3. BAB I - BAB V

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Gambaran Faktor Penyebab yang Mempengaruhi Kecemasan Orang Tua Terhadap Hospitalisasi Pada Anak Umur 6 - 12 Tahun

Citation preview

BAB IPendahuluan1.1 Latar BelakangKeluarga merupakan unsur penting dalam perawatan, khususnya perawatan pada anak. oleh karena anak merupakan bagian dari keluarga, maka perawat harus mampu mengenal keluarga sebagai tempat tinggal atau konstanta tetap dalam kehidupan anak (Wong, Perry and Hockenberry. 2002). Sebagai perawat, dalam memberikan pelayanan keperawatan, harus mampu memfasilitasi keluarga dalam berbagai bentuk pelayanan kesehatan baik berupa pemberian tindakan keperawatan langsung, maupun pendidikan kesehatan bagi anak. Selain itu, perawat harus memperhatikan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi keluarga yang dapat menetukan pola keidupan anak selanjutnya. Faktor - faktor tersebut sangat menentukan perkembangan anak dalam kehidupan (Alimul, 2005).Kehidupan anak juga sangat di tentukan keberadaannya bentuk dukungan dari keluarga, hal ini dapat terlihat bila dukungan keluarga yang sangat baik maka pertumbuhan dan perkebangan anak relatif stabil, tetapi apabila dukungan keluarga anak kurang baik, maka anak akan mengalami hambatan pada dirinya yang dapat menganggu psikologis anak (Alimul, 2005).Populasi anak yang di rawat di rumah sakit menurut Wong (2001), mengalami peningkatan yang sangat dramatis. Presentase anak yang di rawat dirumah sakit saat ini mengalami masalah yang lebih serius dan kompleks di bandingkan kejadian hospitalisasi pada tahun-tahun sebelumnya. Mc Cherty dan Kozak mengatakan hampir empat juta anak dalam satu tahun mengalami hospitalisasi (Lawrence J. cit Hikmawati, 2000). Rata - rata anak mendapat perawatan selama enam hari. Selain membutuhkan perawatan yang special disbanding pasien lain, anak sakit juga mempunyai keistimewaan dan karakteristik tersendiri karena anak-anak bukanlah miniatur dari orang dewasa atau dewasa kecil. Dan waktu yang di butuhkan untuk merawat penderita anak-anak 20 - 45% lebih banyak dari pada waktu untuk merawat orang dewasa (Speirs, cit Hikmawati 2000).Penelitian dilakukan di Amerika Serikat setiap tahunnya lebih dari 23 juta orang terkena gangguan kecemasan. Hasil penelitian di New York Amerika Serikat diperoleh bahwa dari 50 ribu orang tua yang anaknya dirawat dibeberapa rumah sakit di kota New York, 30% mengalami kecemasan berat. Kecemasan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu takut anak akan menderita cacat (63%), takut kehilangan (21,3%), masalah sosial ekonomi (10,7%), takut akan hal yang tidak diketahui / kurangnya informasi (5%). (Geraw,1998)Angka kesakitan anak di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Nasional (Susenas) tahun 2010 di daerah perkotaan menurut kelompok usia 0 - 4 tahun sebesar 25,8%, usia 5 - 12 tahun sebanyak 14,91%, usia 13 - 15 tahun sekitar 9,1%, usia 16 - 21 tahun sebesar 8,13%. Angka kesakitan anak usia 0 - 21 tahun apabila dihitung dari keseluruhan jumlah penduduk adalah 14,44%. Anak yang dirawat di rumah sakit akan berpengaruh pada kondisi fisik dan psikologinya, hal ini disebut dengan hospitalisasi.Penelitian Tyc Dkk (2002) Indonesia ditemukan bahwa 39,6% orang tua mengalami distres tingkah laku dan peningkatan tekanan darah dalam menghadapi perawatan anak dirumah sakit. Penelitian di Padang Desrika Irma (2003) didapatkan 65% orang tua mengalami kecemasan sedang pada saat anak dirawat. Dimana ibu akan lebih cemas dibanding ayah dengan persentase kecemasan ibu 60% dan ayah 40%. Menurut Rahmi dengan penelitiannya yang berjudul hubungan pemberian informasi dengan tingkat kecemasan orang tua yang anaknya mendapatkan prosedur invasif. 60% orang tua mengalami kecemasan ringan, tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat kecemsan orang tua dengan pemberian informasiBerdasarkan data yang di peroleh dari MR RSI Ibnu Sina Payakumbuh dari bulan Oktober s/d Desember 2013, jumlah anak yang di rawat sebanyak 278 anak. Jumlah rata - rata perbulan anak yang di rawat sebanyak 93 anak. Hasil wawancara pada tanggal 18 Januari 2014 didapatkan dari 10 orang tua, 8 di antaranya mengatakan cemas terhadap kondisi anaknya, dan mengatakan ingin cepat pulang. Sehingga orang tua menjadi gelisah, perasaan tidak tenang, kurang istirahat, cepat lelah, serta takut akan tindakan yang di lakukan terhadap anak.Menurut Supartini (2004) perawatan anak dirumah sakit merupakan pengalaman yang penuh dengan stress, baik bagi anak maupun orang tua. Lingkungan rumah sakit itu sendiri merupakan penyebab stress dan kecemasan pada anak. Pada anak yang dirawat dirumah sakit akan muncul tantangan - tantangan yang harus di hadapinya seperti mengatasi suatu perpisahan, penyesuaian dengan lingkungan yang asing baginya, penyesuaian dengan banyak orang mengurusinya, dan kerap kali harus berhubungan dan bergaul dengan anak - anak yang sakit serta pengalaman mengikuti terapi yang menyakitkan.Pada anak usia pra sekolah, kecemasan yang paling besar dialami adalah ketika pertama kali mereka masuk sekolah dan kondisi sakit yang dialami anak. Apabila anak mengalami kecemasan tinggi saat dirawat di rumah sakit maka besar sekali kemungkinan anak akan mengalami disfungsi perkembangan. Anak akan mengalami kecemasan tinggi saat di rawat di rumah sakit maka besar sekali kemungkinan anak akan mengalami disfungsi perkembangan. Anak akan mengalami gangguan, seperti gangguan somatic, emosional dan psikomotor (Nelson cit Isranil Laili 2006). Reaksi terhadap penyakit atau masalah diri yang dialami anak pra sekolah seperti perpisahan, tidak mengenal lingkungan atau lingkungan yang asing, hilangnya kasih sayang, body image maka akan bereaksi seperti regresi yaitu hilangnya control, displacement, agresi (menyangkal), menarik diri tingkah laku protes, serta lebih peka dan pasif seperti menolak makan dan lain-lain (Alimul, 2005).1.2 Rumusan MasalahApakah ada faktor penyebab yang mempengaruhi tingkat kecemasan orang tua terhadap efek hospitalisasi pada anak?1.3 Tujuan Penelitian1.3.1 Tujuan Umum1.3.1.1 Untuk mengetahui faktor penyebab yang mempengaruhi kecemasan orang tua terhadap efek hospitalisasi pada anak di Ruang az-zahra RSI Ibnu Sina Payakumbuh tahun 20141.3.2 Tujuan Khusus1.3.2.1 Untuk mengetahui distribusi frekuensi faktor jenis kelamin yang mempengaruhi tingkat kecemasan yang di alami orang tua yang anaknya di rawat inap1.3.2.2 Untuk mengetahui distribusi frekuensi faktor usia yang mempengaruhi tingkat kecemasan yang di alami orang tua yang anaknya di rawat inap1.3.2.3 Untuk mengetahui distribusi frekuensi faktor pekerjaan yang mempengaruhi tingkat kecemasan yang di alami orang tua yang anaknya di rawat inap1.3.2.4 Untuk mengetahui distribusi frekuensi faktor tingkat pendidikan yang mempengaruhi tingkat kecemasan yang di alami orang tua yang anaknya di rawat inap1.4 Manfaat Penelitian1.4.1 Bagi Peneliti1.4.1.1 Sebagai bahan untuk memperluas pengetahuan tentang faktor penyebab yang mempengaruhi tingkat kecemasan orang tua terhadap efek hospitalisasi pada anak1.4.1.2 Sebagai sarana dalam aplikasi ilmu pengetahuan yang telah di dapat dari institusi pendidikan selamproses pendidikan.1.4.2 Bagi Institusi1.4.2.1 Sebagai referensi program DIII Keperawatan STIKes Yarsi Sumbar Bukittinggi1.4.2.2 Sebagai bahan diskusi terutama di bidang keperawatan.1.4.3 Bagi Orang Tua1.4.3.1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kecemasan orang tua dari anak dan dapat memberikan informasi kepada orang tua tentang cara untuk mengurangi kecemasan pada anak mereka.1.5 Ruang LingkupRuang lingkup penelitian ini adalah Gambaran Faktor Penyebab yang mempengaruhi Kecemasan Orang Tua Terhadap Efek Hospitalisasi pada Anak umur 6 - 12 tahun di Ruang Az-Zahra RSI Ibnu Sina Payakumbuh Tahun 2014 . Adapun yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah orang tua pasien anak yang ada di ruang Az-zahra RSI Ibnu Sina Payakumbuh. Penelitian ini dilakukan di RSI Ibnu Sina Payakumbuh. Penelitian ini direncanakan pada bulan Februari 2014. Metode penelitian menggunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, Populasi adalah seluruh orang tua pasien anak di RSI Ibnu Sina Payakumbuh. Teknik pengumpulan sampel yang digunakan adalah total sampling. Alat pengumpulan data dengan menggunakan kusioner.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Konsep Hospitalisasi2.1.1 PengertianHospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan ke rumah ( Supartini, 2004 )Khususnya hospitalisasi pada anak dapat menimbulkan stressor, baik terhadap anak itu sendiri maupun terhadap orang tuanya. Stres akibat hospitalisasi akan menimbulkan perasaan tidak nyaman sehingga dapat memicu anak dan orang tua untuk mengungkapkan mekanisme koping dalam menangani stres. Dan apabila anak ataupun orang tua tidak mampu menangani stres, stres tersebut akan menjadi krisis ( Wong, 2009 )Hospitalisasi dan penyakit seringkali menjadi krisis pertama yang harus di hadapi anak terutama selama tahun tahun awal, sangat rentan terhadap krisis penyakit dan hospitalisasi karena stres akibat perubahan dari keadaan sehat biasa dan anak memiliki jumlah mekanisme koping yang terbatas untuk menyelesaikan stressor (kejadian yang menyebabkan stres) ( wong, 2007 ).

2.1.2 Faktor yang mempengaruhi kecemasan pada anak yang dirawat di Rumah SakitFaktor - faktor yang mempengaruhi kecemasan menurut Stuart dan Sundeen (2009) antara lain jenis kelamin, usia, pekerjaan, pendidikan maupun penghasilan:2.1.2.1 Jenis KelaminKecemasan lebih banyak terjadi pada wanita. Krasucki (1998) menyebutkan bahwa perempuan lebih mudah cemas dibandingkan laki-laki. Pada laki-laki lebih menggunakan logika, sedangkan perempuan menggunakan perasaan2.1.2.2 UsiaPada usia yang semakin tua maka seseorang semakin banyak pengalamannya sehingga pengetahuannya semakin bertambah ( Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan yang semakin banyak dimiliki seseorang maka akan lebih siap dalam menghadapi suatu permasalahan.2.1.2.3 PekerjaanOrang tua yang mempunyai peran ganda sebagai orang tua dari anak yang lain, pencari nafkah dan harus merawat anak yang sakit di rumah sakit ada kecenderungan mengalami kecemasan.2.1.2.4 Tingkat PendidikanGass dan Curiel (2011) menjelaskan bahwa tingkat pendidikan berhubungan dengan tingkat kecemasan. Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi pula tingkat kecemasan.2.1.2.5 Mekanisme yang dimilikiSebagian dari cara individu mereduksi perasaan tertekan, kecemasan, stress ataupun konflik dengan melakukan mekanisme pertahanan diri yang dilakukan secara sadar ataupun tidak (Mutadin, 2008). Freud (2002) menggunakan istilah mekanisme pertahanan diri (defance mechanism) untuk menunjukkan proses tidak sadar yang melindungi individu dari kecemasan melalui pemutar balikkan kenyataan.2.1.3 Stressor pada Anak dengan Hospitalisasi2.1.3.1 Cemas karena Perpisahana. Anak takut dan cemas berpisah dengan orang tuanyab. Anak sering mimpi burukSebagian besar stres terjadi pada anak prasekolah, khhususnya anak yang berumur 6 sampai 30 bulan cemas karena terjadinya perpisahan anak dengan keluarga khususnya orang tua dan orang terdekat2.1.3.2 Kehilangan KendaliKurangnya kendali akanmeningkatkan persepsi ancaman dan dapat mempengaruhi keterampilan koping anak anak meskipun stimulasi sensorik yang biasanya berkurang, namun stimulus rumah sakit yang lainnya seperti cahaya, suara dan bau dapat berlebihan, sehingga anak berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan otonominya.Dengan kehilangan fungsi sehubungan dengan terganggunya fungsi motorik biasanya mengakibatkan berkurangnya percaya diri pada anak sehingga tugas perkembangan yang sudah di capai dapat terhambat. Hal ini membuat anak regresi dan menolak untuk makan.2.1.3.3 Cedera pada tubuhAnak merasa tidak nyaman akan perubahan yang terjadi dan anak juga merasa takut terhadap prosedur yang menyakitkan. Biasanya anak menyeringaikan wajah, menangis, dan membuka mata dengan lebar atau suka menggigit, menendang dan memukul orang lain.2.1.3.4 Pandangan Anak terhadap penyakitnyaPerkembangan kognitif anak pada masa ini masih proligikal yang tampak pada pandangan terhadap penyakitnya. Misal, anak memandang sakitnya sebagai hukuman atas kenakalannya. Pada masa sekolah, mereka memamndang penyakitnya terhadap hambatan aktifitasnya. Reaksi anak tentang hukuman dapat bersifat passive, cooperative, membantu anakmencoba menghindar dari orang tua, anak menjadi marah. (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2005)

2.2 Konsep Dasar Cemas2.2.1 Pengertian CemasKecemasan adalah suatu keadaan dimana individu, kelompok mengalami perasaan gelisah dan sistem saraf otonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas. ( Carpenito, 1995)Ketakutan tentang bagian tubuh yang di sakiti dan nyeri pada seluruh anak anak, termasuk pada seluruh bayi. bayi bereaksi pada kekakuanpada tubuh, menolak dan ekspresi wajah, sedangkan prrasekolah protes dengan keras dan dapat menjadi agresif secara fisik dan verbal ( Wong, 2002 )2.2.2 Tahap kecemasan pada Anak yang di rawat di Rumah Sakit2.2.2.1 Tahap protes ( Phase of Protest )Tahap ini di manifestasikan dengan menangis kuat, menjerit dan memanggil ibunya atau menggunakan tinggkah laku agresif seperti menendang, menggigil, memukul, mencupit, mencoba untuk membuat orang tua untuk tetap tinggal dan menolak perhatian orang lain. Perilaku tersebut berlangsung berapa jam atau sampai beberapa hari, perilakunya berlanjut dan berhenti bila anak merasa kelelahan.2.2.2.2 Tahap Putus Asa ( Phase of Despair )Pada tahap ini anak tampak tegang, tangisnya berkurang, tidak aktif, dan kurang berminat untuk bermain. Pada tahap ini kondisi anak mengkhawatirkan karena anak menolak untuk makan, minum dan bergerak.2.2.2.3 Tahap Pelepasan ( phase of Daniel )Pada tahap ini secara samar - samar anak menerima perpisahan, mulai tertarik dengan apa yang ada di sekitarnya dan membina hubungan dangkal dengan orang lain. Anak mulai kelihatan bahagia, fase ini terjadi setelah perpisahan lama dengan orang tua. (Nursallam, 2005)2.2.3 Rentang Respon KecemasanRespon tentang kecemasan yaitu respon tentang sehat sakit yang dapat di pakai untuk menggambarkan repon adaptif pada ansietas.

ResponResponAdaptif Maladaptif Antisipasi ringan sedang berat panik2.2.3.1 AntisipasiCemas yang ringan, biasanya berkeringat2.2.3.2 Cemas RinganBerhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari - hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya.

a. Respon FisiologisSekali nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik, gejala ringan pada lambung, muka berkerut dan bergetar.b. Respon kognitifMampu menerima rangsangan yang kompleks, konsentrasi pada masalah, menyelesaikan masalah secara efektif.c. Respon Perilaku dan EmosiTidak dapat duduk tenang, memar halus pada tangan, suara kadang - kadang meninggi.2.2.3.3 Cemas SedangCemas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting seseorang mengalami perhatian yang selektif, namun dapat melakukan sesuatu terarah.a. Respon FisiologisSering sesak nafas pendek dan gelisahb. Respon KognitifLapang persepsi menyempit, berfokus pada apa yang menjadi perhatianc. Respon Perilaku dan emosiGerakan tersentak - sentak dan perasan tidak aman.2.2.3.4 Cemas beratMengurangi lahan persepsi seseorang dan cenderung memusatkan pada suatu yang spesifik.a. Respon fisiologisNafas pendek, penglihatan kabur dan ketegangan.b. Respon KognitifLapang persepsi sangat sempit dan tidak mampu menyelesaikan masalah.c. Respon Perilaku dan emosiPerasaan ancaman meningkat2.2.3.5 PanikBerhubungan dengan terperangah. Orang yang mengalami panik tidak mampu untuk melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan.a. Respon FisiologisNafas pendek, koordinasi motorik rendah.b. Respon KognitifLapang persepsi sangat sempit, tidak dapat berfikir logis.c. Respon Perilaku dan emosiMengamuk, marah dan persepsi kacau.2.2.4 Faktor Predisposisi dan Presipitasi2.2.4.1 Faktor PredisposisiMenurut Depkes RI ( 2000 ) teori yang dikembangkan untuk menjelaskan penyebab kecemasan adalah

a. Teori PsikoanalitikKecemasan merupakan konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian yaitu Id dan superego. Id melambangkan dorongan insting dan inpuls primitif, superego mencerminkan hati nurani seseorang dan di kendalikan oleh norma - norma budaya seseorang. Sedangkan ego atau aku di gambarkan sebagai mediator antara tuntutan dari Id dan superego. Ansietas berfungsi untuk memperingatkan ego tentang suatu bahaya yang perlu di atasi.b. Teori InterpersonalKecemasan terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal. Hal ini juga di hubungkan dengan trauma pada masa perkembangan seperti kehilangan, perpisahan menyebabkan seseorang tidak berdaya. Individu yang mempunyai harga diri rendah biasanya sangat mudah mengalami kecemasan berat.c. Teori PerilakuKecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang di inginkan.d. Kajian BiologisMenunjukkan bahwa otak mengandung reseptor spesifik untuk benzodiazepines. Reseptor ini membentuk, mengatur kecemasan.

2.2.4.2 Faktor PresipitasiMenurut Depkes RI ( 2000 ) faktor presipitasi pada gangguan ini berasal dari sumber eksternal dan internal seperti :a. Ancaman terhadap integritas fisik meliputi ketidak mampuan untuk melaksanakan kegiatan sehari - hari.b. Ancaman terhadap sistem diri, dapat membahayakan identitas harga diri dan integritas sistem sosial.2.2.5 Respon Fisiologis terhadap kecemasanTabel 2.2.5.1Respon FisiologisSistemRespon

Kardiovaskuler Palpitasi Jantung berdebar Rasa mau pingsan Tekanan darah atau denyut nadi menurun Pingsan

Saluran Pernapasan Nafas cepat Pernafasan dangkal Rasa tertekan pada dada Rasa tercikik Terengah engah

Neuromuskuler Peningkatan reflek Reaksi kejutan Mata berkedip kedip Insomnia Ketakutan Gelisah Wajah tegang Kelemahan secara umum Gerakan lambat

Gastrointestinal Kehilangan nafsu makan Menolak makanan Perasaan Rasa tidak nyaman pada abdominal Rasa terbakar pada daerah epigastrium Nausea Diare

Saluran kemih Tidak menahan buang air kecil Sulit buang air kecil ( anyang anyang )

Sistem kulit Rasa terbakar pada muka Berkeringat setempat ( telapak tangan ) Gatal - gatal Perasaan panas atau dingin Muka pucat Berkeringat seluruh tubuh

Tabel 2.2.5.2Respon KognitifSistemRespon

Kognitif Gangguan Perhatian Konsentrasi hilang Pelupa Salah tafsir Ada blocking pada pikiran Menurun lahan persepsi Kreatif, Produktif menurun Bingung Kesadaran diri yang berlebih Khawatir yang berlebih Hilang obyektivitas Takut akan kehilangan kendali Takut mengalami kecelakaan atau mati

2.2.6 Respon Emosi dan PerilakuTabel 2.2.6Respon Emosi dan PerilakuSistemRespon

Emosi Tak sabar Tegang Takut yang berlebihan Teror Gugup yang luar biasa Sangat gelisah

Perilaku Gelisah Ketegangan fisik Tremor Gugup ( suka kaget ) Bicara cepat Tidak ada koordinasi Kecendrungan untuk celaka Menarik diri Menghindar Hiperventilasi Inhibisi ( terhambat )

2.3 Konsep Anak2.3.1 Anak Usia sekolahDi negara - negara industri periode ini di mulai masuk sekolah dasar sekitar usia 6 tahun, pubertas sekitar usia 12 tahun. Sekolah atau pengalaman pendidikan memperluas dunia anak dan merupakan transisi dari kehidupan dan secara relatif bebas bermain ke kehidupan dengan bermain, belajar dan bekerja yang berstruktur. Sekolah dan rumah mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan membutuhkan penyesuaian dengan orang tua dan anak. Anak juga harus belajar menghadapi peraturan dan harapan yang di tuntut oleh sekolah dan teman sebaya. Saat ini melalui penyesuaian ini, perawat membantu meningkatkan kesehatannya ( Potter, Patricia, 2005 )2.3.2 Pertumbuhan dan Perkembangan anak usia sekolahTerdapat beberapa pandangan hidup tentang teori pertumbuhan dan perkembangan anak. Berikut ini akan di uraikan teori perkembangan, psikoseksual, psikososial dan kognitif.

2.3.2.1 Perkembangan Psikoseksual menurut ( freud ) Dalam Yupi 2004Selama periode laten, anak menggunakan energi fisik dan psikologis yang merupakan media untuk mengeksplorasi pengetahuan dan pengalaman melalui aktivitas maupun sosialnya. Pada awal fase laten, anak perempuan lebih menyukai teman dengan jenis kelamin perempuan dan anak laki - laki dengan anak laki - laki. Pertanyaan tentang seks semakin banyak mengarah pada sistem reproduksi. Dalam hal ini bijaksana dalam merespon yaitu menjawabnya dengan juur dan hangat. Luas jawaban di sesuaikan dengan maturasi anak. Sering kali karena begitu penasaran dengan seks, mungkin anak bertindak coba coba dengan teman sepermainan. Oleh karena itu, apabila anak tidak pernah bertanya tentang seks sebaiknya orang tua waspada. Peran ibu dan ayah sangat penting dalam melakukan pendejatan dengan anak. Pelajari apa yang sebenarnya sedang di pikirkan anak berkaitan dengan seks.2.3.2.2 Perkembangan Psikososial menurut (erikson) Dalam Yupi (2004)Anak akan belajar untuk bekerja sama dan bersaing dengan anak lainnya melalui kegiatan yang di lakukan baik dalam kegiatan akademik maupundalam pergaulan melalui permainan yang dilakukan bersama. Otonomi mulai berkembang pada anak di fase ini, terutama awal usia 6 tahun dengan dukungan keluarga terdekat. Terjadinya perubahan fisik, emosi, sosial pada anak berpeengaruh terhadap gambaran tubuhnya. Interaksi lebih luas dengan teman, umpan balik berupa kritik dan evaluasi dari teman atau lingkungannya. Perasaan sukses di capai anak dengan di landasi adanya motivasi internal untuk beraktivitas yang mempunyai tujuan kemampuan anak untuk berinteraksi sosial lebih luas dengan teman di lingkungannya dapat memfasilitasi perkembangan perasaan sukses tersebut.2.3.2.3 Perasaan kogintif menurut ( Piaget ) Dalam Yupi ( 2004 )Pada usia ini anak mengklasifikasi benda dan perintah dan menyelesaikan masalah secara konkret dan sistematis berdasarkan apa yang mereka terima dari lingkungan. Berfikir anak sudah rasional, imajinatif dan dapat menggali objek atau situasi lebih banyak untuk memecahkan masalah. Anak sudah dapat berpikir konsep tentang waktu dan mengingat kejadian yang lalu serta menyadari kegiatan yang di lakukan berulang - ulang, tetapi pemahamannya belum mendalam, selanjutnya akan semakin berkembang di akhir usia sekolah atau awal masa remaja.2.3.3 Komunikasi pada Anak Usia SekolahAnak usia sekolah sudah lebih mampu berkomunikasi dengan orang dewasa. Perbendaharaan kata sudah lebih banyak di kuasai dan anak mampu berfikir secara kongret. Apabila akan melakukan tindakan, perawat dapat menjelaskannya dengan mendemonstrasikan pada permainan anak. Misal : bagaimana perawat akan menyuntik di peragakan dahulu pada bonekanya ( Supartini, 2004 )

2.4 Kerangka KonseptualKerangka konsep merupakan bagian penelitian yang menyajikan konsep atau teori dalam bentuk kerangka yang mengacu pada masalah - masalah ( bagian - bagian ) yang akan di teliti atau yang berhubungan dengan penelitian dan di buat dalam bentuk diagram ( Hidayat, 2007 ). Maka kerangka konsep dari penelitian ini adalah :InputProsesOutput

faktor yang mem-pengaruhi kece-masan :Jenis kelaminUsiaPekerjaanPendidikanTingkat kecemasanRinganSedangBeratPanik

Orang tua dari anak yang di hospitalisasi

Gambar 2.4 : Kerangka Konseptual

2.5 Defenisi OperasionalNoVariabelDefenisi OperasionalCara UkurAlat ukurSkalaHasil ukur

1Faktor yang mempengaruhi kecemasanKondisi kecemasan yang dialami anak sewaktu perawatan di rumah sakit----

a. Jenis KelaminKecemasan lebih banyak terjadi pada wanita karena pada laki-laki lebih mengguna-kan logika, sedangkan perempuanmengguna-kan perasaan.

Angket KuesionerOrdinal 0 = Laki - laki1 = Perempuan

b. UsiaLamanya responden yang di hitung sejak lahir sampai waktu penelitian, yang dinyatakan dengan tahunAngket KuesionerOrdinal 21 - 30 tahun31 - 40 tahun41 - 50 tahun51 - 60 tahun 61 tahun

c. PekerjaanAktivitas yang dilakukan orang tua dalam sehari - hari, pen-caharian, dan sesuatu yang dilaku-kan untuk mendapat-kan nafkahAngket KuesionerOrdinal IRTPegawai SwataPNSWiraswasta

d. Tingkat pendidikanJenjang pendidikaan formal yang terakhir dilalui oleh respondenAngket KuesionerOrdinal SDSMPSMUD-IIISarjana

2Tingkat kecemasanPerasaan atau kondisi ketidak-stabilan psikologis, ditandai dengan gejala fisiologis dan psikologis, terjadi saat individu mengalami tekanan perasaan, frustasi, khawatir serta ketakutanAngket KuesionerHARS< 14= tidak ada kecemasan14 - 20 = kecemasan ringan21 - 27 = kecemasan sedang28 - 41 = kecemasan berat42 - 56 = panik

BAB IIIMETODE PENELITIAN3.1 Desain PenelitianDesain penelitian merupakan suatu strategi untuk mencapai tujuanpenelitian yang telah di tetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun penelitian pada seluruh proses penelitian ( Nursalam, 2005 )Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat deskriptif yang menggambarkan secara keseluruhan mengenai Gambaran Faktor Penyebab yang mempengaruhi Kecemasan Orang Tua Terhadap Efek Hospitalisasi pada Anak Usia 6 - 12 Tahun di Ruang Az - Zahra RSI IBNU SINA Payakumbuh Tahun 20143.2 Populasi, sample Penilitian dan Teknik Sampling3.2.1 PopulasiPopulasi adalah subyek yang memenuhi kriteria yang telah di tetapkan ( Nursalam, 2003 ). Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien orang tua dari anak 6 - 12 tahun yang di rawat di ruang Az-zahra RSI Ibnu Sina Payakumbuh.3.2.2 SampelSampel adalah bagian populasi terjangkau yang dapat di pergunakan sebagai subyek penelitian melalui sampling ( Nursalam, 2003 ). Sampel dari penilitian ini adalah 28 orang. Menurut Arikunto (2010), data total populasi lebih dari 100 maka dapat di ambil antara 10% - 15% atau 20% - 25% atau lebih dari total populasi yakni : 10/100 x 278 = 27,8 responden. Karena hasilnya dalam bentuk bilangan desimal, maka di bulatkan menjadi 28 responden.3.2.3 Teknik samplingPengambilan sample dalam penilitian ini di lakukan dengan total sampling yaitu teknik pengambilan sample jika jumlah populasi di jadikan sampel dalam peniltian ini ( Arikunto, 2010 )3.3 Tempat dan Waktu penelitianPenelitian dilakukan di RSI Ibnu Sina Payakumbuh. Adapun yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah orang tua pasien anak yang ada di ruang Az-zahra RSI Ibnu Sina Payakumbuh. Selain itu tempatnya juga mudah dijangkau, hemat waktu dan biaya. Selain itu sebagian besar dari orang tua merasakan cemas pada anak yang di rawat di rumah sakit. Hal ini menyebabkan karena orang tua kurang mengetahui tentang faktor yang mempengaruhi kecemasan terhadap efek hospitalisasi pada anak. Sehingga resiko angka terjadinya kecemasan pada orang tua tinggi. Penelitian ini direncanakan pada bulan Februari 2014.3.4 Metode Pengumpulan dataPengumpulan data di lakukan dengan cara membagikan kuesioner tertutup kepada responden. Data yang di peroleh terdiri dari :

a) Data PrimerData primer adalah data yang di peroleh secara langsung dari obyek penelitian oleh peneliti, sehingga di peroleh jawaban atas pertanyaan yang di sediakan ( riwidikdo, 2007 ). Data primer di peroleh melalui pengisian kuesioner oleh responden tentang tingkat kecemasan anak terhadap hospitalisasi.b) Data SekunderData sekunder di dapat tidak secara langsung dari obyek penelitian. Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang di kumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial ( Riwidikdo, 2007 ). Data sekunder di peroleh dari jumlah seluruh pasien anak di ruang Az-zahra RSI Ibnu Sina Payakumbuh.3.5 Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data3.5.1 Menurut Hidayat ( 2009 ), dalam proses pengolahan data terdapat langkah - langkah yang harus di tempuh di antaranya :3.5.1.1 EditingEditing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran pada kata yang di peroleh atau di kumpulkan3.5.1.2 CodingCoding merupakan kegiatan pemberian kode numerik ( angka ) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori.3.5.1.3 Entri DataEntri data adalah kegiatan memasukkan data yang telah di kumpulkan keadaan master computer. Kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau bisa juga dengan membuat kode kontigensi.3.5.1.4 Melakukan teknik analisisDalam melakukan analisis, khususnya terhadap data penelitian angka menggunakan ilmu statistik terapan yang di sesuaikan dengan tujuan yang hendak di analisis.3.5.2 Analisis dataAnalisa data dikumpulkan secara deskriptif dengan melihat persentase yang telah dikumpulkan dan disajikan dalam bentuk total analisa data dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian dengan menggunakan teori kepustakaan yang ada.Rumus :Keterangan :P= PresentaseF= jumlah jawaban yang benarN= Jumlah Soal100%= Bilangan ketetapanAtau :

Pengetahuan: baik: 76 - 100% Cukup: 56 - 75% Kurang baik: 40 - 55% Kurang: < 40 %3.6 Etika PenelitianMenurut Hidayat ( 2009 ) etika penilitian atau pengumpulan data dalam penilitian ini meliputi :a) Informed consentPemberian informes consent ini bertujuan agar responden mengerti maksud dan tujuan penelitian dan mengetahui dampaknya. Jika responden bersedia, maka harus menandatangani lembar perstujuan dan jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati keputusan tersebut.b) Anonymity ( tanpa nama )Bentuk penulisan kuesioner dengan tidak perlu mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data, hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data.c) ConfidentialytiKerahasiaan informasi yang telah di kumpulkan di jamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu akan di laporkan dalam hasil penelitian.

BAB IVHASIL PEMBAHASANBab ini akan menguraikan data hasil penelitian berdasarkan karakteristik responden dan tibgkat kecemasan orang tua. Dengan analisis univariat, peneliti bermaksud melihat gambaran distribusi masing - masing variabel yang di teliti. Variabel yang di analisis adalah demografi responden ( umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan dan hubungan dengan klien ) serta tingkat kecemasan.4.1 Hasil Penelitian4.1.1 Karakteristik RespondenKarakteristik responden terdiri dari umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan, hubungan dengan klien dan tingkat kecemasan.4.1.1.1 Gambaran responden berdasarkan umurTabel 4.1Distribusi Frekuensi Umur RespondenDi Ruang Az-Zahra RSI Ibnu Sina Payakumbuh Tahun 2014( n = 28 )UmurTingkat Kecemasan

Tidak AdaGejalaCemasRinganCemasSedangCemasBeratCemasBeratSekali

n%N%N%n%n%

20 - 30 tahun517,827,127,1-0-0

31 - 40 tahun414,3310,7414,3-0-0

41 - 50 tahun-0-0725-0-0

51 - 60 tahun-013,6-0-0-0

60 tahun-0-0-0-0-0

BerdasarkanTabel 4.1 diketahui bahwa dari 28 responden, mayoritas umur responden adalah antara umur 31 - 40 tahun sebanyak 11 orang ( 39,3 % ) dan minoritas umur di atas > 60 tahun sebanyak 0 orang ( 0 % )4.1.1.2 Gambaran responden berdasarkan jenis kelaminTabel 4.2Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin RespondenDi Ruang Az-Zahra RSI Ibnu Sina Payakumbuh Tahun 2014( n = 28 )JenisKelaminTingkat Kecemasan

Tidak ada gejalaCemas RinganCemas SedangCemas BeratCemas Berat Sekali

N%N%N%n%N%

Laki Laki13,627,1310,7-0-0

Perempuan828,6310,71139,2-0-0

BerdasarkanTabel 4.2 diketahui bahwa dari 28 responden, mayoritas jenis kelamin responden adalah perempuan sebanyak 22 orang ( 78,6 % ) dan minoritas jenis kelamin responden adalah laki - laki sebanyak 6 orang ( 21,4 % )4.1.1.3 Gambaran responden berdasarkan pendidikanTabel 4.3Distribusi Frekuensi Pendidikan RespondenDi Ruang Az-Zahra RSI Ibnu Sina Payakumbuh Tahun 2014( n = 28 )PendidikanTingkat Kecemasan

Tidak AdaGejalaCemasRinganCemasSedangCemasBeratCemasBeratSekali

N%N%N%n%N%

SD-0-027,1-0-0

SMP-013,627,1-0-0

SMU27,1310,7517,8-0-0

D-III414,3-0414,3-0-0

PT310,713,613,6-0-0

BerdasarkanTabel 4.3 diketahui bahwa dari 28 responden, mayoritas pendidikan responden adalah SMU sebanyak 10 orang ( 35,7 % ) dan minoritas pendidikan responden adalah SD sebanyak 2 orang ( 7,1 % )4.1.1.4 Gambaran responden berdasarkan pekerjaanTabel 4.4Distribusi Frekuensi Pekerjaan RespondenDi Ruang Az-Zahra RSI Ibnu Sina Payakumbuh Tahun 2014( n = 28 )PekerjaanTingkat Kecemasan

Tidak AdaGejalaCemasRinganCemasSedangCemasBeratCemasBeratSekali

N%N%N%n%N%

IRT13,627,1517,8-0-0

Pegawai Swasta310,713,6414,3-0-0

Wiraswasta13,627,1310,7-0-0

PNS310,7-027,1-0-0

Pensiunan-0-0-0-0-0

Lain lain13,6-0-0-0-0

BerdasarkanTabel 4.4 diketahui bahwa dari 28 responden, mayoritas pekerjaan responden adalah IRT dan Pegawai Swasta sebanyak 8 orang ( 28,6 % ) dan minoritas pekerjaan responden adalah pensiunan sebanyak 0 orang ( 0 % )

4.2 PembahasanDari hasil penelitian Gambaran Faktor Penyebab yang mempengaruhi Kecemasan Orang Tua Terhadap Hospitalisasi pada Anak Usia 6 - 12 Tahun di Ruang Az - Zahra RSI Ibnu Sina Payakumbuh Tahun 2014, pembahasannya adalah :4.2.1 Gambaran Kecemasan Orang Tua berdasarkan Karakteristik Responden Berdasarkan UmurBerdasarkan hasil penelitian yang di lakukan di RSI Ibnu Sina Payakumbuh, responden dengan usia 20 - 30 tahun sebanyak 9 responden ( 32,1 % ), umur 31 - 40 tahun sebanyak 11 responden ( 39,3 % ), umur 41 - 50 tahun sebanyak 7 responden ( 25 % ), umur 51 - 60 tahun sebanyak 1 responden ( 3,6 % ) dan umur > 60 tahun sebanyak 0 responden ( 0 % )Umur adalah masa hidup responden yang di nyatakandalam satuan tahun dan sesuai dengan pernyataan responden. Umur atau usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan benda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. Jenis perhitungan usia dibagi menjadi 3, yaitu usia kronologis merupakan perhitungan usia dari saat kelahiran seseorang sampai dengan waktu usia. Usia mental adalah perhitungan usia yang didapatkan dari taraf kemampuan mental seseorang. Dan usia biologis adalah perhitungan usia berdasarkan kematangan biologis yang di miliki seseorang.Penelitian ini sesuai dengan teori dari Notoatmodjo ( 2003 ), yang menyatakan bahwa semakin tua seseorang, maka semakin banyak pengalamannya sehingga pengetahuannya semakin bertambah. Pengetahuan yang semakin banyak dimiliki seseorang maka akan lebih siap dalam menghadapi suatu permasalahan.

4.2.2 Gambaran Kecemasan Orang Tua berdasarkan Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis KelaminBerdasarkan hasil penelitian yang di lakukan di RSI Ibnu Sina Payakumbuh, 22 responden ( 78,6 % ) berjenis kelamin perempuan, sedangkan 6 responden ( 21,4 % ) berjenis kelamin laki - laki.Jenis kelamin merupakan identitas responden yang dapat di gunakan untuk membedakan pasien laki laki atau perempuan. ( Utama, 2003 ). Jenis kelamin adalah kata yang umumnya di gunakan untk membedakan seks seseorang ( laki - laki atau perempuan ). Dalam ilmu pengetahuan sosial, terdapat perbedaan antara seks dan jenis kelamin. Kata seks mendeskripsikan tubuh seseorang. Dapat di katakan seseorang secara fisik laki - laki atau perempuan. Kata jenis kelamin mendeskripsikan sifat atau karakter seseorang. Dapat di katakan seseorang yang merasa atau melakukan sesuatu bersifat seperti laki laki ( maskulin ) atau wanita ( feminim ).Menurut teori, wanita lebih banyak cemas daripada laki - laki. Krasucki (1998) menyebutkan bahwa perempuan lebih mudah cemas dibandingkan laki-laki. Pada laki-laki lebih menggunakan logika, sedangkan perempuan menggunakan perasaan.

4.2.3 Gambaran Kecemasan Orang Tua berdasarkan Karakteristik Responden Berdasarkan PendidikanBerdasarkan hasil penelitian yang di lakukan di RSI Ibnu Sina Payakumbuh, responden dengan pendidikan SD sebanyak 2 responden ( 7,1 % ), SMP sebanyak 3 responden ( 10,7 % ), SMU sebanyak 10 responden ( 35,7 % ), D-III sebanyak 8 responden ( 28,6 % ) dan PT sebanyak 5 responden ( 17,9 % ).Dari hasil penelitian di ketahui tingkat pendidikan orang tua terbanyak di jenjang SMU ( 35,7 % ). Responden tersebut mengalami tingkat kecemasan tidak ada gejala 7,1 %, ringan 10,7 % dan sedang 17,8 %. Sedangkan responden yang berpendidikan tinggi mengalami tingkat kecemasan tidak ada gejala 10,7 %, ringan 3,6 % dan sedang 3,6 %. Dengan demikian, responden yang berpendidikan tinggi memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah di bandingkan dengan yang berpendidikan menengah. Hasil penilitian ini bereda dengan teori Gass dan Curiel (2011) menjelaskan bahwa tingkat pendidikan berhubungan dengan tingkat kecemasan. Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi pula tingkat kecemasan.

4.2.4 Gambaran Kecemasan Orang Tua berdasarkan Karakteristik Responden Berdasarkan PekerjaanBerdasarkan hasil penelitian yang di lakukan di RSI Ibnu Sina Payakumbuh, responden dengan pekerjaan IRT dan Pegawai Swasta sebanyak 8 responden ( 28,6 % ), Wiraswasta sebanyak 6 responden ( 21,4 % ), PNS sebanyak 5 responden ( 17,8 % ), Pensiunan sebanyak 0 responden ( 0 % ) dan lain - lain sebanyak 1 responden ( 3,6 % ).Menurut Laraia ( 2005 ) mengatakan bahwa pekerjaan berkaitan dengan status ekonomi yang di miliki akan berpengaruh hingga menimbulkan terjadinya stres dan lebih lanjut dapata mencetuskan kecemasan pada kehidupan individu. Menurut penelitian ini di ketahui sebagian besar responden bekerja sebagai IRT dan Pegawai Swasta yang masing - masing persentasenya 28,6 %. Pada Pegawai Swasta 3,6 %, sedangkan IRT dan Wiraswasta, tingkat kecemasan ringan sebanyak 7,1 %.

4.3 Keterbatasan PenelitianPeneliti menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna dan memiliki keurangan dan keterbatasan. Waktu penelitian ini berlangsung cukup singkat sehingga hasil yang di sajikan belum optimal. Kemampuan peneliti dalam memahami referensi dan literatur terutama yang berbahasa asing masih sangat kurang. Keterbatasan yang ada di harapkan tidak mengurangi tujuan dan manfaat penelitian. Adapn keterbatasan - keterbasatan lain, di antaranya :4.3.1 Desain PenelitianPengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode yang bersifat deskriptif sehingga di dasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang di buat oleh peneliti sendiri, di ketahui ciri dan sifat populasi. Karakteristik responden berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi serta rata - rata jumlah pasien dalam 3 bulan.4.3.2 Instrumen PenelitianInstrumen penelitian ini berupa kuesioner saja yang di buat berdasarkan konsep teori yang sudah ada. Penelitian ini tidak di lakukan dengan mengukur kesamaan persepsi antar para responden tetapi hanya di lakukan penjelasan tentang instrumen dan cara pengambilan data kepada para responden sebelum penelitian di lakukan.4.3.3 Proses Pengambilan DataPada saat proses pengambilan data, peneliti menyesuaikan jam besuk orang tua dengan waktu yang peneliti miliki. Selain itu, orang tua sebagai responden penelitian mengalami kesulitan terutama dalam pengisian jawaban di kuesioner. Sehingga peneliti memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat menyelesaikan proses pengumpulan data.

BAB VPENUTUP5.1 KesimpulanDari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 28 orang responden yang melihat Faktor Penyebab dengan Tingkat Kecemasan Orang Tua yang Anaknya Dirawat Diruang Rawat Inap Az-Zahra RSI Ibnu Sina Payakumbuh dapat disimpulkan sebagai berikut:a. Kecemasan responden mencapai setengah dari jumlah responden berada pada kecemasan tingkat sedang dengan persentase 50 %.b. Kecemasan responden yang berada pada tingkat kecemasan sedang berada pada kisaran umur 41 - 50 tahun dengan persentase 25 %.c. Kecemasan responden yang berada pada tingkat kecemasan sedang berada pada jenis kelamin perempuan dengan persentase 39,2 %d. Kecemasan responden yang berada pada tingkat kecemasan sedang berada pada tingkat pendidikan SMU dengan persentase 17,8 %.e. Kecemasan responden yang berada pada tingkat kecemasan sedang berada pada pekerjaan pegawai swasta dengan persentase 14,3 %

5.2 Saran1. Bagi rumah sakitBerdasarkan hasil penelitian ini, rumah sakit diharapkan memberikan perhatian, rasa nyaman, sikap yang ramah, serta mencoba mengerti perasaan ( feel ) orang tua terkait hospitalisasi anaknya, dengan memperhatikan faktor - faktor penyebab kecemasan meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan dan hubungan dengan klien, guna pengembangan asuhan keperawatan selanjutnya.2. Bagi keperawatanPerlunya diperhatikan tentang perlakuan caring oleh para perawat ketika memberikan asuhan keperawatan, khususnya bagi keluarga yang mempunyai anak dirawat di rumah sakit (hospitalisasi).3. Bagi peneliti berikutnyaPerlunya dikaji faktor yang paling dominan mempengaruhi tingkat kecemasan orang tua terkait hospitalisasi anak, agar dapat meminimalkan kecemasan yang berlebihan, dan sebagai kegiatan dasar promosi kesehatan.42