16
ABORSI 1. Pengertian Aborsi dan Monstrual Regulation Menurut Hukum di Indonesia Aborsi secara umum adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk hidup diluar kandungan. Secara lebih spesifik ensiklopedia Indonesia memberikan pengertian aborsi sebagai berikut : “Pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi 28 minggu atau sebelum janin mencapai berat 1.000 gram. Definisi lain menyatakan aborsi ialah pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Aborsi merupakan suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh. Metode yang dipakai untuk aborsi biasanya ialah : 1. Curatage dan Dilatage (C & D) 1

ABORSI

Embed Size (px)

Citation preview

ABORSI

ABORSI

1. Pengertian Aborsi dan Monstrual Regulation Menurut Hukum di Indonesia

Aborsi secara umum adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk hidup diluar kandungan.

Secara lebih spesifik ensiklopedia Indonesia memberikan pengertian aborsi sebagai berikut : Pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi 28 minggu atau sebelum janin mencapai berat 1.000 gram. Definisi lain menyatakan aborsi ialah pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Aborsi merupakan suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh.

Metode yang dipakai untuk aborsi biasanya ialah :

1. Curatage dan Dilatage (C & D)

2. Dengan alat khusus, mulut rahim dilebarkan kemudian janin dikiret (di-curet) dengan alat seperti sendok kecil.

3. Aspirasi, yakni penyedotan isi rahim dengan pompa kecil.

4. Hysterotomi (melalui operasi).

Dalam dunia kedokteran dikenal 3 macam aborsi, yaitu :

1. Aborsi spontan/alamiah ialah aborsi yang tidak disengaja. Aborsi spontan bisa terjadi karena penyakit syphilis, kecelakaan dan sebagainya.

2. Aborsi buatan/sengaja/abortus provocatus criminalis.

Aborsi yang kedua ini ada 2 macam ialah :

a. Abortus artificialis therapicus, yakni aborsi yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis, misalnya jika kehamilan diteruskan bisa membahayakan jiwa si calon ibu, karena misalnya penyakit-penyakit yang berat, antara lain TBC yang berat dan penyakit ginjal yang berat.

b. Abortus provocatus criminalis ialah aborsi yang dilakukan tanpa dasar indikasi medis. Misalnya aborsi yang dilakukan untuk meniadakan hasil hubungan seks diluar perkawinan atau untuk mengakhiri kehamilan yang tidak dikehendaki.

Menstrual regulation secara harfiah artinya pengatutan menstruasi/datang bulan/haid, tetapi dalam praktek menstrual regulation ini dilaksanakan terhadap wanita yang merasa terlambat waktu menstruasi dan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratoris ternyata positif dan mulai mengandung.

Maka ia minta dibereskan janinya itu. Maka jelaslah bahwa menstrual pada hakikatnya adalah abortus provokatus criminalis, sekalipun dilakukan oleh dokter.

Karena itu abortus dan menstrual regulation itu pada hakikatnya adalah pembunuh janin secara terselubung. Karena itu berdasarkan kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) pasal 299, 346, 348, dan 349 negara melarang aborsi termasuk menstrual regulation dan sanksi hukumannya cukup berat, bahkan hukumannya tidak hanya ditujukan kepada wanita yang bersangkutan, tetapi semua orang yang terlibat dalam kejahatan ini dapat dituntut seperti dokter, dukun bayi, tukang obat dan sebagainya yang mengobati atau yang menyuruh atau yang membantu atau yang melakukannya sendiri.

Pasal-pasal KUHP yang berkaitan dengan abortus (pengguguran) sebagia berikut : Pasal 299 (1) : Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya digurukan diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah. (2) jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau dia seorang tabib, bidan, atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga. (3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalankan pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.

Pasal 346 : Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau memberikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Pasal 347 (1) : Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal-pasal tersebut merumuskan dengan tegas tanpa pengecualian bahwa barang siapa memenuhi unsur-unsur kejahatan tersebut diancam dengan hukuman sampai lima belas tahun : bahkan bagi dokter, bidan, dan tukang obat yang melakukan atau membantu melakukan abortus, pidananya bisa ditambah sepertiga dan bisa dicabut haknya untuk melakukan praktek propesinya.

Pendukung ide legalisi abortus itu menghendaki pasal-pasal KUHP yang melarang abortus dengan sanksi-sanksinya itu hendaknya direvisi, karena juga dipandang bisa menghambat pelaksanaan program Keluarga Berencana dan Kependudukan.

Menurut penulis, pasal-pasal KHUP yang melarang abortus hendaknya tetap dipertahankan sehinga pengguguran kandungan yang benar-benar dilakukan atas dasar indikasi medis, maka aborsi dan menstrual regulation merupakan perbuatan yang tidak manusiawi, bertentangan dengan moral pancasila dan moral agama, dan mempunyai dampak yang sangat negatif berupa dekandensi moral terutama dikalangan remaja dan pemuda, sebab legalisasi aborsi dapat mendorong keberanian orang untuk melakukan hubungan seksual sebelum nikah (Free Sex atau kumpul kebo).

2. Aborsi dan Menstrual Regulation Menurut Pandangan Islam

Apabila aborsi dilakukan sebelum diberi ruh/nyawa pada janin (embrio) yaitu sebelum berumur 4 bulan ada beberapa pendapat. Ada ulama yang membolehkan aborsi antara lain Muhammad Ramli dalam kitab Al-Nihayah (meninggal tahun 1596) dengan alasan karena belum ada makhluk yang bernyawa ada ulama yang memandangnya makruh dengan alasan karena janin sedang mengalami pertumbuhan. Dan ada pula ulama yang mengharamkannya antara lain Ibnu Hajar (wafat tahun 1567) dalam kitabnya Al-Tuhfah, berpendapat bahwa sejak bertemunya sel sperma dengan ovum (sel telur) maka aborsi adalah haram, sebab sudah ada kehidupan pada kandungan yang sedang mengalami pertumbuhan dan persiapan untuk menjadi makhluk baru yang bernyawa yang bernama manusia yang dihormati dan dilindungi eksistensinya.

Tetapi apabila pengguguran itu dilakukan karena benar-benar terpaksa demi melindungi/menyelamatkan si ibu maka Islam memboleh, bahkan mengharuskan karena Islam mempunyai prinsip :

Artinya : menempuh salah satu tindakan yang lebih ringan dari dua hal yang berbahaya itu adalah wajib.

Mengenai menstrual regulation, Islam juga melarangnya karena pada hakikatnya sama dengan abortus, merusak/menghanvurkan janin calon manusia yang dimuliakan oleh Allah, karena ia berhak tetap survice dan lahir dalam keadaan hidup sekalipun eksistensinya hasil dari hubungan yang tidak sah (diluar perkawinan yang sah) sebab menurut Islam bahwa setiap lahir dalam keadaan suci (tidak bernoda) sesuai dengan hadist Nabi :

Artinya : Semua anak dilahirkan atas fitrah, sehingga ia jelas omongannya kemudian orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi (Hadist Riwayat Abu Yaala, Al-Thabrani, dan Al-Baihaqi dari Al-Aswad bin Sari).

Yang dimaksud dengan fitrah dalam hadist ini ada pengertian, yaitu :

1) Dasar pembawaan manusia (human nature) yang religius dan monoteis, artinya bahwa manusia itu dasar pembawaannya adalah makhluk yang beragama dan percaya pada keesaan Allah secara murni (pure monotheisme atau tauhid khalis).

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al Quran surat Al-Araf ayat 172 :

Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",KESIMPULAN

Aborsi bukan sekedar masalah medis atau kesehatan masyarakat, namun juga problem sosial, maka pemecahannya haruslah dilakukan secara komprehensif-fundamental-radikal yang intinya adalah dengan mencabut sikap taqlid kepada peradaban Barat dengan menghancurkan segala nilai dan institusi peradaban Barat yang bertentangan dengan Islam, untuk kemudian digantikan dengan peradaban Islam yang manusiawi dan adil.

Hukum aborsi dalam pandangan Islam menegaskan keharaman aborsi jika umur kehamilannya sudah 4 (empat) bulan yakni sudah ditiupkan ruh pada janin. Untuk janin yang berumur dibawah 4 bulan, para ulama berbeda pendapat. Jadi ini memang masalah khilafiyah. Namun menurut pemahaman, pendapat yang rajih (kuat) adalah jika aborsi dilakukan setelah 40 (empat puluh) hari, atau 42 (empat puluh dua) hari dari usia kehamilan dan pada saat permulaan pembentukan janin, maka hukumnya haram, sedangkan pengguguran kandungan yang usianya belum mencapai 40 hari, maka hukumnya boleh (jaiz) dan tidak apa-apa, wallahualam.

DAFTAR PUSTAKA

Hasan, M. Ali. 1995. Masail Fiqhiyah Al Haditsah Pada Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta

www.internet

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

ABORSI 1

1. Pengertian Aborsi dan Monstrual Regulation Menurut Hukum di Indonesia 1

2. Aborsi dan Menstrual Regulation Menurut Pandangan Islam 4

KESIMPULAN 7

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Kemudian shalawat serta salam kepada pucuk pimpinan umat Islam sedunia yaitu nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya ke jalan yang benar, Amin ya Rabbal alamin.

Dalam pembuatan makalah penulis menghadapi halangan dan rintangan, seperti kurangnya pengetahuan penulis dan kurangnya buku sumber. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak dosen yang telah membimbing dalam pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini banyak kekurangan dan kurang sempurna, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT, sebab itu penulis mengharapkan pembaca atas saran dan kritikannya yang membangun untuk ke depan. Penulis mengucapkan terima kasih.

Pariaman, April 2010

Penulis

MAKALAH

MASAIL FIQHTentang Aborsi

Oleh:KELOMPOK 10 RINO SRI PETRIA AFRINAWATIDosen Pembimbing : Drs. Irdas Raja, M.Ag

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH

SYEKH BURHANUDDIN PARIAMAN

2010i

ii

PAGE 11