3. Teknis untuk proyek PLTA

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Data teknis untuk pengerjaan proyek PLTA

Text of 3. Teknis untuk proyek PLTA

BAB III

BAB III

ASPEK TEKNIS

PT Poso Energy Satu Pamona pada saat ini berencana membangun PLTA Poso-1 Tahap 1 dengan kapasitas sebesar 2 x 35 MW. PLTA Poso-1 direncanakan menggunakan Regulating Dam dengan sumber air dari Sungai Poso. Listrik yang dihasilkan akan disalurkan ke Pamona Substation. Kajian aspek teknis dilakukan berdasarkan Laporan Pra-Study Kelayakan Pembangunan PLTA Poso-1 yang disusun oleh PT Bukaka Teknik Utama Tahun 2014.3.1. Lokasi dan Gambaran Umum Lokasi

Lokasi PLTA Poso-1 terletak di Kecamatan Pamona Utara Kabupaten Poso, Propinsi Sulawesi Tengah. Secara geografis, lokasi PLTA Poso-1 terletak pada posisi 139'37.87 Lintang Selatan, dan 12039'32.43" Bujur Timur. Berikut ini ilustrasi lokasi PLTA Poso:

Gambar 3.1

Lokasi PLTA Poso-1

Untuk mencapai lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan roda 4 (empat) dari Kota Palu, Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan ke Kota Poso dengan jarak 225 km selama (6 jam perjalanan dan dari Kota Poso ke Desa Sulewana dapat ditempuh ( 1 jam dengan jarak tempuh (52 km. Selanjutnya dari Desa Sulewana ke lokasi bangunan utama (Dam site) dapat dicapai melalui akses jalan yang telah dibangun dengan lebar + 6 m.

3.1.1. Gambaran Umum Lokasi

PLTA Poso-1 terletak di Sungai Poso yang pada bagian hulunya terdapat danau alam yang besar (Danau Poso) dengan luas permukaan danau (362 km2 pada muka air normal serta mempunyai luas daerah tangkapan hujan (Catchment area) ( 1.340 km2 dengan sungai-sungai kecil yang mengelilingi danau.

Danau Poso yang terletak di Sulawesi Tengah merupakan salah satu dari dua danau yang besar setelah Danau Towoti di Sulawesi Selatan. Danau Poso mempunyai luas tangkapan hujan sekitar 1.340 km2 yang terdiri dari arah anak sungai kecil mengelilingi Danau. Elevasi muka air yang cukup tinggi (515 m), maka secara topografi sangat baik untuk Pusat Pembangkit Listrik.

Outlet Danau terletak di sebelah Utara dan mengalir melalui Sungai Poso melewati Kota Poso sebelum ke laut. Lebar sungai mula-mula lebar dan menyempit pada jarak kurang lebih 12 km dari Outlet Danau dan kemiringan dasar sungai semakin tajam dan aliran air menjadi cepat.

Gambar 3.2Lokasi PLTA Poso-1

3.1.2 Pemilihan Lokasi

Pembangkit Listrik Tenaga Air di Poso pada dasarnya memanfaatkan energi potensial air (jatuhan air) yang berasal dari danau Poso. Di samping faktor geografis yang memungkinkan dan daerah tangkapan (catchment area) merupakan hutan lindung sangat cocok untuk dijadikan water storage area untuk PLTA Poso-1, disamping itu pula tinggi jatuhan air (head) 50 m di lokasi PLTA Poso-1 memungkinkan untuk dibangun penstock, tinggi jatuhan air di lokasi PLTA ini dapat pula diperoleh dengan membendung aliran air sehingga permukaan air menjadi tinggi.

3.1.3 Kondisi Seismologi

Berdasarkan SNI 1726-2012 mengenai standar design resistensi/ketahanan bangunan terhadap gempa yang memuat peta pergerakan tanah, diketahui bahwa lokasi PLTA Poso berada pada zona dengan akselerasi gempa 0,5-0,6 g . Berikut ini adalah peta seismic di Indonesia:Gambar 3.3Peta Seismik Indonesia

Pada zona ini pergerakan tanahnya adalah 0,5-0,6 g (g = 9,8 m/s2) dalam siklus 2500 tahun. Dengan mengambil durasi daya tahan bangunan adalah selama 50 tahun dan kemungkinan terjadinya gempa bumi dengan pergerakan tanah sebagaimana tersebut diatas atau lebih adalah 2 % maka berdasarkan SNI 1726-2012, parameter design untuk ketahanan bangunan atas kekuatan gempa direkomendasikan untuk menambah faktor keamanan bangunan maka ditambah faktor keutamaan gempa dengan kategori resiko IV, untuk bangunan PLTA minimum 1,5 kali. Sehingga koefisien sismik yang diterapkan adalah 0,75 g.

3.1.4 TopografiSecara umum kondisi topografi di daerah PLTA Poso-1 bagian hulunya (Danau Poso) adalah perbukitan terjal dan bagian hilir melebar kearah Barat - Utara berupa dataran rendah hingga pantai. Kemiringan rata-rata Sungai Poso adalah 0,010 (sepuluh permil) yang diperoleh dari elevasi muka air normal (NWL) outlet Danau Poso + 511,10 m sampai ke pantai dengan jarak 50 km.

Gambar 3.4Topografi PLTA Poso-1

Detail hasil survey topografi dengan menggunakan LIDAR tercantum dalam lampiran laporan studi kelayakan.Dilihat dari bentuknya, kondisi topografi di sepanjang aliran sungai dari outlet Danau Poso adalah berupa lembah dengan bentuk relatif datar bergelombang sampai pada jarak 12 km ke arah hilir (bagian hulu PLTA Poso-1), selanjutnya berubah menjadi cekungan curam yang membentuk celah terjal (bentuk huruf V~U) hingga di muara.

Topografi lokasi PLTA Poso-1, paling selatan (hulu sungai) pada lembah sungai baik sisi kanan maupun sisi kiri sungai mempunyai kemiringan lereng dari sangat curam curam yang terbentuk dari batuan batu gamping. Pada sisi kiri sungai sebelah utara punggungan mempunyai kemiringan lereng agak curam curam yang dibentuk dari broken formation dari batuan asal mlange ofiolit dan mlange tektonik serta endapan olistostrome dan collovium, sedang sisi kanan sungai mempunyai kemiringan lereng dari agak curam curam yang puncak punggungan dibentuk oleh batugamping dan bagian lereng berupa olistostrome dominasi blok dan broken formation dari batuan asal melange ofiolit dan melange tektonik sedang pada lembah antar bukit berupa olistostrome dominasi matrik -ollovium.

Untuk sungai yang akan dijadikan lokasi PLTA Poso-1 mempunyai kemiringan rata-rata 1.38o atau setiap 100 m mempunyai beda tinggi 2.4 m.

Gambar 3.5Landscape PLTA Poso-1

3.1.5 Kondisi Geologi

Daerah PLTA Poso-1 dan sekitarnya termasuk dalam fisiotektonik Sulawesi Bagian Tengah dicirikan oleh singkapan-singkapan batuan mlange ofiolit dan sekis pompangeo. Dipisahkan dengan propinsi Sulawesi Barat oleh rangkaian pegunungan memanjang mulai dari Palu sampai Teluk Bone.

T.O. Simandjuntak, Surono dan J.B. Supandjono telah memetakan geologi secara sistimatis dalam Peta Geologi Lembar Poso, Sulawesi, 1997 dengan skala 1 : 250.000 yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung yang hasil pemetaanya sekitar rencana PLTA Poso-1 susunan stratigrafi berurutan dari yang berumur tua ke muda yaitu :

Satuan Komplek Pompangeo (MTmp), satuan ini termasuk kedalam Mandala Geologi Sulawesi Timur yang tersusun atas sekis, grafit, batusabak, genes, serpentinit, kuarsit, batugamping malih dan setempat breksi. Sekis terdiri atas sekis mika, sekis mika yakut, sekis serisit, sekis muskovit, sekis klorit-serisit, sekis hijau, sekis glaukofan, sekis pumpelit dan sekis yakut-amfibolit. Genes terdiri atas genes albit-muskovit-plagioklas. Umur satuan ini diduga lebih tua dari Kapur, tebalnya diduga ribuan meter. Batuan ini banyak dijumpai dan tersingkap di sekitar daerah Perbukitan Bagian Barat dan Timur Danau Poso.

Satuan Batugamping Malih (MTmm), satuan ini termasuk kedalam Mandala Geologi Sulawesi Timur yang tersusun atas marmer dan batugamping terdaunkan, berwarna kelabu muda sampai kelabu kehijauan, coklat sampai merah kecoklatan. Satuan ini diduga berasal dari sedimen pelages laut dalam, sedang umurnya kemungkinan lebih tua dari Kapur. Satuan batuan ini sebagian menempati daerah aliran Sungai Poso lokasi rencana PLTA Poso, sebelah Timur Danau Poso mulai dari pantai Selatan sampai Utara dan sebelah Barat Danau Poso bagian Utara.

Formasi Poso (Tppl), satuan ini tersusun atas batugamping, napal, batupasir tufan dan konglomerat. Kandungan fosil foraminifera menunjukkan umur Pliosen, sedang lingkungan pengendapannya laut dangkal. Tebal formasi mencapai 800 m. Formasi ini menempati sisi sebelah kanan Sungai Poso sampai daerah Kuku, baru menempati kiri kanan Sungai Poso sampai kota Poso.

Formasi Puna (Tpps), satuan ini tersusun atas konglomerat, batupasir, lanau, serpih, batulempung gampingan dan batugamping. Konglomerat tersusun oleh komponen batugamping terdaunkan, sekis, genes dan kuarsa susu dengan semen karbonat, padat dan keras. Batupasir berwarna coklat kehijauan sampai kehitaman, padat, keras, berlapis baik (30 200 cm). Lanau berwarna kelabu sampai kelabu kehitaman, agak keras, berlapis baik (10 30 cm). Serpih berwarna kelabu, agak keras dan padat, berlapis baik. Batugamping umumnya berupa batugamping koral. Fosil foraminifera dalam lempung gampingan menunjukkan umur Pliosen, sedang lingkungan pengendapannya laut dangkal. Tebal formasi sekitar 800 m. Formasi ini menindih tak selaras Formasi Pompangeo. Formasi ini menempati sebelah sisi kiri Sungai Poso sampai daerah Kuku, baru endapannya mengarah ke daerah Puna.

Satuan Endapan Danau (Ql), satuan ini tersusun atas lempung, lanau, pasir dan kerikil, menunjukkan perlapisan mendatar, tebalnya beberapa meter sampai puluhan meter. Satuan ini umumnya terdapat di sekitar Danau Poso terutama di sekitar Outlet Danau Poso yaitu pada daerah Tentena.

Satuan Aluvium (Qal), satuan ini tersusun atas lumpur, lempung, pasir, kerikil dan kerakal. Endapan ini umumnya terdapat di sepanjang sungai.

Gambar 3.6Peta Geologi Lembar Poso oleh T.O.Simandjuntak, Surono dan J.B.Supandjono Tahun 1997

Kondisi geologi lokasi PLTA Poso-1 yang sebagian besar terbentuk dari batuan acak baik berupa melange tektonik, melange ofiolit dan olistostrome dengan massa batuan yang heterogen dan struktur batuan yang kompleks menjadi problem engineering baik dalam desain maupun dalam konstruksi.Dalam rangka untuk pemilihan jalur dan memperoleh data-data yang dibutuhkan untuk desain sampai laporan ini dibuat telah dilakukan 21 titik pemboran dengan panjang 673 m dengan insitu test berupa DPT/SPT sebanyak 204 test dan permeability test sebanyak 107 test. Untuk permeability test hanya bisa dilakukan dengan metode falling head test, sedangkan untuk packer test tidak bisa dilaksanakan karena tidak ada dinding lubang bor yang kuat untuk dudukan packer. Pada sekitar rencana lokasi PLTA Poso-1 juga telah dilakuk