Adat di Minangkabau

  • View
    281

  • Download
    4

Embed Size (px)

Text of Adat di Minangkabau

  • 8/14/2019 Adat di Minangkabau

    1/32

    Kompilasi ABS SBK

    Kompilasi ABS SBK

    Mukadimah

    Visi propinsi Sumatera Barat adalah ingin menjadikan masyarakat Sumatera Barat

    sejahtera dunia akhirat. Visi tersebut akan sulit dicapai bila tidak dirumuskan misi yang jelas,

    tujuan yang akan dicapai, dan sasaran yang hendak diraih, serta cara yang akan ditempuhuntuk mewujudkan tujuan tersebut secara tepat. Berhasilnya teknik pencapaian tujuan

    dimaksud, di antaranya adalah pemahaman masyarakat dan para ninik mamak pemangku adat

    Minangkabau terhadap nilai-nilai adat dan agama dalam kehidupan sehari-hari. Ninik mamak

    sebagai pemimpin masyarakat adat Minangkabau sebagian besar berada di propinsi Sumatera

    Barat kini, sedang menghadapi perubahan besar, sebagai akibat dari proses globalisasi dan

    dunia informasi.

    Minangkabau sejak dahulu hingga sekarang, tatanan kehidupan masyarakatnya sangat

    ideal karena didasari nilai-nilai, norma-norma adat dan agama Islam yang menyeluruh, dalam

    satu ungkapan adat berbunyiAdat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

    Adat dan syarak di Minangkabau merupakan benteng kehidupan dunia akhirat yangdisebutkan dalam petatah adat kesudahan adat ka balairung, kasudahan syarak ka akhirat.1

    Mamangan ini menyiratkan teguhnya benteng orang Minangkabau yang terkandung di dalam

    adat dan kokohnya perisai Islam yang di pagar oleh syarak.

    Fenomena sekarang terlihat norma lama yang luhur mulai agak memudar, sementara

    tatanan baru belum pula terbentuk. Nilai-nilai kehidupan pada mulanya bersifat kebersamaan

    di masa sekarang agak cendrung bersifat individual. Nilai-nilai kehidupan selama ini tumbuh di

    nagari, sekarang kecendrungan masyarakat lebih suka hidup di perkotaan. Pada masa doeloe

    norma kehidupan berpegang kepada budi dan rasa malu, sekarang cenderung mulai

    meninggalkan sifat tenggang rasa, dan fenomena seperti itu sering menjadikan adat

    Minangkabau yang mempunyai banyak sekali nilai-nilai ideal itu, mulai jadi bahan cercaan.

    Nilai-nilai universal dalam masyarakat Minangkabau berkaitan dengan nilai-nilai adat dan

    syarak dapat dikategorikan ke dalam 6 kelompok, yaitu: (1) nilai-nilai ketuhanan, (2) nilai-nilai

    kemanusiaan, (3) nilai-nilai persaudaraan atau ukhuwah Islamiyah / kesatuan dan persatuan,

    (4) nilai musyawarah dan demokrasi, (5) raso pareso / akhlak / budi pekerti, (6) gotong royong

    / sosial kemasyarakatan.

    Keenam nilai-nilai tersebut sangat dipahami oleh para ninik mamak pemangku adat

    Minangkabau dan menjadi prilakunya sehari-hari, karena ninik mamak adalah suri teladan bagi

    anak kemenakannya.

    Fenomena terjadi akhir-akhir ini sosok ninik mamak kurang dihargai oleh kemanakannya.

    Anak kemenakan seolah-olah tidak ambil pusing lagi dengan ninik mamaknya. Terkadang

    perkataan ninik mamak sering tidak diacuhkan oleh kemanakannya. Bahkan kehadiran ninik

    mamak di tengah-tengah anak kemanakannya seolah-olah tidak diperlukan lagi.

    Saat ini terjadi krisis kepercayaan terhadap ninik mamak oleh anak kemenakan. Ninik

    mamak seharusnya memegang kendali dan menentukan dalam pembentukan kepribadian

    anak kemenakan. Penyebab terjadinya krisis kepercayaan di kalangan anak kemenakan

    terhadap ninik mamak saat ini di antaranya adalah karena kurangnya pemahaman Ninik

    Mamak Pemangku Adat Minangkabau terhadap nilai-nilai adat dan syarak. Jika masalah ini

    dibiarkan terus menerus, maka tidak mustahil masyarakat Minangkabau yang dikenal

    masyarakat beradat, mungkin hanya akan tinggal kenangan, dan hanya menjadi sebuah

    catatan sejarah bahwa dulu masyarakat Minangkabau sangat menjunjung tinggi adatnya yang

    kokoh dipagari oleh nilai-nilai agama atau syarak.

    Adat di Minangkabau

  • 8/14/2019 Adat di Minangkabau

    2/32

    Kompilasi ABS SBK

    Orang Minangkabau terkenal dengan adatnya yang kuat. Adat sangat penting dalam

    kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu dalam petatah Minangkabau diungkapkan, hiduik di

    kanduang adat. Maka, ada empat tingkatan adat di Minangkabau.

    1. Adat Nan Sabana Adat

    Adat nan sabana adat adalah kenyataan yang berlaku tetap di alam, tidak pernah

    berubah oleh keadaan tempat dan waktu. Kenyataan itu mengandung nilai-nilai, norma, dan

    hukum. Di dalam ungkapan Minangkabau dinyatakan sebagai adat nan indak lakang dek

    paneh, indak lapuak dek hujan, diasak indak layua, dibubuik indak mati2 atau adat babuhua

    mati.3Adat nan sabana adat bersumber dari alam.

    Pada hakikatnya, adat ini ialah kelaziman yang terjadi sesuai dengan kehendak Allah.

    Maka, adat Minangkabau tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Hal itu melahirkan konsep

    dasar pelaksanaan adat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, yakni adat basandi

    syarak, syarak basandi kitabullah dan syarak mangato, adat mamakai.4Dari konsep itu lahir

    pulalah falsafah dasar orang Minangkabau yakni alam takambang jadi guru.5

    Adat nan sabana adat menempati kedudukan tertinggi dari empat jenis adat di

    Minangkabau, sebagai landasan utama dari norma, hukum, dan aturan-aturan masyarakatMinangkabau. Semua hukum adat, ketentuan adat, norma kemasyarakatan, dan peraturan-

    peraturan yang berlaku di Minangkabau bersumber dari adat nan sabana adat.

    2. Adat Nan Diadatkan

    Adat nan diadatkan adalah adat buatan yang dirancang, dan disusun oleh nenek moyang

    orang Minangkabau untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Aturan yang berupa adat

    nan diadatkan disampaikan dalam petatah dan petitih, mamangan, pantun, dan ungkapan

    bahasa yang berkias hikmah.

    Orang Minangkabau mempercayai dua orang tokoh sebagai perancang, perencana, dan

    penyusun adat nan diadatkan, yaitu Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan DatuakKatumangguangan.

    Inti dari adat nan diadatkan yang dirancang Datuak Parpatiah Nan Sabatang ialah

    demokrasi, berdaulat kepada rakyat, dan mengutamakan musyawarah untuk mufakat.

    Sedangkan adat yang disusun Datuak Katumangguangan intinya melaksanakan pemerintahan

    yang berdaulat ke atas, otokrasi namun tidak sewenang-wenang. Sepintas, kedua konsep adat

    itu berlawanan. Namun dalam pelaksanaannya kedua konsep itu bertemu, membaur, dan

    saling mengisi. Gabungan keduanya melahirkan demokrasi yang khas di Minangkabau.

    Diungkapkan dalam ajaran Minangkabau sebagai berikut:

    Bajanjang naiak, batanggo turun.

    Naiak dari janjang nan di bawah, turun dari tanggo nan di ateh.Titiak dari langik, tabasuik dari bumi.6

    Penggabungan kedua sistem ini ibarat hubungan legislatif dan eksekutif di sistem

    pemerintahan saat ini.

    3. Adat Nan Taradat

    Adat nan taradat adalah ketentuan adat yang disusun di nagari untuk melaksanakan adat

    nan sabana adat dan adat nan diadatkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan nagarinya.

    Adat ini disusun oleh para tokoh dan pemuka masyarakat nagari melalui musyawarah dan

    mufakat. Dari pengertian itu lahirlah istilah adat salingka nagari.

    Adat nan taradat disebut juga adat babuhua sentak, artinya dapat diperbaiki, diubah, dan

    diganti. Fungsi utamanya sebagai peraturan pelaksanaan dari adat Minangkabau. Contoh

    t l i d l b t k l t di t l d

  • 8/14/2019 Adat di Minangkabau

    3/32

    Kompilasi ABS SBK

    perkawinan, yang selalu dipagari oleh ketentuan agama, di mana syarak mangato adaik

    mamakaikan.

    4. Adat Istiadat

    Adat istiadat merupakan aturan adat yang dibuat dengan mufakat niniak mamak dalam

    suatu nagari. Peraturan ini menampung segala kemauan anak nagari yang sesuai menurut

    alua jo patuik, patuik jo mungkin. Aspirasi yang disalurkan ke dalam adat istiadat ialah aspirasi

    yang sesuai dengan adat jo limbago, manuruik barih jo balabeh, manuruik ukuran cupak jo

    gantang, manuruik alua jo patuik.

    Ada dua proses terbentuknya adat istiadat. Pertama, berdasarkan usul dari anak nagari,

    anak kemenakan, dan masyarakat setempat. Kedua, berdasarkan fenomena atau gejala yang

    tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. Ini diungkapkan dalam kato pusako:

    Tumbuah bak padi digaro, tumbuah bak bijo disiang.

    Elok dipakai, buruak dibuang.

    Elok dipakai jo mufakat, buruak dibuang jo rundiangan.7

    Adat istiadat umumnya tampak dalam bentuk kesenangan anak nagari seperti kesenian,langgam dan tari, dan olahraga.

    FFILOSOFIILOSOFI HHIDUPIDUPDIDI MMINANGKABAUINANGKABAUBERSUMBERBERSUMBERDARIDARIALAMALAM

    Alam takambang jadi guru dan diberi ruh oleh Islam. Konsep ABS-SBK adalah kristalisasi

    ajaran hukum alam yang bersumber dari Islam. Yang diperlukan sekarang adalah pemantapan

    dan pengamalan. Maka, prinsip-prinsip ABS-SBK harus masuk ke dalam seluruh kehidupan

    secara komprehensif.

    Dengan perpaduan yang baik, kebudayaan Minangkabau akan berlaku universal. Langkah

    sekarang adalah, menjabarkan ajaran ABS-SBK, secara sistematis dan terprogram ke dalam

    berbagai sistem kehidupan. Dimulai dalam pelaksanaan pemerintahan di tingkat Nagari,seperti, kebersamaan, gotong royong, sahino samalu, kekerabatan, dan penghormatan

    sesama, atau barek sapikue ringan sajinijing, yang menjadi kekuatan di dalam incorporated

    social responsibility.

    Kekusutan dalam masyarakat Minangkabau, khususnya di tingkat Nagari-nagari dapat

    diatasi dengan komunikasi dengan generasi muda. Persoalan prilaku harus mendapatkan porsi

    yang besar, selain persoalan kelembagaan. Prilaku orang Minang terutama generasi muda

    sangat mengkhawatirkan.

    Selain lemahnya komunikasi, masalah yang muncul di Nagari adalah rapuhnya

    solidaritas. Diperlukan sosialisasi nilai-nilai budaya Minangkabau. Selanjutnya, membentuk

    kembali str

Search related