21
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi Rongga Mulut 2.1.1. Pendahuluan Rongga mulut merupakan sebuah bagian tubuh yang terdiri dari : lidah bagian oral (dua pertiga bagian anterior dari lidah), palatum durum (palatum keras), dasar dari mulut, trigonum retromolar, bibir, mukosa bukal, ‘alveolar ridge’, dan gingiva. Tulang mandibula dan maksila adalah bagian tulang yang membatasi rongga mulut (Yousem et al., 1998). Rongga mulut yang disebut juga rongga bukal, dibentuk secara anatomis oleh pipi, palatum keras, palatum lunak, dan lidah. Pipi membentuk dinding bagian lateral masing-masing sisi dari rongga mulut. Pada bagian eksternal dari pipi, pipi dilapisi oleh kulit. Sedangkan pada bagian internalnya, pipi dilapisi oleh membran mukosa, yang terdiri dari epitel pipih berlapis yang tidak terkeratinasi. Otot-otot businator (otot yang menyusun dinding pipi) dan jaringan ikat tersusun di antara kulit dan membran mukosa dari pipi. Bagian anterior dari pipi berakhir pada bagian bibir (Tortora et al., 2009). Gambar 2.1. Anatomi Rongga Mulut (Tortorra et al., 2009)

Anatomi Rongga Mulut

Embed Size (px)

DESCRIPTION

anatomi rongga mulut

Citation preview

Page 1: Anatomi Rongga Mulut

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Rongga Mulut

2.1.1. Pendahuluan

Rongga mulut merupakan sebuah bagian tubuh yang terdiri dari : lidah

bagian oral (dua pertiga bagian anterior dari lidah), palatum durum (palatum

keras), dasar dari mulut, trigonum retromolar, bibir, mukosa bukal, ‘alveolar

ridge’, dan gingiva. Tulang mandibula dan maksila adalah bagian tulang yang

membatasi rongga mulut (Yousem et al., 1998).

Rongga mulut yang disebut juga rongga bukal, dibentuk secara anatomis

oleh pipi, palatum keras, palatum lunak, dan lidah. Pipi membentuk dinding

bagian lateral masing-masing sisi dari rongga mulut. Pada bagian eksternal dari

pipi, pipi dilapisi oleh kulit. Sedangkan pada bagian internalnya, pipi dilapisi oleh

membran mukosa, yang terdiri dari epitel pipih berlapis yang tidak terkeratinasi.

Otot-otot businator (otot yang menyusun dinding pipi) dan jaringan ikat tersusun

di antara kulit dan membran mukosa dari pipi. Bagian anterior dari pipi berakhir

pada bagian bibir (Tortora et al., 2009).

Gambar 2.1. Anatomi Rongga Mulut

(Tortorra et al., 2009)

Page 2: Anatomi Rongga Mulut

2.1.2. Bibir dan Palatum

Bibir atau disebut juga labia, adalah lekukan jaringan lunak yang

mengelilingi bagian yang terbuka dari mulut. Bibir terdiri dari otot orbikularis oris

dan dilapisi oleh kulit pada bagian eksternal dan membran mukosa pada bagian

internal (Seeley et al., 2008 ; Jahan-Parwar et al., 2011).

Secara anatomi, bibir dibagi menjadi dua bagian yaitu bibir bagian atas

dan bibir bagian bawah. Bibir bagian atas terbentang dari dasar dari hidung pada

bagian superior sampai ke lipatan nasolabial pada bagian lateral dan batas bebas

dari sisi vermilion pada bagian inferior. Bibir bagian bawah terbentang dari

bagian atas sisi vermilion sampai ke bagian komisura pada bagian lateral dan ke

bagian mandibula pada bagian inferior (Jahan-Parwar et al., 2011).

Kedua bagian bibir tersebut, secara histologi, tersusun dari epidermis,

jaringan subkutan, serat otot orbikularis oris, dan membran mukosa yang tersusun

dari bagian superfisial sampai ke bagian paling dalam. Bagian vermilion

merupakan bagian yang tersusun atas epitel pipih yang tidak terkeratinasi. Epitel-

epitel pada bagian ini melapisi banyak pembuluh kapiler sehingga memberikan

warna yang khas pada bagian tersebut. Selain itu, gambaran histologi juga

menunjukkan terdapatnya banyak kelenjar liur minor. Folikel rambut dan kelejar

sebasea juga terdapat pada bagian kulit pada bibir, namun struktur tersebut tidak

ditemukan pada bagian vermilion (Tortorra et al., 2009; Jahan-Parwar et al.,

2011).

Permukaan bibir bagian dalam dari bibir atas maupun bawah berlekatan

dengan gusi pada masing-masing bagian bibir oleh sebuah lipatan yang berada di

bagian tengah dari membran mukosa yang disebut frenulum labial. Saat

melakukan proses mengunyah, kontraksi dari otot-otot businator di pipi dan otot-

otot orbukularis oris di bibir akan membantu untuk memosisikan agar makanan

berada di antara gigi bagian atas dan gigi bagian bawah. Otot-otot tersebut juga

memiliki fungsi untuk membantu proses berbicara.

Palatum merupakan sebuah dinding atau pembatas yang membatasi antara

rongga mulut dengan rongga hidung sehingga membentuk atap bagi rongga

Page 3: Anatomi Rongga Mulut

mulut. Struktur palatum sangat penting untuk dapat melakukan proses mengunyah

dan bernafas pada saat yang sama. Palatum secara anatomis dibagi menjadi dua

bagian yaitu palatum durum (palatum keras) dan palatum mole (palatum lunak).

Palatum durum terletak di bagian anterior dari atap rongga mulut. Palatum

durum merupakan sekat yang terbentuk dari tulang yang memisahkan antara

rongga mulut dan rongga hidung. Palatum durum dibentuk oleh tulang maksila

dan tulang palatin yang dilapisi oleh membran mukosa. Bagian posterior dari atap

rongga mulut dibentuk oleh palatum mole. Palatum mole merupakan sekat

berbentuk lengkungan yang membatasi antara bagian orofaring dan nasofaring.

Palatum mole terbentuk dari jaringan otot yang sama halnya dengan paltum

durum, juga dilapisi oleh membran mukosa (Marieb and Hoehn, 2010; Jahan-

Parwar et al., 2011).

Gambar 2.2. Anatomi Palatum

(Agave Clinic, 2007)

2.1.3. Lidah

Lidah merupakan salah satu organ aksesoris dalam sistem pencernaan.

Secara embriologis, lidah mulai terbentuk pada usia 4 minggu kehamilan. Lidah

tersusun dari otot lurik yang dilapisi oleh membran mukosa. Lidah beserta otot-

otot yang berhubungan dengan lidah merupakan bagian yang menyusun dasar dari

Page 4: Anatomi Rongga Mulut

rongga mulut. Lidah dibagi menjadi dua bagian yang lateral simetris oleh septum

median yang berada disepanjang lidah. Lidah menempel pada tulang hyoid pada

bagian inferior, prosesus styloid dari tulang temporal dan mandibula (Tortorra et

al., 2009; Marieb and Hoehn, 2010 ; Adil et al., 2011).

Setiap bagian lateral dari lidah memiliki komponen otot-otot ekstrinsik

dan intrinsik yang sama. Otot ekstrinsik lidah terdiri dari otot hyoglossus, otot

genioglossus dan otot styloglossus. Otot-otot tersebut berasal dari luar lidah

(menempel pada tulang yang ada di sekitar bagian tersebut) dan masuk kedalam

jaringan ikat yang ada di lidah. Otot-otot eksternal lidah berfungsi untuk

menggerakkan lidah dari sisi yang satu ke sisi yang berlawanan dan

menggerakkan ke arah luar dan ke arah dalam. Pergerakan lidah karena otot

tersebut memungkinkan lidah untuk memosisikan makanan untuk dikunyah,

dibentuk menjadi massa bundar, dan dipaksa untuk bergerak ke belakang mulut

untuk proses penelanan. Selain itu, otot-otot tersebut juga membentuk dasar dari

mulut dan mempertahankan agar posisi lidah tetap pada tempatnya.

Otot-otot intrisik lidah berasal dari dalam lidah dan berada dalam jaringan

ikat lidah. Otot ini mengubah bentuk dan ukuran lidah pada saat berbicara dan

menelan. Otot tersebut terdiri atas : otot longitudinalis superior, otot

longitudinalis inferior, otot transversus linguae, dan otot verticalis linguae. Untuk

menjaga agar pergerakan lidah terbatas ke arah posterior dan menjaga agar lidah

tetap pada tempatnya, lidah berhubungan langsung dengan frenulum lingual, yaitu

lipatan membran mukosa yang berada pada bagian tengah sumbu tubuh dan

terletak di permukaan bawah lidah, yang menghubungkan langsung antara lidah

dengan dasar dari rongga mulut (Tortorra et al., 2009; Marieb and Hoehn, 2010).

Pada bagian dorsum lidah (permukaan atas lidah) dan permukaan lateral

lidah, lidah ditutupi oleh papila. Papila adalah proyeksi dari lamina propria yang

ditutupi oleh epitel pipih berlapis. Sebagian dari papila memiliki kuncup perasa,

reseptor dalam proses pengecapan, sebagian yang lainnya tidak. Namun, papila

yang tidak memiliki kuncup perasa memiliki reseptor untuk sentuhan dan

berfungsi untuk menambah gaya gesekan antara lidah dan makanan, sehingga

mempermudah lidah untuk menggerakkan makanan di dalam rongga mulut.

Page 5: Anatomi Rongga Mulut

Secara histologi (Mescher, 2010), terdapat empat jenis papila yang dapat

dikenali sampai saat ini, yaitu :

1. Papila filiformis. Papila filiformis mempunyai jumlah yang sangat banyak di

lidah. Bentuknya kerucut memanjang dan terkeratinasi, hal tersebut

menyebabkan warna keputihan atau keabuan pada lidah. Papila jenis ini tidak

mengandung kuncup perasa.

2. Papila fungiformis. Papila fungiformis mempunyai jumlah yang lebih sedikit

dibanding papila filiformis. Papila ini hanya sedikit terkeratinasi dan

berbentuk menyerupai jamur dengan dasarnya adalah jaringan ikat. Papila ini

memiliki beberapa kuncup perasa pada bagian permukaan luarnya. Papila ini

tersebar di antara papila filiformis.

3. Papila foliata. Papila ini sedikit berkembang pada orang dewasa, tetapi

mengandung lipatan-lipatan pada bagian tepi dari lidah dan mengandung

kuncup perasa.

4. Papila sirkumfalata. Papila sirkumfalata merupakan papila dengan jumlah

paling sedikit, namun memiliki ukuran papila yang paling besar dan

mengandung lebih dari setengah jumlah keseluruhan papila di lidah manusia.

Dengan ukuran satu sampai tiga milimeter, dan berjumlah tujuh sampai dua

belas buah dalam satu lidah, papila ini umumnya membentuk garis berbentuk

menyerupai huruf V dan berada di tepi dari sulkus terminalis.

Pada bagian akhir dari papila sirkumfalata, dapat dijumpai sulkus

terminalis. Sulkus terminalis merupakan sebuah lekukan melintang yang

membagi lidah menjadi dua bagian, yaitu lidah bagian rongga mulut (dua

pertiga anterior lidah) dan lidah yang terletak pada orofaring (satu pertiga

posterior lidah). Mukosa dari lidah yang terletak pada orofaring tidak

memiliki papila, namun tetap berstruktur bergelombang dikarenakan

keberadaan tonsil lingualis yang terletak di dalam mukosa lidah posterior

tersebut (Saladin, 2008; Marieb and Hoehn, 2010).

Page 6: Anatomi Rongga Mulut

Gambar 2.3. Penampang Lidah

(Netter, 2011)

2.1.4 Gigi

Manusia memiliki dua buah perangkat gigi, yang akan tampak pada

periode kehidupan yang berbeda. Perangkat gigi yang tampak pertama pada anak-

anak disebut gigi susu atau deciduous teeth. Perangkat kedua yang muncul setelah

perangkat pertama tanggal dan akan terus digunakan sepanjang hidup, disebut

sebagai gigi permanen. Gigi susu berjumlah dua puluh empat buah yaitu : empat

buah gigi seri (insisivus), dua buah gigi taring (caninum) dan empat buah geraham

(molar) pada setiap rahang. Gigi permanen berjumlah tiga puluh dua buah yaitu :

empat buah gigi seri, dua buah gigi taring, empat buah gigi premolar, dan enam

buah gigi geraham pada setiap rahang (Seeley et al., 2008).

Gigi susu mulai tumbuh pada gusi pada usia sekitar 6 bulan, dan biasanya

mencapai satu perangkat lengkap pada usia sekitar 2 tahun. Gigi susu akan secara

bertahap tanggal selama masa kanak-kanak dan akan digantikan oleh gigi

permanen.

Page 7: Anatomi Rongga Mulut

Gambar 2.4. Gigi Susu dan Gigi Permanen

(Tortorra et al., 2009)

Gigi melekat pada gusi (gingiva), dan yang tampak dari luar adalah bagian

mahkota dari gigi. Menurut Kerr et al. (2011), mahkota gigi mempunyai lima

buah permukaan pada setiap gigi. Kelima permukaan tersebut adalah bukal

(menghadap kearah pipi atau bibir), lingual (menghadap kearah lidah), mesial

(menghadap kearah gigi), distal (menghadap kearah gigi), dan bagian pengunyah

(oklusal untuk gigi molar dan premolar, insisal untuk insisivus, dan caninus).

Bagian yang berada dalam gingiva dan tertanam pada rahang dinamakan

bagian akar gigi. Gigi insisivus, caninus, dan premolar masing-masing memiliki

satu buah akar, walaupun gigi premolar pertama bagian atas rahang biasanya

memiliki dua buah akar. Dua buah molar pertama rahang atas memiliki tiga buah

akar, sedangkan molar yang berada dibawahnya hanya memiliki dua buah akar.

Bagian mahkota dan akar dihubungkan oleh leher gigi. Bagian terluar dari

akar dilapisi oleh jaringan ikat yang disebut cementum, yang melekat langsung

dengan ligamen periodontal. Bagian yang membentuk tubuh dari gigi disebut

dentin. Dentin mengandung banyak material kaya protein yang menyerupai

Page 8: Anatomi Rongga Mulut

tulang. Dentin dilapisi oleh enamel pada bagian mahkota, dan mengelilingi sebuah

kavitas pulpa pusat yang mengandung banyak struktur jaringan lunak (jaringan

ikat, pembuluh darah, dan jaringan saraf) yang secara kolektif disebut pulpa.

Kavitas pulpa akan menyebar hingga ke akar, dan berubah menjadi kanal akar.

Pada bagian akhir proksimal dari setiap kanal akar, terdapat foramen apikal yang

memberikan jalan bagi pembuluh darah, saraf, dan struktur lainnya masuk ke

dalam kavitas pulpa (Seeley et al., 2008, Tortorra et al., 2009).

2.2. Flora Normal

2.2.1. Pendahuluan

Istilah ‘flora normal’ menunjukkan populasi mikroorganisme yang hidup

di kulit dan membran mukosa orang normal yang sehat. Beberapa jenis bakteri

dan jamur merupakan dua jenis organisme yang termasuk ke dalam kumpulan

flora normal. Keberadaaan flora virus normal masih diragukan (Brooks et al.,

2008; Levinson, 2008).

Kulit dan membran mukosa selalu mengandung berbagai mikroorganisme

yang dapat tersusun menjadi dua kelompok, yaitu: flora residen dan flora transien.

Flora residen terdiri dari jenis mikroorganisme yang relatif tetap dan secara teratur

ditemukan di daerah tertentu pada usia tertentu; jika terganggu, flora tersebut

secara cepat akan tumbuh kembali dengan sendirinya. Flora transien terdiri dari

mikroorganisme yang nonpatogen atau secara potensial bersifat patogen yang

menempati kulit atau membran mukosa selama beberapa jam, hari, atau minggu;

berasal dari lingkungan, tidak menyebabkan penyakit, dan tidak dapat

menghidupkan dirinya sendiri secara permanen di permukaan. Anggota flora

transien secara umum memiliki makna kecil selama flora normal masih tetap utuh.

Namun, apabila flora residen terganggu, mikroorganisme transien dapat

berkolonisasi, berproliferasi dan menyebabkan penyakit (Brooks et al., 2008).

2.2.2. Peran Flora Residen

Mikroorganisme yang secara konstan ada di permukaan tubuh bersifat

komensal. Pertumbuhannya di daerah tertentu bergantung pada faktor-faktor

Page 9: Anatomi Rongga Mulut

fisiologi, yaitu temperatur, kelembaban, dan adanya zat gizi serta zat inhibitor

tertentu. Keberadaan flora normal tersebut tidak penting bagi kehidupan, karena

hewan “bebas mikroorganisme” dapat hidup pada keadaan tidak adanya flora

mikroba normal (Brooks et al., 2008; Nasution, 2010).

Flora residen di daerah tertentu memainkan peranan yang nyata dalam

mempertahankan kesehatan dan fungsi normal. Anggota flora residen dalam

saluran cerna menyintesis vitamin K dan membantu absorpsi makanan. Pada

memnran mukosa dan kulit, flora residen mencegah kolonisasi patogen dan

kemungkinan terjadinya penyakit melalui “interferensi bakteri”. Mekanisme

gangguan interfernsi tersebut tidak jelas. Mekanisme tersebut dapat meliputi

kompetisi terhadap reseptor atau tempat pengikatan (binding sites) pada sel

pejamu, kompetisi mendapatkan makanan, saling menghambat oleh hasil

metabolik atau toksik, saling menghambat oleh bahan antibiotik atau bakteriosin,

atau dengan mekanisme lain. Supresi flora normal secara jelas menyebabkan

kekosongan lokal parsial yang cenderung diisi oleh organisme dari lingkungan

atau dari bagian tubuh yang lain. Organisme tersebut bersifat oportunistik dan

dapat menjadi patogen (Brooks dkk, 2008; Nasution, 2010).

Sebaliknya, anggota flora normal sendiri dapat menyebabkan penyakit

dalam keadaan tertentu. Organisme-organisme tersebut beradaptasi dengan cara

hidup yang noninvasif yang disebabkan oleh keterbatasan keadaan lingkungan.

Jika dipindahkan secara paksa akibat pembatasan lingkungan tersebut dan

dimasukkan ke dalam aliran darah atau jaringan, organisme tersebut dapat

menjadi patogenik. Hal tersebut tampak pada individu yang berada dalam status

imunokompromi dan sangat lemah karena suatu penyakit kronik, dimana flora

normal akan menyebabkan suatu penyakit pada tempat anatomisnya (Levinson,

2008).

Hal yang penting adalah bahwa mikroba yang tergolong flora residen

normal tidak membahayakan dan dapat menguntungkan di lokasi normalnya pada

penjamu serta pada keadaan tanpa kelainan yang menyertai. Organisme tersebut

dapat menyebabkan penyakit jika dimasukkan dalam jumlah besar dan jika

terdapat faktor predisposisi. Berikut adalah tabel mengenai jenis flora normal

Page 10: Anatomi Rongga Mulut

yang sering ditemukan pada berbagai tempat di tubuh manusia (Kayser et al.,

2005).

Tabel 2.1. Tabel Distribusi Flora Normal Pada Manusia

Sumber : Kayser et al., 2005

2.2.3 Flora Normal Mulut dan Saluran Pernapasan Atas

Membran mukosa mulut dan faring sering steril saat lahir, tetapi dapat

terkontaminasi saat melewati jalan lahir. Dalam waktu 4-12 jam setelah lahir,

Streptococcus viridans dapat ditemukan sebagai anggota flora residen yang paling

menonjol dan tetap demikian seumur hidup. Organisme tersebut kemungkinan

berasal dari saluran pernapasan ibu dan orang yang hadir saat persalinan.

(Nasution, 2010).

Di faring dan trakea, flora normal yang serupa tumbuh sendiri, sedangkan

beberapa bakteri dalam bronkus normal. Bronkus kecil dan alveoli secara normal

Page 11: Anatomi Rongga Mulut

adalah steril. Organisme yang dominan dalam saluran pernapasan atas terutama

faring, adalah neisseria dan streptokokus alfa-hemolitik, dan nonhemolitik.

Stafilokokus, difteroid, hemofilus, pneumokokus, mikoplasma, dan prevotella

juga ditemukan.

Infeksi mulut dan saluran pernapasan biasanya disebabkan oleh flora

oronasal campuran, termasuk anaerob. Ada beberapa penyakit dalam rongga

mulut yang disebabkan oleh flora normal, diantaranya adalah karies gigi dan

penyakit periodontal (Nester et al., 2008; Nasution, 2010).

2.3. Karies Gigi dan Penyakit Periodontal

Penyakit utama yang disebabkan oleh flora normal yang di rongga mulut

adalah karies gigi dan penyakit periodontal. Kedua penyakit tersebut merupakan

masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling penting di dunia. Karies gigi masih

merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang serius di negara berkembang,

dimana penyakit ini diderita 60-90% anak usia sekolah dan hampir keseluruhan

dari orang dewasa (Petersen et al., 2005; Nester et al., 2008).

Masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia sendiri juga masih

memerlukan perhatian khusus. Menurut SKRT (Survei Kesehatan Rumah

Tangga) yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada

tahun 2003 menyebutkan bahwa 81 persen anak usia 5 tahun mengalami karies,

dan 51 persen anak diatas 10 tahun mengalami karies yang belum mendapatkan

perawatan. Data SKRT tahun 2004 menyatakan bahwa prevalensi kareis gigi pada

masyarakat Indonesia adalah 90 persen. Ini merupakan indikator bagi masyarakat

Indonesia bahwa kesadaran masyarakat Indonesia masih sangat kurang terhadap

kesehatan gigi dan mulut (Herwanda dan Bahar, 2009).

Menurut The National Preventive Dentistry Program, 20% dari 60%

penderita karies yang merupakan anak-anak, merupakan anak-anak yang berasal

dari status ekonomi rendah. Sedangkan penyakit periodontal merupakan masalah

yang tersebar luas pada masyarakat terutama orang dewasa (Burt, 2005; Peng et

al., 2011).

Page 12: Anatomi Rongga Mulut

Karies gigi merupakan suatu proses kronis regresif yang dimulai dengan

larutnya mineral email sebagai akibat terganggunya keseimbangan antara email

dan sekelilingnya yang disebabkan oleh pembentukan asam mikrobial dari

substrat sehingga timbul destruksi komponen-komponen organik yang akhirnya

terjadi kavitas. Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya karies yaitu

individu yang rentan, tersedianya karbohidrat di rongga mulut yang cukup,

terbentuknya plak, dan banyaknya mikroorganisme kariogenik seperti

Streptococcus mutans (Prakash et al.,2012).

Gambar 2.5. Faktor Penyebab Karies Gigi

(http://dentalresource.org/topic54dentalcaries.html)

Steptococcus mutans merupakan penyebab utama dari karies. Nama

‘mutans’ diberikan dikarenakan seringnya transisi bentuk dari bentuk kokus

menjadi kokobasil. Sampai sekarang telah ditemukan tujuh buah spesies

Steptococcus mutans yang ditemukan pada manusia dan hewan. Sebanyak delapan

buah serotipe (a-h) telah dikenali berdasarkan susunan antigen spesifik yang

berada pada dinding sel bakteri tersebut. Diantara semua serotipe dari

Streptococcus mutans yang telah dikenali, hanya tiga buah serotipe Streptococcus

mutans yang ditemukan pada manusia yaitu serotipe c, e ,dan f (Samaranayake,

2002).

Page 13: Anatomi Rongga Mulut

Gambar 2.6. Streptococcus mutans pada Pewarnaan Gram

(http://www.textbookofbacteriology.net/normalflora.html)

Streptococcus mutans bersama dengan beberapa bakteri jenis lain akan

berkolonisasi di permukaan luar dari gigi untuk membentuk plak. Jika plak yang

terbentuk tidak dibersihkan secara manual dengan menggunakan sikat gigi atau

secara alamiah dengan menggunakan metode pembersihan berupa saliva, asam

yang dihasilkan bakteri sebagai hasil metabolisme karbohidrat di gigi akan

menyebabkan demineralisasi dari enamel. Fisura dan celah dari permukaan gigi

adalah tempat yang paling sering terjadinya kerusakan gigi. Seiring berjalannya

waktu, karies akan menyebar hingga ke bagian dentin, yang menyebabkan

terbentuknya kavitas dari enamel dan penetrasi menuju ke bagian pulpa. Jika

karies sudah mencapai pulpa, keadaan ini disebut dengan pulpitis akut. Pada fase

akut, dimana infeksi pulpa masih terbatas, gigi menjadi sensitif terhadap perkusi,

rasa dingin dan rasa panas. Rasa nyeri di sekitar daerah infeksi akan hilang jika

stimulus yang merangsang dihilangkan (Kasper et al., 2005).

Pada saat infeksi sudah mengenai semua bagian pulpa, akan terjadi

pulpitis yang bersifat ireversibel dan akan menyebabkan nekrosis pulpa pada

akhirnya. Pada stadium akhir dari karies gigi, rasa nyeri sangat hebat pada daerah

infeksi. Rasa sakit yang dirasakan bersifat tajam dan akan bertambah buruk jika

berada dalam posisi berbaring. Ketika telah terjadi nekrosis sempurna pada gigi,

rasa nyeri akan muncul secara konstan atau intermiten, namun sensitivitas

terhadap rasa dingin akan hilang (Kasper et al., 2005).

Page 14: Anatomi Rongga Mulut

Penyakit periodontal merupakan suatu penyakit akibat infeksi yang

mengenai jaringan yang menyokong gigi. Gigi disokong oleh gusi atau gingiva,

dan akar dari gigi akan diikat oleh ligamen periodontal. Pada penyakit

periodontal, jaringan penyokong gigi hancur. Jika bagian yang hancur adalah

bagian gusi, disebut sebagai gingivitis. Sedangkan jika hanya melibatkan jaringan

ikat dan tulang, disebut periodontitis (Cartensen et al., 2012).

Proses terjadinya penyakit periodontal dimulai secara tak kasat mata.

Proses tersebut mula-mula terjadi diatas garis gusi dan didalam sulkus gingiva.

Plak, termasuk plak yang telah termineralisasi (calculus), dapat dicegah

pembentukannya dengan menjaga kesehatan rongga mulut dan pembersihan oleh

tenaga profesional secara berkala. Inflamasi kronik akan terjadi dan menyebabkan

hiperemi yang tidak menyakitkan di bagian gingiva (gingivitis) yang biasanya

akan berdarah jika disikat. Jika tidak diperhatikan, penyakit ini akan menjadi berat

sehingga akan meyebabkan terbukanya sulkus yang telah dimineralisasi dan

destruksi dari jaringan ikat periodontal. Kantung yang terbentuk di sekeliling dari

gigi yang berisi pus dan debris (Kasper et al., 2005).

Ketika periodontium sudah rusak sepenuhnya, gigi akan menjadi longgar

dan dapat terlepas. Penyakit periodontal yang akut dan agresif sangat jarang

ditemukan dibandingkan dengan yang kronik. Tetapi jika individu stres atau

terpapar dengan patogen baru, penyakit yang sangat progresif dan bersifat

destruktif yang mengenai jaringan periodontal akan terjadi.

Kejadian karies gigi dan penyakit periodontal sebenarnya dapat

dicegah,yaitu dengan cara menjaga dan memelihara kesehatan rongga mulut. Hal

yang dapat digunakan sebagai acuan untuk memelihara kesehatan rongga mulut

akan dibahas pada bagian selanjutnya.

2.4. Pemeliharaan Kesehatan Rongga Mulut

Meskipun di beberapa negara berkembang dilaporkan sudah terjadi

perbaikan atau peningkatan kesehatan gigi mulut, namun kesehatan gigi mulut

tetap merupakan tantangan masalah kesehatan yang perlu ditanggulangi.

Setidaknya ada enam masalah yang timbul dan dihubungkan dengan masalah

Page 15: Anatomi Rongga Mulut

kesehatan gigi. Keenam masalah tersebut adalah karies, penyakit periodontal,

halitosis, stomatitis, gangguan pada sendi temporomandibular, dan beberapa

penyakit sistemik yang seperti penyakit jantung koroner, Diabetes Mellitus, dan

pneumonia. Masalah-masalah tersebut saling terkait dan bisa timbul bersamaan

dan berdampak terhadap kualitas hidup seseorang (Pintauli and Hamada, 2008).

WHO (World Health Organization) sendiri sudah sejak tahun 1986

menyelenggarakan konferensi internasional untuk mengembangkan pendekatan

pencegahan yang radikal terhadap kesehatan umum masyarakat. Berdasarkan

pendekatan inilah, WHO Global Oral Health Program membuat upaya

peningkatan kesehatan gigi mulut masyarakat. Selain pendekatan pentingnya

‘pola hidup sehat’ , pendekatan juga ditujukan kepada pendekatan faktor risiko.

Semua pendekatan ini dititikberatkan kepada upaya pencegahan. Di Indonesia,

upaya pencegahan lebih terpusat pada karies gigi dan penyakit periodontal yang

dapat dikatakan sebagai penyakit mulut yang dapat dicegah. Kontrol plak atau

tindakan menyikat gigi merupakan kunci keberhasilan untuk mempunyai rongga

mulut yang sehat dalam upaya pencegahan dan pemeliharaan rongga mulut yang

optimal.

ADA (American Dentistry Association) merekomendasikan beberapa cara

untuk menjaga kebersihan rongga mulut. Rekomendasi tersebut adalah tentang

menggosok gigi, pengunaan benang pembersih ataupun pembersih sela gigi,

rekomendasi pola hidup sehat, dan melakukan pengecekan gigi secara berkala ke

pusat perawatan gigi yang memiliki tenaga profesional yang memiliki

kemampuan memeriksa dan membersihkan gigi (ADA, 2012).

ADA merekomendasikan kepada masyarakat agar meyikat gigi sebanyak

dua kali sehari dengan menggunakan pasta gigi berfluor yang telah diakui oleh

ADA. Pada saat meyikat gigi, usahakan membersihkan seluruh permukaan gigi.

Penggunaan sikat gigi elektrik dianjurkan pada orang yang menderita artritis

sehingga sulit menggerakkan tangan. Kehigienisan sikat gigi juga penting dijaga,

dimana tidak dianjurkan menyimpan sikat gigi di tempat yang tertutup karena

dapat menyebabkan pertumbuhan kuman pada sikat gigi. Sikat gigi diganti setiap

tiga atau empat bulan, atau jika bulu sikat telah berjerumbai, karena bulu sikat

Page 16: Anatomi Rongga Mulut

yang telah berjerubai tidak dapat membersihkan gigi dengan baik. Penggunaan

alat bantu untuk membersihkan gigi dianjurkan untuk membersihkan sela-sela

gigi yang tidak dapat dibersihkan dengan cara menggosok gigi. Alat bantu yang

dianjurkan oleh ADA adalah benang pembersih dan pembersih sela gigi. Alat

bantu ini diharapkan dapat membantu melepaskan lapisan lengket yang disebut

plak dan sisa-sisa makanan yang terperangkap di sela-sela gigi dan di bawah garis

gusi (MFMER, 2011; ADA, 2012).

Faktor diet juga berpengaruh pada kebersihan rongga mulut. ADA

merekomendasikan diet yang seimbang dan pembatasan makan makanan ringan

diantara waktu makan. Selain itu, melakukan pemeriksaan kesehatan gigi pada

pusat kesehatan yang memiliki tenaga terlatih juga merupakan salah satu upaya

menjaga kesehatan gigi dan mulut. Pemeriksaan rutin yang direkomendasikan

untuk orang dewasa adalah kira-kira tiga bulan sampai dua tahun sekali. Makin

sehat kesehatan gigi dan mulut seseorang, maka makin lama waktu selang antara

satu pemeriksaan rutin dengan pemeriksaan rutin lainnya. Namun, jika ditemukan

kesehatan dan kebersihan gigi dan mulut yang buruk, jarak antar pemeriksaan

rutin akan semakin sempit (NHS, 2011).

Pembersihan plak supragingival setiap hari merupakan faktor utama dalam

mencegah kejadian karies, gingivitis dan periodontitis. Cara umum untuk

menghilangkan plak bakterial tersebut adalah dengan cara melepaskan biofilm

secara manual dengan menggunakan sikat gigi dan penggunaan benang gigi.

Namun, beberapa studi menyatakan bahwa waktu menyikat gigi rata-rata pada

orang dewasa kurang untuk dapat kebersihan rongga mulut yang baik. Informasi

lainnya menunjukkan bahwa hanya 2-10% dari pasien yang menggunakan benang

gigi unutk membersihkan sela-sela gigi. Selain hal tersebut, sebuah studi

menyatakan bahwa kepatuhan pasien akan berkurang seiring berjalannya waktu

walaupun telah diberikan edukasi sebelumnya (Marchetti et al., 2011).

Banyak studi menunjukkan bahwa ternyata obat kumur efektif dan

berguna untuk menjaga kebersihan rongga mulut. Obat kumur digunakan dengan

cara dikumur dalam rongga mulut dengan bantuan otot-otot pipi, bibir, dan lidah

sehingga partikel dan debris akan lepas dari rongga mulut. Obat kumur yang

Page 17: Anatomi Rongga Mulut

mengandung antimikroba efektif terhadap mikroba yang berada pada permukaan

gingiva dan mukosa rongga mulut (Daniel et al., 2008; Marchetti et al., 2011).

Banyak produk obat kumur yang mengandung alkohol sebagai komposisi

utama. Alkohol dalam obat kumur digunakan sebagai pelarut dari perasa yang

digunakan untuk menutupi rasa dari bahan aktif yang terkandung di dalamnya.

Beberapa peneliti menyebutkan bahwa pasien dengan xerostomia, ketergantungan

alkohol, atau jaringan yang senstif terhadap alkohol harus menggunakan obat

kumur yang bebas alkohol. Menurut Haq et al. (2009), alkohol dalam obat kumur

tidak meningkatkan efektivitas dari kerja obat kumur tersebut. Alkohol justru

memiliki kecenderungan menyebabkan efek samping seperti rasa terbakar pada

mulut karena alkohol dapat mengaktifkan vanilloid receptor-1, agreviasi dari

xerostomia, dan halitosis pada sebagian kasus. Alkohol juga diduga memiliki

peran dalam menyebabkan kanker pada rongga mulut karena bersifat iritatif pada

epitel. Namun, menurut ADA dan FDA (Food and Drug Administration), data

yang didapatkan masih belum cukup untuk membuktikan hubungan antara

penggunaan obat kumur yang mengandung alkohol dengan kejadian kanker mulut

(Daniel et al., 2008; Dental Guide, 2012).

Ada 3 jenis obat kumur yang tersedia dipasaran. Yang pertama adalah obat

kumur yang bersifat kosmetik, dimana obat kumur tersebut hanya digunakan

untuk menghilangkan bau mulut. Yang kedua adalah obat kumur antiseptik. obat

kumur antiseptik banyak dipakai pada bidang kedokteran gigi sebagai terapi unutk

berbagai kondisi klinis seperti mengurangi pembentukan plak gigi dan

mengurangi kejadian kerusakan gigi. Sedangkan yang terakhir adalah obat kumur

yang mengandung fluor. Obat kumur jenis ini digunakan oleh orang-orang dengan

risiko kerusakan gigi. Namun, obat kumur jenis ini jarang digunakan karena

sebagian besar fluor yang dibutuhkan untuk mencegah kerusakan gigi telah

didapatkan dari menggosok gigi dengan pasta gigi yang mengandung fluor. ADA

dan FDA merekomendasikan dua jenis obat kumur yang telah diterima oleh kedua

organisasi tersebut. Kedua jenis obat kumur tersebut adalah obat kumur yang

mengandung minyak esensial dan obat kumur dengan kandungan aktif

klorheksidin. Kedua obat kumur tersebut biasanya digunakan pada keadaan

Page 18: Anatomi Rongga Mulut

gingivitis dan untuk mengontrol dan mengobati biofilm plak (Daniel et al., 2008;

Dental Guide, 2012).

2.5. Klorheksidin Glukonat

Klorheksidin glukonat merupakan suatu disinfektan dan suatu agen

antiinfektif yang juga digunakan sebagai obat kumur untuk mencegah

terbentuknya plak pada gigi. Klorheksidin glukonat memiliki rumus molekul

C34H54Cl2N10O14, dengan berat molekul 897.7572. Klorheksidin memiliki titik

didih pada suhu 1121.4°C dalam tekanan 760 mmHg (DrugBank, 2012;

ChemNet, 2012).

Gambar 2.7. Struktur Kimia Klorheksidin Glukonat

(DailyMed, 2010)

Klorheksidin memiliki beberapa senyawa berbentuk garam, yaitu

klorheksidin hidroklorida, klorheksidin asetat, dan klorheksidin glukonat. Salah

satu dari ketiga senyawa tersebut yang digunakan sebagai obat kumur adalah

klorheksidin glukonat. Klorheksidin sendiri memiliki nama IUPAC (International

Union of Pure and Applied Chemistry) N-(4-chlorophenyl)-1-3-(6-{N-[3-(4-

chlorophenyl)carbamimidamidomethanimidoyl]amino}hexyl)carbamimidamidom

ethanimidamide, sedangkan klorheksidin glukonat memiliki nama 1,1’-

hexamethylenebis [5-(p-chlorophenyl)biguanide] di-D-gluconate (DailyMed,

2010; DrugBank, 2012).

Klorheksidin bekerja sebagai agen antimikrobial topikal dikarenakan

bermuatan positif. Ketika klorheksidin yang bersifat sebagai kation bereaksi

dengan sel bakteri yang bermuatan negatif, akan terjadi ikatan antara keduanya.

Setelah klorheksidin terabsorpsi ke dalam dinding sel dari organisme tersebut,

Page 19: Anatomi Rongga Mulut

klorheksidin akan menghancurkan integritas dari membran sel dari organisme

tersebut. Akibat dari integritas membran sel yang terganggu, maka terjadi

kebocoran komponen-komponen intraseluler dari organisme tersebut. Plak,

mukosa oral, dan hidroksiapatit akan sedikit menyerap klorheksidin sehingga

secara tidak langsung berperan sebagai reservoir yang akan mensekresi

klorheksidin secara lambat (DrugBank, 2012; Thomas, 2011).

Klorheksidin diabsorpsi secara sangat buruk pada saluran gastrointestinal.

Tidak ada data yang jelas mengenai ikatan dengan protein maupun metabolisme

dari klorheksidin. Ekskresi klorheksidin terutama melalui feses.

Klorheksidin diindikasikan untuk mencegah karies gigi, dekontaminasi

bagian orofaring bagi pasien-pasien yang sangat sakit, higienitas pelayan

kesehatan, pembersih kulit secara umum, dan pada saat persiapan dan perawatan

tempat kateterisasi (DrugBank, 2012). Menurut Jarral et al. (2011), klorheksidin

terbukti lebih efektif dibandingkan dengan povidon iodin sebagai pencuci tangan

para dokter bedah. Klorheksidin mampu menurunkan jumlah koloni secara

signifikan dan mampu menurunkan angka kejadian surgical site infection (SSI)

pada proses pembedahan kontaminasi-bersih. Selain itu, klorheksidin juga terbukti

efektif sebagai agen antimikroba pada keratitis yang disebabkan Acanthamoeba,

dimana 83% dari 6 mata pasien mengalami penyembuhan yang lebih cepat

dibanding dengan kelompok kontrol (TOXNET, 2004).

Menurut Zorko dan Jerala (2008), klorheksidin memiliki kemampuan

untuk berikatan dan menetralisasi lipopolisakarida (LPS) bakteri. Klorheksidin

merupakan salah satu produk antiseptik yang paling banyak digunakan, baik

sebagai pencuci tangan maupun obat kumur. Klorheksidin bersifat aktif terhadap

berbagai jenis bakteri, baik Gram positif maupun Gram negatif dan kompatibel

bila digunakan bersama dengan berbagai jenis antibiotika.

Menurut Ireland (2007), klorheksidin glukonat merupakan obat kumur

yang paling efektif dalam menurunkan perkembangan dari plak. Ini menyebabkan

klorheksidin menjadi salah satu obat standar yang diresepkan untuk berbagai

penyakit mulut, termasuk segala bentuk ulserasi pada rongga mulut dan juga

untuk menurukan kejadian gingivitis.

Page 20: Anatomi Rongga Mulut

Walaupun klorheksidin glukonat sangat efektif dalam menurunkan jumlah

bakteri pada rongga mulut, klorheksidin glukonat juga memiliki efek samping

yang cukup berat. Dua efek samping yang paling sering dijumpai adalah proses

kolorasi (pewarnaan) pada gigi dan perubahan dari rasa suatu zat. Oleh sebab itu,

produk yang mengandung klorheksidin glukonat hanya dianjurkan pemakaiannya

dalam jangka waktu 30 hari setiap 3 bulan (Cappelli and Mobley, 2008).

2.6. Povidon Iodin

Povidon iodin ialah suatu iodofor yang kompleks antara yodium dengan

polivinil pirolidon.Povidon iodine larut dalam air, stabil secara kimia dan larut

dalam pirolidin polivinil polimer. Povidon iodin memiliki rumus molekul

C6H9I2NO dan memiliki nama IUPAC 1-ethenylpyrrolidin-2-one; molecular

iodine. (Kurniati, 2008; PubChem, 2012; Chembase, 2012).

Gambar2.8. Struktur Kimia Povidon Iodin

(Drugs, 2012)

Iodin merupakan salah satu antiseptik paling tua. Preparat iodin yang

terdahulu menyebabkan nyeri lokal dan reaksi jaringan. Povidon iodin sendiri

telah dikenal sejak lebih dari 40 tahun yang lalu. Povidon iodin yang mengandung

10% polivinilpirolidon iodin merupakan yang produk yang paling banyak

diproduksi secara komersil oleh pabrik-pabrik (Khan, 2006).

Povidon iodin memiliki efek bakterisidal dan efektif untuk berbagai jenis

bakteri, jamur, maupun spora. Efek bakterisidal dan fungisidal dari povidon iodin

berlangsung selama beberapa detik. Povidon iodin diduga memiliki cara kerja

Page 21: Anatomi Rongga Mulut

dengan menginaktivasi substrat vital sitoplasma, yang sangat penting untuk

kelangsungan hidup dari bakteri.

Povidon iodin dikontraindikasikan untuk pasien dengan kelainan fungsi

tiroid, hipersensitif terhadap povidon iodin, dan juga wanita dalam masa hamil

dan menyusui (Samaranayake, 2002).