cepatnya pemberian antibiotik. Pada cutaneous anthrax kematian adalah 20%. Gastrointestinal anthrax atau meningitis juga mempunyai mortalitas tinggi. (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, FKUI, hal 1832)

Pencegahan Pencegahan dari paparan terhadap spora antraks bisa dilakukan baik dengan mencegah kontak dengan binatang atau bahan dari binatang yang terinfeksi atau makan dagingnya. Vaksin yang saat ini dianjurkan untuk manusia adalah AVA (anthrax vaccine adsorbed) yang terdiri dari15

nonencapsulated, attenuated strain (stern strain). Vaksin lain yang masih diberikan trial (2005) adalah vaksin rekombinan antigen (cell free antigen) yang antara lain mengandung LE dan EF. Vaksin diberikan ulang pada minggu ke-2, 4 dan kemudian pada bulan ke-6, 12 dan 18. Vaksin bisa diberikan pada pekerja industri atau peternakan atau siapapun yang punya resiko kontak dengan spora. Vaksin AVA saja tidak bisa digunakan buat postexposure prophylaxis, sehingga untuk maksud ini digunakan antibiotik 60 hari atau dikombinasi dengan vaksin. Oleh karena dikhawatirkan terjadi resistensi terhadap penisilin, maka dianjurkan pemakaian empirik dengan salah satu dari siprofloksasin (2x500mg peroral), gatifloksasin (1x400mg), levofloksasin (1x500mg) atau doksisiklin (2x100mg peroral).

1.6 Penatalaksanaan

16