Anal Fistula

  • View
    692

  • Download
    9

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Anal Fistula

Text of Anal Fistula

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang MasalahSemakin berkembangnya zaman, nampaknya semakin banyak dan beragam pula jenis dan model penyakit yang muncul di dunia, termasuk Indonesia. Salah satu penyakit yang berhubungan dengan sistem pencernaan yang muncul adalah Anal Fistula.Fistula adalah hubungan abnormal antara dua tempat yang berepitel. Fistula ani adalah fistula yang menghubungkan antara kanalis anal ke kulit di sekitar anus (ataupun ke organ lain seperti ke vagina) (Emerson Budiarman Masli, 2012). Pada permukaan kulit bisa terlihat satu atau lebih lubang fistula, dan dari lubang fistula tersebut dapat keluar nanah ataupun kotoran saat buang air besar (Emerson Budiarman Masli, 2012).Fistula ani sering terjadi pada laki laki berumur 20 40 tahun, berkisar 1-3 kasus tiap 10.000 orang. Sebagian besar fistula terbentuk dari sebuah abses (tapi tidak semua abses menjadi fistula). Sekitar 40% pasien dengan abses akan terbentuk fistula(Emerson Budiarman Masli, 2012).Fistula ani juga dapat terjadi pada pasien dengan kondisi inflamasi berkepanjangan pada usus, seperti pada Irritable Bowel Syndrome (IBS), diverticulitis, colitis ulseratif, dan penyakit crohn, kanker rectum, tuberculosis usus, HIV-AIDS, dan infeksi lain pada daerah ano-rektal(Emerson Budiarman Masli, 2012).Pengobatan yang terus berlangsung seumur hidup pasien. Karenanya peningkatan kesadaran dan deteksi dini akan mencegah komplikasi penyakit ini menjadi kronis(Emerson Budiarman Masli, 2012). Sebagian besar fistula ani memerlukan operasi karena fistula ani jarang sembuh spontan. Setelah operasi risiko kekambuhan fistula termasuk cukup tinggi yaitu sekitar 21% (satu dari lima pasien dengan fistula post operasi akan mengalami kekambuhan) (Emerson Budiarman Masli, 2012).

1.2 Rumusan Masalah1.2.1 Bagaimanakah anatomi dan fisiologi dari anal?1.2.2 Apa definisi dari anal fistula?1.2.3 Apa saja etiologi dari anal fistula?1.2.4 Bagaimana patofisiologi dan WOC dari anal fistula?1.2.5 Bagaimanakah manifestasi klinis dari anal fistula?1.2.6 Apa saja komplikasi dari anal fistula?1.2.7 Bagaimana prognosis kemudian penatalaksanaan dari anal fistula?1.2.8 Apa saja pemeriksaan diagnostic dan pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan pada anal fistula?1.2.9 Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem pencernaan anal fistula?

1.3 Tujuan UmumMahasiswa diharapkan dapat memahami asuhan keperawatan pada klien gangguan sistem pencernaan berupa Anal Fistula.

1.4 Tujuan Khusus1.4.1 Untuk menjelaskan bagaimana anatomi dari anal.1.4.2 Untuk menjelaskan definisi dari anal fistula.1.4.3 Untuk menjelaskan etiologi dari anal fistula.1.4.4 Untuk menjelaskan patofisiologi dan WOC dari anal fistula.1.4.5 Untuk menjelaskan manifestasi klinis dari anal fistula.1.4.6 Untuk menjelaskan komplikasi dari anal fistula.1.4.7 Untuk menjelaskan bagaimana prognosis kemudian penatalaksanaan dari anal fistula.1.4.8 Untuk menjelaskan apa saja pemeriksaan diagnostic dan pemeriksaan penunjang dari anal fistula.1.4.9 Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari anal fistula.

BAB IIISI

2.1 Anatomi dan FisiologiRektum adalah bagian saluran pencernaan akhir dengan panjang 12-13 cm yang berakhir di saluran anal dan membuka di eksterior di anus. Mukosa saluran anal tersusun dari kolumna rectal yang berupa lipatan-lipatan vertical yang masing-masing berisi arteri dan vena. Rektum juga terdapat sfingter ani interna yang terdapat otot polos dan sfingter ani eksterna yang terdapat otot rangka. Keduanya dipersarafi oleh saraf yang berbeda. Sfingter ani interna dipersarafi oleh saraf tidak sadar (involunter) dan sfingter ani eksternal dipersarafi oleh saraf yang bisa dikehendaki (volunter). Sfingter ani eksterna diatur oleh N. Pudendus yang merupakan bagian dari saraf somatik, sehingga ani eksterna berada di bawah pengaruh kesadaran kita (volunter). Kedua sfingter ini mengendalikan proses defekasi.Proses defekasi diawali oleh terjadi refleks defekasi akibat ujung ujung serabut saraf rektum terangsang ketika dinding rektum teregang oleh massa feses. Sensasi rektum ini berperan penting pada mekanisme kontinen dan juga sensasi pengisian rektum merupakan bagian integral penting pada defekasi normal. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut : pada saat volume kolon sigmoid menjadi besar, serabut saraf akan memicu kontraksi dengan mengosongkan isinya ke dalam rektum. Studi statistika tentang fisiologi rektum ini mendeskripsikan tiga tipe dari kontraksi rektum yaitu : 1. Simple contraction yang terjadi sebanyak 5 10 siklus/menit2. Slower contractions sebanyak 3 siklus/menit dengan amplitudo diatas 100 cmH2O3. Slow Propagated Contractions dengan frekuensi amplitudo tinggi.

Gambar 1 Rektum, Anal FistulaDistensi dari rektum menstimulasi reseptor regang pada dinding rektum, lantai pelvis dan kanalis analis. Bila feses memasuki rektum, distensi dinding rektum mengirim signal aferent yang menyebar melalui pleksus mienterikus yang merangsang terjadinya gelombang peristaltik pada kolon desenden, kolon sigmoid dan rektum sehingga feses terdorong ke anus. Setelah gelombang peristaltik mencapai anus, sfingter ani interna mengalami relaksasi oleh adanya sinyal yang menghambat dari pleksus mienterikus dan sfingter ani eksterna pada saat tersebut mengalami relaksasi secara volunteer dan terjadilah defekasi.Pada permulaan defekasi, terjadi peningkatan tekanan intraabdominal oleh kontraksi otototot kuadratus lumborum, muskulus rectus abdominis, muskulus obliqus interna dan eksterna, muskulus olunteers abdominis dan diafraghma. Muskulus puborektalis yang mengelilingi anorectal junction kemudian akan relaksasi sehingga sudut anorektal akan menjadi lurus. Perlu diingat bahwa area anorektal membuat sudut 900 antara ampulla rekti dan kanalis analis sehingga akan tertutup. Jadi pada saat lurus, sudut ini akan meningkat sekitar 1300 1400 sehingga kanalis analis akan menjadi lurus dan feses akan dievakuasi. Muskulus sfingter ani eksterna kemudian akan berkonstriksi dan memanjang ke kanalis analis. Defekasi dapat dihambat oleh kontraksi sfingter ani eksterna yang berada di bawah pengaruh kesadaran ( volunteer ). Bila defekasi ditahan, sfingter ani interna akan tertutup, olunt akan mengadakan relaksasi untuk mengakomodasi feses yang terdapat di dalamnya. Mekanisme olunteer dari proses defekasi ini nampaknya diatur oleh susunan saraf pusat. Setelah proses evakuasi feses selesai, terjadi Closing Reflexes. Muskulus sfingter ani interna dan muskulus puborektalis akan berkontraksi dan sudut anorektal akan kembali ke posisi sebelumnya. Ini memungkinkan muskulus sfingter ani interna untuk memulihkan tonus ototnya dan menutup kanalis analis.

2.2 Definisi Anal fistula berasal dari 2 kata yaitu anal dan fistula. Fistula adalah saluran yang tidak normal atau tidak sesuai sedangkan anal adalah anus atau saluran terakhir pada sistem pencernaan sebelum feses keluar dari tubuh. Sehingga anal fistula adalah abnormalnya saluran anal yang tidak sesuai pada tempat yang semestinya. Saluran ini bias berada didekat tempat anus atau bias juga di daerah vagina.Fistula adalah hubungan abnormal antara dua tempat yang berepitel. Fistula ani adalah fistula yang menghubungkan antara kanalis anal ke kulit di sekitar anus (ataupun ke organ lain seperti ke vagina).Pada permukaan kulit bisa terlihat satu atau lebih lubang fistula, dan dari lubang fistula tersebut dapat keluar nanah ataupun kotoran saat buang air besar.Mayoritas penyakit supurativ anorektal terjadi karena infeksi dari kelenjar anus (cyptoglandular). Kelenjar ini terdapat di dalam ruang intersphinteric. Diawali kelenjar anus terinfeksi, sebuah abses kecil terbentuk di daerah intersfincter. Abses ini kemudian membengkak dan fibrosis, termasuk di bagian luar kelenjar anus di garis kripte. Ketidakmampuan abses untuk keluar dari kelenjar tersebut akan mengakibatkan proses peradangan yangmeluas sampai perineum, anus atau seluruhnya, yang akhirnya membentukabses perianal dan kemudian menjadi fistula.Fistula ani juga dapat terjadi pada pasien dengan kondisi inflamasi berkepanjangan pada usus, seperti pada Irritable Bowel Syndrome (IBS), diverticulitis, colitis ulseratif, dan penyakit crohn, kanker rectum, tuberculosis usus, HIV-AIDS, dan infeksi lain pada daerah ano-rektal.Sebagian besar fistula ani memerlukan operasi karena fistula ani jarang sembuh spontan. Setelah operasi risiko kekambuhan fistula termasuk cukup tinggi yaitu sekitar 21% (satu dari lima pasien dengan fistula post operasi akan mengalami kekambuhan).

Gambar 2 Anal FistulaMenurut Park tahun 2011, anal fistula dibagi menjadi 4 klasifikasi yaitu:1. Intersphinteric fistulaIntersphinteric fistula berawal dalam ruang diantara muskulus sfingter eksterna dan interna dan bermuara berdekatan dengan lubang anus.2. Transphinteric fistulaTransphinteric fistula berawal dalam ruang diantara muskulus sfingter eksterna dan interna, kemudian melewati muskulus sfingter eksterna dan bermuara sepanjang 1 atau 2 inchi di luar lubang anus, membentuk huruf U dalam tubuh, dengan lubang eksternal berada di kedua belah lubang anus (fistula horseshoe).3. Suprasphinteric fistulaSuprashinteric fistula berawal dari ruangan diantara m. sfingter eksterna dan interna dan membelah ke atas muskulus pubrektalis lalu turun diantara pubrektalis & m.levator ani lalu muncul 1 atau 2 inchi diluar anus.4. Ekstrasphinteric fistulaEkstrasphinteric fistula berawal dari rektum atau colon sigmoid dan memanjang ke bawah, melewati muskulus levator ani dan berakhir di sekitar anus. Fistula ini biasa disebabkan oleh abses appendiceal, abses diverticular, atau Crohns disease.

2.3 Etiologi Kebanyakan fistula berawal dari kelenjar dalam di dinding anus atau rektum. Kadang-kadang fistula merupakan akibat dari pengeluaran nanah pada abses anorektal. Tetapi lebih sering penyebabnya tidak dapat diketahui.Fistula sering ditemukan pada penderita penyakit crohn. Penyakit crohn adalah suatu keadaan infl