77
Arsip Badan Diklat Kejaksaan Republik Indonesia DIKLAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEMBENTUKAN JAKSA (PPPJ) TAHUN 2016 MODUL ASAS-ASAS HUKUM PIDANA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2016

4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

  • Upload
    lamhanh

  • View
    310

  • Download
    13

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

DIKLAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

PEMBENTUKAN JAKSA (PPPJ)

TAHUN 2016

MODUL ASAS-ASAS HUKUM PIDANA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEJAKSAAN

REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA 2016

Page 2: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Page 3: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Page 4: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Page 5: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

DAFTAR ISI

Halaman

KATA SAMBUTAN KAPUSDIKLAT KEJAKSAAN RI ..................................................... i

DAFTAR ISI .............................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1 I. Latar Belakang ............................................................................................... 1

II. Permasalahan ................................................................................................. 2III. Maksud dan Tujuan ....................................................................................... 2IV. Metode ........................................................................................................... 3

BAB II HUKUM PIDANA ................................................................................................. A. Perbuatan Pidana/ Strafbaar Feit/ Delict ....................................................... B. Perbuatan Pidana/ Tindak Pidana .................................................................. C. Unsur Dan Elemen Perbuatan Pidana (Strafbaarfeit) .................................... D. Yurisprudensi ................................................................................................ E. Pembuat .........................................................................................................

BAB III NULLA POENA - POENA - STRAF – HUKUMAN ........................................... 2 A. Jenis-Jenis Pidana .......................................................................................... 2

BAB IV ASAS-ASAS HUKUM PIDANA ........................................................................... 2 A. Apa Itu Asas-Asas Hukum Pidana ................................................................ 2 B. Hukum Pidana ............................................................................................... 2 C. Apa-Apa Saja Asas Hukum Pidana Yang Berlaku ........................................ D. Asas-Asas Yang Berkaitan Dengan Penghapusan Pidana ............................. E. Asas-Asas Yang Berlaku Pada Pembarengan(Sameloop) .............................

BAB V ALASAN PENGURANGAN HUKUMAN ....................................................................... A. Percobaan Dalam Common Law (Attempt) .................................................. B. Tujuan Dasar Pembenaran Pemidanaan ........................................................

BAB VI HUBUNGAN SEBAB AKIBAT (KAUSALITAS) ........................................................... 4

BABVII TEMPUS DAN LOCUS DELICTI .................................................................................... 5

BABVIII DELIK-DELIK KORPORASI ........................................................................................... 5

BAB IX GUGURNYA HAK PENUNTUTAN DAN HAK PEMIDANAAN ................................. 5

BAB X STUDI KASUA BERKAITAN DENGA ASAS HUKUM PIDANA ...............................

Page 6: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

BAB XI KESIMPULAN ..................................................................................................................

BAB XII PENUTUP ..........................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................................

Page 7: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

BAB I PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Kejaksaaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara terutama

dibidang penuntutan perkara pidana dilingkungan peradilan umum. Dalam rangkaian

melaksanakan tugas dibidang penuntutan ini, Kejaksaan diberi wewenang untuk melaksanakan

penetapan Hakim dan putusan pengadilan, melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan

keputusan lepas bersyarat.

Diluar tugas penuntutan, Kejaksaan memiliki sejumlah tugas dan wewenang lain baik yang

diatur dalam Undang-undang Kejaksaan dan peraturan perundang-undangan lain. Selain itu

berdasarkan berdasarkan Undang-undan, Kejaksaan dapat diberi pula tugas dan wewenang

lainselain yang sudah dimiliki sekarang.

Melakukan penuntutan sesungguhnya merupakan perbuatan menerapkan hukum secara

concreto, karena adanya pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan hukum pidana yang ada.

Ketentuan hukum pidana yang diterapkan ini terdapat baik di dalam Kitab Undang-undang Hukum

Pidana, maupun tersebar di luar Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Jaksa Penuntut Umum baru akan dapat melaksanakan tugas penuntutan dengan baik dan

sempurna apabila memiliki pengetahuan hukum pidana baik materiil maupun formal.

Asas-asas hukum pidana baik itu asas-asas umum maupun asas-asas yang menyimpang dari asas-

asas hukum pidana, terdapat baik pada hukum pidana materiil (substantial Criminal Law), maupun

dalam hukum pidana formil (Law of Criminal Procedure).

Hukum pidana materiil yang memuat ketentuan tentang larangan dan perintah atau

keharusan serta sanksi hukum bagi yang melanggar, sifatnya abstrak, melalui hukum pidana

formil, yakni dengan melakukan kegiatan penyidikan, penuntutan penyidangan, penjatuhan

pidanadan pelaksanaan keputusan, menjadi hukum pidana dalam suasana kongkrit. Oleh karena itu

hukum materiil biasa juga disebut pidana in abstracto, sedang hukum pidana formal disebut hukum

pidana in concreto.

Asas-asas hukum pidana baik itu asas hukum pidana materiil maupun hukum pidana

formal merupakan latar belakang dari peraturan hukum pidana yang kongkrit, bersifat umum dan

abstrak sekali. Pada umumnya asas hukum pidana tersebut dituangkan dalam peraturan hukum

pidana kongkrit, yaitu dimasukan kedalam pasal-pasal dari undang-undang hukum pidana asas

Page 8: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

nulum delictum nulum poena sine previa lege poenali. Yang terdapat dalam pasal 1 ayat (1) KUHP.

Sedangkan asas-asas penerapannya hanya secara tidak langsung.

Asas-asas hukum pidana baik asas-asas dari hukum pidana materiil maupun asas-asas

hukum pidana formil, seharusnya dikuasai dengan baik oleh aparat hukum, sehingga penerapan

peraturan-peraturan hukum kongkrit akan lebih baik karena asas-asas hukum pada hakekatnya

merupakan cita-cita yang hendak kita raih.

II. Permasalahan

1. Berdasarkan pengalaman menunjukan bahwa kegagalan yang terjadi pada penanganan suatu

perkara, khususnya dalam tahap pra-penuntutan maupun tahap penuntutan, yakni pelimpahan

perkara ke pengadilan, persidangan , penyampaian Requisitoir, serta replik dan tahap-tahap

selanjutnya disebabkan karena pengetahuan hukum pidananya kurang memadai, terutama

sekali pengetahuan tentang asas-asas hukum pidana. Atas dasar hal tersebut maka pemahaman

materi asas-asas hukum pidana perlu diintensifkan.

2. Dengan kita memasuki era globalisasi maka Jaksa Penuntut Umum (JPU) dituntut untuk juga

memahami asas-asas hukum pidana yang berlaku di negara lain, khususnya dari negara dengan

latar belakang hukum anglo amerika, karena dimasa mendatang kontak dengan justisiable

yang berasal dari hukum lain akan makin sering terjadi.

III. Maksud Dan Tujuan

Para peserta pendidikan dan pelatihan di Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan RI

pada umumnya adalah Sarjana Hukum, yang dengan sendirinya telah memiliki pengetahuan

hukum yang memadai, apalagi persyaratan akademis yakni Indeks Prestasi Komulatif (IPK)

seorang calon pegawai Kejaksaan Cukup tinggi. Namun demikian , dengan mengikuti pendidikan

dan pelatihan di Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan RI, diharapkan pengetahuan teoritis

dari Perguruan Tinggi yang masih bersifat umum dapat dikaitkan dan diarahkan sesuai dengan

tugas dan wewenang Kejaksaan. Asas-asas hukum pidana telah diajarkan di Perguruan Tinggi,

namun untuk penerapannya dalam praktek sebagai Penegak Hukum, Khususnya sebagai Penuntut

Umum, pengetahuan tentang asas-asas hukum ini perlu diperdalam dengan lebih menjurus kepada

pembicaraan kasus-kasus, sehingga kelak peserta pendidikan dan pelatihan tidak akan menemui

banyak kesulitan dalam menggunakan asas-asas hukum tersebut.

Page 9: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

IV. Metode

1. Metode yang digunakan adalah metode fungsional yang berorientasi pada problema, dalam

arti penyajian asas-asas hukum sebagai pelajaran hendaknya dikaitkan dengan fungsi asas-asas

hukum tersebut dan bagaimana penerapannya dalam suatu kasus yang terjadi dalam

masyarakat.

2. Dengan menggunakan metode fungsional pada pemberian pelajaran pembandingan asas-asas

hukum, sifatnya tidak saja pembandingan deskriptif, tetapi terutama pada fungsi dan

efektifitasnya asas-asas hukum tersebut.

Page 10: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

BAB II

HUKUM PIDANA

Hukum Pidana terbagi atas :

A. Hukum pidana dalam arti obyektif (ius poenale) meliputi :

- Perintah dan larangan yang harus ditaati oleh semua orang dimana pelanggaran atasnya

(norma) dikaitkan dengan sanksi berupa pidana oleh pembuat undang-undang.

- Peraturan yang mengatur tentang bagaimana atau dengan sarana apa pelanggaran atas

norma (perintah dan larangan) tersebut ditindak.

- Peraturan tentang lingkup berlakunya norma tersebut baik mengenai lingkup waktu maupun

ruang.

Ius Poenale oleh karenanya dibagi :

1. Hukum Pidana Materiil - materile strafrecht – Substantive Criiminal Law yang mengatur

tentang :

Apa Perbuatan apa saja yang dapat dipidana –disebut perbuatan pidana

(Strafbaarfeit=delik).

Siapa Siapa yang dapat dipidana –dapat dipertanggungjawabkan- pelaku

perbuatan pidana – pleger perpetrator.

Kapan Tempus Delicti.

Bagaimana Pemidanaannya.

Ancaman pidana dalam hukum pidana materiil bersifat abstrak. Hukum Pidana Materiil

dihimpun dalam kodifikasi yaitu Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), dan dalam

berbagai peraturan perundang-undangan lainnya (diluar KUHP).

2. Hukum Pidana Formil – Strafprocesrecht- Procedural Criminal Law.

- Mengatur cara-cara pelaksanaan hukum pidana materiil.

- Oleh karena itu hukum pidana formil disebut sebagai Hukum Acara Pidana –yang diatur

dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)- yang bersifat kongkrit.

- Hukum Acara Pidana dikodifikasi dalam KUHAP.

- Pengaturan hukum acara diluar KUHAP mengakibatkan sejumlah perbuatan pidana

dikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus.

B. Hukum Pidana dalam arti subyektif (Ius puniendi)

Hak Subyektif dari penguasa/ negara untuk memidana, meliputi :

Page 11: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

- Hak untuk memberi ancaman pidana.

- Hak untuk menjatuhkan pidana.

- Hak untuk melaksanakan pidana.

Ius Puniendi ini terdapat baik pada pemerintah pusat dengan undang-undang maupun

pemerintah daerah dengan peraturan daerah.

Pasal 71 ayat (2) UU No. 22 tahun 1999 – PERDA dapat memuat ancaman kurungan paling

lama 6 bulan dan denda sebanyak Rp. 5 juta.

Catatan : Wewenang pembuat perundang-undangan di daerah, tidak boleh membuat

perundang-undangan yang bertentangan dengan ketentuan 8 bab dari buku I KUHP,

sesuai dengan ketentuan pasal 103 KUHP.

PERBUATAN PIDANA/ STRAFBAAR FEIT/ DELICT

Hukum pidana materiil mengatur/ menentukan perbuatan-perbuatan apa yang dilarang atau

yang diperintahkan (diharuskan) yang dapat dipidana apabila tidak dilakukan atau dilanggar.

Perbuatan demikian disebut perbuatan pidana/ tindak pidana/ peristiwa pidana -Strafbaarfeit-

Delict.

Perbuatan pidana tertentu oleh Undang-undang diberi kualifikasi.

a. Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku ke-II, diluar KUHP ditentukan oleh

perundang-undangan itu sendiri. Ada beberapa kejahatan dalm KUHP yang disebut

kejahatan ringan yang tidak dikenal dalam KHUP Belanda.

Ada 9 kejahatan ringan dalam KUHP :

1. Penganiayaan binatang ringan (pasal 382).

2. Penghinaan ringan (pasal 315).

3. Penganiayaan ringan (pasal 352).

4. Pencurian ringan (pasal 364).

5. Penggelapan ringan (pasal 373)

6. Penipuan ringan (pasal 379)

7. Penadahan ringan (pasal 482).

Kejahatan ringan tersebut dalam pasal 384 tidak diberi kualifikasi, namun merupakan

bentuk ringan dari pasal 383 (penipuan). Pada penadahan, pasal 407 adalah bentuk ringan

dari pasal 406.

Page 12: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

- Sebelum KUHP 1918, kejahatan ringan tersebut digolongkan pelanggaran.

- Adanya lembaga kejahatan ringan ada kaitannya dengan kompetensi lembaga peradilan

pada saat itu yaitu, adanya RVJ dan Residensgerecht untuk golongan Eropa dan Landrad

dengan magistraadgerecht untuk golongan non-Eropa.

- KUHAP membedakan tindak pidana ringan (pasal 205 dan 206) yang diberikan dengan

Acara Pemeriksaan Cepat- bukan atas kejahatan ringan dan biasa seperti KUHP.

b. Pelanggaran

Didalam KUHP diatur dalam buku ke-III, di luar KUHP ditentukan oleh perundang-

undangan yang bersangkutan.

Menurut M.v.T kejahatan adalah rechtdelict karena bertentangan dengan perasaan hukum

manusia sedangkan pelanggaran adalah Wetsdelict karena ditentukan oleh undang-undang.

Kegunaan praktis pembedaan kejahatan dan pelanggaran :

1. Pada kejahatan unsur sengaja/ lalai harus dibuktikan .

Catatan : ada pelanggaran yang berunsur sengaja/ lalai.

Contoh : pasal 490 sub.1.

2. Percobaan dan Pembantuan pada pelanggaran tidak dipidana.

3. Masa kadaluwarsa baik penuntutan maupun eksekusi pada pelanggaran lebih singkat

(kecuali kejahatan percetakan).

4. Pasal 59 KUHP hanya mengenai pelanggaran (penghukuman terhadap pengurus

koperasi).

5. Pasal 82 KUHP, pembayaran denda maksimum hanya pada pelanggaran dengan

ancaman denda saja atas ijin pejabat berwewenang (Afkoop).

6. Pada pelanggaran dengan concursus realis berlaku kumulasi stelsel murni.

Catatan : bandingkan !

a. Mala in Se atau Ordinary Crimes, Acts Wrong in Themselves.

b. Mala Prohhibita –act thats crimes because they are prohibited by law.

Pembagian lain menurut common law:

a. Felonies –Serious Offence

b. Misdemeanor –Less Seriuos Offence.

Page 13: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Catatan :

1. Lembaga Afkoop ini sama dengan lembaga schikking yang merupakan wewenang Bea

Cukai berdasarkan pasal 29 Rechten Ordonantie yaitu, penyelesaian diluar pengadilan

oleh pejabat Bea Cukai terhadap pelanggaran.

2. Schikking dihapus dengan adanya Undang-undang Drt No. 7 tahun 1955 (tindak pidana

ekonomi), namun dihidupkan kembali melalui lembaga Afkoop dengan KEPJA No.

KEP.089/ D.A/ 10/ 1967 tanggal 13 Oktober 1967 tentang Delegasi Wewenang Jaksa

Agung kepada Menteri Keuangan. KEPJA ini dicabut dengan KEPJA No. 065/ JA/ 6/

85 tanggal 26 Juni 1985. Dengan adanya Undang-undang No.10 tahun 1995 tentang

Pabean –maka masalah ini tidak relevan lagi.

3. Afkoop ini mirip dengan Plea Bargaining pada sistem Anglo American yaitu suatu

kesepakatan bersama antara Penuntut Umum dengan Tersangka untuk mendapat

hukuman yang lebih ringan tanpa proses pengadilan.

4. Afkoop mirip juga dengan lembaga Transactie di Belanda. Bedanya adalah pada

transactie tidak terikat pada denda maksimum dan tidak hanya pada perbuatan pidana

dengan ancaman denda saja, tetapi juga pada ancaman denda bersama kurungan.

PERBUATAN PIDANA/ TINDAK PIDANA

Perbuatan pidana diatur didalam Hukum Pidana Materiil. Istilah Strafbaarfeit diterjemahkan :

Prof. Mulyatno sebagai Perbuatan Pidana.

Prof. Zainal Abidin, Farid, Mr. MR Utrecht sebagai Peristiwa Pidana.

Istilah Formal adalah Tindak Pidana (di dalam KUHP dan per-UU lainnya).

Ada dua aliran :

1. Aliran Klasik/ Monisme (simmons Dkk)

Prof. Simmons : Perbuatan Pidana (Strafbaarfeit) adalah suatu perbuatan yang diancam pidana,

bersifat melawan hukum, dilakukan dengan kesalahan oleh orang yang dapat

dipertanggungjawabkan (V.o.S 1950 hal. 29) -terlihat semua unsur ditumpuk menjadi satu.

Pertanyaan :

Bagaimana bila seseorang gila membunuh orang atas suruhan orang lain. Dilihat dari sudut

pandang monisme adalah bukan delik yang terjadi, karena salah satu unsur yaitu dilakukan

oleh orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan (toereken vatbaar persoon) tidak ada.

Page 14: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

2. Aliran Dualisme/ Modern dibedakan :

a. Perbuatan/ Feit

- Memenuhi rumusan delict.

- Melawan hukum (wederechtelijk).

- Tak ada alasan pembenar (rechtvaar digings grond).

b. Pembuat (dader)

- Kesalahan dalam arti luas yaitu meliputi Dolus atau Culpa.

- Dapat dipertanggungjawabkan (toerekenvatbaar).

- Tak ada alasan pemaaf (schuld uit sluitings grond).

- Pembedaan antara unsur Perbuatan dan unsur Pembuat bukanlah suatu pemisahan tetapi

sekedar sistematisasi berpikir. Untuk pemidanaan, maka kedua unsur itu harus ada –

aliran ini disebut juga monodualisme. Peletak dasar aliran ini adalah Herman Kantoro

Wic (1933).

UNSUR DAN ELEMEN PERBUATAN PIDANA (STRAFBAARFEIT)

Van Bammelen membedakan –bestanddeel (unsur) dengan elemen dari perbuatan pidana.

Unsur adalah apa yang ada dalam rumusan delik. Elemen adalah syarat untuk dapatdipidananya

orang yang terdapat diluar rumusan delik.

Elemen ini terlihat pada :

1. Ketentuan umum KUHP, yaitu :

- Perbuatan dapat dipertanggungkan kepada pelaku (Toereken Baarheid van het feit).

- Pelaku dapat dipertanggungjawabkan (Toereken Vatbaarheid van de dader).

2. Asas-asas hukum umum (Algemene Rechtbeginsel).

- Ada kesalahan (schuld) pada pelaku –perbuatan harus tercela (Verwijtbaarheid van het

feit).

3. Melawan hukum (materiil)

Catatan : melawan hukum kalau terdapat didalam rumusan delik -adalah unsur

delik- disebut melawan hukum khusus (facet).

Unsur Utama Delik (strafbaarfeit)

A. Perbuatan :

- Comissionis/ berbuat.

Page 15: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

- Omissionis/ membiarkan.

Atas dasar pembedaan tersebut perbuatan pidana dibedakan atas :

1. Delicta Comissionis : pelanggaran suatu larangandapat berupa delik formil yaitu delik

pengancaman pidana tertuju pada perbuatan (pasal 160, 209, 242 dan 362 KUHP),

maupun delik materiil, yaitu delik dengan akibat yang dipisahkan dari perbuatan (pasal

338 KUHP).

2. Delicta Omissionis :

- Yang murni -pelanggaran suatu perintah- selalu merupakan Delik Formil (pasal 164,

224, 522, 531 KHUP).

- Yang tidak murni (delicta Comisionis Perommisionen).

- Dapat dilakukan dengan berbuat maupun dengan pembiaran (pasal 338, 194 KUHP).

Melawan Hukum (Wederechtelijk)

Sifat melawan hukum ada pada semua perbuatan pidana. Kalau dimuat dalam rumusan

delik disebut unsur. Dibedakan :

1. Melawan Hukum Formil.

2. Melawan Hukum Materiil.

3. Melawan Hukum Umum.

4. Melawan Hukum Khusus.

Ad.1. Melawan Hukum Formil

Apabila seseorang telah melakukan perbuatan(Comissionis atau Omissionis) yang

memenuhi rumusan delik (peraturan kongkrit), maka ia melakukan perbuatan melawan hukum

formil. Apabila dalam rumusan delik tercantum sifat melawan hukumnya misalnya pasal 160

KUHP (penghasutan terhadap penguasa umum), 209 KHUP (sumpah palsu), 362 KUHP

(pencurian) dsb, maka melawan hukum tersebut merupakan Unsur (Bestanddeel) -disebut

melawan hukum khusus (facet)- dari delik.

Konsekuensi dimuatnya Melawan Hukum didalam rumusan delik :

1. Harus dimuat dalam dakwaan.

2. Harus dibuktikan di persidangan.

3. Jika unsur melawan hukum tidak dapat dibuktikan, maka terdakwa dibebaskan

(Vrijspraak).

Page 16: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Catatan :

Melawan Hukum Formil didasarkan pada asas legalitas yang terdapat dalam pasal 1

ayat (1) KUHP.

Ad.2. Melawan Hukum Materiil

Dikatakan Melawan Hukum Materiil apabila suatu perbuatan selain memenuhi unsur delik

(melawan hukum formil) juga harus tercela oleh masyarakat, atau melanggar norma lain yang

berlaku dalam masyarakat. Melawan Hukum Materiil tidak disebut dalam rumusan delik sehingga

merupakan Elemen dari delik.

Konsekuensi :

1. Tidak perlu didakwakan.

2. Tidak perlu dibuktikan dipersidangan.

3. Apabila dalam persidangan tidak terbukti adanya Melawan Hukum Materiil maka putusan

lepas dari segala tuntutan hukum (Ontslag Van Alle Rechtvervogling).

Catatan :

- Dalam hukum perdata dikenal istilah Onrechtmatige daad (pasal 1365 BW). Subekti

menterjemahkannya sebagai Perbuatan Melanggar Hukum.

- Onrechtmatige Daad ini semula ditafsir secara sempit (formil) sebagai Onwetmatige

Daad (melanggar Undang-undang) dengan dua unsur :

a. Perbuatan melanggar hak subyektif orang lain.

b. Bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku – hal ini terlihat pada kasus Zutphen

Juffrow HR dalam arrest 10 Juni 1910.

HR dalam arrest 31 Januari 1919 dalam kasus Cohen VS Lindenbaum menambah

:

c. Bertentangan dengan tata kesopanan (Goede Zeden).

d. Bertentangan dengan kecermatan (Zongvuldigtheid) yang berlaku dalam

masyarakat menyangkut orang dan barang.

Onrechtmatige Daad disini sifatnya luas (materiil). Arrest HR dalam kasus Cohen

vs Lindenbaum ini yang telah mendorong perkembangan pengertian Materiele

Wederechtelijkheid, baik melalui doktrin maupun yurisprudensi. Adanya persamaan

tersebut menimbulkan istilah Delik Pidana (Strafrechtelijkfeit) dan delik perdata

Page 17: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

(burgerlijkefeit). Dalam perundang-undangan kta, pengertin Melawan Hukum (MH)

sering dirumuskan dengan kata-kata lain, contoh :

- tanpa ijin (pasal 496 –membakar barang tidak bergerak milik sendiri).

- Melampaui Wewenang (pasal 430 -Pegawai Negeri menyita surat, dsb).

- Tanpa Hak (pasal 303 -perjudian, dsb).

YURISPRUDENSI

A. Hoge Raad (HR)

VEEARTS ARREST, HR tanggal 20 Pebruari 1933 Dokter hewan yang mencampur hewan

sakit dengan yang sehat yang melanggar Undang-undang Hewan (Veewet) 1920. Dalam

kasus ini ada Melawan Hukum Formil (memenuhi rumusan delik), tetapi tidak ada Melawan

Hukum Materiil, karena secara ilmiah dapat dibenarkan.

B. MARI (Mahkamah Agung RI)

1. Kasus Machrus Effendi tanggl 8 Januari 1966 No. K/ Kr/ 1965 –melanggar pasal 372

KUHP jo Undang-undang No. 24 Prp. 1960 (UU anti Korupsi). Melawan Hukum Formil,

namun MA melepaskan terdakwa dari segala tuntutan hukum (Onstlag Van Alle

Rechtvervolging) karena tidak melawan hukum materiil :

a. Kepentingan umum terlayani.

b. Terdakwa tidak mendapat keuntungan.

c. Negara tidak dirugikan.

2. Kasus Insinyur Moch. Otjo Danaatmaja, MARI tanggal 30 Maret 1977 No. 81/ K/ Kr/

1973. Melanggar pasal 415 KUHP dan pasal 372 KUHP jo. UU No. 24 Prp. 1960 –

putusan lepas dari segala tuntutan hukum karena perbuatan tidak melawan hukum

materiil.

Catatan :

a. Seorang hanya dapat dipidana jika perbuatannya melawan hukum formil (asas

legalitas) dan melawan hukum materiil. Inilah yang disebut melawan hukum umum.

Melawan hukum materiil berada diluar rumusan delik, karena merupakan elemen

delik (V. Bemmelen), oleh karenanya melawan hukum ada pada setiap delik,

walaupun tidak disebut dalam rumusan delik.

Page 18: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

b. Perbuatan hukum yang tidak melawan hukum materiil walaupun melawan hukum

formil, putusannya adalah lepas dari segala tuntutan hukum (Onstlag Van Alle

Rechtvervolging), bukan bebas (Vrijspraak).

c. Peran melawan hukum disini adalah peran negatif.

Terdakwa dilepaskan dari tuntutan hukum apabila tidak ada melawan hukum

(materiil). Peran negatif juga berarti bahwa seseorang tidak dapat dipidana hanya

karena melawan hukum materiil, karena asas legalitas.

d. Jika melawan hukum terdapat dalam rumusan delik (contoh pasal1 ayat 1a UU No. 3

tahun 1971), maka melawan hukum adalah unsur (bestand deel) atau hukum khusus/

facet sehingga :

- Harus dimuat dalam dakwaan.

- Harus dibuktikan dipersidangan.

- Jika tidak terbukti putusan adalah bebas (Vrijspraak)

e. Sebagai unsur, maka melawan hukum disini sifatnya formil bertentangan dengan

perundang-undangan (hukum tertulis) tetapi dapat juga bersifat materiil yaitu

perbuatan tercela, bertentangan dengan kepatutan yang berlaku didalam masyarakat.

Lihat penjelasan pasal 2 ayat (1) UU No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi.

o MA RI tangal 29 Desember 1983 No. 275 K/ Pid/ 1983. Kasus Korupsi atas

nama RS Natalegawa – pasal 1 ayat 1 sub A – melawan hukum adalah unsur.

Terdakwa dijatuhi pidana oleh MA dengan alasan melawan hukum harus

diukur dari asas-asas hukum tidak tertulis maupun asas-asas yang bersifat

umum menurut kepatutan dalam masyarakat. Peran melawan hukummateriil

disini adalah peran positif/ mengakibatkan penjatuhan pidana.

PEMBUAT

1. Kesalahan (schuld) :

a. Dolus

b. Culpa

2. Pertanggungjawaban (Toerekening Vatbaareheid)

Pendapat DUALISME disingkat sebagai berikut : (kantor Wic/ Mulyanto)

Page 19: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Tat/ perbuatan

Tat Bestand Maszigkeit/

memenuhi rumusan delik

1. Strafbare handelung

(perbuatan pidana)

Fehlen Von Recht

Vertigungsgrunden

(tidak ada alasan

pembenar

Strafvorausstezungen

Syarat pemidanaan

Schuld (salah)

2. Handelende

(pembuat)

Strafauschlieszungsgrunde

(tidak ada alasan pemaaf)

Hubungan antara keduanya baik hubungan sebagai hubungan paralel (Paralel Verhatenis =

berdampingan) maupun hubungan timbal balikdimana yang satu menjadi syarat bagi yang lain

(Bendingungs Verhaltenis = secara timbal balik).

Disini terdapat :

a. Strafbaarfeit van heit feit dapat dipidananya perbuatan yang sifatnya melawan hukum.

b. Strafbaarfeit van de dader yang mengandung unsur kesalahan.

Bagi Monisme, keduanya adalah unsur delik, yaitu :

Tersebut (a) -Unsur Obyektif (objective bestanddeel) yaitu perbuatan dengan keadaan yang

menyertainya dimana perbuatan itu dilakukan.

Tersebut (b) -Unsur Subyektif yaitu unsur sikap batin dari si pembuat yaitu kesalahan dalam

arti luas :

- Sengaja (dolus)

- Lalai (culpa).

Page 20: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Adagium : Actus on facit reum nisi mens sit rea (An act does not make a man guilty of crime,

unles his mind is guilty.

Penganut monisme memandang actus reus dan mens rea sebagai suatu kesatuan dan

merupakan unsur hakiki dari suatu delik.

Penganut dualisme memandang actus reus hanya merupakan unsur perbuatan dan mens rea

sebagai sikap batin, termasuk pertanggungjawaban pembuat adalah unsur pembuat.

Mens rea atau sikap batin pembuat yang oleh penganut monisme dipandang sebagai unsur

suyektif dari delik adalah sikap batin.

Penganut monisme antara lain Simmons dan Van Hamel merupakan otoritas hukum pidana di

Belanda .

Definisi strafbaarfeit oleh Simmons :

- Suatu perbuatan yang dapat dipidana (Een Strafbaar Gestelde Handeling).

- Bersifat melawan hukum (Onrechtmatige).

- Yang berkaitan dengan kesalahan (Met Schuld In Verband).

- Yang dilakukan oleh orang yang dapat di pertanggungjawabkan (Een Toereken Vat Baar

Persoon).

Actus Reus dan Mens Rea ditempatkan menjadi satu pengertian yaitu Strafbaarfeit. Jadi,

seluruhnya adalah unsur dan masing-masing merupakan syarat pemidanaan seseorang yang

melakukannya.

Sebagai perbandingan :

Menurut Jerome Hall menyebut syarat-syarat pemidanaan/ Criminal Behavior :

1. Legality Legally Proscribed.

2. Actus Reus Human Conduct.

3. Causative Causation (hubungan sebab akibat atau pebuatandengan kerugian/

harm yang

ditimbulkan).

4. Of Given Harm (Harm) –kerusakan atas nilai yang dilindungi hukum seperti : orang,

benda, nama baik.

5. Which Conduct Coincides (Concurence) Keterkaitan niat (intention) dengan

perbuatan (act).

Page 21: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

6. Mens Rea Blame worthy frame of mind.

7. Puninshment yang dapat dipidana (which is subject to punishment).

Pembuat Mens Rea :

1. Dapat dipertanggungjawabkan (toekerening vatbaarheid).

2. Kesalahan dalam arti luas :

- Sengaja (dolus).

- Lalai (culpa).

Ad.a. Sengaja (dolus)

o Tidak ada definisi sengaja dalam KUHP. Alasan Mv.t adalah bahwa KUHP bukanlah

buku pelajaran.

o Pada sengaja, kehendak pelaku tertuju pada akibat (berbeda dengan lalai, akibat tidak

dikehendaki oleh pelaku). Berbuat dengan sengaja –Mv.t adalah berbuat dengan

kehendakdan dengan pengetahuan (Willens En Wetens Handelen).

Singkatnya : Mau untuk berbuat, apa akibatnya, dan tahu apa yang diperbuat. Tahu

bukanlah tahu secara mutlak, cukup apabila dimengerti (Begijpen).

Catatan :

- Teori kehendak (wills theory) hakekat dari sengaja adalah berkehendak.

- teori perkiraan (voor stelling theorie) akibat dari suatu perbuatan(gerakan otot)

tidak mungkin diketahui –hanya diperkirakan saja.

Gradasi Sengaja :

1. Sengaja dengan niat (als oogmerk).

A hendak membunuh B, A menembak B. Sengaja disini adalah dalam bentuk paling murni.

2. Sengaja dengan kesadaran pasti ( zekerheid bewustzijn)

A hendak membunuh B yang berada ditengah-tengah kerumunan orang banyak dengan

melempar granat. Kematian B adalah sengaja dengan niat. Kematian orang lain bersama B

adalah suatu akibat pasti.

3. Sengaja dengan sadar akan kemungkinan akibat (bij mogelijkheid bewustzijn)

Dolus bersyarat

Dolus Evantualis.

Page 22: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Pengendara motor dengan kecepatan tinggi mengendara motor ditengah-tengah

kerumunan anak-anak. Apabila ada yang mati/ cidera.

Sengaja dalam Undang-undang :

1. Dengan sengaja (contoh : pasat 1 ayat (1)a UU. No 3/ 1971).

2. Mengetahui bahwa (als wetende dat- pasal 227 dan 230 KUHP).

3. Mempunyai pengetahuan (kennis dregende- pasal 164, 165, 464 sub.3 KUHP).

4. Dalam hal dia tahu (waar van hij weet- pasal 282 KUHP).

5. Dengan niat untuk (met het oogmerk om- pasal 263, 362, 378 KUHP).

6. Dengan tipuan mengurangi (bedriegelijk ver korting- pasal 397 KUHP).

Selain itu dengan sengaja tergambar dalam kata kerja.

Contoh :

- Dengan paksaan atau ancaman paksaan menghindarkan (pasal 173 KUHP)

- Memaksa masuk (pasal 167 KUHP).

- Melawan (pasal 212 KUHP).

- Menganiaya (pasal 351 KUHP).

Dengan demikian Undang-undang kadang menekankan pada salah satu komponen saja

seperti : mengetahui, dengan maksud penekanan pada tujuan, yaitu tujuan pebuatan dilakukan

dengan mengetahui.

Arti menempatkan kata “sengaja” dalam Undang-undang :

- Semua dibelakang kata “sengaja” tunduk pada pengertian sengaja. (contoh : pasal 330

KUHP).

- Pengecualian apabila Undang-undang mengatakan (contoh : pasal 187 butir 1,2 dan 3

KUHP).

Catatan :

Perbuatan sengaja (atau lalai) dapat disimpulkan dari :

a. alat yang digunakan, misal : badik.

b. Sasaran perbuatan, misal : dada.

Error In Persona

A hendak membunuh B, yang terbunuh C, yang disangka B. Yang diisyaratkan pasal 338

KUHP adalah menghilangkan nyawa orang, tidak penting siapa yang mati.

Page 23: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Aberratio Ictus (salah sasaran)

A hendak membunuh B, yang tertembak C.

Ada beberapa kemungkinan yang terjadi :

1. Terhadap C pembunuhan dengan sengaja dengan keadaran memungkinkan akibat.

Terhadap B Percobaan pembunuhan dengan sengaja sebagai niat.

2. Apabila C jauh dari B yang adalah sasaran tembak, maka :

- Terhadap C bukannya sengaja tetapi lalai.

- Terhadap B percobaan pembunuhan.

Berencana (Voorbedachte rade) – disebut juga Dolus Premediatus. M.v.T –terdapat saat

untuk menimbang dengan tenang dan mantap. Rencana lebih dulu –mendahului perbuatan

sengaja.

Catatan :

Dolus maupun Culpa adalah tidak berwarna (Kleurlos), artinya : bahwa pelaku tindak pidana

tidak pelu tahu perbuatannya melawan hukum. Adalah asas berupa fiksi hukum bahwa semua

orang mengetahui Undang-undang sejak di undangkan.

Ad.b. Lalai (culpa)

- Sama halnya dengan Dolus, Undang-undang juga tidak membuat definisi tentang

Culpa.

- J.E Johnkers menyebut 3 elemen Culpa :

a. Dapat diduga (voorziendbaarheid).

b. Dapat dihindari (vermijdbaarheid).

c. Melawan Hukum (wederrechtlijkheid).

Pada “sengaja” , kehendak pelaku tertuju pada akibat. Pada “lalai” tidak tertuju pada

akibat.

- Remmelink : Ciri kelalaian (yang disadari) adalah lebih baik tidak berbuat daripada

berbuat, dengan akibat yang dikehendaki disertai akibat lain yang sama sekali tidak

dikehendaki. Hal ini menimbulkan anggapan bahwa Culpa adalah Aulid terhadap

Dolus. Jadi, berbeda secara prinsipil.

- Van Bammelen : Culpa adalah minus dari Dolus. Perbedaannya adalah gradual.

- KUHP menggambarkan beberapa istilah untuk Culpa :

Page 24: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

a. Karena salahnya –pasal 359-360, 188 KUHP.

b. Ketidak hati-hatian (onachtzianheid) –pasal 231, 232 KUHP.

c. Seharusnya dapat menduga (redelijkkerwijs moet vermoeden) –pasal 278, 288

KUHP.

d. Dapat diduga (om te vermoeden)

e. KUHP menggambarkan beberapa istilah untuk Culpa.

Dalam undang-undang penempatan delik Culpa sering berbarengan dengan delik sengaja,

sebagai delik ancaman hukumannya ringan, berhadapan dengan delik Dolus dengan

ancaman hukuman berat.

Contoh : pasal 188 dengan 187, pasal 354 dengan pasal 338 KUHP.

Ada delik yang tidak mungkin dilakukan secara Culpa, seperti delik asusila.

Ada delik Dolus yang tidak ada mitra Culpa-nya, karena dianggap tidak perlu oleh

perasaan hukum masyarakat –pemidanaan adalah Ultimum Remedium.

Ada pula pasal tertentu dalam KUHP dibawah Dolus dan Culpa ditempatkan bersama

dalam satu pasal dengan ancaman hukuman yang sama.

Pasal 292, 293 KUHP (tahu atau patut dapat menduga).

Pasal 418 – pasal 419 KUHP (tahu atau patut dapat mengharapkan).

Hal demikian disebut Pro Parte Dolus Pro Parte Culpa.

Van Hammel – ada 2 jenis Culpa :

1. Karena kurang dapat memperkirakan.

2. Kurang berhati-hati.

Vos – ada elemen Culpa :

1. Dapat memperkirakan akibat oleh si pembuat (voorziendbaarheid). Merupakan syarat

subyektif – a.l tingkat kecerdasannya, tenaganya.

2. Ketidak hati-hatian (onvoorzichtigheid)

Merupakan syarat obyektif –terlihat dari tindakannya yang berdampak subyektif. –a.l

apakah dia seorang ahli atau awam. Culpa ada apabila kedua elemen tersebut ada.

Dapat diperkirakannya akibat saja belum menghasilkan Culpa.

Contoh (vos halaman. 162) :

Page 25: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Seorang dokter yang dengan terampil : melakukan operasi yang berbahaya dapat

memperkirakan terjadinya kematian, tidak melakukan Culpa. Dibutuhkan lagi adanya

ketidak hati-hatian, menurut ukuran obyektif.

Syarat berhati-hati terbagi dua :

- Pelaku melakukan perbuatan menurut ukuran ketelitian yang normal. -Membersihkan

baju yang bernoda dengan bensin dekat api.

- Pelaku telah bertindak sangat hati-hati, namun akibat tetap terjadi.

Contoh : seorang ahli/ amatir yang mengerjakan kembang api tetap bersalah.

*Catatan : pada butir 2 ini, unsur Culpa dan unsur melawan hukum bertemu.

Page 26: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

BAB III

NULLA POENA - POENA - STRAF – HUKUMAN

Apa itu Hukuman ? perlu dibedakan antara hukuman/ straf dengan tindakan/ maatregel.

Hukuman/ pidana adalah derita yang ditimpakan kepada pelaku tindak pidana

Sasaran pemidanaan adalah derita (leed), setidak-tidaknya sasaran antara disamping sasaran

akhir yaitu memperbaiki pelaku.

Pada tindakan makna derita bukanlah tujuan. Tujuan tindakan adalah perlindungan dan

sifatnya sosial. A.l. tersebut pasal 24 UU No. 3/ 1997 tentang Pengadilan Anak, yaitu terhadap

anak nakal, yaitu terhadap anak nakal dapat dijatuhkan tindakan :

a. Mengembalikan kepada orangtua, wali atau orangtua asuh.

b. Menyerahkan kepada Depsos untuk melakukan pendidikan dan pembinaan (Dik-Bin),

latihan kerja ,atau

c. Menyerahkan kepada Depsos atau ORSOS kemasyarakatan yang bergerak dibidang Dik,

Bin, Lat Kerja.

Catatan : Undang-undang No. 3/ 1997 –anak nakal :

a. Anak yang melakukan Tindak Pidana.

b. Anak yang melakukan perbuatan terlarang bagi anak menurut perundang-undangan/

peraturan hukum lainya. Anak nakal : 8 – 18 tahun/ atau belum pernah kawin.

Mengapa pidana dijatuhkan ?

1. Teori Absolut/ pembalasan

Hakekat pidana adalah pembalasan terhadap kesalahan yang :

a. Bersifat subyektif –pembalasan terhadap kesalahan pelaku.

b. Bersifat obyektif –pembalasan atas akibat yang ditimbulkan kedunia luar.

Latar belakang pemikiran teori ini adalah :

KANT : Pidana adalah tuntutan etik walaupun masyarakat akan musnah besok, hari ini

pembunuh harus dihukum mati.

2. Teori Relatif

Tujuan pemidanaan adalah prevensi terhadap kejahatan. Hakekat pemidanaan : menimbulkan

rasa takut, perbaikan dan penghancuran.

Teori Prevensi sebagai “tujuan” terbagi :

Page 27: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

a. Prevensi Umum (generale preventie)

Pemidanaan adalah untuk mencegah semua orang untuk melakukan kejahatan. Hasil teori

ini adalah pemidanaan yang kejam, pelaksanaannya di depan orang banyak.

Von Veirbach mengembangkan teori Psychologische Zwang –ancaman pidana yang

tinggi dapat menjadi dorongan psikologis/ kontra motif terhadap nafsu berbuat kejahatan.

b. Prevensi Khusus

Tujuan pidana adalah pencegahan terhadap pelaku untuk tidak berbuat lagi.

3. Teori Gabungan (veremigings teorie)

Merupakan kombinasi dari teori pembalasan dan teori relatif.

Terdapat tiga variasi :

a. Tujuan adalah pembalasan dengan pembatasan yaitu pulihnya tata tertib hukum.

b. Tujuannya adalah perlindungan masyarakat dengan pembatasan tidak melampaui derita

sepantasnya.

c. Tujuannya adalah pembalasan sekaligus melindungi masyarakat.

JENIS-JENIS PIDANA

Pasal 10 KUHP menyebut jenis pidana menurut urut beratnya sebagai berikut :

a. Pidana Pokok

1. Pidana Mati.

2. Pidana Penjara.

3. Pidana Kurungan.

4. Pidana Tutupan (UU No. 2 tahun 1946).

5. Pidana Denda.

b. Pidana Tambahan

1. Pencabutan bebetapa hak tertentu.

2. Perampasan barang tertentu.

3. Pengumuman keputusan hakim.

Catatan :

1. Pidana pokok yang dapat dijatuhkan pada anak nakal (pasal 23) selain tersebut diatas

kecuali pidana mati dan tutupaan, ditambah pidana pengawasan.

Page 28: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

2. Pidana tambahan bagi anak nakal berupa :

- Perampasan barang.

- Pembayaran ganti rugi.

Ad. a. Pidana Pokok :

1. Pidana Mati

Di Belanda sejak tahun 1820 pidana mati telah dihapus.

- Dalam KUHP ada sejumlah tindak pidana yang diancam dengan hukuman mati :

1. Kejahatan terhadap keamanan negara (pasal 104, 111 ayat (2), 124 ayat (3) jo pasal

129 KUHP).

2. Kejahatan melanggar martabat presiden (pasal 140 ayat (3) KUHP).

3. Pembunuhan berencana (pasal 340 KUHP).

4. Pencurian dengan kekerasan dengan berserikat/ bersama-sama ( pasal 365 KUHP).

5. Pembajakan (pasal 444 KUHP).

- Diluar KUHP

1. Tindak pidana narkotika (UU No. 22 /1997 pasal 80 ayat (1)a, ayat (2)a, ayat (3)a,

pasal 81 ayat (3)a, pasal 82 ayat (1)a, ayat (2)a, ayat (3)a.

2. Tindak pidana psikotopika ( UU No. 5/ 1997 pasal59 ayat (2)).

3. Tindak pidana korupsi (pasal 2 ayat (2)).

Catatan :

1. Pelaksanaan pidana mati ditunda :

a. Terpidana gila, sesudah putusan sampai terpidana sembuh,

b. Terpidana hamil sampai 40 hari setelah melahirkan ( pasal 7 UU No. 2/1964

PNPS).

c. Sampai mendapat fiat Presiden (pasal 2 yat (3) UU No. 40/1950 tentang Grasi)

2. Pelaksanaan pidana mati dengan jalan ditembak sampai mati oleh regu tembak

Brimob dibawah perintah Jaksa Tinggi/ Jaksa.

2. Pidana Penjara

Pidana penjara tertinggi adalah seumur hidup.

KUHP menentukan pidana maksimum umum selama 15 tahun, namun untuk kejahatan

dengan ancaman mati/ penjara seumur hidup atau karena terdapat concursus/ residive dapat

menjadi 20 tahun.

Page 29: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Penjara minimun menurut KUHP adalah 1 (satu) hari.

Hukuman minimun khusus terdapat pada :

1. UU No. 22/1997 tentang Narkotika.

a. Yang didahulukan dengan permufakatan jahat :

- Pasal 78 ayat (2) – 2 tahun.

- Pasal 80 ayat (2) – 4 tahun.

- Pasal 81 ayat (2) – 2 tahun.

- Pasal 82 ayat (2) – 4 tahun.

b. Yang dilakukan secara terorganisasi :

- Pasal 78 ayat (3) – 3 tahun.

- Pasal 80 ayat (3) – 4 tahun.

- Pasal 81 ayat (3) – 4 tahun.

- Pasal 82 ayat (3) – 4 tahun.

2. UU No. 5/ 1997 tentang Psikotropika – pasal 59 ayat (1) – 4 tahun.

3. UU No. 20/ 2001 jo UU No. 31/ 1999 tentang T.P Korupsi. Ada 10 tindak pidana yang

diberi pidana minimum 1 s/d 4 tahun.

4. UU No. 15/ 2002 tentang T.P Pencucian uang – pasal 3 ayat (1) – 5 tahun.

3. Pidana Kurungan

Pidana kurungan maksimum umum (1 tahun) dan minimum (1 hari).

Dapat dijatuhkan kurungan 1 tahun 4 bulan dalam hal :

a. Samenloop.

b. Residive.

c. Pegawai negeri yang melakukan tindak pidana melanggar kewajiban khusus

jabatannya.

Ada pula maksimum khusus yang terdapat pada pasal tertentu.

Pidana kurungan diancamkan pada kejahatan Culpa dan pelanggaran.

Perbedaan pidana kurungan dengan pidana penjara :

a. Terpidana penjara dapat dipindahkan kepenjara lain diluar wilayah tempat ia

dijatuhkan pidana. Pada terpidana tidak dapat, kecuali atas kehendak terpidana sendiri.

b. Terpidana kurungan hanya diberi pekerjaan ringan – pasal 19 (2) KUHP.

Page 30: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

c. Terpidana kurungan dapat memperbaiki nasibnya yang disebut PISTOLE – pasal 23

KUHP.

Pidana kurungan pengganti atau subsidair adalah suatu bentuk khusus dari pidana kurungan

sebagai pengganti pidana denda dalam hal terpidana tidak mampu/ tidak mau membayar,

diganti dengan pidana kurungan (pengganti) yang disebut dalam vonis. Kurungan pengganti

juga atas barang rampasan yang tidak disita, jika barang tidak diserahkan dan harganya

sebagai pengganti tidak dibayar.kurungan pengganti minimum 1 hari dan maksimum 6

bulan dan dalam hal concursus/ residive dapat menjadi 6 bulan.

Jika terdapat komulasi pidana penjara dan kurungan maka pidana penjara dijalani dahulu

kemudian baru disusul pidana kurungan.

4. Pidana Denda

Pidana denda senantiasa dijatuhkan dengan pidana kurungan pengganti.

Pidana denda dalam beberapa perundang-undangan dapat dijatuhkan secara kumulatif

dengan pidana penjara atau secara kumulatif alternatif :

a. Kumulatif – pasal 6 UU TPK : dipidana dengan pidana paling singkat 3 tahun dan

paling lama 15 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 150 juta dan paling banyak

Rp. 750 juta (penyuapan aktif dan pasif) terhadap Hakim maupun Advokat. Lihat juga

pasal. 8, pasal 9, pasal 10, pasal 12, pasal 12 b ayat (2).

Catatan :

Hal serupa terdapat :

a. Pada UU Narkotika

b. Pada UU Psikotropika.

c. Pada UU Pencucian Uang.

d. Pada UU T.P Ekonomi.

- Pidana yang dijatuhkan/ dituntut harus pidana penjara dan denda.

- Pidana penjara yang dijatuhkan tidak boleh lebih rendah dari 3 tahun dan

pidana denda dari tidak boleh lebih rendah dari Rp. 150 juta

b. Kumulatif Alternatif – pasal 5 UU TPK- dipidana dengan pidana penjara paling

singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun atau pidana denda dstnya. Lihat juga

pasal 7, pasal 11 UUTPK.

Page 31: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Catatan : hal serupa terdapat pada pasal 64, pasal 65 UU Psikotropika dan pada

UU T.P Ekonomi.

5. Pidana Tutupan.

UU No. 20/ 1946 menambahkan pidana tutupan terhadap orang yang melakukan kejahatan

yang diancam dengan hukuman penjara karena didorong oleh maksud yang patut dihormati.

Pidana tutupan dilaksanakan dirumah tertutup (PP No. 8/ 1998).

Pidana Bersyarat : sejak tahun 1927 pidana bersyarat adalah pidana yang dijatuhkan namun

tidak perlu dijalankan apabila selama dalam waktu percobaan tertentu, terpidana tidak

melakukan tindak pidana atau melanggar syarat khusus yang ditentukan hakim.

1. Hanya terhadap pemidanaan penjara yang tidak melebihi 1 tahun.

2. Dapat juga dijatuhkanpada pidana kurungan kecuali kurungan pengganti.

3. Dapat juga dijatuhkan terhadap denda jika ternyata pidana denda ataupun perampasan

barang menimbulkan keberatan yang sangat bagi terpidana.

4. Tidak dapat dijatuhkan terhadap perkara peng.. negara.

5. Syarat-syarat :

a. Syarat umum

Tindak boleh melakukan tindak pidana selama masa percobaan.

Catatan :

Masa Percobaan :

- Untuk T.P pelanggaran –pasal 492, 504, 505 dan 536 KUHP selama-lamanya

3 tahun.

- Untuk pelanggaran yang lainselama 2 tahun.

b. Syarat Khusus

Menyangkut semua perilaku terpidana yang tidak mengurangi kebebasan

beragama dan politik, pengawasan dilakukan oleh Jaksa.

Pelepasan Bersyarat

Terpidana yang telah menjalani 2/3 dari pidananya dan juga paling sedikit 9 bulan dapat dilepas

dengan :

Page 32: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Syarat Umum

- Dalam tempo percobaan (lebih dari 1 tahun dari sisa masa pidana).

- Tidak melakukan tindak pidana/ tidak berkelakuan jelek (pasal 15a).

Syarat Khusus

Sama dengan pemidanaan bersyarat yaitu :

- Pengawasan dilakukan oleh Jaksa.

- Pelepasan dicabut apabila terpidana melanggar syarat/ perjanjian.

- Masa sisa pemidananaan harus dijalani tanpa harus memperhatikan masa pelepasan.

Ad. b Pidana Tambahan :

Pidana tambahan hanya dapat dijatuhkan bersama dengan pidana pokok dengan beberapa

pengecualian.

Pidana tambahan bersifat fakultatif –tidak wajib dijatuhkan.

Kadangkala UU menetapkan pidana tambahan Imperatif –pasal 250 bis merampas mata uang

palsu –pasal 261 dan pasal 275 KUHP.

Jangka waktu pencabutan hak lebih lama dari masa pidana.

a. Pencabutan Hak-hak tertentu

o Tidak bleh dilakukan pencabutan atas semua hak (mati perdata).

o Hak tertentu yang dicabut dirinci dalam pasal 35 KUHP :

1. Hak untuk memangku jabatan/ jabatan tertentu. –melanggar pidana tambahan, ini

diancam dengan pasal 227 KUHP.

2. Hak pilih/ dipilih dalam PEMILU.

3. Hak untuk menjadi TNI.

4. Hak menjadi penasehat/ wali/ wali pengawas, pengampu, currator, atau orang lain

selain anaknya sendiri.

5. Hak sebagai kuasa bapak (vaderlijkemacht) pengampu dan currator atas anaknya

sendiri.

6. Hak untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu (bepaalde beroepen)

Catatan : pencabutan atas hak memangku jabatan tertentu, tidak dapat dilakukan

oleh Hakim. Jika hal itu ditentukan undang-undang. (contoh : Ketua dan Anggota

Mahkamah Agung).

b. Perampasan Barang Tertentu

Page 33: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

c. Perampasan barang-barang tertentu diatur secara umum dalam pasal 39 dan 40 KUHP,

disamping perampasan khusus dalam pasal-pasal tertentu.

Contoh : pasal 205 ayat (3) untuk delik Culpa.

Pasal 502 ayat (2), pasal 549 ayat (2)

Page 34: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

BAB IV

ASAS-ASAS HUKUM PIDANA

A. Apa itu Asas-asas Hukum Pidana

Asas hukum (rechtbeginsel) adalah pikiran dasar yang sifatnya umum dan melatar belakangi

kaidah hukum (rechtnorm) yang terdapat dalam hukum kongkrit (rechtregels).

Catatan :

- Pasal 362 KUHP (pencurian), 372 KUHP (penggelapan), 378 (penipuan)

peraturan kongkrit = norma + sanksi.

- Kaidanya jangan mencuri, jangan menggelapkan, jangan menipu.

Kaidah hukumnya = ketentuan tentang perilaku manusia dalam masyarakat, apa yang

seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan.

- Asasnya adalah = hak milik orang harus dihormati.

Asas hukum ini kadang-kadang dijadikan ketentuan kongkrit seperti pada pasal 1 KUHP,

Asas : “NULLUM DELICTUM NULLA POENA SINE PREVIA LEGE POENALE”

Asas huku tidak terdapat didalam UU “GEEN STRAF ZONDER SCHULD” =

Tidak ada hukuman tanpa kesalahan.

B. Hukum Pidana

Hukum pidana terbagi atas :

1. Hukum pidana obyektif (ius poenale = semua peraturan) :

1.1. Hukum pidana materiil (subtantive criminal law).

Mengatur kapan, siapa dan bagaimana hukum termuat dalam KUHP dan lain-lain.

1.2. Hukum pidana formal/ acara (procedural criminal law).

ASAS

KAIDAH

KONGKRIT

Page 35: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Mengatur bagaimana hukum pidana materiil ditegakkan, termuat dalam KUHP dan

UU lainya.

Catatan :

1. Adanya hukum acara dalam UU lain yang menyimpang dari ketentuan KUHAP

menjadikan peraturan pidana dalam UU tersebut sebagai ketentuan khusus.

2. Wewenang Penyidikan Pidum : penyidik POLRI + PNS.

3. Wewenang Penyidikan Pidsus : Kejaksaan (contoh : TP Korupsi).

2. Hukum pidana subyektif ((ius puniendi)

Hak negara (penguasa) untuk menghukum (mengancam hukuman, menjatuhkan hukuman

dan melaksanakan hukuman).

APA-APA SAJA ASAS HUKUM PIDANA YANG BERLAKU

1. Asas Legalitas (tanpa Undang-undang tidak ada hukuman)

Terdapat dalam rumusan pasal 1 ayat (1) KUHP dan dirumuskan oleh Anslem Von Veurbach

sebagai “NULLUM DELICTUM NULLA POENA SINE PREVIA LEGE POENALE”,

diartikan :

- Nulla Poena Sine Lege : Tiada pidana tanpa Undang-undang.

- Nulla Poena Sine Crimine : Tiada pidana tanpa perbuatan pidana.

- Nullum Crimen Sine Poena Legali : Tiada perbuatan pidana Tanpa Undang-undang pidana

yang terlebih dahulu ada.

o Fungsi Asas Legalitas

1. Melindungi rakyat terhadap pelaksanaan kekuasaan pemerintah.

2. Instrumental : Penguasa di beri kuasa memidana dalam batas ketentuan Undang-

undang. Fungsi Instrumentalia di Jerman, Australia, Spanyol, Italia pemerintah

wajib menggunakan wewenang memidana. Sedangkan di Belanda, Indonesia, Perancis,

Belgia dan beberapa negara lainnya pemerintah berwewenang tetapi tidak wajib

memidana.

Kelemahannya : Sering fungsi perlindungan dikorbankan untuk fungsi Instrumental.

Page 36: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Sub Asas Legalitas/ Aspek-aspek

1. Tidak dapat dipidana kecuali ada ketentuan pidana berdasarkan Undang-undang (formal).

2. Tidak diperkenankan Analogi (pengenaan suatu Undang-undang terhadap perbuatan yang

tidak diatur oleh Undang-udang tersebut)

3. Tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan (peraturan tidak tertulis)

4. Tidak boleh ada perumusan delik yang kurang jelas (lex certa)

5. Tidak boleh berlaku surut (retroaktif).

6. Tidak boleh ada ketentuan pidana diluar Undang-undang.

7. Penuntutan hanya dengan cara yang ditentukan Undang-undang.

Pengecualian Asas Legalitas

Pasal 1 ayat (2) KUHP memungkinkan Undang-undang berlaku surut apabila hal tersebut

menguntungkan pelaku.

2. Asas Kesalahan :

Adagium : “ACTUS NON FACIT REUM NISI MENS SIT REA” (an act does not make a man

guilty of crime unless his mind be also guilty).

a. Actus Reus (criminal act) Yang memenuhi rumusan delik dalam Undang-

undang.

b. Mens Rea Unsur batin pembuat – yaitu sengaja, lalai.

o Jadi suatu perbuatan (actus reus) walaupun sudah memenuhi rumusan undang-undang

tidak dapat dipidana kalau tidak ada kesalahan (mens rea). Asas kesalahan ini sangat

fundamental sifatnya dalam hukum pidana.

3. Asas-asas Yang Menyangkut Ruang Lingkup Berlakunya Undang-undang Pidana

Indonesia.

Ada 2 asas pokok :

1. Asas Teritorialitas (pasal 2 KUHP)

1.1. Perluasan dari asas teritorialitas (pasal 3 KUHP) :

Setiap orang yang melakukan perbuatan pidana diatas alat pelayaran Indonesia diluar

wilayah Indonesia.

2.2. Asas eks Teritorial (pasal 9 KUHP)

Berlakunya pasal 2 , 5 dan 8 KUHP dibatasi oleh pengecualian-pengecualian dalam

hukum internasional.

Page 37: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Catatan :

Alat pelayaran pengertiannya lebih luas dari kapal.

Kapal = Spesies dari alat pelayaran.

Diluar Indonesia = dilaut bebas dan di laut wilayah negara lain.

Asas-asas Extra Teritoriality/ Kkebalan dan Hak Istimewa (Immunty Previlege).

a. Kepala negara asing dan anggota keluarganya.

b. Pejabat-pejabat perwakilan negara asing dan keluarganya.

c. Pejabat-pejabat pemerintahan negara asing yang berstatus diplomatik yang dalam

perjalanan melalui negara-negara lain atau menuju negara lain.

d. Satuan angkatan bersenjata yang terpimpin.

e. Pejabat-pejabat badan internasional.

f. Kapal-kapal perang dan pesawat udara militer/ ABK diatas kapal maupun diluar

kapal.

2. a. Asas-asas Personalitas/ Nasionalis Aktif

o Pasal 5 KUHP –hukum pidana Indonesia mengikuti warga negara Indonesia. Hukum

pidana Indonesia berlaku bagi warga negara Indonesia diluar Indonesia yag melakukan

pidana tertentu (kejahatan terhadap keamanan negara, martabat kepala negara,

penghasutan, dll).

b. Asas Nasionalis Pasif (perlindungan Kepentingan Nasional).

o Pasal 7 KUHP –pejabat Indonesia yang melakukan kejahatan jabatan diluar negeri.

o Pasal 8 KUHP – Nakhoda kapal Indonesia diluar kapal.

c. Asas Universalitas

o Pasal 4 KUHP – Kejahatan uang palsu, kejahatan perompakan.

o Dalam hal ini kepentingan universal dilindungi.

ASAS-ASAS YANG BERKAITAN DENGAN PENGHAPUSAN PIDANA

A. Alasan Penghapusan Pidana

1. Alsan penghapus pidana umum (general defenses) – Dibuku I KUHP juga berlaku terhadap

aturan pidana diluar KUHP (pasal 103).

2. Alasan penghapus pidana khusus yang terdapat dalam rumusan delik yang bersangkutan

(pasal 164, pasal 65 ayat (2), pasal 310 ayat (3) KUHP).

Page 38: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

B. 1. Diatur dalam Undang-undang

1.1 Tidak mampu bertanggungjawab (pasal 44 KUHP)

a. Perkembangan akal yang tidak sempurna (gebrekkige ontwikkeling der verstandelijke

vermogens)

Contoh : idiot, imbisil tuli-bisu sejak lahir.

b. Sakit + akal/ ingatan (ziekelijke storing/ insanity)

Contoh : gila, mania, histeris).

Pertanyaan : bagaimana dengan mabuk/ Intoxication?

Mabuk patologi dapat digolongkan dengan mabuk biasa/ tidak, namun ada kemungkinan

hilangnya Dolus atau Culpa.

Catatan : kedua hal tersebut bukanlah istilah medis, tetapi merupakan istilah yuridis.

Hakim yang menetapkan.

1.2 a. Pembelaan Darurat/ Noordweer/ Self Defense (pasal 49 ayat (1) ), ada 3 asas :

1. Asas Subsidair

Noodweer baru dapat diterima apabila tidak ada jalan lain yang bisa dipakai (contoh

: lari).

2. Asas Proporsional.

Kepentingan yang dilindungi harus seimbang dengankepentingan yang dikorbankan

(contoh : pencuri hingga ditembak).

3. Asas Culpa In Causa.

Penyerangan terjadi karena perbuatan sendiri.

Dari 3 asas tersebut diatas terlihat ada 3 syarat suatu penyerangan :

a. Mendadak (ogenblikelijk).

b. Langsung mengancam (onmiddelijk dreigend/ immediate danger).

c. Melawan hukum (wederrechtelijk).

d. Tertuju kehormatan susila (eerbaarheid), nyawa (lijf), barang (goed).

b. Ekses Pembelaan Darurat/ Noodweer Exces (pasal 42 ayat (2) KUHP), Syarat-syarat :

1. Ada penyerangan mendadak terhadap tubuh, kehormatan, susila dan barang.

2. Melawan hukum.

3. Pembelaan tidak seimbang (exces).

4. Disebabkan sangat terguncangnya hati (hevige gemoedsbewing).

Page 39: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

1.3 Daya Paksa/ Overmacht Durres/ Coercion (pasal 48 KUHP), ada 3 bentuk :

1. Absolut (vis absoluta).

2. Relatif (vis compulsiva)

3. Keadaan darurat (noodtoestand-necessity) terbagi atas 3 bagian :

a. Tabrakan kepentingan antara dua kepentingan hukum (rechtbelang ><

rechtbelang).

Contoh : satu papan dua orang dilaut.

b. Tabrakan kepentingan hukum dengan kewajiban hukum (rechtbelang ><

rechtplicht).

c. Tabrakan kewajiban hukum dengan kewajiban hukum (rechtplicht >< rechtplicht)

Contoh : menghadap dua Pengadilan Negeri pada saat yang sama.

Catatan : ketiga asas dalam pembelaan darurat diatas, berlaku juga disini (daya paksa).

1.4 Pelaksanaan Ketentuan Perundang-undang/ Wettelijk Voorschrift (pasal 50 KUHP).

Tidak terbatas pada Undang-undang saja tetapi semua ketentuan Perundang-undangan.

Harus dalam batas-batas kewajaran.

Harus sesuai dengan tujuan umum yang hendak dicapai Perundang-undangan.

1.5 Perintah Jabatan/ Ambtelijk Bevel/ Superiors Order (pasal 51 KUHP), Syarat-syarat :

1. Ada perintah.

2. Pejabat berwenang

3. Dalam hubungan hukum publik (publik rechtelijk verhounding).

Pertanyaan : Bagaimana apabila pejabat yang tidak berwenang yang mengeluarkan

perintah?

Ada 2 syarat :

1. Subyektif : pelaku harus dengan itikad baik beranggapan pejabat tersebut bewenang.

2. Obyektif : Pelaksanaan perintah berada dalam lingkup tugasnya. (contoh : seorang

Polisi diperintahkan untuk menganiaya tahanan tidak termasuk dalam lingkup

tugasnya).

B. 2. Diatur Diluar Undang-undang

a. Izin : Berlaku terbatas. (contoh : tinju).

b. AVAS (Afwezigheid Van Alle Schuld).

c. Tidak ada sifat melawan hukum materiil.

Page 40: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

C. Penghapusan Pidana

Dapat dikelompokan :

a. Alasan Pembenar (recht vaar digings grond) : Perbuatan dibenarkan dan unsur delik tidak

terbukti maka dibebaskan (vrijspraak).

b. Alasan Pemaaf (schulduitsluitings grond/ verontschuldings grond) : Dimana unsur

kesalahan tidak terbukti maka lepas dari tuntuan hukum (ontslag van alle rechtvervolging)

dan orangnya dimaafkan.

Alasan Penghapus Pidana (Umum) Dalam Undang-Undang .

PEMBENAR PEMAAF

Pembelaan Darurat (psl. 49 ayat (1) Tidak mampu bertanggungjawab (psl. 44)

Keadaan darurat (Nood Toestand) Daya paksa/ Overmacht/ Force Majeur (psl. 48)

Menjalankan Perundang-undang

(psl.50)

Ekses Pembelaan Darurat/ Noodweer Ekses (psl.49

ayat(2))

Menjalankan perintah jabatan (psl.51) Menjalankan Perintah jabatan yang tidak sah (psl. 51

ayat (2)

ASAS-ASAS YANG BERLAKU PADA PEMBARENGAN (SAMENLOOP)

A. Perbedaan Antara Pembarengan (samenloop), Penyertaan (deelneming) dan Residif Pada

Perbuatan Pidana :

a. Pada pembarengan terdapat satu pelaku dengan perbuatan yang melanggar beberapa

peraturan tanpa diselingi putusan Hakim.

b. Pada Penyertaan (deelneming) terdapat beberapa pelaku yang melakukan satu perbuatan

pidana.

c. Pada residif terdapat satu pelaku yang melakukan beberapa perbuatan pidana, namun

diantara setiap perbuatan pidana dipisahkan oleh putusan Hakim.

B. Pembagian Pembarengan

a. Concursus Idealis (Eendaadsche Samenloop) : Seorang pelaku dengan satu perbuatan

telah melanggar beberapa ketentuan pidana (psl.63 ayat (1) KUHP).

b. Concursus Realis (Meerdaadsche Samenloop) : Seorang pelaku melakukan beberapa

perbuatan tanpa diselingi putusan Hakim.

Page 41: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

c. Perbuatan Yang Diteruskan (Voorgezette handeling) : adalah beberap perbuatan yang

berdiri sendiri-sendiri namun satu sama lain berkaitan sehingga harus dilihat sebagai

perbuatan berlanjut (psl. 64 KUHP).

Concursus Idealis

Penggunaan istilah –“Feit” dalam pasal 63 KUHP yang seringkali diterjemahkan sebagai

Perbuatan sangat penting dalam kaitannya dengan pasal 76 yang juga menggunakan istilah

“Feit”.

Pasal 63 jika suatu perbuatan (feit) termasuk.. dst.

Pasal 76 orang tidak boleh ditutntut sekali lagi atas perbuatan (feit)... dst.

Disebut Ideele sameloop –karena dengan satu feit, beberapa peraturan Undang-undang pidana

dilanggar. Satu feit – beberapa kejahatan.

Dikatakan Concursus Idealis (C.I) adalah jika dengan mata jasmani terlihat satu, tetapi dengan

mata rohani terlihat jamak.

M.v.T Memberi contoh :

Perkosaan dimuka umum, terlihat hanya satu perbuatan, feit melahirkan dua pelanggaran

pidana(pasal 285 dan pasal 281 KUHP).

Perkembangan penafsiran feit

Semula Yurisprudensi dan teori berpendapat : feit = perbuatan materiil baik pada pasal 63 maupun

pasal 76

Van Bammelen Kata feit diartikan sebagai perbuatan (handeling) karena terpengaruh kata

perbuatan (handeling) pada pasal 65.

Akibat pandangan ini banyak timbul ketidakpuasan (contoh : HR 21 Nopember 1887).

Kasus I

Pengendara sepeda yang melanggar peraturan lalu lintas dengan sepeda yang tidak

berpening pajak telah dipidana karena pelanggaran lalu lintas.

Ketika diajukan perkara pelanggaran pajak telah dinyatakan lepas dari tuntutan hukum karena Ne

Bis In Idem (pasal 76).

Kasus II

Page 42: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Seorang pengendara mobil yang menabrak orang sehingga mati, dijatuhi putusan bebas ketika

diajukan untuk pelanggaran lalu lintas. – terkena ketentuan pasal 76 Ne Bis In Idem (HR 26 Mei

1930).

Pandangan Baru

Van Bammelen menggunakan 3 kriteria untuk menyatakan ada satu atau beberapa feit :

1. Jika suatu perbuatan (handeling) io ipso(dengan sendirinya) menimblkan dua delik.

2. Apabila dalam suatu delik merupakan suatu Conditio Sine Quo Non bagi delik yang lain.

3. Apabila delik yang satu menutupi delik yang lain.

Perkosaan pasal 285 KUHP dimuka umum merupakan Conditio Gua Non bagi merusak

kesopanan dimuka umum.

Seorang yang sudah kawin yang melakukan pasal 287 io ipso melanggar pasal 284 KUHP.

Penipuan dengan wissel palsu io ipso melanggar pasal 263 ayat (2) KUHP.

Semua ini merupakan concursus idealis, dasarnya masih tetap feit sebagai Lihamelijk Daad.

Beberapa Pendapat Lain

Perkembangan Yurisprudensi

H.R. 15 Pebruari 1932

Pengemudi yang dalam keadaan mabuk mengendarai mobil tanpa lampu melakukan concursus

realis (C.R).

Dasar pertimbangan :

- Pada feit yang satu, letakpermasalahannya terletak pada orangnya.

- Pada feit yang lain pada orangnya.

Keduanya merupakan feit yang berdiri sendiri. Kebersamaan waktu kejadian bukanlah yang

hakiki.

H.R. 8 Pebruari 1932

Tabrakan yang mengakibatkan seorang mati, dan seorang lagi luka berat adalah concusus realis

buka concursus idealis.

Feit disini dilihat dari kacamata hukum pidana.

H.R. 2 Juni 1936

Dengan sengaja membakar yang mengakibatkan bahaya umum bagi barang dan menyebabkan

luka berat adalah concursus realis melanggar pasal 187 butir 1 dan pasal 187 butir 2.

Page 43: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Sejak itu dikembangkan ajaran aspek untuk menentukan ada satu atau lebih perbuatan. –apakah

ada satu atau lebih aspek kepidanaan yang dapat terlihat pada suatu perbuatan.

Hubungan concursus idealis dengan ne bis in idem antara pasal 63 dengan pasal 76 ada kaitan

yang erat. Keduanya menggunakan kata feit

Feit pada pasal 63 dengan feit pada pasal 76 jika pengertiannya berbeda akan menimbulkan

kejanggalan.

o Apabila 2 delik dilakukan yang dianggap concursus idealis, maka tidak mungkin diadili

secara terpisah, karena bertentangan dengan pasal 76 (Ne Bis In Idem).

o Apabila kedua delik dipandang sebagai concursus realis (C.R), maka tidak dilarang pasal

76.

Spesialitas Logis

Pasal 63 ayat (2) adalah menyangkut spesialitas yang terdiri atas :

a. Spesialitas Logis

b. Konsumsi

c. Spesialitas Sistematis

a.d. a. Spesialitas Logis

disini berhadapan delik-delik dasar yang memuat semua unsur delik dengan delik lain,

mempunyai semua unsur yang ada pada delik dasar ditambah unsur khusus atau ada unsur yang

digantikan.

Contoh : pasal 363 ayat (1)

Pencurian hewan merupakan spesialitas logis dari pencurian dari pasal 362. Yang

menjadikan pasal 363 sebagai ketentuan khusus adalah unsur hewan sebagai unsur barang pada

pasal 362. Disini pasal 363 digunakan. Ancaman pidana pada pasal 363 tersebut lebih berat. Pasal

340 terhadap pasal 338 pada spesialitas logis. –ketentuan dasar harus mundur sebagai ketentuan

umum. Ada spesialitas logis dengan pidana yang lebih berat. (contoh: psl. 341 dengan psl. 338

KUHP).

Unsur tambahannya adalah karena takut. Ancaman pidana pasal 341 adalah 7 tahun, sedangkan

pasal 338 adalah 15 tahun.

Ada pula spesialitas logis dengan masing-masing mempunyai unsur khusus (contoh : pasal

287 dengan pasal 296). –yang satu merupakan kekhususan terhadap yang lain.

Page 44: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Kekhususan pasal 287terhadap pasal 294 ialah perbuatan cabul khusus –bersetubuh diluar

perkawinan- dan dibawah umur 15 tahun. Sebaliknya pasal 294 mempunyai kekhususan terhadap

pasal 287, yaitu perempuan dibawah umur yanga adalah Anaknya atau anak tirinya, dst.

Spesialitas logis bukanlah concursus idealis (C.I).

a.d. b. Konsumsi

Disini bukan hubungan logis antara 2 ketentuan, tetapi hubungan nilai dan 2 norma.

Abortus yang selesai mealnggar pasal 348 tetapi sekaligus memenuhi unsur pasal 299, namun

karena sifatnya dapat dipidananya dan sifat berbahayanya maka pasal 299 telah diserap

(dikonsumsi) oleh pasal 348 yang berlaku (Van Hattum).

o Pasal 187 mengkonsumsi pasal 406.

o Pasal 344 terhadap pasal 348 merupakan spesialitas logis, bukan concursus idealis, tetapi

konsumsi.

o Pasal 363 terhadap pasal 167.

a.d. c. Spesialitas Sistematis

Terdapat Spesialis Sistematis apabila suatu feit diatur dalam dua perundang-undangan yang

berbeda, dimana yang satu adalah Undang-undang pidana khusus dan yang lain terdapat dalam

KUHP.

Apa yang diatur dalam Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (PTPK)

sesungguhnya sebagian besar telah diatur dalam KUHP. Undang-undang PTPK adalah

Undang-undang khusus.

R e s i d i f

Terdapat persamaan antara residive dengan pembarengan, khususnya concursus reails (C.R).

Pada lembaga baik concursus realis maupun concursus idealis maupun pembarengan terdapat

sejumlah perbuatan yang merpuakan sejumlah tindak pidana.

Keduanya (khususnya C.R) merupakan alasan pemberatan pidana.

Beda antara keduanya ialah bahwa C.R tindak pidana yang dilakukan tidak diselingi oleh suatu

putusan Hakim, sedang pada residif antara dua tindak pidana yang dilakukan selalu selalu oleh

putusan Hakim.

Perlu diingat bahwa kadang-kadang ada sejumlah tindak pidana yang dilakukan oleh seorang

pelaku yang diadili secara terpisah. Hal ini tetap merupakan C.R bukan residif.

Page 45: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Terdapat Dua Jenis Residif :

a. Residif umum yang diatur dalam pasal 486 yang mensyaratkan pengulangan terjadi pada

kejahatan yang sama atau sejenis

- Ancaman pidana dinaikan dengan 1/3 dari ancaman pidana yang ada.

- Hanya terhadap pidana penjara.

- Batas waktu lima tahun sejak pidana terhadap pelaku dijatuhkan, dijalani seluruhnya

atau sebagian, atau dihapus, atau hak eksekusi pidana sebelumnya belum lewat.

- Ada tiga kelompok :

1. Kejahatan terhadap kekayaan (vermogens misdrijven).

2. Kejahatan terhadap jiwa dan kesehatan.

3. Kejahatan penghinaan.

b. Residif Khusus yang disebut secara khusus dalam pasal-pasal tertentu :

1. Kejahatan pasal 137, pasal 144, pasal 157, pasal 163, pasal 321.

Semua dikaitkan dengan pelaksanaan jabatan.

2. Pelanggaran pasal 489, pasal 492, pasal 495, dsb.

Concursus Realis

Concursus Realis diatur dalam pasal 65, pasal 6 dan pasal 70 KUHP. Concursus Realis

terjadi karena adanya beberapa feit (perbuatan) yang masing-masing berdiri sendiri dan masing-

masing menghasilkan suatu tindak pidana yang dilakukan oleh satu orang tanpa diselingi oleh

putusan Hakim.

Pasal 65 menggunakan istilah handeling (perbuatan) yang sesuai dengan perkembangan

Yurisprudensi harus dibaca, bukan sebagai perbuatan materiil.

Dengan perkembangan pengertian feit, maka lingkupan C.R makin menjadi luas dan lingkup

C.I makin menjadi sempit.

Dengan perkembangan penafsiran feit, terutama untuk perbuatan pidana yang dilakukan

dengan satu perbuatan materiil, makin sulit membedakan C.I dengan C.R.

Dari keempat stelsel pemidanaan yang berlaku pada pembarengan yaitu :

a. Kumulasi

Tiap-tiap perbuatan pidana dipidana tanpa pengurangan (cumulure = penjumlahan).

b. Absorbsi

Hanya pidana tertinggi yang dikenakan

Page 46: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

c. Kumulasi yang diperlunak

Tiap pidana dijatuhkan dan dijumlahkan, namun jumlahnya tidak boleh lebih dari

hukuman tertinggi ditambah sepertiga

d. Absorbsi yang dipertajam

Maka C.R dengan ancaman hukuman sejenis, stelsel pemidanaannya adalah absorbsi

yang dipertajam (d) –pasal 65 KUHP.

Pada C.R dengan ancaman hukuman tidak sejenis maka stelsel pemidanaannya adalah

kumulasi yang diperlunak (pasal 66 KUHP).

Pada C.R dengan gabungan kejahatan dan pelanggaran atau pelanggaran dengan

pelangggaran, maka pidanadijatuhkan pada tiap-tiap pelanggaran (pasal 70 KUHP).

Terhadap pelanggaran berlaku stelsel kumulasi murni (a) , khusus pasal 302 ayat (1), pasal

352, pasal 364, pasal 373 dan pasal 482 dianggap pelanggaran dengan pembatasan pidana

8 bulan penjara.

Pada penjatuhan pidana untuk C.R maka pidana yang telah dijatuhkan sebelumnya harus

turut diperhitungkan dengan menggunakan stelsel pemidanaan yang sesuai.

Syarat-syarat :

- Ada satu keputusan Niat.

- Perbuatan/ feiten haruslah sama atau sejenis (gelijksoortig).

- Jarak waktu antara perbuatan-perbuatan tersebut tidak terlalu lama.

Apabila pelaku dengan perilakunya memenuhi dari satu ketentuan pidana dimana ketentuan

pidana yang satu merupakan khusus, maka hanya ada satu ketentuan pidana yang diterapkan yaitu

yang bersifat khusus, asas tersebut ialah :

1. Asas Lex Specialis Derogat Legi Generali (pasal 63 ayat (2) KUHP)

a. Terdapat Spesialis Logis –bila suatu ketentuan pidana memiliki semua unsur ketentuan

pidana yang ada ditambah unsur khusus.

b. Spesialitas Sistematis – yaitu peraturan pidana yang memuat ketentuan khusus yang

berbeda dengan ketentuan pidana yang ada.

2. Asas Lex Postepiori Derogat Legi Priori

Apabila terdapat dua peraturan Perundang-undangan yang setingkat mengatur hal yang sama

maka peraturan terakhir yang berlaku.

3. Asas Ne Bis In Idem

Page 47: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Asas Ne Bis In Idem mempunyai dua sisi. Sisi pribadi (persoonlijke) dan sisi obyek (zakelijk)

sebagaimana diatur dalam pasal 76 KUHP.

a. Asas ini hanya dapat dipergunakan terhadap orang yang sama (sisi persoonlijke).

b. Asas inin juga hanya berlaku terhadap feit yang sama yang telah memperoleh kekuatan

hukum yang pasti (sisi obyektif).

Pertanyaan : Apakah yang dimaksud dengan keputusan yang telah memperoleh kekuatan hukum

pasti (inkracht) ?

o Keputusan-keputusan Hakim yang menyangkut pokok perkara antara lain :

a. Pemidanaan (veroordeling).

b. Pelepasan dari tuntutan hukum (ontslag van alle rechtvervolging).

c. Pembebasan (vrijsprak)

Terhadap ketiga putusan ini apabila telah memperoleh kekuatan huum pasti, maka berlaku asas

Ne Bis In Idem.

o Keputusan Hakim yang tidak menyangkut pokok perkara :

1. Pembatalan dakwaan Jaksa.

2. Dakwaan tidak dapat diteerima (niet ontvanklijk verklaren).

3. Menyatakan tidak berwenang (onbevoegd verklaren).

Terhadap putusan diatas dapat diajukan lagi tanpa melanggar asas Ne Bis In Idem.

Asas Accesoiritas

Berlaku pada penyertaan (deelneming/ concursus plurium ad unum delictum). – bahwa

penyertaan baru dapat dipidana apabila perbuatan dimana penyertaan dilakukan benar-benar

dilaksanakan, termasuk percobaannya. Pada pembarengan ada satu pelaku dengan beberapa

perbuatan pidana, maka pada penyertaan ada satu perbuatan dengan beberapa orang pelaku.

Dibedakan :

1. Concursus Necessarius (noodzakelijk deelneming) dimana perbuatan pidana hanya dapat

terjadi bila ada kerjasama orang lain.

2. Concursus fakultativus

Dibedakan :

1. Penyertaan sebelum perbuatan pidana (ante delictum)

a. Menyuruh melakukan (doen plegen).

b. Membujuk (uitloken).

Page 48: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

c. Membantu untuk melakukan (medeplichtigheid tot het delict)

2. Penyertaan pada waktu perbuatan pidana (tempore delicti).

a. Turut melakukan (mede plegen).

b. Membantu pada waktu perbuatan pidana dilakukan.

Contoh :

a. Menyuruh melakukan

Syarat :

1. Satu pelaku (doen pleger)melakukan delik melalui perantara orang lain (manus

domina).

2. Pelaku sesungguhnya (manus mnistra) tidak dapat dihukum, karena ketiadaan unsur

kesalahan atau unsur pertanggungjawaban tidak ia miliki.

b. Membujuk

o Membujuk adalah pengambil prakarsa dan yang menimbulkan niat untuk melakukan

delik.

o Pada pembujukan baik pembujuk maupun terbujuk dapat dipidana.

o Pada pembujuk alat/ sarana ditentukan secara limitatif yaitu pemberian

janji, menyalah gunakan kekuasaan atau martabat, paksaan atau pemberian kesempatan

sarana atau keterangan.

Congruensi antara maksud pembujuk dengan apa yang dilakukan oleh pelaku :

- Bagaimana kalau terbujuk melakukan lebih dari apa yang dibujukan atau

menyimpang.

- Bagaimana kalau yang dilakukan terbujuk kurang dari apa yang dibujukan?

- Bagaimana kalau akibat yang ditimbulkan melebihi apa yang dikehendakioleh

terbujuk sendiri (pasal 164 KUHP).

Pembujukan Gagal

Sesuai asas accesoiritas, maka apabila terbujuk tidak melaksanakan delik dari

pembujuk, pembujuk tidak dapat dihukum. KUHP menjadikan Pembujuk yang gagal

sebagai delik tersendiri (pasal 164 KUHP).

Agen Provokatur

o Dari segi hukum pidana mteriil, apakah ada sifat melawan hukum materiil pada agen

provokatur tersebut?

Page 49: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

o Dari segi hukum pidana formil, apakah ada barang bukti yang diperoleh agen provokatur

Syah? Yurisprudensi Belanda mengatakan tidak, sepanjang pelaku sendiri kurang

mempunyai niat yang sama (H.R. 19 Maret 1981).

c. Turut Melakukan

Para pelaku harus mempunyai kesengajaan yang sama.

Para pelaku atau salah satu pelaku mungkin saja tidak memenuhi semua unsur delik.

Bentuk-bentuk turut melakukan :

1. Apabila tiap-tiap pelaku memenuhi semua unsur-unsur delik. Tiap-tiap pelaku disini

adalah pembuat (dader).

2. Masing-masing pelaku secara sendiri-sendiri tidak memenuhi semua unsur delik.

3. Salah satu pelaku saja yang memenuhi semua unsur delik.

Syarat Turut melakukan :

1. Harus ada rencana bersama. Jadi, ada kesengajaan bersama.

2. Pelaksanaan bersama.

Turut Melakukan pada delik Culpa :

o Pada delik sengaja selalu ada dua kesengajaan :

- Membuat rencana.

- Melaksanakan perbuatan.

o Pada delik Culpa hanya ada satu kesengajaan yaitu sengaja dan bekerjasama.

Turut Melakukan pada delik kualitas

Delik kualitas adalah delik dimana pelakunya mempunyai kualitas tertentu sebagai

pegawai negeri.

*Membantu (medeplichtig) :

1. sebelum delik dilakukan

2. pada waktu delik dilakukan.

Sarana perbantuan ditentukan secara limitatif, yakni sengaja memberi kesempata,

peralatan atau keterangan. Niat sudah ada pembuat untuk melakukan delik, apabila niat

itu ditimbulkan oleh yang memberi kesempatan, alat atau keterangan, maka yang terjadi

adalah pembujukan.

Page 50: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

BAB V

ALASAN PENGURANGAN HUKUMAN

Ada 3 bentuk :

1. Percobaan (poging).

2. Pembantuan (medeplichtigheid).

3. Belum dewasa menurut hukum pidana (straf rechttelijke minderjarigheid).

Percobaan (poging).

Perbuatan sudah dilakukan, hasil yang dikehendaki tidak ada.

Syarat-syarat :

1. Ada niat (voornemen).

2. Ada permulaan pelaksanaan.

3. Perbuatan pidana tidak selesai bukan atas kemauan sendiri.

4. Niat adalah sama dengan sengaja.

Ad. 2. Permulaan Pelaksanaan

a. Ajaran subyektif = permulaan pelaksanaan niat, yaitu bertolak dari sikap batin yang

berbahaya.

b. Ajaran Obyektif = permulaan pelaksanaan kejahatan bertolak dari berbahayanya perbuatan

yang telah terlaksana terhadap kepentingan hukum.

c. Ajaran Obyektif diperlunak = perbuatan telah telah dilaksanakan dan perbuatan jelas terlihat

bahwa pelaku sanggup melaksanakan niatnya.

*Perbedaan kedua ajaran adalah pada apa yang dimaksud dengan Perbuatan Persiapan.

Perbuatan persiapan pada ajaran obyektif sudah merupakan perbuatan pelaksanaan pada

ajaran subyektif.

Ad. 3.Delik tidak selesai bukan atas kemauan sendiri

Terdapat rumusan yang negatif (negatif non surtprobanda) yang menimbulkan kesulitan pada

pembuktian.

o Macam-macam Percobaan

- Percobaan selesai (volttooide poging = delit mangue) –perbuatan sudah selesai

akibatnya tidak muncul.

Page 51: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

- Percobaan tidak selesai (geschorste poging) –perbuatan sudah tercegah sebelum

dilaksanakan.

- Percobaan tidak mampu (on deugdelijk poging).

a. Absolut

1. Sarana/ alat – membunuh orang dengan racun yang ternyata gula.

2. Sasaran – membunuh orang yang ternyata sudah mati.

b. Relatif

1. Sarana/ alat – membunuuh orang dengan racun yang dosisnya terlalu kecil.

2. Sasaran – membunuh orang yang ternyata sudah mati

Perlu dijelaskan dengan contoh kongkrit dengan menerapkan teori obyektif dan teori

subyektif.

Mangel Am Tatbestand dan Delik Putatif

- Pada Mangel Am Tatbestand tidak terdapat salah satu unsur esensial dari rumusan delik

mencuri barang yang ternyata barangnya sendiri.

- Pada Delik Putatif apa yang dilakukan, yag disangka oleh pelaku merupakan perbuatan

pidana ternyata bukan.

Perbantuan.

Telah diterangkan dalam kaitan dengan penyertaan, terbagi atas :

a. Sebelum perbuatan pidana dilakukan.

b. Pada waktu perbuatan pidana dilakukan.

Belum Dewasa

Alasan pengurangan hukuman ini adalah merupakan alasan pengurangan yang sesungguhnya

dan diatur dalam bab tentang penghapusan, pengurangan dalam pembantuan hukum.

Percobaan Dalam Common Law (Attempt)

ATTEMPT menurut Common Law dikualifikasikan sebagai Misdemeanor.

Dengan Criminal Attempt act 1981 diciptakan sesuatu statuory offence law : intent to commit

an offence, a person does an act wich a more than merely prepatory.

Hubungan sebab-akibat –apakah sebab dari suatu akibat pada perbuatan pidana?

Ada 3 Teori :

1. Teori Conditio Sine Qua Non (aequi Valenti) – setiap faktor, setiap syarat adalah sebab

dan semuanya bernilaisama.

Page 52: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

2. Teori Individualisme – faktor atau syarat mana yang paling berpengaruh dalam

menimbulkan akibat.

3. Teori Generalisasi (ante Factum) – apakah syarat/ faktor yang ada secara abseracto dapat

menimbulkan akibat. Suatu faktor/ syarat baru dapat menjadi sebab apabila faktor tersebut

adequat (seimbang) untuk menimbulkan akibat. Sebab adalah syarat yang rasional untuk

menimbulkan akibat.

Tujuan Dasar Pembenaran Pemidanaan

Ada 3 teori tentang Tujuan dan Pembenaran yang dijatuhkannya pidana :

1. Teori Absolut atau Teori Pembalasan. Dikatakan absolut karena pemidanaannya tidak

mempunyai tujuan.

2. Pemidanaan hanyalah pembalasan atas terjadinya kejahatan.

3. Teori relatif. Pemidanaan mempunyai tujuan :

a. Prevensi Umum yaitu untuk membuat agar masyarakat jera dan tidak meniru.

b. Prevensi Khusus yaitu agar tidak akan lagi melakukan perbuatan pidana serupa.

Pemidanaan adalah pendidikan bagi pelaku.

c. Pengamanan –masyarakat menjadi aman selama pelaku ditahan.

4. Teori Gabungan –pidana pada dasarnya adalah pembalasan, namun selalu disertai tujuan

bagi kebaikan masyarakat

Page 53: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

BAB VI

HUBUNGAN SEBAB AKIBAT (KAUSALITAS)

Dalam hal undang-undang berbicara tentang mengakibatkan (veroorzaken) atau

akibat, maka disitu kita perhadapkan pada masalah sebab-akibat (kausalitas) pada delik-delik

materiil dimana pemidanaan dijatuhkan pada perbuatan yang mempunyai akibat. Maka masalah

kausalitas selalu ada karena akibat merupakan unsur delik (bestandeel). Pada delik formil yaitu

pemidanaan tertuju pada perbuatan seperti pasal 362, 150, 209, 210 dan 242 KUHP), maka

kausalitas tidak menjadi masalah.

Disamping delik materiil terdapat pula delik dengan berkualifikasi karena adanya akibat seperti

pasal :351 ayat (2) dan ayat (3), pasal 187 ayat (2) dan ayat (3), dimana kausalitas menjadi macula. Ada beberapa teori kausalitas yang dikenal :

1. Teori Van Biiri yang disebut teori Condition Sine Qua Non (semua syarat adalah sebab-syarat

mutlak).

Semua syarat/ faktor yang membawa akibat adalah sebab(causa) dan mempunyai nilai yang

sama (equivalent). Syarat-syarattertentu yang dapat dihilangkan tidak merupakan sebab. Teori

ini disebut juga teori Aequivalentie atau Bedingungs Theorie, karena bedingung (syarat) adalah

sama dengan causa (sebab).

Van Hameli teori ini logis, namun harus disertai dengan teori kesalahan yang baik. Harus

dibuktikan sikap batin berpua sengaja atau lalai.

2. Teori Individualitas Birk Meijer

Adalah sebagai reaksi terhadap teori aequivalentie. Dari rangkaian syarat/ faktor yang ada dicari

syarat yang paling berpengaruh terhadap terjadinya akibat yang bersangkutan.

3. Teori Generalisasi

Yang menjadi sebab adalah faktor yang menurut pengalaman manusia pada umumnya dapat

menimbulkan akibat yang terjadi.

4. Teori Adequat

Merupakan pengembangan dari teori Generalisasi, sehingga disebut juga teori Subyektif

Adequat.

Causa dari suatu akibat adalah hanya satu dari antara rangkaian faktor, yaitu yang sebelumnya telah

dapat diketahui oleh pelaku. Oleh karena itu disebut Subjektive Prognose.

Page 54: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Kritik terhadap teori ini oleh Van Bammelen :

Dengan teori ini kita sudah beralih ke teori kesalahan, bukan lagi bicara tentang kausalitas.

Teori ini kemudian diperbaiki oleh Riimelin :

Sebab adalah faktor obyektif yang diperkirakan dari rangkaian faktor-faktor sebagai sebab menurut

perhitungan manusia normal.

Terlihat V. Kries melihatnya secara ex ante (pada sebelum perbuatan dilakukan) dan Riimelin

melihatnya secara ex post (sesudah perbuatan) disebut Nachtragliche Prognose (nachtragliche =

sesudah). Teori V. Kriesdan Riimelin bersama bersama dengan teori dari Treager yang

menggunakan ukuran manusia terpandai (de verstandigste) disebut teori Adequatie.

Untuk membedakan teori V. Kries dengan teori Riimelin dikemukakan kasus sebagai berikut :

Seorang suami karena marah melemparkan sebuah pantoffel ke kepala istrinya.

Yang terkena lemparan adalah bagian kepala yang sangat tipis (eirschedel). Karena kepalanya

pecah istrinya meninggal dunia rechtbank (pengadilan tingkat pertama) –bukan

penganiayaan yang menyebabkan kematian. Sebaliknya Gerechlithof berpendapat ada hubungan

kausal.

Rechtbank mengikuti V.Kries sedangkan Hof mengikuti Riimelin, dimana menurut V. Kries yang

harus menjadi pertimbangan adalah pengetahuan dari si pembuat.

Sebaliknya Riimelin harus dipertimbangkan keadaan, seperti tipisnya tengkorak.

Yurisprudensi menggunakan teori V. Kries.

Kausalitas pada Delik Omisionis

a. Delik Omisionis murni pasal 164, 165, 224, 522, 523, 529 dan 531 KUHP.

Pada delik omisionis murni tidak ada masalah dengan kausalitas.

b. Delik Omisionis tidak murni ( commissionis per omissionem commissa).

Kesulitan timbul apabila orang berpendapat bahwa pengertian sebab didasarkan pada pakaar

ilmu alam dengan ungkapan terkenal ex nihilo nihil pascitur –dari suatu yang tidak ada tidak

mungkin diwujudkan sesuatu yang ada- jadi dari perbuatan negatif nalaten tidak mungkin

timbul suatu akibat. Dengan menggunakan teori adequat makin jelas dapat terjadi suatu akibat

yang kausanya adalah tidak berbuat – yang seharusnya wajib ia perbuat. Jadi disini harus

dikaitkan hal tidak berbuat dengan kesalahan dan melawan hukum.

Contoh Kasus :

Page 55: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

1. H.R 5 Maret 1952

Seorang tukang perapian (kachelsmid) yang memindahkan perapian (haard) dari balkon

ke dalam kamar tidur atas permintaan Ny. H tanpa menghubungkannya ke cerobong asap,

telah menyebabkan Tn. H keracunan asap dan mati. Si tukang dipersalahkan sebagai

penyebab kematian, karena tidak memberitahukan kepada Ny. H tentang bahaya arang

monooxyde.

2. H.R 11 Mei 1941

Seorang ibu membiarkan suaminya membunuh cucunya, dianggap sebagai membantu

pembunuhan.

Page 56: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

BAB VII

TEMPUS DAN LOCUS DELICTI

KUHP tidak mengatur tentang Tempus dan Locus Delicti. Permasalahnnya diserahkan pada Yurisprudensi dan Doktrin. Penentuan Locus dan Tempus Delicti sangat penting, sehingga merupakan syarat batal bagi suatu dakwaan yang tidak mencantumkannya. (pasal 143 ayat (2)b dan ayat (3)). A. Locus Delicti

Makna penentuan Locus Delicti : a. Yuridiksi Perundang-undangan. b. Kompetensi Relatif dari Pengadilan.

Ada tiga teori : 1. Perbuatan materiil = tempat perbuatan fisik dilakukan. 2. Alat = tempat perbuatan pidana adalah dimana alat yang digunakan membawa hasil. 3. Akibat langsung dan konstitutif

Dalam praktek ketiga teori dipakai bersama-sama. Dengan kemungkinan terdapat kemungkinan Locus Delicti Jamak.

B. Tempus Delicti

Makna praktis : 1. Terjadi perubahan Perundang-undangan (psl. 1 ayat (2) KUHP). 2. Pelaku dibawah umur (psl.45, 46, 47 KUHP). 3. Lewat waktu (psl. 79 ayat (1) KUHP).

Tempus Delicti penting artinya dalam hal : 1. Berlakunya asas Legalitas –larangan retro aktif dan perubahan Perundang-undang (pasal 1 ayat

(1) dan ayat (2)). 2. Bagi delik-delik yang unsur pembuat atau korban merupakan syarat- pasal 45 unsur

pembuatbelum 16 tahun. Pasal 287 unsur korban belum 17 tahun dan pasal-pasal lainnya seperti : 287, 288, 290, 294, 300 dan 301 KUHP).

3. Tempo lewat waktu (verjarings termijn). 4. Pasal 396 dan 397 menyangkut kapailitan. 5. Menentukan adanya residif. 6. Apakah pencurian diwaktu siang atau malam.

Page 57: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Ada 4 teori untuk penetuan Locus dan Tempus Delicti :

1. Teori perbuatan jasmania/ perbuatan materiil –tempus/ locus delicti adlah waktu dan tempat

perbuatan materiil dari delik.

2. Teori alat/ instrumen tempus dan locus delicti adalah tempat dan waktu alat bekerja.

3. Teori akibat locus dan tempus delicti adalah tempat dan waktu akibat muncul yaitu :

a. Akibat konstitutif –yaitu delik selesai.

b. Akibat langsung (on middelijk gewolg).

4. Teori locus dan tempus delicti jamak (meer voudige tempus en locus delicti).

H.R dalam Arrest 24 Juni 1935

Berpegang pada teori perbuatan jasmaniah tentang kasus penipuan dimana perbuatan tipu daya

dilakukan untuk menipu publik atau persaingan curang.

H.R 6 April 1915

Seorang dari seberang perbatasan menarik seekor kuda dari negeri Belanda locus delicti nya

adalah Belanda.

Locus Delicti dan kegunaannya :

Pada Ommisi murni masih dipermasalahkan antara tempat maupun waktu dimana

dan kapan perbuatan harus dilakukan, dan tempat dimana pembuat berada, dimana dia harus

melakukan perbuatan dan dapat melakukannya.

Contoh : seseorang di Jakarta Selatan dipanggil menghadap sebagai saksi ke Pengadilan Jakarta

Barat yang tidak dipenuhinya.

Pendapat pertama tempusnya di Jakarta Barat.

Pendapat kedua tempusnya di Jakarta Selatan atau ditempat lain dimana dia berada pada waktu dia

harus menghadap. Jelas teori alat tidak dapat dipakai disini.

V.Hamel mempertahankan Locus Delicti Jamak maupun Tempus Delicti Jamak menggunakan

teori yang sama.

Page 58: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

BAB VIII DELIK-DELIK KORPORASI

Von Savigny : Societas Universitas Delinquere Non Protest (badan-badan hukum tidak dapat dipidana). Adagium ini ada karena pengaruh hukum Romawi. Korporasi sebagai subyek hukum dibidang hukum perdata telah lama diakui disamping manusia. Dibidang hukum pidana merupakan suatu hal yang masih baru. Perkembangan pemahaman korporasi sebagai subyek hukum pidana terhambat oleh rumusan delik itu sendiriyang selalu berbunyi “barang siapa” (hij die). Terdapat beberapa pasal seperti pasal : 169, 398, 399 dimana seharusnya korporasinya yang dijatuhi pidana, namun hal itu dielakkan dengan menjatuhkan pidana terhadap individu dalam bentuk penyertaan. Juga dalam pasal 59 KUHP berdasar pada pemikiran bahwa korporasi tidak dapat dipidana. Doktrin Mens Rea adlah penghambat utama untuk menjadikan koporasi sebagai subyek hukum pidana, karena hukum pidana kita mengisyaratkan adanya kesalahan, sehingga disebut hukum pidana kesalahan (schuld strafrecht). Yang merupakan bagian dai Mens Rea, maka dengan sendirinya tidak dapat diterapkan pada korporasi yang tidak mungkin mempunyai Mens Rea. Hal ini jelas terlihat dari asas geen straf zonder schuld dinegara-negara civil law. Liability of Corporation in Criminal Case sudah lama di terapkan di inggris (L.H Lieigh 1944) yang diikuti pula di USA, Kanada,Australia dll. Selain itu doktrin ultra vires (suatu korporasi bertindak melampaui apa yang dicantumkan dalam AD) yang juga merupakan penghambat menurut Leigh telah diatasi. Di Indonesia yang mengikuti Belanda, korporasi dapat dipertanggungjawabkan atas tindak pidana. Untuk tindak pidana hukum tetap berpegang bahwa hukum pidana Indonesia adalah Schuld Strafrecht, sehingga korporasi tidak dapat dipertanggungjawabkan atas tindak pidana. Mvt suatu delik hanya dapat dilakukan oleh perorangan ( naturlijke persoon). Hal ini berbeda dengan tindak pidana khusus dimana dengan jelas korporasi dapat dituntut seperti yang terlihat pada : 1. UU No. 5 tahun 1997 tentang psikotropika.

Pasal 70 : - Korporasi dijatuhi pidana denda dua kali untuk denda yang berlaku untuk tindak pidana

tersebut. - Dapat dicabut izin usaha.

Page 59: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

2. UU No. 22/ 1997 tentang Narkotika. - Pasal 79 ayat (4) : korporasi dapat dijatuhi pidana denda. - Pasal 80 ayat (4) : korporasi dapat dijatuhi pidana denda. - Pasal 81 ayat (4), pasal 83 ayat (4).

3. UU No. 31/ 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Pasal 20 : denda maksimum.

4. UU No. 15/ 2002 tentang tindak pidana pencucian uang - Pasal 5 ayat (1) : denda maksimun + 1/3 dan - pasal 5 ayat (2) : Pencabutan ijin. - Pasal 4 : Penjatuhan pidana dapat dijatuhkan terhadap pengurus dan/atau kuasa pengurus

yang mempunyai kedudukan fungsional, maupun terhadap korporasi. Di Belanda telah terjadi peerubahan pasal 51 WSR : 1. Perbuatan pidana dapat oelh perorangan dan oleh badan hukum. 2. Apabila perbuatan pidana dilakukan oleh badan hukum, tuntutan pidana dapat dilakukan dan

pidana serta tindakan yang tersedia dalam Undang-undang dapat dijatuhkan kepada : a. Badan hukum. b. Terhadap mereka yang memerintahkan perbuatan, mereka yang memimpin melakukan

perbuatan pidana tersebut. c. Terhadap tersebut pada a dan b.

Dalam perkembangan di Belanda delik korporasi dimulai dari Yurisprudensi dan Doktrin. Pompc menyebutnya geestelijk dader (pelaku rohani). Roling menyebutnya pelaku fungsional. Perkembangan tentang korporasi sebagai pelaku fungsional banyak mempengaruhi pengertian menyuruh melakukan (doen plegen). Perkembangan selanjutnya ialah dengan lahirnya Undang-undang TPE yang juga ditiru oleh Indonesia dengan UU No. 7 drt 1955. Dalam pasal 15 dikatakan bahwa tindak pidana dapat dilakukan oleh dana atas nama badan hukum, tuntutan pidana dan penjatuhan pidana dapat dilakukan terhadap badan hukum. Hal ini kemudian di Indonesia dijumpai pula dalam tindak pidana khusus lainya serpti tersebut diatas. Di Indonesia belum sampai pada ketegasan seperti perubahan pasal 51 (psl 59 Ind), sehingga dapat berlaku secara umum sesuai ketentuan pasal 103 KUHP.

Page 60: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

BAB IX

GUGURNYA HAK PENUNTUTAN DAN HAK PEMIDANAAN

Melakukan penuntutan dan pemidanaan atau suatu perbuatan pidana adalah suatu kewajiban

penguasa.

Pembatasan pertama atas kewajiban ini adalah asas opportunitas yang diberikan kepada Jaksa

Agung sesuai pasal 35 UU No. 16/ 2004 yang disebut wewenang mengesampingkan perkara

demi kepentingan umum.

Disamping itu ada dasar lain untuk tidak dilakukan kewajiban menuntut :

1. Yang bersifat menunda (opschortende).

2. Yang bersifat menghapus (ontbindende).

Ad. 1. Ada yang bersifat menunda (opschortende).

Hak menuntut baru ada setelah dipenuhinya syarat tertentu. Hal ini terlihat pada delik aduan

(klacht delict). Yaitu delik-delik tertentu yang oleh Undang-undang ditentukan penuntutannya

tergantung pada kehendak yang dirugikan/ yang berkepentingan. Undang-undang beranggapan

bahwa kepentingan probadi yang dirugikan adalah lebih besar dari pada kepentingan umum

yang harus dilindungi.

a. Delik aduan absolut yaitu delik-delik yang dalam segala hal di syaratkan adanya pengaduan.

Delik aduan absolut adalah :

- Delik-delik penghinaan , kecuali penghinaan terhadap pejabat yang sedang

menjalankan tugas –pasal 139 jo pasal 316 KUHP.

- Berzina –pasal 284 KUHP.

- Bersetubuh dengan wanita yang bukan istrinya, yang belum berumur 15 tahun – pasal

287 KUHP.

- Berbuat cabul dengan seseorang berkelakuan baik yang masih dibawah umur, dengan

pemberian hadiah atau janji – pasal 293 KUHP.

- Membuka atau membocorkan rahasia – pasal 322 KUHP.

b. Delik aduan relatif yaitu delik-delik yang dalam keadaan tertentu saja adalah delik aduan

yaitu:

- Pencurian dalam keluarga – sedarah dalam garis lurus atau menyimpang derajat kedua

atau semenda – pasal 367 ayat (2) KUHP.

Page 61: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Catatan : pencurian antara suami/ istri termasuk yag pisah meja dan ranjang tidak dapat

dituntut.

- Juga pemerasan, penggelapan dalam keluarga adalah delik aduan.

Yang berhak Mengajukan Pengaduan :

a. Ditentukan dalam pasal 72 KUHP yaitu : orang yang menjadi korban kejahatan atau wakilnya

yang sah apabila ia belum dewasa/ belum cukup 16 tahun.

b. Ditentukan dalam pasal-pasal Undang-undang yang bersangkutan.

Contoh : pasal 284 KUHP – suami/ istri.

Pasal 332 KUHP – perempuan itu sendiri atau suaminya.

Waktu pengajuan atau penarikan aduan (pasal 72 KUHP) :

- 6 (enam) bulan setelah yang bersangkutan mengetahui ada terjadi kejahatan dan yang

bersangkutan berada di Indonesia.

- 9 (sembilan) bulan apabila yang bersangkutan berada di luar negeri.

- Yang berhak mengadu berhak pula menarik kembali pengaduan dalam tempo 3 (tiga) bulan

setelah pengaduan diajukan.

Ada dua hal yang bersifat menghapus (ontbindende).

Hak menuntut hapus sama sekali jika :

A. Kadaluwarsa.

B. Meninggalnya tersangka.

C. Amnesti dan Abolisi.

D. Ne Bis In Idem atau Nemo Debet Bis Vexari (gewijsde).

Ad. 1. Kadaluwarsa. (L.W penuntutan)

- Pasal 78 KUHP mengatur tentang tenggang waktu gugurnya hak penuntutan. Tenggang waktu

tersebut ditentukan sesuai berat ringannya suatu delik.

- Lembaga L.W diadakan atas dasar pemikiran bahwa jika sudah berlakunya waktu tertentu,

maka pemidanaan hilang manfaatnya.

- Selain itu juga menimbulkan kesulitan dalam pembuktian, karena alat-alat bukti yang

dibutuhkan mungkin sudah hilang atau musnah.

Yang patut disimak oleh JPU (juga Hakim) bahwa :

Page 62: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

a. Kadaluwarsa dapat terhenti (stuiting) oelh adanya perbuatan penuntutan. Tenggang waktu

kadaluwarsa yang dihitung sejak waktu delik hapus dan dimulai tenggang waktu

kadaluwarsa baru –pasal 80 KUHP.

b. Kadaluwarsa dapat tertunda (schorsing) oleh adanya sengketa prae yudisial (prae judiciele

geschil) –pasal 81 KUHP.

Tenggang waktu lama tetap dihitung, hanya terjadi penundaan selama berlangsung

sengketa pra yudisial.

Catatan :

Perlu pengertian yang jelas apa itu perbuatan penuntutan, ada beberapa pendapat :

1. Saat perkara dilimpahkan ke Pengadilan pasal 1 butir (7) (penuntutan dalam arti

sempit).

2. Saat Penuntut Umum menerima berkas perkara dalam melakukan Pra-penuntutan (arti

luas).

3. Saat menyampaikan tuntutan (arti sempit).

*selain kadaluwarsa penuntutan terdapat pula kadaluwarsa eksekusi yang diatur dalam

pasal 84 KUHP.

c. Tersangka meninggal (terdakwa?)

Pasal 77 menggunakan istilah het recht van straf vordering vervalt (hak menuntut gugur),

bukan het recht van vervolging. Jadi baik dalam tahap Dik, Tut, maupun tahap persidangan

kewenangan straf vordering hilang, jadi berlaku baik bagi tersangka maupun terdakwa.

Jadi hak eksekusi gugur dengan matinya terpidana –pasal 83 KUHP.

d. Amnesti dan Abolisi

Amnesti dan Abolisi adalah lembaga yang tidak diatur dalam KUHAP/ KUHP, tetapi

dalam UUD.

Pasal 14 ayat (2) UUD 1945 :

Presiden memberikan Amnesti dan Abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR

menurut penjelasan UUD 1945. Pemberian amnesti dan abolisi oleh Presiden dalam

kedudukan sebagai Kepala Negara (perubahan tahun 1999).

Menurut Undang-undang drt No. 11/ 1954 UU darurat tentang Amnesti dan Abolisi.

- Amnesti : Semua akibat hukum pidana dihapus terhadap orang-orang tertentu yang

melakukan tindak pidana tertentu.

Page 63: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

- Abolisi : Penuntutan ditiadakan, HIR mengaturnya dalam pasal 366 (RBG pasal 680).

e. Ne Bis In Idem (telah diuraikan).

Catatan : pasal 76 KUHP menggunakan istilah feit yang banyak kali diterjemahkan dengan

istilah perbuatan. Hendaknya jangan diartkan sebagai perbuatan material (lichamelijke

daad material handeling).

Page 64: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

BAB X

STUDI KASUS BERKAITAN DENGAN ASAS HUKUM PIDANA

Kasus I Penerapan :

Pasal 44 KUHP : Ganguan akal.

Pasal 53 KUHP : Percobaan.

Pasal 65 KUHP : Pembarengan.

Kasus Posisi :

NGAKAN PUTU KARYA (Serma Pol) yang bertugas di POLDA NUSRA telah

menembak dengan pistol, masing-masing :

1. Ni Wayan Umiasih.

2. Ni Wayan Werni.Ni Nyoman Purniati.

3. Ni Made Rajin.

4. Yusuf Perdata (anggota POLRI).

Tersebut 1,2 dan 3 mati seketika, tersebut 4 luka berat dan tersebut 5 tembakan meleset.

Dakwaan I –pasal 338 KUHP yaitu pembunuhan terhadap tersebut 1,2 dan 3.

Dakwaan II –percobaan pembunuhan terhadap tersebut 4 dan 5.

Perbuatan tersebut adalah pembarengan (cocursus realis) ex. pasal 65 KUHP.

Terdakwa melakukannya dalam keadaan amuk/ terganggu pikiran (ziekelijk storing der

vesrtandelijke vermogens) sesuai pasal 44 KUHP.

Putusan MARI : melepaskan terdakwa dari segala tuntutan hukum.

Kasus II penerapan :

Pasal 3 KUHP : diatas alat pelayaran Indonesia.

Pasal 55 KUHP : penyertaan.

Pasal 65 KUHP : pembarengan.

Kasus Posisi :

Raden Lani, Hakim Bin Maskur, Sulaiman Bin Selamat, penumpang Kapal Motor Bintang

Selatan III, ketika dalam pelayaran dari Riau ke Kalimantan telah memasukan obat tidur

kedalam minuman ABK sehingga seluruh ABK tertidur.

Page 65: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Para ABK lalu ditikam lalu dibuang ke laut . setelah mengambil uang dll, KM Bintang

Selatan tersebut dibakar sampai tenggelam, sedangkan ketiga pelaku terjun ke laut dengan

menggunakan pelampung.

Raden Lani dkk ditangkap dan diadili di Tanjung Pinang dengan dakwaan :

- Dakwaan I : pasal 365 jo pasal 55 KUHP.

- Dakwaan II : pasal 334 jo pasal 55 KUHP.

- Dakwaan III : pasal 410 jo pasa 55 KUHP.

Kasus III : Kasus PIMPRO Depnaker SULUT :

Kasus Posisi :

Ka Kanwil Depnaker SULUT , An. Senduk telah membujuk Elia uselo Sosroloka sebagai

Pimpro Peningkatan Latihan Non Institusional BLK Kanwil Depnaker Sulawesi Utara

untuk tahun anggaran 1985/ 1986.

Sebagai rekanan adalah :

- PT Tunas Tiga Yang dikelola oleh Fany Lengkong.

- C.V Gomina yang dipimpin oleh Hanny Palar.

Berdasarkan surat perjanjian dibuat : PT Tunas Tiga akan memasok barang-barang dan jasa

untuk proyek non institusional senilai :

Rp. 166. 205.900,- (seratus enam puluh enam juta dua ratus lima ribu sembilan ratus rupiah)

dan CV Gomina senilai Rp. 111.990.000 (seratus sebelas juta sembilan ratus sembilan

puluh sembilan ribu rupiah).

Kedua rekanan tersebut berkewajiban mengantar bahan/ barang latihan ke lokasi tiap

KanDepnaker di seluruh Sulawesi Utara yaitu : Gorontalo, Manado, Minahasa, Bolaang,

Mongondouw, Bitung, dan Sangihe Talaud.

Ternyata kedua rekanan tersebut tidak pernah menyerahkan bahan/ barang alat-alat latihan

tersebut, tetapi uang sebesar Rp. 166. 205.900,- (seratus enam puluh enam juta dua ratus

lima ribu sembilan ratus rupiah) dan Rp. 111.990.000 (seratus sebelas juta sembilan ratus

sembilan puluh sembilan ribu rupiah) sesuai dengan perintah Ka Kanwil Depnaker

Suluttelah dibagikan 18% untuk rekanan, 19% untuk KA Kanwil, 55% untuk KanDepnaker

Se-Sulut, dan 10% untuk Pimpro.

Page 66: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Untuk itu telah sesuai dengan perintah KA Kanwil Depnaker Sulut, Pimpro telah

menandatangani BAPB dan BAPP dengan keterangan bahwa barang telah diterima dalam

keadaan baik dan lengkap dengan disertai semua syarat formal sesuai ketentuan.

Setelah dana dicairkan dan dibagi-bagi sesuai ketentuan diatas, PT Tunas Tiga dan CV

Gomina telah memberikan hadiah kepada Elia Suselo Sosroloka sebagai Pimpro masing-

masing sebesar Rp. 4.900.000,- (empat juta sembilan ratus ribu rupiah) dan 2.700.000 (dua

juta tujuh ratus ribu rupiah).

Ketentuan yang menyangkut asas-asas :

1. Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP bagi Pimpro bersama rekanan sebagai yang bersama

melakukan (medepleger).

2. Pasal 55 ayat (1) ke 2 KUHP bagi Ka Kanwil sebagaipenganjur (uitloker).

3. Pasal 64 bagi Pimpro.

4. Pasal 51 ayat (2) bagi Pimpro sebagai perintah jabatan.

Kesimpulan

Dengan engetahui Asas-asas Hukum Pidana diharapkan agar para peserta Diklat dapat

memanfaatkannya dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari di wilayah hukum masing-masing

Page 67: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

BAB XI

KESIMPULAN

Penguasaan asas-asas hukum pidana merupakan syarat conditio sine qua non bagi setiap pejabat

dibidang hukum, terutama para Jaksa, khususnya Jaksa Penuntut Umum yang sampai sekarang

masih merupakan kendala dalam penyelesaian perkara-perkara pidana.

Untuk dapat menerapkan suatu peraturan pidana secara baik dan benar, sehingga tercapai apa

yang menjadi tujuan hukum yaitu adanya kepastian hukum dan keadilan, maka setiap Jaksa

terutama Jaksa Penuntut Umum mutlak harus mengetahui asas-asas hukum pidana baik yang

tertulis maupun yang tidak tertulis.

Pengetahuan teori-teori hukum yang berkaitan dengan asas-asas hukum pidana, perlu diikuti

secara seksama, untuk dapat menerapkan secara baik dan benar asas-asas hukum yang berlaku.

Untuk dapat menguasai dengan baik asas-asas hukum pidana yang berlaku, maka selalu harus

disertai dengan pembicaraan kasus-kasus kongkrit, terutama kasus yang telah menjadi

Yurisprudensi.

Pengetahuan perbandingan hukum walaupun hanya secara garis besar sudah harus mulai

diajarkan, dalam menghadapi kasus-kasus dimana justisiabel berasal dari keluarga hukum lain,

terutama keluarga hukum common law.

Page 68: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

BAB XII

PENUTUP

Demikian modul ini disajikan, dengan harapan apabila secara konsisten diajarkan, akan

menghasilkan output yaang tidak akan mengecewakan, yaitu para Jaksa yang siap pakai.

Page 69: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

DAFTAR PUSTAKA

1. HUKUM PIDANA I, Prof. Dr.A. Zainal Abidin Farid, SH., Sinar Grafika, Jakarta 1995.

2. HUKUM PIDANA, Prof. Dr. D. Schaffmeister, Prof. Dr. N. Keijzer, Mr.E.PH. Sitorius,

Liberty, Yogyakarta 1995.

3. ONSSTRAFRECHT, Mr. J.M.Van Bammelen. H.D. Tjeenk Willink BV Groningen 1975.

4. INLEIDENG TOT DE STRAFRECHTSDOGMATIEK, Prof. Mr. W.H.A Jonkers,

Tjeenk Willink – Zwolle, 1984.

5. HUKUM PIDANA, Prof. Dr. D. Schaffmeister dkk. Edicon penterjemah, Prof. Dr. J.E

Sahetapy,SH.MA. Konsorsium Ilmu Hukum Des. PBK.

6. HAND EN LEERBOEK VANHET NEDERLANDSI STRAFRECHT, Prof. Mr. W.F.C.

Van Hattum.

7. HUKUM PIDANA KUMPULAN KULIAH, Prof. Satochid Kertanegara,SH.

8. AZAZ-AZAZ HUKUM PIDANA, Prof. Moeljatno,SH. Bhineka Cipta Jakarta, 1993.

Page 70: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Page 71: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Lam

pira

n I

ASA

S H

UK

UM

PID

AN

A

1. F

ungs

i M

elin

dung

i Tin

dak

Pida

na T

anpa

UU

Pem

bata

san

: Asa

s Opo

rtuni

tas

2. F

ungs

i Ins

trum

enta

l

Tida

k ad

a D

elik

yan

g tid

ak d

itunt

ut

- Tia

da p

idan

a ta

npa

kesa

laha

n

- Lah

ir da

ri pe

nger

tian

huku

man

- Asa

s Pra

h Po

sitif

- Tan

pa p

enge

cual

ian

Nul

um D

elic

tum

Nul

a Po

ena

Sine

Pre

viae

lege

Poe

nale

1.

Rum

usan

Und

ang-

unda

ng H

arus

jela

s (le

x ce

rta).

2. N

on R

etro

aktif

.

3. P

emid

anaa

n ha

nya

berd

asar

Und

ang-

unda

ng.

4. P

enaf

sira

n A

nalo

gi ti

dak

bole

h.

Pe

nafs

iran

Yan

g B

oleh

:

1.

Gra

mat

ika

R

estri

ktif

2.

His

toris

.

3.

Sist

imat

is.

4.

Teol

ogis

.

Ek

sten

sif

K E

S A

L A

H A

N

L E

G A

L I

T A

S

Page 72: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Lam

pira

n II

ALA

SAN

PEN

GH

APU

SAN

PID

AN

A

Lepa

s D

ari

sega

la

tunt

utan

huk

um.

Ont

slag

Van

Alle

rech

tvw

evol

ging

Pem

buat

Alas

an P

emaa

f U

mum

Al

asan

Pem

bena

r (ju

stifi

catio

n)

tert

ulis

Perb

uata

n

Beba

s (v

rijpr

aak)

Daya

Pak

sa

Dure

ssov

erm

Ac

ht P

sl. 4

8

Tida

k da

pat

beta

nggu

ng

jaw

ab

(insa

nity

) Ps

l. 44

ALAS

AN P

ENGH

APU

SAN

PI

DAN

A KH

USU

S 1.

Ti

dak

mel

apor

ada

nya

pers

ekon

gkol

an

piha

k-pi

hak

kare

na

hubu

ngan

ke

luar

ga

(psl.

66).

2.

Men

yem

buny

ikan

, m

enol

ong,

m

elol

oska

n bu

ron.

(p

sl.22

1).

3.

Men

ista/

m

enist

a de

ngan

su

rat

untu

k ke

pent

inga

n um

um

Mel

ampa

ui

bata

s pe

mbe

laan

da

rura

t (n

oodw

eer

exes

/ ex

cess

ive

self

defe

nce)

. Ps

l.49

Pem

bela

an

daru

rat

(sel

f de

fenc

e no

odw

eer)

Ps

l. 49

:1

Kead

aan

daru

rat

(noo

dtoe

sta

nd

nece

sset

y)

Psl.4

8

Perin

tah

Jaba

tan

Syah

(s

uper

ior

orde

rs)

Prin

tah

Per-

Uua

n (w

ette

rlijk

vo

orsc

hrift

st

atut

e or

der)

ps

l. 50

TIDA

K TE

RTU

LIS

TAN

PA S

ALAH

1.

Sa

lah

tent

ang

fakt

a.

2.

Sala

h te

ntan

g or

ang.

3.

Sa

lah

tent

ang

kem

ampu

an b

ertin

dak.

TIDA

K TE

RTU

LIS

1.

Ti

dak

mel

awan

hu

kum

m

ater

iil

2.

ijin

Page 73: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Lam

pira

n II

I

PEN

YE

RT

AA

N, P

EM

BA

RE

NG

AN

, RE

SID

IF D

AL

AM

GA

MB

AR

AN

TP

T

P

TP

T

P

T

P

T

P

TP

TP

T

P

T

P

TP

Von

is

Ket

eran

gan

:

1.

TP

=

Tin

dak

Pida

na.

2.

P =

Pel

aku.

3.

a. P

erte

ntan

gan.

Pel

akun

ya ja

mak

tind

ak p

idan

anya

tung

gal (

bisa

jam

ak).

b. P

emba

reng

an

P

elak

unya

tung

gal (

bisa

juga

jam

ak) t

inda

k pi

dana

nya

jam

ak.

c. R

esid

if

Pel

akun

ya tu

ngga

l tin

dak

pida

nany

a ja

mak

dis

elin

gi v

onis

.

A. P

E N

Y E

R T

A A

N

C. P

E M

B A

R E

N G

A N

+ R

E S

I D

I F

B.

P E

M B

A R

E N

G A

N

P

P P

P P

P

P X

X T

T

X

TX

X

X X

X

X

Page 74: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Lam

pira

n IV

Peny

uruh

an/ D

oen

Pleg

en (p

asal

55

ayat

(1)

a.

Peny

uruh

Tid

ak B

erbu

at (M

anus

Dom

ina)

b.

Pem

buat

Tid

ak D

apat

Dip

idan

a.

- D

aya

Paks

a.

- Ti

dak

Dap

at B

erta

nggu

ngja

wab

.

- Pe

mbe

rian-

pem

beria

n -

Janj

i. -

Peny

alah

guna

an

Kek

uasa

an.

- K

eker

asan

/ Anc

aman

. -

Tipu

Day

a,

Kes

empa

tan.

-

Sara

na/K

eter

anga

n.

Pem

buju

kan/

Uitl

oken

(pas

al 5

5 ay

at(1

) 2)

Pem

buju

k : P

embu

at In

tele

ktua

l. -

Men

imbu

lkan

Insp

irasi

, tid

ak m

elak

ukan

send

iri.

- Ta

nggu

jaw

ab se

bata

s buj

ukan

.

SAR

AN

A :

Pem

bant

uan/

Med

eplic

httig

heid

(pas

al. 5

6 ay

at (2

) -

Perb

uata

n Pe

mud

ahan

. -

Buk

an In

spira

tor.

- Ta

nggu

ngja

wab

Seb

atas

Pem

bant

uan.

SA

RA

NA

: -

Mem

beri

Kes

empa

tan

- Sa

rana

-

Ket

eran

gan.

Ber

sam

a/ T

urut

Mel

akuk

an/ M

edep

lege

n -

Ber

sam

a M

elak

ukan

–se

mua

uns

ur d

elik

terp

enuh

i. -

Turu

t Mel

akuk

an –

tidak

sem

ua u

nsur

terp

enuh

i. -

Mel

akuk

an P

erbu

atan

Pel

aksa

naan

.

Pem

bant

uan/

Med

eplic

htig

heid

(pas

al 5

6 (1

) -

Han

ya P

erbu

atan

Pem

udah

an.

1.

Perm

ufak

atan

Jaha

t –pa

sal 8

8, 1

64

2.

Turu

t Per

kum

pula

n Y

ang

Dila

rang

–pa

sal 1

69

3.

Ber

zina

–pa

sal 2

84

Del

ict M

andi

ri –

tidak

dis

ebut

pen

yert

aan

1.

Pena

daha

n –p

asal

480

, 481

, 482

. 2.

M

enye

mbu

nyik

an o

rang

yan

g m

elak

ukan

kej

ahat

an

–pas

al 2

21

P E N Y E R T A A N

ANTE

DELI

CTU

M

TEM

PORE

DELI

CTU

M

POST

DE

LICT

UM

KHU

SUS

Page 75: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Lam

pira

n V

P E

R B

A R

E N

G A

N

(C O

N C

U R

S U

S)

1.

PER

AT

UR

AN

YA

NG

DIL

AN

GG

AR

(Con

curs

us Id

ealis

) –pa

sal 6

3 K

UH

P.

Sa

tu p

erbu

atan

mel

angg

ar b

eber

apa

Per-

UU

Pida

na /

bebe

rapa

aki

bat.

Pe

ratu

ran

khu

sus y

ang

dibe

rlaku

kan

(ex.

Spec

ialis

der

ogat

lex

gene

ralis

) –pa

sal 6

3

ayat

(2).

Pe

rbua

tan

buka

nlah

per

buat

an m

ater

iil –

perb

uata

n ya

ng m

enya

tu d

an ta

k te

rpis

ah.

Aki

bat y

ang

satu

ada

lah

syar

at a

kiba

t yan

g

lain

.

STEL

SEL

PEM

IDA

NA

AN

St

else

l Abs

orbs

i (pe

lebu

ran)

.

D

iken

akan

han

ya sa

tu p

idan

a.

Pe

ratu

ran

deng

an p

idan

a te

rting

gi y

ang

dite

rapk

an

2. P

ER

BU

AT

AN

BE

RL

AN

JUT

(voo

rgez

ette

han

delin

g) –

pasa

l 64

KU

HP.

Beb

erap

a Pe

rbua

tan

:

a. Y

ang

seje

nis.

b. J

arak

wak

tu y

ang

rela

tif si

ngka

t.

c. A

tas d

asar

satu

kep

utus

an n

iat.

Stel

sel P

emid

anaa

n

- Ste

lsel

abs

orbs

i han

ya sa

tu p

idan

a

dike

naka

n

3. P

ER

BA

RE

NG

AN

PE

RB

UA

TA

N

(con

curs

us re

alis

) –pa

sal 6

5 K

UH

P.

Ada

beb

erap

a pe

rbua

tan

Tia

p pe

rbua

tan

mer

upak

an d

elik

yan

g

man

diri.

Stel

sel P

emid

anaa

n

a.

Kej

ahat

an d

enga

n pi

dana

pok

ok se

jeni

s.

- St

else

l abs

orbs

i dip

erta

jam

.

- H

anya

satu

pid

ana

yang

dik

enak

an :

pida

na te

rting

gi +

1/3

.

b.

Kej

ahat

an d

enga

n pi

dana

pok

ok ti

dak

seje

nis :

- St

else

l kom

ulas

i ter

bata

s

- Ti

ap p

idan

a di

kena

kan

pida

na te

rlam

a +

1/3.

- D

enda

dis

esua

ikan

den

gan

kuru

ngan

P.Pe

ngga

nti.

c.

Pela

ngga

ran.

- St

else

l kom

ulas

i mur

ni p

idan

a

diju

mla

hkan

(psl

. 70)

.

- K

urun

gan

terti

nggi

1 ta

hun

4 bu

lan.

Page 76: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Lam

pira

n V

I

S Y

A R

A T

P

E R

C O

B A

A N

Nia

t Pel

aku

Nya

ta

Dol

us V

eoor

rnem

en)

a.

Te

ori S

ubye

ktif

=

pel

aksa

naan

nia

t/ ke

hend

ak

Pe

rbua

tan

Pers

iapa

n

(Voo

r ber

eidi

ng H

ande

ling)

B

elum

dap

at d

ipid

ana

Ada

nya

Perm

ulaa

n Pe

laks

anaa

n?

(Beg

iner

Uitv

oerin

g)

M.v

.T

Perb

uata

n Pe

laks

anaa

n (U

itvoe

rings

Han

delin

g)

Suda

h da

pat d

ipid

ana

Perm

ulaa

n Pe

rbua

tan

Tida

k Se

lesa

i Dilu

ar K

ehen

dak

Pela

ku

b.

Teor

i Oby

ektif

=

Pela

ksan

aan

Kej

ahat

an

Mem

baha

yaka

n K

epen

tinga

n H

ukum

Cat

atan

: 1.

V

. Ham

el –

suby

ektif

. 2.

Si

mon

e –

obye

ktif.

3.

H

oge

Raa

d –

obye

ktif.

(C

onto

h : k

asus

pem

baka

ran

rum

ah.)

CA

TA

TA

N :

Pida

na T

amba

han

sam

a de

ngan

del

ik se

lesa

i 1.

Pe

rcob

aan

pela

ngga

ran

tidak

dip

idan

a (p

sl. 5

4).

2.

Perlu

asan

arti

del

ik –

SATH

OC

HID

= b

ukan

del

ik.

3.

Pida

na d

ikur

angi

1/3

dar

i yan

g di

anca

m.

4.

Pida

na m

ati m

enja

di 1

5 ta

hun

penj

ara.

5.

U

nsur

per

coba

an h

arus

dim

uat d

alam

dak

waa

n Ji

ka ti

dak

terb

ukti

mak

a ha

rus d

ibeb

aska

n.

P E R C O B A A N

Page 77: 4. Asas hukum pidana - Badan Diklat Kejaksaan RI · PDF filedikualifikasikan sebagai perbuatan pidana khusus/ tindak pidana khusus. ... Kejahatan – didalam KUHP diatur dalam buku

Arsip B

adan

Dikl

at Keja

ksaa

n Rep

ublik

Indo

nesia

Lam

pira

n V

II

PER

CO

BA

AN

B

ER

KU

AL

IFIK

ASI

(G

EQ

UA

LIF

ICE

ER

D)

Peco

baan

yan

g m

engh

asilk

an

delik

lain

PER

CO

BA

AN

TE

RT

UN

DA

(G

ESC

HO

RST

) Pe

rbua

tan

men

yele

saik

an

delik

tida

k se

lesa

i/ di

cega

h

PER

CO

BA

AN

TA

K M

AM

PU

(ON

DE

UG

DE

LIJ

KE

) PE

RC

OB

AA

N S

EL

ESA

I (D

EL

ICT

MA

NQ

UE

) Se

mua

per

buat

an te

lah

dila

kuka

n na

mun

has

ilnya

ni

hil

PER

CO

BA

AN

DA

LA

M

BU

KU

(p

sl 1

63 b

is. K

UH

P)

Pem

buju

kan

gaga

l

Perb

uata

n pe

laks

anaa

n te

lah

dila

kuka

n na

mun

de

lik-d

elik

tida

k m

ungk

in te

rwuj

ud.

Ti

dak

dipi

dana

.

1. a

. T

idak

Mam

pu M

utla

k ca

tata

n :

Teor

i Sub

yekt

if Pe

rcob

aan

tidak

mam

pu m

utla

k te

tap

dapa

t di

pida

na/ s

ikap

bat

in y

ang

jaha

t. Te

ori O

byek

tif

Perc

obaa

n tid

ak m

ampu

mut

lak

tidak

di

pida

na/ t

idak

men

imbu

lkan

bah

aya

bagi

te

rtib

umum

. b.

Tid

ak M

ampu

Rel

atif

Teor

i Sub

yekt

if da

n O

byek

tif –

Dap

at

Dip

idan

a.

2. P

elak

u ps

l. 63

bis

teta

p di

pida

na w

alau

pun

pem

buat

tid

ak d

ipid

ana

-

Mel

akuk

an p

erbu

atan

yan

g di

sang

ka p

erbu

atan

Pi

dana

teta

pi B

ukan

. -

Tida

k di

pida

na

PERC

OBA

AN/ P

OGI

NG

PS

L. 5

3 KU

HP

ABSO

LUT

Mut

lak

Tida

k M

ungk

in

Mem

baw

a Ha

sil

RELA

TIF

Hasil

Tid

ak D

icap

ai K

aren

a Ke

adaa

n Te

rten

tu

ALAT

TU

JUAN

OBY

EK

ALAT

TU

JUAN

OBY

EK

MAN

GEL

AM T

ATBE

STAN

D

DELI

K PU

TATI

F