A2 - Dislipidemia

  • View
    318

  • Download
    18

Embed Size (px)

DESCRIPTION

dislipidemia

Text of A2 - Dislipidemia

TUGAS FARMAKOTERAPI TERAPANANALISA KASUS DISLIPIDEMIA

KELAS AKELOMPOK IIAprin Puspa Dinar2015000009Ardelia Giselle2015000010Arina Nur Safitri2015000011Arum Oktavianti2015000012Asri Diansari2015000013Astrialita Linuih2015000014Atikah Arifah2015000015Aulia Yolanda2015000016Asima Rohana2015000142Bayu Yudistira W. Sana2015000143

Dosen Pengampu Mata Kuliah:Prof. Dr. Syamsudin, M.Biomed., Apt.

UNIVERSITAS PANCASILAFAKULTAS FARMASIJAKARTA 2015

KATA PENGANTAR

Segala puji serta syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan YME, yang telah melimpahkan rahmat, rezeki serta karunia-Nya sehingga atas izin-Nya kami dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul ANALISA KASUS DISLIPIDEMIA yang disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Farmakoterapi Terapan. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada dosen pengampu mata kuliah yaitu Prof. Dr. Syamsudin, M.Biomed., Apt. Kami menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun selalu dinantikan demi penyempurnaan karya tulis ini. Akhir kata, dengan segala kerendahan hati kami mengharapkan semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan ilmu pengetahuan khususnya di bidang farmasi klinik.

Jakarta, September 2015

Kelompok II Farmakoterapi Terapan Kelas A

DAFTAR ISIHalaman KATA PENGANTARiiDAFTAR ISI iiiBAB IPENDAHULUAN1A. LATAR BELAKANG1B. TINJAUAN PUSTAKA2

BAB IIKASUS DAN DRUG THERAPY MONITORING8A. KASUS8B. DRUG THERAPY MONITORING91. Data Pasien92. SOAP10

BAB IIIPEMBAHASAN11A. PROFIL PENGOBATAN11B. DRP (DRUG RELATED PROBLEMS)13C. DISKUSI PERTANYAAN14

BAB IVKESIMPULAN19DAFTAR PUSTAKA20

BAB IPENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANGDislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan atau penurunan fraksi lipid plasma darah. Kelainan fraksi lipid yang paling utama adalah kenaikan kadar kolesterol total / hiperkolesterolemia, kadar Low Density Lipoprotein (LDL), kadar trigliserida (hipertrigliseridemia), serta penurunan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Low Density Lipoprotein mengandung banyak kolesterol ester yang berdensitas lebih kecil dan lebih aterogenik, dimana telah lama diidentifikasi oleh National Cholesterol Education Program (NCEP) sebagai target utama untuk terapi penurunan kolesterol. Keadaan tersebut berhubungan erat dengan terjadinya patologi aterosklerosis arteri-arteri vital yang dapat meningkatkan resiko terkena berbagai penyakit berbahaya, salah satunya penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskuler. Penyakit kardiovaskuler merupakan salah satu penyakit kronis dari seluruh permasalahan kesehatan global dunia. Diperkirakan pada tahun 2030, 7 dari 10 kematian di seluruh dunia akan disebabkan oleh penyakit kronis dan penyakit kardiovaskuler menjadi penyebab paling utama. Penderita dislipidemia mempunyai resiko 2,8 kali lebih besar terkena penyakit jantung koroner. Sebuah penelitian yang dilakukan di Yogyakarta menyebutkan bahwa dislipidemia tidak bisa dikenali dari gemuk atau tidaknya seseorang, tidak semua penderita dislipidemia merupakan orang yang berbadan gemuk bahkan beberapa diantaranya mempunyai berat badan yang ideal. Hal tersebut menjelaskan bahwa tidak hanya orang gemuk yang mempunyai resiko penyakit jantung koroner, namun individu dengan berat badan ideal pun bisa beresiko terkena penyakit kardiovaskuler.

1 Penelitian Monica di Jakarta (1988) menunjukkan bahwa kadar rata-rata kolesterol total pada wanita adalah 206,6 mg/dl dan pria 199,8 mg/dl, tahun 1993 meningkat menjadi 213,0 mg/dl pada wanita dan 204,8 mg/dl pada pria. Di beberapa daerah, nilai kolesterol yang sama yaitu Surabaya (1985) adalah 195 mg/dl, Ujung Pandang (1990) adalah 219 mg/dl dan Malang (1994) adalah 206 mg/dl. Apabila digunakan batas kadar kolesterol >250 md/dl sebagai batasan hiperkolesterolemia, maka pada penelitian Monica yang pertama terdapatlah hiperkolesterolemia 13,4% untuk wanita dan 11,4% untuk pria. Pada penelitian Monica yang kedua, hiperkolesterolemia terdapat pada 16,2% untuk wanita dan 14% untuk pria. Hal ini menunjukkan bahwa dislipidemia merupakan penyebab penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh adanya penyempitan pada arteri koronaria, sehingga aliran darah ke otot jantung menjadi terganggu. Di Inggris, penyakit kardiovaskular membunuh satu dari dua penduduk dalam populasi dan menyebabkan 250.000 kematian pada tahun 1998. Satu dari empat laki-laki dan satu dari lima perempuan meninggal karena penyakit jantung koroner (PJK). Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun kematian yang disebabkan PJK semakin meningkat dan saat ini menduduki urutan pertama. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa dislipidemia memiliki hubungan dengan PJK. Survei Monitoring Trends and Determinant in Cardiovascular Disease (MONICA) yang dilakukan pada populasi usia 25-64 tahun di Jakarta pada tahun 1993 menunjukkan peningkatan dislipidemia dari 13,4% menjadi 16,4%. Pada tahun 1992, kasus melaporkan bahwa PJK menempati urutan ketiga penyebab kematian, kemudian pada tahun 1992 dan 1995 dilaporkan bahwa PJK menempati urutan pertama penyebab kematian. Untuk itu pencegahan dislipidemia harus diusahakan pada PJK agar setiap tahun dapat terjadi penurunan angka resiko pasien yang menderita PJK.

B. TINJAUAN PUSTAKA1. Dislipidemiaa. Definisi Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan atau penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolestrol total, kolestrol LDL, dan trigliserida serta penurunan kadar kolestrol HDL (Sunita, 2004). Dislipidemia merupakan keadaan terjadinya peningkatan kadar LDL kolestrol dalam darah atau trigliserida dalam darah yang dapat disertai penurunan kadar HDL kolestrol (Andry Hartono, 2000). Dislipidemia dalam proses terjadinya aterosklerosis semuanya memiliki peran yang penting dan sangat berkaitan satu dengan yang lain, sehingga tidak mungkin dibahas sendiri sendiri. Ketiganya dikenal sebagai triad lipid, yaitu:1) Kolestrol total Banyak penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara kadar kolestrol total darah dengan resiko penyakit jantung koroner (PJK) sangat kuat, konsisten, dan tidak bergantung pada faktor resiko lain. Penelitian genetik, eksperimental, epidemiologis, dan klinis menunjukkan dengan jelas bahwa peningkatan kadar kolestrol total mempunyai peran penting pada patogenesis penyakit jantung koroner (PJK).2) Kolestrol HDL dan LDL Bukti epidemiologis dan klinis menunjang hubungan negatif antara kadar kolestrol HDL dengan penyakit jantung koroner. Intervensi obat atau diet dapat menaikan kadar kolestrol HDL dan dapat mengurangi penyakit jantung koroner.3) Trigliserida Kadar trigliserida diantara 250-500 mg/dL dianggap berhubungan dengan penyakit jantung koroner apabila disertai adanya penurunan kadar HDL.Tabel I.1. Kadar Lemak Darah dalam TubuhKadar Lemak DarahKisaran Ideal (mg/dL)

Kolestrol total< 200

LDL< 100

HDL< 40

Trigliserida< 150

b. Klasifikasi Dislipidemia Klasifikasi dislipidemia berdasarkan patogenesis penyakit adalah sebagai berikut:1) Dislipidemia Primer Merupakan kelainan penyakit genetik dan bawaan yang dapat menyebabkan kelainan kadar lipid dalam darah.2) Dislipidemia sekunder Disebabkan oleh suatu keadaan seperti hiperkolestrolemia yang diakibatkan oleh hipotiroidisme, nefrotik syndrome, kehamilan, anoreksia nervosa dan penyakit hati obstruktif. Hipertrigliserida disebabkan oleh DM, konsumsi alkohol, gagal ginjal kronik, miokard infark dan kehamilan. Dislipidemia dapat disebabkan oleh hipotiroidisme, nefrotik syndrome, gagal ginjal akut, penyakit hati dan akromegali.c. Epidemiologi Penyakit kardiovaskular akibat aterosklerosis dinding pembuluh darah dan trombosis merupakan penyebab utama kematian di dunia. Entitas klinis utama dari penyakit tersebut adalah PJK, stroke iskemik, dan penyakit arteri perifer. Penyebab penyakit tersebut bersifat multifaktorial di mana sebagian diantaranya dapat dimodifikasi. Salah satu faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah dislipidemia. Terdapat hubungan yang kuat antara dislipidemia dan penyakit kardiovaskular yang relatif setara antara populasi Asia dan non-Asia di wilayah Asia Pasifik. Data di Indonesia berdasarkan Laporan Riskesdas Bidang Biomedis tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi dislipidemia atas dasar konsentrasi kolesterol total >200 mg/dL adalah 39,8%. Beberapa propinsi di Indonesia seperti Nangroe Aceh, Sumatra Barat, Bangka Belitung dan Kepulauan Riau mempunyai prevalensi dislipidemia 50%.7 Data prevalensi pada umumnya menggunakan data populasi negara barat atau negara di Asia. Mengingat hal di atas, tatalaksana dislipidemia harus dianggap sebagai bagian integral dari pencegahan penyakit kardiovaskular.2. Penanganan Kondisi Dislipidemiaa. Perencanaan Terapi Diet Pada pasien dislipidemia harus diterapkan diet seimbang yang mengandung semua nutrient dalam jumlah yang memadai.1) Tujuan diet yang diberikan untuk pasien dengan kondisi dislipidemia:a) Menurunkan berat badan bila terjadi kegemukanb) Mengubah jenis dan asupan lemak makananc) Menurunkan asupan kolestrol makanand) Meningkatkan asupan karbohidrat kompleks dan menurunkan asupan karbohidrat sederhana2) Syarat Diet yang diberikan:a) Energi yang dibutuhkan disesuaikan menurut berat badan dan aktivitas fisikb) Lemak sedang, < 30% dari kebutuhan energi totalc) Protein cukup, yaitu 10-20% dari kebutuhan totald) Karbohidrat sedang, yaitu 50-60% dari kebutuhan totale) Serat tinggi, terutama yang larut airf) Cukup vitamin dan mineral (Sunita, 2004)b. Intervensi Gizi Intervensi gizi biasa dilakukan dengan memberikan edukasi gizi yang melibatkan ahli pengetahuan untuk meningkatkan pengetahuan gizi