38
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Sistem mastikasi, yang mana merupakan unit fungsional dalam pengunyahan mempunyai komponen- komponen yang keseluruhannya harus dapat bekerja serentak secara dinamis dan sinergis dengan fungsi penelanan. Lebih jauh lagi, keterhubungan anatomis antara saluran pernafasan dan pencernaan baik pada tahap bukal maupun faringeal, harus dijadikan pertimbangan dalam pengkajian fungsi stomatognasi secara menyeluruh sehingga perjalanan makanan di sepanjang saluran cerna dapat berjalan lancar (Salleh, 2009). Fungsi sistem pengunyahan (mastikasi) jauh lebih bervariasi dari yang di implikasikan oleh namanya. Selain untuk makan dan minum, sistem ini juga berfungsi untuk bicara dan menyanyi, untuk tersenyum dan menyeringai, dan untuk melakukan semua ekspresi lainnya. Juga untuk berkelahi, mengutarakan kasih sayang, merasakan makanan, menyentuh, memperindah wajah, dan untuk mengutarakan kemarahan. Mulut terasa kering bila kita takut dan berair bila kita melihat makanan. Kita bernafas melalui mulut ketika melakukan olahraga yang berat, dengan kemungkinan gigi geligi saling mengerot. Mulut juga melakukan tahap awal

anatomi gigi

Embed Size (px)

DESCRIPTION

deskripsi tentang gigi dan jaringan pendukungnya

Citation preview

Page 1: anatomi gigi

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.

Sistem mastikasi, yang mana merupakan unit fungsional dalam

pengunyahan mempunyai komponen-komponen yang keseluruhannya harus dapat

bekerja serentak secara dinamis dan sinergis dengan fungsi penelanan. Lebih jauh

lagi, keterhubungan anatomis antara saluran pernafasan dan pencernaan baik pada

tahap bukal maupun faringeal, harus dijadikan pertimbangan dalam pengkajian

fungsi stomatognasi secara menyeluruh sehingga perjalanan makanan di

sepanjang saluran cerna dapat berjalan lancar (Salleh, 2009).

Fungsi sistem pengunyahan (mastikasi) jauh lebih bervariasi dari yang di

implikasikan oleh namanya. Selain untuk makan dan minum, sistem ini juga

berfungsi untuk bicara dan menyanyi, untuk tersenyum dan menyeringai, dan

untuk melakukan semua ekspresi lainnya. Juga untuk berkelahi, mengutarakan

kasih sayang, merasakan makanan, menyentuh, memperindah wajah, dan untuk

mengutarakan kemarahan. Mulut terasa kering bila kita takut dan berair bila kita

melihat makanan. Kita bernafas melalui mulut ketika melakukan olahraga yang

berat, dengan kemungkinan gigi geligi saling mengerot. Mulut juga melakukan

tahap awal pengunyahan dan penelanan, yang mendorong terjadinya proses

metabolsme dan nutrisi.

Gangguan-gangguan yang muncul dalam system stomatognasi dapat

berupa gejala-gejala ringan yang mungkin diabaikan oleh pasien, seperti bruksim

atau gangguan ringan pada otot kunyah dan telan, tetapi dapat pula menjadi fatal

bilamana gangguan terjadi pada fungsi penelanan dan pernafasan seperti misalnya

tersumbatnya jalan nafas oleh bolus (tersedak), oedema ataupun abses

parafaringeal (Nazar, 2010).

Karena pentingnya topik mengenai sistem stomatognasi tertama kaitannya

dengan fungsi penelanan dan pengunyahan bagi profesi dokter gigi, berikut akan

di ulas mengenai Fungsi Pengunyahan & Penelanan Pada Sistem Stomatognasi

1

Page 2: anatomi gigi

yang diharapkan dapat membantu para calon dokter gigi yang masih berada

dilingkungan akademis untuk memahami sejak awal mengenai kerja fisiologis

dari sistem ini serta gangguan-gangguan yang mungkin timbul.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan stomatognathi dan fungsinya?

2. Apa yang dimaksud dengan mastikasi dan bagaimana prosesnya?

3. Apa yang dimaksud dengan penelanan dan bagaimana prosesnya?

4. Apa saja saraf dan otot yang berpengaruh pada proses penguyahan dan

penelanan?

5. Apa peran saliva dalam proses penguyahan dan penelanan?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui hubungan sistem mastikasi dan deglutasi.

2. Untuk mengetahui komponen yang berperan dalam sistem mastikasi.

3. Untuk mengetahui gangguan pada sistem deglutasi.

1.4 Hipotesa

Neuromuskular dan organ yang berhubungan di bidang kedokteran gigi yang

terdapat pada proses penguyahan dan penelanan.

Page 3: anatomi gigi

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Stomatognathi

Stomatognathi dalam praktek kedokteran gigi merupakan ilmu

yang mempertimbangkan hubungan antara gigi geligi, rahang, persendian

temporomandibula, kraniofasial dan oklusi gigi (Andriyani, 2001).

Komponen sistem stomatognasi meliputi gigi-geligi beserta

jaringan pendukungnya, otot, persyarafan maupun persendian antara

maksila dan mandibula. Termasuk dalam fungsi stomatognasi adalah

pengunyahan makanan, penelanan, pernafasan, dan berbicara. Masing-

masing fungsi sangat erat hubungannya dan kadang-kadang dua atau lebih

fungsi ini dapat dilakukan secara bersama-sama. Fungsi stomatognasi yang

akan dibahas di sini adalah pengunyahan dan penelanan makanan dan

selama proses pengunyahan, komponen-komponen yang terlibat adalah

tulang, otot-otot, ligament dan gigi (Andriyani, 2001).

Proses penelanan dibagi menjadi tiga tahap yaitu tahap bukal, tahap

faringeal dan tahap esophageal. Aktivitas otot penelanan dimulai dengan

kerja secara volunter dan akan berubah menjadi refleks involunter. Refleks

lain yang dapat terjadi pada aktivitas penelanan adalah batuk, muntah dan

menghisap, diakibatkan rangsangan-rangsangan sensorik (Andriyani, 2001).

Pada sistem stomatognasi, proses pengunyahan dan penelanan

merupakan suatu proses yang kompleks, melibatkan otot-otot, persendian

temporomandibula, gigi dan persyarafan. Koordinasi pergerakan mandibula

dan gigi yang berfungsi optimal, akan menghasilkan makanan yang berubah

Page 4: anatomi gigi

menjadi konsistensi relatif halus yang disebut dengan bolus (Andriyani,

2001).

2.2 Anatomi dan Fisiologi Pengunyahan

Pengunyahan adalah proses menghancurkan partikel makanan di

dalam mulut dibantu dengan saliva yang dihasilkan oleh kelenjar ludah

sehingga merubah ukuran dan konsistensi makanan yang akhirnya

membentuk bolus yang mudah untuk ditelan. Penghancuran makanan

dilakukan oleh gigi geligi dangan bantuan otot-otot pengunyahan dan

pergerakan kondilus mandibula melalui artikulasi temporo mandibula.

Gerakan artikulasi temporomandibula adalah gerakan kapitulum mandibula

yang terjadi pada waktu mengunyah seperti gerakan memajukan mandibula,

gerakan memundurkan mandibula dan gerakan mandibula kesamping kiri

dan kanan (Andriyani, 2001).

Mengunyah terdiri dari beberapa tahap, yaitu tahap membuka

mandibula, tahap menutup mandibula dan tahap berkontaknya gigi

antagonis satu sama lain atau kontak gigi dengan bolus makanan, dimana

setiap tahap mengunyah berakhir 0,5 sampai 1,2 detik (Andriyani, 2001).

2.2.1 Mandibula dan Otot-otot Penggeraknya

Sistem pengunyahan pada manusia dimaksudkan terutama untuk

mencerna makanan dan menyiapkannya sebelum ditelan. Untuk mencerna,

menggerus, memotong dan menelan makanan, lengkung gigi geligi atas dan

bawah harus dapat dipisahkan dan bergerak dengan kuat searah atau

berlawanan arah satu sama lain (mesio-distal, belakang-depan, atau atas

bawah). Cara paling sederhana untuk melakukan hal ini adalah satu

lengkung gigi harus dalam posisi tetap dan gigi-gigi yang berhubungan

dengannya digerakkan. Gigi geligi atas pada manusia melekat tetap pada

dasar tengkorak. Supaya dapat bergerak, gigi-gigi bawah tertanam dalam

sebuah tulang yaitu mandibula, yang dapat digerakkan dan digunakan

Page 5: anatomi gigi

sebagai sebuah pengungkit untuk mengaplikasikan tenaga. Makanan

dihancurkan dan dipotong dengan menggerakkan lengkungan gigi bawah

melaluinya, searah atau berlawanan dengan lengkungan dari gigi geligi atas

yang tetap kedudukannya. Adapun otot-otot utama yang berfungsi untuk

membantu proses mastikasi adalah :

a. M.Masseter

Masseter adalah suatu massa otot yang tebal, berbentuk empat

persegi panjang disebelah pinggir wajah. Melekat diantara permukaan

lateral dari ramus mandibula dan arcus zygomaticus persis dibawah kulit.

Masseter digunakan untuk penghancuran dan penggilingan makanan.

Selain untuk mengangkat mandibula ke vertikal, masseter dapat

memberikan vektor anterior pada rahang selama rahanag diangkat dari

suatu posisi depresi ke posisi interkuspal maksimal pada busur mid-sagital

pengangkatan. Initerjadi karena penyebaran kontraksi dari fasikuli yang

paling anterior ke yang paling posterior (Kraus, Jordan, Abrams, 1969).

Kaput profunda dapat memberikan efek retrusi (Sicher, 1951). Ada

kemungkinan bahwa kaput superfisialis yang kuat itu mempunyai peranan

penting pada komponen anterior sewaktu mandibula mendekati relasi

sentrik (kawamura, 1968; Williamson, 1980). Cabang masseter dari saraf

kranialis kelima memasok persarafan. Pasokan arteri berasal dari cabang-

cabang arteri masseterika.

b. M.Temporalis

Merupakan otot berempal dua dengan origo berbentuk kipas dan

tendon yang sangat besar, kuat, serta berinsersio kedalam prosesus

koronoideus, krista temporalis profunda dan batas anterior ramus

mandibula. Pada pokoknya otot ini dalah suatu elevator dan retraktor

(pengangkat dan penarik) mandibula dan apabila otot diaktifkan secara

bertahap, dari anterior ke posterior, maka arah dari tarikan serabut-serabut

berkontraksi akan menjadi sama seperti perjalanan kearah atas dari

prosesus koronoideus ketika mandibula diangkat dari suatu posisi tertekan

(Kraus, Jordan dan Abrams, 1969).

Page 6: anatomi gigi

Gambar.1M. temporalis dan M. mesetter

c. Pterygoideus Medialis

Pterygoideus medialis adalah suatu massa jaringan otot yang kuat,

empat persegi panjang, terletak pada sisi medial dari ramus mandibula.

Otot ini tidak selebar atau setebal masseter. Batas posteriornya tersusun

serupa dengan batas posterior dari masseter pada proyeksi lateral, tetapi

batas anteriornya terletak lebih distal kearah dorsal (Schumacher, 1961).

Pada potongan horizontal, separuh atas dari pterygoideus medialis

berbentuk baji dengan pinggir yang tipis menghadap kearah belakang.

Setengah bawahnya berbentuk oval.

d. Pterygoideus Lateralis

Otot pterygoideus lateralis menempati suatu posisi yang dalam dan

tersembunyi. Posisi ini dianggap disebabkan oleh fungsi protraksi

mandibula. Karena dulunya pergerakan mandibula adalah suatu problem

Page 7: anatomi gigi

yang relatif kecil dan karena posisinya yang dalam dan ukurannya kecil,

massa otot ini kurang mendapat perhatian dan hampir terabaikan oleh para

ahli ilmu anatomi yang dulu. Secara anatomi dan fungsional, bagian atas

dan bawah dari pterygoideus lateralis kemungkinan adalah dua otot yang

berbeda. Pada umumnya, peranan dari kedua bagian ini adalah berkenaan

dengan posisi dan keseimbangan persatuan kondil-diskus pada eminensia

artikularis selama adanya gerakan-gerakan fungsional dan kemungkinan

juga pada posisi postural. Demikian juga bagian inferior aktif apabila

persatuan kondil-diskus protrusi (tertarik kedepan) dan distabilkan pada

posisi protrusi. Karena itu pterygoideus lateralis terlibat dalam gerakan

mandibula. Gangguan fungsi normal pterygoideus lateralis yang berat

mengakibatkan fungsi mandibula sangat terbatas atau mengalami

kegagalan.

(McDevitt, 2002)

Gambar.2

M. Pterygoideus

2.2.2. Proses Pengunyahan

Page 8: anatomi gigi

Pengunyahan adalah proses menghancurkan partikel makanan di

dalam mulut dibantu dengan saliva yang dihasilkan oleh kelenjar ludah

sehingga merubah ukuran dan konsistensi makanan yang akhirnya

membentuk bolus yang mudah untuk ditelan. Penghancuran makanan

dilakukan oleh gigi geligi dangan bantuan otot-otot pengunyahan dan

pergerakan kondilus mandibula melalui artikulasi temporo mandibula.

Gerakan artikulasi temporomandibula adalah gerakan kapitulum mandibula

yang terjadi pada waktu mengunyah seperti gerakan memajukan mandibula,

gerakan memundurkan mandibula dan gerakan mandibula kesamping kiri

dan kanan (Andriyani, 2001).

Mengunyah terdiri dari beberapa tahap, yaitu tahap membuka

mandibula, tahap menutup mandibula dan tahap berkontaknya gigi

antagonis satu sama lain atau kontak gigi dengan bolus makanan, dimana

setiap tahap mengunyah berakhir 0,5 sampai 1,2 detik (Andriyani, 2001).

2.2.3 Aktivitas Otot

Otot-otot yang terutama bertanggung jawab untuk menggerakkan

mandibula selama proses pengunyahan adalah m.masseter, m.temporalis,

m.pterygoideus lateralis, m.pterygoideus medialis. Otot pengunyahan

tambahan seperti muskulus mylohyoideus, m.geniohyoideus,

m.stylohyoideus, m.infrahyodeus, m.buccinator dan labium oris (Evelyn,

1992).

Selama proses pengunyahan, otot yang aktif pada saat gerakan

membuka mandibula adalah muskulus pterygoideus lateralis. Pada saat

bersamaan m.temporalis, m.masseter dan m.pterygoideus medialis,

sedangkan m.pterygoideus lateralis dalam keadaan relaksasi. Sementara

mandibula tertutup perlahan, m.temporalis dan m.masseter juga

berkontraksi membantu gigi geligi saling berkontak pada oklusi normal.

Sedangkan oleh penelitian elektromiografi oleh Perry (1957) dan Harrizz

(1957) melaporkan bahwa selama proses pengunyahan m.temporalis

mendahului m.masseter. Pada fenomena yang sama dijumpai saat

Page 9: anatomi gigi

m.digastrikus menunjukkan aksi potensial ketika mandibula bergerak dari

posisi istirahat ke posisi oklusi, walaupun m.digastrikus tidak ikut serta

dalam mengangkat mandibula tetapi akan mempertahankan kontak gigi

geligi (Evelyn, 1992).

Lidah berperan penting selama proses pengunyahan, karena lidah

berfungsi membawa dan mempertahankan makanan diantara permukaan.

Oklusi gigi-geligi, membuang objek seperti biji, benda asing, fragmen

tulang dan substansi yang tidak enak rasanya, serta berfungsi untuk

membawa massa makanan yang sudah dikunyah kepalatum sebelum

akhirnya ditelan. Lidah juga berperan penting dalam mempertahankan

kebersihan mulut, yaitu untuk menghilangkan debris makanan pada gigiva,

vestibulum dan dasar mulut (Andriyani, 2001).

2.3 Anatomi dan Fisiologi Sistem Penelanan

Proses penelanan adalah aktivitas terkoordinasi yang melibatkan

beberapa macam otot-otot dalam mulut, otot palatum lunak, otot faring dan

otot laring. Aktivitas otot penelanan dimulai sebagai kerja volunter dan

kemudian berubah menjadi refleks involunter (Andriyani, 2001).

Hollinshead, Longmore (1985) menyatakan bahwa peristiwa

menelan adalah peristiwa yang terjadi setelah proses pengunyahan selesai

didalam mulut, kemudian mulut tertutup, lidah bagian ventral bergerak ke

palatum sehingga mendorong bolus ke arah isthmus faucium menuju faring

untuk selanjutnya di teruskan ke esophagus (Andriyani, 2001).

2.3.1 Aktivitas Otot

Berkovitz (1995) dan William (1995) menyatakan bahwa otot-otot

yang berperan dalam proses penelanan adalah otot-otot didalam kavum oris

proprium yang bekerja secara volunteer, otot-otot faring dan laring bekerja

secara involunter. Kavum oris terbagi menjadi dua bagian yaitu vestibulum

oris dan kavum oris proprium. Vestibulum oris adalah ruang antara gigi-

geligi dan batas mukosa bagian dalam dari pipi dan labium oris. Sedangkan

Page 10: anatomi gigi

kavum oris proprium merupakan ruang antara arkus dentalis superior dan

inferior. Batas anterior dan lateral kavum oris proprium adalah permukaan

lingual gigi geligi dan prosesus alveolaris (Andriyani, 2001).

a. Otot di dalam kavum oris proprium

Otot yang termasuk didalam kelompok ini adalah otot-otot lidah

dan otot-otot palatum lunak. Otot- otot lidah terdiri dari otot- otot instrinsik

dan ekstrinsik. Otot-otot intrinsic lidah merupakan otot yang membentuk

lidah itu sendiri yaitu muskulus longitudinalis lingua superfisialis,

muskulus longitudinalis lingua provunda, muskulus transfersus lingua dan

muskulus vertikalis lingua. Otot ekstrinsik lidah merupakan otot yang

berada di bawah lidah yaitu muskulus genioglossus untuk mengerakan

bagian tengah lidah ke belakang dan muskulus styloglossus yang menarik

lidah keatas dan kebawah. Sedangan otot- otot palatum lunak yaitu

muskulus tensor dan muskulus levator veli palatini untuk mengangkat faring

dan muskulus palatoglossus yang menyebabkan terangkatnya uvula (Evelyn,

1992).

b. Otot faring

Terbagi menjadi 2 golongan yaitu otot- otot yang jalannya

melingkar dan otot- otot yang menbujur faring. Otot-otot melingkar terdiri

atas muskulus konstriktor faringis superior, muskulus konstriktror faringis

media dan muskulus konstriktor faringis inferior (Evelyn, 1992). Sedangkan

otot- otot membujur faring yaitu muskulus stilofaringeus. Faring tertarik

kearah medial untuk saling mendekat. Setelah itu lipatan- lipatan faring

membentuk celah sagital yang akan di lewati makanan menuju kedalam

faring posterior celah ini melakukan kerja selektif sehingga makanan yang

telah di kunyah dapat lewat dengan mudah (Evelyn, 1992)

c. Otot laring.

Terbagi dua yaitu otot laring instrinsik dan otot laring ekstrinsik.

Otot laring ekstrinsik yaitu muskulus krikotiroideus, sedangan otot- otot

laring intrinsic yaitu muskulus tireoepiglottikus dan muskulus aritenoideus

pada laring terdapat dua sfingter yaitu aditus laringis dan rima glottidis.

Page 11: anatomi gigi

Aditus laringis berfungsi hanya pada saat menelan. Ketika bolus makanan di

pindahkan kebelakang diantara lidah dan palatum lunak laring tertarik

keatas. Aditus laringis di persempit oleh kerja muskulus arytinoideus

obliqus dan muskulus oroepiglottikus. Bolus makanan atau cairan, kini

masuk ke esophagus dengan mengelincir di atas epiglottis atau turun lewat

alur pada sisi aditus laringis rima glottidis berfungsi sebagai sfingter pada

saat batuk atau bersin tetapi yang terpenting adalah epiglottis membantu

mencegah makanan agar sejauh mungkin dari pita suara, dimana akan

mempengaruhi tegangan pita suara pada waktu bicara (Evelyn, 1992).

2.3.2 Tahap-Tahap Mekanisme Penelanan Makanan

Penelanan makanan terbagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap volunter

atau tahap oral/bukal, tahap faringeal atau involunter dan tahap esophageal.

Setiap tahap ini umumnya melakukan gerak yang berkesinambungan dan

berlangsung dengan cepat (Andriyani, 2001).

a. Tahap Bukal atau Tahap Volunter

Setelah makanan dikunyah dan berbentuk bolus,pergerakan vertical

lidah akan mendorong bolus kea rah isthmus faucium. Isthmus faucium

merupakan daerah paling dorsal kavum oris yang dibatasi oleh palatum

bagian superior dan bagian inferior oleh radiks lidah. Pada waktu makanan

melewati isthmus faucium muskulus palatoglossus berkontraksi

menyempitkan isthmus faucium sehingga mencegah kembalinya makanan

ke dalam rongga mulut. Setelah makanan sampai pada orofaring dengan

diikuti oleh kontraksi muskulus levator dan muskulus tensor veli palatini

dibantu oleh muskulus palatofaringeus sehinggga menutup hubungan antara

nasofaring dan orofaring. Keadaan ini terjadi agar makanan tidak masuk ke

dalam nasofaring menuju hidung akan tetapi makanan akan terdorong ke

dalam orofaring (Andriyani, 2001).

Page 12: anatomi gigi

b. Tahap Faringeal atau Tahap Involunter

Pada tahap ini faring mulai berperan, yaitu muskulus stylofaringeus

dan muskulus palatofaringeus berkontraksi sehingga menarik faring kea rah

cranial yang memungkinkan makanan terdororng kea rah

laringofaring(Andriyani, 2001).

Pada saat bersamaan otot-otot laring yaitu muskulus aritenoideus

obliqus dan muskulus transversus serta muskulus krikoariteniodeus lateral

berkontraksi yang menyebabkan penyempitan aditus laringis. Kedua

kartilago aritenoidea pada saat ini berkontraksi, kemudian tertarik dan saling

mendekati sampai bertemu dengan epiglotis, rima glotidis tertutup sehingga

makanan tidak masuk kedalam laring tetapi berada dalam laringofaring

(Andriyani, 2001).

c. Tahap Esofageal

Pada tahap ini muskulus konstriktor faring berkontraksi bergantian

dari atske bawah mendorong bolus makanan ke bawah melewati laring.

Dengan terangkatnya laring dan relaksasi sfingter faringoesofageal, seluruh

otot-otot dinding faring berkontraksi. Makanan yang telah memasuki

esophagus akan dialirkan ke lambung melalui gerak peristaltic. Gerak

peristaltic esophagus ada dua tipe, yaitu: peristaltic primer dan peristaltic

sekunder. Gerak peristaltic primer merupakan gelombang peristaltik yang

mendorong makanan di faring menuju esophagus selama tahap faringeal.

Jika gelombang peristaltic primer gagal mendorong semua makanan yang

ada di esophagus ke lambung maka gelombang peristaltic sekunder yang

dihasilkan dari peregangan esophagus oleh makanan yang tertahan akan

mendorong sisa makanan ke lambung (Andriyani, 2001).

2.4 Sistem Pernapasan

Sistem pernapasan tersusun atas saluran pernafasan dan paru-paru

sebagai tempat pertukaran udara pernapasan. Pernafasan pada manusia

memerlukan saluran pernafasan dan paru-paru. Saluran pernafasan

berfungsi sebagai saluran udara masuk mennuju paru-paru dan keluar dari

Page 13: anatomi gigi

paru-paru. Paru-paru sebagai tempat pertukaran udara pernafasan yaitu:

oksigen dan kabondioksida. Saluran udara pernafasan tersusun atas: lubagn

hidung, rongga hidung, faring, laring, trakea, bronkus dan bronkeolus.

Lubang hidung sampai bronchiolus disebut pars konduktoria karena

fungsinya sebagai saluran udara repirasi. Secara lebih rinci bagian-bagian

saluran pernafasan dan fungsinya adalah sebagai berikut:

2.4.1 Laring (kotak suara)

Laring menghubungkan faring dengan trakea. Laring adalah tabung

pendek berbentuk seperti kotak triangular dan di topang oleh sembilan

kartilago; 3 berpasang dan 3 tidak berpasang.

1. kartilago tidak berpasang

a. kartilago tiroid (jakun), terletak di bagian proksimal kelenjar tiroid.

Biasanya berukuran lebih besar dan lebih menonjol pada laki-laki

akibta hormone yang di sekresi saat pubertas.

b. Kartilago krikoid adalah cincin anterior yang lebih kecil dan lebih

tebal, terletak di bawah kartilago tiroid.

c. Epiglotis adalah katup kartilago elastis yagn melekat pada tepian

anterior kartilago tiroid. Saat menelan, epiglottis secara otomatis

menutupi mulut laring untuk mencegah masuknya makanan dan

cairan.

2. kartilago berpasang

a. kartilago aritenoid, terletak diatas dan dikedua sisi kartilago krikoid.

Kartilago ini melekat pada pita suara sejati, yaitu lipatan berpasangan

dari epithelium squamosa bertingkat.

b. Kartilago kornikulata, melekat pada bagian ujung kartilago aritenoid.

c. Kartilago kuneiform, berupa batang-batang kecil yang membantu

menonpang jaringan lunak.

3. dua pasang lipatan lateral membagi rongga laring.

a. pasangan bagian atas adalah lipatan ventricular (pita suara semum)

yang tidak berfungsi saat produksi suara.

Page 14: anatomi gigi

b. Pasangan bagian bawah adalah pita suara sejati yang melekat pada

kartilago tiroid dan pada kartilago aritenoid serta kartilago krikoid.

Pembuka diantara kedua pita ini adalah glottis.

4. saat bernapas, pita suara terabduksi (tertarik membuka) oleh otot laring,

dan glotis berbbentuk triangular.

5. saat menelan, pita suara terakduksi (tertarik menutup), dan glotis

membentuk celah sempit.

6. dengan demikian, kontraksi otot rangka mengatur ukuran pembukaan

glotis dan derajat ketegangan pita suara yang diperlukan untuk produksi.

2.4.2 Organ Pernapasan

1. Hidung

Hidung atau naso atau nasal merupakan saluran udara yang

pertama, mempunyai dua lubang (cavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung

(septum nasi). Di dalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk

menyaring udara, debu dan kotoran yang masuk kedalam lubang hidung.

Hidung terdiri dari :

a. Bagian luar dinding hidung terdiri dari kulit

b. Lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan

c. Lapisan dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat

yang dinamakan karang hidung (konka nasalis), yang

berjumlah tiga buah yakni konka nasalis inferior (karang

hidung bagian bawah), konka nasalis media (karang hidung

bagian tengah), konka nasalis superior (karang hidung bagian

atas).

Diantara konka tersebut terdapat tiga buah lekukan meatus yaitu

meatus superior (lekukan bagian atas), meatus medialis (lekukan bagian

tengah) dan meatus inferior (lekukan bagian bawah). Meatus-meatus inilah

yang dilewati oleh udara pernapasan, sebelah dalam terdapat lubang yang

berhubungan dengan tekak, lubang ini disebuat koana. Dasar dari rongga

hidung dibentuk oleh tulang rahang atas, keatas rongga hidung berhubungan

Page 15: anatomi gigi

dengan beberapa rongga yang disebut sinus paranasalis, yaitu sinus

maksilaris pada rongga rahang atas, sinus frontalis pada rongga tulang dahi,

sinus sfenoidalis pada rongga tulang baji dan sinus etmoidalis pada rongga

tulang tapis (Syaifuddin, 2006).

2. Faring

Tekak atau faring merupakan tempat persimpangan antara jalan

pernapasan dan jalan makanan, terdapat di bawah dasar tengkorak,

dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher.

Hubungan faring dengan organ-organ lain: keatas berhubungan dengan

rongga hidung dengan perantaraan lubang yang bernama koana, kedepan

berhubungan dengan rongga mulut, tempat berhubungan ini bernama istmus

fausium, kebawah terdapat dua lubang, kedepan lubang laring, kebelakang

lubang esofagus. Dibawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga di

beberapa tempat terdapat folikel getah bening. Perkumpulan getah bening

ini dinamakan adenoid. Di sebelahnya terdapat dua buah tonsil kiri dan

kanan dari tekak. Disebelah belakang terdapat epiglotis, yang berfungsi

menutup laring pada waktu menelan makanan. Rongga tekak dibagi menjadi

tiga bagian yaitu:

1. Bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana disebut

nasofaring

2. Bagian tengah yang sama tingginya dengan istmus fausium

disebut orofaring

3. Bagian bawah sekali dinamakan laringofaring (Syaifuddin,

2006).

2.5 Gangguan Fungsi Stomatognasi

2.5.1 Disfagia

Penelanan abnormal atau yang sering disebut disfagia yaitu

keadaan dimana pasien mengalami kesulitan dalam menelan makanan.

Kesulitan menelan ada dua tahap, pertama, yaitu melewatkan bolus ke

Page 16: anatomi gigi

bagian belakang tenggorokan dan kedua, tahap mengawali refleks menelan

makanan. Disfagia yang terjadi setelah tahap mengawali refleks menelan

biasanya disebabkan oleh kelainan neuromuskular dan jarang terjadi, hal ini

karena adanya lesi di dalam laringofaring dan esophagus (Andriyani, 2001).

Beberapa penyebab lain terjadinya disfagia antara lain pernah

dilaporkan oleh Gankroger (1993), yaitu disfagia karena trauma akut benda

asing yang masuk ke dalam faring dan laring, disertai rasa sakit yang hebat

sehingga penderita mengalami kesulitan menelan makanan (Andriyani,

2001).

Schlie-phake dkk (1998) juga melaporkan bahwa pasien yang

mengalami operasi pengambilan karsinoma sel skuamosa di dasar mulut,

akan mengalami kesulitan dalam menggerakkan lidah Karen aperubahan

bentuk otot-otot lidah, selain itu juga akan mengalami perubahan kualitas

suara yaitu suara menjadi terdengar lebih besar dan lebih berat (Andriyani,

2001).

Gejala khas disfagia pada pasien seperti gejala sukar menelan

makanan atau penyakit lain perlu diwaspadai karena dalam

perkembangannya akan merusak fungsi otot-otot yang berperan dalam

peristiwa menelan. Oleh karena itu perlu dilakukan diagnosis yang tepat

penyebab keadaan ini agar diperoleh hasil perawatan yang sempurna tanpa

merusak otot-otot yang berperan dalam proses ini (Andriyani, 2001).

Disfagia pada karsinoma esophagus yang tidak dapat dioperasi

sering dapat dibantu dengan memasukkan sebuah pipa metal atau plastic

dengan bantuan sebuah endoskopi. Endoskopi yang sering dipakai adalah

endoskop fibreoptik, karena resiko untuk menimbulkan kerusakan mukosa

esophagus lebih rendah disbanding dengan endoskop tradisional yang besar

dan kaku (Andriyani, 2001).

Disfagia adalah keadaan terganggunya peristiwa deglutasi

(menelan). Keluhan ini akan timbul bila terdapat gangguan gerakan otot-

otot menelan dan gangguan transportasi makanan dari rongga mulut ke

Page 17: anatomi gigi

lambung. Disfagia umumnya merupakan gejala dari kelainan atau penyakit

di orofaring dan esophagus (Andriyani, 2001).

Manifestasi klinik yang sering ditemukan ialah sensasi makanan

yang tersangkut di daerah leher atau dada ketika menelan. Lokasi rasa

sumbatan di daerah dada dapat menunjukkan kelainan di esofagus bagian

torakal. Tetapi bila sumbatan berada di leher, kelainannya terletak di faring

atau esofagus bagian servikal (Andriyani, 2001).

Pembagian gejala dapat menjadi dua macam yaitu disfagia

orofaring dan disfagia esophagus. Gejala disfagia orofaringeal adalah

kesulitan mencoba menelan, tersedak atau menghirup air liur ke dalam paru-

paru saat menelan, batuk saat menelan, muntah cairan melalui hidung,

bernapas saat menelan makanan, suara lemah, dan berat badan menurun.

Sedangkan gejala disfagia esofagus adalah sensasi tekanan dalam dada

tengah, sensasi makanan yang menempel di tenggorokan atau dada, nyeri

dada, nyeri menelan, rasa terbakar di dada yang berlangsung kronis,

belching, dan sakit tenggorokan (Andriyani, 2001).

Disfagia juga dapat disertai dengan keluhan lainnya, seperti rasa

mual, muntah, regurgitasi, hematemesis, melena, anoreksia, hipersalivasi,

batuk, dan berat badan yang cepat berkurang (Andriyani, 2001).

Kesulitan menelan dapat terjadi pada semua kelompok usia, akibat

dari kelainan kongenital, kerusakan struktur, dan/atau kondisi medis

tertentu. Masalah dalam menelan merupakan keluhan yang umum didapat di

antara orang berusia lanjut. Oleh karena itu, insiden disfagia lebih tinggi

pada orang berusia lanjut dan juga pada pasien stroke. Kurang lebih 51-73%

pasien stroke menderita disfagia (Andriyani, 2001).

Berdasarkan penyebabnya, disfagia dibagi atas disfagia mekanik,

disfagia motorik, dan disfagia oleh gangguan emosi atau psikogenik.

Penyebab utama disfagia mekanik adalah sumbatan lumen esofagus oleh

massa tumor dan benda asing. Penyebab lain adalah akibat peradangan

mukosa esofagus, serta akibat penekanan lumen esofagus dari luar, misalnya

Page 18: anatomi gigi

oleh pembesaran kelenjar timus, kelenjar tiroid, kelenjar getah bening di

mediastinum, pembesaran jantung, dan elongasi aorta. Letak arteri subklavia

dekstra yang abnormal juga dapat menyebabkan disfagia, yang disebut

disfagia Lusoria. Disfagia mekanik timbul bila terjadi penyempitan lumen

esofagus. Pada keadaan normal, lumen esofagus orang dewasa dapat

meregang sampai 4 cm. Keluhan disfagia mulai timbul bila dilatasi ini tidak

mencapai diameter 2,5 cm (Andriyani, 2001).

Keluhan disfagia motorik disebabkan oleh kelainan neuromuscular

yang berperan dalam proses menelan. Lesi di pusat menelan di batang otak,

kelainan saraf otak n.V, n.VII, n.IX, n.X dan n.XII, kelumpuhan otot faring

dan lidah serta gangguan peristaltik esofagus dapat menyebabkan disfagia.

Kelainan otot polos esofagus akan menyebabkan gangguan kontraksi

dinding esofagus dan relaksasi sfingter esofagus bagian bawah, sehingga

dapat timbul keluhan disfagia. Penyebab utama dari disfagia motorik adalah

akalasia, spasme difus esofagus, kelumpuhan otot faring, dan scleroderma

esophagus (Andriyani, 2001).

Keluhan disfagia dapat juga timbul karena terdapat gangguan

emosi atau tekanan jiwa yang berat (factor psikogenik). Kelainan ini disebut

globus histerikus. Proses menelan merupakan proses yang kompleks. Setiap

unsur yang berperan dalam proses menelan harus bekerja secara terintegrasi

dan berkesinambungan. Keberhasilan mekanisme menelan ini tergantung

dari beberapa faktor yaitu ukuran bolus makanan, diameter lumen esofagus

yang dilalui bolus, kontraksi peristaltik esofagus, fungsi sfingter esofagus

bagian atas dan bagian bawah, dan kerja otot-otot rongga mulut dan lidah

(Andriyani, 2001).

Integrasi fungsional yang sempurna akan terjadi bila sistem

neuromuscular mulai dari susunan saraf pusat, batang otak, persarafan

sensorik dinding faring dan uvula, persarafan ekstrinsik esofagus serta

persarafan intrinsik otot-otot esofagus bekerja dengan baik sehingga

aktivitas motorik berjalan lancar. Kerusakan pada pusat menelan dapat

menyebabkan kegagalan aktivitas komponen orofaring, otot lurik esofagus,

Page 19: anatomi gigi

dan sfingter esofagus bagian atas. Oleh karena otot lurik esofagus dan

sfingter esofagus bagian atas juga mendapat persarafan dari inti motor

n.vagus, aktivitas peristaltik esofagus masih tampak pada kelainan otak.

Relaksasi sfingter esofagus bagian bawah terjadi akibat peregangan

langsung dinding esophagus (Andriyani, 2001).

Penyakit-penyakit yang memiliki gejala disfagia adalah antara lain

keganasan kepala-leher, penyakit neurologik progresif seperti penyakit

Parkinson, multiple sclerosis, atau amyotrophic lateral sclerosis,

scleroderma, achalasia, spasme esofagus difus, lower esophageal (Schatzki)

ring, striktur esofagus, dan keganasan esophagus (Andriyani, 2001).

2.5.2 Tersedak (chocking)

Tersedak adalah tersumbatnya trakea seseorang oleh benda asing,

muntah, darah atau cairan lain. Tersedak bisa terjadi jika sumber udara

tersumbat. Tersedak juga bisa terjadi jika adaya benda asing disaluran nafas

yang menghalangi udara masuk keparu-paru. Tersedak mungkin disebabkan

oleh kelainan otot-otot volunter dalam proses menelan khususnya pada klien

dengan penyakit-penyakit (otot rangka) atau persarafan yaitu penderita

adermatomiiositis, miastenia grafis, distrofi otot, polio, kelumpuhan

pseudobular dan kelainan otak dan sum-sum tulang belakang seperti

penyakit Parkinson dan sklerosis lateral amiotropik. Tersedak merupakan

salah satu gejala klini dari dispagia dan terjadi bila ada problem dari bagian

proses menelan, misalnya kelemahan otot pipi atau lidah yang menyebabkan

kesukaran untuk memindahkan makanan ke sekeliling mulut untuk

dikunyah. Makan yang ukurannya sangat besar utuk ditelan akan masuk ke

tenggorokkan dan menutup jalan nafas. Kedua, karena ketidak mampuan

untuk memulai reflek menelan yang merupakan suatu rangsangan sehingga

menyebabkan makanan dan cairan dapat melewati faring dengan aman,

seperti adanya gangguan stroke, atau gangguan syaraf lain sehingga terjadi

ketidakmampuan utnuk memulai gerakan otot yang dapat memindahkan

makanan-makan dari mulut ke lambung. Ketiga, kelemahan otot-otot faring

sehingga terjadi ketidak mampuan memindahkan keseluruhan makan ke

Page 20: anatomi gigi

lambung akibatnya sebagian makanan akan jatuh atau tertarik kedalam

saluran nafas (trakea) yang menyebabkan infeksi pada paru-paru (Arsyad,

2008).

Tersedak menyebabkan tersumbatnya saluran pernapasan di sekitar

tenggorokan (laring) atau saluran pernapasan (trakea). Aliran udara menuju

paru-paru pun terhambat sehingga aliran darah yang menuju otak dan organ

tubuh lain terputus. Karena itu perlu dilakukan tindakan pertama yang

efektif untuk menyelamatkan nyawa dengan tindakan Heimlich. Tersedak

biasanya terjadi karena makanan yang kurang dikunyah dengan baik

“memasuki saluran yang salah”. Bila keadaan ini tidak segera diatasi, bisa

berakibat fatal (Arsyad, 2008).

2.5.3 Bruksism

Bruksism adalah kebiasaan seseorang mengkerot-kerotkan giginya

atau menggertakkan gigi-geligi serta menekan kuat gigi-geligi tanpa fungsi.

Keadaan ini sering terjadi secara tidak sadar dan terutama pada malam hari

disaat sedang tidur. Keadaan ini akan menyebabkan bunyi gemerutuk gigi,

rasa capoai pada otot saat bangun pagi, rahanh terasa terkunci sehingga akan

merasakan rasa sakit pada daerah sendi rahang dan kecenderungan untuk

menggigit pipi, bibir atau lidah. Selain itu, gigi akan menjadi cepat aus

sehingga akan berpengaruh pada pengunyahan dan penelanan makanan

(Andriyani, 2001).

Page 21: anatomi gigi

BAB 3

KONSEP MAPPING

Sistem Stomatognathi

Mastikasi

Nasofaring Diofaring Larigofaring

Tidak normalNormal

Tersedak

Penanganan

Page 22: anatomi gigi

BAB 4

PEMBAHASAN

Sistem stomatognathi adalah sistem yang terintegrasi antar rahang.

Komponen sistem stomatognathi meliputi gigi-geligi beserta jaringan

pendukungnya, otot, persyarafan maupun persendian antara maksila dan

mandibula. Stomatognati dalam kedokteran gigi merupakan ilmu yang

mempertimbangkan hubungan antara gigi geligi, rahang, persendian

temporomandibula dan oklusi gigi. Yang termasuk dalam fungsi stomatognati

adalah pengunyahan, penelanan, pernapasan, dan berbicara

Pada sistem stomatognati, proses pengunyahan dan penelanan

merupakan suatu proses yang kompleks, melipatkan otot-otot, persendian

temporomandibula, gigi dan persyarafan. Koordinasi pergerakan mandibula dan

gigi berfungsi optimal, akan menghasilkan makanan yang berubah menjadi

konsistensi relatif halus yang disebut dengan bolus

Pengunyahan merupakan kegiatan penghancuran makanan atau

menggiling makanan dengan bantuan gigi geligi, berubah bentuk dan

konsistensinya menjadi bolus yang bercampur atau dibasahi saliva. Otot-otot

utama pengunyahan adalah muskulus masetter, muskulus temporalis, muskulus

pterygoideus lateralis dan muskulus pterygoideus medialis. Selain itu juga dibantu

oleh otot tambahan seperti muskulus mylohioideus, muskulus geniohyoideus,

muskulus stylohioideus, muskulus infra hyoideus, muskulus buccinators dan

labium oris. Otot-otot pengunyahan ini berkontraksi diikuti dengan gerakan

kondilus mandibula melewati melalui artikulasi temporomandibula. Gerakan

capitulum mandibula selama pengunyahan menghasilkan gerakan membuka

mandibula, gerakan memundurkan mandibula, gerakan mandibula kesamping kiri

dan kanan. Lidah juga berperan penting selama proses pengunyahan, berfungsi

membawa dan mempertahankan makanan diantara permukaan oklusal gigi geligi,

22

Page 23: anatomi gigi

serta berperan dalam mempertahankan kebersihan mulut yaitu untuk

menghilangkan debris makanan pada gingival, vestibulum dan dasar mulut.

Penelanan makanan merupakan aktivitas terkoordinasi yang

melibatkan otot-otot didalam mulut, otot palatum lunak yang bekerja secara

volunter, serta otot faring dan otot laring yang bekerja secara involunter. Pada

umumnya tahap-tahap penelanan makanan terdiri dari: tahap bukkal (volunter),

tahap faringeal (involunter) dan tahap esophageal. Selama proses penelanan

mungkin terjadi refleks seperti batuk, muntah ataupun menghisap. Secara

otomatis proses penelanan dijalankan oleh syaraf cranial yaitu syaraf trigeminal,

syaraf glossofaringeal, syaraf vagus dan syaraf hippoglossus.

Kelainan pada sistem stomatognasi seperti disfagia dan bruksism

dapat disebabkan karena kelainan neuromuskuler, trauma akut, benda asing dan

stress. Pada pasien disfagia kadang-kadang sukar menggerakkan lidah dan

mengalami perubahan kualitas suara, sedangkan pada bruksism menyebabkan otot

tegang dan kelainan neurologis seperti nyeri ataupun pusing.

Page 24: anatomi gigi

BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

a. Sistem mastikasi memiliki hubungan yang erat dengan sistem deglutasi.

Apabila mastikasi dilakukan dengan benar, penelanan juga akan menjadi

lancar karena makanan yang keras sudah menjadi bolus.

b. Komponen yang berperan dalam sistem mastikasi yakni gigi geligi,

kelenjar saliva, lidah, otot pengunyah, dan sendi temporomandibula.

c. Dalam sistem deglutasi, terdapat 3 jenis gangguan yakni chocking,

disfagia, dan bruksism.

5.2 Saran

Diharapkan setelah mengetahui peran gigi geligi pada sistem mastikasi,

mahasiswa FKG IIK Bhakti Wiyata dapat menjelaskan serta memahami

komponen dan mekanisme sistem mastikasi dan deglutasi.

Page 25: anatomi gigi

DAFTAR PUSTAKA

Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta. EGC

Anita andriyani : Aspek fisiologis pengunyahan dan penelanan pada system

stomagtonathi e-repository USU 2001

McDevitt, W.E. 2002. Anatomi Fungsional dari Sistem Pengunyahan. Jakarta :

EGC.

Syaifuddin.2003. Anatomi dan Fisiologi Untuk mahasiswa keperawatan.Jakarta :

EGC.

Thomson, Hamish. 2007. Oklusi. Jakarta : EGC.