Analisis Jurnal Komunitas Fix

  • View
    732

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Analisis Jurnal Komunitas Fix

RESIKO PENGGUNAAN PIL KONTRASEPSI KOMBINASI TERHADAP KEJADIAN KANKER PAYUDARA PADA RESEPTOR KB DI PERJAN RS DR. CIPTO MANGUNKUSUMO

BAB I1 LAPORAN ANALISIS JURNAL | PSIK FK UNUD SEMESTER IV SGD 8

PENDAHULUANA. LATAR BELAKANG Menurut survei, Indonesia merupakan Negara terbesar keempat di dunia dalam hal jumlah penduduk. Dan permasalahan yang sangat menonjol adalah jumlah penduduk yang semakin meningkat, penyebaran penduduk yang tidak merata dan kualitas penduduk yang masih rendah. Salah satu cara untuk menekan pertumbuhan penduduk adalah dengan jalan mengurangi jumlah kelahiran. Upaya pemerintah mengendalikan kelahiran tersebut adalah melalui Program Gerakan Keluarga Berancana Nasional. Keluarga Berencana (KB) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga dan peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Langkah kebijakan pembangunan Keluarga Berencana diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk dan meningkatkan keluarga kecil berkualitas, dengan mengendalikan tingkat kelahiran penduduk melalui upaya memaksimalkan akses dan kualitas pelayanan KB, terutama bagi keluarga miskin dan rentan serta daerah terpencil, meningkatkan komunikasi, informasi, dan edukasi bagi pasangan usia subur tentang kesehatan reproduksi, serta melindungi peserta keluarga berencana dari dampak negatif pengguna alat dan obat kontrasepsi, misalnya resiko terjadinya kanker payudara. Saat ini belum ditemukan data yang pasti yang menjadi faktor penyebab utama penyakit kanker payudara. Akan tetapi, sampai saat ini terjadinya kanker payudara diduga akibat interaksi yang rumit dari banyak faktor seperti faktor genetika, lingkungan dan hormonal yaitu kadar hormon estrogen dalam tubuh yang berlebihan. Pertumbuhan jaringan payudara sangat sensitif terhadap estrogen maka wanita yang terpapar estrogen dalam waktu yang panjang akan memiliki risiko yang besar terhadap kanker payudara. Di Indonesia penggunaan hormon sebagai alat kontrasepsi sudah populer dalam masyarakat. Pemakai kontrasepsi hormonal terbanyak adalah jenis suntikan dan pil. Menurut survey, kontrasepsi oral (pil) yang paling banyak digunakan yaitu kombinasi estrogen dan progestin. Sehingga kontrasepsi oral (pil) sebagai faktor yang meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara menjadi perhatian dan kontroversi dunia kesehatan saat ini. Jumlah2 LAPORAN ANALISIS JURNAL | PSIK FK UNUD SEMESTER IV SGD 8

pengguna kontrasepsi oral dan penderita kanker payudara terus meningkat tiap tahunnya di seluruh dunia, sehingga penelitian tentang risiko kanker payudara dalam penggunaan kontrasepsi oral menjadi sangat penting untuk dilakukan.

BAB II

3

LAPORAN ANALISIS JURNAL | PSIK FK UNUD SEMESTER IV SGD 8

TINJAUAN PUSTAKA1. Pil KB 1.1 Definisi Pil KB adalah sekelompok pil yang mengandung progesteron dan kerap digabung dengan estrogen. Pil ini dikonsumsi oleh wanita untuk mencegah kehamilan. Kontrasepsi dengan menggunakan pil KB seringkali menjadi pilihan bagi ibu-ibu rumah tangga. Dibandingkan dengan kontrasepsi kondom ataupun IUD, pil KB relatif lebih mudah digunakan dan nyaman. 1.2 Jenis Terdapat dua jenis pil KB, yaitu yang diminum tiap hari secara teratur, dan jenis yang digunakan sesudah berhubungan seksual. Dari jenis pil KB tersebut, yang paling efektif adalah pil KB yang diminum teratur tiap hari. Hormon yang umumnya terkandung dalam pil KB adalah hormon estrogen dan progestin. Fungsi utama dari hormon progestin adalah sebagai pengental cairan / lendir yang berada pada mulut rahim. Dengan mengentalnya lendir tersebut maka sperma akan susah memasuki rahim dan menghambat terjadinya pembuahan. Sedangkan hormon estrogen mempunyai fungsi utama menghambat pemasakan sel telur dan menghambat terjadinya ovulasi. Biasanya pil KB yang beredar bisa terdiri dari hormon estrogen atau progestein saja, bisa pula terdiri dari kombinasi keduanya. Adapun jenis jenis pil KB, yaitu : Pil KB kombinasi (Combined Oral Contraceptives = COC) Mengandung 2 jenis

hormon wanita yaitu estrogen dan progesteron. Salah satu jenis pil KB kombinasi ialah pil KB yang mengandung Levonorgestrel (suatu hormon progestan) dan Etinil Estradiol (suatu estrogen). Keduanya bekerja secara sinergis dalam mencegah kehamilan. Sesuai dengan aksinya masing-masing kedua kombinasi hormon ini jika digunakan secara tepat dan teratur dapat mencegah kehamilan hampir 100%. Jenis pil kombinasi atau combination oral contraceptive pill antara lain: 1. Monofasik.

4

LAPORAN ANALISIS JURNAL | PSIK FK UNUD SEMESTER IV SGD 8

Monofasik adalah pil kombinasi yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen dan progesteron dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. 2. Bifasik. Bifasik adalah pil kombinasi yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen dan progesteron dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. 3. Trifasik. Trifasik adalah pil kombinasi yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen dan progesteron dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. Pil KB progesteron (Mini pill = Progesterone Only Pill = POP) hanya berisi

progesteron, bekerja dengan mengentalkan cairan leher rahim dan membuat kondisi rahim tidak menguntungkan bagi hasil pembuahan. Jenis-Jenis Pil Menurut Kandungan Hormon Estrogennya Adalah : 1. Pil dosis tinggi ( High Dose ) : Berisi 50 mcg Adalah yang mengandung estrogen 50 150 mcg dan progesteron 1 10 Mg. Yang termasuk jenis ini adalah : Pil KB Noriday ( dari Population Council ) Pil KB Kimia Farma Pil KB Ovostat ( PT Organon )

2. Pil Dosis rendah ( Low Dose ) : Berisi 30 mcg. Adalah pil yang mengadung 30 50 mcg estrogen dan kuran gdari 1 mg progesteron. Yang termasuk jenis ini adalah : 3. Pil KB Microgynon 30 ( PT Schering ) Pil KB Marvelon (PT Organon ). Pil Mini :

Adalah pil yang mengandung hormon progesteron sebesar kurang dari 1 mg. Yang termasuk jenis ini adalah Pil KB exluton.5 LAPORAN ANALISIS JURNAL | PSIK FK UNUD SEMESTER IV SGD 8

1.3 Mekanisme Mekanisme kerja obat ini adalah dengan cara menghambat ovulasi melalui penurunan frekuensi sinyal hormon GnRH (gonadotropin-releasing hormone) oleh hipotalamus. Hal ini akan mengakibatkan menurunnya pelepasan hormon FSH (follicle-stimulating hormone) dan LH (luteinizing hormone). Efek ini terutama disebabkan oleh progestogen. Sedangkan estrogen berperan dalam menstabilkan endometrium dengan harapan mengurangi pendarahan, serta membantu menghambat ovulasi. Mekanisme kerja sekunder dari semua golongan obat yang mengandung progestagen adalah penghambatan penetrasi sperma dari leher (serviks) rahim menuju ke saluran kelamin yang lebih atas (uterus dan tuba falopi) dengan cara meningkatkan viskositas (kekentalan) lendir di serviks. 1.4 Indikasi dan Kontra Indikasi Indikasi : Pada prinsipnya hampir semua wanita yang ingin menggunakan pil kombinasi diperbolehkan, seperti : Wanita dalam usia reproduksi. Wanita yang telah atau belum memiki anak. Wanita yang gemuk atau kurus. Wanita setelah melahirkan dan tidak menyusui. Wanita yang menginginkan metode kontrasepsi dengan efektifitas tinggi. Wanita pasca keguguran/abortus. Wanita dengan perdarahan haid berlebihan sehingga menyebabkan anemia. Wanita dengan siklus haid tidak teratur. Wanita dengan nyeri haid hebat, riwayat kehamilan ektopik, kelainan payudara jinak. Wanita dengan diabetus melitus tanpa komplikasi pada ginjal, pembuluh darah, mata dan saraf. Wanita dengan penyakit tiroid, penyakit radang panggul, endometriosis atau tumor jinak ovarium.6 LAPORAN ANALISIS JURNAL | PSIK FK UNUD SEMESTER IV SGD 8

Wanita yang menderita tuberkulosis pasif. Wanita dengan varises vena. Kontraindikasi Kriteria yang tidak dapat menggunakan pil kombinasi terbagi dalam : 1. Kontra indikasi absolut. Yang termasuk dalam kontra indikasi absolut antara lain: tromboplebitis atau tromboemboli, riwayat tromboplebitis atau tromboemboli, kelainan serebrovaskuler atau penyakit jantung koroner, diketahui atau diduga karsinoma mammae, diketahui atau diduga karsinoma endometrium, diketahui atau diduga neoplasma yang tergantung estrogen, perdarahan abnormal genetalia yang tidak diketahui penyebabnya, adenoma hepar, karsinoma atau tumor-tumor jinak hepar, diketahui atau diduga hamil, gangguan fungsi hati, tumor hati yang ada sebelum pemakaian pil kontrasepsi atau produk lain yang mengandung estrogen. 2. Kontra indikasi relatif. Yang termasuk dalam kontra indikasi relatif antara lain: sakit kepala (migrain), disfungsi jantung atau ginjal, diabetes gestasional atau pre diabetes, hipertensi, depresi, varises, umur lebih 35 tahun, perokok berat, fase akut mononukleosis, penyakit sickle cell, asma, kolestasis selama kehamilan, hepatitis atau mononukleosis tahun lalu, riwayat keluarga (orang tua, saudara) yang terkena penyakit reumatik yang fatal atau tidak fatal atau menderita DM sebelum usia 50 tahun, kolitis ulseratif. Selain itu, kriteria lain yang tidak dapat menggunakan pil kombinasi adalah: 1. Wanita yang tidak dapat disiplin minum pil setiap hari. 2. Wanita yang dicurigai hamil atau hamil. 3. Wanita yang menyusui secara eksklusif.

1.5 Keunggulan dan Kelemahan

7

LAPORAN ANALISIS JURNAL | PSIK FK UNUD SEMESTER IV SGD 8

Keunggulan penggunaan pil KB adalah bahwa kewajaran hubungan seks tidak terganggu selain memang mencegah kehamilan. Rupanya pil yang berisi estrogen melindungi rahim, indung telur terhadap serangan kanker, demikian pula mencegah timbulnya kista indung telur dan endometriosis,serta anemia karena kekurangan zat besi. Selain itu datang bulan menjadi lebih teratur,lebih ringan dan bebas dari rasa sakit. Kelemahan utama adalah tidak semua wanita cocok menggunakan pil KB dan kadang kadang pil KB menimbulkan akibat sampin