165536406 LP Apendisitis

  • Upload
    yanwiby

  • View
    352

  • Download
    15

Embed Size (px)

Citation preview

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    1/23

    LAPORAN PENDAHULUAN

    APENDISITIS

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    2/23

    1. Definisi/Pengertian

    a. Peradangan apendiks yang mengenai semua lapisan dinding organ, dimana

    patogenis utamanya diduga karena obstruksi pada lumen yang disebabkan oleh

    fekalit (feses keras yang terutama disebabkan oleh serat).Patofisiologi Edisi 4 hal

    448.

    b.

    Appendisitis adalah inflamasi akut pada appendisits verniformis dan merupakan

    penyebab paling umum untuk bedah abdomen daruratBrunner & Suddart, 2002.

    c. Appendisitis adalah merupakan peradangan pada appendik periformil, yaitu

    saluran kecil yang mempunyai diameter sebesar pensil dengan panjang 2-6 inci.

    Lokasi appendik pada daerah illiaka kanan, dibawah katup illiocaecal, tepatnya

    pada dinding abdomen dibawah titik Mc burney.

    Gambar 1. Apendisitis

    2. Epidemiologi

    Insiden apendisitis lebih tinggi pada negara maju daripada negara berkembang,

    namun dalam tiga sampai empat dasawarsa terakhir menurun secara bermakna, yaitu

    100 kasus tiap 100.000 populasi mejadi 52 tiap 100.000 populasi. Kejadian ini

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    3/23

    mungkin disebabkan perubahan pola makan, yaitu negara berkembang berubah

    menjadi makanan kurang serat. Menurut data epidemiologi, apendisitis jarang terjadi

    pada balita, meningkat pada pubertas, dan mencapai puncaknya pada saat remaja dan

    awal 20-an, sedangkan angka ini menurun pada menjelang dewasa. Insiden apendisitis

    sama banyaknya antara wanita dan laki-laki pada masa prapuber, sedangkan pada

    masa remaja dan dewasa muda rationya menjadi 3:2, kemudian angka yang tinggi ini

    menurun pada pria.

    3. Penyebab/ Factor Predisposisi

    Apendisitis akut dapat disebabkan oleh beberapa sebab terjadinya proses radang

    bakteria yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus diantaranya Hiperplasia

    jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks, dan cacing askaris yang menyumbat. Ulserasi

    mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini. Namun ada beberapa

    faktor yang mempermudah terjadinya radang apendiks, diantaranya :

    a.

    Faktor sumbatan

    Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendisitis (90%)

    yang diikuti oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hyperplasia

    jaringan lymphoid sub mukosa, 35% karena stasis fekal, 4% karena benda

    asing dan sebab lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh parasit dan cacing.

    Obsrtruksi yang disebabkan oleh fekalith dapat ditemui pada bermacam-

    macam apendisitis akut diantaranya ; fekalith ditemukan 40% pada kasus

    apendisitis kasus sederhana, 65% pada kasus apendisitis akut ganggrenosa

    tanpa ruptur dan 90% pada kasus apendisitis akut dengan rupture.

    b. Faktor Bakteri

    Infeksi enterogen merupakan faktor pathogenesis primer pada apendisitis

    akut. Adanya fekolith dalam lumen apendiks yang telah terinfeksi

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    4/23

    memperburuk dan memperberat infeksi, karena terjadi peningkatan stagnasi

    feses dalam lumen apendiks, pada kultur didapatkan terbanyak ditemukan

    adalah kombinasi antara Bacteriodes fragililis dan E.coli, lalu Splanchicus,

    lacto-bacilus, Pseudomonas, Bacteriodes splanicus. Sedangkan kuman yang

    menyebabkan perforasi adalah kuman anaerob sebesar 96% dan aerob

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    5/23

    4. Manifestasi Klinis/tanda dan gejala

    Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis antara lain :

    a.

    Nyeri perut.

    Nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau

    periumbilikus. Nyeri perut yang klasik pada apendisitis adalah nyeri yang

    dimulai dari ulu hati, lalu setelah 4-6 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan

    bawah, ke titik Mc Burney. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas

    letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Namun pada beberapa

    keadaan tertentu (bentuk apendiks yang lainnya), nyeri dapat dirasakan di

    daerah lain (sesuai posisi apendiks). Ujung apendiks yang panjang dapat

    berada pada daerah perut kiri bawah, punggung, atau di bawah pusar. Namun

    terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi terdapat

    konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini

    dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi.

    b. Anoreksia (penurunan nafsu makan).

    c. Mual dan muntah

    Dapat terjadi, tetapi gejala ini tidak menonjol atau berlangsung cukup lama,

    kebanyakan pasien hanya muntah satu atau dua kali.

    d.

    Keinginan BAB atau kentut.

    e. Demam

    juga dapat timbul, tetapi biasanya kenaikan suhu tubuh yang terjadi tidak lebih

    dari 1oC (37,8oC 38,8oC). Jika terjadi peningkatan suhu yang melebihi

    38,8oC. Maka kemungkinan besar sudah terjadi peradangan yang lebih luas di

    daerah perut (peritonitis).

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    6/23

    Timbulnya gejala yang bergantung pada letak apendiks ketika meradang.

    Berikut gejala yang timbul tersebut :

    a.

    Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum

    (terlindung oleh sekum),

    Tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda

    rangsangan peritoneal.

    Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat

    melakukan gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan

    mengedan.

    Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m.psoas mayor yang

    menegang dari dorsal.

    b. Bila apendiks terletak di rongga pelvis

    Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan

    timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristaltik

    meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan

    berulang-ulang (diare).

    Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih,

    dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya

    dindingnya.

    Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit

    dilakukan diagnosis, dan akibatnya apendisitis tidak ditangani tepat pada

    waktunya, sehingga biasanya baru diketahui setelah terjadi perforasi. Berikut

    beberapa keadaan dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak khas.

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    7/23

    5. Patofisiologi

    Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks oleh

    hyperplasia folikel limfoid, fecolith, benda asing, striktur akibat peradagan

    sebelumnya atau tumor.

    Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang di produksi oleh mukosa

    mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak namun elastisitas

    dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan

    tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe

    yang mengakibatkan edema, diapendesis bakteri dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah

    terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai nyeri epigastrium.

    Bila sekresi mucus berlanjut, tekanan akan terus meningkat, hal tersebut akan

    mengakibatkan obstruksi vena, udem bertambah, dan bakteri menembus dinding.

    Karena obstruksi vena dapat terbentuk thrombus yang menyebabkan timbulnya iskemi

    yang bercampur kuman yang mengakibatkan timbulnya pus. Peradangan ini dapat

    meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah

    kanan bawah. Keadaan ini disebut appendisitis supuratif akut.

    Bila kemudian aliran arteri terganggu maka akan terjadi infark dinding

    appendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini diserbut appendisitis gangrenosa.

    Bila dinding yang telah raouh ini pecah maka akan terjadi appendisitis perforasi.

    Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan

    bergerak ke arah appendiks hingga timbul suatu masa lokal yang disebut infiltrat

    appendikularis. Peradangan appendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    8/23

    PATHWAY

    http://3.bp.blogspot.com/-obUXCDNILXc/Ut2m6-2NPWI/AAAAAAAABRE/RAxmSR1KSJM/s1600/LAPORAN+PENDAHULUAN+APENDISITIS2.jpg
  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    9/23

    6. Klasifikasi

    Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni :

    1.

    Apendisitis akut, dibagi atas:

    1. Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul

    striktur lokal.

    2.

    Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah.

    2.

    Apendisitis kronis, dibagi atas:

    1. Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur

    lokal.

    2. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan

    pada usia tua.

    7. Pemeriksaan Fisik

    a. Inspeksi

    Pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal swelling, sehingga

    pada pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi perut.

    b. Palpasi

    Pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa nyeri. Dan bila

    tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah

    merupakan kunci diagnosis dari apendisitis. Pada penekanan perut kiri bawah

    akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah. Ini disebut tanda Rovsing

    (Rovsing Sign). Dan apabila tekanan di perut kiri bawah dilepaskan juga akan

    terasa nyeri pada perut kanan bawah.Ini disebut tanda Blumberg (Blumberg

    Sign).

    f. Pemeriksaan colok dubur: pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis, untuk

    menentukan letak apendiks, apabila letaknya sulit diketahui. Jika saat

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    10/23

    dilakukan pemeriksaan ini dan terasa nyeri, maka kemungkinan apendiks yang

    meradang terletak didaerah pelvis. Pemeriksaan ini merupakan kunci diagnosis

    pada apendisitis pelvika.

    g. Pemeriksaan uji psoas

    Dilakukan untuk mengetahui letak apendiks yang meradang. Uji psoas

    dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperektensi sendi panggul

    kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan.

    Bila appendiks yang meradang menempel di m. psoas mayor, maka tindakan

    tersebut akan menimbulkan nyeri.

    h. Pemeriksaan uji obturator

    Sedangkan pada uji obturator dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi

    panggul pada posisi terlentang. Bila apendiks yang meradang kontak dengan

    m.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil, maka tindakan ini

    akan menimbulkan nyeri. Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis pelvika.

    8. Pemeriksaan Diagnostik

    a. Laboratorium

    Pemeriksaan darah lengkap Ditemukan jumlah leukosit antara 10.000-

    20.000/ml (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%. Jika terjadi peningkatan

    yang lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks sudah mengalami perforasi

    (pecah).

    Test protein reaktif (CRP). Ditemukan jumlah serum yang meningkat.

    b. Radiologi

    Pemeriksaan ultrasonografi Ditemukan bagian memanjang pada tempat

    yang terjadi inflamasi pada apendiks. Cukup membantu dalam penegakkan

    diagnosis apendisitis (7197 %)

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    11/23

    CT-scan Ditemukan bagian yang menyilang dengan apendikalit serta

    perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran

    sekum. Tingkat keakuratannya 9398 %.

    9. Penatalaksanaan

    a. Bila dari hasil diagnosis positif apendisitis akut, maka tindakan yang paling tepat

    adalah segera dilakukan apendiktomi.

    Apendiktomi dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu :

    1. Cara terbuka

    2. Cara laparoskopi.

    b.

    Apabila apendisitis baru diketahui setelah terbentuk massa periapendikuler, maka

    tindakan yang pertama kali harus dilakukan adalah pemberian/terapi antibiotik

    kombinasi terhadap penderita. Antibiotik ini merupakan antibiotik yang aktif

    terhadap kuman aerob dan anaerob.

    Setelah gejala membaik, yaitu sekitar 6-8 minggu, barulah apendektomi

    dapat dilakukan.

    Jika gejala berlanjut, yang ditandai dengan terbentuknya abses, maka

    dianjurkan melakukan drainase dan sekitar 6-8 minggu kemudian

    dilakukan apendisektomi.

    Namun, apabila ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun dan

    pemeriksaan klinis serta pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan

    tanda radang atau abses setelah dilakukan terapi antibiotik, maka dapat

    dipertimbangkan untuk membatalkan tindakan bedah.

    c. Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan

    Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan

    Analgetik diberikan setelah diagnosa ditegakkan

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    12/23

    Apendektomi dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi.

    (Brunner & Suddart, 1997)

    10.

    Komplikasi yang dapat terjadi

    Komplikasi utama adalah perforasi appediks yang dapat berkembang menjadi

    peritonitis atau abses apendiks

    a.

    Tromboflebitis supuratif

    b.

    Abses subfrenikus

    c. Obstruksi intestinal

    11. Prognosis

    Diagnosis apendisitis akut harus dilakukan secara cermat dan teliti. Kesalahan

    diagnosis lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki. Hal ini disebabkan karena

    pada wanita sering timbul nyeri yang menyerupai apendisitis akut, mulai dari alat

    genital ( karena proses ovulasi, menstruasi ), radang di panggul atau penyakit

    kandungan lainnya. Hal ini sering menjadi penyebab terlambatnya diagnosis sehingga

    lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah perforasi.

    Untuk mengurangi kesalahan diagnosis, saat berada di rumah sakit dilakukan

    observasi pada penderita tiap 1-2 jam dan diagnosa baru bisa ditegakkan 8 - 12 jam

    setelah muncul keluhan.

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    13/23

    B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

    1. Pengkajian

    a)

    Identitas klien, Merupakan biodata klien yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin,

    agama, suku bangsa/ras, pendidikan, bahasa yang dipakai, pekerjaan, penghasilan

    dan alamat. Jenis kelamin dalam hal ini klien adalah laki - laki berusia lebih dari 50

    tahun.

    b)

    Keluhan utama

    Keluhan utama nyeri bekas luka operasi.

    c) Riwayat penyakit sekarang

    Timbul keluhan nyeri perut, nyeri dirasakan seperti tertusuk tusuk, nyeri dirasakan

    pada luka bekas operasi dengan skala (0-10) dan nyeri timbul memberat ketika

    bergerak.

    d)Riwayat penyakit dahulu

    Kebiasaan makan makanan rendah serat yang dapat menimbulkan konstipasi

    sehingga meningkatkan tekanan intrasekal yang menimbulkan timbulnya sumbatan

    fungsi appendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman folar kolon sehingga

    menjadi appendisitis akut.

    e) Pola pola fungsi kesehatan

    1)

    Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

    Timbulnya perubahan pemeliharaan kesehatan karena di rawat di rumah sakit.

    2)Pola nutrisi dan metabolisme

    Klien yang di lakukan anasthesi tidak boleh makan dan minum sebelum

    flatus.

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    14/23

    3)Pola eliminasi

    Setelah menjalani post operasi appendiks, pasien masih menggunakan dower

    chateter karena masih dalam pengaruh anastesi, dan pasien akan dilatih untuk

    berkemih.

    4)Pola aktivitas dan latihan

    Adanya keterbatasan aktivitas karena kondisi klien yang lemah. Namun,

    setelah 6 jam pasien diharapkan pasien sudah mampu untuk bergerak miring

    kanan dan miring kiri dan dilanjutkan dengan duduk kemudian berjalan.

    5)Pola tidur dan istirahat

    Rasa nyeri akibat post operasi dan perubahan situasi karena hospitalisasi

    dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat.

    6)Pola kognitif perseptual

    Sistem Penglihatan, Pendengaran, Pengecap, peraba dan Penghidu tidak

    mengalami gangguan.

    7)Pola persepsi dan konsep diri

    Klien dapat mengalami cemas karena ketidaktahuan tentang perawatan post

    operasi appendiks.

    8)Pola hubungan dan peran

    Karena klien harus menjalani perawatan di rumah sakit maka dapat

    mempengaruhi hubungan dan peran klien baik dalam keluarga tempat kerja

    dan masyarakat.

    9)

    Pola reproduksi seksual

    Klien tidak mengalami masalah produksi karena bekas operasi tidak ada

    hubungannya dengan alat reproduksi.

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    15/23

    10) Pola penanggulangan stress

    Stress dapat dialami klien karena kurang pengetahuan tentang perawatan

    post operasi. Gali adanya stres pada klien dan mekanisme koping klien

    terhadap stres tersebut.

    11) Pola tata nilai dan kepercayaan

    Adanya dower chateter dan nyeri post operasi memerlukan adaptasi klien

    dalam menjalankan ibadahnya .

    2. Diagnosa Keperawatan

    Diagnosa pre-tindakan

    1) Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan spasme otot polos sekunder

    akibat infeksi gastrointestinal.

    2) Hipertermia berhubungan dengan penyakit atau trauma.

    3) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah.

    4)

    Ansietas berhubungan dengan krisis situasional.

    Diagnosa post-tindakan

    1) Nyeri akut berhubungan trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder

    akibat operasi

    2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme

    sekunder akibat pembedahan

    3) Defisit pengetahuan (perawatan luka post operasi) berhubungan dengan

    kurangnya paparan informasi mengenai perawatan luka post operasi.

    3. Rencana Tindakan

    Diagnosa pre-tindakan

    1. Dx 1 : Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan spasme otot polos

    sekunder akibat infeksi gastrointestinal.

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    16/23

    Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ....x 24 jam diharapkan

    pasien dapat melakukan manajemen nyeri dengan kriteria hasil :

    Pasien tampak lebih tenang.

    Pasien dapat melakukan aktivitas ringan, seperti bermain dengan

    orang tua.

    Pasien tidak meringis kesakitan lagi.

    Intervensi :

    1. Observasi skala nyeri pasien.

    R/ : Untuk mengetahui tingkat nyeri pasien dan membandingkan sebelum dan

    sesudah dilakukan intervensi.

    2. Beri lingkungan yang nyaman.

    R/ : Lingkungan berpengaruh terhadap keadaan nyeri pasien.

    3. Lakukan tehnik distraksi.

    R/ : Dengan mengalihkan perhatian pasien diharapkan perhatian pasien tidak

    terfokus pada nyeri sehingga pasien dapat memanajemen nyeri.

    4. Pantau perkembangan nyeri pasien.

    R/ : Untuk segera mengambil tindakan rujukan apabila nyeri yang dialami

    pasien sudah tidak dapat ditoleransi lagi.

    2.

    Dx 2 : Hipertermia berhubungan dengan penyakit atau trauma.

    Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .... x 24 jam diharapkan

    suhu tubuh pasien dapat turun menjadi rentang normal (36,537,5oC /

    aksila).

    Intervensi :

    1. Observasi TTV.

    R/ : Untuk membandingkan TTV sebelum dan sesudah intervensi dilakukan.

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    17/23

    2. Beri lingkungan yang nyaman.

    R/ : Keadaan lingkungan berpengaruh terhadap keadaan pasien.

    3.

    Lakukan kompres air hangat.

    R/ : Untuk mengembalikan fungsi termostat dalam keadaan normal.

    4. Ukur TTV.

    R/ : Untuk mengetahui perubahan suhu tubuh pasien.

    3. Dx 3 : Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan

    muntah.

    Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x 24 jam diharapkan

    kebutuhan cairan pasien dapat terpenuhi dengan kriteria hasil :

    Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit

    normal, mukosa bibir tidak kering)

    Pasien tidak merasa haus.

    Pasien tampak segar.

    Intervensi :

    1. Kaji tanda-tanda dehidrasi pasien.

    R/ : Untuk melihat apakah pasien mengalami tanda-tanda dehidrasi agar dapat

    mengetahui tindakan yang harus dilakukan.

    2.

    Awasi cairan masuk dan cairan keluar.

    R/ : Untuk menjaga keseimbangan volume cairan tubuh.

    3. Apabila pasien menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, berikan cairan melalui

    intravena.

    R/ : Untuk memenuhi kebutuhan cairan pasien, jangan memberi cairan per oral

    karena pasien yang akan dilakukan tindakan apendiktomi harus dipuasakan.

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    18/23

    4. Dx 4 : Ansietas berhubungan dengan krisis situasional.

    Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .....x 24 jam diharapkan

    cemas pasien berkurang, dengan kriteria hasil :

    Pasien tampak tenang.

    Pasien kooperatif dengan tindakan keperawatan dan tindakan medis

    yang akan dilakukan..

    Intervensi :

    1. Kaji keadaan emosi pasien.

    R/ : Dengan mengetahui keadaan pasien saat itu, jadi kita dapat menentukan

    tindakan dan waktu yang tepat untuk melakukan tindakan keperawatan.

    2. Lakukan BHSP apabila keadaan emosi pasien saat itu memungkinkan.

    R/ : Sebelum melakukan tindakan keperawatan, kita harus melaksanakan

    pendekatan agar tindakan keperawatan yang dilakukan lebih mudah.

    3.

    Eksplorasi perasaan pasien.

    R/ : Untuk menggali lebih jauh apa yang dirasakan pasien.

    4. Biarkan pasien mengungkap perasaannya.

    R/ : Agar emosi pasien dapat tersalurkan sehingga pasien merasa lebih tenang.

    5. Berikan feed back positif dan berikan support kepada pasien.

    R/ : Agar pasien merasa nyaman dan merasa ada yang mendukungnya.

    Diagnosa post-tindakan

    1. Dx 1 : Nyeri akut berhubungan trauma jaringan dan refleks spasme otot

    sekunder akibat operasi

    Tujuan:Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..x 24 jam, diharapkan

    nyeri yang dialami pasien berkurang dengan kriteria hasil :

    Pasien tidak meringis.

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    19/23

    Pasien tampak tenang.

    Pasien dapat melakukan aktivitas ringan, seperti bermain dengan

    orang tua.

    Intervensi :

    1. Observasi skala nyeri pasien.

    R/ : Untuk mengetahui tingkat nyeri pasien dan membandingkan sebelum dan

    sesudah dilakukan intervensi.

    2. Beri lingkungan yang nyaman.

    R/ : Lingkungan berpengaruh terhadap keadaan nyeri pasien.

    3. Lakukan tehnik distraksi.

    R/ : Dengan mengalihkan perhatian pasien diharapkan perhatian pasien tidak

    terfokus pada nyeri sehingga pasien dapat memanajemen nyeri.

    4. Beri analgetik

    R/ : Untuk mengurangi nyeri pasien.

    2. Dx 2 : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tempat masuknya

    organisme sekunder akibat pembedahan

    Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ....x 24 jam diharapkan

    luka pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi (kalor, dolor, lubor,

    tumor, perubahan fungsi)

    Intervensi :

    1. Kaji tanda-tanda infeksi pada pasien.

    R/ : Untuk melihat apakah ada tanda-tanda infeksi (kalor, dolor, lubor, tumor,

    dan perubahan fungsi), pus, jaringan nekrotik.

    2. Lakukan perawatan luka.

    R/ : Ganti balutan agar luka post-op tetap kering.

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    20/23

    3. Jaga luka agar tetap steril.

    R/ : Untuk menghindari perkembangan bakteri pada luka.

    4.

    Informasikan kepada keluagra pasien untuk tidak membuka balutan luka,

    menjaga luka agar tetap kering.

    R/ : Luka yang lembab menyebabkan infeksi karena bakteri dapat berkembang.

    5.

    Berikan salep betadine di atas luka pasien.

    R/ : Untuk mencegah infeksi pada luka.

    3. Dx 3 : defisit pengetahuan (perawatan luka post operasi) berhubungan

    dengan kurangnya paparan informasi mengenai perawatan luka post operasi.

    Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x 24 jam diharapkan

    tingkat pengetahuan orang tua pasien tentang perawatan luka dapat

    meningkat.

    Intervensi :

    1.

    Kaji tingkat pengetahuan orang tua pasien.

    R/ menentukan cara penyampaian informasi kepada keluarga pasien.

    2. Lakukan BHSP.

    R/ mempermudah perawat dalam melakukan tindakan keperawatan.

    3. Berikan penjelasan mengenai perawatan luka kepada orang tua pasien.

    R/ memberikan penjelasan kepada orang tua pasien.

    4. Berikan kesempatan kepada orang tua pasien untuk mengungkapkan

    perasaannya.

    R/ memberikan kesempatan kepada orang tua pasien untuk mengungkap

    kesulitan yang dihadapi.

    5. Evaluasi tingkat pengetahuan pasien.

    R/ untuk mengetahui keberhasilan intervensi.

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    21/23

    4. Implementasi

    Implementasi dilakukan berdasarkan perencanaan yang telah dibuat.

    5.

    Evaluasi

    Diagnosa pre-tindakan

    1. Pasien dapat melakukan manajemen nyeri

    2.

    Suhu tubuh pasien dapat turun menjadi rentang normal (36,537,5oC / aksila).

    3.

    Kebutuhan cairan pasien dapat terpenuhi

    4. Cemas pasien berkurang

    Diagnosa post-tindakan

    1.Nyeri yang dialami pasien berkurang

    2. Luka pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi (kalor, dolor, lubor, tumor,

    perubahan fungsi)

    3. Tingkat pengetahuan orang tua pasien tentang perawatan luka dapat meningkat.

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    22/23

    DAFTAR PUSTAKA

    Brunner & Suddarth. 2002.Keperawatan Medikal Bedah Vol. 2. Jakarta: EGC

    Carpenito, Lynda Juall- Moyet. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10.

    Jakarta : EGC

    Doenges, E. Marilynn. 2000.Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC

    Guyton & Hall. 2003.Fisiologi Tubuh Manusia.Jakarta : EGC

    Mansjoer A,. dkk. 1996.Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius

    Price, A. Sylvia. 1995.Patofisiologi Edisi 4.Jakarta: EGC

    Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2009-2011 Definisi dan Klasifikasi

    Robbins Cotrans K,. 1996.Buku Saku Dasar Patologi Penyakit Edisi 5.Jakarta : EGC

  • 8/10/2019 165536406 LP Apendisitis

    23/23