100
ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN DI PT DYSTAR COLOURS INDONESIA Oleh DODY SAPUTRA H24086014 PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012

ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

(K3) TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN DI

PT DYSTAR COLOURS INDONESIA

Oleh

DODY SAPUTRA

H24086014

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

Page 2: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

(K3) TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN DI

PT DYSTAR COLOURS INDONESIA

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA EKONOMI

pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen

Departemen Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Oleh :

DODY SAPUTRA

H24086014

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

Page 3: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

Judul Skripsi : Analisis Hubungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Di PT DyStar Colours

Indonesia

Nama : Dody Saputra

NIM : H24086014

Menyetujui

Pembimbing,

(Erlin Trisyulianti, STP, M.Si)

NIP: 197307121997022001

Mengetahui

Ketua Departemen,

(Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc)

NIP: 196101231986011002

Tanggal Lulus :

Page 4: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

RINGKASAN

DODY SAPUTRA. H24086014. Analisis Hubungan Keselamatan dan Kesehatan

Kerja (K3) Terhadap Kepuasan Kerja karyawan di PT. DyStar Colours Indonesia.

Di bawah bimbingan ERLIN TRISYULIANTI.

PT. DyStar Colours Indonesia (DCI) sebagai perusahaan kimia

multinasional terkemuka di Indonesia merupakan perusahaan yang bersifat

industri yang bergerak di bidang produksi zat warna reaktif. PT. DCI menerapkan

program K3 karena perusahaan menyadari bahwa setiap karyawan berhak untuk

mendapatkan jaminan keselamatan dan kesehatan kerja. Perlindungan tenaga kerja

dari bahaya dan penyakit akibat kerja atau lingkungan kerja sangat dibutuhkan

oleh karyawan agar karyawan merasa aman dan nyaman dalam menyelesaikan

pekerjaannya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan

untuk dapat bekerja sebaik mungkin dan juga dapat mendukung keberhasilan

bisnis perusahaan dalam membangun dan membesarkan usahanya. Tujuan dari

penelitian ini adalah untuk (1) Menganalisis persepsi karyawan terhadap K3 di

PT. DyStar Colours Indonesia, (2) Menganalisis persepsi karyawan terhadap

kepuasan kerja karyawan di PT. DyStar Colours Indonesia, (3) Menganalisis

hubungan K3 terhadap kepuasan kerja karyawan di PT. DyStar Colours Indonesia.

Penelitian dilakukan di PT. DyStar Colours Indonesia, dengan sumber data

primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan

113 responden, dimana pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mengacu pada

kuesioner dan data sekunder berasal dari studi pustaka dan referensi lainnya

seperti hasil penelitian terdahulu maupun internet. Analisis menggunakan korelasi

Rank Spearman dengan alat pengolahan data SPSS versi 16.0

Secara umum penerapan program K3 dan tingkat kepuasan kerja karyawan

di PT. DyStar Colours Indonesia sudah dilaksanakan dengan baik oleh karyawan,

ditunjukkan nilai rataan skor 4,41 (posisi keputusan sangat baik) untuk program

K3 dan nilai rataan skor 4,26 (posisi keputusan baik) untuk kepuasan kerja

karyawan. Program K3 yang diterapkan adalah pelatihan keselamatan, publikasi

keselamatan kerja, kontrol lingkungan kerja, inspeksi dan disiplin serta

peningkatan kesadaran K3. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi

kepuasan kerja karyawan adalah kebijakan perusahaan, supervisi, hubungan

interpersonal, kondisi kerja, serta gaji dan tunjangan. Berdasarkan hasil pengujian

Rank Spearman diketahui bahwa hubungan K3 terhadap kepuasan kerja karyawan

memiliki hubungan positif, kuat dan nyata dengan koefisien korelasi sebesar

0,545 dan derajat keeratan hubungan berada pada kategori kuat. Nilai korelasi

Rank Spearman untuk faktor K3 yang berhubungan terhadap kepuasan kerja

karyawan adalah pelatihan keselamatan (0,100), publikasi keselamatan kerja

(0,416), kontrol lingkungan kerja (0,332), inspeksi dan disiplin (0,413) serta

peningkatan kesadaran K3 (0,495).

Page 5: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

IV

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Jakarta, pada tanggal 25 Januari 1985 merupakan anak

pertama dari dua bersaudara pasangan S. Fahmi Lubis dan Lely Adriani Batubara.

Penulis menjalani pendidikan Sekolah Dasar di SDN 015 Hangtuah Dumai Timur

dari tahun 1991-1997, kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Lanjutan

Tingkat Pertama Negeri (SLTPN) 1 Kotanopan Mandailing Natal dan lulus tahun

2000. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan ke Sekolah Menengah Umum

Negeri (SMUN) 1 Kotanopan Mandailing Natal.

Tahun 2004 penulis melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di

Program Studi Diploma III Teknologi Informasi Kelautan, Fakultas Perikanan dan

Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada tahun 2008 penulis

melanjutkan kepada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen Penyelenggaraan,

Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB.

Page 6: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

V

KATA PENGANTAR

Segala puji senantiasa dipanjatkan ke khadirat Allah SWT yang telah

memberikan Rahmat dan Karunia-Nya kepada penulis, sehingga dapat

menyelesaikan skripsi berjudul “Analisis Hubungan Keselamatan dan Kesehatan

Kerja (K3) Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Di PT DyStar Colours

Indonesia”, sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian

Bogor.

Segala upaya dan kerja yang optimal telah dilakukan dalam penyusunan

skripsi ini, kendati demikian saran dan kritik sangat diharapkan untuk

membangun skripsi ke arah yang lebih baik. Akhir kata dengan segala

kerendahan hati semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pihak terkait

khususnya dan pembaca pada umumnya.

Bogor, Maret 2012

Dody Saputra

NIM. H24086014

Page 7: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

VI

UCAPAN TERIMA KASIH

Penyusunan skripsi ini banyak dibantu oleh berbagai pihak, baik secara

moril maupu materiil. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. Kedua Orang Tua tercinta atas segala doa, perhatian dan kasih sayang tulus

yang selalu mengiringi langkah penulis serta untuk adikku Deby Veronika

Lubis dan seluruh keluarga besar di Jakarta dan Kotanopan atas dukungan

dan dorongan motivasinya.

2. Ibu Erlin Trisyulianti, STP, M.Si sebagai dosen pembimbing yang telah

banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, saran, motivasi

dan pengarahan kepada penulis.

3. Ibu Lindawati Kartika, SE, M.Si dan Bapak Ir. Pramono D Fewidarto, MS

yang bersedia meluangkan waktunya sebagai dosen penguji atas

kesediaannya menguji, memberikan saran, serta masukan kepada penulis.

4. Seluruh pegawai PT. DyStar Colours Indonesia yang telah memberikan

bantuan dalam pelaksanaan penelitian di PT. DyStar Colours Indonesia.

5. Seluruh dosen, staf dan pengurus Program Sarjana Alih Jenis Manajemen,

Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB atas ilmu

serta bantuannya.

6. Bang Agus Sayuti dan keluarga yang telah bersedia meluangkan waktunya

dan membantu serta memberi dukungan kepada penulis.

7. Teman-teman satu bimbingan Bang Poltak, Wira, Dine. Terima kasih atas

semua bantuan dan dukungannya.

8. Teman-teman di Ekstensi Manajemen Angkatan 4 yang selalu bersama-sama

membuat kenangan indah selama kuliah.

9. Fithriani Batubara, Yeni Agustin Harahap, Ahmad Pangidoan Lubis, Ahmad

Zaini Nasution dan Zulham Habibi Lubis serta teman-teman OMDA

IMATAPSEL BOGOR atas semua bantuan dan dukungannya selama ini.

10. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini. Semoga

Allah SWT memberikan pahala atas kebaikannya.

Page 8: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

VII

Skripsi ini masih banyak kekurangannya, maka kritik dan saran

konstruktif diperlukan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kemaslahatan umat

dan bernilai ibadah dalam pandangan ALLAH SWT. Amien.

Bogor, 06 Maret 2012

Penulis

Page 9: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

VIII

DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN

RIWAYAT HIDUP ..................................................................................... iv

KATA PENGANTAR ................................................................................. v

UCAPAN TERIMA KASIH ....................................................................... vi

DAFTAR ISI .............................................................................................. viii

DAFTAR TABEL ....................................................................................... xi

DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xii

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xiii

I PENDAHULUAN ................................................................................. 1

1.1. Latar Belakang ................................................................................ 1

1.2. Perumusan Masalah ......................................................................... 3

1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................ 4

1.4. Manfaat Penelitian .......................................................................... 4

1.5. Ruang Lingkup Penelitian .............................................................. 5

II TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 6

2.1. Manajemen Sumber Daya Manusia ................................................ 6

2.2. Kecelakaan ..................................................................................... 6

2.2.1 Definisi Kecelakaan .............................................................. 6

2.2.2 Faktor-faktor Kecelakaan ...................................................... 7

2.3. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) .......................................... 10

2.3.1 Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja ........................... 10

2.3.2 Tujuan Keselamatan dan Keselamatan Kerja ......................... 11

2.3.3 Manfaat K3 ........................................................................... 12

2.3.4 Usaha-usaha dalam Meningkatkan K3 ................................. 12

2.3.5 Sistem Manajemen K3 .......................................................... 13

2.3.6 Aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja.............................. 15

2.3.7 Landasan Hukum K3 ............................................................ 17

2.4. Kepuasan Kerja ............................................................................. 18

2.4.1 Definisi Kepuasan Kerja ....................................................... 18

2.4.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja .............. 19

2.4.3 Teori tentang Kepuasan Kerja .............................................. 21

2.4.4 Variabel-variabel Kepuasan Kerja ......................................... 24

2.5. Hasil Penelitian Terdahulu ............................................................. 25

III METODE PENELITIAN ................................................................... 28

3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual ..................................................... 28

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional .................................................... 29

3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian .......................................................... 31

Page 10: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

IX

3.4. Metode Penelitian ........................................................................... 31

3.4.1 Jenis dan Teknik Pengumpulan Data .................................... 31

3.4.2 Teknik Penarikan Sampel .................................................... 33

3.4.3 Uji Validitas ........................................................................ 33

3.4.4 Uji Reliabilitas ..................................................................... 34

3.5. Teknik Analisis Data ...................................................................... 35

3.5.1 Uji Korelasi Rank Spearman ................................................ 36

IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 39

4.1. Gambaran Umum Perusahaan ......................................................... 39

4.1.1 Sejarah Perusahaan .............................................................. 39

4.1.2 Struktur Organisasi .............................................................. 40

4.1.3 Peraturan Perusahaan ........................................................... 42

4.1.4 Standar dan Prosedur Perusahaan ......................................... 42

4.1.5 Ketenagakerjaan .................................................................. 43

4.2. Penerapan K3 ................................................................................ 43

4.3. Evaluasi K3 ................................................................................... 46

4.4. Karakteristik Responden ................................................................. 46

4.4.1 Jenis Kelamin ...................................................................... 46

4.4.2 Usia ..................................................................................... 47

4.4.3 Tingkat Pendidikan .............................................................. 48

4.4.4 Masa Kerja .......................................................................... 49

4.5. Hasil Perhitungan Uji Validitas dan Reliabilitas ............................. 50

4.5.1 Uji Validitas ........................................................................ 50

4.5.2 Uji Reliabilitas ..................................................................... 51

4.6. Analisis K3..................................................................................... 51

4.7. Analisis Kepuasan Kerja Karyawan ............................................... 59

4.8. Analisis Hubungan K3 terhadap Kepuasan Kerja Karyawan .......... 65

4.9. Implikasi Manajerial ...................................................................... 67

KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 70

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 72

LAMPIRAN ............................................................................................... 73

Page 11: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

X

DAFTAR TABEL

No Halaman

1. Data Kecelakaan Kerja PT DyStar Colours Indonesia ............................ 2

2. Skala pengukuran yang digunakan ......................................................... 35

3. Posisi keputusan penilaian ...................................................................... 36

4. Rentang keeratan hubungan nilai r ......................................................... 38

5. Jadwal shift ............................................................................................ 43

6. Karakteristik responden ......................................................................... 50

7. Hasil jawaban responden mengenai pelatihan keselamatan .................... 52

8. Hasil jawaban responden mengenai publikasi keselamatan kerja ........... 53

9. Hasil jawaban responden mengenai kontrol lingkungan kerja ................ 54

10. Hasil jawaban responden mengenai inspeksi dan disiplin ...................... 56

11. Hasil jawaban responden mengenai peningkatan kesadaran K3 ............. 57

12. Faktor-faktor K3 PT DyStar Colours Indonesia ..................................... 58

13. Hasil jawaban responden mengenai kebijakan perusahaan ..................... 59

14. Hasil jawaban responden mengenai supervisi ........................................ 60

15. Hasil jawaban responden mengenai hubungan interpersonal .................. 62

16. Hasil jawaban responden mengenai kondisi kerja .................................. 63

17. Hasil jawaban responden mengenai gaji dan tunjangan .......................... 64

18. Kepuasan kerja karyawan PT DyStar Colours Indonesia ....................... 65

19. Hubungan faktor-faktor K3 terhadap kepuasan kerja ............................. 66

Page 12: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

XI

DAFTAR GAMBAR

No Halaman

1. Kerangka pemikiran konseptual ............................................................. 30

2. Kerangka pemikiran operasional ............................................................ 32

3. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin ................................. 47

4. Karakteristik responden berdasarkan usia ............................................... 48

5. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan ........................ 49

6. Karakteristik responden berdasarkan masa kerja ..................................... 49

Page 13: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

XII

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman

1. Kuesioner penelitian ............................................................................. 74

2. Struktur Organisasi PT. DCI ................................................................. 80

3. Hasil uji validitas dan reliabilitas ........................................................... 81

4. Hasil uji rank spearman ........................................................................ 84

Page 14: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Di era globalisasi ini persaingan industri yang semakin kompetitif

menuntut perusahaan untuk mengoptimalkan seluruh sumber daya yang

dimiliki dalam menghasilkan produk berkualitas tinggi agar dapat bertahan

dalam persaingan dengan perusahaan lain. Oleh karena itu, dibutuhkan

sumber daya manusia dalam pengertian tenaga kerja yang handal dan

tangguh dalam menunjang bisnis perusahaan sehingga dapat bersaing

dengan perusahaan lain.

Sumber daya manusia sebagai tenaga kerja tidak terlepas dari

masalah-masalah yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan

sewaktu bekerja yang langsung berhubungan dengan peralatan dan mesin

untuk menunjang proses produksi. Penggunaan berbagai alat dan mesin ini

menyebabkan karyawan tidak akan terlepas dari resiko yang menyangkut

keselamatan dan kesehatan kerja. Resiko ini dapat menimpa tenaga kerja

kapan dan dimana saja, sehingga membutuhkan perhatian khusus dari

berbagai pihak yang berkaitan seperti pengusaha, tenaga kerja, dan

manajemen.

Perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 100 orang

atau lebih dan mempunyai potensi bahaya yang ditimbulkan oleh proses

produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan,

kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja, wajib menerapkan

keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Berdasarkan PEMNAKER

05/MEN/1996 dan mengacu pada Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang

keselamatan dan kesehatan kerja dapat dijadikan acuan bagi perlindungan

tenaga kerja dari bahaya kecelakaan dan penyakit akibat bekerja maupun

akibat lingkungan kerja.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu program yang

dibuat bagi karyawan maupun pengusaha sebagai upaya mencegah

timbulnya kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan cara mengenali hal-

hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja

Page 15: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

2

serta tindakan antisipatif apabila terjadi kecelakaan dan penyakit akibat

kerja. Tujuan dari program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah

untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan dan penyakit

akibat kerja. Faktor keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan hal

yang penting karena sangat terkait dengan kinerja karyawan yang pada

akhirnya berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Adanya program ini

diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan yang pada

akhirnya dapat meningkatkan kinerja karyawan sehingga tujuan perusahaan

dapat tercapai. Berikut adalah data kecelakaan kerja di PT. DyStar Colours

Indonesia.

Tabel 1. Data Kecelakaan Kerja PT. DyStar Colours Indonesia Cabang

Cilegon Tahun 1998 - 2003

Data Kecelakaan Kerja

No Tanggal Jenis

Cedera

Deskripsi Kecelakaan Hari yang

hilang

1 19-08-1998 Dua jari terluka

Selama pengujian dari M8 Pengering 3, jari karyawan memegang mesin.

3

2 26-10-1998 Karyawan sesak napas

Setelah pengisian CyCl, karyawan melepas masker dan mencoba melepas corong dari lubang got. Selama ini

karyawan mencoba menginhalasi gas CyCl, yang menyebabkan reaksinya belum lengkap.

3

3 25-03-1999 Kulit terbakar

Salah satu dari kontraktor terkena pompa kecil ke bahunya dan sisa SulfuricAcid mengenai bahunya.

1

4 14-06-2001 Patah

tulang

Jatuh dari tangga. 52

5 29-06-2001 Lengan kanan terbakar

Air radiator dari Forklift panas dibuka. 3

6 08-03-2002 Tangan kanan terluka

Tangan kanan terjepit mesin pembuat karton.

1

7 20-09-2002 Gas dari HCL

Truk dari supplier tidak sengaja menabrak pipa.

0

8 25-11-2002 Lengan kanan terbakar

Selama membuka filter di pabrik es, menyentuh freon.

1

9 28-11-2002 Forklift

terbakar

Api berasal dari mesin Forklift, yang

harus diperbaiki. Api berasal dari percikan saat mesin hidup dan selang dari gaslone bocor.

0

10 15-06-2003 Kaki kiri bengkak

Penutup lubang jatuh ke bawah dan mengenai kaki kiri,dimana saat menyalakan mesin jarak antara kaki dan mesin sangat dekat.

1

11 29-08-2003 Pembengkakan pada lengan

Karyawan jatuh dari sepeda motor saat di pabrik.

1

Sumber: PT. DyStar Colours Indonesia Cab. Cilegon, 2003

Page 16: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

3

Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang benar-benar menjaga

keselamatan dan kesehatan kerja karyawannya dengan membuat aturan

tentang keselamatan dan kesehatan kerja yang dilaksanakan oleh seluruh

karyawan dan pimpinan perusahaan. PT. DyStar Colours Indonesia (DCI)

sebagai perusahaan kimia multinasional terkemuka di Indonesia merupakan

perusahaan yang bersifat industri yang bergerak di bidang produksi zat

warna reaktif. PT. DCI menerapkan program K3 karena perusahaan

menyadari bahwa setiap karyawan berhak untuk mendapatkan jaminan

keselamatan dan kesehatan kerja. Perlindungan tenaga kerja dari bahaya dan

penyakit akibat kerja atau lingkungan kerja sangat dibutuhkan oleh

karyawan agar karyawan merasa aman dan nyaman dalam menyelesaikan

pekerjaannya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja

karyawan untuk dapat bekerja sebaik mungkin dan juga dapat mendukung

keberhasilan bisnis perusahaan dalam membangun dan membesarkan

usahanya.

Berdasarkan kondisi di atas, peneliti ingin melakukan penelitian untuk

melihat adanya pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terhadap

kepuasan kerja karyawan di PT. DyStar Colours Indonesia.

1.2. Perumusan Masalah

Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan partner penting yang

dimiliki perusahaan dalam mendukung proses produksi. Dalam melakukan

proses produksi tersebut, karyawan selalu berhubungan dengan mesin-mesin

dan alat berat yang bisa menimbulkan resiko kecelakaan kerja bagi

karyawan.

Penerapan program K3 yang baik dan efektif, disamping memberikan

perlindungan terhadap kecelakaan kerja dan mencegah kerugian yang besar

bagi perusahaan, juga akan meningkatkan kepuasan kerja karyawannya.

Faktor keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan hal yang penting

karena sangat terkait dengan kinerja karyawan yang pada akhirnya

berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Semakin cukup jumlah dan

kualitas fasilitas keselamatan dan kesehatan kerja, maka semakin tinggi pula

mutu kerja karyawan. Dengan adanya program K3 ini, karyawan akan

Page 17: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

4

merasa diperhatikan oleh perusahaan, sehingga mereka akan bekerja dengan

lebih baik. Oleh sebab itu, rumusan masalah yang berkaitan dengan

penelitian ini adalah :

1. Bagaimana persepsi karyawan terhadap K3 di PT. DyStar Colours

Indonesia ?

2. Bagaimana persepsi karyawan terhadap kepuasan kerja karyawan di PT.

DyStar Colours Indonesia?

3. Bagaimana hubungan K3 terhadap kepuasan kerja karyawan di PT.

DyStar Colours Indonesia?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka

tujuan penelitian disusun sebagai berikut :

1. Menganalisis persepsi karyawan terhadap K3 di PT. DyStar Colours

Indonesia.

2. Menganalisis persepsi karyawan terhadap kepuasan kerja karyawan di

PT. DyStar Colours Indonesia.

3. Menganalisis hubungan K3 terhadap kepuasan kerja karyawan di PT.

DyStar Colours Indonesia.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan

manfaat diantaranya :

1. Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi sebuah masukan,

pertimbangan, referensi dalam membuat keputusan dalam menerapkan

program K3 yang berhubungan dengan kepuasan kerja karyawan PT.

DyStar Colours Indonesia.

2. Penelitian ini berguna dalam menambah ilmu, pengalaman dan wawasan

dalam mengkaji hal-hal yang terjadi di perusahaan serta dapat menjadi

referensi untuk peneliti selanjutnya.

Page 18: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

5

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Agar penelitian ini terarah dan mudah dipahami, maka ruang lingkup

masalah dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut :

1. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang dianalisis meliputi lima

aspek berdasarkan kesepakatan dengan pihak manajemen PT. DyStar

Colours Indonesia, yaitu : pelatihan keselamatan, publikasi keselamatan

kerja, kontrol lingkungan kerja, inspeksi dan disiplin, serta peningkatan

kesadaran K3.

2. Kepuasan kerja yang dikaji adalah kepuasan kerja karyawan PT. DyStar

Colours Indonesia yang meliputi faktor-faktor yang mempengaruhi

kepuasan kerja karyawan sesuai dengan Faktor Higienis dari Frederick

Herzberg, yaitu : kebijakan perusahaan, supervisi, hubungan

interpersonal, kondisi kerja, serta gaji dan tunjungan.

Page 19: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Manajemen Sumber Daya Manusia

Menurut Mangkunegara (2004) manajemen sumberdaya manusia

merupakan suatu perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian,

pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengadaan, pengembangan,

pemberian balas jasa, pengintegrasian, pemeliharaan dan pemisahan tenaga

kerja dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Manajemen sumberdaya

manusia dapat didefinisikan pula sebagai suatu pengelolaan dan

pendayagunaan sumberdaya yang ada pada individu (pegawai). Pengelolaan

dan pendayagunaan tersebut dikembangkan secara maksimal di dalam dunia

kerja untuk mencapai tujuan organisasi dan pengembangan individu

karyawan.

Menurut Hasibuan (2008) manajemen sumberdaya manusia adalah

ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan

efisien membentuk terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan

masyarakat. Flippo dalam Hasibuan (2008) berpendapat bahwa manajemen

personalia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian

dari pengadaan, pengembangan, kompensasi, integrasi, pemeliharaan dan

pemberhentian sumber daya manusia pada akhirnya, sehingga tujuan

individu, organisasi dan sosial dapat dicapai.

2.2. Kecelakaan

2.2.1. Definisi Kecelakaan

Menurut Flippo dalam Panggabean (2004), kecelakaan adalah

suatu peristiwa yang tidak direncanakan dan harus dianalisis dari segi

biaya dan sebab-sebabnya.

Menurut Sugeng (2005), kecelakaan kerja adalah suatu kejadian

atau peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan terhadap

manusia, merusak harta benda atau kerugian terhadap proses. Secara

umum kecelakaan kerja dibagi menjadi dua golongan, yaitu :

Page 20: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

7

1. Kecelakaan industri (industrial accident), yaitu kecelakaan yang

terjadi di tempat kerja karena adanya sumber bahaya atau bahaya

kerja.

2. Kecelakaan dalam perjalanan (community accident), yaitu

kecelakaan yang terjadi di luar tempat kerja yang berkaitan dengan

adanya hubungan kerja.

Sedangkan keadaaan hampir celaka (near-accident) adalah suatu

kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan dimana dengan keadaan

yang sedikit berbeda akan mengakibatkan bahaya terhadap manusia,

merusak harta benda atau kerugian terhadap proses (Sugeng, 2005).

2.2.2. Faktor-faktor Kecelakaan

Berdasarkan pendapat Mangkunegara (2004), ada beberapa

sebab yang memungkinkan terjadinya kecelakaan dan gangguan

kesehatan pegawai diantaranya yaitu :

1. Keadaan tempat lingkungan kerja

a. Penyusunan dan penyimpanan barang-barang berbahaya yang

kurang diperhitungkan keamanannya.

b. Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak.

c. Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.

2. Pengaturan udara

a. Pergantian udara di ruang kerja yang tidak baik.

b. Suhu udara yan tidak dikondisikan pengaturannya.

3. Pengaturan penerangan

a. Pengaturan dan penggunaan sumber cahaya yang tidak tepat.

b. Ruang kerja yang kurang cahaya.

4. Pemakaian peralatan kerja

a. Pengaman peralatan kerja yang sudah usang dan rusak.

b. Penggunaan mesin dan alat elektronik tanpa pengaman yang

baik.

Page 21: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

8

5. Kondisi fisik dan mental pegawai

a. Kerusakan alat indera dan stamina pegawai yang tidak stabil.

b. Emosi pegawai yang tidak stabil, kepribadian pegawai yang

rapuh, cara berpikir dan kemampuan persepsi yang lemah,

motivasi kerja yang rendah, sikap pegawai yang ceroboh dan

kurang pengetahuan dalam penggunaan fasilitas kerja terutama

fasilitas kerja yang membawa resiko bahaya.

Sedangkan menurut Mangkuprawira dan Vitayala (2007), faktor

penyebab terjadinya kecelakan kerja dapat dilihat dari berbagai sudut,

diantaranya :

1. Kebijakan pemerintah

a. Undang-undang dan Ketenagakerjaan, khususnya yang

menyangkut tentang keselamatan dan kesehatan kerja karyawan

belum ada.

b. Peraturan pemerintah tentang pelaksanaan keselamatan dan

kesehatan kerja karyawan belum ada.

c. Pengendalian dan tindakan hukum bagi perusahaan yang

mengabaikan undang-undang dan peraturan yang berlaku

tentang keselamatan dan kesehatan kerja belum ada atau

kalaupun sudah ada, tetapi tidak terapkan secara tegas.

2. Kondisi pekerjaan

a. Standar kerja yang kurang tepat dan pelaksanaanya juga tidak

tepat.

b. Jenis pekerjaan fisik yang sangat berbahaya. Namun di sisi lain,

fasilitas keselamatan kerja sangat kurang.

c. Kenyamanan kerja yang sangat kurang karena kurang

tersedianya unsur pendukung keselamatan dan kenyamanan

kerja.

d. Tidak tersedianya prosedur manual petunjuk kerja.

e. Kurangnya kontrol, evaluasi, dan pemeliharaan tentang alat-alat

kerja secara rutin.

Page 22: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

9

3. Kondisi karyawan

a. Keterampilan karyawan dalam hal K3 yang rendah.

b. Kondisi kesehatan fisik karyawan yang tidak prima.

c. Kondisi kesehatan mental, seperti rendahnya motivasi tentang

K3 serta tingginya derajat stres dan depresi.

d. Kecanduan merokok, minuman keras, dan narkoba.

4. Kondisi fasilitas perusahaan

a. Ketersediaan fasilitas yang kurang cukup (jumlah dan mutu).

b. Kondisi ruangan kerja yang kurang nyaman.

c. Tidak tersedianya fasilitas kesehatan dan klinik perusahaan.

d. Tidak tersedianya fasilitas asuransi kecelakaan.

e. Kurangnya pelatihan dan sosialisasi tentang pentingnya

keselamatan kerja di kalangan karyawan.

Menurut Dessler (2000), ada tiga alasan dari kecelakaan di

tempat kerja yaitu :

1. Kejadian yang bersifat kebetulan.

2. Kondisi tidak aman :

a. Pelindung yang tidak memadai

b. Peralatan rusak

c. Penerangan yang tidak memadai

d. Ventilasi tidak memadai

e. Gudang yang tidak aman

f. Prosedur yang berbahaya dalam, pada, atau, disekitar mesin

atau peralatan.

3. Tindakan-tindakan yang tidak aman yang dilakukan karyawan :

a. Membuang bahan-bahan tidak pada tempatnya.

b. Beroperasi atau bekerja dengan kecepatan yang tidak aman.

c. Menggunakan peralatan yang tidak aman.

d. Membuat peralatan keamanan tidak beroperasi dengan baik.

e. Menggunakan prosedur yang tidak aman.

f. Mengambil posisi yang tidak aman.

g. Mengangkat secara tidak tepat.

Page 23: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

10

h. Pikiran kacau, gangguan, penyalahgunaan, kaget, berselisih.

2.3. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

2.3.1. Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Menurut pendapat Leon C. Megginson dalam Mangkunegara

(2004), istilah keselamatan mencakup kedua istilah risiko keselamatan

dan kesehatan. Keselamatan kerja menunjukkan kondisi yang aman

atau selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian di tempat

kerja. Risiko keselamatan merupakan aspek-aspek lingkungan kerja

yang dapat menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik,

terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh,

penglihatan dan pendengaran. Semua itu sering dihubungkan dengan

perlengkapan perusahaan atau lingkungan fisik dan mencakup tugas-

tugas kerja yang membutuhkan pemeliharaan dan latihan. Sedangkan

kesehatan kerja menunjukkan pada kondisi yang bebas dari gangguan

fisik, mental, emosi, atau rasa sakit yang disebabkan oleh lingkungan

kerja. Risiko kesehatan merupakan faktor-faktor dalam lingkungan

kerja yang bekerja melebihi periode waktu yang ditentukan,

lingkungan yang dapat membuat stres, emosi atau gangguan fisik.

Keselamatan dan kesehatan kerja menunjukkan kondisi-kondisi

fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh

lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan. Kondisi fisiologis-

fisikal meliputi penyakit-penyakit dan kecelakaan kerja seperti cedera,

kehilangan nyawa atau anggota badan. Kondisi-kondisi psikologis

diakibatkan oleh stres pekerjaan dan kehidupan kerja yang berkualitas

rendah. Hal ini meliputi ketidakpuasan, sikap menarik diri, kurang

perhatian, mudah marah, selalu menunda pekerjaan dan

kecenderungan untuk mudah putus asa terhadap hal-hal yang remeh.

(Rivai, 2009).

Menurut Abidin (2008), keselamatan dan kesehatan kerja (K3)

merupakan suatu upaya untuk menciptakan suasana bekerja yang

aman, nyaman, dan tujuan akhirnya adalah mencapai produktivitas

Page 24: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

11

setinggi-tingginya. Maka dari itu K3 mutlak untuk dilaksanakan pada

setiap jenis bidang pekerjaan tanpa kecuali.

2.3.2. Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Berdasarkan pendapat Mangkunegara (2004), tujuan keselatan

dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:

1. Setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja

baik secar fisik, sosial dan psikologis.

2. Setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya

dan seefektif mungkin.

3. Semua hasil produksi dipelihara keamanannya.

4. Adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi

pegawai.

5. Meningkatkan kegairahan, keserasian kerja dan partisipasi kerja.

6. Terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh

lingkungan kerja atau kondisi kerja.

7. Setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.

Sedangkan menurut Rivai (2009), tujuan dan pentingnya

keselamatan kerja meliputi:

1. Meningkatnya produktivitas karena menurunnya jumlah hari kerja

yang hilang.

2. Meningkatnya efisiensi dan kualitas pekerja yang lebih

berkomitmen.

3. Menurunnya biaya-biaya kesehatan dan asuransi.

4. Tingkat kompensasi pekerja dan pembayaran lansung yang lebih

rendah karena menurunnya pengajuan klaim.

5. Fleksibilitas dan adaptabilitas yang lebih besar sebagai akibat dari

meningkatnya partisipasi dan rasa kepemilikan.

6. Rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena meningkatnya

citra perusahaan.

Page 25: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

12

2.3.3. Manfaat K3

Manfaat program K3 (Arep dan Tanjung, 2004) adalah sebagai

berikut:

1. Manfaat Ekonomis:

a. Berkurangnya kecelakaan dan sakit karena kerja

b. Mencegah hilangnya investasi fisik dan investasi sumber daya

manusia

c. Meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja yang nyaman dan

aman, serta motivasi kerja meningkat

2. Manfaat Psikologis

a. Meningkatkan kepuasan kerja

b. Kepuasan kerja tersebut akan meningkatkan motivasi kerja dan

selanjutnya akan meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja

c. Perusahaan akan merasa bangga bahwa telah ikut serta dalam

melaksanakan program pemerintah dan ikut serta dalam

pembangunan nasional

d. Nama baik/citra perusahaan akan meningkat

2.3.4. Usaha-usaha dalam meningkatkan K3

Berdasarkan pendapat Mangkunegara (2004), usaha-usaha

dalam meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja yaitu sebagai

berikut:

1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan kebakaran dan peledakan.

2. Memberikan peralatan perlindungan diri untuk pegawai yang

bekerja pada lingkungan yang menggunakan peralatan yang

berbahaya.

3. Mengatur suhu, kelembaban, kebersihan udara, penggunaan warna

ruangan kerja, penerangan yang cukup terang dan menyejukkan,

dan mencegah kebisingan.

4. Mencegah dan memberikan perawatan terhadap timbulnya

penyakit.

5. Memelihara kebersihan dan ketertiban, serta keserasian

lingkungan kerja.

Page 26: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

13

6. Menciptakan suasana kerja yang menggairahkan semangat kerja

pegawai.

2.3.5. Sistem Manajemen K3

Menurut Hardono (2009), sistem manajemen keselamatan dan

kesehatan kerja adalah bagian dari sistem manajemen secara

keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung

jawab, pelaksanaan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan

pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam

rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja

guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisiensi dan produktif.

Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3)

adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan

yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, pelaksanaan, tanggung

jawab, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi

pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian, serta pemeliharaan

kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka

pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna

terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif

(Mangkuprawira dan Vitayala, 2007).

Menurut Mangkunegara (2004), pendekatan sistem pada

manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dimulai dengan

mempertimbangkan tujuan keselamatan kerja, teknik, dan peralatan

yang digunakan, proses produk, dan perencanaan tempat kerja. Tujuan

keselamatan harus integral dengan bagian dari setiap manajemen dan

pengawasan kerja. Menurut Odiorne dalam Mangkunegara (2004)

mengemukakan bahwa pendekatan sistem pada manajemen K3

mencakup:

1. Penetapan Indikator Sistem

Tahap dasar dalam mengimplementasi sistem keselamatan kerja

adalah menetapkan metode untuk mengukur pengaruh pelaksanaan

keselamatan kerja, kesehatan, dan kesejahteraan pegawai. Statistik

kecelakaan harus dijadikan pedoman dan dibandingkan dengan

Page 27: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

14

organisasi lainnya. Efektivitas dari sistem dapat diukur dan

kecenderungan-kecenderungannya dapat diidentifikasikan.

Indikator-indikator tersebut merupakan kriteria untuk tujuan

keselamatan kerja.

2. Melibatkan Para Pengawas dalam Sistem Pelaporan

Bilamana terjadi kecelakaan harus dilaporkan kepada pengawas

lansung dari bagian kerusakan, dan laporan harus pula

mengidentifikasi kemungkinan penyebab terjadinya kecelakaan.

Hal ini agar pengawas tersebut dapat mudah mengadakan

perbaikan dan mengadakan upaya preventif untuk masa

selanjutnya.

3. Mengembangkan Prosedur Manajemen Keselamatan Kerja

Pendekatan sistem yang esensi adalah menetapkan sistem

komunikasi secara teratur dan tindak lanjut pada setiap kecelakaan

pegawai. Kemudian mengadakan penelitian terhadap penyebab

terjadinya kecelakaan dan mempertimbangkan kebijakan yang

telah ditetapkan untuk diadakan perubahan seperlunya sesuai

dengan keperluan pada saat itu.

4. Menjadikan Keselamatan Kerja sebagai bagian dari Tujuan kerja

Membuat kartu penilaian keselamatan kerja. Setiap kesalahan

yang dilakukan pegawai dicatat oleh pengawas dan

dipertanggungjawabkan sebagai bahan pertimbangan dalam

memberikan penilaian prestasi kerja pegawai yang bersangkutan.

5. Melatih Pegawai-pegawai dan Pengawasan dalam Manajemen

Keselamatan Kerja

Melatih pegawai-pegawai untuk dapat menggunakan peralatan

kerja dengan baik. Begitu pegawai-pegawai dilatih untuk dapat

menggunakan alat pengaman jika terjadi kecelakaan di tempat

kerja.

Page 28: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

15

2.3.6. Aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Ada dua aspek yang digunakan untuk mengatasi masalah K3

yaitu Safety Psychology dan Industrial Clinical Psychology (Miner

dalam Ilham, 2002). Safety Psychology menitikberatkan pada usaha

mencegah kecelakan itu terjadi, dengan meneliti kenapa dan

bagaimana kecelakaan itu terjadi. Industrial Clinical Psychology

menitikberatkan pada kinerja karyawan yang menurun, sebab-sebab

penurunan dan bagaimana mengatasinya.

Faktor-faktor dari kedua aspek tersebut sebagai berikut:

1. Safety Psychology terdiri dari 6 faktor, yaitu:

a. Laporan dan Statistik Kecelakaan

Laporan dan statistik mengenai jumlah kecelakaan yang terjadi

ditempat kerja. Dengan adanya laporan dan statistik

kecelakaan kerja, perusahaan akan memiliki gambaran

mengenai potensi terjadinya kecelakaan kerja dan cara

mengantisipasinya.

b. Pendidikan dan Pelatihan Keselamatan

Pelatihan yang diadakan perusahaan untuk memberikan

pengetahuan tentang keselamatan kerja dan mencegah atau

mengurangi terjadinya kecelakaan kerja.

c. Publikasi dan Kontes Keselamatan

Publikasi keselamatan kerja adalah hal-hal yang berhubungan

dengan pemberian informasi-informasi dan pesan-pesan

mengenai keselamatan kerja karyawan, biasanya berupa

spanduk dan poster yang dapat mengurangi tindakan-tindakan

tidak aman dengan tujuan untuk memberikan pemahaman

kepada karyawan mengenai pentingnya K3. Publikasi

keselamatan kerja bertujuan untuk menjaga motivasi karywan

agar menyadari akan pentingnya keselamatan dan kesehatan

kerja. Kontes keselamatan kerja bertujuan untuk memotivasi

karyawan agar selalu menerapkan K3 sewaktu bekerja.

Page 29: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

16

d. Kontrol terhadap Lingkungan Kerja

Kontrol lingkungan kerja adalah pemeriksaan/pengendalian

yang berhubungan dengan kondisi lingkungan kerja yang

bertujuan untuk melindungi karyawan dari bahaya kecelakaan

kerja yang mungkin terjadi dan menciptakan lingkungan kerja

yang aman dan nyaman. Perusahaan harus dapat melindungi

karyawannya dari kecelakaan kerja. Oleh karena itu,

perusahaan harus menyediakan peralatan pengaman dan

peralatan pelindung diri untuk karyawannya. Selain itu,

perusahaan harus menciptakan lingkungan kerja yang

membuat karyawannya merasa aman dan nyaman.

e. Inspeksi dan Disiplin

Inspeksi dan disiplin adalah pengawasan terhadap lingkungan

kerja dan perilaku kerja karyawan ini bertujuan untuk menjaga

agar setiap mesin dan peralatan selalu dalam kondisi aman dan

siap untuk digunakan. Selain itu, adanya inspeksi yang berkala

dapat memberikan informasi tentang potensi bahaya yang

mungkin terjadi, sehingga perusahaan dapat mengambil

tindakan.

f. Peningkatan Kesadaran K3

Peningkatan kesadaran K3 merupakan usaha perusahaan dalam

mensukseskan program K3. Adanya komitmen yang kuat dan

perhatian yang besar dari manajemen perusahaan dapat

meningkatkan motivasi karyawan untuk mengutamakan

keselamatan dan kesehatan sewaktu bekerja.

2. Industrial Clinical Psychology terdiri dari dua faktor, yaitu:

a. Konseling

Pembimbingan yang dilakukan untuk meningkatkan kembali

semangat kerja karyawan setelah diketahui adanya penurunan

produktivitas dari karyawan yang disebabkan oleh masalah

yang dihadapi oleh karyawan yang bersangkutan.

Page 30: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

17

b. Employee Assistance Program

Pembimbingan yang dilakukan secara intensif yang dilakukan

untuk menangani berbagai macam masalah yang dihadapi

karyawan terutama yang berhubungan dengan perilaku

karyawan.

2.3.7. Landasan Hukum K3

Dasar-dasar hukum Keselamatan dan Kesehatan (K3) di

Indonesia telah banyak diterbitkan baik dalam bentuk undang-undang,

Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Keputusan Menteri dan

Surat Edaran (Sugeng, 2005), sebagai berikut:

1. Undang-undang Ketenagakerjaan No.13/2003

2. UUD 1945 pasal 27 ayat 1 dan 2

3. Undang-undang Keselamatan Kerja No.1/1970

4. Undang-undang tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja No.3/1992

5. Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Jaminan Sosial

Tenaga Kerja No.14/1993

6. Keputusan Presiden tentang Penyakit yang timbul karena

Hubungan Kerja No.22/1993

7. Peraturan Menteri Perburuhan tentang Syarat Kesehatan,

Kebersihan serta Penerangan dalam Tempat Kerja No.7/1964

8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja tentang Pemeriksaan Kesehatan

Tenaga Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja

No.2/1980

9. Peraturan Menteri Tenaga Kerja tentang Kewajiban melaporkan

Penyakit Akibat Kerja No.1/1981

10. Peraturan Menteri Tenaga Kerja tentang Pelayanan Kesehatan

Kerja No.3/1982

11. Keputusan Menteri Tenaga Kerja tentang NAB faktor fisika di

tempat kerja No.5/1999

12. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja tentang NAB faktor kimia di

udara lingkungan kerja No.1/1997.

Page 31: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

18

2.4. Kepuasan Kerja

2.4.1. Definisi Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan sesuatu yang bersifat

individual. Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-

beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Makin

tinggi penilaian terhadap kegiatan dirasakan sesuai dengan keinginan

individu, maka makin tinggi kepuasannya terhadap kegiatan tersebut.

Dengan demikian, kepuasan merupakan evaluasi yang

menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak

senang, puas atau tidak puas dalam bekerja (Rivai, 2009).

Menurut Handoko (2009), kepuasan kerja (job satisfaction)

adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak

menyenangkan bagaimana cara karyawan memandang pekerjaan

mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap

pekerjaannya. Ini terlihat dalam sikap positif karyawan terhadap

pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi lingkungan kerjanya.

Kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang menyokong diri

pegawai yang berhubungan dengan pekerjaanya maupun dengan

kondisi dirinya. Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan

melibatkan aspek-aspek seperti upah atau gaji yang diterima,

kesempatan pengembangan karir, hubungan dengan pegawai lainnya,

penempatan kerja, jenis pekerjaan, struktur organisasi perusahaan,

mutu pengawasan. Sedangkan perasaan yang berhubungan dengan

dirinya, antara lain umur, kondisi kesehatan, kemampuan,

pendidikannya (Davis dan Wexley dalam Mangkunegara, 2004).

Menurut Mangkuprawira (2008), kepuasan kerja adalah

perasaan individu terhadap pekerjaannya. Perasaan tersebut adalah

berupa hasil penilaian mengenai seberapa jauh pekerjaannya secara

keseluruhan mampu memuaskan kebutuhan karyawan.

Kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan

mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja,

kedisiplinan, dan prestasi kerja. Tolak ukur tingkat kepuasan yang

Page 32: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

19

mutlak tidak ada, karena setiap individu karyawan berbeda standar

kepuasannya. Indikator kepuasan kerja ini hanya diukur dengan

kedisiplinan, moral kerja, dan turn over yang kecil, maka secara relatif

kepuasan kerja karyawan baik. Sebaliknya, jika kedisiplinan, moral

kerja, turn over karyawan besar, maka kepuasan kerja karyawan di

perusahaan berkurang (Hasibuan, 2008).

Keadaan yang menyenangkan dapat dicapai jika sifat dan jenis

pekerjaan yang harus dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan nilai

yang dimiliki. Kepuasan kerja merupakan : “Suatu pernyataan rasa

senang dan positif yang merupakan hasil penilaian terhadap suatu

pekerjaan atau pengalaman kerja (Locke dalam Prabu, 2005).

2.4.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja

Menurut Mangkunegara (2004) ada dua faktor yang

mempengaruhi kepuasan kerja, antara lain :

1. Faktor pegawai, yaitu kecerdasan (IQ), kecakapan khusus, umur,

jenis kelamin, kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa

kerja, kepribadian, emosi, cara berfikir, persepsi dan sikap kerja.

2. Faktor pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat

(golongan), kedudukan, mutu pengawasan, jaminan finansial,

kesempatan promosi jabatan, interaksi sosial dan hubungan kerja.

Menurut Hasibuan (2008), kepuasan karyawan dipengaruhi oleh

faktor-faktor berikut :

1. Balas jasa yang adil dan layak.

2. Penempatan yang tepat sesuai dengan keahlian.

3. Berat dan ringannya suatu pekerjaan.

4. Suasana dan lingkungan pekerjaan.

5. Peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaaan.

6. Sikap pimpinan dalam kepemimpinannya.

7. Sifat pekerjaan yang monoton atau tidak.

Page 33: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

20

Menurut Robbins dalam Prabu (2005), bahwa kepuasan kerja

dipengaruhi oleh :

1. Kerja yang secara mental menantang.

2. Ganjaran yang pantas.

3. Kondisi kerja yang mendukung.

4. Rekan sekerja uang mendukung.

5. Kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan.

Kerja yang secara mental menantang dan dapat diartikan adanya

inovasi-inovasi baru sehingga tidak monoton, penghasilan atau

kompensasi yang sesuai dengan harapan pegawai dengan standar yang

ada, iklim pekerjaan yang kondusif untuk berlangsungnya pekerjaan

dan adanya relevansi kepribadian yang berarti kesesuaian motivasi,

persepsi dengan pekerjaan yang akan dilakukan.

Menurut Sopiah (2008), bahwa faktor-faktor kerja yang

berpengaruh terhadap kepuasan kerja yaitu promosi, gaji, pekerjaan

itu sendiri, supervise, teman kerja, keamanan, kondisi kerja,

administrasi/kebijakan perusahaan, komunikasi, tanggung jawab,

pengakuan, prestasi kerja dan kesempatan untuk berkembang.

Menurut Rivai (2009), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

kepuasan kerja karyawan yang sering digunakan adalah isi pekerjaaan,

penampilan tugas pekerjaan yang aktual dan sebagai kontrol terhadap

pekerjaan, supervisi, organisasi dan manajemen, kesempatan untuk

maju, gaji dan keuntungan dalam bidang finansial lainnya seperti

adanya insentif, rekan kerja, dan kondisi pekerjaan. Selain itu,

menurut Job Descriptive Index (JDI) faktor penyebab kepuasan kerja

ialah :

1. Bekerja pada tempat yang tepat.

2. Pembayaran yang sesuai.

3. Organisasi dan manajemen.

4. Supervisi pada pekerjaan yang tepat.

5. Orang yang berada dalam pekerjaan yang tepat.

Page 34: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

21

Menurut Umam (2010), faktor-faktor yang dapat menentukan

kepuasan kerja diantaranya adalah:

1. Gaji/imbalan.

Gaji merupakan symbol dari pencapaian (achievement),

keberhasilan dan pengakuan/penghargaan. Gaji/imbalan memiliki

dampak pada kepuasan dan motivasi kerja karyawan.

2. Kondisi kerja.

Ruang kerja yang sempit, panas, yang cahaya lampunya

menyilaukan mata, akan menimbulkan keengganan untuk bekerja.

Karyawan akan mencari alas an untuk sering-sering keluar

ruangan. Oleh sebab itu, perusahaan harus menyediakan kondisi

kerja yang baik. Kebutuhan-kebutuhan fisik yang terpenuhi akan

memuaskan tenaga kerja.

3. Hubungan Kerja.

a. Hubungan kerja dengan rekan kerja adalah hubungan

ketergantungan sepihak yang bercorak fungsional. Kepuasan

kerja yang ada pada karyawan timbul karena mereka dalam

jumlah tertentu, berada dalam satu ruangan kerja, sehingga

mereka dapat saling berbicara (kebutuhan sosial terpenuhi).

b. Hubungan kerja dengan atasan mencerminkan sejauh mana

atasan membantu karyawan untuk memuasakan nilai-nilai

pekerjaan yang penting bagi mereka.

2.4.3. Teori tentang Kepuasan Kerja

Menurut pendapat Mangkunegara (2004), terdapat beberapa

teori yang berhubungan dengan kepuasan kerja seseorang. Masing-

masing teori berupaya menghubungkan antara kepuasan dan

ketidakpuasan seseorang dalam pelaksanaan pekerjaannya, antara lain:

1. Teori Keseimbangan (Equity Theory)

Teori ini dikembangkan oleh Adam. Komponen dari teori ini

terdiri dari input, outcome, comparison person, dan equity-inequity.

Page 35: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

22

a. Input adalah semua nilai yang diterima karyawan yang dapat

menunjang pelaksanaan kerja. Misalnya pendidikan,

pengalaman, skill, usaha, peralatan pribadi, dan jumlah kerja.

b. Outcome adalah semua nilai yang diperoleh dan dirasakan

karyawan. Misalnya upah, keuntungan tambahan, status simbol,

pengenalan kembali, dan kesempatan untuk berprestasi.

c. Comparison person adalah seorang karyawan dalam organisasi

yang sama, seorang karyawan dalam organisasi yang berbeda,

atau dirinya sendiri dalam pekerjaan sebelumnya. Menurut teori

ini, puas atau tidak puasnya karyawan merupakan hasil dari

perbandingan antara input-outcome dirinya dengan input-

outcome karyawan lain (comparison person).

d. Equity-inequity adalah suatu situasi dimana jika perbandingan

input-outcome dirasakan seimbang (equity) maka karyawan

tersebut akan merasa puas, tetapi apabila terjadi tidak seimbang

(inequity) dapat menyebabkan ketidakpuasan bagi dirinya, dan

sebaliknya ketidakseimbangan yang menguntungkan karyawan

lain yang menjadi pembanding.

2. Teori Perbedaan (Discrepancy Theory)

Teori ini pertama kali dipelopori oleh Porter. Ia berpendapat

bahwa mengukur kepuasan dapat dilakukan dengan cara

menghitung selisih antara apa yang seharusnya dengan kenyataan

yang dirasakan karyawan. Kepuasan kerja karyawan bergantung

pada perbedaan antara apa yang didapatkan dan apa yang

diharapkan oleh karyawan.

3. Teori Pemenuhan Kebutuhan (Need Fulfillment Theory)

Menurut teori ini, kepuasan kerja karyawan bergantung pada

terpenuhi atau tidaknya kebutuhan karyawan. Karyawan akan

merasa puas apabila mendapatkan apa yang dibutuhkannya.

Semakin besar kebutuhan karyawan terpenuhi, semakin puas pula

karyawan tersebut. Begitu juga sebaliknya apabila kebutuhan

Page 36: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

23

karyawan tidak terpenuhi, maka karyawan tersebut akan merasa

tidak puas.

4. Teori Pandangan Kelompok (Social Reference Group Theory)

Menurut teori ini, kepuasan kerja karyawan tidak hanya

bergantung pada pemenuhan kebutuhan saja, tetapi juga bergantung

pada pandangan dan pendapat kelompok yang oleh karyawan

dianggap sebagai kelompok acuan. Kelompok acuan tersebut oleh

karyawan dijadikan tolok ukur untuk mengukur dirinya maupun

lingkungannya. Jadi, karyawan akan merasa puas apabila hasil

kerjanya sesuai dengan minat dan kebutuhan yang diharapkan oleh

kelompok acuan.

5. Teori Dua Faktor dari Herzberg

Teori ini menggunakan teori Abraham Maslow sebagai titik

acuan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dua faktor

yang dapat menyebabkan timbulnya rasa puas atau tidak puas yaitu

faktor pemeliharan atau faktor higienis (maintenance/hygienic

factors) dan faktor pemotivasian (motivational factors). Faktor

pemeliharan atau faktor higienis meliputi administrasi dan

kebijakan perusahaan, kualitas pengawas (supervisi), hubungan

dengan interpersonal, kondisi kerja, serta gaji dan tunjangan.

Faktor pemotivasian meliputi dorongan berprestasi, pengenalan,

kemajuan, kesempatan berkembang, dan tanggung jawab.

6. Teori Pengharapan (Exceptancy Theory)

Teori ini mengemukakan bahwa pengharapan merupakan

kekuatan keyakinan pada suatu perlakuan yang diikuti dengan hasil

khusus. Hal ini menggambarkan bahwa keputusan karyawan yang

memungkinkan mencapai suatu hasil dapat menuntun hasil lainnya.

Pengharapan merupakan suatu aksi yang berhubungan dengan

hasil, dari range 0-1. Jika karyawan merasa tidak mungkin

mendapatkan hasil maka harapannya adalah 0. Namun, jika aksinya

berhubungan dengan hasil tertentu maka harapannya bernilai 1.

Harapan karyawan secara normal adalah diantara range 0-1.

Page 37: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

24

2.4.4. Variabel-variabel Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja berhubungan dengan variabel-variabel seperti

turnover, tingkat absensi, umur, tingkat pekerjaan, dan ukuran

organisasi perusahaan. Rinciannya sebagai berikut :

1. Turnover

Tolok ukur tingkat kepuasan yang mutlak tidak ada, karena

setiap individu karyawan berbeda standar kepuasannya. Indikator

kepuasan kerja hanya diukur dengan kedisiplinan, moral kerja, dan

turnover yang rendah maka secara relatif kepuasan kerja karyawan

baik (Hasibuan, 2008). Kepuasan kerja lebih tinggi dihubungkan

dengan turnover yang rendah. Karyawan yang kurang puas

biasanya turnovernya lebih tinggi dan lebih mudah meninggalkan

perusahaan untuk kemudian mencari kesempatan di perusahaan

lain.

2. Tingkat Ketidakhadiran (absen) kerja

Karyawan-karyawan yang kurang mendapatkan kepuasan kerja,

tingkat kehadirannya cenderung tinggi. Mereka tidak

merencanakan untuk absen, tetapi apabila ada berbagai alasan

untuk absen, bagi mereka lebih mudah menggunakan alasan-alasan

tersebut. Ketidakhadiran dapat disebabkan oleh keinginan

menghindari ketidaknyamanan suatu lingkungan kerja atau

kekecewaan terhadap struktur balas jasa organisasi.

3. Umur

Ada kecenderungan karyawan yang tua lebih merasa puas

daripada karyawan yang berumur relatif muda. Hal ini diasumsikan

bahwa karyawan yang tua lebih berpengalaman menyesuaikan diri

dengan lingkungan pekerjaan. Sedangkan karyawan usia muda

biasanya mempunyai harapan yang ideal tentang dunia kerjanya,

sehingga apabila antara harapannya dengan realita kerja terdapat

kesenjangan atau ketidakseimbangan dapat menyebabkan mereka

tidak puas.

Page 38: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

25

4. Tingkat Pekerjaan

Karyawan-karyawan yang menduduki tingkat pekerjaan yang

lebih tinggi cenderung lebih puas daripada karyawan yang

menduduki tingkat pekerjaan yang lebih rendah. Karyawan-

karyawan yang tingkat pekerjaannya lebih tinggi menunjukkan

kemampuan kerja yang baik dan aktif dalam mengemukakan ide-

ide serta kreatif dalam bekerja.

5. Ukuran Organisasi Perusahaan

Ukuran organisasi cenderung mempunyai hubungan secara

berlawanan dengan kepuasan kerja. Ukuran organisasi perusahaan

dapat mempengaruhi kepuasan karyawan. Besar kecil suatu

perusahaan berhubungan pula dengan koordinasi, komunikasi dan

partisipasi karyawan. Semakin besar organisasi kepuasan kerja

karyawan semakin menurun, karena perananan mereka semakin

kecil dalam mewujudkan tujuan perusahaan. Begitu juga

sebaliknya, kepuasan kerja karyawan akan semakin besar apabila

peranan mereka semakin besar dalam mewujudkan tujuan

perusahaan (Handoko, 2009).

2.5. Hasil Penelitian Terdahulu

Rohaeni (2010) dalam penelitiannya berjudul Analisis Keselamatan

dan Kesehatan Kerja (K3) pada Industri Pengolahan Teh (Studi Kasus pada

Bagian Produksi PT. INESCO, Tasikmalaya). Penelitian menggunakan

Analisis Resiko, yaitu Metode Kualitatif atau Metode 2D Model. Hasil

penelitiannya menunjukkan bahwa penerapan Keselamatan dan Kesehatan

Kerja (K3) yang di amati menyatakan hampir seluruh pernyataan tentang K3

tersebut diketahui oleh responden dengan tingkat pengetahuan diatas 50%.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pekerja serta manajemen perusahaan

sudah cukup baik dalam upaya melaksanakan program K3. Hanya saja

diantara bagian safety psychology yang diamati, bagian pendidikan dan

pelatihan mempunyai persentase yang lebih kecil dibandingkan dengan

bagian yang lain. Ini berarti bagian tersebut penerapannya masih kurang

sehingga perlu diperbaiki.

Page 39: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

26

Noegroho (2009) dalam penelitiannya berjudul Analisis Hubungan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Karyawan Terhadap Kinerja

Karyawan di PT. XYZ Bagian Pressing. Penelitian menggunakan uji

korelasi Rank Spearman. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa nilai

korelasi yang didapat semuannya bernilai positif, sangat nyata, dan

berkorelasi substansial (agak kuat). Hal ini menunjukkan bahwa faktor K3

di PT. XYZ bagian pressing berpengaruh terhadap kinerja karyawan.

Mulyawati (2008) melakukan penelitian tentang Analisis Tingkat

Kepuasan Karyawan Terhadap Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Di PT. Aneka Tambang Tbk UBPP Logam Mulia Jakarta. Dalam

penelitiannya menggunakan Indeks Kepuasan Karyawan (IKK) dan

Importance Performance Analysis (IPA). Berdasarkan hasil penilaian Indeks

Kepuasan Karyawan (IKK) bahwa karyawan cukup puas terhadap kinerja

perusahaan, terlihat dari IKK yang di dapatkan adalah 69.09% untuk data

ordinal dan 63.05% untuk data interval. Untuk indeks karyawan, nilai IKK

antara 50% sampai 80% menandakan karyawan cukup puas terhadap kinerja

perusahaan, sedangkan hasil penilaian Importance Performance Analysis

(IPA), atribut-atribut yang dapat di jadikan prioritas utama oleh perusahaan

dengan menggunakan data ordinal atribut yang menjadi prioritas utama

adalah pelatihan untuk pegawai tetap dan tidak tetap, sosialisasi prosedur

keselamatan kerja untuk pelaksana pekerjaan berpotensi bahaya, kondisi

ventilasi, suhu dan penerangan diruang kerja, ketersediaan perlengkapan

keamanan dan keselamatan kerja di lingkungan kerja, perusahaan memiliki

fasilitas P3K ditempat kerja dan pemeriksaan peralatan kerja dan mesin-

mesin sebelum digunakan.

Lestari (2007) melakukan penelitian mengenai Hubungan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan Produktivitas Kerja

Karyawan di Bagian Pengolahan PTPN VIII Gunung Mas, Bogor. Analisis

data menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara K3 dengan produktivitas

kerja karyawan adalah positif, sangat nyata dan berkorelasi kuat, hal ini bisa

dilihat dari nilai korelasi yang positif sebesar 0,743. Salah satu faktor K3

Page 40: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

27

yang berhubungan positif, sangat nyata, dan korelasi kuat adalah

pengawasan dan disiplin dengan nilai korelasinya adalah 0,775 yang

menunjukkan hubungan yang paling kuat di antara faktor-faktor K3 yang

lainnya. Peningkatan Kesadaran dengan nilai korelasi 0,744. Kontrol

Lingkungan dengan nilai korelasi 0,732. Pelatihan Keselamatan dengan

nilai korelasi 0,668 dan Publikasi Keselamatan Kerja dengan nilai korelasi

0,639 yang merupakan korelasi terendah.

Page 41: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

III. METODE PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual

Setiap organisasi apapun jenisnya baik organisasi non profit maupun

organisasi yang mencari keuntungan memiliki visi dan misi yang menjadi

ruh dalam setiap aktivitas organisasi tersebut. Dari visi dan misi organisasi

ini diturunkan menjadi kumpulan tindakan organisasi. Kumpulan tindakan

itulah yang diukur untuk mendapatkan kinerja organisasi secara

keseluruhan.

Mencapai visi dan misi yang ada serta menghadapi persaingan industri

yang semakin ketat, maka perusahaan harus memiliki strategi-strategi yang

tepat. Strategi-strategi tersebut antara lain strategi bidang keuangan,

pemasaran, sumberdaya manusia (SDM), dan strategi bidang produksi.

Strategi keuangan terkait dengan keuangan perusahaan secara keseluruhan

seperti alokasi modal, laporan laba rugi dan deviden. Strategi pemasaran

terkait dengan kegiatan pemasaran yang akan dilakukan seperti, berapa

target penjualan, bagaimana promosi yang akan dilakukan, bagaiamana

penetapan harga, posisi persaingan dan segmen pasar yang dimasuki.

Strategi sumberdaya manusia mencakup perekrutan dan penyeleksian,

pengadaan pelatihan, penentuan kompensasi dan pemeliharaan hubungan

dengan organisasi pekerja. Strategi produksi berkaitan dengan transformasi

masukan bahan-bahan, modal dan tenaga kerja menjadi produk atau jasa.

Strategi ini mencakup juga penentuan lokasi pabrik, pemilihan peralatan

pengendalian persediaan, penetapan upah dan rekayasa produk.

Bila ditelaah maka strategi sumberdaya manusia merupakan strategi

yang terbaik untuk dapat menciptakan karyawan yang berkualitas dengan

kinerja optimal, yang sangat berperan dalam pencapaian visi, misi, dan

tujuan perusahaan. Strategi sumberdaya manusia (SDM) ini menetapkan

kebijakan-kebijakan untuk menciptakan SDM yang berkualitas dengan

kinerja optimal antara lain seperti kebijakan rekrutmen dan seleksi,

kebijakan penilaian kinerja, kebijakan kompensasi, kebijakan

pengembangan SDM, dan kebijakan program K3. Kebijakan program K3

Page 42: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

29

merupakan kebijakan yang dibuat perusahaan menyangkut keselamatan dan

kesehatan kerja untuk melindungi karyawan dari kecelakaan akibat kerja

dan penyakit akibat kerja.

Penerapan program K3 ini karyawan akan merasa diperhatikan

perusahaan, sehinggga diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerjanya.

Bila K3 dan kepuasan kerja karyawan meningkat maka akan berpengaruh

terhadap kinerja perusahaan. Dengan demikian, perusahaan akan semakin

diuntungkan dalam upaya pengembangan usahanya dan pada akhirnya

perusahaan dapat mencapai visi, misi, dan tujuannya. Kerangka pemikiran

konseptual dapat dilihat pada Gambar 1.

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional

PT. DyStar Colours Indonesia (DCI) merupakan sebuah perusahaan

multinasional terkemuka kimia di Indonesia merupakan perusahaan yang

bersifat industri yang bergerak di bidang produksi zat warna kimia. PT. DCI

menyadari pentingnya akan keselamatan dan kesehatan karyawannya saat

bekerja karena setiap perusahaan yang berproduksi tentu saja membutuhkan

faktor-faktor seperti modal, sumber daya alam, mesin, teknologi dan semua

itu tidak dapat beroperasi tanpa dikendalikan oleh sumber daya manusia.

Sumber daya manusia merupakan faktor produksi yang sangat penting dan

dibutuhkan, terutama dalam merencanakan, melaksanakan dan

mengendalikan sehingga menentukan proses produksi itu sendiri. Industri

didirikan dengan menggunakan metode kerja, teknologi dan lainnya untuk

mendapatkan tingkat produktivitas yang tinggi, tetapi seringkali tanpa

mempertimbangkan efek samping yang ditimbulkannya. Salah satu dari

sekian banyak yang timbul dari keadaan ini adalah terjadinya suatu

kecelakaan kerja dan tidak jarang pekerja menderita sakit yang pada

akhirnya sangat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan.

PT. DyStar Colours Indonesia telah menerapkan program

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Hal ini menunjukkan bahwa PT.

DyStar Colours Indonesia sangat memperhatikan keselamatan dan

kesehatan kerja karyawannya, terutama dalam kegiatan produksinya karena

memiliki risiko terjadinya kecelakaan kerja yang paling besar.

Page 43: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

30

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Konseptual

Visi, Misi dan Tujuan PT. DCI

Strategi Perusahaan

Penerapan program K3

Aspek K3:

1. Pelatihan Keselamatan.

2. Publikasi Keselamatan Kerja.

3. Kontrol Lingkungan Kerja.

4. Inspeksi dan Disiplin.

5. Peningkatan Kesadaran K3.

Hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)

terhadap kepuasan kerja karyawan

Peningkatan K3 dan kepuasan kerja karyawan

Strategi SDM Strategi Produksi Strategi Pemasaran Strategi Keuangan

Kebijakan

Rekrutmen

dan Seleksi

Kebijakan

Penilaian

Kinerja

Kebijakan

Program K3

Kebijakan

Kompensasi Kebijakan

Pengembangan

SDM

Kepuasan Kerja Karyawan

Faktor Higienis:

1. Kebijakan Perusahaan.

2. Supervisi.

3. Hubungan Interpersonal.

4. Kondisi kerja.

5. Gaji dan Tunjangan.

Implikasi Manajerial

Rekomendasi

Page 44: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

31

Dengan adanya program ini akan memberikan kepuasan kerja

karyawan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja karyawan

sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.

Penerapan program K3 di PT. DyStar Colours Indonesia dapat

diketahui melalui wawancara langsung, pengamatan beberapa dokumen

perusahaan, dan kuesioner. Adapun faktor-faktor K3 yang menjadi dasar

pencarian data penelitian ini berdasarkan kesepakatan dengan pihak PT.

DyStar Colours Indonesia yaitu, (1) Pelatihan Keselamatan, (2) Publikasi

Keselamatan Kerja, (3) Kontrol Lingkungan Kerja, (4) Inspeksi dan

Disiplin, dan (5) Peningkatan Kesadaran K3. Sedangkan faktor-faktor yang

mempengaruhi kepuasan kerja yang digunakan adalah Faktor Higienis

berdasarkan Teori Herzberg. Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan

dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Melalui alat

analisis Rank Spearman akan diperoleh kesimpulan apakah terdapat

hubungan antara keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terhadap kepuasan

kerja karyawan. Uraian diatas dapat menjadi pedoman dalam penelitian ini,

dapat dilihat pada Gambar 2.

3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian mengenai analisis hubungan keselamatan dan

kesehatan kerja terhadap kepuasan kerja karyawan dilakukan di PT. Dystar

Colours Indonesia yang terletak di Jl. Australia I Kav. F1. Cilegon.

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2011.

3.4. Metode Penelitian

3.4.1. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer

dan data sekunder.

1. Data primer

Data primer merupakan data yang didapat dari sumber pertama

baik dari individu atau perseorangan seperti hasil dari wawancara atau

hasil kuesioner yang biasa dilakukan oleh peneliti (Umar, 2004). Data

primer diperoleh dengan menggunakan metode yaitu kuesioner,

wawancara dan pengamatan langsung.

Page 45: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

32

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih

lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau pihak

lain misalnya dalam bentuk tabel-tabel atau diagram-diagram (Umar,

2004). Data sekunder diperoleh dari studi literatur berupa gambaran

umum perusahaan, jurnal, internet, atau hasil penelitian terdahulu

yang berkaitan dengan materi penelitian, buku-buku, serta sumber-

sumber lain yang dapat menunjang penelitian.

PT. DyStar Colours Indonesia

Karyawan PT. DyStar

Colours Indonesia

Kepuasan Kerja Karyawan

Faktor Higienis :

1. Kebijakan Perusahaan.

2. Supervisi.

3. Hubungan Interpersonal.

4. Kondisi kerja.

5. Gaji dan Tunjangan.

Penerapan Program K3

Aspek K3 :

1. Pelatihan Keselamatan.

2. Publikasi Keselamatan Kerja.

3. Kontrol Lingkungan Kerja.

4. Inspeksi dan Disiplin.

5. Peningkatan Kesadaran K3.

Uji Korelasi Rank Spearman

Hubungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Terhadap Kepuasan Kerja

Karyawan

Page 46: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

33

2222 ..

.r

YYNXXN

YXXYN

3.4.2. Teknik Penarikan Sampel

Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

teknik non-probabilitas (non-probability sampling) dengan metode sensus,

yaitu populasi diambil secara keseluruhan sehingga jumlah sampel sama

dengan jumlah populasi (Nazir, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh karyawan PT. DyStar Colours Indonesia yang berjumlah 113 orang

baik dibagian kantor maupun pabrik.

3.4.3. Uji Validitas

Validitas merupakan derajat ketepatan antara yang terjadi pada

objek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti

(Sugiyono, 2009). Hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan

antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi

pada objek penelitian yang diteliti. Instrumen yang valid berarti alat

ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid.

Valid berarti instrumen ynag digunakan untuk mengukur apa yang

hendak diukur (Sugiyono, 2009). Menurut Umar (2004), dalam

menetapkan validitas suatu instrumen pengukuran adalah

menghasilkan derajat yang tinggi dari kedekatan data yang diperoleh

dengan apa yang kita yakini dalam pengukuan. Rumus yang

digunakan untuk menguji validitas yaitu dengan teknik korelasi

product moment :

………………… (1)

Keterangan :

N = Jumlah responden

X = Skor masing-masing pernyataan dari responden

Y = Skor total tiap pernyataan dari tiap responden

Setelah mendapatkan nilai r, selanjutnya dibandingkan dengan r

tabel dan ditarik kesimpulan. Bila nilai r > r tabel, maka pernyataan

tersebut valid atau signifikan dalam penelitian ini, sedangkan nilai r <

Page 47: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

34

2

1

2

11σ

σ1

1k

kr

n

n

XX

2

2

2

r tabel, maka pernyataan tersebut tidak valid atau tidak signifikan

dalam penelitian ini.

3.4.4. Uji Reliabilitas

Dalam pandangan posivistik (kuantitatif), suatu data dinyatakan

realible apabila dua atau lebih peneliti dalam obyek yang sama

menghasilkan data yang sama atau peneliti sama dalam waktu yang

berbeda menghasilkan data yang sama, atau sekelompok data apabila

dipecah menjadi dua menunjukkan data yang tidak berbeda

(Sugiyono, 2009). Reliabilitas adalah suatu nilai yang menunjukkan

konsistensi suatu alat pengukur didalam mengukur gejala yang sama

(Umar, 2004). Teknik pengukuran reliabilitas yang digunakan adalah

teknik Alpha Cronbach, dengan rumus sebagai berikut :

………...…………………...……… (2)

Keterangan :

r11 = Reliabilitas instrumen

K = Banyaknya butir pertanyaan

2 = Jumlah ragam butir

2

1 = Jumlah ragam total

Uji realibilitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana hasil

pengukuran dapat dipercaya atau diandalkan untuk dijadikan sebagai

alat ukur penelitian. Hasil uji realibilitas dihitung dengan bantuan

SPSS 16 for windows. Hasil pengukuran reliabilitas menyatakan

bahwa kuesiner dapat diandalkan untuk dijadikan alat ukur pada

penelitian ini.

Sedangkan rumus untuk varian total :

………………..………………… (3)

Page 48: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

35

Keterangan :

n = Jumlah responden

X = Nilai skor yang dipilih

3.5. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian kuantitatif, teknik analisis data yang digunakan

sudah jelas, yakni diarahkan untuk menjawab rumusan masalah atau

mengkaji hipotesis yang telah dirumuskan dalam proposal (Sugiyono,

2009). Dalam penelitian ini hasil dari kuesioner akan diolah dan dianalisis

yaitu dengan memberikan skor pada setiap jawaban responden kemudian

hasil skor yang didapat akan dipindahkan ke dalam tabel tabulasi untuk

dianalisis dan diolah. Untuk langkah selanjutnya, hasil dari pengolahan dan

analisis dari tabel tabulasi kemudian akan dijelaskan dengan analisis

deskriptif.

Untuk skor jawaban dari setiap item pertanyaan berdasarkan Skala

Likert. Jawaban dari setiap item instrumen yang menggunakan Skala Likert

mempunyai gradasi dari sangat positif sampai dengan negatif yaitu sangat

setuju, setuju, cukup setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju (Sugiyono,

2009). Kelima penilaian tersebut diberi skor seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Skala Pengukuran yang digunakan

Langkah selanjutnya adalah pengolahan kuesioner dilakukan

dengan menggunakan rentang skala penilaian dengan menentukan posisi

tanggapan responden dengan menggunakan nilai skor. Setiap bobot

alternatif jawaban yang terbentuk dari teknik skala peringkatan terdiri dari

kisaran 1 - 5. Penentuan rentang skala dilakukan dengan rumus berikut

(Umar, 2004) :

Jawaban Responden Bobot Nilai

Sangat Setuju 5

Setuju 4

Cukup Setuju 3

Tidak Setuju 2

Sangat Tidak Setuju 1

Page 49: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

36

)1(

6

12

1

2

nn

d

r

n

i

i

s

m

m )1( Rs = ……….…….………………………………………. (4)

Keterangan :

RS = Rentang Skala

m = Jumlah alternatif jawaban tiap item

Berdasarkan rumus tersebut, maka dapat dihitung nilai rentang skala

sebagai berikut :

Rs = 5

)15( = 0.8

Nilai skor rataan dihasilkan dari perkalian antara bobot nilai jawaban

berdasarkan skala dengan jumlah jawaban responden, kemudian dibagi

dengan jumlah responden. Berdasarkan nilai skor rataan tersebut, maka

posisi keputusan rentang skala dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Posisi Keputusan Penilaian

Skor Rataan Keterangan

1,0-1,8 Sangat Buruk

1,9-2,6 Buruk

2,7-3,4 Cukup Baik

3,5-4,2 Baik

4,3-5,0 Sangat Baik

3.5.1. Uji Korelasi Rank Spearman

Analisis korelasi ini mengukur ada atau tidaknya dan kuat atau

tidaknya hubungan antara peubah X dan peubah Y. Peubah X adalah

program K3 yang terdiri dari pelatihan keselamatan, publikasi

keselamatan kerja, kontrol lingkungan kerja, inspeksi dan disiplin

serta peningkatan kesadaran K3. Sedangkan peubah Y adalah

kepuasan kerja karyawan. Untuk mengetahui apakah ada hubungan

antara program K3 dengan kepuasan kerja karyawan, dapat dihitung

menggunakan metode uji korelasi Rank Spearman dengan rumus

sebagai berikut:

…………….……………..…………….. (5)

Page 50: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

37

22

222

.2

yx

dyxr

i

s

xTnn

x12

32

yTnn

y12

32

12

3

xxx

ttT

12

3

yy

y

ttT

Keterangan :

sr = Koefisien korelasi Rank Spearman

2

id = Selisih antara peringkat X dan Y

n = Jumlah sampel

Bila banyak terdapat angka bernilai sama, maka rumus yang

digunakan adalah:

.................................................. (6)

Dimana:

Keterangan : T = Faktor koreksi.

xt = Banyaknya observasi untuk X tertentu yang sama.

yt = Banyaknya observasi untuk Y tertentu yang sama.

Besarnya nilai terletak antara -1< rs<1, artinya :

sr = +1, hubungan X dan Y sempurna positif (mendekati 1, hubungan

sangat kuat dan positif).

sr = -1, hubungan X dan Y sempurna negatif (mendekati -1, hubungan

sangat kuat dan negatif).

sr = 0, hubungan X dan Y lemah sekali dan tidak ada hubungan.

Jika r antara 0 – 1, maka kedua peubah berkorelasi dengan

keeratan relatif. Semakin mendekati 1, maka keeratan hubungan

Page 51: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

38

semakin tinggi. Ketentuan koefisien korelasi (Nugroho, 2005) seperti

dimuat pada Tabel 4.

Tabel 4. Rentang keeratan hubungan nilai r

Interval Koefisien Keeratan Hubungan

0,00 - 0,20 Sangat Lemah

0,21 - 0,40 Lemah

0,41 - 0,70 Kuat

0,71 - 0,90 Sangat Kuat

0,91 - 0.99 Sangat Kuat Sekali

1 Sempurna

Kaidah keputusan dalam suatu penelitian umumnya akan

dibandingkan nilai peluang pada taraf nyata (α) = 0,05. Taraf nyata

0,05 dipilih, karena angka ini cukup ketat untuk mewakili hubungan

antara dua peubah dan merupakan tingkat nyata yang sudah sering

digunakan dalam penelitian ilmu sosial. Kriteria uji yang digunakan

adalah:

a. Jika p < α = 0,05, maka tolak H0 dan terima H1

b. Jika p > α = 0,05, maka terima H0

Dengan keterangan sebagai berikut:

H0 = Tidak terdapat hubungan K3 dengan kepuasan kerja karyawan

H1 = Terdapat hubungan K3 dengan kepuasan kerja karyawan

Page 52: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Perusahaan

4.1.1. Sejarah Perusahaan

Sejalan dengan adanya produsen serat syntetis, perusahaan

permintalan benang, perajutan dan perusahaan penyempurnaan tekstil

menyebabkan permintaan akan zat warna tetap bertambah, oleh sebab

itu pemerintah menyetujui berdirinya PT DyStar Indonesia yang

memproduksi zat warna Remazol.

Pada awalnya PT. Dystar Cilegon dan PT. Hoechst Cilegon

Kimia merupakan salah satu bagian dari kelompok perusahaan kimia

terbuka Hoechst yang berpusat di Jerman. Sejak tahun 1952 Hoecsht

AG Jerman memproduksi zat warna reaktif dengan nama dagang

Remazol.

PT. Hoechst Cilegon Kimia merupakan perusahaan yang

berstatus perseroan terbatas, dan merupakan patungan antara

Indonesia dan Jerman yang didirikan berdsarkan Keputusan Presiden

Republik Indonesia yang ada pada waktu itu adalah Presiden Soeharto

No. B.26/pres/1982 dikeluarkan pada tanggal 8 Maret 1982. Pada

tahun 1996 PT. Hoecsht Cilegon Kimia dan PT. Bayer bekerja sama

untuk memproduksi zat warna dan berganti nama menjadi PT. DyStar

Cilegon. Penggabungan ini dilakukan untuk menghadapi pasar bebas

yang semakin kompetitif. Mulai Februari 1996 PT. DyStar Cilegon

memiliki target kapasitas produksi 2000 ton per tahunnya.

Pada tanggal 23 Mei 2001 secara resmi PT. Dystar Cilegon

bergabung dengan PT. Dystar Polikrik Gabus Cikande, maka namanya

berubah kembali menjadi PT. Dystar Colours Indonesia, berdasarkan

Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik

Indonesia No. C-01145HT.0104.TH.2001. PT. Dystar Colours

Indonesia ini mempunyai dua lokasi, yaitu PT. Dystar Colours

Indonesia, Gabus Plant dan PT. Dystar Colours Indonesia, Cilegon

Plant. PT. Dystar Colours Indonesia berkedudukan dikantor pusat

Page 53: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

40

Jakarta tepatnya di Jl. Gatot Subroto Kav.27 Menara Global Building

lantai 22.

4.1.2. Struktur Organisasi

Dalam melaksanakan aktivitasnya, PT. DyStar Colours

Indonesia dipimpin oleh Presiden Direktur yang membawahi empat

divisi utama, yaitu:

1. Divisi Teknik.

2. Divisi Keuangan.

3. Divisi Pemasaran.

4. Divisi Umum.

Divisi-divisi tersebut berkedudukan dikantor pusat Jakarta

tepatnya di Jl. Gatot Subroto Kav.27 Menara Global Building lantai

22, kecuali divisi teknik yang berhubungan langsung dengan jalannya

proses produksi, berkedudukan di Cilegon Banten.

Tugas dan tanggung jawab masing-masing jabatan perusahaan

adalah sebagai berikut:

1. Technical Director, tugasnya adalah memimipin dan menjalankan

perusahaan serta mempertanggungjawabkan seluruh kegiatan

pabrik.

2. Manager Production, tugasnya adalah sebagai pelaksana langsung

jalannya produksi dan meminta pertanggung jawaban dari

supervisor bagian produksi serta pengawasan mutu (Quality

Control Laboratory)

3. Engineering, tugasnya adalah menangani masalah-masalah teknik

dan meminta pertanggungjawaban dari Maintenance, Instrument,

Electric dan Energy. Adapun tugas dan tanggung jawab masing-

masing jabatan sebagai berikut:

a. Maintenance, tugasnya adalah mengadakan pemeliharan secara

teratur terhadap mesin-mesin produksi dan perlengkapannya.

b. Instrument, tugasnya adalah mengadakan jadwal dan

melakukan perbaikan apabila ada kerusakan dari mesin-mesin

produksi atau perlengkapannya.

Page 54: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

41

c. Electric, tugasnya adalah merawat dan memperbaili kerusakan-

kerusakan yang berhubungan dengan listrik.

d. Energy, tugasnya adalah menyelenggarakan dan menyediakan

energy yang dibutuhkan untuk perusahaan.

4. Plant Administrator, tugasnya adalah sebagai berikut:

a. Mengurus rumah tangga perusahaan dan mengurus

kepegawaian, yakni penerimaan karyawan baru, mengawasi

absensi karyawan, merancang pembayaran gaji, serta mengatur

transportasi bagi karyawan.

b. Mewakili perusahaan dalam menghadapi instansi pemerintah

yang bersangkutan dengan DEPNAKER, dinas perburuhan

serta segala macam urusan yang menyangkut tenaga kerja.

5. Production Planing/Inventory Control, tugasnya adalah

mengawasi, mengatur dan mengurus pencatatan transaksi untuk

mengurusi laba rugi perusahaan dan menyelenggarakan promosi.

6. Production Supervisor, tugasnya adalah sebagai berikut:

a. Bertanggung jawab terhadapa kelancaran produksi.

b. Menyusun jadwal produksi.

c. Mengontrol bahan baku untuk keperluan produksi.

d. Memelihara standard kualitas hasil produksi.

7. Quality Control Laboratory (QCL), tugasnya adalah menentukan

standard dari hasil produksi.

8. Process Control Laboratory (PCL), tugasnya adalah

merencanakan, mengkoordinir dan mengontrol kegiatan-kegiatan

analisis dan eksprimen yang berlangsung serta menganalisa

pembuangan limbah padat, cair maupun gas dari proses produksi.

9. Head of werehouse, tugasnya adalah menerima, menyiapkan dan

menyimpan bahan baku dan produk yang datang dan mengadakan

pembukuan terhadap bahan baku produk yang baru datang.

10. Safety Engineering, tugasnya adalah memberikan penyuluhan

kepada seluruh karyawan tentang Safety Health Environment

Page 55: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

42

(SHE) dan ada kaitannya dengan Material Safety Data Sheet

(MSDS).

11. Confidential Secretary, tugasnya adalah sebagai sekretaris utama

yang lebih senior dan langsung dibawah pimpinan Technical

Director.

12. Secretary, tugasnya adalah membantu pekerjaan dari Technical

Director dan Confidential Secretary.

13. Procurement, tugasnya adalah membeli bahan baku dan menjual

produk kepada konsumen.

4.1.3. Peraturan Perusahaan

PT. DyStar Colours Indonesia dalam melaksanakan pekerjaan

dan aktivitasnya serta untuk mensejahterakan seluruh karyawan PT.

DyStar Colours Indonesia, maka perusahaan ini membuat peraturan

perusahaan yang harus dipatuhi dan dijalankan oleh karyawan PT.

DyStar Colours Indonesia. Adapun peraturan dari perusahaan ini

adalah sebagai berikut:

1. Setiap karyawan harus mengetahui, mematuhi dan menjalankan

Material Safety Data Sheet.

2. Setiap karyawan harus masuk kerja menurut jadwal.

3. Setiap karyawan minimal 30 menit sebelum menjalankan kerja

harus ada di perusahaan.

4. Setiap karyawan yang tidak masuk memberi surat keterangan.

5. Setiap karyawan yang sakit harus memberikan surat keterangan

dari dokter.

4.1.4. Standar dan Prosedur Perusahaan

Dalam melaksanakan aktivitasnya, PT. DyStar Colours

Indonesia memiliki standar dan prosedur untuk mensejahterakan

karyawannya, yang didalamnya terdapat kebijakan-kebijakan

perusahaan, meliputi:

Page 56: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

43

1. Tunjangan kesehatan.

2. Tunjangan transportasi.

3. Tunjangan makan.

4. Fasilitas umum.

4.1.5. Ketenagakerjaan

Para pekerja yang berstatus nonshift mempunyai kewajiban dan

tanggung jawab untuk bekerja sesuai dengan hari kerja, hari Senin

sampai hari Jumat. Sedangkan jika bekerja hari Sabtu, Minggu dan

hari libur resmi dianggap kerja lembur yang harus dengan perintah

dan diketahui oleh atasan. Jam kerja yang berlaku diperusahaan 8 jam

dalam sehari atau 40 jam dalam seminggu.

Pembagian kerja untuk para pekerja yang berstatus shift terdiri

dari atas 3 shift. Mereka mempunyai kewajiban untuk bekerja selama

enam hari kerja, dimana 2 shift A, 2 hari shift B, 2 hari shift C dan 2

hari libur. Bilamana ada tambahan kerja diluar jadwal kerja maka

dianggap lembur. Adapun jadwal shift tersebut dapat dilihat pada

Tabel 5.

Tabel 5. Jadwal shift

Shift Waktu

A 07.30 WIB – 16.00 WIB

B 15.30 WIB – 24.00 WIB

C 23.30 WIB – 08.00 WIB

4.2. Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

PT. DCI merupakan perusahaan yang bersifat industri yang bergerak

di bidang produksi zat warna yang telah menerapkan program K3 diseluruh

bagian-bagian yang ada di perusahaan tersebut. PT. DCI memiliki resiko

kecelakaan yang rendah karena usaha dari pihak perusahaan dalam

mengontrol K3 sangat ketat. Penerapan K3 di PT. DCI bertujuan untuk

memberikan perlindungan kepada karyawan yaitu mencegah terjadinya

kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, sekaligus melaksanakan

tanggung jawab untuk selalu memperhatikan keselamatan karyawan yang

Page 57: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

44

sudah menjadi hak karyawan dan juga dapat mengurangi biaya perusahaan

apabila timbul kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Adapun program K3 yang telah diterapkan di PT. DCI diantaranya

yaitu:

1. Pelatihan keselamatan kerja

Perusahaan telah mengadakan beberapa jenis pelatihan mengenai

keselamatan kerja yang bertujuan untuk melatih karyawan dalam

mengantisipasi terjadinya kecelakan kerja. Jenis pelatihan keselamatan

kerja yang telah diadakan di PT. DCI diantaranya yaitu:

a. Pelatihan penggunaan peralatan kerja.

b. Pelatihan penggunaan peralatan keselamatan kerja.

c. Pelatihan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran.

2. Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD)

Perusahaan menyediakan APD bagi karyawan yang bertujuan untuk

melindungi karyawan dari bahaya dan penyakit yang mungkin terjadi

akibat kerja. APD yang disediakan perusahaan disesuaikan dengan jenis

bahaya akibat dari pekerjaan yang dilakukan karyawan. Adapun APD

yang harus digunakan karyawan diantaranya:

a. Pakaian Kerja

Pakaian kerja yang dimaksud adalah pakaian yang digunakan

karyawan pada seluruh bagian-bagian yang ada di perusahaan.

Penggunaan pakaian ini bertujuan untuk melindungi karyawan dari

bahaya akibat kerja.

b. Sepatu Pengaman (safety shoes)

Sepatu pengaman digunakan oleh seluruh karyawan yang berfungsi

untuk melindungi kaki bila tertimpa alat berat. Sepatu pengaman ini

di lengkapi besi pelindung pada ujung sepatu sehingga mampu

memberikan perlindungan untuk kaki karyawan.

c. Sarung Tangan

Sarung tangan digunakan untuk melindungi tangan karyawan dari

benda panas, benda kasar, benda tajam selama proses produksi

Page 58: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

45

berlangsung sehingga karyawan terhindar dari kecelakaan yang

mengakibatkan tangan terluka ringan maupun terluka parah.

d. Helm

Helm digunakan untuk melindungi kepala karyawan dari benda-

benda berat maupun alat-alat berat selama proses kerja berlangsung

yang bertujuan agar karyawan terhindar dari kecelakaan kerja yang

mengakibatkan karyawan terluka.

e. Masker

Masker berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja

di tempat dengan kualitas udara buruk. Masker digunakan oleh

seluruh karyawan setiap masing-masing bagian pada saat bekerja.

f. Tali keselamatan (safety belt)

Tali keselamatan berfungsi sebagai alat pengaman ketika

menggunakan alat transportasi. Safety belt digunakan untuk karyawan

bagian warehouse dan engineering.

3. Penyediaan peralatan keselamatan dan kesehatan kerja

Perusahaan menyediakan peralatan keselamatan dan kesehatan kerja

(K3) berupa peralatan penanganan darurat medis, tombol bahaya (alarm),

Alat Pemadam Api Ringan (APAR), dan tandu. Semua peralatan K3

tersedia di setiap ruangan. Peralatan penangan darurat medis disediakan

sebagai upaya pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan kerja,

tombol bahaya (alarm) berfungsi untuk memberitahukan seluruh

karyawan apabila terjadi kejadian yang membahayakan. Alat Pemadam

Api Ringan (APAR) disediakan untuk mengantisipasi terjadinya

kebakaran di pabrik, dan tandu disediakan untuk membawa karyawan

yang pingsan maupun terluka yang menyebabkan karyawan tidak bisa

berjalan ke tempat yang aman.

4. Fasilitas kesehatan

Perusahaan mengadakan pemeriksaan kesehatan bagi para karyawan

setiap dua kali dalam seminggu yang dilakukan oleh dokter perusahaan.

Pemeriksaan kesehatan bertujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan

karyawan dan mendeteksi dini penyakit yang mungkin diderita karyawan.

Page 59: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

46

4.3. Evaluasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Evaluasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di PT DyStar

Colours Indonesia dilakukan melalui proses audit keselamatan dan

kesehatan kerja (K3). Audit keselamatan dan kesehatan kerja dapat diartikan

sebagai suatu sistem pengujian terhadap kegiatan keselamatan dan

kesehatan kerja secara sistematis untuk menemukan kelemahan dari unsur

sistem (manusia, sarana lingkungan kerja, perangkat lunak) sehingga

dilakukan tindakan perbaikan.

Pelaksanaan audit keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di PT DyStar

Colours Indonesia dilakukan oleh pihak luar maupun dari dalam perusahaan

sendiri. Audit eksternal (luar) dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup dan

Dinas Tenaga Kerja. Untuk pelaksanaan audit eksternal ini dilakukan

setahun sekali.

Audit Internal (dalam) dari PT DyStar Colours Indonesia dilakukan

setiap hari dengan membentuk tim khusus P2K3 melalui Divisi Plant

Administator dan Divisi Safety Engineering. Tugas dari tim ini adalah

memeriksa apakah pelaksanaan program K3 sudah sesuai dengan prosedur

atau belum.

4.4. Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT DyStar

Colours Indonesia. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin, usia,

tingkat pendidikan dan masa kerja.

4.4.1. Jenis Kelamin

Sebagian besar karyawan PT DyStar Colours Indonesia adalah

karyawan pria 112 orang (99,11%) dan sisanya karyawan wanita 1

orang (0,89%). Besarnya persentase karyawan laki-laki karena

sebagian besar kegiatan operasional perusahaan memerlukan mobilitas

tinggi dan memerlukan kekuatan fisik dibandingkan dengan karyawan

wanita. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat

dilihat pada Gambar 3.

Page 60: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

47

Gambar 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

4.4.2. Usia

Usia karyawan berkaitan dengan pengalaman kerja yang

dimilikinya dan juga menentukan produktivitasnya dalam bekerja.

Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa usia karyawan tersebar kedalam

empat kelompok yaitu, 20-30 tahun, 31-40 tahun, 41-50 tahun dan 51-

60 tahun. Dapat disimpulkan bahwa usia karyawan menyebar ke

dalam beberapa kelompok umur yaitu sebesar 46.90% sebanyak 53

orang masuk ke dalam kelompok usia antara 41-50 tahun, 38.93%

sebanyak 44 orang masuk ke dalam kelompok usia antara 31-40 tahun,

10.62% sebanyak 12 orang masuk ke dalam kelompok usia antara 51-

60 tahun dan 3.54% sebanyak 4 orang masuk ke dalam kelompok usia

antara 20-30 tahun. Berdasarkan data tersebut disimpulkan bahwa

sebagian besar karyawan rata-rata masih berada pada batas usia

produktif untuk bekerja. Karakteristik responden berdasarkan usia

dapat dilihat pada Gambar 4.

0

20

40

60

80

100

120

Pria Wanita

112

1

Pria

Wanita

Page 61: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

48

Gambar 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

4.4.3. Tingkat Pendidikan

Berdasarkan Tabel 6 diperoleh data bahwa karyawan PT. DyStar

Colours Indonesia memiliki latar belakang pendidikan yang paling

banyak adalah lulusan Sekolah Menengah Umum (SMU) yaitu

sebanyak 89 orang (78.76%). dan lulusan yang paling sedikit yaitu

lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah Teknik Mesin

(STM), Diploma 1 (D1) serta Diploma 3 (D3) yang masing-masing

jumlah karyawannya 1 orang (0,89%). Hal ini terjadi karena secara

keseluruhan pekerjaan yang harus dilakukan tidak menuntut keahlian

tinggi, karena karyawan mampu menjalankan pekerjaan dengan

keterampilan dan pengalaman yang telah didapatkan. Karakteristik

responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Gambar

5.

0

10

20

30

40

50

60

20 - 30 Tahun

31 - 40 Tahun

41 - 50 Tahun

51 - 60 Tahun

4

44

53

12

20 - 30 Tahun

31 - 40 Tahun

41 - 50 Tahun

51 - 60 Tahun

Page 62: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

49

Gambar 5. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

4.4.4. Masa Kerja

Berdasarkan Tabel 6 diperoleh data bahwa karyawan dengan

masa kerja tertinggi lebih dari 15 tahun (>15) sebanyak 57 orang

(50,44)%, dan terendah berada pada rentang masa kerja 1-5 tahun

yaitu sebanyak 2 orang (1,77%). Dapat disimpulkan bahwa sebagian

besar karyawan sudah memiliki banyak pengalaman yang berkaitan

dengan pekerjaannya serta merupakan cerminan loyalitas dari

karyawan sangat tinggi terhadap perusahaan. Karakteristik responden

berdasarkan masa kerja dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

SMP SMU SMK STM D1 D3 S1

13

89

1 1 1 17

SMP

SMU

SMK

STM

D1

D3

S1

0

10

20

30

40

50

60

1 - 5 Tahun 6 - 10 Tahun

11 - 15 Tahun

> 15 Tahun

2

16

38

57

1 - 5 Tahun

6 - 10 Tahun

11 - 15 Tahun

> 15 Tahun

Page 63: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

50

Tabel 6. Karakteristik Responden

Karakteristik Jumlah (orang) Persentase (%)

Jenis Kelamin Laki-Laki 112 99,11

Perempuan 1 0,89

Usia (tahun)

20-30 4 3,54

31-40 44 38,93

41-50 53 46,90

51-60 12 10,62

Pendidikan

SMP 13 11,50

SMU 89 78,76

SMK 1 0,89

STM 1 0,89

D1 1 0,89

D3 1 0,89

S1 7 6,19

Masa Kerja

(tahun)

1 s/d 5 2 1,77

6 s/d 10 16 14,16

11 s/d 15 38 33,62

> 15 57 50,44

4.5. Hasil Perhitungan Uji Validitas dan Reliabilitas

4.5.1. Hasil Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk melihat apakah pernyataan-

pernyataan yang diajukan dapat memberikan jawaban yang sesuai dan

dapat mengukur aspek-aspek yang ingin diukur. Uji validitas

menggunakan rumus korelasi product moment dan hasilnya akan

dibandingkan dengan nilai angka kritik tabel korelasi nilai r. Uji

validitas dilakukan dengan cara uji coba kuesioner yang disebarkan

kepada 30 responden. Suatu pernyataan pada kuesioner dinyatakan

valid apabila r hitung lebih besar dari r tabel adalah 0.362. Setelah

dilakukan uji validitas terdapat 46 pernyataan yang dinyatakan valid

dari 49 pernyataan yang telah disebarkan melalui kuesioner. Hal ini

menunjukkan bahwa 46 pernyataan tersebut memenuhi syarat sah

untuk diolah lebih lanjut (r hitung > r tabel), dimana r tabel = 0.362

untuk n = 30. Hasil dari pengujian validitas dapat dilihat pada

Lampiran 3.

Page 64: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

51

4.5.2. Hasil Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana

hasil pengukuran dapat dipercaya atau diandalkan untuk dijadikan

sebagai alat ukur, apabila pengukuran diulangi. Uji reliabilitas

dilakukan setelah uji validitas. Pengujian reliabilitas dilakukan dengan

menggunakan teknik Cronbach’s Alpha kemudian nilainya

dibandingkan dengan nilai r tabel sebesar 0.362 (untuk tingkat

kesalahan 5%). Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan software

SPSS for Windows 16 diperoleh nilai Cronbach’s alpha sebesar 0,931

untuk pernyataan aspek-aspek K3 dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar

0,886 untuk pernyataan kepuasan kerja. Hal ini berarti bahwa

kuesioner yang disebarkan telah reliable atau andal sehingga pantas

digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian. Hasil dari pengujian

reliabilitas dapat dilihat pada Lanjutan Lampiran 3.

4.6. Analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan (K3) merupakan hal yang

seharusnya menjadi perhatian utama bagi perusahaan. Adanya sistem K3

yang baik akan menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman, tenaga kerja

yang sehat dan produktif, sehingga akan meningkatkan kepuasan kerja

karyawan. Dengan demikian, penelitian ini perlu dilakukan analisis untuk

mengetahui persepsi karyawan terhadap pelaksanaan K3 dan persepsi

karyawan terhadap kepuasan kerja. Faktor-faktor K3 yang dianalisis dalam

penelitian ini berdasarkan dari faktor-faktor dari teori Miner. Setelah

melakukan kesepakatan dengan pihak manajemen PT DyStar Colours

Indonesia, maka faktor yang digunakan hanya 5 faktor dari Safety

Psychology saja yang diteliti, yakni pelatihan keselamatan, publikasi

keselamatan kerja, kontrol lingkungan kerja, inspeksi dan disiplin serta

peningkatan kesadaran K3. Bobot yang digunakan dalam setiap pertanyaan

adalah:

Page 65: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

52

5 = Sangat Setuju (SS)

4 = Setuju (S)

3 = Cukup Setuju (CS)

2 = Tidak Setuju (TS)

1 = Sangat Tidak Setuju (STS)

Tabel 7. Hasil jawaban responden mengenai pelatihan keselamatan

(n = 113) No Pernyataan Rataan

Skor Keterangan

1. Perusahaan telah memberikan

pelatihan penggunaan peralatan kerja

kepada saya.

4,38 Sangat Baik

2. Perusahaan telah memberikan pelatihan penggunaan alat-alat

keselamatan kerja kepada saya.

4,30 Sangat Baik

3. Perusahaan telah memberikan

pelatihan pencegahan

penanggulangan bahaya kebakaran kepada saya.

4,35 Sangat Baik

4. Saya merasakan manfaat dari

pelatihan yang diadakan perusahaan

4,37 Sangat Baik

5. Pelatihan memberikan banyak informasi tentang bahaya pekerjaan

dan pentingnya keselamatan saya.

4,49 Sangat Baik

Total 4,37 Sangat Baik

Pelatihan merupakan salah satu faktor yang diperlukan karyawan

untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. Pelatihan yang dimaksud dalam

penelitian ini adalah pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan keselamatan

kerja. Adanya pelatihan keselamatan yang diberikan oleh perusahaan akan

membuat karyawan bekerja dengan lebih berhati-hati dan dapat melindungi

diri dari kecelakaan kerja yang mungkin mungkin terjadi.

Berdasarkan Tabel 7, menunjukkan persepsi karyawan mengenai

pelatihan keselamatan. Nilai rataan tertinggi berdasarkan persepsi karyawan

adalah mengenai pelatihan yang memberikan banyak informasi tentang

bahaya pekerjaan dan keselamatan sudah dilaksanakan sangat baik. Dengan

nilai rataan sebesar 4,49 menunjukkan sebagian besar karyawan merasa

perusahaan telah memberikan pelatihan dan banyak informasi tentang

bahaya pekerjaaan dan pentingnya keselamatan dalam bekerja. Nilai rataan

terkecil berdasarkan persepsi karyawan adalah mengenai pelatihan

Page 66: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

53

penggunaan peralatan keselamatan kerja sudah dilaksanakan sangat baik.

Dengan nilai rataan sebesar 4,30 menunjukkan sebagian besar karyawan

berpendapat bahwa pelatihan penggunaan peralatan keselamatan kerja yang

dilaksanakan masih belum bekerja secara optimal.

Dari hasil penelitian mengenai pelatihan keselamatan kerja, diperoleh

nilai rataan keseluruhan sebesar 4,37 dan persepsi karyawan termasuk

kategori sangat baik. Dapat disimpulkan bahwa secara umum pelatihan

keselamatan yang diadakan oleh perusahaan sudah dilaksanakan dengan

baik, namun perlu ditingkatkan lagi terutama pada aspek pelatihan

penggunaan peralatan keselamatan kerja.

Tabel 8. Hasil jawaban responden mengenai publikasi keselamatan

kerja (n = 113)

No Pernyataan Rataan Skor Keterangan

1. Perusahaan telah

menempel/memasang tanda peringatan di tempat yang

berpotensi berbahaya

4,64 Sangat Baik

2. Di lingkungan perusahaan terdapat pesan-pesan tentang keselamatan

dan kesehatan kerja

4,59 Sangat Baik

3. Perusahaan mensosialisasikan

penggunaan alat pelindung diri

(APD) dan alat pemadam kebakaran

4,50 Sangat Baik

4. Perusahaan memberikan informasi

tentang tingkat bahaya pekerjaan

4,46 Sangat Baik

5. Atasan saya memberikan contoh-contoh yang baik tentang cara-cara

bekerja yang aman dan sehat

4,41 Sangat Baik

Total 4,52 Sangat Baik

Publikasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah berhubungan

dengan pemberian informasi atau pesan mengenai keselamatan kerja.

Berdasarkan Tabel 8, menunjukkan persepsi karyawan mengenai publikasi

keselamatan kerja. Nilai rataan tertinggi berdasarkan persepsi karyawan

adalah mengenai pemasangan atau penempelan tanda peringatan di tempat

yang berpotensi berbahaya. Dengan nilai rataan sebesar 4,64 menunjukkan

sebagian besar karyawan berpendapat pemasangan tanda peringatan di

tempat yang berpotensi bahaya yang dilaksanakan pihak perusahaan sudah

Page 67: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

54

berjalan sangat baik. Nilai rataan terkecil berdasarkan persepsi karyawan

adalah mengenai pemberian contoh-contoh yang baik tentang cara bekerja

yang aman dan sehat yang dilingkungan perusahaan yang diberikan

langsung oleh atasan. Dengan nilai rataan sebesar 4,41 menunjukkan

sebagian besar karyawan berpendapat bahwa pemberian contoh tentang

bekerja yang aman dan sehat yang diberikan oleh atasan masih belum

optimal sehingga terjadinya kecelakaan kerja dilingkungan perusahaan.

Dari hasil penelitian mengenai publikasi keselamatan kerja, diperoleh

nilai rataan keseluruhan adalah sebesar 4,52 dan persepsi karyawan

termasuk sangat baik. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa

pelaksanaan publikasi keselamatan kerja sudah terlaksana dengan sangat

baik, namun pihak manajemen perusahaan perlu meningkatkan lagi

terutama pada pemberian contoh-contoh yang baik mengenai cara bekerja

yang sehat dan aman sehingga dapat mengurangi kecelakaan kerja.

Tabel 9. Hasil jawaban responden mengenai kontrol lingkungan kerja

(n=113)

No Pernyataan Rataan Skor Keterangan

1 Perusahaan menyediakan alat

pelindung diri untuk bekerja

4,45 Sangat Baik

2 Kondisi ventilasi, suhu dan penerangan di ruang kerja cukup

baik dan memuaskan

4,04 Baik

3 Ruangan tempat kerja saya

cukup bersih 4,02 Baik

4 Kondisi ruang kerja saya

memberikan keamanan dan kenyamanan dalam bekerja

4,07 Baik

5 Perusahaan mengadakan

pemeriksaan secara rutin.

4,35 Sangat Baik

6 Perlengkapan keamanan dan

keselamatan kerja tersedia di

lingkungan kerja saya

4,47 Sangat Baik

7 Perusahaan mempunyai fasilitas

P3K di tempat kerja 4,55 Sangat Baik

Total 4,27 Baik

Page 68: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

55

Kontrol lingkungan kerja dalam penelitian ini adalah pemeriksaan

atau pengendalian yang berhubungan dengan kondisi karyawan dan

lingkungan kerja diantaranya yaitu: suhu ruangan kerja, penerangan,

kebersihan tempat kerja, ketersedian perlengkapan keamanan dan

keselamatan kerja serta fasilitas penanganan darurat medis dilingkungan

kerja.

Berdasarkan Tabel 9, menunjukkan persepsi karyawan mengenai

kontrol lingkungan kerja. Nilai rataan tertinggi berdasarkan persepsi

karyawan adalah mengenai perusahaan mempunyai fasilitas kesehatan

berupa P3K di tempat kerja dianggap sangat baik. Dengan nilai rataan

sebesar 4,55 menunjukkan sebagian besar karyawan menganggap bahwa

fasilitas P3K yang diberikan oleh pihak perusahaan telah dilaksanakan

dengan sangat baik. Nilai rataan terkecil berdasarkan persepsi karyawan

yaitu mengenai ruangan tempat bekerja yang cukup bersih. Dengan nilai

rataan sebesar 4,02 menunjukkan sebagian besar karyawan menganggap

bahwa setiap ruangan tempat bekerja kurang bersih dan pihak perusahaan

kurang peka terhadap kebersihan terutama di ruangan tempat bekerja.

Dari hasil penelitian mengenai kontrol lingkungan kerja, diperoleh

nilai rataan keseluruhan sebesar 4,27 dan persepsi karyawan termasuk

kategori baik. Dapat disimpulkan bahwa secara umum kontrol lingkungan

kerja telah terlaksana dengan baik, namun perlu ditingkatkan lagi oleh

perusahaan untuk memelihara kebersihan ruangan tempat bekerja agar

karyawan merasa aman, nyaman dan sehat.

Inspeksi atau pengawasan adalah pemeriksaan secara seksama

mengenai pelaksanaan peraturan dan tugas. Disiplin kerja adalah suatu alat

berkomunikasi dengan karyawan untuk meningkatkan kesadaran dan

kesediaan seseorang mentaati semua peraturan perusahaan (Rivai, 2009).

Disiplin merupakan kepatuhan karyawan terhadap peraturan yang

ditetapkan perusahaan. Dengan adanya pengawasan yang dilakukan oleh

pihak perusahaan terhadap lingkungan kerja dan perilaku kerja karyawan,

hal ini dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja dilingkungan

perusahaan.

Page 69: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

56

Tabel 10. Hasil jawaban responden mengenai inspeksi dan disiplin

(n =113) No. Pernyataan Rataan Skor Keterangan

1 Sebelum peralatan kerja dan

mesin-mesin digunakan

dilakukan pengecekan terlebih dahulu

4,45 Sangat Baik

2 Perusahaan melakukan

pengecekan alat-alat

keselamatan kerja secara

rutin

4,38 Sangat Baik

3 Perusahaan mewajibkan

penggunaan alat pelindung

diri saat bekerja

4,49 Sangat Baik

4 Perusahaan memberikan pengawasan terhadap bahan-

bahan berbahaya

4,46 Sangat Baik

Total 4,45 Sangat Baik

Berdasarkan Tabel 10, menunjukkan persepsi karyawan mengenai

inspeksi dan disiplin. Nilai rataan tertinggi berdasarkan persepsi karyawan

adalah diwajibkannya penggunaan alat pelindung diri (APD) saat bekerja

dianggap sangat baik. Dengan nilai rataan sebesar 4,49 menunjukkan

sebagian besar karyawan berpendapat bahwa pihak perusahaan mewajibkan

para karyawan untuk menggunakan alat pelindung diri saat bekerja hal ini

dapat memperkecil resiko yang timbul akibat dari kecelakaan dan penyakit

kerja. Nilai rataan terkecil berdasarkan persepsi karyawan adalah

dilakukannya pengecekan alat-alat keselamatan kerja secara rutin oleh pihak

perusahaan. Dengan nilai rataan sebesar 4,38 menunjukkan sebagian besar

karyawan berpendapat bahwa pengecekan alat-alat keselamatan kerja yang

dilakukan oleh perusahaan benar adanya dan terlaksana sangat baik.

Dari hasil penelitian mengenai inspeksi dan disiplin, diperoleh nilai

rataan keseluruhan sebesar 4,45 dan termasuk kategori sangat baik. Dapat

disimpulkan bahwa secara umum inspeksi dan disiplin dilaksanakan dengan

baik oleh perusahaan, namun dari segi pengecekan alat-alat keselamatan

kerja agar dapat ditingkatkan lagi sehingga apabila terjadi kecelakaan kerja

seperti kebakaran alat-alat keselamatan tersebut dapat bekerja dengan baik.

Page 70: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

57

Tabel 11. Hasil jawaban responden mengenai peningkatan kesadaran

K3 (n = 113)

No Pernyataan Rataan Skor Keterangan

1 Perusahaan memberikan

perhatian yang besar terhadap masalah K3

4,61 Sangat Baik

2 Perusahaan menempatkan K3 sebagai prioritas utama dalam

bekerja

4,62 Sangat Baik

3 Perusahaan sangat

memperhatikan keselamatan dan

kesehatan kerja saya

4,60 Sangat Baik

4 Penggunaan alat pelindung diri

(APD) saat bekerja terutama di

tempat yang berbahaya

4,53 Sangat Baik

5 Perusahaan menginginkan masukan-masukan atau gagasan

dari saya terkait dengan masalah

K3

4,20 Baik

6 Perusahaan menginginkan saya ikut aktif dalam penerapan

program K3

4,20 Baik

Total 4,46 Sangat Baik

Kurangnya kesadaran karyawan akan pentingnya keselamatan dan

kesehatan kerja merupakan tantangan atau pekerjaan rumah bagi perusahaan

untuk mendorong karyawan agar memperhatikan keselamatan dan

kesehatannya sewaktu bekerja.

Berdasarkan Tabel 11, menunjukkan persepsi karyawan mengenai

peningkatan kesadaran K3. Nilai rataan tertinggi berdasarkan persepsi

karyawan adalah perusahaan menempatkan K3 sebagai prioritas utama

dalam bekerja. Dengan nilai rataan sebesar 4,62 menunjukkan sebagian

besar karyawan membenarkan pernyataan bahwa perusahaan menempatkan

K3 sebagai prioritas utama dalam bekerja hal ini merupakan bentuk jaminan

keselamatan dan kesehatan kerja perusahaan terhadap karyawannya dan

dilaksanakan dengan sangat baik. Untuk nilai rataan terkecil berdasarkan

persepsi karyawan ada 2 (dua) yaitu perusahaan menginginkan masukan

atau gagasan terkait dengan masalah K3 dan perusahaan menginginkan ikut

Page 71: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

58

aktif dalam penerapan program K3. Dengan nilai rataan sebesar 4,20

menunjukkan sebagian besar karyawan berpendapat bahwa perusahaan

menginginkan masukan atau gagasan dari karyawannya terkait dengan

masalah K3 serta perusahaan juga menginginkan karyawannya ikut aktif

dalam penerapan program K3 masih belum sepenuhnya terlaksana dengan

baik.

Dari hasil penelitian mengenai peningkatan kesadaran K3, diperoleh

nilai rataan keseluruhan sebesar 4,46 dan termasuk kategori sangat baik.

Dapat disimpulkan bahwa peningkatan kesadaran K3 telah terlaksana

dengan sangat baik, namun perlu ditingkatkan lagi tertutama pada aspek

penggunaan alat pelindung diri (APD) saat bekerja terutama di tempat yang

berbahaya hal ini dilakukan agar karyawan terhindar dari kecelakaan kerja

di saat bekerja.

Tabel 12. Faktor-faktor K3 PT. DyStar Colours Indonesia

No. Faktor-faktor K3 Rataan Skor Keterangan

1 Pelatihan Keselamatan 4,38 Sangat Baik

2 Publikasi Keselamatan Kerja 4,52 Sangat Baik

3 Kontrol Lingkungan Kerja 4,27 Baik

4 Inspeksi dan Disiplin 4,44 Sangat Baik

5 Peningkatan Kesadaran K3 4,44 Sangat Baik

Total 4,41 Sangat Baik

Berdasarkan Tabel 12, menunjukkan persepsi karyawan mengenai

seluruh faktor-faktor K3 di PT DCI. Nilai rataan tertinggi berdasarkan

persepsi karyawan adalah mengenai publikasi keselamatan kerja yang

dianggap sangat baik. Dengan nilai rataan sebesar 4,52 menunjukkan

sebagian besar karyawan menyatakan bahwa publikasi keselamatan kerja

yang dilakukan oleh perusahaan sudah berjalan sangat baik. Nilai rataan

terkecil berdasarkan persepsi karyawan adalah mengenai kontrol lingkungan

kerja. Dengan nilai rataan sebesar 4,27 menunjukkan bahwa pelaksanaan

kontrol lingkungan kerja selama ini di perusahaan masih belum sepenuhnya

terlaksana dengan baik.

Page 72: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

59

Dari hasil penelitian mengenai seluruh faktor-faktor K3 di PT. DCI,

diperoleh nilai rataan keseluruhan sebesar 4,41 dan persepsi karyawan

termasuk kategori sangat baik. Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan

seluruh faktor-faktor K3 di PT. DCI sudah terlaksana dengan baik, namun

ada salah satu faktor yang perlu ditingkatkan lagi terutama pada faktor

kontrol lingkungan kerja.

4.7. Analisis Kepuasan Kerja Karyawan

Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan sesuatu yang bersifat

individual. Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda

sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Makin tinggi penilaian

terhadap kegiatan dirasakan sesuai dengan keinginan individu, maka makin

tinggi kepuasannya terhadap kegiatan tersebut. Kepuasan kerja karyawan

dapat dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja

karyawan yang meliputi yaitu: kebijakan perusahaan, supervisi, hubungan

interpersonal, kondisi kerja serta gaji dan tunjungan.

Tabel 13. Hasil jawaban responden mengenai kebijakan perusahaan

(n=113)

No. Pernyataan Rataan Skor Keterangan

1 Saya merasa puas dengan

peraturan jam kerja yang

diberlakukan oleh perusahaan

4,23 Baik

2 Saya merasa puas terhadap

peraturan dan kebijakan

perusahaan dengan baik terutama yang berkaitan dengan K3

4,03 Baik

3 Saya merasa puas sanksi

diberikan bila ada pelanggaran

terhadap peraturan K3

3,77 Baik

4 Saya merasa puas dengan

kedisiplinan dan penerapan peraturan K3 oleh perusahaan

4,05 Baik

Total 4,02 Baik

Berdasarkan Tabel 13, menunjukkan bahwa persepsi karyawan

mengenai kebijakan perusahaan. Nilai rataan tertinggi berdasarkan persepsi

karyawan adalah peraturan jam kerja yang diberlakukan oleh perusahaan

Page 73: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

60

sudah terlaksana dengan baik. Dengan nilai rataan sebesar 4,23

menunjukkan sebagian besar karyawan berpendapat bahwa pemberlakuan

jam kerja selama ini sudah dilaksanakan dengan baik. Nilai rataan terkecil

berdasarkan persepsi karyawan adalah sanksi yang diberikan bila ada

pelanggaran terhadap peraturan K3. Dengan nilai rataan sebesar 3,77

menunjukkan sebagian besar karyawan berpendapat bahwa sanksi yang

diberikan belum sepenuhnya terlaksanakan oleh perusahaan.

Dari hasil penelitian mengenai Kebijakan Perusahaan, diperoleh nilai

rataan keseluruhan sebesar 4,02 dan persepsi karyawan termasuk kategori

baik. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa karyawan merasa puas

dan terpenuhi terhadap kebijakan perusahaan, namun untuk aspek sanksi

yang diberikan apabila ada pelanggaran terhadap peraturan K3 belum

terpenuhi untuk itu perlu ditingkatkan oleh perusahaan.

Tabel 14. Hasil jawaban responden mengenai supervisi (n=113)

Secara umum supervisi adalah melakukan pengamatan langsung dan

berkala oleh atasan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan

untuk kemudian apabila ditemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau

bantuan yang bersifat langsung mengatasinya. Dengan adanya supervisi ini,

seorang karyawan dapat dibimbing dalam bekerja dan karyawan juga

No. Pernyataan Rataan

Skor

Keterangan

5 Saya merasa puas terhadap

pelatihan keselamatan kerja yang diberikan oleh atasan

4,17 Baik

6 Saya merasa puas terhadap kualitas

dari supervisor dalam mensosialisasikan dan mengawasi

program K3

4,12 Baik

7 Saya merasa puas terhadap

petunjuk atau arahan mengenai program K3 yang diberikan oleh

atasan

4,22 Baik

8 Atasan mau membuka diri untuk menerima semua pertanyaan yang

menyangkut program K3 yang

berlaku di perusahaan

4,15 Baik

Total 4,16 Baik

Page 74: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

61

bekerja dengan sunguh-sungguh sehingga dapat memberikan kontribusi

yang besar terhadap peningkatan kinerja perusahaan.

Berdasarkan Tabel 14, menunjukkan bahwa persepsi karyawan

mengenai supervisi. Nilai rataan tertinggi berdasarkan persepsi karyawan

yaitu petunjuk atau arahan mengenai program K3 yang diberikan oleh

atasan. Dengan nilai rataan sebesar 4,22 menunjukkan sebagian besar

karyawan berpendapat bahwa petunjuk atau arahan program K3 yang

diberikan oleh atasan selama ini sudah terlaksana dengan baik . Nilai rataan

terkecil berdasarkan persepsi karyawan adalah kualitas dari supervisor

dalam mensosialisasikan dan mengawasi program K3. Dengan nilai rataan

sebesar 4,12 menunjukkan sebagian besar karyawan berpendapat bahwa

kualitas supervisor dalam mensosialisasikan program K3 belum sepenuhnya

terlaksana oleh supervisor.

Dari hasil penelitian mengenai Supervisi, diperoleh nilai rataan

keseluruhan sebesar 4,16 dan persepsi karyawan termasuk kategori baik.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa karyawan merasa puas dan

terpenuhi terhadap supervisi, namun ada satu hal yang harus dibenahi yaitu

pada aspek kualitas dari supervisor dalam mensosialisasikan program K3.

Hubungan interpersonal adalah bagaimana kita berinteraksi dengan

orang lain, melalui hubungan tatap muka yang dilakukan oleh dua orang

atau lebih dan dalam kegiatan itu terjadi suatu proses psikologis yang bisa

merubah sikap, pendapat atau perilaku orang yang sedang melakukan

interaksi tersebut.

Berdasarkan Tabel 15, menunjukkan persepsi karyawan mengenai

hubungan interpersonal. Nilai rataan tertinggi berdasarkan persepsi

karyawan adalah kerja sama yang terjalin dengan sesama karyawan. Dengan

nilai rataan sebesar 4,57 menunjukkan sebagian besar karyawan

membenarkan pernyataan bahwa kerja sama yang terjalin dengan sesma

karyawan dilaksanakan dengan sangat baik. Nilai rataan terkecil

berdasarkan persepsi karyawan adalah atasan memberi pujian jika karyawan

mengerjakan pekerjaan dengan baik. Dengan nilai rataan sebesar 4,09

menunjukkan sebagian besar karyawan berpendapat bahwa atasan memberi

Page 75: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

62

pujian jika karyawan bekerja dengan baik masih belum sepenuhnya

terlaksana.

Dari hasil penelitian mengenai hubungan interpersonal, diperoleh

nilai rataan keseluruhan sebesar 4,36 dan termasuk kategori sangat baik.

Dapat disimpulkan bahwa hubungan interpersonal telah terlaksana dengan

sangat baik, namun pada aspek atasan memberikan pujian jika karyawan

bekerja dengan baik pada setiap pekerjaan hal itu perlu ditingkatkan lagi.

Tabel 15. Hasil jawaban responden mengenai hubungan interpersonal

(n=113) No. Pernyataan Rataan Skor Keterangan

9 Saya merasa puas dengan arahan,

bimbingan, dan bantuan atasan

terhadap saya

4,34 Sangat Baik

10 Saya merasa puas atasan selalu

memberikan pujian jika saya

telah mengerjakan setiap pekerjaan dengan baik

4,09 Baik

11 Saya merasa puas terhadap

hubungan yang terjalin antara

atasan dan rekan kerja

4,47 Sangat Baik

12 Saya merasa puas terhadap kerja

sama yang terjalin dengan sesama

karyawan

4,57 Sangat Baik

Total 4,36 Sangat Baik

Kondisi kerja di dalam pabrik yang didirikan oleh perusahaan

merupakan faktor yang cukup penting dalam pelaksanaan proses produksi

yang dilaksanakan oleh perusahaan yang bersangkutan. Yang dimaksud

dengan kondisi kerja adalah keadaan didalam perusahaan meliputi faktor

suasana kerja dan faktor perlengkapan kerja yang mempengaruhi karyawan

dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang telah dibebankan

kepadanya.

Berdasarkan Tabel 16, menunjukkan persepsi karyawan mengenai

kondisi kerja. Nilai rataan tertinggi berdasarkan persepsi karyawan adalah

mengenai peralatan kerja dan fasilitas K3 yang diberikan perusahaan.

Dengan nilai rataan sebesar 4,48 menunjukkan sebagian besar karyawan

berpendapat bahwa perusahaan telah memberikan peralatan dan fasilitas k3

Page 76: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

63

dan itu sudah terlaksana dengan baik. Nilai rataan terkecil berdasarkan

persepsi karyawan adalah mengenai kenyamanan dan keamanan terhadap

lingkungan kerja. Dengan nilai rataan sebesar 4,12 menunjukkan sebagian

besar karyawan berpendapat bahwa kenyamanan dan keamanan terhadap

lingkungan kerja masih belum sepenuhnya terpenuhi.

Dari hasil penelitian mengenai kondisi kerja, diperoleh nilai rataan

keseluruhan sebesar 4,30 dan persepsi karyawan termasuk kategori sangat

baik. Dapat disimpulkan bahwa secara umum kondisi kerja yang diadakan

oleh perusahaan sudah dilaksanakan dengan baik, namun perlu ditingkatkan

lagi terutama pada aspek kenyamanan dan keamanan terhadap lingkungan

kerja.

Tabel 16. Hasil jawaban responden mengenai kondisi kerja (n=113)

No. Pernyataan Rataan

Skor

Keterangan

13 Saya merasa puas terhadap

kenyamanan dan keamanan

terhadap lingkungan kerja

4,12 Baik

14 Saya merasa puas terhadap peralatan kerja dan fasilitas

keselamatan dan kesehatan kerja

4,48 Sangat Baik

15 Saya merasa puas dengan alat-alat kerja yang selama ini sudah

lengkap dan terawat

4,32 Sangat Baik

Total 4,30 Sangat Baik

Gaji adalah suatu bentuk balas jasa ataupun penghargaan yang

diberikan secara teratur kepada seorang karyawan atas jasa dan hasil

kerjanya. Gaji sering juga disebut sebagai upah, dimana keduanya

merupakan suatu bentuk kompensasi, yakni imbalan jasa yang diberikan

secara teratur atas prestasi kerja yang diberikan kepada seorang pegawai

atau karyawan. Sedangkan tunjangan adalah unsur-unsur balas jasa yang

diberikan dalam nilai rupiah secara langsung kepada karyawan individual

dan dapat diketahui secara pasti.

Berdasarkan Tabel 17, menunjukkan persepsi karyawan mengenai gaji

dan tunjangan. Nilai rataan tertinggi berdasarkan persepsi karyawan yaitu

mengenai tunjangan pengobatan dan perawatan di Rumah Sakit yang

Page 77: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

64

diberikan perusahaan. Dengan nilai rataan sebesar 4,54 menunjukkan

sebagian besar karyawan membenarkan pernyataan bahwa pihak perusahaan

telah memberikan tunjangan pengobatan dan perawatan Rumah Sakit. Nilai

rataan terkecil berdasarkan persepsi karyawan yaitu sistem penggajian yang

diterapkan oleh perusahaan. Dengan nilai rataan sebesar 4,26 menunjukkan

sebagian besar karyawan menyatakan bahwa sistem penggajian yang

diterapkan oleh perusahaan belum sepenuhnya terlaksanakan dengan baik.

Dari hasil penelitian mengenai gaji dan tunjangan, diperoleh nilai

rataan keseluruhan sebesar 4,43 dan termasuk kategori sangat baik, namun

ada satu aspek yang belum terpenuhi yaitu sistem penggajian yang

diterapkan oleh perusahaan untuk itu perlu ditingkatkan lagi sehingga

perusahaan dapat mensejahterakan karyawannya.

Tabel 17. Hasil jawaban responden mengenai gaji dan tunjangan

(n=113) No. Pernyataan Rataan Skor Keterangan

16 Saya merasa puas terhadap

sistem penggajian yang diterapkan oleh perusahaan

4,26 Baik

17 Saya merasa puas gaji dan

tunjangan yang dibayarkan

dengan adil, sesuai dengan pekerjaan oleh perusahaan

4,43 Sangat Baik

18 Saya merasa puas terhadap

tunjangan pengobatan dan

perawatan di RS yang diberikan perusahaan

4,54 Sangat Baik

19 Saya merasa puas terhadap fasilitas asuransi jiwa yang

diberikan perusahaan

4,51 Sangat Baik

Total 4,43 Sangat Baik

Berdasarkan Tabel 18, menunjukkan persepsi karyawan mengenai

seluruh faktor-faktor kepuasan kerja karyawan di PT DCI. Nilai rataan

tertinggi berdasarkan persepsi karyawan adalah mengenai gaji dan

tunjangan dianggap sangat baik. Dengan nilai rataan sebesar 4,44

menunjukkan sebagian besar karyawan menyatakan bahwa gaji dan

tunjangan yang dilakukan oleh perusahaan sudah berjalan sangat baik. Nilai

Page 78: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

65

rataan terkecil berdasarkan persepsi karyawan adalah mengenai kebijakan

perusahaan. Dengan nilai rataan sebesar 4,02 menunjukkan bahwa kebijakan

perusahaan yang selama ini diterapkan di perusahaan masih belum

sepenuhnya terlaksana dengan baik.

Dari hasil penelitian mengenai seluruh faktor-faktor kepuasan kerja

karyawan di PT. DCI, diperoleh nilai rataan keseluruhan sebesar 4,26 dan

persepsi karyawan termasuk kategori baik. Dapat disimpulkan bahwa

pelaksanaan seluruh faktor-faktor kepuasan kerja karyawan di PT. DCI

sudah terlaksana dengan baik, namun ada salah satu faktor yang perlu

ditingkatkan lagi terutama pada faktor kebijakan perusahaan.

Tabel 18. Kepuasan kerja karyawan PT. DyStar Colours Indonesia

No. Faktor-faktor yang mempengaruhi

Kepuasan Kerja

Rataan Skor Keterangan

1 Kebijakan Perusahaan 4,02 Baik

2 Supervisi 4,19 Baik

3 Hubungan Interpersonal 4,36 Sangat Baik

4 Kondisi Kerja 4,30 Sangat Baik

5 Gaji dan Tunjangan 4,44 Sangat Baik

Total 4,26 Baik

4.8. Analisis Hubungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Terhadap

Kepuasan Kerja Karyawan

Analisis Pengaruh Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terhadap

kepuasan kerja karyawan dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Rank

Spearman. Nilai korelasi positi (+) menunjukkan hubungan positif antara

faktor-faktor K3 dengan kepuasan kerja karyawan sedangkan nilai korelasi

negatif (-) menunjukkan hubungan berlawanan antara faktor-faktor K3

terhadap kepuasan kerja karyawan. Hubungan antara faktor-faktor K3

terhadap kepuasan kerja karyawan dapat dilihat pada Tabel 19.

Hasil uji korelasi Rank Spearman dengan bantuan software SPSS

16.00 for windows antara faktor-faktor keselamatan dan kesehatan kerja

terhadap kepuasan kerja karyawan dapat dilihat pada Lampiran 4.

Berdasarkan hasil uji korelasi tersebut, diketahui bahwa salah satu dari

faktor K3 tidak memiliki hubungan terhadap kepuasan kerja karyawan

Page 79: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

66

dengan nilai koefisien korelasi 0,100. Sedangkan faktor K3 lainnya

memiliki hubungan yang kuat dan nyata terhadap kepuasan kerja karyawan.

Namun, dari seluruh nilai koefisien korelasi antara faktor-faktor K3 dengan

kepuasan kerja karyawan diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,545

yang menunjukkan bahwa hubungan antara K3 terhadap kepuasan kerja

memiliki hubungan yang positif, kuat dan nyata. Hubungan yang kuat dan

nyata dapat dilihat dari nilai peluang lebih kecil dari taraf nyata ditetapkan

(p = 0,000 < α = 0,05), dengan derajat keeratan hubungan berada pada

kategori kuat (0,41 - 0,70). Hasil uji korelasi faktor-faktor K3 terhadap

kepuasan kerja karyawan dapat dilihat pada Lanjutan Lampiran 4.

Tabel 19. Hubungan faktor-faktor K3 terhadap kepuasan kerja

No. Faktor K3 Nilai

Korelasi

(rs)

Nilai

Peluang

(α)

Hubungan

terhadap Kepuasan

kerja karyawan

1 Pelatihan keselamatan 0,100 0,289 Tidak ada hubungan

2 Publikasi keselamatan

kerja

0,416 0,000 Kuat dan nyata

3. Kontrol lingkungan

kerja

0,332 0,000 Lemah dan nyata

4. Inspeksi dan disiplin 0,413 0,000 Kuat dan nyata

5. Peningkatan kesadaran

K3

0,495 0,000 Kuat dan nyata

Berdasarkan hasil uji korelasi Rank Spearman (Tabel 19), diperoleh

nilai peluang 0,000. Nilai peluang tersebut lebih kecil dari taraf nyata yang

ditetapkan (p = 0,000 < α = 0,05), yaitu adanya hubungan nyata antara

peubah hubungan publikasi keselamatan kerja terhadap kepuasan kerja

karyawan. Berdasarkan korelasi Rank Spearman diperoleh nilai koefisien

korelasi 0,416 yaitu adanya hubungan positif dan kuat antara hubungan

publikasi keselamatan kerja terhadap kepuasan kerja karyawan. Hal ini

berarti bahwa publikasi keselamatan kerja dapat meningkatkan kepuasan

kerja karyawan. Tanda-tanda peringatan atau larangan dipasang oleh

perusahaan sudah efektif memberikan pemahaman kepada karyawan tentang

Page 80: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

67

pentingnya K3. Hal ini semakin efektif publikasi keselamatan kerja maka

semakin tinggi pula kepuasan kerja karyawan.

Berdasarkan hasil uji korelasi Rank Spearman (Tabel 19), diperoleh

nilai peluang 0,000. Nilai peluang tersebut lebih kecil dari taraf nyata yang

ditetapkan (p = 0,000 < α = 0,05), yaitu adanya hubungan nyata antara

peubah hubungan inspeksi dan disiplin terhadap kepuasan kerja karyawan.

Berdasarkan korelasi Rank Spearman diperoleh nilai koefisien korelasi

0,413, yaitu adanya hubungan positif dan kuat antara hubungan inspeksi dan

disiplin terhadap kepuasan kerja karyawan. Hal ini berarti bahwa inspeksi

dan disiplin dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Inspeksi dan

disiplin ini dilakukan untuk mengawasi karyawan agar karyawan selalu

mematuhi peraturan terutama yang terkait dengan K3 dan agar pelaksanaan

program K3 dapat berjalan sebagaimana mestinya. Karyawan akan bekerja

dengan baik dan dapat bekerja lebih baik lagi apabila diawasi. Oleh karena

itu, semakin rutin inspeksi dan disiplin dilakukan maka semakin tinggi

kepuasan kerja karyawan.

Berdasarkan hasil uji korelasi Rank Spearman (Tabel 19), diperoleh

nilai peluang 0,000. Nilai peluang tersebut lebih kecil dari taraf nyata yang

ditetapkan (p = 0,000 < α = 0,05), yaitu adanya hubungan nyata antara

peubah hubungan peningkatan kesadaran K3 terhadap kepuasan kerja

karyawan. Berdasarkan korelasi Rank Spearman diperoleh nilai koefisien

korelasi 0,495, yaitu adanya hubungan positif dan kuat antara hubungan

peningkatan kesadaran K3 terhadap kepuasan kerja karyawan. Hal ini

berarti bahwa peningkatan kesadaran K3 dapat meningkatkan kepuasan

kerja karyawan. Program K3 akan berjalan dengan baik bila didukung oleh

komitmen yang kuat serta adanya perhatian yang besar dari manajemen

perusahaan terhadap masalah K3 di lingkungan perusahaan. Oleh karena itu,

semakin tinggi kesadaran karyawan tentang K3 maka semakin tinggi

kepuasan kerja karyawan.

4.9. Implikasi Manajerial

Perusahaan yang baik adalah perusahaan perusahaan yang benar-benar

menjaga keselamatan dan kesehatan karyawannya dengan membuat aturan

Page 81: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

68

tentang keselamatan dan kesehatan kerja yang dilaksanakan oleh seluruh

karyawan dan pimpinan perusahaan. PT. DyStar Colours Indonesia (DCI)

sebagai perusahaan kimia multinasional terkemuka di Indonesia merupakan

perusahaan yang bersifat industri yang bergerak di bidang produksi zat

warna reaktif memiliki risiko terjadinya kecelakaan kerja. Oleh karena itu,

sudah sepatutnya perusahaan menerapkan program K3 untuk mengurangi

atau mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

Pelaksanaan program K3 yang efektif, disamping memberikan

perlindungan terhadap kecelakaan kerja dan mencegah kerugian yang besar

bagi perusahaan, juga dapat memberikan kepuasan kerja karyawan. Hal ini

dikarenakan karyawan merasa diperhatikan oleh perusahaan dengan adanya

program K3 ini. Oleh karena itu, implikasi manajerial ini disusun untuk

membantu manajer agar pelaksanaan program K3 menjadi lebih baik dan

menjaga agar tingkat kepuasan kerja karyawan tetap terjaga. Implikasi

manajerial ini dapat diberikan yaitu:

1. Faktor-faktor yang berhubungan dengan K3

Prioritas yang harus dilakukan perusahaan dalam meningkatkan

kepuasan kerja karyawan dimulai dari aspek-aspek berikut:

a. Peningkatan Kesadaran K3

Kesadaran karyawan di PT. DCI tentang K3 sudah baik, yang berarti

sebagian karyawan telah merasakan pentingnya penerapan program

K3. Agar lebih meningkatkan kesadaran karyawan terhadap program

K3 ini, perusahaan dapat melakukan dengan cara:

1. Atasan melakukan pengawasan yang kontinyu dan intensif

kepada karyawan.

2. Atasan sebaiknya memberikan contoh tentang cara-cara bekerja

yang aman dan sehat.

3. Karyawan sebaiknya terus diingatkan mengenai potensi bahaya

yang mungkin terjadi di lingkungan kerja.

b. Inspeksi dan Disiplin

Inspeksi yang dilakukan saat ini sudah dilaksanakan dengan baik dan

terencana. Akan tetapi masih ada pelanggaran yang dilakukan oleh

Page 82: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

69

karyawan terhadap peraturan K3 yang sudah ada, misalnya terdapat

karyawan yang mengabaikan peraturan yang telah berlaku di

perusahaan misalnya, tidak menggunakan APD sewaktu bekerja. Hal

ini tentu saja dapat membahayakan karyawan dan bisa merugikan

pihak perusahaan. Langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan oleh

perusahaan terutama PT. DCI adalah:

1. Memberikan peringatan dengan cara pendekatan personal,

dengan begitu pihak perusahaan dapat mengetahui alasan

mengapa karyawan tersebut melanggar peraturan.

2. Identifikasi penyebabnya dan mencaari solusi terbaik agar

pelanggaran tidak dilakukan lagi.

3. Apabila pelanggaran masih dilakukan oleh orang yang sama,

maka berikan peringatan secara tegas kepada karyawan tersebut

sesuai kebijakan perusahaan.

c. Publikasi Keselamatan Kerja

Publikasi keselamatan kerja sudah dilaksanakan dengan baik, akan

tetapi perusahaan sebaiknya lebih memaksimalkan lagi media

komunikasi yang digunakan. Saat ini, perusahaan hanya

menggunakan media kertas yang diprint dan ditempel/dipasang di

beberapa tempat saja. Sebaiknya pesan dengan media kertas tersebut

dibuat lebih menarik dan ditempatkan di semua tempat yang

memiliki risiko terjadinya kecelakaan. Di lingkungan perusahaan

juga sebaiknya terdapat pesan-pesan tentang keselamatan dan

kesehatan kerja. Selain itu, sebaiknya perusahaan lebih

memsosialisasikan lagi penggunaan alat pemadam kebakaran

sehingga apabila terjadi kebakaran, karyawan dapat menggunakan

alat pemadam kebakaran tersebut dengan baik dan benar.

Page 83: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Hasil analisis dari penerapan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja

(K3) di PT. DCI mengidentifikasikan bahwa program K3 yang diterapkan

perusahaan dilaksanakan dengan baik oleh karyawan. Total rataan skor

yang diperoleh dikategorikan sangat baik. Hal ini menunjukkan karyawan

telah mengetahui pelatihan-pelatihan yang diadakan perusahaan dan

merasakan manfaat dari pelatihan tersebut. Pelaksanaan publikasi

keselamatan kerja, pelaksanaan kontrol lingkungan kerja juga dinilai baik

oleh karyawan, begitu pula dengan pelaksanaan inspeksi dan disiplin serta

peningkatan kesadaran K3 sudah dilaksanakan dengan baik.

2. Hasil analisis kepuasan kerja yang berasal dari faktor-faktor yang

mempengaruhi kepuasan kerja karyawan PT. DCI mengidentifikasikan

bahwa kondisi kepuasan kerja karyawan PT. DCI memiliki kepuasan kerja

yang tinggi atau dapat dikategorikan baik sehingga dapat meningkatkan

kinerja perusahaan serta tercapainya tujuan perusahaan.

3. Hubungan antara Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan

kepuasan kerja karyawan berdasarkan hasil analisis rank spearman,

memiliki hubungan positif, kuat dan nyata, dimana secara berturut-turut

dari yang memiliki hubungan tertinggi yaitu (1) peningkatan kesadaran

K3, (2) publikasi keselamatan kerja dan (3) inspeksi dan disiplin. Hal ini

berarti semakin tinggi kesadaran karyawan tentang K3 maka semakin

tinggi kepuasan kerja karyawan. Kemudian diikuti oleh publikasi

keselamatan kerja yang juga memiliki hubungan positif, kuat dan nyata

dengan kepuasan kerja karyawan, hal ini berarti semakin efektif publikasi

keselamatan kerja maka semakin tinggi kepuasan kerja karyawan. Inspeksi

dan disiplin memiliki hubungan positif, kuat dan nyata dengan kepuasan

kerja karyawan, hal ini berarti semakin rutin inspeksi dan disiplin

dilakukan maka semakin tinggi kepuasan kerja karyawan. Kontrol

lingkungan kerja memiliki hubungan positif, lemah dan nyata dengan

kepuasan kerja karyawan, ini dikarenakan ada beberapa aspek yang

Page 84: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

71

menyebabkan kontrol lingkungan kerja menjadi lemah terletak pada

kondisi ventilasi, suhu, penerangan diruangan kurang baik serta kondisi

ruangan tempat kerja yang kurang bersih sehingga kepuasan kerja

karyawan pun menjadi rendah.

B. Saran.

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, maka dapat di ajukan beberapa

saran sebagai berikut:

1. Pada dasarnya pelaksanaan program K3 di PT. DCI sudah terlaksana

dengan baik akan tetapi perusahaan perlu mengontrol dan memperhatikan

selalu lingkungan kerja, fasilitas dan sarana kerja yang dapat menunjang

karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya karena lingkungan kerja

yang bersih dan nyaman sangat mempengaruhi karyawan dalam bekerja

dan setiap peralatan yang digunakan karyawan memiliki batas waktu

pemakaian sehingga apabila tidak diganti karena telah melewati batas

waktu pemakaian dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap

karyawan yang menggunakannya, hal ini dapat mempengaruhi karyawan

dalam melakukan pekerjaannya.

2. Perusahaan perlu memberikan sanksi yang tegas kepada seluruh karyawan

yang melanggar aturan-aturan K3 walaupun program K3 sudah terlaksana

dengan baik akan tetapi tidak menjamin untuk karyawan tidak melakukan

kesalahan nantinya. Hal ini dimaksudkan agar karyawan lebih disiplin dan

juga untuk menghindari terjadinya kecelakaan dan kerusakan akibat kerja.

3. Perusahaan harus memastikan bahwa setiap karyawan, tertutama yang

baru bekerja, mendapatkan informasi yang cukup mengenai pekerjaan

mereka. Adanya informasi-informasi tersebut akan membantu karyawan

untuk melindungi dirinya dari kecelakaan kerja.

Page 85: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, dkk. 2008. Hubungan Perilaku Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dengan

Dosis Radiasi Pada Pekerja Reaktor Kartini. Pusat Teknologi Akselerator

dan Proses Bahan-BATAN. Yogyakarta.

Arep, I dan H. Tanjung. 2004. Pengembangan SDM. Penerbit Universitas

Trisakti, Jakarta.

Dessler, G. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. PT. Prenhallindo, Jakarta.

Hasibuan, S.P.M. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. CV Bumi Aksara,

Jakarta.

Hardono, dkk. 2009. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Proyek Uji

Coba Skala Penuh Jembatan Cable Stayed untuk Lalu Lintas Ringan.

Puslitbang Jalan dan Jembatan. Bandung.

Mangkunegara, A.A.A.P. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.

PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Mangkuprawira, S. dan Vitayala. 2007. Manajemen Mutu Sumber Daya Manusia.

Ghalia Indonesia, Jakarta.

Panggabean, M.S. 2004. Manajemen Sumber Daya manusia. PT Ghalia Indonesia,

Bogor.

Rivai, V. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan dari Teori

ke Praktik. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Sugeng, dkk. 2005. Bunga Rampai Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Edisi

Kedua. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Umar, H. 2004. Riset Sumberdaya Manusia dalam Organisasi. PT. Gramedia

Pustaka Utama, Jakarta.

Page 86: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

LAMPIRAN

Page 87: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

74

Lampiran 1. Kuesioner penelitian

KUESIONER PENELITIAN

Analisis Hubungan Keselamatan dan Kesehatan

Kerja (K3) Dengan Kepuasan Kerja Karyawan

Di PT. DyStar Colours Indonesia

Kuesioner ini adalah salah satu alat pengumpulan data untuk memenuhi

kebutuhan penelitian tugas akhir yang dilakukan oleh Dody Saputra, NRP:

H24086014, sebagai mahasiswa Program Alih Jenis Manajemen Departemen

Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. Tujuan penyebaran kuesioner

ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Keselamatan dan Kesehatan Kerja

(K3) dengan Kepuasan Kerja Karyawan Di PT. DyStar Colours Indonesia.

Mengingat pentingnya kuesioner ini sebagai data primer dari penelitian ini,

maka saya sangat mengharapkan kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/i untuk menjawab

secara jujur sesuai kondisi yang dirasakan di PT. DyStar Colours Indonesia.

Kuesioner ini akan digunakan sebagai bahan penunjang penelitian. Informasi yang

diterima dari kuesioner ini akan dijaga kerahasiaannya dan hanya akan digunakan

untuk kepentingan akademik.

Terima kasih atas perhatian dan partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/i menjadi

responden dan secara sukarela mengisi kuesioner ini.

Identitas Responden

1. Usia :…………tahun

2. Jenis Kelamin : ( ) Pria ( ) Wanita

3. Pendidikan : ( ) SD ( ) SMU

Terakhir ( ) SMP ( ) S1

( ) Lainnya, sebutkan…………………………………….

4. Jabatan Kerja :……………………………………………………………...

5. Lama Kerja :…………tahun

Page 88: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

75

Lanjutan Lampiran 1.

Daftar Pernyataan

Petunjuk Pengisian Kuesioner :

Berilah tanda checklist ( √ ) pada jawaban yang Bapak/Ibu/Saudara/i anggap

sesuai.

Keterangan :

STS : Sangat Tidak Setuju

TS : Tidak Setuju

CS : Cukup Setuju

S : Setuju

SS : Sangat Setuju

Bagian I. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Pelatihan Keselamatan

No. Pernyataan STS TS CS S SS

1. Perusahaan telah memberikan pelatihan

penggunaan peralatan kerja kepada saya.

2. Perusahaan telah memberikan pelatihan

mengenai pertolongan pertama pada

kecelakaan kepada saya.

3. Perusahaan telah memberikan pelatihan

penggunaan alat-alat keselamatan kerja

kepada saya.

4. Perusahaan telah memberikan pelatihan

pencegahan penanggulangan bahaya

kebakaran kepada saya.

5. Saya merasakan manfaat dari pelatihan

yang diadakan perusahaan.

6. Pelatihan memberikan banyak informasi

tentang bahaya pekerjaan dan pentingnya

keselamatan saya.

Page 89: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

76

Lanjutan Lampiran 1.

Publikasi Keselamatan Kerja

No. Pernyataan STS TS CS S SS

7. Perusahaan telah menempel/memasang

tanda peringatan di tempat yang

berpotensi berbahaya.

8. Di lingkungan perusahaan terdapat

pesan-pesan tentang keselamatan dan

kesehatan kerja.

9. Perusahaan mensosialisasikan

penggunakan alat pelindung diri (APD)

dan alat pemadam kebakaran.

10. Perusahaan memberikan informasi

tentang tingkat bahaya pekerjaan.

11. Atasan saya memberikan contoh-contoh

yang baik tentang cara-cara bekerja yang

aman dan sehat.

Kontrol Lingkungan Kerja

No. Pernyataan STS TS CS S SS

12. Perusahaan menyediakan alat pelindung

diri untuk bekerja.

13. Kondisi ventilasi, suhu dan penerangan

di ruang kerja cukup baik dan

memuaskan.

14. Ruangan tempat kerja saya cukup bersih.

15. Kondisi ruang kerja saya memberikan

keamanan dan kenyamanan dalam

bekerja.

16. Perusahaan mengadakan pemeriksaan

kesehatan karyawan secara rutin.

17. Perlengkapan keamanan dan keselamatan

kerja tersedia di lingkungan kerja saya.

18. Perusahaan mempunyai fasilitas P3K di

tempat kerja

Page 90: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

77

Lanjutan Lampiran 1.

Inspeksi dan Disiplin

No. Pernyataan STS TS CS S SS

19. Sebelum peralatan kerja dan mesin-

mesin digunakan dilakukan pengecekan

terlebih dahulu.

20. Perusahaan melakukan pengecekan alat-

alat keselamatan kerja secara rutin.

21. Perusahaan mewajibkan penggunaan alat

pelindung diri saat bekerja.

22. Perusahaan memberikan pengawasan

terhadap bahan-bahan berbahaya.

23. Perusahaan mempunyai peraturan-

peraturan tentang keselamatan kerja yang

tegas.

Peningkatan Kesadaran K3

No. Pernyataan STS TS CS S SS

24. Perusahaan memberikan perhatian yang

besar terhadap masalah K3.

25. Perusahaan menempatkan K3 sebagai

prioritas utama dalam bekerja.

26. Perusahaan sangat memperhatikan

keselamatan dan kesehatan kerja saya.

27. Penggunaan alat pelindung diri (APD)

saat bekerja terutama di tempat yang

berbahaya.

28. Perusahaan menginginkan masukan-

masukan atau gagasan-gagasan dari saya

terkait dengan masalah K3.

29. Perusahaan menginginkan saya ikut aktif

dalam penerapan program K3.

Page 91: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

78

Lanjutan Tabel 1.

Bagian II. Kepuasan Kerja

Kebijakan Perusahaan

No. Pernyataan STS TS CS S SS

1. Saya merasa puas dengan peraturan jam

kerja yang diberlakukan oleh perusahaan.

2. Saya merasa puas terhadap peraturan dan

kebijakan perusahaan dengan baik

terutama yang berkaitan dengan K3.

3. Saya merasa puas sanksi diberikan bila

ada pelanggaran terhadap peraturan K3.

4. Saya merasa puas dengan kedisiplinan dan

penerapan peraturan K3 oleh perusahaan.

Supervisi

No. Pernyataan STS TS CS S SS

5. Saya merasa puas terhadap pelatihan

keselamatan kerja yang diberikan oleh

Atasan.

6. Saya merasa puas terhadap kualitas dari

Supervisor dalam mensosialisasikan dan

mengawasi program K3.

7. Saya merasa puas terhadap petunjuk-petunjuk atau arahan mengenai program K3

yang diberikan oleh Atasan.

8. Atasan saya membuka diri untuk menerima

semua pertanyaan yang menyangkut program K3 yang berlaku di perusahaan.

Hubungan Interpersonal

No. Pernyataan STS TS CS S SS

9. Saya merasa puas dengan arahan,

bimbingan, dan bantuan atasan terhadap

saya.

10. Saya merasa puas atasan selalu

memberikan pujian jika saya telah

mengerjakan setiap pekerjaan dengan

baik.

11. Saya merasa puas terhadap hubungan

yang terjalin antara atasan dan rekan

kerja.

12. Saya merasa puas terhadap kerja sama

yang terjalin dengan sesama karyawan.

Page 92: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

79

Kondisi Kerja

No. Pernyataan STS TS CS S SS

13. Saya merasa puas terhadap kenyamanan

dan keamanan terhadap lingkungan

kerja.

14. Saya merasa puas terhadap peralatan

kerja dan fasilitas keselamatan dan

kesehatan kerja.

15. Saya merasa puas terhadap fasilitas yang ada

di perusahaan ini sudah tersedia dengan baik

(kantin, transportasi, tempat beribadah, fasilitas kesehatan).

16. Saya merasa puas dengan alat-alat kerja

yang selama ini sudah lengkap dan terawat.

Gaji dan Tunjangan

No. Pernyataan STS TS CS S SS

17. Saya merasa puas terhadap sistem

penggajian yang diterapkan oleh

perusahaan.

18. Saya merasa puas gaji dan tunjangan

yang dibayarkan dengan adil, sesuai

dengan pekerjaan oleh perusahaan.

19. Saya merasa puas terhadap tunjangan

pengobatan dan perawatan di RS yang

diberikan perusahaan.

20 . Saya merasa puas terhadap fasilitas

asuransi jiwa yang diberikan perusahaan.

Page 93: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

80

Lampiran 2. Struktur Organisasi PT. DyStar Colours Indonesia Cabang Cilegon

Director President

Vice President

Market Division Financial Division Technical Division General Division

Technical

Director

Confidential

Secretary

Secretary

Manager

Production

Supervisor

Production

Planning/Inventory

Control

Engineering

Production

Supervisor

Maintenance

Instrument

Electric

Energy

QCL

Plant Administrator Head of Werehouse Safety Engineering

Procurement

Page 94: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

81

Lampiran 3. Hasil uji validitas dan reliabilitas

A. Aspek-Aspek K3

Pertanyaan r hitung r tabel Validitas

1 0.463 0.362 Valid

2 0.259 0.362 Tidak Valid

3 0.672 0.362 Valid

4 0.652 0.362 Valid

5 0.394 0.362 Valid

6 0.435 0.362 Valid

7 0.601 0.362 Valid

8 0.580 0.362 Valid

9 0.799 0.362 Valid

10 0.767 0.362 Valid

11 0.435 0.362 Valid

12 0.601 0.362 Valid

13 0.580 0.362 Valid

14 0.799 0.362 Valid

15 0.767 0.362 Valid

16 0.435 0.362 Valid

17 0.601 0.362 Valid

18 0.580 0.362 Valid

19 0.799 0.362 Valid

20 0.767 0.362 Valid

21 0.799 0.362 Valid

22 0.767 0.362 Valid

23 0.310 0.362 Tidak Valid

24 0.447 0.362 Valid

25 0.407 0.362 Valid

26 0.433 0.362 Valid

27 0.470 0.362 Valid

28 0.573 0.362 Valid

29 0.569 0.362 Valid

Page 95: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

82

Lanjutan Lampiran 3.

B. Kepuasan Kerja Karyawan

Pertanyaan r hitung r tabel Validitas

1 0.409 0.362 Valid

2 0.612 0.362 Valid

3 0.458 0.362 Valid

4 0.633 0.362 Valid

5 0.546 0.362 Valid

6 0.597 0.362 Valid

7 0.534 0.362 Valid

8 0.452 0.362 Valid

9 0.498 0.362 Valid

10 0.652 0.362 Valid

11 0.586 0.362 Valid

12 0.403 0.362 Valid

13 0.437 0.362 Valid

14 0.314 0.362 Tidak Valid

15 0.410 0.362 Valid

16 0.453 0.362 Valid

17 0.66 0.362 Valid

18 0.488 0.362 Valid

19 0.623 0.362 Valid

20 0.746 0.362 Valid

Page 96: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

83

Lanjutan Lampiran 3. Hasil uji reliabilitas

A. Aspek-aspek K3

Case Processing Summary

N %

Cases Valid 30 100

Excluded(a) 0 0

Total 30 100

Reliability Statistic

B. Kepuasan kerja

Case Processing Summary

Reliability Statistic

Cronbach's

Alpha N of

Items

0.886 20

Cronbach's

Alpha N of Items

0.931494 29

N %

Cases Valid 30 100.0

Excludeda 0 .0

Total 30 100.0

Page 97: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

84

Lampiran 4. Hasil Uji rank spearman

a. Hubungan K3 terhadap Kepuasan kerja

Correlations

K3

Kepuasan

Kerja

Spearman's

rho

K3 Correlation

Coefficient

1.000 0.545**

Sig. (2-tailed) . .000

N 113 113

Kepuasan Kerja

Correlation Coefficient

0.545** 1.000

Sig. (2-tailed) .000 .

N 113 113

** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

b. Hubungan Pelatihan Keselamatan terhadap Kepuasan kerja

Correlations

Pelatihan

Keselamatan

Kepuasan

Kerja

Spearman's

rho

Pelatihan

Keselamatan Correlation

Coefficient 1 0.100575621

Sig. (2-tailed) . 0.289173489

N 113 113

Kepuasan

Kerja Correlation

Coefficient 0.100575621 1

Sig. (2-tailed) 0.289173489 .

N 113 113

** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

c. Hubungan Publikasi Keselamatan Kerja terhadap Kepuasan Kerja

Correlations

Publikasi

Keselamatan Kerja

Kepuasan Kerja

Spearman's

rho

Publikasi

Keselamatan

Kerja

Correlation

Coefficient 1 0.416032729

Sig. (2-tailed) . 4.587130809

N 113 113

Kepuasan Kerja

Correlation

Coefficient 0.416032729 1

Sig. (2-tailed) 4.587130809 .

N 113 113

** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Page 98: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

85

Lanjutan Lampiran 4.

d. Hubungan Kontrol Lingkungan Kerja terhadap Kepuasan kerja

Correlations

Kontrol Lingkungan

Kerja

Kepuasan

Kerja

Spearman's

rho

Kontrol

Lingkungan Kerja Correlation

Coefficient 1 0.33271366

Sig. (2-

tailed) . 0.000317464

N 113 113

Kepuasan Kerja Correlation

Coefficient 0.33271366 1

Sig. (2-

tailed) 0.000317464 .

N 113 113

** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

e. Hubungan Inspeksi dan Disiplin terhadap Kepuasan kerja

** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

f. Hubungan Peningkatan Kesadaran K3 terhadap Kepuasan kerja

Correlations

Peningkatan Kesadaran K3

Kepuasan Kerja

Spearman's

rho

Peningkatan

Kesadaran K3 Correlation

Coefficient 1 0.495750628

Sig. (2-tailed) . 0.000001

N 113 113

Kepuasan Kerja Correlation

Coefficient 0.495750628 1

Sig. (2-tailed) 0.000001 .

N 113 113

** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Correlations

Inspeksi dan

Disiplin

Kepuasan

Kerja

Spearman's

rho

Inspeksi dan

Disiplin Correlation

Coefficient 1 0.41339444

Sig. (2-tailed) . 5.342766368

N 113 113

Kepuasan Kerja Correlation

Coefficient 0.41339444 1

Sig. (2-tailed) 5.342766368 .

N 113 113

Page 99: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

86

Page 100: ANALISIS HUBUNGAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3 ...repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/57093/8/H12dsa.pdf · analisis hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (k3)

87