11
ASFIKSIA NEONATORUM 17 June 2011 Leave a comment LAPORAN PENDAHULUAN ASFIKSIA NEONATORUM 1. Pengertian Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal i ni disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini  berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera lahir (Prawiro Hardjo, Sarwono, 1997).  Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak bisa bernafas secara spontan dan adekuat (Wroatmodjo,1994). Asfiksia Neonatotum adalah keadaan dimana bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas se cara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini biasanya disertai dengan keadaan dimana hipoksia dan hiperapneu serta sering berakhir dengan asidosis (Santoso NI, 1992).  Asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan dengan sempurna, sehingga tindakan perawatan dilaksanakan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan mengatasi gejala lanjut yang mungkin timbul. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan,  beberapa faktor perlu dipertimbangkan dalam menghadapi bayi dengan asfiksia. 2. Etiologi Menurut pedoman Depkes RI San toso NI, 1995. Ada beberapa faktor etiologi dan  predisposisi terjadinya asfiksiaa, antara lain sebagai berikut: a. Faktor Ibu Hipoksia ibu akan menimbulkan hipoksia janin dengan se gala akibatnya. Hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian analgetika atau anesthesi dalam gangguan kontraksi uterus, hipotensi mendadak karena pendarahan, hipertensi karena eklamsia,  penyakit jantung dan lain-lain.  b. Faktor Placenta Yang meliputi solutio plasenta, pendarahan pada plasenta previa, plasenta tipis, plasenta kecil, plasenta tak menempel pada tempatnya. c. Faktor Janin dan Neonatus Meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit ke leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir, gemelli, IUGR , kelainan kongenital dan lain-lain.

90487234-ASFIKSIA

Embed Size (px)

DESCRIPTION

r11= [k/(k-1)][1-(∑▒〖St^2 〗)/〖Sx〗^2 ] (Sugiyono, 2008)Keterangan :r11 = reliabilitas instrumen/koefisien alfaK = banyaknya item dalam test∑Si2 = jumlah varians dari setiap skor itemSx2 = varians skor total item

Citation preview

  • 5/26/2018 90487234-ASFIKSIA

    1/11

    ASFIKSIANEONATORUM

    17 June 2011Leave a comment

    LAPORAN PENDAHULUAN

    ASFIKSIA NEONATORUM

    1. Pengertian

    Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan

    danteratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalamuterusdan hipoksia ini

    berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera lahir

    (Prawiro Hardjo, Sarwono, 1997).

    Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak bisa bernafas secara spontan

    dan adekuat (Wroatmodjo,1994).

    Asfiksia Neonatotum adalah keadaan dimana bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara

    spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini biasanya disertai dengan keadaan

    dimana hipoksia dan hiperapneu serta sering berakhir dengan asidosis (Santoso NI, 1992).

    Asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan dengan sempurna,

    sehingga tindakan perawatan dilaksanakan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan

    mengatasi gejala lanjut yang mungkin timbul. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan,

    beberapa faktor perlu dipertimbangkan dalam menghadapi bayi dengan asfiksia.

    2. Etiologi

    Menurut pedoman Depkes RI Santoso NI, 1995. Ada beberapa faktor etiologi dan

    predisposisi terjadinya asfiksiaa, antara lain sebagai berikut:

    a. Faktor Ibu

    Hipoksia ibu akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya. Hipoksia ibu dapat

    terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian analgetika atau anesthesi dalam gangguan

    kontraksi uterus, hipotensi mendadak karena pendarahan, hipertensi karena eklamsia,penyakit jantung dan lain-lain.

    b. Faktor Placenta

    Yang meliputi solutio plasenta, pendarahan pada plasenta previa, plasenta tipis, plasenta

    kecil, plasenta tak menempel pada tempatnya.

    c. Faktor Janin dan Neonatus

    Meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit ke leher, kompresi tali pusat antara janin

    dan jalan lahir, gemelli,IUGR,kelainan kongenital dan lain-lain.

    http://fauziethenurse.wordpress.com/2011/06/17/asfiksia-neonatorum/#respondhttp://fauziethenurse.wordpress.com/2011/06/17/asfiksia-neonatorum/#respondhttp://fauziethenurse.wordpress.com/2011/06/17/asfiksia-neonatorum/#respondhttp://en.wikipedia.org/wiki/Dan_%28rank%29http://en.wikipedia.org/wiki/Dan_%28rank%29http://en.wikipedia.org/wiki/Uterushttp://en.wikipedia.org/wiki/Uterushttp://en.wikipedia.org/wiki/Uterushttp://en.wikipedia.org/wiki/Intrauterine_growth_restrictionhttp://en.wikipedia.org/wiki/Intrauterine_growth_restrictionhttp://en.wikipedia.org/wiki/Intrauterine_growth_restrictionhttp://en.wikipedia.org/wiki/Intrauterine_growth_restrictionhttp://en.wikipedia.org/wiki/Uterushttp://en.wikipedia.org/wiki/Dan_%28rank%29http://fauziethenurse.wordpress.com/2011/06/17/asfiksia-neonatorum/#respond
  • 5/26/2018 90487234-ASFIKSIA

    2/11

    d. Faktor Persalinan

    Meliputi partus lama, partus tindakan dan lain-lain (Ilyas Jumiarni, 1995).

    3. Patofisiologi

    Selama kehidupan di dalam rahim, paru janin tidak berperan dalam pertukaran gas oleh

    karena plasenta menyediakan oksigen dan mengangkat CO2keluar dari tubuh janin. Pada

    keadaan ini paru janin tidak berisi udara, sedangkanalveolijanin berisi cairan yang

    diproduksi didalam paru sehingga paru janin tidak berfungsi untuk respirasi. Sirkulasi darah

    dalam paru saat ini sangat rendah dibandingkan dengan setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh

    karena konstriksi dari arteriol dalam paru janin. Sebagian besar sirkulasi darah paru akan

    melewati Duktus Arteriosus (DA) tidak banyak yang masuk kedalam arteriol paru.

    Segera setelah lahir bayi akan menariknafas yang pertama kali (menangis), pada saat ini paru

    janin mulai berfungsi untuk respirasi. Alveoli akan mengembang udara akan masuk dan

    cairan yang ada didalam alveoli akan meninggalkan alveoli secara bertahap. Bersamaan

    dengan ini arteriol paru akan mengembang dan aliran darah kedalam paru akan meningkat

    secara memadai. Duktus Arteriosus (DA) akan mulai menutup bersamaan dengan

    meningkatnya tekanan oksigen dalam aliran darah. Darah dari jantung kanan (janin) yang

    sebelumnya melewati DA dan masuk kedalam Aorta akan mulai memberi aliran darah yang

    cukup berarti kedalam arteriole paru yang mulai mengembang DA akan tetap tertutupsehinggabentuksirkulasi extrauterin akan dipertahankan.

    Pada saat lahir alveoli masih berisi cairan paru, suatu tekanan ringan diperlukan untuk

    membantu mengeluarkan cairan tersebut dari alveoli dan alveoli mengembang untuk pertama

    kali. Pada kenyataannya memang beberapa tarikan nafas yang pertama sangat diperlukanuntuk mengawali dan menjamin keberhasilan pernafasan bayi selanjutnya. Proses persalinan

    normal (pervaginam) mempunyai peran yang sangat penting untuk mempercepatproses

    keluarnya cairan yang ada dalam alveoli melalui ruang perivaskuler dan absorbsi kedalam

    aliran darah atau limfe. Gangguan pada pernafasan pada keadaan ini adalah apabila paru tidak

    mengembang dengan sempurna (memadai) pada beberapa tarikan nafas yang pertama. Apnea

    saat lahir, pada keadaan ini bayi tidak mampu menarik nafas yang pertama setelah lahir oleh

    karena alveoli tidak mampu mengembang atau alveoli masih berisi cairan dan gerakan

    pernafasan yang lemah, pada keadaan ini janin mampu menarik nafas yang pertama akan

    tetapi sangat dangkal dan tidak efektif untuk memenuhi kebutuhan O2tubuh. keadaan

    tersebut bisa terjadi pada bayi kurang bulan, asfiksia intrauterin, pengaruh obat yang

    dikonsumsi ibu saat hamil, pengaruh obat-obat anesthesi pada operasi sesar.

    Dalam hal respirasi selain mengembangnya alveoli dan masuknya udara kedalam alveoli

    masih ada masalah lain yang lebih panjang, yakni sirkulasi dalam paru yang berperan dalam

    pertukaran gas. Gangguan tersebut antara lain vasokonstriksi pembuluh darah paru yang

    berakibat menurunkan perfusi paru. Pada bayi asfiksia penurunan perfusi paru seringkali

    disebabkan oleh vasokonstriksi pembuluh darah paru, sehingga oksigen akan menurun dan

    terjadi asidosis. Pada keadaan ini arteriol akan tetap tertutup dan Duktus Arteriosus akan

    tetap terbuka dan pertukaran gas dalam paru tidak terjadi.

    Selama penurunan perfusi paru masih ada, oksigenasi ke jaringan tubuh tidak mungkin

    terjadi. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan tergantung dari berat danlamanya asfiksia, fungsi tadi dapat reversible atau menetap, sehingga menyebabkan

    http://en.wikipedia.org/wiki/Pulmonary_alveolushttp://en.wikipedia.org/wiki/Pulmonary_alveolushttp://en.wikipedia.org/wiki/Pulmonary_alveolushttp://en.wikipedia.org/wiki/Colotomyhttp://en.wikipedia.org/wiki/Colotomyhttp://en.wikipedia.org/wiki/Colotomyhttp://en.wikipedia.org/wiki/Prosehttp://en.wikipedia.org/wiki/Prosehttp://en.wikipedia.org/wiki/Prosehttp://en.wikipedia.org/wiki/Prosehttp://en.wikipedia.org/wiki/Colotomyhttp://en.wikipedia.org/wiki/Pulmonary_alveolus
  • 5/26/2018 90487234-ASFIKSIA

    3/11

    timbulnya komplikasi, gejala sisa, ataupun kematian penderita. Pada tingkat permulaan,

    gangguan ambilan oksigen dan pengeluaran CO2tubuh ini mungkin hanya menimbulkan

    asidosis respiratorik. Apabila keadaan tersebut berlangsung terus, maka akan terjadi

    metabolisme anaerobik berupa glikolisis glikogen tubuh. Asam organik yang terbentuk akibat

    metabolisme ini menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan asam basa berupa asidosis

    metabolik. Keadaan ini akan mengganggu fungsi organ tubuh, sehingga mungkin terjadiperubahan sirkulasi kardiovaskular yang ditandai oleh penurunan tekanan darah dan frekuensi

    denyut jantung. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pada penderita asfiksia akan terlihat

    tahapan proses kejadian yaitu menurunnya kadar PaO2 tubuh, meningkat PCO2, menurunnya

    pHdarah dipakainya sumber glikogen tubuh dan gangguan sirkulasi darah. Perubahan inilah

    yang biasanya menimbulkan masalah dan menyebabkan terjadinya gangguan pada bayi saat

    lahir atau mungkin berakibat lanjut pada masa neonatus dan masa pasca neonatus.

    Hipoksia janin atau bayi baru lahir sebagai akibat dari vasokonstriksi dan penurunan perfusi

    pru yang berlanjut dengan asfiksia, pada awalnya akan terjadi konstriksi Arteriol pada usus,

    ginjal, otot dan kulit sehingga penyediaan Oksigen untuk organ vital seperti jantung dan otak

    akan meningkat. Apabila askfisia berlanjut maka terjadi gangguan pada fungsi miokard dancardiac output.Sehingga terjadi penurunan penyediaan oksigen pada organ vital dan saat ini

    akan mulai terjadi suatu Hypoxic Ischemic Enchephalopathy (HIE) yang akan memberikangangguan yang menetap pada bayi sampai dengan kematian bayi baru lahir. HIE ini pada

    bayi baru lahir akan terjadi secara cepat dalam waktu 1-2 jam, bila tidak diatasi secara cepat

    dan tepat(Aliyah Anna, 1997).

    4. GejalaKlinik

    Gejala klinik Asfiksia neonatorum yang khas meliputi :

    a. Pernafasan terganggu

    b. Detik jantung berkurang

    c. Reflek / respon bayi melemah

    d. Tonus otot menurun

    e. Warna kulit biru atau pucat

    5. Diagnosis

    Asfiksia pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia atau hipoksia janin. Diagnosa

    anoksia / hipoksia dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukan tanda-tanda gawat janin

    untuk menentukan bayi yang akan dilahirkan terjadi asfiksia, maka ada beberapa hal yang

    perlu mendapatkan perhatikan.

    a. Denyut Jantung Janin

    Frekuensi normal ialah 120 sampai 160 denyutan per menit, selama his frekuensi ini bisa

    turun, tetapi diluar his kembali lagi kepada keadaan semula. Peningkatan kecepatan denyutan

    jantung umumnya tidak banyak artinya, akan tetapi apabila frekuensinya turun sampaidibawah 100/menit, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya.

    http://en.wikipedia.org/wiki/PHhttp://en.wikipedia.org/wiki/PHhttp://en.wikipedia.org/wiki/Cardiac_outputhttp://en.wikipedia.org/wiki/Cardiac_outputhttp://www.last.fm/music/Klinikhttp://www.last.fm/music/Klinikhttp://www.last.fm/music/Klinikhttp://www.last.fm/music/Klinikhttp://en.wikipedia.org/wiki/Cardiac_outputhttp://en.wikipedia.org/wiki/PH
  • 5/26/2018 90487234-ASFIKSIA

    4/11

    b. Mekanisme Dalam Air Ketuban

    Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi pada prosentase kepala

    mungkin menunjukkan gangguan oksigenasi dan terus timbul kewaspadaan. Adanya

    mekonium dalam air ketuban pada prosentase kepala dapat merupakan indikasi untuk

    mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.

    c. Pemeriksaan PH Pada Janin

    Dengan menggunakan amnioskopi yang dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan kecil pada

    kulit kepala janin dan diambil contoh darah janin. Darah ini diperiksa pH-nya adanya asidosis

    menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai dibawah 7,2 hal itu dianggap

    sebagai tanda bahaya. Dengan penilaian pH darah janin dapat ditemukan derajat asfiksia

    yaitu :

    Tabel Penilaian pH Darah Janin

    NO Hasil Sikor Apgar Derajat Asfiksiaa Nilai pH

    1. 03 Berat < 7,2

    2. 46 Sedang 7,17,2

    3. 710 Ringan > 7,2

    Sumber : Wiroatmodjo, 1994

    d. Dengan Menilai Apgar Skor

    Cara yang digunakan untuk menentukan derajat asfiksiaa yaitu dengan penilaian APGAR.Apgar mengambil batas waktu 1 menit karena dari hasil penyelidikan sebagian besar bayi

    baru lahir mempunyai apgar terendah pada umur tersebut dan perlu dipertimbangkan untuk

    melakukan tindakan resusitasi aktif. Sedangkan nilai apgar lima menit untuk menentukan

    prognosa dan berhubungan dengan kemungkinan terjadinya gangguan neurologik di

    kemudian hari. Ada lima tanda (sign) yang dinilai oleh Apgar, yaitu :

    Tabel Penilaian Apgar

    Tanda-tanda Vital Nilai = 0 Nilai = 1 Nilai = 2

    1. Appearance

    (warna kulit)

    Seluruh tubuh biruatau putih Badan merah, kakibiru Seluruh tubuhkemerah-merahan

    2. Pulse

    (bunyi

    antung)

    Tidak ada Kurang dari

    100 x/ menit

    Lebih dari

    150 x/ menit

    3. Grimance

    (reflek)

    Tidak ada

    Lunglai

    Menyeringai

    Fleksi ekstremitas

    Batuk dan bersin

    4. Activity

    (tonus otot)

    Tidak ada Fleksi kuat, gerak

    aktif

  • 5/26/2018 90487234-ASFIKSIA

    5/11

    5. Respirotary

    effort

    (usaha bernafas)

    Lambat atau tidak

    ada

    Menangis kuat

    atau keras

    Dari kelima tanda diatas yang paling penting bagi jantung karena peninggian frekuensi

    jantung menandakan prognosis yang peka. Keadaan akan memburuk bila frekuensi tidak

    bertambah atau melemah walaupun paru-paru telah berkembang. Dalam hal ini pijatan

    jantung harus dilakukan. Usaha nafas adalah nomor dua. Bila apnea berlangsung lama dan

    ventilasi yang dilakukan tidak berhasil maka bayi menderita depresi hebat yang diikuti

    asidosis metabolik yang hebat. Sedang ketiga tanda lain tergantung dari dua tanda penting

    tersebut.

    Ada 3 derajat Asfiksiaa dari hasil Apgar diatas yaitu :

    1) Nilai Apgar 7-10, Vigorous baby atau asfiksia ringan.

    Bayi dalam keadaan baik sekali. Tonus otot baik, seluruh tubuh kemerah-merahan. Dalam hal

    ini bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa.

    2) Nilai Apgar 4-6 Mild Moderat atau asfiksia sedang.

    Pada pemeriksaan fisik akan dilihat frekuensi jantung lebih dari 100 kali permenit, tonus otot

    kurang baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.

    3) Nilai Apgar 0-3, asfiksia Berat

    Pada pemeriksaan ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100 kali permenit, tonus otot

    buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada.

    6. Penatalaksanaan Medis

    a. Pelaksanaan resusitasi

    b. Membuka jalan nafas

    c. Mencegah kehilangan suhu tubuh / panas

    d. Pemberian tindakan vtp (ventilasi tekanan positif)

    e. Pemberian obat-obatan penunjang

    7. Komplikasi

    a. Sembab Otak

    b. Pendarahan Otak

    c. Anuria atau Oliguria

  • 5/26/2018 90487234-ASFIKSIA

    6/11

    d. Hyperbilirubinemia

    e. Obstruksi usus yang fungsional

    f. Kejang sampai koma

    g. Komplikasi akibat resusitasinya sendiri : Pneumonthorax (Wirjoatmodjo,

    1994 : 168)

    8. Prognosa

    a. Asfiksia ringan / normal : Baik

    b. Asfiksia sedang tergantung kecepatan penatalaksanaan bila cepat prognosa baik.

    c. Asfiksia berat badan dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama, atau

    kelainan syaraf permanen. Asfiksia dengan pH 6,9 dapat menyebabkan kejang sampai koma

    dan kelainan neurologis yang permanent misalnya cerebal palsy, mental retardation

    (Wirjoatmodjo, 1994 : 68).

    9. Pemeriksaan Laboratorium

    a. Nilai darah lengkap pada bayi asfiksia terdiri dari :

    1) Hb (normal 15-19 gr%) biasanya pada bayi dengan asfiksia Hb cenderung turun karena

    O2dalam darah sedikit.

    2) Leukositnya lebih dari 10,3 x 10 gr/ct (normal 4,3-10,3 x 10 gr/ct) karena bayi pretermimunitas masih rendah sehingga resiko tinggi.

    3) Trombosit (normal 350 x 10 gr/ct)

    4) Distrosfiks pada bayi preterm dengan post asfiksi cenderung turun karena sering terjadi

    hipoglikemi.

    b. Nilai analisa gas darah pada bayi post asfiksi terdiri dari :

    1) pH (normal 7,36-7,44). Kadar pH cenderung turun terjadi asidosis metabolik.

    2) PCO2(normal 35-45 mmHg) kadar PCO2pada bayi post asfiksia cenderung naik sering

    terjadi hiperapnea.

    3) PO2(normal 75-100 mmHg), kadar PO2pada bayi post asfiksia cenderung turun karena

    terjadi hipoksia progresif.

    4) HCO3(normal 24-28 mEq/L)

  • 5/26/2018 90487234-ASFIKSIA

    7/11

    5) Urine

    6) Nilai serum elektrolit pada bayi post asfiksia terdiri dari :

    7) Natrium (normal 134-150 mEq/L)

    8) Kalium (normal 3,6-5,8 mEq/L)

    9) Kalsium (normal 8,1-10,4 mEq/L)

    10) Photo thorax

    11) Pulmonal tidak tampak gambaran, jantung ukuran normal.

    10. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

    1. Gangguan pemenuhan kebutuhan O2sehubungan dengan post asfiksiaa beratIntervensi

    1) Letakkan bayi terlentang dengan alas yang data, kepala lurus, dan leher sedikit

    tengadah/ekstensi dengan meletakkan bantal atau selimut diatas bahu bayi sehingga bahu

    terangkat 2-3 cm

    2) Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila perlu.

    3) Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis tiap 4 jam

    4) Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian O2dan pemeriksaan kadar gas darah

    arteri.

    2. Resiko terjadinya hipotermi sehubungan dengan adanya proses persalinan yang lamadengan ditandai suhu tubuh dibawah 36 C

    Intervensi

    1) Letakkan bayi terlentang diatas pemancar panas (infant warmer)

    2) Singkirkan kain yang sudah dipakai untuk mengeringkan tubuh, letakkan bayi diatas

    handuk / kain yang kering dan hangat.

    3) Observasi suhu bayi tiap 6 jam.

    4) Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian Infus Glukosa 5% bila ASI tidak

    mungkin diberikan

    3. Resiko gangguan penemuan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan reflek menghisaplemah

    Intrvensi

  • 5/26/2018 90487234-ASFIKSIA

    8/11

    1) Lakukan observasi BAB dan BAK jumlah dan frekuensi serta konsistensi

    2) Monitor turgor dan mukosa mulut.

    3) Monitor intake dan out put.

    4) Beri ASI/PASI sesuai kebutuhan

    5) Lakukan control berat badan setiap hari.

    4. Resiko terjadinya infeksi sehubungan penurunan daya tahan tubuh bayi.Intervensi

    1) Lakukan teknik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan keperawatan

    2) Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.

    3) Pakai baju khusus/ short waktu masuk ruang isolasi (kamar bayi)

    4) Lakukan perawatan tali pusat dengan triple dye 2 kali sehari.

    5) Jaga kebersihan (badan, pakaian) dan lingkungan bayi.

    6) Observasi tanda-tanda infeksi dan gejala kardinal

    7) Hindarkan bayi kontak dengan sakit.

    8) Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian antibiotik.

    5. Resiko terjadinya hipoglikemia sehubungan dengan metabolisme yang meningkatIntervensi

    1) Berikan nutrisi secara adekuat dan catat serta monitor setiap pemberian nutrisi.

    2) beri selimut dan bungkus bayi serta perhatikan suhu lingkungan

    3) Observasi gejala kardinal (suhu, nadi, respirasi)

    6. Gangguan hubungan interpersonal antara bayi dan ibu sehubungan dengan perawatanintensif.

    Intervensi

    1) Jelaskan para ibu / keluarga tentang keadaan bayinya sekarang.

    2) Bantu orang tua / ibu mengungkapkan perasaannya.

    3) Orientasi ibu pada lingkungan rumah sakit.

  • 5/26/2018 90487234-ASFIKSIA

    9/11

    4) Tunjukkan bayi pada saat ibu berkunjung (batasi oleh kaca pembatas).

    5) Lakukan rawat gabung jika keadaan ibu dan bayi jika keadaan bayi memungkinkan.

    DAFTAR PUSTAKA

    Allen Carol Vestal, 1998, Memahami Pr oses Keperawatan, EGC : Jakarta

    Aminullah Asril,1994, I lmu Kebidanan, Yayasan Bina pustaka Sarwono Prawirohardjo:

    Jakarta.

    Aliyah Anna, dkk. 1997, Resusitasi Neonatal, Perkumpulan perinatologi Indonesia

    (Perinasia): Jakarta

    Effendi Nasrul, 1995, Pengan tar Proses Keperawatan, EGC : Jakarta

    Hasan Rusepno, dkk 1981, Penata Laksanaan Kegawat Darur atan Pediatr ik ,Fakultas

    Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta.

    Ilyas Jumlarni, 1995, Diagnosa Keperawatan, EGC : Jakarta.

    Margareth. G.M, 1998, I ntrudcutory Pediatric Nur sing,Lippincott : New York

    Rustam Mochtar, 1998. Sinopsis Obstetri F isiologi Patologi, EGC : Jakarta.

    Wahidiyat Iskandar, dkk. 1991,Diagnosis Fisik Pada Anak, Fakultas kedokteran Universitas

    Indonesia : Jakarta.

    PROSEDUR PENATALAKSANAAN ASFIKSIA NEONATORUM

    PATOFISIOLOGI :

    Dapat disebabkan oleh semua keadaan yang menyebabkan gangguan pertukaran O2 dan

    CO2, sehingga berakibat :- O2 tidak cukup dalam darah yang disebut hipoksia

    - CO2 tertimbun dalam darah yang disebut hipercapnea.

    Sebagai akibatnya dapat menyebabkan asidosis tipe respiratorik atau campuran dengan

    asidosis metabolik karena mengalami metabolisme anaerob, juga dapat mengalami

    hipoglikemia.

    2. ProsedurPENATALAKSANAAN :

    - Persiapan sebelum bayi lahir ( bayi dengan resiko tinggi terjadinya asfiksia ) :

    - Siapkan obat

    - Periksa alat yang akan digunakan, antara lain :

    Alat penghisap lendir ( jangan elektrik ), sungkup Tabung O2 terisi

    http://1.bp.blogspot.com/_JpQOoZTiF3s/SjJcgFt0y-I/AAAAAAAAAKM/D171Pd-XuAo/s1600-h/neonatal.jpeg
  • 5/26/2018 90487234-ASFIKSIA

    10/11

    Handuk, gunting tali pusat, penjepit tali pusat, Natrium bicarbonat.

    - Pada waktu bayi lahir :

    Sejak muka bayi terlihat, bersihkan muka, kemudian hidung dan mulut, hisap lendir secara

    hati-hati.

    Penatalaksanaan untuk Asfiksia :Posisi bayi trendelenburg dengan kepala miring.

    Bila sudah bernapas spontan letakkan dengan posisi horizontal.

    - Apgar Score I 710 :

    a. Bersihkan jalan napas dengan kateter dari lubang hidung, sambil melihat adanya atresia

    choane, kemudian bersihkan jalan napas dengan kateter melalui mulut sampai nasopharynx.

    Kecuali pada bayi asfiksia yang air ketubannya mengandung meconeum.

    b. Bayi dibersihkan ( boleh dimandikan ) kemudian dikeringkan, termasuk rambut kepala.

    c. Observasi tanda vital sampai stabil, biasanya sekitar 24 jam.

    - Apgar Score I 46 :i. Seperti a , jangan dimandikan, cukup dikeringkan termasuk rambut kepala.

    ii. Beri rangsangan taktil dengan tepukan pada telapak kaki,

    maksimum 1530 detik.

    iii. Bila belum berhasil, beri O2 dengan atau tanpa corong

    ( lebih baik yang dihangatkan )

    - Apgar Score I 46 dengan detik jantung > 100

    i. Lakukan bag and mask ventilation dan pijat jantung.

    - Apgar Score I 03 :

    i. Jaga agar bayi tidak kedinginan, sebab dapat menimbulkan

    hipotermia dengan segala akibatnya.

    ii. Jangan diberi rangsangan taktil.

    iii.Jangan diberi obat perangsang napas.

    iv. Segera lakukan resusitasi.

    RESUSITASI

    Apgar Score 03 :

    - Jangan diberi rangsangan taktil

    - Lakukan segera intubasi dan lakukan ventilasi

    - Mouth to tube atau pulmonator to tube- Bila intubasi tidak dapat, lakukan mouth to mouth

    respiration atau mask and pulmonator respiration,

    kemudian bawa ke ICU.

    Ventilasi Biokemial :

    - Lakukan pemeriksaan blood gas, kalau perlu dikoreksi dengan Natrium bicarbonat. Bila

    fasilitas blood gas tidak ada, berikan Natrium bicarbonat pada asfiksia berat dengan dosis 2

    4 mEq/ kg BB, maksimum 8 mEq/ kg BB/ 24 jam.

    - Ventilasi tetap dilakukan.

    - Pada detik jantung

    5. Referensi

  • 5/26/2018 90487234-ASFIKSIA

    11/11

    a. Erwin Sarwono et al, Asfiksia Neonatorum, Pedoman Diagnosa dan Terapi Lab/UPF Ilmu

    Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, 1994

    b. Fatimah Indarso, Resusitasi Pada Kegawatan Nafas Bayi Baru Lahir, Kumpulan Makalah

    Pelatihan PPGD Bagi Dokter, JICA, RSUD Dr. Soetomo, Dinkesda Tk.I Jatim, 1999