465 PALUPI

  • View
    387

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of 465 PALUPI

LAPORAN PRAKTIKUM MATA KULIAH KIMIA LINGKUNGAN

Disusun Oleh : Nama Kelompok 1.Dadang Tri Wibowo 2.Dewi Septiana W 3.Fajar Febriani 4.G. Palupi Susanti Said Reguler I A (11) (14) (18) (19)

POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN2008

KOMPLEKSOMETRI DAN PENENTUAN KESADAHANAcara Praktikum 8Membuat Larutan EDTA 0,01 M 9Pembukuan Larutan EDTA 0,01 M 10Pemeriksaan kesadahan air minum secara kompleksometri. Tujuan praktikum 11Untuk mengetahui standarisasi laturan EDTA 12Untuk mengetahui kesadahan air bersih Dasar Teori Komplesksometri merupakan analisa volumetric yang dilakukan dengan cara titrasi berdasarkan reaksi pebentukan komplek. Indikator yang dipakai dalam analisa ini adalah merupakan asam atau basa organik yang dapat membentuk komplek dengan ion logam (karena biasanya analisa ini dmaksudkan untuk penetapan kadar logam-logam) dan warna komplek indicator. Logam tersebut berbeda dengan warna indicator dalam keadaan bebas. Disamping itu komplek tersebut harus mempunyai sifat kurang stabil jika dibandingkan dengan komplek logam-titran, sehingga apabila ke dalam komplek indikator logam tersebut dirambangkan titran, komplek indicator logam akan terurai, logamnya akan bereaksi dengan titran membentuk komplek logam-titran, sedangkan indikatornya kembali dalam keadaan bebas. Prinsip dasar reaksi dalam analisa ini secara mudahnya dapat dimengerti sebagai berikut: Tahap 1: logam + indikator logam indikator Tahap 2 : logam indikator + titran logam-titran + indicator Larutan standar yang sering dipakai adalah EDTA (ethylene diamine tetraacetic Acid) atau dikenal juga dalam nama resmi lain yaitu Ethylene Dinitrilo Tetracaetic Acid. Dalam nama tidak resmi, EDTA sering dinamakan complexon, komplekson, mullapon, sequestrene, versene untuk garam dinatrium EDTA. Untuk sederhananya EDTA ini sering ditulis H4 Y, dan sering ditemukan sebagai kristal garam natriumnya (Na2H4Y2

H2O). H4Y dapat dipakai sebagai bahan baku primer setelah pengeringan selama beberapa

jam pada suhu 130-1450C, lalu dilarutkan dalam basa (NaOH) sesedikit mungkin sampai larut sempurna. Dalam titrasi dengan larutan standar EDTA ini perlu pengaturan pri larutan karena kesempurnaan reaksinya tergantung dari PH titran, semakin tinggi semakin baik. Umumnya titrasi EDTA dilakukan pada PH 8-10 dengan Eriochome blac-T (EBT) sebagai indikatornya. Untuk mencegah penurunan PH harus ditambahkan campuran penahan (buffer). Umumnya buffer yang dipakai adalah campuran NH4OH dan NH4Cl. EBT dalam keadaan berikatan dengan logam akan membentuk warna merah anggur, sedangkan dalam keadaan bebas berwarna biru. Dengan demikian perubahan warna dari merah anggur menjadi biru ini kadang-kadang terjadi blocking indicator (terjadi ikatan indikator dengan pengotor yang mempunyai sifat lebih sehingga ikatan tersebut sulit lepas. Dalam keadaa ini terjadinya perubahan warna biru terlambat dari keadaan yang seharusnya). Adanya blocking indikator ini dapat diatasi dengan pemberian making agent yaitu zat yang dapat mengkompleks pengotor (biasanya ion Fe 3+) misalnya ion sianida atau Horida. Larutan EDTA lebih sering distandarisasi dengan CaCo3 pa (mutu baku primer), karena CaCo3 sukar larut dalam air, maka dipakai beberapa Hcl 10% dengan hati-hati sekedar cukup untuk melarutkannya, sedangkan pengenceran selanjutnya menggunakan akuades sampai volume yang dikehendaki. Tidak tertutup kemungkinan bahwa sandarisasi larutan EDTA dapat dilakukan dengan zat-zat yang mengandung logam lain yang bermutu bahan baku primer. Alat dan Bahan 1.Buret asam/basa 2.pipet volume 25 ml 3.labu ukur 100 ml 4.botol ambang /beker kecil 5.labu elenmeyer 250 ml 6.pipet tetes 7.pengaduk kaca 8. corong 9. blaker glass besar/kecil 10. botol semprot 11. propipet 12. pipet ukur 13. larutan EDTA 14. indicator EBT

Cara kerja 1.Pembuatan larutan standar EDTA 0,01 M (1 liter) a. Ditimbang 3,72 gram kristal dinatrium EDTA (titriplex III) b. Dilarutkan dengan 1 liter akuades dalam labu ukur c. Digojok hingga homogen, selanjutnya disimpan dalam botol reagen polietilena. Catatan: Apabila pelarutan EDTA sulit, dapat dipakai NaOH 0,1 N beberapa ml sebatas sampai larut saja. 2.Standardisasi larutan EDTA 0,01 M (dengan CaCo3) d. Ditimbang teliti 100 mg kristal CaCo4 (bbp) dalam botol timbang atau gelas kimia kecil. e. Dilarutkan dengan beberapa tetes Hcl 10%, ditambah sedikit akades, dituang ke dalam labu ukur 100 ml. Botol/gelas timbang dibilas dengan akuades dan air bilasan dimasukkan ke dalam labu ukur yang sama. Ditambah akuades sampai tanda terra. Digojok hingga homogen. f. Larutan tersebut diambil sebanyak 25 ml dengan pipet gondok, selanjutnya dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml. g. Ditambah 2 ml buffer NH4OH-NH4Cl dan sepucuk sendok indicator EBT 1%. h. Sititrasi dengan larutan EDTA yang akan dibakukan sampai tepat terjadi perubahan dari merah anggur menjadi biru. Dicatat ml titrasinya. 3.Standarisasi kesadahan air minum i. Dipipet 50 ml air sampel dengan ppet gondok, dimasukkan kedalam labu elenmeyer 250 ml j. Ditambah 2 ml buffer NH4OH NH4Cl, sepucuk sendok kristal NaCN dan sepucuk sendok indicator EBT 1%. k. Dititrasi dengan larutan standar EDTA 0,01 M sampai tepat terjadi perubahan warna dari merah anggur menjadi biru. Dicatat ml itrasinya. Data dan Praktikum A.Penimbangan

Berat CaCo3 = 0,0993 gr

B.Titrasi 1. Standardisasi larutan EDTA 0,01 M (dengan CaCo3). No 1 2 3 Volume awal 0 0 0 Volume akhir 26,49 ml 26 ml 26,1 ml ml Titrasi 26,49 ml 26 ml 26,1 ml X = 26,19 ml 2. Standardisasi kesadahan air minum No 1 2 3 Volume awal 0 0 0 Volume akhir 6,82 ml 5,92 ml 5,60 ml ml Titrasi 6,82 ml 5,92 ml 5,60 m X = 6,113 ml

EBT + logam EBT logam (merah anggur) EBT logam + EDTA logam EDTA + EDT (logam) C.Perhitungan 3. Standardisasi larutan EDTA 0,01 M (dengan CaCo3) mgberatCaCo3 hasilpertimbangan = BMCaCo3 xmllaru tan yangdibuat 0,0993 grm = 100 x0,1 = 9,93 x 10-3 M = 0,0099 M o Molaritas EDTA mlCaCo3 xMCaCo3 mlEDTA = 25mlx0,0099 = 26,19ml

o Molaritas CaCo3

0,2475 = 26,19 = 9,450 x 10-3 = 0,0095 M MEDTA o Faktor EDTA 0,01 M = 0,01 0,0095 = 0,01 = 0,950 4. Standardisasi kesadahan air minum o Kesadahan 1000 = 50 x ml titrasi x 0,01 x faktor EDTA x Mr CaCo3 1000 = 50 x 6,113 x 0,01 x 0,950 x 100 = 116,147 mg / CaCo3 o Kesadahan 1000 = 50 x ml titrasi x 0,01 x faktor EDTA x Mr Cao 1000 = 50 x 6,113 x 0,01 x 0,950 x 56 x 0,1 = 6,504 0D o Kesadahan 1000 = 50 x ml titrasi x 0,01 x faktor EDTA x Mr CaCo3 x 0,1 1000 = 50 x 6,113 x 0,01 x 0,950 x 100 x 0,1 = 11,615 0F

Pembahasan Pada laporan kali ini, kita melaporkan tentang praktikum analisis kesadahan. Pada praktikum kali ini, kita menganalisa volumetrik secara titrasi dengan larutan EDTA. Larutan EDTA ini sering ditemukan sebagai garam natriumnya. Pada, titrasi larutan EDTA berfungsi sebagai titran yang untuk melakukan titrasi. Titrasi ini berlangsung pada suasana asam maupun basa, jadi kita dapat menggunakan buret asam dan basa. Dalam standarisasi larutan EDTA 0,01 (dengan CaCo3), kita menggunakan cara titrasi, dengan pentitrasi larutan EDTA yang dilakukan sampai tepat terjadi perubahan dari merah anggur (dari indikator BT 1%) menjadi biru. Lalu catatan berapa ml yang digunakan untuk mentitrasi. Titrasi berakhir jika warna merah anggur tepat hilang dan berubah menjadi biru kehijauan. Dalam praktikum yang kami lakukan, di dapat data; I : 26,49 ml; II. 26 ml; III. 26,1 ml sehingga kita dapat menghitung: MgberatCaCo3 hasilpenimbangan = BMCaCo3 xmllaru tan yangdibuat mlCaCo 3 xMCaCo3 mlEDTA =

o Molaritas CaCo3 o Molaritas EDTA

MEDTA o Faktor EDTA 0,01 M = 0,01 Rumus-rumus dapat kita gunakan untuk mengetahui molaritas sertar faktor, EDTA yang telah kita buat dalam suatu larutan. Standardisasi kesadahan air minum, kita dapat mengetahui air minum tersebut layak digunakan atau tidak dengan cara titrasi dengan larutan EDTA. Dalam kesadahan air minum media yang digunakan ialah air kran. Air kran serta indicator EBT 1% kita gojok hingga merah anggur. Larutan tersebut yang kita titrasi dengan larutan EDTA. Titrasi berhenti saat warna merah anggur tepat hilang dan berubah menjadi biru kehijauan. Pada saat kami melakukan titrasi warna merah anggur berubah menjadi hijau tua atau tidak

berwarna. Hal-hal ini dipengaruhi oleh pemberian indicator EBT 1%, bila EBT kurang makan jumlah larutan EDTA akan banyak yang dikeluarkan atau dubutuhkan. Namun bila EBT lebih maka akan mempercepat titrasi namun juga pada saat tirasimaka kita harus memperhatikan tetesan-tetesan larutan EDTA juga. Pada umumya, pada standardisasi, larutan EDTA 0,01 M (dengan CaCo3) dan standardisasi kesadahan air minum adalah sama, yaitu pada saat titrasi pada akhir titrasi akan terbentuk larutan yang berwarna biru kehijauan. Namun yang membedakan ialah pada pengenceran, larutan EDTA menggunakan CaCo3 dan kesadahan air mnum menggunakan air kran. Penutup A. Kesimpulan o Faktor EDTA yang kita hasilkan dari hasil praktikum ini adalah 0,950 o Kesadahan Air Bersih 13kesadahan CaCo3 14kesadahan 15kesdahana = 116,147 mg / CaCo3 = 6,504 0D = 11,615 0F

o Standardisasi larutan EDTA dan standardisasi kesadahan air minum adalah sama yaitu dengan menggunakan indicator EDT 1%. B. Saran o Titrasi hendaknya berhenti saat warna merah anggur tepat hilang dan berubah menjadi biru.

Yogyakarta, 21 November 2007 Praktikan, Pembimbing

G. Palupi Susanti Said

_______________________

AGENTOMETRI DAN PENENTUAN KLORIDAAcara Praktikum 1Pembuatan larutan AgNO3 0,01 N 2Standardisasi larutan AgNO3 0,01 N 3Penetapan kadar klorida dalam air Tujuan Praktikum 1Untuk mengetahui standardisasi larutan AgNO3 2Untuk mengetahui kadar klrida dalam air Dasar Teori Argentometri merupakan salah satu metode analisa presipitimetri yang dilakukan dengan cara titrasi dengan menggunakan larutan standar perak nitrat (AgNO3). Dalam analisa ini akan didapatkan suatu endapan (presipitat) sebagai hasil akh