of 14/14
2 TINJAUAN PUSTAKA Konsep Pertanian Presisi Pertanian presisi merupakan sebuah konsep manajemen yang mengumpulkan data dari berbagai sumber untuk menghasilkan sebuah keputusan yang berkenaan dengan produksi pertanian (Shields, 1998). Menurut Brase (2005), pertanian presisi (precision agriculture) juga disebut sebagai pertanian spesifik lokasi yang bertujuan mengumpulkan data untuk pengambilan keputusan mengenai produksi pertanian yang sesuai dengan lokasi tertentu. Secara umum, pertanian presisi didefinisikan sebagai sistem menejemen produksi pertanian yang berbasis teknologi informasi untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola faktor-faktor produksi untuk mengoptimumkan keuntungan, daya tahan, dan perlindungan sumber daya lahan (Singh, 2007). Menurut Chartuni (2007) ada tiga tahapan dalam penerapan pertanian spesifik, yaitu: pengumpulan data, intrepretasi data, dan aplikasi di lapangan. Gambar 1 menunjukkan tahapan penerapan pertanian spesifik. Gambar 1 Tahapan pertanian presisi (Chartuni, 2007) Pengumpulan data dilakukan untuk mengetahui kondisi komponen-komponen pendukung produksi, seperti topografi, hara tanah, dan kondisi lingkungan. Data-data tersebut kemudian diolah dan diinterpretasikan sebagai hasil (keputusan) mengenai teknis produksi dilapangan. Selanjutnya, aplikasi dari keputusan tersebut dilaksanakan sebagai pekerjaan produksi di lapangan. Penerapan konsep pertanian presisi memberi warna baru dalam usaha produksi pertanian di seluruh dunia.

2 TINJAUAN PUSTAKA · 5 2 TINJAUAN PUSTAKA Konsep Pertanian Presisi Pertanian presisi merupakan sebuah konsep manajemen yang mengumpulkan data dari berbagai sumber untuk

  • View
    264

  • Download
    4

Embed Size (px)

Text of 2 TINJAUAN PUSTAKA · 5 2 TINJAUAN PUSTAKA Konsep Pertanian Presisi Pertanian presisi merupakan...

5

2 TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Pertanian Presisi

Pertanian presisi merupakan sebuah konsep manajemen yang mengumpulkan

data dari berbagai sumber untuk menghasilkan sebuah keputusan yang berkenaan

dengan produksi pertanian (Shields, 1998). Menurut Brase (2005), pertanian presisi

(precision agriculture) juga disebut sebagai pertanian spesifik lokasi yang bertujuan

mengumpulkan data untuk pengambilan keputusan mengenai produksi pertanian yang

sesuai dengan lokasi tertentu. Secara umum, pertanian presisi didefinisikan sebagai

sistem menejemen produksi pertanian yang berbasis teknologi informasi untuk

mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola faktor-faktor produksi untuk

mengoptimumkan keuntungan, daya tahan, dan perlindungan sumber daya lahan (Singh,

2007). Menurut Chartuni (2007) ada tiga tahapan dalam penerapan pertanian spesifik,

yaitu: pengumpulan data, intrepretasi data, dan aplikasi di lapangan. Gambar 1

menunjukkan tahapan penerapan pertanian spesifik.

Gambar 1 Tahapan pertanian presisi (Chartuni, 2007)

Pengumpulan data dilakukan untuk mengetahui kondisi komponen-komponen

pendukung produksi, seperti topografi, hara tanah, dan kondisi lingkungan. Data-data

tersebut kemudian diolah dan diinterpretasikan sebagai hasil (keputusan) mengenai

teknis produksi dilapangan. Selanjutnya, aplikasi dari keputusan tersebut dilaksanakan

sebagai pekerjaan produksi di lapangan. Penerapan konsep pertanian presisi memberi

warna baru dalam usaha produksi pertanian di seluruh dunia.

6

Sejak diaplikasikannya GPS (Global Positioning System) lima belas tahun lalu,

konsep pertanian presisi mulai bermunculan di banyak negara. Penggunaan GPS dalam

pertanian banyak dimanfaatkan untuk: aplikasi pestisida, aplikasi kapur, aplikasi pupuk,

dan untuk pemantauan proses panen pada lahan yang sangat luas (Grisso, 2009).

Penggunaan sistem navigasi berbasis GPS membantu operator mengurangi kesalahan

aplikasi dan tumpang tindih dalam pekerjaan lahan yang sebelumnya sangat bergantung

pada akurasi visual.

Selain untuk mengurangi kesalahan faktor manusia dalam pekerjaan,

keuntungan penerapan pertanian presisi dapat dilihat dari dua aspek lainnya, yaitu:

aspek ekonomi dan lingkungan. Keuntungan ekonomi dapat diperoleh karena konsep

pertanian presisi memberi hasil keluaran (keputusan) yang meminimalkan biaya operasi

dan meningkatkan pendapatan. Sementara itu, keuntungan dari sisi lingkungan dapat

diperoleh karena konsep pertanian presisi memiliki kemampuan untuk mengelola

keputusan dalam mengurangi dampak pada sumber daya alam (Brase, 2005). Beberapa

komponen teknologi yang menjadi syarat diterapkannya konsep pertanian presisi antara

lain: Geographical Information Systems (GIS), Global Positioning Systems (GPS),

sensors, Variable Rate Technology (VRT), dan Yield Monitoring (YM) (Rains dan

Thomas, 2009).

Global Positioning System (GPS)

Posisi dari sebuah titik di sebuah ruang dapat diketahui jika dilakukan

pengukuran jarak dari titik tersebut terhadap titik lain yang telah diketahui posisinya

(Bao, 2005). Global Positioning System (GPS) adalah salah satu teknologi kunci yang

memungkinkan penentuan posisi sebuah titik pada pola keruangan. GPS terdiri atas

konstelasi 24 satelit pada ketinggian orbit di atas bumi yang menempati 6 orbit yang

mengelilingi bumi. Satelit ini secara terus menerus mentransmisikan sinyal radio yang

diambil dan diuraikan dengan penerima khusus (Rains dan Thomas 2009). Penentuan

lokasi titik dilakukan menggunakan persamaan (1), (2), dan (3) (Bao, 2005):

(1)

(2)

(3)

7

Karena terdapat tiga parameter yang tidak diketahui dan tiga persamaan

penyelesaian, maka ketiga parameter tersebut seharusnya dapat dicari solusinya. Secara

teoritis, seharusnya terdapat dua solusi pada tiap persamaan karena bentuk persamaan

yang ada adalah persamaan kuadrat ordo kedua. Menggunakan linearisasi dan

pendekatan iterasi, maka ketiga parameter yang tidak diketahui dapat dicari solusinya.

Ilustrasi perhitungan dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Ilustrasi penentuan lokasi menggunakan GPS (Bao, 2005)

Pembacaan GPS memberikan informasi posisi dalam pasangan latitude-longitude,

tetapi ditransformasikan menjadi koordinat x,y untuk penggunaan dalam sistem

koordinat lapangan. Srivastava et al. (2006) menyatakan bahwa Transformasi

mengasumsikan bumi sebagai elips dengan properti yang diberikan oleh J.P Snyder

pada tahun 1978 dalam Srivastava et al (2006) dan memanfaatkan persamaan (4) dan

(5):

[ ] (4)

( )

[ ] (5)

(6)

Di mana : Lat = latitude (radian)

Lon = longitude (radian)

dLat = diferensial dari latitude

Satelit 1 Satelit 3

Satelit 2

Titik yang diukur

8

dLon = diferensial dari longitude

dx = diferensial dari dimensi x (timur-barat)

dy = diferensial dari dimensi y (utara-selatan)

a = jari-jari equator (6.378.135 m)

b = jari-jari polar (6.356.750 m)

Persamaan (4) dan (5) harus diintegralkan untuk memperoleh koordinat bidang. Jika dua

titik di lapangan cukup dekat (biasanya dalam perubahan 1 menit dalam longitude atau

latitude), hasil integrasi berikut mendekati bentuk persamaan (7) dan (8) dengan

beberapa variabel yang dijelaskan oleh persamaan (9) dan (10) :

(7)

(8)

Di mana : x x0 = perpindahan dalam arah timur-barat (m)

y y0 = perpindahan dalam arah utara selatan (m)

x0 = posisi referensi x

y0 = posisi referensi y

Lon0 = posisi referensi longitude

Lat0 = posisi referensi latitude

[ ] (9)

( )

[ ] (10)

Akurasi GPS dalam menentukan posisi dipengaruhi oleh cuaca dan aktivitas

penerima. Menurut Ehsani (2003) akurasi GPS biasa yang bekerja pada aktivitas

dinamis akan menurun dibandingkan jika dioperasikan pada aktivitas statis. Untuk

meningkatkan akurasi penentuan lokasi, maka digunakan metode Real Time Kinematic

(RTK) dimana pada metode tersebut dua receiver GPS melakukan tracking pada satelit

yang sama sehingga akurasi pengukuran dapat meningkat hingga 2-5 cm (El-Rabbany,

2002). Selain itu, dikenal juga metode penentuan Real Time Differensial GPS yang

menggunakan receiver base dengan posisi statis dan dapat memberi koreksi jarak pada

rover melalui format Radio Technical Commission for Maritime Service (RTCM)

sehingga posisi rover dilapangan dapat menjadi lebih akurat. Ilustrasi penggunaan

DGPS diperlihatkan pada Gambar 3.

9

Gambar 3 Penggunaan DGPS (El-Rabbany, 2002)

Kemampuan DGPS untuk memberikan data posisi hingga akurasi sentimeter

telah membuat sebuah revolusi pada teknis pertanian. Beberapa contoh penerapan

DGPS untuk kegiatan pertanian antara lain: pengambilan data sampel tanah berdasarkan

posisi sampling dapat mempermudah pembuatan peta kesuburan tanah, jika DGPS

diintegrasikan dengan sistem pemandu udara maka proses penyemprotan menggunakan

pesawat udara (baik untuk pupuk ataupun pestisida) dapat lebih akurat dan memiliki

dosis variabel sesuai data kesuburan tanah atau kondisi tanaman yang telah ada

(Gambar 3). Selain itu, kegunaan DGPS dalam proses panen sangat membantu petani

skala besar untuk membuat panduan bagi mesin panen agar bekerja pada posisi lahan

yang telah siap dipanen (El-Rabbany, 2002).

Gambar 4 Penggunaan DGPS untuk penyemprotan (El-Rabbany, 2002)

10

Geographic Information System (GIS)

Sistem Informasi Geografi (GIS dalam bahasa Inggris) merupakan suatu sistem

yang terdiri dari komponen perangkat keras, perangkat lunak, data geografis, dan

sumber daya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk memasukkan,

menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi,

mengintegrasikan, menganalisa, dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis

geografis (Tim Teknis Nasional, 2007). GIS sudah banyak diterapkan dalam kehidupan

sehari-hari tanpa kita sadari. Selain itu, GIS sudah banyak diterapkan untuk bidang

pertanian, militer, kependudukan, pariwisata, dan bidang-bidang lainnya (Sutton, 2009).

Saat ini telah banyak software aplikasi untuk pembuatan GIS, di antaranya Arc

View, Quantum GIS, Map Info, Arc Info, dan sebagainya. Hasil keluaran pengolahan

data raster pada software aplikasi merupakan sebuah peta digital yang memiliki

berbagai informasi, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 5. Kedua gambar tersebut

merupakan pemetaan satu daerah yang sama, namun setelah diolah menggunakan

aplikasi GIS dapat diperoleh dua informasi yang berbeda yaitu: peta topografi dan peta

pariwisata.

Gambar 5 Hasil pengolahan GIS

Manfaat yang diperoleh dari hasil olahan peta pada Gambar 5 sangat banyak,

salah satu contohnya untuk rencana pembangunan infrastruktur dalam rangka

pemanfaatkan potensi obyek wisata. Dalam bidang pertanian GIS sudah banyak

digunakan untuk peta kesuburan lahan, peta aplikasi pupuk, dan peta aplikasi pestisida.

Solahudin (2010) menggunakan pengolahan citra digital untuk memetakan posisi dan

jumlah gulma pada lahan kedelai untuk aplikasi herbisida seperti pada Gambar 6.

11

Gambar 6 Pemetaan gulma pada lahan kedelai (Solahudin, 2006)

Peta gulma yang terbentuk dapat memberi informasi untuk referensi dosis

herbisida yang harus diterapkan menggunakan Variable Rate Applicator. Sementara itu,

Astika (2010) membuat peta kebutuhan unsur hara tanaman padi sawah menggunakan

pengolahan citra digital berdasarkan Bagan Warna Daun (BWD). Warna hijau tanaman

padi dibandingkan dengan warna hijau pada BWD sehingga dapat diketahui kebutuhan

unsur hara N, P, dan K. data-data tersebut kemudian disusun menjadi peta dosis

pemupukan (Gambar 7) yang dibutuhkan sebagai referensi bagi aplikasi mesin pemupuk

berbasis VRT.

Gambar 7 Peta kondisi tanaman padi berdasarkan BWD (Astika, 2010)

2 2 1 1

3 3 2 1

3 3 1 3

2 2 1 3

3 1 3 5

4 2 4 3

2 1 5 5

2 3 5 5

12

Variable Rate Applicator (VRA)

VRA merupakan sebuah sistem terintegrasi yang dapat mengeluarkan output

sesuai dengan kebutuhan objek. Di dalam bidang pertanian teknologi VRA banyak

digunakan untuk aplikasi pupuk maupun herbisida atau pestisida. Penelitian yang

dilakukan oleh Mohammadzamani (2009) menyimpulkan bahwa penggunaan VRA

pada aplikasi herbisida dapat mengurangi penggunaan herbisida 13% dibanding metode

URT. Penggunaan metode pertanian presisi dalam aplikasi VRA dapat dilakukan

dengan dua cara, yaitu: map-based dan sensor-based (Setiawan, 2001). Map-based

VRA merupakan metode penggunaan VRA yang didasari oleh kebutuhan pemupukan

lahan dalam sebuah peta pemupukan. Metode ini membutuhkan teknologi GPS untuk

mengetahui posisi VRA sehingga dosis yang dikeluarkan akan sesuai dengan kebutuhan

hara tanah pada lokasi tersebut. Sementara itu, metode sensor-based lebih

mengedepankan penggunaan sensor hara tanah yang dapat menduga kebutuhan pupuk

oleh tanah secara real time sehingga pada metode kedua teknologi GPS tidak lagi

diperlukan.

Pada tahun 2010, Azis melakukan penelitian mengenai kontrol kecepatan

metering device pada mesin pemupuk dosis variabel (Gambar 8).

Gambar 8 Uji kontrol dosis pupuk (Azis, 2010)

Hasil penelitian tersebut menginformasikan bahwa perubahan laju putaran

metering device dapat proporsional dengan jumlah pupuk yang dikeluarkan sehingga

pengaturan dosis pupuk dapat dilakukan. Lebih jauh lagi, penelitian lanjutan untuk

13

pengembangan mesin pemupuk laju variabel telah dilakukan oleh Sapsal (2011). Unit

pemupuk yang dibuat oleh Azis dikembangkan menjadi 4 unit yang bekerja secara seri

dan disambungkan dengan traktor penanam bibit padi sawah (Transplanter) sehingga

dapat diaplikasikan pada lahan sawah (Gambar 9).

Gambar 9 Mesin pemupuk dosis variabel (Setiawan, 2010)

Peranan Unsur N, P, dan K dalam Pertumbuhan Tanaman Padi

Tanaman padi memiliki tiga tahapan pertumbuhan, yaitu: fase vegetatif, fase

reproduktif, dan fase pemasakan (Suratno, 1997). Ketiga fase tersebut sangat

mempengaruhi jumlah pupuk yang harus diaplikasikan agar diperoleh hasil panen yang

maksimal. Tiga unsur hara yang sangat mempengaruhi pertumbuhan padi antara lain:

Nitrogen (N), Phospor (P), dan Kalium (K).

Unsur hara N berperan penting pada fase pertama pertumbuhan tanaman padi.

Fase pertama atau vegetatif, meliputi pertumbuhan tanaman dari mulai berkecambah

sampai dengan inisiasi primordia malai (hari ke-0 hingga 60 setelah berkecambah). Fase

ini merupakan tahapan yang menyebabkan perbedaan umur panen karena lama fase-fase

reproduktif dan pemasakan tidak dipengaruhi oleh varietas maupun lingkungan. Selama

fase vegetatif, jumlah anakan bertambah dengan cepat, tanaman bertambah tinggi, dan

daun tumbuh secara regular. Pada fase vegetatif sangat dibutuhkan hara Nitrogen agar

tanaman dapat tumbuh dengan baik (Suratno, 1997). Namun, menurut Sugiyanta (2007)

efisiensi pemupukan N tidak akan meningkat setelah aplikasi dosis pemupukan N

mencapai 60 kg N/ha. Pada dosis tersebut diperoleh efisiensi pemupukan sebesar 34 kg

1. Antena GPS

2. Modul Kontrol

3. Variable Rate Granular

Fertilizer Applicator

4. Traktor Penanam Padi

5. Sensor Putaran Roda

Penggerak

2

1

4

3

5

14

gabah/kg N dengan hasil gabah mencapai 6.73 ton/ha tetapi hasil gabah tidak meningkat

walaupun dosis N dinaikkan hingga 180 kg N/ha (Tedjasarwana dan Permadi (1991)

dalam Sugiyanta (2007)). Menurut Witt et al (1999) dalam Sugiyanta (2007) efisiensi

hara N pada padi sawah berkisar 23-100 kg gabah/kg N. Sehingga dapat disimpulkan

bahwa peningkatan aplikasi pupuk N pada tanaman padi tidak serta merta meningkatkan

hasil produksi padi, namun ada titik optimal yang harus dicapai untuk memperoleh hasil

yang maksimal.

Unsur hara selanjutnya, yaitu P berperan dalam proses fotosintesis, glikolisis,

metabolism asam amino, dan menyimpan serta memindahkan energi yang

mengintegrasikan membran. Fase selanjutnya, reproduktif, ditandai dengan

memanjangnya beberapa ruas teratas pada batang bersamaan dengan inisiasi primordia

malai. Pada fase ini kebutuhan hara P sangat besar sehingga kekurangan jenis unsur

hara ini sebaiknya dapat dicegah agar pertumbuhan produksi padi tidak terganggu

(Mario, 2008).

Unsur hara ketiga (K) berfungsi sebagai osmoregulan, aktivasi enzim, pengatur

pH di tingkat selular, keseimbangan kation-anion tingkat sel, pengaturan transpirasi

melalui pengaturan bukaan stomata, dan transportasi asimilat (Sugiyanta, 2007). Selain

itu, unsur K juga berperan dalam memperkuat dinding sel tanaman dan terlibat dalam

lignifikasi jaringan sklerenkim yang dihubungkan dengan ketahanan tanaman terhadap

penyakit. Unsur K dapat diperoleh dari air irigasi sungai dan pengembalian jerami ke

lahan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pemupukan K dengan dosis 100 kg KCl

dapat meningkatkan hasil dari 3.84 ton gabah/ha menjadi 5.12 ton gabah/ha. Di samping

itu, aplikasi jerami padi sebanyak 5 ton/ha memberikan hasil yang tidak berbeda nyata

dengan pemupukan 100 kg KCl. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengembalian

jerami ke lahan dapat mensubstitusi penggunaan pupuk Kalium (Syam dan Hermanto

(1995) dalam Sugiyanta (2007)).

Rekomendasi Takaran Pupuk

Aplikasi pupuk pada budidaya padi sawah harus diperhitungkan agar diperoleh

respon pertumbuhan tanaman yang baik. Menurut Mario (2008) terdapat beberapa cara

untuk menentukan dosis rekomendasi bagi kebutuhan unsur hara tanaman (Nitrogen,

Fosfat, dan Kalium). Unsur Nitrogen yang dibutuhkan tanaman dapat diukur

15

menggunakan Bagan Warna Daun (BWD) dengan membandingkan warna skala pada

BWD dengan warna aktual daun yang sedang diamati. Secara umum, rekomendasi

pemupukan N yang telah dikeluarkan oleh Deptan dalam kartu BWD (Tabel 1) dapat

menjadi acuan dalam aplikasi pemupukan. Namun terdapat juga satu pola yang menjadi

ketetapan seperti pada contoh, apabila pada suatu daerah tanaman padi di suatu lokasi

menghasilkan gabah sebanyak 3 t/ha tanpa pemupukan N, sedangkan target hasil adalah

6 t/ha, maka tambahan pupuk urea yang diperlukan adalah sekitar 325 kg tanpa

penggunaan bagan warna daun (BWD) dan 250 kg dengan BWD (Deptan, 2007).

Tabel 1. Rekomendasi Pemberian Pupuk N

Nilai warna daun dengan BWD

Tingkat hasil (GKG)

5 t/ha 6 t/ha 7 t/ha 8 t/ha

Takaran urea (kg/ha)

2 3 75 100 125 150

Antara 3 dan 4 50 75 100 125

4 5 0 0 atau 50 50 50

Sementara itu, rekomendasi takaran unsur P pada pemupukan dapat dilakukan

menggunakan analisis tanah metode HCl 25%. Hasil analisis tanah akan

mengkategorikan kondisi tanah kedalam status P rendah, sedang atau tinggi, selanjutnya

jumlah pupuk P yang harus diaplikasikan disesuaikan dengan kriteria status P seperti

pada Tabel 2 (Mario, 2008).

Tabel 2. Rekomendasi Pemberian Pupuk P

Status Hara

P Tanah

Kadar P2O5 (ekstrak HCl 25%)

(mg/100g tanah)

Takaran P++

(kg SP36/ha/musim)

Rendah < 20 100

Sedang 40 75

Tinggi >40 50* *) dapat diberikan satu kali dua musim tanam

Berbeda dengan unsur N dan P, penambahan unsur K akan menghasilkan respon

yang baik jika diaplikasikan pada tanah dengan kadar K rendah. Sementara aplikasi

16

pada tanah dengan kandungan K sedang dan tinggi tidak memberikan respon yang

besar. Takaran pupuk K pada tanah ditetapkan berdasarkan analisis tanah dengan

metode HCl 25%. Atas dasar hasil analisis, status K tanah dapat dipilah dalam kriteria

rendah, sedang, dan tinggi. Tabel 3 menunjukkan rekomendasi takaran pupuk K

berdasarkan status K tanah (Mario, 2008).

Tabel 3. Rekomendasi Pemberian Pupuk K

Status Hara

K Tanah

Kadar K2O (ekstrak HCl 25%)

(mg/100g tanah)

Takaran K++

(kg KCl/ha/musim)

Rendah < 10 100

Sedang 10 20 50

Tinggi >20 50

Teknis Pemupukan Padi Sawah

Pemupukan padi sawah memiliki beberapa istilah seperti: pemupukan

berimbang, pemupukan spesifik lokasi, dan pengelolaan hara spesifik lokasi. Secara

sederhana dapat dikatakan bahwa pemupukan berimbang mengacu kepada

keseimbangan antara unsur hara yang dibutuhkan tanaman padi berdasarkan sasaran

hasil yang ingin dicapai dengan ketersediaan hara dalam tanah (Buresh, 2006).

Sementara itu, penerapan pemupukan berimbang belum dapat direalisasikan di

masyarakat karena penggunaan metode URT yang masih mendominasi dan didukung

oleh ketersediaan peralatan yang cukup banyak bagi pelaksanaan metode URT.

Menurut Buresh (2006), tahapan dosis pemupukan didasari oleh umur tanam

sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Tahapan Dosis Pemupukan

Pertumbuhan Awal Anakan

Aktif Primordia Matang

Gambar

Umur,

(HST) 0 14 21 28 35 50 -

Nitrogen

Takaran sedang

(50-100 kg

urea/ha)

Berdasarkan

BWD**

Berdasarkan

BWD** -

Fosfor

dan 100% - - -

17

Sulfur*

Kalium 50% - 100% - Bila perlu

50% -

*) Bila diperlukan; **) Bagan Warna Daun

Dosis yang diberikan merupakan dosis seragam dengan satuan kilogram per

hektar. Aplikasi pemupukan dilapangan sangat dipengaruhi oleh kualitas lingkungan

yang menjadi tempat tumbuh tanaman padi. Pada umumnya, waktu aplikasi pupuk pada

padi sawah sangat dipengaruhi oleh jenis pupuk yang diaplikasikan.

Menurut Maspary (2011), jika digunakan kombinasi pupuk Urea, SP36, dan KCl

dengan perbandingan (200-250 kg/ha: 100-150 kg/ha: 75-100 kg/ha) maka satu hari

sebelum penanaman dilakukan penyebaran pupuk SP36 100%. Setelah umur 7 hari

setelah tanam (HST) dilakukan penyebaran Urea 30% dengan KCl 50%. Ketika umur

20 HST lakukan penyebaran Urea 40% dan setelah umur 30 HST lakukan penyebaran

Urea 30% dan KCl 50%. Jika digunakan Urea, SP36 dan KCl namun mempunyai BWD,

maka proses aplikasi pertama dan kedua sama seperti diatas namun setiap minggu

diperlukan pengetesan warna daun menggunakan BWD. Jika hasil pengetesan tersebut

dirasa membutuhkan penambahan Urea maka dilakukan penambahan dengan jumlah

yang sedikit (10%). Pengetesan dilakukan sampai tanaman berumur 40 HST. Pada umur

30 HST KCl yang tersisa 50% diaplikasikan seluruhnya.

Sementara itu, jika digunakan pupuk Urea dan NPK Phonska (100 kg/ha: 300

kg/ha), maka pada umur 7 HST berikan Urea 30% dan NPK Ponska 50%. Pada umur 20

HST, berikan Urea 40% dan setelah umur 30 HST berikan Urea 30% dan NPK Ponska

50%. Jika menggunakan BWD, pada 7 HST pupuk NPK Ponska dapat diberikan 50%

tanpa diiringi oleh Urea. Satu minggu kemudian, lakukan tes BWD dan jika tanaman

membutuhkan Urea maka dapat diaplikasikan sebesar 10%. Hal tersebut dilakukan

hingga tanaman berumur 40 HST, pada umur 30 HST NPK Ponska yang tersisa 50%

diberikan semuanya.

Selanjutnya, jika digunakan Urea dan NPK Pelangi (100 kg/ha dan 300 kg/ha).

Berikan NPK Pelangi 100% saat tanaman berumur 1 HST, setelah satu minggu berikan

Urea 30%. Ketika umur 20 HST, maka berikan Urea 40% dan saat tanaman berumur 30

HST 30% Urea terakhir dapat diberikan. Jika BWD dimiliki, maka aplikasikan NPK

Pelangi 100% pada 1 HST, setelah 7 HST lakukan pengetesan menggunakan BWD dan

jika hasil tes dirasa perlu aplikasi Urea maka pupuk Urea dapat ditambahkan 10%, dan

18

demikian seterusnya dilakukan penambahan Urea setelah dilakukan tes BWD setiap

satu minggu sekali.