of 25 /25
ABSTRACT Analisis Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Earnings Management Pada Perusahaan Yang Melakukan Initial Public Offering di Bursa Efek Indonesia Febty Gabriella -NPM: 0911031008 08999322777 / [email protected] Pembimbing I: Dr. Lindrianasari, S.E, M.Si, Akt Pembimbing II: Basuki Wibowo, S.E., Akt Initial Public Offerings (IPO) is a mechanism that should be done when the company first offering of stock to the public in the primary market. In conducting the IPO, the company must publish a prospectus prior to listing on the Stock Exchange. Companies that do tend do IPO earnings management. This study aims to detect earnings management company before and after the IPO, and prove empirically the influence of the value of the current public offering IPO, firm size, firm age, and leverage the company's profit before IPO manajamen. This study used a sample of all companies doing an IPO in the year 2007-2012. Samples taken as many as 61 companies conducted by purposive sampling. Data collected through documentation. Data were analyzed using by analysis Independent Sample T Test and multiple regression with SPSS 17.0 software. The research proves that, most of the research sample firms perform earnings management before the IPO. As for the post-IPO average of the sample companies do not make profit management. Besides, the results of this study also showed the independent variables of the overall expected effect on earnings management, leverage variables only affect the earnings management, while offering value, firm size and firm age does not significantly affect earnings management. Keywords: Initial Public Offerings (IPO), Earnings Management, Stock Offer Value, Company Size, Company Age and Leverage.

ABSTRACT Analisis Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap ...fe-akuntansi.unila.ac.id/download/JURNAL.pdfAnalisis Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Earnings Management ... Manajemen

Embed Size (px)

Text of ABSTRACT Analisis Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap...

ABSTRACT

Analisis Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Earnings Management

Pada Perusahaan Yang Melakukan Initial Public Offering

di Bursa Efek Indonesia

Febty Gabriella -NPM: 0911031008

08999322777 / [email protected]

Pembimbing I: Dr. Lindrianasari, S.E, M.Si, Akt

Pembimbing II: Basuki Wibowo, S.E., Akt

Initial Public Offerings (IPO) is a mechanism that should be done when the

company first offering of stock to the public in the primary market. In conducting

the IPO, the company must publish a prospectus prior to listing on the Stock

Exchange. Companies that do tend do IPO earnings management. This study aims

to detect earnings management company before and after the IPO, and prove

empirically the influence of the value of the current public offering IPO, firm size,

firm age, and leverage the company's profit before IPO manajamen.

This study used a sample of all companies doing an IPO in the year 2007-2012.

Samples taken as many as 61 companies conducted by purposive sampling. Data

collected through documentation. Data were analyzed using by analysis

Independent Sample T Test and multiple regression with SPSS 17.0 software.

The research proves that, most of the research sample firms perform earnings

management before the IPO. As for the post-IPO average of the sample

companies do not make profit management. Besides, the results of this study also

showed the independent variables of the overall expected effect on earnings

management, leverage variables only affect the earnings management, while

offering value, firm size and firm age does not significantly affect earnings

management.

Keywords: Initial Public Offerings (IPO), Earnings Management, Stock Offer

Value, Company Size, Company Age and Leverage.

PENDAHULUAN

Manajemen laba didefinisikan sebagai upaya manajer perusahaan untuk

mengintervensi atau mempengaruhi informasi-informasi dalam laporan keuangan

dengan tujuan untuk mengelabui stakeholder atau investor yang ingin mengetahui

kinerja dan kondisi perusahaan, sedangkan menurut Schipper (2000) sebagaimana

dikutip oleh Syahriana (2006), manajemen laba sebagai suatu intervensi dengan

maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan eksternal dengan sengaja

memperoleh beberapa keuntungan pribadi, hal tersebut dilakukan karena

perusahaan membutuhkan modal untuk kelangsungan berjalannya kegiatan.

Perusahaan membutuhkan modal untuk keperluan operasionalnya yang dilakukan

secara rutin. Hal ini dapat dipenuhi dengan menerbitkan saham dan menjualnya

kepada publik melalui penjualan kepada masyarakat (public offerins) dengan

Initial Public Offerings (IPO). IPO adalah mekanisme yang harus dilakukan

perusahaan saat melakukan penawaran saham pertama kalinya kepada khalayak

ramai di pasar perdana. Dalam melakukan IPO, perusahaan harus menerbitkan

prospektus sebelum melakukan listing di BEI. Informasi yang terdapat dalam

prospektus akan digunakan investor untuk pengambilan keputusan di bursa.

Informasi dalam prospektus memberikan gambaran tentang kondisi, prospek

ekonomi, rencana investasi, ramalan laba, dan deviden yang akan dijadikan dasar

dalam pembuatan keputusan. Penilaian investor terhadap kondisi dan prospek

perusahaan akan menentukan besarnya dana yang dapat diperoleh perusahaan dari

pasar modal.

Perusahaan yang melakukan IPO cenderung melakukan manajemen laba, hal ini

disebabkan informasi mengenai perusahaan yang belum go public relatif sulit

diperoleh oleh investor karena investor hanya mengandalkan informasi yang

terdapat dalam prospektus. Prospektus adalah dokumen yang berisikan informasi

tentang perusahaan penerbit sekuritas dan informasi lainnya yang berkaitan

dengan sekuritas yang ditawarkan. Prospektus berisi informasi keuangan dan non

keuangan. Informasi keuangan terdiri dari neraca (balance sheet), laporan laba

rugi (income statement), laporan arus kas (cash flow statement), dan penjelasan

atas laporan keuangan (notes of financial statement). Sedangkan informasi non

keuangan berisi informasi mengenai underwriter, auditor independen, konsultan

hukum, nilai penawaran saham, persentase saham yang ditawarkan, umur

perusahaan, dan informasi lain yang mendukung (DuCharme et al., 2000 dalam

Sulistiawati, 2006). Informasi dalam prospektus tersebut dibutuhkan investor

dalam proses pembuatan keputusan di pasar saham.

Selain itu IPO juga memberi celah bagi manajemen perusahaan untuk dapat

melakukan manajemen laba, terbukti dengan adanya penemuan atas penipuan di

balik skenario harga penawaran perdana (IPO) saham PT. Krakatau Steel (KS),

Pada hari Rabu 10 November 2010, PT KS (Persero) Tbk. resmi mencatatkan

sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kegiatan ini merupakan puncak dari

serangkaian proses pengalihan kepemilikan saham yang telah direncanakan PT

KS beberapa tahun terakhir. Harga saham PT KS telah ditetapkan sebesar Rp 850

persaham. Jumlah saham yang dilepas ke masyarakat sebanyak 3,155 miliar

saham atau setara dengan 20% dari keseluruhan saham. Perkiraan dana (kotor)

yang dapat diraih PT KS dari IPO atau penawaran umum perdana ini adalah

sebesar Rp 2,68 Triliun (Krakatau.steel.com, 11/11/2010, diakses 14 November,

2013). Baru satu sesi saja investor yang membeli saham Krakatau melalui Credit

Suisse sudah mengeruk untung besar. IPO (penawaran umum saham perdana) PT

Krakatau Steel merupakan perampokan melalui pasar modal (Republika.co.id,

12/11, diakses 14 November, 2013 ). Dari penemuan ini IPO tidak hanya

digunakan untuk mendapatkan dana untuk kelangsungan hidup perusahaan tetapi

untuk mengeruk dana dari penjualan saham hanya untuk manajemen perusahaan

yang melakukan IPO.

Minat investor untuk membeli efek perusahaan yang baru saja melakukan IPO

sering mengalami kesulitan. Kesulitan ini terjadi karena kurangnya pengetahuan

informasi mengenai perusahaan tersebut, hal ini memberi celah perusahaan untuk

melakukan manajemen laba yang cenderung menyesatkan investor. Informasi

yang dibutuhkan investor dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan

perusahaan tidak hanya informasi produk tetapi juga berbagai hal yang terkait

dengan kinerja perusahaan. Informasi mengenai perusahaan dapat diketahui pada

prospektus ketika perusahaan memutuskan untuk melakukan IPO. Informasi

mengenai kinerja keuangan suatu perusahaan sangat bermanfaat untuk berbagai

pihak seperti investor, kreditur, pemerintah, pihak bank, pihak manajemen

perusahaan, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Pihak manajemen

perusahaan berkepentingan dengan seluruh keadaan keuangan perusahaan karena

keadaan keuangan perusahaan yang akan dijadikan penilaian oleh pihak pemilik

perusahaan maupun para kreditur (Wardani dan Fitriati, 2010:91).

Adanya indikasi manajemen laba pada perusahaan publik di BEI juga

dikemukakan oleh Kiswara (1999, dalam Roudotunnisa, 2009), walaupun tidak

dapat menunjukkan bahwa ukuran perusahaan, jenis industri, dan jenis penanam

modal berhubungan dengan besarnya tingkat manajemen laba. Sedangkan

Sulistiawati (2006) mengevaluasi perusahaan manufaktur yang go public. Hasil

penelitian bahwa hanya leverage yang mempengaruhi manajemen laba.

Menurut Nasirwan (2002) informasi tersebut yaitu informasi akuntansi dan non

akuntansi yang berasal dari laporan keuangan, dan yang tidak terdapat dalam

laporan keuangan perusahaan. Informasi akuntansi meliputi financial leverage,

dan ukuran perusahaan (firm size), sedangkan informasi non akuntansi yaitu

meliputi umur perusahaan.

Melihat kenyataan semakin menariknya topik Initial Public Offerings (IPO) dan

manajemen laba bagi para peneliti akuntansi, khususnya, dan para pemerhati

manajemen, maka penulis mencoba mengungkapkan fenomena tersebut sehingga

penulis terdorong untuk mengambil judul Analisis Faktor-faktor yang

Berpengaruh Terhadap Earnings Management pada Perusahaan yang Melakukan

Initial Public Offering di Bursa Efek Indonesia.

LANDASAN TEORI

Agency Theory

Hubungan antara prinsipal dan agen dapat dijelaskan dengan teori keagenan,

Wolk at al. (2000) dalam Karsana dan Supriyadi (2004) menjelaskan bahwa teori

keagenan menyusun perusahaan sebagai nexus hubungan agensi dan memahami

perilaku organisasional melalui pengujian bagaimana pihak-pihak yang

berhubungan dengan agensi dalam perusahaan dapat memaksimalisasi utilitas

yang dimiliki.

Dalam perusahaan yang telah go public, agency relationship dicerminkan oleh

hubungan antara investor dan manajemen perusahaan, baik board of directors

maupun board of commisioners. Persoalannya adalah antara kedua belah pihak

tesebut seringkali terjadi perbedaan kepentingan. Perbedaan tersebut

mengakibatkan keputusan yang diambil oleh manajemen perusahaan kurang

mengakomodisir kepentingan pihak pemegang saham. Hal inilah yang sering

disebut agency problem (masalah keagenan) Lia Sari (2011).

Dalam manajemen keuangan, tujuan utama perusahaan adalah memaksimumkan

kemakmuran pemegang saham. Untuk itu maka manajer yang diangkat oleh

pemegang saham harus bertindak untuk kepentingan pemegang saham, tetapi

ternyata sering ada konflik antara manajer dan pemegang saham. Konflik ini

disebabkan karena adanya perbedaan kepentingan manajer dan pemegang saham.

Manajer perusahaan mempunyai kecendrungan untuk memperoleh keuntungan

yang sebesar-besarnya dengan biaya pihak lain.

Earnings Management (Manajemen Laba)

Earnings management adalah suatu konsep yang dilakukan perusahaan dalam

mengelola laporan keuangan supaya laporan keuangan tampak terlihat memiliki

kualitas (quality of financial reporting) (Suhendah, 2005). Laporan keuangan

yang paling sering dimanipulasi oleh perusahaan adalah laporan rugi laba.

Menurut Jumingan (2003) seperti yang dikutip oleh Suhendah (2005), earnings

management merupakan suatu proses yang disengaja, menurut standar akuntansi

keuangan untuk mengarahkan pelaporan laba pada tingkat tertentu. Yang

termasuk dalam kategori earnings management ialah:

1. Discretionary accrual

2. Income smoothing

3. Manipulasi alokasi pendapatan atau biaya.

4. Perubahan metode akuntansi dan struktur modal.

Earnings management (manajemen laba) memiliki cakupan yang lebih luas

daripada income smoothing (perataan laba), karena manajemen percaya bahwa

reaksi pasar didasarkan pada pengungkapan informasi akuntansi sehingga perilaku

laba merupakan aspek penentuan risiko pasar entitas usaha.

Initial Public Offering (IPO)

Permasalahan penting yang dihadapi oleh hampir semua perusahaan adalah

bagaimana mendapatkan modal guna mendukung kegiatan operasionalnya. Pada

perusahaan perseorangan, biasanya para penyedia modal hanya terdiri dari

beberapa investor. Penambahan dana misalnya dengan masuknya investor baru,

tentu tidak secara langsung berarti peningkatan likuiditas kepemilikan, selama

modal (saham) yang ada tidak bisa secara bebas diperjualbelikan. Dalam

perkembangannya, bila perusahaan menjadi lebih besar dan semakin

membutuhkan tambahan modal untuk memenuhi peningkatan aktivitas

operasionalnya, menjual saham pada investor perorangan merupakan salah satu

pilihan. Sekali saham perusahaan tersedia di pasar, likuiditas saham akan semakin

meningkat yang memungkinkan perusahaan untuk mengeluarkan saham baru lagi

dan mendapatkan tambahan modal dengan relatif lebih mudah dan berbiaya

rendah. Kondisi ini tentu saja lebih baik dibandingkan dengan bila harus

mengandalkan pemilik lama untuk menyuntikkan dana atau modal yang

diperlukan sebagaimana dapat kita temukan pada perusahaan perorangan. Menjual

saham ke pasar modal (go public) merupakan salah satu alternatif sumber

pendanaan yang populer.

Initial Public Offering adalah mekanisme yang harus dilakukan perusahaan saat

melakukan penawaran saham pertama kalinya kepada khalayak ramai di pasar

perdana. Selain adanya biaya penawaran (floating fees) yang harus ditanggung,

sebagian orang masih menganggap bahwa IPO masih merupakan salah satu cara

termudah dan termurah bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan dana sebagai

konsekuensi dari semakin besarnya atau berkembangnya perusahaan serta

meningkatkan kebutuhan dana untuk investasi. Dalam IPO ini emiten

menawarkan sahamnya kepada investor yang berminat membelinya. Penawaran di

pasar perdana ini mempunyai tenggang waktu tertentu yang biasa disebut masa

penawaran perdana saham.

Pengembangan Hipotesis Penelitian

Praktik manajemen laba di sekitar IPO

Asimetri informasi antara pihak manajemen dan investor potensial sangat tinggi

ketika perusahaan belum melakukan IPO. Hal ini disebabkan karena informasi

perusahaan yang belum go public relatif sulit diperoleh investor. Ketika

perusahaan melakukan IPO, investor potensial hanya mengandalkan informasi

dari prospektus. Menurut Rao (1993) dalam Saiful (2002) tidak terdapat media

lain yang menyediakan informasi perusahaan yang sedang melakukan IPO,

kecuali prospektus yang disyaratkan Pengawas Pasar Modal. Kelangkaan

informasi perusahaan sebelum IPO, memaksa investor potensial hanya

mengandalkan prospektus sebagai sumber informasi mengenai perusahaan.

Padahal prospektus hanya menyediakan laporan keuangan selama tiga tahun

sebelum IPO dan informasi non keuangan (Teoh et al. 1998a). Kondisi ini

memberikan kesempatan bagi manajemen untuk melakukan manajemen laba

supaya meningkatkan kemakmurannya, yaitu mengharapkan harga saham akan

tinggi pada saat IPO.

H1: Terdapat praktik manajemen laba pada Perusahaan sebelum dan

sesudah IPO

Nilai penawaran saham (proceeds) terhadap manajemen laba

Pada saat perusahaan menawarkan saham baru, maka terdapat aliran kas masuk

dari proceeds (penerimaan dari pengeluaran saham). Proceeds menunjukkan

besarnya ukuran penawaran saham pada saat IPO. Melalui IPO diharapkan akan

menyebabkan membaiknya prospek perusahaan yang terjadi karena ekspansi atau

investasi yang akan dilakukan atas hasil IPO. Kim et al (1995, dalam Saiful, 2002)

menyatakan bahwa proceeds merupakan proksi ketidakpastian yang dihubungkan

dengan harga saham. Penetapan pada harga penawaran (offering price) berapa

saham suatu perusahaan yang untuk pertama kalinya menawarkan saham ke

publik (go public) merupakan hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Ketepatan

harga penawaran dalam pasar perdana akan memiliki konsekuensi langsung

terhadap tingkat kesejahteraan pemilik lama (issuers). Pihak issuers tentu

mengharapkan harga jual yang tinggi, karena dengan harga jual yang tinggi

penerimaan dari hasil penawaran (proceeds) akan tinggi pula, yang berarti tingkat

kesejahteraan (wealth) mereka akan semakin baik. Keterbatasan informasi tentang

perusahaan yang akan go public menyebabkan tidak ada dasar yang relevan

tentang bagaimana harga penawaran ditetapkan (Gumanti, 2001). Oleh karena itu,

diduga bahwa proceeds berhubungan positif dengan harga pasar saham karena

semakin tinggi proceeds, semakin rendah ketidakpastian yang berarti semakin

tinggi harga saham. Dengan demikian, semakin tinggi proceeds semakin kecil

manajer melakukan manajemen laba. Atas dasar pertimbangan tersebut,

dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H2: Nilai penawaran saham (proceeds) berpengaruh negatif terhadap

manajemen laba

Ukuran perusahaan terhadap manajemen laba

Ukuran perusahaan dijadikan proksi tingkat ketidakpastian, karena perusahaan

yang berskala besar umumnya lebih dikenal oleh masyarakat daripada perusahaan

yang berskala kecil (Lee et. al, 1996). Karena lebih dikenal maka informasi

mengenai perusahaan besar lebih banyak dibandingkan perusahaan berukuran

kecil. Bila informasi yang berada di tangan investor banyak, maka tingkat

ketidakpastian yang akan dihadapi oleh calon investor mengenai masa depan

perusahaan emiten dapat diperkecil. Oleh karena itu investor bisa mengambil

keputusan lebih tepat dibandingkan dengan pengambilan keputusan tanpa

informasi. Dengan demikian perusahaan yang berskala besar mempunyai tingkat

earnings management yang lebih rendah daripada perusahaan berskala kecil.

Sedangkan perusahaan berskala kecil penyebaran informasi mengenai

informasinya belum begitu banyak. Karena untuk mendapatkan informasi ini

dengan biaya maka perusahaan berskala kecil mempunyai tingkat earnings

management yang lebih tinggi. Atas dasar pertimbangan tersebut, dirumuskan

hipotesis sebagai berikut:

H3: Ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba

Umur perusahaan terhadap manajemen laba

Umur perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan dapat bertahan hidup dan

menjalankan operasionalnya. Dalam kondisi normal, perusahaan yang telah lama

berdiri akan mempunyai publikasi perusahaan yang lebih banyak dibandingkan

dengan perusahaan yang masih baru. Dengan demikian, calon investor tidak perlu

mengeluarkan biaya yang lebih banyak untuk memperoleh informasi tentang

perusahaan yang melakukan IPO tersebut. Jadi perusahaan yang telah lama berdiri

mempunyai tingkat manajemen laba yang lebih rendah jika dibandingkan dengan

perusahaan yang masih baru. Atas dasar pertimbangan tersebut, dirumuskan

hipotesis sebagai berikut:

H4: Umur perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba

Leverage terhadap manajemen laba

Besarnya tingkat hutang perusahaan (leverage) dapat mempengaruhi tindakan

manajemen laba. Husnan (2005) menyatakan bahwa leverage yang tinggi

disebabkan kesalahan manajemen dalam mengelola keuangan perusahaan atau

penerapan strategi yang kurang tepat dari pihak manajemen. Oleh karena

kurangnya pengawasan yang menyebabkan leverage yang tinggi, juga akan

meningkatkan tindakan opportunistic seperti manajemen laba untuk

mempertahankan kinerjanya di mata pemegang saham dan publik.

Sweeney (dalam Yendrawati, 2004) manajemen perusahaan melakukan

manajemen laba dengan tujuan untuk meningkatkan laba bersih perusahaan

sebelum ditemukan pelanggaran perjanjian hutang. Sehingga, berdasarkan

penelitian ini leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Dengan

demikian maka hipotesis yang dapat dikembangkan yaitu :

H5: Leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba

Penelitian Terdahulu

Hayati (2007) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Informasi Akuntansi

dan Non Akuntansi Terhadap Kecenderungan Underpricing: Studi Pada

Perusahaan yang Melakukan Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Jakarta.

Adapun faktor-faktor yang digunakan adalah Return On Assets (ROA), Financial

Leverage, Firm Size, Reputasi Underwriter, Reputasi Auditor, Umur Perusahaan.

Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling methode. Dari 57

perusahaan yang melakukan IPO selama 2001-2005 hanya 41 perusahaan yang

dijadikan sampel karena memenuhi kriteria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

hanya ada satu dari enam variabel tersebut yaitu ROA, financial leverage, firm

size, reputasi underwriter, reputasi auditor, dan umur perusahaan yang

berpengaruh terhadap underpricing yaitu variabel ukuran perusahaan (firm size)

yang temasuk informasi akuntansi. Sedangkan informasi lain yang digunakan

dalam penelitian ini tidak ada yang berpengaruh terhadap underpricing, selain

ukuran perusahaan. Hal ini disebabkan karena investor yang hanya melihat dari

besaran aset yang dimiliki oleh perusahaan.

Novalinda (2007) dalam Umbara (2008) melakukan penelitian dengan judul

Earnings Management dan Faktor Faktor yang Mempengaruhinya Pada

Perusahaan Manufaktur yang Melakukan IPO Di Bursa Efek Jakarta Tahun 2001

2004, kesimpulan yang didapat adalah terjadi praktek earnings management

pada perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Jakarta.

Widyaningdyah (2004), mengevaluasi perusahaan pada industri manufaktur dan

industri lain selain jasa dan perbankan yang melakukan IPO tahun 1994 sampai

dengan 1997. Dari penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa hanya

leverage yang berpengaruh terhadap manajemen laba, sedangkan faktor-faktor

lainnya, yaitu reputasi auditor, jumlah dewan direksi, dan persentanse saham yang

ditawarkan kepada publik saat IPO tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang pada tahun 2007-

2012 melakukan Initial Public Offering (IPO). Dalam penelitian ini perusahaan

yang menjadi sampel dipilih berdasarkan Purposive Sampling (kriteria yang

dikehendaki). Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan yang pada tahun 2007-2012 melakukan Initial Public Offering

(IPO).

2. Perusahaan yang mempunyai informasi laporan keuangan lengkap

sebelum melakukan Initial Public Offering (IPO).

3. Perusahaan yang mempunyai informasi laporan keuangan lengkap sesudah

melakukan Initial Public Offering (IPO).

Data penelitian yang digunakan data earnings management 1tahun sebelum dan 1

tahun setelah IPO. Jika IPO dilakukan pada tahun 2007 maka data earnings

management akan ditelusuri pada tahun 2006 (sebelum IPO) dan tahun 2008

(sesudah IPO).

Dalam penelitian ini penulis menggunakan data sekunder, karena data diperoleh

secara tidak langsung atau melalui media perantara. Data penelitian didapat dari

website pasar modal (www.idx.co.id) dan situs perusahaan yang bersangkutan,

kinerja atau ringkasan saham didapat melalui situs yahoo finance. Apabila dari

website pasar modal tersebut tidak terdapat laporan keuangan yang dibutuhkan

(sebelum go public), maka dilakukan pencarian melalui Pusat Informasi Pasar

Modal (PIPM), yang beralamat di Jalan Jendral Sudirman No. 5D, Bandar

Lampung.

Operasional Variabel Penelitian

Variabel earnings management

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah earnings management. Manajemen

laba diukur dengan menggunakan Discretionary Accruals (DA), jika pada suatu

http://www.idx.co.id/

kondisi di mana pihak manajemen ternyata tidak berhasil mencapai target laba

yang ditentukan, manajemen termotivasi untuk memperlihatkan kinerja yang baik

dalam menghasilkan nilai atau keuntungan maksimal bagi perusahaan, oleh sebab

itu discretionary accrual digunakan untuk mengukur manajemen laba. dengan

menggunakan Modified Jones Model karena berdasar Dechow et al. (1995, dalam

Saiful, 2002) model ini lebih baik dibanding model Jones standar dalam

mengukur kasus manipulasi pendapatan. Model ini mengurangkan

nondiscretionary accruals terhadap total accruals sehingga diperoleh

discretionary accruals. Discretionary accruals merupakan komponen akrual yang

dapat diatur dan direkayasa sesuai dengan kebijakan (discretion) manajerial,

misalnya pada akhir tahun buku perusahaaan mengetahui bahwa suatu piutang

tertentu tidak dapat ditagih, perusahaan dapat melakukan pencatatan kapan

piutang tersebut dihapuskan, pada periode buku sekarang atau pada tahun buku

berikutnya; perubahan biaya kerugian piutang yang disebabkan oleh perubahan

kebijakan akuntansi yang dilakukan oleh manajemen dalam penentuan biaya

kerugian piutang dapat dijadikan contoh discretionary accruals.

Variabel independen

1. Nilai penawaran saham (proceeds)

Variabel ini diukur dengan nilai penawaran saham perusahaan pada saat

melakukan IPO. Nilai penawaran saham ini dapat dihitung dengan harga

penawaran (offering price) dikalikan dengan jumlah lembar saham yang

diterbitkan (Christy et.al, 1996, dalam Fransiska, 2007). Nilai penawaran saham

yang digunakan adalah nilai penawaran saham yang telah dibagi dengan nilai

ekuitas perusahaan. Dikarenakan nilai penawaran saham (proceeds) terlalu besar

dibandingkan dengan variabel lain, maka disederhanakan kedalam bentuk

logaritma natural.

2. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecil

perusahaan menurut berbagai cara, antara lain: total aktiva, nilai pasar saham, dan

lain-lain. Pada dasarnya ukuran perusahaan hanya terbagi dalam tiga kategori

yaitu perusahaan besar (large firm), perusahaan menengah (medium size), dan

perusahaan kecil (small firm). Penentuan ukuran perusahaan ini didasarkan

kepada total aset perusahaan (Machfoedz, 1994, dalam Fransiska, 2007).

3. Umur Perusahaan

Umur perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan dapat bertahan hidup dan

menjalankan operasionalnya. Dalam kondisi normal, perusahaan yang telah lama

berdiri akan mempunyai publikasi perusahaan yang lebih banyak dibandingkan

perusahaan yang masih baru. Umur perusahaan dihitung mulai perusahaan

didirikan berdasarkan akte sampai dengan perusahaan melakukan IPO. Umur

perusahaan diukur dalam skala bulanan.

4. Leverage

Merupakan besarnya hutang yang digunakan untuk membiayai operasinya.

Leverage merupakan rasio yang menggambarkan hutang. Leverage diukur dengan

membandingkan total hutang dengan total aset (Fahmi, 2012).

Metode Analisis Data

Independent Sample T Test digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya

perbedaan rata-rata antara dua kelompok sampel yang tidak berhubungan. Jika ada

perbedaan, rata-rata manakah yang lebih tinggi. Data yang digunakan biasanya

berskala interval atau rasio. Ini sama halnya dengan between-subjects tests yang

membandingkan mean dari dua sampel untuk menentukan apakah mean berbeda

secara signifikan. Yang mana masing-masing sampel diberikan kasus atau kondisi

yang berbeda dan komposisi satu sampe; tidak dipengaruhi oleh komposisi sampel

lainnya dalam penelitian ini yaitu manajemen laba sebelum dan sesudah IPO.

Pengujian Normalitas Data Sampel

Dalam penelitian ini, digunakan uji statistik Kolmogorov-Smirnov (K-S).

Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan software statistik SPSS 17 dengan

keputusan, apabila nilai signifikansi Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari 5%,

maka data berdistribusi normal. Apabila nilai signifikansi Kolmogorov-Smirnov

lebih kecil dari 5%, maka data tidak berdistribusi normal.

Pengujian Hipotesis

Uji Independen Sampel T-Test

Independen sampel T test atau uji beda 2 rata-rata digunakan untuk menguji dua

rata-rata pada dua kelompok data yang independen. Pengujian hipotesis dalam

penelitian ini menggunakan uji independent sample t-test dengan tingkat

signifikan 0,05 yang dibantu dengan program SPSS ver 17. Independent t-test

sample digunakan untuk menguji apakah terdapat perbedaan reaksi pasar antara

perusahaan yang melakukan perataan laba dengan perusahaan yang tidak

melakukan perataan laba, serta untuk menguji apakah terdapat perbedaan risiko

investasi antara perusahaan yang melakukan perata laba dengan perusahaan yang

tidak melakukan perata laba.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk memberikan informasi

mengenai karakteristik variabel-variabel dalam penelitian, antara lain minimum,

maksimum, rata-rata, dan standar deviasi. Hasil analisis deskriptif disajikan dalam

tabel berikut:

Tabel 4.1

Statistik Deskriptif Variabel Penelitian

Nilai minimum (maksimum) untuk manajemen laba sebelum IPO adalah -0,32

(0,45), dan rata-rata (deviasi standar) manajemen laba sebelum IPO adalah 0,1381

Descriptive Statistics

61 -.32 .45 .1382 .12933

61 -2.66 .31 -.0229 .35802

61 5.07 18.62 13.5644 1.78292

61 13.30 475.30 177.4164 112.09793

61 10.46 16.86 13.6971 1.46431

61 .02 3.33 .7397 .63735

61

Sebelum_Ipo

Sesudah_Ipo

Proceeds

Size

Umur

DER

Valid N (listwise)

N Minimum Maximum Mean Std. Dev iation

(0,12933). Nilai minimum (maksimum) untuk manajemen laba sesudah IPO

adalah -2,66 (0,31), dan rata-rata (deviasi standar) manajemen laba sesudah IPO

adalah- 0,0229 (0,35802). Nilai minimum (maksimum) untuk proceeds adalah

5,07 (18,62), dan rata-rata (deviasi standar) proceeds adalah 13,5644 (2,49393).

Nilai minimum (maksimum) untuk ukuran perusahaan adalah 13,30 (475,30), dan

rata-rata (deviasi standar) ukuran adalah 177,4164 (112,09793). Nilai minimum

(maksimum) untuk umur adalah 7,39 (19,17), dan rata-rata (deviasi standar) umur

adalah 13,66960 (1,79611). Nilai minimum (maksimum) untuk DER adalah 0,02

(3,33), dan rata-rata (deviasi standar) DER adalah 0,7397 (0,63735).

Praktik Manajemen Laba Sebelum dan Sesudah IPO

Manajemen laba diukur dengan menggunakan Discretionary Accruals (DA),

Proksi tersebut digunakan untuk mengetahui besarnya akrual yang diskresioner

(DA), karena manajemen laba terjadi apabila nilai DA > 0. Adapun pengujian

nilai DA dilakukan dengan pendekatan nilai rata-rata manajemen laba dari

keseluruhan perusahaan yang menjadi sampel penelitian. untuk pengujian

hipotesis 1 dilakukan analisis independent sample T Test, berikut hasil pengujian

dengan menggunakan independent sample T Test:

Tabel 4.3.

Hasil Perhitungan Rata-rata Discretionary Accruals (DA)

EM (DA) Nilai Keterangan

sebelum IPO 0.138329 Terjadi manajemen Laba

setelah IPO -0.022926 Tidak terjadi manajemen Laba Sumber: Hasil Perhitungan, 2014 (Lampiran 7)

Hasil perhitungan menunjukan bahwa nilai Discretionary Accruals (DA) sebelum

IPO lebih besar dari 0 (DA > 0), sedangkan untuk sesudah IPO (DA < 0) yang

berarti rata-rata perusahaan sampel penelitian tidak melakukan manajemen laba,

selanjutnya untuk menjawab pertanyaan apakah terdapat perbedaan nilai rata-rata

manajemen laba sebelum IPO dengan rata-rata nilai manajemen laba sesudah IPO,

dengan melihat nilai signifikansi dari output perhitungan independent sample T

Test yaitu sebesar 0,530 (lampiran 7) nilai tersebut lebih besar dari 0,05 yang

berarti tidak terdapat perbedaan nilai rata-rata manajemen laba sebelum IPO

dengan rata-rata nilai manajemen laba sesudah IPO. Selanjutnya untuk

memudahkan perhitungan maka perusahaan yang mempunyai nilai DA< 0 diberi

kode 0 (tidak melakukan praktik manajemen laba), dan bila nilai DA> 1 diberi

kode 1 (melakukan praktik manajemen laba). Berikut hasil perhitungan frekuensi

peruahaan yang melakukan manajemen laba dan tidak melakukan manajemen laba

baik sebelum IPO dan Sesudah IPO.

Tabel 4.4.

Hasil Perhitungan Frekuensi Perusahaan Melakukan Manajemen Laba

Keterangan

Melakukan

Manajemen Laba

Tidak Melakukan

Manajemen Laba

sebelum IPO 56 5

sesudah IPO 31 30

Jumlah 87 35 Sumber: Hasil Perhitungan, 2014 (Lampiran 6)

Tabel 4.4. menyajikan statistik frekuensi perusahaan yang melakukan manajemen

laba baik sebelum IPO dan sesudah IPO, dari 61 perusahaan yang menjadi sampel

terlihat jumlah perusahaan yang melakukan praktik manajemen laba sebanyak 87,

lebih banyak dari yang tidak melakukan praktik manajemen laba sebanyak 35,

hasil ini menyimpulkan bahwa perusahaan sampel penelitian sebagian besar

melakukan manajemen laba sebelum dan sesudah IPO. Hasil ini menyimpulkan

bahwa perusahaan sampel penelitian baik sebelum IPO maupun sesudah IPO tidak

selalu melakukan manajemen laba, dengan demikian hipotesis yang mengatakan

bahwa Terjadi praktik manajemen laba sebelum dan sesudah IPO pada

perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tidak sepenuhnya diterima.

Hasil penelitian ini merupakan sikap dari para manajer yang berusaha

mengantisipasi reaksi investor. Investor akan menyadari adanya manipulasi ini,

sehingga praktek manajemen laba tidak bisa lagi dilakukan dan menyebabkan

terjadinya penurunan kinerja saham perusahaan.

Uji Statistik t (uji t)

Berdasarkan perhitungan dapat dibuat persamaan regresi linier berganda sebagai

berikut:

Y = 0,036+0,011X1 -0.000 X2- 0,003X3 + 0,274X4

Hasil perhitungan regresi berganda pada lampiran 8 mempunyai makna sebagai

berikut:

1. Nilai konstanta bertanda positif sebesar 0,036 menyatakan bahwa jika

tidak ada kegiatan dari keempat variabel bebas tersebut yang

mempengaruhi manajemen laba sebelum IPO, maka manajemen laba

sebelum IPO adalah positif.

2. Koefisien regresi X1 bertanda positif sebesar 0,011 menyatakan bahwa

variabel proceeds memiliki pengaruh yang positif terhadap manajemen

laba sebelum IPO tetapi tidak signifikan karena mempunyai nilai

signifikan >0,05. Dengan demikian hipotesis yang berbunyi Nilai

penawaran saham (proceeds) berpengaruh positif terhadap manajemen

laba ditolak.

3. Koefisien regresi X2 bertanda negatif sebesar -0,000 menyatakan bahwa

variabel ukuran perusahaan (size), memiliki pengaruh yang negatif

terhadap manajemen laba sebelum IPO tetapi tidak signifikan karena

mempunyai nilai signifikan >0,05, dengan demikian hipotesis yang

berbunyi Ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen

laba ditolak.

4. Koefisien regresi X3 bertanda negatif sebesar - 0,003 menyatakan bahwa

variabel umur perusahaan, memiliki pengaruh yang negatif terhadap

manajemen laba sebelum IPO tetapi tidak signifikan karena mempunyai

nilai signifikan >0,05, dengan demikian hipotesis yang berbunyi Umur

perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba ditolak.

5. Koefisien regresi X4 bertanda positif sebesar 0,274 menyatakan bahwa

variabel leverage yang diproksikan dengan Debt Equity to Ratio, memiliki

pengaruh yang negatif terhadap manajemen laba sebelum IPO dan

signifikan karena mempunyai nilai signifikan

umur perusahaan, dan leverage terhadap manajamen laba perusahaan sebelum

IPO pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2012.

Berikut adalah penjelasan menyeluruh masing-masing uji hipotesis dalam

penelitian ini;

Manajemen Laba perusahaan sebelum IPO dan setelah IPO

Berdasarkan hasil pengujian praktik manajemen laba sebelum dan sesudah IPO

serta adanya perbedaan yang signifikan dari manajemen laba sebelum IPO dengan

manajemen laba setelah IPO. Hasil penelitian ini berlawanan hasil dengan

penelitian yang dilakukan Saiful (2002) yang menunjukkan bahwa dengan analisis

crosssectional manajemen laba dilakukan pada periode 2 tahun sebelum IPO, saat

IPO, dan 2 tahun setelah IPO. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sulistyanto dan

Prawoto (2003) menyatakan bahwa jika manajer bersikap oportunis maka

perusahaan issuer akan mengalami penurunan kinerja (underperformance) pasca

penawaran sebagai akibat manajer melakukan rekayasa keuangan. Sikap oportunis

ini bertujuan untuk menaikkan harapan investor terhadap kinerja perusahaan di

masa depan dan menaikkan harga penawaran, karena setelah IPO, investor sudah

mampu mengetahui bahwa terdapat praktek manajemen laba. Investor telah

menyadari adanya manipulasi ini, sehingga praktek manajemen laba tidak bisa

lagi dilakukan dan menyebabkan terjadinya penurunan kinerja saham perusahaan.

Nilai Penawaran Saham (Proceeds) Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian nilai penawaran saham terhadap manajemen laba,

dapat diketahui bahwa variabel nilai penawaran saham tidak berpengaruh terhadap

manajemen laba oleh karena itu, hipotesis kedua yang menyatakan bahwa Nilai

penawaran saham berpengaruh negatif terhadap manajemen laba ditolak.

Proceeds menunjukkan besarnya ukuran penawaran saham pada saat IPO, melalui

IPO diharapkan akan menyebabkan membaiknya prospek perusahaan yang terjadi

karena ekspansi atau investasi yang akan dilakukan atas hasil IPO. Hasil yang

tidak berpengaruh nilai penawaran saham terhadap manajemen laba dikarenakan

proceeds merupakan proksi ketidakpastian yang dihubungkan dengan harga

saham yang disebabkan keterbatasan informasi tentang perusahaan yang akan go

public sehingga menyebabkan tidak ada dasar yang relevan tentang bagaimana

harga penawaran ditetapkan.

4.4.3 Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian ukuran perusahaan terhadap manajemen laba, dapat

diketahui bahwa variabel ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap

manajemen laba. Oleh karena itu hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa

Ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba ditolak.

Ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecil

perusahaan, karena lebih dikenal, maka informasi mengenai perusahaan besar

lebih banyak dibandingkan perusahaan berukuran kecil. Bila informasi yang

berada di tangan investor banyak, maka tingkat ketidakpastian yang akan dihadapi

oleh calon investor mengenai masa depan perusahaan emiten dapat diperkecil

apabila informasi yang diperoleh banyak. Terdapat dua pandangan tentang bentuk

hubungan ukuran perusahaan dan manajemen laba. Pandangan pertama

menyatakan bahwa ukuran perusahaan memiliki hubungan positif dengan

manajemen laba, karena perusahaan besar memiliki aktivitas operasional yang

lebih kompleks dibandingkan perusahaan kecil, sehingga lebih memungkinkan

untuk melakukan manajemen laba. Pandangan kedua menyatakan ukuran

perusahaan memiliki hubungan negatif dengan manajemen laba. Perusahaan yang

berukuran besar memiliki kecenderungan melakukan tindakan manajemen laba

yang lebih kecil dibanding perusahaan yang berukuran kecil, sedangkan

perusahaan berukuran kecil memiliki kecenderungan melakukan tindakan

manajemen laba yang lebih besar. Hal ini dikarenakan perusahaan besar

dipandang lebih kritis oleh pemegang saham dan pihak luar sehingga perusahaan

besar mendapatkan tekanan yang lebih kuat untuk menyajikan pelaporan

keuangan yang credible.

Umur Perusahaan Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian umur perusahaan yang diproksikan dengan mulai

perusahaan didirikan berdasarkan akte sampai dengan perusahaan melakukan IPO

dengan memakai skala bulanan terhadap manajemen laba yang diukur dengan

dengan menggunakan Discretionary Accruals, dapat diketahui bahwa variabel

umur perusahaan tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Oleh karena itu

hipotesis keempat yang menyatakan bahwa umur perusahaan berpengaruh

negatif terhadap manajemen laba ditolak. Hasil penelitian ini mempunyai

kesamaan hasil dengan penelitian Yendrawati (2004) yang membuktikan bahwa

umur perusahaan saat IPO tidak mempengaruhi manajemen laba. Umur

perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan dapat bertahan hidup dan

menjalankan operasionalnya. Dalam kondisi normal, perusahaan yang telah lama

berdiri akan mempunyai publikasi perusahaan yang lebih banyak dibandingkan

dengan perusahaan yang masih baru. Hasil pengujian menunjukkan bahwa

perusahaan yang usianya masih muda tidak selalu berusaha untuk mendapatkan

lebih banyak perhatian dari investor sehingga lebih banyak melakukan tindakan

manajemen laba dibandingkan dengan perusahaan yang usianya lebih lama, hasil

penelitian membuktikan bahwa umur perusahaan tidak berpengaruh terhadap

manajemen laba, ini membuktikan bahwa tidak berarti dengan lamanya

perusahaan berdiri perusahaan tersebut dikatakan baik untuk berinvestasi.

Leverage Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian leverage terhadap manajemen laba, dapat diketahui

bahwa variabel leverage berpengaruh terhadap manajemen laba oleh karena itu,

hipotesis kelima yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap

manajemen laba diterima. Leverage ratio atau disebut juga dengan rasio

solvabilitas, rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban-

kewajibannya. Besarnya tingkat hutang perusahaan (leverage) dapat

mempengaruhi tindakan manajemen laba. Menurut Husnan (2005) menyatakan

bahwa leverage yang tinggi yang disebabkan kesalahan manajemen dalam

mengelola keuangan perusahaan atau penerapan strategi yang kurang tepat dari

pihak manajemen. Karena kurangnya pengawasan yang menyebabkan leverage

yang tinggi, juga akan meningkatkan tindakan opportunistic seperti manajemen

laba untuk mempertahankan kinerjanya di mata pemegang saham dan publik.

Hasil penelitian ini mempunyai kesamaan hasil dengan Yendrawati (2004) yang

membuktikan bahwa hanya variabel leverage mempengaruhi manajemen laba.

Hasil yang berpengaruh juga membuktikan pernyataan Sweeney (dalam

Yendrawati, 2004) bahwa manajemen perusahaan melakukan manajemen laba

dengan tujuan untuk meningkatkan laba bersih perusahaan sebelum ditemukan

pelanggaran perjanjian hutang.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada pembahasan, maka penulis menarik beberapa

kesimpulan bahwa, hasil perhitungan menunjukan bahwa nilai Discretionary

Accruals (DA) sebelum IPO lebih besar dari 0 (DA > 0), sedangkan untuk

sesudah IPO (DA < 0) yang berarti rata-rata perusahaan sampel penelitian tidak

melakukan manajemen laba, Hasil ini menyimpulkan bahwa perusahaan sampel

penelitian baik sebelum IPO maupun sesudah IPO tidak selalu melakukan

manajemen laba, dengan demikian hipotesis yang mengatakan bahwa Terjadi

praktik manajemen laba sebelum dan sesudah IPO pada perusahaan yang terdaftar

di Bursa Efek Indonesia tidak sepenuhnya diterima.

Selain itu hasil pengujian dengan regresi berganda membuktikan bahwa dari

keseluruhan variabel bebas yang diduga berpengaruh terhadap manajemen laba,

hanya variabel leverage yang berpengaruh terhadap manajemen laba, sedangkan

nilai penawaran saham, ukuran perusahaan dan umur perusahaan tidak

berpengaruh terhadap manajemen laba.

Hasil yang tidak berpengaruh nilai penawaran saham terhadap manajemen laba

dikarenakan proceeds merupakan proksi ketidakpastian yang dihubungkan dengan

harga saham yang disebabkan keterbatasan informasi tentang perusahaan yang

akan go public sehingga menyebabkan tidak ada dasar yang relevan tentang

bagaimana harga penawaran ditetapkan. Hal tersebut juga ditunjukkan oleh

variabel umur perusahaan bahwa perusahaan yang usianya masih muda tidak

selalu berusaha untuk mendapatkan lebih banyak perhatian dari investor sehingga

lebih banyak melakukan tindakan manajemen laba dibandingkan dengan

perusahaan yang usianya lebih lama, meskipun umur perusahaan menunjukkan

kemampuan perusahaan dapat bertahan hidup dan banyaknya informasi yang

dapat diserap publik, tidak berarti dengan lamanya perusahaan berdiri perusahaan

tersebut dikatakan baik untuk berinvestasi.

Keterbatasan dalam penelitian

1. Keterbatasan Penelitian

a. Populasi penelitian ini hanya terbatas pada perusahaan yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia Periode 2007-2012.

b. Penelitian ini hanya menguji dari sisi informasi akuntansi pada saat IPO

terhadap manajemen laba bukan dari sisi faktor-faktor manajemen melakukan

manajemen laba.

2. Saran

a. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan lebih banyak variabel

lain, seperti variabel-variabel baru yang diidentifikasi sebagai variabel

pendeteksi manajemen laba.

b. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas periode penelitian

sehingga bisa menambah perusahaan yang menjadi sampel penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Agriani, Novia. 2011. Analisis Reaksi Pasar Sebelum dan Sesudah Adanya

Pengumuman Dividen. Skripsi S-1. FE Universitas Lampung.

Aurora, Sitepu Khairin. 2011. Pengaruh Nilai Tukar dan Suku Bunga Terhadap

Harga Saham Pada Industri Tekstil di Bursa Efek Indonesia. Skripsi,

Medan. Universitas Sumatera Utara.

Baridwan, Zaki. 2007. Intermediate Accounting. Millenium Edition. BPFE Press.

Yogyakarta.

Brigham dan Houston. 2009. Fundamentals of Financial Management (Dasar-

Dasar Manajemen Keuangan). Buku 1. Edisi 10. Jakarta : Salemba Empat.

Ekawati, Erni. 2006. Manajemen Laba pada Penawaran Saham Perdana di Bursa

Efek Jakarta: Analisis dengan Model Healy. Jurnal Riset Akuntansi dan

Keuangan, Vol. 2, No. 1, Februari 2006, Hal 12-26.

Fajria, Riahi. 2010. Teori Akuntansi. Salemba Empat. Jakarta

Fransiska, Yulia. 2007. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesempatan

investasi pada perusahaan yang melakukan IPO. Skripsi, Medan.

Universitas Sumatera Utara.

FCGI, 2001. Corporate Governance: Tata Kelola Perusahaan. Edisi Ketiga,

Jakarta.

Ghozali dan Chariri, 2007. Teori Akuntansi. Semarang: Badan Penerbit Undip.

Ghozali, Imam. 2009. Aplikasi Analisis Multivivariate dengan Program SPSS.

Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.

Gumanti, Tatang Ari. 2009. Earnings Management dalam Penawaran Saham

Perdana di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Riset Indonesia, 4 (2), pp. 165-183.

Harahap,S.S, 2009. Teori Akuntansi Edisi Revisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Haryudanto, Danang. 2011. Pengaruh Manajemen Laba terhadap Tingkat

Pelaporan Keuangan Pada Perusahaan Publik di Indonesia. Skripsi tidak

dipublikasikan. Program Sarjana Fakultas Ekonomi, Universitas

Diponegoro, Semarang.

Hayati, Aiza. 2007, Pengaruh Informasi Akuntansi dan Non Akuntansi terhadap

Underpricing Pada Perusahaan yang Melakukan IPO di BEJ, SNA VI, IAI,

Hal 20-44

Healy, P.M. dan Palepu, K.G. 2003. The Effect of Firm Financial Disclosure

Strategies on Stock Prices. American Accounting Association, Accounting

Horizons. Vol. 7 No. 1 (Maret): 1-11.

Husnan, Suad, 2005. Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Edisi

Ketiga, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.

Ikatan Akuntansi Indonesia. 2009. ED PSAK No. 01 (Revisi 2009). Salemba

Empat. Jakarta.

Jogiyanto. 2000. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Kedua. BPFE.

Yogyakarta

Joni dan Jogiyanto H. M. 2009. Hubungan Manajemen Laba Sebelum IPO dan

Return Saham dengan Kecerdasan Investor sebagai Variabel Pemoderasi.

Jurnal Riset Akuntansi Indonesia 12(1), pp. 51-67.

Kiswara, Endang. 1999. Indikasi Keberadaan Unsur Manajemen Laba (Earnings

Management) dalam Laporan Keuangan Perusahaan Publik. Thesis S2

Akuntansi UGM, Yogyakarta.

Munawir, S, 2008. Analisa Laporan Keuangan Lanjutan. Liberty Yogyakarta.

Nasuition, Widiatmojo. 2010. Cara Sehat Investasi di Pasar Modal. Edisi 2.

Yayasan MPU Ajar Artha. Jakarta.

Ramadhan, Ardiansyah. 2011. Faktor- Faktor Penentu Kualitas Pelaporan

Keuangan dan Pengaruhnya Terhadap Efisiensi Investasi. Skripsi

Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta.

Sabar Warsini. 2004. Draf Buku Teks Manajemen Keuangan. Jakarta: Dirjen

Pendidikan Tinggi.

Saiful, Ali. 2002. Hubungan Manajemen Laba (Earning Management) dengan

Kinerja Operasi dan Return Saham disekitar IPO, Simposium Nasional

Akuntansi 5, Semarang, 5-6 September 2002.

Schipper, Catherine. 2000, Earnings management through real activities

manipulation, Journal of Accounting and Economics 42, p.335370.

Scott, W., R. 2003. Financial Accounting Theory. Toronto Canada: Prentice-Hall.

Setiawati, Lilis. 2002, Manajemen Laba dan IPO di Bursa Efek Jakarta,

Simposium Nasional Akuntansi 5. Semarang 5-6 September 2002, Hal: 112-

125.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV. Alfabeta.

Sunariyah, 2006, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal,Edisi Kelima,Penerbit UPP

STIM YKPN

Sutrisno. 2002. Studi Manajemen Laba (Earnings Management) Evaluasi

Pandangan Profesi Akuntansi, Pembentukan dan Motivasinya. KOMPAK.

No, 5 Mei, hal 158179.

Syahriana, Nani, 2006.Analisis Perataan Laba dan Faktor-faktor yang

Mempengaruhi pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta (2000-

2004), Skripsi UII, tidak dipublikasikan.

Ujiyantho, Muh. Arif dan Pramuka, B. A. 2007. Mekanisme Corporate

Governance, Manajemen Laba, dan Kinerja Keuangan. Prosiding

Simposium Nasional Akuntansi 10. Makassar.

Umbara, Christian Aditya. 2008. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Underpricing Pada Saat Initial Public Offerings (IPO). Skripsi Ekonomi Strata-

1. Universitas Diponegoro. Semarang.

Widyaningdyah. 2004. Analisis Faktor yang Berpengaruh terhadap Earnings

Management pada Perusahaan Go Public di Indonesia. Jurnal Akuntansi dan

Keuangan. Vol 03. No. 02. November 2004. hal. 89-101

Yendrawati, Reni.2004. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Manajemen

Laba pada Perusahaan Going Publik di Indonesia, Jurnal Aplikasi Bisnis, Vol.

5, No. 7, November 2004, Hal 576-592.

Zahra, S.A., dan S. R. Das (2005), Innovation Strategy and Financial

Performance in manufacturing companies: An empirical Study. Production

and Operations Management 2 (I) (Winter) : 15-37

Zuhroh dan Sukmawati. 2003. Analisis Pengaruh Luas Pengungkapan Sosial

dalam Laporan Tahunan Perusahaan Terhadap Reaksi Investor. Makalah

Disajikan pada Simposium Nasional Akuntansi (SNA) VI. Surabaya, 16-17

Oktober 2003.

____www.google.co.id

___________,www.idx.co.id

____________.www.ksei.co.id

______________,www.yahoofinence.com