Click here to load reader

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONTRIBUSI SEKTOR .../Analisis...pengelolaan pariwisata, pendapatan pariwisata serta pendapatan asli daerah ... diimbangi pula dengan kenaikan

  • View
    216

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONTRIBUSI SEKTOR .../Analisis...pengelolaan pariwisata,...

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONTRIBUSI

SEKTOR PARIWISATA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI

DI KABUPATEN WONOGIRI PERIODE TAHUN 2001-2008

Diajukan Oleh :

Supriyanto

F1105026

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2010

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONTRIBUSI

SEKTOR PARIWISATA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI

DI KABUPATEN WONOGIRI PERIODE TAHUN 2001-2008

ABSTRAK

Supriyanto

F1105026

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kontribusi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonogiri. Dalam penelitian ini menggunakan jenis data sekunder serta objek yang diteliti adalah 4 data penelitian dari tahun 2001-2008 yaitu jumlah wisatawan, rata-rata lama menginap, biaya pengelolaan pariwisata, pendapatan pariwisata serta pendapatan asli daerah (PAD) KabupatenWonogiri.

Sejalan dengan tujuan tersebut maka penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis trend dan juga menggunakan analisis regresi linear berganda. Dari persamaan dapat dilihat bahwa terdapat kecenderungan perkembangan pendapatan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Sedang dari persamaan II dapat dilihat bahwa terdapat kecenderungan kontribusi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonogiri mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hal tersebut juga dapat diakibatkan karena kenaikan pendapatan pariwisata diimbangi pula dengan kenaikan sumbangan dari sektor-sektor lain yang lebih besar. Berarti variabel independen secara bersama- sama mempengaruhi secara signifikan terhadap variabel dependen dan berdasarkan uji t jumlah wisatawan, rata-rata lama menginap wisatawan, dan biaya pengelolaan pariwisata berpengaruh signifikan terhadap pendapatan pariwisata di Kabupaten Wonogiri.

Berdasarkan hasil analisis dari penelitian maka diajukan saran kepada pemerintah daerah agar dapat mendukung sektor pariwisata yang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonogiri.

Kata kunci : Pariwisata, Pertumbuhan Ekonomi.

i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi dengan judul:

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONTRIBUSI

SEKTOR PARIWISATA TERHADAP PERTUM BUHAN EKONOM I

DI KABUPATEN WONOGIRI PERIODE TAHUN 2001-2008

Surakarta, 07 Desember 2009

Disetujui dan diterima oleh

Pembimbing

(Drs.Sutanto.M si)

NIP. 195611291986011001

i i

HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui dan diterima dengan baik oleh tim penguji skripsi Fakultas

Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta guna melengkapi tugas-tugas

memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi

Pembangunan.

Surakarta, 26 Januari 2010

Tim Penguji Skripsi Tanda Tangan

1. DR.JJ.SARUNGU,MS Sebagai Ketua ( )

2. DRS.KRESNO S P ,M si Sebagai Anggota ( )

3. DRS. SUTANTO , M si Sebagai Pembimbing ( )

i i i

HALAMAN MOTTO

Kebencian tidak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian

tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah

hukum abadi.

(HR. Turmudzi. Ibnu Majal dan Ahmad)

Masa lalu yang terburukpun jangan kau toleh lagi,

karena tak ada kata terlambat untuk berbenah diri.

(Penulis)

Cinta sejati adalah jika kita selalu memikirkannya

dan memberi perhatian dengan tulus, jika kita tetap peduli

padanya walau dia sudah lupa dan tidak lagi peduli sama kita

dan kita tetap tersenyum ketika dia bersama orang yang

dicintainya.

( KHALIL GIBRAN)

i v

HAL AMAN PERSEMBAHAN

Dengan segala kerendahan hati dan rasa syukurku,

karya ini kupersembahkan untuk:

Ayah dan Ibundaku tersayang,

bapak, ibu.aku bisa seperti sekarang ini

berkat doa usaha dan bimbingan Bapak Ibu

Kakak dan Adikku

yang tercinta yang memberiku

acuan arahan dan semangat

untuk keberhasilanku.

Buat seluruh sahabat-sahabatku . . . . . . .

v

KATA PENGANTAR

Assalamuallaikum Wr.Wb

Segala puji dan syukur bagi Allah SWT, alam semesta. Shalawat dan salam

semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad Saw.

Alhamdulillah, Puji dan Syukur atas rahmat, karunia kekuatan hidayah yang

diberikan Allah padaku, hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

judul ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SEKTOR

PARIWISATA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI KABUPATEN

WONOGIRI PERIODE TAHUN 2001-2008

Penyusunan Skripsi ini dimaksudkan guna melengkapi tugas- tugas dan

memenuhi syarat- syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Universitas

Sebelas Maret Surakarta.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna karena

keterbatasan yang penulis miliki, karenanya penulis mengucapkan terima kasih untuk

saran dan kritik yang penulis telah terima maupun yang akan diterima. Penulis juga

menyadari bahwasanya penyusunan skripsi ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa

bantuan berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.

2. Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Sebelas Maret Surakarta

yang telah memberikan kemudahan dengan ijin yang diberikan.

vi

3. Sekretaris Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Sebelas Maret

Surakarta yang telah memberikan bantuan dan kemudahan kepada penulis

untuk kepentingan penulisan skripsi ini.

4. Bapak Drs. Sutanto, selaku dosen pembimbing skripsi ini yang telah

meluangkan waktu, tenaga dan pemikiran kepada penulis dalam rangka

penyelesaian skripsi ini.

5. Terima kasih kepada Tim penguji yang telah meluangkan waktu untuk

menguji skripsi saya sehingga menjadi sarjana ekonomi.

6. Seluruh staf pengajar dan karyawan di Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas

Maret Surakarta yang telah memberikan ilmu berharga kepada penulis.

7. Keluargaku Bapak, Ibu, Mas Parman dan dik Endah yang selalu memberi

perhatian dan kasih sayang yang membuat penulis selalu bangkit dalam

mewujudkan impian dan cita- citanya.

8. Kakek + Nenek, Om Endry + M ak Pedhut, Pak Ipan + seluruh keuarga terima

kasih atas doa-doa kalian.

9. Saudara-saudaraku, anak-anak Ambons (Heru, Bodong, Gareng, Bejo,

Kenthus, Gatot, Tholo, Menthok, Cecep, Samino bubut, Pak Budi kencleng,

Plecek, genthong pokoknya semua dech) serta semua anggota karang taruna

muda taruna karya makasih atas doa dan canda tawa kalian yang buat aku

selalu bahagia.

10. Sobat-Sobatku yang selalu menjadi teman terbaikku, terimakasih atas

petuah-petuah bijakmu, Wahyu Aditiyastuti (Asty),Wawan (Meonk), bang

vii

haji Hasan, Lindung, Rudi, Restu, Kiki, Vina, Adit, Pras, Catur, Handoko,

Ogan EP 2005 End Banyak Lagi, Sekali Lagi Thanks.

11. My best friend anak- anak Nakata : Om Bram, Bang Siweng, Aang, Noly, Pak

Jek, Dedy. Trims buat semuanya bro.

12. Untuk Mbak Sri, Jeng Desy , Si Gendhut Yuni, terima kasih atas semua

masukan , doa semangat serta banyolan kalian.

13. Pak kadus dan ibu kadus yang telah memberi masukan, semangat serta doa

untuk penulis.

14. Temen-temen menejemen terima kasih ya? Doa dan semangatnya.

15. Terima kasih semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang

telah membantu dalam penulisan skripsi ini

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa, sebagai manusia dengan kelebihan dan

kekurangannya, masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan skripsi ini.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat menjadi suatu karya yang berguna bagi kita

semua.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Surakarta,10 Desember 2009

Penulis

Supriyanto

vii i

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PERSETUJUAN...............................................................................ii

HALAMAN PENGESAHAN............................................................................... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................... iv

HALAMAN MOTTO ............................................................................................v

KATA PENGANTAR ..........................................................................................vii

DAFTAR ISI......................................................................................................... xv

DAFTAR TABEL.................................................................................................. x

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xi

ABSTRAK ............................................................................................................ xii

BAB

I. PENDAHULUAN ..............................................................................................1

A. Latar Belakang Masalah.................................................................................1

B. Perumusan Masalah.......................................................................................12

C. Tujuan Penelitian...........................................................................................12

D. Manfaat Penelitian ........................................................................................13

II. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................14

A. Definisi Pariwisata ........................................................................................14

B. Definisi Wisatawan .......................................................................................15

C. Jenis dan Macam Pariwisata..........................................................................16

D. Produk Industri Pariwisata ............................................................................19

i x

E. Kontribusi Pariwisata Terhadap Pendapatan Daerah ....................................21

F. Peran Pemerintah dalam Pengelolaan Pariwisata ..........................................25

G. Permintaan dan Penawaran Pariwisata..........................................................33

H. Keterkaitan Industri Pariwisata dan Pertumbuhan Ekonomi ........................37

I. Hasil Penelitian Terdahulu .............................................................................39

J. Kerangka Pemikiran .......................................................................................41

K. Hipotesis Penelitian.......................................................................................42

III. METODE PENELITIAN................................................................................44

A. Ruang Lingkup Penelitian.............................................................................44

B. Jenis dan Sumber Data ..................................................................................44

C. Definisi Operasional Variabel .......................................................................44

D. Teknik Analisis Data.....................................................................................45

E. Uji Statistik ...................................................................................................46

Uji Hipotesis I ........................................................................................46

Uji Hipotesis II.......................................................................................47

Uji Hipotesis III .....................................................................................48

F. Uji Asumsi Klasik.........................................................................................52

IV. ANALISIS DATA DAN INTERPRETASI HASIL.......................................56

A. Deskripsi Obyek Penelitian...........................................................................56

B. Analisis dan Pembahasan ..............................................................................70

a. Analisis Hipotesis I ................................................................................70

b. Analisis Hipotesis II...............................................................................72

c. Analisis Hipotesisi III ............................................................................76

x

d. Interprestasi Hasil secara Ekonomi........................................................85

V. KESIMPULAN DAN SARAN........................................................................90

A. Kesimpulan ...................................................................................................90

B. Saran ..............................................................................................................92

DAFTAR PUSTAKA

xi

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR Halaman

Gambar 2.1 : Sumber-Sumber Penerimaan Daerah................................................24

Gambar 2.2 : Kerangka Pemikiran .........................................................................42

Gambar 3.1 : Aturan Uji t.......................................................................................50

Gambar 3.2 : Durbin Watson Test.......................................................................55

Gambar 4.1 : Pengujian Autokorelasi.....................................................................81

Gambar 4.2 : Kurva Perkembangan Pariwisata ...................................................85

xi i

DAFTAR TABEL

TABEL Halaman

Tabel 1.1 : Jumlah Wisatawan Obyek Wisata Kabupaten Wonogiri

Tahun 2000-2008.......................................................................... 9

Tabel 1.2 : PDRB menurut Lapangan Usaha,

Pendapatan Perkapita dan Pertumbuhan Ekonomi

Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Wonogiri

Tahun 2002-2004........................................................................... 10

Tabel 4.1 : Jumlah Penduduk Tahun 2003-2007. 59

Tabel 4.2 : Tingkat Kepadatan Penduduk... 60

Tabel 4.3 : Perhitungan Perkembangan Pendapatan Pariwisata ..................... 71

Tabel 4.4 : Hasil Perhitungan Trend Perkembangan Pendapatan Pariwisata.. 72

Tabel 4.5 : Perhitungan Kontribusi Sektor Pariwisata terhadap

Pendapatan Asli Daerah(PAD)...................................................... 74

Tabel 4.6 : Hasil Perhitungan Trend Kontribusi Pendapatan Pariwisata

terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) ..................................... 75

Tabel 4.7 : Uji Multikolinearitas...................................................................... 79

Tabel 4.8 : Uji Heterokedastisitas................................................................... 80

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap negara di dunia, baik negara miskin, negara sedang berkembang,

bahkan negara maju sekali pun mutlak memerlukan pembangunan perekonomian.

Perekonomian dibangun guna meningkatkan dan mengangkat taraf hidup serta

kesejahteraan masyarakat. Pembangunan perekonomian dapat dilakukan dengan

memanfaatkan sumber daya yang dimiliki masing-masing bangsa atau daerah

secara maksimal tanpa mengurangi perhatian pada aset lingkungan dan

kesejahteraan masyarakat sekitar. Landasan utama dari pembangunan

perekonomian adalah stabilitas, distribusi pendapatan yang merata (sesuai dengan

proporsi masing-masing), pertumbuhan ekonomi yang dinamis dan neraca

pembayaran yang seimbang , serta efisiensi disegala bidang.

Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang tentu saja

mempunyai cita-cita dan tujuan untuk menigkatkan kesejahteraan dan

mengangkat taraf hidup masyarakat (sesuai undang-undang dasar 45 alenia IV).

Maka pembangunan perekonomian harus ditingkatkan dan dilaksanakan secara

maksimal. Setiap pembangunan walaupun sekecil apapun pasti memerlukan dana

apalagi membangun perekonomian negara sebesar indonesia dengan jumlah

penduduk sekitar 220 juta jiwa lebih. Terdapat beberapa sumber pendanaan

pembagunan baik yang bersumber dari dalam maupun luar negeri (Suparmoko,

1992:94-95).

2

1. Pendapatan pajak, adalah iuran dari masyarakat kepada pemerintah yang dpat

dipaksakan tanpa adanya bala jasa secara langsung.

2. Retribusi, adalah penberian dari masyarakat kepada pemerintah dimana

terdapat hubungan balas jasa yang langsung diterima dengan adanya

pembiayaan retribusi tersebut.

3. Keuntungan dari Badan Usaha Milik Negara (BUM N).

4. Sumber pendanaan dari luar negeri, adalah bantuan atau hibah yang diperoleh

dari pinjaman luar negeri dan penanaman modal asing (PM A).

Demi tercapainya cita-cita dan tujuan untuk mensejahteraan dan

meningkatkan taraf hidup masyarakat, maka pemerintah dalam melaksanakan

pembangunan seharusnya tidak terbatas pada pembangunan sektor perekonomian

semata, namun sektor-sektor lain yang saling terkait juga harus diupayakan

pembangunanya. Salah satu sektor yang tergantung pada sektor lain yaitu sektor

pariwisata yang sangat tergantung pada stablitas nasional dan jaminan keamanan,

tetapi masih belum terlalu diperhatikan dan digarap secara maksimal.

Sektor pariwisata yang sangat terkait dengan sektor lain, merupakan suatu

tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk memberikan yang terbaik bagi tamu

yang datang berkunjung mulai dari jaminan keamanan dan kenyamanan selama

berada di wilayah Indonesia. Industri pariwisata diharapkan mampu menunjukan

perananya pada sektor perekonomian, sosial, budaya, penerimaan devisa,

3

lapangan pekerjaan, serta sebagai wahana mengatasi konflik yang terjadi di

negara dengan kemajemukan yang luar biasa seperti indonesia.

Negara Indonesia memiliki potensi alam, keanekaragaman flora dan

fauna, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, serta seni dan budaya yang

semuanya merupakan sumber daya modal yang besar artinya bagi usaha

pengembangan dan peningkatan kepariwisataan. Modal tersebut harus

dimanfaatkan secara optimal melalui penyelenggaraan kepariwisataan yang

secara umum bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka

meningkatkan kesejahteraan rakyat. Berdasarkan data statistik, tercatat bahwa

sektor pariwisata memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap

perekonomian nasional. Tahun 2002 target perolehan dari sektor pariwisata

sebesar 516,035,600 juta, dan tahun 2003 sebesar 606,563,875 juta, sedangkan

target 2004 sebesar 610,164,775 juta. Dengan potensi wisata yang dimiliki masih

memungkinkan peluang peningkatan penerimaan negara dari sektor pariwisata.

Meskipun demikian, sektor pariwisata sangat rentan terhadap faktor-faktor

lingkungan alam, keamanan, dan aspek global lainya. Contoh kerusakan alam

adalah rusaknya terumbu karang hampir disepanjang pantai indonesia, padahal

terumbu karang dan segala kehidupan yang ada didalamnya merupakan salah satu

kekayaan alam yang dimiliki dan tidak ternilai harganya. Sebagai contoh lainya

perkembangan-perkembangan ekonomi, sosial, budaya dan politik global

mempengaruhi penyelenggaraan kegiatan pariwisata. Contoh konkrit yang terjadi

adalah adanya isu terorisme yang telah mengakibatkan menurunya minat

4

wisatawan untuk berkunjung, seperti yang terjadi di Bali dimana tercatat jumlah

wisatawan manca negara yang datang ke Indonesia menurun sekitar 16,16% dari

target yang direncanakan.

Negara Indonesia pun turut menikmati dampak dari peningkatan

pariwisata dunia terutama pada periode 1990-1996, namun badai krisis ekonomi

yang melanda indonesia sejak tahun 1997 hal tersebut merupakan pengalaman

yang sangat berharga bagi masyarakat pariwisata Indonesia untuk melakukan re-

positioning sekaligus re-vitalization kegiatan pariwisata indonesia. Disamping itu

berdasarkan undang-undang no 25 tahun 2000 tentang program perencanaan

nasional. Menghadapi tantangan dan peluang ini, telah dilakukan pula perubahan

peran pemerintah dibidang kebudayaan dan pariwisata yang pada masa lalu

berperan sebagai pelaksana pembangunan, saat ini lebih difokuskan hanya kepada

tugas-tugas pemerintahan terutama sebagai fasilitator agar kegiatan pariwisata

yang dilakukan oleh swasta dapat berkembang lebih pesat. Peran fasilitator disini

dapat diartikan sebagai menciptakan iklim yang nyaman agar para pelaku

kegiatan kebudayaan dan pariwisata dapat berkembang secara efisien dan efektif.

Selain itu sub sektor pariwisata pun diharapkan dapat menggerakan ekonomi

rakyat, karena dianggap sektor yang paling siap dari segi fasilitas, sarana dan

prasarana dibandingkan dengan sektor usaha lainnya. Harapan ini dikembangkan

dalam suatu strategi pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan pariwisata

yang berbasis kerakyatan atau community-based tourism development .

5

Sebagai industri perdagangan jasa, kegiatan pariwisata tidak terlepas dari

peran serta pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Pemerintah bertanggung jawab atas empat hal utama yaitu: perencanaan

(planning) daerah atau kawasan pariwisata, pembangunan (development) fasilitas

utama dan pendorong pariwisata, pengeluaran kebijakan (pollicy) pariwisata, dan

pembuatan dan penegakan peraturan (regulation). Selain peran pemerintah

sebagai fasilisator ternyata peran masyarakat juga sangat berpengaruh. Dimana

masyarakat merupakan sekelompok orang yang berada di suatu wilayah geografi

yang sama dan memanfaatkan sumber daya alam lokal yang ada di sekitarnya. Di

negara-negara maju dan berkembang, pada umumnya pariwisata dikelola oleh

kalangan swasta yang memiliki modal usaha yang besar yang berasal dari luar

daerah dan bahkan luar negeri. Sehingga masyarakat lokal yang berada di suatu

daerah destinasi atau tujuan pariwisata tidak dapat terlibat langsung dalam

kegiatan pariwisata. Ketidakterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan pariwisata

sering kali menimbulkan opini bahwa masyarakat lokal bukan termasuk

stakeholders dari pariwisata dan merupakan kelompok yang termarjinalisasi dari

kesempatan bisnis dalam bidang pariwisata.

Pada dasarnya masyarakat lokal memiliki pengetahuan tentang fenomena

alam dan budaya yang ada di sekitarnya. Namun mereka tidak memiliki

kemampuan secara finansial dan keahlian yang berkualitas untuk mengelolanya

atau terlibat langsung dalam kegiatan pariwisata yang berbasiskan alam dan

budaya. Sejak beberapa tahun terakhir ini, potensi-potensi yang dimiliki oleh

6

masyarakat lokal tersebut dimanfaatkan oleh para pengelola wilayah yang

dilindungi (protected area) dan pengusaha pariwisata untuk diikutsertakan dalam

menjaga kelestarian alam yang ada didaerahnya. Sehingga diharapkan masyarakat

lokal harus terlibat secara aktif dalam pengembangan pariwisata. Lebih jauh,

pariwisata juga diharapkan memberikan peluang dan akses kepada masyarakat

lokal untuk mengembangkan usaha pendukung pariwisata seperti; toko kerajinan,

toko cinderamata (souvenir), warung makan dan lain-lain agar masyarakat

lokalnya memperoleh manfaat ekonomi yang lebih banyak dan secara langsung

dari wisatawan yang digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf

hidupnya. Tingkat keterlibatan masyarakat dalam pariwisata sangat berbeda dan

ini tergantung dari jenis potensi, pengalaman, pengetahuan dan keahlian yang

dimiliki oleh individu atau masyarakat lokal tersebut.

Selain masyarakat dalam menjalankan perannya, industri pariwisata harus

menerapkan konsep dan peraturan serta panduan yang berlaku dalam

pengembangan pariwisata agar mampu mempertahankan dan meningkatkan

jumlah kunjungan wisatawan yang nantinya bermuara pada pemberian manfaat

ekonomi bagi industri pariwisata dan masyarakat lokal. Industri-industri

pariwisata yang sangat berperan dalam pengembangan pariwisata adalah: biro

perjalanan wisata, hotel dan restoran. Selain itu juga didukung oleh industri-

industri pendukung pariwisata lainnya.

7

Kebijaksanaan pembangunan kepariwisataan nasional dan daerah ini

diarahkan menjadi andalan untuk menggerakan kegiatan ekonomi dan sekaligus

dapat berperan dalam menciptakan peluang lapangan dan kesempatan kerja

(yayasan diakonia gloria: 2002). Pembangunan kepariwisataan merupakan salah

satu sektor andalan pembangunan suatu daerah. Pariwisata adalah segala sesuatu

yang berhubungan dengan wisata termasuk penguasaan objek dan daya tarik

wisata serta usaha-usaha yang terkait dibidang tersebut. Pembangunan sektor

kepariwisataan diharapkan akan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah

(PAD) dan memperbaiki kesejahteraan hidup masyarakat. Berbagai program

partisipasi dan bantuan pembangunan kepariwisataan telah dilakukan di beberapa

daerah oleh lembaga Internasional, Pemerintah pusat, Pemerintah daerah,

lembaga ilmiah, lembaga swadaya masyarakat, swasta dan perseorangan guna

menunjang pengembangan sektor kepariwisataan di suatu daerah.

Sebagai wujud ekonomi daerah, maka Kabupaten Wonogiri diharapkan

mampu untuk mengelola perekonoianya sendiri. Sehingga pengembangan sektor

pariwisata merupakan salah satu sektor yang dinilai dapat memberikan

sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonogiri. Dimana

otonomi daerah sebagai wujud pelaksanaan desentralisasi dalam penyelenggaraan

pemerintah, yang mempunyai tujuan yaitu untuk meningkatkan pelayanan publik

(public service). Yang pada dasarnya terkandung tiga misi utama pelaksanaan

otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, yaitu (1) meningkatkan kualitas dan

kuantitas pelayanan publik dan pelayanan masyarakat. (2) menciptakan efisiensi

8

dan efektifitas pengelolaan sumber daya daerah. Dan (3) memberdayakan dan

menciptakan ruang bagi masyarakat (publik) untuk berpartisipasi dalam proses

pembangunan (Mardiasmo, 2002:47).

Undang-undang tentang otononi daerah yaitu undang-undang nomor 22

tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan undang-undang nomor 25 tahun 1999

tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Otonomi daerah

ditempatkan secara utuh pada daerah kabupaten dan kota. Kehadiran dua paket

undang-undang tersebut menjanjikan sebuah harapan sekaligus tantangan

pemerintah daerah. Untuk dapat memainkan peran dengan baik dalam kompetisi

global, salah satu strategi yang paling efektif adalah berperan dengan lebih aktif

dalam memanfaatkan potensi yang ada secara optimal. Pariwisata sebagai industri

yang mampu melengkapi dan mempercepat pertumbuhan industri-industri lain

diharapkan mampu memberikan manfaat yang sebesarbesarnya. Wonogiri juga

memiliki potensi pariwisata yang tidak kalah menarik. Berbagai obyek wisata

yang ada di Wonogiri seperti obyek wisata budaya, wisata sejarah, wisata bahari,

wisata religi, dan wisata belanja apabila dikembangkan secara optimal akan

memberi kontribusi positif bagi Wonogiri.

Agar mempermudah tugas pemerintah daerah dalam mengelola sektor

pariwisata maka dibentuk dinas pariwisata. Dinas pariwisata adalah salah satu

unsur pelaksana program dari pemerintah di bidang pariwisata dan didalam

menjalankan kegiatan berkewajiban membuat laporan pelaksanaan tugas. Laporan

pelaksanaan tugas adalah salah satu faktor penting yang sangat menentukan suatu

9

kebijaksanaan pelaksanaan program pemerintah yang akan memperjelas visi dan

misi kedinasan, sehingga mempermudah menentukan arah kebijaksanaan yang

akan dilaksanakan dan sebagai evaluasi pelaksanaan kegiatan dari program-

program yang telah ditentukan dalam 1 (satu) tahun anggaran.

Wonogiri merupakan salah satu daerah yang dianggap mempunyai potensi

daerah yang dapat digunakan sebagai penyelenggara obyek pariwisata. Dimana

pariwisata sebagai salah satu potensi unggulan di Kabupaten Wonogiri

membutuhkan pengelolaan yang baik dan terencana agar memperoleh hasil yang

optimal bagi daerah dan layak menjadi potensi unggulan yang dibanggakan. Hal

ini dapat ditunjukkan melalui jumlah wisatawan dari tahun 2001-2008 yaitu

sebagai berikut:

Tabel 1.1 Jumlah Wisatawan Obyek Wisata Kabupaten Wonogiri Tahun

2001- 2008

Tahun Jumlah Wisatawan

2001 564.497

2002 468.342

2003 422.840

2004 447.818

2005 461.746

2006 527.457

2007 539.051

2008 573.274

Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Wonogiri.

Selain dari tabel diatas pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonogiri dapat dilihat

melalui tabel dibawah ini yaitu:

10

Tabel 1.2 Produk Domestik regional Bruto (PDRB) menurut Lapangan Usaha,

Pendapatan Perkapita dan Pertumbuhan Ekonomi Atas Dasar Harga Berlaku

Kabupaten Wonogiri Tahun 2002-2004

Lapangan Usaha

PDRB Atas Dasar Harga Berlaku

(Jutaan Rp.)

2002 2003 2004

(1) (2) (3) (4)

1.Pertanian

1.1. Pertanian Tananaman Pangan

1.2. Tananaman Perkebunan Rakyat

1.3. Peternakan

1.4. Kehutanan

1.5. Perikanan

2.Pertambangan dan Penggalian

3.Industri Pengolahan

4.Listrik, Gas dan Air

5.Bangunan

6.Perdagangan

7.Angkutan dan Perhubungan

8.Lembaga Keuangan, Sewa

Bangunan dan Jasa Persewaan

9.Jasa-jasa

732.904,35

392.708,12

55.199,47

267.862,35

6.071,44

4.160,05

38.715,20

1.297.196,13

47.252,56

61.052,56

453.918,33

81.970,22

93.619,54

354.689,95

798.268,59

416.650,30

66.230,37

296.973,40

6.512,91

4.376,52

45.618,76

1.426.666,56

68.873,45

71.804,65

503.432,84

90.764,36

113.462,34

394.819,14

858.913,33

447.371,85

76.194,60

313.414,51

7.061,43

6.128,86

52.481,57

1.631.811,81

83.450,08

83.659,60

553.148,89

100.908,40

134.560,33

431.536,47

PDRB 3.154.415,48 3.506.185,51 3.921.728,32

Sumber : BPS Kabupaten Wonogiri

Di wongiri paling tidak terdapat 17 obyek wisata, baik wisata alam dan

rekreasi, wisata sejarah dan purbakala, wisata ritual, ziarah, spritual, maupun

11

agrowisata atau wisata pertanian. Namun tidak semua arena wisata itu dikenal

masyarakat dan laku dijual serta mendatangkan pengunjung. Dari 17 obyek

wisata itu, ternyata hanya sekitar 7 obyek saja yang efektif. Dan ini diperlukan

usaha dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk mengembangkan obyek-

obyek yang tidak efektif menjadi suatu obyek yang mempunyai daya tarik untuk

dikunjungi wisatawan.Sehingga dapat menjadikan sektor pariwisata menjadi

sektor yang potensial bagi daerah yang bertujuan untuk memperbesar pendapatan

asli daerah dan diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam kegiatan

ekonomi daerah Kabupaten Wonogiri.

Agar usaha pemerintah daerah Kabupaten Wonogiri dapat berjalan dengan

baik sesuai program dan visi yang telah dibuat maka saat ini perlu untuk menjalin

kerjasama dengan daerah lain serta beberapa pemilik travel wisata dalam rangka

melakukan promosi wisata. Tak jarang Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri

juga memberikan kesempatan kepada para investor yang mau melakukan

investasi karena dalam pengembangan tempat wisata tersebut dibutuhkan biaya

yang tidak dapat hanya dibebankan kepada APBD saja, selain itu perlunya

menjalin kerjasama dengan praktisi bidang kepariwisataan.

Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa sektor pariwisata

merupakan sektor yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi suatu daerah.

Sehingga judul penelitian ini yaitu analisis faktor-faktor yang mempengaruhi

sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi di kabupaten wonogiri

periode tah un 2001-2008.

12

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dalam penelitian ini dapat

dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana perkembangan pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten

Wonogiri periode tahun 2001-2008?

2. Bagaimana kontribusi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi di

Kabupaten Wonogiri periode tahun 2001-2008?

3. Faktor-faktor seperti jumlah wisatawan, lama menginap dan biaya

pengelolaan apakah mempengaruhi pertumbuhan sektor pariwisata di

Kabupaten Wonogiri?

C. Tujuan Penelitian

Berdassarkan latar belakang masalah dan perumusan masalah diatas maka

tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagi berikut:

1. Untuk mengetahui perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Wonogiri

periode tahun 2001-2008.

2. Untuk mengetahui perkembangan kontribusi sektor pariwisata terhadap

pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Wonogiri periode tahun 2001-2008.

3. Untuk mengetahui faktor-faktor seperti jumlah wisatawan, lama menginap

dan biaya pengelolaan apakah mempengaruhi pertumbuhan sektor pariwisata

di Kabupaten Wonogiri.

13

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat dan

kontribusi sebagai berikut:

1. Hasil penelitian dapat digunakan oleh pemerintah daerah untuk menetapkan

kebijakan-kebijakan pada sektor pariwisata guna meningkatkan pendapatan

daerah.

2. Hasil penelitian sebagai bahan informasi pendukung untuk melakukan

penelitian sejenis secara lebih mendalam dan luas ruang lingkupnya.

14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengertian Pariwisata

Pengertian pariwisata secara entimologi kata pariwisata berasal dari

bahasa sansekerta yaitu kata pari yang berarti banyak; berkali-kali; berputar-

putar, kata wisata yang berarti perjalanan; bepergian. Pariwisata dalam

bahasa inggris adalah Tour yang diartikan dalam kamus sebagai : (Spillane,

2001:22) Perjalanan atau bepergian untuk kesenangan mengunjungi berbagai

tempat yang menarik, atau Kunjungan singkat atau kunjungan lewat suatu

tempat.

Sedangkan tourism diartikan sebagai bisnis dalam memberikan

akomodasi dan pelayanan bagi para turis (Tourism).

Menurut H. Kodyat, pariwisata atau wisata adalah perjalanan atau

persinggahan yang dilakukan oleh manusia diluar tempat tinggalnya untuk

berbagai maksud dan tujuan, tetapi bukan untuk tinggal menetap ditempat

yang dikunjungi atau disinggahi atau untuk melakukan pekerjaan dengan

mendapat upah (Santoso. 2006).

Menurut Frans Gomang, pariwisata yaitu salah satu dari industri gaya

baru, yang mampu menyediakan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam hal

kesempatan kerja, pendapatan, taraf hidup dan dalam mengaktifkan sektor

produksi lain didalam penerimaan wisatawan.(Gromang. 2003).Pariwisata juga

15

dapat diartikan sebagai rencana atau kegiatan yang melakukan perjalanan yang

mungkin kurang dari sehari (day tripper/visitor) atau juga sebuah perjalanan

dalam sebuah batasan nasional secara umum disebut turis domestik, atau juga

berarti sebuah perjalanan antar negara yang diklasifikasikan sebagai perjalanan

wisata internasional.

2. Definisi Wisatawan

Wisatawan (tourism) yaitu seorang atau sekelompok orang yang

melakukan suatu perjalanan wisata, jika lama tinggalnya sekurang-kurangnya

24 jam didaerah atau negara yang dikunjungi. Namun apabila mereka tinggal

didaerah atau negara yang dikunjungi dengan waktu kurang dari 24 jam maka

mereka disebut pelancong (excursionist) (Suwantoro. 2004).

Menurut instruksi Presiden Republik Indonesia no 9/1969 yang tertulis

dalam bab 1 pasal 1, wisatawan adalah setiap orang yang bepergian dari

tempat tinggalnya untuk berkunjung ketempat lain dengan menikmati

perjalanan dari kunjungan itu (Spillane. 2001).

Menurut Spillane, wisatawan ialah pengunjung sementara yang tinggal

sekurang-kurangnya 24 jam dinegara yang dikunjungi dan tujuan perjalananya

dapat digolongkan sebagai berikut : (Spillane. 2001).

a. Pesiar yaitu untuk keperluan rekreasi, liburan, kesehatan, studi,

keagamaan dan olah raga.

16

b. Hubungan dagang, sanak keluarga, handai taulan, konferensi-

konferensi, dan misi.

Wisatawan pada umumnya yaitu sekelompok orang yang bekunjung

disuatu daerah untuk melakukan suatu perjalanan wisata, namun tidak untuk

tinggal didaerah tujuan tersebut maupun bekerja untuk mendapatkan upah.

3. Jenis dan Macam Pariwisata

Ada barbagai jenis dan macam pariwisata diantaranya yaitu:

A. Menurut letak geografi

Menurut Leonard J Lickorish dan Carson L Jenkish, bentuk pariwisata

dibagi menjadi:

1. Pariwisata domestik, menyangkut warga dari suatu wilayah yang

melakukan perjalanan hanya dalam wilayah itu sendiri dalam suatu

negara itu sendiri.

2. Pariwisata in bound, yang menyangkut orang-orang yang melakukan

perjalanan yang bukan warga wilayah tersebut dalam suatu negara

sendiri.

3. Pariwisata out bound, menyangkut warga negara yang melakukan

perjalanan dinegara lain.

Atau juga bisa dikategorikan sebagai:

17

1. Pariwisata Internal, yang termasuk pariwisata domestik dan pariwisata

in bound.

2. Pariwisata Nasional, yang termasuk pariwisata domestik dan

pariwisata out bound.

3. Pariwisata Internasional, yang terdiri atas pariwisata in bound dan

pariwisata out bound.

Kata Domestik dalam konteks pariwisata adalah perjalanan yang

dilakukan oleh warga negara itu sendiri.

Menurut alasan atau tujuan perjalanan (Spillane, James. 2001) yaitu:

1. Pariwisata untuk menikmati perjalanan (Pleasure tourism).

Kegiatan wisata untuk tujuan mencari udara segar, suasana

baru, untuk menikmati rasa ingin tahu, untuk melihat sesuatu yang

baru dan untuk ikut serta dalam keramaian pusat-pusat wisata.

2. Pariwisata untuk urusan dagang (Bissnis tourism).

Yaitu jenis pariwisata yang pengunjungnya datang untuk

tujuan dinas, usaha dagang atau kegiatan yang berhubungan dengan

pekerjaanya, kongres, seminar, pameran, simposium dan musyawarah

kerja.

3. Pariwisata untuk rekreasi (Recreation tourism).

Yaitu jenis pariwisata yang orang-orang yang melakukan

terdiri dari orang-orang yang sedang berlibur atau cuti untuk

18

beristirahat untuk memulihkan kembali kesegaran jasmani dan

rohaninya, yang ingin menyegarkan keletihan dan kelelahanya.

4. Pariwisata untuk pendidikan (Educational tourism).

Yaitu pariwisata yang dilakukan untuk tujuan studi atau

mempelajari suatu ilmu pengetahuan.

B. Menurut obyek yang dikunjungi:

1. Pariwisata Budaya (Cultural Tourism)

Pariwisata yang dilakukan karena ada daya tarik dari seni dan

budaya suatu tempat atau daerah.

2. Pariwisata Kesehatan (Healthy Tourism)

Yaitu perjalanan yang dilakukan dengan maksud untuk

mencari penyembuhan atau obat suatu penyakit seperti mandi air

panas dan mandi lumpur.

3. Pariwisata Perdagangan (Commercial Tourism).

Yaitu pariwisata yang berkaitan dengan kegiatan perdagangan

nasional atau internasional seperti expo, fair, exhibition.

4. Pariwisata Olah Raga (Sport Tourism).

Suatu kegiatan untuk melihat atau menyaksikan suatu

penyelenggaraan pesta olah raga disuatu negara tertentu.

19

4. Produk Industri Pariwisata

Pariwisata adalah suatu gejala sosial yang sangat kompleks

menyangkut manusia seutuhnya dan memilki berbagai aspek baik aspek

sosiologis, psikologis, ekologis dan sebagainya. Dari sekian banyak aspek

yang ada, segi eknomis mungkin yang paling menonjol dari keseluruhan

aspek yang ada.

Dalam hubunganya dengan aspek ekonomis pariwisata ini

berkembang konsep industri pariwisata. Dimana pengertian industri dalam

ilmu ekonomi adalah sekelompok perusahaan yang sejenis yang memproduksi

atau menghasilkan produk tertentu. Dalam hal ini perusahaan yang dimaksud

adalah perusahaan yang mengelola potensi wisata dengan produk wisata

(Spillane. 2001).

Pengertian produk dalam ilmu ekonomi adalah sesuatu yang

dihasilkan melalui proses produksi, diman penekanan utamanya adalah bahwa

tujuan akhir dari suatu proses produksi dapat digunakan untuk berbagi tujuan

guna memenuhi kebutuha manusia (Suwantoro. 2004). Sedangkan menurut

Gamal Suwantoro, definisi produk pariwisata adalah keseluruhan pelayanan

yang diperoleh atau dirasakan atau dinikmati wisatawan semenjak ia

meninggalkan tempat tinggalnya, sampai kedaerah tujuan wisata yang telah

dipilihnya dan kembali kerumah dimana ia berangkat semula (Suwantoro.

2004).

20

Namun produk wisata bukanlah suatu produk yang nyata. Produk ini

merupakan suatu rangkaian yang tidak hanya mempunyai segi-segi yang

bersifat ekonomis tetapi yang bersifat sosial, psikologis dan alam, walaupun

produk wisata itu sendiri sebagian besar dipengaruhi oleh tingkah laku

ekonomi sedangkan produk-produkwisata tersebut mempunyai beberapa ciri-

ciri yaitu: a) hasil atau produk wisata tidak dapat dipindahkan. b) produksi

dan konsumsi terjadi pada tempat dan saat yang sama. c) produk wisata tidak

menggunakan standar ukuran fisik tetapi menggunakan standar pelayanan

yang didasarkan atas suatu kriteria tertentu. d) konsumen tidak mencicipi atau

mencoba contoh itu sebelumnya. e) hasil atau produk wisata itu banyak

tergantung pada tenaga manusia dan hanya sedikit yang menggunakan mesin.

f) produk wisata merupakan usaha yang mengandung resiko

besar.(Suwantoro. 2004;49).

Kegiatan dalam rangkaian memajukan pariwisata sebagai industri

sebenarnya ditunjang oleh berbagai macam usaha yang perlu dikelola secara

terpadu dan baik. Diantaranya menurut Spillane. 2001;91 adalah:

a. Kegiatan promosi untuk memperkenalkan obyek wisata.

b. Pengadaan sarana transportasi yang lancar.

c. Kemudahan birokrasi atau keimigrasian.

d. Akomodasi yang menjamin penginapan yang nyaman.

e. Pemandu wisata yang cakap.

f. Penawaran barang dan jasa dengan mutu terjamin dan tarif harga yang

wajar.

21

g. Pengisian waktu dengan atraksi-atraksi yang menarik.

h. Kondisi kebersihan dan kesehatan lingkungan.

5. Kontribusi Pariwisata Terhadap Pendapatan Daerah

Dalam ketetapan undang-undang nomor 22 tahun 1999 (tentang

pemerintah daerah, pasal 79) telah ditetapkan mengenai sumber pendapatan

daerah terdiri atas:

1. Pendapatan Asli Daerah (PAD), yaitu:

a. Hasil Pajak Daerah.

Pajak adalah sumber keuangan pokok bagi daerah-daerah

disamping retribusi daerah. Selain satu dari jenis pajak, pajak daerah

merupakan pungutan daerah berdasarkan peraturan yang ditetapkan

untuk pembiayaan pengeluaran-pengeluaran daerah sebagi badan

hukum publik.

b. Hasil Retirbusi Daerah.

Retribusi merupakan iuran kepada pemerintah yang dapat

dipaksakan dan jasa balik langsung dapat ditunjuk. Paksaan disini

bersifat ekonomis karena siapa saja tidak merasakan jasa balik dari

pemerintah dan ia tidak dikenakan iuran itu. (Nurlaila. 2004;30).

Sedangkan masalah tarif retribusi ini harus seimbang dengan

biaya yang dikeluarkan untuk dapat memelihara kelangsungan jasa itu.

Dengan demikian, berarti bukan selalu mencari keuntungan saja,

22

sehingga seperti halnya pajak , maka retribusi pun berlakunya

diperlukan pengesahan terlebih dahulu dari penguasa atau menurut

cara-cara yang ditetapkan undang-undang.

c. Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah

yang dipisahkan.

Sumber Pendapatan Asli Daerah selanjutnya adalah BUM D.

Dalam hal ini, laba BUM D yang diharapkan sebagai sumber

pendapatan bagi daerah. Oleh sebab itu pengelolaan BUM D harus

bersifat dan harus berpegang pada prinsip-prinsip ekonomi secara

umum. Sesuai dengan tujuan BUM D, yaitu untuk turut serta dalam

melaksanakan pembangunan daerah khususnya dan pembangunan

ekonomi nasional umumnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat

dengan mengutamakan industrialisasi dan ketentuan serta

ketenagakerjaan dalam perusahaan, menuju masyarakat adil dan

makmur.

d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah.

2. Dana permbangan.

Diperoleh dari bagian daerah, penerimaan pajak bumi dan

bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan dan penerimaan

yang berasal dari sumber daya alam serta dana alokasi umum dan dana

alokasi umum.

23

3. Pinjaman daerah.

Pinjaman pemerintah daerah merupakan pinjaman dari pemerintah

daerah kepada pemerintah pusat, hingga saat ini pemerintah daerah belum

diijinkan mengajukan pinjaman kepada pihak asing. Pinjaman pemerintah

daerah biasanya dilakukan untuk menutupi kekurangan anggaran belanja

daerah tetapi dilakukan oleh atau bekerja sama dengan pemerintah pusat.

4. Lain- lain pendapatan daerah yang sah.

Pendapatan Asli Daerah sebagai salah satu sumber penerimaan daerah

seperti telah di uraikan diatas diupayakan agar selalu mengalami peningkatan,

salah satu caranya adalah dengan meningkatkan pendapatan sektor pariwisata

di wilayah yang bersangkutan.

Dari penjelasan diatas untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar

2.1. sumber-sumber penerimaan daerah sebagai berikut:

24

Gambar 2.1

Sumber : UU no. 25/1999 tentang perimbangan antara pemerintah pusat dan daerah

Sumber-Sumber Penerimaan Daerah

Dana

Perimbangan

Pinjaman

Daerah

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah

Lainnya yang

dipisahkan

Lain-lain Hibah, Dana Darurat Penerimaan

Lainnya

Pendapatan

Asli Daerah

(PAD)

Bagi Hasil

DAU

DAK

Dalam Negeri

Luar

Negeri

Deviden

Bagian Laba

Penjualan

Saham

Pajak

Retribusi

Keuntugan peusahaan

daerah

Pengelolaan aset

Lain-lain

Pajak bumi dan bangunan

BPHTB

Hasil hutan, tambang, umum, perikanan

Minyak bumi

Gas alam

Kebutuhan diluar alokasi

Prioritas nasional

Dana reboisasi

Matching grant

25

Hasil penelitian Roerkgets dan Savat pada tahun 1983 (Soeratno.

2008: 88) mengemukakan bahwa manfaat yang dapat diberikan sektor

pariwisata adalah:

a. Menambah pemasukan dan pendapatan baik bagi pemerintah daerah

maupun masyarakatnya. Peningkatan ini bisa dilihat dari meningkatnya

hasil usaha yang dilakukan, misalnya bidang perhotelan, restoran, biro

perjalanan, pramu wisata dan barang-barang souvenir. Sedangkan bagi

pendapatan asli daerah serta sumber pertumbuhan ekonomi secara umum.

b. Membuka kesempatan kerja bagi penduduk di lokasi pariwisata, baik di

sektor formal maupun informal.

c. Menambah devisa bagi negara.

d. Merangsang pertubuhan kebudayaan lokal serta menunjang gerak

pembangunan daerah, misalnya: melalui peningkatan infrastruktur,

perhotelan, restoran, dan lain-lain sehingga menunjag pembangunan

daerah secara keseluruhan.

6. Peran Pemerintah Dalam Pengelolaan Pariwisata.

Pembangunan merupakan upaya yang secara sadar dilaksanakan oleh

suatu bangsa, negara dan pemerintah dalam rangka pencapaian tujuan

nasional melalui pertumbuhan dan perubahan secara terencana menujun

masyarakat modern. Tidak ada satu negara akan mencapai tujuan nasionalnya

26

tanpa melakukan berbagai jenis kegiatan pemmbangunan, oleh karena itu

proses pembangunan harus terus berlanjut karena tingkat kemakmuran,

keadilan dan kesejahteraan rakyat bersifat relatif dan tidak akan pernah

dicapai secara absolut.

Malaksanakan tugas pembangunan yang sangat penting dan mulia ini

merupakan tanggung jawab seluruh koponen masyarakat dan bukan tugas

pemerintah semata, akan tetapi meskipun deikian, harus diakui bahwa

pemerintah memainkan peranan yang dominan dalam proses pembangunan

nasional. Peran pemerintah yang dimaksud disini adalah selaku sabilisator,

selaku inovator, srelaku modernisator, selaku pelopor. Dan pelaksana sendiri

kegiatan pembangunan tertentu. (Nurlaila. 2004;55).

a) Peran selaku Stabilisator.

Salah satu ciri negara-negara terbelakang dan sedang

membangun adalah labilnya situasi politik, ekonomi, sosial budaya dan

pertahanan keamanan. Dalam kondisi kehidupan kenegaraan dan

masyarakat yang tidak stabil, sukar mengharakan terselenggaranya

berbagai kegiatan pembangunan, sehingga peran yang sangat penting

dimainkan oleh pemerintah secara efektif ialah peran selaku stabilisator.

b) Peran selaku Inovator.

Inovasi merupakan salah satu produk dari kreativitas. Inovasi

berarti temuan baru, metode baru, sistem baru dan yang terpenting cara

berpikir baru. Dengan demikian, dalam peranan selaku inovator,

27

pemerintah sebagian keseluruhan harus mejadikan sumber dari hal-hal

baru.

Ada 3(tiga) hal yang mutlak dilakukan oleh pemerintah selaku

inovator sebagi berikut: (a) menerapkan inovasi dilingkungan birokrasi

pemerintah. Masyarakat menganggap aparatur pemerintah pada mumnya

cara kerjanya lamban, sistem kerja yang berbelit-belit, cara berpikir yang

berorientasi kekuasaan. Dan hasilnya tingkat produktivitas kerja yang

rendah. (b) inovasi yang sifatnya konsepsional. Pemerintah dengan

seluruh jajaranya harus merupakan sumber dari ide-ide baru. (c) inovasi

sistem, prosedur dan metode kerja.

Pada sektor pariwisata peran pemerintah harus dapat

menciptakan obyek wisata yang baru dan mendukung pembangunan

pariwisata sehingga potensi wisata sangat bervariasi. Pemerintah

memberikan kemudahan dalam pemberian ijin usaha untuk

pengembangan obyek wisata sebagai sarana pendukung obyek dan daya

tarik wisata dan penurunan suku bunga dan perpanjangan masa tenggang,

pembayaran kredit bunga bagi yang berusaha dibidang pariwisata serta

tarif PLN untuk hotel sama dengan golongan industri.

c) Peran selaku Modernisator.

Melalui pembangunan, setiap negara ingin menjadi negara

modern. Berbagai implikasi peryataan tersebut antara lain adalah kuat,

mandiri, diperlakukan sederajat oleh negara-negara lain. Kuat berarti

28

mampu mempertahankan kemerdekaanya dan kedaulatanya dengan tetap

menyadari pentingnya bekerja sama dengan negara-negara lain. Sederajat

dalam arti perolehan pengakuan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan antara lain; (a)

penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, (b) kemampuan dan

kemahiran manajerial, (c) kemampuan mengolah kekayaan alam yang

dimiliki sehingga memiliki nilai tambah yang tinggi, (d) sistem

pendidikan yang andal yang menghasilkan sumber daya manusia yang

produtif, (e) landasan kehidupan politik yang kukuh dan demokratis, (f)

memiliki visi yang jelas tentang masa depan yang di inginkan, (g) rakyat

yang diberdayakan sehingga mampu mengambil keputusan yang rasional,

(h) kesediaan mengambil resiko, (i) orientasi masa depan, (j) bersedia

menerima perubahan.

Peran pemerintah sebagai modernisatar dalam sektor pariwisata,

memberikan kesempatan kepada swasta untuk mendirikan lembaga

pendidikan dan ketrampilan pariwisata.

d) Peran selaku Pelopor

Selaku pelopor, aparatur pemerintah harus menjadi panutan bagi

seluruh masyarakat, misalnya; (a) kepeloporan dalam bekerja seproduktif

mungkin dengan pemanfaatan waktu sebaik-baiknya dengan orientasi

yang maksimal, (b) kepeloporan dalam kejujuran, (c) kepeloporan dalam

29

penegakan disiplin, (d) kepeloporan dadalam ketaatan perundang-

undangan, (e) kepeloporan kesediaan berkorban demi kepentingan negara,

(f) kepeloporan dalam kepedulian pelestarian lingkungan, (g) kepeloporan

dalam penerapan obyektifitas, (h) kepeloporan dalam penerapan efisiensi,

(i) kepeloporan dalam peningkatan pengtahuan dan ketrampilan.

Pada sektor pariwisata pemerintah memberikan kebijakan pada

jangka waktu liburan nasional sehingga masyarakat mempunyai

kesempatan untuk berwisata, mengeluarkan Undang-Undang

kepariwisataan dan mendukung peningkatan masyarakat dalam menggali

dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya daerah, dan peningkatan

promosi dan pemasaranya baik didalam maupun diluar negeri dengan

memanfaatkan kerja sama kepariwisataan regional secara optimal dalam

bentuk paket-paket wisata.

e) Peran selaku Pelaksana Sendiri

Meskipun benar bahwa pelaksanaan berbagai kegiatan

pembangunan merupakan tanggung jawab nasional dan bukan menjadi

beban pemerintah semata-mata karena berbagai pertimbangan, seperti

keselamatan negara, modal yang terbatas, kemampuan yang masih belum

memadai karena tidak diminati oleh masyarakat dan karena secara

konstitusional merupakan tugas pemerintah, sangat mungkin terdapat

berbagai kegiatan yang tidak bisa diserahkan kepada pihak swasta

melainkan harus diselanggarakan sendiri oleh pemerintah.

30

Namun sebagai industri perdagangan jasa kegiatan pariwisata

tidak terlepas dari peran serta pemerintah pusat maupun pemerintah

daerah. Pemerintah bertanggung jawab empat hal utama yaitu:

perencanaan (Planning) daerah atau kawasan pariwisata, pembangunan

(development) fasilitas utama dan pendukung pariwisata, pengeluaran

kebijakan (policy) pariwisata, dan pembuatan serta penegakan peraturan

(regulation). Menurut I nengah subadra mengenai peran-peran pemerintah

dalam bidang pariwisata tersebut diatas yaitu:

i. Perencanaan Pariwisata

Pariwisata merupakan industri yang memiliki kriteria-kriteria

khusus, mengakibatkan dampak positif dan negatif. Untuk memenuhi

kriteria khusus tersebut, memaksimalkan dampak positif dan

meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan sehubungan dengan

pengembangan pariwisata, diperlukan perencanaan pariwisata yang

matang. Kesalahan dalam perencanaan akan mengakibatkan munculnya

berbagai macam permasalahan dan konflik kepentingan diantara para

Stekcholders. Masing-masing daerah tujuan wisata memiliki

permasalahan yang berbeda dan memerlukan jalan keluar yang berbeda

pula.

Dalam pariwisata, perencanaan bertujuan untuk mencapai cita-

cita atau tujuan pengembangan pariwisata. Secara garis besar

perencanaan pariwisata mencakup beberapa hal penting yaitu: (1)

31

perencanaan pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk memacu

pertumbuhan berbagai industri yang berkaitan dengan pariwisata, (2)

perencanaan penggunaan lahan, (3) perencanaan infrastruktur yang

behubungan dengan jalan, bandar udara dan keperluan lainya seperti:

listrik, air, pembuangan sampah dan lain-lain, (4) peencanaan

pelayanan sosial yang berhubungan dengan penyediaan lapangan

pekerjaan, pelayanan kesehatan, pelayanan kesehatan dan kesejahteraan

sosial, dan (5) perencanaan yang mencakup keamanan internal untuk

daerah tujuan wisata dan para wisatawan.

ii. Pembangunan Pariwisata

Pembangunan pariwisata umumnya dilakukan oleh sektor swasta

terutama fasilitas dan jasa pariwisata. Namun, pengadaan infrastruktur

umum seperti jalan, listrik dan air yang berhubungan dengan

pengembangan pariwisata terutama untuk proyek-proyek yang berskala

besar yang memerlukan dana yang sangat besar seperti pembagunan

bandar udara, jalan untuk trasportasi darat, proyek penyediaan air

bersih, dan proyek pembuangan limbah merupakan tanggung jawab

pemerintah, selain itu pemerintah juga berperan sebagi penjamin dan

pengawas para investor yang menanamkan modalnya dalam bidang

pembangunan pariwisata.

32

iii. Kebijakan Pariwisata

Kebijakan merupakan jangka panjang yang mencakup tujuan

pembangunan pariwisata dan cara atau posedur pencapaian tujuan

tersebut yang dinuat dalam peryataan-peryataan formal seperti hukum

dan dokumen-dokumen resmi lainya. Kebijakan yang dibuat

pemerintah harus sepenuhnya dijadikan panduan dan ditaati oleh para

stakcholder. Kebijakan-kebijakan yang harus dibuat dalam pariwisata

adalah kebijakan yang behubungan dengan pertumbuhan ekonomi,

peningkatan kesempatan kerja, dan hubungan politik terutama politik

luar negeri bagi daerah tujuan wisata yang mengandalkan wisatawan

manca negara.

Umumnya kebijakan pariwisata dimasukan dalam kebijakan

ekonomi secara keseluruhan yang kebijakanya mencakup struktur dan

pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Kebijakan ekonomi yang harus

dibuat sehubungan dengan pembangunan pariwisata adalah kebijakan

mengenai ketenagakerjaan, penanaman modal dan keuangan, industri-

industri penting yang mendukung kegiatan pariwisata, dan

perdagangan barang dan jasa.

iv. Peraturan Pariwisata

Peraturan pemerintah memiliki peran yang sangat penting

terutama dalam melindungi wisatawan dan memperkaya atau

mempertinggi pengalaman perjalananya. Peraturan-peraturan penting

33

yang harus dibuat pemerintah untuk kepentingan tersebut adalah: (1)

peraturan perlindungan bagi wisatawan terutama bagi biro perjalanan

wisata ynag mengharuskan wisatawan membayar uang muka (deposit

payment) sebagi jaminan pemesanan jasa seperti akomodasi, dan lain-

lain. (2) peraturan keamanan kebakaran yang mencakup pengaturan

mengenai jumlah minimal lampu yang ada di masing-masing lantai

hotel dan alat pendukung keselamatan lainya. (3) peraturan keamanan

makan dan kesehatan yang mengatur mengenai standar kesehatan

makanan yang disuguhkan kepada wisatawan. (4) peraturan standar

kompetensi pekerja-pekerja yang menbutuhkan pengetahuan dan

keahlian khusus seperti pilot, sop ir dan nahkoda.

7. Permintaan dan Penawaran Pariwisata.

1. Permintaan pariwisata

Menurut Spillane (2001;103), salah satu faktor yang sangat

mempengaruhi permintaan akan pariwisata adalah mobilitas. Mobilitas

manusia timbul atas berbagai macam dorongan kebutuhan atau

kepentingan yang disebut dengan istilah motivasi, yang dapat digolongkan

sebagai berikut:

a. Dorongan kebutuhan dagang atau ekonomi.

b. Dorongan kebutuhan kepentingan politik.

c. Dorongan kebutuhan keamanan.

d. Dorongan kebutuhan kesehatan.

34

e. Dorongan kebutuhan pemukiman.

f. Doronagn kebutuhan kepentingan keagamaan.

g. Dorongan kebutuhan kepentingan pendidikan atau studi.

h. Dorongan kebutuhan minat kebudayaan.

i. Dorongan kebutuhan hubungan keluarga.

j. Dorongan kebutuhan untuk rekreasi (dalam arti luas).

Motivasi-motivasi tersebut timbul dari kepentingan-kepentingan

hidup manusia. Oleh karena kehidupanya dalam masyarakat wajar maka

aktivitas-aktivitas permintaan timbul layak untuk dipenuhi dan disediakan.

Permintaan dalam pariwisata dapat berupa pemandangan yang

indah, udara yang segar, langit yang cerah, pantai yang bersih dan

sebagainya. Permintaan tersebut pada dasarnya terbagi atas dua yaitu

permintaan yang potensial dan permintaan yang nyata. Permintaan yang

potensial adalah sejumlah orang yang memenuhi anasir-anasir pokok

suatu perjalanan karena itu mereka berada dalam kondisi siap untuk

bepergian, sedangkan permintaan yang nyata (actual) adalah orang-orang

yang secara nyata bepergian kesuatu daerah tujuan wisata. Perbedaan

jumlah permintaan potensial dan aktual merupakan kancah usaha bagi

orang-orang pemasaran (Gromang. 2003;132).

Beberapa faktor penting yang mempengaruhi perkembangan

permintaan pariwisata yaitu antara lain pendapatan, dimana pendapatan

35

seseorang sangat menentukan dapat tidaknya seseorang berwisata karena

apabila memiliki uang lebih maka seseorang baru akan melakukan

perjalanan wisata. Selain itu faktor yang lain yaitu perubahan harga akan

mempengaruhi penggunaan dana yang dimiliki seseorang, kualitas dalam

hal yang dapat dilihat, digunakan dan dapat dibeli di daerah tujuan wisata,

faktor hari libur juga memberikan pengaruh positif bagi terselenggaranya

perjalanan wisata, transportasi yang canggih dapat mempersingkat waktu

perjalanan dengan segala fasilitas yang nyaman dan baik.

2. Penawaran pariwisata

Sejak kepariwisataan menjadi industri yang populer terutama

karena ekonomisnya, praktis setiap negara berminat mengenbangkan

dirinya sebagai salah satu tujuan wisata. Keadaan alam dan masyarakat

negara-negara berkembang menjadi andil utama untuk diminati dan

menjadi daya tarik yang kuat di pasaran wisata dunia. Namun demikian,

secara absolut, sebagian wisatawan senantiasa bertukar kunjung ke negara

tetangga yang sudah maju, dikarenakan banyaknya hari-hari luang untuk

berkunjung dan arena secara relative biaya transport yang semakin mahal

ke negara-negara tujuan yang semakin jauh. Persaingan di antara sesama

negara destinasi menjadi semakin tajam dan satu-satunya harapan

pertumbuhan suatu negara tujuan wisata terletak pada persiapan apa yang

ditawarkan itu supaya memadai dengan permintaan. Ini adalah proses

berkesinambungan, yang tergantung pada hasil studi mendalam mengenai

36

permintaan dan analisis produk, tempat kedua unsur ini merupakan unsur

pokok perencanaan penawaran (Gromang. 2003;112).

Namun saat ini sebagian lembaga atau instansi telah menetapkan

lima hari kerja dalam seminggu. Disamping itu pemerintah mengambil

kebijakan yang memungkinkan memindahkan libur nasional keawal atau

akhir pekan. Kondisi ini akan menambah jumlah waktu luang bagi para

pekerja. Waktu luang tersebut merupakan syarat bagi seseorang untuk

melakukan perjalanan wisata, sebab banyak orang yang memiliki uang

yang cukup, akan tetapi waktu luangnya sangat terbatas sehingga tidak

dapat melakukan perjalanan wisata. Dengan kata lain kondisi ini

merupakan peluang bagi pemasar untuk dapat merubah wisatawan

potensial menjadi wisatawan aktual. Jadi paling tidak saat ini pariwisata

nasional dapat memanfaatkan kondisi diatas, yaitu dengan melayani

wisatawan nusantara yang membatalkan perjalanan keluar negeri, dan

mereka yang waktu luangnya meningkat agar dimanfaatkan untuk

kegiatan wisata.

Penawaran pariwisata diharapkan dapat menyumbang sejumlah

uang antara lain dari pengeluaran wiasatawan asing, transportasi,

pengembalian modal dari investasi pariwisata di luar negeri, pengiriman

uang oleh pekerja bidang pariwisata di luar negeri dan sebagainya. Hal ini

memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan asli daerah (PAD).

Karena industri pariwisata pada umumnya berorientasi pada penjualan

37

jasa, dimana salah satu sifat dari produksi jasa adalah dihasilkanya melalui

padat karya, maka dengan berkembangnya pariwisata akan membuka

banyak kesempatan kerja. Akibat langsung terhadap kesempatan kerja ini

terutama akan sangat dirasakan oleh negara-negara berkembang yang

umumnya aktivitas ekonominya masih terbatas. Sebagai contoh yaitu Bali

merupakan daerah yang pariwisatanya berkembang cukup pesat sehingga

sektor pariwisata mampu lapangan kerja seper tiga dari penduduknya yang

berjumlah 3,5 juta orang (lin, 2003).

8. Keterkaitan Industri Pariwisata dan Pertumbuhan Ekonomi.

Pengembangan pariwisata dianggap penting oleh pemerintah,

mengingat Indonesia sebagai negara berkembang sehingga praktis sektor

industri pariwisata belum begitu menonjol. Untuk itu sumber pertumbuhan

nasional yang dimiliki mungkin bisa dianggap dominan adalah kepariwisataan

(keindahan, kekayaan alam, peninggalan sejarah, budaya dan adat istiadat

tradisional). Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993, telah

menetapkan tujuan-tujuan dalam sektor pariwisata sebagai berikut:

a. Menjadikan kepariwisataan sebagi sektor andalan guna menggerakkan

kegiatan ekonomi.

b. Memperbesar penerimaan devisa.

c. Memperluas dan memeratakan kesempatan usaha dan memperluas

lowongan pekerjaan terutama bagi masyarakat setempat.

38

d. Mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Dari sudut pembangunan negara, pariwisata merupakan bagian yang

integral dari pembangunan nasional. Pariwisata mempunyai manfaat dan

peranan sebagai berikut:

a. Peranan pariwisata dalam bidang idiologi sebagai wahana efektif untuk

menanamkan jiwa semangat dan nilai-nilai luhur kebudayaan nasional.

b. Manfaat wisata dalam bidang politik, dengan dibangunya obyek wisata

yang tersebar diseluruh nusantara dan penyebaran kegiatan berwisata

keberbagai daerah akan menambah kecintaan dan rasa bangga terhadap

semua kekayaan yang dimiliki oleh bangsa indonesia, manfaat pariwisata

dalam bidang ekonomi, akan meningkatkan penerimaan devisa negara dan

penerimaan negara yang berupa:

Pajak langsung (pajak penghasilan maupun pajak atas pengunaan

fasilitas yang terkait dengan pariwisata), pajak tak langsung (bea

masuk dan cukai yang diterima negara yang diterima dari sektor

pariwisata maupun yang terkait).

Meningkatkan dan memeratakan pendapatan masyarakat, melalui

multiplier effect dari industri pariwisata.

Meningkatkan pembangunan daerah.

c. Manfaat pariwisata dalam bidang sosial dan budaya. Turut berupaya

dalam peningkatan obyek-obyek wisata, pertumbuhan perkumpulan seni

39

dan budaya, pertumbuhan hasil kerajinan dan pelestarian peninggalan

sejarah.

9. Hasil Penelitian Terdahulu.

Sri soetanti (1997) mengadakan penelitian mengenai perkembangan

pariwisata terhadap peningkatan pendapatan daerah di daerah kotamadya

Surakarta, dengan mengambil sampel dari tahun 1989-1995. Hipotesis yang

diajukan adalah jumlah kunjungan wisatawan ke surakarta, ada kecenderungan

meningkat dan pendapatan daerah surakarta sektor pariwisata diduga mempunyai

kontribusi yang meningkat terhadap pendapatan daerah. Dan diduga jumlah

wisatawan berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Alat uji yang

digunakan adalah analisis regresi sederhana, dengan model :

Y= + + U

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada kenaikan dalam jumlah

kunjungan wisatawan mancanegara, karena hasil analisi trend metode regresi,

teryata koefisien regresi memiliki nilai t= 1,777 dan probabilitas = 0,13577 yang

berarti trend tersebut tidak meyakinkan pada tarif signifikan 5%.

Soeratno (2000) mengadakan penelitian tentang lingkungan Taman

Wisata Budaya Candi Borobudur sebagai salah satu sumber pendapatan daerah

Kabupaten Magelang. Hipotesis yang di ajukan adalah dari sekian banyak obyek

wisata di propinsi jawa tengah yang jumlahnya lebih dari 20 buah. Taman Wisata

Budaya Candi Borobudur merupakan obyek wisata yang paling banyak

40

dikunjungi dan berpendapatan paling tinggi. Dengan jumlah pengunjung pada

tahun 1997 sebanyak 2,28 juta orang atau 15,98% dari total pengunjung diseluruh

obyek wisata yang ada di propinsi jawa tengah, sedangkan jumlah pendapatan PT

Taman wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko pada tahun 1997

sebesar Rp. 3.166,31 juta atau 30,32% dari total pendapatan seluruh obyek wisata

di Propinsi Jawa Tengah.

Artikel tersebut mencoba mengetahui peran pendapatan dari Taman

Wisata Budaya Candi Borobudur dan lingkungan sekitarnya terhadapa

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Magelang selama periode 1990-1997.

Sedangkan pendapatan yang dimaksud dibatasi hanya 3 sumber yang berkaitan

langsung dengan pengelolaan Taman Wisata Budaya Candi Borobudur yaitu:

pendapatan dari penjualan karcis tanda masuk, parkir kendaraan, sewa kios

souvenir dan rumah makan. Hasil penelitian ini menunjukan elastisitas setoran PT

Taman Wisata Budaya Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko terhadap

Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Magelang selama periode 1991-1997 adalah

rata-rata sebesar 2, ini apabila setoran tersebut naik 1% maka PAD Kabupaten

Magelang akan naik sebesar 2% apabila kabupaten menghendaki peningkatan

yang berarti pada PADnya yang dapat dilakukan salah satunya adalah menarik

jumlah wisatawan yang lebih banyak. Dengan wisatawan yang lebih banyak akan

meningkatkan hasil penjualan tiket masuk dan seterusnya akan meningkatkan

setoran ke Kabupaten Magelang.

41

10. Kerangka Pemikiran.

Dalam penelitian ini akan dicari pengaruh jumlah wisatawan, rata-rata

lama menginap wisatawan, serta biaya pengelolaan pariwisata di Kabupaten

Wonogiri terhadap sektor pariwisata dan juga pengaruh pendapatan sektor

pariwisata serta kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah. Dimana

menggunakan variabel wisatawan karena semakin banyak wisatawan yang

berkunjung maka semakin besar pendapatan yang di terima di sektor pariwisata,

sedangkan rata-rata lama menginap dapat dilihat bahwa semakin besar wisatawan

yang menginap maka akan memperbesar pendapatan di sektor pariwisata melalui

pajak retribusi hotel, dan untuk variabel biaya pengelolaan pariwisata

berpengaruh terhadap jumlah pendapatan di sektor pariwisata. Berikut ini skema

kerangka pemikiran untuk mengetahui potensi wisata yaitu:

42

11. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka dapat ditarik suatu hipotesis

yaitu sebagai berikut:

1. Pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Wonogiri mengalami kenaikan

dari tahun ketahun.

2. Kontribusi pendapatan yang diberikan oleh sektor pariwisata dinilai

mengalami kenaikan, walaupun pada tahun 2005 mengalami penurunan

pendapatan namun tidak pada tahun-tahun berikutnya hal tersebut karena

adanya usaha-usaha seperti promosi pariwisata, sarana transportasi yang

lancar, kemudahan birokrasi dan keimigrasian, penginapan yang nyaman, dan

kondisi kebersihan dan kesehatan lingkungan yang dilakukan oleh dinas

Jumlah Wisatawan

Biaya Pengelolaan

Pendapatan Pariwisata

Pendapatan Asli Daerah

(PAD)

Rata-rata lama menginap

43

pariwisata dan kebudayaan dalam rangka peningkatan pariwisata di

Kabupaten Wonogiri.

3. Faktor-faktor seperti jumlah wisatawan, biaya pengelolaan, rata-rata lama

menginap wisatawan sangat mempengaruhi pendapatan daerah. Jika faktor-

faktor tersebut meningkat maka pendapatan daerah Kabupaten Wonogiri pun

akan mengalami peningkatan.

44

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian dilakukan di lingkup wilayah Wonogiri sedang lingkup

kajianya akan dilihat dari perkembangan pendapatan pariwisata dan faktor-

faktor yang mempengaruhinya, sehingga dapat dilihat dan diteliti seberapa

jauh kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonogiri.

B. Jenis Data dan S umber Data

Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini dikategorikan

sebagai data sekunder yang diperoleh dari beberapa sumber, dengan cara

mengambil data-data statistik yang telah ada serta dokumen-dokumen lain

yang terkait yang diperlukan. Data sekunder adalah data yang diterbitkan oleh

organisasi yang bukan pengolahnya. Data ini dikumpulkan dari dinas

pariwisata dan kebudayaan kabupaten wonogiri, Badan Pusat Statistik (BPS),

dan instansi-instansi yang terkait.

C. Definisi Operasional Variabel

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pendapatan asli daerah merupakan pendapatan yang diterima dari

potensi daerah yang berupa pajak milik daerah dan hasil pengelolaan

kekayaan daerah juga pendapatan daerah yang sah.

45

2. Pendapatan Pariwisata

Pendapatan pariwisata adalah bagian dari pendapatan asli daerah

yang berasal dari kegiatan kepariwisataan seperti retribusi tempat rekreasi

dan olah raga, pajak hotel dan restoran, pajak keramaian dan retribusi

penginapan dengan satuan rupiah.

3. Jumlah Wisatawan

Jumlah wiasatawan adalah semua orang dari dalam maupun luar

negeri yang datang dan menginapdi hotel berbintang mapun non bintang

dengan tujuan menikmati pelayanan yang disediakan oleh hotel tersebut,

dengan satuan orang.

4. Biaya Pengelolaan Pariwisata

Adalah besarnya pengeluaran sektor pariwisata yang digunakan

baik untuk pembangunan, pengembangan dan pemasaran sektor

pariwisata, dalam satuan rupiah.

D. Metode Analisis Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode

analisis uji ekonometrika yaitu uji untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan

asumsi klasik yang meliputi uji multikolenearitas, uji homoskedastisitas, dan uji

multikolenearitas. Sedangkan uji ekonomi teori merupakan pengujian yang

didasarkan pada konsep yang terdapat dalam teori-teori ekonomi, dimana

pengujian akan berhubungan dengan tanda koefisien yang menunjukan hubungan

46

variabel independen dengan variabel dependen serta menunjukan seberapa besar

pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.

E. Uji Statistik

1. Uji Hipotesis I

Untuk mengetahui perkembangan sumbangan sektor pariwisata terhadap

pendapatan asli daerah, akan dirumuskan dengan menggunakan analisis sebagai

berikut.

Model : YO = a + b X

Dimana :

YO = Jumlah penerimaan pendapatan pariwista di Kabupaten Wonogiri

a = Konstanta.

b = Besar perubahan variabel Y yang terjadi pada setiap perubahan 1

unit variabel X

X = Tahun.

Untuk mencari koefisien a dan b digunakan rumus :

a = N= Jumlah data b=

Penggunaan model trend linear ini bertujuan untuk melihat

perkembangan hubungan variabel X dan Y selama periode penelitian maupun

prospeknya di masa mendatang.

1. Bila b0, maka perkembangan hubungan Y dan X adalah naik.

47

2. Uji Hipotesis II

Untuk mengetahui seberapa besar kontribusi yang dapat diberikan sektor

pariwisata terhadap pendapatan asli daerah, seperti berikut :

Kontribusi =

Dimana :

YPAR = Nilai pendapatan sektor pariwisata

PAD = Nilai PAD

Perhitungan tersebut menghasilkan kontribusi pendapatan pariwisata

terhadap pendapatan asli daerah dan juga menghitung perkembangannya dengan

menggunakan analisis, sebagai berikut :

Model : YO = a + b X

Dimana :

YO = Jumlah penerimaan pendapatan pariwista di Kabupaten Wonogiri

a = Konstanta.

b = Besar perubahan variabel Y yang terjadi pada setiap perubahan 1

unit variabel X

X = Tahun.

Koefisien a dan b digunakan rumus sebagai berikut :

a = N= Jumlah data b=

48

3. Uji Hipotesis III

a. Analisis Regresi

Untuk mengetahui apakah faktor-faktor sosial ekonomi seperti jumlah

wisatawan, lama menginap wisatawan dan biaya pengelolaan berpengaruh

positif terhadap pendapatan pariwisata di kabupaten Wonogiri digunakan

analisis linier berganda.

Model yang digunakan sebagai berikut :

LnPPt = O + 1 Ln WSTt +2 Ln LMWt + 3 LnBPt +ei

Dimana:

PPt = Pendapatan pariwisata pada periode t

Ln = Logaritma natural.

o = Konstanta.

1 -3 = Koefisien regresi masing-masing variabel.

WSTt = Jumlah wisatawan pada periode t.

LMWt = rata-rata lama menginap wisatawan di propinsi Jawa Tengah

pada periode tertentu.

BPt = Biaya pengelolaan pariwisata di Kabupaten Wonogiri pada periode

t.

ei = Variabel pengganggu.

Selanjutnya terhadap analisis regresi yang ada dilakukan pengujian

sebagai berikut :

49

=t t a b e l

i. Pengujian secara induvidual (Uji-t).

Uji statistik dilakukan untuk mengetahui kebenaran atau kepalsuan

dari hipotesis nol. Ada tiga uji statistik yang dilakukan yaitu:

1) Uji t

Uji t adalah pengujian terhadap koefisien regresi secara parsial untuk

mengetahui signifikansi masing-masing variabel independen terhadap

variabel dependen. Dalam Uji t dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Menentukan Hipotesis

Ho : i = 0 (berarti variabel independen secara individu tidak

berpengaruh terhadap variabel dependen)

Ha : i 0 (berarti variabel independen secara individu

berpengaruh terhadap variabel dependen)

b. Menentukan nilai

c. Melakukan Penghitungan nilai t sebagai berikut :

t tabel = ; d f = N-K

dimana ; = derajat signifikasi

N = banyaknya data yang digunakan

K = banyaknya parameter atau koefisien regresi plus konstanta

t hitung =

dimana ; = koefisien regresi variabel ke-i

Se = Standard error

50

kriteria Pengujian

Gambar 3.1 Ho diterima

Aturan Uji t

Ho diterima apabila t /2 t t /2

Ho ditolak apabila t < -t /2 atau t > /2

d. Kesimpulan

a. Jika t hitung < t tabel, maka Ho diterima Ha ditolak artinya

koefisien regresi variabel independen tidak mempengaruhi variabel

dependen secara signifikan.

b. Jika t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima artinya

koefisien regresi variabel independen mempengaruhi variabel dependen

secara signifikan.

ii. Pengujian secara serentak (Uji-F).

Uji F adalah uji terhadap koefisien regresi parsial secara bersama-sama.

Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel independen yang ada

secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependennya atau untuk

mengetahui apakah persamaan model cukup eksis untuk digunakan. Dalam uji F

ini dengan ketentuan sebagai berikut :

a). Menentukan hipotesis:

Ho = 1 = 2 = 3 = 4 = 0 (berarti secara bersama-sama variabel

independen tidak mempengaruhi variabel dependen)

51

Ha 1 2 3 4 0 (berarti secara bersama-sama variabel

independen mempengaruhi variabel dependen)

b). Menentukan nilai

c). Melakukan penghitungan nilai F

F tabel F ; (N-K) ; (K-1)

Dimana; = Derajat signifikasi

N = Jumlah data

K = Jumlah parameter dalam model termasuk konstanta

Fhit = R2 / (k-1)

(1-R2) / (N-k)

Dimana;

R2 = koefisien determinasi berganda

K = banyaknya parameter total yang dipakai rekan

N = banyaknya observasi

d). Kriteria pengujian

Ho diterima apabila F hitung F tabel

Ho ditolak apabila F hitung > F tabel

e). Kesimpulan

1. Jika F hitung < F tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya

koefisien regresi variabel independen secara bersama-sama tidak

mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.

52

2. Jika F hitung > F tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima artinya

koefisien regresi variabel independen secara bersama-sama

mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.

iii. Determinasi Berganda (R2 )

Nilai yang sering dilambangkan dengan R2 ini untuk mengukur kebaikan

sesuai dengan persamaan regresi, ditentukan apabila semakin tinggi pula

presentase variabel-variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen

secara bersama-sama.

R2 =

Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1, semakin mendekati angka 1 dikatakan

model tersebut makin baik.

F. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya lebih dari

satu hubungan linear pasti di antara beberapa atau semua variabel independen dari

model regresi (Gujarati, 1995 : 320).

Salah satu asumsi model klasik yang menjelaskan ada tidaknya hubungan

antara beberapa atau semua variabel dalam model regresi. Jika dalam model

terdapat multikolinearitas maka model tersebut memiliki kesalahan standar yang

besar sehingga koefisien tidak dapat ditaksir dengan ketepatan tinggi.

Untuk menguji ada atau tidaknya masalah multikolinearitas dalam suatu

model empirik setidaknya ada 2 cara, yaitu dengan mengunakan :

53

a. Korelasi Parsial

Pedoman yang digunakan dalam pendekatan ini adalah apabila nilai

R2a lebih tinggi dari nilai R2 pada regresi antar variabel bebas, maka dalam

model empirik tidak terdapat adanya multikolinearitas dan sebaliknya.

b. Pendekatan Koutsoyiannis.

Nilai R2 pada regresi dengan tiga variabel bebas memberikan nilai R2

yang lebih tinggi dibandingkan R2 pada regresi pada masing-masing variabel

bebas. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga variabel memang layak/berguna

untuk dimasukkan dalam model.

b. Uji Homoskedastisitas

Heteroskedastisitas terjadi jika gangguan muncul dalam fungsi regresi

yang mempunyai variabel yang tidak sama, sehingga penaksir OLS tidak efisien.

Dari hasil regresi dilakukan uji t jika nilai probabilitas semua variabel independen

signifikan, maka terjadi heteroskedastisitas.

Salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya masalah

heteroskedastisitas adalah dengan melakukan uji Park yaitu dengan meregresi

residual yang dikuadratkan dengan variable independen. Jika regresi tersebut

menghasilkan problabilitas di atas 0,05 maka variable bebas tersebut tidak

signifikan padatingkat = 5%. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa pada

tingkat = 5% semua koefisien regresi tidak signifikan yang berarti tidak terdapat

masalah heteroskedastisitas.

54

c. Uji Autokorelasi

Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota

serangkaian obeservasi yang diurutkan menurut waktu atau ruang (Gujarati, 1995:

400-401). Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah terdapat autokorelasi

diantara rangkaian variabel yang diperoleh. Pengujian terhadap gejala

autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji statistik Durbin Watson, yaitu

dengan membandingkan angka Durbin Watson yang diperoleh dari perhitungan

analisa regresi dengan angka Durbin Watson dalam tabel dengan derajat

kebebasan (N-k) dan tingkat signifikan tertentu. Angka Durbin Watson dalam

tabel menunjukkan nilai distribusi antar batas bawah (dL) dan batas atas (dU).

Deteksi autokorelasi dilakukan dengan membandingkan nilai statistik

Durbin-Watson hitung dengan Durbin-Watson tabel. Mekanisme uji Durbin-

Watson adalah sebagai berikut (Gujarati, 1995: 423):

1) Lakukan regresi OLS dan dapatkan residualnya.

2) Hitung nilai d (Durbin-Watson).

3) Dapatkan nilai kritis dL dan dU.

Apabila hipotesis nol adalah bahwa tidak ada serial korelasi positif,

maka jika :

d < dL : menolak Ho

d > dU : tidak menolak Ho

dL d dU : pengujian tidak menyakinkan

Apabila hipotesis nol adalah bahwa tidak ada serial korelasi negatif,

maka jika :

55

d > 4 dL : menolak Ho

d < 4 dU : tidak menolak Ho

4 dU d 4 dL : pengujian tidak meyakinkan

Apabila hipotesis nol adalah dua ujung, yaitu bahwa tidak ada serial

autokorelai baik positif maupun negatif, maka jika:

d < dL : menolak Ho

d < 4 - dL : menolak Ho

dU < d < 4 - dL : menerima Ho

dL d dU atau 4 dU d 4 - dL : pengujian tidak meyakinkan

Uji autokorelasi dapat digambarkan sebagai berikut :

Tidak ada

Autokorelasi

Autokorelasi Ragu- Ragu- Autokorelasi

Positif ragu ragu Negatif

0 dL dU 4- dU 4 dL 4

Gambar 3.2 Durbin Watson Test

Dari model akan didapat nilai R , kemudian nilai ini dimasukkan

dalam rumus sebagai berikut : (n-1) R , dimana n adalah jumlah observasi,

kemudian dilakukan pengujian dengan hipotesa sebagai berikut:

Ho : = 0 berarti tidak ada masalah autokorelasi

Ha : 0 berarti ada masalah autokorelasi

56

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Kabupaten Wonogiri

1. Letak Geografis

Kabupaten Wonogiri merupakan salah satu daerah tujuan wisata di propinsi

Jawa Tengah yang berjarak +32 km dari kota Solo kearah selatan. Kabupaten

Wonogiri merupakan salah satu daerah dataran tinggi yang berbukit-bukit dan

memiliki keanekaragaman biji tambang, keindahan alam, budaya serta sifat dan

sikap keramah-tamahan dan kegotong-royongan dari penduduknya yang pada

tahun 1993 berjumlah sekitar 1.047.460 jiwa dengan luas wilayah +192.236 Ha.

Kabupaten Wonogiri yang terletak di sebelah selatan garis katulistiwa

dengan koordinat 70 320-80 LS dan 1100 410 -1110 180 BT dengan jarak +133 km

dari Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah. Pada masa lalu Jawa Tengah terkenal dengan

daerah yang gersang dengan topografis berbukit dan jurang-jurang yang terjal.

Sebagian besar permukaan tanahnya yang berkapur ini seakan sulit dijamin

perkembangan jaman, sehingga memperlihatkan sosok agraris tradisional.

Dengan kondisi alam yang seperti tersebut di atas itulah, maka tidak

mengherankan apabila sebagian besar penduduknya lebih senang untuk

berimigrasi ke kota besar untuk mencari nafkah. Namun tidak dapat dipungkiri

bahwa para peran