Click here to load reader

Adenoma Pituitari

  • View
    28

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Adenoma Pituitari

ADENOMA PITUITARI

Tumor kelenjar pituitari merupakan sekitar lima persen tumor intrakranial. Berasal dari bagian anterior kelenjar dan biasanya jinak.

Klasifikasi

Dengan tehnik immuno assay (immunositokimia, dengan tehnik ultrastruktur), klasifikasi praktis berdasar pada jenis hormon yang disekresikan. Sekitar setengah adenoma khromofob 'nonfunctioning' mensekresikan prolaktin.

Hipersekretori: adenoma pensekresi prolaktin (prolaktinoma) adenoma pensekresi GH adenoma pensekresi ACTH adenoma pensekresi TSH adenoma pensekresi FSH/LH adenoma stem cell adenoma dengan seret campuran

Nonfungsional Dahulu pernah dilakukan klasifikasi berdasar jenis sel tumor yang tampak pada mikroskop cahaya:

adenoma eosinofilik: prolaktin hormon pertumbuhan

adenoma basofilik: ACTH TSH hormon gonadotropik (FSH, LH) adenoma khromofob: non-functional

Gambaran Klinis

Efek massa lokal

Nyeri kepala: terjadi pada kebanyakan pasien dengan pembesaran fossa pituitari. Tidak spesifik akan lokasi ataupun asalnya.

Defek lapang pandang: Tekanan pada aspek inferior khiasma optik menyebabkan kuadrantanopia temporal superior mulanya, kemudian menjadi hemianopia bitemporal.

Kompresi sinus kavernosus: Pada beberapa tumor pituitari, perluasan kelateral mungkin menekan saraf yang terletak didinding sinus kavernosus. Saraf III adalah yang paling terancam.

tumor besar --> efek massa lokal ---> kompresi struktur neural sekitar ---> kompresi kelenjar pituitari sekitar tumor kecil --> efek endokrin ------> menghalangi output hormonal

panhipopituitarisme ------> sekresi berlebih hormon spesifik, a.l. prolaktin, GH, ACTH (biasa lebih dari 1 hormon disekresikan)

Efek endokrin

1. HIPERSEKRESI Gejala klinis yang terjadi tergantung hormon yang disekresikan.

Hormon pertumbuhan (GH) GH merangsang pertumbuhan dan berperan dalam mengontrol protein, lemak, dan karbohidrat. Merupakan 15-25 % dari adenoma pituitari. Kelebihan GH pada dewasa menyebabkan akromegali. Terjadi perluasan jaringan lunak, kartilago dan tulang pada muka, tangan dan kaki. Kulit menjadi kasar. Tangan menjadi lembut serta seperti adonan. Terjadi pembesaran jaringan lunak jari serta bantalan tumit. Tampak prognathisme dan makroglosia. Pada visera terjadi pembesaran jantung, hati dan tiroid. Diabetes terjadi pada 10 persen kasus. Nyeri kepala dijumpai pada 50-75 % kasus. Juga djumpai artralgia dan letargi. Pada anak sebelum terjadinya fusi sutura tulang, kelebihan GH menyebabkan gigantisme. Kadar GH biasanya meningkat hingga > 10ng/ml (normalnya 2-5 ng/ml). Hiperglikemi biasanya menekan sekresi GH. Contoh GH diambil bersamaan dengan glukosa darah saat tes toleransi glukosa. Gagalnya supresi GH setelah pemberian glukosa memberikan kepastian adanya tumor.

Prolaktin Hormon ini membantu memacu laktasi. Tehnik immuno-assay menunjukkan prolaktinemia merupakan jenis tumor pituitari tersering (30-70 % adenoma pituitari) dan membantu diagnostik dini mikroadenoma prolaktin. Tumor ini tampil dengan infertilitas, amenore dan galaktore. Amenore primer lebih jarang dibanding penghentian menstruasi pada menarkhe normal. Pada pria mungkin dengan impotensi, nyeri kepala, perubahan visual, atau tetap tak terdeteksi hingga terjadi efek tekanan. Umumnya prolaktin serum 360U/l dianggap tak normal namun sebelum memutuskan adanya tumor pensekresi prolaktin, penyebab lain harus disingkirkan. Hiperprolaktinemia bisa disebabkan stres, hamil, obat (terutama antagonis dopamin), hipotiroidisme, kelainan ginjal, adenoma pituitari dan lesi hipotalamik atau seksi tangkai pituitari. Banyak obat termasuk klorpromazina, metil dopa, dan estrogen meninggikan prolaktin serum. Karena hormon tirotropik (TRH) merangsang pelepasan prolaktin, kadar prolaktin tinggi pada hipotiroidisme. Prolaktin berbeda dari hormon pituitari anterior lainnya karena dikontrol oleh hipotalamus. Lesi hipotalamik atau tangkai pituitari menyebabkan defisiensi dari faktor inhibitori prolaktin (PIF) dengan akibat peninggian prolaktin serum.

Tes berikut mengarahkan adanya tumor pensekresi prolaktin, namun kemampuannya terbatas:

tak adanya fluktuasi diurnal normal kadar prolaktin tak ada atau berkurangnya respons terhadap injeksi TRH (normalnya meninggi 500 X) tak adanya respons terhadap metoklopramida (normalnya meninggi 2000 X)

Terpenting adalah tes kadar prolaktin serum basal, yang berkisar dari 5-20ng/ml pada orang normal. Kadar 50ng/ ml dijumpai pada 25 % penderita prolaktinoma. 100ng/ml pada sekitar 50 %, dan kadar 200-300 ng/ml pada 100 %. Peninggian ringan ( efek massa lokal ---> kompresi struktur | neural sekitar | /--> kompresi kelenjar pituitari sekitar tumor kecil --> efek endokrin ------> menghalangi out(mikroadenoma) | | put hormonal | ! |

| panhipo | pituitarisme | /--> sekresi berlebih hormon spesifik, a.l. prolaktin, GH, ACTH (biasa lebih dari 1 hormon disekresikan)

Efek endokrin

1. HIPERSEKRESI Gejala klinis yang terjadi tergantung hormon yang disekresikan.

Hormon pertumbuhan (GH) GH merangsang pertumbuhan dan berperan dalam mengontrol protein, lemak, dan karbohidrat. Merupakan 15-25 % dari adenoma pituitari. Kelebihan GH pada dewasa menyebabkan akromegali. Terjadi perluasan jaringan lunak, kartilago dan tulang pada muka, tangan dan kaki. Kulit menjadi kasar. Tangan menjadi lembut serta seperti adonan. Terjadi pembesaran jaringan lunak jari serta bantalan tumit. Tampak prognathisme dan makroglosia. Pada visera terjadi pembesaran jantung, hati dan tiroid. Diabetes terjadi pada 10 persen kasus. Nyeri kepala dijumpai pada 50-75 % kasus. Juga djumpai artralgia dan letargi. Pada anak sebelum terjadinya fusi sutura tulang, kelebihan GH menyebabkan gigantisme. Kadar GH biasanya meningkat hingga > 10ng/ml (normalnya 2-5 ng/ml). Hiperglikemi biasanya menekan sekresi GH. Contoh GH diambil bersamaan dengan glukosa darah saat tes toleransi glukosa. Gagalnya supresi GH setelah pemberian glukosa memberikan kepastian adanya tumor.

Prolaktin Hormon ini membantu memacu laktasi. Tehnik immuno-assay menunjukkan prolaktinemia merupakan jenis tumor pituitari tersering (30-70 % adenoma pituitari) dan membantu diagnostik dini mikroadenoma prolaktin. Tumor ini tampil dengan infertilitas, amenore dan galaktore. Amenore primer lebih jarang dibanding penghentian menstruasi pada menarkhe normal. Pada pria mungkin dengan impotensi, nyeri kepala, perubahan visual, atau tetap tak terdeteksi hingga terjadi efek tekanan. Umumnya prolaktin serum 360U/l dianggap tak normal namun sebelum memutuskan adanya tumor pensekresi prolaktin, penyebab lain harus disingkirkan. Hiperprolaktinemia bisa disebabkan stres, hamil, obat (terutama antagonis dopamin), hipotiroidisme, kelainan ginjal, adenoma pituitari dan lesi hipotalamik atau seksi tangkai pituitari. Banyak obat termasuk klorpromazina, metil dopa, dan estrogen meninggikan prolaktin serum. Karena hormon tirotropik (TRH) merangsang pelepasan prolaktin, kadar prolaktin tinggi pada hipotiroidisme. Prolaktin berbeda dari hormon pituitari anterior lainnya karena dikontrol oleh hipotalamus. Lesi hipotalamik atau tangkai pituitari menyebabkan defisiensi dari faktor inhibitori prolaktin (PIF) dengan akibat pe-

ninggian prolaktin serum. Tes berikut mengarahkan adanya tumor pensekresi prolaktin, namun kemampuannya terbatas:

tak adanya fluktuasi diurnal normal kadar prolaktin tak ada atau berkurangnya respons terhadap injeksi TRH (normalnya meninggi 500 X) tak adanya respons terhadap metoklopramida (normalnya meninggi 2000 X)

Terpenting adalah tes kadar prolaktin serum basal, yang berkisar dari 5-20ng/ml pada orang normal. Kadar 50ng/ ml dijumpai pada 25 % penderita prolaktinoma. 100ng/ml pada sekitar 50 %, dan kadar 200-300 ng/ml pada 100 %. Peninggian ringan (