AKULTURASI BUDAYA JAWA DAN AJARAN ISLAM DALAM .AKULTURASI BUDAYA JAWA DAN AJARAN ISLAM DALAM TRADISI

  • View
    237

  • Download
    4

Embed Size (px)

Text of AKULTURASI BUDAYA JAWA DAN AJARAN ISLAM DALAM .AKULTURASI BUDAYA JAWA DAN AJARAN ISLAM DALAM TRADISI

AKULTURASI BUDAYA JAWA DAN AJARAN ISLAM

DALAM TRADISI NYELIWER WENGI

(Studi Kasus Tradisi Malam Idul Fitri di Desa Kedungkarang

Kecamatan Wedung Kabupaten Demak)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata (S.1)

dalam Ilmu Ushuluddin dan Humaniora

Pada Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Disusun oleh:

SITI JAMIATUN

NIM: 134111007

FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2017

i

AKULTURASI BUDAYA JAWA DAN AJARAN ISLAM

DALAM TRADISI NYELIWER WENGI

(Studi Kasus Tradisi Malam Idul Fitri di Desa Kedungkarang

Kecamatan Wedung Kabupaten Demak)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata (S.1)

dalam Ilmu Ushuluddin dan Humaniora

Pada Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Disusun oleh:

SITI JAMIATUN

NIM: 134111007

FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2017

ii

DEKLARASI KEASLIAN

Bismilla>hi ar Rah}ma>n ar Rah}i>m, dengan ini penulis

menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil kerja penulis sendiri. Di

dalamnya tidak ada karya yang digunakan sebagai syarat memperoleh

gelar sarjana di Perguruan Tinggi atau di Lembaga Pendidikan

lainnya. Pengetahuan yang penulis peroleh dari hasil penerbitan

maupun yang belum atau tidak diterbitkan, penulis jelaskan dalam

tulisan dan daftar pustaka.

Semarang, 31 Mei 2017

Deklarasi,

Siti Jamiatun

134111007

iii

iv

v

vi

HALAMAN MOTTO

(11: )

Artinya:

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya

bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas

perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan

suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,

maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi

mereka selain Dia. (QS. Ar-Rad [013]: 11)

vii

TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Pedoman transliterasi huruf Arab-Latin dalam penulisan skripsi

ini berpedoman pada Pedoman Transliterasi Arab-Latin yang

dikeluarkan berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Agama Dan

Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan RI nomor : 158/1987 dan nomor

0543b/U/1987. Tertanggal 22 Januari 1988, sebagai berikut:

A. Kata Konsonan

Huruf

Arab Nama Huruf Latin Nama

Alif Tidak

dilambangkan

Tidak dilambangkan

Ba B Be

Ta T Be

(Sa es (dengan titik di atas

Jim J Je

Ha ha (dengan titik di bawah)

Kha Kh Ka dan ha

Dal D De

(Zal zet (dengan titik di atas

Ra R Er

Zai Z Zet

viii

Sin S Es

Syin Sy es dan ye

Sad es (dengan titik di bawah)

Dad de (dengan titik di bawah)

Ta te (dengan titik di bawah)

Za zet (dengan titik di bawah)

ain koma terbalik di atas

Gain G Ge

Fa F Ef

Qaf Q Ki

Kaf K Ka

Lam L El

Mim M Em

Nun N En

Wau W We

Ha H Ha

Hamzah Apostrof

Ya Y Ye

ix

B. Vokal

Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia terdiri dari vokal

tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.

1. Vokal Tunggal

Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda

atau harakat, transliterasinya sebagai berikut:

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

Fathah A A

Kasrah I I

Dhammah U U

2. Vokal Rangkap

Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa

gabungan antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa

gabungan huruf, yaitu:

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

.... fathah dan ya Ai a dan i

.... fathah dan wau Au a dan u

x

Contoh :

kataba -

faala -

3. Vokal Panjang (Maddah)

Vokal panjang atau maddah yang lambangnya berupa

harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda,

yaitu:

Huruf Arab Nama Huruf

Latin

Nama

... ...... Fathah dan alif atau ya

a dan garis di

atas

.... Kasrah dan ya

i dan garis di

atas

.... Dhammah dan wau

u dan garis di

atas

Contoh:

na :

na :

yanu :

xi

4. Ta Marbutah

Transliterasi untuk ta marbutah ada dua

a. Ta marbutah hidup

Ta marbutah yang hidup atau mendapat harakat

fathah, kasrah, dan dhammah, trasnliterasinya adalah /t/

b. Ta marbutah mati

Ta marbutah yang mati atau mendapat harakat sukun,

transliterasinya adalah /h/

c. Kalau pada kata yang terakhir dengan ta marbutah diikuti

oleh kata yang menggunakan kata sandang al serta bacaan

kedua kata itu terpisah, maka ta marbutah itu

ditransliterasikan dengan ha (h)

Contah; - raudah al-atfl

5. Syaddah (Tasydid)

Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab

dilambangkan dengan sebuah tanda, tanda syaddah atau tanda

tasydid, dalam transliterasi ini tanda syaddah tersebut

dilambangkan dengan huruf, yaitu huruf yang sama dengan

huruf yang diberi tanda syaddah itu.

Contoh; - zayyana

xii

6. Kata sandang

Kata sandang dalam sistem tulisan Arab

dilambangkan dengan huruf namun dalam transliterasi ini

kata sandanf dibedakan atas kata sandang yang diikuti huruf

syamsiah dan kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariyah.

a. Kata sandang diikuti huruf syamsiyah

Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiah

ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf /l/

diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang

langsung mengikuti kata sandang itu.

b. Kata sandang diikuti huruf qamariyah

Kata sandang yang diikuti huruf qamariyah

ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di

depan dan sesuai pula dengan bunyinya.

Baik diikuti oleh huruf syamsiah maupun huruf

qamariyah, kata sandang ditulis terpisah dari kata yang

mengikuti dan dihubungkan dengan kata sandang.

Contoh; ar-rajulu -

xiii

7. Hamzah

Dinyatakan di depan bahwa hamzah

ditransliterasikan dengan apostrof, namun itu hanya berlaku

bagi hamzah yang terletak di tengah dan di akhir kata. Jika

hamzah itu terletak di awal kata, maka hamzah itu tidak

dilambangkan, karena dalam tulisan Arab berupa alif.

Contoh: - syaiun

8. Penulisan kata

Pada dasarnya, setiap kata, baik fiil, isim, maupun

harf, ditulis terpisah, hanya kata-kata tertentu yang

penulisannya dengan huruf Arab sudah lazimnya dirangkaikan

dengan kata lain karena ada huruf atau harakat yang

dihilangkan. Maka dalam transliterasi ini penulisan lata

tersebut dirangkaikan juga dengan kata lain yang

mengikutinya.

Contoh;

Fa aufu al-kaila wa al-mzna

9. Huruf kapital

Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital

tidak dikenal, dalam transliterasi ini huruf tersebut digunakan

juga. Penggunaan huruf kapital seperti apa yang berlaku

xiv

dalam EYD, diantaranya: huruf kapital digunakan untuk

menuliskan huruf awal nama diri dan permulaan kelimat. Bila

nama diri itu didahului oleh kata sandang, maka yang ditulis

dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersendiri,

bukan huruf awal kata sandangnya.

Contoh;

Wa m Muhammadun ill rasl

Penggunaan huruf kapital untuk Allah hanya berlaku

bila dalam tulisan Arabnya memang lengkap demikian dan

kalau penulisan itu disatukan dengan kata lain, sehingga ada

huruf atau harakat yang dihilangkan, huruf kapital tidak

dipergunakan.

Contoh;

Lillhi al-amru jaman

10. Tajwid

Bagi mereka yang menginginkan kefasihan dalam

bacaan, pedoman transliterasi ini merupakan bagian yang tak

terpisahkan dengan ilmu tajwid. Karena itu, peresmian

pedoman transliterasi Arab Latin (Versi Internasional) ini

perlu disertai dengan pedoman tajwid.

xv

UCAPAN TERIMAKASIH

Bismilla>hi ar Rah}ma>n ar Rah}i>m

Assalamualaikum wr. wb.

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha

Penyayang, karena berkat Taufiq serta Hidayah-Nya penulis bisa

menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul AKULTURASI

BUDAYA JAWA DAN AJARAN ISLAM DALAM TRADISI

NYELIWER WENGI (Studi Kasus Tradisi Malam Idul Fitri di

Desa Kedungkarang Kecamatan Wedung Kabupaten Demak).

Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada baginda Rasulullah

SAW, sang revolusioner sejati bagi seluruh umat manusia, perjuangan

beliau yang sangat gigih dan pantang mundur selalu menjadi inspirasi

utama bagi penulis untuk terus memperjuangkan syiar agama Islam.