100
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai Negara yang sedang berkembang, indonesia terus mengupayakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan menitikberatkan pada faktor-faktor yang secara langsung dapat mempengaruhi kualitas pendidikan itu sendiri. Upaya meningkatkan pendidikan terus dikembangkan demi terwujutnya tujuan pendidikan nasional yang menjadi cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana termakjub dalam pembukaan UUD 1945. selanjutnya sesuai dengan Undang–undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 bab 1 tentang pendidikan yaitu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan mengendalikan diri. Kecerdasan, 1

2. Skripsi Bab I - Bab V

Embed Size (px)

DESCRIPTION

SK

Citation preview

I

PAGE 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai Negara yang sedang berkembang, indonesia terus mengupayakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan menitikberatkan pada faktor-faktor yang secara langsung dapat mempengaruhi kualitas pendidikan itu sendiri. Upaya meningkatkan pendidikan terus dikembangkan demi terwujutnya tujuan pendidikan nasional yang menjadi cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana termakjub dalam pembukaan UUD 1945. selanjutnya sesuai dengan Undangundang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 bab 1 tentang pendidikan yaitu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan mengendalikan diri. Kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan negara. Agar tujuan tersebut dapat tercapai seperti apa yang diharapkan maka semua komponen-komponen penting yang terkait dengan pendidikan harus dapat melakukan fungsinya semaksimal mungkin. Sala satu komponen penting yang perlu mendapat perhatian adalah komponen guru, karena nengingat tugas guru dalam mengajar, mendidik dan membimbing peserta didik agar dapat menjadi individu-individu yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan dalam pendidikan.

Dalam proses pembelajaran pasti terjadi interaksi balajar dan mengajar. Proses interaksi mengajar diartikan sebagai proses membimbing, mengajar dan melatih peserta didik untuk memberikan bekal kemampuan dasar, aspek intelektual, sosial dan personal sesuai dengan karakteristik perkembangan, sehingga dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.Sekolah merupakan tempat berlangsungnya pembelajaran formal. Pembelajaran tersebut merupakan suatu proses pemindahan tingkah laku dan pemahaman suatu ilmu pengetahuan dari seorang guru kepada peserta didiknya. Diharapkan dalam proses pembelajaran tersebut tujuan pendidikan nasional dapat tercapai untuk menyaingi negara-negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).Untuk mengatasi hal tersebut di atas berbagai upaya telah dilaksanakan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pengajaran IPS Terpadu di kelas yakni: perubahan atau pembaharuan kurikulum, penyediaan buku paket ekonomi hingga pada peningkatan kemampuan profesionalisme guru, baik melalui kegiatan pelatihan atau penataran. Usaha tersebut belum menjamin perbaikan kualitas pendidikan sebagaimana yang diharapkan. Salah satu penyebabnya adalah masih rendahnya prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran ekonomi.Dari hasil wawancara dengan guru bidang studi ekonomi (IPS Terpadu) kelas VIIc SMP Negeri 2 Alas Barat, diperoleh informasi bahwa banyak faktor yang menjadi penyebab kurangnya prestasi belajar materi pelajaran ekonomi yang telah diajarkan oleh guru. Diantaranya, selama proses belajar mengajar berlangsung, banyak dijumpai anak yang malas, tidak senang belajar, apabila siswa ditanya ada saja alasan yang mereka kemukakan untuk menghindari pertanyaan tersebut, seperti: mata pelajaran ekonomi yang sulit, tidak bisa menjawab, takut disuruh kedepan, dan lain sebagainya. Dari faktor orang tua juga mempengaruhi misalnya cara mendidik anak, hubungan antara anggota keluarga, keadaan ekonomi, suasana hubungan guru dengan siswa, penerapan kurikulum, kedisplinan sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, media pembelajaran, dan lain sebagainya. Dalam hal ini faktor yang mempengaruhi adalah guru. Dimana profesionalisme guru yang kurang berkembang, sehingga pembelajaran didominasi belajar menghafal fakta-fakta atau prosedur prosedur yang akibatnya, lulusan lemah dalam bahasa, keterampilan dalam pemecahan masalah dan tidak mempunyai kreativitas dalam menghadapi masalah sehari-hari yang menantang. Karena itu sebagai antisipasi diperlukan adanya inovasi yang berhubungan dengan metode dan model pembelajaran yang diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar terhadap mata pelajaran ekonomi, serta meningkat pula kriteria ketuntasan belajar baik secara individual maupun klasikal. Kami menilai bahwa metode yang selama ini diterapkan tidak memotivitasi mereka untuk lebih aktif. Hal inilah yang diperkirakan menjadi penyebab rendahnya prestasi belajar siswa. Lebih dari 50% siswa mengatakan bahwa ekonomi merupakan salah satu mata pelajaran yang sulit. Keadaan ini hendaknya segera direspon secara aktif dengan mencari alternatif model pembelajaran yang efektif, yang membuat siswa mudah memahami materi ekonomi.Guru sebagai fasilitator dituntut dapat memodifikasi atau menerapkan metode-metode baru yang lebih disukai siswa dan dapat meningkatkan keaktifannya. Salah satu peran guru yang terpenting adalah bagaimana mereka dapat mencerdaskan dan mempersiapkan masa depan peserta didik melalui kegiatan belajar yang benar-benar kreatif, terbuka dan menyenangkan (joyfull learning).Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis ingin memberikan suatu alternatif dalam mengatasi permasalahan tersebut. Sebagai alternatif adalah dengan menggunakan pembelajaran realistik. Pembelajaran realistik menjadi pilihan karena pembelajaran ini dirancang untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, karena terkait dengan lingkungan keseharian siswa. Di samping itu guru harus menciptakan sistem sosial dalam lingkungan belajar yang dicirikan dengan prosedur demokrasi dan ilmiah.Dalam penelitian ini peneliti menggunakan model pembelajaran realistik karena model pembelajaran ini paling sederhana dan jarang digunakan. Di samping itu, model pembelajaran ini tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsepkonsep sulit, tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkembangkan kemampuan interaksi antar guru dan siswa, meningkatkan kerjasama, kreativitas, berpikir kritis serta ada kemauan membantu teman.

B. Identifikasi MasalahBerdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat di identifikasikan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Prestasi siswa dalam pelajaran Ekonomi masih kurang.

2. Kurang tepatnya metode yang digunakan oleh guru ekonomi dalam menyampaikan pokok bahasan sehingga siswa menjadi jenuh dalam proses belajar mengajar ekonomi.

C. Batasan Masalah Yang menjadi batasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. objek penelitian

Adapun gejala yang diteliti dalam penelitian ini adalah prestasi belajar pelajaran ekonomi pokok bahasan tindakan, motif dan prinsip ekonomi dengan menerapkan metode pembelajaran realistik.

2. subjek penelitian

Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VIIc SMP Negeri 2 Alas Barat.D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalahnya dalam penelitian ini sebagai berikut : Apakah dengan penerapan pembelajaran realistik dapat meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi pada pokok bahasan tindakan, motif dan prinsip ekonomi siswa kelas VIIc SMPN 2 Alas Barat tahun pelajaran 2010/2011?E. Tujuan PenelitianBerdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh pembelajaran realistik dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan tindakan, motif dan prinsip ekonomi pada siswa kelas VIIc SMPN 2 Alas Barat tahun pelajaran 2010/2011.F. Manfaat PenelitianAdapun manfaat penelitian adalah :

1. Manfaat secara teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru sebagai bahan pertimbangan dalam pemberian pembelajaran realistik khususnya pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan tindakan, motif dan prinsip ekonomi.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh kepala sekolah dalam memberikan pembinaan dan bimbingan kepada guru khususnya guru mata pelajaran ekonomi dalam usaha meningkatkan prestasi belajar siswa supaya para siswa mendapatkan hasil belajar yang optimal.

2. Manfaat praktis

a. Informasi hasil penelitian ini akan dapat dijadikan sebagai sumber cara dalam menerapkan pembelajaran realistik bagi guru ekonomi.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan dipergunakan oleh para pendidikan dalam menerapkan pembelajaran realistik untuk meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi.

G. Identifikasi Variabel

Agar memperjelas apa, siapa dan bagaimana penelitian ini, maka sangat dipandang perlu untuk mengembangkan variabel-variabel yang menjadi fokus pengamatan dalam penelitian ini. Arikunto (2002 : 96) mengemukakan bahwa variabel merupakan objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Variabel dalam penelitan ini dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu sebagai berikut :

1. Variabel bebas (independent variable)

Yang diperhitungkan sebagai variabel bebas (independent variable) dalam penelitian ini adalah penerapan pembelajaran realistik. Penentuan variabel ini didasarkan atas perhitungan teori bahwa variabel bebas menjadi lebih dahulu menurut urutan waktu disebut variabel bebas. Karena penelitian ini tergolong dalam deskriptif, variabel bebas yang utama disebut sebagai variabel perlakuan (treatment variable), dalam hal ini adalah penerapan pembelajaran realistik secara sengaja dikenakan atau dimanipulasi untuk meningkatkan prestasi belajar tindakan, motif dan prinsip ekonomi siswa yang merupakan variabel terikat.

2. Variabel terikat (dependent variable)

Yang menjadi variabel terikat pada penelitian ini yaitu prestasi belajar karena hal inilah yang akan diamati perubahannya atau akibatnya dengan adanya manipulasi penerapan pembelajaran realistik. Ada tidaknya perbedaan prestasi belajar siswa bergantung kepada bagaimana penerapan pembelajaran realistik itu mempengaruhi prestasi belajar itu sendiri sehingga ditetapkan bahwa yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar. H. Definisi operasional variabel

1. Pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap.2. pembelajaran realistik merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehingga perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya sehingga mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. 3. Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh atau perubahan prilaku seorang siswa berdasarkan kemampuan dan keterampilan yang diperoleh dari suatu kegiatan yang dilakukan baik secara individu maupun kelompok melalui proses belajar mengajar berupa angka atau nilai. BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian TerdahuluPenelitian yang dilakukan oleh (Rohmiati: 2007) yang berjudul tentang meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan organ manusia dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual berbasis masalah pada kelas XI IPA SMA NW Pancor tahun pelajaran 2006/2007 menyimpulkan bahwa: dari perhitungan statistik dapat diperoleh t hitung = 2,15 dan t tabel = 1,67 berarti t hitung > t tabel = 2,145 > 1,67,sehingga hipotesis yang diajukan (Ha) diterima yaitu pelajaran biologi dengan menggunakan pendekatan kontekstual berbasis masalah dapat memberikan pengaruh secara positif dan signifikansi terhadap penguasaan siswa dibandingkan dengan tanpa menggunakan pendekatan kontekstual berbasis masalah pada siswa kelas XI IPA SMA NW Pancor tahun pelajaran 2006/2007.Penelitian yang dilakukan oleh (Aisyah: 2004) yang penelitiannya tentang pengaruh pembelajaran realistik terhadap peningkatan prestasi belajar pada siswa kelas 1 SMP Negeri 8 Mataram. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pembelajaran realistik dapat memberikan pengaruh secara positif dan signifikan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian yang dilakukan oleh (Laila Fitrianingsih: 2003) yang berjudul efektifitas pembelajaran realistik dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Mataram. hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pembelajaran realistik memberikan efek yang positif ini dilihat dari ketuntasan belajar siswa yaitu 88% artinya sudah sesuai dengan ketentuan kurikulum yaitu 85%. B. Landasan Teori1. Model-Model Pembelajarana. Model Pembelajaran Kooperatif

Merupakan pembelajaran siswa belajar secara bersama-sama sehigga mengembangkan pikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun kelompok. Pembelajaran kooperatif menekankan pada aspek tugas-tugas kolektif yang harus dikerjakan secara bersama-sama dalam kelompok dan pendelegasian wewenang dari guru kepada siswa. Guru sebagai pasilitator dalam pembelajaran sswa dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.(Robert E Slavin, 1995: 71).Macam-macam tipe pembelajaran kooperatif1. Tipe Jiqsaw Merupakan suatu pembelajaran kooperatif dimana pola pembelajarannya membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil dan tim ahli atau kelompok pakar siswa bekerja dengan sesama siswa dengan materi yang dipelajari dibagi menjadi beberapa bagian.2. Tipe STAD (Student Team Achievement Division )Merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktifitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotifasi dan saling membantu dalam menguasai materi guna mencapai prestasi yang maksimal.

3. Tipe GI (Group Investigation)

Merupakan tipe yang dipandang paling komplit dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif, dan melibatkan siswa sejak perencanaan, baik menentukan topik maupun cara mempelajarinya melalui investigasi.

4. Tipe Struktur (trogtur)

Merupakan metode yang menekankan pada struktur-sruktur keunggulan khusus dari pembelajaran kooperatif GI akan tetapi pada pembelajaran ini yang lebih menonjol adalah dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat termotifasi siswa untuk saling membantu dalam proses penbelajaran.

5. Tipe TAI (Team Asistend Individualization )

Merupakan percepatan pengajaran tim yang langsung tertuju pada itu mengenai metode pengajaran dan konteksnya dan termasuk juga pengaturan kelas.(Robert. E. Slavin: 187). b. Model Pembelajaran CTL (contekstual teaching and learning )

Merupakan konsep mengajar yang membantu guru mengaitkan dengan materi yang diajarkannya dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengatahuan yang dimiliki dengan penerapannya dengan kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masarakat (Dr. Nurhadi:2002). Pembelajaran kontekstual juga merupakan pengajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan yang sesungguhnya.(Prof. Dr. Mohammad Nur tahun 2002).Ada tujuh komponen dalam pendekatan CTL

1. Konstruktif

Merupakan mengajar dengan cara mencocokan fenomena, ide atau aktivitas yang baru dengan pengetahuan yang sudah ada atau sudah dipelajari.

2. menemukan (Inquiri)

Merupakan suatu seni menciptakan situasi-situasi sedemikian rupa sehingga siswa mengambil peran sebagai ilmuan.

3. Bertanya (Quistionis)

Merupakan strategi utama pengajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pengajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membanding dan menilai kemampuan berpikir siswa. Untuk menggali informasi mengkomfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatiannya kepada yang belum meketahui.4. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Mengarahkan agar hasil pengajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasl menaja dari sharing antar teman, dan antar kelompok.5. Pemodelan (Modeling)

Dalam sebuah pengajaran modeling guru memberikan suatu contoh: cara mengerjakan sesuatu atau memperlihatkan suatu model yang bisa ditiru. Namun dapat dirancang dengan melibatkan siswa, seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberikan contoh temannya misalnya medemonstrasikan komentator suhu badan.

6. Refleksi (Reflection)

Merupakan cara berpikir tentang apa yang diperlu dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu.

7. Penilaian yang sebenarnya (Authentic assessment)

Merupakan proses pengumpulan sebagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan mengajar siswa. Karena gambaran tentang kemajuan mengajar itu diperlukan sepanjang proses pengajaran maka assessment tidak dilakukan diakhir priode (cawu/semester),tetapi dilakukan secara tidak terpisah (terintegrasi) dari kegiatan pembelajaran. c. Model Pembelajaran Everyone is a teacher hereMerupakan strategi pembelajaran dalam model pembelajaran aktif yang betujuan untuk memperoleh partisipasi kelas dalam keaktifan individu yang besar, suatu strategi yang mudah untuk memperoleh partisipasi kelas besar dan tanggung jawab individu. Strategi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertindak sebagai seorang pengajar terhadap siswa lainya. (Mel Silberman. 1996: 163). d. Pembelajaran Realistik

Pembelajaran realistik adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajikan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif-nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa.Pembelajaran ekonomi realistik yaitu pembelajaran ekonomi dengan pendekatan realistik yang pada dasarnya memanfaatkan realita atau kenyataan di lingkungan yang dipahami oleh peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran ekonomi sehingga mencapai tujuan pendidikan ekonomi secara lebih baik (W.J.S Poerwarminta, 2003 : 441).Menurut johnson dalam Nurhadi Sendok (2002), realistik merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehingga perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya sehingga mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti.

Realita yang dimaksud adalah hal-hal yang nyata atau kongkrit yang dapat diamati dan difahami peserta didik lewat membayangkan. Sedangkan lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan yang dapat difahami pesera didik yang berada dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan konsep adalah ide atau gagasan yang memungkinkan seseoang untuk mengklasifikasikan apakah suatu objek atau kejadian tertentu merupakan suatu contoh atau bukan contoh dari ide abstrak tersebut (Robert M.Gagne) jadi pemahaman konsep memberikan pengertian bahwa konsep yang diajarkan pada siswa bukan sebagai hafalan saja melainkan juga harus dipahami sehingga dalam pemacahan masalah, siswa akan menggunakan aturan-aturan yang berdasarkan pada konsep yang telah dipahami dan diselesaikan dengan baik dan benar.Beberapa karakteristik pembelajaran realiatik yang dikemukakan oleh parah ahli:.

Menurut Johnson dalam Nurhadi Sendok (2002) mengatakan bahwa ada beberapa komponen utama dalam sistem pembelajaran realistik sebagai berikut:

1. Melakukan hubungan yang bermakna (meking meaningfull caunection). Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual. Orang yang dapat bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (learning by doing).2. Melakukan kegiatan yang signifikan (doing sinificance work). Siswa membuat hubungan-hubungannya dengan penentuan pilihan, dan produknya atau hasil yang sifatnya nyata. 3. Bekerja sama (colaborating). Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja sama secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling memahami dan berkomunikasi.4. Berfikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking). Siswa dapat menggunakan tingkat berfikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif: dapat menggunakan, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan dan menggunakan logika dan bukti. 5. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual). Siswa memelihara pribadinya: mempengaruhi, memberi perhatian, memiliki harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri, siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa, siswa menghormati temannya dan juga orang dewasa. 6. Menggunakan penelitian autotentik (using authentic assesement). Siswa menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna. Misalnya siswa boleh menggambarkan informasi akademis yang telah mereka pelajari dalam pelajaran. 2. Prestasi Belajar Siswa

Prestasi belajar menurut Yaspir Gandhi Wirawan dalam Murjono (1996:178) adalah: Hasil yang dicapai seorang siswa dalam usaha belajarnya sebagaimana dicantumkan di dalam nilai raportnya. Melalui prestasi belajar seorang siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar.

Penilaian terhadap hasil belajar siswa untuk mengetahui sejauhmana ia telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar. Seperti yang dikatakan oleh Winkel (1997:168) bahwa proses belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan dan pemahaman, dalam bidang nilai, sikap dan keterampilan.Sedangkan Marsun dan Martaniah dalam Sia Tjundjing (2000:71) berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar, yaitu sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang diajarkan, yang diikuti oleh munculnya perasaan puas bahwa ia telah melakukan sesuatu dengan baik. Hal ini berarti prestasi belajar hanya bisa diketahui jika telah dilakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa.Dari beberapa definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar merupakan hasil usaha belajar yang dicapai seorang siswa berupa suatu kecakapan dari kegiatan belajar bidang akademik di sekolah pada jangka waktu tertentu yang dicatat pada setiap akhir semester di dalam bukti laporan yang disebut raport. Sedangkan prestasi belajar Realistik adalah hasil yang dicapai siswa selama mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan Pembelajaran Realistik yang ditandai dengan hasil dari evaluasi belajar siswa, jauh lebih meningkat dibandingkan dengan pembelajaran konvensional lainnya.Djamrah (1994 : 49) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok, prestasi tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak melakukan suatu kegiatan. Dalam kenyataan, untuk mendapatkan prestasi tidak semudah yang dibayangkan, tetapi penuh perjuangan dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi untuk mencapainya. Hanya dengan keuletan dan optimisme dirilah yang dapat membantu untuk mencapainya. Oleh karena itu, wajarlah pencapaian prestasi itu harus dengan jalan keuletan kerja. Walaupun pencapaian prestasi itu penuh dengan rintangan dan tantangan yang dicapai oleh seseorang, namun seseorang tidak akan pernah menyerah untuk mencapainya. Di sinilah nampaknya persaingan dalam mendapatkan prestasi dalam kelompok yang terjadi secara konsisten. Banyak kegiatan yang bisa digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan prestasi. Semuanya tergantung dari profesi dan kesenangan masing-masing individu kegiatan mana yang akan digeluti secara optimal agar menjadi kegiatan dari diri secara pribadi. Dalam buku psikologi perkembangan dan pendidikan ditegaskan bahwa untuk dapat belajar dengan baik sehingga prestasi belajar juga tinggi, maka sebagian dari kedua aspek-aspek tersebut harus dalam kondisi baik, jika ada sebagian dari salah satu aspek faktor internal tersebut terganggu, atau tidak berada dalam kondisi bagaimana seharusnya, maka hasil belajar maupun proses belajar akan terganggu pula dengan sendirinya tidak akan mencapai apa yang diharapkan (Dirjen Dikdasmen Pusat Pengembangan Guru, 2000 : 53).

Oleh karena itu, belajar merupakan suatu proses perubahan prilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman untuk mencapai tujuan tertentu (Abin Syamsuddin, 2003 : 157). Pendapat lain juga mengatakan bahwa belajar merupakan proses yang menghasilkan aktivitas atau perubahan melalui respon terhadap situasi (Hilgard, 2000 : 93). Dalam hal mencapai tujuan dalam belajar tentu ada faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik positif maupun negatif sehingga prestasi yang diperolehnya mungkin baik atau mungkin juga sebaliknya. Menurut Alece Crow (1988: 65) keberhasilan seseorang tergantung dari tiga hal yaitu potensi yang dibawa sejak lahir, isi atau materi pelajaran, dan minat belajar. Menurut Bimo Walgito (1982 : 124) dalam bukunya Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah menjelaskan bahwa faktor faktor yang terdapat dalam belajar adalah sebagai berikut: a. Faktor Yang Berasal Dari Dalam Diri Individu (Internal) Faktor ini dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor jasmani dan rohani (fisik dan psikis). Faktor jasmani yang perlu diperhatikan yaitu individu harus mempunyai kesiapan (mental set) untuk menghadapi tugas yang diberikan. Faktor ini merupakan alat perangsang untuk merespon suatu keadaan yang datang dari luar (alam sekitar) dengan jiwa sebagai pengolahan respon. Keadaan jasmani harus mampu untuk mengolah respon tersebut. Terutama panca indra sebagai pintu masuknya respon. Dari faktor tersebut yang berkaitan dengan pencapaian hasil belajar adalah sebagai berikut:

1. Pembawaan atau Bakat

Pada umumnya individu mempunyai pembawaan yang berbeda beda, mengingat hal tersebut sudah barang tentu mempengaruhi prestasi belajar siswa seperti yang dikemukakan dalam buku psikologi Pendidikan yaitu anak yang mempunyai kelebihan akan lebih cepat dan mudah belajar dari pada anak yang kemampuannya kurang (Maasrun, 1971 :60). Wayan Nurkancana (1981:283) mengatakan bahwa suatu kualitas nampak pada tingkah laku manusia pada suatu lapangan keahlian tertentu seperti musik, seni mengarang, pandai dalam matematika, mesin dan lain lain. Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka dapt disimpulkan bahwa kemampuan yang dimiliki oleh setiap siswa adalah suatu faktor kejiwaan yang menunjang pencapaian hasil belajar yang diharapkan. Para pendidik hendaknya dapat membina kemampuan anak yang berbeda-beda agar tetap terpelihara dan terbina dengan baik serta membina semangat belajar siswa dengan memberikan latihan-latihan agar pencapaian hasil belajar yang maksimal dapat tercapai.

2. Kematangan (Maturation)

Pertumbuhan jasmani ataupun rohani setiap individu tidak ada yang sama, ada yang cepat, ada pula yang lambat, begitu pula masalah kematangan jiwa mempunyai perkembangan yang tidak sama antara setiap individu. Seperti yang dijelaskan oleh Husaini (1978 : 80) bahwa Kematangan merupakan proses pertumbuhan yang mengikuti penyempurnaan tubuh sehingga dapat berfungsi secara wajar. Kematangan merupakan sebab-sebab dari perkembangan yang saling berhubungan (Susilo Widradini, 1982 : 21). Dari keterangan para ahli tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kematangan proses belajar mengajar sangat besar pengaruhnya terhadap seseorang. Seorang individu tidak akan dapat belajar suatu hal sebelum dirinya siap mempelajari hal itu. Oleh karena itu, hendaknya seseorang melatih diri dengan melakukan praktek atau latihan-latihan agar fisiknya matang untuk melakukan kegiatan belajar.

3. Intelegensia

Dalam buku Evaluasi Pendidikan dijelaskan bahwa Intelegensi1\o651 didefisikan sebagai kemampuan berfikir abstrak (Wayan Nurkancana, 1981 :175) Thorndike (1981 :176) menitik beratkan intelegensi sebagai kesanggupan untuk mengadakan respon yang baik sesuai dengan fakta-fakta yang dihadapi. Dari keterangan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa intelegensi memegang peranan penting dalam menentukan taraf fikir seseorang. Oleh karena itu jelaslah bahwa faktor ini memungkinkan pencapaian prestasi belajar yang tinggi, karena apabila intelegensi yang dimiliki tinggi maka prestasi pun akan tinggi. Seseorang yang memiliki intelegensi tinggi akan lebih tangkas dalam menghadapi perangsang jika dibandingkan dengan individu yang memiliki intelegensi rendah. a. Motif

Segala tingkah laku individu merupakan suatu perbuatan dalam mencapai suatu tujuan. Motif merupakan keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan kreatifitas tertentu untuk mencapai suatu tujuan (Sumadi Suryabrata, 1984 : 72). Dari pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa motif sangatlah berguna dalam proses belajar mengajar, karena motif merupakan salah satu kekuatan jiwa yang dirasakan sebagai kebutuhan pemenuhan, baik bersifat fisik maupun psikis terutama dalam proses belajar mengajar. Dengan motif yang dimiliki, maka besar kemungkinan siswa akan mampu meraih prestasi belajar yang diharapkan. b. Minat

Dalam proses belajar mengajar sangat menentukan, karena minat sangat erat hubungannya dengan pribadi individu yang melakukan aktivitas belajar. Wayan Nurkancana (!981 : 224) menjelaskan bahwa minat (interest) menyangkut aktivitas-aktivitas yang dipilih secara bebas oleh individu. Dalam Buku Evaluasi Pendidikan dijelaskan pula bahwa Minat (interest) merupakan gejala fisik yang berkaitan dengan aktivitas yang menstimulir perasaan senang pada individu (Doyles Freyor, 1982). Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa minat memegang peranan penting pada diri individu untuk melakukan kegiatan belajar. Makin besar minat seseorang untuk belajar, maka semakin besar pula kemungkinannya untuk memahami suatu materi pelajaran yang diajarkan dengan mudah sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, dan begitu pula sebaliknya. c. Ingatan

Dengan menggunakan cara mengajar yang sesuai dengan materi pelajaran dan dengan menggunakan alat peraga serta penanaman pengertian serta pemecahannya untuk menghindari pengertian yang simpang siur, maka daya asosiasi untuk memproduksi tanggapan-tanggapan yang sudah lama akan lebih gampang karena satu dengan yang lain memiliki hubungan. Seperti yang dijelaskan dalam buku Psikologi Pendidikan bahwa ingatan kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan (Sumadi Suryabrata, 1982 : 46). Marham (1983 : 20) mendefinisikan ingatan sebagai kemampuan menghubungkan pengalaman sekarang dengan pengalaman masa lampau yang telah melekat dalam jiwa seseorang yang diproduksi kembali pada masa sekarang. Dari kedua pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pribadi manusia serta aktivitasnya tidak semata mata dipengaruhi oleh produksi ingatan dimasa lampau yang kemudian diproduksi dimasa sekarang sehingga pribadi dapat berkembang.

d. Percaya diri (Self Confidence)

Sikap percaya diri sendiri perlu dipupuk dan dibina, karena tiap individu mempunyai kemampuan yang berbeda beda. Proses cepat atau tidak cepatnya perkembangan sikap percaya pada diri sendiri akan memungkinkan kemudahan untuk mencapai prestasi belajar dengan maksimal. Cara memupuk rasa percaya pada diri sendiri adalah dengan cara tidak mematahkan semangat berusaha untuk membentuk pertahanan yang kuat untuk mempercayai diri sendiri. b. Faktor Faktor Yang Berasal Dari Luar Individu (External) Selain faktor internal, faktor eksternal juga cukup mempengaruhi terhadap hasil belajar, karena individu cenderung menghadapi diri dengan alam sekitarnya yaitu lingkungan. Adapun yang tercakup ke dalam faktor eksternal tersebut antara lain. 1. Lingkungan Keluarga

Lingkungan keluarga merupakan tempat yang utama dan pertama perkembangan sosial anak. Martin Sardy (1981 : 23) dalam bukunya Mencari Identitas Pendidikan mengatakan bahwa keluarga adalah tempat pendidikan yang pertama yang meletakkan dasar modal dan budaya kepada generasi mendatang. Sedangkan John Lock (1981 : 18) dalam teorinya anak lahir seperti kertas putih dan lingkungan itulah yang menulisinya dan yang minghitamkannya. Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa orang tua sangat berpengaruh terhadap kepribadian anak dalam menanamkan nilai-nilai sosial dan susila. 2. Lingkungan Sekolah

Dalam lingkungan sekolah, anak tidak mempunyai hak istimewa seperti dalam lingkungan keluarga, di lingkungan sekolah anak mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Disinilah diperkenalkan dengan prinsip-prinsip demokratis sekolah dengan asuhan guru-guru, di sini anak belajar bermacam keterampilan dan belajar berbagai macam keterangan yang bisa dijadikan sebagai bekal kehidupan di masyarakat yang berupa ilmu pngetahuan serta keterampilan yang bermanfaat untuk masa selanjutnya serta anak dapat mengerti tentang dirinya, menyesuaikan dengan lingkungan, inilah tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Pendidikan nasional yang berdasarkan pancasila bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab terhadap pembangunan bangsa. 3. Lingkungan Masyarakat

Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Hal ini ikut serta menunjang keberhasilan seorang anak dalam pendidikannya, karena anak membutuhkan pergaulan, perhatian dari para pendidikan serta bimbingan dan dukungan dalam interaksinya dengan masyarakat dan alam sekitar sehingga prestasi anak seperti yang diharapkan. 3. Tinjauan Tentang tindakan, Motif Dan Prinsip Ekonomia. Tindakan EkonomiPengertian tindakan ekonomi Adalah segala bentuk usaha manusia untuk memenuhi ragam kebutuhan seperti:

1. Orang tua rela bekerja keras untuk membiayai sekolah anaknya.

2. Seorang siswa yang gemar menabun.

3. Kebijakan pemerintah dalam mencanangkan pola hidup sederhana.Macam-macam Tindakan Ekonomi sebagai berikut :

1. Tindakan Ekonomi Rasional

Adalah tindakan ekonomi yang dilakukan berdasarkan akal sehat dan tidak merugikan orang lain. Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk alternatif tindakan ekonomi yang menguntungkan.Contoh: Pada saat musim durian, dimana semua pohon durian berbuah sehingga harga jual jatuh, maka perlu alternatif agar penghasilan tetap tinggi. Salah satu cara kreatif adalah menjual dalam bentuk makanan olahan seperti: dodol durian, es krim durian, puding durian atau sirup durian. kreatifitas pedagang durian termasuk tindakan ekonomi yang bersifat rasional.2. Tindakan Ekonomi Irasional

Adalah tindakan ekonomi yang dilakukan tanpa pertimbangan matang sehingga merugikan banyak pihak. Tindakan ini merupakan bentuk tindakan ekonomi yang nampaknya menguntungkan tetapi justru berdampak pada kerugian. Contoh: Pada saat pemerintah hendak mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) banyak warga dan juga pedagang melakukan aksi memborong bahkan menimbun. Akibatnya persediaan BBM menipis sedangkan konsumen bertambah banyak. Hal ini mengakibatkan dampak yang sangat merugikan banyak pihak, dimana harga BBM melambung barang justru sulit didapat, Padahal kebutuhan BBM tidak bisa ditunda karena menyangkut kebutuhan orang banyak.dengan demikian aksi borong dan menimbun barang merupakan tindakan ekonomi yang irasional. b. Motif EkonomiYaitu segala bentuk tindakan manusia untuk pencapaian tujuan. Contoh: Seorang siswa yang rajin menyisihkan uang sakunya untuk ditabung agar bisa mengikuti wisata di sekolahnya, ia pun telah melakukannya secara efektif. Apa yang dilakukan siswa itu merupakan contoh kecil dari bentuk tindakan ekonomi dengan upaya penghematan (Depdiknas, 2008).Macam-Macam Motif Ekonomi sebagai berikut : 1. Motif memeroleh penghargaan merupakan tindakan ekonomi karena ingin dihargai.

Contoh: Andi mempunyai kebiasaan menabung karna dipaksa oleh orang tuanya sehingga ia melakukan itu demi menyenangkan hati orang tuanya. Jika andi tidak menyisihkan uangnya untuk ditabung , maka orang tuanya akan marah, dan sebaliknya jika ia menuruti yang diperintahkan orang tuanya, ia akan memperoleh pujian sebagai anak yang penurut.

2. Motif untuk memenuhi kebutuhan sendiri merupakan tindakan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang tanpa melibatkan orang lain untuk tujuan pribadi.

Contoh: Ahmad mempuyai kebiasaan menabung karena ia ingin membeli baju baru untuk hari raya idhul fitri.3. Motif untuk mencari keutungan

Motif ini sering digunakan oleh parah pegusaha atau pedagang

Contoh: Seorang penjual atu pedagang memberikan diskon secara besar-besaran kepada konsumen sehingga stok barang habis diserbu pembeli, program diskon tersebut merupakan upaya untuk mengurangi biaya pemeliharaan jika barang terus menumpuk di gudang tentu biaya pemeliharaan membengkak.4. Motif untuk memperoleh kekuasaan

Yaitu motif yang dilakukan oleh parah toko-toko politik untuk memperoleh gelar atau jabatan

Contoh: Misalnya calon gubernur untuk menarik simpati para pemili lewat tindakan ekonomi, bentuknya bisa berupa pemberian sumbangan dalam bentuk bangunan, jalan desa, pembangunan sarana umum, dan menyantuni fakir miskin.

5. Motif SosialMerupakan tindakan sosial dalam hal saling tolong menolong

Contoh: Misalnya ada acara rasepsi perkawinan maka tamu-tamu yang diundang menyelipkan amplop yang berisi uang sekedarnya sebagai bentuk sumbangan kepada pemilik hajatan.

c. Prinsip EkonomiPrinsip Ekonomi yang dimaksudkan disini adalah dengan pengorbanan sekecil-kecilnya diperoleh keuntungan semaksimal mungkin. Kegiatan eknomi berkaitan dengan tiga kegiatan utama yaitu:

1. Kegiatan produksi

Dalam kegiatan produksi prinsip ekonomi menjadi landasan berfikir guna menghasilkan barang dan jasa sebanyak-banyaknya tetapi dengan biaya produksi yang serendah-rendahnya.

2. Kegiatan distribusi

Berusaha agar dalam jangka waktu yang singkat mampu menyampaikan barang dari tempat prokdusi ke konsumen.

3. Kegiatan kosumsi

Prinsip ekonomi yang mendasari pola berfikirnya konsumen atau pembeli dengan berusaha mencari kebutuhan dengan serendah rendahnya.C. Kerangka BerfikirPemahaman siswa yang masih kurang persentase ketutantasan siswa lebih banyak di bawah standar KKM

- Metode penyampaian guru kurang variatif, pembekajaran lebih berpusat pada guru .

- Kemampuan siswa bervariasi dalam menyerap materi pembelajaran .

Pembelajaran realistik adalah bentuk pengajaran yang di berikan kepada siswa dengan menyajikan materimateri pelajaran yang mengaitkan dengan dunia nyata siswa, untuk meningkatan prestasi belajar siswa. (Djamarah, 1994 :46).

Prestasi belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok, prestasi tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak melakukan suatu kegiatan, ( Djamrah 1994 : 49 ).

Rumusan hipotesis:Penerapan pembelajaran realistik dapat meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran motif dan prinsip ekonomi. Siswa kelas VII SMP Negeri 2 Alas Barat tahun pelajaran 2010/2011.

D. Hipotesis TindakanHipotesis merupakan teori yang kebenarannya masih perlu diuji. Sehubungan hal itu, seorang ahli mengatakan bahwa hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap penelitian yang kebenarannya masih perlu diuji secara empiris (Sumadu Suryabrata, 1998 : 69). Suharsimi (2002 : 64) mengatakan bahwa hipotesis adalah sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Selain itu, dijelaskan juga bahwa Hipotesis adalah suatu pernyataan, (declarative statement) yang belum sepenuhnya (IB. Netra, 1974 : 26).Berdasarkan pendapat di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah Bahwa penerapan pembelajaran realistik dapat meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran ekonomi. Siswa kelas VIIc SMP Negeri 2 Alas Barat tahun pelajaran 2010/2011.

BAB III

METODE PENELITIAN

.

A. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Metode dalam penelitian merupakan bagian yang sangat penting dalam penyusunan karya ilmiah mempunyai tujuan yang jelas serta disusun secara sistematis dengan metode atau sistem yang tepat untuk mencapai kebenaran ilmiah. Suatu penelitian tanpa menggunakan metode yang jelas dan pasti, maka nilai ilmiah yang diperoleh perlu diragukan atau disangsikan (IB Netra, 1974).

Jadi metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Karena peneliti sudah tahu permasalahannya dan ingin melakukan pendekatan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru atau peneliti didalam kelasnya sendiri untuk melakukan refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi lebih meningkat, (Wardhani, dkk; 2007). Metode penelitian kelas ini menekankan pada satu kajian yang benar dari situasi alamiah kelas.

2. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yaitu semua proses yang dilakukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian, (Nazir, 1999). Rancangan penelitian tindakan kelas terdiri dari 2 siklus dengan beberapa tahapan dalam setiap siklusnya, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi dan refleksi. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai pada faktor-faktor yang ingin diselidiki. Secara rinci, rancangan tindakan untuk setiap tahap, dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Perencanaan

Perencanaan merupakan prakondisi belajar tuntas yang dikenal sebagai strategi Bloom Block, (Oemar Hamalik,2009; 88). Pada tahap perencanaan dilakukan kegiatan sebagai berikut:

1) Membuat skenario pembelajaran .

2) Membuat rencana pembelajaran pembelajaran ekonomi.

3) Menyiapkan lembar observasi.

4) Menyiapkan tes hasil belajar dalam bentuk essay untuk mengetahui hasil belajar siswa.

b. Pelaksanaan tindakan

Pelaksanaan tindakan yaitu sesuatu yang dilakukan dalam melaksanakan sebuah tindakan. Kegiatankegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:

1) Melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan berpedoman pada skenario pembelajaran.

2) Memberikan permasalahan yang akan di bahas.

3) Melaksanakan observasi pada setiap tahap.

4) Menganalisis hasil observasi dan hasil evaluasi pada setiap tahap.

c. Observasi

Observasi adalah pengamatan atau peninjauan secara cermat. Semua aktivitas siswa yang dicatat dalam lembar observasi yang telah disiapkan., pencatatan dilakukan oleh guru pendamping. Untuk perilaku siswa yang sama muncul lebih dari satu kali dianggap satu kali. Pada tahap akhir dilakukan evaluasi hasil belajar untuk mengetahui pemahaman atau penguasaan siswa terhadap konsep yang dipelajari secara individu.

d. Evaluasi

Evaluasi adalah penilaian, dimana setelah pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilakukan evaluasi untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal ulangan.

e. Refleksi

Refleksi adalah timbal balik atau pantulan di luar rencana atau kemauan; pantulan di luar kesadaran sebagai jawaban suatu hal atas kegiatan yang dating dari luar. Refleksi dilakukan dengan memperhatikan analisis data observasi dan evaluasi serta mengkaji kelebihan, kekurangan, dan hambatan yang muncul serta untuk mendapatkan alternatif pemecahan masalah yang terbaik. Adapun kekurangan dan hambatan-hambatan selama proses pembelajaran, selanjutnya diadakan perbaikan untuk pelaksanaan proses pembelajaran pada tahap berikutnya.B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini bertempat di SMP Negeri 2 Alas Barat Kecamatan Alas Barat Kabupaten Sumbawa Besar dan akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan September 2010.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi merupakan wilayah yang dikenai generalisasi terdiri atas objek dan subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik yang sama (salmiyah 2007). Pendapat lain mengatakan bahwa seluruh individu yang menjadi subjek penelitian yang nantinya akan dikenai generalisasi disebut populasi (Netra, 1974 : 10).

Berdasarkan pendapat di atas, maka jelas bahwa populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang akan menjadi perhatian peneliti dan berfungsi sebagai sumber data.

Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VII SMP Negeri 2 Alas Barat tahun pelajaran 2010/2011.yang yang terdiri III kelas tiap kelas berjumlah 22 siswa, sehingga jumlah seluruh siswa 66 siswa.2. Sampel Penelitian

Sampel merupakan bagian dari populasi. Sehubungan dengan hal ini, suatu pendapat mengatakan jika kita akan meneliti sebagian dari populasi maka disebut penelitian sampel, karena sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Suharsimi, 2002 : 109). Pada penelitian ini, karena jumlah populasi terditi dari empat kelas, maka sebagian daerah populasi dipakai sebagai sampel yaitu 22 siswa.

Adapun tehnik pengambilan sempel pada penelitian ini adalah (Part of Sample), sehingga subjek yang diambil sebagai sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIc SMP Negeri 2 Alas Barat tahun pelajaran 2010/2011.

D. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan pada kelas dimana peneliti melakukan kegiatan pembelajaran , yaitu

pada siswa kelas VIIc SMP Negeri 2 Alas Barat semester 1 tahun pelajaran 2010/2011 dengan siswa 22 orang yang heterogen dengan kelas lainnya.

E. Sumber Data

1. Data Tentang Prestasi Belajar

Data yang bersumber dari siswa SMP Negeri 2 Alas Barat berupa data kualitatif yang diperoleh dari hasil evaluasi proses pembelajaran.

2. Prestasi Belajar

Data yang bersumber dari guru berupa data kuantitatif diperoleh menggunakan lembar observasi oleh observer selama kegiatan pembelajan berlangsung.F. Tehnik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan (Nazir, 1983). Teknik pengumpulan data merupakan cara untuk mengumpulkan data. Data yang dikumpulkan harus sesuai dengan sifat dan karakteristik penelitian yang dilaksanakan.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, adalah:

1. ObservasiObservasi adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diamati/diselidiki.

Observasi ini berisi tentang kemampuan yang diamati terhadap langkah pembelajaran. Teknik yang direncanakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data mengenai aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan tujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran sudah sesuai dengan scenario yang telah dibuat, selain itu pula, dapat dijadikan sebagai acuan untuk melihat perkembangan dan tanggapan siswa setelah diberi perlakuan. 2. TesTes adalah alat ukur yang diberikan kepada individu untuk mendapatkan jawaban yang diharapkan. Baik secara tertulis atau lisan atau secara perbuatan (Sudjana, 2002).

Tes yang dipergunakan untuk mempermudah dalam mendapatkan data yang diinginkan dalam penelitian ini ekonomi dengan penerapan pendekatan realistik tentang materi tindakan yang dilakukan dengan memberi soal tes tulisan sebanyak 4 soal untuk seluruh siswa. Hal ini dilakukan untuk mengetahui prestasi belajar siswa Suharsimi Arikunto (2002), mengemukakan bahwa tekhnik pengumpulan data atau metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian (Ridwan 2004), mewujudkan bahwa metode adalah suatu kata yang bersifat abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda tetapi dapat dilihat kegunaannya melalui angket, wawancara, pengamatan ujian (tes), dokumentasi, dan lain sebagainya. Yang dapat digunakan sebagai cara dalam mengumpulkan data. Sedangkan instrumen penelitian menurut Arikunto, (2002) adalah alat atau pasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih muda dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematik sehingga lebih mudah diolah. Ridwan (2004), mengartikan instrumen sebagai alat bantu yang merupakan sasaran yang dapat diwujudkan dalam benda. adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi (pengamatan dan tes).

Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penelitian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak-anak sehingga menghasilkan suatu nilai tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai yang digapai oleh anak lain atau dengan nilai status yang ditetapkan, tes digunakan untuk mengumpulkan data prestasi belajar siswa. Model tes dipakai yakni: esay

G. Instrumen PenelitianInstrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar lebih mudah untuk mendapatkan hasil yang lebih baik serta cermat, sistematis agar mudah diolah, dalam mencapai tujuan,(Arikunto, 2002). Dalam instrument penelitian ini di laksanakan dengan 2 siklus untuk memperoleh data, dengan perencanaan apabila pada siklus pertama tidak mencapai hasil ketuntasan klasikal yang sudah ditentukan yaitu 85% akan dilanjudkan kesiklus ke 2 (dua) untuk mencapai hasil evaluasi ketuntasan klasikal. Dan jika pada siklus ke 2 ini berhasil mencapai ketuntasan klasikal maka penelitian ini akan diberhentikan karena sudah mencapai hasil yang diinginkan. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dalam 2 tahap atau 2 siklus yang harus dilakukan dengan 2 instrumen penelitian yaitu:

1. ObservasiPengamatan atau observasi adalah instrument yang dipakai sebagai alat bantu dalam melakukan observasi terfokus, contoh daftar cek (check list). Lembar observasi ini berupa langkah-langkah yang digunakan untuk memperoleh data tentang prestasi belajar dalam penerapan pembelajaran realistik . Adapun indikator pelaku yang diteliti adalah:

a. Indikator aktivitas siswa sebagai berikut :

1. Antusias siswa dalam mengikuti pelajaran

a) Siswa memperhatikan selama proses belajar mengajar berlangsung

b) Siswa tidak mengerjakan pekerjaan lain

c) Siswa Spontan mengerjakan tugas yang diberikan guru

2. Respon siswa dalam pembelajaran

a) Siswa bertanya pada guru

b) Siswa aktif menjawab pertanyaan guruc) Siswa aktif mengemukakan pendapat pada guru

d) Siswa berusaha menjawab pertanyaan dengan benar3. Aktivitas siswa dalam diskusi

a) Siswa mengemukakan pendapat dalam diskusi

b) Siswa menanggapi pendapat dari temannya

c) Siswa membantu meperbaiki kesalahan jawaban temannya

d) Siswa dapat menyimpulkan hasil diskusi

b. Indikator aktivitas guru sebagai berikut :

1. Perencanaan persiapan penyelenggaraan pembelajaran

2. Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa

3. Menyajikan informasi

4. Mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar

5. Membimbing kelompok bekerja dan belajar

6. Membuat rangkuman materi

2. Tes

Istilah tes digunakan untuk menunjuk semua jenis instrumen yang dirancang untuk nmengukur kemampuan seseorang dalam bidang tertentu,

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta serta alat yang digunakan untuk bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa tes essay (Arikunto, 2006)

Bentuk soal-soal tes adalah yang mengacu pada buku paket atau materi kelas VII Semester I. Soal-soal tersebut dalam penelitian ini memenuhi validitas isi (content validity), karena soal tes diperoleh dari buku paket SMP kelas VII semester I.H. Teknik analisis Data

1. Analisis Data Kualitatif

Analisis data kualitatif digunakan untuk melakukan interpretasi terhadap hasil observasi pembelajaran yang diperoleh dari lembar observasi. Lembar observasi disusun untuk mengetahui aktivitas siswa dan peneliti di dalam kelas apabila diterapkan pendekatan pembelajaran indikator. Keaktifan siswa dapat diketahui melalui observasi terhadap prilaku siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Pedoman observasi terdiri dari beberapa indikator, dan dianlisis secara diskriptif untuk setiap siklus.

a. Data Aktivitas Siswa

Data aktivitas siswa dianalisis dengan cara :

1. Menentukan skor yang diperoleh siswa, skor setiap individu tergantung banyaknya prilaku yang dilakukan siswa dari sejumlah prilaku yang diamati.

2. Menghitung skor aktivitas belajar siswa dengan rumus :

M =

keterangan :

M = Skor rata-rata aktivitas belajar siswa

Xi = Jumla skor aktivitas belajar siswa

N = Banyaknya indicator3. Kriteria untuk aktivitas belajar siswa dicari dengan rumus :

4,1 M 5 (Sangat Aktif)

3,1 M 4 (Aktif)

2,1 M 3 (Cukup Aktif)

1,1 M 2 (Kurang Aktif)

0 M 1 (Sangat kurang aktif)

b. Data Aktivitas Guru

Setiap indikator perilaku guru pada penilaiannya mengikuti aturan sebagai berikut :2. Analisis Data Kuantitatif

Digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dan peningkatan yang terjadi pada siklus berikutnya. Setelah memperoleh data hasil belajar, maka data tersebut dianalisis dengan mencari ketuntasan belajar baik ketuntasan individu maupun ketuntasan klasikal.

a. Ketuntasan Individu

Secara individu, siswa dikatakan tuntas apabila setiap siswa memperoleh nilai 65.b. Ketuntasan Klasikal

Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah tercapainya ketuntasan klasikal dengan rumus :

Keterangan :

P = Porsentase ketuntasan belajar secara klasikal

S = Jumlah siswa yang memperoleh nilai 65.

N = Jumlah siswa yang mengikuti tes.

Kelas dikatakan tuntas secara klasikal terhadap materi pelajaran yang diajarkan jika ketuntasan klasikal mencapai 85 % (Sripatmi, 2005).Untuk menganalisa data yang diperoleh dilakukan dengan menggunakan metode prosentase ketuntasan belajar siswa.

Indikator keberhasilan secara klasikal :

P = x 100%

P = proporsi ketuntasan secara klasikal

n' = jumlah seluruh siswa yang memperoleh nilai minimum 65

n = jumlah seluruh siswa yang mengikuti tes

Jika p > 85% maka belajar dikatakan tuntas secara klasikal

Jika p < 85% maka belajar dikatakan belum tuntas I. Indikator Kerja

1. Indikator Aktivitas Siswa

Pelaksanaan tindakan dikatakan berhasil jika aktivitas siswa tergolong aktif berdasarkan pedoman aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran, berikut ini adalah tabel kategori aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Tabel 3.9

Kategori Aktivitas siswa dalamproses pembelajaran.Nilai intervalKategori

4,1 M 5

3,1 M 4

2,1 M 3

1,1 M 2

0 M 1Sangat aktif

Aktif

Cukup aktif

Kurang aktif

Sangat kurang aktif

Sumber: Data evaluasi guru 2. Ketuntasan Individu

Secara individu, siswa dikatakan tuntas apabila setiap siswa memperoleh nilai 65.

3. Ketuntasan Kelas

Suatu kelas dikatakan telah mencapai ketuntasan, jika banyak siswa yang mencapai ketuntasan individual sekurang-kurangnya 85% dari jumlah seluruh siswa dalam kelas tersebut. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan dalam dua siklus yang bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dan untuk meningkatkan prestasi belajar serta pemahaman pada pokok bahasan motif dan prinsip ekonomi pada siswa kelas VIIc SMP Negeri 2 Alas Barat, yang terdiri dari 22 siswa dengan menggunakan penerapan pembelajaran realistik.

Berikut ini akan diuraikan data hasil penelitian yang diperoleh dari hasil observasi dan evaluasi pada tiap-tiap siklus. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif, data kuantitatif diperoleh dari hasil evaluasi yang akan memberikan gambaran tentang berhasil atau tidaknya proses pembelajaran yang diukur dengan ketuntasan belajar siswa secara klasikal. Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi yang akan memberikan gambaran tentang kegiatan siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung.Adapun analisis data dari tiap-tiap siklus dipaparkan sebagai berikut:1. Siklus I

Proses belajar mengajar pada siklus I berlangsung dalam dua kali pertemuan, dimana tiap-tiap pertemuan berlangsung selama 2 jam pelajaran, adapun kegiatan pada siklus I yang terdiri dari 5 tahap yaitu :

a. Perencanaan

Pada tahap ini dilakukan beberapa persiapan sebelum penelitian tindakan kelas dilakukan, persiapan itu meliputi pembuatan :

1. Skenario pembelajaran

2. Lembar kerja siswa

3. Lembar observasi

4. Merencanakan analisis hasil tes

b. Pelaksanaan TindakanProses belajar mengajar dilaksanakan 2 kali pertemuan, tiap kali pertemuan terdiri dari 2 jam pelajaran atau 2 x 40 menit, adapun materi yang dibahas dalam siklus I adalah :

1. Pertemuan Pertama

Dalam pertemuan pertama peneliti membahas mengenai tindakan ekonomi berdasarkan motif ekonomi dalam berbagai kegiatan sehari-hari, disini guru menyampaikan materi berdasarkan skanario pembelajaran yang telah disusun sebelumnya dalam tahap perencanaan. Dalam menerapkan pembelajaran realistik kegiatan pembelajaran ini berpusat pada guru, artinya bagaimana guru untuk memberikan contoh-contoh yang ada hubungannya dengan kehidupan nyata siswa, sehingga siswa lebih mudah untuk memahaminya. Disini siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang pembagiannya berdasarkan kenerja akademik, mereka dalam hal ini adalah nilai raport dan tiap-tiap kelompok beranggotakan lima atau enam orang. Dengan menerapkan pembelajaran realistik materi yang diberikan hanyalah garis besarnya saja, artinya siswa dituntut untuk menemukan sendiri dengan mengkaitkan materi tersebut dengan kehidupan mereka sehari-hari.

2. Pertemuan Kedua

Pada pertemuan kedua, peneliti memberikan tugas berupa latihan-latihan soal yang masih berkisar pada pertemuan sebelumnya, yaitu masalah pembagian tindakan ekonomi dalan berbagai kegiatan sehari-hari, dimana guru memberikan soal-soal dan siswa mengerjakan soal tersebut dengan tujuan memantapkan pemahaman siswa dalam materi tersebut, disini guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk bertanya baik kepada teman sebangku maupun kepada peneliti sendiri dengan tujuan agar siswa berani mengungkapkan permasalahan yang mereka hadapi, karena pengakuan dari siswa sendiri bahwa sebelumnya mereka tidak diberi kesempatan untuk bertanya selama proses belajar berlangsung, dan setelah itu guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan hasil dari latihan yang mereka kerjakan untuk dikerjakan ke papan tulis dan sementara teman yang lain menanggapi hasil dari temannya. Pada tahap akhir guru tidak lupa mengingatkan kepada siswa untuk mengulang kembali dirumah tentang materi yang mereka peroleh hari ini karena pertemuan berikutnya peneliti akan mengadakan evaluasi tentang materi tersebut dengan tujuan peneliti ingin mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan oleh peneliti.c. Hasil Observasi Hasil obsevasi diperoleh dari pengamatan yang dilakukan guru pendamping dengan mengisi belangko kosong berupa lembar observasi untuk merekam jalannya proses pembelajaran. Adapun hasil yang diperoleh :

1. Menggunakan waktu masih kurang sesuai dengan rencana kegiatan yang dilakukan

2. Contoh soal yang diberikan kurang banyak dan kurang berpariasi.

3. Masih kurang dalam memberikan bimbingan kepada kelompok-kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelsaikan soal-soal yang didiskusikan.

4. Guru belum menanyakan rangkuman materi yang telah dipelajari.Dari hasil analisis pembelajaran siswa pada siklus pertama, selama proses belajar mengajar berlangsung yang terdiri dari 2 kali pertemuan dapat diperoleh hasil aktifitas siswa sebagai berikut:

Siswa kurang aktif = 20 %Siswa cukup aktif = 60 %Siswa aktif = 20 %

d. Hasil EvaluasiTest evaluasi hasil prestasi belajar dilaksanakan hari rabu tanggal 12 juli 2010, dengan hasil sebagai berikut :Tabel 4.1

Data hasil evaluasi siklus I

N0Nilai Rata-Rata SiswaJumlah SiswaJumlah siswa yang tuntasJumlah siswa yang tidak tuntasDaya serap klasikal

82,452217577,27 %

Sumber: hasil evaluasi siswaHasil ini belum mencapai. 85% yang menunjukkan bahwa ketuntasan belajar klesikal belum tercapai, hasil lengkapnya bisa dilihat pada lampiran analisis hasil evaluasi (terlampir)

e. Refleksi

Dilihat dari hasil yang diperoleh dari siklus I, masih belum mencapai hasil yang diharapkan. Adapun kekurangan-kekurangan yang terdapat pada siklus I dan akan diperbaiki pada siklus yang ke-2 diantaranya yaitu :

1. Menggunakan waktu harus sesuai dengan rencana kegiatan yang dilakukan

2. Contoh soal yang diberikan akan ditambak dan berpariasi.

3. Akan memberikan bimbingan yang optimal kepada kelmpok-kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelsaikan soal-soal yang didiskusikan.

4. Guru akan menanyakan rangkuman materi yang telah dipelajari kepada siswa.2. Siklus II

Proses belajar mengajar pada siklus II berlangsung dalam dua kali pertemuan, dimana tiap-tiap pertemuan berlangsung selama 2 jam pelajaran, adapun kegiatan pada siklus I yang terdiri dari 5 tahap yaitu :a. Perencanaan

Pada tahap ini dilakukan beberapa persiapan sebelum penelitian tindakan kelas dilakukan, persiapan itu meliputi pembuatan :

1. Lembar kerja siswa

2. Lembar observasi

3. merencanakan analisis hasil tesb. Pelaksanaan TindakanProses belajar mengajar dilaksanakan 2 kali pertemuan, tiap kali pertemuan terdiri dari 2 jam pelajaran atau 2 x 40 menit, adapun materi yang dibahas dalam siklus II adalah :

a. Pertemuan Pertama

Dalam pertemuan pertama untuk siklus ke-II peneliti membahas mengenai prinsip-prinsip ekonomi dalam kegiatan sehari-hari. Seperti hari-hari sebelumnya, guru sebelum menyampaikan materi selalu berdoa dan memberikan motivasi kepada siswa. Di dalam siklus II ini, guru berusaha memperbaiki diri dari kekurangan-kekurangan pembelajaran sebelumnya, yang alhamdulillah apa yang dilaksanakan sesuai dengan yang direncana. Di dalam pembelajaran siswa dibagikan ke dalam beberapa kelompok, dimana tiap-tiap kelompok terdiri dari 5 atau 6 orang siswa dan selama diskusi kelompok berlangsung peneliti selalu mengarahkan siswa tentang manfaat kita dalam bekerja sama dan mendekati kelompok-kelompok yang mengalami kesulitan dalam diskusi tersebut, dan siswa pun bersemangat dan berlombah-lombah dalam memperoleh hasil diskusi mungkin karena apa yang mereka dapatkan pengin mengetahui lebih jauh tentang materi yang diajarkan.

Dan hasil diskusinya pun selesai tepat pada waktunya, kemudian hasil diskusi dipersentasikan di depan kelas dan selama persentasi berlangsung, malahan ada dari salah satu kelompok yang pengin mempersentasikan secara berebutan, gurupun memberikan kembali pengertian tentang kepercayaan dalam bekerja sama, dan siswa itu pun bergembira dengan hasil yang mereka peroleh.

Sebelum pelajaran berakhir peneliti tidak lupa memberikan soal-soal berupa PR untuk dibawah pulang, sehingga apa yang mereka peroleh hari ini tidak di tinggalkan begitu saja di kelas melainkan dibungkus untuk dijadikan oleh-oleh buat di rumah.b. Pertemuan Kedua

Pada pertemuan kedua, sebelum memulai pelajaran peneliti menanyakan kepada siswa tentang hasil pekerjaan rumah yang diberikan pada pertemuan sebelumnya dan siswa pun mengutarakan kendala-kendala yang dihadapi dalam mengerjakan tugas tersebut dan permasalahan tersebut dibahas secara bersama-sama di papan tulis, dan setelah itu peneliti memberikan tugas berupa latihan-latihan soal yang masih berkisar pada pertemuan sebelumnya, yaitu masalah-masalah yang berkaitan dengan prinsip ekonomi, dimana guru memberikan soal-soal dan siswa mengerjakan soal tersebut dengan tujuan memantapkan pemahaman siswa dalam materi tersebut, disini guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk bertanya baik kepada teman sebangku maupun kepada peneliti sendiri dengan tujuan agar siswa berani mengungkapkan permasalahan yang mereka hadapi, dan setelah itu guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan hasil dari latihan yang mereka kerjakan untuk dikerjakan ke papan tulis dan sementara teman yang lain menanggapi hasil dari temannya. Pada tahap akhir guru tidak lupa mengingatkan kepada siswa untuk mengulang kembali dirumah tentang materi yang mereka peroleh hari ini karena pertemuan berikutnya peneliti akan mengadakan evaluasi tentang materi tersebut dengan tujuan peneliti ingin mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan oleh peneliti.c. Hasil Observasi Hasil obsevasi diperoleh dari pengamatan yang dilakukan guru pendamping dengan mengisi belangko kosong berupa lembar obserpasi untuk merekam jalannya proses pembelajaran. Adapun hasil yang diperoleh :Membangkitkan minat belajar siswa sehingga lebih termotivasi dan lebih siap dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh guru.

1. Komuniksi dan kerja sama pada kelompok akan dtingkatkan, dan siswa yang berkemampuan tinggi akan bekerja sama dengan temannya yang berkemampuan rendah. Demikian juga sebaliknya yang berkemampuan rendah akan bertanya kepada teman yang berkemampuan, maka pada siklus yang ke-III menekankan kepada tiap-tiap kelompok agar mau membantu atau mengajari temannya.

2. Pemberian tugas dalam kelompok akan terlihat sehingga tugas kelompok tidak dikuasai oleh satu orang saja, dan diharapkan guru dapat menjalankan tentang pembagian tugas dalam kelompok agar semua anggota dalam kelompok memiliki tanggung jawab bersama.

3. Guru akan pemberian motipasi atau penghargaan kepada kelompok-kelompok yang aktif di dalam berdiskusi.Dari hasil analisis pembelajaran siswa pada siklus kedua, selama proses belajar mengajar berlangsung yang terdiri dari 2 kali pertemuan dapat diperoleh hasil aktifitas siswa sebagai berikut:

siswa kurang aktif = 5 %

siswa cukup aktif = 50 %

siswa aktif = 45 %d. Hasil Evaluasi

Test evaluasi hasil prestasi belajar dilaksanakan hari rabu tanggal 26 juli 2010, dengan hasil sebagai berikut :Tabel 4.2

Data hasil evaluasi siklus II

N0Nilai Rata-Rata SiswaJumlah SiswaJumlah siswa yang tuntasJumlah siswa yang tidak tuntasDaya serap klasikal

185,27 2220290,91 %

Sumber: hasil evaluasi siswaDari hasil tabel evaluasi di atas menunjukan bahwa daya serap secara klaksikal sudah melebihi dari target yang ditetapkan yaitu 85% ini menunjukkan bahwa penelitian sudah berhasil dan sikluspun sudah diberhentikan sampai disini, dan hasil leengkapnya bisa dilihat pada lampiran analisis hasil evaluasi (terlampir)e. Refleksi

Setelah melihat dari hasil observasi yang diperoleh pada siklus II, kekurangan-kekurangan pada siklus ke-I dapat teratasi, sehingga hasil evaluasi siklus ke II lebih besar dari standar ketuntasan klasikal 85 % dan aktifitas siswa tergolong aktif, maka tujuan penelitian ini dinyatakan tercapai, sehingga hipotisis diterima dan siklus penelitian ini dihentikan.B. PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan sesuai dengan prosedur penelitian tindakan kelas yang telah ditetapkan yaitu diawali dengan perencanaan, pelaksanaan, observasi, evaluasi dan refleksi yang telah dipaparkan pada hasil penelitian.

Dari hasil observasi terlihat bahwa siswa lebih cepat memahami mata pelajaran yang diajarkan, hal ini disebabkan karena dengan menerapkan prembelajaran realistik, artinya dengan contoh-contoh yang berhubungan dengan kehidupan nyata. siswa sangat cepat menangkap inti dari pelajaran yang diajarkan. Rata-rata tiap kelompok aktif dalam kerjasama dengan teman-temannya, meskipun ada beberapa kelompok yang anggotanya kurang aktif, hal ini disebabkan karma ada siswa yang bermasalah dan tidak mau berbagi tugas dengan teman kelompoknya.

Sesuai hasil pengembangan yang telah dilakukan dari siklus I sampai dengn siklus II terdapat peningkatan prestasi belajar pada siswa kelas VIIc SMP Negri 2 Alas Barat. Pada siklus 1 ketuntasan klasikalnya mencapai 77,27% dan pada siklus ke 2 ketuntasan klasikalnya meningkat dari 77,27% menjadi 90,91% hal ini sejalan dengan meningkatnya motivasi belajar siswa, meningkatkan aktivitas dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, adanya dorongan kepada siswa untuk senantiasa selalu aktif berinteraksi dengan guru dan sesama kelompok diskusi sehingga mampu untuk membuat kesimpulan sendiri serta kemampuan guru mengelola kelas dengan baik dan menciptakan suasana kelas yang kondusif. Digambarkan oleh hasil keaktifan siswa dari 20% pada siklus I menjadi 45%pada siklus ke IIDari uraian diatas dapat diketashui bahwa dengan menerapkan pembelajaran realistik dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, Sebab melalui penerapan pembelajaran realistik, siswa dapat memahami masalah pembelajaran terutama untuk konsep-konsep yang sulit, karena siswa dihadapkan pada masalah-masalah yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari sehingga pada akhirnya siswa tidak lagi kesulitan menghadapi soal-soal cerita yang berhubungan dengan prinsip ekonomi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARANI. KESIMPULANBerdasarkan hasil data yang dikemukakan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran realistik dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pokok bahasan tindakan, motif dan prinsip ekonomi pada siswa kelas VIIc SMP Negeri 2 Alas Barat. Peningkatan prestasi belajar siswa bisa dilihat dari hasil evaluasi dimana dari tiap-tiap siklus selalu terjadi peningkatan, baik dari nilai hasil rata-rata siswa maupun penuntasan secara klasikal. pada siklus I pembelajaran sudah cukup aktif dengan skor aktivitas siswa Pertemuan pertama yang diperoleh sebesar 2,25 dan pertemuan ke 2 sebesar 2,85, sementara dari hasil evaluasi belajar diperoleh nilai rata-rata 82,45 dan ketuntasan klasikal mencapai 77,27 %. Sementara pada siklus II, skor aktivitas siswa pada pertemuan pertama sebesar 3,93 dan pada pertemuanke 2 sebesar 4,2. dan prestasi belajar siswa meningkat dengan skor rata-rata 85,27 dan ketuntasan klasikal sebesar 90,91%, Dari hasil evaluasi pada siklus ke 2 di atas menunjukan bahwa daya serap secara klasikal sudah melebihi dari target yang ditetapkan yaitu 85% ini menunjukkan bahwa penelitian sudah berhasil dan sikluspun diberhentikan.Tercapainya ketuntasan belajar klasikal ini disebabkan karena adanya usaha dari siswa dan guru untuk memperbaiki proses belajar mengajar menjadi lebih baik, sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soalsoal yang berkaitan dengan tindakan, motif dan prinsip ekonomi terasa lebih mudah.

II. SARANBerdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Sebaiknya guru menerapkan pembelajaran realistik, karena akan lebih mudah bagi siswa untuk dipahami karena kita kaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata di lingkungan sehari-hari siswa.

2. Penerapan Pembelajaran realistik pada pokok bahasan tindakan ekonomi berdasarkan motif dan prinsip ekonomi akan lebih cepat dipahami apabila dikombinasikan dengan metode cerama, metode bimbingan dan metode pemberian tugas.

3. Diharapkan pada penelitian yang lain mengkombinasikan ketiga metode tersebut dengan menerapkan pembalajaran realistik pada pokok bahasan yang lain bila diperlukan, dan bila perlu pada sekolah-sekolah yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah. 2009.maningkakan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan organ manusia drngan menggunakan pembelajaran kontekstual. Skripsi STKIP.

Arikonto Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.Djamarah, Syaifulbahri. 1994. Prestasi dan Kompetensi Guru. Surabaya : Usaha Nasional

Depdiknas. 2008. Pembelajaran Motif dan Prinsip Ekonomi. Jakarta : Balitbang

Hasan, Alwi. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Kamus besar Bahasa Indonesia, 1998. Jakarta : Balai Pustaka

Laila Fitrianingsih. 2003. efektifitas pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar matematika :Skripsi STKIP

Madya, Suwarsih. 2007. Teori dan Praktek Penelitian Tindakan. Jakarta : CV. Rajawali.

Moejono.1996. tentang prestasi belajar, jakarta : S.P. Rajawali

Muhzana. 2006. Pengantar Statistik Pendidikan. Selong : STKIP Hamzanwadi

Numan, Sumantri, Muhammad. 2001. Pembaruan Pendidikan IPS. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.

Nurkanca, wayan. 1981. evaluasi hasil belajar, surabaya : Usaha Nasional

Purwanto, Ngalih, M. 2002. Prinsip-prinsip dan Tehnik Evaluasi Pengajaran. Bandung : PT Remaja Rosda Karya

Purwanto Ngalim, 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Roestiyah, N. K. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rieneka Cipta

Sardiman. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : CV. Rajawali

Suryabrata, Sumadi. 1984. Psikologi Pendidikan. Jakrta : CV. Rajawali

Syamsudin, Abidin. 2003. Psikologi Kependidikan. Jakarta : PT. Bumi Aksara

Sardiman. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja grafindo Persada

Wiriaatmadja, Rochiani. 2006. Metode Penelitian Tindakan kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya

Wijaya. 1992. Beljar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta : Rieneka Cipta

PAGE

_1342595003.unknown

_1342595753.unknown

_1342593305.unknown

_1342593549.unknown

_1332327084.unknown