10
ADVOKASI DALAM KEPRAWATAN KASUS 8 Dosen Pengampu :Jani Riestanto Adji S.Kep.MH Disusun oleh : Arif Nur Hidayat Ati’ul Khusnah Dyan Sa’dyah Fitriyani  Fatmawati Via Mirza Gita Pradani Rini Agustin Tangkas Pramuaji Tri Rizki Oktaviyani Yulian Dwi Susanto PRODI S1 KEPERAWATAN STIKES HARAPAN BANGSA PURWOKERTO

ADVOKASI DALAM KEPRAWATAN

Embed Size (px)

DESCRIPTION

adk

Citation preview

ADVOKASI DALAM KEPRAWATANKASUS 8Dosen Pengampu :Jani Riestanto Adji S.Kep.MH

Disusun oleh :Arif Nur HidayatAtiul KhusnahDyan Sadyah FitriyaniFatmawati ViaMirza Gita PradaniRini AgustinTangkas PramuajiTri Rizki OktaviyaniYulian Dwi Susanto

PRODI S1 KEPERAWATANSTIKES HARAPAN BANGSA PURWOKERTO2012PEMBAHASANKASUS 8

Oknumperawatlalai, pasien DBD nyarissalahobatRabu, 22 februari 2012 | 09.50 wibKotabumi keluargapasien yang dirawat di kamar I.1 ruang penyakitanakrumahsakittumumdaerahryacudu (RSUDR) kotabumi, lampungutara, mengamukpadapukul 11.00 wibkemarin.Merekamemprotespihak RSUDR lantaranperawatnyasalahmemberikanobatkepadazakiabtapermana (5), penderitademamberdarah dengue (DBD).Beruntung, keluargasegerameyadaridanobatitubelumdikonsumsi.Keluargapasientidakterimaataskelalaiandalampelayananperawatruangpenyakitanak.Beruntung, satpam RSUDR cepatbertindaksehnggaemosikeluargapasien bias meredam.Padapukul 12.00 WIB, keluargakorbandandirektur RSUDR kotabumidr.Septidwi Putra bermediasidisaksikananggota DPRD LampuraRizanisertaspesialisanak dr. Hanum.Ketikaditemuiusaimediasi, Rizanimengatakan, ituadalahkelalaianperawat yang berjaga di ruangpenyakitanak. perawattidakmengakuikesalahannyasetelahsalahmemberikanobat. Diamalahngotot.Itu yang menjadipemicukeributankeluargakorbandenganperawatnya, ujarnya.Sementara, dr. SeptiDwi Putra mengakuikelalaianperawat kami yang salahmemberikanobatkepadapasien DBD atasnamazakiabatapermanaucapnyaMengenaiperawat yang lalai, kata dia, akandiberikansanksisesuaiaturan.perawatitusembatmenyanggahdanmengucapkanperkataankurangmengenakankepadapasien. Masalahini pun akan kami jadikandasarpembenahanmanejemen agar pelayanankepadapasienmembaik.Terpisah,orangtuaZakiAbataPermana, Ramli A.(35), mengatakan, anaknyaterkenapenyakit DBD.anaksayamasukke RSUDR sabtu (18/2) karena DBD dengantrombositdarahnya 76,ungkap suamiMisnawati (37), wargakelurahanKetaalam, kacamatankotabumiselatan,ini.Menurutnya, pelayanankurangbaikdansalahmemberikanobatdilakukanperawatankepadaanakanya. obat yang seharusnyadiberikankepadazaki alba(2), pasienumumpenyakitdiare, malahdiberikankepadazakiabtapermana, pasienaskespenyakityakniobatDulcolaxdanobat lain. Bagaimana kami tidakemosi.Bilaterjadiapa-apaterhadapkondisianaksaya, siapa yang menanggungya. Kata RomliMenurutnya, ZakiAbtaPermanamenggunakanAskesketikamenjalaniperawatan di RSUDR. mungkinnamaanaksayadan yang lain mirip, makaperawatitusalahmemberikanobat. Beruntung, obat yang salahdiberikankepadaanaksayabelum di minum.Ataskejadianitu, romlimenerimamaafparaperawatmelaluidirektur RSUDR. tapi, kami berharapperawatlebihtelitimemberikanpelayananterbaikkepadapasiensehinggakejadianinitidakterulang, pintanya

METODE CARA PENGERJAAN Analisa pelanggaran ksus diatas Kaitkan dengan kode etik dan fungsi perawat

KELALAIAN PERAWAT PADA KASUS DI ATAS Perawat lalai membrikan obat secara benar Perawatmengucapkanperkataankurangmengenakankepadapasien. perawattidakmengakuikesalahannyasetelahsalahmemberikanobat. DiamalahngototDAMPAK KELALAIANBagi pasien : pasien hampir salah minum obat yang dapat mengakibatkan kondisi akan lebih buruk dari sebelumnya karenaa kelalaian dari perawat yang salah memberikan obat pasien akan merasa tersinggung dengan perkataan perawat yang tidak mengeenakkan dan perawat tidak meminta maafBagi perawat : hilangnya kepercayaan pasin kepada perawat karena kelalian perawat itu sendiri perawat tidak akan dihargai oleh pasien dan masyarakat karena perkataanya yang tidak mengenakkan pasien prawat akan mendapat sanksi karena tindakannya bertentangan deengan kode etik, UU , SOP, patient safety, peran perawatBagi Rumah Sakit Dapat merusak citra Rumah Sakit Masyarakat tidak akan mempercayai deengan adanya mutu dan peelayanan Rumah Sakit Kurangnya kepercayaan masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan RS Menurunnya kualitas keperawatan, dan kemungkinan melanggar visi misi Rumah Sakit Kemungkinan RS dapat dituntut baik secara hukum pidana dan perdata karena melakukan kelalaian terhadap pasien Standarisasi pelayanan Rumah Sakit akan dipertanyakan baik secara administrasi dan prosedural KETEERKAITAN KELALAIAN DI ATAS DENGAN KODE ETIK,PRAN PRAWAT, STANDAR PROSEDUR, PATEINT SAFETY Perawat melanggar kode etik yaitu berkata tidak sopan kepada pasien Perawat tidak mau minta maaf kepada pasien atas kelalaiannya Perawat tidak melakukan tugasnya sesuai dengan prosedur pemberian obat yang benar yaitu 8 benar (benar obat dan pasien) Perawat tidak melakukan patient safety yaitu dengan salah mmbrikan obat dapat menjadikan keslamatan pasien terancam Tindakan perawat tidak sesuai dengan etika keperawatan (kaidah etika) yaitu : Tidak boleh membuat sakit/ sengsara orang lain Menghargai harkat dan martabat orang lain Menjaga kerahasiaan Berkata benar Berlaku adil Menghormati privasi Membawa kebaikan Otonomi pasienUU Kesehatan no 36 th 2009 pasal 5 ayat 2Setiap orang mempunyai hak dalam memperolehpelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkauPasal 12Setiap orang berkewajiban menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan bagi orang lain yang menjadi tanggung jawabnya.Pasal 24(1) Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 harus memenuhi ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan standar prosedur operasional.

Pasal 29Dalam hal tenaga kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya, kelalaian tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu melalui mediasi.Pasal 492) Penyelenggaraan upaya kesehatan harus memperhatikan fungsi sosial, nilai, dan norma agama, sosial budaya, moral, dan etika profesi.Pasal 54Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara bertanggung jawab, aman, bermutu, serta merata dan nondiskriminatif.

HAL YANG PERLU DI UPAYAKANHal yang perlu dilakukan dalam upaya pencegahan dan perlindungan bagi penerima pelayanan asuhan keperawatan, adalah sebagai berikut:a. Bagi Profesi atau Organisasi Profesi keperawatan :1) Bagi perawat secara individu harus melakukan tindakan keperawatan/praktek keperawatan dengan kecermatan dan ketelitian tidak ceroboh.2) Perlunya standarisasi praktek keperawatan yang di buat oleh organisasi profesi dengan jelas dan tegas.3) Perlunya suatu badan atau konsil keperawatan yang menyeleksi perawat yang sebelum bekerja pada pelayanan keperawatan dan melakukan praktek keperawatan.4) Memberlakukan segala ketentuan/perundangan yang ada kepada perawat/praktisi keperawatan sebelum memberikan praktek keperawatan sehingga dapat dipertanggung jawabkan baik secara administrasi dan hukum, misal: SIP dikeluarkan dengan sudah melewati proses-proses tertentu.

b. Bagi Rumah Sakit dan Ruangan :1) Hendaknya Rumah Sakit melakukan uji kompetensi sesuai standarisasi yang telah ditetapkan oleh profesi keperawatan2) Rumah Sakit dalam hal ini ruangan rawat melakukan uji kompetensi pada bidangnya secara bertahap dan berkesinambungan.3) Rumah Sakit/Ruang rawat dapat melakukan system regulasi keperawatan yang jelas dan sesuai dengan standar, berupa registrasi, sertifikasi, lisensi bagi perawatnya.4) Perlunya pelatihan atau seminar secara periodic bagi semua perawat berkaitan dengan etik dan hukum dalam keperawatan.5) Ruangan rawat harus membuat SAK atau SOP yang jelas dan sesuai dengan standar praktek keperawatan.6) Bidang keperawatan/ruangan dapat memberikan pembinaan kepada perawat yang melakukan kelalaian.7) Ruangan dan RS bekerjasama dengan organisasi profesi dalam pembinaan dan persiapan pembelaan hukum bila ada tuntutan dari keluarga.

PENYELESAIANKelalaian perawat diatas, harus memperhatikan berbagai hal, Yaitu : Pasien dan keluarga pasien diberikan penjelasan oleh perawat sebelum melakukan tindakan. Segi perawat secara perorangan, harus dilihat dahulu apakah perawat tersebut kompeten dan sudah memiliki Surat ijin perawat, atau lainnya sesuai ketentuan perudang-undangan yang berlaku, apa perawat tersebut memang kompeten dan telah sesuai melakukan praktek asuhan keperawatan pada bayi tersebut.Tetapi bagaimanapun perawat harus dapat mempertanggung jawabkan semua bentuk kelalaian sesuai aturan perundangan yang berlaku. Bagi pihak Rumah Sakit, harus juga memberikan penjelasan apakah perawat yang dipekerjakan di Rumah Sakit tersebut telah memenuhi syarat-syarat yang diperbolehkan oleh profesi untuk mempekerjakan perawat tersebut. Dan harus diperjelas bagaimana hubungan perawat sebagai pemberi praktek asuhan keperawatan di dan kedudukan RS terhadap perawat tersebut. Bagi organisasi profesi juga harus diperhatikan beberapa hal yang memungkinkan perawat melakukan kelalaian, organisasi apakah sudah mempunyai standar profesi yang jelas dan telah diberlakukan bagi anggotannya, dan apakah profesi telah mempunyai aturan hukum yang mengikat anggotannya sehingga dapat mempertanggung jawabkan tindakan praktek keperawatannya dihadapan hukum, moral dan etik keperawatan.

KESIMPULAN

Kelalaian tidak sama dengan malpraktek, tetapi kelalaian termasuk dalam arti malpraktik, artinya bahwa dalam malpraktek tidak selalu ada unsur kelalaian.Dapat dikatakan bahwa kelalaian adalah melakukan sesuatu yang harusnya dilakukan pada tingkatan keilmuannya tetapi tidak dilakukan atau melakukan tindakan dibawah standar yang telah ditentukan. Kelalaian praktek keperawatan adalah seorang perawat tidak mempergunakan tingkat ketrampilan dan ilmu pengetahuan keperawatan yang lazim dipergunakan dalam merawat pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama. Kelalaian merupakan bentuk pelanggaran yang dapat dikategorikan dalam pelanggaran etik dan juga dapat digolongan dalam pelanggaran hukum, yang jeas harus dilihat dahulu proses terjadinya kelalaian tersebut bukan pada hasil akhir kenapa timbulnya kelalaian. Harus dilakukan penilaian terleih dahulu atas sikap dan tindakan yang dilakukan atau yang tidak dilakukan oleh tenaga keperawatan dengan standar yang berlaku. Sebagai bentuk tanggung jawab dalam praktek keperawatan maka perawat sebelum melakukan praktek keperawatan harus mempunyai kompetensi baik keilmuan dan ketrampilan yang telah diatur dalam profesi keperawatan, dan legalitas perawat Indonesia dalam melakukan praktek keperawatan telah diatur oleh perundang-undangan tentang registrasi dan praktek keperawatan disamping mengikuti beberapa peraturan perundangan yang berlaku. Penyelesaian kasus kelalaian harus dilihat sebagai suatu kasus profesional bukan sebagai kasus kriminal, berbeda dengan perbuatan/kegiatan yang sengaja melakukan kelalaian sehingga menyebabkan orang lain menjadi cedera dll. Disini perawat dituntut untu lebih hati-hati, cermat dan tidak cerobah dalam melakukan praktek keperawatannya. Sehingga pasien terhindar dari kelalaian.

DAFTAR PUSTAKA

Amir & Hanafiah, (1999). Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, edisi ketiga: Jakarta: EGC.Craven & Hirnle. (2000). Fundamentals of nursing. Philadelphia. LippincottKozier. (2000). Fundamentals of Nursing: concept theory and practices. Philadelphia. Addison Wesley.Priharjo, R (1995). Pengantar etika keperawatan; Yogyakarta: Kanisius.