48
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN ACQUIRED IMMUNO DEFICIENCY SYNDROME ( AIDS ) Dosen Pembimbing : Welas Haryati, S.Pd, MMR Disusun oleh : Ria Kustiani P 10220206033

Anak - AIDS

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Anak - AIDS

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK DENGAN

ACQUIRED IMMUNO DEFICIENCY SYNDROME

( AIDS )

Dosen Pembimbing : Welas Haryati, S.Pd, MMR

Disusun oleh :

Ria Kustiani

P 10220206033

POLITEKNIK KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN SEMARANG

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

PURWOKERTO

2008

Page 2: Anak - AIDS

KONSEP DASAR

A. Pengertian

1. AIDS adalah sindrom yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada

seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui (Rampengan, 1993).

2. AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem

kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency

Virus). (Aziz Alimul Hidayat, 2006).

3. AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil

akhir dari infeksi HIV (Price, 2000 : 224)

4. AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human

Immodeficiency Virus) ditandai dengan sindrom menurunnya sistem

kekebalan tubuh. (Depkes RI, 1992 : 2)

5. AIDS adalah suatu penyakit retrovirus yang ditandai oleh imunosupresi berat

yang menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik, neoplasma sekunder dan

kelainan imunolegik. (Price, 2000 : 241)

6. AIDS adalah suatu syndrome atau kumpulan gejala penyakit dengan

karakteristik defisiensi imune yang berat dan merupakan manifestasi stadium

akhir infeksi Human Immunedeficiency Virus (Syaefulloh, 1998)

7. AIDS merupakan syndrome defisiensi immune yang didapat, rute satu-

satunya teridentifikasi dari transmisi melalui darah dan semen yang

terkontaminasi oleh HIV (Engram, 1998)

Dari semua pengertian di atas dapat disimpulkan, AIDS adalah penyakit

yang disebabkan oleh virus HIV yang ditandai dengan syndrome menurunnya

sistem kekebalan tubuh, sehingga pasien AIDS mudah diserang oleh infeksi

oportunistik dan kanker.

B. Etiologi

Menurut Hudak dan Gallo (1996), penyebab dari AIDS adalah suatu agen

viral (HIV) dari kelompok virus yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan

oleh darah melalui hubungan seksual dan mempunyai aktivitas yang kuat

terhadap limfosit T yang berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh manusia.

Page 3: Anak - AIDS

HIV merupakan Retrovirus yang menggunakan RNA sebagai genom. HIV

mempunyai kemampuan mengcopy cetakan materi genetic dirinya ke dalam

materi genetic sel-sel yang ditumpanginya.

Sedangkan menurut Long (1996) penyebab AIDS adalah Retrovirus yang

telah terisolasi cairan tubuh orang yang sudah terinfeksi yaitu darah semen,

sekresi vagina, ludah, air mata, air susu ibu (ASI), cairan otak (cerebrospinal

fluid), cairan amnion, dan urin. Darah, semen, sekresi vagina dan ASI merupakan

sarana transmisi HIV yang menimbulkan AIDS.

Cairan transmisi HIV yaitu melalui hubungan darah (transfusi

darah/komponen darah jarum suntik yang di pakai bersama sama tusuk jarum)

seksual (homo bisek/heteroseksual) perinatal (intra plasenta dan dari ASI)

Empat populasi utama pada kelompok usia pediatrik yang terkena HIV :

1. Bayi yang terinfeksi melalui penularan perinatal dari ibu yang terinfeksi

(disebut juga transmisi vertikal); hal ini menimbulkan lebih dari 85% kasus

AIDS pada anak-anak yang berusia kurang dari 13 tahun.

2. Anak-anak yang telah menerima produk darah (terutama anak dengan

hemofilia).

3. Remaja yang terinfeksi setelah terlibat dalam perilaku risiko tinggi.

4. Bayi yang mendapat ASI (terutama di negara-negara berkembang)

C. Patofisiologi

Penyebab dari AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang

termasuk dalam famili retrovirus. Virus HIV melekat dan memasuki limfosit T

helper CD4+. Virus tersebut menginfeksi limfosit CD4+ dan sel-sel imunologik

lain dan akan mengalami destruksi sel secara bertahap. Sel-sel ini, yang

memperkuat dan mengulang respons imunologik, dan bila sel-sel tersebut

berkurang dan rusak, maka fungsi imunologik lain terganggu.

HIV merupakan retrovirus yang membawa informasi genetic RANA.

Pada saat virus HIV masuk dalam tubuh virus akan menginfeksi sel yang

mempunyai antigen CD4+ (Sel T pembantu, helper T cell). Sekali virus masuk ke

dalam sel, virus akan membuka lapisan protein sel dan menggunakan enzim

Page 4: Anak - AIDS

Reserve transcriptase untuk mengubah RNA. DNA virus akan terintergrasi

dalam sel DNA host dan akan mengadakan duplikasi selama proses normal

pembelahan.

Dengan memasuki limfosit T4, virus memaksa limfosit T4 untuk

memperbanyak dirinya sehingga akhirnya menyebabkan kematian limfosit T4.

kematian limfosit T4 membuat daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah

terserang infeksi dari luar (baik virus lain, bakteri, jamur atau parasit). Hal itu

menyebabkan kematian pada orang yang terjangkit HIV/AIDS. Selain menyerang

limfosit T4, virus AIDS juga memasuki sel tubuh yang lain. Organ yang paling

sering terkena adalah otak dan susunan saraf lainnya. Virus AIDS diliputi oleh

suatu protein pembungkus yang sifatnya toksik (racun) terhadap sel. Khususnya

sel otak dan susunan saraf pusat dan tepi lainnya yang dapat mengakibatkan

kematian sel otak.

Sel CD4+ (Sel T pembantu / helper T cell) sangat berperan penting dalam

fungsi system immune normal, mengenai antigen dan sel yang terinfeksi, dan

mengaktifkan sel B untuk memproduksi antibody. Juga dalam aktivitas langsung

pada cell-mediated cell immune (immune sel bermedia) dan mempengaruhi

aktivitas langsung pada sel kongetitis duplikasi.

Menurut Long (1996) retrovirus /HIV dibawa oleh hubungan seksual,

tranfusi darah dan oleh ibu yang terkena infeksi ke fetus. Pada saat virus HIV

masuk ke dalam aliran darha maka HIV mencari sel T4 dan pembantu sel virus

melekat pada isyarat dari T4 dan masuk ke dalam sel dan mengarahkan

metabolisme agar mengabaikan fungsi normal (kematian sel T4) dan

memperbanyak dari HIV. HIV baru menempel kepada sel T4 dan

menghancurkannya. Hal ini terjadi berulang-ulang kemudian terjadi sebagai

berikut :

1. Infeksi Akut

Terjadi infeksi imun yang aktif terhadap masuknya HIV ke dalam darah. HIV

masih negatif. Gejala lainnya seperti demam, mual, muntah, berkeringat

malam, batuk, nyeri saat menelan dan faringgitis.

2. Infeksi kronik

Page 5: Anak - AIDS

Terjadi bertahun-tahun dan tidak ada gejala (asimtomatik), terjadi refleksi

lambat pada sel-sel tertentu dan laten pada sel-sel lainnya.

3. Pembengkakan kelenjar limfe

Gejala menunjukkan hiperaktivitas sel limfosit B dalam kelenjar limfe dapat

persisten selama bertahun-tahun dan pasien tetap merasa sehat. Pada masa ini

terjadi progresi terhadap dari adanya hiperplasia folikel dalam kelenjar limfe

sampai dengan timbulnya involusi dengan tubuh untuk menghancurkan sel

dendritik pada otak juga sering terjadi, pembesaran kelenjar limfa sampai dua

tahun atau lebih dari nodus limfa pada daerah inguinal selama tiga bulan atau

lebih. HIV banyak berkonsentrasi pada liquor serebrospinal.

4. Penyakit lain akan timbul antara lain :

a. Penyakit kontitusional

Gejala dengan keluhan yang disebakan oleh hal-hal yang tidak langsung

berhubungan dengan HIV seperti diare, demam lebih dari 1 bulan,

berkeringat malam, terasa lelah yang berlebih, berat badan yang menurun

sampe dengan 10% yang mengindikasikan AIDS (slim disease)

b. Gejala langsung akibat HIV/Kompleks Demensia AIDS (AIDS demensia

complex)

Muncul penyakit-penyakit yang menyerang sistem syaraf antara lain

mielopati, neuropati perifer, penyakit susunan syaraf otak, kehilangan

memori secara fluktoatik, bingung, kesulitan konsentrasi, apatis dan

terbatasnya kecepatan motorik. Demensia penuh dengan adanya gangguan

kognitif, verbalisasi, kemampuan motorik, penyakit kontitusional.

c. Infeksi akibat penyakit yang di sebabkan parasit : pneumonia carinii

protozoa (PCP), cryptosporidictis (etero colitis), toxoplasmosis (CNS

dissemminated desease), dan isoporiasis (coccodiosis), bakteri (infeksi

mikrobakteri, bakteriemi, salmonella, tubercullosis), virus

sitomegelovirus : hati, retinaparu-paru, kolon; herpes simplek) dan fungus

(candidiasis pada oral, esofagus, intestinum)

d. Kanker sekunder

Muncul penyakit seperti sarcoma kaposi.

Page 6: Anak - AIDS

e. Penyakit lain

Infeksi sekunder atau neoplasma lain yang berakibat pada kematian

dimana sistem imunitas tubuh sudah pada batas minimal atau mugkin

habis sehingga HIV menguasai tubuh.

D. Manifesasi Klinis

Masa antara terinfeksi HIV dan timbul gejala-gejala penyakit adalah 6

bulan-10 tahun. Rata-rata masa inkubasi 21 bulan pada anak-anak dan 60

bulan/5tahun pada orang dewasa. Tanda-tanda yang di temui pada penderita

AIDS antara lain:

1. Gejala yang muncul setelah 2 sampai 6 minggu sesudah

virus masuk ke dalam tubuh: sindrom mononukleosida yaitu demam dengan suhu

badan 38 C sampai 40 C dengan pembesaran kelenjar getah benih di leher dan di

ketiak, disertai dengan timbulnya bercak kemerahan pada kulit.

2. Gejala dan tanda yang muncul setelah 6 bulan sampai 5

tahun setelah infeksi, dapat muncul gejala-gejala kronis : sindrom limfodenopati

kronis yaitu pembesaran getah bening yang terus membesar lebih luas misalnya

di leher, ketiak dan lipat paha. Kemudian sering keluar keringat malam tanpa

penyebab yang jelas. Selanjutnya timbul rasa lemas, penurunan berat badan

sampai kurang 5 kg setiap bulan, batuk kering, diare, bercak-bercak di kulit,

timbul tukak (ulceration), perdarahan, sesak nafas, kelumpuhan, gangguan

penglihatan, kejiwaan terganggu. Gejala ini di indikasi adanya kerusakan sistem

kekebalan tubuh.

3. Pada tahap akhir, orang-orang yang sistem kekebalan

tubuhnya rusak akan menderita AIDS. Pada tahap ini penderita sering di serang

penyakit berbahaya seperti kelainan otak, meningitis, kanker kulit, luka bertukak,

infeksi yang menyebar, tuberkulosis paru (TBC), diare kronik, candidiasis mulut

dan pnemonia.

Menurut Cecily L Betz, anak-anak dengan infeksi HIV yang didapat pada

masa perinatal tampak normal pada saat lahir dan mulai timbul gejala pada 2

tahun pertama kehidupan. Manifestasi klinisnya antara lain :

Page 7: Anak - AIDS

1. Berat badan lahir rendah

2. Gagal tumbuh

3. limfadenopati umum

4. Hepatosplenomegali

5. Sinusitis

6. Infeksi saluran pernapasan atas berulang

7. Parotitis

8. Diare kronik atau kambuhan

9. Infeksi bakteri dan virus kambuhan

10. Infeksi virus Epstein-Barr persisten

11. Sariawan orofarings

12. Trombositopenia

13. Infeksi bakteri seperti meningitis

14. Pneumonia interstisial kronik

Lima puluh persen anak-anak dengan infeksi HIV terkena sarafnya yang

memanifestasikan dirinya sebagai ensefalopati progresif, perkembangan yang

terhambat, atau hilangnya perkembangan motoris.

E. Komplikasi

1. Pneumonia Pneumocystis carinii (PPC)

2. Pneumonia interstitial limfoid

3. Tuberkulosis (TB)

4. Virus sinsitial pernapasan

5. Candidiasis esophagus

6. Limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening)

7. Diare kronik

F. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan laboratorium menurut Mansjoer (2000), dapat dilakukan dengan

dua cara :

Page 8: Anak - AIDS

a. Cara langsung yaitu isolasi virus dari sampel. Umumnya dengan

menggunakan microskop elektron dan deteksi antigen virus. Salah satu

cara deteksi antigen virus adalah dengan polymerase chain reaction

(PCR). Penggunaan PCR antara lain untuk ;

1) Tes HIV pada bayi karena zat anti dari ibu masih ada pada bayi

sehingga menghambat pemeriksaan serologis.

2) Menetapkan status infeksi pada individu seronegatif

3) Tes pada kelompok rasio tinggi sebelum terjadi sero konversi

4) Tes konfirmasi untuk HIV-2 sebab sensitivitas ELISA untuk rendah.

b. Cara tidak langsung yaitu dengan melihat respon zat anti spesifik tes,

misalnya :

1) ELISA, sensitivitas tinggi (98,1-100%), biasanya memberikan hasil

positif 2-3 buah sesudah infeksi. Hasil positif harus di konfirmasi

dengan pemeriksaan Western Blot.

2) Western Blot, spsifitas tinggi (99,6-100%). Namun, pemeriksaan ini

cukup sulit, mahal dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Mutlak

diperlukan untuk konfirmasi hasil pemeriksaan ELISA positif.

3) Imonofivoresceni assay (IFA)

4) Radio Imuno praecipitation assay (RIPA)

2. Pemeriksaan laboratorium untuk mendiagnosa dan melacak virus HIV

a. Status imun

1) Tes fungsi sel CD4

2) Sel T4 mengalami penurunan kemampuan untuk reaksi terhadap

antigen

3) Kadar imunoglobutin meningkat

4) Hitung sel darah putih normal hingga menurun

5) Rasio CD4 : CD8 menurun

3. Complete Blood Covnt (CBC)

Dilakukan untuk mendeteks adanya anemia, leukopenia dan

thrombocytopenia yang sering muncul pada HIV.

4. CD4 cell count

Page 9: Anak - AIDS

Tes yang paling banyak digunakan untuk memonitor perkembangan penyakit

dan terapi yang akan dilakukan.

5. Blood Culture

6. Immune Complek Dissociaced P24 Assay

Untuk memonitor perkembangan penyakit dan aktivitas medikasi antivirus.

7. Tes lain yang biasa dilakukan sesuai dengan manifestasi klinik baik yang

general atau spesifik antara lain :

a. Tuberkulin skin testing

Mendeteksi kemungkinan adanya infeksi TBC.

b. Magnetik resonance imaging (MRI)

Mendeteksi adanya lymphoma pada otak

c. Spesifik culture dan serology examination (uji kultur spesifik dan

scrologi)

d. Pap smear setiap 6 bulan

Mendeteksi dini adanya kanker rahim.

Mendiagnosisi infeksi HIV pada bayi dari ibu yang terinfeksi HIV tidak

mudah. Dengan menggunakan gabungan dari tes-tes di atas, diagnosis dapat

ditetapkan pada kebanyakan anak yang terinfeksi sebelum berusia 6 bulan.

Temuan laboratorium ini umumnya terdapat pada bayi dan anak-anak

yang terinfeksi HIV :

1. Penurunan jumlah limfosit CD4+ absolut

2. Penurunan persentase CD4

3. Penurunan rasio CD4 terhadap CD3

4. Limfopenia

5. Anemia, trombositopenia

6. Hipergammaglobulinemia (IgG, IgA, IgM)

7. Penurunan respons terhadap tes kulit (Candida albicans, tetanus)

8. Respons buruk terhadap vaksin yang didapat (difteria, tetanus, morbilli,

Haemophilus influenzae tipe B)

Bayi yang lahir dari ibu HIV-positif, yang berusia kurang dari 18 bulan

dan yang menunjukkan uji positif untuk sekurang-kurangnya dua determinasi

Page 10: Anak - AIDS

terpisah dari kultur HIV, reaksi rantai polimerase-HIV, atau antigen HIV, maka

ia dapat dikatakan “terinfeksi HIV”. Bayi yang lahir dari ibu HIV-positif, berusia

kurang dari 18bulan, dan tidak positif terhadap ketiga uji tersebut dikatakan

“terpajan pada masa perinatal”. Bayi yang lahir dari ibu terinfeksi HIV, yang

ternyata antibodi-HIV negatif dan tidak ada bukti laboratorium lain yang

menunjukkan bahwa ia terinfeksi HIV maka ia dikatakan “seroreverter”

G. Penatalaksanaan

Hingga kini belum ada penyembuhan untuk infeksi HIV dan AIDS.

Penatalaksanaan AIDS dimulai dengan evaluasi staging untuk menentukan

perkembangan penyakit dan pengobatan yang sesuai. Anak dikategorikan

menggunakan tiga parameter: status kekebalan, status infeksi, dan status klinik.

Seorang anak dengan tanda dan gejala ringan tetapi tanpa bukti adanya supresi

imun dikategorikan sebagai A2. status imun didasarkan pada jumlah CD4 atau

persentase CD4, yang tergantung usia anak.

Kategorisasi Anak Infeksi HIV dan AIDS

Kategori Imun Kategori Klinis

(N) Tanpa

Tanda dan

Gejala

(A) Tanda

dan Gejala

Ringan

(B) Tanda

dan Gejala

Sedang

(C) Tanda

dan Gejala

Hebat

(1) Tanpa tanda supresi N1 A1 B1 C1

(2) Tanda supresi sedang N2 A2 B2 C2

(3) Tanda supresi berat N3 A3 B3 C3

Keterangan :

Kategori Klinis HIV

1. Kategori N : Tidak bergejala

Anak-anak tanpa tanda atau gejala infeksi HIV

Page 11: Anak - AIDS

2. Kategori A: Gejala ringan

Anak-anak mengalami dua atau lebih gejala berikut ini:

1). Limfadenopati

2). Hepatomegali

3). Splenomegali

4). Dermatitis

5). Parotitis

6). Infeksi saluran pernapasan atas yang kambuhan/persisten,

sinusitis, atau otitis media.

3. Kategori B: Gejala sedang

Anak-anak dengan kondisi simtomatik karena infeksi HIV atau menunjukkan

kekurangan kekebalan karena infeksi HIV: contoh dari kondisi-kondisi

tersebut adalah sebagai berikut :

a. Anemia, neutropenia, trombositopenia selama > 30 hari

b. Meningitis bakterial, pneumonia, atau sepsis

c. Sariawan persisten selama lebih dari 2 bulan pada anak di atas 6 bulan

d. Kardiomiopati

e. Infeksi sitomegalovirus dengan awitan sebelum berusia 1 bulan

f. Diare, kambuhan atau kronik

g. Hepatitis

h. Stomatitis herpes, kambuhan

i. Bronkitis, pneumonitis, atau esofagitis HSV dengan awitan sebelum

berusia 1 bulan.

j. Herpes zoster, dua atau lebih episode

k. Leiosarkoma

l. Penumonia interstisial limfoid atau kompleks hiperplasia limfoid pulmoner

(LIP/PLH)

m. Varisela zoster persisten

n. Demam persisten > 1 bulan

o. Toksoplasmosis awitan sebelum berusia 1 bulan

p. Varisela, diseminata (cacar air berkomplikasi)

Page 12: Anak - AIDS

4. Kategori C : Gejala Hebat

Anak dengan kondisi berikut ini:

a. Infeksi bakterial multipel atau kambuhan

b. Kandidiasis pada trakea, bronki, paru, atau esofagus

c. Koksidioidomikosis, diseminata atau ekstrapulinoner

d. Kriptosporodisis, intestinal kronik

e. Penyakit, sitomegalovirus (selain hati, limpa, nodus), dimulai pada umur >

1 bulan.

f. Retinitis sitomegalovirus (dengan kehilangan penglihatan)

g. Ensefalopati HIV

h. Ulkus herpes simpleks kronik (durasi > 1 bulan) atau pneumonitis atau

esofatis, awitan saat berusia > 1 bulan.

i. Histoplasmosis diseminata atau ekstrapulmoner

j. Isosporiasis, intestinal kronik (durasi > 1 bulan)

k. Sarkoma Kaposi

l. Limfoma, primer di otak

m. Limfoma (sarkoma Burkitt atau sarkoma imunoblastik)

n. Kompleks Mycobacterium ovium atau mycobacterium kansasii, diseminata

atau ekstrapulmoner.

o. Penumonia Pneumocystis carinii

p. Leukoensefalopati multifokal progresif

q. Septikemia salmonela, kambuhan

r. Toksoplasmosis pada otak, awitan saat berumur >1 bulan.

s. Wasting syndrome karena HIV

Selain mengendalikan perkembangan penyakit, pengobatan ditujukan

terhadap mencegah dan menangani infeksi oportunistik seperti kandidiasis dan

penumonia interstisial.

Azidotimidin (zidovudin), videks, dan zalcitabin (dcc) adalah obat-obatan

untuk infeksi HIV dengan jumlah CD4 rendah. Videks dan ddc kurang

bermanfaat untuk penyakit sistem saraf pusat Trimetoprim sulfametoksazol

(Septra, Bactrim) dan pentamadin digunakan untuk pengobatan dan profilaksis

Page 13: Anak - AIDS

pneumonia cariini Pneumocystis (PCP). Pemberian imunoglobulin secara

intravena setiap bulan sekali berguna untuk mencegah infeksi bakteri berat pada

anak, selain untuk hipogamaglobulinemia.

Imunisasi disarankan untuk anak-anak dengan infeksi HIV. Sebagai ganti

vaksin poliovirus oral (OPV), anak-anak diberi vaksin virus polio yang tidak aktif

(IPV).

Memulihkan sistem imun.

1. Obat-obat yang telah dicoba dipakai adalah imunomodulator, seperti

isoprenosino, interferon (alfa dan gamma), interleukin 2. Namun, sampai

sekarang belum memberikan hasil seperti yang diharapkan.

2. Transfusi limfosit dan transplantasi sumsum tulang.

Memberantas virusnya.

Salah satu cara untuk memutuskan rantai pembiakan virus AIDS adalah dengan

“inhibiton reserve transcriptace” dengan obat suramin untuk menghambat efek

sitopatis virus terhadap sel limposit-T helper, namun obat ini sangat toksik.

Menurut Long (1996) perawatan diri pasien dengan AIDS adalah :

1. Upaya preventif meliputi :

a. Penyuluhan kesehatan pada kelompok yang beresiko terkena AIDS.

b. Anjuran bagi yang telah terinfeksi virus ini untuk tidak menyumbangkan

darah, organ atau cairan semen.

c. Modifikasi tingkah laku dengan :

1). Membantu mereka agar bisa merubah perilaku resiko tinggi menjadi

perilaku yang beresiko atau yang kurang beresiko dengan mengubah

kebiasaan seksual guna mencegah terjadinya penularan.

2). Mengingatkan kembali tentang cara hidup sehat, sehingga bisa

mempertahankan tubuh dengan baik yaitu dengan asupan nutrisi dan

vitamin yang cukup.

3). Pandangan hidup yang positif

4). Memberikan dukungan psikologis dan sosial

d. Skrining darah donor terhadap adanya antibody HIV

2. Edukasi yang bertujuan :

Page 14: Anak - AIDS

a. Mendidik pasien dan keluarganya tentang bagaimana menghadapi

kenyataan hidup bersama AIDS, kemungkinan didiskriminasikan dari

masyarakat sekitar, bagaimana tanggung jawab keluarga, teman dekat

atau masyarakat lain.

b. Pendidikan bagaimana cara hidup sehat, dengan mengatur diet, asupan

nutrisi dan vitamin yang cukup, menghindari kebiasaan.

I. CARA PENULARAN

Meskipun HIV dapat ditemukan pada cairan tubuh pengidap HIV seperti air

ludah (saliva) dan air mata serta urin, namun ciuman, kolam renang atau kontak

social seperti berjabat tangan bukanlah merupakan cara untuk penularan. Oleh karena

itu seorang anak yang terinfeksi HIV belum memberikan gejala AIDS tidak perlu

dikucilkan dari sekolah atau pergaulan.

Pada bayi dan anak penularan HIV dapat terjadi melalui ibu hamil yang

sedang mengandung dengan HIV, transfuse darah yang mengandung HIV atau

produksi darah yang berasal dari donor yang mengandung HIV, jarum suntuk yang

tercemar HIV, dan hubungan seksual dengan penderita HIV.

• Ibu hamil dengan HIV (+)

Ibu hamil yang mengandung HIV di dalam tubuhnya dapat menularkan ke bayi

yang dikandunfnya. Ibu sendiri biasanya belum menunjukan gejala klinis

AIDS. Cara transmisi ini juga disebut dengan transmisi vertical. Transmisi

dapat terjadi melalui plasenta (intrauterine) atau inpartum, yaitu pada waktu

bayi lahir terpapar dengan darah ibu atau secret genetalia yang mengandung

HIV.

HIV dapat diisolasi dari ASI pada ibu yang mengandung HIV di dalam

tubuhnya.

• Transfusi

Penularan dapat terjadi melalui transfuse darah yang mengandung HIV atau

produk darah yang berasal dari donor yang mengandung HIV. Dengan sudah

Page 15: Anak - AIDS

dilakukan skrining darah donor terhadap HIV maka transmisi melalui cara ini

akan menjadi jauh berkurang.

• Jarum suntik

Penularan melalui cara ini terutama ditemukan pada anak remaja

penyalahgunaan obat IV yang menggunakan jarum suntik bersama.

• Hubungan seksual dengan pengidap HIV

Penularan cara ini ditemukan pada anak remaja yang berganti-ganti pasangan.

H. Pencegahan

Langkah-langkah untuk mencegah penyebaran penyakit AIDS, adalah :

1. Menghindari hubungan seksual dengan penderita AIDS

2. Mencegah hubungan seksual dengan partner banyak atau dengan orang yang

mempunyai banyak partner

3. Menghindari hubungan seksual dengan pecandu narkotik yang menggunakan

obat suntik.

4. Orang-orang dari kelompok resiko tinggi dicegah menjadi donor darah.

5. Pemberian transfusi darah hanya untuk pasien-pasien yang benar-benar perlu

6. Pada setiap suntikan harus terjamin sterilitas atau suntiknya

7. Penularan pada bayi dan anak dapat terjadi pada waktu hamil, melahirkan

maupun postpartum, maka sebaiknya wanita dengan resiko tinggi AIDS

jangan hamil dan jangan melahirkan.

PATHWAY

Page 16: Anak - AIDS

Sumber : Nanda, 2006

Cecily L. Betz, 2002

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AIDS

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

1. Data Subjektif, mencakup:

HIV

Plasenta ASI Hubungan seksualTransfusi darah jarum suntik

Transmisi dari ibu ke anak

HIV masuk ke dalam tubuh

Menyerang sistem Imun(sel darah putih/limfosit)

Menginfeksi limfosit

DNA virus terintegrasi dalam sel DNA host

Imun Menurun

AIDS Perubahan pertumbuhan dan perkembangan

Risiko Infeksi

Demam Diare kronik

Hipertermi Resiko kerusakan integritas

kulit

Kehilangan volume

cairan aktif

Kekurangan volume cairan

Pneumonitis interstitial

Pola nafas tidak efektif

Dipsneu

Mual muntah Perubahan status kesehatan

BB menurun

Kelemahan fisik

Intoleransi aktivitas

Ketidak seimbangan

nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh

Perubahan proses

keluarga

Cemas

Kurang pengetahuan

Page 17: Anak - AIDS

a. Pengetahuan klien tentang AIDS

b. Data nutrisi, seperti masalah cara makan, BB turun

c. Dispneu (serangan)

d. Ketidaknyamanan (lokasi, karakteristik, lamanya)

2. Data Objektif, meliputi:

a. Kulit, lesi, integritas terganggu

b. Bunyi nafas

c. Kondisi mulut dan genetalia

d. BAB (frekuensi dan karakternya)

e. Gejala cemas

3. Pemeriksaan Fisik

a. Pengukuran TTV

b. Pengkajian Kardiovaskuler

c. Suhu tubuh meningkat, nadi cepat, tekanan darah meningkat. Gagal

jantung kongestif sekunder akibat kardiomiopati karena HIV.

d. Pengkajian Respiratori

e. Batuk lama dengan atau tanpa sputum, sesak napas, takipnea, hipoksia,

nyeri dada, napas pendek waktu istirahat, gagal napas.

f. Pengkajian Neurologik

g. Sakit kepala, somnolen, sukar konsentrasi, perubahan perilaku, nyeri otot,

kejang-kejang, enselofati, gangguan psikomotor, penurunan kesadaran,

delirium, meningitis, keterlambatan perkembangan.

h. Pengkajian Gastrointestinal

i. Berat badan menurun, anoreksia, nyeri menelan, kesulitan menelan,

bercak putih kekuningan pada mukosa mulut, faringitis, candidisiasis

esophagus, candidisiasis mulut, selaput lender kering, pembesaran hati,

mual, muntah, colitis akibat diare kronis, pembesaran limfa.

j. Pengkajain Renal

k. Pengkajaian Muskuloskeletal

l. Nyeri otot, nyeri persendian, letih, gangguan gerak (ataksia)

m. Pengkajian Hematologik

Page 18: Anak - AIDS

n. Pengkajian Endokrin

4. Kaji status nutrisi

5. Kaji adanya infeksi oportunistik

6. Kaji adanya pengetahuan tentang penularan

Uji Laboratorium dan Diagnostik

1. ELISA : Enzyme-linked immunosorbent assay (uji awal yang umum) untuk

mendeteksi antibody terhadap antigen HIV(umumnya dipakai untuk skrining

HIV pada individu yang berusia lebih dari 2 tahun).

2. Western blot (uji konfirmasi yang umum) untuk mendeteksi adanya antibodi

terhadap beberapa protein spesifik HIV.

3. Kultur HIV untuk memastikan diagnosis pada bayi.

4. Reaksi rantai polimerase (Polymerase chain reaction)/PCR untuk mendeteksi

asam deoksiribonukleat (DNA) HIV (uji langsung ini bermanfaat untuk

mendiagnosis HIV pada bayi dan anak).

5. Uji antigen HIV untuk mendeteksi antigen HIV.

6. HIV, IgA, IgM untuk mendeteksi antibodi HIV yang diproduksi bayi (secara

eksperimental dipakai untuk mendiagnosis HIV pada bayi).

Temuan laboratorium yang terdapat pada bayi dan anak yang terinfeksi HIV :

1. Penurunan jumlah limfosit CD4+ absolut

2. Penurunan persentase CD4

3. Penurunan rasio CD4 terhadap CD8

4. Limfopenia

5. Anemia, trombositopenia

6. Hipergammaglobulinemia (IgG, IgA, IgM)

7. Penurunan respons terhadap tes kulit (Candida albicans, tetanus)

8. Respons buruk terhadap vaksin yang didapat (difteria, tetanus, morbili,

Haemophilus influenzae tipe B)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan imun

2. Keterlambatan tumbuh kembang berhubungan dengan penurunan imun

Page 19: Anak - AIDS

3. Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (diare)

4. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan dispneu

5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

mual, muntah

6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan frekuensi buang air besar

sering (diare)

7. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi

8. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik

9. Cemas berhubungan dengan perubahan staus kesehatan

10. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita

penyakit serius

11. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi

C. INTERVENSI

1. Diagnosa 1 : Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan imun

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak

terjadi infeksi

NOC : immune status

Kriterias hasil :

a. Status gastrointestinal normal

b. Status respirasi norml

c. Status BB normal

d. Status integritas kulit normal

e. Tidak menunjukan kelemahan

f. Menunjukan kekebalan tubuh

Skala penilaian :

1 = Extreme

2 = Berat

3 = Sedang

4 = Ringan

Page 20: Anak - AIDS

5 = Tidak kompromi

NIC : imunisation / vaccination administration

Intervensi :

a. Ajarkan orang tua untuk mengikuti jadwal administerasi

b. Ajarkan individu keluarga untuk melakukan vaksinasi seperti kolera,

influenza, rabies, demam typoid, typus, TBC

c. Sediakan informasi mengenai imunisasi

d. Pantau pasien setelah mendapat imunisasi

e. Identifikasi kontraindikasi dari imunisasi seperi panas.

2. Diagnosa II : Keterlambatan tumbuh kembang berhubungan dengan penurunan

imun

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien

menunjukan tanda pertumbuhan yang normal

NOC : pertumbuhan

Kriteria hasil:

a. Berat badan sesuai dengan umur dan tinggi badan

b. Turgor kulit baik

c. Tanda-tanda vital baik

Skala penilaian:

1 = Tidak ada penyimpangan dari yang diharapkan

2 = Penyimpangan ringan

3 = Penyimpangan sedang

4 = Penyimpangan berat

5 = Extrim

NIC : Peningkatan pertumbuhan

Intervensi:

a. Lakukan pemeriksaan kesehatan dengan saksama ( tanda-tanda vital dan

pemeriksaan fisik )

b. Tentukan makanan yang disukai klien

Page 21: Anak - AIDS

c. Pantu kecenderungan peningkatandan penurunan berat badan

d. Kaji keadekuatan asupan nutrisi

e. Demonstrasikan aktivitas yang meningkatkan perkembangan

3. Diagnosa III : Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

aktif (diare)

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan terjadi

keseimbangan cairan

NOC : fluid balance

Kriteria hasil :

a. Tekanan darah normal

b. Keseimbangan masukan dan haluaran selama 24 jam

c. Tidak ada distensi vena jugularis

d. Hidrasi kulit

e. Membran mukosa normal

f. Turgor kulit baik

Skala penilaian :

1 = Tidak pernah menunjaukan

2 = Jarang menunjukan

3 = Kadang menunjukan

4 = Sering menunjukan

5 = Selalu menunjukan

NIC : fluid management

Intervensi :

a. Timbang popok jika diperlukan

b. Pertahankan intake dan output

c. Monitor status hidrasi

d. Monitor vital sign

e. Dorong keluarga untuk membantu pasien makan

4. Diagnosa IV : Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan dispneu

Page 22: Anak - AIDS

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pola nafas

efektif

NOC : Respitarory status

a. RR alam batas normal

b. Irama nafas normal

c. Ekspansi dada simetris

d. Tidak ada dispneu

e. Tidak ada traktil fremitus

f. Auskultasi bunyi nafas normal

Skala penilaian :

1 = Extreme

2 = Berat

3 = Sedang

4 = Ringan

5 = Tidak kompromi

NIC : Oxygen terapy

Intervensi :

a. Bersihkan mulut, hidung, dan secret trakea

b. Pertahankan jalan nafas yang paten

c. Atur peralatan oxygenasi

d. Monitor aliran oxygen

e. Petahankan posisi pasien

NIC : Vital Sign Monitoring

Intervensi :

a. Monitor TD, nadi, suhu dan dan RR

b. Monitor frekuensi dan irama pernafasan

c. Monitor suhu warna dan kelembaban kulit

5. Diagnosa V : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan mual, muntah

Page 23: Anak - AIDS

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan

kebutuhan nutrisi terpenuhi

NOC : Nutritional status

a. Adanya peningkatan berat badan sesuai tujuan

b. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan

c. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

d. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi

Skala penilaian :

1= Tidak pernah menunjukan

2 = Jarang menunjukan

3 = Kadang menunjukan

4 = Sering menunjukan

5 = Selalu menunjukan

NIC : nutrition management

Intervensi :

a. Kaji adanya alergi makanan

b. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake seperti Fe, vitamin, dan protein

c. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

NIC : nutrition monitoring

a. Monitor adanya penurunan berat badan

b. Monitor interaksi anak / orang tua selama makan

c. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi

d. Monitor turgor kulit

e. Monitor mual dan muntah

f. Monitor pertumbuhan dan perkembangan

6. Diagnosa VI : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan frekuensi buang

air besar sering (diare)

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kulit anak

tetap bersih, utuh dan bebas iritasi

Page 24: Anak - AIDS

NOC : Tissue integrity

a. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas,

temperature dan pigmentasi )

b. Tidak ada luka atau lesi pada kulit

c. Perfusi jaringan baik

d. Mampu melindungi kulit

e. Mampu mempertahankan kelembaban kulit

Skala penilaian :

1 = Selalu

2 = Sering

3 = Kadang-kadang

4 = Jarang

5 = Tidak pernah

NIC : Exercise Therapy

a. Inspeksi permukaan kulit secara teratur untuk adanya tanda-tanda iritasi

kemerahan

b. Lindungi permukaan kulit yang bergesekan

c. Masase kulit dengan lembut menggunakan lotion di area yang iritasi

7. Dignosa VII : Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan suhu tubuh

normal

NOC : Thermoregulation

a. Suhu kulit dalam rentang yang diharapkan

b. Suhu tubuh dalam batas normal

c. Nadi dan pernapasan dalam rentang yang diharapkan

d. Perubahan warna kulit tidak ada

Skala penilaian :

1 = Tidak pernah menunjukan

2 = Jarang menunjukan

3 = Kadang menunjukan

Page 25: Anak - AIDS

4 = Selalu menunjukan

5 = Sering menunjukan

NIC : Fever management

Intervensi :

a. Pantau suhu minimal setiap 2 jam, sesuai dengan kebutuhan

b. Pantau warna kulit dan suhu

c. Ajarkan keluarga dalam mengukur suhu untuk mencegah dan mengenali

secara dini hipertermia

d. Lepaskan pakaian yang berlebihan dan tutupi klien dengan hanya selembar

pakaian

e. Berikan cairan intravena

8. Dignosa VIII : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat

beraktifitas seperti biasa

NOC : Penghematan energi

Kriteria hasil :

a. Menyadari kjeterbatasan energi

b. Menyeimbangkan aktifitas dan energi

c. Tingkat daya tahan adekuat untuk beraktifitas

Skala penilaian :

1 = Tidak sama sekali

2 = Jarang

3 = Kadang

4 = Sering

5 = Selalu

NIC : Pengelolaan enegi

a. Tentukan penyebab keletihan

b. Pantau asupan untuk mamastikan keadekuatan sumber energi

c. Batasi rangsangan lingkungan

Page 26: Anak - AIDS

d. Bantu dengan aktifitas fisik teratur

9. Diagnosa IX : Cemas berhubungan dengan perubahan staus kesehatan

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan dapar

berkurang

NOC : Anxiety control

Kriteria hasil :

a. Monitor intensitas cemas

b. Mengurangi penyebab cemas

c. Penurunan rangsang lingkungan ketika cemas

d. Memberikan informasi untuk mengurangi cemas

e. Melaporkan penurunan cemas

f. Melaporkan keadekuaan tidur

Skala penilaian :

1 = Tidak pernah menunjukan

2 = Jarang menunjukan

3 = Kadang menunjukan

4 = Sering menunjukan

5 = Selalu menunjukan

NIC : penurunan cemas

1. Gunakan pendekatan yang menangkan

2. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur

3. Pahami persepsi pasien terhadap stress

4. Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi keemasan

5. Identifikasi tingkat kecemasan

6. Dorong untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan

10. Diagnosa X : Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang

menderita penyakit serius

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan orang tua

dan anak menunjukan perilaku kedekatan

Page 27: Anak - AIDS

NOC : Koping keluarga

Kriteria hasil :

a. Saling percaya dan dapat manghadapi masalah

b. Mengatasi masalah

c. Pedui terhadap kebutuhan seluruh anggota keluarga

d. Tetapkan prioritas

Skala penilaian :

1 = Tidak pernah menunjukan

2 = Jarang menunjukan

3 = Kadang menunjukan

4 = Selalu menunjukan

5 = Sering menujukan

NIC : Support keluarga

Intervensi :

a. Yakinkan keluarga bahwa pasien akan diberi perawatan terbaik

b. Hargai reaksi pasien terhadap kondisi pasien

c. Berikan timbal balik atas koping keluarga

d. Terangkan menhenai rencana medis dan perawatan pasien terhadap keluarga

e. Berikan informasi tentang perkembangan pasien sesuai dengan kondisi

11. Dignosa XI : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dan

keluarga pengetahuannya bertambah

NOC : Proses penyakit

Kriteria hasil :

a. Mengenal nama penyakit

b. Deskripsi proses penyakit

c. Deskripsi factor penyebab

d. Deskripsi tanda dan gejala

e. Deskripsi cara meminimalkan perkembangan penyakit

Skala penilaian :

Page 28: Anak - AIDS

1 = Tidak pernah menunjukan

2 = Jarang menunjukan

3 = Kadang menunjukan

4 = Sering menunjukan

5 = Selalu menunjukan

NIC : Pembelajaran proses penyakit

a. Jelaskan tanda dan gejala

b. Identifikasi penyebab penyakit

c. Beri informasi tentang hasil pemeriksaan diagnostik

D. EVALUASI

1. Dx 1 : Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan imun

a. Status gastrointestinal normal 4

b. Status respirasi normal 3

Page 29: Anak - AIDS

c. Status BB normal 3

d. Status integritas kulit normal 3

e. Tidak menunjukan kelemahan 3

f. Menunjukan kekebalan tubuh

2. Dx II : Keterlambatan tumbuh kembang berhubungan dengan penurunan imun

a. Berat badan sesuai dengan umur dan tinggi badan 2

b. Turgor kulit baik 3

c. Tanda-tanda vital baik

2

3. Dx III : Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif

(diare)

a. Tekanan darah normal 3

b. Keseimbangan masukan dan haluaran selama 24 jam 3

c. Hidrasi kulit 3

d. Membran mukosa normal 3

e. Turgor kulit baik 3

4. Dx IV : Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan dispneu

a. RR alam batas normal 3

b. Irama nafas normal 3

c. Ekspansi dada simetris 3

d. Tidak ada dispneu 3

e. Tidak ada traktil fremitus 3

f. Auskultasi bunyi nafas normal 3

5. Dx V : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan mual, muntah

a. Adanya peningkatan berat badan sesuai tujuan 3

b. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan 3

Page 30: Anak - AIDS

c. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi 4

d. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi 5

6. Dx VI : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan frekuensi buang air

besar sering (diare)

a. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperature

dan pigmentasi ) 3

b. Tidak ada luka atau lesi pada kulit 5

c. Perfusi jaringan baik 4

d. Mampu melindungi kulit 3

e. Mampu mempertahankan kelembaban kulit 3

7. Dx VII : Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi

a. Suhu kulit dalam rentang yang diharapkan 3

b. Suhu tubuh dalam batas normal 4

c. Nadi dan pernapasan dalam rentang yang diharapkan 4

d. Perubahan warna kulit tidak ada 4

8. Dx VIII : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik

a. Menyadari keterbatasan energi 2

b. Menyeimbangkan aktifitas dan energi 3

c. Tingkat daya tahan adekuat untuk beraktifitas 3

9. Dx IX : Cemas berhubungan dengan perubahan staus kesehatan

a. Monitor intensitas cemas 4

b. Mengurangi penyebab cemas 4

c. Penurunan rangsang lingkungan ketika cemas 3

d. Memberikan informasi untuk mengurangi cemas 5

e. Melaporkan penurunan cemas 3

f. Melaporkan keadekuaan tidur 3

Page 31: Anak - AIDS

10. Dx X : Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita

penyakit serius

a. Saling percaya dan dapat manghadapi masalah 5

b. Mengatasi masalah 5

c. Pedui terhadap kebutuhan seluruh anggota keluarga 5

d. Tetapkan prioritas 5

11. Dx XI : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi

a. Mengenal nama penyakit 4

b. Deskripsi proses penyakit 4

c. Deskripsi factor penyebab 4

d. Deskripsi tanda dan gejala 4

e. Deskripsi cara meminimalkan perkembangan penyakit 4

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily L. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.

Page 32: Anak - AIDS

Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Muma, Richard D. 1997. HIV : manual untuk tenaga kesehatan. Jakarta : EGC.

Rampengan. 1993. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta : EGC.

Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta