Analisis Pencemaran Pesisir Oesapa

  • Published on
    07-Oct-2015

  • View
    10

  • Download
    1

DESCRIPTION

Lingkungan

Transcript

<ul><li><p>1 </p><p>BAB I </p><p>PENDAHULUAN </p><p>1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir merupakan wilayah yang penting tetapi rentan (vulnerable) terhadap </p><p>gangguan. Karena rentan terhadap gangguan wilayah ini mudah berubah, baik dalam skala </p><p>temporal maupun spasial. Perubahan di wilayah pesisir dipicu karena adanya berbagai </p><p>kegiatan seperti industri, perumahan, transportasi, pelabuhan, budidaya tambak, pertanian, </p><p>pariwisata dan berbagai aktivitas manusia lainnya. </p><p>Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi kepulauan yang terletak di </p><p>sebelah selatan wilayah Indonesia memiliki luas wilayah laut 200.000 km2 (di luar ZEEI) di </p><p>dalamnya memiliki sumberdaya kelautan dan perikanan yang dapat dikembangkan untuk </p><p>kepentingan masyarakat dengan mengoptimalisasikan pemanfaatan sumberdaya kelautan </p><p>dengan tetap mempertahankan daya dukung lingkungan pesisir dan laut bagi kepentingan </p><p>masyarakat serta menambah devisa bagi daerah NTT (Risamasu, 2014). </p><p>Kota Kupang adalah ibu kota provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia dan </p><p>merupakan kota yang terbesar di pesisir Teluk Kupang, di bagian barat laut pulau Timor. </p><p>Luas wilayahnya adalah 180,27 km dengan jumlah penduduk sekitar 450.000 jiwa (Anonim, </p><p>2012). Daerah ini terbagi menjadi 6 kecamatan dan 50 kelurahan. Dalam RPJMD Kota </p><p>Kupang sendiri pada tahun 2007 menyebutkan bahwa secara administrasi Kota Kupang </p><p>berfungsi sebagai pusat pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kota Kupang. Ini </p><p>menjadikan Kota Kupang sebagai pusat dari kegiatan perekonomian, pendidikan dan sektor </p><p>jasa yang memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat dari daerah-daerah lain khususnya di </p><p>wilayah Nusa Tenggara Timur. Salah satu wilayah kelurahan di Kota Kupang yang dianggap </p><p>strategis dalam kegiatan sosial ekonomi penduduk kota Kupang adalah Kelurahan Oesapa. </p><p>Wilayah pesisir Pantai Oesapa merupakan suatu kawasan yang termasuk dalam </p><p>lingkup kawasan Taman Wisata Alam Laut Teluk Kupang, dimana perairan pesisir dan </p><p>lautnya terdapat berbagai ekosistem seperti mangrove, padang lamun (seagrass), algae </p><p>(seaweed), pantai berpasir, pantai berbatu, estuari dan jenis ekosistem lainnya, beserta </p><p>berbagai jenis ikan, udang, moluska dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan untuk </p><p>meningkatkan pertumbuhan ekonomi kehidupan masyarakat setempat (Risamasu, 2010). </p><p>Kondisi lingkungan pemukiman masyarakat pesisir di Indonesia secara umum, </p><p>khususnya nelayan masih belum tertata dengan baik dan terkesan kumuh. Kondisi sosial </p><p>ekonomi masyarakatnya relatif berada dalam tingkat kesejahteraan rendah (Fahrudin, 2008). </p><p>Berdasarkan letak demografi kelurahan Oesapa sebagian besarnya terdiri dari wilayah pesisir </p><p>http://id.wikipedia.org/wiki/Ibu_kotahttp://id.wikipedia.org/wiki/Nusa_Tenggara_Timurhttp://id.wikipedia.org/wiki/Indonesiahttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Teluk_Kupang&amp;action=edit&amp;redlink=1http://id.wikipedia.org/wiki/Timorhttp://id.wikipedia.org/wiki/Kecamatanhttp://id.wikipedia.org/wiki/Kelurahan</p></li><li><p>2 </p><p>dimana masyarakat bertempat tinggal di pesisir bekerja sebagai nelayan dan menggantungkan </p><p>hidupnya pada hasil laut. Di Kelurahan Oesapa terdapat 542 KK dari 8 RT yang bermukim di </p><p>wilayah pesisir pantai (Anonim,2010). </p><p>Penelitian Baun (2008), menyatakan bahwa Sanitasi pemukiman pesisir di Kota </p><p>Kupang belum memadai, terjadinya pembuangan sampah organik dan anorganik ke pesisir </p><p>pantai yang dapat menyebabkan timbulnya polusi tanah, air dan udara. Masyarakat yang </p><p>berada di wilayah pesisir cenderung memanfaatkan pantai sebagai tempat pembuangan </p><p>kotoran atau sampah termasuk tinja. Pemukiman nelayan pantai di Kelurahan Oesapa </p><p>letaknya di kawasan daratan pantai, cenderung mengikuti tepian pantai sehingga terbentuk </p><p>pemukiman linear di sepanjang pantai. Kondisi permukiman pesisir Kelurahan Oesapa tidak </p><p>tertata dengan baik, konstruksi bangunannya semi permanent, serta ketersediaan </p><p>prasarananya tidak memadai dan kurangnya cakupan kepemilikan jamban. Selanjutnya Baun </p><p>menjelaskan bahwa, adanya pemukiman-pemukiman kumuh di kawasan pesisir Kota Kupang </p><p>termasuk di kelurahan Oesapa, yang tidak sesuai dengan syarat-syarat kesehatan merupakan </p><p>salah satu akibat dari pendapatan masyarakat pesisir yang rendah. Selain itu dipengaruhi juga </p><p>dengan rendahnya pendidikan, serta pengetahuan masyarakat di wilayah pesisir. </p><p>Pola pemanfaatan sumberdaya serta aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat </p><p>setempat khususnya masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir Pantai tidak lagi </p><p>memperhatikan azas kelestarian lingkungan karena terbentur dengan tekanan hidup yang </p><p>semakin hari semakin susah. Akibat dari banyaknya kegiatan yang dilakukan di wilayah </p><p>pesisir, maka kerusakan lingkungan pesisir dan lautpun semakin parah. Akibat dari pola </p><p>pemanfaatan yang kurang bijaksana ini maka diperkirakan akan memberikan dampak pada </p><p>terjadinya degradasi sumberdaya ikan dan ekosistem pesisir dan laut, kerusakan lingkungan </p><p>pesisir, penurunan produksi ikan dan banyak hal yang dirasakan saat ini (Risamasu, 2010). </p><p>Berdasarkan hal yang dipaparkan di atas, maka penulis terdorong untuk melakukan </p><p>analisis untuk mengetahui kondisi lingkungan kelurahan Oesapa sebagai salah satu wilayah </p><p>pesisir di kota Kupang agar pola pengembangan wilayah ini dapat dipikirkan dengan baik </p><p>untuk memenuhi kebutuhan sosial ekonomi masyarakat dengan memperhatikan kelestarian </p><p>dan daya dukung lingkungannya. </p><p>1.2 Rumusan Masalah Kelurahan Oesapa diketahui merupakan suatu kawasan yang termasuk dalam lingkup </p><p>kawasan Taman Wisata Alam Laut Teluk Kupang, dimana perairan pesisir dan lautnya </p><p>terdapat berbagai kekayaan keanekaragaman hayati yang secara langsung memberikan </p></li><li><p>3 </p><p>kontribusi besar dalam meningkatkan pertumbuhan kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya </p><p>kini telah digunakan sebagai areal untuk perkembangan pembangunan seperti pemukiman, </p><p>areal pasar dan lainnya yang dengan sendirinya dapat memicu kerusakan berbagai ekosistem </p><p>pesisir di dalamnya karena pembuangan sampah maupun limbah ke laut. Selain itu, dengan </p><p>meningkatnya kegiatan sosial ekonomi di wilayah itu akan memicu bertambahnya </p><p>pemukiman di sekitarnya yang memicu juga meningkatnya interaksi masyarakat dengan </p><p>alam, sehingga selain peningkatan limbah (tinja) manusia yang terlalu ke berdekatan ataupun </p><p>langsung ke arah laut, juga memicu pengrusakan ekosistem mangrove untuk dijadikan </p><p>sebagai kayu api dan kebutuhan lainnya. </p><p>Oleh karena itu, penulis mencoba merumuskan beberapa pokok permasalahan yang </p><p>dijadikan acuan dalam kegiatan kajian ini, antara lain: </p><p>1. Aktivitas apa saja yang dilakukan oleh masyarakat di wilayah pesisir Pantai Oesapa? </p><p>2. Dampak apa saja yang dapat ditimbulkan dari aktivitas masyarakat Pesisir Oesapa? </p><p>1.3 Tujuan Adapun tujuan dari penulisan laporan ini antara lain adalah: </p><p>1. Untuk mengetahui jenis kegiatan/aktivitas masyarakat di wilayah pesisir Oesapa. </p><p>2. Untuk mengetahui dampak dari aktivitas masyarakat di wilayah pesisir Oesapa. </p></li><li><p>4 </p><p>BAB II </p><p>TINJAUAN PUSTAKA </p><p>2.1 Penataan Ruang Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang udara, termasuk ruang </p><p>di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, </p><p>melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. (UU 26/2007 tentang penataan </p><p>Ruang. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan </p><p>ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. </p><p>Dalam Pasal 3 UU 26 tahun 2007 Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk </p><p>mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan </p><p>berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan: </p><p>a. terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan; </p><p>b. terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan </p><p>dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan </p><p>c. terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap </p><p>lingkungan akibat pemanfaatan ruang. </p><p>Dalam Pasal 6 (1) UU 26 tahun 2007 menyebutkan bahwwa penataan ruang </p><p>diselenggarakan dengan memperhatikan: </p><p>a. kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang rentan terhadap bencana; </p><p>b. potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan; kondisi </p><p>ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, pertahanan keamanan, lingkungan hidup, serta </p><p>ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai satu kesatuan; dan </p><p>c. geostrategi, geopolitik, dan geoekonomi. </p><p>2.2 Kawasan Pesisir Sorenson dan Mc. Creary dalam Clark (1996: 1) The part of the land affected by its </p><p>proximity to the landany area in which processes depending on the interaction between </p><p>land and sea are most intense. Diartikan bahwa daerah pesisir atau zone pesisir adalah </p><p>daerah intervensi atau daerah transisi yang merupakan bagian daratan yang dipengaruhi oleh </p><p>kedekatannya dengan daratan, dimana prosesnya bergantung pada interaksi antara daratan </p><p>dan lautan. </p><p>Ketchum dalam Kay dan Alder (1999: 2) The band of dry land adjancent ocean </p><p>space (water dan submerged land) in wich terrestrial processes and land uses directly affect </p><p>oceanic processes and uses, and vice versa. Diartikan bahwa wilayah pesisir adalah wilayah </p></li><li><p>5 </p><p>yang merupakan tanda atau batasan wilayah daratan dan wilayah perairan yang mana proses </p><p>kegiatan atau aktivitas bumi dan penggunaan lahan masih mempengaruhi proses dan fungsi </p><p>kelautan. </p><p>Pengertian wilayah pesisir menurut kesepakatan terakhir internasional adalah </p><p>merupakan wilayah peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang </p><p>masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang surut, dan ke arah laut meliputi daerah </p><p>paparan benua (continental shelf) (Beatley et al, dalam Dahuri, dkk, 2001: 9). </p><p>Menurut Suprihayono(2007: 14) wilayah pesisir adalah wilayah pertemuan antara </p><p>daratan dan laut ke arah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun </p><p>terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan </p><p>perembesan air asin. Sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang </p><p>masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air </p><p>tawar, maupun yang disebabkan karena kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan </p><p>dan pencemaran. </p><p>Menurut Soegiarto (Dahuri, dkk, 2001: 9) yang juga merupakan pengertian wilayah </p><p>pesisir yang dianut di Indonesia adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, dimana </p><p>wilayah pesisir ke arah darat meliputi daratan, baik kering maupun terendam air yang masih </p><p>dipengaruhi sifatsifat laut seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air asin, sedangkan </p><p>ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses </p><p>alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan </p><p>oleh kegiatan manusia di darat seperti pengundulan hutan dan pencemaran. </p><p>Dari pengertian-pengertian di atas dapat di tarik suatu kesimpulan bahwa wilayah </p><p>pesisir merupakan wilayah yang unik karena merupakan tempat percampuran antara daratan </p><p>dan lautan, hal ini berpengaruh terhadap kondisi fisik dimana pada umumnya daerah yang </p><p>berada di sekitar laut memiliki kontur yang relatif datar. Adanya kondisi seperti ini sangat </p><p>mendukung bagi wilayah pesisir dijadikan daerah yang potensial dalam pengembangan </p><p>wilayah keseluruhan. Hal ini menunjukan garis batas nyata wilayah pesisir tidak ada. Batas </p><p>wilayah pesisir hanyalah garis khayalan yang letaknya ditentukan oleh kondisi dan situasi </p><p>setempat. </p><p>Di daerah pesisir yang landai dengan sungai besar, garis batas ini dapat berada jauh </p><p>dari garis pantai. Sebaliknya di tempat yang berpantai curam dan langsung berbatasan dengan </p><p>laut dalam, wilayah pesisirnya akan sempit. Menurut UU No. 27 Tahun 2007 Tentang, </p><p>batasan wilayah pesisir, kearah daratan mencakup wilayah administrasi daratan dan kearah </p></li><li><p>6 </p><p>perairan laut sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau </p><p>kearah perairan kepulauan. </p><p>2.3 Penggunaan Lahan Kawasan Pesisir Penggunaan lahan dalam arti ruang merupakan cerminan dari produk aktivitas ekonomi </p><p>masyarakat serta interaksinya secara ruang dan waktu. Dinamika perubahan penggunaan </p><p>lahan sangat dipengaruhi oleh faktor manusia seperti pertumbuhan penduduk (jumlah dan </p><p>distribusinya), pertumbuhan ekonomi dan juga dipengaruhi oleh faktor fisik seperti topografi, </p><p>jenis tanah, dan iklim (Skole dan Tucker dalam Rais, 2004: 157). </p><p>Key dan Alder (1998: 25) membagi penggunaan lahan pesisir menjadi beberapa </p><p>fungsi yaitu : </p><p>1. Eksploitasi Sumber daya (perikanan, hutan, gas dan minyak serta pertambangan). </p><p>2. Sumber daya pesisir yang dapat diperbaharui adalah eksploitasi primer dalam sektor </p><p>perikanan komersial, penghidupan, dan rekreasi perikanan serta industry budidaya air. </p><p>Sedangkan yang dapat diperbaharui adalah minyak dan pertambangan. </p><p>3. Infrastruktur (transportasi, pelabuhan sungai, pelabuhan laut, pertahanan, dan program </p><p>perlindungan garis pantai) </p><p>4. Pembangunan infrastruktur utama di pesisir meliputi : Pelabuhan sungai dan laut, fasilitas </p><p>yang mendukung untuk operasional dari sistem transportasi yang bermacam-macam, jalan </p><p>dan jembatan serta instalasi pertahanan. </p><p>5. Pariwisata dan Rekreasi. Berkembangnya pariwisata merupakan sumber potensial bagi </p><p>pendapatan negara karena potensi pariwisata banyak menarik turis untuk berkunjung </p><p>sehingga dalam pengembangannya memerlukan faktor-faktor pariwisata yang secara </p><p>langsung berdampak pada penggunaan lahan. </p><p>6. Konservasi alam dan Perlindungan Sumber Daya Alam. Hanya sedikit sumber daya alam </p><p>di pesisir yang dikembangkan untuk melindungi kawasan pesisir tersebut (Konservasi </p><p>area sedikit). </p><p>Kegiatan pembangunan yang banyak dilakukan di kawasan pesisir menurut Dahuri et </p><p>al (2001: 122) adalah </p><p>a. Pembangunan kawasan permukiman. </p><p>Sejalan dengan semakin meningkatnya kebutuhan penduduk akan fasilitas tempat tinggal. </p><p>Namun pengembangan kawasan permukiman dilakukan hanyamdengan </p><p>mempertimbangkan kepentingan jangka pendek tanpa memperhatikan kelestarian </p><p>lingkungan untuk masa mendatang. Dengan adanya pengembangan kawasan permukiman </p></li><li><p>7 </p><p>ini, dampak lain yang mungkin timbul adalah pencemaran perairan oleh limbah rumah </p><p>tangga. </p><p>b. Kegiatan Industri </p><p>Pembangunan kawasan industri di kawasan pesisir pada dasarnya ditujukan untuk </p><p>meningkatkan atau memperkokoh program industrialisasi dalam rangka mengantisipasi </p><p>pergeseran struktur ekonomi nasional dari dominan primary based industri </p><p>menuju secondary based industri dan tertiary based industri, menyediakan kawasan </p><p>industri yang memiliki akses yang baik terhadap bahan baku, air untuk proses produksi </p><p>dan pembuangan limbah dan transportasi untuk produksi maupun bahan baku. </p><p>c. Kegiatan rekreasi dan pariwisata bahari </p><p>Hal ini sekalian bertujuan untuk menciptakan kawasan lindung bagi biota yang hidup </p><p>pada ekosistem laut dalam cakupan pesisir. </p><p>d. Konversi hutan menjadi lahan pertambakan tanpa memperhatikan terganggunya fungsi </p><p>ekologis hutan mangrove terhadap lingkungan fisik biologis. </p></li><li><p>8 </p><p>BAB III </p><p>MET...</p></li></ul>